Showing posts with label Etika. Show all posts
Showing posts with label Etika. Show all posts
Ketika kita mendengar saudara seiman kita bersin yang diikuti dengan kalimat tahmid memuji Allah SWT., kita diperintahkan untuk bertasymit kepadanya, yakni mendoakannya dengan ucapan, "Yarhamukallah." Artinya, "Semoga Allah memberi rahmat kepadamu."

Perintah ini termaktub dalam hadits Rasulullah SAW.,
"Apabila seseorang di antara kamu bersin, ucapkanlah, alhamdulillah; dan orang yang berada di sampingnya harus mengucapkan, yarhamukallah" (HR. Ahmad dan Abu Ya'ala)

Apakah seseorang berbohong demi untuk pencitraan dirinya? Apakah dengan memajang fotonya di mana-mana bisa meningkatkan pencitraan? Bagaimana tasawuf dan filsafat pendidikan memandang masalah pencitraan diri ini?

Berbagai pertanyaan itu muncul saat penulis merenung. Kegundahan penulis karena akhir-akhir ini dikenal istilah pencitraan, hingga kemudian juga muncul istilah politik pencitraan. Citra juga disebut kesan, pendapat, penilaian yang diberikan terhadap orang, sekelompok orang, organisasi, atau bahkan negara. Pasti semua orang menyukai dicitrakan sebagai orang baik, atau berpribadi unggul. Orang yang memiliki citra baik akan diuntungkan dalam banyak hal. 

Bagi sebagian orang apalagi yang berpolitik, membangun citra diri menjadi penting. Berapa pun besarnya dana yang harus dikeluarkan, asalkan masih terjangkau, akan dibayar. Dengan menggunakan kalkulasi pedagang, uang yang dibayarkan pada suatu saat akan kembali. Bahkan, ada anggapan dengan citra baik, akan banyak hal yang bisa dijual hingga mendatangkan uang kembalian. 

Untuk pencitraan ini bisa melalui penampilan yang mantap. Jenis pakaiannya harus terpilih dan demikian pula potongannya. Penampilan harus memberi kesan tersendiri dan terlihat anggun dan berwibawa. 

Citra diri juga dengan membubuhkan gelar akademik di depan atau belakang namanya. Gelar akademik dianggap sebagai bagian dari citra diri bahkan kerap didapat dengan cara-cara yang menyalahi norma-norma akademik itu sendiri. 

Disadari atau tidak, politik pencitraan mengandung unsur ria (pamer), sombong minimal sum'ah (merasa diri paling baik), ingin dipuji dan disanjung, dan "mematut-matutkan" diri sebagai orang yang paling baik, paling benar, dan paling unggul. Bahkan, tak jarang agar citra dirinya naik dengan merendahkan orang atau organisasi lainnya. 

Muara dari pencitraan diri salah satunya untuk mendapatkan jabatan karena dalam jabatan itu diduga keras berkaitan dengan fasilitas maupun kewenangan yang melekat. Padahal, jabatan merupakan tugas dan amanah harus diterima dan ditunaikan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab yang kokoh. Amanah bukan dikejar, apalagi diminta-minta. Amanah dan jabatan menuntut seorang pemimpin/pejabat untuk berani menderita. 

Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Ingatlah, setiap orang di antara kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang amir (pemimpin masyarakat) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lebih dari itu, bahaya pencitraan diri yang berlebihan akan terasa oleh anak-anak dan generasi muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Syekh Mushthafa al-Gulayani menyatakan, "Pemuda-pemuda masa sekarang adalah (calon) bapak-bapak pada masa yang akan datang dan pemudi-pemudi di masa sekarang adalah (calon) ibu-ibu masa yang akan datang." Sementara itu, sebuah syair mengatakan, "Sesungguhnya pada tangan pemuda-pemudalah urusan umat dan pada gerak-derap kaki mereka kemajuannya." 

Ajaran Islam menekankan pentingnya pendidikan akhlak atau karakter seperti sabda Nabi Muhammad SAW.,
"Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak."

Sesungguhnya dalam pendidikan karakter yang setahun terakhir ini baru disadari pemerintah dan mulai digencarkan mengandung konsekuensi adanya keteladanan, motivasi, pembiasaan (riyadah), dan prasyarat lingkungan yang mendukungnya. 

Politik pencitraan yang dilakukan para pemimpin tentu tidak sesuai dengan pendidikan karakter yang sedang dibangun. Anak-anak dan generasi muda dengan terpaan media massa tentu akan melihat dan selanjutnya meniru apa-apa yang dikatakan dan dilakukan para pemimpinnya. Tentu hal ini membahayakan bagi keberlangsungan pendidikan generasi mendatang. 

Jangan sampai sesuatu yang salah, buruk, dan tak sesuai dengan ajaran agama malah dianggap hal biasa bahkan wajar dilakukan. Jangan sampai nantinya muncul istilah "salah kaprah, benar tidak lumrah". Sesuatu yang salah kaprah dan banyak dikerjakan sehingga akhirnya dijadikan sebuah kewajaran dan rujukan, sedangkan hal-hal yang berbau kebenaran malah dianggap asing. 

Nabi Muhammad SAW. sendiri menyitir Islam sebagai agama yang asing pada awalnya lalu akan menjadi asing kembali. Janganlah kita meninggalkan generasi mendatang yang lebih lemah, lebih buruk, dan lebih jelek teratama akhlaknya karena orang-orang tua tidak memberikan keteladanan yang baik. 

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Walyakhsha allatheena law tarakoo min khalfihim thurriyyatan diAAafan khafoo AAalayhim falyattaqoo Allaha walyaqooloo qawlan sadeedan

"Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka." (QS. An-Nisa: 9)

Terakhir, pemimpin bukanlah profesi yang dicari melainkan akibat kepercayaan dari masyarakat karena ia memiliki rekam jejak (track record) yang baik dan dapat dipercaya sehingga diangkat menjadi pemimpin. Membangun kepercayaan harus dengan keteladan dan akhlak terpuji bukan dengan cara instan seperti memasang spanduk dan baliho di mana-mana.  

Wallahu a'lam.*** 

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 8 Maret 2012 / 15 Rabiul Akhir 1433 H pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky
Akhlak adalah perangai atau karakter seseorang ketika bertindak dan berperilaku. Dalam Islam, sebagai sebuah agama yang juga menjadi identitas seorang muslim, akhlak Islam menjadi sebuah pusat perhatian tersendiri. Bahkan, Islam diturunkan ke muka bumi bertujuan untuk membenahi dan memperindah akhlak manusia.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)

Mengapa ber-Akhlak Islami ?

Mengapa akhlak Islam sedemikian penting ? Karena akhlak adalah ciri setiap individu dalam mengisi hidupnya. Akhlak adalah bagaimana seseorang beramal untuk kehidupannya di dunia.

Akhlak tak hanya keshalihan individu, tetapi juga menjadi kebaikan kolektif yang menjadikan hidupnya maju dan berkembang. Akhlak tak hanya menyoroti masalah ibadah ritual, atau bagaimana berperilaku terhadap tetangga, tetapi juga etos kerja, manajemen diri dan waktu, dan sifat serta kebiasaan baik lainnya.

Di atas semua itu, realisasi akhlak Islam adalah realisasi keimanan seseorang. Dengan motivasi ibadah nan ihklas, untuk meraih keridhaan Allah, maka seseorang akan berusaha untuk selalu memperbaiki dirinya hingga sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW.

Dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau menjawab, “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Dalam sabda Rasulullah SAW. yang lain, “Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

Bahkan orang yang terbaik dilihat dari faktor perilaku akhlaknya, sebagaimana hadits Nabi SAW., “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Nasehat beliau pula di hadits yang lain, “Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Gambaran Akhlak Islam

Akhlak Islam tentu saja telah dicontohkan terlebih dahulu oleh Nabi kita Muhammad SAW. sebagaimana Firman Allah SWT. dalam Al-Qur'an,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)

Dalam ayat-Nya yang lain,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam : 4)

Apabila Nabi dipanggil maka beliau akan membalikkan muka dan badannya pada orang yang memanggilnya itu. Beliau mengajarkan untuk selalu bermuka manis pada orang lain. Beliau sangat pemurah dan pemaaf.

Dengan kualitas ibadah beliau yang sangat tinggi. Manajemen diri dan waktu beliau luar biasa, pada suatu ketika menjadi panglima perang, pemimpin negara yang mumpuni, di saat yang lain dapat sebagai ayah yang baik dan suami yang penyayang.

Anas bin Malik RA. Pernah berkata, “Selama sepuluh tahun saya melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kepada Siapa ber-Akhlak ?
  1. Kepada Allah SWT. Dengan beribadah sebaik mungkin, selalu merasa berada dalam pengawasan-Nya, bersyukur dengan segala karunia-Nya. Sehingga menjadi taqwa, menjalankan segala ketentuan-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.
  2. Kepada Nabi SAW. Dengan menelusuri jejak kehidupannya, bershalawat padanya. Meneladani segala apa yang dicontohkan dan yang diperintahkan beliau.
  3. Kepada Sesama Manusia. Dengan berprilaku baik. Memberikan manfaat apapun yang dia bisa kepada masyarakat. Keberadaannya tidak membuat susah dan menjadi masalah bagi orang lain.
  4. Kepada Diri Sendiri. Tidak zhalim pada diri dengan melakukan maksiat. Menghargai diri sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. yang berakhlak mulia. Mempunyai pribadi ikhlas, jujur, syukur, meninggalkan hal yang tak berguna dll.
  5. Kepada Makhluk Ghaib. Kepada Malaikat dengan meyakini keberadaannya dan menghormatinya sesuai ketentuan. Kepada jin, dengan tidak meminta tolong apalagi hingga diperbudak oleh mereka. Kepada syetan, dengan mewaspadai semua tipu dayanya dan meminta perlindungan dari Allah atas semua kejahatannya.
  6. Kepada Alam. Dengan memeliharanya dan tidak merusak. Demikian pula pada hewan, menyayangi dan tidak menyakiti sesuai ketentuan Islam.
Wallahu a'lam.***

[Sumber tulisan : http://www.anneahira.com/]
Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Berbicara pula yang pertama-tama dilakukan bayi saat baru lahir, melalui tangisannya. Betapa bahagia sang ibu tatkala mendengar kata pertama yang diucapkan buah hatinya. Selanjutnya, seiring perjalanan waktu, sang anak pun mulai tumbuh, berkembang dan menyerap berbagal informasi yang diterimanya. Saat itulah sang anak mulai banyak mengatakan segala sesuatu yang pernah ia dengar. Sayang, tak jarang kebahagiaan ibu harus tergantikan oleh rasa prihatin terutama saat sang buah hati mulai berbicara tanpa adab, sopan santun, bahkan bertentangan dengan syariah.

Rasa prihatin kian mendalam bila ternyata meski anak sudah mulai menginjak usia balig, adab berbicara justru semakin ditinggalkan. Tak jarang ditemui mereka berani membantah nasihat orangtua atau guru, makin pintar berbohong, tak merasa berdosa saat mencaci atau mengolok-olok temannya dan berani mengungkapkan aib temannya. Bahkan mereka tak ragu mengucapkan kata-kata kotor, kasar, sumpah serapah, atau menisbatkan pada sesuatu yang tak layak bagi manusia.

Mengapa mereka bisa tumbuh menjadi seperti itu ? Inilah sebagian permasalahan yang dialami orangtua. Kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat berat, karena persoalan lisan (perkataan) bisa berimplikasi surga atau neraka. Karena itu, orangtua seharusnya memiliki kepekaan mendalam dan ilmu yang mumpuni dalam mengarahkan buah hatinya agar amanah yang Allah berikan itu bisa menjadi penuntun orangtuanya menuju surga, bukan malah menghalanginya dari tempat termulia itu.

BAGIAN DARI AKHLAK ISLAM
Betapa agung Islam yang mengatur aspek akhlak. Sebagai bagian yang tak bisa dilepaskan dari bangunan Islam, pengaturan akhlak dalam Islam memiliki nilai untuk memberikan keunggulan atau keluhuran bagi yang melaksanakannya. Syariah Islam telah memerintahkan kaum Muslim untuk menghiasi setiap perilakunya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum Muslim dari akhlak tercela. Abdullah bin Amr RA. berkata bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya." (Mutaffaq 'alaih)

Di antara akhlak Islam yang diperintahkan Allah SWT.. adalah adab berbicara. Bahkan Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menjadi penyebab masuknya manusia ke neraka, lalu beliau bersabda, "Perkara itu adalah mulut dan kemaluan." (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)

Rasulullah SAW. adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam berbicara beliau memang selalu dibimbing wahyu. Namun, sebagai suri teladan bagi seluruh manusia, perilaku beliau adalah contoh nyata bagi setiap Muslim.

CARA MENANAMKAN ADAB BICARA PADA ANAK
Menanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak

Pertama :
tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah SWT. Sedini mungkin anak harus mulai belajar melaksanakan kebaikan dalam berbicara, bukan untuk mengharapkan imbalan materi, atau pujian orang lain. Sikap ini juga akan memberi imunitas yang tinggi manakala ia terancam oleh lingkungan yang kurang baik.

Kedua :
ajarkan keteladan Rasulullah SAW. dalam berbicara Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya. selalu menyatakan kebenaran, tidak berdusta, jujur dalam perkataan, berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua, tidak banyak bicara, dsb. Semuanya menunjukkan betapa berharganya nilai berbicara itu.

Ketiga :
jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya. Keteladanan juga akan memberikan lingkungan yang baik bagi anak sehingga anak akan lebih mudah menemukan pola kebiasaan berbicara yang baik.

Keempat :
biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah bila melihat pemandangan yang bagus, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila !, busyet !, monyet !, dasar bodoh !, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi : misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.

Kelima :
jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Tidak diterapkanya sistem Islam memang memaksa keluarga Muslim untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan 'dunia luar' untuk belalar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya lbu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.

Orangtua juga harus selektif memilihkan program tayangan media. Jangan biarkan anak-anak menonton film orang dewasa apalagi beradegan kekerasan dan sering melontarkan kata-kata kasar. Sebaliknya, berikan tontonan edukatif yang merangsang anak melakukan kebiasaan berbicara yang baik. Jika terpaksa si anak kedapatan mendengar kata-kata kotor dari media, maka tegas orangtua adalah menjelaskan hakikat kata-kata kotor tersebut dan mengajaknya untuk menjauhinya.

Keenam :
bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariah, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil syariah. terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulanginya di lain waktu.

Ketujuh :
menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga. lnilah yang dimaksud kontrol sosial yang harus ada untuk menjaga agar pelaksanaan syariah Islam.

PENUTUP

Sesungguhnya anak dapat memiliki adab bicara sesuai syariah bila mendapat bimbingan yang mumpuni dari orangtuanya. Meski tidak mudah, semua itu dapat tewujud dengan kesungguhan dan tanggung jawab yang besar dari orangtua.

Selain itu, sebagaimana kita ketahui, buruknya kebiasaan berbicara pada anak tidak lepas dari kesalahan pola asuh orangtua, lingkungan yang tidak islami, juga sistem pendidikan yang kurang menekankan pelaksanaan syariah secara kaffah, termasuk dalam perkara akhlak. Oleh karena itu, upaya penanaman adab berbicara pada anak juga harus dibarengi dengan upaya memperjuangkan syariah dan Khilafah. Dengan demikian, upaya orangtua mengemban amanah pendidikan anaknya akan menjadi selangkah lebih mudah.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.

[Ditulis oleh : Noor Afeefah]

[Sumber tulisan : Media Islam Online "http://www.facebook.com/MediaIslamOnline"]
Orang Muslim melihat dalam dirinya nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang tidak bisa dikalkulasikan sejak ia masih berupa sperma di perut ibunya hingga ia menghadap Allah Ta’ala. Oleh karena itu, ia bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat tersebut dengan lisannya dengan memuji-Nya dan menyanjung-Nya, karena Dia berhak mendapatkan sanjungan dan ia bersyukur dengan anggota badannya dengan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya. Ini etikanya terhadap Allah Ta‘ala, sebab tidak etis mengingkari nikmat, menentang keutamaan Pemberi nikmat, memungkiri Nya, memungkiri kebaikan-Nya, dan memungkiri nikmat-nikmat-Nya.

Allah SWT berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah(datangnya).” (QS. An-Nahl : 53)
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl : 18)
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 152)

Orang Muslim mengakui pengetahuan Allah Ta’ala kepadanya, dan penglihatan-Nya terhadap seluruh kondisinya, kemudian hatinya penuh dengan ketakutan kepada-Nya, dan ia mengagungkan-Nya. Ia malu bermaksiat kepada-Nya, menentang-Nya, dan tidak tidak taat kepada-Nya. Inilah etikanya terhadap Allah Ta’ala. Sebab, sangat tidak etis seorang hamba mempertontonkan kemaksiatannya kepada Tuhannya, atau mempersembahkan keburukan kepada-Nya, padahal Dia melihatnya dan menyaksikannya.
مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

Mengapa kalian tidak percaya akan kebesaran Allah ? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakn kalian dalam beberapa tingkatan kejadian.” (QS. Nuh : 13-14)
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ
Dan Allah mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan.” (QS. An-Nahl : 19)
وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi kalian di waktu kalian melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit.” (QS. Yunus : 61)

Orang Muslim berpendapat bahwa Allah Mahakuasa atas dirinya dan memegang ubun-ubunnya. Ia tidak mempunyai tempat melarikan diri, atau tempat menyelamatkan diri, kecuali kepada-Nya. Kemudian ia lari menghadap kepada-Nya, menjatuhkan diri di depan-Nya, menyerahkan seluruh persoalannya kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Inilah etikanya terhadap Tuhan dan Penciptanya. Sebab, tidak etis lari kepada pihak yang tidak bisa memberikan perlindungan, bergantung kepada pihak yang tidak mempunyai kekuasaan, dan menyerahkan diri kepada pihak yang tidak mempunyai daya dan upaya.
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا
Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-alah yang memegang ubun-ubunnya.” (QS. Huud : 56)
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata dari Allah untuk kalian.” (QS. Adz-Dzariyat : 50)
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23)

Orang Muslim melihat kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala dalam semua urusan-Nya, rahmat-Nya kepadanya, kepada semua makhluk-Nya, kemudian ia ingin mendapatkan tambahan rahmat-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketundukan dan doa yang ikhlas, bertawwasul kepada-Nya dengan perkataan yang baik dan amal perbuatan yang shahih. Inilah etikanya terhadap Allah Ta’ala, sebab, tidak etis merasa putus asa dari mendapatkan tambahan rahmat yang meliputi segala hak, putus asa dari kebaikan yang mencakup semua makhluk, dan putus asa dari kebaikan Yang Mengatur alam raya.
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-Araaf : 156)
اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ
Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syuura : 19)
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
Dan jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf : 87)
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar : 53)

Orang Muslim melihat kedahsyatan kekuatan Tuhannya, kekuatan pembalasan-Nya, dan kecepatan penghisaban-Nya, kemudian ia bertakwa dengan taat dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Ini etikanya terhadap Allah Ta‘ala, sebab, tidak etis bagi orang-orang berakal, kalau hamba yang lemah dan tidak berdaya melakukan kemaksiatan kepada Tuhannya Yang Maha Perkasa, Mahakuasa, Mahakuat, dan Maha Menang.
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selama Dia.” (QS. Ar-Ra’d : 11)
إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ
Sesungguhnya adzab Tuhanmu benar-benar keras.” (QS. Al-Buruj : 12)
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
Dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan.” (QS. Ali Imran : 4)

Orang Muslim melihat kepada Allah Ta‘ala ketika ia bermaksiat dan tidak taat kepada-Nya. Ia merasa seolah-olah ancaman Allah Ta’ala telah mengenai dirinya, siksanya telah terjadi padanya, dan hukumannya telah turun padanya. Ia juga melihat kepada Allah Ta’ala ketika ia taat dan mengikuti syariat-Nya. Ia merasa seolah-olah Dia telah memberikan janji-Nya kepadanya, dan pakaian keridhaan telah dikenakan padanya. Kemudian ia berbaik sangka kepada-Nya, sebab, tidak etis seseorang berlaku buruk terhadap Allah Ta‘ala, kemudian ia bermaksiat dan tidak taat kepada-Nya, serta berpendapat bahwa Allah Ta‘ala tidak melihat dirinya, dan tidak menghukumnya atas pelanggarannya.
وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Namun kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangka kalian yang telah kalian sangka terhadap Tuhan kalian, prasangka itu membinasakan kalian, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Fushshilat : 22-23)

Juga tidak etis terhadap Allah Ta‘ala, kalau seseorang bertakwa kepada-Nya dan taat kepada-Nya, kemudian ia berprasangka bahwa Dia tidak mengganjarnya karena amal perbuatannya yang baik, tidak menerima ketaatan dan ibadahnya.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nuur : 52)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-An’am : 160)

Kesimpulannya, bahwa kesyukuran orang Muslim kepada Allah Ta‘ala atas nikmat-nikmat-Nya, rasa malunya kepada-Nya jika ia cenderung bermaksiat kepada-Nya, bertaubat dengan benar, bertawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut akan siksa-Nya, berbaik sangka bahwa Allah Ta’ala pasti menetapi janji-Nya, dan berbaik sangka bahwa Allah Ta‘ala pasti melaksanakan ancaman-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan hamba-hamba-Nya adalah etika terhadap Allah Ta’ala. Semakin ia konsisten dengan etika tersebut dan menjaganya, derajatnya semakin tinggi, kedudukannya melangit, dan kemuliaannya agung hingga kemudian ia berhak mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala, pemeliharaan-Nya, kucuran rahmat-Nya, dan sasaran nikmat-Nya.

Inilah puncak keinginan orang Muslim dan yang diidam-idamkan sepanjang hidupnya. Ya Allah, berilah kami perlindungan-Mu. Jangan haramkan kami atas pemeliharaan-Mu. Jadikan kami orang-orang bertakwa di sisi-Mu, ya Allah, wahai Tuhan alam semesta.

[Disalin dari http://addiin.wordpress.com/2008/03/12/etika-terhadap-allah-swt/]
Umat Muslim sangat meyakini akan hak kedua orang tua terhadap dirinya, yaitu kewajiban berbakti, taat, dan berbuat baik kepada keduanya. Bukan hanya karena keduanya faktor penyebab keberadaannya di dunia atau karena keduanya memberikan banyak hal kepadanya hingga ia harus berbalas budi kepada keduanya. Tetapi, lebih karena Allah Azza wa Jalla sangat mewajibkan untuk taat, serta menyuruh untuk berbakti, dan berbuat baik kepada keduanya.

Lebih jauh bahkan, Allah Ta‘ala kemudian mengaitkan hak orang tua tersebut dengan hak-Nya yaitu berupa penyembahan kepada Diri-Nya dan tidak kepada yang lain. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ : 23)

Allah SWT. berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW., “Siapakah orang yang berhak mendapatkan pergaulanku yang baik ?Rasulullah SAW. menjawab, “Ibumu.Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi ?Rasulullah SAW. menjawab, “Ibumu.Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi ?Rasuluilah SAW. menjawab, “Ibumu.Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi ?Rasulullah SAW. menjawab, “Ayahmu.

Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, menahan hak, dan mengubur hidup anak perempuan. Allah membenci untuk kalian gosip, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah SAW. bersabda, “Maukah kalian aku jelaskan tentang dosa yang paling besar ?Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.Rasulullah SAW. bersabda, “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu, Rasulullah SAW. bersandar, kemudian beliau duduk, dan bersabda, “Ketahuilah (setelah itu ialah berkata bohong, dan kesaksian palsu). Ketahuilah, berkata bohong, dan kesaksiaan palsu.Rasulullah SAW. terus-menerus mengatakan kalimat terakhir, hingga Abu Bakar RA. berkata, “Ah, seandainya Rasulullah SAW. diam tidak mengatakan secara terus-menerus kalimat terakhir.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah SAW. bersabda, “Seorang anak tidak bisa membalas ayahnya, kecuali ia menemukan ayahnya menjadi budak, kemudian ia membelinya, dan memerdekakannya.” (Muttafaq Alaih)

Abdullah bin Mas’ud RA. berkata, Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW., ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah Ta‘ala ?Rasulullah SAW. menjawab, “Shalat di awal waktu.” Aku bertanya, ‘Kemudian amalan apa lagi ?Rasulullah SAW. menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.Aku bertanya lagi, ‘Kemudian amalan apa lagi ?Rasulullah SAW. bersabda, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Salah seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW. untuk meminta izin berjihad, kemudian beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?Sahabat tersebut menjawab, “Ya, keduanya masih hidup.Rasulullah SAW. bersabda, “Mintalah izin kepada keduanya, kemudian berjihadlah.” (Muttafaq Alaih)

Salah seorang dan kaum Anshar datang kepada Rasulullah SAW., kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku masih mempunyai kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku kerjakan setelah kematian keduanya ?Rasulullah SAW. bersabda, “Ya ada, yaitu 4 (empat) hal : mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung sanak famili di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya bakti terbaik ialah hendaknya seorang anak tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya setelah ayahnya menyambungnya.” (HR. Muslim)

Setelah seorang Muslim mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya, dan menunaikannya dengan sempurna karena mentaati Allah Ta’ala, dan merealisir wasiat-Nya, maka juga menjaga etika-etika berikut ini terhadap kedua orang tuanya :
  1. Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah dan pelanggaran terhadap syariat-Nya. Karena, manusia tidak berkewajiban taat kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah, berdasarkan dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
    Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman : 15)
    Sabda Rasulullah SAW., “Sesungguhnya ketaatan itu hanya ada dalam kebaikan.” (Muttafaq ‘Alaih)
    Sabda Rasulullah SAW., “Tidak ada kewajiban ketaatan bagi manusia dalam maksiat kepada Allah.
  2. Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya.
  3. Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu ia kerjakan, dan sesuai dengan kemampuannya, seperti memberi makan pakaian kepada keduanya, mengobati penyakit keduanya, menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalah untuk kebaikan keduanya.
  4. Menyambung hubungan kekerabatan dimana ia tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dan jalur kedua orang tuanya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat), dan memuliakan teman keduanya.
[Sumber : http://agoesramdhanie.wordpress.com/2008/12/09/etika-terhadap-orang-tua-dalam-islam/]
Berikut ini kami sampaikan sambungan dari postingan sebelumnya tentang........ETIKA KEPADA SESAMA MUSLIM (BAGIAN-1) :
  1. Tidak menggunjingnya, tidak menghinanya, tidak mencacinya, tidak melecehkannya, tidak menggelarinya dengan gelar yang tidak baik, dan tidak mengembangkan pembicaraannya untuk merusaknya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujuraat : 12)
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok,) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri dan janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang orang yang zhalim.” (QS. Al-Hujuraat : 11)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan menggunjing ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Rasulullah SAW. bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” Ditanyakan kepada Rasulullah SAW., “Bagaimana jika apa yang aku katakan ada pada saudaraku tersebut ?” Rasulullah SAW. bersabda, “Jika apa yang engkau katakan ada padanya, engkau telah menggunjingnya. Jika apa yang engkau katakan tidak padanya, engkau telah membuat kebohongan terhadapnya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Sabda Rasulullah SAW. di haji Wada’, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Cukuplah kesalahan bagi seseorang jika ia menghina saudara Muslimnya.” (Muttafaq Alaih)
    • Para pengadu domba tidak masuk surga.
  2. Tidak mencacinya tanpa alasan, sama ada ia masih hidup atau telah meninggal dunia, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.” (Muttafaq Alaih)
    • Janganlah seseorang menuduh orang lain fasik atau kafir, melainkan tuduhan tersebut kembali kepadanya jika sahabat yang ia tuduh tidak seperti yang ia tuduhkan.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)
    • Jangan kalian menghina orang-orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah sampai pada apa yang mereka persembahkan (amalkan).” (Muttafaq Alaih)
    • Di antara dosa-dosa besar ialah seseorang mencaci kedua orang tua kandungnya.” Ditanyakan kepada Rasulullah SAW., “Apakah ada orang yang mencaci kedua orang tua kandungnya ?” Rasulullah SAW. bersabda, “Ya ada, seseorang mencaci ayah orang lain, kemuclian orang lain tersebut mencaci ayah-ibu orang tersebut.” (Muttafaq Alaih)
  3. Ia tidak dengki kepadanya, atau berprasangka buruk terhadapnya, atau membuatnya marah, atau mencari-cari kesalahan-kesalahannya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujuraat : 12)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling mencari-cari kesalahan, dan dan bersaing dalam penawaran, namun jadilah kalian sebagai saudara wahai hamba-hamba Allah.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Tinggalkan oleh kalian buruk sangka, karena buruk sangka adalah perkataan yang paling dusta.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
  4. Tidak menipunya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta ‘ala,
    وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
    Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki Mukmin dan wanita wanita Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab : 58)
    وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
    Dan barangsiapa mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. An-Nisa’ : 112)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Barangsiapa mengangkat senjata kepada kami dan menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Barangsiapa menjual hendaklah ia berkata, ‘tidak ada tipuan’.” (Muttafaq Alaih)
    • Tidaklah seorang hamba yang diberi amanat memimpin rakyat oleh Allah kemudian meninggal dunia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (Muttafaq Alaih)
    • Barangsiapa merusak (menipu) istri orang lain, atau budaknya, ia bukan termasuk golongan kami.” (Diriwayatkan Abu Daud)
  5. Tidak mengkhianatinya, atau mendustakannya, atau menunda pembayaran hutangnya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
    Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al-Maidah : 1)
    وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا
    Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji.” (QS. Al-Baqarah : 177)
    وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
    Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ : 34)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Empat hal, barangsiapa keempat hal tersebut ada padanya, ia termasuk orang munafik tulen, dan barangsiapa salah satu dari keempat hal tersebut ada padanya maka pada dirinya terdapat sifat kemunafikan hingga ia meninggalkan sifat tersebut. (Keempat hal tersebut,) ialah jika ia diberi amanah, ia mengkhianati amanah tersebut. Jika ia berkata, ia bohong. Jika ia berjanji, ia mengingkari. Dan jika ia bertengkar, ia berbuat jahat.” (Muttafaq Alaih)
    • Allah Ta‘ala berfirman, ‘Aku menjadi musuh bagi tiga orang pada hari kiamat, orang yang membeli sesuatu dengan-Ku kemudian ia berkhianat, orang yang menjual orang merdeka kemudian memakan hasilnya, dan orang yang menyewa buruh kemudian buruh tersebut bekerja dengan baik untuknya, namun ia tidak memberinya upah’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • Penundaan pembayaran hutang oleh orang kaya adalah kedzaliman. Jika salah seorang dari kalian disuruh menagih orang kaya yang menunda pembayaran hutangnya, maka tagihlah.” (Muttafaq Alaih)
  6. Mempergaulinya dengan akhlak yang baik dengan memberikan kebaikan kepadanya, tidak menyakitinya, menampakkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu dengannya, menerima kebaikan darinya. memaafkan kesalahannya, tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak menuntut ilmu dari orang bodoh, dan tidak meminta penjelasan dan orang yang tidak mempunyai penjelasan, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
    Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma‘ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf : 199)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (Diriwayatkan Al-Hakim dan At-Tirmidzi yang meng-hasan-kannya)
  7. Hormat kepadanya jika ia dewasa (tua), dan menyayanginya jika ia masih kecil, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak hormat terhadap orang tua kita, dan tidak menyayangi anak-anak kecil kita.” (Diriwayatkan Abu Daud, dan At-Tirmidzi yang meng-hasan-kannya)
    • Di antara pengagungan kepada Allah ialah memuliakan orang tua Muslim.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad yang baik)
    • Mulailah dengan orang tua, dan mulailah dengan orang tua.” Jika anak kecil dibawa ke hadapan Rasulullah SAW. beliau doakan, dan beliau beri nama, maka beliau mendudukkannya di atas pangkuannya, dan terkadang anak kecil tersebut mengencingi beliau. Diriwayatkan bahwa jika Rasulullah SAW. tiba dari perjalanan, maka beliau disambut anak-anak, kemudian beliau berdiri di depan mereka, memerintahkan mereka diangkat kepada beliau, kemudian sebagian anak-anak tersebut berada di depan beliau, dan di belakang beliau. Beliau juga memerintahkan sahabat-sahabatnya menggendong sebagian anak-anak kecil sebagai ungkapan kasih sayang terhadap anak-anak kecil.
  8. Memposisikannya seperti dirinya, dan memperlakukannya dengan perlakuan yang ia sukai untuk dirinya sendiri, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Seseorang tidak bisa menyempumakan imannya hingga terkumpul pada dirinya tiga hal : Berinfak dari kekikiran, adil, dan memberikan ucapan salam.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • Barangsiapa ingin dijauhkan dan neraka dan masuk surga, hendaklah ia mati dalam keadaan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, dan hendaklah ia menemui manusia dengan membawa sesuatu yang ia sendiri senang jika diberi sesuatu tersebut.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
  9. Memaafkan kesalahannya, menutup auratnya, dan tidak memaksa diri mendengarkan pembicaraan yang ia rahasiakan, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,

    فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
    Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah : 13)
    فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ
    Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (QS. Al-Baqarah : 178)
    فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
    Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura : 40)
    وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
    Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian ?” (QS. An-Nuur : 22)

    إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
    Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nuur : 19)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Allah tidak menambahkan pada orang yang memaafkan, melainkan kemuliaannya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Hendaklah engkau memaafkan orang yang menzhalimimu.” “Tidaklah seorang hamba menutup aurat hamba lainnya, melainkan Allah menutup auratnya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang meng-hasan-kannya)
    • Hai semua orang-orang yang beriman dengan lisannya, dan iman tidak masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin, dan jangan membuka aurat mereka, karena barang siapa membuka aurat saudara Muslimnya maka Allah membuka auratnya dan menjelek-jelekkannya kendati ia berada di tengah rumahnya.” (Diriwayatkan Abu Daud dan Ahmad)
    • Barangsiapa mendengar informasi satu kaum yang tidak menginginkan pembicaraannya didengar orang lain, maka telinganya diberi timah yang meleleh pada hari kiamat.” (Diriwayatkan Al Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
  10. Membantunya jika ia membutuhkan bantuannya, dan membantu memenuhi kebutuhannya kendati ia sudah mampu memenuhinya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta ‘ala,
    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
    Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah : 2)
    مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا
    Barangsiapa memberikan syafa‘at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripanya.” (QS. An-Nisa’ : 85)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Barangsiapa menghilangkan salah satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin maka Allah menghilangkan salah satu kesusahan hari kiamat darinya, barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allah memberi kemudahan padanya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa menutup aurat seorang Muslim maka Allah menutup auratnya di dunia dan akhirat. Allah menolong hamba-Nya, selagi hamba tersebut menolong saudara-nya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Berilah pertolongan niscaya kalian diberi pahala dan Allah memutuskan melalui lisan Nabi-Nya sesuai dengan yang diinginkannya.” (Muttafaq Alaih)
  11. Melindunginya jika ia meminta perlindungan dengan Allah Ta’ala, memberinya jika ia meminta dengan-Nya, membalas kebaikannya, dan mendoakannya, karena Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa meminta perlindungan kalian dengan Allah, hendaklah kalian melindunginya. Barangsiapa meminta kalian dengan Allah, hendaklah kalian memberinya. Barangsiapa mengundang kalian, hendaklah kalian memenuhi undangannya. Dan barangsiapa berbuat baik kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, maka doakan dia, hingga seolah-olah kalian telah merasa telah memberi balas jasa kepadanya.
Dilihat dari adab atau etika sebagaimana tersebut di atas (mulai dari 1 sampai dengan 22) semakin jelas betapa agung dan indah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Sebagai seorang muslim yang taat serta patuh kepada Allah serta Rasul-Nya, kita wajib menjalankannya di dalam kehidupan sehari-hari. Dan dengan pengharapan memperoleh ridho Allah SWT. sehingga selamat serta bahagia hidup di dunia dan akhirat. Wallahu a`lam.***

[Disalin dari http://addiin.wordpress.com/2008/03/12/etika-terhadap-muslim-lainnya/]
Di dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di sekitar kita belakangan ini sungguh memprihatinkan, dimana satu dengan yang lainnya dengan mudah menghujat, memaki dan menyebut kafir kepada saudaranya sesama muslim. Kita seolah melupakan atau tidak mengetahui adab atau etika yang harus dilakukan terhadap saudara seagama sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. melalui Dienul Islam.

Orang Muslim meyakini bahwa saudara seagamanya mempunyai hak-hak, dan etika-etika yang harus ia terapkan terhadapnya, kemudian ia melaksanakannya kepada saudara seagamanya, karena ia berkeyakinan bahwa itu adalah ibadah kepada Allah Ta’ala, dan upaya pendekatan kepada-Nya.

Hak-hak dan etika-etika ini diwajibkan Allah Ta‘ala kepada orang Muslim agar ia mengerjakannya kepada saudara seagamanya. Jadi, menunaikan hak-hak tersebut adalah bentuk ketaatan kepada Allah Ta‘ala dan upaya pendekatan kepada-Nya tanpa diragukan sedikit pun.

Di antara hak-hak, dan etika-etika tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Ia mengucapkan salam jika ia bertemu dengannya sebelum ia berbicara dengannya dengan mengatakan, “As-Salamu’alaikum wa Rahmatullah”, berjabat tangan dengannya, dan menjawab salamnya dengan berkata, “Wa‘alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuhu”. Orang Muslim melakukan itu semua, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
    Apabila kamu diberi salam dengan ucapan salam, maka balaslah salam tersebut dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa’ : 86)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Orang yang berada di atas kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, dan orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang banyak.” (Muttafaq Alaih).
    • Sesungguhnya para malaikat heran kepada seorang Muslim yang berjalan melewati seorang Muslim lainnya, namun ia tidak mengucapkan salam kepadanya.
    • Ucapkan salam kepada orang yang engkau kenal, dan orang yang tidak engkau kenal.” (Muttafaq Alaih)
    • Tidaklah dua orang Muslim kemudian keduanya berjabat tangan, melainkan keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.” (Diriwayatkan Abu Daud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)
    • Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum mengucapkan salam, maka janganlah kalian menggubris pembicaraannya hingga ia mengucapkan salam.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim)
  2. Jika ia bersin dan membaca “alhamdulillah”, maka ia mendoakannya dengan berkata, “yarmukallahu” (mudah-mudahan Allah merahmatimu), kemudian orang yang bersin berkata, “yaghfirullahu lii wa laka” (semoga Allah memberi ampunan kepadaku dan kepadamu, atau ia berkata, “yahdikumullahu wa yushlihu baalakum” (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, dan memperbaiki hatimu), karena Rasulullah SAW. bersabda,
    • Jika salah seorang dan kalian bersin, maka hendaklah ia berkata, ‘Segala puji bagi Allah’, dan hendaklah saudaranya mengatakan padanya, ‘Semoga Allah merahmatimu’, dan jika saudaranya telah mengatakan, ‘Semoga Allah merahmatimu’, maka hendaklah orang yang bersin berkata, ‘Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, dan memperbaiki hatimu’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • Abu Hurairah RA. berkata, “Jika Rasulullah SAW. bersin, beliau meletakkan tangannya, atau pakaiannya di mulutnya, dan merendahkan suaranya.” (Muttafaq Alaih)
  3. Menjenguknya jika ia sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya, karena sabda-sabda Rasulullah SAW. berikut :
    • Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ialah lima: Menjawab ucapan salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaq Alaih)
    • Al-Barra’ bin Azib RA. berkata, “Rasulullah SAW. memerintahkan kita menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, membebaskan orang yang bersumpah, menolong orang yang tertindas, memenuhi undangan, dan menebarkan salam.” (Diriwayatkan A1-Bukhari)
    • Jenguklah orang sakit, berilah makan orang yang lapar, dan bebaskan para tawanan.” (Muttafaq Alaih)
    • Aisyah RA. berkata, “Rasulullah SAW. menjenguk sebagian keluarganya, kemudian beliau mengusap dengan tangan kanannya, sambil berkata, ‘Ya Allah Tuhan manusia, hilangkan musibah, dan sembuhkanlah karena Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu dengan penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit’.” (Muttafaq Alaih)
  4. Menyaksikan jenazah tetangganya jika meninggal dunia, karena Rasulullah SAW. bersabda, “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah 5 (lima) : Menjawab salamnya, menjenguk orang sakit, mengantar jenazahnya, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaq Alaih)
  5. Membebaskan sumpah tetangganya jika telah bersumpah terhadap sesuatu dan ia tidak dilarang melakukannya, kemudian ia mengerjakan apa yang disumpahkan tetangganya itu untuknya agar tetangganya tidak berdosa dalam sumpahnya, karena hadits Al-Barra’ bin Azib RA. yang berkata, “Rasulullah SAW. memerintahkan kita menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, membebaskan orang yang bersumpah, menolong orang yang tertindas, memenuhi undangan, dan menebarkan salam.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
  6. Menasihatinya jika ia meminta nasihat kepadanya dalam satu persoalan dengan menjelaskan apa yang ia pandang baik dalam hal tersebut berdasarkan dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Jika salah seorang meminta nasihat kepada saudaranya, hendaklah saudaranya tersebut memberinya nasihat.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • Agama adalah nasihat.” Ditanyakan kepada Rasulullah SAW., “Untuk siapa saja ?” Rasulullah SAW. bersabda, “Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin.” (Diriwayatkan Muslim)
  7. Mencintai untuknya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Salah seorang dan kalian tidak beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri dan membenci untuk saudaranya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri.” (Muttafaq Alaih)
    • Perumpamaan kaum Mukminin dalam kecintaan mereka, kasih sayang mereka, dan keakraban mereka seperti satu badan. Jika salah satu anggota badan sakit, maka untuknya seluruh anggota badan tidak bisa tidur, dan demam.” (Muttafaq Alaih)
    • Orang bagi orang Mukmin lainnya adalah seperti bangunan dimana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaq Alaih)
  8. Menolong dan tidak menelantarkannya kapan saja ia membutuhkan pertolongan, dan dukungan, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Tolonglah saudaramu, ia zhalim atau zhalimi”, Rasulullah SAW. ditanya tentang cara menolong orang yang zhalim, maka beliau bersabda, “Engkau melarangnya berbuat zhalim, dan menghentikan perbuatannya. Itulah pertolonganmu terhadapnya.” (Muttafaq Alaih)
    • Orang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. ia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh menelantarkannya, dan tidak boleh menghinanya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Tidaklah orang Muslim menolong orang Muslim lainnya di tempat di mana di dalamnya kehormatannya dilecehkan, dan keharamannya dihalalkan, melainkan Allah menolongnya di tempat ia senang ditolong di dalamnya. Tidaklah seorang Muslim menelantarkan (tidak menolong) orang Muslim lainnya di tempat di mana di dalamnya kehormatannya dilecehkan, melainkan ia ditelantarkan Allah di tempat ia senang ditolong di dalamnya.” (Diriwayatkan Ahmad)
    • Barangsiapa melindungi kehormatan saudaranya, maka Allah melindungi wajahnya dari neraka pada hari kiamat.
  9. Tidak menimpakan keburukan kepadanya, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Seorang Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Orang Muslim tidak halal menakut-nakuti orang Muslim lainnya.” (Diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud)
    • Orang Muslim tidak halal melihat orang Muslim lainnya dengan pandangan yang menyakitinya.” (Diriwayatkan Ahmad)
    • Sesungguhnya Allah tidak menyukai gangguan terhadap kaum Mukminin.” (Diriwayatkan Ahmad)
    • Orang Muslim ialah orang yang di mana kaum Muslimin yang lain selamat dari (gangguan) lisannya, dan tangannya.” (Muttafaq Alaih)
    • Orang Mukmin ialah orang yang di mana kaum Mukminin merasa aman terhadap jiwa mereka, dan harta mereka.” (Diriwayatkan Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim. Hadits ini shahih)
  10. Rendah hati, tidak sombong terhadapnya, dan tidak menyuruh berdiri dari kursinya agar ia bisa duduk di atasnya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta’ala,
    وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
    Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman : 18)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadlu, hingga salah seorang dan kalian tidak sombong terhadap yang lain.” (Diriwayatkan Abu Daud dan lbnu Majah. Hadits ini shahih)
    • Tidaklah seseorang tawadlu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah Ta‘ala mengangkat derajatnya.” Rasulullah SAW. bersikap tawadlu’ kepada semua orang Muslim dalam kapasitasnya sebagai pemimpin para rasul, tidak bersikap kasar, tidak malu berjalan dengan wanita-wanita janda dan orang-orang miskin, dan memenuhi kebutuhan mereka, hingga beliau bersabda, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku bersama rombongan orang-orang miskin.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dan Al-Hakim)
    • Janganlah salah seorang dari kalian menyuruh seseorang berdiri dari kursinya kemudian ia duduk di atasnya, namun hendaklah kalian memperluas diri, dan melapangkan diri.” (Muttafaq Alaih)
  11. Tidak mendiamkannya lebih dan tiga hari, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Orang Muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari tiqa hari. Keduanya bertemu, salah satunya berpaling dan orang satunya juga berpaling. Orang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (Muttafaq Alaih)
    • Dan janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian hai hamba-hamba Allah sebagai saudara-saudara.” (Diriwayatkan Muslim)
    Membelakangi ialah sikap saling mendiamkan, seorang Muslim memberikan pantatnya kepada orang lain, dan berpaling daripadanya.
Kami mohon maaf tulisan ini terpotong disini. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu panjang serta akan disambung pada postingan berikutnya yaitu.........
ETIKA KEPADA SESAMA MUSLIM (BAGIAN-2)


[Disalin dari
http://addiin.wordpress.com/2008/03/12/etika-terhadap-muslim-lainnya/]