Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts
Perang Qadisiyah adalah kontak senjata antara kaum Muslim dan Dinasti Sasaniyah. Peristiwa yang terjadi pada 635 M itu, merupakan pertempuran akbar selama masa Khalifah Umar. Betapa tidak, bukankah konflik berdarah itu berlangsung relatif lama. Lagi pula, jumlah korban dari kedua belah pihak cukup banyak. Bahkan, lebih dari itu, keberhasilan kaum Muslim mengalahkan dinasti itu merupakan jalan masuk Islam ke jantung Kekaisaran Persia.

Panglima Perang Persia, Rustam berhasil membangun pasukan sangat besar. Ia merekrut tidak kurang dari 200.000 orang. Dari jumlah itu hampir 30.000 personel adalah tentara reguler. Mereka sangat terlatih dan berpengalaman dalam perang melawan tentara Roma. Selebihnya, sukarelawan dari pelbagai wilayah kerajaan. Pasukan besar itu, kecuali tentara berkuda, juga terdapat pasukan berunta dan infanteri lainnya. Juga diperkuat oleh pasukan gajah, dengan persenjataan lengkap dan perhiasan kebesaran. Sementara milisi Muslim di bawah komando Sa'ad bin Abi Waqash, jumlahnya tidak lebih dari seperlima. Meskipun demikian, rupanya Panglima Rustam kurang percaya diri. Beberapa peristiwa berikut mengindikasikan hal itu.

Pertama, ketika terbetik berita, Khalifah Umar sedang bersiap mengadakan mobilisasi umum untuk keperluan gerakan pembebasan (futuhat), Rustam segera mengutus delegasi menghadap Kaisar Cina. Maksudnya untuk meminta bantuan. Namun, permohonan itu tidak dikabulkan. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari delegasi itu, tentang keadaan kaum Muslim saat itu.

Dalam melukiskan kaum Muslim mereka berkata, "Innahum kanu ruhbanan bi al-layl, wa usudan bi al-nahary (Kaum Muslim itu sejatinya laksana pendeta salih di malam hari. Namun jika siang tiba mereka berubah bagaikan singa garang)."

Kedua, waktu pasukan Persia dan milisi Muslim sudah saling berhadapan, Rustam dengan pelbagai cara berusaha mengulur-ulur waktu. Misalnya, dengan meminta berulang kali agar Panglima Sa'ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan untuk berunding. Ajakan Rustam diduga kuat hanya sebuah siasat, lantaran merasa miris menghadapi peperangan.

Meskipun demikian, Sa' ad bin Abi Waqash tetap meladeni, karena semangat Islam cinta damai. Oleh karena itu, tercatat nama-nama Zahrah bin Haubah, Mughirah bin Syu'bah, dan Rub'i bin Amir, sebagai juru runding dari pihak Muslim.

Dalam setiap perundingan, delegasi Muslim secara konsisten tetap menawarkan tiga opsi, memeluk Islam, menyerah secara damai dan membayar jizyah, atau berperang. Maka, bagi Rustam tidak ada alternatif lain, kecuali memilih opsi yang terakhir, berperang ! Dengan begitu, hasratnya untuk menghindar dari peperangan sia-sia belaka.

Kini genderang perang mulai ditabuh. Hari pertama dan kedua berlangsung perang tanding. Korban pun mulai berjatuhan. Pada hari ketiga baru berkobar perang secara massal dan total. Pasukan Rustam bergerak serentak dengan seluruh daya dan kekuatan. Tentara bergajah andalan mereka, ditempatkan di lini paling depan, diikuti pasukan lain. Strategi itu untuk sementara memang jitu. Para milisi Muslim tampak kewalahan.

Namun, dalam pertempuran selanjutnya, strategi itu justru berbalik jadi titik lemah mereka. Sebab, ketika tentara Muslim dapat menghancurkan belalai dan mata dua ekor gajah paling besar dan terdepan, raksasa hitam itu mulai berputar-putar dan melarikan diri. Kemudian diikuti gajah lain yang berada di belakangnya. Maka, pasukan mereka jadi kacau-balau, yang dimanfaatkan oleh tentara Muslim untuk melumpuhkan kekuatan mereka.

Bala bantuan yang dikirim Abu Ubaidah al-Jarah dari Suriah, tiba tepat waktu. Tidak heran, tentara musuh semakin terdesak. Akhirnya, Panglima Rustam pun mati terbunuh. Tentara Muslim terus melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa lawan hingga memasuki Kota Madain, tempat Kaisar Persia bertakhta.

Kota itu sepi. yang mereka temukan dalam Istana hanya barang-barang berharga warisan para penguasa dari waktu ke waktu. Seperti baju besi dan pelbagai jenis pedang, mahkota berhiaskan permata dan jubah kerajaan, patung kuda terbuat dari emas dengan pelana perak, serta batu-batu zamrud dan merah delima di dadanya. Yang lainnya patung unta betina dari perak dengan pelana emas, lengkap dengan tali kekang yang dipenuhi batu mulia.

Sesuai dengan aturan yang berlaku, seperlima harta rampasan itu (khumus), dikirimkan ke Madinah untuk diserahkan ke baitulmal. Untuk melaksanakan tugas itu ditunjuk seorang prajurit yang kemudian diketahui bernama 'Amr bin Abd al-Qais.

Singkat cerita, prajurit yang bertugas menyerahkan khumus itu sudah sampai di Madinah. Ia menyerahkannya secara utuh ke tangan Khalifah. Sedikit pun tidak ada yang hilang atau berkurang. Khalifah Umar dan kaum Muslim ibu kota terkagum-kagum melihat peristiwa itu.

Seorang di antara mereka yang hadir bertanya dengan maksud menyelidiki, "Adakah sesuatu yang Anda sembunyikan dari barang-barang ini, sebelum Anda serahkan kepada kami ?" Ia menjawab (boleh jadi dengan perasaan sedikit tersinggung): "Wallah ! Seandainya aku tidak takut Allah SWT., semua barang ini tidak akan pernah aku serahkan kepada kalian."

Khalifah Umar berdecak kagum dan berkata, "Kejujuran prajurit itu sungguh luar biasa. Aku kagum dibuatnya." Ali bin Abi Thalib RA. yang berdiri di samping Khalifah menimpali ucapan Umar dengan mengatakan, "Innaka 'affafta,fa affat al-ra'yah (Karena sesungguhnya Tuan memelihara diri wahai Amirul Mukminin, maka rakyat pun demikian pula)."

Ucapan Imam Ali bin Abi Thalib RA. mengingatkan kita pada teori Ibn Khaldun dalam mukadimahnya. Bapak sejarah dari dunia Timur itu berkata, "Inna al-Nas 'ala din mulukih (Bahwa sejatinya rakyat itu semata-mata mengikuti perilaku rajanya)." ***

[Ditulis oleh A. HAJAR SANUSI. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Minggu (Pon) 28 Agustus 2011 / 28 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Tidak sedikit di antara manusia yang terperangkap angan-angan. Mengetahui arti, manfaat, dan tujuan berbuat kebaikan, tetapi hanya sebatas keinginan. Sulit untuk membuktikan dalam praktik. Banyak syarat itu dan ini yang dirancang secara sepihak oleh dirinya sendiri, sebelum mau melaksanakan segala apa yang diniatkannya.

Sikap semacam itu mendapat sindirian dari Allah SWT.,
"Wa yuthawwalul amala wa yarjul akhirata bi ghairi amalin." Membubung melamun dan mengharap kenikmatan hidup di akhirat tanpa amal. (Hadits Qudsi, dikutip dari kitab Al Mawa'idzfil Ahaditsil Qudsiyah susunan Imam Ghazali)

Padahal, berbuat kebaikan -termasuk sedekah- lebih utama ketika badan sehat. Jangan terlambat dinanti-nanti. Apalagi, jika nyawa sudah tersekat di tenggorokan.

Rasulullah SAW. kedatangan seorang laki-laki yang bertanya sedekah apa yang paling besar pahalanya ? Jawab Rasulullah SAW.,
"an tashaddaqa wa anta shahihun syahihun." Ketika engkau benar-benar sehat, juga pada saat ketamakan, takut miskin, dan ambisi kaya raya menguasai segenap perasaan dan pikiran. "La tamhilu hatta idza balaghatil hulkumu." Jangan menunda-nunda hingga (nyawa) telah sampai tenggorokan, kata Rasulullah SAW. seraya menegaskan pada saat sakaratul maut mulai beraksi, masih saja orang berkata, ingin menyedekahkan hartanya untuk Fulan itu sekian, untuk Fulan ini sekian. "wa qad kana li fulanin."

Padahal, harta yang ingin dijadikan sarana kebaikan itu sudah menjadi milik si Fulan. Artinya, sudah berada di tangan orang lain, baik ahli warisnya maupun pihak-pihak yang punya urusan utang-piutang, dan sebagainya.

Dalam Hadits sahih "mutafaaq ulaih" (diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim) tersebut, tersirat perintah Rasulullah SAW., agar menyegerakan berbuat kebaikan dan kebajikan. Jangan menunggu kerakusan dan ketamakan menguasai kita.

Sebab, setelah tumbuh watak rakus dan tamak, selalu hanya ingin mengeduk dan menumpuk harta. Enggan mengeluarkan sedikit pun tanpa imbalan nyata dan langsung pada saat itu juga. Jangan menunggu rasa takut miskin tumbuh subur sehingga untuk mengeluarkan sedikit sedekah saja, harus berpikir berlarut-larut karena khawatir mengganggu jumlah tabungan, deposito, dan sejenisnya, yang dianggap benteng pertahanan agar tidak jatuh miskin.

Jangan menunggu terwujudnya khayalan kaya raya sehingga semua potensi dan perhatian terpusat pada upaya mengejar kekayaan yang berupa fatamorgana. Tentu saja, tatkala masih sehat walafiat, karena kalau menunggu sakit belum tentu mampu mengulurkan tangan untuk kebaikan. Bahkan, mungkin tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh telah lemah tak berdaya.

Maka, cepatlah berbuat kebaikan. Bersedekah, berinfaq, berzakat, wakaf, jariyah, dan kebaikan lain dengan menyisihkan, sebagian harta benda yang kita miliki. Janganlah kita termasuk ke dalam kelompok orang yang menyukai para pembuat kebaikan tetapi kita sendiri tidak termasuk di dalamnya. "Yuhibbus shalihina wa laisa minhu" (Hadits Qudsi). ***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Sabtu (Pahing) 27 Agustus 2011 / 27 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Ketika itu Rasulullah SAW. masuk masjid, di sana terdapat dua majelis sahabat yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Yang pertama, giat memahami seluk-beluk agama (tafaqquh fiddin). Sementara yang lainnya asyik berzikir dan berdoa.

Ketika ditanyakan mana gerangan majelis terbaik, Rasulullah SAW. menjawab, "Semuanya dalam kemuliaan. Namun, aku diutus untuk memberikan pengajaran." Setelah mengatakan demikian, Rasulullah SAW. lantas bergabung dengan kelompok yang disebut terdahulu.

Dalam riwayat lain dikatakan, seorang Anshar datang menghadap Rasulullah SAW. Ia bertanya, "Ya Rasulullah ! Jika dalam waktu yang berbarengan aku dihadapkan pada dua kewajiban agama, misalnya keharusan mengurus jenazah dan menghadiri majelis ilmu. Mana yang mesli aku utamakan ?" Beliau menjawab, "Jika untuk memelihara jenazah sudah ada petugasnya, hadir di majelis ilmu lebih baik bagimu daripada seribu kali mengurus jenazah. Bahkan, yang demikian itu lebih baik daripada seribu kali menengok orang sakit, seribu rakaat salat malam, seribu hari puasa sunat, seribu dirham yang disedekahkan kepada orang miskin, seribu kali haji di luar yang wajib, dan seterusnya..." Ketika itu Rasulullah SAW. masih menyebut beberapa bentuk kebajikan lain dengan kelipatan seribu.

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan. Islam sangat apresiatif terhadap ilmu, aktivitas keilmuan, dan majelis yang digunakan untuk kegiatan intelektual itu. Al-Qur'an sebagai rujukan utama Islam mengulang kita al-'ilmu dan derivasinya hingga 780 kali bahkan. Kitab Langit yang satu ini sejak awal diturunkan, telah menyebut secara eksplisit tentang signifikansi membaca, pena dan pengajaran. Bukankah yang demikian itu merupakan bukti yang tidak terbantahkan bahwa Islam sangat menghargai karya dan kekayaan intelektual.

Oleh karena itu, tidak heran Al-Qur'an menempatkan golongan berilmu pada posisi sangat terhormat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah : 11)

Pun perlu dicatat, derajat itu bukan hak monopoli ilmuwan agama, tetapi juga hak para pakar di bidang hidrologi, biologi, antropologi, sosiologi, dan lainnya. Sudah barang tentu dengan syarat, kepakaran masing-masing mampu menangkap tanda kebesaran Allah SWT. sehingga mendorong dirinya untuk berendah hati dan sujud di hadapan-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir : 28)

Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah kenyataan, Kitab Samawi yang satu ini lelah mengemukakan aturan bagaimana harus bersikap dan berperilaku dalam sebuah majelis ilmu. Di antaranya seseorang harus memberikan kelapangan tempat bagi mereka yang datang. Bahkan, jika perlu berdiri untuk menyerahkan tempat duduknya kepada orang lain. Hal itu tercantum secara eksplisit dalam QS. Al- Mujadilah : 11.

Dan menurut satu keterangan, ayat itu diturunkan berkaitan dengan peristiwa ketika itu Rasulullah SAW. berada di majelis yang tidak terlalu lapang. Adalah sebuah kelaziman kalau dalam suatu majelis, Rasulullah SAW. suka memberikan tempat istimewa kepada mereka yang disebut veteran Perang Badar. Perlakuan khusus itu bukan diskriminasi, tetapi penghargaan atas saham yang mereka berikan dalam peristiwa yang menentukan itu.

Kebetulan waktu itu majelis sedang berlangsung. Beberapa orang dari mereka baru tiba. Mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW., lalu kepada semua yang hadir. Namun, patut disayangkan mereka yang sudah duduk terlebih dahulu tidak mau bergeser seinci pun dari tempatnya. Maka untuk beberapa saat, para veteran itu terus berdiri.

Menyaksikan hal itu, Rasulullah SAW. lantas memerintahkan mereka yang tidak ikut andil dalam Perang Badar pindah ke tempat lain. agar ahli Badar dapat duduk di samping beliau. Tampaknya, titah beliau itu tidak berkenan di hati mereka sehingga seraya menggerutu mereka berkata, "Katanya Muhammad berlaku adil, tetapi buktinya tidak !" Kritik mereka terdengar oleh Rasulullah SAW. sehingga beliau bersabda, "Allah SWT. merahmati siapa saja yang memberikan kelapangan buat saudaranya." Atas peristiwa itu, turunlah ayat kesebelas surah al-Mujadilah.

Keengganan berpindah tempat untuk memberikannya kepada orang lain. biasanya bersumber dari kepongahan karena mengklaim dirinya sebagai orang terhormat. Oleh karena itu, sepanjang manusia jenis ini masih belum sirna dari muka bumi. selama itu pula kasus itu akan terus berulang dari waktu ke waktu.

Namun, mereka yang hidup pada kurun kenabian lebih beruntung. Sebab, manakala dalam bermasyarakat terjadi penyimpangan dari standar moral yang tinggi, teguran dari langit segera turun. Atau Rasulullah SAW. akan meluruskan secepatnya, baik dengan kata- kata bijak maupun lewat keteladanan.

Berikut ini kisah teladan nyata dari Rasulullah SAW. pada saat para sahabat tidak hirau pada etika majelis. Ketika itu Abdullah al-Bajaliy datang terlambat, sedangkan majelis Rasulullah SAW. sudah padat ditempati oleh para sahabat. Abdullah mengucapkan salam. Setelah itu dia mencari tempat duduk, tetapi sayang ia tidak memperolehnya. Lagi-lagi faktor penyebabnya adalah sama.

Mereka yang duduk terlebih dahulu tidak mau bergeser, apalagi berpindah tempat. Lama juga hal itu berlangsung sampai Rasululllah SAW. turun tangan. Waktu itu beliau melepas gamis yang dikenakannya, lalu melipat dengan tangannya yang mulia. Setelah itu Rasulullah SAW. turun dari mimbar dan berjalan menuju Abdullah al-Bajaliy.

Begitu hampir sampai pada orang yang dituju, beliau bersabda. "Wahai Abdullah ! Ini gamisku. Jadikanlah dia sebagai alas dudukmu !" Keruan saja Abdullah sangat terharu mendapat perlakuan khusus dari orang mulia seperti itu. Betapa tidak ! Bukankah untuknya Rasulullah SAW. rela melepas gamis lalu melipatnya. Dan setelah itu beliau turun dari mimbar dan menyerahkannya untuk dijadikan alas duduk.

Sungguh tak terbayangkan jika hal itu terjadi pada zaman sekarang. Yang menjadi pertanyaan. maukah Abdullah duduk di atas gamis Rasulullah SAW. ? Alih-alih justru Abdullah menciumi sepuas-puasnya, seraya tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Dan dengan gemetar penuh haru. Abdullah berkata, "Ya Rasulullah ! Semoga Allah memuliakan tuan. sebagaimana tuan telah memuliakanku !"

Keterangan itu tidak sekadar mengungkapkan betapa besar perhatian Rasulullah SAW. terhadap mereka, karena satu dan lain hal tidak dihiraukan. Namun, hal itu juga menjelaskan, berlapang-lapang dalam majelis merupakan sebuah keniscayaan.***

[Ditulis oleh A. HAJAR SANUSI Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 26 Agustus 2011 / 26 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Suatu hari Rasulullah SAW. berkumpul bersama sahabat-sahabatnya Abu Bakar Ash-shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Shahibul Bait, Ali bin Abi Thalib. Istri Ali, Fathimah yang juga putri Rasulullah SAW., menghidangkan madu untuk mereka yang sedang berdiskusi. Madu itu diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang sangat indah.

Ketika madu itu dihidangkan, Rasul mendapati sehelai rambut di dalamnya. Rasul diam sejenak dari diskusi. Daripada membincang apalagi menuduh rambut siapa, kecerdasan Rasul kemudian membelokkan tema diskusi, dengan meminta semua sahabat membuat tamsil terhadap mangkuk yang indah nan cantik, madu, dan sehelai rambut.

Abu Bakar RA. mengawali, "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang beriman itu lebih manis dari madu ini, dan mempertahankan iman jauh lebih sulit dari melewati sehelai rambut."

Umar RA. berkata, "Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Seorang raja lebih manis dari madu. Raja yang memerintah dengan adil lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Utsman RA. berkata, "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu. Dan beramal dengan ilmu yang dimilikinya lebih sulit daripada meniti sehelai rambut."

Ali RA. berkata, "Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Menjamu tamu lebih manis daripada madu. Membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Fathimah juga berkata, "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk cantik. Wanita yang berjilbab itu lebih manis dari madu. Mendapatkan wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Selanjutnya Rasulullah SAW. berkata,
"Seorang yang mendapat taufik untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu. Berbuat amal dengan ikhlas lebih sulit dari melewati sehelai rambut."

Malaikat Jibril berkata, "Menegakkan pilar-pilar agama lebih cantik dari mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu. Mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Allah SWT. berfirman,
"Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu itu, jalan menuju surga-Ku lebih sulit daripada melewati sehelai rambut."

Diskusi Rasulullah SAW. yang dapat kita jumpai dalam The Secret of Kisah-Kisah Teladan, Sumber Inspirasi dan Penyejuk Hati, karya Abdul Aziz S. (2011) sengaja. penulis angkat dalam kisah Ramadan, karena memiliki makna yang sangat komprehensif dan holistik.

Konvergensi antara akhlak dan kecerdasan Rasulullah SAW. dalam menyikapi persoalan ringan, menjadi pintu bagi para sahabat untuk mengeluarkan nalar-nalar yang berbobot. Abu Bakar bicara hal yang paling fundamen, yaitu iman dan hati. Umar bicara soal nafsu dan kekuasaan. Utsman mengenai nalar keilmuan. Ali tentang etika, akhlak atau perilaku, dan Fathimah soal syariat. Semua sangat urgen dan harus ditegakkan meskipun berat, itulah jalan menuju surga Allah SWT., Bila kita renungkan, tamsil yang disodorkan oleh para sahabat, sesungguhnya sebuah resume dari kehidupan manusia.***

[Ditulis oleh SAMSUL MA'ARIF, S.Ag., Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 25 Agustus 2011 / 25 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan muridnya, dan mengajukan enam buah pertanyaan.

Pertanyaan yang pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?" Muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabat. Imam Al Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Sebab, itu sudah janji Allah SWT. bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Ali Imran : 185)

"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini ?" tanya Imam Al Ghazali selanjutnya. Muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang. "Semua jawaban kamu benar, tetapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimana pun kita dan apa pun kendaraan kita tetap tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari mendatang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam," katanya.

Kemudian pertanyaan yang ketiga, "Apa yang paling besar di dunia ini ?" Muridnya menjawab gunung, bumi, dan matahari. "Semua jawaban itu benar. Namun, yang paling besar di dunia ini adalah nafsu seperti dalam QS. Al A'raf : 179,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Maka, kita harus berhati-hati dengan nafsu, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka," katanya.

Pertanyaan keempat, "Apa yang paling berat di dunia ini ?" Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. "Semua jawaban itu benar. Namun, yang paling berat adalah memegang amanah sebagaimana yang tersirat dalam QS. Al Ahzab : 72,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT. meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Namun, manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT. sehingga banyak dari mereka masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya," ujarnya.

Pertanyaan Imam Al Ghazali kelima, "Apa yang paling ringan di dunia ini ?" Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. "Semua jawaban itu benar. Namun, yang paling ringan adalah meninggalkan shalat. Gara-gara meeting kita tinggalkan shalat," katanya.

Pertanyaan yang keenam, "Apakah yang paling tajam di dunia ini ?" Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. "Benar. Namun, yang paling tajam adalah lidah manusia karena dengan gampangnya lidah menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri," jawabnya.

Akankah Anda merenungkan hal itu ? Ya, di bulan Ramadhan ini merapakan waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau perenungan diri. Kata muhasabah merupakan bentuk mashdar (kata benda) bermakna introspeksi atau koreksi diri dan saling mengoreksi. Tak sedikit manusia lupa akan jati dirinya. Dia tidak mengetahui, siapa saya (Who am I ?)

Muhasabah untuk mengoreksi diri akan berbagai kelemahan, kekurangan, kealfaan, kesalahan, dan dosa yang pernah dilakukan dengan melihat kelebihan dan kesalehan orang lain agar dapat memacu dirinya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Muhasabah adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan dalam kehidupan.

Beberapa hal yang jadi perhatian dalam muhasabah diri, yakni muhasabah perilaku seperti sifat ego yang selalu membanggakan dan menyombongkan diri seperti merasa paling hebat. Allah SWT. memberikan kritikan kepada manusia yang sombong dan egois.

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al Isra : 37)

Sering kali orang selalu melihat dan mengoreksi kekurangan orang lain, sedangkan dirinya diabaikan begitu saja. Sebuah pepatah mengatakan, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak."

Sungguh aneh perilaku manusia. Kesukaannya memperhatikan aib orang lain. Kalau dia menyadari, tentu cukup ia menutupi aib dirinya sendiri. Mengapa ia hanya melihat kesalahan kecil kawannya, tetapi dia tidak melihat kesalahannya sendiri ? Mengapa dia merasa sedih melihat kesalahan orang lain, tetapi dia tidak merasa menyesal atas dosanya yang lebih besar ?

Manusia sepanjang hidupnya berpura-pura tidak tahu tentang urusan dirinya. Ia menjauhkan diri dari memperbaiki diri, malah sibuk mencari aib orang lain. Seolah-olah siksaan pada hari hisab nanti akan terjadi hanya karena dosa orang lain, bukan dari perbuatannya sendiri.

Perhatikan firman Allah pada surat Al Maidah : 105 ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya. Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Muhasabah lainnya berkaitan dengan lidah seperti kata Imam Al Ghazali, "Manusia diberi lidah, dua mata, dua telinga, dua tangan dan dua kaki. Semestinya, lidah digunakan untuk berbicara yang baik. Jika tidak bisa, hendaknya ia berdiam diri."

Nabi SAW. juga bersabda,
Man katsura kalaamuhu, katsura khatauhu. (Barangsiapa yang banyak bicara, maka ia banyak kesalahannya.)

Muhasabah lainnya berkaitan dengan usia manusia. Ketika manusia berada pada masa empat bulan di dalam kandungan seorang ibu, Allah SWT. menetapkan usianya yang akan dijalani selama masa di dunia. Ada yang usianya ditetapkan 8 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, 60 tahun dan sebagainya. Berapa tahun ia diberikan jatah hidup di dunia menjadi rahasia Allah SWT. Tiada seorang pun manusia yang mengetahuinya.

Sesungguhnya, semakin bertambah usia seseorang, akan semakin berkurang jatah hidupnya. Setiap hari usia kita dikurangj oleh detik, menit, dan jam. Saat ini, kita telah menghabiskan sebagian usia kita dan kita sedang menjalani dan menghabiskan yang sebagiannya lagi. Berapa lama lagi sampai akhir usia kita ?

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Padahal, usia kita akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. pada hari kiamat kelak. Pertanggungjawaban yang diminta bukan hanya hitungan tahun, bulan, hari, dan jam, tetapi setiap tarikan napas yang kita hirup dan embusan napas yang kita keluarkan.***

[Ditulis oleh KH. HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDARUS, Ketua Yayasan As-salaam Bandung dan mantan anggota MPR. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Rabu (Wage) 24 Agustus 2011 / 24 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Kejayaan umat Islam mulai menampakkan gejala kemerosotan pada abad 5-6 Hijriah (11-12). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, kebudayaan, dan militer, yang tersebar dari Bagdad (Dinasti Abassiyah) dan Spanyol (Dinasti Umayyah Andalusia), tidak diimbangi oleh ketahanan moral.

Kebobrokan akhlak tersebar di segala bidang kehidupan. Ketinggian material menyeret manusia kembali ke perilaku jahil. Padahal, perjuangan Nabi Muhammad SAW. menghapus kebodohan mental spiritual, sebagaimana sabdanya,
"Innama buitstu li utami makarimal akhlak (sesungguhnya aku diutus untuk mewujudkan akhlak mulia)."

Para sejarawan klasik, seperti Ibnu Katsir (abad 13), penulis kitab Bidayah wan Nihayah, Ibnu Atsir (abad 13), penulis Tarikh Bagdad menggambarkan situasi muram itu. Islam hanya dijadikan seremoni dan simbol belaka. Banyak tokoh menyandang nama yang dinisbahkan kepada Allah SWT., Muhammad Rasulullah SAW., dan Islam —seperti Alallah, Muhammad, Dien— tetapi tak disertai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, nama-nama tersebut cenderung sekadar untuk menutupi kemaksiatan yang merajalela. Terutama korupsi, kolusi, nepotisme, hura-hura, bermewah-mewah. Sementara rakyat dibiarkan dalam keadaan menderita, kelaparan, dan kehausan.

Solidaritas, kedermawanan, belas kasih benar-benar telah lenyap. Ketika rakyat berjalan kian kemari mencari setitik air, para elite negeri malah menghambur-hamburkan air untuk menyiram taman mereka, membasahi gelas kristal pada pesta mereka.

Menyaksikan hal itu, bangkitlah Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M). Ulama terkenal zuhud (sederhana) dan wara (bersih) ini menulis surat kepada Mujiraddin, Gubernur yang merupakan kepercayaan Sultan Maliksyah, penguasa Khurasan, kawasan otonomi Bagdad. "Jangan terlambat mengumpulkan kebajikan untuk bekal hidup di akhirat kelak," tulis Al Ghazali.

"Kebajikan paling utama saat ini adalah menghapus kemiskinan dan kekejaman yang mencengkeram rakyat Kekuasaan yang Anda genggam sangat memungkinkan bagi Anda membasmi KKN sekaligus menjunjung tinggi martabat rakyat. Sebab, rakyat adalah sumber kekuatan dan kemakmuran negara kita.

Pasti Anda tidak tahu kondisi rakyat sekarang, mengingat pandangan, pendengaran, dan langkah Anda sudah terhalang oleh kroni-kroni yang menggelayuti rezim Anda. Padahal, sudah bukan rahasia lagi, petugas pajak yang culas, memeras massa yang bodoh untuk kepentingan mereka pribadi. Mereka tidak memasukkan hak-hak pemerintah — yang notabene hak rakyat— ke kas negara.

Pikirkanlah rakyat, warga setia Anda yang jiwa raganya remuk akibat tingkah laku aparat Anda. Sementara aparat bersama semut-semut istana, terus bermewah-mewah. Ulah Anda, para menteri, dan elite sekeliling Anda yang hanya mengharapkan tetesan manis gula, tanpa peduli derita rakyat yang tiap saat menghisap pahit empedu, merupakan salah satu ancaman bagi eksistensi negara, yang dapat meruntuhkan kemegahan Khurasan dan Bagdad hanya dalam sekejap.

Terkecuali jika Anda segera sadar dan melakukan perbaikan menyeluruh, karena kewenangan penuh masih berada di tangan Anda. Jangan biarkan perasaan sombong, penjagaan citra, dan ketakutan kehilangan dukungan dari kroni Anda, membiarkan Anda hanyut dalam ilusi dan mimpi kemajuan bangsa dan negara.

Sadarlah, bangsa dan negara kita sudah berada pada titik terendah, karena rakyat sudah lama diimpit kemiskinan dan ketidakadilan. Semoga Allah SWT. menolong Anda, dan membukakan pintu anugerah-Nya bagi Anda dalam mencapai kebahagiaan duniawi dan surgawi, jika Anda mampu mendapat pencerahan jiwa dengan melepaskan diri dari buaian para kroni dan rezim yang hanya ingin memanfaatkan kekuasaan Anda dan bertindak seolah-olah melindungi dan menopang kekuasaan Anda. Padahal, mereka lemah tak punya daya."

Menutup suratnya yang tajam dan keras, Al Ghazali mengutip Al-Qur'an, Surah Al Ankabut ayat 41,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah SWT., ibarat laba-laba yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah paling lemah adalah rumah laba-laba, jika engkau mengetahui.
***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 23 Agustus 2011 / 23 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Imam Zainal Abidin adalah keturunan Rasulullah SAW. Ia selamat dari kebiadaban tentara Yazib bin Muawiyah ketika terjadi pembantaian terhadap Imam Husain dan para sahabatnya di Padang Karbala. Waktu itu, Imam Zainal Abidin sedang sakit yang memaksa dia tetap berada dalam kemahnya.

Sejatinya, sebutan Zainal Abidin adalah gelar yang diberikan masyarakat Muslim kepada Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Sebutan itu diperoleh cucu Fathimah al-Zahra binti Rasulillah SAW. ini karena tokoh yang satu ini selalu larut dalam pengabdian kepada Allah SWT. Ia kerap kali melakukan sujud. Karena itu pula, kulit dahi Imam tampak mengeras dan kehitam-hitaman. Bahkan tak jarang kedua telapak kaki dan tangannya membengkak lantaran berlama-lama dalam shalat.


Selain sebutan di atas, masyarakat pun menggelarinya al-Sajjad (yang amat banyak sujudnya). Putranya, Muhammad al-Baqir menjelaskan perihal sujud ayahnya, "Setiap kali ayahku teringat, atau menyebut nikmat Allah SWT., ia langsung bersujud; Setiap kali membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat kata sujud, ia pun bersujud; Jika telah selesai melaksanakan shalat fardu, ia sujud juga; Juga, apabila berhasil mendamaikan orang yang bertengkar, ia pun bersujud."


Jika Imam Zainal Abidin shalat malam, ia sudah tidak hirau lagi terhadap peritiwa di luar dirinya. Pernah pada suatu malam terjadi kebakaran di rumahnya, waktu ia sedang sujud dalam shalatnya. Orang-orang di luar memanggil-manggil, "Wahai putra Rasulullah ! Wahai putra Rasulullah ! Api! Api sedang membakar rumah Tuan !" Namun, ia seolah-olah tidak mendengar teriakan mereka. Hal itu tidak membuat dia bangkit dari sujudnya. Ia tetap dalam shalatnya sampai api itu dapat dipadamkan. Ketika kemudian ditanyakan, mengapa ia tidak menghiraukan teriakan-teriakan mereka, Imam menjawab, "Api yang lebih besar dari itu (maksudnya api neraka di akhirat) telah menyita seluruh perhatianku."


Akan tetapi, harap dicatat keasyikan dalam ibadah ritual ternyata tidak menghalangi Imam untuk menjalankan aktivitas kemasyarakatan. Untuk mudahnya, kegiatan yang disebut belakangan kita namakan saja kesalihan sosial. Seluruh aktivitas hidup Imam Zainal Abidin dapat diringkas dalam satu kalimat, "Menghambakan diri kepada Allah SWT. dan berkhidmat kepada sesama manusia."


Salah satu sifat Imam Zainal Abidin yang paling menonjol adalah kedermawanannya. Ia memang sangat pemurah. Untuk melukiskan kedermawanannya itu, seorang penyair yang termasyhur pada zamannya, Farazdaq (lihat Bagir, 1983:57 dan 59) mengatakan,
Kilta yadaihi ghiyatsun 'amma nafuhuma. Yustawkafani wa la ya 'ruhuma al-'adam. Sahl al-khaliqah la tukhsya bawadiruh. Yuzayyinuhu itsnani husn al-khulq wa al-karam. Ma qala "la" qathth illa fi tasyahhudih. Law la al-tasayhhud kanat la'uhu na'am.

(Kedua tangannya bagai hujan tercurah merata, bertebaran kebajikannya di mana-mana. Tiada keduanya hampa meski berhamburan kedermawanannya. Sederhana perangainya, tiada dikhawatirkan akibat marahnya. Kedermawanan dan akhlak mulia selalu menghiasi dirinya. Kata "tidak" tak pernah diucapkannya kecuali dalam ikrar syahadat. Seandainya bukan dalam syahadat ia terpaksa, niscaya "tidak"-nya berganti dengan "ya".)


Oleh karena itu, tidak heran kalau dalam satu riwayat dikatakan, bahwa ia kerap memikul karung-karung roti dan tepung di pundaknya pada malam hari, yang kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk miskin Madinah. Lantaran dilakukan dalam kegelapan malam, untuk sementara waktu pihak-pihak yang dibantu tidak mengenal siapa pemberi sedekah itu. Rahasia tersebut baru terbongkar setelah Imam Zainal Abidin wafat. Sejak dia meninggal dunia, kiriman berupa "sedekah malam" itu tidak pernah datang lagi.


Imam Zainal Abidin
memang amat mencintai masyarakat kelas bawah. Misalnya, orang miskin, hamba sahaya, dan kaum mustadh'afin lainnya. Ia sering kali mengunjungi mereka, duduk-duduk bersamanya, serta berbincang dengan ramah dan penuh kasih sayang. Jika datang seorang peminta-minta kepadanya, ia selalu menyambut dengan kata-kata, Marhaban, ya man yahmilu zadi ila al-akhirah. Artinya, "Selamat datang wahai sahabat, yang hendak memikul bekalku menuju kampung akhirat !"


Tidak sedikit hamba sahaya yang kemudian menjalani hidup sebagai orang merdeka lantaran usaha Imam Zainal Abidin. Untuk itu, terutama pada bulan suci Ramadhan, ia mengeluarkan banyak uang. Ia membeli budak-budak itu dari pemiliknya untuk kemudian mereka dimerdekakan tanpa syarat. Selain itu, Imam terkenal karena perilakunya yang lembut terhadap hamba sahaya. Sekelumit kisah di bawah ini merupakan lukisan nyata dari sifat-sifat tersebut.


Suatu ketika seorang hamba sahaya membawakan cerek tempat air wudhu untuknya. Secara tidak sengaja cerek itu tiba-tiba terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa, bahkan melukai kepala Imam Zainal Abidin. Karena takut, hamba sahaya itu segera memohon maaf seraya berkata, "Tuanku, Allah SWT. telah berfirman, Wa al-kazhimin al-ghayzha (Dan orang-orang yang menahan amarahnya)." Imam menjawab, "Baiklah, sudah aku tahan amarahku." Sahaya itu melanjutkan bacaannya, "Wa al-'afin 'an al-nas (Dan orang-orang yang memaafkan orang lain)." "Ya, baik. Kamu telah kumaafkan," jawabnya. Sahaya itu masih terus membaca penutup ayat tersebut, yang bunyinya, "Wallahu yuhibb al-muhsinin (Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan)." Setelah selesai ayat itu dibacakan, Imam kemudian mengatakan, "Baiklah, sekarang kamu bebas pergi ke mana saja. Demi meraih keridhaan Allah, mulai saat ini kamu telah kumerdekakan."


Begitulah cara Imam Zainal Abidin mencintai orang-orang kecil. Ia melakukannya, tidak cukup sekadar pengajaran dalam bentuk ucapan, melainkan juga lewat keteladanan dan amal yang nyata. Mungkin ada gunanya kita mengambil pengajaran ('ibrah) dari kisah tersebut. Terlebih lagi ketika bangsa ini mengalami kelangkaan figur teladan.

Mudah-mudahan.
***

[Ditulis oleh A. HAJAR SANUSI, tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Senin (Pahing) 22 Agustus 2011 / 22 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Sabda Rasulullah SAW.,
Barang siapa menggali sumur air, maka tidak ada hati yang kering dari kalangan jin, manusia, dan burung yang meminumnya, kecuali karenanya Allah memberi pahala kepadanya pada hari kiamat. (HR. Ibnu Hibban)

Seorang lelaki menderita penyakit kronis. Sudah tujuh tahun lututnya luka mengeluarkan darah. Tak sembuh-sembuh. Berbagai obat sudah dicoba untuk dimakan, ditempelkan. Tetap saja. Puluhan tabib telah didatangi. Belum ada perubahan.

Ia bertanya kepada Ibnu Mubarak, seorang ulama tabi'in (yang pernah bertemu dengan sahabat Nabi SAW.) Maksudnya untuk memohon nasihat "spiritual".

"Pergilah ke suatu tempat di mana orang menderita kekeringan. Sangat membutuhkan air. Galilah sumur di sana. Semoga, atas perkenan Allah SWT., ada mata air memancar dan menahan aliran darah di lututmu," Ibnu Mubarak menyarankan.

Maka pergilah ia ke tempat yang sedang krisis air. Penduduk setempat sangat menderita. Mereka menggunakan sisa-sisa air apa saja yang masih ada. Termasuk genangan air selokan yang kotor berlumpur.

Lelaki penyandang sakit lutut berdarah itu pun segera mencari para tukang gali sumur. Membiayai mereka sepenuhnya, dengan upah lebih mahal. Dalam tempo beberapa hari sumur selesai dan menyemburkan air bersih. Penduduk setempat amat bergembira. Kini tak akan lagi kekeringan, karena telah mendapat sumur berair subur.

Bersamaan dengan itu, atas kehendak Allah SWT., darah di lutut lelaki itu berhenti mengalir. Segera ia pun melakukan sujud syukur. Ia gembira mendapat dua keuntungan sekaligus. Membebaskan penduduk dari krisis air, juga mendapat kesembuhan atas penyakitnya.***

Dari "Al Matjarur Rabih fi Tsawabil Amalish Shalih" Al Hafidz Abul Hasan ad Dimyati.

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 19 Agustus 2011 / 19 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Bashrah adalah sebuah kota yang dalam perkembangan sejarah Islam menjadi terkenal lantaran di wilayah itu tumbuh dan berkembang gerakan tasawuf mazhab Khasyyah (takut). Hidup zuhud, untuk tidak dikatakan menolak kehidupan duniawi, merupakan bagian penting ajaran tasawuf mazhab ini. Oleh karena itu, tak heran ada suatu peristiwa berlangsung di kota itu.

Ketika itu yang menjadi Amirul Mukminin adalah Ali bin Abi Thalib. Sekalipun kesibukan menderanya setiap waktu, ia tidak pernah melupakan sahabat-sahabatnya. Bahkan, sesekali ia bertandang ke rumah mereka, sebagai upaya menjalin silaturahmi.

Salah seorang yang beruntung karena rumahnya dikunjungi, adalah al-'Ala' bin Ziyad al-Haritsi. Rumah al-'Ala' terbilang besar, dengan pekarangan yang luas. Maka tak heran kalau kemudian Imam Ali menegur gaya hidup sahabat yang satu ini.

Setelah bertegur sapa dan saling bertanya tentang kesehatan masing-masing, Imam Ali berkata kepadanya, "Apa sesungguhnya yang Anda kehendaki dengan rumah seluas ini di dunia, wahai sahabatku ? Bukankah Anda lebih membutuhkan rumah seperti ini di akhirat nanti ?"

Belum juga tuan rumah sempat menjawab, Imam Ali sudah melanjutkan dengan nasihat, "Namun, baiklah ! Jika Anda ingin memperoleh kebahagiaan akhirat dengan rumah ini, hendaklah Anda lakukan tiga hal :
  • Taqri fiha al-dhayf (Menghormati dan menjamu tamu yang masuk rumah ini);
  • Wa tashilu fiha al-rahim (Berbuat baik di dalamnya terhadap karib kerabat);
  • Wa tuthli 'u minha al-huquq mathali'aha (Anda menampakkan kebenaran yang harus ditampakkan) !
Jika demikian halnya, Anda telah menjadikan rumah ini sebagai sarana meraih kebahagiaan akhirat !"

Al-'Ala' bin Ziyad al-Haritsi menyimak nasihat itu hampir kata demi kata. Ia tidak berusaha menyela sedikit pun. Yang demikian itu boleh jadi terhalang oleh rasa hormat terhadap Imam Ali, seorang pemimpin besar tetapi hidup dalam kesederhanaan.

Setelah Imam Ali selesai menyampaikan nasihatnya, baru kemudian al-'Ala' berkata, "Wahai Amirul Mukminin ! Aku ingin mengadukan saudaraku, 'Ashim bin Ziyad kepada Anda." "Memangnya kenapa ? Apa yang telah dilakukan saudaramu itu ?" tanya Imam Ali.

Al-'Ala' lalu menjelaskan, "Saudaraku itu sekarang mengenakan pakaian aba'ah (sejenis mantel terbuat dari bahan kasar, lazim dikenakan oleh penduduk dusun). Ia betul-betul telah meninggalkan kenikmatan hidup duniawi, ya Amirul Mukminin !" "Panggillah saudaramu itu ke mari !" titah Imam Ali.

Sebentar saja, 'Ashim telah berada di hadapannya. Penjelasan al-'Ala' tentang saudaranya itu benar juga. 'Ashim tampil dengan pakaian yang dapat dikatakan nyaris compang-camping. Kepadanya Imam Ali berkata, "Wahai musuh kecil dirinya sendiri ! Sungguh engkau telah disesatkan oleh si jahat (setan). Tidakkah engkau menyayangi istri dan anak-anakmu ? Apakah menurut sangkaanmu, Allah SWT. telah menghalalkan segala sesuatu bagimu yang baik, lalu Dia tidak menyukaimu untuk menikmatinya ?"

'Ashim, yang sejak kedatangannya diam, mulai angkat bicara. Ia mengedepankan alasan mengapa dirinya menjalani cara hidup demikian. "Ya Amirul Mukminin ! Hadza antafi khusyunah malbasik wajasyubah ma'kulik (Wahai Amirul Mukminin ! Bukankah Tuan ini mengenakan busana kasar dan mengonsumsi roti yang kering (kurang halus) pula ?" demikian kilahnya. Tampak jelas, 'Ashim ingin meniru pola hidup sederhana yang dipraktikkan Imam Ali.

Namun, dalam pandangan Imam Ali, cara berpikir 'Ashim itu kurang tepat. Oleh karena itu, Imam Ali meluruskannya. "Ya 'Ashim ! Inni lastu kaannak (Sesungguhnya aku tidak seperti Anda. Dengan kata lain, aku adalah seorang pemimpin). Innallaha faradha 'ala a'immah al-'adl an yuqaddiru anfusahum bi dha'afah al-nas. Kayla yatabayyagha bi al-faqir faqruh (Allah telah mewajibkan atas para pemimpin adil, agar mengukur diri mereka dengan keadaan hidup rakyatnya yang lemah sehingga orang-orang miskin tidak merasa risau dengan kefakirannya)."

Demikian percakapan antara Imam Ali sebagai Amirul Mukminin dan sahabat-sahabatnya. Keterangan itu mengantarkan kita sampai pada beberapa kesimpulan sebagai berikut :
  • Pertama, Islam tidak melarang seseorang mempunyai rumah megah, asal diperoleh dengan cara halal. Namun, jika dengan rumah itu dirinya ingin mendapatkan pahala akhirat, pemiliknya dituntut menunaikan hak-hak rumah itu.
  • Kedua, seorang anggota masyarakat biasa tidak terlarang menampakkan anugerah Allah dalam bentuk gaya hidup sesuai dengan selera masing-masing. Sepanjang itu tidak berlebih-lebihan dan tidak berseberangan dengan norma yang berlaku.
  • Ketiga, kesederhanaan adalah pola hidup yang niscaya bagi seorang pemimpin. Terlebih ketika kesejahteraan masyarakat belum terwujud secara merata. Atau, manakala sebagian besar rakyat masih belum lepas dari deraan kesulitan hidup. Namun, jika dalam kondisi seperti itu, pola hidup seorang pemimpin justru meunjukkan berseberangan, sejatinya yang bersangkutan sudah tidak layak menyandang sebutan pemimpin.
Mungkin gelar penguasa, untuk tak menyebut tiran lebih patut dilekatkan. Adalah hak siapa pun untuk percaya atau tidak, tetapi fakta sejarah mengatakan, pemerintahan yang dibangun atas dasar ketidakadilan, pelan tapi pasti, pasti runtuh.

Untuk itu, pendapat Ibnu Taimiyah agaknya relevan untuk dikedepankan. Dalam salah satu karya intelektualnya, al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy an al-Munkar, pakar keislaman yang dianggap sebagai pelopor gerakan muhyi atsar al-salaf ini mengatakan, "Innallaha yuqim al-dawlah al-'adilah wa in kanat kafirah. Wa la yuqim al-zhalimah wa in kanat muslimah (Sesungguhnya Allah akan mempertahankan tegaknya suatu pemerintahan adil meskipun ia kafir. Dan Allah SWT. tidak akan membiarkan pemerintahah zalim terus berdiri, meskipun berada di tangan kaum Muslim)."

Oleh karena itu, waspadalah wahai para pemimpin ! Jangan sampai turun kedudukan tanpa penghormatan, apalagi disusul sumpah serapah rakyat. Bersikap adil dalam memimpin, adalah solusinya. ***

[Ditulis oleh A. HAJAR SANUSI. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 18 Agustus 2011 / 18 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by
u-must-b-lucky