MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Sudah menjadi sunnatullah bahwa kehidupan selalu diwarnai oleh masalah. Terkait dengan kebaikan dan keburukan yang menimpa seseorang, ada beberapa tipe manusia, yaitu manusia yang mendapat kebaikan kemudian membalasnya dengan kebaikan serupa. Manusia yang mendapat kebaikan tetapi enggan membalasnya. Manusia yang mendapat kebaikan kemudian membalasnya dengan keburukan. Manusia yang mendapat keburukan membalasnya dengan keburukan serupa. Manusia yang mendapat keburukan tetapi membalas dengan kebaikan.

Apabila tipe-tipe tersebut dikaitkan dengan diri kita, termasuk ke dalam tipe manakah kita? Jika kita mendapat kebaikan kemudian membalasnya dengan kebaikan serupa, hal ini biasa. Ini namanya kebaikan berbalas kebaikan. Namun, hal yang paling sulit kita lakukan adalah saat kita mendapatkan perlakuan jahat dan buruk dari orang lain, kita membalasnya dengan kebaikan.
Secara naluriah, saat orang lain memperlakukan kita dengan buruk dan jahat, kita biasanya menanam dendam agar saat itu juga bisa membalas kejahatan dan keburukan yang mereka perbuat. Atau bila saat itu kita tidak melakukannya, kita sering cari-cari waktu agar bisa melampiaskan dendam kita suatu saat kelak. Akhirnya, terjadilah tawuran antar pelajar, permusuhan sesama keluarga, perkelahian antar warga, bentrok antar kampung, perselisihan antar suku, hingga pertikaian antara satu bangsa dengan bangsa lain. Alasannya hanya satu, demi menjaga harga diri yang merasa terinjak-injak dengan perlakuan buruk orang lain.

Padahal Allah SWT. telah mengingatkan melalui ayatnya,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

IdfaAA biallatee hiya ahsanu alssayyiata nahnu aAAlamu bima yasifoona

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. (QS. Al-Mukminun (23): 96)

Watak manusia memang sangat beragam dan terkadang tak sehaluan dengan apa yang kita inginkan. Secara manusiawi, kita menginginkan setiap orang berbuat baik kepada kita. Bahkan, ketika kita melakukan kejahatan terhadap orang lain, inginnya kita mendapat maaf dan kebaikan dari orang yang kita jahati. Terkait dengan hal ini, kita diingatkan dengan pepatah yang mengatakan,
"Ingatlah selalu kebaikan orang lain terhadap kita dan lupakanlah kebaikan kita terhadap orang lain. Lupakanlah kejahatan orang lain terhadap kita dan ingatlah selalu kejahatan kita terhadap orang lain."

Pepatah ini jelas menyaratkan kesabaran, keikhlasan, dan kebesaran jiwa seorang Muslim dalam merealisasikan ajaran Islam yang ramah dan santun, apalagi jika ini dialami oleh mereka yang berposisi sebagai pendakwah, dai, dan mubalig yang senantiasa menyampaikan kebenaran kepada masyarakat banyak. Begitulah esensi dakwah yang sesungguhnya seperti halnya dakwah yang dibumikan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah telah banyak mengajarkan untuk menyebar kebaikan kepada sesama dan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Sosok Rasulullah SAW. adalah teladan yang patut kita tiru, bagaimana beliau sering mendapat perlakuan buruk tetapi tidak pernah membalasnya dengan keburukan serupa bahkan seringkali membalasnya dengan kebaikan. Salah satunya kisah yang terjadi di sudut pasar Madinah Al-Munawarah.

Adalah seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari selalu mengumpat dan menjelek-jelekkan Rasulullah SAW. di hadapan orang banyak dengan umpatan gila, pembohong, tukang tipu, dan tukang sihir. Namun, tanpa disadari olehnya, setiap pagi Rasulullah SAW. mendatanginya dengan membawa makanan untuknya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Rasulullah menyuapi pengemis buta tersebut dengan makanan yang dibawanya. Akan tetapi, pengemis Yahudi buta itu tak henti-hentinya mengumpat Rasulullah. Begitulah yang dilakukan Rasulullah SAW. setiap hari hingga beliau wafat.

Setelah Rasul wafat, kini tak ada lagi yang menyuapkan makanan untuk si pengemis buta itu. Suatu hari Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah. Beliau berkata kepada Aisyah, "Anakku, adakah sunnah Rasul yang belum aku kerjakan?" Aisyah menjawab, "Wahai ayahku, setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana."

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar membawakan makanan untuk si pengemis buta dan mulai menyuapinya. Namun, saat beliau menyuapi si pengemis itu, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapa kamu?" Abu Bakar menjawab, "Aku orang yang biasa menyuapi makanan untukmu."

"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa datang padaku." Jawab si pengemis itu. "Apabila dia datang padaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut," lanjut si pengemis.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Beliau menangis dan berkata, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Orang yang biasa datang padamu telah tiada, dialah Muhammad Rasulullah SAW." Akhir cerita, pengemis Yahudi buta itu sadar dan bersyahadat di hadapan Abu Bakar.

Kisah di atas kiranya memberi pelajaran kepada kita tentang buah dari sikap kebesaran jiwa untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Begitu mulianya sikap ini hingga bisa mengetuk hati sekeras batu. Tak semestinya kejahatan dibalas dengan kejahatan karena Allah menyukai kebaikan dan orang-orang yang selalu berbuat baik. ***

[Ditulis oleh OKI SOPIAWIGUNA, Khatib jum'at di beberapa Masjid di Kabupaten Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 2 Agustus 2013 / 24 Ramadhan 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky

0 comments: