PEMIMPIN DAN MAKNA ISRA MIRAJ

Entah sudah berapa kali bangsa Indonesia memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Bahkan, setiap tanggal 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional. Kita mencoba merenung, sudahkah peristiwa penting itu dipahami dengan benar? Dampak apakah yang dihasilkan dari peringatan itu?
Ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra Miraj yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW. dalam waktu semalam. Ilmu manusia serba terbatas.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Wayasaloonaka AAani alrroohi quli alrroohu min amri rabbee wama ooteetum mina alAAilmi illa qaleelan
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra (17): 85)

Hanya dengan iman kita memercayai bahwa Isra Miraj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. layaknya keimanan yang ditunjukkan Abu Bakar Assidiq RA. Dari perjalanan itu, sesungguhnya kita bisa mengambil pelajaran untuk tiap diri khususnya para pemimpin.

Pertama, seorang pemimpin yang akan mengawali kekuasaannya harus didahului pembersihan diri. Bahkan, saat niat mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin juga harus dari hati yang bersih.

Sebagaimana tercermin dalam pembuka Surat Al-Isra' yang. dimulai dengan "tasbih" dan peristiwa pembersihan dada Nabi dengan air zamzam dan disempurnakan dengan wudhu sebelum menjalankan Isra. Bukan hanya pemimpin yang harus bersih, aparat pemerintah dan masyarakat pun harus menjalani reformasi moral.

Kedua, pentingnya komunikasi dan silaturahmi yang harmonis serta menghargai kepemimpinan sebelumnya. Ini terefleksi dalam singgahnya Rasulullah SAW. di tempat-tempat penting dan bersejarah, kemudian menemui para nabi pendahulunnya. Seorang pemimpin juga harus "singgah" atau blusukan ke tengah-tengah masyarakat sehingga memahami betul persoalan warganya.

Ketiga, Nabi juga mengalami berbagai godaan, hambatan, dan rintangan saat Isra Miraj sehingga bagi pemimpin adalah wajar bila sering dikritik bahkan dicaci maki. Balaslah kritik dengan kebaikan. Balaslah dengan kinerja nyata mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan partai atau golongannya.

Jangan sampai menjadi pemimpin yang berlagak sok pintar atau merasa paling tahu segala urusan (tanathu'). Pemimpin juga jangan sampai mempersulit (tasydid) dan kebijakannya tidak melewati batas kemampuan yang ada (ghuluw).

Keempat, Isra Miraj juga mengajarkan pentingnya ajaran Islam itu "dibumikan" bukan "melangit". Padahal, pertemuan dengan Allah adalah cita-cita dan tujuan akhir manusia. Mengapa Muhammad SAW. bersedia kembali ke bumi? Seorang yang jadi pemimpin harus tetap kembali ke rakyatnya, bukan berdiri dan duduk di atas menara gading.

Terakhir, Isra Miraj mengajarkan pentingnya mengelola pemerintahan secara efektif laksana melaksanakan shalat berjamaah. Apabila imam melakukan kekeliruan dalam kepemimpinannya, makmum (pengikut/rakyat) harus menegurnya dengan cara tertentu yang arif. Shalat yang diawali takbir (mengagungkan Allah) dan diakhiri salam (kesejahteraan) juga mengandung arti, segala aktivitas kepemimpinan haruslah berlandaskan keagungan Tuhan (nilai-nilai keikhlasan karena Allah) dan disempurnakan dengan komitmen mensejahterakan rakyat.

Semua itu bisa dilaksanakan apabila seorang pemimpin bersikap ihsan. Sederhananya, ihsan adalah seorang manusia yang merasa diawasi Allah dan para malaikat-Nya dalam setiap niat dan aktivitas apa pun yang dikerjakannya sehingga tidak akan pernah ia berlaku curang, sombong, apalagi dzalim.

Seorang pemimpin yang ihsan akan menyebarkan kasih sayang (rahmat) karena pada hakikatnya semua manusia bersaudara karena satu keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Seorang pemimpin harus lebih mencintai rakyatnya daripada dirinya sendiri.

Ihsan dan menyebarkan kasih sayang merupakan amal-amal kebajikan yang harus segera didistribusikan oleh seorang pemimpin. Kita semua termasuk pemimpin daerah (gubernur, bupati/wali kota, camat, dll.) tidak tahu kapan kita akan kembali pada Allah SWT. Alangkah ruginya kita bila saat dipanggil Allah SWT., kita tidak memiliki amalan kebaikan yang layak dan banyak sehingga sengsara dan azab yang akan kita dapatkan. Bila kita pernah melakukan dosa dan kesalahan, bersegera pula untuk bertobat. Iringi dosa dengan perbuatan baik.

Tentunya dengan memegang amanah sebagai pemimpin akan mengantarkannya menuju surga (jannah) tertinggi. Bukankah sah-sah saja kita berkeinginan meraih surga tertinggi sehingga bertemu para nabi dan rasul serta orang-orang terbaik yang pernah hidup sebelumnya maupun di masa yang akan datang?

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Hurairah telah dinyatakan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah SWT. di hari ketika tidak ada naungan adalah pemimpin yang adil. (HR Bukhari dan Muslim) Di hadist lain, Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila pemimpin itu memerintah agar takwa kepada Allah serta bertindak adil, ia akan memperoleh pahala. Namun, bila ia memerintah dengan selainnya, dia akan mendapatkan akibatnya."

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 30 Mei 2013 / 20 Rajab 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky

0 comments: