INVESTASI AKHIRAT

Di dunia, orang-orang ramai melakukan investasi. Menyimpan tabungan, deposito, saham, dan lain-lain di lembaga-lembaga keuangan. Dari investasi itu diharapkan mengalir keuntungan jangka panjang. Bahkan diharapkan pula, keuntungan tersebut dapat tembus hingga ke akhirat kelak, menjadi bagian dari amal saleh yang mengandung ganjaran di sisi Allah SWT.

Ada tiga jenis investasi akhirat yang perlu dilakukan manusia ketika masih hidup. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.,
"Putus amal-amalan manusia jika telah mati, kecuali tiga perkara. Yaitu sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orangtuanya." (HR. Imam Muslim)

Ketiga hal di atas, ganjarannya akan mengalir terus, kendati pelakunya sudah meninggal karena mengandung manfaat bagi setiap orang yang masih hidup.

Yang termasuk sadaqah jariyah, adalah segala sesuatu pengorbanan, baik moral, maupun material-finansial, yang dikerjakan semata-mata karena Allah SWT. Ikhlas lillahita'ala. Pengorbanan moral dapat berbentuk gagasan, pendapat, atau inisiatif yang berhasil diterapkan untuk kemaslahatan umat sepanjang waktu.

Rasulullah SAW. menyatakan,
"Siapa yang memberi contoh kebaikan dalam Islam akan mendapat ganjaran dari perbuatannya itu dan mendapat ganjaran pula dari contoh perbuatan yang diikuti dan dikerjakan orang lain. Barang siapa memberi contoh buruk dalam Islam, akan mendapat dosa dari perbuatannya itu ditambah dengan dosa-dosa dari orang yang meniru perbuatannya tersebut." (HR. Imam Muslim)

Pengorbanan berupa material-finansial, berupa penyerahan sebagian harta miliknya untuk kepentingan umum, yang mengandung kemaslahatan dan syiar agama. Antara lain, membangun masjid, madrasah, santunan kepada fakir miskin, dan sebagainya.

Sadaqah jariyah merupakan obat bagi penyakit paling parah yang sering diderita manusia. Yaitu penyakit bakhil alias kikir. Berdasarkan beberapa hadits, para ulama menyatakan, tak ada penyakit yang lebih parah daripada bakhil (ayyu dain adwa-u minal bukhli).

Maka orang yang suka sadaqah jariyah, akan terbebas dari penyakit kronis tersebut. Sadaqah jariyah berdasarkan pada sabda Nabi SAW., juga menjadi penolak mara bahaya (ash shadaqatu tanfa'ul bala) serta menjadi sarana mendatangkan rezeki (istanzilu riz-qa bish bish shadaqati).

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat menjadi petunjuk ke arah kebaikan dan kebajikan. Menjadi alat bagi mencapai kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Para ulama cerdik pandai tempo dulu, banyak meninggalkan ilmu bermanfaat untuk diamalkan dari generasi ke generasi. Misalnya, ilmu tentang amal ibadah, hukum halal dan haram, dan sebagainya, yang berdampak positif terhadap kegiataan di berbagai bidang garapan sehari-hari.

Investasi akhirat bernilai lainnya adalah anak saleh yang mendoakan kedua orangtuanya. Ketika kedua orangtuanya masih hidup, anak tersebut senantiasa taat berbakti. Menjauhi segala perbuatan yang dapat merusuhkan dan meresahkan hati ibu bapak. Mengikuti nasihat dan teladan untuk menempuh hidup baik dan benar. Menjauhi segala yang dilarang, serta mengerjakan segala yang diperintahkan sesuai dengan aturan Allah SWT. dan Rasul-Nya.

Menghindari pergaulan yang dapat menjerumuskan ke dalam penderitaan pribadi, yang akan menimbulkan kesusahan orangtua dan melibatkan mereka dalam kasus-kasus yang berlarut-larut, seperti narkoba, geng motor, dan sebagainya, yang tercela di mata hukum dan norma etika masyarakat.

Setelah kedua orangtuanya meninggal, anak saleh akan berdoa setiap waktu, agar ibu bapaknya mendapat rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Mendapat ganjaran atas jasa-jasanya memelihara dan menjadikan anaknya menjadi waladun salihun yad'ulahu. Anak saleh yang mendoakan orang tuanya yang saleh pula.

Adapun ciri-ciri orang saleh, tampak dalam perilaku yang diutarakan dalam QS. Al-Furqan (25): 63-65, yaitu sebagai berikut,
 
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

WaAAibadu alrrahmani allatheena yamshoona AAala alardi hawnan waitha khatabahumu aljahiloona qaloo salaman
Waallatheena yabeetoona lirabbihim sujjadan waqiyaman
Waallatheena yaqooloona rabbana isrif AAanna AAathaba jahannama inna AAathabaha kana gharaman
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal."

Rendah hati. Bahkan terhadap orang yang mencercanya, tetap sopan santun dan membalas dengan ucapan penuh keselamatan. Mengisi malam dengan menegakkan qiyamul lail. Shalat malam, dzikir, wirid, tadarus Qur'an, ruku sujud mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selalu memohon perlindungan dari siksa api neraka, sehingga setiap ucapan, tindakan, termasuk makan minum, selalu menghindari yang haram-haram, baik wujudnya (haram dzatiyah), maupun caranya (haram afaliyah).

Pada zaman modern sekarang, mungkin investasi akhirat tersebut sudah sering terlupakan. Banyak kendala dalam melaksanakannya. Sadaqah jariyah sering tersingkir oleh penyakit bakhil, akibat pengaruh globalisasi, sebagaimana sinyalemen Rasulullah SAW.,
"Zaman semakin dekat. Amal kebaikan makin berkurang. Kekikiran merebak. Pembunuhan merajalela. Yataqaro-buzzaman, wa yanqusul amal, wa yulqassuhu wa yaktsurul haraju." (HR. Imam Bukhari)

Ilmu yang bermanfaat semakin surut, karena banyak ilmuwan mewariskan ilmu yang justru berdampak negatif. Seperti mengundang perang, tindak kriminal, tipu daya, permusuhan, dan lain-lain.

Anak saleh sulit tercipta akibat pengaruh lingkungan, krisis rumah tangga, dan berbagai faktor yang menyuburkan watak buruk pada anak-anak.

Akan tetapi, seberat apa pun keadaan, investasi akhirat harus tetap digalakkan. Nilai haq petunjuk Rasulullah SAW. tetap akan lestari dan berharga diterpa pusaran topan sebesar apa pun.

Akhirul kalam, tulisan ini kita tutup dengan doa syukur nikmat Nabi Sulaiman AS.,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

rabbi awziAAnee an ashkura niAAmataka allatee anAAamta AAalayya waAAala walidayya waan aAAmala salihan tardahu waadkhilnee birahmatika fee AAibadika alssaliheena
Ya Allah, berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu, yang telah Engkau berikan kepadaku dan ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml (27): 19)

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk Garut, pembimbing Haji dan Umrah Mega Citra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 23 Mei 2013 / 13 Rajab 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky

0 comments: