GERBANG RAMADHAN

Allahummabaariklanafi Rajab wa Syaban, wa balighna Ramadhan.

Sepenggal doa itu amat populer di kalangan kaum Muslimin khususnya saat memasuki bulan Rajab dan Saban. Doa itu bermakna, "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Saban, dan sampaikanlah kami untuk bertemu dengan bulan Ramadhan."

Kalau kita merunut sejarah turunnya ayat-ayat Al-Qur'an, pada tahun kedua Hijriah muncul beberapa kewajiban. Selain kewajiban mengenai puasa di bulan Ramadhan, juga kewajiban untuk membayar zakat fitrah. Sementara perintah mengenai kewajiban zakat maal baru muncul pada tahun kedelapan Hijriah.

Mengapa bulan Saban menjadi begitu penting ? Saban merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriah yang disebut juga bulan Ruwah atau Rewah. Keberadaan Saban tak bisa dilepaskan dari bulan ketujuh yakni Rajab dan bulan kesembilan, Ramadhan, sehingga amat tepat doa di atas.

Secara bahasa, Saban berasal dari kata sya'aba, yusya'abu, tasya'ubuun yang bermakna berpindah-pindah seraya berpencar. Dalam sejarahnya, kebiasaan masyarakat di jazirah Arab pada bulan kedelapan (Saban) adalah berpencar untuk mencari air. Mereka mencari air sebagai sumber kehidupan sampai ke gua-gua yang dilakukan sejak zaman Babilonia.

Sementara Ramadhan secara bahasa bermakna panas yang menyengat (membakar), sehingga saking panasnya membuat tanah pun terasa hangus terbakar. Para ahli sufi mengibaratkan Ramadhan sebagai bulan yang panas untuk membakar dosa-dosa bagi kaum beriman yang berpuasa (shaum).

Selain menjadi gerbang bulan Ramadhan, dalam sejarahnya Saban juga tercatat sebagai bulan turunnya ayat Al-Qur'an yang memerintahkan perpindahan kiblat dari Masjid Aqsa di Palestina ke Masjidilharam, Mekah. Saban juga tercatat sebagai bulan turunnya ayat Al-Qur'an yakni Surat Al Ahzaab : 56 yang memerintahkan manusia untuk bershalawat kepada nabi sehingga Saban dikenal sebagai bulan shalawat.

Selain itu, selama Saban juga Nabi Muhammad SAW. melakukan paling banyak puasa sunah sebagai persiapan melaksanakan puasa wajib selama Ramadhan. Kita memang harus mempersiapkan diri baik jasmani maupun rohani untuk menghadapi Ramadhan agar hasil Ramadhan tidak sebatas lapar dan dahaga. Sudah semestinya kita bersungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi datangnya Ramadhan. Bahkan, Muslim yang mempersiapkan dirinya sungguh-sungguh menghadapi bulan Ramadhan, sehingga senang dengan datangnya Ramadhan, surga adalah balasannya. (Hadits)

Jika diibaratkan, Saban adalah lampu kuning yang menandakan sebentar lagi Ramadhan akan menjelang. Kalau sudah lampu kuning, tinggal sebulan lagi Ramadhan tetapi kondisi kita belum dipersiapkan dengan baik, hati belum dibersihkan, ria (ingin dipuji) masih menempel, ataupun kikir belum menyingkir, sehingga ketika Ramadhan datang, ternyata kita belum siap.

Kesungguhan dalam melaksanakan perintah Allah dicontohkan para nabi, seperti Nabi Ibrahim AS. bahkan ketika harus mengorbankan anak tersayangnya, Ismail AS. Maka, Allah ganti dan Allah balas dengan yang terbaik.

Lihatlah bagaimana kesungguhan Siti Hajar. Waktu itu dia ditinggal di lembah Bakkah (Mekah) yang belum ada apa-apanya selain hanya lembah yang sunyi. Siti Hajar bertanya kepada Nabi Ibrahim AS., "Hai Ibrahim, engkau meninggalkanku di sini apakah karena kehendakmu atau karena perintah Allah ? Kalau kehendakmu sendiri, aku tak mau, sama saja engkau sudah menelantarkan istri dan anakmu. Tapi kalau ini merupakan perintah Allah, maka aku akan menaatinya."

Siti Hajar waktu itu tidak membawa cangkul, tidak membawa alat mengebor untuk menemukan air. Apakah yang dilakukan Siti Hajar ? Yang dilakukannya adalah selalu memberikan yang terbaik dan selalu bersungguh-sungguh. Yang bisa dilakukan oleh Siti Hajar hanyalah berlari dari Safa ke Marwa. Ia terus bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan air tersebut. Artinya, jika kita beribadah kepada Allah, jika kita sungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka pasti ada hasilnya.

Teladanilah Rasulullah SAW. Jika di luar Ramadhan nabi sangat gemar bersedekah, ketika Rajab maka sedekahnya bertambah. Ketika Saban, sedekahnya bertambah lagi dan puncaknya pada Ramadhan sehingga sedekahnya akan bertambah dan bertambah lagi sehingga tak bisa dihitung. Saban gerbangnya Ramadhan. Sebentar lagi Ramadhan akan datang. Siapkanlah diri kita baik-baik dan sungguh-sungguh. Allah tidak melihat berapa rakaat shalat Tarawih kita. Berapa kali kita khatam Al-Qur'an. Berapa banyak tiang yang kita sedekahkan. Namun, Allah melihat kita melakukan segala perintah-Nya secara sungguh-sungguh hanya untuk mencari keridaan Allah.

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 28 Juni 2011 / 26 Saban 1432 H pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky

0 comments: