PENGHAPUS KEBAIKAN

"Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada Adam. Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya." (HR. Ibnu Asakir)

Dalam pergaulan kehidupan sehari-hari, secara sadar ataupun tidak, dalam hati kita kadang tertanam sikap iri ketika melihat saudara, teman, dan tetangga yang mendapat kenikmatan dan kebahagiaan. Hati merasa benci saat tetangga terlihat riang dengan kebahagiaan yang mereka miliki. Hati terasa panas ketika saudara-saudara kita terlihat asyik dengan kebahagiannya. Hati ini sering cemburu ketika teman-teman kita memiliki harta melebihi harta yang kita miliki. Andaikan bisa, kita menginginkan kenikmatan, kebahagiaan, dan harta yang mereka miliki hilang atau bahkan datang berbalik kepada kita.

Sebaliknya, kita akan merasa senang jika tetangga kita mendapat kesusahan dan kesengsaraan. Kita merasa gembira bila saudara-saudara kita berada dalam kesempitan dan kesulitan. Kita akan tertawa ketika teman-teman kita sedang berada dalam kesedihan. Inilah salah satu penyakit yang sering bersarang dalam hati kita. Inilah yang dinamakan iri dan dengki.

Jika dengki merupakan penyakit hati, ini harus segara dihindari dan disembuhkan karena dengki merujuk kepada kebencian dan kemarahan yang timbul akibat perasaan cemburu atau iri hati yang sangat besar. Dengki amat dekat dan berhubungan dengan unsur jahat, benci, fitnah, dan perasaan dendam yang terpendam.

Imam Al-Ghazali mengatakan, dengki (hasad) adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Jika diperhatikan, dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Sebaliknya, orang yang didengki tentulah orang yang dianggapnya lebih tinggi dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih "kecil" atau lebih lemah. Itulah sebabnya pepatah Arab mengatakan, "Kullu dzi ni'matin mahsuudun." (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki.)
Sebab, utama sikap dengki adalah karena hilangnya sikap syukur terhadap segala nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Kita sering melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain dan melupakan nikmat yang telah kita miliki. Akhirnya, kita sering membanding-bandingkan situasi dan kondisi yang ada pada kita dengan situasi dan kondisi yang dimiliki orang lain. Kita akan merasa iri dan cemburu jika kondisi keduniawian orang lain lebih tinggi dari kita. Sebaliknya, kita akan tersenyum sombong jika kondisi keduniawian kita jauh lebih tinggi daripada orang lain. Kita simak sabda Rasulullah SAW. yang berbunnyi,
"Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar." (HR. Abu Daud)

Hadits ini menegaskan bahwa dengki adalah penyakit yang paling merugikan. Yang dirugikan adalah si pendengki. Bagaimana tidak rugi, amal baik kita akan musnah jadi abu karena dimakan oleh api kedengkian. Semakin kuat kedengkian bersemayam dalam diri, semakin banyak amal kita yang terbakar. Mengapa demikian? Sebab, kedengkian akan mengantarkan si pendengki untuk menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya.

Lebih jauhnya lagi, si pendengki terjerumus ke dalam jurang fitnah. Akibatnya, berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan, pahala demi pahala, sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan orang lain, terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk.

Allah SWT. menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas'ud Al-Anshari mengatakan, saat turun ayat tentang infak, para sahabat mulai memberikan infak. Ketika ada orang Muslim yang memberi infak dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Ketika ada orang Muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)

Perhatikan firman Allah ini,

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Allatheena yalmizoona almuttawwiAAeena mina almumineena fee alssadaqati waallatheena la yajidoona illa juhdahum fayaskharoona minhum sakhira Allahu minhum walahum AAathabun aleemun
Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan untuk mereka azab yang pedih. (QS. At Taubah: 79)

Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalannya. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai iri hati dan dengki akan menanggung beban berat yang tidak seharusnya. Karena setiap kali ia melihat orang yang didengkinya dengan semua kesuksesannya, hati dan perasaannya menderita dan hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Seperti layaknya penyakit ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Bila tidak segera dihilangkan, akan mengundang penyakit lainnya. Maka, jauhilah dengki. ***

[Ditulis oleh ATEP HASAN SUKARNA, khotib di Masjid Jami Al-Furqan, aktif di Pemuda Muslimin INdonesia Cabang Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 1 Maret 2013 / 18 Rabiul Akhir 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky

0 comments: