Saudaraku, tahukah siapa pengunjung terakhirmu di dunia ini ? Tahukah apa tujuan ia berkunjung dan menemuimu ? dan apa saja yang dimintanya darimu ? Sungguh ! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan-minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri !! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut ! Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu !! Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu !!

Saudaraku ! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. la tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu ! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya !

Sungguh ! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain ! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separuh badanmu ! Ia ingin membinasakanmu ! la ingin kematian dan mencabut nyawamu ! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu Dia lah malaikat maut. Allah SWT. berfirman,
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
"Katakanlah, 'Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajadah : 11)

Dan firman-Nya,
وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ
"Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. Al-An'am : 61)

KERETA USIA


Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti ? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini ? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti ? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan 'kereta usia' sudah mendekati rute terakhirnya ? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, "Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musaffr lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya ?" Berhati-hatilah ! Semoga anda tidak termasuk orang yang Allah SWT. sebutkan,
فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ
"Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka ?" (QS. Muhammad : 27)

Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu ? Menyudahi aktivitasmu ? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu ? Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun ? Tidak dapat melakukan shalat dua raka'at ? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya ? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali ? Tidak dapat berpuasa sehari ? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit ? Tidak dapat melakukan haji dan umrah ? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga ? 'Kontrak' amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu !! Allah SWT. berfirman,
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apablla datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia)." Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun : 99-100)

PERSIAPKAN DIRIMU !

Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut ? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Allah Al-Jabbar ? Dari 'Adi bin Hatim RA., bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik." (Muttafaqun 'alaih)

BERHITUNGLAH ATAS DIRIMU !

Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.

Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan ? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu ? Sungguh, tidak ! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu !

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[Sumber: "AZ-ZA'IR AL-AKHIR" karya KHALID BIN ABU SHALIH]
Seorang ayah mengajak anaknya yang baru saja diwisuda dari perguruan tinggi ternama, duduk-duduk di perkarangan rumahnya sambil mengamati burung-burung yang hinggap di pohon. Si anak yang berhasil meraih gelar cum laude (sangat memuaskan) terus bercerita tentang keberhasilannya dan rencana-rencananya setelah diwisuda. Sang ayah dengan tekun mendengarkan cerita dan aspirasi anaknya ini dengan penuh haru dan bangga. Hingga tiba-tiba si anak berhenti bercerita karena melihat seekor burung gereja hinggap di dahan pohon yang ada dekat mereka sambil berkicau.

Sang ayah lalu bertanya pada si anak, "Nak, it apa ?" Si anak menjawab kaget, "Masa ayah tidak tahu, itukan burung gereja !"

Lalu mereka mengobrol lagi, sementara burung gereja itu masih ada di sana. Di tengah perbincangan sang ayah bertanya lagi, "Nak, itu burung apa sih ?" Si anak kembali menjawab, "Itu burung gereja, Yah" Perbincangan dilanjutkan lagi dan si ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Sia anak mulai kesal dan jawabannya hanya 2 kata saja, "Burung Gereja !"

Hingga hari semakin sore dan untuk terakhir kalinya sang ayah bertanya kepada anaknya, "Nak, apakah betul itu burung gereja ?" Maka dengan kesal dan geram si anak berkata kepada ayahnya, "Masa ayah tidak tahu kalau itu burung gereja, dari tadi saya sudah katakan bahwa itu burung gereja. Ayah ini bodoh atau pura-pura bodoh !"

Mendengar jawaban itu sang ayah tersenyum sambil masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu. Sang anak yang tadinya bangga menceritakan dirinya, terpekur dengan muka kesal memandangi ayahnya yang masuk ke dalam rumah.

Selang beberapa menit, sang ayah keluar dengan membawa buku diary (catatan harian) yang sudah kotor dan lusuh. Dia menunjukkan sebuah catatan pribadinya kepada anaknya ini, yang dicatat kira-kira 17 tahun yang lalu, ketika anaknya berumur 4-5 tahun. Pada salah satu halamannya terdapat tulisan tangan ayahnya yang menceritakan sebuah kisah.

"Ketika itu, aku dan Calvin anakku yang menginjak usia 5 tahun sedang duduk-duduk di beranda gubuk kami. Sewaktu aku bercerita tentang pohon, tiba-tiba ada seekor burung gereja hinggap di dahan pohon tersebut. Calvin bertanya apakah yang hinggap di pohon itu, dan akupun menjawabnya bahwa itu burung. Kemudian dia bertanya lagi burung apa, kujelaskan itu burung gereja. Calvin terus bertanya tentang rumah burung, makanannya, ibunya burung, dan sebagainya."

"Tidak jarang dia bertanya berulang-ulang untuk pertanyaan yang sama. Terbersit dalam hati kejengkelan, namun tetap kutahan karena disinilah aku mengerti diriku dan berusaha terus menerus mengasihi anakku."

Penggalan tulisan harian sang ayah ini membuat sang anak yang duduk di sampingnya menitikan air mata, karena Calvin itu adalah dirinya sendiri.

Sang anak mendapat hikmah yang luar biasa, bahwa ilmu dan predikat yang disandang sebenarnya tidak memiliki arti apa-apa, jika tidak diwarnai oleh kesabaran dan kerendahan hati. Telinga yang sabar mendengar, akan mampu melatih setiap orang untuk bersabar dan tangguh dalam menghadapi pergumulan hidup. Dalam keluarga, apakah yang diinginkan anak-anak dari orang tuanya ? Tidak lain adalah kehadiran dan kesediaan mereka untuk mendengar. Hadiah-hadiah yang diberikan kepada anak kita tidak menjamin mereka memiliki mental yang tangguh dan keleluasaan dalam bergaul untuk menapaki masa depan mereka kelak.

[Disadur dari 'FULLFILLING LIFE' karya PARLINDUNGAN MARPAUNG]
Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah, Dzat Pemilik alam semesta. Yang Mengangkat derajat siapa pun yang Engkau Kehendaki dan Menghinakan siapa pun yang Engkau Kehendaki. Segala puji hanyalah bagi-Mu dan milik-Mu. Salawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita semua Rasulullah SAW.

Sahabat, seharusnya apa pun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu, wawasan, dan khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, serta kearifan pada diri kita. Dengan demikian, kalau kita mati besok, lusa, atau kapan saja, warisan terbesar kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat kematian kita adalah saat yang paling indah.

Salah satu langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad untuk menjadi seorang Muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti halnya Rasulullah SAW. yang memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan al Amin (seorang yang sangat terpercaya). Sebelum Nabi Muhammad SAW. dikukuhkan menjadi seorang rasul, beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat kota Mekah sebagai pribadi yang sangat terpercaya, amanah, atau kredibel. Gelar ini tidak pernah diberikan kepada orang lain selain beliau.

Mungkin kita semua meyakini bahwa salah satu hal yang sangat penting dari seseorang adalah kepercayaan dari orang lain. Nabi Muhammad SAW. dalam sisi apa pun menuai sukses dengan membangun kepercayaan. Memang, komitmen dan kesuksesan hanya akan datang kalau kita memiliki kredibilitas dan kepercayaan.

Saudaraku, transparan adalah salah satu bentuk kejujuran. Dengan transparansi yanga baik, akan hilang kecurigaan satu sama lain. Perlu diketahui pula bahwa perusak kinerja adalah prasangka buruk satu sama lain sehingga timbul aneka penyakit hati lainnya yang pasti akan merusak suasana dan prestasi kerja. Oleh karena itu, dalam hal apa pun harus diupayakan sistem yang jujur dan transparan sehingga orang dapat mengetahui dengan jelas hal-hal yang patut diketahuinya. Kejelasan akan membuat orang terpelihara dari pandangan dan sikap yang salah.

Orang yang tidak jujur banyak menyembunyikan hal yang semestinya diinformasikan. Akibatnya, selain yang bersangkutan akan terpenjara oleh ketidakjujurannya, juga akan menimbulkan kecurigaan dari orang sekitarnya. Akan jatuh kredibilitasnya, turun drastis wibawanya, dan tak akan nyaman dalam berhubungan dengan orang lain. Bahkan, ketika bersikap benar sekalipun akan tetap sulit bagi orang lain untuk mempercayainya.

Ketidakjujuran benar-benar merugikan, baik di dunia maupun di akhirat. Orang berbuat tak jujur karena kurangnya iman, jauh dari pemahaman agama yang benar, dan kurang yakin bahwa Allah sudah menjamin rezekinya. Karena jauh sebelum kita dilahirkan, jatah rezeki sudah dibagikan tuntas, tinggal ikhtiar untuk menjemputnya dengan cara yang benar di jalan Allah sehingga berkah dan bernilai bagi dunia akhirat kita. Ketidakjujuran tak akan menambah rezeki, kecuali mengubah statusnya menjadi haram dan nista.

Oleh karena itu, bisnis yang berbasis kemuliaan, selalu berupaya jujur, dan bersikap transparan, akan terasa ringan dan mudah. Orang yang jujur akan sangat disukai oleh relasi karena merasa dihargai sebagai manusia terhormat yang tak diperdaya dengan kebohongan. Tentu saja balasannya berupa kepercayaan dan mungkin tingkat loyalitas serta komitmen untuk sukses bersama. Tiada kerugian terbesar dalam berinteraksi dengan manusia, kecuali hilangnya kredibilitas (kepercayaan) orang kepada kita. Semua ini buah dari ketidakjujuran yang diwujudkan dengan sikap tidak transparan.

Kesuksesan hakiki adalah ketika kita bisa menyukseskan sebanyak mungkin orang lain. Apa artinya kita maju dengan menginjak dan merugikan orang lain. Bila orang lain merasa kita bermanfaat dan menguntungkan baginya, maka akan timbul komitmen dan ini menjadi hal yang penting untuk bersinergi menjadi lebih sukses bersama. Godaannya adalah ingin menonjol sendiri, ingin untung dan tak mau tersaingi, inilah yang membuat berat untuk memajukan orang lain. Padahal, dengki dan serakah akan membuat kita menjadi pribadi yang tak disukai.

Untuk itu, harus dimulai dengan tekad bahwa alat ukur kesuksesan bisnis kita adalah sampai sejauh mana kita menyejahterahkan karyawan sehingga mereka lebih maju, lebih pintar, dan lebih sejahtera. Bahkan tak mengapa kalau mereka lebih maju daripada kita walaupun syariatnya lewat perjuangan kita. Ini karena orang yang beruntung dalam Islam adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Tidak perlu merasa rugi karena yang membagikan rezekinya juga Allah, dan rezeki serta kemuliaan kita tak akan berkurang sama sekali bahkan sebaliknya bertambah karena semuanya juga dari Allah semata. Ingat, tepuk tangan hanya sukses berbunyi ketika ada dua tangan yang saling bertemu. Begitu pula kita, akan kian sukses ketika kita mau bekerja sama dengan orang lain dalam semangat saling menyukseskan. Itulah yang dilakukan Rasulullah ketika berbisnis dahulu. Siapa pun yang berinteraksi, baik pemberi modal, pembeli, maupun pengantar, semua merasa diuntungkan, semua senang dan semua merasa disukseskan, luar biasa !

Kunci dari semua itu adalah karena bisnis bukan hanya mengejar keuntungan duniawi. Bagi kita, bisnis adalah ibadah dan amal saleh untuk bekal kemuliaan dunia akhirat kita sehingga tak boleh cacat hanya karena ketamakan terhadap dunia yang tak berharga dan tak bernilai bagi Allah ini. Wallahualam.***

[Ditulis oleh KH. ABDULLAH GYMNASTIAR, Pimpinan Pondok Pesantren "DAARUT TAUHIID" Bandung, Tulisan ini disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 3 Juni 2010 pada kolom "CIKARAKCAK"]
Aku minta kepada Allah setangkai bunga segar.
Dia beri aku kaktus berduri.
Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik.
Dia beri aku ulat berbulu.

Aku sempat sedih, protes dan kecewa, betapa tidak adilnya ini.

Namun kemudian................
Subhanallah ampuni aku Ya Rabb.......

Kaktus itu berbunga sangat indah sekali.
Ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang teramat cantik.
Itulah jalan Allah.... indah pada waktunya.

Ditulis oleh : IBU AYU NOERY TANOEDJIWA disalin dari Tabloid "ALHIKMAH" Edisi 44 Maret 2010/Rabiulawal 1431 H.]

KISAH SEDEKAH PENDERITA LIVER AKUT UNTUK SEORANG WANITA DAN 3 (TIGA) ANAKNYA

Kisah seorang hartawan berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia berobat ke sana kemari demi mencari kesembuhan, lantaran Liver akut yang diderita. Banyak dokter dan rumah sakit sudah ia kunjungi di Saudi Arabia, namun kesembuhan tak kunjung didapat Ra'fat mulai mengeluh. Badannya kian kurus, layaknya seorang pesakitan. Saran dokter ia harus berobat ke rumah sakit spesialis liver di Guangzhou, Cina.

Tak berpikir panjang, Ra'fat pun berangkat segera. Begitu tiba, dokter yang memeriksa mengatakan bahwa ia harus segera dioperasi. Iapun menanyakan, "berapa besar kemungkinan berhasilnya ?" "Bisa selamat atau meninggal," jawab dokter. Mendapati jawaban dokter, Ra'fat mengiba, "dok, sebelum operasi, izinkan saya pulang untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal." Dokter membalas, "Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 (dua) hari. Bila lebih dari itu Anda datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."

Bagi Ra'fat 2 (dua) hari itu cukup berarti. Ia pun segera menyewa pesawat jet untuk berangkat menuju tanah airnya. Tiba di Arab Saudi, Ra'fat mendatangi kerabat, tetangga dan semua orang yang pernah ia kenal, untuk meminta maaf dan berpamitan. Dengan tubuh kurus tak berdaya, ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Seiring dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah, rupanya keluarga, harta, dan perusahaan besar yang aku punya tak ada yang mampu membantuku untuk sembuh dari penyakit ini ! Semuanya tak ada guna, semuanya sia-sia !"

Hingga saat ia tengah berada di mobil bersama sopirnya. Tampak di muka sebuah toko daging, seorang wanita tengah berdiri mengais sisa daging yang menempel di onggokan tulang-belulang. Ra'fat pun menepuk pundak sang sopir, lalu memintanya menepi. Dengan lemah ia membuka pintu, dan kemudian berjalan tertatih-tatih menghampiri wanita itu. "Ibu, sedang apa ?" tanya Ra'fat, lirih. Lantaran terlalu sering diacuhkan orang, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ra'fat. "Aku memuji Allah SWT. yang telah menuntunku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 (tiga) orang putriku tidak makan. Namun hari ini, aku dapati sisa daging yang masih menempel di sisi tulang-belulang ini. Aku berencana membuat kejutan, dengan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka malam ini." Subhanallah, batin Ra'fat bergetar hebat. Ia tak pernah menyangka ada manusia yang demikian melarat, namun penuh rasa syukur seperti ini. Ra'fat lantas melangkah menuju toko daging, lalu bekata pada salah satu penjaganya, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun !" Mendengar suara Ra'fat, wanita tadi tertegun. Seolah tak percaya, ia angkat wajahnya, lalu menoleh dan sejenak menatap Ra'fat. Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat kembali menoleh ke arah petugas toko, "Pak, tolong jangan hanya 1 kg. Siapkan 2 kg, dan aku akan membayarnya selama setahun penuh !" ujar Ra'fat sambil membayar tunai di muka.

Saat hendak pergi, Ra'fat mendapati kedua tangan wanita tadi tengah menengadah ke langit seraya berdoa: "Allahumma ya Allah, berikanlah keberkahan rezeki, dan limpahan karunia kepada tuan ini. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin." Hati Ra'fat bergetar... perlahan ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ra'fat pun bergegas pergi, tanpa sadar keajaiban telah datang. Langkahnya tegap dan cepat menuju mobilnya, seperti sediakala. Sepanjang jalan, Ra'fat terus tersenyum mengingat doa wanita tadi. Perjalanan menuju rumah kerabatnya itu terasa indah.

Sampai di tujuan, ia pun berpamitan dan meminta restu. Ia katakan kemungkinan operasi gagal sebab sakit liver akut yang diderita. Anehnya, mendengar berita itu, sang kerabat berkata, "Janganlah bergurau. Kau tampak begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tak ada tanda-tanda sedang sakit." Awalnya Ra'fat menganggap ucapan tadi sekedar menghibur dirinya. Namun, setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, semuanya pun berpendapat serupa.

2 (dua) hari berlalu, Ra'fat didampingi oleh istri dan anaknya kembali datang ke Cina untuk menjalani operasi. Sebelum masuk ruangan, beberapa pemeriksaanpun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan dipelajari, maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan, "Aneh, 2 (dua) hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi ?"

Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga sumringah. Berulangkali kalimat takbir dan tahmid terdengar meluncur dari mulut mereka.

[Disalin dari tulisan USTADZ BOBBY HERWIBOWO, LC. di Tabloid "AL HIKMAH" Edisi 44 Maret 2010/Rabiul Awal 1431 H.]
Menjadi manusia yang senantiasa mampu melihat sudut yang baik dalam setiap peristiwa, pastilah akan sangat membahagiakan. Bahkan derita bisa diubah menjadi bahagia. Tapi, bagaimana caranya ? Bukankah kita sering terlanjur marah-marah dan bahkan protes pada Allah ? Atau bertanya-tanya tentang apa maksud semua yang kita alami ?

Ya, boleh jadi kita memandang negatif dan merasakan ketidak nyamanan yang sangat, saat kesulitan datang menimpa kita. Merasa seolah-olah kitalah yang paling menderita di muka bumi. Kita merasa seolah Allah salah dalam memberikan ketetapan pada kita, padahal Allah-lah yang paling mengetahui apa yang paling tepat bagi kita.

Almarhum KH. Khoer Affandi dari Manonjaya membagikan rumus untuk meraih derajat a'rifin, derajat manusia yang akan mampu mengubah derita menjadi bahagia. Rumus itu adalah :
  1. BERSIKAPLAH INQITHO', yakni sikap melepaskan diri dari pemikiran bahwa yang menimpa kita, terutama keburukan, bersumber dari makhluk. Inqitho' mengajarkan agar kita selalu menyadari bahwa semua kejadian berasal dari Allah, karena tak ada satupun makhluk yang memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menetapkan suatu peristiwa, Kesadaran ini akan membuat kita selalu mampu melihat hikmah dibalik musibah.
  2. BERSIKAPLAH TAFWIDL, yaitu secara sadar melakukan instrospeksi diri dan bertanya-tanya pada diri mengapa keburukan, kesulitan menimpa kita. Lantas menyadari sepenuhnya semua hal adalah ketetapan Allah maka terucaplah kata-kata : Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,..laa hawla walaa quwwata illa billahi al aliyyil adzhim.
  3. MEMPERBANYAK ISTIGHFAR. Sadar bahwa setiap hal buruk boleh jadi muncul karena kekeliruan diri atau kesalahan dan dosa di masa lalu, maka orang-orang a'rif memperbanyak istighfar saat mengalami kesulitan dalam hidupnya. Istighfar membuat hamba bertambah tenang jiwanya karena dosa-dosanya diampuni Allah. Dengan istighfar juga dihapuskan kesedihan dan dibukakan rizqi dan pertolongan dari sumber-sumber yang tak terduga.
  4. MEMPERBANYAK DOA. Doa adalah permohonan hamba pada Allah. Doa adalah simbol dan ekspresi keyakinan kita akan kekuatan Allah. Lebih dari itu doa adalah ekpresi keyakinan kita akan adanya Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui setiap persoalan makhluk. Dianjurkan akan memulai doa dengan dzikir dan shalawat, lalu memohon pada Allah dengan rendah hati dan penuh keyakinan disertai sikap tawakal akan apapun yang Allah hadirkan dalam hidup.
Saudaraku, Allah tak pernah salah menghadirkan setiap peristiwa dalam hidup kita. Berserah diri pada ketetapan Allah dan selalu berusaha untuk meraih yang terbaik, Insya Allah akan menjadikan hidup kita lebih hidup. Jadikan Al-Quran sebagai penerang jalan hidup kita dan jadikah sabar dan shalat sebagai jalan untuk meraih pertolongan Allah.

[Cuplikan dari tulisan USTADZ H. BUDI PRAYITNO di Tabloid "AL HIKMAH" Edisi 44 Maret 2010/Rabiul Awal 1431 H.]

SEDEKAH KEBUN KARENA LALAI SHALAT
Jangan tanya disiplin shalat Rasulullah SAW., karena sudah pasti kehebatannya tak diragukan lagi. Banyak kisah yang mengungkap tentang itu, termasuk efeknya yang luar biasa dalam kehidupan sang Rasul. Bahkan, kehebatan shalatnya ia tularkan kepada para Shahabat, Tabi'in, Tabi'it Tabi'in, dan generasi Salafus shalih (orang-orang saleh).

Salah satu sahabat nabi yang sangat disiplin menjaga sholat adalah Umar Bin Al Khaththab RA. Setelah memeluk Islam, Umar adalah orang yang paling disiplin dalam menegakkan shalat. Tak sekedar itu, ia pun menjadi kepala keluarga yang senantiasa mengajak anggota keluarganya untuk mendirikan shalat.

Khulafaur Rasyidin yang dijuluki Al Faruq ini, pernah 1 (satu) kali telat shalat Ashar berjamaah. Kisah ini sempat diriwayatkan oleh Nafi' dari Ibnu Umar, bahwa suatu hari setelah waktu Dzuhur Umar pergi ke kebun miliknya. Sekian waktu ia habiskan untuk berkeliling, melihat-lihat kebunnya yang luas terbentang. Saat hendak beranjak pulang, di tengah perjalanan, Umar melihat orang-orang berduyun-duyun keluar masjid selesai menunaikan shalat Ashar berjamaah.

Dadanya sesak luar biasa, melihat orang lain sudah menunaikan kewajiban utamanya sebagai seorang muslim, sementara Umar mendapati dirinya ketinggalan "kereta". la lantas berkata, "Gara-gara saya pergi ke kebun, orang-orang sudah selesai shalat Ashar, sehingga saya tidak ikut berjamaah. Mulai saat ini, kebun yang membuat saya telat shalat, akan saya sedekahkan untuk fakir miskin" ungkap Umar penuh sesal. Hal ini benar-benar dilakukan karena ia ketinggalan menunaikan shalat Ashar berjamaah.

Sedekah kebun itu menjadi iqab (sanksi) diri Umar atas kelalaiannya menjaga shalatnya. Dalam sebuah sumber, setelah kejadian itu Umar kemudian berdoa memohon ampun, "...Ya Allah janganlah Engkau berikan kepada hamba materi keduniaan yang melimpah, yang membuat hamba lupa diri, namun jangan pula Engkau mengurangi karunia-Mu sehinga hamba lupa kepada-Mu..."

Cuma 1 (satu) kali peristiwa itu terjadi pada Umar. Setelah kejadian itu Umar menjadi sangat hati-hati dengan kehidupan dunia yang bisa membuatnya berpaling dari beribadah pada Allah SWT.

Bahkan saking antusiasnya Umar menunaikan shalat, dalam kondisi sakit pun ia tetap disiplin menjaga shalatnya. Ketika itu kaki Umar terluka akibat tikaman salah seorang tokoh Majusi. Pada malam harinya Miswar Bin Makhrumah menginap di rumah Umar. Menjelang subuh, sanak saudara Umar membangunkan Umar untuk shalat shubuh. Seperti tidak terjadi apa-apa, Umar bangkit dan mempersiapkan diri selayak mungkin untuk menjemput subuh.

Miswar melihat sang Khalifah itu tetap melaksanakan shalat seperti biasanya. "Ya, saya tetap akan melaksanakan shalat subuh. Dalam Islam tidak ada bagian surga bagi yang meninggalkan shalat" kata Umar padanya dan seketika itu kemudian ia mendirikan shalat dengan luka kaki yang masih mengalirkan darah.

LUMPUH BUKAN HALANGAN
Dari kalangan tabi'in, seorang Ar Rabi' Bin Khutsaim juga mencontohkan disiplin shalat yang tak kalah luar biasa. la manusia biasa yang diberi ujian penyakit falij (lumpuh sebelah) oleh Allah SWT. Namun keterbatasanya tidaklah membuatnya terbatas pula dalam ibadahnya.

Konon, dia sering dipapah pergi shalat berjamaah karena penyakitnya itu. Melihat kondisi demikian orang-orang disekitarnya banyak mengingatkan "Wahai Rabi' dengan penyakit kronis yang engkau derita, engkau sudah diberikan rukhshoh untuk melaksanakan shalat di rumah saja."

Namun jawaban murid kesayangan Abdullah Bin Mas'ud ini sangat luar biasa. "Saya mendengar Hayya 'alash Shalah... (mari kita shalat), maka jika kalian masih sanggup mengerjakan shalat, lakukanlah meski dengan merangkak sekalipun."

Rabi' adalah pemuda ahli ibadah yang juga seorang ahli hadist dan wira'i. Kisah ini pernah disampaikan oleh Abdullah Bin Mas'ud, gurunya sendiri. "Demi Allah seandainya Rasulullah melihatmu, maka pastilah beliau mencintaimu. Ketika melihatmu, saya selalu teringat ahli ibadah jaman terdahulu."

Bagi Rabi' sendiri disiplin shalat bukanlah sebuah kewajiban semata. Melainkan ia adalah hidup, maka seluruh hari-harinya ia habiskan ibadah dan ia selalu menangis ingat dosa-dosanya. Dalam pandangannya ia merasa telah membunuh dirinya sendiri karena ia telah berbuat maksiat dengan melalaikan shalat-shalatnya.

Begitulah, para Shalafus shalihin menjaga shalat-shalatnya. Disiplin shalat itu terus mereka jaga dalam kondisi apapun, separah apapun.

Mudah-mudahan di ruang yang sama, di masa yang berbeda, kita termasuk orang-orang yang istiqamah menjaga shalat kita. Amiin.

[Ditulis oleh SITI ROKAYAH, disalin dari Tabloid "AL HIKMAH" Edisi 44 Bulan Maret 2010/Rabiul Awal 1431H]
PENGAJIAN SYEIKH ABDUL QADIR AL-JILANY
HARI JUMAT PAGI TANGGAL 14 DZUL QA’DAH 545 H.
Anda jangan ragu dengan rizki anda, sebab rizki yang mencarimu itu lebih penting daripada kamu mencarinya. Jika anda meraih rizki hari ini, tinggalkan berambisi untuk rizki besok pagi. Seperti ketika engkau melewati sore, anda juga tidak tahu apakah rizki itu akan datang atau tidak dengan kesibukanmu.

Kalau anda mengenal Allah, pasti anda lebih sibuk dengan Allah Azza wa-Jalla dibanding memburu rizki, sebab Kharisma-Nya akan menghalangi perburuan anda. Karena orang yang mengenal Allah, lisannya akan terbungkam. Orang ‘arif akan terus membisu di hadapan Allah, sampai datang perintah Ilahi untuk terjun ke wilayah mashlahat publik. Jika Allah memerintahkan si arif ke publik, akan hilang kebisuan lisannya, dan hilang pula keterasingannya dengan ragam masyarakat.

Nabiyullah Musa AS., ketika menggembala kambing, lisannya terasa cadel, dan asing dengan massa. Namun ketika Allah memerintahkannya, maka Nabi Musa AS., berdoa, “Dan lepaskanlah kecadelan di lisanku hingga mereka faham ucapanku…” Seakan-akan Nabi Musa AS., berkata, “Ketika aku terjun di padang untuk menggembala domba, aku tidak membutuhkan pada kekeluan lisanku, sekarang aku berada di tengah khalayak dan harus memberikan pengetahuan kepada mereka.” Maka dengan hilangnya kecadelan atau kekeluan di lisannya, dia bicara sembilan puluh kalimat yang sangat fasih dan sangat mudah difahami. Kecadelan Musa AS., gara-gara ia menelan bara api di hadapan Firaun dan Asiah di saat masih balita dulu.

Anak-anak sekalian, aku melihatmu, sangat sedikit pengetahuanmu kepada Allah Azza wa-Jalla, dan pada Rasul-Nya serta Auliya’-Nya, para pengganti Nabi, dan Khalifah-Nya. Kalian sunyi dari hakikat makna. Anda adalah burung dalam sangkar. Rumah yang kosong dan telah roboh. Pohon yang kering dan telah gugur daun-daunnya. Kibaran bendera hati seorang hamba, pertama-tama dengan Islam, kemudian meneguhkan ke-Islam dengan Istislam (pasrah total pada Allah), pasrahkanlah dirimu pada Allah Azza wa-Jalla, maka selamat pula jiwamu dan yang lainnya.Anda harus keluar dari dirimu dengan hatimu, keluarkan hatimu dari makhluk, dan hadir ke hadapan-Nya telanjang dari dirimu dan dari mereka.

Bila Allah menghendaki, Dia akan memberikan pakaian dan menghias pakaianmu lalu mengembalikan dirimu pada khalayak, kemudian dirimu melaksanakan tugas perintah-Nya, dengan Ridlo-Nya dan Ridlo Rasul-Nya SAW., sembari kamu menunggu perintah berikutnya, dirimu tetap simpuh di hadapan-Nya. Jika bisa menepiskan segala hal selain Allah Azza wa-Jalla, si hamba ini teguh di hadapan-Nya di atas telapak jiwanya dan rahasia jiwanya.

Musa AS., berkata dengan ucapan kondisi ruhaninya : ”Aku bergegas kepada-Mu, oh Tuhanku, semoga Engkau meridhoi…” Seakan beliau bermunajat, “aku menyingkirkan duniaku dan akhiratku serta seluruh makhluk. Aku telah putus dari sebab akibat dunia, dan aku melepaskan apa yang kumiliki. Aku datang kepada-Mu dengan bergegas, agar Engkau ridho kepadaku dan mengampuni dosaku, ketika sebelumnya aku bergabung dengan mereka.” Jika dibandingkan dengan munajat itu, wahai orang bodoh, dimana dan apa yang ada padamu ? Kalian ini ternyata hamba nafsumu, duniamu dan hawamu. Kalian hamba khalayak, dan bermusyrik dengan mereka, karena kalian mengandalkan pandangan mereka dalam soal manfaat dan bahaya, sementara kalian mengharapkan syurga, kalian merasa takut masuk neraka. Dimana posisi kalian di hadapan Allah yang membolak-balik hatimu yang berfirman, “Jadilah, maka terjadilah…

Anak-anak sekalian, janganlah anda ini diperdaya oleh taatmu yang membuatmu kagum pada prestasi ibadahmu. Mohonlah kepada Allah Azza wa-Jalla, agar taatmu diterima, jangan sampai amalmu itu tertolak. Jangan sampai anda disebut : “Jadilah taatmu sebagai maksiat dan kejernihanmu jadi kotoran.” Siapa pun yang mengenal Allah Azza wa-Jalla, tidak pernah mengandalkan sesuatu dan tidak pula diperdaya oleh sesuatu. Dia tidak merasa aman sampai ia keluar dari dunia dengan keselamatan agamanya, dan menjaga antara dirinya dan Allah Azza wa-Jalla. Anak-anak sekalian. Seharusnya anda melakukan amaliyah qalbu dan keikhlasannya. Ikhlas yang sempurna adalah bersih dari segala hal selain Allah, sedangkan keikhlasan itu didasari ma’rifatullah Azza wajalla. Sementara aku tidak melihat anda sekalian kecuali anda ini adalah para pendusta, baik dalam wacana maupun tindakan, baik dalam sunyi atau ramai. Apa yang kalian jadikan pijakan, jika kalian berkata tanpa tindakan ? Kalian bertindak tanpa keikhlasan dan tauhid ? Bila kalian penuh kotoran di dirimu, dan berharap Allah meridhoimu, berharap penerimaan amalmu dan ridlo-Nya, bagaimana mungkin ? Padahal dalam sesaat anda telah menyalakan api neraka, sedangkan amalmu kelak di hari kiamat sudah dipilah, mana yang putih, mana yang hitam, mana yang kelabu.

Setiap amal yang tidak bertujuan demi Allah akan batil. Karena itu beramallah, cintailah, bersahabatlah dan carilah dari orang yang masuk dalam penghayatan : ”Tiada yang menyamai-Nya sesuatu pun, dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat.” Bersihkanlah semua, lalu teguhkan dirimu. Bersihkan semua dari kotoran hal-hal yang tak layak dan teguhkan yang selaras dengan-Nya. Yaitu hal-hal yang diridhoi-Nya dan diridhoi Rasul-Nya SAW. Bila kalian berbuat demikian, sirnalah semua keraguan, kelabuan dan kehampaan dari hatimu. Bersahabatlah dengan Allah, dengan Rasul-Nya dan dengan orang-orang yang saleh dengan penuh pengagungan, pemuliaan dan penghormatan.

Bila kalian ingin bahagia, jangan kalian hadir di hadapanku tanpa adab dan sopan santun. Jika masih tidak ada adab, kalian akan terus berlebih-lebihan, maka mulai saat ini tinggalkan segala yang berlebihan. Bisa secara diantara semua ini ada yang memiliki rasa hormat dan adab yang baik dari balik akal sehatnya. Sang koki akan tahu bumbu masakannya. Tukang roti mengerti adonannya. Perancang tahu akan rancangannya. Orang yang mengajak tahu yang akan diajak. Duniamu sesungguhnya telah membutakan hatimu sampai kalian tak melihat apa pun. Hati-hatilah kalian dari peristiwa yang menimpamu itu, sedikit demi sedikit bisa menghancurkanmu hingga kalian jadi korbannya di akhirnya. Kalian mabuk terbius oleh minumannya, sampai terputus tangan dan kakimu, sedang matamu melihat. Dan ketika sadar, anda bakal tahu apa yang telah anda lakukan. Inilah dampak dari cinta dunia, sedang musuh ada di belakangnya, ambisi terus menumpuknya. Itulah yang terjadi, hati-hati….

Anak-anak sekalian, tak ada kebahagiaan bagimu sementara kamu mencintai dunia. Kalian merasa sebagai pengajak Jalan Ilahi, anda merasa mencintai akhirat atau sedangkan anda masih terus mencintai dunia. Orang arif pecinta tak akan pernah mencintai semua itu bahkan semua hal selain Allah Azza wa-Jalla. Bila cinta kepada-Nya paripurna, maka bagian dunia terasa hina. Begitu pula ketika sampai di akhirat, semua apa yang ditinggalkan di belakangnya, akan tampak ketika ada di depan Pintu Tuhannya. Semua ditinggalkan hanya demi meraih Wajah Ilahi. Allah memberikan semua bagian bagi para wali-Nya, sementara para wali itu merasa tidak memerlukan lagi dari bagian dunia itu. Sebab bagian jiwa adalah tersembunyi. Bagian nafsulah yang tampak kasat mata. Bagian hati tidak akan pernah tiba kecuali ketika bagian nafsu dibersihkan. Lalu terbukalah bagian konsumsi hati. Bila bagian hati telah terpuaskan di sisi-Nya, datanglah rahmat bagi nafsunya. Dikatakan pada hamba tersebut, “Jangan bunuh nafsumu…” Lalu saat itu ia meraih bagian nafsunya, dan itulah nafsunya yang muthmainnah.

Karena itu tinggalkan majlis yang penuh dengan kecintaan dunia, dan datangilah majlis yang zuhud dari dunia. Jenis tertentu akan bersenyawa dengan jenis yang sama, saling melingkari dan mengitari. Pecinta akan saling mencintai yang lain, saling menolong untuk dakwah menuju keimanan, tauhid, keikhlasan di dalam amal. Mereka meraih dengan kemampuannya di jalan Allah Azza wa-jalla. Siapa yang melayani akan dilayani, siapa yang berbuat baik akan diberi kebaikan. Siapa yang memberi akan diberi. Bila kalian berbuat untuk neraka, maka neraka esok bagimu.Amalmu adalah apa yang engkau raih. Kalian beramal dengan amaliah ahli neraka tetapi kalian berharap syurga. Bagaimana berharap syurga sementara kalian bukan orang yang melakukan amaliah ahli syurga ? Orang yang memiliki hati adalah orang yang tidak saja taat secara fisik belaka, tetapi patuh jiwanya. Untuk apa beramal tanpa hati yang ikhlas ? Orang yang riya’ hanya menampakkan visualnya, sedangkan orang ikhlas dengan hati dan lahiriyahnya.

Orang beriman itu hidup, sedang orang munafik itu mati. Orang beriman itu beramal untuk Allah, sedang orang munafik untuk dilihat sesama, dipuji dan mendapat balas budi. Tindakan orang beriman maujud dalam sunyi dan ramai, dan suka dan duka. Tindakan orang munafik hanya dalam tontonannya belaka. Ia berbuat baik ketika suka, tetapi ketika sedih ia menolak. Ia tidak bergabung dengan Allah Azza wa-Jalla, tak ada iman kepada Allah, kepada Rasul dan KitabNya. Tidak mengingat padang mahsyar maupun hisab. Islamnya hanya untuk cari perhatian dan selamat di dunia, bukan selamat di akhirat dari neraka dan siksanya. Dia sholat dan puasa untuk dilihat manusia, jika kembali sendiri, kembali pula pada kesibukan nafsunya dan kekufurannya.

Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari kondisi seperti ini. Kami mohon keikhlasan di dunia dan keikhlasan hari esok. Amin. Anak-anak sekalian, sudah seharusnya kalian ikhlas ketika berbuat baik. Buanglah matamu untuk melihat amalmu dan ganti rugi, baik dari makhluk maupun Khaliq. Berbuatlah hanya untuk Wajah Allah, bukan dalam rangka meraih nikmat-Nya. Jadilah kalian termasuk yang berkehendak hanya menuju Wajah-Nya. Carilah Wajah-Nya, hingga Dia memberikan kepadamu. Bila Dia memberikan anugerah, pasti kalian dapatkan syurga di dunia dan di akhirat. Syurga dunia berupa taqarrub kepada-Nya, dan syurga akhirat adalah memandang-Nya, serta segala janji dan jaminan yang diberikan kepadamu.Selamatkan dirimu dan hartamu, pada Tangan Kekuasaan, Aturan dan Rencana-Nya. Engkau telah dibeli oleh-Nya, dan kelak harganya akan diberikan kepadamu. Wahai hamba-hamba Allah. Selamatkan dirimu kepada-Nya. Katakan, “Jiwa, harta dan syurga hanya bagi-Mu, dan selain-Mu hanya untuk-Mu. Kami tidak berhasrat sedikitpun selain diri-Mu.

Dahulukan Allah sebelum syurga. Allah Yang Maha Asih sebelum jalan menuju kepada-Nya. Wahai orang yang berhasrat syurga, engkau membelinya dan meramaikannya hari ini. Bukan besok. Alirkan sungaimu, airmu hari ini, bukan besok di akhirat. Wahai kaumku. Hari kiamat hati dan mata bergolak, dimana hari itu pijakan-pijakan bisa terpeleset. Padahal setiap orang beriman berpijak dengan kakinya iman dan ketakwaannya sendiri-sendiri. Kokohnya pijakan tergantung kokohnya iman di hari itu. Orang zalim akan menerima kebusukan di tangannya. Orang yang suka merusak akan mendapatkan kehancurannya. Bagaimana ia bisa zalim dan bagaimana ia menjadi perusak, bagaimana ia pergi dari Tuhannya. Anak-anakku. Kalian jangan terpedaya oleh amal, sebab nilai amal itu ternilai di akhirnya. Semestinya kalian terus memohon kepada Allah azza wa-Jalla atas akhir hayat anda, dan diberikan rasa cinta untuk berbakti kepadaNya. Hati-hatilah kalian semua, ketika anda taubat, lalu kembali maksiat. Maksiat kepada Tuhanmu hari ini atau esok, akan membuat dirimu terhinakan dan terlempar dari pertolongan.

Ya Allah tolonglah kami untuk taat kepada-Mu dan janganlah kami Engkau hina dengan maksiat kepada-Mu. Tuhan, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.

[dari : http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/nasihat-sultan-auliya-syyaikh-abdul-qodir-al-jilani-qsa/]