Showing posts with label Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Nasihat. Show all posts
Apabila kita jeli memperhatikan nama-nama masjid di kompleks-kompleks perumahan, sebagian besar menggunakan kata hijrah, seperti Almuhajirin, Baitul Muhajirin, atau sejenisnya. Warga kompleks perumahan merasa sebagai warga yang hijrah atau pindah dari tempat asalnya ke tempat baru.

Apa sebenarnya makna hijrah? Apakah sebatas hijrah dalam makna fisik? Kata hijrah berasal dari bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan diri, dan berpindah tempat.

Dalam konteks sejarah, hijrah yakni perpindahan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. bersama para sahabat dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah. Perintah untuk berhijrah terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur'an, di antaranya QS. Al-Baqarah: 218,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Inna allatheena amanoo waallatheena hajaroo wajahadoo fee sabeeli Allahi olaika yarjoona rahmata Allahi waAllahu ghafoorun raheemun

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Selain itu,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Waallatheena amanoo wahajaroo wajahadoo fee sabeeli Allahi waallatheena awaw wanasaroo olaika humu almuminoona haqqan lahum maghfiratun warizqun kareemun

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-An'fal:74)

Secara umum hijrah dibedakan dalam dua macam yakni hijrah makaniyah, yaitu meninggalkan suatu tempat. Beberapa jenis hijrah maanawiyah yang berhubungan dengan hijrah fisik dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti hijrah Rasulullah SAW. dari Mekah ke Habasyiyah, dari Mekah ke Madinah, dari negeri yang di dalamnya didominasi oleh hal-hal yang diharamkan dan sejenisnya. Selain itu, hijrah maknawiyah yang terdiri atas empat macam, yaitu:
  • Pertama, hijrah i'tiqadiyah (keyakinan) karena iman bersifat naik dan turun, sehingga kita harus bisa hijrah dari kegelapan menuju jalan terang agar iman selalu kuat.
  • Kedua, hijrah fikriyah (pemikiran) sebab seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi, dan derasnya arus informasi, sehingga berbagai informasi dan pemikiran dari berbagai belahan bumi bisa secara langsung kita dapatkan. Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut (ghazwul fikri, perang pemikiran). Umat Islam harus berupaya keras agar bisa memberikan warna dalam perang pemikiran, bukan malah menjadi konsumen apalagi bulan-bulanan dalam perang di era teknologi ini.
  • Ketiga, hijrah syu'uriyyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan, dan lain-lain karena saat ini unsur fun (kesenangan) juga menjadi daya tarik kuat untuk dijual meskipun kadang jauh dari nilai-nilai islami. Bisakah kita hijrah dari mode pakaian yang menonjolkan aurat kepada pakaian yang lebih menutup?
  • Terakhir, hijrah sulukiyyah yakni hijrah tingkah laku, kepribadian, atau akhlak dari akhlak tercela menuju akhlak terpuji dan terbaik.
Ada beberapa karakter yang tidak disukai atau dibenci Allah yang ironisnya dilakukan oleh sebagian pemimpin politik ataupun pemimpin masyarakat. Karakter buruk yang kerap dilakukan adalah berbuat dzalim yakni tidak menempatkan persoalan pada posisi yang sebenarnya. Perilaku lainnya adalah mudah berbohong seperti saat mempromosikan diri atau golongannya dalam kampanye politik. Begitu mudahnya kita berjanji dan mengumbar tekad yang ternyata tak bisa ditepati ketika mendapatkan jabatan atau kedudukan di pemerintahan ataupun wakil rakyat.

Sifat buruk lainnya adalah berbuat merusak baik merusak alam, hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, maupun merusak karakter orang-orang yang dianggap lawan politiknya. Dia ingin memberikan pencitraan yang terbaik dalam dirinya, tetapi dengan cara merendahkan bahkan meniadakan kebaikan pada orang lain. Sikap lain yang harus dikikis menjelang pergantian tahun Hijriah adalah bersikap sombong atau membanggakan diri ataupun membanggakan garis keturunan dan anak-anaknya. Allah telah mengingatkan agar seseorang tidak berjalan di muka bumi dengan menyombongkan diri (walaa tamsyiifil ardhi maraahari).

Ketika di belahan dunia lain kepemimpinan rata-rata diisi kaum muda, di Indonesia juga sudah sepantasnya kepemimpinan nasional dan daerah memberikan kesempatan kepada kaum muda. Jangan sampai menghalangi kemajuan dari kaum muda karena mereka para penerus generasi sebelumnya. Kaum muda secara fisik lebih kuat, lebih bersih dalam latar belakang kehidupannya, ataupun lebih siap secara mental dalam menghadapi berbagai perubahan di era yang cepat berubah ini. Kaum muda juga memiliki idealisme yang tinggi karena tidak digayuti dosa-dosa masa lalu.

Buanglah keinginan serakah untuk memiliki atau menguasai suatu jabatan. Nabi Muhammad SAW. mengajarkan, janganlah memberikan jabatan kepada orang-orang yang menginginkannya. Jabatan adalah amanah yang pertanggungjawabannya amat berat di akhirat kelak. Kita harus hijrah pemikiran yang selama ini menganggap jabatan merupakan kenikmatan dan bisa berbuat apa saja sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Silakan berbuat dan bersikap apa saja, tetapi harus yakin, semua itu akan berakhir dan akhirat pasti menanti.

Lalu, bagaimana kita bisa melakukan hijrah termasuk meninggalkan perilaku politik yang kurang baik? Kuncinya adalah mulai berubah dari diri sendiri dan keluarga agar bisa mewarnai lingkungan sekitar. Hijrah membutuhkan keinginan kuat untuk berubah. Hijrah memang berat karena meninggalkan kebiasaan dan tradisi yang selama ini digeluti dan dipercayai sebagai suatu "pembenaran".

Kita harus menjadi manusia-manusia yang beruntung dengan menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin. Bukan menjadi manusia yang rugi ketika hari ini sama dengan kemarin apalagi menuju manusia celaka ketika hari ini lebih buruk dari kemarin. Kita harus yakin bisa berubah dan mengubah kondisi lingkungan, kondisi politik, ataupun kondisi bangsa secara keseluruhan. Jangan sampai sebelum berbuat sudah pesimistis sehingga akhirnya tak akan berbuat apa pun.
Selamat Tahun Baru 1438 Hijriah. Hijrah menuju kebaikan diri, keluarga, lingkungan, dan bangsa. Selamat berhijrah. Nikmati setiap tantangan, hambatan, ataupun persoalan yang menghadang di tengah jalan. Yakinlah setelah jalan mendaki pasti ada pemandangan indah yang bisa kita nikmati.***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat UIN Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 8 November 2012 / 23 Zulhijah 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan mereka kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Berniat baik dan ikhlas kepada Allah SWT., termasuk perkara besar dan penting yang bisa menyelamatkan manusia. Niat baik adalah amalan hati, sedang hati adalah anggota tubuh manusia yang paling mulia. Karena itu amalan hati sangatlah penting dan menentukan. Dengan niat di dalam hati suatu pekerjaan akan bernilai di hadapan Allah, dan jika anggota tubuh berbuat sesuatu tanpa niat yang benar, maka ia melakukan sesuatu yang tidak berarti.

Hendaklah kita senantiasa menyimpan niat yang baik di dalam hati jika melakukan sesuatu dan mengikhlaskannya kepada Allah SWT. Jangan melakukan ketaatan, melainkan padanya niat untuk mendekatkan diri, patuh kepada-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Apabila kita mengerjakan perkara mubah, seperti makan, minum, dan tidur, maka hendaklah kita niatkan untuk memelihara tubuh, agar kuat beramal dan beribadah kepada Allah SWT., meneguhkan taqwa dan ketaatan kepada-Nya. Dengan niat seperti itu berarti kita telah menyertakan amal mubah dengan amal yang wajib, sedangkan kita telah memperoleh pahala pula, lantaran perbuatan kita telah diikat dengan niat karena Allah SWT.

Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah SWT. semata. Maksud niat disini adalah pendorong kehendak manusia untuk mewujudkan satu tujuan yang dituntutnya. Maksud pendorong adalah penggerak kehendak manusia yang mengarah kepada amal. Sedang tujuan pendorong amat banyak dan beragam. Ada yang bersifat materil dan ada pula yang bersifat spritual. Ada yang bersifat individual dan ada pula yang bersifat sosial. Ada yang duniawi dan ada pula yang ukhrowi. Ada yang sederhana dan ada pula yang besar dan berbahaya. Ada yang berkaitan dengan nafsu perut dan ada pula yang berkaitan dengan nafsu birahi. Ada yang berkaitan dengan kenikmatan akal dan ada pula yang berkaitan dengan rohani. Ada yang dilarang, mubah, dianjurkan dan ada pula yang wajib. Ikhlas punya arti melakukan sesuatu dengan hati yang bersih dan jujur. Ikhlas adalah suatu aktivitas yang dilakukan tanpa pamrih duniawi.

Makna Ikhlas adalah menyengajakan semua amal ibadah, ketaatan dan ibadah semata-mata kepada Allah SWT. Untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridhaan-Nya. Bukan untuk tujuan-tujuan yang lainnya, seperti berpura-pura mengerjakan ketaatan, menampilkan diri di hadapan orang banyak mengharap pujian atau tamak untuk mendapatkan suatu pemberian.

Adapun ikhlas itu sendiri, menurut Al Harwi ada tingkatannya. Ikhlas mempunyai 3 tingkatan, yaitu :
  1. Tidak memandang bahwa ia telah berbuat sesuatu.
  2. Tidak mengharap balas dan ganjaran.
  3. Tidak merasa puas dengan apa yang telah diperbuat.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita akan mendapatkan tiga tipe manusia dalam melakukan segala aktivitas dan segala amal-ibadahnya, yakni; mukhlis ikhlas, munafik dan riya’. Keikhlasan akan membuahkan rahmat, kemunafikan akan membawa laknat, sedangkan riya’ membawa amalan kepada kesia-siaan. Keikhlasan punya misi membangun, sedangkan kemunafikan dan riya’ jelas merusak dan sia-sia. Karena itu, perilaku riya’ dan munafik, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Perilaku munafik yang destruktif itu jelas akan merusak dimanapun ia berada. Ia akan merusak diri dan lingkungan sosialnya. Begitu pula ornag yang riya’, amalan-amalannya tidak akan diperolehnya sedikitpun di hari kemudian.

Lalu bagaimana dengan ikhlas ? Kata ini memang mudah diucapkan, akan tetapi sangat sulit direalisasikan. Untuk menjadi ikhlas dalam arti yang sebenarnya, hati ini perlu dilatih secara konkrit. Tentu saja rintangan pun selalu menghadang. Tapi begitu rintangan-rintangan itu bisa dilewati, buah keikhlasan mudah diraih. Di saat semua aktivitas yang tiada tergoda oleh rayuan duniawi dan semuanya dilakukan hanya karena Allah.

Orang mukmin yang benar adalah jika pendorong agama di dalam hatinya bisa mengalahkan pendorong hawa nafsu, porsi akhirat bisa mengalahkan porsi duniawi, mementingkan apa yang ada disisi Allah SWT. dari pada apa yang ada di sisi manusia, menjadikan niat, perkataan dan amalnya bagi Allah semata, menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya bagi Allah SWT., Rabb semesta alam. Inilah yang disebut ikhlas.

Sesungguhnya Islam menolak perangkap dan dualisme yang dibenci, yang sering kita lihat dalam kehidupan manusia akhir zaman ini, sehingga terkadang kita melihat seseorang di mesjid atau aktif berpuasa pada bulan Ramadhan, tapi kemudian dalam kehidupan mu’amalahnya dengan sesama, atau dalam tindak tanduknya dia merupakan sosok manusia lain. Ikhlaslah yang kemudian menyatukan kehidupan orang muslim dan menjadikan semua sisinya hanya bagi Allah SWT. Shalatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya, semua bagi Allah Rabbal ‘Alamin.

Dengan hujjah iman yang nyata dan cahaya Al Qur’an, seorang muslim sejati mengetahui bahwa kebahagiaan tak bakal tercapai kecuali dengan ilmu, amal dan ibadah. Hidup seseorang tiada berarti kecuali dengan ilmu. Orang-orang yang berilmu pun akan merugi jika tidak mengamalkannya. Dan amal yang tidak disertai dengan landasan ikhlas karena Allah adalah gambar mati. Raga tanpa jiwa.

Menurut Iman Al Ghazali rahimahullah bahwa dunia ini adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu. Semua ilmu adalah hujjah atas pemiliknya kecuali yang diamalkan. Semua alam akan sia-sia kecuali yang didasari dengan ikhlas.

Sehingga banyak orang bijak berkata, ”Ilmu laksana benih, amal laksana tanaman, sedang ikhlas adalah air yang menyiraminya.

Wallahu a’lam bissawab.***

[Ditulis oleh BUYA H. MAS’OED ABIDIN]

by :
u-must-b-lucky
Merusak merupakan perbuatan tercela. Apalagi dalam skala luas. Meliputi areal jagat. Maka, Allah SWT. melarang keras perbuatan itu.

وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

wala tabghi alfasada fee alardi inna Allaha la yuhibbu almufsideena

Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash (28): 77)

Kategori perusakan, dari mulai yang terkecil hingga yang terbesar, berdampak sama. Walaupun proses waktunya berbeda-beda. Menebang satu dua pohon, terus-menerus, akan menimbulkan dampak banjir dan longsor, empat lima tahun mendatang. Menebang pohon dan menggunduli hutan satu hektare dua hektare sekaligus, mungkin hanya dua tiga hari kemudian datang banjir dan longsor. Oleh karena itu, hakikat perusakan sama saja.

Nabi Muhammad SAW. merumuskan secara sederhana, mengenai orang-orang yang merusak agama. Sebab agama adalah prinsip, tuntunan, dan tatanan hidup. Dengan demikian, dengan menyebut "perusak agama", memiliki makna lebih luas dan padu dengan kerusakan yang terjadi.

Dalam hadits riwayat Imam ad Dailami dari Ibnu Abbas, Rasullullah SAW. menyatakan,
"Ada tiga macam orang yang menjadi bencana terhadap agama. Pertama, orang pintar yang jahat. Kedua, penguasa yang dzalim. Ketiga, orang yang berijtihad namun bodoh."

Orang pintar, orang berilmu, tetapi melakukan perbuatan-perbuatan "fajir", jahat, maksiat. Hasil perbuatan mereka pasti sangat merusak berbagai sendi kehidupan. Jika orang bodoh melakukan kejahatan, mungkin akibatnya kecil-kecil saja. Seperti seseorang mencuri ayam. Paling hanya mengegerkan sekitar kampung tempat peristiwa terjadi.

Akan tetapi, jika orang pintar, punya gelar akademik, punya jabatan tinggi dan statregis, melakukan pencurian, tentu lain lagi. Yang dicurinya bukan sekelas ayam seharga sepuluh atau seratus ribu di tingkat kampung. Melainkan, ratusan miliar atau triliun. Akibatnya, mengguncang sendi-sendi ekonomi, politik, sosial, dan budaya secara nasional atau internasional. Termasuk orang yang pintar di bidang hukum, menduduki jabatan yang menentukan dalam pelaksanaan hukum, tetapi ternyata melanggar hukum. Menerima suap sogok, memperjualbelikan vonis, pilih kasih dalam menerapkan hukum, serta bentuk-bentuk "antihukum" lainnya.

Pantas Rasulullah SAW. menyatakan,
Kehancuran umat terdahulu karena tidak benar dalam melaksanakan hukum. Jika yang melanggar, para elite penguasa, pengusaha, atau bangsawan, hukum tak diterapkan sebenar-benarnya. Sementara itu, jika yang melanggar kaum alit, orang-orang sederhana, hukum ditegakkan sebenar-benarnya. (Riwayat Imam Bukhari)

وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Wainna alfujjara lafee jaheemin

dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS. Al-Infithar (82): 14)

Perusak lainnya, adalah penguasa dzalim. Penguasa seharusnya memikul amanah, kepercayaan orang banyak. Berlaku adil dalam segala tindakan dan ucapan sehingga tidak ada yang dirugikan. Namun, dalam kenyataan, justru kekuasaan di tangan penguasa dzalim dijadikan alat untuk mencari keuntungan sendiri dengan berlaku aniaya terhadap bangsa dan negaranya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.,
Penguasa yang baik ialah yang mencintai rakyatnya dan rakyat pun mencintainya, suka mendengar ajakan-ajakannya. Penguasa yang jahat adalah penguasa yang benci kepada rakyatnya dan rakyat pun benci kepadanya yang mengutuk rakyatnya dan rakyat pun mengutuknya. (HR. Imam Muslim)

Dapat dibayangkan, bagaimana kehancuran bangsa dan negara yang dikuasai penguasa dzalim. Perusak lainnya adalah orang yang suka membuat pendapat-pendapat baru, tetapi tanpa disertai ilmu. Orang jahil atau bodoh, berlagak pintar. Apalagi jika pendapat-pendapat hasil "ijtihad"-nya itu bertentangan dengan prinsip-prinsip baku yang sudah diakui kemapanannya. Akan tetapi, dengan istilah "pembaruan", hasil pikiran mujtahidun jahilun itu, mendapat publikasi dan promosi luas. Seolah-olah segala macam pekerjaan dapat dilakukan siapa saja yang merasa pintar, sekalipun tidak menguasai substansi persoalan.

Untuk menghindari hal-hal tersebut, sebaiknya kita koreksi diri. Jangan sampai kita menjadi orang pintar berakhlak jahat, menjadi penguasa dzalim, dan menjadi "mujtahid" bodoh.

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., Pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk Garut, pembimbing Haji dan Umrah Mega Citra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 19 September 2013 / 13 Zulkaidah 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Sudah berapa kali kita menjalankan ibadah puasa atau shaum? Seandainya saat ini Anda berusia 20 tahun. minimal telah 13 kali merasakan puasa Ramadhan apabila sudah melaksanakannya sejak usia 7 tahun. Demikian pula apabila usia Anda sekarang 35 tahun, bisa jadi sudah 28 kali menjalankan ibadah puasa.
Pertanyaannya, bagaimana dampak setelah berkali-kali melaksanakan ibadah puasa? Apakah Anda menjadi lebih baik? Sama saja sebelum dan sesudah berpuasa? Atau malah lebih jelek?

Kalau kita bandingkan dengan dunia hewan, maka mahluk Allah bernama binatang juga melakukan puasa dan hasilnya jauh lebih baik dari sebelum berpuasa.

Setidaknya ada lima hewan yang kerap melakukan puasa yakni unta, ayam betina. ular, ulat, dan kukang, Unta mampu bertahan selama delapan hari tanpa makan dan minum. Ayam betina bisa menjalankan puasa selama tiga minggu untuk mengerami telur dan hasilnya mendapatkan anak-anak ayam.

Demikian pula dengan yang saat berpuasa penuh, biasanya ular tidak akan melakukan aktivitas apa-apa. Ular hanya akan bersembunyi dan berdiam diri selama tiga minggu sehingga mengalami proses biologi berupa ganti kulit. Ular akan mengganti kulitnya yang tua dan kusam, dan berubah meajadi kulit yang segar, berwarna-warni, dan indah.

Ulat juga berpuasa antara 14-16 hari sehingga wujudnya berubah menjadi hewan yang indah dan menawan yakni kupu-kupu. Sementara kukang akan berpuasa setelah makan dengan kenyang karena kukang termasuk hewan pemalas.

Sesungguhnya kata puasa berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna menahan diri seperti tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami istri selama waktu tertentu. Ada juga yang memaknai puasa sebagai pengindonesiaan dari kata pause yang bermakna berhenti sesaat, sebentar, atau dalam rentang wakku tertentu.

Tentu ajaran Islam tidak sebatas mengajarkan puasa hanya menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan badan di siang hari antara suami dan istri. Anehnya, sampai bertahun-tahun kita berpuasa, masih saja berkutat pada makna tersebut. Akibatnya puasa kita hanya sebatas rutinitas dan insidental tanpa dampak sama sekali.

Puasa harus dimaknai lebih jauh, yakni menahan diri dari semua hal yang dilarang oleh Allah SWT. seperti bertahan dari godaan maksiat dan menjauhi perbuatan keji serta perbuatan yang tidak terpuji lahir dan batin. Makna menahan diri juga harus direfleksikan di luar Ramadhan, yakni sebelas bulan selepas Ramadhan.

Menahan diri dari perbuatan korupsi, manipulasi, maupun konspirasi yang akan merugikan masyarakat banyak.  Bisa jadi seseorang yang rajin berpuasa, tetapi tetap saja melaksanakan korupsi maupun manipulasi. Lalu, dimanakah dampak dari menjalankan ibadah puasa selama ini?

Puasa merupakan suatu proses menjadi orang yang lebih baik dan lebih bertakwa kepada Allah SWT. Seorang pemimpin harus menahan diri bahkan berhenti dari bicara yang mengumbar janji. Puasa juga dari memamanfaatkan anggaran negara untuk keperluan diri, keluarga, golongan. maupun partainya.

Tentu dampak dari puasa dalam menahan diri untuk melakukan kemungkaran harus dimulai dari kesadaran diri sendiri. Puasa sebetulnya merupakan upaya diri sendiri, dilakukan oleh diri sendiri, dan dalam kerangka hubungan spiritual dengan Ilahi.

Berpuasa adalah rentang waktu perjuangan sekaligus proses dalam bertanding untuk mengalahkan nafsu diri. Berproses untuk melawan diri sendiri seperti kerakusan dan ketamakan. Hawa nafsu yang biasa membawa kita jauh dari hubungan dengan Ilahi serta sesama manusia. Wajar apabila Nabi Muhammad SAW. setelah pulang dari perang Badar ketika bulan Ramadhan dan berpuasa malah menyamakannya seperti baru kembali dari perang kecil, sebab perang besar sesungguhnya ialah mengendalikan hawa nafsu.

Oleh karena itu, jika puasa sebagai upaya menaklukkan diri sendiri terhadap semua hal, walaupun ada godaan, tantangan, ujian, maupun daya tarik serta bujukan di sekitarnya, maka ia tidak menanggapi karena memang ia harus menang dan mengalahkan semuanya itu. Jika tanpa tantangan dan ujian, maka kita tak bisa mengukur diri sendiri bahwa kita sanggup untuk menaklukkan diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi memiliki kewenangan kekuasaan, tentu saja akan banyak tantangan dan ujian yang menggoda. Nah. disinilah peran dari puasa agar kita tetap kuat menahan serbuan ujian tersebut sehingga kita bisa menang dalam menghadapinya.

Selamat berpuasa yang sesungguhnya. Bukan puasa sebatas menahan diri dari lapar dan dahaga. ***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 11 Juli 2013/2 Ramadhan 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Terdapat banyak arti takwa yang disampaikan oleh para ahli, termasuk Prof. DR. Quraisy Shihab. Beliau menjelaskan tentang takwa yang juga bermakna cinta, sebab kata cinta akan berbuah makna kerinduan. Kerinduan pada gilirannya akan melahirkan rasa simpati dan kedekatan. Orang yang dirinya telah diliputi rasa cinta dapat dipastikan akan selalu mendambakan kedekatan dan simpati.
Orang yang hidupnya selalu diliputi rasa cinta kepada Allah SWT. misalnya, maka dapat dipastikan hidupnya ingin selalu dekat dengan-Nya. Berat rasanya bila ada, aktivitas yang memberi kesan bahwa dirinya jauh dengan Allah, walau sekejap, atau sedetik dalam hitungan waktu.

Berbeda halnya dengan takwa yang dimaknai takut. Hal ini merupakan kebalikan dari "cinta". Rasa takut bagi seseorang tidak sedikit akan melahirkan kebencian, kekhawatiran, bahkan ketidaknyamanan dalam kehidupan, yang efeknya akan menumbuhkan sikap ingin menjauh, antipati, bahkan tidak mustahil ingin berupaya paling tidak berdoa agar hal yang ditakuti itu lepas, lenyap, atau sirna dalam kehidupan ini.

Sudah saatnya bagi kita memaknai takwa dengan cinta. Sebab dengan pemaknaan cinta akan membentuk kekuatan moral (moral force) yang mampu memelihara jati diri baik sebagai umat maupun sebagai bangsa. Seseorang yang karena cintanya melahirkan kerinduan dan kedekatan dengan Allah SWT., maka hidupnya tidak sekadar merasakan kesenangan, tetapi ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Dalam hidupnya selalu merasakan kehadiran Allah dekat dengan dirinya, para malaikat diyakini sebagai pengawal bagi dirinya, sehingga tidak ada perasaan takut dan bersakit hati, selalu optimistis terhadap proses dan tujuan hidup serta janji ilahi.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Inna allatheena qaloo rabbuna Allahu thumma istaqamoo tatanazzalu AAalayhimu almalaikatu alla takhafoo wala tahzanoo waabshiroo bialjannati allatee kuntum tooAAadoona

Sesunguhnya orang-orang yang berkata 'Rabbunallah' (Tuhan kami adalah Allah), kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.' (QS. Fussilat (41): 30)

Istiqamah (teguh pendirian) pada ayat tersebut di atas bukan sekadar ungkapan atau sikap yang tanpa makna, akan tetapi pernyataan yang membuahkan kekuatan rohaniah (quwwatar-ruhaniah) yang memotivasi sekaligus menumbuh suburkan sikap mental bagi seseorang sehingga pola pikir, pola sikap, dan pola tindaknya betul-betul mencerminkan seseorang yang selalu dekat dengan Allah, beramal karena Allah, merasa disaksikan oleh Allah dan yang dituju ridha Allah.

Pola pikir yang diharapkan selalu baik (positive thinking) dan cerdas, ia tidak pernah berburuk sangka kepada siapa pun, tidak pernah mencari-cari kesalahan siapa pun, dan tidak akan menjatuhkan/menggulingkan siapa pun. Dipegangteguhnya prinsip hidup "mikul duwur, mendem jero" (siapa yang pernah berbuat baik bagi dirinya, maka dia akan dikenang terus dan kebaikannya disampaikan kepada orang lain, dan dijadikannya teladan, sebaliknya siapa yang pernah berkhianat bagi dirinya maka cukup dirinya yang tahu dan berusaha melupakannya dalam-dalam).

Dalam menyikapi kehidupan di mana pun dirinya berada, selalu hati-hati, teliti, disiplin, amanah, ramah, santun, arif, bijaksana, dan toleran. Tindakannya dirasakan bermanfaat bagi sesama manusia dan lingkungannya, sebagaimana yang dipesankan Rasulullah SAW.,
"Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang dalam hidupnya bermanfaat bagi sesama manusia."

Silih asih, silih asah, dan silih asuh, bukan hanya sesanti atau slogan yang hanya cukup dihafal atau ada kesan hanya untuk masyarakat Jawa Barat (Sunda); tetapi harus pula diwujudkan dalam tatanan kehidupan yang bersifat global.

Kita sangat merindukan kehidupan yang diliputi suasana saling memberi tanpa basa basi dan pamrih. Kita sangat mendambakan untaian tindakan saling mempererat, saling memperkokoh, saling memperkuat, saling memajukan, saling mencerdaskan untuk kepentingan bersama tanpa pilih-pilih kasih, pura-pura, dan prasangka. Kita sangat mengharapkan suasana kehidupan yang saling mengingatkan di kala salah, saling menghibur di kala susah atau duka, saling mendukung untuk kemajuan dan keagungan umat dan bangsa, tanpa perasaan luka cedera dan aniaya. Itulah jati diri kita, jati diri sebagai umat dan bangsa yang harus dipelihara sepanjang masa.

Jati diri kita sebagai umat telah diabadikan dalam Al-Qur'an,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kuntum khayra ommatin okhrijat lilnnasi tamuroona bialmaAAroofi watanhawna AAani almunkari watuminoona biAllahi

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran (3): 110)

Atas dasar ayat tersebut, jelas sekali bahwa kita memiliki derajat khaira ummah (sebaik-baik umat). Bahkan pada ayat lain dijelaskan ahsan takwim, yaitu sebaik-baik penciptaan. Akan tetapi, sebaik apa pun suatu derajat kita, jika tidak mampu dan berusaha untuk memelihara jati dirinya, pasti akan berubah statusnya menjadi kebalikannya, yaitu dari khaira ummah menjadi sarru ummah (sejelek-jelek umat) atau fasadul ummah (serusak-rusak umat), ahsan takwim menjadi asfal safilin (nasib yang memprihatinkan).

Ciri-ciri umat yang memiliki derajat khaira ummah atau ahsan takwim yaitu selalu berusaha menjadi manusia rahmatan lil'alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam), yakni manusia yang mampu menebarkan rahmat (kasih sayang, keselamatan) bagi seluruh alam; tidak hanya bagi keselamatan manusia, tetapi juga bagi makhluk-makhluk lainnya yang ada dimuka bumi ini seperti hewan, tumbuhan beserta lingkungan sekitar.

Bukan kebetulan, apabila di Tatar Sunda(Jawa Barat) terdapat sebutan "Siliwangi" yang antara lain diabadikan menjadi nama Kodam, yaitu Kodam III/Siliwangi. Dan menjadi sebuah moto "Siliwangi adalah masyarakat Jawa Barat dan masyarakat Jawa Barat adalah Siliwangi." Hal ini merupakan kata sekaligus kalimat yang penuh makna yang merupakan penjabaran dari jati diri sebagai umat sekaligus sebagai bangsa yang rahmatan lil'alamin.

Siliwangi berasal dari dua kata, yaitu silih = saling, dan wangi (Sunda) = harum. Artinya saling mengharumkan atau saling menebar keharuman. Keharuman bisa bermakna nilai-nilai kebaikan, kejayaan, kemuliaan, keluhuran, atau kesuksesan. Saling mengharumkan atau menebar keharuman bukan berarti sombong, lantaran keharumanya disebut-sebut dan disampaikan kepada orang lain. Akan tetapi, keharuman itu harus disadari dan dimaknai tidak hanya untuk dan milik diri sendiri atau atas dasar usaha sendiri, tetapi berasal dari proses yang melibatkan orang lain, dan keharuman itu harus membuat orang lain menjadi harum.

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh Drs. H. ASEP SODIKIN, MM., perwira pembina mental Kodam III/Siliwangi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 31 Mei 2013 / 21 Rajab 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Ibnu Umar RA. berkata,
"Aku datang menemui Nabi SAW. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, 'Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat." (HR. Ibnu Majah)

Hadits tersebut memberikan peringatan kepada kita sebagai Muslim bahwa cerdas tidaknya seseorang adalah saat ia selalu mengingat kematian. Karena dengan mengingat kematian, seseorang akan selalu punya rem saat ia akan melakukan dosa dan maksiat. Dengan itu juga, seseorang akan mempersiapkan bekal amal saleh sebanyak-banyaknya guna menghadapi kematian tersebut.

Mari kita ambil pelajaran dari wafatnya ustaz kita Jefry Al-Buchori. Seorang dai muda, populer, gaul, dan sangat dicintai masyarakat Indonesia, telah berpulang ke haribaan-Nya dalam usia yang masih muda, 40 tahun. Seluruh masyarakat Indonesia pun berduka dan puluhan ribu orang menyalatkan dan mengiringinya ke pemakaman terakhir. Peristiwa itu memberikan pelajaran berharga bahwa kita semua tidak akan pernah berlari dari kematian, tetapi kita sering melupakannya.

Dengan penuh kejujuran, mari kita bertanya pada diri sendiri, seberapa banyak kita mengingat kematian? Jangan-jangan, kesibukan kita dalam hal dunia telah menjauhkan diri kita dari mengingat kematian. Jangan-jangan, kekayaan yang kita miliki, kesuksesan yang kita raih, jabatan tinggi yang kita rengkuh, telah melalaikan kita untuk mendekatkan diri pada-Nya. Jika demikian adanya, seharusnya kita berhenti sebentar untuk bermuhasabah diri dan mengambil pelajaran dari kematian saudara-saudara kita.

Bila seorang Muslim telah ingat akan kematiannya, ia tidak merasa sayang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Ia tidak akan menyelewengkan kekuasaannya untuk mendzalimi orang-orang yang lemah karena ia sadar setelah kematian menjemputnya, tidak ada yang mampu menolong selain amal dan perbuatannya.

Hamid Al-Qushairy berkata, "Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sedangkan kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sedangkan kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sedangkan kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka, hampirilah Allah dengan cara yang baik."

kematian adalah rahasia Allah. Allah sengaja merahasiakannya agar kita selalu waspada saat kematian menjemput kita, baik itu rahasia tempat, cara, dan waktunya. Allah sengaja merahasiakan tempat di mana kita akan mati. Tak seorang pun yang tahu di mana kita akan mati. Apakah kita mati di rumah dalam keadaan berkumpul bersama keluarga atau di rumah sakit saat orang-orang menjenguk kita, ataukah kita mati di masjid. Kita tidak akan pernah tahu di mana kita akan mati, tetapi kita semua menginginkan agar saat kematian menjemput, kita sedang berada di tempat yang baik dan mulia, bukan di tempat penuh dosa dan maksiat.

Selain tempat, Allah merahasiakan cara kita saat mati. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara kita mati. Apakah mati dalam keadaan sedang beribadah dengan banyak pahala dari amal saleh yang kita lakukan atau mati karena kecelakaan di jalanan dengan berlumuran darah yang mengenaskan? Ataukah kita mati tertembak peluru di medan perang? Begitu banyak cara yang ditunjukkan Allah saat kematian datang kepada seseorang. Akan tetapi, yang pasti kita semua menginginkan mati dengan cara yang indah, lembut, dan dalam kedaan khusnul khatimah.

Allah juga sengaja merahasiakan waktu kematian kita. Sungguh tak seorang pun yang tahu kapan waktu kematian menjemput kita. Apakah kita mati di waktu pagi, siang, sore, atau malam hari? Namun, yang jelas kita semua mengharapkan mati di waktu yang dimuliakan Allah SWT.

"Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Oleh karena itu, kita selalu diingatkan dengan ayat,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kullu nafsin thaiqatu almawti wainnama tuwaffawna ojoorakum yawma alqiyamati faman zuhziha AAani alnnari waodkhila aljannata faqad faza wama alhayatu alddunya illa mataAAu alghuroori

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali-Imran (3): 185)

Dengan ayat ini, Allah memberi isyarat, kesenangan dunia seringkali membuat lalai, melenakan, dan membuat seseorang melupakan kematiannya. Persiapan menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendengarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri.

Saat seseorang bergaul dengan kesenangan dunia, ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada yang bertobat, ada pula yang arif. Adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia jarang mengingat kematian yang akan menjemputnya. Berbeda orang yang bertobat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan tobatnya. Oleh karena itu ia gunakan hartanya, kekuasaan dan memaksimalkan amal ibadahnya sebagai bekal persiapan menghadapi kematian.

Sementara itu, orang arif selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pencinta tidak akan lupa akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Ia yakin, saat kematian menjemput, ia akan bertemu dengan Allah dengan cara yang indah. Dengan demikian, sebagai Mukmin, kita semestinya selalu mengingat kematian karena kita tidak pernah tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa kematian itu menjemput kita.

Wallahu a'lam bish-shawab. ***

[Ditulis oleh TAUFIK HIDAYATULLAH, khatib dan pengurus DKM Masjid Jami' Al-Huda, Pacet, Kabupaten Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 3 Mei 2013 / 22 Jumadil AKhir 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT."]

by
u-must-b-lucky
Lima, liman, dan kaifa. Mengapa, karena siapa, dan bagaimana. Visi, misi, landasan, maksud dan tujuan; niat dan motivasi; kaifiat, mekanisme, srategi, atau cara, senantiasa wujud menyertai setiap tindakan dan perbuatan manusia di dunia ini ketika ia menghendaki dan mengupayakan suatu pencapaian.

Pertanyaan-pertanyaan ini wajib dipedulikan untuk disertakan dan dibaurkan jawabannya ke dalam setiap perkataan dan tindakan, ketiadaan jawaban atau ketidakbenaran jawaban, menunjukkan betapa direndahkannya arti atau nilai dari wujud kemanusiaan.

Binatang-binatang di darat, laut, dan udara, semua telah memberikan jawaban terhadap seluruh pertanyaan itu dengan tepat, cermat, dan benar. Demikian pula benda-benda antariksa, bumi dengan segala isi perutnya, serta laut dengan seluruh kekayaannya, jawaban-jawabannya benar karena senantiasa bertasbih dan bersujud kepada Khaliknya. Firman Alah SWT.,

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ 
وَإِن تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى
Lahu ma fee alssamawati wama fee alardi wama baynahuma wama tahta alththara 
Wain tajhar bialqawli fainnahu yaAAlamu alssirra waakhfa

Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. (QS. Thaha(20): 6-7)

Ketika tanggung jawab terhadap alam ini ditawarkan kepada malaikat, mereka menolak. Lalu ditawarkan kepada gunung-gunung, mereka pun menolak. Akhirnya ditawaran kepada manusia, mereka menerima. Penerimaan manusia itu bukan kerena keperkasaan atau kearifan, melainkan karena kedzaliman dan kejahilan. Ya, itulah manusia yang dzalim, tamak, dan jahil. Allah SWT. berfirman,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Inna AAaradna alamanata AAala alssamawati waalardi waaljibali faabayna an yahmilnaha waashfaqna minha wahamalaha alinsanu innahu kana thalooman jahoolan

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab(33): 72)

Sesungguhnya permasalahan yang paling mendasar dan senantiasa urgen dalam setiap waktu dan tempat bagi manusia adalah bagaimana manusia dapat memanusiakan dirinya. Dirinya artinya hati nurani dan pikirannya yang akan memproses segala permasalahan yang masuk ke dalamnya, lalu bersinergi dengan saraf-saraf di seluruh badannya. Dengan demikian akan tercipta alur komunikasi yang lancar dan jernih antara hati dan pikirannya yang pada waktunya akan melahirkan khuluq dan akhlakul karimah.

Jika seorang pedagang hanya memikirkan laba, setiap saatnya menghitung, pagi sore dan petang, hatinya akan panas, kering, dan mengeras lalu membatu, bahkan lebih keras lagi, sehingga sama sekali tidak lagi dapat menyerap norma-norma apalagi hidayah Allah SWT. karena memandang kehidupan di sekililingnya dengan kacamata laba. Si miskin, si lemah, si bodoh, semua dipandang demi pertambahan laba. Tiada lagi belas kasihan, tega hatinya untuk mengisap darah dan keringat mereka demi kocek yang makin menebal, meskipun sebenarnya hanya bentuk angka-angka dan benda-benda. Habislah waktunya hanya untuk demikan. Pernah pun ia tampil baik, berbudi, dan penuh perhatian kepada orang lain, terutama yang lemah, itu sekadar pencitraan dalam menaikkan laba yang menjadi Tuhan bagi dirinya.

Melihat yang lebih kaya, yang lebih berjabatan, lebih kuat, tidak sungkan untuk menyuap bahkan menjilat tidak lain demi angka-angka dan benda-benda. Jika ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan, niat, bagaimana dan mau ke mana, pasti jawabannya benar menurut hawa nafsu dan birahinya, tetapi pasti salah menurut Sang Khaliq Yang telah menciptakan dirinya.

Demonstrasi menjadi ajang dan sarana menyampaikan aspirasi yang pada saat ini dianggap paling efektif, pressure group dianggap merupakan kemestian untuk mencapai maksud dan tujuan, mahasiswa, karyawan, dan masyarakat pada umumnya, jika tanpa memiliki landasan akidah, lalu dicari kaifiat yang lebih berakhlak, mereka hanya akan menjadi komoditas dan alat yang dimanfaatkan oleh sekelompok manusia yang memiliki kepentingan sempit sesaat. Mereka tak ubahnya buih di atas air bah yang terhanyutkan ke mana pun air itu membawanya mengalir. Celakanya, kejadian ini dialami oleh yang mengaku Islam.

Seseorang pergi ke kantor setiap pagi untuk pulang pada sore harinya. Terkadang tidak jarang ia harus pulang malam. Apa yang diperjuangkannya? Bila berangkat pada hari itu karena agar dapat berangkat lagi esok harinya, habis waktu hanya untuk demikian. Tak ubahnya seorang petani. Setiap pagi berangkat untuk mengurus sawah dan tanamannya, ia mengurus semua itu agar dapat makan, dan ia makan agar dapat terus bercocok tanam. Habis waktu hanya untuk demikian.
Jika diperhatikan sabda Rasulullah SAW.,
"Bahwa iman itu ada 77 cabang. Yang paling tingginya adalah kalimat Lailahaillallah dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan ramai dan rasa malu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Setiap Muslim sepanjang hidupnya dituntut untuk beramal saleh. Beramal saleh ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi setiap amal saleh itu tidak boleh terlepas dari keimanan berdasarkan Lailahailallah. Itu sebabnya berpuluh-puluh ayat di dalam Al-Qur'an senantiasa menggandengkan amal saleh dengan keimanan.

Amal saleh hanya akan tercipta dari rasa mahabah kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya. Rasa mahabah kepada Allah dan Rasul-Nya yang hakiki mesti akan menghilangkan iri dengki, benci, dan sifat menghasut. Hal ini pernah ditawarkan oleh Rasulullah SAW. dengan sabdanya,
"Maukah kalian aku tunjukkan kepada amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum dan sedakah? Yaitu memperbaiki hubungan dua orang yang sedang berselisih. Sesungguhnya rusaknya hubungan itulah yang merusak." (HR. Abu Daud dan Attirmidzi)

Di atas landasan tauhidullah, mahabah itu bisa dikembangkan khususnya di antara manusia menjadi situasi takaful (saling menanggung/saling peduli), ta'awun (saling menolong), tanashur (saling mendukung), dan tarahum (saling mengasihi). Situasi seperti ini sebenarnya merupakan cita-cita seluruh umat Islam di mana pun dan kapan pun. Karena apalah artinya shalat, shaum, zakat, infak, dan sedakah bila semua pengerjaannya dilandasi oleh sifat-sifat iri dengki dan saling menghasut, yang bermuara pada kedzaliman.

Cita-cita yang amat luhur ini, sebenarnya dengan segera dapat tercipta apabila semua individu memulai setiap pekerjaan dan perkataannya atas dasar keimanan kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya. Cinta atau rasa mahabah di antara manusia. Hal ini dahulu disampaikan oleh Rasululah SAW. ketika menjawab pertanyaan seorang laki-laki tentang kepada siapa dia harus berbuat baik,
"Ibumu, ibumu, ibumu." Kemudian siapa lagi? "Bapakmu." Kemudian siapa lagi, "Keluarga yang paling dekat kepadamu kemudian keluarga yang dekat." (HR Muslim)

Bila setiap individu mendapatkan situasi yang kondusif untuk takaful, ta'wun, tanashur, dan tarahum dimulai dari rumah tangganya, niscaya ia akan keluar rumah dengan membawa suasana itu, di sekolah, di kantor, di sawah, di ladang, dan di tempat-tempat lainnya. Bila demikian keadaannya, termaknakanlah kata-kata rahmatan lil 'alamin. Oleh karena itu, lebih baik segera habis waktu dalam keridhaan Allah SWT. daripada masih panjang waktu dalam kemurkaan-Nya. ***

[Ditulis oleh WAWAN SHOFWAN SHALEHUDDIN, Ketua Bidang Da'wah PP. Persis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 28 Februari 2013 / 17 Rabiul AKhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky