Dalam sebuah majelis, Rasulullah SAW. pernah ditanya para sahabat. "Ya Rasulullah, apa ciri-ciri pribadi Muslim ?" Rasulullah SAW. menjawab, "Ciri-ciri Muslim itu, apabila dia melihat kamu, maka dia mendekat kepadamu, kemudian dia menyegerakan salam. Engkau akan selalu melihat senyuman di wajahnya. Lalu, dia akan lebih awal menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Kalau engkau dekat dengan dia, engkau akan mencium wanginya. Kalau engkau bicara dengan dia perhatikan baik-baik, pasti dia akan mengajakmu kepada keselamatan dunia akhirat. Mau berbicara tentang apa saja, pada akhirnya dia akan mengajak kamu kepada keselamatan di akhirat. Kalau berurusan dengannya, dia permudah. Itulah ciri-ciri pribadi Muslim." (Muttafaq 'Alaih).

Betapa sempurnanya pribadi seorang Muslim yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. di atas. Gambaran di atas tadi kelihatannya sangat ringan, namun dalam prakteknya amat berat dilakukan oleh mereka yang tidak ikhlas hatinya dalam menjalani amal ibadah di dunia ini. Intinya, seseorang baru bisa dikatakan Muslim kalau orang lain merasakan aman dari tangan, lisan, dan perbuatannya. Pribadi Muslim juga selalu dekat dengan Allah SWT.

Manusia (seorang Muslim) kalau sudah mendekat kepada Allah SWT. (taqarrub Ilallah), maka akan sayang dengan makhluk Allah SWT. Manusia (seorang Muslim) kalau sudah sujud baik jasadiyah dan nafsiyahnya keharibaan Allah SWT., lalu dia berdoa dengan rasa takut, dengan berharap amat sangat, maka dampaknya dia akan senang berbuat kebaikan.

Seorang Muslim yang telah beriman kepada Allah SWT. dari aspek lahiriah berupa iqror billisan dan qobul bil arkan, sebagai pembuktian dari pembenaran dalam hati laksana cahaya. Kalau dia sudah bercahaya (beriman secara batiniah dan lahiriah), pasti akan menerangi kanan-kirinya, karena dia akan selalu mengakses nur Allah, dia akan selalu memahami batas-batas yang harus ditaatinya, serta mampu mengarahkan dan mengendalikan seluruh aktivitasnya sesuai dengan cahaya tersebut. Seperti firman Allah dalam Al-Quran yang artinya : ”Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[*], yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[**], yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nuur : 35)

[*] Maksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.
[**] Maksudnya : pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.

Ayat ini menerangkan tentang nur Allah yang cahayanya meliputio seluruh alam. Perumpamaan cahaya ini seperti sebuah lentera (misbah) yang tersimpan di dalam sebuah miskat (tempat penyimpanan lentera). Misbah tersebut terletak di dalam sebuah jujajah (kaca), yang mana kaca itu nampak berliau. Lentera ini mendapat suplai minyak (zaitun) yang asalnya bukan dari barat bukan dari timur. Zaitun ini memberi energi terhadap pelita tersebut sehingga ia dapat bercahaya terang.

Jika ilustrasi lentera diatas dikaitkan dengan manusia, dapat di lukiskan sebagai berikut : miskat adalah tempat bagi lentera. Ciri dari miskat adalah ia tidak memiliki cahaya. Miskat adalah dinding yang tidak tembus cahaya. Fungsinya hanya sebagai tempat (wadah) bagi cahaya (pelita). Miskat dalam arti. Miskat dalam arti ini sama dengan unsur jasmani manusia. Jasmani bukanlah inti yang menjadi hakekat manusia, melainkan hanya sebagai tempat bersemayamnya pelita (Cahaya). Yang menjadi inti adalah misbah (pelita) yang ada di dalam jasmaniah tersebut. Misbah (pelita) adalah sumber cahaya atau disebut juga dengan potensi iman (fitrah). Iman adalah cahaya yang ada didalam hati. Iman ini terletak di dalam jujajah (kaca). Karakteristik jujajah (kaca) menurut ayat tersebut memiliki potensi cahaya (berkilau), seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara. Yang dimaksud dengan jujajah (kaca) dalam hal ini adalah nafisah atau qalbu. Iman itu bersemayam didalam nafsiah atau qalbu (jujajah) manusia.

Seorang Muslim yang beriman dengan sebenarnya akan dapat menerangi bukan hatinya, pikirannya, pendengarannya, tingkah lakunya, pakaiannya, rezekinya, rumahnya, kamarnya, tamannya. Di manapun dia berada membawa cahaya, dan cahaya itu tidak bisa dikalahkan dengan kegelapan.

Seorang pribadi Muslim meyakini adanya hari akhirat, dia menjadikan, dunia ini untuk akhiratnya. Hidupnya untuk Yang Maha hidup, sehingga pekerjaan dan aktivitas apa saja yang dia lakukan hanyalah dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ardi, mengajak manusia untuk selalu menapakai kebenaran, dan selalu menerangi mereka yang sedang berada di dalam kegelapan (kesesatan/kemaksiatan).

Hidupnya tidaklah seperti binatang atau kaum musrikin yang dikatakan hidup karena tidak mati, karena masih ada ruh yang melekat di dalam jasadnya, namun hatinya/qalbunya/nafiahnya sudah mati, hidupnya hanyalah untuk hidup yang sesaat di alam dunia ini, yang pada akhirnya berlomba-lomba untuk menjadikan semuanya sebagai komoditas. Sehingga, ia akan selalu mengejar popularitas, jabatan, dan kekayaan.

Seorang pribadi Muslim tahu, waktu yang diberikan Allah ini sempit untuk di dunia. Makanya seorang Muslim ingin membuat kenangan yang panjang. "Wa ammaa bini'mati robbika fahaddits" : Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (QS. Adh Dhuhaa : 11)

Wallahu a'lam Bishawab

[Dikutip dan direvisi dari "Republika On-Line"]
  • Ayat 31 : "Inna lilmuttaqîna mafâzâ" : Sesungguhnya oraang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan.
  • Ayat 32 : "Chadâ-iqa wa a'nâbâ" : (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.
  • Ayat 33 : "Wakawâ'iba atrâbâ" : dan gadis-gadis remaja yang sebaya,
  • Ayat 34 : "Waka-san dihâqâ" : dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
  • Ayat 35 : "Lâ yasma'ûna fîhâ laghwaw walâ kidhdhâbâ" : Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta.
  • Ayat 36 : "Jazâ-am mir rabbika 'athâ-an chisâbâ" : Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,
  • Ayat 37 : "Rabbis ssamâwâti wal-ardhi wamâ baynahumâr rrachmâni lâ yamlikûna minhu khithâbâ" : Tuhan Yang Memelihara Langit dan Bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan dia.
Allah SWT. disini menjelaskan, untuk mutaqeen Dia akan mengkaruniakan.. surga/kebun dan estat anggur, dan dara dewasa …secangkir penuh minuman…sebuah hadiah dari Tuhanmu dan banyak hadiah terhitung …amalan.”

Dan Dia menjelaskan hadiah, “surga/kebun dan estat anggur.” Dan kami telah menjelaskan itu. Mari kita melihat dari sudut pandang yang berbeda terhadap makna dari “Aku memberimu kebun/surga dan estat anggur dan Aku mengawinkan kamu kepada dara dewasa yang paling cantik dan Aku memberimu secangkir penuh anggur, yang tidak akan memabukkan kamu sehingga kamu tidak akan berbicara buruk atau berbuat hal yang buruk.”

Dikatakan oleh mereka yang siddiq dan haqq, in tawilaat an-najmiyya min al-khawwas, “Inna lilmuttaqîna” menggambarkan mutaqeen itu artinya mereka yang berusaha menghancurkan ego gelap mereka.

Untuk menjadi mutaqeen berarti kita harus bertempur terhadap diri kita sendiri, dan empat (4) musuh, yaitu nafs, dunia, hawa, shaytan.

Mereka yang berjuang melawan kejahatan tadi, membuka tabir dan membawa diri mereka menuju sebuah hadiah / pahala kemenangan (mafaaza). Karena mereka mutaqeen, Allah menghadiahi mereka, dengan apa ? Sesuatu yang tidak dapat digambarkan. Itu disebutkan sebagai kebun / surga dan estat anggur. Namun makna ruhaniahnya adalah kebun ilmu dan Marifat.

Ketika kita menyatakan bhwa kita memiliki sebuah kebun bunga atau kebun buah. Itu artinya kita memiliki bunga / buah yang tidak terbatas. Jika kita memiliki sebuah kebun dengan hanya satu varietas saja tentu membosankan dan tidak menarik. Maka maknanya disini diartikan sebuah kebun dari cahaya barakah dari asma’ul husna Allah, yang menjadi sebuah pelangi warna warni di dalam qalbu dan dia dapat bergerak melintasi warna-warni tadi dan setiap warna mewakili sebuah samudera ilmu. Kita tahu warna mulai dari putih hingga hitam, terdapat samudera ilmu yang kita tak dapat menghitungnya. Itu artinya Allah akan mendadani diri kita dengan asma Nya yang indah seperti kita berbusana pelangi. Ketika Dia menganugerahkan itu dan mengisi dengan itu, itu berarti kita berhasil (successful).

Kita telah meraih keindahan dan keagungan dan busana lain yang dianugerahkan Allah. Busana (attributes) itu adalah seumpama kebun. Kebun–kebun tadi adalah seperti kebun qalbu. Qalbu menjadi kebun yang mengangkat dirinya dari koneksi duniawi dan mengangkatnya ke koneksi langit (surgawi). Bila kamu diangkat ke langit, koneksi / hubungan menjadi lain dari hubungan dunia. Bila kamu tersambung ke langit, Allah akan mengisi qalbu kita dengan kebun anggur dan pohon yang penuh dengan ilmu, yang akan selalu tegak.

Itu artinya kita akan selalu terangkat (ascending) dalam ilmu, terus menerus meningkat dalam ilmu. Ketika kita meningkat dalam hadhirat ilahi, maka kita menjadi lebih tahu dan lebih tahu lagi akan kebesaran Tuhan. Ketika kita naik, Tuhan akan menambah dan selagi itu bertambah, kamu menjadi seperti seseorang yang minum dari pabrik anggur cinta.

Bila di dunia seseorang jatuh cinta, mereka tenggelam dan menjadi mabuk. Itu adalah sebuah perumpamaan (metaphora) untuk menggambarkan kemurnian cintamu, ketika Dia menaikkan dirimu kepada cinta yang demikian. Kita tak dapat lagi melihat siapapun selain Hadhirat Ilahi.
Pada saat itu kita akan diberi kawâ'iba atrâbâ. Dalam makna spiritual itu artinya Lataif. Kita dapat naik dari satu lapisan ke lapisan Lataif lainnya, titik di dalam dada kamu. Itulah sebabnya banyak orang spiritual dan sufi menggunakan Lataif ini untuk naik atau dibukakan bagi mereka 7 (Tujuh) lapisan itu. Setiap lapisan menggambarkan sebuah langit sampai kita mencapai setiap langit nya. Rahasia dari setiap langit akan diwariskan kepada kita dari ilmu yang diberikan Allah kepada Nabi dari ulum al-awwaleen wal-aakhireen.

Bila qalbu kita menjadi terinspirasi dengan 7 (tujuh) langit dan Lataif ini, kita akan diberikan secangkir penuh dengan Cinta Allah. Pada saat itu segala sesuatu akan menghilang bahkan kamu tidak tahu dirimu sendiri. Pada saat itu "ilahi anta maqsudi wa ridaka matlubi." (Engkau yang saya maksud dan ridha Mu yang saya dambakan.) Tak ada apapun pada saat seperti itu. Itu akan dikaruniakan kepadamu. Cangkir itu akan penuh dengan cinta ilmu dan ma`rifat.

Pada saat itu kita tak akan mendengar bisikan duniawi dalam telinga kita. Tidak ada lagi kecintaan kepada dunia atau kesenangannya, kekayaannya atau apapun yang terkait dengan dunia. Hanya cinta kita utuh untuk Allah dan ridha Nya. Pada saat itu menjadi tak berarti cinta manusia terhadap rumah mereka, bagaimana menghiasinya, anak anak mereka, berapa mobil yang mereka miliki, berapa banyak permata mutu manikam yang mereka miliki, dan seterusnya. Ketika kamu membangun cinta untuk Allah, maka cinta seperti itu tadi tidak lagi hadir.

Bila kita memiliki secangkir penuh dengan cinta Allah, maka kita tak dapat mengisi apa-apa lagi ke dalamnya, itu telah sempurna, segala sesuatu lainnya akan mengalir keluar. Seperti halnya bulan purnama yang sempurna. Pada saat itu kita tidak mendengar lagi gosip shaytan.

Memahami Iluhiyya Dia dan Dia adalah Pemilik Quwwah, kita akan mewarisi rahasia Qul Audhu bi-rabb in-nass, ilahi nass, … dari gosip perusuh, dari gosip yang mereka buat. Pada saat itu tidak terdapat kesempatan untuk gosip memasuki hati kita, akan hilang. Karena kita mencari pelindung terdapat shaytan.

Dan ini adalah Jazâ-am mir rabbika 'athâ-an chisâbâ. Allah mengkaruniakan itu kepada kita karena itu adalah yang kita minta dan Dia memberikan. Kita akan diangkat dari api dunia ini. Meskipun kita tidak merasa secara fisik panasnya dunia, di Akhirat jika Allah tidak memerintahkan ‘bardan wa salaman’ bagi kita, sebagaimana Dia memerintahkan itu dingin dan aman untuk Ibrahim (as), dan jika Dia menginginkannya itu akan membeku sempurna, kemudian kita tidak merasa panasnya di dalam kuburan dan tidak merasa panas dunia pada Hari Pengadilan.

Allah akan mengangkat kita dan menyelamatkan kita dari panasnya dunia yang akan terasa seperti api. Dia akan menganugerahkan kita perpisahan dari panasnya dunia kepada surga di Akhirat. Dan dikatakan bahwa kawâ'iba, adalah sesuatu yang terproyeksi dari tubuh atau itu memiliki bentuk yang menonjol, seperti gambaran “berdada penuh”. Dalam interpretasi dari asma’ul usna dan attribut(busana), apapun yang keluar dari mereka tentang ilmu dan ma`rifat itu artinya apa-apa yang tersembunyi, dan kita menjadi matang menerimanya, seperti seorang gadis tanpa dada, dan ketika dia tumbuh dewasa, dadanya membentuk menonjol. Itu adalah gambaran tentang keindahan ilmu yang akan muncul dan keluar ketika kita mendekati Hadhirat Ilahi.

Sisa sisa citra nama-nama yang berada dalam Surga/Kebun Amalan : Jannat al-afa`al. amalan Kebun Indah. Bila kita berada dalam Kebun Indah amalan, pada saat itu sesuatu yang baru akan muncul mengemuka yang sebelumnya tidak tampak, yang tersembunyi dan kini bermekaran bunga.

Kita akan menerima secara seimbang dari masing-masing ilmu asma ul husna dan attribut (busana). Bukannya yang satu memberi lebih lalu kepada lainnya kurang, tetapi kamu akan menerima secara merata dari masing-masing nama. Itu artinya ilmu kita akan berkembang mekar dalam jumlah yang sama dari ma`rifat dari masing-masing asma‘ul husna dan attribut (busana).

Waka-san dihâqâ. Kita akan menerima secangkir penuh kenikmatan cinta dan cinta itu akan diarahkan kepada bentuk citra dari ilmu yang keluar dari asma’ul husna dan attribut (busana) dicampur dengan zanjabeel, dan buah-buahan surga.

Mereka akan diberi sebuah pahala / hadiah yang tanpa akhir. Jazâ-am mir rabbika 'athâ-an chisâbâ. Itu adalah sebuah hadiah yang diberikan tanpa akhir sesuai dengan kemurahan Nya. Tidak terdapat apapun yang lebih nikmat dan gurih bagi mereka atau lebih menyenangkan dari pada apa yang dikaruniakan Allah kepada mereka pada maqam tersebut.

Rabbis ssamâwâti wal-ardhi wamâ baynahumâr rrachmâni lâ yamlikûna minhu khithâbâ. Penguasa Langit dan Bumi dan semua di antara keduanya. Apa yang ada diantara keduanya. Dia tidak menyebutkan Rabb us-samawati wal-ard. Tetapi menambahkan dengan apapun di antara keduanya. Dia secara khusus menyebutkan sesuatu di antara mereka. “Apapun yang di Langit Dia adalah Raja atas siapapun yang berada di antara keduanya ar-Rahman.” “tiada satupun dapat memiliki kekuasaan untuk berbicara kecuali dia yang telah diberi izin.”

Dia menyebutkan Rububiyya. Penguasa yang Maha Kuasa. Raja itu adalah Satu yang memiliki Kuasa. Apakah yang ada di antaranya ar-Rahman. Ketika tidak akan ada satupun di sana pada Hari Pengadilan untuk berbicara, laa yamliku minhu khitaaba. Satu-satunya yang berani berbicara adalah dia yang diberi hak syfa’at. Siapakah itu? Rasulullah SAW.

Dia menggambarkan “wa rahmatee wasi`at kulla shay. Wa sa-aktubuhu liladheena aamanu…” Dia yang akan menulis rahmat itu untuk sang mutaqeen. Para mutaqeen. Setiap orang mengharap menjadi mutaqeen. Dengan Shafa`a Nabi, Allah akan memberikan maqam itu kepada mereka. Itu artinya Allah yang adalah Raja di Langit dan di Bumi, Dia adalah Satu yang dapat memberi mereka Rahmat Nya. Rahmat Nya yang luas tak berakhir. Bila Dia memberi Dia memberi dari mana ? Aku adalah Penguasa Langit dan Bumi dan apapun di antara keduanya, ar-Rahman. Satu yang memberi mereka dari kedekatan Nya di Dunia dan Akhirat. Itu datang dari tengah-tengah antara keduanya, sebagai Rahmat Nya, ar-rahma, dari kedua Dunia dan Akhirat.

Wa sakhara lakum ma fis-samawati wa maa fil-ard dan apa yang berada di antara mereka ar-Rahman. Itu berarti Dia adalah Penguasa Langit itu berarti bila qalbumu menjadi seperti sebuah tanah yang subur untuk menerima cahaya ilmu, maka Dia menjadi Rabb us-samawati il-arwaah. Penguasa Langit dari qalbu/spirit (ruhaniah). Pada saat itu Dia akan mengirim kepada kita ilmu dari nama itu untuk membuat qalbu kita suatu langit ilmu dan dia adalah penguasa dari bumi dirinya (ard an-nufus) Penguasa dari bumi diri mereka.

Langit mewakili ruhaniah dan bumi mewakili ego. Penguasa langit ruhaniah dan bumi ego dan apapun di antara keduanya. Apakah yang berada di antara langit ruhaniah dan bumi ego. Itu adalah rahasia qalbu, sirr al qalb. Antara langit dan bumi adalah qalbu mukmin, karena Dia berkata, “tidak langit tidak pula bumi dapat mewadahi Ku namun qalbu mukmin mewadahi Ku.”

Apakah Tiang Utama qalbu. Namanya adalah al-Rahman. Kamu harus mendekati dari nun (huruf n) untuk mengerti Alif.
  1. Noon adalah Nur, Bila dibawa keberadaan maka itu harus diberi hidup. Hidup adalah Quantum Physics Cahaya semua atoms adalah dari hidup semua ciptaan adalah dari atoms.
  2. Meem adalah Al-Muheet, serba meliputi, Misbah atau Lentera Cahaya semua hidup adalah di dalam Lingkaran Ciptaan nya. Muhammad Rasul Allah.
  3. Ha adalah Al-Hayat, Rahasia Hidup lestari. Semua Hidup adalah Cahaya semua Cahaya adalah untuk Rasul Allah. Cahaya nya adalah sumber bagi semua ciptaan.
  4. Ra adalah Rabb, "Rububiyya" Kekuasaan Ilahiah adalah Otoritas Tertinggi yang dilengkapi dengan Kuasa untuk Mengelola Kerajaan Allah.
  5. Lam adalah Lahut atau Kerajaan, Lidah bagi Kerajaan Ilahiah Lisan Rasul Allah Yang menyampaikan Risalah.
  6. Alif adalah Allah, Inti Yang mendukung Singgasana. Allah tak dapat dicari dimanapun kecuali dalam qalbu Abdi Nya, Rasul Allah.
Ra-Ha-Meem = Rahim seorang wanita. Ketika seorang bayi dilahirkan itu diberi Cahaya "Noon" dan itu dari Rahman.

Nama itu menggambarkan semua jenis keindahan dan keagungan karena terletak di antara Asma Allah, yang meliputi semua nama dan attribut (busana), dan nama itu adalah ar-Raheem, yang menggambarkan cinta khusus Nya bagi orang beriman. Apa yang berada di antara qalbu dan langit ruhaniah adalah cahaya dari asma ar-Rahman.

[Ditulis oleh SHAIKH HISHAM KABBANI dan diunduh dari www.nurmuhammad.com]

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan Kepada-Nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al Anbiyaa' : 89 - 90)

Dalam Al-Qur’an kata khusyu’ disebutkan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda. Meskipun mayoritas tunjukannya kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang menyatakan bahwa khusyu’ berlaku juga untuk benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Dengan adanya tunjukan kepada selain manusia ini paling tidak dapat dijadikan sebagai ‘ramuan’ untuk membakukan arti khusyu’ yang sebenarnya.

Berdasarkan informasi Al-Qur’an inilah akan dapat dijawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah khusyu’ yaitu :
  1. Bagaimana yang dikatakan khusyu’ ?
  2. Apa syarat-syarat untuk mendapatkan khusyu’ ?
  3. Bagaimana cara menambah ke khusyukan ?
  4. Imbalan apa yang diperoleh saat seseorang sudah berada dalam keadaan khusyu ?

  5. Pengertian Khusyu’

    Pengertian Khusyu’ Berdasarkan informasi ayat-ayat Al-Qur’an yg berkaitan dgn khusyu’ maka didapati pengertian bermacam-macam yang intinya tetap mengacu kepada ‘merendahkan diri’. Bervariasinya pengertian khusyu’ dalam Al-Qur’an ini menunjukkan bahwa sifat khusyu’ tidak hanya berlaku dalam satu konteks ibadah saja seperti shalat akan tetapi bisa meluas kepada berbagai aspek baik yang berhubungan dengan ibadah maupun yang non ibadah.

    Dengan demikian sifat khusyu’ adalah sifat yang melekat pada diri seseorang kapan dan dimana saja dan tidak hanya tertentu dalam konteks ibadah saja.Berdasarkan informasi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan khusyu’ maka didapat pengertian yang bermacam-macam, tetapi intinya tetap mengacu kepada ‘merendahkan diri’.

    Bervariasinya pengertian khusyu’ dalam Al-Qur’an ini menunjukkan bahwa sifat khusyu’ tidak hanya berlaku dalam satu konteks ibadah saja seperti shalat akan tetapi dapat meluas kepada berbagai aspek baik yang berhubungan dengan ibadah maupun yang non ibadah.

    Dalam QS. Thaha : 108 misalnya disebutkan bahwa khusyu’ ialah merendahkan suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Namun pada QS. Fushshilat : 39 diartikan dengan tandus yaitu bumi yang kering tandus dan bilamana disiramkan air ke atasnya jadilah bumi itu bergerak dan subur. Berlainan dari pengertian kedua ayat di atas maka dalam QS. Al-Syura : 45 dijelaskan bahwa arti khusyu’ ialah tunduk karena merasa hina. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang kafir yang digiring ke dalam neraka akan tertunduk karena merasa terhina sementara pandangan mereka penuh dengan kelesuan.

    Khusyu’ dalam arti tunduk karena merasa terhina dapat dijumpai pada ayat-ayat yang lain. Selain tunduk karena merasa malu maka terdapat juga dalam ayat yang lain yaitu tunduknya hati karena mengingat Tuhan dan kebenaran yang diturunkan-Nya seperti dalam QS. Al-Hadid : 16 begitu juga tunduk disebabkan takut kepada Allah sebagaimana dalam QS. Al-Hasyar : 21. Berdasarkan informasi ayat-ayat di atas tentang makna khusyu’ maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa makna khusyu’ terbagi kepada 2 (dua) yaitu yang bersifat lahiriyah dan bathiniyah. Dalam konteks lahiriyah dapat dilihat melalui pandangan mata seperti gersangnya bumi dan lesunya wajah orang-orang kafir sementara yang bersifat bathiniyah yaitu tidak dapat dijangkau melalui indera karena arti khusyu’ dalam konteks ini berhubungan dengan masalah hati yang tunduk ketika mengingat Tuhan. Dengan demikian pengertian khusyu’ ialah rendahnya hati kepada Tuhan dan baiknya tindakan dan perilaku kepada sesama makhluk.

    Syarat-Syarat Khusyu’

    Adapun syarat untuk berlaku khusyu’ sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah : 45-46 adalah adanya suatu keyakinan akan menemui Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Adanya keyakinan akan berjumpa dengan Tuhan untuk mempertanggung jawabkan seseorang untuk berlaku khusyu’ karena yang terjalin di benaknya ialah adanya kekhawatiran ketika menghadap Dzat Yang Mahakuasa ini. Dengan demikian segala aktifitasnya di dunia selalu dilandasi atas keridhaan Tuhan dan dalam situasi yang seperti inilah berlaku kekhusyukan baginya. Selain berjumpa dengan Tuhan yang meyakini bahwa suatu suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya.

    Sedangkan dalam Q.S. Ali Imran 199 dijelaskan bahwa syarat untuk menggapai tingkat khusyu’ ialah tidak memperjualbelikan ayat-ayat Tuhan dengan harga yang murah. Maksudnya tidak memanifulasi ayat-ayat Tuhan gara-gara ingin merebut kedudukan dan kegemerlapan duniawi karena dunia ini sedikitpun tidak ada harganya pada sisi Tuhan. Penegasan ayat ini menunjukkan bahwa khusyu’ baru dapat digapai dengan syarat bila ayat-ayat Tuhan tidak pernah dipelintir untuk kepentingan duniawi.

    Selanjutnya syarat untuk menggapai predikat khusyu’ ialah bersegera mengerjakan kebaikan sebagaimana diinformasikan melalui QS. Al-Anbiya' : 90. Artinya dalam hal kebaikan tidak pernah menunda-nunda waktu dan senantiasa merasa terpanggil untuk melakukannya baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah. Perlakuan dan sikap yang seperti ini dijadikan sebagai syarat untuk mendaki puncak khusyu’ karena perbuatan baik adalah symbol dari sifat-sifat Tuhan.

    Berdasarkan informasi ini dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan nilai khusyu’ maka seseorang harus memenuhi kriteria-kriteria sebagaimana yang digambarkan oleh ayat-ayat di atas. Oleh karena itu khusyu’ tidak akan datang dengan sendiri kecuali setelah seseorang dapat memenuhi persyaratan dengan baik sebagaimana yang telah diungkapkan dan sangat tipis harapan bila predikat khusyu’ akan didapat bila hanya sekadar berbekal do’a.

    Cara Meningkakan Serta Imbalan Khusu'

    Maka langkah berikutnya ialah meningkatkan kualitas khusyu’ yang sudah dilaksanakan Dengan secara berfluktuasi, adakalanya menurun dan adakalanya bisa naik dan bahkan bisa pupus sama sekali. Maka upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menambah nilai kekhusyukan ini tetap saja mengacu kepada informasi Al-Qur’an. Sebagaimana dalam QS. Al-Isra’ : 107-110 digambarkan upaya-upaya yang harus ditempuh oleh seseorang guna meningkatkan kualitas khusyu’ yang sudah diperolehnya. Termasuk ke dalam upaya meningkatkan kualitas khusyu’ ini ialah beriman kepada Al-Qur’an dan membacanya sambil menyungkur dan bersujud serta memuji Tuhan dengan penuh linangan air mata dan meminta kepada-Nya melalui nama-nama-Nya yang baik.

    Redaksi ini tidak bisa dipahami secara harafiah dimana semua orang bisa saja melakukan hal yang seperti ini akan tetapi berat dugaan bahwa yang dimaksud dengannya ialah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk dalam segala lini kehidupan. Bagi orang-orang yang sudah mampu meraih kekhusyukan khususnya dalam shalat dapat dipastikan akan meraih kemenangan sebagaimana yang disebuntukan dalam QS. Al-Mukminun : 1-2. Kemenangan ini tidak hanya sebatas urusan ukhrawi saja akan tetapi berlaku bagi segala bentuk kemenangan di dunia karena orang-orang yang khusyu’ senantiasa bersikap rendah diri. Sikap rendah diri inilah yang mengantarkannya untuk disenangi oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.

    Selanjutnya ditegaskan pula bahwa orang-orang yang khusyu’ akan mendapat imbalan dari Tuhan berupa ampunan dan pahala yang besar sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab : 35. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa orang-orang yang khusyu’ akan mendapat tempat yang baik di dunia maupun di akhirat. Justru itu tidak ada pilihan lain guna meningkatkan harkat dan martabat kita kecuali menghiasi diri kita dengan sifat khusyu’.

    Berdasarkan informasi ayat-ayat Al-Qur’an di atas maka dapat dipahami bahwa khusyu' adalah anugerah Tuhan yang didapati perjuangan panjang dengan menempuh seperangkat persyaratan-persyaratan sebagaimana yang telah digambarkan oleh Al-Qur’an dan sama sekali tidak akan datang dengan sendiri kecuali setelah manusia berupaya untuk menggapainya.

    [Ditulis oleh Drs. ACHYAR ZEIN M.Ag. Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN SU Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia disalin dari www.blog.re.or.id]
    Suatu hari Ali bin Abi Thalib RA. mendapati kedua anaknya, Hasan RA. dan Husain RA. sakit. Bahkan kedua cucu Rasulullah SAW. itu mengalami sakit yang cukup lama sehingga Ali pun bernazar, "Jika Hasan dan Husain sembuh, aku akan berpuasa selama tiga hari". Rupanya Allah SWT. mendengar nazar Ali tersebut hingga Hasan dan Husain pun sembuh. Ali bin Abi Thalib bersama isterinya, Fatimah Az-Zahra, pun berpuasa.

    Menjelang tiba waktu berbuka di hari pertama, hanya tersedia dua potong roti untuk makanan berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, belum lagi keduanya menyantap roti tersebut, datang seorang fakir miskin yang mengetuk pintu mereka seraya meminta makanan lantaran perutnya
    belum terisi sejak beberapa hari. Urunglah Ali dan Fatimah melahap roti yang sudah digenggamnya, mereka pun meneruskan berpuasa hingga keesokan harinya.

    Di hari kedua berpuasa, mereka pun hanya memiliki sepotong roti untuk dimakan berdua pada waktu berbuka nanti. Seperti halnya hari kemarin, tiba saatnya berbuka, pintu pun kembali terdengar diketuk seseorang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta makanan karena kelaparan. Tak kuasa menahan iba, Ali pun memberikan sepotong roti itu kepada anak yatim itu. Keduanya kembali berpuasa. Ujian memang selalu diberikan Allah kepada orang seperti Ali dan Fatimah. Bahkan di hari ketiga berpuasa pun, sepotong roti yang mereka punya pada saat menjelang berbuka ikhlas mereka berikan kepada seorang tawanan yang baru saja bebas namun tak ada makanan. Ali, Fatimah, dan kedua anaknya, Hasan dan Husain mengerti bahwa semua ini hanyalah ujian kesabaran dari Allah.

    Sebuah pelajaran yang teramat mengharukan dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang penyabar. Betapa AUah tengah menguji mereka, akankah mereka tetap beriman dan mau menyedekahkan rezeki milik mereka kepada orang lain, meskipun mereka teramat membutuhkan.

    Bahkan kisah yang teramat indah ini Allah lukiskan dalam Al-Q.uran Surat Al-Insaan : 8-10, agar menjadi pelajaran bagi kebanyakan manusia.

    Memberi di saat berlebih adalah hal biasa, meski tidak semua orang melakukannya. Tetapi memberi di saat kita membutuhkan, hanyalah mereka yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah di surga kelak yang sanggup melakukannya. Butuh perjuangan, keikhlasan dan kesabaran untuk meniru apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya. Tentu saja kita bisa, jika kita mau. "..barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia berbuat kebaikan.." (QS. Al-Kahfi: 110).

    Wallahu A'lam Bish-Shawab.
    Semoga rahmat dan salam tercurahkan selamanya kepada Rasulullah Muhammad SAW. Selamat datang wahai yang mempunyai dua permata cahaya. Selamat datang wahai kakek sayyidina Hasan Radiyallaahuanhumaa dan sayyidina Husein Radiyallaahuanhumaa. Semoga Allah SWT. senantiasa meridhai keduanya. Amin.

    Bulan Maulid (kelahiran) Rasulullah Muhammad SAW. kembali datang. Kembali menyapa kita. Kembali membawa berkah, rahmat, dan ampunan bagi kita semua. Marilah kita sambut kembali, sapa kembali maulid Rasulullah Muhammad SAW. ini dengan penuh rasa khidmat, tawadu, takzim, dan sukacita akan kelahirannya.

    Wahai kaum Muslimin dan Muslimat, menyambutkah Anda sekalian dengan kelahiran baginda Rasulullah Muhammad SAW. ? Bergembirakah Anda sekalian dengan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. ? Atau sebaliknya ? Anda tidak menyambutnya, bahkan tidak merasa bahagia akan kelahirannya ?

    Semoga Allah SWT. senantiasa memberikan kekuatan lahir batin kepada kita untuk senantiasa menyambut, bergembira, merayakan akan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. dan mengikuti sunahnya sehingga kita termasuk orang-orang yang mencintai dan bersyukur atas kelahirannya.

    Rasulullah Muhammad SAW. lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal atau 21 April 571 Masehi di Kota Mekah Al-Mukarromah. Kelahiran beliau sebagai hamba Allah yang mulia dan istimewa, menjadikan rahmat dan berkah bagi umatnya, bahkan bagi alam semesta ini. Rasulullah Muhammad SAW. lahir dari seorang ibu yang mulia, Sayyidah Siti Aminah Radiyallaahuanha dalam keadaan bersih dan suci.

    Akan lahirnya seorang hamba Allah yang mulia dari seorang ibu yang mulia sudah diketahui sebelumnya oleh para alim atau para pendeta dari golongan Nasrani. Mereka mengatakan bahwa dalam kitab Injil diterangkan akan datangnya seorang hamba Allah yang kelak akan menjadi Nabi akhir zaman, dengan sifat dan tanda-tanda sebagaimana dijelaskan dalam kitab Injil. Setelah itu, di dalam mimpinya, Sayyidah Aminah didatangi seorang hamba Allah yang mengatakan kepadanya, "Sesungguhnya engkau (Aminah) akan melahirkan seorang hamba yang akan menjadi pemimpin dan menjadi hamba Allah yang terbaik. Untuk itu, bila Ia lahir, berilah nama Muhammad untuknya. Karena kelakI Ia akan menjadi manusia terpuji dan selalu dipuji (Wa utiyat ummuhu filmanami faqila laha innaki qad hamalti bisayyidil’alamina wakhayrilbariyyah. Wasammihi idza wadla’tihi muhammadan liannahu satuhmadu ’uqbah).

    Ketika usia kandungannya sampai sembilan bulan yaitu pada malam kelahirannya, Sayyidah Aminah kedatangan dua orang hamba Allah yang suci dan menjadi penghuni surga, yaitu Siti Asiah dan Siti Maryam. Setelah itu, maka lahirlah Rasulullah Muhammad saw. Bahkan, menurut sebagian pendapat bahwa Siti Asiah dan Siti Maryam inilah yang menjadi bidan/perajinya Rasulullah Muhammad SAW. ketika lahir. Saat lahir, Rasulullah Muhammad SAW. sudah menjadi anak yatim. Karena pada waktu usia kandungan ibunya baru dua bulan, ayahnya, Abdullah wafat dan dimakamkan di Madinah.

    Merayakan atau memperingati dilahirkannya Rasulullah Muhammad SAW. (Maulid Nabi) merupakan ungkapan rasa syukur dan bahagia kita akan kelahirannya. Kita sebagai umatnya, sudah sepatutnya merasa bahagia dan bersykur kepada Allah SWT. karena telah mengutus Muhammad SAW. ke dunia ini untuk menjadi rahmat bagi kita semuanya. Ungkapan bahagia dan syukur ini pula lah yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Setiap Senin yaitu hari di mana Rasulullah Muhammad SAW. dilahirkan, ia selalu berpuasa. Pada suatu ketika Rasulullah Muhammad SAW. ditanya oleh salah seorang sahabatnya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, "Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku." (HR. Muslim)

    Hadis tersebut merupakan dasar hukum akan peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Beliau sangat memuliakan dan mensyukuri akan kelahirannya dengan berpuasa.

    Berkaitan dengan ungkapan rasa syukur atas anugerah yang diberikan Allah SWT. kepada kita melalui diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. dijelaskan di dalam QS. Yunus ayat 58 : "Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian."

    Ayat di atas jelas sekali bahwa Allah SWT. menyuruh kita umat Islam untuk bahagia dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Rasulullah Muhammad SAW. adalah rahmat atau anugerah Allah kepada manusia yang tiada taranya. Dijelaskan pula dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 : "Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam."

    Jadi, perayaan maulid Nabi merupakan sesuatu yang dibolehkan. Apalagi isinya adalah bacaan-bacaan tayibah, salawat, baik Barjanzi atau Dibai, sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh syariat Islam. Intinya, semua itu adalah sebagai perwujudan cinta Rasulullah Muhammad SAW. dan berharap syafaat darinya nanti di yaumil qiyamah.

    Shallallahu ala Muhammadin. Shallallahu alayhi wasallama. Man ahabbani kana ma’i fil jannah. Man ’azhama maulidî kuntu syafii’an lahu yaumal qiyamah. (Barangsiapa yang mencintaiku maka ia bersamaku nanti di surga. Barangsiapa yang memuliakan kelahiranku maka ia akan mendapat syafaat dariku nanti di hari kiamat.)***

    [Ditulis olh : M. ZAENAL MUHYIDIN, Wakil Ketua PW LTNU Jawa Barat dan ketua Yayasan Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka dan disalin dari Harian "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat ( ) 5 Maret 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]

    "Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu). sedangkan neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu." (HR. Bukhari & Muslim)

    HADITS di atas menjelaskan kepada kita tentang 2 (dua) jalan kehidupan. Jalan pertama, jalan yang terjal, penuh cobaan, kesulitan, dan hal-hal yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Inilah jalan menuju surga-Nya. Jalan kedua, sebaliknya penuh dengan kesenangan yang disukai hawa nafsu. Inilah jalan menuju neraka.

    Tidak mengherankan untuk meraih Al-Jannah (surga), membutuhkan perjuangan, terutama untuk mengalahkan diri sendiri, seperti rasa malas, enggan, dan perasaan berat, atau tidak sabar. Cobaan juga bisa muncul dari orang lain, seperti dikucilkan, dianggap asing, disepelekan, atau dihina.

    Sudah merupakan sunnatullah (ketentuan Allah) untuk meraih cita-cita apa pun, tentunya membutuhkan perjuangan. Sekecil apa pun cita-cita itu. Mau sukses menjadi pedagang, menjadi guru, atau apa pun juga, semuanya butuh perjuangan. Apalagi untuk meraih cita-cita terbesar dari seorang hamba, yakni meraih ridha Allah SWT. dengan memasuki surga-Nya. Rasulullah SAW. mengalami hal yang sama. Meskipun sudah dijanjikan kemenangan oleh Allah SWT. dan dijanjikan surga dan doanya pasti terkabul, tetapi tetap saja jalan kesulitan harus ditempuhnya.

    Lihatlah, bagaimana Baginda Rasulullah SAW. dan sahabat-sahabatnya harus menghadapi berbagai cobaan dari orang-orang kafir Quraisy dalam memperjuangkan Islam, mulai dari tawaran kesenangan, seperti harta, wanita, dan kekuasaan. Bahkan, penyiksaan, pemboikotan sampai propaganda negatif. Ibnu Hisyam dalam bukunya menceritakan bagaimana Rasulullah SAW. pernah dilempari dengan kotoran, dilempar dengan batu ketika berdakwah ke Thaif hingga tubuhnya berlumuran darah. Rasulullah SAW. dituduh gila, tukang sihir, atau pemecah belah masyarakat.

    Selama beberapa tahun, Rasulullah SAW. dan sahabatnya diboikot total, mulai dari hubungan ekonomi sampai pribadi. Sebuah kondisi yang sangat menyulitkan saat itu. Ketika menjadi kepala negara di Madinah pun, Rasullulah SAW. menghadapi cobaan kenegaraan yang sangat berat. Rasulullah SAW. langsung memimpin beberapa peperangan besar, seperti Perang Badar, Perang Uhud yang sangat berat. Menghadapi pengkhianatan kelompok Yahudi sampai perselisihan internal umat Islam. Semua dihadapi oleh Rasulullah SAW. dengan tegar.

    Dalam masalah ibadah, Rasulullah SAW. juga menunjukkan kepada kita jalan kesusahannya. Istrinya yang tercinta, Ummahatul Mukminin, Aisyah, RA. pernah melihat kaki Rasulullah SAW. sampai bengkak karena begitu getolnya shalat malam. Ketika ditanya kenapa seperti itu, padahal Beliau sudah dijamin masuk surga, Rasulullah SAW. menjawab dengan kata-kata sederhana, "Tidakkah pantas kalau aku menjadi hamba yang bersyukur ?" Sesungguhnya jalan kesulitan meraih surga ini merupakan konsekuensi keimanan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan; 'Kami telah beriman', sedang mereka belum diuji ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur (dalam keimanannya) dan sesungguhnya Dia pun mengetahui orang-orang yang berdusta." (QS. Al-Ankabut : 2-3)

    Sebaliknya, jalan menuju neraka diliputi hal-hal yang disenangi hawa nafsu. Bertabur uang, penuh pujian, gairah seksual, kesenangan, popularitas, sampai kemewahan. Namun semuanya itu adalah kesenangan yang semu dan bersifat sementara. Semua itu tidak menjamin kebahagian sejati.

    Lihatlah betapa banyak yang kaya, memiliki jabatan yang tinggi, populer, tetapi tidak merasa bahagia. Seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran, mereka adalah orang-orang yang ditimpakan kehidupan yang sempit (ma'isyatan donka) karena melupakan peringatan Allah SWT. (adz dzikr) yang terdapat di dalam Al-Quran.

    Sekarang tinggal kita memilih jalan apa yang kita tempuh, yang disukai hawa nafsu atau yang penuh kesulitan. Tentu saja dengan konsekuensinya masing-masing, surga atau neraka.***

    [Ditulis oleh : K.H. DJALALUDDIN ASY SYATIBI, anggota DPR RI tahun 2004-2009 dan aktif sebagai mubalig, disalin dari Harian "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (manis) 4 Maret 2010 pada kolom "CIKARACAK"]
    Salah satu isu besar yang mengancam persatuan umat Islam adalah isu bid'ah. Akhir-akhir ini, kata itu makin sering kita dengar, makin sering kita ucapkan dan makin sering pula kita gunakan untuk memberi label kepada saudara-saudara kita yang seiman. Bukan labelnya yang dimasalahkan, tapi implikasi dari label tersebut yang patut kita cermati, yaitu anggapan sebagian kita bahwa mereka yang melakukan bid'ah adalah aliran sesat. Karena itu aliran sesat, maka harus dicari jalan untuk memberantasnya atau bahkan menyingkirkannya. Kita merasa sedih sekarang ini, makin banyak umat Islam yang menganggap saudaranya sesat karena isu bid'ah dan sebaliknya kita makin prihatin sering mendengar umat Islam yang mengeluh atau menyatakan sakit hati dan bahkan marah-marah karena dirinya dianggap sesat oleh saudaranya seiman.

    Yang paling mudah kita baca dari kasus tersebut adalah adanya trend makin maraknya umat Islam saling bermusuhan dan saling mencurigai sesama mereka dengan menggunakan isu bid'ah. Mari kita renungkan, apakah kondisi seperti itu harus terjadi terus menerus di kalangan umat Islam ? Di beberapa negara Muslim, seperti di Pakistan, isu itu telah menyulut perang saudara berdarah antar umat Islam hingga saat ini. Sudah tak terhitung nyawa yang melayang karena pertikaian seperti itu.

    Mari kita simak sejenak Fatwa Syech Azhar Atiyah Muhammad Saqr yang dikeluarkan pada tahun 1997. Bahwa sebenarnya isu bid'ah yang berkembang di masyarakat Muslim saat ini disebabkan oleh perbedaan memaknai bi'dah apakah secara etimologis (bahasa) atau terminologis (istilah). Syech Atiyah menjelaskan lebih jauh :

    Dalam kitab "Al-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Athar" karangan Ibnu Atsir dalam pembahasan "ba da 'a" (asal derivatif kata bid'ah) dan dalam pembahasan hadist Umar RA. masalah menghidupkan malam Ramadhan "Inilah sebaik-baik bid'ah", dikatakan bahwa bid'ah terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :
    1. Bid'ah huda (bid'ah benar sesuai petunjuk).
    2. Bid'ah sesat. Bid'ah yang betentangan dengan perintah Allah SWT. dan Rasulullah SAW. maka itulah bid'ah yang dilarang dan sesat.
    Dan bid'ah yang masuk dalam generalitas perintah Allah SWT. dan Rasulullah SAW. maka itu termasuk bid'ah yang terpuji dan sesuai petunjuk agama. Apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW. tapi sesuai dengan perintah agama, termasuk pekerjaan yang terpuji secara agama seperti bentuk-bentuk santunan sosial yang baru. Ini juga bid'ah namun masuk dalam ketentuan hadist Rasulullah SAW. diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah oleh Imam Muslim : "Barang siapa merintis dalam Islam pekerjaaan yang baik kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan sama dengan orang melakukannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa merintis dalam Islam pekerjaan yang tercela, kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan dosa orang yang melakukannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun." (H.R. Muslim).

    Pernyataan Umar bin Khattab RA. "Inilah bid'ah terbaik" masuk kategori bid'ah. Beliau melihat bahwa sholat tarawih di masjid merupakan bid'ah. Rasulullah SAW. tidak pernah melakukannya, tapi Rasulullah SAW. melakukan sholat berjamaah di malam hari Ramadhan beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak melakukannya secara kontinyu, apalagi memerintahkan umat Islam untuk berjamaah di masjid seperti sekarang ini. Demikian juga pada zaman Abu Bakar RA. sholat Tarawih belum dilaksanakan secara berjamaah. Umar RA. lah yang memulai menganjurkan umat Islam sholat tarawih berjamaah di masjid.

    Para ulama melihat bahwa melestarikan tindakan Umar tesebut, termasuk sunnah karena Rasulullah SAW. pernah bersabda "Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaurrashidin setelahku." (HR. Ibnu Majah, dll) Rasulullah SAW. juga pernah bersabda : "Ikutilah dua orang setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar." (HR. Tirmidzi, dll).

    Dengan pengertian seperti itu, maka menafsirkan hadist Rasulullah SAW. yang artinya "setiap baru diciptakan dalam agama adalah bid'ah" harus dengan ketentuan bahwa hal baru tersebut memang bertentangan dengan aturan dasar syariat dan tidak sesuai dengan ajaran hadist.

    Mengkaji masalah bid'ah memerlukan pendefinisian yang berkembang dan muncul di seputar penggunaan kata bid'ah tersebut. Perbedaan definisi bisa berpengaruh pada perbedaan hukum yang diterapkan. Tanpa mendefinisikan bid'ah secara benar maka kita hanya akan terjerumus pada perbedaan hukum, perbedaan pendapat dan bahkan pertikaian. Demikian juga mendefinisikan bid'ah yang sesat dan masuk neraka, tidaklah mudah.

    Dari beberapa literatur Islam yang ada, dapat disimpulkan sebagai berikut :

    Para ulama dalam mendefinisikan bid'ah, terdapat 2 (dua) pendekatan yaitu :
    1. Kelompok pertama menggunakan pendekatan etimologis (bahasa). Golongan pertama mencoba mendefinisikan bid'ah dengan mengambil akar derivatif kata bid'ah yang artinya penciptaan atau inovasi yang sebelumnya belum pernah ada. Maka semua penciptaan dan inovasi dalam agama yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah SAW. disebut bid'ah, tanpa membedakan antara yang baik dan buruk dan tanpa membedakan antara ibadah dan lainnya. Argumentasi untuk mengatakan demikian karena banyak sekali ditemukan penggunakan kata bid'ah untuk baik dan kadang kala juga digunakan untuk hal tercela. Imam Syafi'i berkata : "Inovasi dalam agama ada 2 (dua). Pertama yang bertentangan dengan kitab, hadist dan ijma', inilah yang sesat. Kedua inovasi dalam agama yang baik, inilah yang tidak tercela." Ulama yang menganut metode pendefinisan bid'ah dengan pendekatan etimologis antara lain Izzuddin bin Abdussalam, beliau membuat kategori bid'ah ada yang wajib seperti melakukan inovasi pada ilmu-ilmu bahasa Arab dan metode pengajarannya, kemudian ada yang sunnah seperti mendirikan madrasah-madrasah Islam, ada yang diharamkan seperti merubah lafadz al-Quran sehingga keluar dari bahasa Arab, ada yang makruh seperti mewarna-warni masjid dan ada yang halal seperti merekayasa makanan.
    2. Kelompok kedua menggunakan pendekatan terminologis (istilah). Golongan kedua mendefinisikan bid'ah adalah semua kegiatan baru di dalam agama, yang diyakini itu bagian dari agama padahal sama sekali bukan dari agama. Atau semua kegiatan agama yang diciptakan berdampingan dengan ajaran agama, dan disertai keyakinan bahwa melaksakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari agama. Kegiatan tersebut emncakup bidang agama dan lainnya. Sebagian ulama dari golongan ini mengatakan bahwa bid'ah hanya berlaku di bidang ibadah. Dengan definisi seperti ini, semua bid'ah dalam agama dianggap sesat dan tidak perlu lagi dikategorikan dengan wajib, sunnah, makruh dan mubah. Golongan ini mengimplementasikan hadist yang artinya "setiap bid'ah adalah sesat", terhadap semua bid'ah yang ada sesuai defisi tersebut. Demikian juga statemen Imam Malik : "Barang siapa melakukan inovasi dalam agama Islam dengan sebuah amalan baru dan menganggapnya itu baik, maka sesungguhnya ia telah menuduh Rasulullah Muhammad SAW. menyembunyikan risalah, karena Allah SWT. telah menegaskan dalam surah al-Maidah : 3 yang artinya "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu", adalah dalam konteks definisi bid'ah di atas. Adapun pernyataan Umar RA. dalam masalah sholat Tarawih bahwa "itu sebaik-baik bid'ah" adalah bid'ah dalam arti bahasa (etimologis).
    Lepas dari kajian bid'ah di atas, sesungguhnya tema bid'ah merupakan tema yang cukup rumit dan panjang dalam sejarah pemikiran Islam. Pelabelan ahli bid'ahAbu Hasan Al-Asy'ari (meninggal tahun 304 H) menulis buku "Alluma' fi al-radd 'ala Ahlil Zaighi wal Bid'a" (Catatan Singkat untuk menentang para pengikut aliran sesat dan bid'ah). Setelah itu muncullah kajian-kajian yang makin marak dan gencar dalam mengulas masalah bid'ah.

    Imam Ghozali dalam Ihya' Ulumuddin (1/248) menegaskan : Betapa banyak inovasi dalam agama yang baik, sebagaimana dikatakan oleh banyak orang, seperti sholat Tarawih berjamaah, itu termasuk inovasi agama yang dilakukan oleh Umar RA. Adapun bid'ah yang sesat adalah bid'ah yang bertentangan dengan sunnah atau yang mengantarkan kepada merubah ajaran agama. Bid'ah yang tercela adalah yang terjadi pada ajaran agama, adapun urusan dunia dan kehidupan maka manusia lebih tahu urusannya, meskipun diakui betapa sulitnya membedakan antara urusan agama dan urusan dunia, karena Islam adalah sistem yang komprehensif dan menyeluruh. Ini yang menyebabkan sebagian ulama mengatakan bahwa bid'ah itu hanya terjadi dalam masalah ibadah, dan sebagian ulama yang lain mengatakan bid'ah terjadi di semua sendi kehidupan. Akhirnya juga bisa disimpulkan bahwa bid'ah terjadi dalam masalah aqidah, ibadah, mu'amalah (perniagaan) dan bahkan akhlaq. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa semua tingkah laku dan pekerjaan Rasulullah SAW. adalah suri tauladan terbaik bagi umatnya. Apakah semua pekerjaan Rasulullah SAW. dan tingkah lakunya wajib diikuti 100 %, ataukah sebagian itu sunnah untuk diikuti dan sebagian boleh tidak diikuti ? Apakah meninggalkan sebagian pekerjaan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW. (yang bukan termasuk ibadah) dosa atau tidak ? Contohnya seperti adzan dua kali waktu sholat Jum'at, menambah tangga mimbar sebanyak tiga tingkat, melakukan sholat dua rakaat sebelum Jum'at, membaca Al-Quran dengan suara keras atau memutar kaset Al-Qur'an sebelum sholat Jum'at, muadzin membaca sholawat dengan suara keras setelah adzan, bersalaman setelah sholat, membaca "sayyidina" pada saat tahiyat, mencukur jenggot. Sebagian ulama menganggap itu semua bid'ah karena tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah dan sebagian lain menganggap itu merupakan inovasi beragama yang diperbolehkan dan baik, dan tidak betentangan dengan ketentuan umum agama Islam. Demikian juga masalah peringatan maulid nabi dan peringatan Islam lainnya, seperti Nuzulul Qur'an, Isra' Mi'raj, Tahun Baru Hijriyah, sebagian ulama melihat itu bid'ah dan sebagian lainnya menganggap itu bukan bid'ah sejauh diisi dengan kegiatan-kegiatan agama yang baik. Perbedaan para ulama di seputar masalah tersebut terkembali pada perbedaan mereka dalam mengartikan bid'ah itu sendiri, seperti dijelaskan di atas.

    Yang perlu kita garis bawahi lagi, bahwa ajaran agama kita dalam merubah kemunkaran yang disepakati bahwa itu kemunkaran adalah dengan cara yang ramah dan nasehat yang baik. Tentu merubah kemungkaran yang masih dipertentangkan kemungkarannya juga harus lebih hati-hati dan bijaksana. Permasalahan yang masih menjadi khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat) di antara para ulama, tidak seharusnya disikapi dengan bermusuhan dan percekcokan, apalagi saling menyalahkan dan menganggap sesat. Mereka yang menganggap dirinya paling benar dan menganggap akidahnya yang paling selamat, dan lainnya adalah sesat dan rusak, hendaklah ia berhati-hati karena jangan-jangan dirinya telah terancam kerusakan dan telah dihinggapi oleh teologi permusuhan.

    Wallahua'lam bissowab.

    [Ditulis oleh Muhammad Niam, disalin dari : http://www.pesantrenvirtual.com]
    Bahan Bacaan : 1. Fatawa Azhariyah, Fatwa Syech Atiyah Muhammad Saqr, tahun 1997.
    Bahwa orang yang beriman akan dianugerahi oleh Allah SWT. ketabahan dan kekuatan hati dalam menghadapi setiap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi dalam setiap sisi hidupnya, segala hal yang menimpanya baik itu berupa kerugian maupun keuntungan tidak akan pernah menggoyahkan keteguhan imannya kepada Allah SWT., sebagai Dzat yang menentukan garis hidup manusia baik di dunia dan akherat. Dengan mengetahui akan hal ini maka setiap individu muslim jiwanya akan selalu merasa tentram dan tenang. Ia tidak pernah tamak kepada dunia disamping itu pula ia tidak akan terlalu menyesal ataupun menangisi ketika apa yang telah ia hasilkan tiba-tiba hilang darinya.

    Berikut ini adalah beberapa kiat-kiat yang dianjurkan dalam Islam agar kita dapat meraih kebahagiaan :

    I. Tingkatkan Kadar Iman dan Amal Sholeh

    Bagaimana Iman dapat menuntun kita untuk meraih kebahagiaan, hal ini dapat dijabarkan dengan beberapa hal sebagai berikut :
    1. Bahwa orang yang beriman akan dianugerahi oleh Allah SWT. ketabahan dan kekuatan hati dalam menghadapi setiap kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi dalam setiap sisi hidupnya, segala hal yang menimpanya baik itu berupa kerugian maupun keuntungan tidak akan pernah menggoyahkan keteguhan imannya kepada Allah SWT., sebagai Dzat yang menentukan garis hidup manusia baik di dunia dan akherat. Dengan mengetahui akan hal ini maka setiap individu muslim jiwanya akan selalu merasa tentram dan tenang. Ia tidak pernah tamak kepada dunia disamping itu pula ia tidak akan terlalu menyesal ataupun menangisi ketika apa yang telah ia hasilkan tiba-tiba hilang darinya.
    2. Bahwa dengan iman dapat menjadikan manusia sebagai sosok insan yang memiliki visi dalam hidup, di mana visi ini selalu akan diperjuangkannya dengan segenap usaha dan kerja keras sebagai rasa kepeduliannya terhadap kemaslahatan semua orang yang ada disekitarnya. Maka secara tidak langsung bertolak dari rasa iman ini pula, sesungguhnya rasa sentimen individualisme manusia akan terkikis, mengingat ternyata betapa besar tanggungjawab seorang mukmin tadi terhadap bukan hanya dirinya melainkan juga terhadap masyarakat dan lingkungannya.
    II. Tingkatkan Kualitas Ahlak dan Etika Bergaul
    Adapun cara meraih kebahagiaan yang kedua selain iman adalah selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas ahlak dan etika bergaul. Sebab satu hal yang harus diingat, bahwa sesungguhnya manusia adalah mahluk yang paling tidak bisa hidup menyendiri atau terisolasi dari kehidupan sosial. Manusia mutlak membutuhkan satu sama lainnya untuk survive. Dan dalam hukum interaksi sosial, manusia yang paling bisa survive dan meraih kebahagiaan sesungguhnya adalah manusia yang mampu menempatkan dirinya secara bijak dan proporsional sesuai dengan tuntunan etika serta ahlak yang baik. Satu ayat Al-Quran untuk menegaskan betapa untuk beretika yang baik dan sopan adalah sangat penting supaya orang lain yang ada disekitar kita tidak menjauh bahkan lari dari kita, yaitu firman Allah SWT. (yang artinya) :
    "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS. Ali Imran : 159)

    III. Memperhatikan Kesehatan

    Cara berikutnya untuk meraih kebahagiaan adalah; senantiasa memperhatikan kesehatan. Kesehatan disini mencakup 4 (empat) hal, yaitu sebagai berikut :
    1. Kesehatan raga / fisik, bagaimana menjaga kesehatan raga atau fisik, yaitu dengan memberikan hak bagi tubuh kita untuk mendapatkan perawatan dan kebugaran. maka merawat tubuh hakekatnya adalah perintah agama kita. Dengan itu, olah raga bisa menjadi ibadah jika kita lakukan dengan niat mensyukuri nikmat penciptaan tubuh yang sempurna dan agar dengan oleh raga itu kita lebih energik dan produktif bekerja. Maka tidak berlebihan jika nilai ibadah sesungguhnya tidak hanya ditemukan di masjid tetapi juga dilapangan, semuanya tergantung niat.
    2. Kesehatan jiwa, adapun yang bagaimana menjaga kesehatan jiwa, yaitu dengan cara melatih diri kita untuk meninggalkan sifat-sifat yang tercela, seperti : hasud, dengki, iri, mengumpat, mencela orang lain, menganggap rendah orang, bersedekah namun sering menyebut-nyebut amal sedekahnya dan lain-lain. Semakin banyak sifat-sifat tersebut bersemi dalam diri sesorang, betapapun bugar dan sehat badannya, sesungguhnya ia tengah terjangkit penyakit jiwa yang sangat akut.
    3. Kesehatan akal, bagaimana menjaga kesehatan akal, caranya yaitu dengan menjauhkan segala hal yang dapat melumpuhkan fungsi otak dan akal kita. Sebab dengan akal suatu perintah dan larangan agama dapat diketahui. Oleh karena besarnya fungsi akal tersebut,maka menjaga akal adalah perintah agama pula. Dari sini dapat kita ketahui, kenapa minuman keras dilarang, sebab selain memang karena ia diharamkan secara tegas, di samping itu, minuman keras atau khamer dapat menghilangkan fungsi akal. Jika menjaga kesehatan akal adalah sebuah perintah agama, maka membuat fungsi akal menjadi rusak dan tidak berfungsi adalah sebuah pelanggaran agama dan dosa besar.
    4. Kesehatan rohani, Bagaimana cara menjaga kesehatan rohani, yaitu kita diperintahkan untuk selalu mengisi batin dan rohani kita dengan tanda-tanda keagungan Allah SWT., dengan selalu istiqomah menjalankan setiap perintah-perintah-Nya dan mengekang hawa nafsu semampu kita. Mendirikan sholat adalah contoh bagaimana kita tengah memberikan kesehatan terhadap rohani kita, sebab sholat adalah sebuah simbol ketaatan kita kepada sang Khaliq. Selain itu juga puasa adalah satu cara bagaimana kita dapat mengekang hawa nafsu kita. Maka jika kita selalu berusaha untuk istiqomah menjalankan setiap ajaran agama kita dan mengarahkan hawa nafsu kita secara baik, maka sesungguhnya kita telah berusaha menjadikan rohani sehat.
    IV. Mengelola Waktu Dengan Baik
    Adapun cara meraih kebahagiaan yang berikutnya, yaitu, kemampuan mengelola waktu dengan baik. Setiap orang diberi waktu yang sama, mulai dari hitungan tahun, bulan, minggu, hari bahkan detik. Akan tetapi produktifitas yang dihasilkan orang berbeda-beda. Disatu sisi ada orang yang dalam waktu 4 tahun telah meraih posisi jabatan yang sangat gemilang, namun ada juga orang lain yang dalam waktu yang sama masih belum mendapatkan apa-apa. Rahasianya adalah sejauhmana orang tersebut memanfaatkan waktu dan memberdayaakannya secara optimal. Di samping itu pula dalam agama kita, selain keterampilan mengelola waktu, ada yang di sebut dengan waktu yang “berkah” . Contohnya adalah, orang yang sudah tutup usia di waktu muda, tetapi jumlah karyanya melebihi jumlah usianya dan masih terus dikenang oleh banyak orang, kemudian orang yang menempuh perjalanan jauh, namun ia merasa sampai ke tempat tujuan lebih cepat dari yang ia perkirakan, termasuk mahasiswa yang tengah menulis karya ilmiah seperti thesis, ia mampu merampungkan tepat waktu bahkan lebih cepat dari yang semestinya. Inilah yang disebut dengan waktu yang “berkah”.

    V. Memperoleh Materi / Harta Yang Sesuai Dengan Kebutuhan

    Kemudian cara meraih kebahagiaan yang terakhir adalah, dengan cara memperoleh materi / harta yang sesuai kebutuhan. Suatu hal yang perlu diingat adalah, tolak ukur kebahagiaan yang hakiki bukan terketak pada banyak dan sedikitnya materi yang kita peroleh, melainkan seberapa besar materi yang kita dapatkan tadi dapat menambah ketentraman batin kita. Rasulullah SAW. pernah bersabda : "Harta yang sedikit tetapi dapat menjadikan pemiliknya tentram dan bersyukur; adalah lebih baik, ketimbang harta yang berlimpah akan tetapi hanya membuat pemiliknya gelisah dan terlena." Atas dasar ini pula lah, banyak para penguasa yang sholeh ketika ia diberikan dua tawaran antara diberikan ilmu atau harta. mereka lebih memilih mendapatkan ilmu daripada harta. Di antaranya adalah Khalifah Ali bin Abi Thalib RA, dimana beliau pernah berkata : "Aku lebih memilih ilmu daripada harta, karena ilmu akan menjagaku, tetapi kalau harta, aku yang bakal menjaganya."

    Namun hendaknya jangan kita fahami bahwa Islam tidak mementingkan harta. Atau seolah-olah harta tidak memiliki nilai sedikitpun dalam Islam. Sesungguhnya menjadi hartawan atau jutawan juga cita-cita Islam, akan tetapi bagaimana menjadi hartawan dan jutawan namun juga sekaligus menjadi dermawan serta memiliki visi kemanusiaan. kira-kira demikianlah prototipe muslim yang ideal. Sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad SAW. : "Harta yang baik adalah yang berada di tangan orang baik.

    Demikianlah kiat-kiat untuk dapat meraik kebahagian yang dianjurkan dalam Islam.


    Wallahu a'lam Bishawab

    [Ditulis oleh : Muladi Mughni, Lc. dan disalin dari : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/buletin-jumat/1151-bagaimana-meraih-kebahagiaan]