15. SABAR

BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(15) SABAR

Menurut Al-Imam Ahmad, kata sabar disebutkan di dalam Al-Qur'an di tujuh puluh tempat. Menurut ijma' ulama umat, sabar ini wajib, dan merupakan separuh iman. Karena iman itu ada dua paruh; separuh adalah sabar dan separuh lagi adalah syukur. Sabar ini disebutkan dalam Al-Qur'an dalam enam belas versi :
  1. Perintah sabar, seperti firman-Nya,
    وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
    Dan, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. (QS. Al-Baqarah : 45)
  2. Larangan melakukan sebaliknya, seperti firman-Nya,
    وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا
    Dan, janganlah kalian bersikap lemah dan janganlah (pula) kalian bersedih hati. (QS. Ali Imran : 139)

    Sikap lemah dan selalu bersedih hati artinya tidak sabar. Karena itu dilarang.
  3. Pujian terhadap pelakunya, seperti firman-Nya,
    وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
    Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 177)
  4. Keharusan sabar karena Allah mencintainya, seperti firman-Nya,
    إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
  5. Allah bersama orang-orang yang sabar, dan ini merupakan kebersamaan secara khusus, yang berarti menjaga, melindungi dan menolong mereka, bukan sekedar kebersamaan secara umum, seperti firman-Nya,
    وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    Dan, bersabarlah kalian, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal : 46)
  6. Pengabaran Allah bahwa sabar ini lebih baik bagi para pelakunya, seperti firman-Nya,
    وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ
    Tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. An-Nahl: 126)
  7. Allah memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik, seperti firman-Nya,
    وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl : 96)
  8. Orang-orang yang sabar diberi balasan tanpa batas, seperti firman-Nya,
    إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-zumar: 10)
  9. Orang-orang yang sabar mendapatkan kabar gembira, seperti firman-Nya,
    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    Dan, sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 155)
  10. Jaminan pertolongan bagi orang-orang yang sabar, seperti firman-Nya,
    بَلَىٰ ۚ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran.
  11. Pengabaran dari Allah bahwa orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang mulia, seperti firman-Nya,
    وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
    Tetapi orang yang sabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Asy-Syura : 43)
  12. Pengabaran dari Allah bahwa pahala amal shalih hanya layak diperoleh orang-orang yang sabar, seperti firman-Nya,
    وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
    Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar. (QS. Al-Qashash : 80)
  13. Pengabaran bahwa hanya orang-orang yang bersabarlah yang bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari ayat-ayat Allah, seperti firman-Nya,
    أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yangpenyabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim : 5)
  14. Pengabaran bahwa keberuntungan yang diharapkan, keselamatan dari sesuatu yang ditakuti dan masuk surga, diperoleh orang-orang yang memperolehnya karena kesabaran mereka, seperti firman-Nya,
    وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ
    سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
    Dan, para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Keselamatan bagi kalian berkat kesabaran kalian'. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra'd : 23-24)
  15. Sabar mempusakakan derajat kepeloporan dan kepemimpinan.
    Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam berkata, "Dengan kesabaran dan keyakinan dapat diperoleh kepemimpinan dalam agama." Lalu dia membawa ayat,
    وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
    Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah : 24)
  16. Allah mengaitkan kesabaran dengan berbagai posisi dalam Islam, iman, keyakinan, takwa, tawakkal, syukur, amal shalih, rahmat dan lain sebagainya. Karena itu sabar termasuk bagian dari iman, seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada artinya iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana tidak ada artinya tubuh tanpa kepala. Umar bin Al-Khaththab berkata, "Hidup yang paling baik ialah yang kami lalui dengan kesabaran."
    Di dalam sebuah hadits disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
    Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan baginya, dan yang demikian itu tidak dimiliki kecuali orang Mukmin saja. jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika ditimpa penderitaan, dia sabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.

    Ada seorang wanita yang menderita sakit ayan. Lalu dia meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar berdoa bagi kesembuhannya. Maka beliau bersabda, "Jika engkau ingin, maka engkau bisa bersabar dan engkau mendapatkan surga, dan jika engkau ingin, maka aku bisa berdoa kepada Allah agar memberikan afiat kepadamu." Maka wanita itu berkata, "Aku sudah membuka kekuranganku. Maka berdoalah kepada Allah agar tidak membuka kekuranganku di akhirat." Maka beliau berdoa baginya.
    Beliau memerintahkan orang-orang Anshar untuk bersabar menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan sepeninggal beliau, hingga mereka bersua beliau di liang kubur. Beliau juga memerintahkan untuk sabar saat berhadapan dengan musuh dan sabar saat ditimpa musibah. Beliau memerintahkan orang yang ditimpa musibah agar melakukan hal yang paling bermanfaat baginya, yaitu sabar dan mencari ridha Allah, karena yang demikian itu akan meringankan musibahnya dan melipat-gandakan pahalanya. Mengeluh dan gundah hati justru membuat musibah itu terasa semakin berat dan menghilangkan pahala.
Sabar menurut pengertian bahasa adalah menahan atau bertahan. Jika dikatakan, "Qutila Fulan Shabran", artinya Fulan terbunuh karena hanya bertahan. Jadi sabar artinya menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan.

Sabar ini ada tiga macam : Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari kedurhakaan kepada Allah, dan sabar dalam ujian Allah. Dua macam yang pertama merupakan kesabaran yang berkaitan dengan tindakan yang dikehendaki dan yang ketiga tidak berkait dengan tindakan yang dikehendaki. Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri Tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri Tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah."

Ibnu Taimiyah juga pernah berkata, "Sabar dalam melaksanakan ketaatan lebih baik daripada sabar menjauhi hal-hal yang haram. Karena kemaslahatan melakukan ketaatan lebih disukai Allah daripada kemaslahatan meninggalkan kedurhakaan, dan keburukan tidak taat lebih dibenci Allah daripada keburukan adanya kedurhakaan."

Ada tiga jenis lain dari sabar, yaitu :
  1. Sabar karena pertolongan Allah. Artinya mengetahui bahwa kesabaran itu berkat pertolongan Allah dan Allahlah yang memberikan kesabaran, sebagaimana firman-Nya,
    وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
    Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaramnu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (QS. An-Nahl : 127)

    Jika Allah tidak membuat beliau sabar, maka beliau tidak akan sabar.
  2. Sabar karena Allah. Artinya pendorong sabar adalah cinta kepada Allah, mengharapkan Wajah-Nya dan taqarrub kepada-Nya, bukan untuk menampakkan kekuatan jiwa dan ketabahan kepada manusia atau tujuan-tujuan lain.
  3. Sabar beserta Allah. Artinya perjalanan hamba bersama kehendak Allah, yang berkaitan dengan hukum-hukum agama, sabar dalam melaksanakan hukum-hukum itu dan menegakkannya.
Banyak definisi dan pengertian yang dibuat para ulama dan orang-orang salaf tentang sabar. Yang pasti Allah telah memerintahkan kesabaran yang baik, pengampunan yang baik dan penghindaran yang baik di dalam Kitab-Nya.

Saya pernah mendengar Ibnu Taimiyah berkata, "Kesabaran yang baik ialah yang tidak disertai pengaduan, pengampunan yang baik ialah yang tidak disertai celaan, dan penghindaran yang baik ialah yang tidak disertai ucapan yang menyakitkan."

Pengaduan kepada Allah tidak menajikan kesabaran, karena Ya'qub Alaihis-Salam telah berjanji untuk bersabar dengan baik, dan seorang nabi tidak akan mengingkari janjinya. Namun beliau tetap mengadu kepada Allah,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kcsusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya. (QS. Yusuf : 86)

Yang benar, mengadukan Allah dapat menjadikan kesabaran, dan bukan pengaduan kepada Allah.

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Sabar artinya menahan diri dalam menghadapi hal-hal yang tidak disenangi dan membelenggu lisan agar tidak mengadu. Ini merupakan tempat persinggahan yang paling sulit bagi orang awam dan jalan cinta yang paling terjal serta jalan tauhid yang paling diingkari."

Dikatakan sulit bagi orang awam, karena orang awam baru memulai perjalanan dan belum terlatih untuk menempuh satu etape pun. Jika dia mendapat ujian, maka dia mudah gundah dan sulit menghadapi musibah, sehingga berat untuk sabar. Dia belum terlatih sehingga sulit untuk sabar, dan dia bukan termasuk orang yang mencintai sehingga sulit menerima musibah dengan penuh keridhaan terhadap kekasih yang dicintainya.

Dikatakan jalan cinta yang paling terjal, karena cinta ini mengharuskan adanya kesukaan orang yang mencintai dalam menghadapi cobaan dari kekasihnya. Sementara sabar mengharuskan adanya kebencian terhadap hal itu dan keterpaksaan menahan diri saat menghadapinya. Maka sabar merupakan jalan cinta yang paling terjal.

Dikatakan jalan tauhid yang paling diingkari, karena di dalam sabar terdapat kekuatan pengakuan. Orang sabar mengaku memiliki keteguhan hati yang kuat. Berarti hal ini harus berbenturan dengan kemurnian tauhid. Sebab pada hakikatnya tidak seorang pun memiliki kekuatan. Semua kekuatan hanya milik Allah. Itulah sebabnya maka sabar merupakan sesuatu yang diingkari di jalan tauhid, dan bahkan sabar merupakan kemungkaran yang paling diingkari. Tauhid mengembalikan segala sesuatu kepada Allah dan sabar mengembalikan segala sesuatu kepada diri sendiri. Keteguhan hati dalam tauhid adalah sesuatu yang harus diingkari.

Perkataannya yang terakhir ini tidak bisa diterima. Yang benar, sabar merupakan tempat persinggahan yang paling kuat di jalan cinta dan merupakan keharusan bagi orang-orang yang mencintai serta merupakan hasrat yang paling dibutuhkan dalam setiap etape perjalanan. Kebutuhan orang yang mencintai terhadap kesabaran ini sangat urgen. Maka hanya para wali Allah dan para kekasih-Nya yang disifati Allah sebagai orang-orang yang sabar.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ada tiga derajat sabar, yaitu :
  1. Sabar dalam menghindari kedurhakaan, dengan memperhatikan peringatan, tetap teguh dalam iman dan mewaspadai hal yang haram. Yang lebih baik lagi adalah sabar menghindari kedurhakaan karena malu. Ada dua sebab dan dua faidah sabar dalam menghindari kedurhakaan.
    Dua sebabnya adalah :
    • Takut terjadinya peringatan, sebagai akibat dari kedurhakaan itu.
    • Malu terhadap Allah, karena nikmat-Nya dibalas dengan kedurhakaan.
    Adapun dua faidahnya adalah :
    • Tetap teguh dalam iman.
    • Mewaspadai hal-hal yang haram.
    Memperhatikan peringatan dan takut kepadanya membangkitkan kekuatan iman terhadap pengabaran dan pembenaran kandungannya. Sedangkan malu terhadap Allah membangkitkan kekuatan ma'rifat dan mempersaksikan makna-makna asma dan sifat-Nya.
    Yang lebih baik lagi jika pendorongnya adalah cinta, sehingga seorang hamba tidak mendurhakai-Nya karena cinta kepada-Nya. Sedangkan keteguhan dalam iman mendorong untuk meninggalkan kedurhakaan. Sebab kedurhakaan pasti akan mengurangi iman atau bahkan menghilangkannya sama sekali, memadamkan cahayanya, melemahkan kekuatannya dan mengurangi buahnya. Sedangkan mewaspadai hal-hal yang haram merupakan kesabaran meninggalkan hal-hal yang mubah, sebagai kehati-hatian agar tidak menjurus kepada yang haram.
  2. Sabar dalam ketaatan, dengan menjaga ketaatan itu secara terus-menerus, memeliharanya dengan keikhlasan dan membaguskannya dengan ilmu.
    Pernyataan pengarang Manazilus-Sa'irin ini menunjukkan bahwa ketaatan yang dilakukan dapat menjadi pendorong untuk meninggalkan kedurhakaan, sehingga kesabaran dalam melaksanakan ketaatan ini setingkat lebih tinggi daripada kesabaran meninggalkan kedurhakaan. Yang benar, dan seperti yang telah dijelaskan di atas, meninggalkan kedurhakaan hanya sekedar menyempurnakan ketaatan. Syaikh menyebutkan bahwa sabar dalam derajat ini dilakukan dengan tiga cara : Terus-menerus taat, ikhlas dalam ketaatan dan melaksanakannya menurut ilmu atau membaguskannya dengan ilmu. Ketaatan menjadi mundur jika kehilangan salah satu dari tiga perkara ini. Jika seorang hamba tidak menjaga ketaatan secara terus-menerus, maka ia akan menggugurkan ketaatan itu. Jika dia menjaganya terus-menerus, maka di hadapannya ada dua perintang : Tidak ikhlas, seperti dimaksudkan karena selain Allah, dan pelaksanaannya yang tidak berdasarkan ilmu, seperti tidak mengikuti As-sunnah.
  3. Sabar dalam musibah, dengan memperhatikan pahala yang baik, menunggu rahmat jalan keluar, meremehkan musibah sambil menghitung uluran karunia dan mengingat nikmat-nikmat yang telah lampau.
Inilah tiga pakaian kesabaran yang dapat dikenakan seorang hamba ketika mendapat musibah.
  • Pertama, memperhatikan pahala yang baik. Seberapa jauh perhatian, pengetahuan dan keyakinannya terhadap pahala ini, maka sejauh itu pula dia akan merasa ringan dalam memikul beban musibah, karena dia merasa akan mendapatkan pengganti. Hal ini seperti orang yang sedang membawa beban yang amat berat, dan dia melihat hasil dan keuntungan yang baik pada akhirnya. Jika tidak demikian, maka banyak kemaslahatan dunia dan akhirat yang akan terbuang sia-sia. Seorang hamba lebih suka mengemban beban dunia karena ingin mendapatkan hasil di akhirat. Sementara jiwa lebih menyukai kesenangan yang ada di dunia. Tapi akal yang sehat lebih condong ke hasil di kemudian hari.
  • Kedua, menunggu rahmat jalan keluar atau kenikmatannya. Menunggu-nunggu kenikmatan jalan keluar dari musibah dapat meringankan beban musibah dan kesulitan yang sedang dihadapi, apalagi jika disertai kekuatan harapan dan usaha mencari jalan keluar.
  • Ketiga, meremehkan musibah, yang dapat dilakukan dengan dua cara : menghitung karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya, dan mengingat-ingat nikmat Allah yang pernah diterimanya. Yang pertama berkaitan dengan keadaan dan yang kedua berkaitan dengan masa lampau. Pengarang Manazilus-Sa'irin, mengatakan, "Sabar yang paling lemah ialah sabar karena Allah. Ini merupakan kesabaran orang-orang awam. Di atasnya adalah sabar berkat pertolongan Allah. Ini merupakan kesabaran orang-orang yang menghendaki Allah. Di atasnya adalah sabar menurut hukum Allah. Ini merupakan kesabaran orang-orang yang berjalan kepada Allah."
Kesabaran karena Allah yang merupakan kesabaran orang-orang awam ialah kesabaran mengharapkan pahala-Nya dan takut siksa-Nya. Kesabaran orang-orang yang mengharapkan Allah adalah kesabaran berkat kekuatan dari pertolongan dari Allah. Dua golongan ini tidak melihat ada kesabaran pada dirinya dan tidak pula mempunyai kekuatan untuk sabar. Di atasnya adalah kesabaran menurut hukum Allah. Artinya dia sabar mendapatkan hukum-hukum yang berlaku bagi dirinya, yang disukai maupun yang dibencinya.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, kesabaran karena Allah merupakan kesabaran yang paling lemah. Yang benar, sabar karena Allah lebih tinggi daripada sabar berkat pertolongan Allah. Karena sabar karena Allah berkaitan dengan Uluhiyah-Nya, sedangkan sabar berkat pertolongan Allah berkaitan dengan Rububiyah-Nya. Apa-apa yang berkait dengan Uluhiyah-Nya lebih sempurna daripada apa-apa yang berkait dengan Rububiyah-Nya. Di samping itu, sabar karena Allah merupakan cermin ibadah, dan sabar berkat pertolongan Allah merupakan permohonan uluran pertolongan dari-Nya. Ibadah merupakan tujuan dan permohonan pertolongan merupakan sarana. Sabar berkat pertolongan Allah menjadi hak persekutuan bagi orang Mukmin dan kafir, orang baik dan orang buruk. Setiap orang yang mempersaksikan hakikat alam tentu mendapatkan kesabaran dari Allah. Sedangkan sabar karena Allah merupakan tempat persinggahan para nabi, rasul, shiddiqin dan orang-orang yang mengamalkan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

Sabar menurut hukum-hukum Allah artinya sabar menerima takdir-Nya. Sabar ini ditempatkan pada tingkatan ketiga dan yang paling tinggi. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, sabar dalam ketaatan dan sabar menjauhi kedurhakaan, lebih sempurna daripada kesabaran menerima takdir-Nya, seperti kesabaran Yusuf Alaihis-Salam. Kesabaran beliau dengan tetap menjaga ketaatan dan menjauhi kedurhakaan merupakan kesabaran atas pilihan sendiri, karena cinta kepada Allah. Sedangkan kesabaran menerima hukum-hukum Allah merupakan kesabaran yang pasti dan tidak bisa dihindari. Tentu saja ada perbedaan di antara keduanya.

[Berikutnya....(16) Ridha]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]


by
u-must-b-lucky

0 comments: