Showing posts with label Madarijus Salikin-2. Show all posts
Showing posts with label Madarijus Salikin-2. Show all posts
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(15) SABAR

Menurut Al-Imam Ahmad, kata sabar disebutkan di dalam Al-Qur'an di tujuh puluh tempat. Menurut ijma' ulama umat, sabar ini wajib, dan merupakan separuh iman. Karena iman itu ada dua paruh; separuh adalah sabar dan separuh lagi adalah syukur. Sabar ini disebutkan dalam Al-Qur'an dalam enam belas versi :
  1. Perintah sabar, seperti firman-Nya,
    وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
    Dan, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. (QS. Al-Baqarah : 45)
  2. Larangan melakukan sebaliknya, seperti firman-Nya,
    وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا
    Dan, janganlah kalian bersikap lemah dan janganlah (pula) kalian bersedih hati. (QS. Ali Imran : 139)

    Sikap lemah dan selalu bersedih hati artinya tidak sabar. Karena itu dilarang.
  3. Pujian terhadap pelakunya, seperti firman-Nya,
    وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
    Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 177)
  4. Keharusan sabar karena Allah mencintainya, seperti firman-Nya,
    إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 153)
  5. Allah bersama orang-orang yang sabar, dan ini merupakan kebersamaan secara khusus, yang berarti menjaga, melindungi dan menolong mereka, bukan sekedar kebersamaan secara umum, seperti firman-Nya,
    وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    Dan, bersabarlah kalian, karena Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal : 46)
  6. Pengabaran Allah bahwa sabar ini lebih baik bagi para pelakunya, seperti firman-Nya,
    وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ
    Tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. An-Nahl: 126)
  7. Allah memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik, seperti firman-Nya,
    وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl : 96)
  8. Orang-orang yang sabar diberi balasan tanpa batas, seperti firman-Nya,
    إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-zumar: 10)
  9. Orang-orang yang sabar mendapatkan kabar gembira, seperti firman-Nya,
    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    Dan, sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 155)
  10. Jaminan pertolongan bagi orang-orang yang sabar, seperti firman-Nya,
    بَلَىٰ ۚ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Ya (cukup), jika kalian bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125)

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu beserta kesabaran.
  11. Pengabaran dari Allah bahwa orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang mulia, seperti firman-Nya,
    وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
    Tetapi orang yang sabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Asy-Syura : 43)
  12. Pengabaran dari Allah bahwa pahala amal shalih hanya layak diperoleh orang-orang yang sabar, seperti firman-Nya,
    وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
    Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar. (QS. Al-Qashash : 80)
  13. Pengabaran bahwa hanya orang-orang yang bersabarlah yang bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari ayat-ayat Allah, seperti firman-Nya,
    أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُم بِأَيَّامِ اللَّهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
    Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang, dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yangpenyabar dan banyak bersyukur. (QS. Ibrahim : 5)
  14. Pengabaran bahwa keberuntungan yang diharapkan, keselamatan dari sesuatu yang ditakuti dan masuk surga, diperoleh orang-orang yang memperolehnya karena kesabaran mereka, seperti firman-Nya,
    وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ
    سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
    Dan, para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Keselamatan bagi kalian berkat kesabaran kalian'. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra'd : 23-24)
  15. Sabar mempusakakan derajat kepeloporan dan kepemimpinan.
    Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam berkata, "Dengan kesabaran dan keyakinan dapat diperoleh kepemimpinan dalam agama." Lalu dia membawa ayat,
    وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
    Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah : 24)
  16. Allah mengaitkan kesabaran dengan berbagai posisi dalam Islam, iman, keyakinan, takwa, tawakkal, syukur, amal shalih, rahmat dan lain sebagainya. Karena itu sabar termasuk bagian dari iman, seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada artinya iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran, sebagaimana tidak ada artinya tubuh tanpa kepala. Umar bin Al-Khaththab berkata, "Hidup yang paling baik ialah yang kami lalui dengan kesabaran."
    Di dalam sebuah hadits disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
    Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan baginya, dan yang demikian itu tidak dimiliki kecuali orang Mukmin saja. jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika ditimpa penderitaan, dia sabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.

    Ada seorang wanita yang menderita sakit ayan. Lalu dia meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar berdoa bagi kesembuhannya. Maka beliau bersabda, "Jika engkau ingin, maka engkau bisa bersabar dan engkau mendapatkan surga, dan jika engkau ingin, maka aku bisa berdoa kepada Allah agar memberikan afiat kepadamu." Maka wanita itu berkata, "Aku sudah membuka kekuranganku. Maka berdoalah kepada Allah agar tidak membuka kekuranganku di akhirat." Maka beliau berdoa baginya.
    Beliau memerintahkan orang-orang Anshar untuk bersabar menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan sepeninggal beliau, hingga mereka bersua beliau di liang kubur. Beliau juga memerintahkan untuk sabar saat berhadapan dengan musuh dan sabar saat ditimpa musibah. Beliau memerintahkan orang yang ditimpa musibah agar melakukan hal yang paling bermanfaat baginya, yaitu sabar dan mencari ridha Allah, karena yang demikian itu akan meringankan musibahnya dan melipat-gandakan pahalanya. Mengeluh dan gundah hati justru membuat musibah itu terasa semakin berat dan menghilangkan pahala.
Sabar menurut pengertian bahasa adalah menahan atau bertahan. Jika dikatakan, "Qutila Fulan Shabran", artinya Fulan terbunuh karena hanya bertahan. Jadi sabar artinya menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah; menahan lidah dari keluh kesah; menahan anggota tubuh dari kekacauan.

Sabar ini ada tiga macam : Sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari kedurhakaan kepada Allah, dan sabar dalam ujian Allah. Dua macam yang pertama merupakan kesabaran yang berkaitan dengan tindakan yang dikehendaki dan yang ketiga tidak berkait dengan tindakan yang dikehendaki. Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Kesabaran Yusuf menghadapi rayuan istri Tuannya lebih sempurna daripada kesabaran beliau saat dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, saat dijual dan saat berpisah dengan bapaknya. Sebab hal-hal ini terjadi di luar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi hamba kecuali sabar menerima musibah. Tapi kesabaran yang memang beliau kehendaki dan diupayakannya saat menghadapi rayuan istri Tuannya, kesabaran memerangi nafsu, jauh lebih sempurna dan utama, apalagi di sana banyak faktor yang sebenarnya menunjang untuk memenuhi rayuan itu, seperti keadaan beliau yang masih bujang dan muda, karena pemuda lebih mudah tergoda oleh rayuan. Keadaan beliau yang terasing, jauh dari kampung halaman, dan orang yang jauh dari kampung halamannya tidak terlalu merasa malu. Keadaan beliau sebagai budak, dan seorang budak tidak terlalu peduli seperti halnya orang merdeka. Keadaan istri tuannya yang cantik, terpandang dan tehormat, tanpa ada seorang pun yang melihat tindakannya dan dia pula yang menghendaki untuk bercumbu dengan beliau. Apalagi ada ancaman, seandainya tidak patuh, beliau akan dijebloskan ke dalam penjara dan dihinakan. Sekalipun begitu beliau tetap sabar dan lebih mementingkan apa yang ada di sisi Allah."

Ibnu Taimiyah juga pernah berkata, "Sabar dalam melaksanakan ketaatan lebih baik daripada sabar menjauhi hal-hal yang haram. Karena kemaslahatan melakukan ketaatan lebih disukai Allah daripada kemaslahatan meninggalkan kedurhakaan, dan keburukan tidak taat lebih dibenci Allah daripada keburukan adanya kedurhakaan."

Ada tiga jenis lain dari sabar, yaitu :
  1. Sabar karena pertolongan Allah. Artinya mengetahui bahwa kesabaran itu berkat pertolongan Allah dan Allahlah yang memberikan kesabaran, sebagaimana firman-Nya,
    وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
    Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaramnu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (QS. An-Nahl : 127)

    Jika Allah tidak membuat beliau sabar, maka beliau tidak akan sabar.
  2. Sabar karena Allah. Artinya pendorong sabar adalah cinta kepada Allah, mengharapkan Wajah-Nya dan taqarrub kepada-Nya, bukan untuk menampakkan kekuatan jiwa dan ketabahan kepada manusia atau tujuan-tujuan lain.
  3. Sabar beserta Allah. Artinya perjalanan hamba bersama kehendak Allah, yang berkaitan dengan hukum-hukum agama, sabar dalam melaksanakan hukum-hukum itu dan menegakkannya.
Banyak definisi dan pengertian yang dibuat para ulama dan orang-orang salaf tentang sabar. Yang pasti Allah telah memerintahkan kesabaran yang baik, pengampunan yang baik dan penghindaran yang baik di dalam Kitab-Nya.

Saya pernah mendengar Ibnu Taimiyah berkata, "Kesabaran yang baik ialah yang tidak disertai pengaduan, pengampunan yang baik ialah yang tidak disertai celaan, dan penghindaran yang baik ialah yang tidak disertai ucapan yang menyakitkan."

Pengaduan kepada Allah tidak menajikan kesabaran, karena Ya'qub Alaihis-Salam telah berjanji untuk bersabar dengan baik, dan seorang nabi tidak akan mengingkari janjinya. Namun beliau tetap mengadu kepada Allah,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kcsusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya. (QS. Yusuf : 86)

Yang benar, mengadukan Allah dapat menjadikan kesabaran, dan bukan pengaduan kepada Allah.

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Sabar artinya menahan diri dalam menghadapi hal-hal yang tidak disenangi dan membelenggu lisan agar tidak mengadu. Ini merupakan tempat persinggahan yang paling sulit bagi orang awam dan jalan cinta yang paling terjal serta jalan tauhid yang paling diingkari."

Dikatakan sulit bagi orang awam, karena orang awam baru memulai perjalanan dan belum terlatih untuk menempuh satu etape pun. Jika dia mendapat ujian, maka dia mudah gundah dan sulit menghadapi musibah, sehingga berat untuk sabar. Dia belum terlatih sehingga sulit untuk sabar, dan dia bukan termasuk orang yang mencintai sehingga sulit menerima musibah dengan penuh keridhaan terhadap kekasih yang dicintainya.

Dikatakan jalan cinta yang paling terjal, karena cinta ini mengharuskan adanya kesukaan orang yang mencintai dalam menghadapi cobaan dari kekasihnya. Sementara sabar mengharuskan adanya kebencian terhadap hal itu dan keterpaksaan menahan diri saat menghadapinya. Maka sabar merupakan jalan cinta yang paling terjal.

Dikatakan jalan tauhid yang paling diingkari, karena di dalam sabar terdapat kekuatan pengakuan. Orang sabar mengaku memiliki keteguhan hati yang kuat. Berarti hal ini harus berbenturan dengan kemurnian tauhid. Sebab pada hakikatnya tidak seorang pun memiliki kekuatan. Semua kekuatan hanya milik Allah. Itulah sebabnya maka sabar merupakan sesuatu yang diingkari di jalan tauhid, dan bahkan sabar merupakan kemungkaran yang paling diingkari. Tauhid mengembalikan segala sesuatu kepada Allah dan sabar mengembalikan segala sesuatu kepada diri sendiri. Keteguhan hati dalam tauhid adalah sesuatu yang harus diingkari.

Perkataannya yang terakhir ini tidak bisa diterima. Yang benar, sabar merupakan tempat persinggahan yang paling kuat di jalan cinta dan merupakan keharusan bagi orang-orang yang mencintai serta merupakan hasrat yang paling dibutuhkan dalam setiap etape perjalanan. Kebutuhan orang yang mencintai terhadap kesabaran ini sangat urgen. Maka hanya para wali Allah dan para kekasih-Nya yang disifati Allah sebagai orang-orang yang sabar.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ada tiga derajat sabar, yaitu :
  1. Sabar dalam menghindari kedurhakaan, dengan memperhatikan peringatan, tetap teguh dalam iman dan mewaspadai hal yang haram. Yang lebih baik lagi adalah sabar menghindari kedurhakaan karena malu. Ada dua sebab dan dua faidah sabar dalam menghindari kedurhakaan.
    Dua sebabnya adalah :
    • Takut terjadinya peringatan, sebagai akibat dari kedurhakaan itu.
    • Malu terhadap Allah, karena nikmat-Nya dibalas dengan kedurhakaan.
    Adapun dua faidahnya adalah :
    • Tetap teguh dalam iman.
    • Mewaspadai hal-hal yang haram.
    Memperhatikan peringatan dan takut kepadanya membangkitkan kekuatan iman terhadap pengabaran dan pembenaran kandungannya. Sedangkan malu terhadap Allah membangkitkan kekuatan ma'rifat dan mempersaksikan makna-makna asma dan sifat-Nya.
    Yang lebih baik lagi jika pendorongnya adalah cinta, sehingga seorang hamba tidak mendurhakai-Nya karena cinta kepada-Nya. Sedangkan keteguhan dalam iman mendorong untuk meninggalkan kedurhakaan. Sebab kedurhakaan pasti akan mengurangi iman atau bahkan menghilangkannya sama sekali, memadamkan cahayanya, melemahkan kekuatannya dan mengurangi buahnya. Sedangkan mewaspadai hal-hal yang haram merupakan kesabaran meninggalkan hal-hal yang mubah, sebagai kehati-hatian agar tidak menjurus kepada yang haram.
  2. Sabar dalam ketaatan, dengan menjaga ketaatan itu secara terus-menerus, memeliharanya dengan keikhlasan dan membaguskannya dengan ilmu.
    Pernyataan pengarang Manazilus-Sa'irin ini menunjukkan bahwa ketaatan yang dilakukan dapat menjadi pendorong untuk meninggalkan kedurhakaan, sehingga kesabaran dalam melaksanakan ketaatan ini setingkat lebih tinggi daripada kesabaran meninggalkan kedurhakaan. Yang benar, dan seperti yang telah dijelaskan di atas, meninggalkan kedurhakaan hanya sekedar menyempurnakan ketaatan. Syaikh menyebutkan bahwa sabar dalam derajat ini dilakukan dengan tiga cara : Terus-menerus taat, ikhlas dalam ketaatan dan melaksanakannya menurut ilmu atau membaguskannya dengan ilmu. Ketaatan menjadi mundur jika kehilangan salah satu dari tiga perkara ini. Jika seorang hamba tidak menjaga ketaatan secara terus-menerus, maka ia akan menggugurkan ketaatan itu. Jika dia menjaganya terus-menerus, maka di hadapannya ada dua perintang : Tidak ikhlas, seperti dimaksudkan karena selain Allah, dan pelaksanaannya yang tidak berdasarkan ilmu, seperti tidak mengikuti As-sunnah.
  3. Sabar dalam musibah, dengan memperhatikan pahala yang baik, menunggu rahmat jalan keluar, meremehkan musibah sambil menghitung uluran karunia dan mengingat nikmat-nikmat yang telah lampau.
Inilah tiga pakaian kesabaran yang dapat dikenakan seorang hamba ketika mendapat musibah.
  • Pertama, memperhatikan pahala yang baik. Seberapa jauh perhatian, pengetahuan dan keyakinannya terhadap pahala ini, maka sejauh itu pula dia akan merasa ringan dalam memikul beban musibah, karena dia merasa akan mendapatkan pengganti. Hal ini seperti orang yang sedang membawa beban yang amat berat, dan dia melihat hasil dan keuntungan yang baik pada akhirnya. Jika tidak demikian, maka banyak kemaslahatan dunia dan akhirat yang akan terbuang sia-sia. Seorang hamba lebih suka mengemban beban dunia karena ingin mendapatkan hasil di akhirat. Sementara jiwa lebih menyukai kesenangan yang ada di dunia. Tapi akal yang sehat lebih condong ke hasil di kemudian hari.
  • Kedua, menunggu rahmat jalan keluar atau kenikmatannya. Menunggu-nunggu kenikmatan jalan keluar dari musibah dapat meringankan beban musibah dan kesulitan yang sedang dihadapi, apalagi jika disertai kekuatan harapan dan usaha mencari jalan keluar.
  • Ketiga, meremehkan musibah, yang dapat dilakukan dengan dua cara : menghitung karunia Allah yang telah dilimpahkan kepadanya, dan mengingat-ingat nikmat Allah yang pernah diterimanya. Yang pertama berkaitan dengan keadaan dan yang kedua berkaitan dengan masa lampau. Pengarang Manazilus-Sa'irin, mengatakan, "Sabar yang paling lemah ialah sabar karena Allah. Ini merupakan kesabaran orang-orang awam. Di atasnya adalah sabar berkat pertolongan Allah. Ini merupakan kesabaran orang-orang yang menghendaki Allah. Di atasnya adalah sabar menurut hukum Allah. Ini merupakan kesabaran orang-orang yang berjalan kepada Allah."
Kesabaran karena Allah yang merupakan kesabaran orang-orang awam ialah kesabaran mengharapkan pahala-Nya dan takut siksa-Nya. Kesabaran orang-orang yang mengharapkan Allah adalah kesabaran berkat kekuatan dari pertolongan dari Allah. Dua golongan ini tidak melihat ada kesabaran pada dirinya dan tidak pula mempunyai kekuatan untuk sabar. Di atasnya adalah kesabaran menurut hukum Allah. Artinya dia sabar mendapatkan hukum-hukum yang berlaku bagi dirinya, yang disukai maupun yang dibencinya.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, kesabaran karena Allah merupakan kesabaran yang paling lemah. Yang benar, sabar karena Allah lebih tinggi daripada sabar berkat pertolongan Allah. Karena sabar karena Allah berkaitan dengan Uluhiyah-Nya, sedangkan sabar berkat pertolongan Allah berkaitan dengan Rububiyah-Nya. Apa-apa yang berkait dengan Uluhiyah-Nya lebih sempurna daripada apa-apa yang berkait dengan Rububiyah-Nya. Di samping itu, sabar karena Allah merupakan cermin ibadah, dan sabar berkat pertolongan Allah merupakan permohonan uluran pertolongan dari-Nya. Ibadah merupakan tujuan dan permohonan pertolongan merupakan sarana. Sabar berkat pertolongan Allah menjadi hak persekutuan bagi orang Mukmin dan kafir, orang baik dan orang buruk. Setiap orang yang mempersaksikan hakikat alam tentu mendapatkan kesabaran dari Allah. Sedangkan sabar karena Allah merupakan tempat persinggahan para nabi, rasul, shiddiqin dan orang-orang yang mengamalkan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

Sabar menurut hukum-hukum Allah artinya sabar menerima takdir-Nya. Sabar ini ditempatkan pada tingkatan ketiga dan yang paling tinggi. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, sabar dalam ketaatan dan sabar menjauhi kedurhakaan, lebih sempurna daripada kesabaran menerima takdir-Nya, seperti kesabaran Yusuf Alaihis-Salam. Kesabaran beliau dengan tetap menjaga ketaatan dan menjauhi kedurhakaan merupakan kesabaran atas pilihan sendiri, karena cinta kepada Allah. Sedangkan kesabaran menerima hukum-hukum Allah merupakan kesabaran yang pasti dan tidak bisa dihindari. Tentu saja ada perbedaan di antara keduanya.

[Berikutnya....(16) Ridha]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]


by
u-must-b-lucky
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(14) KEYAKINAN TERHADAP ALLAH

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Keyakinan ini adalah warna hitam mata tawakkal, titik tengah lingkaran kepasrahan dan relung hati penyerahan din."

Perbuatan ibu Musa yang melarung putranya di sungai seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, merupakan keyakinan terhadap Allah. Sebab kalau tidak ada keyakinan terhadap Allah, mana mungkin dia mau menghanyutkan buah hatinya di atas permukaan air sungai yang bergelombang dan berombak, yang membawanya entah ke mana ?

Artinya, keyakinan ini merupakan inti tawakkal seperti halnya warna hitam yang merupakan bagian terpenting pada mata, atau seperti titik tengah dalam suatu lingkaran, yang semua sisi-sisinya berpusat kepadanya, atau seperti relung hati, yang menjadi bagian terpenting dari hati. Jadi kalau sekiranya kepasrahan merupakan hati, maka keyakinan ini merupakan relungnya. Sekiranya kepasrahan merupakan mata, maka keyakinan merupakan warna hitamnya. Sekiranya kepasrahan merupakan lingkaran, maka keyakinan merupakan titik tengahnya.

Menurut Pengarang Manazilus-Sa'irin, keyakinan terhadap Allah ini ada tiga derajat :
  1. Derajat keputusasaan. Maksudnya keputusasaan hamba dalam melawan hukum, agar dia tidak merasa mendapat bagian.
    Artinya, orang yang yakin kepada Allah merasa tidak bisa lari dari qadha' dan hukum-Nya, karena Allah telah menetapkan hukum dan urusan bagi dirinya. Apabila Allah telah menetapkan hukum, rezki, keadaan, ilmu, bagian dan lain-lainnya bagi seseorang, maka semua itu akan terjadi pada dirinya. Jika tidak menetapkannya, maka semua itu juga tidak akan terjadi pada dirinya.
  2. Derajat aman. Maksudnya keamanan yang dirasakan hamba dari kehilangan apa yang telah ditetapkan dan dituliskan baginya, sehingga dia beruntung mendapatkan ruh ridha, atau setidak-tidaknya ada keyakinan atau sentuhan lembut kesabaran.
    Seorang hamba yang merasakan keputusasaan di atas juga akan merasa aman. Dengan kata lain, orang yang benar-benar mengetahui Allah dan apa yang ditetapkan Allah bagi dirinya, maka dia akan merasa aman dan tidak khawatir akan kehilangan bagian yang telah ditetapkan Allah baginya dan yang telah tertulis di dalam kitab. Dengan perasaan ini dia beruntung mendapatkan ruh ridha dan kenikmatannya. Sebab orang yang ridha akan merasakan kenikmatan karena ridhanya. Kalaupun hamba tidak sanggup mendapatkan ruh ridha, setidak-tidaknya dia mendapatkan keyakinan atau kekuatan iman dan melihat Allah dengan hatinya. Kalaupun hasil ini masih meleset, maka setidak-tidaknya dia mendapatkan sentuhan lembut kesabaran dan kesudahan yang baik.
  3. Melihat keazalian Allah, untuk membebaskan diri dari ujian yang menghalangi tujuan.
    Maksudnya, selagi hati mempersaksikan kesendirian Allah yang memiliki sifat azali, maka ia tidak terlalu sibuk dengan permintaan, karena semuanya sudah ditetapkan dalam hukum Allah yang azali. Sehingga ia tidak merasa ada penghambat yang menghalangi tujuannya.
[Berikutnya....(15) Sabar]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

by
u-must-b-lucky
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(13) TAFWIDH

Di antara tempat persinggahan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in adalah tafwidh (pasrah).

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Tafwidh ini mengandungkan isyarat yang amat lembut dan maknanya lebih luas dari tawakkal. Sebab tawakkal setelah ada sebab, sedangkan tafwidh sebelum ada sebab dan sesudahnya, yang juga disebut istislam (kepasrahan diri atau tunduk). Tawakkal merupakan cabang dari kepasrahan diri ini."

Artinya, orang yang pasrah membebaskan diri dari daya dan kekuatan, menyerahkan urusan kepada yang dipasrahi, tidak menempatkan dirinya pada posisi wakil yang menangani kemaslahatannya. Hal ini berbeda dengan tawakkal, karena orang yang mewakili menggantikan posisi orang yang diwakili.

Tafwidh artinya keluar dari daya dan kekuatan, menyerahkan semua urusan kepada yang berkuasa atas urusan itu. Maka bisa dikatakan, "Begitu pula tawakkal. Kesan negatif yang diberikan kepada tawakkal juga berlaku untuk pemasrahan. Bagaimana mungkin engkau memasrahkan sesuatu yang sebenarnya engkau tidak memilikinya sama sekali kepada orang yang berhak memilikinya ? Bisakah seorang rakyat biasa memasrahkan kekuasaan kepada raja atau penguasa pada masanya ?

Jadi kekurangan dalam tafwidh justru lebih besar daripada kekurangan dalam tawakkal. Bahkan sekiranya ada yang berkata, "Tawakkal lebih tinggi kedudukannya daripada tafwidh dan lebih agung", justru perkataan yang tepat. Karena itu Al-Qur'an banyak berisi perintah untuk tawakkal dan pengabaran tentang para wali Allah yang keadaannya selalu tawakkal.

Sementara tafwidh ini hanya disebutkan sekali di dalam Al-Qur'an, yaitu kisah orang Mukmin dari pengikut Fir'aun. Maka kami menyimpulkan bahwa tawakkal lebih tinggi dan lebih luas maknanya daripada tafwidh. Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, tafwidh ini ada tiga derajat :
  1. Hamba harus mengetahui bahwa dia tidak memiliki kesanggupan sebelum berbuat, tidak merasa aman dari tipu daya, tidak boleh putus asa dari pertolongan dan tidak mengandalkan niatnya.
    Dia harus yakin bahwa kesanggupannya untuk berbuat ada di Tangan Allah dan bukan di tangannya sendiri. Jika Allah tidak memberinya kesanggupan, maka dia adalah orang yang lemah. Dia tidak bergerak kecuali karena Allah dan bukan karena dirinya. Maka bagaimana mungkin dia merasa aman dari tipu daya, sementara dia orang yang digerakkan dan bukan yang menggerakkan ? Jika Allah menghendaki, maka Dia bisa membuatnya lemah dan tak berkeinginan, seperti firman Allah tentang orang-orang yang tidak mendapatkan taufiq-Nya,

    وَلَٰكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
    Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, Tinggallah kalian bersama orang-orang yang tinggal itu'. (QS. At-Taubah : 46)

    Tipu daya Allah terhadap hamba ialah memotong materi taufiq darinya, membiarkannya, tidak peduli terhadap apa pun yang dilakukannya, tidak menggerakkannya kepada hal-hal yang diridhai-Nya. Ini bukan merupakan hak yang bisa dituntut dari Allah, sehingga Allah bisa disebut zhalim karena tidak memberikan taufiq ini. Mahasuci Allah dari hal itu. Tapi taufiq itu hanya sekedar karunia Allah, yang karenanya Dia layak dipuji saat memberikannya kepada seseorang atau pun saat tidak memberikannya kepada seseorang.
    Jika Allah merupakan penggerak bagi hamba, paling berkuasa, hanya Dia-lah yang menciptakan dan memberi rezki serta Dia paling penyayang di antara para penyayang, maka bagaimana mungkin hamba itu berputus asa dari pertolongan-Nya ?
    Perkataan, "Tidak mengandalkan niatnya", artinya tidak terlalu yakin terhadap niatnya sendiri dan tidak bersandar kepadanya. Sebab niat dan hasratnya ada di Tangan Allah, bukan di tangannya sendiri. Niat itu kembali kepada Allah dan bukan kepada dirinya sendiri.
  2. Merasakan kegundahan, sehingga seorang hamba tidak melihat satu amal pun yang menyelamatkan, dosa yang merusak dan sebab yang diemban.
    Artinya, seorang hamba harus melihat kefakiran dan kebutuhannya kepada Allah. Dia melihat bahwa dalam setiap atom zhahir dan batinnya tidak lepas dari kebutuhan terhadap Allah. Keselamatannya tergantung kepada Allah dan bukan karena amalnya. Tidak melihat dosa yang merusak artinya kebutuhannya terhadap Allah menghalanginya untuk mengerjakan dosa yang merusak. Tidak melihat sebab yang diemban artinya memberikan kesaksian bahwa yang mengemban sebab itu adalah Allah dan bukan dirinya.
  3. Mempersaksikan kesendirian Allah yang menguasai gerak dan diam, yang menahan dan membentangkan, mengetahui perbuatan Allah terhadap hamba dan perbuatan Allah yang dinisbatkan kepada Diri-Nya sendiri.
    Derajat ini berkaitan dengan kesaksian terhadap sifat-sifat Allah dan keadaan-Nya. Derajat pertama dan kedua berkaitan dengan kesaksian terhadap keadaan hamba dan sifat-sifatnya. Artinya mempersaksikan gerak dan diamnya alam, yang semuanya berasal dari Allah.
[Berikutnya....(14) Keyakinan terhadap Allah]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli :
Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]


by
u-must-b-lucky
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(12) TAWAKKAL

Allah befirman berkaitan dengan tempat persinggahan tawakkal ini,

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Dan, hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman. (QS. Al-Maidah : 23)

Allah befirman kepada Rasul-Nya,

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)

Masih banyak firman Allah yang menjelaskan tawakkalnya para nabi, rasul dan orang-orang yang beriman.

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan hadits tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempercayai mantra, tidak meramal yang buruk-buruk, tidak mengobati dengan sundutan api, dan hanya bertawakal kepada Allah.

Di dalam Shahih Al-Bukhary disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Hasbunallah wa ni'mal-wakil", diucapkan Ibrahim Alaihis-Salam, ketika beliau dilemparkan ke kobaran api, dan juga dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat orang-orang berkata kepada beliau, "Sesungguhnya manusia (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka."

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa berdoa,

Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku kembali dan karena-Mu aku bermusuhan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada kemuliaan-Mu, yang tiada llah selain Engkau, agar Engkau (tidak) menyesatkanaku. Engkau Yang Maha hidup yang tiada mati, sedangkan jin dan manusia mati.

Di dalam riwayat At-Tirmidzy disebutkan dari Umar bin Al-Khaththab secara marfu', "Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezki kepada burung, yang pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang."

Di dalam As-Sunan disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Barangsiapa mengucapkan (saat keluar dari rumahnya), 'Dengan asma Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah', maka dikatakan kepadanya, 'Kamu mendapat petunjuk, dilindungi dan dicukupkan. Lalu syetan berkata kepada syetan lainnya, 'Bagaimana mungkin kamu bisa memperdayai orang yang telah mendapat petunjuk, dilindungi dan dicukupi ?'

Tawakkal merupakan separoh agama dan separohnya lagi adalah inabah. Agama itu terdiri dari permohonan pertolongan dan ibadah.

Tawakkal merupakan permohonan pertolongan sedangkan inabah adalah ibadah.

Tawakkal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan menyeluruh, yang senantiasa ramai ditempati orang-orang yang singgah di sana, karena luasnya kaitan tawakkal, banyaknya kebutuhan penghuni alam, keumuman tawakkal, yang bisa disinggahi orang-orang Mukmin dan juga orang-orang kafir, orang baik dan orang jahat, termasuk pula burung, hewan liar dan binatang buas. Semua penduduk bumi dan langit berada dalam tawakkal, sekalipun kaitan tawakkal mereka berbeda-beda. Para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang khusus bertawakkal kepada Allah karena iman, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, berjihad memerangi musuh-musuh-Nya, karena mencintai-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan selain mereka bertawakkal kepada Allah karena kepentingan dirinya dan menjaga keadaannya dengan memohon kepada Allah. Ada pula di antara mereka yang bertawakkal kepada Allah karena sesuatu yang hendak didapatkannya, entah rezki, kesehatan, pertolongan saat melawan musuh, mendapatkan istri, anak dan lain sebagainya. Ada pula yang bertawakkal kepada Allah justru untuk melakukan kekejian dan berbuat dosa. Apa pun yang mereka inginkan atau yang mereka dapatkan, biasanya tidak lepas dari tawakkal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan boleh jadi tawakkal mereka ini lebih kuat daripada tawakkalnya orang-orang yang taat. Mereka menjerumuskan diri dalam kebinasaan dan kerusakan sambil memohon kepada Allah agar menyelamatkan mereka dan mengabulkan keinginan mereka.

Tawakkal yang paling baik ialah tawakkal dalam kewajiban memenuhi hak kebenaran, hak makhluk dan hak diri sendiri. Yang paling luas dan yang paling bermanfaat ialah tawakkal dalam mementingkan faktor eksternal dalam kemaslahatan agama, atau menyingkirkan kerusakan agama. Ini merupakan tawakkalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah dan menghentikan kerusakan orang-orang yang rusak di dunia. Ini juga tawakkalnya para pewaris nabi. Kemudian tawakkal manusia setelah itu tergantung dari hasrat dan tujuannya. Di antara mereka ada yang bertawakkal kepada Allah untuk mendapatkan kekuasaan dan ada yang bertawakkal kepada Allah untuk mendapatkan serpihan roti. Siapa yang benar dalam tawakkalnya kepada Allah untuk mendapatkan sesuatu, tentu dia akan mendapatkannya. Jika sesuatu yang diinginkannya dicintai dan diridhai Allah, maka dia akan mendapatkan kesudahan yang terpuji. Jika sesuatu yang diinginkannya itu dibenci Allah, maka apa yang diperolehnya itu justru akan membahayakan dirinya. Jika sesuatu yang diinginkannya itu sesuatu yang mubah, maka dia mendapatkan kemaslahatan dirinya dan bukan kemaslahatan tawakkalnya, selagi hal itu tidak dimaksudkan untuk ketaatan kepada-Nya.

Berikut ini akan kami jelaskan makna tawakkal dan derajat-derajatnya serta berbagai pendapat tentang tawakkal ini.

Al-Imam Ahmad berkata, "Tawakkal adalah amal hati. Karena ia merupakan amal hati, maka ia bukan dinyatakan dengan perkataan lisan dan amal anggota tubuh. Ilmu juga bukan termasuk masalah ilmu atau pun teori."

Namun di antara manusia ada pula yang menganggapnya masalah ilmu dan ma'rifat, dengan mengatakan, "Tawakkal merupakan ilmu hati atas jaminan Allah yang diberikan kepada hamba."

Sahl berkata, "Tawakkal merupakan kepasrahan kepada Allah menurut apa pun yang dikehendaki-Nya."

Bisyr Al-Hafy berkata, "Adakalanya seseorang yang berkata, 'Aku tawakkal kepada Allah', tetapi dia berdusta kepada Allah. Kalau memang dia benar-benar tawakkal kepada Allah, tentu dia meridhai apa pun yang dilakukan Allah terhadap dirinya."

Yahya bin Mu'adz pernah ditanya, "Kapankah seseorang bisa disebut orang yang tawakkal ?" Maka dia menjawab, "Jika dia ridha kepada Allah sebagai wakilnya."

Di antara mereka ada yang menafsiri tawakkal dengan keyakinan terhadap Allah, tenang dan damai terhadap-Nya.

Ibnu Atha' berkata, "Tawakkal ialah jika engkau tidak mempunyai kecenderungan kepada sebab-sebab tertentu, sekalipun engkau sangat membutuhkannya. Hakikat kedamaian tidak akan beralih ke kebenaran selagi engkau mengandalkan sebab-sebab itu."

Dzun-Nun berkata, "Tawakkal artinya tidak bersandar kepada pengaturan diri sendiri, berlepas dari daya dan kekuatan diri sendiri. Tawakkal seorang hamba semakin kuat jika dia mengetahui bahwa Allah mengawasi dan melihat dirinya."

Ada yang berkata, "Tawakkal ialah bergantung kepada Allah di setiap keadaan."

Ada pula yang berpendapat, "Tawakkal ialah jika engkau menolak sumber-sumber kebutuhan dan engkau tidak kembali kecuali kepada Dzat yang benar-benar memberi kecukupan."

Ada pula yang berkata, "Tawakkal ialah menghilangkan segala keragu-raguan dan berserah diri kepada Raja Segala Raja."

Abu Sa'id Al-Kharraz berkata, "Tawakkal ialah kegelisahan tanpa ketenangan dan ketenangan tanpa kegelisahan."

Abu Turab An-Nakhsyaby berkata, "Tawakkal ialah menghempaskan badan untuk beribadah, menggantungkan hati dalam Rububiyah, merasa tenang karena ada kecukupan, jika diberi bersyukur dan jika ditolak sabar."

Abu Ali Ad-Daqqaq berkata, "Tawakkal itu ada tiga derajat : Tawakkal itu sendiri, berserah diri, lalu pasrah. Orang yang tawakkal merasa tenang karena janji Allah, orang yang berserah diri cukup dengan pengetahuannya tentang Allah dan pasrah adalah ridha terhadap hukum-Nya. Tawakkal merupakan permulaan, berserah diri merupakan pertengahan dan pasrah merupakan penghabisan. Tawakkal merupakan sifat orang-orang Mukmin, berserah diri merupakan sifat para wali dan pasrah merupakan sifat muwahhidin. Tawakal merupakan sifat orang-orang awam, berserah diri merupakan sifat orang-orang khusus, dan pasrah merupakan sifat orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus. Tawakkal adalah sifat para nabi, berserah diri adalah sifat Ibrahim, sedangkan pasrah merupakan sifat Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam."

Masih banyak pendapat-pendapat lain tentang makna tawakkal ini, yang semuanya merupakan rincian dari makna tawakkal.

Pada hakikatnya tawakkal ini merupakan keadaan yang terangkai dari berbagai perkara, yang hakikatnya tidak bisa sempurna kecuali dengan seluruh rangkaiannya. Masing-masing mengisyaratkan kepada salah satu dari perkara-perkara ini, dua atau lebih. Perkara-perkara ini adalah :
  1. Mengetahui Allah, sifat, kekuasaan, kecukupan, kesendirian dan kembalinya segala urusan kepada ilmu-Nya dan yang terjadi berkat kehendak dan kekuasaan-Nya. Ini merupakan derajat pertama yang menjadi pijakan kaki hamba saat berada di tempat persinggahan tawakkal.
    Syaikh kami (Ibnu Taimiyah) berkata, "Karena itu tawakkal tidak akan menjadi benar dan sulit dibayangkan bisa dilakukan seorang filosof atau pun golongan Qadariyah, yang mengatakan bahwa di dalam kekuasaan Allah ada sesuatu yang tidak bisa dikehendak-Nya, atau dari golongan Jahmiyah yang meniadakan sifat Allah. Tawakkal macam apakah yang keluar dari orang yang meyakini bahwa Allah tidak mengetahui bagian-bagian alam atas dan alam bawah, tidak bisa berbuat menurut kehendak-Nya dan tidak didukung satu sifat pun ? Siapa yang lebih mengetahui tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, maka tawakkalnya lebih benar dan lebih kuat. Allahlah yang lebih mengetahui hal ini."
  2. Menetapkan sebab dan akibat. Siapa yang meniadakan hal ini, berarti tawakkalnya ada yang tidak beres. Ini kebalikan dari pendapat yang mengatakan, bahwa menetapkan sebab bisa menodai tawakkal dan meniadakan sebab ini merupakan kesempumaan tawakkal. Ketahuilah bahwa tawakkalnya mereka yang meniadakan sebab tidak akan benar sama sekali. Sebab tawakkal termasuk sebab yang paling kuat untuk mendapatkan apa yang ditawakkali. Tawakkal ini seperti doa yang dijadikan Allah sebagai sebab untuk mendapatkan apa yang diminta dalam doa itu. Jika hamba percaya bahwa tawakkalnya tidak ditetapkan Allah sebagai sebab dalam memperoleh sesuatu, begitu pula doanya, maka sesuatu itu tetap diperolehnya, baik dia tawakkal atau tidak tawakkal, berdoa atau tidak berdoa, kalau memang hal itu sudah ditakdirkan baginya. Jika tidak ditakdirkan, maka sesuatu itu tidak akan diperolehnya, tawakkal atau tidak tawakkal.
    Orang-orang yang meniadakan sebab ini beralasan bahwa tawakkal dan doa adalah ubudiyah yang bersifat murni, yang manfaatnya hanya ubudiyah itu semata. Di antara mereka ada yang bersikap kelewat batas, dengan mengatakan bahwa doa agar tidak dihukum atas keliru dan lalai tidak memberi manfaat apa-apa. Karena sudah ada jaminan pengabulannya. Menurut sebagian di antara mereka, yang kami baca dalam buku karangannya, bahwa doa itu mengandung kesangsian terhadap pengabulannya. Sebab orang yang berdoa berada di antara ketakutan dan harapan. Kesangsian terhadap pengabulannya berarti kesangsian terhadap pengabaran Allah.
    Perhatikanlah bagaimana pengingkaran terhadap sebab telah menyeret mereka ke dalam dosa yang besar, karena mereka mengharamkan doa. Padahal Allah memuji para wali dan hamba-hamba-Nya, karena mereka berdoa dan memohon kepada-Nya. Untuk menyanggah dugaan mereka yang batil, dapat dikatakan sebagai berikut : Ada bagian ketiga yang tidak kalian sebutkan dari dua bagian di atas, yaitu kenyataan. Dengan kata lain, bahwa Allah menetapkan tawakkal dan doa sebagai dua sebab untuk mendapatkan apa yang diminta, dan Allah menakdirkan perolehan sesuatu jika hamba mengerjakan sebabnya. Jika dia tidak mengerjakan sebab, maka dia juga tidak memperoleh akibatnya. Hal ini seperti ketetapan Allah untuk mendapatkan anak, jika seorang laki-laki berjima' dengan wanita yang akan mengandung anaknya. Jika dia tidak berjima' dengannya, tentu Allah tidak akan menciptakan anak baginya. Allah menetapkan kenyang jika hamba makan. Jika dia tidak makan, tentu dia tidak akan kenyang. Allah menetapkan hamba masuk surga jika dia masuk Islam dan mengerjakan amal-amal shalih. Jika tidak melakukannya, maka selamanya dia tidak akan masuk surga.
    Sekarang bandingkan dengan apa yang dikatakan orang-orang yang mengingkari sebab, yang setiap orang di antara mereka berkata, "Kalau memang sudah ditakdirkan bagiku dan sudah ditetapkan sejak awal untuk mendapatkan anak, kenyang, menunaikan haji dan lain sebagainya, tentu semua akan terjadi pada diriku, entah aku bergerak atau diam, menikah atau membujang, bepergian atau duduk-duduk saja.
    Tapi jika tidak ditakdirkan bagiku, maka semua itu juga tidak akan terjadi pada diriku, aku berbuat atau tidak berbuat." Apakah orang yang berkata seperti ini dianggap sebagai orang yang waras ? Bukankah binatang lebih pandai daripada dia ? Sebab binatang pun masih berusaha melakukan sebab sesuai berdasarkan petunjuk secara umum.
    Tawakkal merupakan sebab yang paling besar untuk mendapatkan apa yang diharapkan dan menyingkirkan apa yang tidak diinginkan. Siapa yang mengingkari sebab, berarti tawakkalnya tidak benar. Tapi tawakkal yang sempurna juga tidak mengandalkan sebab semata dan memutuskan hubungan hati dengannya.
  3. Memantapkan hati pada pijakan tauhid. Tawakkal seorang hamba tidak dianggap benar jika tauhidnya tidak benar. Bahkan hakikat tawakkal adalah tauhidnya hati. Selagi di dalam hati masih ada kaitan-kaitan syirik, maka tawakkalnya cacat. Seberapa jauh kemurnian tauhid, maka sejauh itu pula kebenaran tawakkal. Jika seorang hamba berpaling kepada selain Allah, maka hal ini akan membentuk cabang di dalam hatinya, sehingga mengurangi tawakkalnya kepada Allah karena adanya cabang itu. Berangkat dari sinilah muncul anggapan sebagian orang bahwa tawakkal tidak benar kecuali dengan menolak sebab secara total. Memang ini bisa dibenarkan. Tapi penolakan ini harus dari hati dan bukan dari anggota tubuh. Tawakkal tidak benar kecuali dengan menyingkirkan sebab dari hati dan kebergantungan anggota tubuh kepadanya. Jadi harus ada pemutusan dengan sebab dan juga harus ada hubungan dengan sebab.
  4. Menyandarkan hati kepada Allah dan merasa tenang karena bergantung kepada-Nya, sehingga di dalam hati itu tidak ada kegelisahan karena godaan sebab dan tidak merasa tenang karena bergantung kepadanya. Tandanya, ia tidak peduli saat menghadapi sebab itu atau saat melepaskannya, hati tidak gelisah saat melepaskan apa yang disukai dan saat menghadapi apa yang dibenci, karena penyandarannya kepada Allah dan ketenangannya bergantung kepada-Nya, telah melindungi dirinya dari ketakutan. Keadaannya seperti orang yang berhadapan dengan musuh yang tangguh dan tak mungkin dikalahkannya, lalu tiba-tiba dia melihat benteng kokoh yang terbuka pintunya, lalu Allah memasukkannya ke dalam benteng itu dan menutup pintunya. Dia melihat musuh ada di luar benteng, sehingga hatinya tidak lagi risau karena keadaannya ini. Atau seperti orang yang diberi uang oleh raja. Tapi kemudian uang pemberian itu dicuri orang lain. Lalu raja berkata kepadanya, "Tidak perlu takut, karena aku mempunyai uang yang melimpah. Jika engkau mau datang ke tempatku, akan kuberikan seberapa pun yang engkau minta." Jika dia percaya kepada raja, yakin terhadap perkataannya dan tahu gudangnya penuh uang, tentu dia tidak akan gelisah dan takut.
  5. Berbaik sangka terhadap Allah. Seberapa jauh baik sangkamu terhadap Allah, maka sejauh itu pula tawakkalmu kepada-Nya. Maka sebagian ulama menafsiri tawakkal dengan baik sangka terhadap Allah. Yang benar, baik sangka ini mengajak kepada tawakkal. Sebab tawakkal tidak bisa digambarkan datang dari orang yang berburuk sangka kepada Allah atau dari orang yang tidak mengharapkan-Nya.
  6. Ketundukan dan kepasrahan hati kepada Allah serta memotong seluruh perintangnya. Karena itu ada yang menafsiri tawakkal ini dengan berkata, "Hendaknya seorang hamba di hadapan Allah seperti mayat di tangan orang yang memandikannya, yang membolak-balikkan jasadnya menurut kehendaknya, dan dia tidak mempunyai hak untuk bergerak atau mengatur."
    Inilah makna perkataan sebagian orang, bahwa tawakkal adalah membebaskan diri dari pengaturan, atau menyerahkan pengaturan kepada Allah. Tapi ini tidak berlaku untuk perintah dan larangan, tapi untuk hal-hal yang diperbuat Allah terhadap dirimu dan bukan dalam perkara-perkara yang diperintahkan-Nya agar kamu mengerjakannya.
  7. Pasrah. Ini merupakan ruh tawakkal, inti dan hakikatnya, yaitu menyerahkan semua urusannya kepada Allah, tanpa menuntut dan menentukan pilihan, bukan merasa dipaksa dan terpaksa. Kepasrahannya kepada Allah seperti kepasrahan seorang anak yang lemah tak berdaya kepada ayah dan ibunya, yang menyayangi, mencintai, menangani segala keperluannya dan melindunginya. Dia melihat penanganan orang tuanya adalah penanganan yang paling baik bagi dirinya. Maka dia tidak melihat kebaikan bagi dirinya selain dari menyerahkan semua urusannya kepada orang tuanya.
    Jika seorang hamba sudah sampai ke derajat ini, maka dia akan beralih ke derajat lain, yaitu ridha, yang merupakan buah tawakkal, sehingga ada yang menafsiri tawakkal dengan ridha. Berarti penafsiran ini hanya melihat sisi buah tawakkal dan manfaatnya yang paling besar. Sebab siapa yang tawakkal dengan sebenar-benarnya tawakkal, tentu dia ridha terhadap apa pun yang dilakukan wakilnya.
Syaikh kami, Ibnu Taimiyah berkata, "Yang menjadi ukuran adalah dua perkara: Tawakkal sebelumnya dan ridha sesudahnya. Siapa yang tawakkal kepada Allah sebelum berbuat dan ridha kepada-Nya setelah berbuat, berarti dia telah menegakkan ubudiyah."

Inilah makna yang terkandung dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sehubungan dengan Doa Istikharah,

Ya Allah, aku memohon pilihan yang terbaik kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuasaan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung.

Ucapan ini mencerminkan tawakkal dan kepasrahan. Kelanjutan doa ini,

Sesungguhnya Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, Engkau berkuasa dan aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui yang gaib.

Ini mencerminkan kepasrahan kepada Allah dalam masalah ilmu, daya dan kekuatan serta tawassul kepada-Nya dengan sifat-sifat-Nya, yang merupakan tawassul paling disukai orang-orang yang tawassul kepada-Nya. Kelanjutan doa istikharah ini adalah permohonan agar Allah memenuhinya jika di dalamnya ada kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Maka yang menyisa baginya hanya ridha terhadap ketetapan Allah, dengan berkata, "Tetapkanlah kebaikan bagiku apa pun bentuknya, kemudian buatlah aku ridha kepadanya."

Doa istikharah ini mencakup ma'rifat tentang Allah, hakikat-hakikat iman, seperti tawakkal, kepasrahan sebelum ada ketetapan dan ridha setelah ada ketetapan, yang merupakan buah tawakkal, sedangkan kepasrahan merupakan tanda kebenaran tawakkal. Jika dia tidak ridha, maka kepasrahannya tidak murni.

Dengan menyempurnakan delapan derajat ini, berarti seorang hamba telah menyempurnakan tawakkal dan pijakan kakinya sudah mantap di tempat persinggahan ini.

Namun banyak terjadi kerancuan dalam masalah yang terpuji dan sempurna ini dengan hal-hal yang tercela dan kurang. Ada kerancuan dalam masalah kepasrahan dengan penyia-nyiaan. Seorang hamba menyia-nyiakan bagiannya dengan anggapan bahwa itu merupakan kepasrahan dan tawakkal, padahal itu merupakan penyia-nyiaan dan penelantaran, bukan kepasrahan.

Ada pula kerancuan tawakkal dengan kesantaian dan tidak mau memikul beban, lalu pelakunya mengira bahwa dia adalah orang yang tawakkal. Ada pula kerancuan melepaskan sebab dan meniadakannya. Melepaskan sebab merupakan gambaran tauhid sedangkan meniadakan sebab merupakan zindiq dan atheis. Melepaskan sebab artinya tidak menyandarkan hati kepada sebab, sedangkan meniadakan sebab berarti menyingkiri sebab itu secara total. Dan masih banyak contoh lain tentang kerancuan-kerancuan ini.

Tawakkal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan umum kebergantungannya kepada Asma'ul-Husna. Tawakkal mempunyai kebergantungan secara khusus dengan keumuman perbuatan dan sifat-sifat Allah. Semua sifat Allah bisa dijadikan gantungan tawakkal. Maka siapa yang lebih banyak ma'rifatnya tentang Allah, maka tawakkalnya juga lebih kuat.

Banyak orang yang tawakkal justru tertipu oleh tawakkalnya. Boleh jadi seseorang bertawakkal dengan sebenar-benarnya tawakkal, namun dia tertipu. Seperti orang yang mengalihkan tawakkalnya kepada kebutuhan parsial dengan mencurahkan seluruh kekuatan tawakkalnya. Padahal dia bisa mendapatkan kebutuhan itu dengan cara yang paling sederhana. Padahal seandainya dia mencurahkan hatinya untuk tawakkal dengan menambah iman dan ilmu serta menolong agama, maka ini jauh lebih baik baginya.

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Tawakkal adalah penyerahan urusan kepada yang berkuasa menanganinya dan menyerahkan kepercayaan kepada wakilnya. Ini merupakan tempat persinggahan orang awam yang paling sulit dan jalan yang paling lemah bagi orang-orang yang khusus. Sebab Allah telah menyerahkan semua urusan kepada Diri-Nya dan alam tidak berkuasa terhadapnya sedikit pun."

Menyerahkan kepercayaan kepada wakilnya, artinya lebih mementingkan tindakannya daripada tindakanmu dan kehendaknya daripada kehendakmu. Menyerahkan kepercayaan ini ada dua macam :
  • Pertama, mengangkat wakil atau kepasrahan kepadanya.
  • Kedua, menyerahkan urusan kepada orang yang ditunjuk sebagai wakil. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi.
Allah mewakilkan kepada hamba dan menunjuknya untuk menjaga apa yang diserahkan kepadanya. Sedangkan hamba menyerahkan kepercayaan kepada Allah dan bersandar kepada-Nya. Tentang penyerahan kepercayaan Allah kepada hamba-Nya, maka Dia berfirman,

فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ
Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. (QS. Al-An'am : 89)

Maksudnya, siapa yang melaksanakan apa yang diwahyukan Allah karena iman, mau melaksanakan dakwah, jihad dan memberikan pertolongan, maka mereka itulah yang akan diserahi Allah untuk mengemban kepercayaan ini.

Jika engkau bertanya, "Lalu bolehkah jika dikatakan, 'Seseorang menjadi wakil Allah ?'" Dapat dijawab, "Tidak." Sebab yang disebut wakil adalah orang yang bertindak atas nama yang menunjuknya sebagai wakil lewat cara perwakilan. Padahal Allah tidak mempunyai wakil dan tak ada seorang pun yang menggantikan kedudukan-Nya, tapi justru Allah-lah yang menjadi pengganti hamba, sebagaimana yang disebutkan dalam doa ketika hendak mengadakan perjalanan, "Ya Allah, Engkau teman dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga."

Sedangkan penyerahan kepercayaan hamba kepada Allah artinya kepasrahan hamba kepada-Nya dan membebaskan dirinya dari sikap tertentu dan menegakkan Rububiyah dengan ubudiyah. Inilah makna Allah sebagai wakil hamba. Artinya, Allah-lah yang mencukupinya, menangani segala urusan dan kemaslahatannya. Sedangkan perwakilan yang diserahkan Allah kepada hamba merupakan perintah dan ubudiyah.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ada tiga derajat tawakkal, yang masing-masing berjalan menurut perjalanan manusia secara umum, yaitu :
  1. Tawakkal yang disertai permintaan dan memperhatikan sebab, menyibukkan hati dengan sebab, disertai rasa takut.
    Orang yang memiliki derajat ini bertawakkal kepada Allah dan tidak meninggalkan sebab. Bahkan dia mencari sebab itu dengan niat untuk menyibukkan hati dengan sebab, disertai rasa takut andaikan hati disibukkan oleh nafsu. Sebab jika hati tidak sibuk dengan sesuatu yang bermanfaat, maka ia sibuk dengan sesuatu yang berbahaya. Apalagi jika ada waktu senggang dan disertai semangat keremajaan dan kecenderungan jiwa kepada nafsu serta lalai.
    Mengerjakan sebab yang diperintahkan merupakan cermin ubudiyah dan merupakan hak Allah atas hamba-Nya, yang karenanya ada pahala dan siksa.
  2. Tawakkal dengan meniadakan permintaan, menutup mata dari sebab, berusaha membenahi tawakkal, menundukkan nafsu dan menjaga hal-hal yang wajib.
    Meniadakan permintaan artinya permintaan kepada hamba dan bukan permintaan menurut hak. Dia tidak meminta sesuatu pun dari seseorang. Pada dasarnya permintaan kepada hamba itu dimakruhkan, tapi bisa mubah jika sangat diperlukan, seperti diperbolehkannya makan bangkai bagi orang yang terpaksa. Imam Ahmad menetapkan bahwa permintaan kepada hamba ini tidak wajib. Syaikh kami memberi isyarat, bahwa permintaan itu tidak layak. Saya mendengarnya pernah berkata tentang permintaan ini, "Itu merupakan kezhaliman dalam hak Rububiyah dan kezhaliman terhadap hak hamba serta kezhaliman terhadap hak diri sendiri." Disebut kezhaliman dalam hak Rububiyah, karena permintaan itu mengandung ketundukan kepada selain Allah dan mengalirkan air muka kepada selain penciptanya. Mengalihkan permintaan terhadap Allah kepada permintaan terhadap hamba, bisa mendatangkan murka Allah, jika kebutuhan hidupnya masih tercukupi pada hari itu. Disebut kezhaliman terhadap hak hamba, karena permintaan itu merupakan tuntutan agar dia mengeluarkan apa yang diminta. Padahal apa yang diminta itu merupakan sesuatu yang disukai pemiliknya. Disebut kezhaliman terhadap hak diri sendiri, karena permintaan itu sama dengan melecehkan harga dirinya. Permintaan makhluk kepada makhluk merupakan permintaan orang fakir kepada orang fakir lainnya. Tapi jika engkau meminta kepada Allah, maka engkau justru menjadi mulia di hadapan-Nya, Dia ridha kepadamu dan mencintaimu. Tapi jika engkau meminta kepada makhluk, maka engkau menjadi kerdil di hadapannya dan dia kurang suka kepadamu, sebagaimana yang dikatakan dalam syair,

    Allah murka jika engkau tak meminta kepada-Nya, anak Adam justru murka jika engkau meminta kepadanya.

    Hamba yang buruk ialah yang biasa meminta kepada hamba yang lain, padahal dia tahu Tuannya mempunyai apa pun yang dikehendakinya.
    Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Auf bin Malik Al-Asyja'y Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Kami sedang berada di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama sembilan, delapan atau tujuh orang. Beliau bertanya, "Mengapa kalian tidak berbaiat kepada Rasul Allah ?"
    Memang pada masa pelaksanaan baiat, kami masih terlalu kecil. Kami berkata, "Kami sudah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah."
    Beliau bertanya lagi, "Mengapa kalian tidak berbaiat kepada Rasul Allah ?"
    Kami membentangkan tangan seraya berkata, "Kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah. Lalu untuk apa kami berbaiat kepada engkau ?"
    Beliau bersabda, "Agar kalian menyembah Allah, tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, menjaga shalat lima waktu dan janganlah kalian meminta sesuatu pun kepada manusia."
    Auf bin Malik berkata, "Aku pernah melihat sebagian di antara mereka, ketika cambuknya jatuh, maka dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya."
    Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Meminta-minta senantiasa dilakukan salah seorang di antara kalian hingga dia bersua Allah, sementara di mukanya tidak ada sekerat daging pun." Di dalam Ash-Shahihain juga disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari atas mimbar tatkala menyebutkan masalah shadaqah dan menjaga diri untuk tidak meminta-minta, "Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah."
    Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Barangsiapa meminta-minta kepada manusia karena menginginkan harta yang banyak, maka dia hanyalah meminta bara api. Maka hendaklah dia menganggapnya sedikit atau menganggapnya banyak."
    Dan masih banyak hadits-hadits lain yang senada, yang menjelaskan kehinaan meminta-minta kepada manusia. Tawakkal dengan meninggalkan permintaan ini merupakan ubudiyah yang murni.
    Perkataannya, "Menutup mata dari sebab, berusaha membenahi tawakkal", artinya tidak menyibukkan diri dengan seluruh sebab, karena hendak membenahi tawakkal dan menguji jiwa. Sebab ada orang yang memperhatikan sebab, dan dia mengira telah tawakkal, padahal dia belum tawakkal karena keyakinannya terhadap apa yang diketahuinya. Jika dia berpaling dari sebab, maka tawakkalnya dianggap benar.
    Inilah yang diisyaratkan sebagian ahli ibadah, yang mengarungi gurun tanpa membawa bekal apapun, karena mereka menganggap bekal itu bisa menodai tawakkal. Kisah tentang hal ini banyak dinukil dari mereka. Inilah Ibrahim Al-Khawwash, orang yang sangat detail dalam tawakkalnya. Memang dia mengarungi gurun tanpa membawa bekal.
    Tapi dia tidak pernah ketinggalan membawa benang, jarum, kantong kulit dan gunting. Ada seseorang yang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau membawa barang-barang itu, sementara engkau tidak membawa bekal yang lain ?" Dia menjawab, "Yang seperti ini tidak mengurangi tawakkal. Sebab Allah telah menetapkan beberapa kewajiban kepada kita. Orang fakir hanya mempunyai satu lembar pakaian. Boleh jadi pakaiannya itu robek. Jika dia tidak mempunyai jarum dan benang, maka auratnya akan kelihatan sehingga shalatnya tidak sah. Jika dia tidak membawa kantong kulit, maka dia tidak bisa bersuci. Jika engkau melihat orang fakir yang tidak mempunyai jarum, benang dan kantong kulit, maka curigailah shalatnya."
    Perhatikanlah bagaimana dia merasa bahwa agamanya belum benar kecuali dengan sebab ? Membebaskan diri dari sebab secara total merupakan tindakan yang ditentang akal, syariat dan indera. Memang adakalanya seseorang memiliki keyakinan yang amat kuat terhadap Allah, yang mendorongnya untuk meninggalkan sebab yang selayaknya seperti orang yang menantang bahaya. Saat itu dia memasrahkan diri kepada Allah dan tidak mengandalkan dirinya sama sekali. Lalu datang pertolongan dari Allah. Tapi keadaan ini tidak terjadi secara terus-menerus.
    Kisah-kisah yang biasanya dinukil orang-orang sufi berkaitan dengan masalah ini, bersifat parsial dan insidental, bukan merupakan jalan yang diperintahkan untuk diikuti dan tidak bisa ditetapkan. Sehingga hal ini menimbulkan cobaan bagi dua golongan manusia :
    • Pertama, golongan yang menganggap kisah-kisah itu merupakan jalan kehidupan yang pasti, sehingga mereka berbuat hal yang sama.
    • Kedua, golongan yang menyalahi syariat dan akal, yang menganggap keadaannya lebih sempurna daripada keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat.
  3. Tawakkal dengan mengetahui tawakkal, membebaskan diri dari noda tawakkal, menyadari bahwa kekuasaan Allah terhadap segala sesuatu merupakan kekuasaan yang agung, tidak ada sekutu yang menyertai-Nya, bahkan sekutu-Nya bersandar kepada-Nya. Urgensi ubudiyah ialah jika hamba mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya yang merajai segala sesuatu.
    Artinya, selagi orang yang berada pada derajat ini memutuskan sebab dan permintaan dan sudah melewati dua derajat sebelumnya, maka tawakkalnya lebih baik daripada tawakkal dua derajat sebelumnya. Setelah dia mengetahui hakikat tawakkal dan mengetahui pendorong untuk membebaskan diri dari noda tawakkal, atau yang tadinya tidak mengetahui noda tawakkal lalu mengetahui hakikatnya, berarti pada saat itu tawakkalnya sudah memiliki ma'rifat yang menyerunya untuk membebaskan diri dari noda tawakkal. Kemudian ma'rifat untuk mengetahui noda tawakkal ialah menyadari bahwa kekuasaan Allah terhadap segala sesuatu merupakan kekuasaan yang agung. Kekuasaan yang memiliki kekuatan, pencegahan dan penundukan, yang menolak disertai sekutu selain-Nya, dan Dia Maha agung dalam kekuasaan-Nya.
[Berikutnya....(13) Tafwidh]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

by
u-must-b-lucky