Diriwayatkan dari Abu Abdullah Jabir RA., seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. ia berkata, "Bagaimana pendapatmu jika saya melakukan shalat-shalat fardhu, shaum pada bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, serta tidak menambah sedikitpun, apakah saya masuk surga ?" Nabi Muhammad SAW. menjawab, "Ya."(HR. Muslim)

Rasulullah SAW. sebagai rahmatan lil alamin. Allah SWT. telah mengutus Nabi Muhammad SAW., sebagai rahmat bagi manusia. Menyelamatkan mereka dari kesesatan yang akan menjerumuskan ke dalam neraka. Menuntun mereka ke jalan hidayah yang akan mengantarkan mereka ke surga. Jalan menuju surga adalah jalan yang jelas dan mudah. Allah memberikan batasan-batasannya dan mewajibkan adab-adabnya. Barangsiapa yang komitmen dan berpegang teguh dengannya, akan diantarkan kepada tujuan. Akan tetapi, barangsiapa yang melampaui batas dan menyalahinya, akan dicampakkan ke dalam neraka.

Sesungguhnya apa yang telah ditetapkan dan diwajibkan Allah ada pada batas kemampuan manusia karena Allah-lah yang telah menciptakan manusia. Karena Allah juga menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya.

Muhammad adalah seorang manusia biasa seperti kita, seorang hamba-Nya. Beliau dipilih oleh Allah SWT. sebagai utusan-Nya, pembawa berita dan pemberi peringatan yang tertuang dalam Al-Qur'an. Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang disertai petunjuk pelaksanannya yang berupa sunnah Nabi yang sahih. Sunnah adalah aplikasi amal perbuatan dalam tataran kehidupan sehari-hari yang dicontohkan Nabi.

Meliputi akidah yaitu keimanan dan keyakinan yang teguh kepada Rukun Iman yang enam, yaitu iman kepada,
  1. Allah;
  2. Malaikat Allah;
  3. Kitab Allah;
  4. Rasul Allah;
  5. Hari kiamat;
  6. Takdir Allah (qada dan qadar atau baik dan buruk).
Sebagaimana tertuang dalam firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa : 136)

Juga dalam hadits sahih, Dari Umar bin Khatthab RA., ia berkata, "Kabarkanlah kepadaku tentang iman." (Rasul) menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari akhir, serta engkau beriman kepada ketentuan yang baik dan yang jelek-Nya." (HR. Muslim, 1 : 22)

Serta melaksanakan amal-amal ibadah mahdhah kepada Allah yang tertuang dalam Rukun Islam yang lima, yaitu,
  1. Mengucapkan dua kalimat syahadat;
  2. Mendirikan shalat (lima waktu);
  3. Mengeluarkan zakat;
  4. Shaum di bulan Ramadan;
  5. Menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.
Juga melakukan muamallah sosial antar sesama manusia (ghairamahdhah).

Maka ketika seseorang bertanya, jika ia hanya mampu mengamalkan yang fardhu seperti shalat lima waktu, shaum pada bulan Ramadhan, menghalalkan yang halal serta mengharamkan yang haram, apakah ia bisa masuk surga. Nabi Muhammad SAW. menjawab "Ya." Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang menenangkan hati orang itu, melapangkan dadanya, membahagiakan hatinya, memuaskan keinginannya untuk mewujudan cita-citanya. Bahwa amalan yang dikerjakan itu sudah cukup untuk mewujudkan keinginannya masuk surga, bagaimana tidak ?

Karena beliau mengabarkan apa yang difirmankan Allah dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Bahwa berbahagialah wahai orang-orang Mukmin dengan kabar gembira dari Allah sebagiaman dalam firman-Nya,

وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
"...Dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu." (QS. At-Taubah : 112)

Diriwayatkan pula, Rasulullah pernah bersabda, "Tidak ada seorang hamba yang shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, meninggalkan dosa-dosa besar yang tujuh, kecuali akan dibukakan baginya pintu-pintu surga, dia masuk dari mana yang dia kehendaki."

Sebagaimana firman Allah SWT.,

إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا
"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga)." (QS. An-Nisa : 31)

Rasul menjelaskan, dosa-dosa besar yang tujuh adalah zina, minum khamer, syirik/sihir, menuduh zina kepada orang baik-baik, membunuh tanpa dosa sebelumnya, makan riba, lari dari medan perang ketika menghadapi musuh Islam.

Sesungguhnya agama Islam itu mudah, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Sesunguhnya agama itu mudah (ringan), siapa yang memperberat dirinya dalam beragama, dia tidak akan bisa melaksanakannya, karena itu amalkanlah agama sesuai tuntunannya (sesuai contoh dari Rasul), berusahalah mendekatkan diri kepada Allah, bergembiralah dengan pahala yang akan kau terima, dan kerjakanlah shalat pada pagi hari, siang, dan menjelang malam." (HR. Bukhari)

Sikap Rasulullah SAW. seperti ini menunjukkan kemudahan Islam bahwa Allah SWT. tidak membebani seseorang dari hamba-Nya dengan beban yang membuatnya sulit dan sempit.

Sebagaimana firman-Nya,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah : 185)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah : 286)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
"Dan sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan." (QS. Al-Hajj : 78)

Semua kewajiban dalam syariat Islam bercirikan kemudahan, ada pada batas-batas kemampuan manusia karena bersumber dari Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Maka, tidak ada pilihan lain bagi orang yang berakal sehat, kecuali mendengar dan menaatinya agar dia mendapat kebahagiaan di dunia dan kesenangan abadi di akhirat.

Wallahu A'lam. ***

[Ditulis oleh : H. EDDY SOPANDI, peserta majelis taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqon UPI, Istiqomah, Viaduct, dan Salman ITB. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 8 April 2011, pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
"Ingatlah, setiap orang di antara kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang amir (pemimpin masyarakat) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin dan itu akan ditanya tentang rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Merujuk pada kata pemimpin atau imam bermula dari kata amma yang bermakna bergerak ke depan. Seorang pemimpin di mana pun posisinya, baik di rumah tangga, lemhaga pendidikan, perusahaan, apalagi di masyarakat dan negara, harus bisa membawa ke arah yang lebih baik.

Kata amma berubah menjadi ammam atau di depan lalu imani yang bermakna seseorang yang berada di barisan paling depan. Kata imam senapas dengan kata umm atau ibu atau umat yang berarti komunitas yarig diminta untuk bergerak maju ke depan.

Seorang yang ingin menjadi pemimpin harus memahami kalau kekuasaan adalah amanah yang amat berat di pundak dan tanggung jawab yang amat besar di sisi Allah. Pemimpin harus menunaikan hak orang banyak dan berbuat adil kepada mereka sebagaimana halnya mereka ingin agar rakyat menunaikan tugasnya di hadapan dirinya.

Sungguh tugas seorang peminipin amat berat dan mengandung bahaya. Tak heran jika Nabi Muhammad mengingatkan bahayanya kekuasaan dan orang yang memintanya.

"Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, engkau akan diserahkan kepada kekuasaan itu (yakni, dibiarkan Allah dan tak akan ditolong). Jika engkau diberi kekuasaan, bukan dari hasil meminta, engkau akan ditolong." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain dinyatakan, "Aku pernah masuk menemui Nabi SAW. bersama dua orang sepupuku. Seorang di antara mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pemiinpin dalam perkara yang Allah berikan kepadamu.' Orang kedua juga berkata demikian. Maka Nabi bersabda, 'Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula orang yang rakus kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seseorang tidak diperkenankan berbuat narsisme dengan "mematut-matutkan diri" sebagai calon pemimpin ideal. Misalnya menyatakan saya ini orang pintar, lebih baik dan lebih bersih daripada calon pemimpin lainnya. Ajaran Islam juga melarang seorang calon pemimpin menjelek-jelekkan orang lain.

Kehadiran seorang pemimpin bukan karena politik pencitraan karena lebih banyak menipu dan juga tidak diiklankan secara gencar. Alasannya, pemimpin bukanlah profesi yang dicari, melainkan akibat kepercayaan dari masyarakat karena ia memiliki rekam jejak (track record) yang baik dan dapat dipercaya sehingga diangkat menjadi pemimpin.

Salah satu sifat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah syajaah atau keberanian untuk berkata dan bertindak sesuai dengan contoh para nabi. Keberanian muncul ketika seseorang pemimpin memiliki tsiqobillah (kepercayaan kepada Allah) dalam hatinya. Dia percaya dan yakin akan kebenaran Allah.

Syajaah
menyertai orang-orang yang istiqamah di jalan Allah yang memunculkan sikap ketenangan dan at-tafaul (optimistis). Jadi orang yang istiqamah akan senantiasa berani, tenang, dan optimistis karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah.

Tak mudah menjadi orang yang istiqamah. Bahkan, Rasulullah mengatakan, turunnya QS. Huud membuat Nabi berubah karena di dalamnya ada ayat 112 yang memerintahkan untuk istiqamah.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Syajaah
membuat seorang pemimpin tersebut berani untuk mengambil risiko yang tentunya telah diperhitungkan masak-masak risikonya. Dia juga berani menderita dan hidup susah karena menjadi seorang pemimpin jangan dimaknai datangnya kemewahan maupun fasilitas. Dia juga berani untuk mengundurkan diri dari jabatannya apabila sudah tidak mampu ataupun ketiadaan kepercayaan dari umatnya.

Khusus pemimpin di lembaga pendidikan Islam dari tingkat dasar, menengah, dan tinggi harus memiliki berbagai nilai plus. Hal ini berkaitan dengan posisi lembaga pendidikan, terutama guru yang dikatakan Rasulullah "hampir menyerupai nabi."

Pemimpin di lembaga pendidikan Islam memerlukan leader bukan sebatas penguasa. Bukan pula dari melihat usia muda atau tua apalagi dengan mempertimbangkan asal muasal kelompok maupun partai atau aliran politiknya.

Pemimpin lembaga pendidikan Islam merupakan sosok yang kuat secara keilmuan, berakhlakul karimah, adil, dan bertanggung jawab. Pemimpin tersebut tidak bisa bersikap pura-pura yang dibuat secara mendadak atau instan maupun teknik-teknik memoles diri agar memiliki citra yang baik di mata umat.***

[Ditulis oleh : H. PUPUH FATHURRAHMAN, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 7 April 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]
Sesungguhnya segala puji adalah bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, memohon ampunan, dan bertaubat kepada-Nya. Kita pun berlindung kepada Allah dari keburukan hawa nafsu dan kejelekan amal-amal kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada lagi yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga salawat (pujian) selalu terlimpah kepadanya, segenap pengikut dan para sahabatnya semua, demikian pula semoga keselamatan sebanyak-banyaknya senantiasa tercurah kepada mereka.

Amma ba’du, -wahai orang-orang yang beriman, wahai hamba-hamba Allah- bertakwalah kalian kepada Allah ta’ala, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjaga dirinya dan menunjukinya kepada kebaikan urusan agama dan dunianya. Kemudian, ketahuilah -semoga Allah merahmati kalian- sesungguhnya nikmat-nikmat dari Allah jalla wa ‘ala sangatlah banyak, tak terhingga bilangannya dan tak terbatasi ukurannya. Allah berfirman,
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Apabila kalian berusaha untuk menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu menghingganya.” (QS. An-Nahl : 18)

Sesungguhnya nikmat Allah jalla wa ‘ala yang paling mulia, kenikmatan-Nya yang paling agung, dan pemberian-Nya yang paling besar adalah kenikmatan iman. Itulah kenikmatan terbesar dan anugerah teragung dari Allah tabaraka wa ta’ala kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.

Allah jalla wa ‘ala berfirman,
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Akan tetapi Allah itulah yang membuat iman terasa menyenangkan bagi kalian, membuatnya tampak indah di dalam hati kalian, dan yang membuat kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang lurus. Sebuah keutamaan dan kenikmatan yang datang dari Allah, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat : 7-8)

Wahai hamba-hamba Allah, iman merupakan sebab untuk meraih kebahagiaan dunia dan di akhirat. Dengan iman itulah, seorang akan bisa merasakan ketenangan dan ketenteraman, keteguhan hati dan ketenangan jiwa. Ketenteraman jiwa dan kebahagiaan manusia akan diperoleh dengannya. Demikian pula, kelezatan dunia dan akhirat akan tergapai dengannya.

Allah berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia adalah seorang mukmin, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka lakukan.” (QS. An-Nahl : 97)

Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- akan didapatkan surga beserta segala kenikmatan agung, anugerah yang besar, dan pemberian yang melimpah ruah yang ada di dalam surga. Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- akan tercapai keselamatan dari neraka dan segala siksaan yang sangat keras dan hukuman yang sangat menyakitkan yang terdapat di dalamnya. Dengan iman itulah -wahai hamba-hamba Allah- orang-orang yang beriman akan bisa merasakan nikmatnya memandang wajah Rabb Yang Maha Mulia subhanahu wa ta’ala, sementara kenikmatan itulah kenikmatan teragung yang akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman.

Allah berfirman,
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Pada hari itu, wajah-wajah berseri, mereka memandang kepada Rabbnya.” (QS. Al-Qiyamah : 22-23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan mengarahkan pembicaraannya kepada kaum yang beriman, “Sesungguhnya kalian pasti akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat nanti sebagaimana kalian melihat bulan pada saat malam purnama, kalian tidak perlu berdesak-desakan untuk bisa melihatnya.

Kenikmatan iman, faedah, dan pengaruhnya kepada orang yang beriman tidak terhitung jumlah dan ukurannya. Bahkan seluruh kenikmatan dan kebaikan yang diperoleh di dunia maupun di akhirat, maka itu semua adalah buah dan hasil dari keimanan. Sementara seluruh kejelekan dan bencana yang tersingkirkan dari manusia di dunia maupun di akhirat, maka itu semua merupakan buah dan hasil yang dipetik dari pohon keimanan. Oleh sebab itu -wahai hamba-hamba Allah- wajib bagi setiap mukmin yang telah mendapatkan kenikmatan iman dan diberi petunjuk oleh-Nya untuk memeluk agama ini, sudah semestinya dia semakin berpegang teguh, menjaga serta memeliharanya. Hendaknya dia meminta kepada Rabb Yang Maha Pemurah jalla wa ‘ala agar meneguhkan dirinya di atasnya hingga kematian tiba.

Allah berfirman,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Allah akan meneguhkan diri orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ibrahim : 27)

Kemudian -wahai hamba-hamba Allah- sesungguhnya keimanan itulah pemberian yang paling mulia dan paling agung sebagaimana diterangkan di dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barang siapa yang ingin mempelajari hakikat iman hendaknya dia mendalami Kitabullah al-’Aziz dan hadits-hadits Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan merujuk kepada keterangan-keterangan yang terkandung di dalam al-Kitab dan as-Sunnah serta mengikuti penjabaran yang ada di bawah naungan keduanya itulah dia akan bisa mempelajari keimanan.

Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Rasul-Nya yang mulia ‘alaihis sholatu was salam,
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengetahui apa itu Kitab, dan apa pula iman, akan tetapi Kami menjadikannya sebagai cahaya yang Kami gunakan untuk menunjuki siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya kamu benar-benar menunjukkan kepada jalan yang lurus.” (QS. As-Syura : 52)

Dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta penjabaran yang berada di bawah naungan keduanya itulah seorang mukmin akan bisa mempelajari keimanan dengan benar. Maka sungguh besar kebutuhan kita -wahai hamba-hamba Allah- untuk mempelajari iman dan menimba ajaran-ajarannya sebagaimana yang terkandung dalam hadits-hadits Rasul yang mulia ‘alaihis sholatu was salam dan senantiasa mengikuti bimbingan firman-firman Allah tabaraka wa ta’ala.

Saya ingin mengajak kalian -wahai saudara-saudaraku- untuk merenung barang sejenak mengenai perkara yang sangat penting yang semestinya kita perhatikan melalui beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan perihal iman.

Di antara hadits-hadits tentang iman itu -wahai hamba-hamba Allah- adalah hadits yang tercantum di dalam kedua kitab Shahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, pent) dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu di dalam kisah kedatangan Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam hadits itu disebutkan bahwa Jibril berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beritahukanlah kepadaku tentang iman.” Kemudian beliau menjawab, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa iman itu memiliki pokok-pokok utama dan asas yang kokoh yaitu enam pokok keimanan; iman kepada Allah tabaraka wa ta’ala, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari akhir, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Di antara hadits-hadits yang berbicara tentang iman -wahai hamba-hamba Allah- adalah hadits utusan Bani Abdu Qais yang tercantum di dalam dua kitab Sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang menceritakan bahwa utusan dari Bani Abdu Qais datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di antara daerah kami dengan daerah anda terdapat kabilah dari kalangan orang kafir Mudhar, sehingga itu membuat kami tidak bisa menemui anda kecuali hanya pada bulan haram, maka perintahkanlah kepada kami dengan pesan yang ringkas dan padat untuk kami kabarkan kepada orang-orang yang ada di belakang kami sehingga nantinya dengan itu kami bisa masuk ke dalam surga.” Maka Nabi ‘alaihis sholatu was salam bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian untuk beriman kepada Allah.” Kemudian beliau bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan iman kepada Allah ?Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah itu adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah -sembari beliau menghitungnya satu dengan jarinya- dan mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan hendaknya kalian menyerahkan seperlima dari hasil rampasan perang.

Di dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan iman dengan amal-amal lahir. Di dalam hadits Jibril beliau menafsirkan iman dengan keyakinan-keyakinan hati. Sedangkan, di dalam hadits utusan Abdu Qais ini beliau menafsirkan iman dengan amal-amal lahir. Ini menunjukkan bahwa kedua hadits tadi menggambarkan iman itu tersusun dari keimanan dan keyakinan yang benar yang tertanam di dalam hati, dan iman juga tersusun dari amal-amal anggota badan yang berupa amal-amal yang suci serta ketaatan yang akan bisa mendekatkan diri kepada Allah. Perkara terpenting di antara unsur keimanan yang tampak itu adalah mengucapkan dua buah kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah al-Haram. Maka, ketahuilah -wahai hamba-hamba Allah- bahwa sholat adalah bagian dari iman, puasa bagian dari iman, menunaikan zakat bagian iman, haji juga bagian dari iman, bahkan seluruh perkara tadi yang meliputi rukun Islam yang lima semuanya adalah bagian iman sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima hal; syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, bepuasa Ramadhan, haji ke Baitullah al-Haram.

Di antara keimanan yang wajib ada -wahai hamba-hamba Allah- adalah mencintai Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengedepankan kecintaan kepadanya di atas kecintaan kepada diri sendiri atau kecintaan kepada benda-benda berharga, demikian juga di atas kecintaan kepada orang tua, anak-anak, bahkan seluruh manusia.

Hal itu sebagaimana tertera di dalam dua kitab sahih dari hadits Anas radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua, anak-anaknya, dan seluruh umat manusia.

Di dalam Sahih Bukhari diceritakan bahwa berkata, “Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhuWahai Rasulullah, demi Allah sungguh anda lebih saya cintai daripada segala sesuatu kecuali diri saya sendiri.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri.Umar radhiyallahu’anhu pun mengatakan, “Demi Allah, sungguh anda sekarang lebih saya cintai daripada diri saya sendiri.” Kemudian beliau mengatakan, “Nah, sekarang baru benar wahai Umar.

Cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah sekedar ucapan yang dilontarkan dengan lisan, akan tetapi ia harus diwujudkan dengan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa saja yang beliau perintahkan, senantiasa membenarkan apa yang beliau kabarkan, serta menahan diri dari segala hal yang beliau larang dan cegah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rabb Yang Maha Mulia di dalam firman-Nya tabaraka wa ta’ala,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah : Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)

Termasuk dalam keimanan yang wajib -wahai hamba-hamba Allah- yaitu anda mencintai kebaikan bagi saudaramu sesama mukmin sebagaimana apa yang anda sukai untuk dirimu. Maka perasaan dengki, hasad, dan dendam, itu semua merupakan perkara yang mengurangi keimanan. Sebaliknya, sudah seharusnya anda memakmurkan hati anda dengan perasaan mencintai kebaikan bagi saudara-saudaramu yang beriman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana tercantum di dalam dua kitab Sahih dan kitab hadits lainnya dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa bersabda, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamTidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya.” Di dalam riwayat lain dengan tambahan, “Yaitu kebaikan.

Termasuk dalam keimanan -wahai hamba-hamba Allah- adalah menjaga amanat. Terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak sempurna iman pada diri orang yang tidak amanah.” Amanah -wahai hamba-hamba Allah- meliputi penjagaan terhadap ajaran-ajaran agama dengan senantiasa taat kepada Rabbul ‘alamin dan menjalankan perintah-perintah-Nya tabaraka wa ta’ala serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya. Amanah itu juga mencakup hak sesama hamba Allah, yaitu dengan menjaga hak-hak sesama, menyampaikan barang-barang titipan, menjauhi pengkhianatan, meninggalkan penipuan, dan meninggalkan berbagai jenis mu’amalah tidak benar yang lain.

Termasuk dalam keimanan pula -wahai hamba-hamba Allah- adalah meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan kemungkaran. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan imannya sempurna. Tidaklah mencuri seorang pencuri ketika dia mencuri dalam keadaan imannya sempurna. Tidaklah seorang meminum khamr dalam keadaan imannya sempurna ketika dia meminumnya. Tidaklah seorang merampas barang berharga sehingga membuat orang lain menyorotkan pandangan mata mereka kepadanya ketika dia melakukannya dalam keadaan imannya sempurna.” Hadits ini menunjukkan bahwa melarutkan diri dalam kemaksiatan-kemaksiatan ini dan melakukan dosa-dosa besar ini menyebabkan berkurangnya iman wajib. Sehingga tindakan meninggalkan zina, tidak meminum khamr, tidak merampas, tidak mencuri, itu semua merupakan bagian dari keimanan yang diwajibkan oleh Allah tabaraka wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan salah satu di antara perkara-perkara itu maka iman wajibnya telah berkurang sesuai dengan kadar dosa yang dia lakukan dan berbanding lurus dengan tingkat kemaksiatan yang dia kerjakan.

Termasuk di dalam keimanan pula -wahai hamba-hamba Allah- adalah bertaubat kepada Allah, inabah kepada Allah, dan kembali kepada Allah. Bahkan hal ini merupakan sesuatu yang dicintai oleh Allah jalla wa ‘ala untuk dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Allah membuka pintu taubat dan inabah untuk mereka. Dia lah Yang berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas kepada dirinya sendiri: Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua jenis dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)

Perkara wajib yang lainnya bagi kita -wahai hamba-hamba Allah- adalah hendaknya kita menjaga keimanan ini dengan sekuat-kuatnya dan kita pelihara ia dengan sebaik-baiknya. Itulah perhiasan sejati dan keindahan hakiki. Salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan keimanan dan jadikanlah kami orang-orang yang memberikan petunjuk dan senantiasa berjalan di atas petunjuk.

Aku ucapkan sebagaimana apa yang kalian dengarkan, dan aku meminta ampunan kepada Allah untuk diriku sendiri dan juga untuk segenap kaum muslimin dari segala dosa. Mintalah ampunan kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni kalian. Sesungguhnya Dia lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Yang begitu besar kebaikannya dan begitu luas karunianya, Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberikan kenikmatan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa as-habihi ajma’in wa sallama tasliman katsiran.

Amma ba’du, -wahai hamba-hamba Allah- bertakwalah kepada Allah ta’ala. Selanjutnya, di antara hadits-hadits agung lainnya yang menjelaskan tentang iman adalah hadits tentang cabang-cabang keimanan. Sebuah hadits yang sangat agung dan memiliki kedudukan yang sangat mulia, sebagaimana yang tercantum di dalam dua kitab Sahih dan selain keduanya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Iman itu tujuh puluh lebih cabang, yang tertinggi adalah ucapan la ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan cabang dari keimanan.” Hadits yang agung ini -wahai hamba-hamba Allah- menunjukkan bahwa iman itu ada yang berada di dalam hati, ada juga yang berada di lisan, dan ada pula yang berada di dalam perbuatan anggota badan. Iman yang tertinggi adalah ucapan la ilaha illallah, kalimat itu diucapkan dengan hati dalam bentuk keyakinan, dan diucapkan dengan lisan dalam bentuk lafaz dan perkataan yang disertai dengan ilmu terhadap artinya, pemahaman tentang kandungan hukumnya, serta merealisasikan maksud yang terkandung di dalamnya. Maka syahadat inilah bagian iman yang terpenting dan yang tertinggi kedudukannya.

Termasuk keimanan pula, menyingkirkan gangguan dari jalan. Sebuah amal yang dicintai Allah jalla wa ‘ala dan pelakunya akan mendapatkan pahala dengan balasan sebesar-besarnya, terlebih lagi apabila di dalam hati pelakunya terdapat perasaan mencintai kebaikan bagi saudara-saudaranya sesama orang yang beriman. Terdapat riwayat di dalam Kitab Sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada seorang lelaki yang melewati sebuah cabang pohon yang berduri -yang tergeletak di jalan, pent- lalu dia mengatakan, ‘Aku tidak akan membiarkan benda ini tergeletak di jalan kaum muslimin agar mereka tidak tersakiti olehnya.’ Lalu dia pun menyingkirkan benda itu dari jalan, maka Allah berterima kasih atas perbuatannya itu, kemudian Allah memasukkannya ke dalam surga.

Termasuk keimanan pula, perbuatan-perbuatan yang ada di dalam hati. Salah satu jenis perbuatan (amal) yang paling agung di dalam hati itu adalah rasa malu. Rasa malu merupakan cabang keimanan. Rasa malu yang terbesar adalah rasa malu kepada Rabbul ‘alamin dan Pencipta seluruh makhluk ini, Dzat Yang selalu melihat kamu ketika kamu dalam keadaan berdiri, Dzat Yang sama sekali tidak tersembunyi dari-Nya suatu perkara pun di bumi maupun di langit. Rasa malu kepada Allah jalla wa ‘ala, yaitu dengan menjaga kepala dan apa yang terpikir di dalamnya, menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya, serta dengan mengingat kematian dan masa tua. Perasaan malu yang akan menjadikan anda selalu menjaga ketaatan kepada Allah dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dilarang Allah tabaraka wa ta’ala kepadamu. bersabda, “Nabi ‘alaihis sholatu was salamSesungguhnya salah satu perkara yang diperoleh manusia dari ajaran kenabian yang pertama-tama adalah adalah; apabila kamu tidak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu.” Apabila rasa malu ini ada pada diri manusia maka kebaikan masih ada. Apabila rasa malu itu telah tidak ada maka kebaikan pun sirna. Kita berlindung kepada Allah darinya. Renungkanlah -wahai hamba-hamba Allah- hadits-hadits tentang iman yang diriwayatkan dari Rasul yang mulia ‘alaihis sholatu was salam, bersungguh-sungguhlah dalam memahaminya, menerapkan dan beramal dengannya.

Sesungguhnya aku memohon kepada Allah jalla wa ‘ala dengan nama-nama-Nya Yang Terindah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha tinggi untuk mewujudkan iman itu di dalam diriku dan diri kalian, semoga Allah memperindah diri kami dan diri kalian dengan perhiasan iman. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Semoga Allah memperbaiki bagi kita agama kita, yang hal itu merupakan pokok penjaga urusan kita. Semoga Allah memperbaiki urusan dunia kita, yang dunia itu merupakan tempat penghidupan kita. Semoga Allah memperbaiki akhirat kita, yang ia merupakan tempat kembali kita. Semoga Allah menjadikan sisa hidup kita sebagai tambahan dalam segala kebaikan, dan menjadikan kematian sebagai peristirahatan bagi kita dari semua keburukan. Aku juga meminta kepada-Nya jalla wa ‘ala untuk meneguhkan kita di atas keimanan.

Ya Allah, kepada-Mu lah kami berserah diri, kepada-Mu lah kami beriman, kepada-Mu lah kami bertawakal, kepada-Mu lah kami bertaubat dan taat, dan karena pertolongan-Mu lah kami melawan musuh (agama). Kami berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau, janganlah Engkau sesatkan kami. Engkau Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati. Sampaikanlah salawat -semoga Allah menjaga kalian- kepada imam seluruh manusia dan seorang da’i yang menyeru kepada iman, Muhammad bin Abdullah. Sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kalian di dalam Kitab-Nya, Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mengucapkan salawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah salawat kepadanya dan doakanlah baginya keselamatan yang sesungguhnya.” (QS. Al-Ahzab : 56).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa yang bersalawat kepadaku sekali maka Allah akan bersalawat kepadanya sepuluh kali.

Ya Allah, limpahkanlah pujian kepada Muhammad dan kepada pengikut Muhammad sebagaimana pujian yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan para pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berkahilah Muhammad dan para pengikut Muhammad sebagaimana keberkahan yang Engkau berikan kepada Ibrahim dan pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridailah khulafa’ur-rasyidin para imam yang berjalan di atas petunjuk, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq, Umar al-Faruq, Utsman Dzu an-Nurain, dan ayah dari kedua keponakan Nabi yaitu Ali. Kemudian ridailah ya Allah, para sahabat seluruhnya, para tabi’in dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat tiba. Ridailah pula kami bersama dengan mereka, berkat anugerah, kemurahan, dan kebaikan dari-Mu, wahai Dzat Yang Paling mulia di antara sosok-sosok yang termulia. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh-musuh agama ini dan jagalah keutuhan wilayah agama ini, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, curahkanlah keamanan bagi negeri kami.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami dan pemegang urusan-urusan kami dan jadikanlah pemerintah yang menguasai kami sebagai orang-orang yang senantiasa takut kepada-Mu dan bertakwa kepada-Mu serta mencari keridaan-Mu, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin urusan kami kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridai, bantulah dia dalam kebaikan dan ketakwaan dan luruskanlah dia di dalam ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, wahai Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada segenap pemerintah kaum muslimin untuk melaksanakan Kitab-Mu dan mengikuti Sunah Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya Allah, berikanlah kepada jiwa-jiwa kami ketakwaan dan sucikanlah ia, sesungguhnya Engkau adalah penguasa dan pemelihara atasnya.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk dan ketakwaan, terjaganya kesucian, dan kecukupan.
Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami, yang kecil maupun yang besar, yang dulu maupun yang terakhir, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, kaum muslimin dan muslimat, orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Ya Allah, ampunilah dosa para pelaku dosa dari kalangan kaum muslimin dan terimalah taubat dari orang-orang yang bertaubat. Tetapkanlah kesehatan, kekuatan, dan keselamatan bagi keseluruhan kaum muslimin.

Ya Allah, lepaskanlah kesedihan dari jiwa orang-orang yang dilanda duka di antara kaum muslimin. Bebaskanlah kesusahan orang-orang yang terlilit kesulitan, tunaikanlah hutang orang-orang yang terjerat hutang, sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan orang-orang sakit di kalangan kaum muslimin yang lain. Curahkanlah kasih sayang-Mu kepada orang-orang yang telah meninggal di antara kami dan kaum muslimin yang telah meninggal lainnya.


Ya Allah, damaikanlah persengketaan yang ada di antara kami, satukanlah hati-hati kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, dan keluarkanlah kami dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Berkahilah pendengaran dan penglihatan kami, makanan, harta, istri, dan anak keturunan kami. Jadikanlah kami senantiasa diberkahi di mana saja kami berada. Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jagalah kami dari siksa neraka. Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah kepada Allah niscaya Allah mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat Nya niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepada kalian. Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah perkara yang terbesar. Allah Maha Mengetahui apa pun yang kalian kerjakan.***


Khutbah Jum’at : Syaikh Abdur Razzaq al-Badr -hafizhahullah-

Penerjemah : Abu Mushlih Ari Wahyudi
Sumber Artikel : http://muslim.or.id
Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّر – وفي رواية: فيحسن الوضوء – ، ثُمَّ يُصَلِّى – وفي رواية: ركعتين –، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّه؛َ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ»، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Tidaklah seorang (muslim) melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bersuci – dalam riwayat lain : berwudhu dengan baik –, kemudian melaksanakan shalat – dalam riwayat lain : dua rakaat –, lalu meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni (dosa)nya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini (yang artinya), Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (QS. Ali ‘Imraan:135)” [1]

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan shalat dua rakaat ketika seorang bertaubat dari perbuatan dosa dan janji pengampunan dosa dari Allah Ta’ala bagi yang melakukan shalat tersebut. [2]

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini :
  • Agungnya rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, karena Dia mensyariatkan bagi mereka cara untuk membersihkan diri dari buruknya perbuatan dosa yang telah mereka lakukan.
  • Wajib bagi seorang muslim untuk selalu bertakwa kepada Allah Ta’ala, merasakan pengawasan-Nya, dan berusaha untuk menghindari perbuatan maksiat semaksimal mungkin. Kalau dia terjerumus ke dalam dosa maka hendaknya dia segera bertaubat dan kembali kepada Allah [3], agar Dia mengampuni dosanya, sebagaimana janji-Nya dalam firman-Nya :

    إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ، وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

    Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ : 17)
  • Yang dimaksud dengan “meminta ampun kepada Allah” dalam hadits ini adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh yang disertai sikap penyesalan atas perbuatan tersebut, menjauhkan diri dari dosa tersebut dengan meninggalkan sebab-sebabnya, serta tekad yang bulat untuk tidak mengulanginya selamanya, dan jika dosa tersebut berhubungan dengan hak orang lain maka segera dia menyelesaikannya. [4]
  • Imam Ibnu Hajar berkata, “Meminta ampun kepada Allah (hanya) dengan lisan, tapi masih tetap mengerjakan dosa (dengan anggota badan) adalah seperti bermain-main (dalam bertaubat). [5]
  • Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya orang yang beriman memandang dosanya seperti dia sedang berada di bawah sebuah gunung (besar) yang dia takut gunung tersebut akan menimpa (dan membinasakan)nya, sedangkan orang yang fajir (rusak imannya) memandang dosanya seperti seekor lalat yang lewat di (depan) hidungnya kemudian dihalaunya dengan tangannya (dinggapnya remeh dan kecil).[6]

    وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 6 Sya’ban 1431 H
Penulis : Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA. Artikel : www.muslim.or.id
  • [1] HR. at-Tirmidzi (no. 406 dan 3006), Abu Dawud (no. 1521), Ibnu Majah (no. 1395) dan Ahmad (1/8 dan 10), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/98) dan syaikh al-Albani, serta dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban (no. 623) dan syaikh Ahmad Syakir.
  • [2] Lihat keterangan imam Ibnu Hibban dalam kitab “Shahih Ibni Hibban” (2/389).
  • [3] Lihat kitab “Bugyatul mutathawwi’” (hal. 93).
  • [4] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (2/368).
  • [5] Kitab “Fathul Barii” (11/99).
  • [6] HSR al-Bukhari (no. 5949).
Dalam iklim demokrasi, rakyat diberikan hak yang lebih luas untuk menentukan pemimpinnya. Mulai dari Pilkades, Pilbup / Pilwali, Pilgub, Pileg, sampai Pilpres.

Barangkali Anda merasa lelah untuk terus memilih, namun bagaimanapun juga kita memiliki tanggung jawab terhadap kepemimpinan di negeri kita ini. Bagaimana kalau orang yang baik-baik tidak ikut memilih sementara mereka yang tidak baik dan tidak paham agama justru yang ikut memilih ? Tentu para pemimpin yang tidak baiklah yang akan menguasai kita semua.

Memang benar masyarakat yang sudah relatif mandiri mungkin merasa tidak akan secara signifikan dipengaruhi oleh siapa yang akan menjadi pemimpin, namun dalam konteks yang lebih besar dan lebih menyeluruh, baik pada level nasional maupun internasional, siapa yang memimpin akan benar-benar menentukan kemana negeri ini akan berjalan.
  • Apakah kita rela bisa hidup sejahtera namun sekian banyak saudara-saudara kita tetap bergelimang dalam kesusahan, dan hak-hak mereka terus-menerus dikebiri dan dikorupsi oleh para pemimpinnya ?
  • Apakah kita rela kekayaan negeri ini terus-menerus dieksploitasi oleh asing, sehingga tidak ada yang tersisa bagi anak negeri ini kecuali sangat sedikit ?
  • Apakah kita rela bisa hidup merdeka, namun negeri ini diam dan bungkam terhadap kezhaliman dan penjajahan yang masih bercokol di belahan bumi yang lain ?
Jika kita tidak rela, berarti kita harus menentukan para pemimpin kita, yang di tangan merekalah semua hal tadi ditentukan.

Lebih dari sekadar hak, menggunakan hal pilih dengan pilihan yang tepat adalah usaha yang bisa kita lakukan untuk mengubah negeri ini, yakni dengan memilih para pemimpin yang tepat. Sebab jika tidak, jangan-jangan akan muncul para pemimpin yang tidak baik, yang akan menguasai negeri ini.

Berbicara tentang pemimpin, Allah SWT. telah menjelaskan kepada kita bagaimana pemimpin yang baik itu, melalui beberapa contoh kepemimpinan yang Allah ketengahkan dalam kitab-Nya, Al-Qur’an.

Diantara sosok yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Musa AS. Dalam QS. Al-Qashash : 26, Allah SWT. berfirman :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata : "Wahai bapakku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (al-qawiyy) lagi dapat dipercaya (al-amin)."

Dalam ayat tersebut, Musa AS. disifati memiliki dua sifat yaitu al-qawiyy (kuat) dan al-amin (bisa dipercaya). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-quwwah yang bermakna kapabilitas, kemampuan, kecakapan, dan al-amanah yang bermakna integritas, kredibilitas, moralitas.

Sosok pemimpin lainnya yang disebutkan oleh Al-Qur’an adalah Yusuf AS. Dalam QS. Yusuf : 55, Allah SWT. mengabadikan perkataan Yusuf AS. kepada Raja Mesir :

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Yusuf berkata: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan."

Dari ayat diatas, kita mengetahui bahwa Yusuf AS. itu hafiizh (bisa menjaga) dan ‘alim (pintar, pandai). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-hifzh yang tidak lain berarti integritas, kredibiltas, moralitas, dan al-‘ilm yang tidak lain merupakan sebentuk kapabilitas, kemampuan, dan kecakapan.

Jadi kesimpulannya, kriteria pemimpin yang baik menurut Al-Qur’an adalah yang kredibel dan juga kapabel. Dua-duanya harus ada pada diri seorang pemimpin, bukan hanya salah satunya. Jika seorang pemimpin hanya kredibel tapi tidak kapabel, maka urusan akan berantakan karena diserahkan pada yang bukan ahlinya. Rasulullah SAW. bersabda, “Jika urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya,” Sebaliknya, jika seorang pemimpin hanya kapabel tapi tidak kredibel, maka dia justru akan ‘minteri’ rakyat, menipu rakyat, menjadi maling dan perampas hak-hak rakyatnya, dan tidak bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan. Dan jika para pemimpinnya bermoral rendah, bagaimana dengan rakyatnya ?

Dalam konteks saat ini di negeri kita ini, orang-orang berlomba-lomba untuk bisa meraih kekuasaan. Siapapun, yang baik ataupun yang tidak baik, yang berkualitas ataupun yang tidak berkualitas, yang bermoral ataupun yang tidak bermoral, yang kapabel ataupun yang tidak kapabel, semuanya berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan dukungan yang sebesar-besarnya, sehingga bisa terpilih dan duduk dalam kursi kekuasaan.

Dalam kondisi semacam ini, tidak mungkin seseorang bersikap diam dengan dalih bahwa Nabi berkata “meminta jabatan itu tidak boleh.” Sebetulnya, kata-kata Nabi itu adalah melarang orang yang tidak kredibel dan tidak cakap untuk meminta jabatan, lagipula di masa Nabi SAW. tidak ada sahabat yang minta-minta jabatan.

Kalau sekarang, kondisinya berbeda. Semua orang berlomba-lomba minta jabatan. Oleh karena itu, dalam kondisi semacam ini kita harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh Nabi Yusuf.


قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Yusuf berkata : ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf : 55)

Dia meminta karena dia memang mampu dan berkualitas, kredibel dan juga cakap.

Ditengah ramainya persaingan meraih kursi kekuasaan saat ini, jangan sampai kita terlena dan tertipu dengan berbagai macam bentuk usaha untuk mendapatkan dukungan.

Pertama, jangan sampai kita terjebak dalam money politic, yang tidak lain adalah usaha untuk menyuap rakyat. Mari kita tolak money politic, dan kita mengajak semua orang untuk memberantas praktek-praktek money politic.

Apakah kita rela dipimpin oleh orang-orang yang memberikan kepada kita 50 ribu untuk kemudian mencuri dan merampas hak-hak kita yang nilainya jauh lebih besar dari itu ?

Kedua, kita harus jeli dalam melihat kualitas calon-calon pemimpin kita. Kita harus bisa melihat secara lebih obyektif. Jangan mudah tertipu dengan lips service atau abang-abang lambe, apalagi sekedar janji-janji kosong.

Mari kita melihat track record para kandidat tersebut. Sejauh ini, apa saja yang telah mereka lakukan. Karya nyata apa yang bisa mereka persembahkan. Dan harapan apa yang bisa digantungkan ke pundak mereka. Mari kita lihat semuanya dengan jeli dan obyektif, baik itu orang-orangnya maupun partainya.

Wallahu a'lam.***

[Sumber tulisan = http://menaraislam.com]
Ikhlas adalah satu kata yang mudah diucapkan tetapi sulit ditanam di hati. Banyak orang mengatakan bahwa dirinya ikhlas dalam beramal, ikhlas dalam melaksanakan ibadah, ikhlas membantu orang lain. Namun, di lubuk hatinya ia terpaksa dan mengharapkan imbalan serta pujian. Bantuan atas nama lembaga tertentu, pelayanan atas nama orang tertentu, imbalan hadiah atas nama kelompok tertentu, sering dijadikan misi untuk mendapatkan sikap hormat dan simpati orang lain sekaligus sebagai tameng atas kepentingan pribadinya.

Menurut Al-Qur'an, bukanlah kerja keras, bukan kelelahan, bukan pula mencapai penghormatan atau cinta dari orang lain yang disebut sebagai kriteria keunggulan, melainkan keyakinan mereka akan Islam, amal baik yang mereka kerjakan untuk mendapatkan keridhaan Allah, dan niat baik yang terpelihara dalam hati. Itulah yang disebut kriteria yang unggul di hadapan Allah. Sebagaimana Firman Allah,

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj : 37)

Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah, tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apa pun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling kepada Allah dengan hatinya dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap perbuatan, langkah, kata-kata, dan doanya. Jadi, ia benar-benar yakin kepada Allah dan mencari kebajikan semata. Untuk mendapatkan itu semua, keikhlasan tidak datang dengan sendirinya. Keikhlasan adalah suasana hati yang harus diusahakan setiap Muslim.

Tidak mudah memperoleh keikhlasan dalam diri seorang Muslim. Untuk mendapatkannya, seseorang harus memahami mengapa keikhlasan itu penting ? Ia harus memiliki keinginan untuk mendapatkan tingkat keikhlasan tersebut. Karena siapa pun yang gagal memahami keikhlasan, ia dapat mencari kekuatan dan kekuasaan dengan hal-hal yang bersifat keduniawian. Ia akan mengejar dunia untuk mendapatkan martabat sosial.

Akan tetapi, tak ada satu pun hal di atas yang dapat memberikan kekuatan dan kekuasaan yang sesungguhnya, tidak di dunia ini ataupun di hari akhir. Badiuzzaman Said Nursi mengingatkan para Mukmin sejati bahwa kekuatan di dunia dan di akhirat itu, hanya didapatkan melalui keikhlasan. Ia menyatakan, "Engkau harus tahu bahwa semua kekuatanmu ada dalam keikhlasan dan kebenaran. Ya, kekuatan ada di dalam kebenaran dan keikhlasan. Bahkan, bagi mereka yang salah mendapatkan kekuatan dari keikhlasan dalam kesalahan mereka. Bukti bahwa kekuatan ada di dalam kebenaran dan keikhlasan adalah apa yang kita kerjakan untuk Allah SWT. Sedikit keikhlasan di dalam karya kita membuktikan pernyataan ini dan bukti keikhlasan itu sendiri." Oleh karena itulah, siapa pun yang melupakan prinsip ini dan mengejar materi-materi yang disebutkan di atas, ia tidak murni mencari keridhaan Allah.

Diantara cara untuk memperoleh keikhlasan adalah dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Ia harus mendedikasikan dirinya kepada Allah, dengan kecintaan yang mendalam setelah memahami kebesaran-Nya. Bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah. Bahwa hanya Allah yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan yang memelihara makhluk hidup dengan penuh kasih. Dengan demikian, ia menyadari teman sejatinya di dunia dan di akhirat hanyalah Allah. Oleh karena itu, keridhaan Allah adalah satu-satunya pengakuan yang harus dicari. Rasa takut kepada Allah muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya. Seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah dan kekuatan abadi-Nya, akan mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya sebagai bagian dari keadilan Ilahi, jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya sesuai dengan keinginan Allah.

Cara lain untuk memperoleh keikhlasan adalah dengan mengharapkan balasan hanya dari Allah SWT. Perbuatan baik yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan materi dan sosial daripada balasan dari Allah, hanya akan mendatangkan kerugian. Bahkan, jika seseorang bertahun-tahun mengabdi kepada Allah dengan pola pikir demikian, ia tidak pernah dapat berharap mendapatkan keikhlasan sejati sampai ia berusaha hanya untuk mendapatkan ridha-Nya. Bagaimanapun, ibadah apa pun bila dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah, pasti akan membuahkan balasan surgawi. Dengan kata lain, satu-satunya alat keselamatan dan pembebasan adalah keikhlasan. Ini adalah yang paling penting untuk mendapatkan keikhlasan. Perbuatan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan adalah lebih baik daripada perbuatan besar yang dilakukan tanpa keikhlasan. Seseorang harus berpikir, yang membuat ikhlas dalam perbuatannya adalah melakukannya dengan murni dan tulus karena perintah Allah dan bahwa tujuan mereka adalah keridhaan Allah.

Keikhlasan juga dapat diperoleh dengan cara menguatkan hati nurani. Kata hati adalah kekuatan yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia, untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka. Kata hati mengingatkan manusia akan setan yang ada di dalam jiwa mereka dan segala macam sikap serta tingkah laku yang tidak sesuai dengan Al-Qur'an. Apa pun kondisinya, seseorang yang mendengarkan suara hatinya akan dapat mencapai keikhlasan. Keikhlasan berarti kemampuan untuk memakai hati nurani seseorang seefektif mungkin. Ini juga berarti seseorang tidak boleh mengabaikan kata hatinya, bahkan di bawah pertentangan pengaruh luar atau nafsu rendahnya.

Karena alasan inilah, seseorang yang berharap untuk mendapatkan keikhlasan, pertama-tama harus menentukan apakah ia memakai hati nuraninya dengan baik atau tidak. Jika ia menekan kata hatinya terus-menerus, tidak mendengarkan suaranya, dan secara sengaja menuruti nafsu rendahnya, ia tidak memakai hati nuraninya sesuai dengan Al-Qur'an. Yang lebih penting lagi, seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur'an,

بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya," (QS. Al-Qiyaamah : 14-15)

Setiap manusia secara naluri mengetahui, bisikan yang terdengar adalah suara hati nuraninya dan alasan-alasan yang ia ajukan untuk mengabaikan suara tersebut. Yang tidak kalah pentingnya, keikhlasan diharapkan dapat diperoleh dengan memahami, kehidupan dunia adalah sementara. Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa manusia enggan memikirkan atau menerima realitas kematian, kenyataan bahwa manusia akan mati adalah satu kebenaran mutlak. Dalam hal apa pun, kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara sifatnya. Setiap orang diturunkan ke dunia ini untuk diuji dalam rentang waktu berkisar antara tujuh belas sampai tujuh puluh tahun. Oleh karena itu, akan menjadi satu kesalahan yang besar bagi seseorang mendasarkan rencana hidupnya hanya untuk dunia, untuk menerima persinggahan yang sebentar ini sebagai kehidupan sejatinya, dan untuk melupakan akhirat di mana ia akan hidup selamanya.

Akhirnya, seseorang yang selalu melakukan sesuatu dengan ikhlas, tidak hanya akan sukses dan menikmati kedamaian pikiran di dunia ini, tetapi juga mendapatkan balasan di hari akhir. Karena orang yang demikian tidak bergantung pada harta duniawi, kekuasaan, dan kehormatan sosial, tetapi hanya bergantung pada Allah, keimanan, hati nurani, dan keikhlasannya.***

[Ditulis oleh : USEP SAEFUROHMAN, koordinator umum Kajian Ilmu Muslim Muda (KIMM) Kabupaten Bandung, pegiat kajian Islam Ilmiah Pemuda Yayasan Pesantren Islam (YPI) Wilayah Pacet Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 1 April 2011 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]