MUJAHID MASA KINI

Secara umum, mujahid adalah seorang Muslim yang berjuang di jalan Allah dengan mengerahkan segenap daya dan potensinya memerangi musuh-musuh Islam, berupa kekufuran, kemunafikan, kebatilan, dan kemungkaran sampai tidak ada fitnah dan sampai agama semata untuk Allah.

Dari pengertian di atas, dapat kita pahami bahwa,

Pertama, seorang mujahid itu tidak hanya disematkan pada orang-orang yang mengangkat senjata secara fisik melawan musuh-musuh yang hendak menghancurkan Islam di kancah peperangan, orang-orang yang berjuang melawan kebatilan, kemungkaran dan kemunafikan di luar situasi peperanganpun layak sebagai seorang mujahid.

Hal ini dapat kita pahami dari hadits Rasulullah SAW. ketika Rasulullah SAW. ditanya tentang jihad yang paling utama, beliau menjawab,
"Mengatakan yang hak (benar) di hadapan penguasa yang dzalim." (HR. Ahmad, Nasa'i, dan Imam Baihaqi)

Dalam sabdanya yang lain,
"Tak ada seorang pun nabi yang diutus sebelum aku, kecuali mempunyai pengikut dan sahabat yang mengikuti sunnahnya dan perintah-perintahnya. Kemudian, datanglah generasi (baru) yang suka mengatakan apa yang tidak dikerjakan dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. Maka, barangsiapa berjihad untuk memerangi mereka dengan tangan atau kekuasaannya, dia adalah seorang Mukmin. Barang siapa yang memerangi mereka dengan lidahnya adalah Mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, dia pun adalah seorang Mukmin. Tidak ada keimanan sebesar biji sawi pun setelah itu." (HR Muslim)

Kedua, untuk menjadi seorang mujahid tidak hanya saat berkecamuknya peperangan fisik melawan kafir harbi, pada saat terjadinya penyimpangan aqidah, kesesatan berpikir, kebejatan moral, kemiskinan dan kebodohan kitapun bisa menjadi seorang mujahid dengan syarat betul-betul untuk memperjuangkan agama Islam. Itu karena inti dari jihad adalah memerangi kekufuran, kebatilan, dan kemungkaran serta memerangi sebab-sebab yang dapat mendatangkan itu semua, seperti kebodohan dan kemiskinan.

Ketiga, lapangan jihad itu sangat luas, bukan hanya berperang fisik, bukan pula hanya memerangi kemungkaran dan kebatilan, membina dan mendidik umat agar mereka menjalankan ajaran agama secara menyeluruh juga merupakan bagian dari jihad, sebab, tujuan dari jihad adalah lenyapnya fitnah dan supaya agama itu semata untuk Allah.

Dengan demikian, mujahid itu bukan hanya orang yang berperang secara fisik dan tidak pula hanya ada di kancah peperangan fisik. Memerangi dekadensi moral, kemiskinan, kebodohan dan membina umat bisa menjadi lahan untuk menjadi seorang mujahid.

Adapun jihad paling utama disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh umat Islam, bila kondisi dan situasinya mengharuskan ia mengangkat senjata melawan musuh, maka berperang merupakan jihad yang paling utama yang harus dilakukan oleh seorang mujahid. Namun, bila kondisi dan situasinya mengharuskan dirinya membina dan menggerakkan umat untuk menjalankan ajaran Islam dan mempersiapkan generasi umat Islam menjadi pembela dan penolong agama Allah, maka ini merupakan jihad yang paling utama.

Oleh karena itu, mujahid-mujahid pada masa kini adalah orang-orang yang berjuang melawan aqidah yang menyimpang, kebejatan moral, kemiskinan dan kebodohan, juga orang-orang yang membentengi diri, keluarga dan masyarakat dengan mendidiknya, dan membinanya agar mereka memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya.

Mujahid-mujahid masa kini itu boleh jadi adalah para dai, penulis, guru, orangtua, atau siapa pun juga yang berjuang mengerahkan segenap kemampuannya menebarkan kebenaran, mendidik umat, dan berupaya menjadikan ajaran Islam direalisasikan oleh kaum Muslimin. Dan boleh jadi mereka itu adalah orang-orang yang sedang bertobat yang dengan sepenuh kekuatannya melepaskan diri dari belenggu kemaksiatan dan kemungkaran yang melilit dirinya agar ia dapat kembali pada jalan Allah SWT.

Di dalam ajaran Islam, seorang Mujahid menempati kedudukan yang tinggi lagi mulia. Ia juga akan mendapatkan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Ketika kita menjadi seorang mujahid maka sesungguhnya manfaat dan kebaikan jihad yang kita lakukan bukan untuk Allah, akan tetapi akan kembali kepada diri kita sendiri.

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW.07 Sarijadi Bandung, alumnus Pontren Perguruan KH. Zainal Musthafa Sukamanah Singaparna Tasikmalaya. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 21 Juni 2013 / 12 Saban 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky

1 comments:

Anonymous said...

kunjungin dan bergabung dengan forum seputar dunia khilafah http://transparan.org/