MENYOAL PERZINAAN

Setiap hari, hampir isi media massa tak lepas dari masalah penyimpangan seks, seperti pemerkosaan dan pelacuran. Islam memandang bahwa perzinaan itu merupakan dosa besar sehingga Rasulullah pun menafikan keimanan seorang beriman jika ia terjerumus dalam perzinaan. Makna lain dari pesan utusan Allah itu adalah seorang beriman pun dapat saja tergoda melakukan perzinaan. Untuk itu, langkah-langkah menuju perzinaan pun ditutup rapat-rapat. Bahkan, langkah-langkah itu sendiri sudah dikategorikan perzinaan dan Allah melarang hambaNya untuk melakukan langkah-langkah itu.

Agar tak terjerumus ke dalam langkah-langkah keji itu, bahkan terjerumus ke kubang kenistaan, sejatinya seorang Muslim memahami betul apa saja langkah-langkah menuju ke perbuatan keji itu.

Pertama, tidak menahan pandangan (Ghadlul Bashar), yaitu setiap Mukmin dan Mukminah hendaknya menahan pandangan karena pandangan itu merupakan "panah setan" yang akan menebar bisanya, untuk kemudian meresap ke hati sang pengendali raga dan pikiran. Pandangan adalah pintu masuk utama untuk terjerumus ke lumpur kekejian atau tidak terjerumus. Pantas saja Allah menyejajarkan menahan pandangan dengan menjaga kemaluan.

Pandangan adalah hulu dan kemaluan itu muaranya. Jadi, kalau saja di hulu sudah ditutup rapat, muara itu tak akan dialiri lumpur kenistaan. Kendati demikian, menutup hulu tak dimaksud untuk selamanya, ada batasan-batasan yang ditoleransi. Adalah keliru menyamakan menahan pandangan itu berarti tidak melihat sama sekali. Alasannya, Allah memerintahkan adalah "menahan" bukan "tidak melihat".

Kedua, memamerkan aurat. Dalam bahasa Arab aurat itu artinya sesuatu yang aib. Tentu hal aib pada diri seseorang haruslah ditutupi bukan malah dipamerkan. Orang yang berakal waras tentu tidak akan memperlihatkan aib sendiri di hadapan orang banyak. Bukankah sering kali kita menyaksikan pemandangan orang gila yang tanpa sehelai kain pun. Nah, ketahuilah bahwa tindakan memamerkan aurat itu merupakan ajakan untuk berbuat gila, yaitu perzinaan.

Ketiga, berkata-kata jorok dan menggoda. Allah melarang Muslimah mengeluarkan kata-kata manja terhadap orang lain. Pasalnya, kata-kata manja itu akan mengundang kaum lelaki yang punya penyakit hati untuk menggodanya. Sejatinya seorang Muslimah berkata tegas dan jelas sehingga tak ada peluang bagi kaum adam untuk memanfaatkan kelembutan kaum wanita. Berkata tegas tidaklah identik dengan berkata kasar karena dalam Islam berkata kasar sangat dilarang. Bahkan, Aisyah ditegur Rasulullah ketika ia berkata-kata kasar terhadap orang kafir.

Keempat, berdua-duaan dengan lawan jenis (al-Khalwah). Rasulullah mengingatkan bahwa mana kala seorang wanita berduaan di tempat sunyi bersama dengan laki-laki yang bukan mahramnya, yang ketiganya adalah setan. Sangat disayangkan, budaya pacaran sudah sangat merasuki remaja-remaja Islam. Entah apa yang menjadikan mereka jauh dari tuntunan Rasulullah. Padahal Rasulullah jelas sekali mewanti-wanti agar seorang wanita tidak berkhalwat kecuali dengan mahramnya. "Janganlah kalian berdua-dua di tempat sunyi dengan seorang wanita, kecuali dengan mahramnya."(HR. Bukhari dan Muslim) Demikian pesan Rasulullah.

Kelima, ikhtilath yaitu bercampur baur antara laki-laki dengan perempuan tanpa batas. Ikhtilath laksana medan transaksi yang akan memicu terjadinya pandangan liar, pamer aurat, dan lontaran kata-kata menggoda. Ikhtilath juga rentan terjadinya pelecehan terhadap wanita dari tangan-tangan kotor. Karena itu, wajar saja Rasulullah berpesan khusus kepada kaum pria, "Kalian para lelaki janganlah masuk ke (arena) para wanita." (HR. Bukari dan Muslim). Memang faktanya, para pelaku pelecehan itu kebanyakan dari kaum lelaki. Demikian pula kaum lelaki merupakan pihak paling agresif dalam mengajak kaum wanita untuk berbuat zina.

Keenam adalah pesan Rasulullah yang menyebut langkah-langkah itu sendiri sebagai perzinaan. Perhatikan sabdanya, "Tertulis bagi anak Adam bagiannya dari zina, sedang ia tak diragukan lagi biasa melakukannya. Dua mata itu zinanya dengan pandangan. Kaki itu zinanya dengan melangkah (ke perzinaan). Sementara hati yang menggiring keinginan dan angan-angan, dan kemaluanlah yang merealisasikannnya atau menolaknya. Dua tangan berzina, dan zina keduanya pegang-pegangan. Dua kaki itu berzina, dan zina keduanya jalan-jalan. Mulut itu berzina, dan zinanya itu dengan mencium" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam pesan Rasulullah itu, ada 4 (empat) macam zina kecil yang akan menyeret seseorang untuk melakukan perzinaan sebenarnya : zina pandangan, zina hati, zina kaki, zina tangan, zina mulut, dan ujungnya zina kemaluan. Menarik sekali bahwa zina-zina kecil yang disebutkan Rasulullah itu sangat lazim dilakukan ketika seseorang berpacaran. Sudah bukan rahasia lagi dalam dunia pacaran di sana, ada tatapan, mabuk asmara yang merasuki hati, ada jalan-jalan, lalu pegangan tangan, ciuman, dan sebagainya.

Ketujuh, kalau Rasulullah memerintahkan agar kaum laki-laki tidak memasuki wilayah wanita, maka dalam konteks ini Rasululullah meminta agar kaum wanita jangan melakukan perjalanan jauh sendirian. "Tidak halal bagi seorang wanita melakukan perjalanan sejauh satu hari satu malam." (HR. Bukhari). Ini adalah tindakan preventif agar wanita itu tidak dilecehkan, digoda, yang akhirnya diajak berzina atau dipaksa berzina (diperkosa).

Kedelapan, berpakaian ketat dan transparan sehingga lekuk-lekuk tubuh terlihat sangat jelas. Bagi Muslimah, tidak layak berpakaian seperti ini. Alasannya, berpakaian dengan tetap memperlihat lekuk-lekuk tubuh sama saja seperti tidak berpakaian.***

[Ditulis oleh KH. DJALALUDDIN ASY-SYATIBI, mantan anggota DPR RI dan aktivis dakwah. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) / 6 Januari 2011 dari Kolom "CIKARACAK"]

0 comments: