Karena mengharapkan pahala dari shalat berjama'ah yang 27 (dua puluh tujuh) kali lipat dibandingkan dengan melakukan shalat sendirian, maka para sahabat berduyun-duyun menjadi makmum di belakang Mu'adz bin Jabal untuk mengerjakan shalat Isya. Sebagai Imam, Mu'adz ingin menunjukkan kebolehannya. la membaca surat Al-Baqarah sampai tamat pada rakaat yang pertama dengan keinginan agar pahalanya lebih besar. Semua yang menjadi makmum mendongkol dalam hati mereka, karena surat Al-Baqarah panjang sekali, hingga kaki segenap jama'ah gemetaran akibat terlalu lama berdiri.

Selesai raka'at yang pertama, para sahabat menyangka dan mengharap mudah-mudahan yang akan dibaca pada raka'at yang kedua adalah surat yang pendek saja. Ternyata tidak. Mu'adz mengumandangkan ayat seperti pada raka'at yang pertama yaitu dari surat Ali Imran mulai dari ayat pertama sampai ayat terakhir. Kaki para makmum tambah bergetar karena terlalu penat. Sesudah salam mereka berhamburan keluar dengan muka kecut. Bayangkan, shalat dimulai sekitar jam delapan, baru selesai pada jam sebelas malam.

Esoknya, mereka mengadu kepada Rasulullah Muhammad SAW. tentang shalat Isya semalam yang telah membikin mereka kehabisan tenaga setengah mati. Rasulullah SAW. pun segera memanggil Mu'adz. Sahabat ini menyangka Rasulullah SAW. bakal memujinya, ternyata tidak. Beliau malah memperingatkan supaya bila berdiri di muka jama'ah selaku imam, hendaklah shalatnya diringankan, jangan terlalu lama tetapi juga jangan terlalu cepat. Sebab, di antara makmum ada orang tua, ada yang sakit, dan ada pula yang sedang terlibat oleh suatu urusan. Hal ini untuk menjaga agar makmum tidak membenci imamnya.

Rasulullah Muhammad SAW. pernah mengatakan bahwa "Barang siapa menjadi pemimpin suatu jama'ah, sedanqkan jama'ah itu tidak suka kepadanya, maka shalat imam tersebut tidak akan naik melebihi batas kepalanya." Oleh sebab itu, Rasulullah SAW. mengatur melalui shalat jama'ah supaya imam dan makmum, pemimpin dan yang dipimpin, sama-sama menaati peraturan shalat. Lantaran kepatuhan makmum kepada imam bukanlah keta'atan membabi-buta dengan melihat siapa imamnya, melainkan kedisiplinan terhadap hukum yang disepakati bersama.

Karena itu, jika imam salah atau keliru, makmum harus meperingatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh peraturan shalat jama'ah. Dan semua gerakan imam yang termaktub dalam peraturan harus ditaati dan diikuti, siapa pun imamnya dan siapapun makmumnya. Sebaliknya pada gerakan imam yang bersifat pribadi, para makmum dilarang untuk mengikutinya seperti garuk-garuk kepala atau bersin.

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[Disalin dari Buletin Da'wah "AL-FATIHAH" Edisi 270 Tahun ke-7 (2010 M/ 1431 H)]
Abu Sulaiman Darami berkata, "Jangan sekali-kali engkau bersahabat kecuali salah satu dari dua macam ini. Pertama, orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan duniamu dengan jujur. Dan, kedua orang yang karena bersahabat dengannya engkau memperoleh kemanfaatan untuk urusan akhiratmu."

Islam sangat menjunjung tinggi persahabatan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. : "Tidakkah engkau beriman sehingga engkau mencintai sesama saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri." Wujud refleksi cinta bukan hanya dalam sikapnya untuk selalu membela sesama saudaranya, tetapi tampak pula dari tutur katanya yang lemah lembut, caranya bicara yang sangat waspada. Dia takut apabila ada orang lain tersakiti hatinya karena lidahnya, walau dalam bercanda atau senda gurau sekalipun. Lihatlah tanda-tanda persaudaraan itu; ketika kita memberi sesuatu maka dia akan menerimanya dengan rasa haru. Ketika kita dalam kesulitan, dialah orang pertama yang menawarkan diri untuk meringankan beban. Ketika dalam kegelapan, dialah manusia paling merasa bersalah karena merasa tidak memberikan pelita.

Penderitaannya bukanlah karena dirinya lapar atau sakit merintih dalam rasa nyeri. Penderitaan yang dia rasakan adalah ketidak berdayaannya ketika melihat saudaranya kedinginan mengerang kelaparan; menanggung beban hidup berkepanjangan. Kebahagian baginya adalah apabila dia bisa bagaikan cahaya yang menerangi sekitarnya.

Renungkanlah, ketika Rasulullah SAW. menjerit karena sakit yang tak tertahankan tatkala malaikat mencabut nyawa Beliau. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Tubuh Rasulullah SAW. mulai dingin, kaki dan dada beliau sudah tak bergerak. Bibir beliau bergetar seakan hendak menyampaikan sesuatu. Saydina Ali bin Abi Thalib RA. segera mendekatkan telinga beliau. "Uushikum bishshalati, wa ma malakat aimanukum (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu)." Puteri kesayangan beliau, Sayyidatina Fatimah az-Zahra, menutupkan tangan ke wajahnya, sementara Saydina Ali bin Abi Thalib RA. kembali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, "Ummatii, ummatii, ummatii (umatku, umatku, umatku)," bisik Rasulullah SAW.

Begitulah ketulusan cinta Rasullah SAW. kepada kita. Di antara sakaratul maut Beliau, kita sebagai umat yang pertama kali diingatnya. Betapa ikhlasnya perjuangan dan pengorbanan Rasulullah SAW.; hanya berharap dapat memberikan kebaikan yang terbaik bagi kita. Sebagai umatnya, sudahkah kita bisa dengan tulus mengasihi sesama, seperti dicontohkan Beliau ?

Lihatlah sekeliling kita; banyak nian sahabat bahkan kawan-kawan kita yang masih akrab dengan kesulitan hidup bahkan hanya untuk berteduh pun, mereka tak punya tempat yang pantas dan layak. Akankah kita berdiam diri dan menutup mata dengan realitas kehidupan seperti ini...?

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[Disalin dari Buletin Da'wah "AL-FATIHAH" Edisi 270 Tahun ke-7 (2010 M/ 1431 H)]
Kita sering mengiringi jenazah ke pemakaman. Pada saat itu mungkin kita menjadi ingat bahwa kita nanti juga menyusul dia. Akan tetapi, biasanya hanya sebagian kecil dari kita yang dapat terus mengingat itu, sedangkan pada umumnya tidak akan lama mengingat hal itu, dan bahkan akhirnya melupakannya.

Mengapa manusia sering lupa mengenai kematian yang pasti akan menimpanya ? Hal ini mungkin disebabkan oleh ingatan kita sudah tertutup dengan ingatan yang lain, atau karena adanya perkara hidup lain yang harus diselesaikan atau ditangani. Lupa mati tersebut bisa berlangsung lama dan bisa sampai waktu masa hidup ini habis. Tahu-tahu dirinya berhadapan dengan mati yang datangnya tidak dapat diduga, yaitu saat nyawanya dicabut. Bahkan ada sebagian dari manusia yang ingin menghindar atau tidak mau menemuinya. Allah SWT. berfirman : "Katakanlah, sesungguhnya mati yang kamu menghindar daripadanya, maka sesungguhnya akan menemuimu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu akan diberitakan kepadamu mengenai apa-apa yang kamu kerjakan (selama hidup di dunia)." (QS. Jumu'ah : 8)

Setiap orang pasti akan menemui mati, hanya waktunya berbeda-beda. Tidak seorang pun yang dapat mengetahui kapan datangnya. Sebagaimana firman Allah : "Allah SWT. tidak menangguhkan diri seseorang ketika datang ajalnya (matinya), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun : 11)

Mengapa manusia harus mati, itu sudah menjadi sunatullah atau ketentuan Allah. "Setiap diri akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan hidup. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. Al-Anbiya : 35) Ujian ini akan dirasakan oleh setiap manusia, baik yang berupa keburukan maupun kebaikan dan kemudian dirinya akan menentukan langkah-langkah untuk menghadapinya, melangkah sesuai dengan yang ditunjukkan Allah, atau melangkah ke arah yang makin menjauhi petunjuk-Nya. Setiap manusia akan menentukan langkahnya (perbuatan atau amalnya) sesuai dengan pilihannya sendiri. "Dia (Allah) menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih bagus amalannya." (QS. Al-Mulk : 2)

Karena amal menjadi titik timbangan dalam hidup ini, maka untuk amal buruk perlu cepat dihindari dan ditinggalkan, tetapi untuk beramal saleh hendaknya jangan ditunda-tunda dan perlu segera dikerjakan. Jika keadaannya cukup dan sudah datang waktunya, maka untuk amal saleh perlu segera dikerjakan karena saat dan tempat kematian tidak dapat diketahui oleh siapa pun. "Tidak mengetahui seseorang di bumi mana dirinya mati." (QS. Luqman : 34)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar, Rasulullah Muhammad SAW. bersabda : "Keberadaan kamu di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang sedang mengembara. Apabila kamu berada pada waktu sore, janganlah kamu menunggu waktu pagi, dan jika kamu berada pada waktu pagi, janganlah kamu menunggu waktu sore. Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang waktu matimu."

Hal ini berhubungan dengan amal saleh. Oleh karena itu, Allah SWT. sering menyeru agar dalam hidup manusia selalu dalam ketakwaan sehinga saat mati menjemputnya dirinya selalu tetap dalam kebaikan (ketaqwaan). Sebab pada hari bangkit dari kubur nanti, keadaan manusia sesuai dengan pada saat matinya, dalam keadaan yang baik atau dalam keadaan yang buruk, semuanya akan terlihat dari wajahnya masing-masing. Rasulullah Muhammad SAW. bersabda : "Setiap hamba akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan keadaannya ketika dia mati." (HR. Muslim)

Oleh karena itu, hendaknya dalam kehidupan di dunia ini jangan sampai lupa diri, tetapi usahakan untuk mempersiapkan diri menghadapi mati, yaitu dengan memperbanyak amal yang baik seoptimal mungkin. Bahkan kalau bisa melakukan amal yang nantinya dapat berlanjut mengalir untuk dirinya walaupun dirinya sudah tiada, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW. : "Apabila telah mati manusia maka putuslah amalnya, kecuali 3 (tiga) perkara : sedekah jariah (seperti mendirikan rumah ibadah atau masjid), atau ilmu yang bermanfaat (ilmu baiknya disampaikan dan diamalkan oleh orang lain), atau anaknya yang saleh yang mendoakannya."

Artinya setelah mati, manusia tidak dapat beramal saleh lagi, kecuali 3 (tiga) hal tersebut, yang akan tetap diperolehnya atau mengalir menjadi amal saleh bagi dirinya.

Walaupun mati itu pasti datangnya, tetapi manusia dilarang untuk sengaja menghabisi hidupnya, seperti dengan mati bunuh diri. Melakukan hal ini umumnya karena adanya keputusasaan (depresi mental) dan ini termasuk melakukan keburukan. Allah berfirman : "Laa taqnathu min rahmatillah" (janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah SWT." (QS. Az-Zumar : 53)

Berputus asa ini bukan hanya dilarang, bahkan berangan-angan berharap untuk mati pun juga dilarang. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, yang bersumber dari Anas RA., Rasulullah Muhammad SAW. bersabda : "Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mengharapkan mati. Apabila ia orang baik, masih ada kemungkinan dapat menambah kebaikan, dan apabila dia orang jahat, mungkin dia akan berhenti dari kejahatannya."

Akan tetapi seandainya terpaksa ada derita yang diterimanya, hendaknya berdoa dengan : "Allahumma ahyinii maa kaanatil hayyatu khairan lii, watawaffanii idzaa kaanatil wafaatu khairan lii (ya Allah, panjangkanlah hidupku ini jika hidup ini lebih baik bagiku. Dan matikanlah andaikan mati itu lebih baik bagiku)." (HR. Bukhari dan Muslim)***

[Ditulis : H. MUTA'ALIM MINHAJ, Pembina Masjid Sabiilul Muttaqiin, Lembaga Pengkajian Islam Masjid Salman ITB, Dewan Tafkir Persis Pusat, IPAHI Masjid Istiqamah, dan pengarang buku "Manajemen Batin dan Tazkiatun Nafs" serta tulisan ini disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi hari Jumat (Manis) 19 Maret 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Al-Quran menegaskan, setiap Muslim sekurang-kurangnya mempunyai 5 (lima) keterikatan atau komitmen dengan Islam, yakni Keterikatan iman, Keterikatan amal, Keterikatan ilmu, Keterikatan dakwah, Keterikatan sabar. Hal itu secara lengkap terangkum dalam QS. Al 'Ashr, yang artinya : "Demi Waktu. Setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati dalam jalan ketakwaan serta saling menasihati dalam kesabaran."

Semakin panjang usia seseorang, makin besar pula (kemungkinan) kerugian yang akan dideritanya. Dalam saling menasihati terkandung pengertian ilmu bagi mereka yang mendapat wasiat/nasihat. Sementara bagi yang menyampaikan nasihat terkandung makna dakwah.

Iman merupakan sesuatu yang tidak bisa dilihat indra dan amal batin yang tidak bisa diamati. Namun ada beberapa indikator yang dapat menunjukkan seseorang beriman atau tidak, yakni pada komitmen amal, ilmu, dakwah, dan sabar. Maknanya, kualitas iman seseorang akan tampak dalam ilmu, amal, dakwah, dan kesabarannya dalam menjalani kehidupan.

Tak benar apabila ada yang mengatakan "sebenarnya orang itu beriman, tetapi salat Subuh selalu kesiangan" atau "imannya luar biasa, hanya semangat belajarnya kurang". Tidak benar pula apabila ada orang mengaku beriman, tetapi tidak bisa menahan amarah atau tidak bersabar menghadapi ujian. Itu menunjukkan iman orang itu belum kuat.

Apabila kita membuat persentase dari ke-4 (empat) sikap di atas tadi (amal, ilmu, dakwah, dan sabar), masing-masing bernilai 25 %. Kita bisa mengukur berapa persenkah iman yang ada dalam diri kita. Apabila seseorang baik amal, ilmu, dan tinggi semangat dakwahnya, tetapi tidak bersabar, kira-kira keimanannya baru 75 %. Demikian juga bila ilmunya masih kurang, amal lemah, tetapi dakwahnya cukup kuat, maka bisa jadi imannya baru 25 %.

Dengan demikian, iman bisa menebal dan menipis bergantung pada keadaan dan pembinaan. Dengan amal sungguh-sungguh, kita pasti medapat kepuasan rohani dan hidup terasa lebih nikmat. Banyak orang yang merasakan kenikmatan saat shalat Tahajud di tengah malam.

Imam Al Ghazali yang terkenal dengan Kitab Ihya Ulumuddin-nya dan telah sampai pada tingkatan saadah atau bahagia saat berdialog dengan Allah, pernah ditanya murid-muridnya. "Mengapa Tuan Guru menanngis ? Apakah ada persoalan yang menyakitkan hati ?" Lalu, Imam Al Ghazali menjawab, "Aku sedih karena tidak melaksanakan shalat Tahajud tadi malam." Murid-muridnya malah bingung. "Tidak mendirikan shalat Tahajud Anda menangis, padahal banyak yang tidak shalat Tahajud dan tidak pernah menangis," kata muridnya. "Justru dengan shalat Tahajud aku menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup," kata Imam Al Ghazali.

Selain melalui amal, keimanan juga bisa dipertebal dengan ilmu karena akan bertambah, yakin akan kebenaran Islam. Tentu kita harus memperhatikan sumber ilmunya karena pelajaran tauhid sampai kini belum mampu secara maksimal menumbuhkan keyakinan para siswa / mahasiswa. Ketika ditanya alasan masuk Islam, maka rata-rata siswa / mahasiswa tak bisa menjawabnya.

Jalan lain mempertebal keimanan dengan dakwah. Secara umum dakwah setara dengan jihad yang kini banyak disalah artikan. Jihad identik dengan kekerasan dan perang. Padahal, jihad bermakna perang hanya sebagian kecil dari makna jihad yang luas. Memerangi hawa nafsu adalah jihad. Tidak melakukan maksiat, seperti korupsi, juga jihad.

Setidaknya Al-Quran menyebut ada 4 (empat) aspek keimanan sebagai berikut :
  1. Pertama, keyakinan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar (QS. Ali Imran : 18 dan 85). Seseorang yang mengatakan semua agama adalah baik, maka harus diragukan keislamannya. Kita harus mengatakan Islam agama yang benar dengan tetap menjaga toleransi kepada agama lain.
  2. Kedua, kita harus yakin Islam merupakan agama universal yang bukan hanya dibawa Nabi Muhammad SAW., melainkan nabi-nabi sebelumnya. Perbedaan di antara nabi adalah pada tataran syariat dan menyangkut hubungan antar manusia.
  3. Ketiga, keyakinan Islam sebagai agama terakhir dan tidak ada lagi ajaran sesudahnya. Kalau pun ada "produk" baru sebatas ijtihad atau inovasi alim ulama yang tetap bersandar kepada Al-quran dan hadits. "Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu dan Ku-ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. Al Maidah : 3)
  4. Keempat, keyakinan akan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW. merupakan penyempurna bagi syariat yang dibawa para nabi sebelumnya. Al-Quran banyak memuat ayat yang berisi koreksi terhadap kesalahan-kesalahan syariat terdahulu, seperti persoalan yang menyangkut Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan nabi-nabi lainnya.***
[Ditulis oleh : KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, Ketua Yayasan Unisba, dan Pembimbing Haji dan Umrah SAFARI SUCI, disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 18 Maret 2010 pada kolom "CIKARACAK"]
NASIHAT SPRITUAL
HAZRAT MAULANA SYEIKH ABDUL QADIR AL JILANI

Shalat Syari'ah, anda sudah tahu sebagaimana tersurat dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah : 238 sebagai berikut : "Peliharalah shalat-shalat (mu)......" yang dimaksud shalat disana tentu ada rukun-rukun shalat secara lahiriyah dengan gerakan-gerakan jasmani, seperti berdiri, ruku', sujud, duduk, suara dan lafadz yang diucapkan. Semua itu masuk dalam ayat, "Peliharalah…."

Sedangkan Shalat Thoriqoh, adalah shalatnya qalbu, yaitu shalat yang diabadikan. Masih dalam ayat yg sama : "Dan (peliharalah) Shalat Wustho (shalat yang di tengah)......", yaitu shalatnya qalbu, karena qalbu itu diciptakan posisinya di tengah, antara kanan dan kiri, antara bawah dan atas, antara bahagia dan sengsara, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. : "Qalbu berada diantara 2 (dua) Jemari dari jemari-jemari Ar-Rahman, dimana Allah membolak-balikkannya semau-Nya…" (HR. Muslim, dan juga dikutip oleh Al-Ghazali dalam Al-Ihya'). Sedangkan yang dimaksud dengan 2 (Dua) Jemari2 (dua) sifat-Nya, Al-Qahr (Yang Maha Memaksa) dan Al-Luthf (Yang Maha Lembut), sebab Allah Maha Suci dari Jemari-jemari. Maka menjadi jelas maksud ayat tersebut adalah Shalat Qalbu. Apabila Shalat Qalbu rusak, maka Shalatnya pun rusak termasuk shalat jasmaninya, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. : "Tidak ada shalat melainkan dengan hati yang hadir di hadapan Allah."

Orang yang shalat adalah bermunajat kepada Tuhannya, dan tempat munajat itu qalbu (hati). Jika hatinya alpa, maka rusak pula shalatnya. Hati adalah pokoknya, yang lain hanyalah pengikutnya, sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW. : "Ingatlah ! Sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila ia bagus maka bagus pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ingatlah, daging itu adalah qalbu…" (HR. Bukhori).

Shalat syariat itu ada waktunya, setiap sehari dan semalam, sebanyak 5 (lima) kali. Disunnahkan berjama’ah di masjid dan harus menghadap Ka’bah, mengikuti iman, tanpa ada sikap pamer dan popularitas.

Sedangkan Shalat Thoriqoh itu adalah Dzikrullah sepanjang hidup. Masjidnya adalah qalbunya. Jama’ahnya adalah perkumpulan kekuatan-kekuatan batin, untuk sibuk terus menerus mengingat Nama-nama Allah dan mentauhidkan Allah dengan lisan batin. Imamnya adalah rasa rindu dalam spirit qalbu (Fuad). Dan kiblatnya adalah Al-Hadrah al-Ahadiyah (Manunggal hamba-Allah dalam Keesaan-Nya) dan Keindahan Shomadiyah-Nya, itulah kiblat Hakikat.

Qalbu dan Ruh sibuk dengan shalat Thoriqoh ini sepanjang zaman. Karena Qalbu tidak mati dan tidak tidur. Ia sibuk dalam tidur dan jaga dengan kehidupan qalbu, tanpa suara, tanpa berdiri dan tanpa duduk. Itulah yang disebut oleh Allah SWT. "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan…" (QS. Al-Fatihah : 5)

Dalam Tafsir Al-Baidhowi, Anwarut Tanzil wa Asdrorut Ta’wil, beliau mengatakan : "Dalam ayat tersebut ada isyarat bagi orang yang ma'rifat kepada Allah, dan transformasinya dari kondisi dimana ia tidak hadir jiwanya menjadi hadir di hadapan Allah Ta'ala. Maka ia berhak mendapatkan tugas ini, sebagaimana sabda Rasululllah SAW. : "Para Nabi dan para wali senantiasa shalat dalam kuburnya sebagaimana mereka shalat di rumah-rumah mereka." Maksudnya mereka terus sibuk bersama Allah dan munajat bagi kehidupan qalbunya.

Bila Shalat Syariat dan Shalat Thoriqoh telah berpadu, lahir dan batin, maka sempurnalah shalatnya, dan meraih pahala yang agung dalam taqarrub dengan alam ruhaninya. Dan dia juga meraih derajat jasmaniyah, lalu si hamba menjadi seorang 'abid secara dzohir, dan 'arif secara batin. Jika seseorang tidak berhasil shalat Thoriqoh dengan hati yang hidup, maka ia tergolong tidak sempurna, dan pahalanya tidak sampai pada derajat taqarrub kepada Allah Ta’ala.

[Disalin dari : http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/nasihat-sultan-auliya-syyaikh-abdul-qodir-al-jilani-qsa/]
Ternyata resep membangun keluarga sakinah tidak berubah. Dalam kondisi zaman apapun, jika petunjuk Rasulullah SAW. diikuti, maka pada keluarga itu akan terbangun benteng yang tahan terhadap penyakit sosial. Berikut ini terdapat beberapa tingkatan kualitas keluarga menuju sakinah.

Pertama, kualitas mutiara. Mutiara tetaplah mutiara meski terendam puluhan tahun di dalam lumpur. Keluarga yang berkualitas mutiara, meski hidup di zaman yang rusak atau tinggal di lingkungan sosial yang rusak, ia tetap terpelihara sebagai ketuarga yang indah dengan pribadi-pribadi yang kuat. Keluarga ini memiliki mekanisme dan sistem dalam pergaulan sosial yang menjamin keutuhan kualitasnya meski di tengah masyarakat yang tak berkualitas.

Kedua, kualitas kayu. Kursi kayu akan tetap kuat dan indah jika berada dalam ruang yang terlindung, tetapi jika terkena panas dan hujan, lama kelamaan akan rusak. Model keluarga seperti ini sepertinya terpengaruh oleh lingkungan negatif masyarakatnya, tetapi sebenarnya yang terpengaruh hanya lahirnya saja, mungkin hanya mode pakaiannya, hanya kemasan lahirnya, sedangkan etosnya, semangatnya, komitmennya, keteguhannya tidak terlalu terusik oleh situasi sosial. Kerusakan lahir keluarga ini dapat segera diperbaiki dengan sedikit shock therapy, dengan sedikit pendisiplinan kembali, seperti kursi yang rusak karena kehujanan bisa diperbaiki dengan di politur kembali.

Ketiga, kualitas kertas. Apalagi sekelas kertas tissue, ia segera akan hancur jika terendam air. Model keluarga seperti ini sangat rapuh terhadap dinamika sosial. Mereka mudah mengikuti trend zaman dengan segala macam assesorisnya sehingga identitas asli keluarga itu hampir tidak lagi nampak. Segala macam trend masyarakat diikuti dengan semangat, tanpa sedikitpun mau mempertimbangkan esensinya. Di butuhkan "laminating" sosial untuk melindungi keluarga seperti ini dari pengaruh buruk masyarakatnya. Laminating sosial bisa berbentuk pakaian, yaitu mengenakan pakaian yang dikenali sebagai pakaian orang baik-baik, misalnya busana muslimah, bisa juga menjadi anggota dari club atau kumpulan orang-orang yang dikenali sebagai kumpulan orang-orang baik, misalnya menjadi anggota majelis pengajian atau organisasi yang dikenal melakukan aktifitas keagamaan berstruktur, atau tinggal di dalam lingkungan yang ketat sistem pemeliharaan identitasnya.

Mari, kita introspeksi sekarang. Kualitas apakah keluarga yang kita miliki saat ini ?

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[dari Buletin Da'wah "AL-FATIHAH" Edisi 269 Tahun ke-7 (2010 M/1431 H)]
Di depan pintu surga kelak menurut Rasulullah Muhammad SAW. akan ada empat golongan manusia yang hendak masuk surga lebih dahulu. Dasar manusia, mereka saling berebut siapa yang mula-mula berhak masuk surga pertama kali. Karena malaikat Ridwan tidak dapat mengambil keputusan, turunlah malaikat Jibril ditugaskan menjadi hakim. Mereka tersebut adalah pahlawan yang mati syahid, orang kaya yang dermawan, haji yang mabrur, dan orang alim yang shaleh.

Salah satu dari mereka dipanggil ke muka dan ditanya, "Dengan sebab apa engkau beruntung akan masuk surga tanpa disiksa ?" Orang itu menjawab, "Saya seorang pahlawan yang mati syahid di medan perang karena membela agama." Malaikat Jibril berkata, "Darimana engkau tahu bahwa pahlawan yang mati syahid bakal masuk surga tanpa dihisab dan disiksa ?" Pahlawan tersebut menjawab, "Dari orang alim yang shaleh." "Kalau begitu, jagalah akhlak yang baik. Biarkan orang alim masuk surga terlebih dahulu," ucap malaikat Jibril. Lalu pahlawan yang syuhada itupun menunduk menyadari ketidakmampuannya.

Lalu dipanggil pula haji yang mabrur, yang ikhlas dan tidak cacat dalam melaksanakan ibadahnya. la ditanya oleh malaikat Jibril, "Siapa engkau ? Dan apa amal baikmu di dunia hingga mau masuk surga lebih dahulu ?" Haji itu berkata, "saya seorang haji yang mabrur. Sesuai dengan janji Rasulullah SAW. tidak ada balasan yang setimpal bagi saya kecuali surga." "Betul, begitulah janji Rasulullah SAW. sejalan dengan wahyu Allah SWT. Tetapi dari mana engkau tahu bahwa Rasulullah SAW. pernah berjanji begitu ?" "Dari guru saya, orang alim," sahut sang haji. "Dari orang alim katamu ? Mengapa engkau tidak menjaga adab, membiarkan orang alim masuk surga lebih dahulu ?" Haji itu pun mundur menginsyafi kekeliruannya.

Sesudah itu kemudian maju pula orang kaya yang dermawan, yang sebagian banyak hartanya disedekahkan di jalan kebaikan. "Engkau ingin yang pertama masuk surga ?" tanya malaikat Jibril. "Benar. Saya mau masuk surga yang mula-mula karena itu merupakan hak saya," "Apa yang kamu lakukan di dunia ketika engkau masih hidup hingga punya pendapat dan keyakinan seperti itu ?" tanya Jibrii lagi. "Saya adalah seorang hartawan. Kekayaan saya itu didapatkan melalui jalan yang benar dan halal, saya peroleh dengan kerja keras dan berhemat. Tetapi, sesudah terkumpul banyak, harta saya tidak dipergunakan untuk berfoya-foya di tempat maksiat, dan juga tidak saya belanjakan untuk diri sendiri serta keluarga saya, tetapi sebagian besar saya belanjakan untuk menolong masyarakat, untuk menunjang kebaikan dan berjuang di jalan Allah SWT."

"Dari siapa engkau mendapat tahu bahwa semua yang engkau lakukan itu akan diganjar dengan masuk surga tanpa diperiksa ?" Jibril bertanya dengan cermat. "Dari orang alim, guru saya," jawab si hartawan. "Dari orang alim ?" tanya Jibril memastikan. "Betul" jawab hartawan itu lagi. "Jadi kenapa orang alim yang sudah mengajarmu dengan kebaikan dan kebenaran tidak kau biarkan masuk surga lebih dahulu sebagai tanda terima kasihmu kepadanya ?" "Maaf, saya tadi khilaf. Sekarang saya sadar. Saya rela masuk surga paling belakang. Biarlah orang alim itu yang pertama masuk surga."

"Nah, begitulah sepatutnya," ujar malaikat Jibril. Maka orang kaya itu segera mundur dan orang alim dipersilahkan masuk surga lebih dahulu. Namun, sebagai orang alim yang shaleh, ia tetap setia dengan ilmu yang didalaminya, yaitu harus mengalah dan rendah hati.

Dengan segala keikhlasan, orang alim itu berkata : "Maaf, Tuan-tuan, dan maaf para malaikat yang bijaksana. Sebagai orang alim saya tidak dapat belajar dan mengajar dengan tenang apabila tidak ada pahlawan yang rela mati syahid. Saya tidak akan memperoleh pahala yang terus menerus jika murid saya yang haji ini tidak mengamalkan ilmu saya secara benar. Dan saya, orang alim, dan dia, pahlawan, serta dia, haji mabrur, tidak akan dapat memperoleh keleluasaan beribadah serta mengajarkan ilmu saya apabila tidak ada kedermawanan orang kaya yang mau membiayai tentara berangkat perang, yang mau menyediakan kelapangan bagi perjalanan haji. Yang mau membangun madrasah, tempat-tempat pengajian agama, penyantunan anak-anak yatim, serta macam-macam kebaikan lainnya. Semua itu mustahil terwujud apabila tidak ada orang kaya yang dermawan. Karena itu, biarlah orang kaya ini yang masuk surga lebih dahulu, disusul oleh pahlawan, kemudian haji mabrur, dan izinkanlah saya masuk surga paling penghabisan."

Akhirnya diputuskanlah oleh malaikat Jibril sebagaimana yang diusulkan oleh orang alim itu, yakni hartawan yang dermawan itulah yang masuk surga paling depan. Sedangkan dia sendiri paling terakhir di belakang. Subhanallah...

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[dari Buletin Da'wah "AL-FATIHAH" Edisi 269 Tahun ke-7 (2010 M/1431 H)]

DIRIWAYATKAN dari Said Saad bin Malik Sinan al Khudri RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda : "Pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian, ada seorang lelaki telah membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya tentang seseorang yang paling alim di antara penduduk bumi. Ditunjukkanlah ia kepada seorang rahib (pendeta Bani Israil). Ia lalu mendatangi rahib itu, seraya bercerita ia telah membunuh 99 (sembilan puluh sembilan) orang. Lalu bertanya, apakah ia masih mempunyai kemungkinan bertaubat? Ternyata pendeta itu menjawab, ”Tidak!” Pendeta itu pun ia bunuh. Genaplah menjadi seratus nyawa yang dibunuh. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang paling alim di atas muka bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang lelaki alim. Ia pun menghadap, seraya mengatakan dirinya telah membunuh seratus jiwa. Apakah masih ada kemungkinan baginya untuk bertaubat ? Orang alim itu menjawab : ”Ya ! Siapakah yang berhak menghalang-halangi orang untuk bertaubat ? Pergilah kamu ke suatu kota, sebab di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke kotamu, karena kotamu itu kota yang jelek.”

Lelaki itu berangkat, hingga ketika ia telah menempuh separuh perjalanan, maut menghampirinya. Malaikat rahmat dan malaikat azab saling bertengkar memperebutkannya. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.” Malaikat azab (yang bertugas menyiksa hamba Allah yang berbuat dosa) menyahut, ”Orang ini sama sekali tidak pernah melakukan kebaikan.”

Akhirnya ada satu malaikat yang menyaru sebagai manusia mendatangi mereka. Lalu kedua malaikat yang sedang bertengkar itu menjadikannya sebagai pemutus perkara. Malaikat pemutus perkara itu berkata, ”Ukurlah jarak antara dua kota (jarak antara tempat meninggalnya si pembunuh dengan kota asalnya dan antara dia dengan kota tujuannya). Mana di antara kedua kota itu yang lebih dekat dengan tempat meninggalnya. Maka, itulah bagiannya. Para malaikat itu lalu mengukur, ternyata mereka mendapati bahwa si pembunuh itu lebih dekat ke kota yang dituju. Oleh karena itu, malaikat rahmatlah yang berhak mengambil roh orang tersebut." (Mutttafaqun alaih)

Pada riwayat lain dalam kitab ash-shahih disebutkan, "Kemudian Allah SWT. memerintahkan daerah yang hitam itu supaya menjauh dan memerintahkan daerah yang baik itu supaya mendekat dan menyuruh para malaikat itu agar mengukurnya. Kemudian mereka mendapatkan daerah yang baik itu sejengkal lebih dekat, maka diampunilah dia."

Subhanallah, betapa indah gaya tutur Rasulullah SAW. dalam memberikan taujih dan nasihat, yaitu dengan tamsil atau perumpamaan yang realistis. Betapa luas pintu taubat Allah, sebesar, sekelam, dan sehitam apa pun dosa kita jika kita bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya, insya Alah, Dia akan menerima tobat kita.

Tobat artinya kembali, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari jalan setan menuju jalan Allah. Para ulama sepakat bahwa taubat dari perbuatan dosa adalah wajib, sebagaimana firman-Nya, "Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." (QS. Hud : 3)

Allah SWT., mengilhami manusia jalan yang buruk dan yang baik. Oleh karena itu, tidak jarang dalam perjalanan hidupnya, manusia terjatuh dan tergelincir ke dalam lembah dosa dan maksiat, baik yang bersifat vertikal berhubungan langsung dengan Allah, seperti meninggalkan shalat, puasa, zakat, dan ibadah mahdoh lainnya, ataupun dosa yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti bergosip, korupsi, dan memfitnah.

Banyak faktor yang menjadikan manusia terjatuh melakukan perbuatan dosa di antaranya, pergaulan yang salah, kurangnya ilmu, sedikitnya hasrat untuk mendalami agama, dan selalu mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi perbuatan dosa, seyogianya kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, berteman dengan orang saleh, memahami ajaran-ajaran agama, selalu beristighfar memohon ampunan Allah SWT., dan berusaha untuk mampu mengendalikan hawa nafsu. Namun, jika kita lalai sehingga tergelincir berbuat dosa, bersegeralah memohon ampunan Allah (QS. Ali Imran : 133) dan bertaubat kepada Allah SWT., dengan taubat yang sebenar-benarnya (tobatan nashuha). (QS. At-Tahrim : 8)

Bagimanakah cara kita bertaubat, sehingga taubat kita layak diterima oleh Allah SWT. Para ulama membagi dan memberikan petunjuk cara bertaubat. Yang pertama, bertaubat dari dosa yang berkaitan langsung dengan Allah. Taubatnya harus memenuhi tiga syarat.
  1. Menghentikan perbuatan dosa (an yuqlia anilmasiat).
  2. Menyesali dosa yang telah dilakukan (an yandama alaa filihaa).
  3. Bertekad untuk tidak melakukan dosa itu selama-lamanya (an yazima allaa yauuda ilaihaa abadan).
Apabila salah satu dari tiga syarat itu tidak terpenuhi, taubatnya tidak sah. Yang kedua. Bertaubat dari dosa yang berhubungan dengan sesama manusia. Syaratnya ada empat, yaitu tiga syarat yang telah disebutkan, ditambah dengan satu syarat lainnya, yakni harus menyelesaikan urusannya dengan orang yang bersangkutan (an yabroa min haqqi shoohibihaa). Apabila berkaitan dengan harta benda (mencuri, korupsi, merampok), harta itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Jika kita pernah menuduh atau memfitnahnya, kewajibannya adalah menyerahkan diri kepada orang yang mempunyai hak atau meminta maafnya. Jika berhubungan dengan mengumpat atau menggosip, ia harus minta dihalalkan (dibebaskan).

Rasulullah SAW. adalah orang yang di-ma'shum, makhluk terbaik dan Allah pun telah mengampuni dosanya, baik yang sudah berlalu maupun yang akan datang. Namun, Beliau tetap membaca istigfar dan bertaubat sebanyak seratus kali dalam sehari. Beliau bersabda, "Yaa ayyuhannaasu tuubuu ilallohi, fainnii atuubu filyaumi miata marotin." Artinya, "Wahai sekalian manusia, bertobatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat seratus kali setiap harinya." (HR. Muslim)

Sudah sepantasnya diri kita yang setiap hari bergelimang dan berlumur dosa untuk senantiasa memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah dari segenap dosa yang telah diperbuat. Perlu kita pahami, istigfar dan taubat yang kita lakukan tidak menambah kebesaran Allah karena memang Dia sudah Mahasempurna. Namun, apa yang kita lakukan itu manfaatnya kembali kepada diri kita, yakni menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Untuk itu, marilah kita resapi firman Allah SWT., "Maka, Allah mengilhami kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS. As-Syams : 8-10)

Akhirnya, kita bermohon kepada Allah, agar senantiasa membimbing, memberi perlindungan dan pertolongan kepada diri kita, untuk selalu berada di jalan-Nya dan memberikan ampunan serta menerima taubat kita. Amin. Wallahu a'lam bishawab.***

[Ditulis oleh : H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah Sarijadi-Bandung, disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat/12 Maret 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]