Masalah mimpi ini memang masalah yang kadang-kadang mengganggu, kadang-kadang kelihatan seperti tidak begitu penting. Kalau kita lihat di dalam Al Qur`an banyak sekali ayat-ayat dan berita mengenai mimpi, misalnya dalam QS. Ash Shaaffaat diceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS. bermimpi melihat dirinya menyembelih anak.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash Shaaffaat 37 : 102)

Di dalam QS. Yusuf, diceritakan raja Mesir bermimpi pada saat Nabi Yusuf masih di penjara karena tuduhan pelecehan seksual pada beliau.

"Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi." (QS. Yusuf 43 : 12)

Kemudian dalam QS. Al Fath itu juga disebutkan selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad SAW. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah maka orang-orang munafik memperolok-olokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya Perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim memasuki kota Mekah, maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (QS Al Fath 48: 27)

Dari beberapa contoh kasus dalam Al Qur’an itu ada beberapa masalah atau pertanyaan yang muncul, yaitu :
  1. Apakah semua mimpi itu bisa dipercaya? Apakah semua mimpi itu signifikan (punya arti)? Apakah kita sebaiknya mempertimbangkan setiap mimpi kita atau dihiraukan (diabaikan) saja ?
  2. Apa epistimologi (implikasi) dari mimpi ? Apakah mimpi dapat dijadikan sumber ilmu pengetahuan (wangsit) atau alasan untuk mengetahui sesuatu ?
  3. Bagaimana kita menyikapi mimpi-mimpi kita, karena semua orang pasti pernah bermimpi, walaupun mimpinya tidak sama dan berbeda-beda dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.
Jawaban dari permasalahan tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Dalam HR. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dari Abu Hurairah RA. : “Mimpi seorang mukmin merupakan satu perempat puluh enam dari kenabian”. Ini berarti hanya mimpi seorang mukmin yang patut dipertimbangkan. Jadi pengkabaran yang diberikan Allah SWT. pada manusia, 45/46 diberikan pada nabi, 1/46 diberikan pada orang yang beriman melalui mimpi. Mimpi Nabi Yusuf, Nabi Muhammad, Nabi Ibrahim bagian dari nubuah.
  2. Para ulama sepakat mimpi tidak bisa dijadikan sumber ilmu pengetahuan, apalagi kalau bertentangan dengan syariat. Ini berbeda dengan kasus pengsyariatan adzan yang datang melalui mimpi salah seorang sahabat yaitu Bilal. Dia bermimpi meneriakkan lafadz Adzan. Kemudian mimpinya itu dilaporkan pada Rasulullah. Rasulullah berkata bahwa mimpi itu betul dan bisa diterapkan. Masalahnya saat ini Rasulullah tidak ada. Jadi para ulama sepakat bahwa mimpi seseorang pada saat ini tidak bisa dijadikan hukum.
  3. Bagaimana menyikapi mimpi ?
  • Imam Muhammad Ibn Syirrin berkata mimpi ada 3 (tiga) sebagai berikut :
  1. Mimpi adalah percakapan ruh (diri) orang itu sendiri. Manusia terdiri dari jasad dan ruh. Ketika tidur, ruh tetap beraktifitas. Aktifitasnya macam-macam dan dapat terefleksikan dalam mimpi.
  2. Mimpi itu permainan syaitan. Syaitan mau menakuti (mengacau).
  3. Kabar gembira dari Allah. Jadi kalau kita bermimpi melihat sesuatu yang tidak enak (tidak disukai), sebaiknya tidak usah diceritakan pada siapapun. Ketika kita mimpi buruk sebaiknya langsung bangun dan sholat.
  • Pendapat lain dari Imam al Kurtubi, yang mengatakan mimpi itu dapat merupakan kabar gembira, dapat pula merupakan peringatan awal dari kabar buruk atau antisipasi sesuatu yang tidak baik yang akan terjadi. Bisa jadi juga mimpi itu pertanda untuk sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi atau yang akan terjadi. Misalnya ada seseorang bermimpi gunung meletus, air laut meluap, atau mimpi terjadi kiamat. Apa artinya ? Itu bukan pertanda buruk dan baik, tapi netral. Ini adalah pertanda untuk sesuatu yang akan dialami orang tersebut. Mimpi kiamat takbirnya adalah orang tersebut akan berpergian jauh, berpindah kampung halaman atau berpindah negeri.

  • Al Hakim al Tirmidzi memberikan keterangan bahwa syaitan mengganggu pada saat manusia tidur. Mimpi dibagi dua, yang pertama adalah :
  1. Mimpi yang benar. Mimpi ini mengandung suatu pesan, ada maksudnya dan pasti terjadi. Misalnya mimpi para nabi. Abu Bakar RA. bermimpi Rasulullah naik tangga bersama Abu Bakar RA., tetapi berselisih dua anak tangga. Abu Bakar RA. adalah ahli dalam menakwilkan mimpi. Dia dapat menakwilkan mimpi tersebut yaitu dia akan mati dua tahun setelah Rasulullah. Dan memang demikian, Abu Bakar RA. meninggal tepat dua tahun setelah Rasulullah wafat.
  2. Mimpi jenis kedua adalah mimpi ngawur. Mimpi ini terdiri dari tiga macam. Ini merupakan permainan dari syaitan untuk mengecoh dan menyesatkan orang tersebut.
  • Mimpi bunuh diri dengan memotong lehernya. Ketika bangun kita merasa diperintahkan untuk melakukannya. Untuk menghindarinya, sebaiknya kita membaca doa sebelum tidur supaya syaitan tidak mengganggu.
  • Mimpi bertemu dengan malaikat yang menyuruh untuk melakukan sesuatu yang diharamkan.
  • Mimpi melihat hal-hal yang dialami ketika sedang tidak tidur. Misalnya siangnya sedang main game tembak-tembakan, malamnya bermimpi menjadi serdadu di Irak. Jadi pada kasus ini, sesuatu yang dikerjakan sebelum tidur terbawa ke dalam mimpi. Atau bisa jadi sesuatu yang diharap-harapkan. Misalnya ingin segera menikah, malamnya mimpi menikah. Mimpi menikah bisa jadi juga merupakan suatu pertanda bahwa tidak lama lagi akan meninggal. Sebaliknya mimpi meninggal pertanda akan mendapat rizki.
Jika bermimpi, sebaiknya bertanya kepada siapa. Pertama orang yang bermimpi itu harus mukmin, beriman dan sholeh, baru mimpinya akan punya makna signifikan. Orang yang bisa menafsirkan mimpi adalah orang yang jujur (shidiq), yang tidak pernah bohong. Di antara para sahabat nabi yang dikenal ahli menafsirkan mimpi adalah Sayyidina Abu Bakar RA.

Berikut ini adalah beberapa dialog Tanya Jawab :

Tanya : Pada jaman Rasul, Abu Bakar RA. yang dipercaya untuk menafsirkan mimpi karena bersifat jujur. Apakah pada saat ini masih ada orang jujur yang bisa menafsirkan mimpi ?

Jawab : Saat ini memang orang yang sidiq sulit dicari. Namun Alhamdulillah sudah banyak kitab-kitab yang memuat takbir mimpi. Pada kitab tersebut mimpi-mimpi yang pernah dialami telah dikompilasi. Kitab ini telah ada rangkumannya dalam bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi itu cuma pertanda, tidak konklusif. Karena dalam buku itu suatu mimpi bisa memiliki beberapa arti dan tidak ada jaminan mana yang benar. Namun jawaban itu bisa mengurangi kegelisahan. Sama halnya seperti ramalan cuaca. Kita bisa mengantisipasi cuaca, namun tidak pasti karena Allah yang menentukan. Ada seseorang bermimpi jari-jari tangannya yang ketiga dan keempat buntung. Menurut Ibn Hasyirin maknanya adalah sholatnya bolong-bolong. Jari tangan yang buntung itulah waktu sholat yang ditinggalkan. Orang itu kemudian bertaubat.

Tanya : Apakah artinya jika mimpi bertemu dengan Rasulullah ?

Jawab : Mimpi bertemu dengan Rasulullah memang ada haditsnya. Imam Bukhari, berkata siapa yang melihat Rasulullah dalam tidur, maka dia telah melihat Rasulullah, karena syaitan tidak bisa berserupa dengan Rasulullah. Mimpi bertemu Rasulullah ini ada beberapa takbirnya. Ada yang pernah bermimpi melihat Rasulullah sebagai sosok yang tampan, terlihat muda dan gagah. Ada juga yang pernah bermimpi melihat Rasulullah sedang berjalan. Dalam mimpinya ia melihat ada empat orang memakai jubah melintas tanpa menyapa dan berbicara. Pada waktu orang-orang tersebut telah hampir melintasinya, ada seberkas cahaya. Sesudah itu ada suara yang memberitahu, bahwa yang lewat tadi adalah keempat sahabat Rasulullah dan cahaya itu adalah Rasulullah sendiri. Ada juga yang bermimpi Rasulullah, namun tidak melihat jelas mukanya, hanya cahaya. Menurut orang-orang arif, Insya Allah mimpi bertemu Rasulllah maknanya adalah ia tidak akan mati sebelum berkunjung ke makam Rasulullah atau naik haji. Atau dia akan menjadi ulama. Jadi pada dasarnya merupakan pertanda baik.

Tanya : Apa setiap orang jujur bisa menafsirkan mimpi? Apakah hubungan antara sifat sidiq dengan kemampuan menjelaskan mimpi ?

Jawab : Mimpi yang berupa pesan, pada dasarnya hanya dapat dipantulkan ke dalam hati orang-orang yang sidiq. Fungsi ruh untuk menangkap isyarat Ilahi, menurut Imam al Gazali, ibarat cermin. Dia bisa memantulkan cahaya. Orang yang sidiq merupakan cermin yang paling bersih dan paling bening dimana cahayanya tidak terdistorsi sama sekali. Dia bisa menangkap isyarat itu. Sebagaimana Sayyidina Abu Bakar RA. yang dapat mengetahui arti mimpi yang merupakan titipan dari Allah. Dengan demikian kita bisa berpikir sebaliknya. Jika kita ingin bisa menafsirkan mimpi, berusahalah jadi orang jujur dan sholeh, sehingga bisa menangkap pesan-pesan dari Allah yang lain.

(Disalin dari catatan : Vita Sarasi, & diresume dari tausiyah Dr. Syamsudin Arif pada siaran radio doppel-E, Darmstadt, Jerman)
Dalam waktu dekat, sejumlah daerah, terutama di Jawa Barat, akan melaksanakan pemilihan kepala daerah atau pemimpin. Pemimpin yang baik adalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu berlaku adil. Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان
"Allah sungguh memerintahkan kamu berbuat adil dan berbuat kebajikan." (QS. An-Nahl : 90) Pemimpin yang kita dambakan sejatinya harus berkarakter (kuat) dan punya kepribadian yang baik, juga mempunyai keahlian di bidangnya (kepemimpinan). Ada sebuah kisah yang perlu kita contoh bersama. Pada suatu hari, Abu Musa al-’Asy’ari bertamu kepada Baginda Nabi SAW. seraya menyampaikan permohonan isi hatinya. Abu Musa berkata, "Ya Rasulullah ! Apabila Anda tidak keberatan, sudilah kiranya saya diberi kesempatan dan kepercayaan menjadi bendahara negara." Nabi SAW. menjawab, "Wahai Abu Musa ! Anda seorang yang alim (berilmu), seorang yang zuhud, qanaah, dan sederhana, tetapi sayang Anda tidak mempunyai keahlian di bidang itu (bendahara negara)." Mendengar jawaban dari Baginda Nabi SAW., kemudian dia mengurungkan niatnya dan memohon maaf atas permohonannya itu. Kisah ini memberi pelajaran kepada kita, terutama para elite politik, seandainya tidak mempunyai keahlian (skill) di bidang kepemimpinan atau pemerintahan, maka jangan memaksakan kehendak. Berikan kesempatan itu kepada orang lain yang lebih mumpuni, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak yang kalau dipaksakan maka akibatnya akan fatal, kerugian bagi masyarakat dan bangsa secara keseluruhan, terutama masyarakat yang ada di tataran bawah (akar rumput) yang selalu menjadi objek dan rebutan bagi para elite politik. Kita semua sepakat bahwa untuk membangun masyarakat yang maju, beradab, dan bermartabat dibutuhkan seorang pemimpin yang sejatinya memiliki sifat-sifat di bawah ini :
  1. Pertama : JUJUR (tidak pernah dusta) selalu bicara apa adanya. "Qalilul lafdzi wa katsirul ma'na" artinya sedikit berbicara tetapi banyak bekerja, tidak khianat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak menyakiti hati rakyatnya, sekali dia menyakiti hati rakyat, maka seumur hidup tidak akan dipercaya lagi. Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kebaikan dan kebaikan menunjukkan jalan ke surga. Sesungguhnya orang yang biasa jujur, maka di sisi Allah dia dicatat menjadi orang yang benar. Sebaliknya, dusta itu menunjukkan kepada kejahatan, dan kejahatan menunjukkan jalan ke neraka, orang yang biasa dusta dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Muttafaqun alaih)
  2. Kedua : SEDERHANA (qanaah). Pemimpin berjiwa amanah berpenampilan sederhana. Dia tidak akan mengada-ada sesuatu yang memang tidak ada, juga tidak akan menghilangkan sesuatu yang sesungguhnya sesuatu itu ada. Corak pemimpin seperti ini tampilan pemimpin qanaah. Artinya, sekecil apa pun pemberian Allah, maka ia mensyukurinya. Dia selalu melihat ke bawah dalam urusan materi (dunia), dan selalu melihat ke atas dalam urusan ilmu pengetahuan, prestasi kerja, dan amal saleh.
  3. Ketiga : MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN UMUM, berjuang sekuat tenaga menghilangkan segala bentuk kezaliman, memerangi kefakiran, kemiskinan, kemelaratan, dan keterbelakangan. Tampilan pemimpin seperti ini sejatinya mendapatkan dorongan moril dari rakyatnya. Mereka memanjatkan doa kepada Tuhannya demi kesuksesan dan keberhasilan pemimpinnya. Rasulullan SAW. menegaskan dalam sebuah hadits : "sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka pun berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu laknati mereka, dan mereka melaknati kamu." (HR. Imam Muslim)
  4. Keempat : TEGAS DAN BERANI MENGAMBIL RESIKO, tipologi pemimpin yang didambakan rakyat bersikap tegas, lugas, dan cepat mengambil keputusan, serta tidak mau didikte oleh bangsa lain. Tampilan pemimpin ini seperti Umar bin Khathab. Al-kisah, pada suatu hari ada seorang pencuri gandum milik orang kaya, dia tertangkap basah masyarakat dan nyaris dihakimi massa. Akhirnya, peristiwa ini dilaporkan kepada Umar bin Khathab. Umar bertanya kepada pencuri, mengapa kamu mencuri? Si pencuri menjawab, wahai amirul mukminin, saya mencuri karena terpaksa, mencari pekerjaan susah, sementara saya punya anak dan istri yang harus saya nafkahi setiap hari. Mendengar jawaban si pencuri akhirnya Umar membebaskan dia dari segala tuntutan hukum, dan ia diberi modal agar hidup mandiri. Ini tidak menyalahi Alquran karena kondisinya sangat darurat dan kesalahannya tidak diprogram atau tidak direncanakan.
  5. Kelima : DEKAT DENGAN KAUM DUAFA. Gaya pemimpin model ini senantiasa membela kepentingan rakyat banyak. Dia sadar betul jabatan di pundaknya harus dipertanggungjawabkan kepada Allah karena jabatan merupakan amanah yang mesti dilaksanakan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW. bersabda : "Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya, pemimpin adalah pengayom masyarakat dan akan ditanya tentang pengayomannya, laki-laki itu pemimpin akan ditanya tentang keluarganya, pembantu itu pemimpin akan ditanya tentang harta majikannya, anak itu pemimpin akan ditanya tentang harta kedua orang tuanya, maka setiap kamu adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang masalah kepemimpinannya." (HR. Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar)
  6. Keenam : ADIL, Pemimpin amanah senantiasa menegakkan keadilan terhadap seluruh rakyatnya tanpa melihat status, jabatan, atau pun kekayaan, Dia memandang bahwa segala sesuatu harus didasari atas kebenaran wahyu bukan atas kekuatan logika. Dalam pikirannya, di depan hukum semua orang sama tak satu pun yang kebal hukum, meskipun pejabat tinggi kalau dia bersalah maka harus diproses secara hukum, jangan sampai dibiarkan karena akan membuat sakit hati rakyatnya.
Seorang pemimpin yang tidak berusaha mengadakan perubahan untuk rakyatnya berarti dia sudah kehilangan fitrah kemanusiaannya. Oleh karena itu, tidak ada cara lain bagi seorang pemimpin agar dihormati dan diteladani rakyatnya kecuali mengadakan perubahan. Perubahan yang dapat dibangun bisa melalui berbagai cara :
  1. Pertama, dengan ilmu pengetahuan. Komitmen pemimpin dipertaruhkan, selama pendidikan kita berjalan di tempat, maka selama itu pula kita akan semakin tertinggal. Rasulullah saw. mengingatkan kita : "Barang siapa yang ingin merubah tatanan dunia yang lebih maju dan beradab maka harus dengan ilmu (pendidikan), barang siapa yang ingin menggapai keselamatan kampung akhirat adalah dengan ilmu. Barang siapa yang ingin meraih di antara keduanya juga harus dengan ilmu." Pemimpin yang mempunyai komitmen dalam bidang pendidikan berarti dia punya iktikad baik untuk mengubah nasib bangsanya agar menjadi negara besar dan maju, yang "baldatun thayyibatun warabbun ghofur" artinya tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan, serta ada dalam ampunan Allah SWT.
  2. Kedua, dengan kekuasaan. Kekuasaan yang disandang oleh seorang pemimpin merupakan peluang dan kesempatan emas untuk membangun bangsanya. Allah SWT berfirman :
    إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
    Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga kaum itu sendiri mengubahnya." (QS. Ar-Rad : 11)***
[Ditulis oleh ZAENAL ABIDIN, dosen Fakultas Teknik Unpas, dosen LB STAI Al-Jawami, dosen LB STAI Miftahul Huda Pamanukan, alumnus MTs Darul Ma’arif Pamanukan, dan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi hari Kamis / 22 April 2010 pada kolom "CIKARACAK"]
"Engkau mengabdi kepada Allah, seakan-akan engkau melihat Dia. Kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah Dia pasti melihatmu." (HR. Muslim)

Terjemahan hadis di atas merupakan potongan terjemahan hadis tentang Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda datangnya hari kiamat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lengkapnya terjemahan hadis tersebut adalah sebagai berikut. ”Dari Umar radhiyallahu’anhu, beliau berkata : Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah SAW., tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi SAW., lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata, "Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam." Kemudian Rasulullah SAW. menjawab, "Islam yaitu hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan mengerjakan haji ke rumah Allah jika engkau mampu mengerjakannya." Orang itu berkata, "Engkau benar." Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi, "Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman." Rasulullah SAW. menjawab, "Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk." Orang tadi berkata, "Engkau benar." Lalu orang itu bertanya lagi, "Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan." (Beliau) menjawab, "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau." Orang itu berkata lagi, "Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat." Beliau menjawab, "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya." Orang itu selanjutnya berkata, "Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya." Beliau menjawab, "Apabila budak melahirkan tuannya dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan." Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi SAW. bersabda, "Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Lalu beliau bersabda, "Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian." (HR. Muslim)

Secara harfiah, ihsan merupakan bentuk masdar dari kata ahsana-yuhsinu-ihsan. Bentuk masdar ihsan ini sama dengan bentuk masdar kata Islam dan iman yang berasal dari kata aslama-yuslimu-islam dan amana-yuminu-iman. Secara istilah dan maknanya juga, ketiga kata ini sama yaitu sebagai pilar utama agama Islam. Begitu inti dari hadis tersebut. Apabila salah satunya hilang dari ketiga pilar ini, tidaklah bisa dikatakan Islam sebagai agama itu sempurna. Kesempurnaan Islam sebagai agama karena ketiga pilar ini. Islam sebagai pilar utama ajaran Islam dalam hal syariat (lahir). Iman sebagai pilar utama ajaran Islam dalam hal tauhid (batin). Dan ihsan sebagai pilar utama ajaran Islam dalam hal akhlak (moral) yang mencakup Islam dan iman. Begitu juga bagi pemeluknya, belum bisa dikatakan Muslim, Mukmin, dan Muhsin yang sempurna, apabila di antara ketiga pilar tersebut belum atau tidak ada padanya.

Turunan kata ihsan (kebaikan) bisa berbentuk hasan (baik), ahsan (lebih baik), hasanah (baik), dan muhsin (yang berbuat baik). Oleh karena itu, kata ihsan bisa berarti baik, kebaikan, kebajikan, atau orang yang berbuat baik.

Kalau begitu, apa bedanya dengan khayyr yang mempunyai arti sama dengan ihsan yaitu baik ?
Walaupun sama artinya yaitu baik, ihsan lebih halus kebaikannya, lebih berkualitas kebaikannya, dan lebih luas makna dan fungsinya. Hal ini sama dengan kata basyar dan insan yang mempunyai arti sama sebagai manusia. Akan tetapi, manusia yang paling bagus sikap dan tutur katanya, manusia yang berkualitas, manusia yang istikamah, dan luas pengetahuannya, itulah disebut insan. Akan tetapi, manusia yang bodoh, terbelakang, sempit pemikirannya, bahkan suka berbuat kerusakan, dia pantas disebut sebagai basyar bukan insan. Di dalam Alquran pun lebih banyak kata ihsan daripada khayyr. Begitu juga lebih banyak kata insan daripada kata basyar.

Ulama tasawuf seperti dikatakan al-Kaslani dalam Mu`jamul Istilahat As Sufiyah halaman 286 mengartikan kata ihsan ke dalam 2 (dua) pengertian.
  1. Pertama, ihsan merupakan pemahaman sebagaimana bunyi hadis di atas.
  2. Kedua, ihsan diartikan sebagai penglihatan diri Allah SWT. kepada hamba-Nya dan penglihatan diri hamba kepada Allah SWT. Hal ini dapat kita contohkan seperti sebuah cermin, di mana kita dapat melihat diri kita melalui cermin tersebut. Orang yang berbuat baik (muhsin) adalah orang yang dapat melihat Allah SWT., baik melalui zat (nanti di hari kiamat) maupun sifat-Nya, dan apabila tidak bisa melihat-Nya maka yakinlah Allah SWT. melihatnya. Dengan demikian, muraqabah yaitu perasaan diri diawasi oleh Allah SWT. dalam segala hal, merupakan hal penting dan utama untuk dilakukan oleh seorang sufi. Kenapa hal ini penting, karena muraqabah merupakan ihsan itu sendiri.
Almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) dalam "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah", mengartikan ihsan sebagai ajaran tentang penghayatan pekat akan hadirnya Tuhan dalam hidup. Melalui penghayatan diri sebagai hamba yang sedang menghadap dan berada di depan hadirat-Nya ketika beribadah. Ihsan adalah pendidikan atau latihan untuk mencapai puncak kemanusiaan dalam arti sesungguhnya. Ihsan menjadi puncak tertinggi keagamaan manusia. Makna ihsan lebih meliputi daripada iman, dan karena itu, pelakunya adalah lebih khusus daripada pelaku iman, sebagaimana iman lebih meliputi daripada Islam sehingga pelaku iman lebih khusus daripada pelaku Islam.

Hakikat ihsan dapat berbeda-beda, sesuai dengan konteks pembicaraannya. Apabila dalam konteks pembicaraan ibadah, hakikat ihsan dalam ibadah seperti telah dijelaskan pada hadis di atas. Apabila dalam konteks pembicaraan muamalah dengan sesama, hakikat ihsan adalah menunaikan hak-hak sesama dan tidak menzaliminya. Karena wujud sesama berbeda-beda, bentuk ihsannya pun berbeda-beda sesuai dengan keadaannya masing-masing.

Allah SWT. telah mewajibkan agar berbuat ihsan (kebaikan) dalam setiap hal dan menjadikannya sebagai suatu prinsip dari beberapa prinsip yang diserukan-Nya sebagaimana firman Allah Swt. "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Dalam hal kesempurnaan ihsan, setidaknya ada 3 (tiga) hal yang harus dilakukan.
  1. Pertama, meyakini segala amal perbuatan yang dilakukan dapat bernilai ihsan apabila dilandasi dengan niat yang baik dan dilakukan dengan ikhlas.
  2. Kedua, senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah SWT. dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
  3. Ketiga, melakukan musyahadah yaitu senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktivitasnya dengan sifat-sifat tersebut. ***
[Ditulis oleh M. ZAENAL MUHYIDIN, Wakil Ketua PW LTN NU Jawa Barat dan Ketua Yayasan Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka. Serta disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Hari Jumat 16 April 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Ya Allah, jadikanlah pada hatiku cahaya
pada pendengaranku cahaya
pada penglihatanku cahaya
di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya
di hadapanku cahaya dan di belakangku cahaya
di atasku cahaya dan di bawahku cahaya
dan jadikanlah aku cahaya.

Ya Allah,
berikanlah pada hatiku cahaya
pada ingatanku "tiada Tuhan melainkan Allah"
bukakanlah semua rahasiaku dengan ingatan "Allah, Allah"
dan luaskanlah ruhku dengan ingatan "Dia, Dialah Allah".

Ya Allah,
berikanlah cahaya pada hatiku dengan cahaya petunjuk-Mu
sebagaimana Engkau menerangi bumi
dengan cahaya matahari-Mu selama-lamanya
dengan rahmat-Mu.
Wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ya Allah,
bersihkanlah hatiku dari syirik,
kekafiran dan kemunafikan.

Dan kebahagiaan dari Allah atas junjungan kami
Muhammad, atas keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

[Diwariskan dari alm. H. MOKHTAR SHIHABUDDIN]
Sebuah teka-teki kehidupan, yang sadar atau tidak sering timbul di dalam pikiran kita, mengapa saya tidak sekaya orang lain ? Mengapa mereka yang banyak bermaksiat justru semakin sukses dalam bisnisnya? Apakah ini sudah takdir saya?


Untuk itu perlu kita kaji firman Allah Ta'ala berikut ini :

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Az Zukhruf : 32)

Bahwa Allah-lah yang mengatur pembagian rezeki kepada hambanya, Allah-lah yang mengatur penghidupan kita (ma'isyah kita) bukan orang lain, bukan pelanggan, bukan pimpinan perusahaan dan bukan diri kita, tapi Allah-lah yang menentukan seberapa banyak rezeki kita hari ini dan esok.

Lalu Mengapa Allah Menentukan Rezeki Saya Hanya Sedikit ?

Boleh jadi karena Allah tahu batas kemampuan kita, jika diberi kekayaan melimpah kita tidak lagi ingat kepadaNya, kita akan banyak berbuat maksiat. Karena Allah Maha Tahu, Dia mengetahui kadar kemampuan kita dalam menerima fitnah harta.

"Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya" (QS. Al Mu'minuun : 62)

"Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. Asy Syuura : 27)

Semua itu terjadi karena Allah tahu kapasitas dan kemampuan kita dalam menerima ujian kekayaan, semua karena kasih sayang Allah kepada hambanya, ada orang yang jika diberi kemiskinan maka dia akan bermaksiat sedangkan jika dia dalam kecukupan maka dia banyak beramal kebajikan. Sebaliknya ada orang-orang yang diberi kemiskinan justru banyak beribadah, sedangkan jika diberi kekayaan akan bermaksiat.

"Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda." (HR. Tirmidzi)

Kalau Rezeki Sudah Ditakdirkan Lalu Mengapa Kita Harus Berusaha dan Bekerja ?

Kita tidak pernah tahu takdir kita sebelum takdir itu terjadi, oleh karena itu tetaplah berusaha bekerja sungguh-sungguh dan banyak beramal kebaikan untuk menyambut takdir kita, karena kita akan dipermudah menuju takdir kita.

Tentang masalah ini, jangankan kita, sahabat Rasulullah-pun menanyakan hal yang sama, buat apa berusaha dan bersusah payah jika sudah ditakdirkan buruk ?

"Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar." (Shahih Muslim No. 4786)

Jadi bersyukurlah jika Anda termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam berbuat kebaikan. Selain dari itu, perbaiki kualitas agama kita agar kita lebih siap menerima ujian baik kekayaan dan kemiskinan, karena jika kita sudah berbuat baik dengan banyak bersedekah dan bertakwa maka Allah akan memudahkan jalan kesuksesan kita, sekali lagi renungkan firman Allah Ta'ala berikut ini :

"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS. Al-Lail : 4 - 7)

Lalu Bagaimana dengan Mereka yang Berbuat Dosa, Mengapa Mereka Justru Sukses di Dunia ini ?

Karena mereka telah melupakan peringatan Allah, maka Allah akan memberikan semua kenikmatan dunia sehingga mereka semakin lupa dan semakin banyak berbuat dosa yang akhirnya akan di azab dengan sekonyong-konyong, sesuai dengan firmannya :

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An'aam : 44)

Jadi berhati-hatilah jika disaat kita banyak berbuat dosa dan maksiat justru Allah memberi rezeki melimpah!

Ingatlah :

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS Al Baqarah : 212)

Wallahu'alam
Hidup adalah pilihan. Terkadang kita harus memilih satu di antara dua atau bahkan sekian banyak pilihan pada waktu bersamaan. Pada saat yang sama, kita pun harus siap dengan konsekuensi-konsekuensinya sebagai buah dari pilihan tersebut. Risiko harus siap kita tanggung.

Kita akan sulit menemukan manusia yang tidak memiliki pilihan-pilihan dalam hidupnya. Hidup memang berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, mudah dan susah, suka dan duka, dan lain-lain.

Allah SWT. telah banyak memberikan ilustrasi terhadap manusia yang diberi berbagai pilihan. Misalnya, penciptaan laki-laki (dzakaf) dan perempuan (untsa) serta keberadaan suku-suku (syu'ub) dan bangsa-bangsa (gabaail), seperti dalam QS. Al-Hujurat : 13.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Di akhir itu ditegaskan, siapa pun di antara yang disebut dalam ayat tersebut bertakwa, maka ia akan menjadi orang paling mulia di sisi Allah.

Ilustrasi lainnya yakni tentang kehadiran siang dan malam pada episode hidup manusia. Allah SWT. mengisyaratkan kegiatan-kegiatan yang sepatutnya dilakukan pada dua waktu tersebut sebagai bagian dari sunnatullah. Misalnya malam sebagai waktu istirahat, sedangkan siang hari untuk beraktivitas seperti bekerja. Jika di antara kita ada yang tidak menggunakan sebaik mungkin waktu malam untuk istirahat, tentu akan memperkecil peluang mata pencarian dirinya di siang hari.

Hal lain yang penting, pilihan untuk menjadi orang yang bersyukur atau kufur terhadap nikmat Allah. Banyak dijelaskan tentang konsekuensi yang akan diterima jika kita mensyukuri atau sebaliknya kufur nikmat. Salah satunya adalah dalam QS. Luqman : 12 yang menegaskan ekspresi syukur kita sejatinya adalah untuk pribadi kita, untuk diri kita bukan untuk Allah.


وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

Menerjemahkan rasa syukur, salah satunya adalah dengan menempatkan pemberian Allah SWT. sesuai dengan proporsinya. Tangan untuk mengangkat beban, menulis, dan lain-lain dan bukan untuk berkelahi apalagi dipakai menenggak minuman keras.

Demikian pula ketika kita dilebihkan rezeki oleh Allah, menjadi pantas bagi kita apabila mengucapkan syukur dengan membelanjakan harta di jalan yang diridhai-Nya. Dalam hal ini, haji dan umrah merupakan alternatif terbaik dalam mensyukuri nikmat berupa limpahan rezeki. Apalagi di Tanah Suci terdapat sejumlah tempat yang makbul (mustajab) untuk berdoa. Sebut saja di Masjid Nabawi terdapat Raudah (taman surga) yang terletak antara mimbar dan rumah Nabi (kini makam Nabi). Sementara di Masjidilharam lebih banvak lagi tempat mustajab untuk memohon, seperti Hijr Ismail (berbentuk setengah lingkaran dekat Ka'bah), Hajar Aswad, Safa dan Marwah, Maqam Ibrahim, dan Multazam.

Sudah menjadi keyakinan seorang jemaah haji maupun umrah bahwa Multazam adalah salah satu tempat mustajab untuk meminta kepada Allah. Tentu ada banyak argumentasi mengapa doa kita dikabulkan atau tidak dalam pandangan para ulama, tetapi kenikmatan spiritual untuk dapat berdoa dan mendekap Multazam menjadi kenikmatan yang tidak ternilai harganya.

Pilihan-pilihan hidup yang semakin kompleks membuat kita membutuhkan kekuatan spiritual yang tidak hanya diekspresikan melalui doa. Menentukan pilihan terkadang membuat kita merasa kosong, apalagi jika pilihan itu sangat sulit. Bahkan, kerap muncul perasaan bersalah atas pilihan yang telah kita lakukan.

Sering kali kita diombang-ambingkan perasaan, kepentingan, dan kebutuhan hidup. Sebagai manusia yang menyandang identitas sebagai seorang Muslim sehingga kehampaan batin itu perlu diisi oleh kekuatan spiritual.

Kekuatan spiritual adalah sebuah kekuatan yang dapat menenteramkan dan membuat nyaman hati saat kita menentukan pilihan, bahkan setelah pilihan itu kita jatuhkan. Rasa nyaman atas pilihan kita sebagai yang terbaik dan diridhai Allah SWT. perlu ditopang oleh suasana, kondisi, dan tempat yang memungkinkan. Salah satunya di Multazam ketika musim haji maupun umrah.

Di depan Multazam yang letaknya lurus dengan pintu Kabah, setiap orang yang berada di dekatnya atau bahkan mendekapnya, sulit untuk tidak meneteskan air mata dan tersedu-sedu memohon doa. Setelah berdoa kepada Allah membuat kita merasa mantap menentukan pilihan hidup.

Setiap orang dapat menentukan pilihan atas persoalan yang dihadapinya berdasarkan argumentasinya masing-masing. Akan tetapi, tidak semua pilihan itu dapat memuaskan hatinya. Saat kita meminta pilihan terbaik di Multazam senantiasa akan hadir dalam diri kita ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman atas apa pun keputusan yang telah kita pilih.

Untuk itu, beruntunglah bagi setiap manusia yang dapat berdoa di Multazam dalam menentukan pilihan terbaik bagi hidupnya.***'

[Ditulis oleh H. DINDIN JAMALUDDIN, pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan dosen Fakultas Tarbiyah UINSunan Gunung Djati. Tulisan disali dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 10 Mei 2011 pada Kolom "UMRAH & HAJI"]

by
u-must-b-lucky

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan mereka kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Berniat baik dan ikhlas kepada Allah SWT., termasuk perkara besar dan penting yang bisa menyelamatkan manusia. Niat baik adalah amalan hati, sedang hati adalah anggota tubuh manusia yang paling mulia. Karena itu amalan hati sangatlah penting dan menentukan. Dengan niat di dalam hati suatu pekerjaan akan bernilai di hadapan Allah, dan jika anggota tubuh berbuat sesuatu tanpa niat yang benar, maka ia melakukan sesuatu yang tidak berarti.

Hendaklah kita senantiasa menyimpan niat yang baik di dalam hati jika melakukan sesuatu dan mengikhlaskannya kepada Allah SWT. Jangan melakukan ketaatan, melainkan padanya niat untuk mendekatkan diri, patuh kepada-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Apabila kita mengerjakan perkara mubah, seperti makan, minum, dan tidur, maka hendaklah kita niatkan untuk memelihara tubuh, agar kuat beramal dan beribadah kepada Allah SWT., meneguhkan taqwa dan ketaatan kepada-Nya. Dengan niat seperti itu berarti kita telah menyertakan amal mubah dengan amal yang wajib, sedangkan kita telah memperoleh pahala pula, lantaran perbuatan kita telah diikat dengan niat karena Allah SWT.

Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah SWT. semata. Maksud niat disini adalah pendorong kehendak manusia untuk mewujudkan satu tujuan yang dituntutnya. Maksud pendorong adalah penggerak kehendak manusia yang mengarah kepada amal. Sedang tujuan pendorong amat banyak dan beragam. Ada yang bersifat materil dan ada pula yang bersifat spritual. Ada yang bersifat individual dan ada pula yang bersifat sosial. Ada yang duniawi dan ada pula yang ukhrowi. Ada yang sederhana dan ada pula yang besar dan berbahaya. Ada yang berkaitan dengan nafsu perut dan ada pula yang berkaitan dengan nafsu birahi. Ada yang berkaitan dengan kenikmatan akal dan ada pula yang berkaitan dengan rohani. Ada yang dilarang, mubah, dianjurkan dan ada pula yang wajib. Ikhlas punya arti melakukan sesuatu dengan hati yang bersih dan jujur. Ikhlas adalah suatu aktivitas yang dilakukan tanpa pamrih duniawi.

Makna Ikhlas adalah menyengajakan semua amal ibadah, ketaatan dan ibadah semata-mata kepada Allah SWT. Untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridhaan-Nya. Bukan untuk tujuan-tujuan yang lainnya, seperti berpura-pura mengerjakan ketaatan, menampilkan diri di hadapan orang banyak mengharap pujian atau tamak untuk mendapatkan suatu pemberian.

Adapun ikhlas itu sendiri, menurut Al Harwi ada tingkatannya. Ikhlas mempunyai 3 tingkatan, yaitu :
  1. Tidak memandang bahwa ia telah berbuat sesuatu.
  2. Tidak mengharap balas dan ganjaran.
  3. Tidak merasa puas dengan apa yang telah diperbuat.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita akan mendapatkan tiga tipe manusia dalam melakukan segala aktivitas dan segala amal-ibadahnya, yakni; mukhlis ikhlas, munafik dan riya’. Keikhlasan akan membuahkan rahmat, kemunafikan akan membawa laknat, sedangkan riya’ membawa amalan kepada kesia-siaan. Keikhlasan punya misi membangun, sedangkan kemunafikan dan riya’ jelas merusak dan sia-sia. Karena itu, perilaku riya’ dan munafik, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Perilaku munafik yang destruktif itu jelas akan merusak dimanapun ia berada. Ia akan merusak diri dan lingkungan sosialnya. Begitu pula ornag yang riya’, amalan-amalannya tidak akan diperolehnya sedikitpun di hari kemudian.

Lalu bagaimana dengan ikhlas ? Kata ini memang mudah diucapkan, akan tetapi sangat sulit direalisasikan. Untuk menjadi ikhlas dalam arti yang sebenarnya, hati ini perlu dilatih secara konkrit. Tentu saja rintangan pun selalu menghadang. Tapi begitu rintangan-rintangan itu bisa dilewati, buah keikhlasan mudah diraih. Di saat semua aktivitas yang tiada tergoda oleh rayuan duniawi dan semuanya dilakukan hanya karena Allah.

Orang mukmin yang benar adalah jika pendorong agama di dalam hatinya bisa mengalahkan pendorong hawa nafsu, porsi akhirat bisa mengalahkan porsi duniawi, mementingkan apa yang ada disisi Allah SWT. dari pada apa yang ada di sisi manusia, menjadikan niat, perkataan dan amalnya bagi Allah semata, menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya bagi Allah SWT., Rabb semesta alam. Inilah yang disebut ikhlas.

Sesungguhnya Islam menolak perangkap dan dualisme yang dibenci, yang sering kita lihat dalam kehidupan manusia akhir zaman ini, sehingga terkadang kita melihat seseorang di mesjid atau aktif berpuasa pada bulan Ramadhan, tapi kemudian dalam kehidupan mu’amalahnya dengan sesama, atau dalam tindak tanduknya dia merupakan sosok manusia lain. Ikhlaslah yang kemudian menyatukan kehidupan orang muslim dan menjadikan semua sisinya hanya bagi Allah SWT. Shalatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya, semua bagi Allah Rabbal ‘Alamin.

Dengan hujjah iman yang nyata dan cahaya Al Qur’an, seorang muslim sejati mengetahui bahwa kebahagiaan tak bakal tercapai kecuali dengan ilmu, amal dan ibadah. Hidup seseorang tiada berarti kecuali dengan ilmu. Orang-orang yang berilmu pun akan merugi jika tidak mengamalkannya. Dan amal yang tidak disertai dengan landasan ikhlas karena Allah adalah gambar mati. Raga tanpa jiwa.

Menurut Iman Al Ghazali rahimahullah bahwa dunia ini adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu. Semua ilmu adalah hujjah atas pemiliknya kecuali yang diamalkan. Semua alam akan sia-sia kecuali yang didasari dengan ikhlas.

Sehingga banyak orang bijak berkata, ”Ilmu laksana benih, amal laksana tanaman, sedang ikhlas adalah air yang menyiraminya.

Wallahu a’lam bissawab.***

[Ditulis oleh BUYA H. MAS’OED ABIDIN]

by :
u-must-b-lucky
Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi...........

Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya sendiri; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar dapat berkhidmat kepada kita.
Diantara mereka ada yang merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta.

Orangtua dan anak hanya berjumpa nanti 
di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala... 

Saat itu ada yang menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Di saat ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka, dan tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama kepada mereka.

Apakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala. Inilah hari ketika kita tak dapat dibela oleh pengacara, dan para pengacara sekalipun tak dapat membela diri mereka sendiri.

Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?

Dan dunia ini adalah ladangnya...

Kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati.

Anak-anak berpisah dengan kita untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah SWT.

Tingkatan amal kita dan anak-anak boleh jadi tak sebanding... entah mana yang lebih tinggi... Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah? 


Apakah kita benar-benar mencintai anak kita?

Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga mengkhawatirkan nasib mereka di akhirat sebagaimana diantara kita mengkhawatirkan nasib kita "nanti" nya?

Kita menyibukkan diri menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi disamping untuk diri kita sendiri... apakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Pandanglah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Apakah engkau relakan wajahnya tersulut api neraka hingga melepuh kulitnya?

Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Apakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Mari cintai anak-anak kita untuk selamanya!

Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala.

Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga.

Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi...

Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***

[Tulisan asli dari Mohammad Fauzil Adhim penulis buku best seller "Segenggam Iman untuk Anak dan Saat Berharga untuk Kita"]


by

u-must-b-lucky