9.04.2015

MARI KE SURGA

Pilih surga atau neraka ? Jika pertanyaan tersebut disampaikan kepada manusia, dengan pengetahuan yang seadanya, dengan bekal info minim bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang manusia pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah.
Dari Abu Hurairah RA. sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda : "Ketika ALLAH SWT. menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, 'Pergi dan lihatlah (surga itu).' Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, 'Tuhanku, demi keperkasaan-Mu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya.' Kemudian ALLAH SWT. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, 'Wahai Jibril ! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu).' Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, 'Tuhanku, demi keperkasaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya." 

Rasulullah SAW. juga bersabda : "Tatkala ALLAH SWT. menciptakan neraka, Dia berfirman, 'Wahai Jibril ! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu dan kemuliaan-Mu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuali ia tidak berkeinginan untuk memasukinya.' Kemudian ALLAH SWT. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, 'Wahai Jibril ! Pergi dan lihatlah neraka itu.' Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, 'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu dan kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya." (Abu Daud)

Surga dan neraka diibaratkan sebagai hadiah / ganjaran bagi setiap orang yang telah menjalani proses ujian. Dan yang lebih ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung jawabkan di hadapan ALLAH SWT. kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh ALLAH SWT.

Jangan dibayangkan bahwa ujian itu selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan ALLAH SWT. justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekufuran. Tapi, jangan dibayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari ALLAH SWT. Sebab, siapa tahu dikala kita sehat tapi tidak bersyukur kpd ALLAH SWT., kita kaya raya tapi kikir, kita tenar tapi merendahkan orang lain, kita berkuasa tapi dzalim.

Ini akan semakin meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan selalu datang menghampiri kita. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada ALLAH SWT. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.

Pertanyaannya sekarang apakah ada yang mau menjadi penghuni surga ? Kalau mau menjadi penghuni surga, maka dalam setiap kehidupan kita pastikan selalu dalam koridor syariat ALLAH SWT., yakni Islam. Bukan yang lain. Landasan berbuat kita adalah halal-haram menurut ajaran Islam. Penilaian kita terhadap suatu perbuatan apakah baik-buruk atau terpuji-tercela juga wajib mengikuti aturan baku yang ditetapkan Islam. Bukan yang lain.

Berikut ini adalah syaratnya untuk menjadi Penghuni Surga :
  1. Beriman kepada ALLAH SWT.
  2. Berilmu agar bisa membedakan mana yang salah dan benar—baik ilmu agama maupun ilmu umum.
  3. Beramal baik.
  4. Berdakwah, yakni melakukan amar ma’ruf (mengajak kebaikan) sekaligus nahyi munkar (melarang kemungkaran) baik melalui lisan maupun tulisan dan sarana lainnya.
  5. Ikhlas dalam setiap amal kita.
Semoga kita menjadi salah satu penghuni surga-Nya kelak. Mulai sekarang mari kita cintai Islam, pelajari, pahami, dan amalkan ajarannya. Jangan lupa semarakkan syiarnya dengan dakwah. Jangan kalah dengan syiar yang miskin manfaat apalagi syiar yang sudah jelas maksiat kepada ALLAH SWT. Hidup kita di dunia ini cuma sekali dan sementara pula. Waktu kita makin berkurang setiap detik, maka mari berlomba dalam kebaikan untuk mendapat ridho-Nya.

Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***

by
u-must-b-lucky

9.03.2015

DUNIA INI HANYA PERMAINAN & SENDA GURAU



Banyak sekali ayat ataupun hadits-hadits Rasulullah, yang menyatakan tentang perbandingan antara keutamaan dan kenikmatan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia, yang mana akan didapati betapa jauhnya kemuliaan diantara keduanya, bahkan tidak sedikit akan adanya celaan terhadap kehidupan dunia.

Akan tetapi celaan tersebut tidaklah ditujukan kepada siang dan malamnya, bumi tempat dunia ini berada, lautan, sungai-sungai, hutan dan yang lainya karena semua itu adalah nikmat Allah bagi hamba-hamba Nya, tetapi celaan itu ditujukan kepada polah tingkah anak Adam dan penghuninya terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:


 ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬ وَزِينَةٌ۬ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٌ۬ فِى ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَوۡلَـٰدِ‌ۖ
Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri diantara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Dan ditegaskan secara jelas oleh Allah Ta'ala dalam firman Nya:


وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬‌ۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ‌ۗ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[3]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An'am: 32)

Dunia ini hanyalah jalan menuju surga dan neraka, tempat manusia mengumpulkan perbekalan untuk menuju kehidupan abadi, dan bertemu Allah Ta’ala Sang Pencipta alam semesta, Yang akan menilai dan menerima bekal tersebut serta mengganjarnya, jika baik maka nikmat surga yang akan ia dapatkan dan jika buruk maka azdab yang pedihlah yang akan dirasakan.

SIKAP MANUSIA TERHADAP KEHIDUPAN DUNIA
Pertama; Orang-orang yang mengingkari adanya negeri pembalasan setelah alam dunia. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَٱطۡمَأَنُّواْ بِہَا وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَـٰتِنَا غَـٰفِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tentram dengan kehidupan itu serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami , mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7)

Kedua; Orang-orang yang meyakini adanya alam pembalasan setelah kematian. Merekalah orang-orang Yang mengikuti para Rasul. Dalam hal ini mereka tergolongkan menjadi 3 (tiga), yaitu:
1. Zhalimun linafsih
Orang yang menzhalimi diri sendiri. Bagi mereka dunia adalah segalanya, terbuai oleh keindahannya yang menipu. Mereka ridha, murka, setia (berwala’) dan benci (bara’) karena tendensi dan motivasi dunia semata. Mereka beriman kepada akhirat secara global tetapi mereka tidak mengerti tujuan hidup didunia, bahwa tidak lain ia adalah suatu tempat untuk berbekal menuju kehidupan berikutnya.

2. Muqtashid 
Mereka adalah orang-orang yang menikmati dunia dari arah yang dibenarkan, mubah. Mereka melaksanakan seluruh yang wajib, akan tetapi membiarkan dirinya bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak mendapatkan hukuman akan tetapi derajat mereka rendah. Umar bin Khattab berkata : “Seandainya derajat surgaku tidak dikurangi pasti aku akan menantang kalian dalam hal kehidupan dunia. Tetapi aku mendengar Allah mencela suatu kaum dalam firman-Nya:

وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَـٰتِكُمۡ فِى حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِہَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ
”Dan [ingatlah] hari [ketika] orang-orang kafir dihadapkan ke neraka [kepada mereka dikatakan]: "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu [saja] dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik". (QS. Al-Ahqaf: 20)

3. Sabiqun bil khairat bi idznillah.
Mereka adalah orang-orang yang paham tujuan dari dunia dan beramal sesuai dengannya. Mereka mengerti bahwa Allah menempatkan hamba-hambaNya dinegeri ini untuk diuji, siapa yang paling baik amalnya, yang paling zuhud kapada dunia dan paling cinta kepada akhirat. Golongan yang ketiga ini merasa cukup dengan mengambil dunia sekadar sebagai bekal seorang musafir. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:
 
 إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةً۬ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّہُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬
Dan sesungguhnya Kami jadikan apa saja yang ada dimuka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya kami uji siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

BAHAYA MENCINTAI DUNIA
Cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah Ta’ala dan berdzikir kepadaNya, barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya dia termasuk dalam kelompok orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah, pasti akan dikuasai setan dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan padahal ia baru melakukan sedikit saja atau bahkan tidak melakukannya sama sekali.

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata : ”Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan”. Ulama yang lain berkata : ”Cinta dunia itu pangkal dari segala kesalahan dan pasti merusak agama ditinjau dari berbagai sisi, diantaranya :

Pertama; berakibat pengagungan terhadap dunia secara berlebihan, padahal ia di sisi Allah sangatlah remeh, adalah termasuk dosa yang sangat besar mengagungkan sesuatu yang di anggap remeh oleh Allah.

Kedua; Allah telah melaknat, memurkai dan membencinya, kecuali yang ditujukan untuk Allah. barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci Allah berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa dan kemurkaan dari Allah.

Ketiga; orang yang cinta dunia akan lebih cenderung menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya, sehinggga ia terjatuh dalam kesalahan, yaitu menjadikan sarana sebagai tujuan dan berusaha untuk mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Allah Ta’ala berfirman

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَہَا نُوَفِّ إِلَيۡہِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِيہَا وَهُمۡ فِيہَا لَا يُبۡخَسُونَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ‌ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيہَا وَبَـٰطِلٌ۬ مَّا ڪَانُواْ يَعۡمَلُونَ
Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan.” (QS. Hud: 15-16

Demikianlah bahwa cinta dunia dapat menghalangi seseorang dari pahala, merusak amal, bahkan bisa menjadikannya orang yang pertama kali masuk neraka.

Keempat; mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat, ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Ada yang disibukkan oleh kecintaannya dari iman dan syari’at, dari kewajiban-kewajiban yang seharusnya ia laksanakan, atau dalam waktu yang tidak tepat, atau hanya sebatas pelaksanaan lahiriahnya saja, paling tidak kecintaanya terhadap dunia akan melalaikan hakikat kebahagiaan seorang hamba yaitu kosongnya hati selain untuk mencintai Allah dan diamnya lisan selain berdzikir kepadaNya, juga ketaatan hati dan lisan dengan Rabbnya.

Kelima; berlebihan mencintai dunia akan menjadikan harapan utama pelakunya ketika hidup adalah dunia itu sendiri.

Keenam; orang yang berlebihan mencintai dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negeri; di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Didunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam barzakh mereka diazab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan. Di sana tidak sesuatupun yang menggantikan kedudukan kecintaannya kepada dunia, kesedihan, kedukaan, dan kerugian terus-menerus mencabik-cabik ruhnya, seperti halnya cacing dan belatung melakukan hal yang sama kepada jasadnya, demikianlah pecinta dunia akan di azab dikuburnya, dan juga pada hari akhirat nanti yaitu pada hari pertemuan dengan Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman 



فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٲلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُهُمۡ‌ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَہُم بِہَا فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُہُمۡ وَهُمۡ كَـٰفِرُونَ
Janganlah engkau ta’jub dengan harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 55
Menafsirkan ayat diatas sebagian ulama salaf berkata :”Mereka diazab dengan jerih payah dan kerja keras dalam mengumpulkannya. Nyawa mereka akan melayang karena cintanya dan mereka menjadi kafir karena tidak menunaikan hak Allah sehubungan dengan kemegahan dunia itu”.

Ketujuh; orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling tidak mengerti, bodoh, dungu dan tidak berakal. Karena mereka lebih mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal itu dengan kenikmatan yang semu. Manusia yang berakal cerdas (baca : bertaqwa) tentunya tidak akan tertipu dengan hal semacam ini. 
Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang, disangka memiliki hakikat yang tetap padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai.

Dunia juga sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu pun. Justru yang ia dapati adalah Allah Ta’ala dengan hisabNya, dan Allah sangat cepat hisabNya.

Maka saudaraku, marilah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, untuk meraih ridha Allah Ta’ala, surga Nya dan apa-apa yang telah dijanjikan Nya serta keutamaan-keutamaan di alam akhirat yang kekal abadi, yang mana Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman Nya bahwa:


 وَٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ وَأَبۡقَىٰٓ
Dan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa : 17)

Jangan sampai kita tertipu oleh tipu daya setan yang senantiasa menggoda anak cucu Adam agar tergelincir, sehingga terjerumus kepada kesesatan, penyimpangan, memperturutkan segala keinginan hawa nafsu sehingga lupa hak-hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan serta lupa dari kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah terlihat oleh pandangan mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbayangkan dalam benak hati manusia. Itulah kenikmatan yang Allah Ta’ala janjikan bagi hamba-hambaNya yang mendapatkan rahmat dari Nya.
Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***

[Tulisan disalin dari Abu Thalhah Andri Abd Halim, Di nukil dari “Tazkiatun-Nufus” DR. Ahmad Farid, (Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim dan Imam al-Gazhali)]

by
u-must-b-lucky

9.02.2015

RENUNGAN BUAT PENGGEMAR MAKSIAT

Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi'ah. la meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. 

Ia berkata, "Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!" 

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, "Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa."

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, "Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak ?"

  1. Syarat Pertama: "Jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah," ucap Ibrahim. Jahdar mengrenyitkan dahinya lalu berkata, "Lalu aku makan dari mana ? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah ?" "Benar." jawab Ibrahim dengan tegas. "Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya ?" "Baiklah." jawab Jahdar tampak menyerah. "Kemudian apa syarat yang kedua ?"
  2. Syarat Kedua: Syarat ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. "Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya." kata Ibrahim lebih tegas lagi. "Apa ? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana ? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah ?" "Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?" tanya Ibrahim. "Kau benar Aba lshak." ucap Jahdar kemudian. "Lalu apa syarat ketfga?" tanya Jahdar dengan penasaran.
  3. Syarat Ketiga: "Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat bersembunyi dari-Nya." Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. "Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini ? Mana mungkin Allah tidak melihat kita ?" "Bagus ! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu ?" tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi'ah tidak berkutik dan membenarkannya. "Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat ?"
  4. Syarat Keempat: "Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh." Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. la kemudian berkata, "Tidak mungkin... tidak mungkin semua itu aku lakukan." "Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah ?" Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir.
  5. Syarat Kelima: Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu. "Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah !" Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. la menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, "Cukup ? cukup ya Aba Ishak ! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah."
Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. la mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu'. Ibrahim bin Adham yang sebenamya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi'ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, "Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku." Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, "Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi ?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana."

Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, "Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya." Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi'ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.

Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***


[Tulisan disalin dari Buletin Da'wah Al-Fatihah Edisi 262 Tahun VII 2010 M/1431]

by
u-must-b-lucky

12.06.2013

MENGOKOHKAN ETOS KERJA

Siapa pun yang mengkaji Islam dengan menggunakan kecerdasannya dan kejernihan hatinya akan menyimpulkan bahwa Islam merupakan agama profesional. Rahasianya adalah ajaran Islam tidak sekadar rutinitas ritual melainkan juga sebagai ideologi. Seluruh aspek kehidupan merupakan suatu sistem utuh yang telah diciptakan oleh Zat Mahasempurna yakni Allah SWT. Dan, dalam realitasnya juga bisa dimengerti bahwa sistem Islam tersebut sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan akal dan menenangkan hati.

Demikian halnya, terhadap persoalan perilaku (behavior), yang secara khusus menyangkut produktivitas hidup dan kerja, Islam demikian memberikan panduan dan bimbingan yang luar biasa. Hanya orang yang tidak mempelajari Islam atau orang yang terlebih dulu tidak menyukai Islam, mereka sudah antipati denganya. Seakan Islam merupakan agama nenek moyang yang tidak memiliki sistem sebagaimana gambaran orang-orang yang buta dengan Islam. Padahal jika dipelajari dalam konteks ini, Islam demikian mengatur terhadap persoalan kerja, kinerja, dan sebagainya.
Islam mengajarkan bahwa kerja merupakan bagian dari aktivitas ibadah. Bekerja tidak sekadar untuk mendapatkan penghasilan atau rezeki, tetapi juga bernilai tambah karena Islam menegaskan bahwa bekerja keras melaksanakan kewajiban rumah tangga bagi seorang pria akan diganjar dalam bentuk pahala.

Hal ini terangkum dalam Al-Qur'an Surat Adz Dzariat (51) ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wama khalaqtu aljinna waalinsa illa liyaAAbudooni

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dari ayat tersebut saja sudah bisa dipahami bahwa jika suatu pekerjaan disebut merupakan bagian dari ibadah, maka barang siapa melakukannya maka akan mendapatkan pahala.

Islam memberikan motivasi yang luar biasa bagi umatnya untuk berprestasi. Islam, dalam banyak hadits memberikan pujian dan penghargaan yang sangat besar bagi kaum Muslim yang menjadi pekerja keras. Bahkan dikatakan oleh Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi,
"Tidakkah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari keringatnya sendiri."

Dari Zubair bin Awwam, Rasulullah SAW. bersabda,
"Jika salah seorang dari kalian pergi membawa kapaknya, lalu datang membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lalu ia menjualnya hingga Allah menyelamatkannya dari kehinaan. Maka yang demikian itu jauh lebih baik dari ia meminta-minta pada orang lain." (HR. Bukhari)

Apa yang diungkapkan dalam hadits di atas bermakna bahwa ajaran Islam sudah mewanti-wanti agar umatnya sungguh-sungguh bekerja secara aktif dan tidak bergantung kepada orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW. bersabda
"al yadul 'ulya khairun minal yadissufla— tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."

Artinya kinerja seorang Muslim adalah aktif, bukan pasif. Seorang Muslim tidak akan menjadi "benalu" yang hinggap dan hanya membebani orang lain. Dalam konteks ini mestinya ada kesadaran kuat untuk menjalankan "teologi kerja (job theology)" atau suatu niat suci untuk selalu menganggap pekerjaan kita sebagai ibadah dan bentuk pengabdian kita pada Yang Mahaagung.

Ketika kita bekerja di kantor dengan asal-asalan dan menghasilkan kualitas di bawah standar, atau ketika ketika kita hanya mempu menciptakan pelayanan yang centang-perenang dan membuat para pelanggan patah arang, maka mestinya kita menanggap ini semua sebagai sebuah "dosa" dan kita mesti merasa malu dihadapan Yang Mahatahu.

Sebaliknya, ketika kita selalu bisa mempersembahkan kinerja yang istimewa, atau ketika kita mampu mengagas dan melaksanakan ide-ide kreatif untuk memajukan perusahaan, maka mestinya ini semua tidak melulu didasari oleh keinginan untuk naik pangkat, atau mendapat bonus yang besar, melainkan pertama-tama mesti dilatari oleh niatan suci untuk beribadah.

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad SAW. juga adalah seorang pedagang yang ulet. Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Bila kamu telah shalat Subuh, maka janganlah kamu tidur dan meninggalkan rezeki."
Selanjutnya Nabi mengatakan,
"Sesungguhnya Allah tak menyukai hamba yang santai (tak bekerja)."

Umar RA. mengatakan, "Janganlah kamu duduk saja berdoa. Ya Allah berilah aku rezeki, padahal ia tahu bahwa Allah tak akan menurunkan hujan emas dan hujan perak."

Dalam Surat Al-Insyirah (94) ayat 7, Allah berfirman,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Faitha faraghta fainsab

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

Kesemuanya ini sudah jelas menjadi penanda bahwa Islam sangat mendorong timbulnya etos kerja dan paradigma berusaha pada diri setiap kaum Muslim. Manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Oleh karena itu, Islam senantiasa memotivasi umatnya untuk terus bersemangat dalam bekerja dan berusaha. Setiap Muslim harus berusaha untuk mandiri, tidak membebani orang lain, apalagi dengan meminta-minta setiap saat. Bekerja dalam Islam bukan sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagian dari pelaksanaan ibadah yang melahirkan kemuliaan.

Wallahualam bissawab. ***

[Ditulis Oleh AHMAD SUTARJO, Koordinator DKM Al Insaniyah Cikole Kabupaten Ciamis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 6 Desember 2013 / 3 Safar 1435 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky

11.22.2013

MEMBERI ITU HARUS MEMBERDAYAKAN

Perilaku mulia nan indah tetapi serasa sulit dilaksanakan ialah "memberi". Berbeda dengan menerima. Setiap orang pasti berebut bila saja mengurusi segala hal yang berkaitan dengan penerimaan. Entah itu ketika menerima jabatan, harta kekayaan, atau materi yang disedekahkan orang lain.

Di dalam Islam, amal kebajikan yang tinggi ialah praktik memberi melalui perintah zakat, infak, dan sedekah. Bahkan, memberi tidak harus menunggu kita menjadi orang yang kaya raya. Ini telah dicontohkan oleh panutan umat Islam, Rasulullah SAW. sepanjang hayatnya. Betapa tidak, saking gemarnya memberi, Baginda Rasulullah sampai menangis saat menyaksikan seorang yatim dan miskin telantar di jalanan. Beliau pun dengan sigap langsung menawarkan istrinya, Aisyah, untuk menjadi ibu angkat bagi anak yatim yang terlantar tadi.

Bahkan, tak jarang demi kegiatan memberi ini, Rasulullah SAW. rela mengganjal perutnya dengan batu kerikil untuk menahan lapar. Padahal, manusia sekelas Nabi, bukan tak punya makanan. Akan tetapi, makanan itu diberikan kepada fakir miskin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Ya ayyuha allatheena amanoo la tubtiloo sadaqatikum bialmanni waalatha kaallathee yunfiqu malahu riaa alnnasi wala yuminu biAllahi waalyawmi alakhiri famathaluhu kamathali safwanin AAalayhi turabun faasabahu wabilun fatarakahu saldan la yaqdiroona AAala shayin mimma kasaboo waAllahu la yahdee alqawma alkafireena

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tilak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. AI-Baqarah (2): 264)

Di dalam ayat di atas, setinggi apa pun keinginan memberi, tetap saja kita sebagai pemberi perlu mengindahkan perasaan hati si penerima. Memberi dengan cara menghardik atau memamer-mamerkan apa yang telah kita berikan merupakan perilaku yang dapat mengundang rasa sakit hati si penerima. Oleh karena itu, alangkah bijaksana apabila memberi dilakukan dengan niat ikhlas, menolong orang ke luar dari rasa sedih, khawatir, dan resah. Inilah yang membuat perilaku memberi menjadi tidak mudah. Sebab, sedikit saja tergelincir dari niat, kita malah akan terjebak pada perilaku ria (ingin terlihat baik oleh orang lain).

Praktik memberi laksana matahari menyinari bumi. Bayangkan, dengan cahayanya yang kadang terasa menyengat, matahari melepaskan seluruh makhluk bumi dari ancaman kematian. Tanpa matahari, alam semesta akan kehilangan energi yang mampu memberikan kekuatan untuk bergerak. Hebatnya, sebanyak apa pun matahari melepaskan cahayanya, ia tak pernah meminta balasan.

Dalam konteks filantrofis, si penerima, kurang pantas jika menolak pemberian orang atau meminta lebih dari apa yang orang lain berikan. Sebab, menolak rezeki lewat tangan orang lain juga tidak disukai Rasulullah. "Janganlah menolak permintaan seseorang, walaupun kamu melihatnya memakai sepasang gelang emas," begitulah salah satu sabda Rasulullah SAW.

Hanya, satu catatan perlu diingat; jangan sampai membuat orang keasyikan dengan kebiasaan menerima pemberian. Sebab, dalam ajaran Islam, praktik meminta-minta tidak begitu disenangi. Rasulullah SAW. berwasiat, "Siapa yang meminta guna memperbanyak apa yang dimilikinya, maka sesungguhnya ia hanya mengumpulkan bara api (neraka).

Oleh karena itu, pemberi yang baik adalah pemberi yang sekaligus mampu memberdayakan si penerima hingga mampu hidup mandiri, seperti matahari. Hal ini dikatakan Moeslim Abdurrahman dalam bukunya, Islam sebagai Kritik Sosial (1996:41) sebagai Muslim "organik". Yakni kegiatan tolong-menolong antarsesama yang dapat menciptakan ikatan masyarakat yang teguh di tengah kondisi lemah. Dalam arti lain masyarakat yang mampu memaksimalkan segala sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada untuk menopang kebutuhan hidup.

Oleh karena itu, kita kerap memandang sepele praktik memberi. Notabene masyarakat kita begitu asyik memaknai bahwa memberi sekadar memberi; bukan memberi dengan cara memberdayakan. Oleh karena itu, gagasan konsepsional Moeslim Abdurrahman dalam rangka membangun Muslim "organik" patut menjadi petunjuk guna mewujudkan kesejahteraan hidup. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi kita berkeluh kesah dan mengharap belas kasih orang lain. Akan tetapi, menanamkan keyakinan bahwa kita harus menjadi pemberi yang tak sekadar memberi; tetapi memberi dengan cara yang memberdayakan.

Rasulullah SAW. bersabda, "Tangan di atas (pemberi yang memberdayakan) lebih baik daripada tangan yang di bawah (peminta)?"

Allah SWT. berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Waibtaghi feema ataka Allahu alddara alakhirata wala tansa naseebaka mina alddunya waahsin kama ahsana Allahu ilayka wala tabghi alfasada fee alardi inna Allaha la yuhibbu almufsideena

Dan carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashas (28): 77)

Wallahua'lam. ***

[Ditulis oleh SUKRON ABDILLAH, Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi JUmat (Kliwon) 22 November 2013 / 18 Muharam 1435 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky

11.11.2013

MENGGALI HIKMAH TAHUN BARU HIJRIAH

Beberapa hari yang lalu, umat Islam memperingati Tahun Baru Hijriah. Tahun baru umat Islam ini diambil dari jejak hijrah Rasulullah SAW. yang menjadi salah satu momentum penting penegakan syariat Islam di muka bumi.

Kita pun seyogyanya menggali kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan tahun Hijriah ini. Tahun Hijriah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama Tahun Muhammad atau Tahun Umar. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).

Atau pula tidak seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (Dewa Matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 Februari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura). Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.

Hijrah yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban Islam pada awal-awal pertumbuhannya adalah eksodus besar-besaran yang menuntut pengorbanan dan perjuangan yang sangat berat. Para sahabat muhajirin rela meninggalkan tanah kelahiran, harta benda, dan segala yang dicintainya, bukan karena diusir kaum kuffar Mekah, melainkan karena perintah Allah SWT.

Begitulah sejarah telah mencatat, betapa ikhtiar baik yang dilandasi oleh dimensi keikhlasan dan kepasrahan total akan selalu dikenang dan tak lekang oleh zaman. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya adalah ekspresi keagamaan yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, pertimbangan menuju perubahan yang dicita-citakan. Ia menyimpan banyak pelajaran yang harus dipetik, direnungkan, lalu diaplikasikan dalam realitas kehidupan sehari-hari, terutama di masa kini.

Momentum Tahun Baru Hijriah ini harus kita jadikan sebagai sarana "hijrah" menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam Islam disebutkan, "haasibuu qobla antuhaasabuu. Artinya, hitunglah dirimu sebelum kamu sekalian dihitung (hisab)". Sebagai rasa syukur maka sebaiknyalah kita sebagai Muslim yang taat memanfaatkan tahun baru ini untuk menginstrospeksi diri, mengevaluasi diri, bermuhasabah atas segala perencanaan, perbuatan, dan program hidup yang telah dilakukan tahun sebelumnya.

Jadikan saat-saat seperti ini sebagai momen yang tepat bagi kita untuk selalu berintrospeksi diri tentang amal ibadah apa yang sudah kita capai dan hal apa saja yang masih kurang dalam diri kita. Dengan demikian, melalui instrospeksi tersebut nantinya kekurangan-kekurangan kita bisa diperbaiki dan diperbarui di masa depan dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan tidak akan diulangi lagi.

Bagi Rasulullah SAW., hijrah bukan hanya merupakan strategi dakwah Islam, tetapi juga merupakan pengembangan kecerdasan spiritual dan pendidikan nilai. Sungguh luar biasa kesabaran jiwa Rasulullah SAW. dan para sahabatnya dalam menghadapi berbagai intimidasi, cercaan, makian, boikot, bahkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya dari kaum kafir Quraisy.

Pendidikan nilai inilah yang patut kita semaikan kembali kepada anak-anak dan murid kita di sekolah. Hijrah mendidik umat Islam agar selalu berkomitmen terhadap nilai-nilai heroik. Menjadi Muslim harus siap menjadi pejuang serta penegak kebenaran dan keadilan, di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai heroik dari hijrah tidak hanya tercermin dalam hijrah pertama umat Islam ke Habsyi (yang waktu itu tidak diikuti langsung oleh Rasulullah SAW.), tetapi juga terlihat dengan jelas dalam hijrahnya Nabi SAW. dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah.

Mereka semua rela mengorbankan harta, raga, dan bahkan jiwanya demi kejayaan Islam. Nilai heroik semacam ini sangat penting karena tidak jarang sebagian orang, ketika dihadapkan kepada pilihan perjuangan, yang dicari adalah "menyelamatkan diri" lebih dulu dan mencari keuntungan (duniawi) yang sebesar-besarnya.

Semoga kita bisa mengikuti teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW., para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Amin Ya Robbal'alamin. ***

[Ditulis oleh AHMAD SYUKRON, Koordinator DKM Al-Muhajirin - Karang Anyar, Panjalu, Kab. Ciamis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis), 8 November 2013 / 4 Muharam 1435 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky