Dalam bahasa Arab, akar kata "malaka" mempunyai beberapa lafaz dengan arti yang berbeda-beda. Ada lafaz al-mulku, yang berarti kerajaan. Ada juga al-milku, dengan arti kepunyaan atau milik. Ada pula al-malaku. yang berarti malaikat. Ada juga al-maliku yang berarti raja. Ada pula maaliki, dengan arti yang memiliki atau merajai.

Dalam surat al-Fatihah ayat keempat disebutkan "
Maaliki yaumiddin". Lafaz maaliki, itu mengandung arti yang memiliki atau merajai. Sementara itu yaum berarti hari dalam pengertian 1 x 24 jam walaupun ada yang mengartikan hari itu dengan musim atau masa. Sementara lafaz ad-din, mengandung arti agama sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 19, "Sungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam." Selain itu, ad-din mengandung arti pembalasan. Sebagaimana dalam ungkapan bahasa Arab yang artinya, "Sebagaimana engkau membalas, demikian pula engkau akan dibalas." Dengan demikian, ayat "Maaliki yaumiddin" dapat diterjemahkan menjadi yang merajai di hari pembalasan.

Ayat di atas, dalam kaidah Ilmu tafsir, ternyata ada hubungahnya dengan ayat sebelumnya, yaitu "
ar-Rahman ar-Rahim" yang disebut dengan korelasi antar ayat (tanasub al-ayat). Seperti dalam surat al-Ghasiyah ayat 17 dan 18. Disebutkan pada ayat 17, "Tidakkah mereka memperhatikan bagaimana unta diciptakan". Dalam ayat selanjutnya disebutkan, 'dan langit bagaimana ditinggikan'. Sepintas tidak terdapat hubungan antara kedua ayat tersebut. Setelah membicarakan unta, kemudian membahas langit ! Ternyata ada benang merah antara unta dan langit. Ketika unta sedang berada di padang pasir yang gersang dan sulit air, unta biasanya sering menengadah ke langit, berharap kapan Allah SWT akan menurunkan hujan.

Para ahli tafsir berpendapat bahwa penyebutan "
ar-Rahman ar-Rahim", menunjukkan akan kasih sayang Allah di dunia ini untuk makhluk-Nya yang tidak terhingga dan menyeluruh dengan tanpa kecuali. Sementara itu "Maaliki yaumiddin" disebutkan supaya manusia sadar bahwa Allah juga penguasa di akhirat nanti.

Muhammad Rasyid Ridla dalam tafsir Al-Manar mengatakan bahwa penyebutan "
ar-Rahman ar-Rahim" adalah sebagai targhib (motivasi) untuk mengharapkan kasih sayang Allah. Sementara itu "Maaliki yaumiddin" disebutkan sebagai tarhib (peringatan) bahwa sekalipun Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tetapi Allah akan menegakkan keadilan, memberikan ganjaran kepada yang melanggar aturan Allah.

Diharapkan manusia tidak akan mengandalkan kasih sayang Allah saja, tetapi juga harus takut dengan siksaan dan hukuman-Nya. Dalam QS.
Al-Hijr ayat 49-50 disebutkan, "Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih."

Banyak orang di dunia ini menganggap, ketika melakukan pelanggaran, atau lolos dari jeratan hukum karena tidak diketahui si pelakunya, atau lolos dari ancaman hukuman dengan berbagai dalih dan alibi, seakan merasa bangga dan telah selamat dari maut. Para koruptor pun, dengan pergi ke Singapura, seakan urusan mereka telah selesai. Padahal di hari akhir, kelak Allah akan memperhitungkan sekecil apa pun kebaikan seseorang dan sekecil apa pun pelanggaran seseorang.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhori disebutkan, "
Hendaklah setiap Muslim itu bersedekah. Nabi ditanya oleh para sahabat, bagaimana kalau tidak bisa melaksanakannya ? Jawab Nabi, hendaklah ia bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat bagi dirinya dan dapat bersedekah. Para sahabat bertanya kembali, jika tidak mampu ? Nabi menjawab, hendaklah ia menolong orang yang membutuhkan. Para sahabat bertanya lagi, jika tidak mampu ? Nabi menjawab, hendaklah ia mengerjakan kebaikan dan menahan diri dari kejahatan. Sesungguhnya itu merupakan sedekah bagi dirinya."

Dalam hadis riwayat Iman Bukhori lainnya disebutkan, "
Jagalah dirimu dari api neraka walaupun (bentuk sedekahnya) dengan separuh dari buah kurma." Atau dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud disebutkan, "Telah diperlihatkan kepadaku, pahala-pahala umatku, bahkan (pahala) seseorang yang mengeluarkan sampah dari masjid."

Selain itu, kita dituntut untuk mawas diri dengan perbuatan dosa kita. Nabi bersabda, "
Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa-dosanya itu seolah-olah ia duduk di bawah gunung. Dia merasa takut gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang durhaka (fajir), dia melihat dosa-dosanya itu bagaikan lalat yang lewat di depan hidungnya." (HR. Bukhori) Tentu saja, sekecil apa pun dosa kita, hendaklah disadari bahwa itu merupakan satu kesalahan yang jika kita tidak meminta ampun, bisa bertumpuk menjadi besar. Dalam pepatah bahasa Arab disebutkan, "Tidak terhitung dosa besar jika ditaubati dan tidak dihitung dosa kecil jika dilakukan terus-menerus." Padahal janji Allah dalam QS. al-Zalzalah ayat 8 disebutkan, "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (biji sawi) pun, niscaya dia (orang tersebut) akan melihat (balasan)-nya pula."

Nabi Muhammad SAW. dalam satu hadisnya menyinggung tentang perkara orang yang pailit (bangkrut) di akhirat nanti. Yaitu orang yang amal kebaikannya habis dan tidak tersisa sedikit pun, dipotong dengan perhitungan amal jahatnya. "
Sesungguhnya Rasulullah bersabda, apakah kalian tahu siapa orang yang pailit / bangkrut ? Sahabat menjawab, orang yang pailit / bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya harta (dirham) dan kesenangan. Nabi menjawab, orang yang pailit / bangkrUt di antara umatku ialah orang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, shaum, zakat, tetapi ia sungguh telah memaki seseorang, menuduh orang lain, makan harta orang lain, membunuh orang, dan memukul orang. Maka diberikanlah kebaikan orang ini kepadanya dan kepada yang lainnya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya sebelum ia diadili, lalu diambillah dosa-dosa mereka kemudian diserahkan kepadanya (sebagai ganti), kemudian ia diseret ke dalam api neraka." (HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa perhitungan amal baik dan amal buruk itu, hendaklah kita perhitungkan sendiri selagi masih hidup di dunia, sebagaimana anjuran sahabat Umar bin Khattab RA., "
hisablah dirimu sebelum dihisab di hari akhir." Jika terdapat kesalahan terhadap Allah, segeralah memohon ampunan kepada-Nya. Dan jika terdapat kesalahan kepada sesama manusia, mohonkanlah maaf kepada orang itu supaya tidak menuntut kepada diri kita di hari akhir nanti.***

[Ditulis oleh : KH. ACENG ZAKARIA, Ketua Bidang Tarbiyyah PP. Persis dan Pimpinan Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango Garut, disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" edisi hari Kamis (Pon) 15 April 2010 pada kolom "CIKARAKCAK"]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(9) PEMBAGIAN MANUSIA BERDASARKAN KANDUNGAN IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

Jika engkau sudah mengetahui secara jelas masalah ini, maka berdasarkan 2 (dua) dasar (Ibadah dan isti'anah) manusia bisa dibagi menjadi 4 (empat) golongan :
  1. Ahli ibadah dan isti'anah kepada Allah. Mereka merupakan golongan yang paling mulia dan paling tinggi. Ibadah kepada Allah merupakan tujuan mereka, dan mereka pun memohon agar Allah menolong dan memberikan taufik, sehingga mereka dapat melaksanakan ibadah itu. Karena itu permohonan paling utama yang disampaikan kepada Allah ialah pertolongan menurut keridhaan-Nya, seperti yang diajarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang beliau cintai, Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu. Beliau bersabda, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah engkau lalai untuk mengucapkan seusai setiap shalat, 'Ya Allah, tolonglah aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur dan beribadah secara baik kepada-Mu'."
  2. Orang-orang yang tidak mau beribadah dan tidak mau memohon pertolongan kepada-Nya. Mereka tidak mengenal ibadah dan isti'anah. Ini kebalikan dari golongan yang pertama. Bahkan jika salah seorang di antara mereka memohon kepada-Nya, maka hal itu dimaksudkan untuk memuaskan nafsunya, bukan berdasarkan keridhaan dan hak-Nya. Semua yang ada di langit dan di bumi memohon kepada-Nya. Bahkan makhluk yang paling dibenci Allah dan musuh-Nya, Iblis, masih sempat memohon kepada Allah dan Allah pun memenuhinya. Tapi karena apa yang dimohon itu bukan untuk mendapatkan keridhaan-Nya, maka ia semakin menambah penderitaan, kesengsaraan dan dia semakin jauh dari Allah. Begitulah keadaan setiap orang yang memohon pertolongan kepada Allah, namun tidak dimaksudkan untuk menambah ketaatan kepada-Nya, sehingga dia menjadi budak dari apa yang dimintanya. Hendaklah diketahui, bahwa kalaupun Allah memenuhi permintaan orang yang meminta kepada-Nya, bukan karena ada kemuliaan pada diri orang yang meminta itu. Hamba meminta kepada-Nya dan Allah memenuhinya, padahal permintaannya itu boleh jadi menjadi sumber kehancuran dan penderitaannya, sehingga pemenuhan Allah ini justru menjadi kehinaan baginya. Sebaliknya, tidak adanya pemenuhan Allah atas permintaan hamba justru merupakan kemuliaan dan gambaran cinta Allah kepadanya, perlindungan dan penjagaan Allah baginya dan bukan merupakan gambaran kekikiran Allah. Tapi orang yang bodoh akan mengira bahwa Allah tidak mencintai dan tidak pula memuliakannya, sehingga dia berburuk sangka terhadap Allah. Pemberian dan pencegahan Allah merupakan ujian. Firman-Nya :

    فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
    وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
    "
    Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberikan-Nya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memuliakanku'. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka dia berkata, 'Rabbku menghinakanku'. Sekali-kali tidak (demikian)." (QS. Al-Fajr : 15-16)Allah menyanggah dugaan orang, bahwa keluasan rezki yang dilimpahkan-Nya merupakan kemuliaan dari-Nya, sedangkan kemiskinan merupakan kehinaan dari-Nya, dengan befirman, "Aku tidak menguji hamba-Ku dengan kekayaan karena dia mulia di Mata-Ku. Aku tidak mengujinya dengan kemiskinan karena dia hina di Mata-Ku."Dia memberitahukan bahwa kemuliaan dan kehinaan tidak berkisar pada keluasan harta dan pembatasannya. Toh Allah menghamparkan harta seluas-luasnya kepada orang kafir, bukan karena dia mulia, dan membatasi harta pada orang Mukmin, bukan karena dia hina. Segala puji bagi Allah atas semua ini, dan Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jadi kebahagiaan dunia dan akhirat tetap kembali kepada iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.
  3. Golongan orang yang memiliki sebagian ibadah tanpa menghendaki isti'anah. Mereka ada 2 (dua) kelompok : Pertama, golongan Qadariyah yang berpendapat bahwa Allah telah melakukan apa yang ditetapkan-Nya pada hamba dan Dia tidak perlu lagi memberikan pertolongan kepada hamba, karena Allah telah menolongnya dengan menciptakan alat baginya, memperkenalkan jalan dan mengutus para rasul. Sehingga setelah adanya pertolongan ini, hamba tidak perlu lagi memohon kepada-Nya. Kedua, golongan yang beribadah namun tidak total dalam tawakal dan memohon pertolongan kepada-Nya. Pandangan mereka tidak mengaitkan orang yang bergerak kepada siapa yang menggerakkan, tidak mengaitkan sebab kepada pembuat sebab, tidak mengaitkan alat kepada pelaku.
  4. Golongan yang mempersaksikan bahwa hanya AUahlah satu-satunya yang memberikan manfaat dan mudharat. Apa pun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, namun mereka tidak berbuat apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Seorang hamba tidak bisa mewujudkan iyyaka na'budu kecuali dengan 2 (dua) dasar: Mengikuti Rasulullah dan ikhlas terhadap Allah yang disembah. Ditilik dari 2 (dua) dasar ini, maka manusia bisa dibagi menjadi 4 (empat) golongan :
  1. Orang-orang yang ikhlas karena Allah dan mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Merekalah yang benar-benar menghayati iyyaka na'budu. Semua perkataan dan perbuatan mereka karena Allah, memberi karena Allah, menahan karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah. Mu'amalah mereka secara lahir dan batin karena mengharap Wajah Allah semata, tidak dimaksudkan untuk mencari imbalan, pujian, pengaruh, kedudukan dan simpati di hati manusia ataupun menghindari celaan manusia. Bahkan mereka menganggap semua manusia tak ubahnya mayat yang sudah mati, tidak bisa memberi manfaat dan mudharat. Perbuatan yang dimaksudkan untuk mendapatkan kedudukan, mengatur manfaat dan mudharat, sama sekali tidak mereka kenal. Maka Al-Fadhl bin Iyadh pernah berkata, "Amal yang baik ialah yang paling ikhlas dan paling benar." Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apa yang dimaksudkan paling ikhlas dan paling benar itu ?" Dia menjawab, "Jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak diterima pula, hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas artinya karena Allah. Benar artinya berdasarkan As-Sunnah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah : "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya." (QS. Al-Kahfi : 110)
  2. Orang yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti As-Sunnah. Amalnya tidak sejalan dengan syariat dan tidak pula ikhlas terhadap Allah yang disembah, seperti perbuatan orang-orang yang ingin pamer di hadapan manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling buruk dan paling dibenci Allah. Mereka inilah yang digambarkan dalam firman Allah :

    لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
    "Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih." (QS. Ali Imran : 188)
  3. Ikhlas dalam amalnya namun tidak mengikuti perintah dan As-Sunnah, seperti yang dilakukan para ahli ibadah yang bodoh, mereka yang cenderung kepada zuhud dan hidup miskin, orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan perintah-Nya.
  4. Amalnya sesuai dengan perintah dan As-Sunnah, tetapi untuk tujuan selain Allah, seperti orang yang berjihad karena riya' dan memamerkan patriotismenya, menunaikan haji agar dia dipuji atau membaca Al-Qur'an agar disanjung. Amal mereka secara zhahir sesuai dengan perintah, tetapi tidak shalih.
Orang-orang yang mengamalkan iyyaka na'budu secara konsisten memiliki sisi pandang yang berbeda tentang ibadah yang paling utama, paling bermanfaat, paling layak untuk diprioritaskan. Dalam hal ini mereka ada 4 (empat) pendapat :
  1. Orang-orang yang menganggap ibadah yang paling baik dan utama adalah yang paling sulit dan berat, karena ibadah semacam ini adalah yang paling jauh dari hawa nafsu. Sementara menurut mereka, pahala juga diukur dari kadar kesulitan ibadah. Mereka berpendapat kepada hadits yang sama sekali tidak ada dasarnya, "Amal yang paling utama adalah yang paling sulit atau berat." Mereka adalah orang-orang yang memang rajin beribadah, namun bertindak semena-mena terhadap diri sendiri. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah zuhud di dunia, meminimkan andil dalam keduniaan dan tidak peduli terhadap kehidupan dunia.
  2. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah yang manfaatnya merambah secara luas. Menurut mereka, menyantuni orang-orang miskin, memenuhi kebutuhan orang banyak, membantu mereka dengan tenaga dan harta adalah ibadah yang paling utama. Mereka beralasan bahwa amal ahli ibadah hanya bagi dirinya sendiri, sedangkan amal orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain bisa dirasakan orang banyak, karena itu kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti kelebihan rembulan atas seluruh bintang-gemintang. Mereka juga berhuj jah dengan hadits-hadits tentang pahala yang diberikan kepada pelaku kebaikan dan dia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikan yang dilakukannya itu.
  3. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah amal yang dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah, sesuai dengan timingnya dan tugas yang memang harus dilaksanakannya. Ibadah yang paling utama pada waktu jihad adalah berjihad, sekalipun harus meninggalkan shalat malam dan puasa, bahkan sekalipun dia harus meninggalkan shalat fardhu karena kondisi perang. Ibadah yang paling utama sewaktu ada tamu yang datang ialah memenuhi hak-hak tamu. Ibadah yang paling utama pada waktu sahur adalah mengerjakan shalat, membaca Al-Qur'an, berdoa dan berdzikir. Begitu pula setiap ibadah yang disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, maka itulah ibadah yang paling utama.
  4. Golongan yang keempat ini adalah ahli ibadah yang tak mengenal batasan, sedangkan tiga golongan lain sebelumnya adalah ahli ibadah yang terbatas. Jika salah seorang di antara tiga golongan ini keluar dari jenis ibadah yang menjadi andalannya, maka dia menganggap ada yang kurang dalam ibadahnya itu atau dia telah meninggalkan ibadahnya sama sekali, karena dia beribadah kepada Allah dengan satu pola. Sementara orang yang ibadahnya tidak mengenal batasan, tidak mementingkan satu ibadah daripada yang lain. Tujuan yang diraihnya adalah keridhaan Allah, di mana dan kapan pun dia berada. Dia selalu berpindah-pindah di berbagai tempat ibadah. Jika engkau melihat para ulama, maka dia tampak bersama mereka. Jika engkau melihat para ahli ibadah, dia tampak bersama mereka. Jika engkau melihat para mujahidin, dia tampak terlihat bersama mereka. Jika engkau melihat orang-orang yang mengeluarkan shadaqah, dia tampak bersama mereka. Inilah hamba yang tidak terikat dan tidak memiliki gambar tertentu. Dialah orang yang mewujudkan makna iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in secara konsekuen.

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(8) CAKUPAN IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN TERHADAP MAKNA-MAKNA AL-QUR'AN, IBADAH DAN ISTI'ANAH

Rahasia penciptaan, perintah, kitab-kitab, syariat, pahala dan siksa terpusat pada 2 (dua) penggal kalimat ini, yang sekaligus merupakan inti ubudiyah dan tauhid. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Allah menurunkan 104 (seratus empat) kitab, yang makna-maknanya terhimpun dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Makna-makna 3 (tiga) kitab ini terhimpun di dalam Al-Qur'an. Makna-makna Al-Qur'an terhimpun dalam surat-surat yang pendek. Makna-makna dalam surat-surat yang pendek terhimpun dalam surat Al-Fatihah. Makna-makna Al-Fatihah terhimpun di dalam iyyaka na'budu wa iyya-ka nasta'in. 2 (dua) kalimat ini dibagi antara milik Allah dan milik hamba-Nya. Separoh bagi Allah, yaitu iyyaka na'budu, dan separoh lagi bagi hamba-Nya, yaitu iyyaka nasta'in.

Ibadah mengandung 2 (dua) dasar : Cinta dan penyembahan. Menyembah di sini artinya, merendahkan diri dan tunduk. Siapa yang mengaku cinta namun tidak tunduk, berarti bukan orang yang menyembah. Siapa yang tunduk namun tidak cinta, juga bukan orang yang menyembah. Dia disebut orang yang menyembah jika cinta dan tunduk. Karena itu orang-orang yang mengingkari cinta hamba terhadap Allah adalah orang-orang yang mengingkari hakikat ubudiyah dan sekaligus mengingkari keberadaan Allah sebagai Dzat yang mereka cinta, yang berarti mereka juga mengingkari keberadaan Allah sebagai Ilah (sesembahan), sekalipun mereka mengakui Allah sebagai penguasa semesta alam dan pencipta-nya. Inilah tauhid mereka yang terbatas pada tauhid Rububiyah, seperti pengakuan bangsa Arab, tapi mereka tidak keluar dari syirik, sebagaimana firman Allah :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
"Dan, sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?' niscaya mereka menjawab, 'Allah'." (QS. Az-Zumar : 38)

Isti'anah (memohon pertolongan) menghimpun 2 (dua) dasar : Kepercayaan terhadap Allah dan penyandaran kepada-Nya. Adakalanya seorang hamba menaruh kepercayaan terhadap seseorang, tapi dia tidak menyandarkan semua urusan kepadanya, karena dia merasa tidak membutuhkan dirinya. Atau adakalanya seseorang menyandarkan berbagai urusan kepada seseorang, padahal sebenarnya dia tidak percaya kepadanya, karena dia merasa membutuhkannya dan tidak ada orang lain yang memenuhi kebutuhannya. Karena itu dia bersandar kepadanya.

Tawakal merupakan makna yang juga cocok dengan dua dasar ini, kepercayaan dan penyandaran, yang sekaligus merupakan hakikat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Dua dasar ini, tawakal dan ibadah disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur'an, yang keduanya disebutkan secara berurutan, di antaranya,

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Dan, kepunyaan Allahlah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan semua urusan, maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya." (QS. Hud : 123)

"Ibadah" didahulukan daripada "Isti'anah" di dalam Al-Fatihah merupakan gambaran didahulukannya tujuan daripada sarana. Hal ini bisa dilihat dari beberapa sebab :
  1. "Ibadah" merupakan tujuan penciptaan hamba, sedangkan "Isti'anah" merupakan sarana untuk dapat melaksanakan "Ibadah" itu.
  2. Iyyaka na'budu berkaitan dengan Uluhiyah-Nya dan asma "Allah". Sedangkan iyyaka nasta'in berkaitan dengan Rububiyah-Nya dan asma "Ar-Rabb". Karena itu iyyaka na'budu didahulukan daripada iyyaka nasta'in, sebagaimana asma Allah yang didahulukan daripada asma Ar-Rabb di awal Al-Fatihah.
  3. Iyyaka na'budu merupakan bagian Allah dan juga merupakan pujian terhadap Allah, karena memang Dia layak menerimanya, sedangkan iyyaka nasta'in merupakan bagian hamba, begitu pula ihdinash-shirath-almustaqim hingga akhir surat.
  4. "Ibadah" secara total mencakup "Isti'anah" dan tidak bisa dibalik. Setiap orang yang beribadah kepada Allah dengan ibadah yang sempurna adalah orang yang memohon pertolongan kepada-Nya, dan tidak bisa dibalik. Sebab orang yang dikuasai berbagai macam tujuan pribadi dan syahwatnya, juga bisa memohon pertolongan kepada-Nya, hanya karena ingin memuaskan nafsunya. Karena itu ibadah harus lebih sempurna. Berarti "Isti'anah" merupakan bagian dari "Ibadah" dan tidak bisa dibalik, sebab "Isti'anah" merupakan permohonan dari-Nya, sedang "Ibadah" merupakan permohonan bagi-Nya.
  5. "Ibadah" hanya dilakukan orang yang ikhlas, sedangkan "Isti'anah" bisa dilakukan orang yang ikhlas dan yang tidak ikhlas.
  6. "Ibadah" merupakan hak Allah yang diwajibkan kepada hamba, sedangkan "Isti'anah" merupakan permohonan pertolongan untuk dapat melaksanakan "Ibadah".
  7. "Ibadah" merupakan gambaran syukur terhadap nikmat yang dilimpahkan kepadamu, dan Allah suka untuk disyukuri. Pemberian pertolongan merupakan taufik Allah yang diberikan kepadamu. Jika engkau komitmen dalam beribadah kepada-Nya dan ibadahmu lebih sempurna, maka pertolongan Allah yang diberikan kepadamu juga lebih besar.
  8. Iyyaka na'budu merupakan hak Allah dan iyyaka nasta'in merupakan kewajiban Allah. Hak-Nya harus didahulukan daripada kewajiban-Nya. Sebab hak Allah berkaitan dengan cinta dan ridha-Nya, sedangkan kewajiban-Nya berkaitan dengan kehendak-Nya. Apa yang bergantung kepada cinta-Nya harus lebih sempurna daripada apa yang bergantung kepada kehendak-Nya. Semua yang ada di alam, para malaikat maupun syetan, orang-orang Mukmin maupun orang-orang kafir, orang yang taat maupun orang yang durhaka, semuanya bergantung kepada kehendak-Nya. Apa yang bergantung kepada cinta-Nya adalah ketaatan dan iman mereka. Orang-orang kafir ada dalam kehendak-Nya dan orang-orang Mukmin ada dalam cinta-Nya.
Dari beberapa rahasia ini dapat diketahui secara jelas hikmah didahulukannya iyyaka na'budu daripada iyyaka nasta'in.


[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mu'min : 60)

Kini pergulatan dan persaingan hidup semakin ketat serta berat. Betapa tidak, keterpu-rukan dalam berbagai aspek kehidupan sejak digulirkannya era reformasi 1998, terus mengimpit kita. Ditambah bencana demi bencana, seolah tak henti mengingatkan. Kemiskinan, pengangguran makin melanda sebagian besar masyarakat kita.

Saat ini, makin banyak orang stres, hidup seperti kehilangan pegangan. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian terjerumus ke lembah maksiat dan dosa. Yang lebih memprihatinkan, ada orang-orang yang putus asa mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Nau'dzubillah ! Suatu dosa besar yang tidak terampunkan di hadapan Allah SWT.

Bagi seorang Muslim yang beriman dan bertakwa, semestinya tidak harus terjerumus ke dalam situasi seperti itu. Karena masih ada tempat untuk mencurahkan segala problematika hidup kepada Allah SWT. sebagai Maha Pemilik kehidupan ini. Sebagaimana diperintahkan Allah, melalui salat dan doa yang ikhlas, khusyuk dan benaf, serta dengan ikhtiar dan usaha maksimal.

Allah telah memberikan jaminan akan memenuhi setiap doa hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya di atas (QS. Al-Mu'min : 60). Oleh karena itu, berdoa hukumnya wajib. Orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya, Allah mengategorikannya sebagai manusia sombong (takabur). Seolah orang itu merasa dirinya mampu memenuhi segala kebutuhannya dan mengatasi segala persoalan hidupnya. Orang seperti itu diancam tempat kembalinya kelak adalah neraka Jahanam.

Selain itu, dalam ayat tersebut, tercantum kalimat, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu...." Allah SWT. ingin menegaskan bahwa manusia berdoa dan memohon hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya, baru Allah mengabulkan. Dalam situasi normal saja, banyak orang yang meminta pertolongan dan berdoa kepada selain Allah, apalagi dalam situasi krisis. Orang malah lari memohon pertolongan dan berdoa kepada dukun, paranormal, "orang pintar", kepada benda-benda yang dikeramatkan, ke kuburan, dan sebagainya. Allah SWT. dalam ayat lain memperingatkan :

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا
"Katakanlah: 'Panggillah mereka yang kamu anggap (Tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya." (QS. Al Isra : 56);

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
"Dan berhala-berhala (bukan hanya patung, tetapi apa saja selain Allah) yang kamu seru selain Allah, tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri." (QS. Al-A'raf : 197)

Nabi SAW. pun melarang munajat ke kuburan, diriwayatkan dari 'Atha bin Yasar bahwa Rasulullah SAW. berdoa, "
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburan hamba sebagai berhala yang disembah. Betapa besar amarah Allah kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat sujud." (HR. Malik)

Imam Malik menjelaskan dari Zaed bin Aslam RA. Nabi SAW. mengingatkan bahwa tidak ada seorang yang berdoa pasti ada di antara 3 (tiga) kemungkinan untuk diijabah (dikabulkan) doanya oleh Allah :
  1. Doa diijabah langsung seperti ia minta.
  2. Diijabah tetapi ditangguhkan, dianugerahkannya di akhirat.
  3. Atau diijabah, dengan cara diampuni dosa-dosanya.
Subhanallah ! Betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Selanjutnya, Rasulullah SAW. menjelaskan, faktor-faktor yang mendukung serta menjadi wasilah dikabulnya doa, antara lain :
  1. Tidak tergesa-gesa. Imam Bukhari meriwayatkan Nabi SAW. mengingatkan bahwa Allah akan mengabulkan setiap doa, asal tidak terburu-buru dan putus harapan dengan mengatakan, "Aku sudah berdoa tetapi tidak diijabah juga."
  2. Optimistis dikabul. Hati harus yakin, doa akan diijabah. Imam Bukhari dalam hadis qudsi, Allah SWT. berfirman, "Aku ini tergantung sangka hamba." Kalau si hamba menyangka Allah bakal tidak mengabulkan doanya, maka Allah tak akan mengabulkannya.
  3. Berdoalah dengan merendahkan diri, dengan suara lembut, dengan keinginan kuat untuk dikabul. "Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang lalai." (QS. Al-A'raf : 205).
  4. Beramal saleh (QS. Al-Baqarah : 186) dan berbuat baik kepada orang tua. Ibnu Abbas menyatakan bahwa amal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah adalah berbuat baik kepada orang tua (HR. Bukhari).
  5. 5) Tidak makan minum yang haram, baik zatnya maupun cara perolehannya. Jangankan yang jelas-jelas haram, yang syubhat pun harus dihindari. Sa'ad bin Abi Waqqash pernah minta didoakan kepada Nabi SAW. agar ia menjadi manusia yang dikabul doanya. Nabi SAW. malah menganjurkan ia apik dalam makan minum.
Berdoa itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Akan tetapi, ada saat-saat doa kita besar harapan untuk diijabah, antara lain :
  1. Saat antara azan dan ikamah (HR. An-Nasa'i);
  2. Pada hari Jumat, setelah salat Asar hari Jumat (HR. Ahmad);
  3. Saat salat tahajud. Sabda Nabi SAW. bahwa setiap dini hari, Allah turun ke bumi dan mengimbau, "Barangsiapa yang meminta pasti Aku beri dan barangsiapa yang beristigfar pasti Aku ampuni" (HR. Bukhari);
  4. Saat sujud. Nabi menyatakan, "Saat yang paling dekat seorang hamba dengan Allah adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa" (HR. Muslim);
  5. Ketika wukuf di Padang Arafah, saat menunaikan ibadah haji.
Tentang redaksi doa, bisa meminjam redaksi yang termaktub di dalam Alquran dan hadis Nabi SAW., yang kita pahami maknanya. Atau menggunakan redaksi dan bahasa sendiri, ini lebih afdal karena paham maksudnya. Berdoalah yang wajar-wajar, tidak melampaui batas. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.***

[Ditulis Oleh : H. EDDY SOPANDI, peserta Majelis Taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqon UPI, Istigomah, Viaduct, Salman ITB. serta disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 9 April 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh" (QS. Al-Ahzab : 72)

Dalam tafsir al-Mishbah, disebutkan : “Thabathaba’i menjawab bahwa kezaliman dan kebodohan walaupun keduanya merupakan sesuatu yang buruk dan mengundang kecaman terhadap pelakunya, tetapi keduanya itu juga merupakan sebab yang menjadikan seseorang dapat memikul amanat (beban Ilahiah) itu, karena sifat kezaliman dan kebodohan, hanya dapat disandang oleh siapa yang dapat menyandang sifat adil dan ilmu.”[Quraish Shihab, Tafsir Mishbah Vol.11, h.334-335].

Sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah "manusia" memang memiliki potensi untuk menerima amanah. Hanya saja potensi ini memiliki 2 (dua) sisi, baik dan buruk. Keberadaan 2 (dua) sisi ini pulalah yang menyebabkan manusia memerlukan petunjuk jalan yang akan mengembalikan mereka pada Sang Maha Absolut. Berbeda dengan langit, bumi dan gunung-gunung yang hanya bisa patuh (dalam tafsir al-Mishbah, maksud penolakan makhluk-makhluk tersebut adalah karena ketiadaan potensi untuk menanggung amanah), manusia memiliki kehendak bebas, yang menyebabkan kemungkinan terjadinya banyak kesalahan.

Sesungguhnya Allah SWT. sangat mengenal ciptaan-Nya seperti manusia dan yang lain-lainnya. Potensi apa saja yang dimiliki oleh setiap ciptaan-Nya yang disebut "manusia" itu, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran :

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ?" (QS. Al-Insan : 1)

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan : 2)

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." (QS. Al-Insan : 3)

Mari kita pahami dengan sebaik-baiknya petunjuk-petunjuk Allah dalam Al Quran ini, setelah Allah menginginkan terciptanya manusia dari setetes mani yang bercampur, kemudian Allah menguji kehadiran mereka dengan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.

Untuk itu Allah mempersiapkan kepada mereka 2 (dua) potensi yakni "
mendengar dan melihat". Melalui 2 (dua) potensi ini seperti yg diteruskan di Ayat ketiga pada surat Al-Insan di atas, bahwa mereka hendaknya memilih jalan yang lurus yang sudah ditunjuki Allah SWT. kepada mereka, agar nantinya Allah menggolongkan mereka ke dalam orang-orang yang bersyukur. Lebih lanjut Allah menjelaskan :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl : 78)

Ironis, karena pada kenyataannya banyak manusia yang tidak mampu memanfaatkan potensi-potensi tersebut untuk memahami dan menapaki jalan Allah yang lurus, dan mensyukuri pemberian Allah kepada mereka, sehingga mereka di katakan Allah SWT. kafir.

Dalam surat lain serta memiliki maksud yang hampir sama Allah menjelaskan :

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajda : 9)

Dengan demikian setiap untuk setiap amanat yang dipikul manusia itu akan dituntut pertanggungjawaban, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya." (QS. Al-Isra : 36)

Apakah tanggung jawab atas potensi itu ?, tidak lain adalah beribadah kepada-Nya. Karena memang tujuan penciptaan manusia adalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adh-Dhariyat : 56)

Apabila amanat itu dilaksanakan dengan baik oleh manusia, maka lebih lanjut Allah menerangkan :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur : 55)

Kemudian seperti apa ciri-ciri sosok manusia yang dapat memikul amanah, sebagaimana Allah berfirman :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka : kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Fath : 29)

Pertanyaan timbul, kenapa manusia masih begitu zalim dan bodoh ? apakah manusia menyadari bahwa sebenarnya dirinya itu bodoh ?

Saya yakin tidak ada orang yang merasa dirinya bodoh. Meski
Socrates pernah berkata, “Satu-satunya yang saya ketahui adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa,” bagi saya pernyataan tersebut tidak mengindikasikan bahwa beliau (Socrates) mengakui dirinya sebagai orang bodoh.

Bahkan seseorang yang mengetahui keadaan dirinya, merupakan orang yang cerdas. Bukankah sebelum memahami hal-hal lain, seseorang seharusnya mengenal dirinya terlebih dahulu ?

Mungkin pendekatannya kemudian harus dibalik, siapa saja yang merasa dirinya pintar sebenarnya adalah orang bodoh, sebab :
  1. Ia telah menutup dirinya dengan hijab kesombongan,
  2. Ilmu manusia hanya seperti setetes air di lautan luas.
Dengan pandangan mungkin kebodohan menjadi suatu hal yang sederhana, yaitu tertutupnya / terhalangnya seseorang dari kebenaran. Ketika seseorang merasa dirinya sudah tidak bermasalah padahal keadaan sesungguhnya mengatakan sebaliknya.

Wallahu A'lam Bish-Shawab. Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yg pandai bersyukur kepada-Nya, Hasbunallahu wani'mal wakil.
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(7) AL-FATIHAH MENCAKUP BANTAHAN TERHADAP SEMUA GOLONGAN YANG BATIL, BID'AH DAN SESAT

Hal ini dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara : Global dan terinci. Secara global dapat diketahui bahwa ash-shirathul-mustaqim mencakup pengetahuan tentang kebenaran, memprioritaskan kebenaran daripada yang lain, mencintai, menyeru dan memerangi musuh-musuh kebenaran menurut kesanggupan. Kebenaran di sini adalah apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat, seperti ilmu dan amal tentang sifat Allah, asma', perintah, larangan, janji, ancaman dan hakikat-hakikat iman, yang semuanya merupakan etape orang-orang yang berjalan kepada Allah. Semua masalah ini diserahkan kepada beliau dan bukan kepada pendapat dan pemikiran manusia. Jadi tidak dapat diragukan bahwa ilmu dan amal yang ada pada diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat adalah pengetahuan tentang kebenaran, yang harus diprioritaskan daripada yang lain. Inilah yang disebut ash-shirathulmustaqim. Dengan cara yang global ini dapat diketahui bahwa siapa pun yang bertentangan dengan jalan ini adalah batil, atau merupakan satu jalan dari 2 (dua) jenis golongan : Golongan yang mendapat murka dan golongan yang sesat.

Adapun dengan cara yang rinci, maka kita perlu mengetahui satu persatu setiap madzhab yang batil. Namun yang pasti, setiap kalimat Al-Fatihah mencakup penjelasan tentang kebatilannya.

Manusia secara umum dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam : Golongan yang mengakui kebenaran dan golongan yang mengingkari kebenaran. Sementara Al-Fatihah mencakup penetapan adanya Khaliq dan penolakan orang yang mengingkari keberadaan-Nya, yaitu dengan penetapan Rububiyah-Nya atas semesta alam. Perhatikanlah semua benda alam, baik alam atas maupun alam bawah, tentu engkau akan melihat bukti keberadaan Sang Pencipta. Keberadaan Allah ini lebih nyata bagi akal dan fitrah daripada keberadaan sungai yang mengalir. Siapa yang tidak mempunyai pandangan seperti ini dalam akal dan fitrahnya, berarti harus dipertanyakan, adakah sesuatu yang tidak beres pada akalnya ?

Seiring dengan kebatilan orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah, batil pula pendapat orang-orang yang mengatakan tentang wahdatul wujud (kesatuan wujud), bahwa wujud alam ini juga merupakan wujud Allah dan Allah merupakan hakikat wujud alam ini. Jadi menurut mereka tidak ada lagi istilah Rabb dan hamba, penguasa dan yang dikuasai, pengasih dan yang dikasihi, pemberi pertolongan dan yang meminta pertolongan, pemberi petunjuk dan yang diberi petunjuk, pemberi nikmat dan yang diberi nikmat, sebab Allah adalah hamba itu sendiri, yang disembah adalah yang menyembah itu sendiri. Perbedaan wujud hanya sekedar masalah relatifitas yang bergantung kepada fenomena dzat dan penampakannya, sehingga terkadang bisa berwujud seorang hamba biasa, terkadang berwujud Fir'aun, pemberi petunjuk, nabi, rasul, ulama dan lain sebagainya. Sekalipun berbeda-beda, semua berasal dari satu inti, bahkan Allah adalah inti itu sendiri.

Surat Al-Fatihah, semenjak pertama hingga akhirnya menjelaskan kebatilan dan kesesatan golongan ini. Orang-orang yang menetapkan adanya Khaliq ada 2 (dua) macam :
  1. Golongan yang mengesakan Khaliq atau ahli tauhid.
  2. Golongan yang menyekutukan Khaliq atau ahli syirik.
Ahli syirik ada 2 (dua) macam :
  1. Orang-orang yang menyekutukan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya, seperti orang-orang Majusi dan yang serupa dengan mereka dari golongan Qadariyah. Mereka menetapkan adanya pencipta Allah yang menyertai Allah, sekalipun mereka tidak mengatakan adanya kesetaraan di antara keduanya. Golongan Qadariyah Majusi menetapkan adanya para pencipta perbuatan di samping Allah. Perbuatan ini di luar kehendak Allah dan Allah tidak mempunyai kekuasaan terhadapnya, tapi para pencipta selain-Nya itulah yang menjadikan diri mereka bisa berbuat dan berkehendak. Di dalam Iyyaka na'budu terkandung sanggahan terhadap pendapat mereka. Sebab pertolongan yang mereka mohonkan kepada-Nya berarti mengharapkan sesuatu yang ada di Tangan Allah dan ada dalam kekuasaan serta kehendak-Nya. Lalu bagaimana mungkin orang yang katanya mampu berbuat, tapi dia masih meminta pertolongan ?
  2. Orang-orang yang menyekutukan Uluhiyah-Nya. Mereka mengatakan bahwa hanya Allah penguasa dan pencipta segala sesuatu, bahwa Allah adalah Rabb mereka dan bapak-bapak mereka semenjak dahulu. Tetapi sekalipun begitu mereka masih menyembah selain-Nya, mencintai dan mengagungkannya. Mereka menciptakan tandingan bagi Allah. Mereka tidak menetapi hak iyyaka na'budu. Sekalipun memang mereka na'buduka (kami menyembah-Mu), tapi mereka tidak murni dalam iyyaka na'budu, yang mengandung pengertian: Kami tidak menyembah kecuali Engkau semata, dengan penuh kecintaan, harapan, ketakutan, ketaatan dan pengagungan. Iyyaka na'budu merupakan pengejawantahan dari tauhid dan peniadaan syirik dalam Uluhiyah, sebagaimana iyyaka nasta'in merupakan pengejawantahan dalam tauhid Rububiyah dan peniadaan syirik dalam Rububiyah.
Surat Al-Fatihah juga mengandung sanggahan terhadap pendapat berbagai golongan yang menyimpang dan sesat, seperti :
  1. Al-Jahmiyah yang meniadakan sifat-sifat Allah.
  2. Al-Jabariyah yang meniadakan pilihan dan kehendak bagi manusia, yang segala sesuatu pada diri manusia berdasarkan kehendak Allah.
  3. Golongan yang menetapkan perbuatan Allah pada hal-hal yang pasti dan Dia tidak mempunyai pilihan serta kehendak.
  4. Golongan orang-orang yang mengingkari keterkaitan ilmu-Nya dengan hal-hal parsial.
  5. Golongan orang-orang yang mengingkari nubuwah.
  6. Golongan yang mengatakan tentang keberadaan alam semenjak dahulu kala.
  7. Ar-Rafidhah yang menganggap hanya keturunan Rasulullah yang benar, sedangkan selain mereka tidak benar dan tidak akan masuk surga, sekalipun itu semacam shahabat Abu Bakar.

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(6) KEMUJARABAN AL-FATIHAH YANG MENGANDUNG KESEMBUHAN BAGI HATI DAN KESEMBUHAN BAGI BADAN

Kandungan Al-Fatihah yang mampu menyembuhkan hati merupakan kandungannya yang paling komplit. Sumber penyakit hati dan deritanya ada 2 (dua) macam : Ilmu yang rusak dan tujuan yang rusak. Dari 2 (dua) sumber ini muncul 2 (dua) penyakit lain : Kesesatan dan kemarahan. Kesesatan merupakan akibat dari ilmu yang rusak, sedangkan kemarahan merupakan akibat dari tujuan yang rusak. Dua jenis penyakit ini merupakan inti dari semua jenis penyakit hati. Hidayah ke jalan yang lurus menjamin kesembuhan dari penyakit kesesatan. Karena itu memohon hidayah ini merupakan doa yang paling wajib bagi setiap hamba, yang juga diwajibkan atas dirinya setiap malam dan siang, dalam setiap shalat dan saat terdesak keperluan.

Sedangkan penegasan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in secara ilmu dan ma'rifat, amal dan kondisional, menjamin kesembuhan dari penyakit hati dan tujuan yang rusak. Sebab tujuan yang rusak ini berkaitan dengan sasaran dan sarana. Siapa yang mencari tujuan yang pasti akan terputus dan fana, menggunakan berbagai macam sarana untuk dapat meraihnya, maka hal itu justru akan menjadi beban baginya dan tujuannya jelas salah. Inilah keadaan setiap orang yang tujuannya untuk mendapatkan hal-hal selain Allah dari kalangan orang-orang musyrik, orang-orang yang hanya ingin memuaskan nafsunya, para tiran yang menopang kekuasaannya dengan segala cara, tak peduli benar maupun batil. Jika ada kebenaran yang menghambat jalan kekuasaannya, maka mereka mendepaknya. Jika tidak mampu mendepaknya, mereka akan menepis kebenaran itu, layaknya pemelihara sapi yang menyingkirkan sampah di kandang. Jika mereka tidak bisa melakukannya, mereka menghentikan langkah di jalan itu lalu mencari jalan lain. Dengan cara apa pun mereka siap menolaknya. Jika ada kebenaran yang mendukung kekuasaan, mereka mendukungnya, bukan karena itu merupakan kebenaran, tapi karena kebenaran itu yang kebetulan sejalan dengan tujuan dan nafsunya.

Karena tujuan dan sarana yang dipergunakan rusak, maka mereka adalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi, jika tujuan yang mereka raih meleset. Merekalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi di dunia, yaitu jika kebenaran dikatakan benar dan kebatilan dikatakan batil. Yang demikian ini seringkali terjadi di dunia. Penyesalan ini akan semakin nyata tatkala mereka meninggal dunia dan menghadap Allah serta berada di alam Barzakh.

Begitu pula orang yang mencari tujuan yang tinggi dan sasaran yang mulia, namun tidak menggunakan sarana yang mendukungnya untuk meraih tujuan itu, dia hanya menduga-duga sarana yang digunakannya itu akan mendukungnya. Keadaan orang ini tak jauh berbeda dengan orang yang pertama. Dia tidak akan mendapatkan kesembuhan dari penyakit ini kecuali dengan obat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

Obat ini mempunyai 4 (empat) komposisi : Ibadah kepada Allah, perintah dan larangan-Nya, memohon pertolongan dengan beribadah kepada-Nya, tidak dengan hawa nafsu, tidak dengan pendapat manusia dan pemikirannya, tidak dengan diri manusia dan kekuatannya. Inilah unsur-unsur yang terkandung di dalam obat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Jika unsur-unsur ini diramu oleh seorang dokter yang berpengalaman, tentu akan menjadi obat yang sangat mujarab.

Hati itu mudah terjangkiti 2 (dua) macam penyakit yang kronis. Jika seseorang tidak mengobatinya, tentu dia akan binasa, yaitu riya' dan takabur. Obat riya adalah iyyaka na'budu, sedangkan obat takabur adalah iyyaka nasta'in. Seringkali kami mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Iyyaka na'budu menolak penyakit riya', dan iyyaka nasta'in menolak penyakit takabur."

Jika seseorang diberi kesembuhan dari penyakit riya' dengan iyyaka na'budu, diberi kesembuhan dari penyakit takabur dan ujub dengan iyyaka nasta 'in, diberi kesembuhan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan ihdinash-shirathal-mustaqim, berarti dia telah diberi kesembuhan dari segala macam penyakit. Namun di antara orang-orang yang mendapat kenikmatan juga ada yang mendapat murka. Mereka adalah orang-orang yang tujuannya rusak, yang sebenarnya mengetahui kebenaran namun menyimpanginya. Ada pula di antara mereka yang adh-dhallin (sesat), yaitu mereka yang memiliki ilmu yang rusak dan tidak mengetahui kebenaran.

Tentang surat Al-Fatihah yang mengandung obat bagi penyakit badan, maka akan kami jelaskan seperti yang telah dijelaskan As-Sunnah dan dikuatkan ilmu medis serta berdasarkan pengalaman. Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abul-Mutawakkil An-Najy, dari Abu Sa'id Al-Khudry, bahwa ada beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang melewati sebuah perkampungan Arab dalam perjalanannya. Para penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka sebagai tamu, apalagi menjamu. Pada saat yang sama pemimpin mereka disengat hewan. Maka penduduk kampung mendatangi mereka dan bertanya, "Adakah kalian mempunyai mantera atau adakah di antara kalian yang bisa menyembuhkan dengan mantera ?"

"Ya, ada. Tapi karena kalian tidak mau menjamu kami, maka kami tidak mau mengobati kecuali jika kalian memberikan imbalan kepada kami."

Maka penduduk kampung itu sepakat untuk memberikan beberapa ekor kambing. Maka setiap orang di antara para shahabat itu membacakan Al-Fatihah. Seketika itu pula pemimpin kampung itu bangkit, seakan-akan sebelumnya dia tidak pernah sakit. Kami berkata, "Janganlah kalian terburu-buru menerima imbalan ini sebelum kita menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Setelah bertemu beliau, mereka menceritakan kejadian ini. Beliau bersabda, "Apa pendapat kalian kalau memang Al-Fatihah itu benar-benar merupakan ruqyah ? Terimalah imbalan itu dan sisihkan bagianku."

Hadits ini menjelaskan keampuhan Al-Fatihah yang bisa menyembuhkan sengatan hewan, sehingga ia berfungsi sebagaimana obat, atau bahkan lebih mujarab daripada obat itu sendiri. Padahal orang yang disembuhkan itu tidak terlalu tepat untuk disembuhkan dengan cara tersebut, entah karena penduduk kampung itu bukan orang Muslim atau karena mereka orang-orang yang kikir. Lalu bagaimana jika yang disembuhkan tidak seperti mereka ?

Sedangkan dari teori medis, dapat dibuktikan sebagai berikut, bahwa sengatan itu berasal dari hewan yang mempunyai racun, yang berarti mempunyai jiwa yang kotor dan terbentuk karena amarah, lalu menyalurkan unsur racun yang panas lewat sengatan itu. Jika jiwa yang kotor ini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya kemarahan, maka ia akan merasa senang jika dapat menyalurkan racun ke tempat yang layak menerimanya, sebagaimana orang jahat yang merasa senang jika dapat menyalurkan kejahatannya terhadap orang yang layak menerimanya. Bahkan dia merasa tersiksa jika tidak bisa menyalurkan kejahatannya itu kepada seseorang.

Prinsip penyembuhan ialah dengan menggunakan kebalikannya dan menjaga dengan sesuatu yang serupa. Kesehatan dijaga dengan sesuatu yang serupa dan penyakit disembuhkan dengan kebalikannya. Ini merupakan hukum sebab-akibat yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Namun hal ini tidak akan berhasil kecuali dengan kekuatan jiwa pelakunya dan reaksi penerimanya. Jika jiwa orang yang disengat tidak layak menerima ruqyah itu dan jiwa yang membacakan ruqyah tidak mampu memberikan pengaruh apa-apa, maka kesembuhan tidak akan berhasil.

Jadi di sini ada 3 (tiga) unsur : Kesesuaian obat dengan penyakit, kesungguhan orang yang mengobati dan orang yang diobati bisa menerimanya. Jika tidak ada kelaikan pada salah satu unsur ini, maka kesembuhan tidak akan terjadi.

Siapa yang bisa memahami hal ini, tentu dia bisa memahami rahasia ruqyah tersebut, bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dan bisa mencocokkan obat dengan penyakit yang hendak diobati, seperti penggunaan pedang untuk memotong barang yang memang bisa dipotong dengan pedang itu.

Sedangkan dari kesaksian pengalaman, maka cukup banyak orang yang mengalaminya. Saya sendiri pernah mempunyai pengalaman dalam penggunaan Al-Fatihah sebagai ruqyah ini dengan hasil yang benar-benar menakjubkan, terutama pada saat-saat saya menetap di Makkah. Suatu saat saya sakit yang benar-benar amat menyiksa, hingga hampir-hampir saya tidak bisa menggerakkan badan karenanya. Padahal saat itu saya harus mengerjakan thawaf dan lain-lainnya. Maka saya segera membaca Al-Fatihah, lalu mengusapkan telapak tangan ke bagian-bagian tubuh yang sakit. Seakan-akan dari bagian yang sakit itu ada kerikil yang jatuh. Pengalaman seperti ini tidak terjadi hanya sekali saja, tapi beberapa kali. Pernah juga saya mengambil air Zamzam lalu membacakan Al-Fatihah pada air itu dan saya meminumnya. Hasilnya, saya merasa mendapat kekuatan baru yang tidak pernah kurasakan yang seperti itu. Tentu saja semua ini harus didasari kekuatan iman dan keyakinan yang benar.


[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit : Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]