NI'MAT ALLAH SYUKURILAH & UJIAN-NYA SABARILAH

Demikian banyak ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghitung meski menggunakan alat secanggih apapun. Pernahkah kita berpikir untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak ni’mat kepada para hamba-Nya ?

Apakah hanya untuk sekedar menghabiskan ni’mat-ni’mat tersebut atau ada tujuan lain ?

Luas Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sungguh betapa besar dan banyak ni’mat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu ni’mat kemudian beralih kepada ni’mat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.

Semua ini tentu mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

Dalam realita kehidupan kita menemukan keadaan yang memprihatinkan, yaitu mayoritas manusia hidup dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat.

Puncaknya adalah menyamakan Pemberi Ni’mat dengan makhluk yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya :
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Sesungguh kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.” (QS. Luqman : 13)

Kendati demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu untuk bertaubat. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi hamba ini untuk :
  • Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya yang sangat butuh kepada-Nya.
  • Menyombongkan diri serta angkuh dengan tidak mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tidak mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.
  • Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
Dan ni’mat apapun yang kalian dapatkan adalah datang dari Allah.” (QS. An-Nahl : 53)
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Dan jika kalian menghitung ni’mat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup.” (QS. Ibrahim : 34)

Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Satu Tujuan yang Mulia
Dari sekian ni’mat yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita mari kita mencoba menghitungnya. Sudah berapakah dalam kalkulasi kita ni’mat yang telah kita syukuri dan dari sekian ni’mat yang telah kita pergunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita menemukan kalkulasi yang baik maka pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dia telah memberimu kesempatan yang baik. Jika kita menemukan hal sebaliknya maka janganlah kita mencela-Nya melainkan pada diri sendiri.

Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tahukah kita apa rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut ?

Ketahuilah bahwa keni’matan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakan manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan bagi dan menjadikan segala ni’mat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhaariyat : 56)

Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawaban yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.

Sebagai bukti yaitu ada kematian setelah hidup ini dan ada kehidupan setelah kematian diiringi dengan persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah. Itulah kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada :
  1. Dunia bukan tujuan hidup.
  2. Keni’matan yang ada pada bukan tujuan diciptakan manusia akan tetapi sebagai perantara untuk suatu tujuan yang mulia.
  3. Semangat beramal untuk tujuan hidup yang hakiki dan kekal.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan : “Ketahuilah bahwa ni’mat itu ada dua bentuk ni’mat yang menjadi tujuan dan ni’mat yang menjadi perantara menuju tujuan. Nikmat yang merupakan tujuan adalah kebahagiaan akhirat dan nilai akan kembali kepada empat perkara.
    Pertama : Kekekalan dan tidak ada kebinasaan setelahnya.
    Kedua : Kebahagian yang tidak ada duka setelahnya.
    Ketiga : Ilmu yang tidak ada kejahilan setelahnya.
    Keempat : Kaya yang tidak ada kefakiran setelahnya.
Semua ini merupakan kebahagiaan yang hakiki. Adapun bagian yang kedua adalah sebagai perantara menuju kebahagiaan yg disebutkan dan ini ada empat perkara :
    Pertama : Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yang baik.
    Kedua : Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.
    Ketiga : Keutamaan yang terkait dengan badan seperti harta kedudukan dan keluarga.
    Keempat : Sebab-sebab yang menghimpun ni’mat-ni’mat tersebut dengan segala keutamaan seperti hidayah bimbingan kebaikan pertolongan dan semua ni’mat ini adalah besar.”
Untaian Indah dari Ibnu Qudamah
Ketahuilah bahwa segala yang dicari oleh tiap orang adalah ni’mat. Akan tetapi keni’matan yang hakiki adalah kebahagiaan di akhirat kelak dan segala ni’mat selain akan lenyap. Semua perkara yang disandarkan kepada kita ada empat macam :
  • Pertama : Sesuatu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti ilmu dan akhlak yang baik. Inilah keni’matan yang hakiki.
  • Kedua : Sesuatu yang memudaratkan di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bala’ yang hakiki.
  • Ketiga : Bermanfaat di dunia akan tetapi memudaratkan di akhirat seperti berlezat-lezat dan mengikuti hawa nafsu. Ini sesungguh bala bagi orang yang berakal sekalipun orang jahil menganggap ni’mat.
    Seperti seseorang yang sedang lapar lalu menemukan madu yang bercampur racun. Bila tidak mengetahui dia menganggap sebuah ni’mat dan jika mengetahui dia menganggap sebagai malapetaka.
  • Keempat : Memudaratkan di dunia namun akan bermanfaat di akhirat sebagai ni’mat bagi orang yang berakal.
    Contoh obat bila dirasakan sangat pahit dan pada akhir akan menyembuhkan. Seorang anak bila dipaksa utk meminum dia menyangka sebagai malapetaka dan orang yang berakal akan menganggap sebagai ni’mat.
    Demikian juga bila seorang anak butuh untuk dibekam sang bapak berusaha menyuruh dan memerintahkan anak untuk melakukannya. Namun sang anak tidak bisa melihat akibat di belakang yang akan muncul berupa kesembuhan. Sang ibu akan berusaha mencegah karena cinta yang tinggi kepada anak tersebut karena sang ibu tidak tahu tentang maslahat yang akan muncul dari pengobatan tersebut.
    Sang anak menuruti apa kata ibunya. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan sehingga ia lebih menuruti ibu daripada bapaknya.
    Bersamaan dengan itu sang anak menganggap bapak sebagai musuh. Jika sang anak berakal niscaya dia akan menyimpulkan bahwa sang ibu merupakan musuh sesungguh dalam wujud teman dekat. Karena larangan sang ibu untuk berbekam akan menggiring kepada penyakit yang lebih besar dibandingkan sakit karena berbekam.
Karena itu teman yang jahil lebih berbahaya dari seorang musuh yang berakal. Dan tiap orang menjadi teman diri sendiri akan tetapi nafsu merupakan teman yang jahil. Nafsu akan berbuat pada diri apa yang tidak diperbuat oleh musuh.

Syukur dalam Tinjauan Bahasa dan Agama
Syukur secara bahasa adalah nampak bekas makan pada badan binatang dengan jelas. Binatang yang syakur artinya : Apabila nampak pada kegemukan karena makan melebihi takarannya.

Adapun dalam tinjauan agama syukur adalah : terlihatnya pengaruh ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seorang hamba melalui lisan dengan cara memuji dan mengakuinya; melalui hati dengan cara meyakini dan cinta; serta melalui anggota badan dengan penuh ketundukan dan ketaatan.

Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti :
  1. Mengakui ni’mat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
  2. Memuji yang memberi ni’mat atas ni’mat yang diberikannya.
  3. Cinta hati kepada yang memberi ni’mat dan anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
  4. Menyaksikan keni’matan dan menjaga keharaman.
  5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
  6. Menyandarkan ni’mat tersebut kepada pemberi dengan ketenangan.
  7. Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan ni’mat.
  8. Mengikat ni’mat yang ada dan mencari ni’mat yang tidak ada.
Masih banyak lagi definisi para ulama tentang syukur akan tetapi semua kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana disebutkan di atas.

Yang jelas syukur adalah sebuah istilah yang digunakan pada pengakuan / pengetahuan akan sebuah ni’mat. Karena mengetahui ni’mat merupakan jalan untuk mengetahui Dzat yang memberi ni’mat. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah ni’mat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur.

Apabila seorang hamba mengetahui sebuah ni’mat maka dia akan mengetahui yang memberi ni’mat. Ketika seseorang mengetahui yang memberi ni’mat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong untuk bersungguh-sungguh mensyukuri ni’mat-Nya.

Syukur Tidak Sempurna Melainkan dengan Mengetahui Apa yang Dicintai Allah
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan : “Ketahuilah bahwa syukur dan tidak kufur tidak akan sempurna melainkan dengan mengetahui segala apa yang dicintai oleh Allah. Sebab makna syukur adalah mempergunakan segala karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada apa yang dicintai-Nya dan kufur ni’mat adalah sebaliknya. Bisa juga dengan tidak memanfaatkan ni’mat tersebut atau mempergunakan pada apa yang dimurkai-Nya.

Makna Syukur
Syukur memiliki tiga makna, yaitu :
  1. Pertama: Mengetahui adalah sebuah ni’mat. Arti dia menghadirkan dalam benak mempersaksikan dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dalam benak sebagaimana terwujud dalam kenyataan. Sebab banyak orang yang jika engkau berbuat baik kepada namun dia tdk mengetahui. Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.
  2. Kedua: Menerima ni’mat tersebut dengan menampakkan butuh kepadanya. Dan bahwa sampai ni’mat tersebut kepada bukan sebagai satu keharusan hak bagi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tanpa membeli dengan harga. Bahkan dia melihat diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seorang tamu yang tidak diundang.
  3. Ketiga: Memuji yang memberi ni’mat dalam hal ini ada dua bentuk yaitu umum dan khusus. Pujian yang bersifat umum adalah menyifati pemberi ni’mat dengan sifat dermawan kebaikan luas pemberian dan sebagainya. Pujian yang bersifat khusus adalah menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan bahwa ni’mat tersebut sampai kepada dia karena sebab Sang Pemberi tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuha : 11)

(lihat Madarijus Salikin 2 / 247 - 248)

Menceritakan Sebuah Nikmat Termasuk Syukur
Menceritakan sebuah ni’mat yang dia dapatkan kepada orang lain termasuk dalam kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
Barangsiapa yang diberikan kebaikan kepada hendaklah dia membalas dan jika dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas hendaklah dia memujinya. Karena jika dia memuji sungguh dia telah berterima kasih dan jika dia menyembunyikan sungguh dia telah kufur. Dan barangsiapa yang berhias dengan sesuatu yang dia tidak diberi sama hal dengan orang yang memakai dua ­baju kedustaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuha : 11)

Menceritakan ni’mat yang diperintahkan di dalam ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.
  • Pertama : Menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan kepada orang lain seperti dengan ucapan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku ni’mat demikian dan demikian.”
  • Kedua : Menceritakan ni’mat yang dimaksud di dalam ayat ini adalah berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat.
Dari kedua pendapat tersebut Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam Madarijus Salikin mentarjih dengan perkataan beliau : “Yang benar ayat ini mencakup kedua makna tersebut. Karena masing-masing adalah ni’mat yang kita diperintahkan untuk mensyukuri menceritakan dan menampakkan sebagai wujud kesyukuran.

Beliau berkata: “Dalam sebuah atsar yg lain dan marfu’ disebutkan :
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit maka dia tidak akan mensyukuri atas yang banyak dan barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah ni’mat kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkan adalah kufur, bersatu adalah rahmat dan bercerai berai adalah azab.” (Madarijus Salikin 2/248)

Dengan Apa Seorang Hamba Bersyukur ?
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan : “Syukur bisa dilakukan dengan hati, lisan dan anggota badan. Adapun dengan hati adalah berniat untuk melakukan kebaikan dan menyembunyikan pada khayalak ramai. Adapun dengan lisan adalah menampakkan kesyukuran itu dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Arti menampakkan keridhaan kepada Allah.

Dan hal ini sangat dituntut sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ
Menceritakan ni’mat itu adalah wujud kesyukuran dan meninggalkan adalah wujud kekufuran.

Adapun dengan anggota badan adalah mempergunakan ni’mat-ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dalam ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri dari bermaksiat dengannya. Termasuk kesyukuran terhadap ni’mat kedua mata adalah dengan cara menutup tiap aib yang dilihat pada seorang muslim. Dan termasuk kesyukuran atas ni’mat kedua telinga adalah menutup tiap aib yang didengar. Penampilan seperti ini termasuk wujud kesyukuran terhadap anggota badan.

Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dengan tunduk dan kepasrahan oleh lisan dengan mengakui ni’mat tersebut dan oleh anggota badan dengan ketaatan dan penerimaan.

Derajat Syukur
Syukur memiliki tiga tingkatan :
  1. Pertama : Bersyukur karena mendapatkan apa yang disukai. Tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam seperti Yahudi dan Nasrani bahkan Majusi. Namun Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Jika engkau mengetahui hakikat syukur dan di antara hakikat syukur adalah menjadikan ni’mat tersebut membantu dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencari ridha-Nya niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yang pantas menyandang derajat syukur ini. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah menulis surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu : ‘Sesungguh tingkatan kewajiban yang paling kecil atas orang yang diberi ni’mat adalah tidak menjadikan ni’mat tersebut sebagai jembatan utk bermaksiat kepada-Nya’.
  2. Kedua : Mensyukuri sesuatu yg tidak disukai. Orang yang melakukan jenis syukur ini adalah orang yang sikap sama dalam semua keadaan sebagai bukti keridhaannya.
    Ibnul Qayyim rahimahullahu
    menjelaskan: “Bersyukur atas sesuatu yang tidak disukai lebih berat dan lebih sulit dibandingkan mensyukuri yang disenangi.” Oleh sebab itulah syukur yang kedua ini di atas jenis syukur yang pertama. Syukur jenis kedua ini tidak dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua jenis orang sebagai berikut :
    • Seseorang yang semua keadaan sama. Arti sikap sama terhadap yang disukai dan tidak disukai dan dia bersyukur atas semua sebagai bukti keridhaan diri terhadap apa yang terjadi. Ini merupakan kedudukan ridha.
    • Seseorang yang bisa membedakan keadaannya. Dia tidak menyukai sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak ridha bila menimpanya. Namun bila sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa dia tetap mensyukurinya.
    Kesyukuran sebagai pemadam kemarahan sebagai penutup dari berkeluh kesah dan demi menjaga adab serta menempuh jalan ilmu. Karena sesungguh adab dan ilmu akan membimbing seseorang untuk bersyukur di waktu senang maupun susah. Tentu yang pertama lebih tinggi dari yang kedua.
  3. Ketiga : Seseorang seolah-olah tidak menyaksikan kecuali Yang memberi keni’matan. Arti bila dia melihat yang memberi keni’matan dalam rangka ibadah, maka dia akan menganggap besar ni’mat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yang memberi keni’matan karena rasa cinta niscaya semua yang berat akan terasa manis baginya.
Manusia dan Syukur
Kita telah mengetahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yang terpuji dan sifat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi tidak semua orang bisa mendapatkannya. Arti ada yang diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ada pula yang tidak.

Manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan :
  1. Pertama : Orang yang mensyukuri ni’mat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Kedua : Orang yang menentang ni’mat yang diberikan alias kufur ni’mat.
  3. Ketiga : Orang yang berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yang bersyukur. Orang yang seperti ini dimisalkan dengan orang yang berhias dengan sesuatu yang tidak dia miliki.
Dalil-dalil tentang Syukur
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 172)
فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah : 152)
وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut : 17)
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ
Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran : 144)
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan : Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah kenapa engkau melakukan yang demikian padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan akan datang ?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur ?

Masih banyak dalil lain yang menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga apa yang disampaikan di sini mewakili yang tidak disebutkan.

Ancaman bagi orang-orang yang Tidak Bersyukur
Yang tidak bersyukur lebih banyak dari yang bersyukur. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh orang yang berakal bersih. Sebagaimana orang yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak dari yang beriman. Demikianlah keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba : 13)

Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yang beriman. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dari kufur ni’mat setelah memerintahkan untuk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yang akan didapatkan sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsir beliau : “Jika seseorang bersyukur niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabadikan ni’mat yang dia berada pada dan menambah dengan ni’mat yang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan : “Jika kalian mengkufuri ni’mat menutup-nutupi dan menentang maka yaitu dengan dicabut ni’mat tersebut dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpa dengan sebab kekufurannya. Dan disebutkan dalam sebuah hadits : ‘Sesungguh seseorang diharamkan untuk mendapatkan rizki karena dosa yang diperbuatnya’.

Syukur dan Sabar
Kita akan bertanya: “Jika engkau ditimpa sebuah musibah lalu engkau mensyukuri maka tentu pada sikap kesyukuranmu terdapat sifat sabar dan sifat ridha terhadap musibah yang menimpa dirimu. Dan kita mengetahui bahwa ridha merupakan bagian dari kesabaran. Sementara syukur merupakan buah dari sifat ridha.

Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur termasuk kedudukan yang paling tinggi dan lebih tinggi -bahkan jauh lebih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dalam syukur karena mustahil syukur ada tanpa ridha.

Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bersyukur ?
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan : “Makhluk ini tidak mau mensyukuri ni’mat karena pada ada dua yaitu kejahilan dan kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka untuk mengetahui ni’mat. Karena tidak tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui ni’mat. Jika pun mereka mengetahui ni’mat mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dengan lisan. Mereka tidak mengetahui bahwa makna syukur adalah mempergunakan ni’mat pada jalan ketaatan kepada Allah.

Kesimpulan ucapan Ibnu Qudamah rahimahullahu adalah bahwa manusia banyak tidak bersyukur karena ada dua perkara yang melandasi yaitu kejahilan dan kelalaian.

Mengobati Kelalaian dari Bersyukur
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Hati yang hidup akan menggali segala macam ni’mat diberikan. Adapun hati yang jahil tidak akan menganggap sebuah ni’mat sebagai ni’mat kecuali setelah bala’ menimpanya. Cara hendaklah dia terus memandang kepada yang lebih rendah darinya dan berusaha berbuat apa yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Mendatangi tempat orang yang sedang sakit dan melihat berbagai macam ujian yang sedang menimpa mereka kemudian berpikir tentang ni’mat, sehat dan keselamatan. Menyaksikan jenazah orang yang terbunuh dipotong tangan mereka, kaki-kaki mereka dan diazab lalu dia bersyukur atas keselamatan diri dari berbagai azab.

Demikianlah makna yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Wallahu a’lam.

[Ditulis oleh AL-USTADZ ABU USAMAH BIN RAWIYAH AN-NAWAWI. Sumber : www.asysyariah.com]

0 comments: