Ketika menutup pendahuluan buku Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW., Tariq Ramadhan, cucu Hasan al Bana yang lahir di Jenewa, Swiss itu berujar, "Siapa yang tak mencintai takkan memahami." Tariq Ramadhan sedang berujar tentang sebuah upaya memahami kehidupan Muhammad SAW. dalam perspektif cinta. Kecintaan hamba kepada Allah dan kepada Rasul-Nya yang diutus untuk membawa ajaran yang menyelamatkan, mendamaikan, dan menjadikan manusia tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT. Haji dan umrah, sebagaimana ibadah lainnya, adalah suatu prosesi ketaatan.

Ibadah haji dan umrah bahkan tidak lagi bergantung pada sejumlah besar bacaan yang wajib dihafal di luar kepala. Inti haji dan umrah justru ketaatan yang disimbolkan dalam gerak beraturan dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam bahasa Haidar Bagir, ibadah haji adalah sebentuk "kegilaan" yang bermakna. Bagaimana tidak, banyak sekali ritus haji ataupun umrah yang jika tak dipahami dengan baik, maka akan mengundang pertanyaan besar. Mengapa hanya 2 (dua) lembar kain ihram untuk laki-laki ? Mengapa tidak boleh menutup mata kaki ? Mengapa wanita harus menampakkan wajah dan telapak tangan, sedangkan bagian tubuh lainnya harus ditutup ? Mengapa memutari Kabah dalam tawaf harus 7 (tujuh) kali ? Mengapa sunah mencium Hajar Aswad ?

Semua ritus haji dan umrah memerlukan semacam pengantar dan ilmu untuk memahaminya dengan mendalam. Semakin paham, semakin hidup haji dan umrahnya. Jika haji dan umrahnya telah hidup, mereka yang mabrur akan membawa sifat-sifat mulia dalam kehidupan seusai haji dan umrah.

Seperti jawaban Rasulullah SAW. ketika ditanya, "apakah ciri haji mabrur ya Rasulullah ?" Rasulullah SAW. menjawab, "Gemar memberi makan orang miskin dan bersikap santun pada sesama."

Bagaimana kita dapat mulai memahami ibadah haji dan umrah ? Marilah kita mulai dengan memahami beberapa hal penting di sekitar Mekah al Mukarramah. Kota Mekah terletak di bagian barat Kerajaan Saudi Arabia di Tanah Hijaz yang dikelilingi gunung-gunung utama di sekitar Kabah. Terdapat tiga pintu utama untuk memasuki Mekah, yaitu Ma'la, Misfalah, dan Syubaikah. Mekah terletak 300 meter di atas permukaan laut.

Kawasan Tanah Suci (tanah haram) membentang sepanjang 127 kilometer dengan luas sekitar 550 kilometer persegi. Ada pun batas-batas tanah suci adalah Tan'im, Nakhlah, Adlat Laban, Ja'ronah, Hudaybiyah, dan Bukit Arafah.

Batas-batas kota suci itu menyimpan sejarah. Tan'im adalah tempat saat Siti Aisyah mengambil mikat ketika melaksanakan umrah untuk haji wada. Ini terjadi karena Aisyah mendapati dirinya menstruasi ketika memasuki Mekah dalam perjalanan haji sehingga Aisyah menunda tawaf, tetapi terus melaksanakan ritus haji yang lainnva. Tan'im menjadi salah satu tempat mikat yang sering digunakan oleh jemaah umrah untuk melaksanakan umrah tambahan. Jarak Tan'im hanya 6 kilometer dari Masjidilharam. Jika menyewa taksi, sekitar 10 riyal saudi per orang.

Ada pun Ja'ronah, tempat mikat yang lain, jaraknya 22 kilometer dari Masjidilharam. Di Ja'ronah turun ayat 196 QS. Al Baqarah yang menegaskan bahwa ibadah haji dan umrah mesti dilaksanakan dengan sempurna dengan hanya mengharap ridha Allah. Ayat ini pun menerangkan beberapa ritus haji.

Di Ja'ronah juga terjadi peristiwa para tawanan Hawaazin yang diberi kesempatan oleh Rasul untuk menyerah dan masuk Islam. Harta rampasan perang pun dikembalikan kepada mereka sebagai tanda kasih sayang Nabi pada mereka yang baru memeluk Islam (muallaf).

Ada beberapa keistimewaan Mekah seperti dijelaskan Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam buku Sejarah Mekah, yaitu tempat dibangunnya rumah Allah (Kabah), kota kelahiran dan kenabian Muhammad SAW. sebagai penutup para Rasul, dan tempat beribadah hamba-hamba-Nya. Mekah juga tak boleh dimasuki kecuali dengan rendah hati, khusyuk, kepala terbuka, dan meninggalkan segala atribut dunia karena Allah telah menjadikan sebagai tempat suci.

Keistimewaan lain Mekah sebagai tempat untuk dihapuskannya dosa-dosa masa lalu dan disyariatkannya manusia untuk tawaf. Rasulullah SAW. juga memuji Mekah saat berada di Hazwarah untuk hijrah. Rasulullah SAW. bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekah) ialah sebaik-baik bumi Allah, dan bagian bumi Allah yang paling dicintai-Nya, seandainya aku tidak dikeluarkan darimu (tidak diusir dan diancam dibunuh oleh penduduknya), maka aku tidak akan keluar." (HR. Tirmidzi)

Di dalam Al-Quran banyak sebutan untuk Mekah, di antaranya Bakkah (lembah), Ummul Qura (perkampungan tua), Al-Balad (negeri), Al-Balad al-amin (negeri yang aman), Haramain (tanah suci yang aman), Waad Gahiru Dzi Zar'in (lembah yang gersang), Ma'ad (tempat kembali), dan Qaryah (kampung).

Setiap sebutan, jika didalami lagi, maknanya dengan merujuk pada ayat yang menyebutkannya, akan mendekatkan kita pada Mekah. Semakin mendalam pemahaman kita pada sejarah dan kondisi Mekah, umrah atau haji kita pun lebih mungkin untuk mendekati derajat mabrur atau setidaknya akan memberikan kesan yang mendalam. Ketika memasuki Kota Mekah, kita sudah langsung dapat memaknakannya sesuai dengan sejarah dan pengertian kita.

Jika Tariq Ramadhan meminta kita memahami kehidupan Rasulullah dengan cinta, kita yang akan berhaji dan berumrah pun hendaklah membawa pemahaman yang cukup dan ilmu yang memadai. Dengan cara itu, akan tumbuh kecintaan dan kerinduan pada Kota Mekah, Madinah, dan lokasi-lokasi bersejarah lainnya.

Akhirnya, haji atau umrah kita akan terasa hangat, sehangat tetes-tetes air mata yang membasahi pipi ketika kita mulai bertalbiah "Labbaik Allahumma Labbaik."***

[Ditulis oleh USTAZ H.BUDI PRAYITNO, pembimbing Haji Plus dan Umrah Khalifah Tour. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Kliwon) 6 Juli 2010 pada kolom "UMRAH & HAJI"]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN


(23) INABAH KEPADA ALLAH

Seperti yang sudah engkau ketahui, bahwa siapa yang berada di tempat persinggahan taubat, berarti dia berada di seluruh tempat persinggahan Islam, sebab taubat sudah meliputi segalanya. Tapi bagaimana pun juga tempat-tempat persinggahan yang lain ini perlu rincian dan perlu disebutkan, agar ada kejelasan hakikat, kekhususan dan syarat-syaratnya.

Jika kaki seorang hamba sudah mantap berada di tempat persinggahan taubat, maka setelah itu dia beralih ke tempat persinggahan "Inabah" (kembali kepada Allah). Allah telah memerintahkan inabah ini di dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya,
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ
"Dan, kembalilah kalian kepada tuhanmu." (QS. Az-Zumar : 54)

Allah juga mengabarkan bahwa yang mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dan menjadikannya sebagai peringatan adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya,
أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ
"Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun ? Dan, Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (kepada Allah)." (QS. Qaf : 6-8)

Allah juga mengabarkan bahwa pahala dan surga-Nya diberikan kepada orang-orang yang takut dan kembali kepada-Nya,
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ
هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ
مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ
ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ
"Dan, didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), yaitu orang yang takut kepada Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (oleh-nya) dan dia datang dengan hati yang kembali (kepada Allah). Masukilah surga itu dengan aman." (QS. Qaf : 31-34)

Allah juga mengabarkan bahwa kabar gembira hanya diberikan kepada orang-orang kembali kepada-Nya,
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ
"Dan, orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira." (QS. Az-Zumar : 17)

Inabah ada 2 (dua) macam :
  1. Inabah kepada Rububiyah Allah. Ini merupakan inabah-nya semua makhluk, entah orang Muslim atau kafir, orang baik maupun orang jahat
    ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
    "Dan, apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Rabbnya dengan kembali kepada-Nya." (QS. Ar-Rum : 33) Ini merupakan hak siapa pun yang berdoa kepada Allah saat dia mendapat bahaya. Inabah ini tidak mengharuskan adanya Islam, karena ini juga meliputi orang-orang musyrik dan kafir. Allah befirman tentang mereka,
    ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
    لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ
    "Kemudian apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Rabbnya, sehingga mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka." (QS. Ar-rum : 33-34)
    Itulah keadaan mereka setelah mereka kembali kepada Allah.
  2. Inabah kepada Uluhiyah Allah, dan ini merupakan inabah-nya wali-wali Allah, yaitu inabah ubudiyah dan cinta, yang meliputi 4 (empat) macam : Cinta, tunduk, menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya. Tidak ada sebutan munib (orang yang ber-inabah) kecuali bagi orang yang menghimpun 4 (empat) perkara ini.
    Pengarang Manazilus-Sa'irin (Abu Ismail) menjelaskan, bahwa inabah menurut bahasa adalah kembali kepada kebenaran, yang bisa dibagi menjadi 3 (tiga) macam :
    1. Kembali kepada kebenaran karena ingin perbaikan, sebagaimana kembali kepada kebenaran karena ingin menyatakan kesalahan dan meminta maaf. Karena orang yang bertaubat telah kembali kepada Allah dengan menyatakan kesalahannya dan membebaskan diri dari kedurhakaan kepada-Nya, maka untuk menyempurnakan hal ini dia harus kembali kepada Allah dengan usaha dan nasihat agar dia senantiasa taat kepada-Nya. Tidak ada artinya taubat sambil duduk ongkang-ongkang tanpa usaha. Jadi harus ada taubat dan amal shalih, dengan meninggalkan apa yang dibenci Allah dan mengerjakan apa yang dicintai-Nya, sebagaimana firman-Nya,
      إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا
      "...kecuali orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih." (QS. Al-Furqan : 70).
      Kembali kepada Allah menjadi benar dengan 3 (tiga) cara :
      • Keluar dari dosa dan kesalahan. Caranya dengan taubat dari dosa antara hamba dengan Allah dan memenuhi hak manusia.
      • Menderita atas kesalahan yang dilakukannya dan hatinya merasa sesak. Sebab ini merupakan tanda orang yang kembali kepada Allah. Berbeda dengan orang yang hatinya tidak pernah merasa sesat dan tidak pula menderita karena kesalahannya, yang sekaligus menunjukkan kerusakan hatinya. Bahkan dia juga menderita jika ada orang lain yang melakukan kesalahan, seakan-akan dialah yang melakukannya.
      • Mencari-cari ketaatan dan taqarrub yang tidak dilakukannya, terlebih lagi jika dia merasa sisa umurnya tinggal sedikit, sehingga dia akan menghidupkan apa yang dia matikan dan mencari apa yang tertinggal.
    2. Kembali kepada Allah karena ingin memenuhi hak, sebagaimana ia kembali karena ingin menepati per janjian dengan-Nya. Engkau kembali kepada Allah, pertama-tama dengan masuk ke dalam ikatan perjanjian, dan kedua kalinya engkau memenuhi perjanjian itu. Semua sisi agama merupakan perjanjian dan pemenuhan. Allah telah membuat perjanjian dengan semua mukallaf agar mereka taat kepada-Nya. Dia membuat perjanjian dengan para nabi dan rasul lewat perkataan para malaikat atau secara langsung, membuat perjanjian dengan umat manusia lewat para rasul, membuat perjanjian dengan orang-orang yang bodoh lewat para ulama, membuat perjanjian dengan para ulama lewat belajar dan mengajar. Untuk itu Allah memuji orang-orang yang memenuhi perjanjian dengan Allah dan mengabarkan bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,
      فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
      "Dan, barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar." (QS. Al-Fath : 10)
      وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ
      "Dan, tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji." (QS. An-Nahl : 91)
      Perjanjian dengan Allah ini mengharuskan adanya pemenuhannya secara ikhlas, disertai iman dan ketaatan kepada-Nya serta pemenuhan janji dengan manusia. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda kemunafikan adalah mengkhianati janji. Tidak ada artinya seseorang kembali kepada Allah jika dia mengkhianati janji, begitu pula jika dia tidak masuk ke dalam perjanjian dengan-Nya. Sebab inabah tidak akan terwujud kecuali dengan membuat perjanjian dengan Allah dan sekaligus memenuhinya.
      Kembali kepada Allah karena ingin memenuhi janji dapat menjadi benar dengan 3 (tiga) cara :
      • Membebaskan diri dari kenikmatan dosa. Jika inabah kepada Allah benar-benar tulus, maka kenikmatan dosa juga akan hilang dari pikiran dan hati, yang kemudian diisi dengan kegelisahan dan kegundahan karena ingat dosa itu. Selagi di dalam hatinya masih ada kenikmatan dosa itu, berarti inabahnya belum murni. Ada yang mengatakan, jiwa itu mempunyai 3 (tiga) kondisi : Perintah melakukan dosa, mencela dan menyesali dosa, rasa tentram saat berhadapan dengan Allah. Kondisi yang ketiga ini merupakan sasaran dan target yang dikehendaki orang-orang yang mengadakan perjalanan kepada Allah, keadaannya seperti orang yang mengadakan perjalanan jauh dan ingin kembali ke tempatnya. Selagi dia sudah melihat bayang-bayang rumahnya, maka hatinya menjadi tenang.
      • Tidak mengabaikan orang-orang yang lalai karena waspada dan takut terhadap mereka, dan berharap untuk diri sendiri. Engkau berharap kebaikan untuk diri sendiri. Engkau mengharapkan rahmat bagi dirimu dan takut terhadap orang-orang yang lalai lagi menderita. Tapi tetaplah mengharap rahmat bagi mereka dan takutlah penderitaan bagi dirimu. Kalau perlu celalah mereka jika memang engkau mengetahui keadaan mereka.
      • Mencermati kekurangan dalam berbuat kebajikan, yaitu dengan memeriksa hal-hal yang mengotori amalnya, yang boleh jadi amalnya lebih banyak dilandasi nafsu, sementara engkau tidak menyadarinya. Berapa banyak penyakit dan tujuan-tujuan yang mendekam di dalam jiwa, yang menghambat amal. Sebab ada seseorang melakukan suatu amal yang tidak diketahui orang lain, namun dia melakukannya tidak secara ikhlas karena Allah, sementara ada orang lain yang melakukan suatu amal namun dia melakukannya secara ikhlas karena Allah. Tidak ada yang bisa membedakan dua keadaan ini kecuali orang yang memiliki bashirah. Antara amal dan hati terdapat jarak perjalanan, yang di sana ada para perampok yang akan menghalangi amal agar tidak sampai ke hati. Adakalanya seseorang banyak amalnya, namun tidak sampai ke hati, sehingga tidak menghasilkan cinta, rasa takut, berharap, zuhud di dunia dan hanya mengharapkan akhirat, tidak ada cahaya yang bisa membedakan dirinya antara wali Allah ataukah wali musuh-Nya. Andaikan pengaruh amal ini sampai ke hati, maka di dalamnya akan muncul cahaya, sehingga membuat dirinya tahu mana yang haq dan mana yang batil. Kemudian antara hati dan Allah juga ada jarak perjalanan, yang di sana ada para perampok yang akan menghalangi amal agar tidak sampai kepada-Nya, berupa ujub, takabur, membanggakan amal dan mencemooh amal orang lain. Di sana ada banyak penyakit, yang andaikan dia memeriksanya, tentu akan terheran-heran sendiri. Namun di antara rahmat Allah, Dia menutupi penyakit-penyakit hati ini.
    3. Kembali kepada Allah secara seketika, sebagaimana dorongan untuk memenuhi seruan, yang bisa menjadi benar dengan 3 (tiga) cara :
      • Merasa putus asa terhadap amal yang dilakukan. Hal ini bisa ditafsiri dengan 2 (dua) macam penafsiran:
        • Pertama, dengan melihat pelaku yang sebenarnya dan penggerak pertama. Kalau bukan karena kehendak-Nya, maka tidak ada perbuatan yang muncul dari dirimu. Karena kehendak-Nyalah ada perbuatanmu, dan itu bukan karena semata kehendakmu sendiri.
        • Kedua, merasa putus asa akan mendapatkan keselamatan karena amal diri sendiri. Engkau melihat keselamatan ini hanya berasal dari rahmat Allah dan karunia-Nya.
        Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Sekali-kali seseorang di antara kalian tidak akan selamat karena amalnya." Mereka bertanya, "Tidak pula engkau wahai Rasulullah ? "Beliau menjawab, "Tidak pula aku, kecuali jika Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya."
      • Merasakan adanya kebutuhan secara terus-menerus. Apabila pada awal mula seorang hamba merasa putus terhadap amalnya, lalu akhirnya dia merasa putus asa terhadap keselamatannya, maka dia akan merasa membutuhkan Allah, dalam segala hal. Sifat kekayaan hanya milik Allah dan sifat kemiskinan menjadi milik hamba.
      • Merasakan kasih sayang Allah terhadap dirimu. Jika engkau sudah melihat kekuatan yang hanya dimiliki Allah dan engkau merasa putus asa terhadap amalmu sendiri, maka engkau akan melihat bagaimana kasih sayang Allah yang diberikan kepadamu. Allahlah yang berbuat baik dengan menciptakan sebab akibat, dan yang semua urusan ada di Tangan-Nya.
[Berikutnya....(24) Tadzakkur dan Tafakkur]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli :
Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

Apabila kamu ‘mati’ dari mahluk, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu”. Kemudian Allah akan mematikan kamu dari nafsu-nafsu badanniyah. Apabila kamu telah ‘mati’ dari nafsu badanniyah, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu”. Kemudian Allah akan mematikan kamu dari kehendak-kehendak dan nafsu. Dan apabila kamu telah ‘mati’ dari kehendak dan nafsu, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu.” Kemudian Allah akan menghidupkan kamu di dalam suatu ‘kehidupan’ yang baru.

Setelah itu, kamu akan diberi ‘hidup’ yang tidak ada ‘mati’ lagi. Kamu akan dikayakan dan tidak akan pernah papa lagi. Kamu akan diberkati dan tidak akan dimurkai. Kamu akan diberi ilmu, sehingga kamu tidak akan pernah bodoh lagi. Kamu akan diberi kesentosaan dan kamu tidak akan merasa ketakutan lagi. Kamu akan maju dan tidak akan pernah mundur lagi. Nasib kamu akan baik, tidak akan pernah buruk. Kamu akan dimuliakan dan tidak akan dihinakan. Kamu akan didekati oleh Allah dan tidak akan dijauhi oleh-Nya. Martabat kamu akan menjadi tinggi dan tidak akan pernah rendah lagi. Kamu akan dibersihkan, sehingga kamu tidak lagi merasa kotor. Ringkasnya, jadilah kamu seorang yang tinggi dan memiliki kepribadian yang mandiri. Dengan demikian, kamu boleh dikatakan sebagai manusia super atau orang yang luar biasa.

Jadilah kamu ahli waris para Rasul, para Nabi dan orang-orang yang shiddiq. Dengan demikian, kamu akan menjadi manikam bagi segala kewalian, dan wali-wali yang masih hidup akan datang menemui kamu. Melalui kamu, segala kesulitan dapat diselesaikan, dan melalui shalatmu, tanamantanaman dapat ditumbuhkan, hujan dapat diturunkan, dan malapetaka yang akan menimpa umat manusia dari seluruh tingkatan dan lapisan dapat dihindarkan. Boleh dikatakan kamu adalah polisi yang menjaga kota dan rakyat.

Orang-orang akan berdatangan menemui kamu dari tempat-tempat yang dekat dan jauh dengan membawa hadiah dan oleh-oleh dan memberikan khidmat (penghormatan) mereka kepadamu. Semua ini hanyalah karena idzin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa jua. Lisan manusia tak henti-hentinya menghormati dan memuji kamu. Tidak ada dua orang yang beriman yang bertingkah kepadamu. Wahai mereka yang baik-baik, yang tinggal di tempat-tempat ramai dan mereka yang mengembara, inilah karunia Allah. Dan Allah mempunyai kekuasaan yang tiada batas.

[Sumber : Fathul GhaibMaulana Syaikh Abdul Qadir al Jilani dari http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/nasihat-sultan-auliya-syyaikh-abdul-qodir-al-jilani-qsa]

Diriwayatkan oleh Imam Abul Laits as-Samarqondy, beliau berkata bahwa ada 4 (empat) cara yang dapat mengusir dan memecah rasa 'ujub (angkuh) :
    PERTAMA, menyakini bahwa pertolongan (taufiq) apapun yang diterima dalam hidup adalah pemberian Allah jika demikian, ia akan sibuk dengan mensyukurinya
    KEDUA, selalu mengingat semua anugerah nikmat yang ia nikmati adalah berasal dari Allah jika demikian, ia akan sibuk mensyukurinya dan tak ada sedikitpun kesempatan 'ujub kepada-Nya.
    KETIGA, selalu khawatir dan merasa takut bahwa amal perbuatannya tidak diterima Allah jika demikian, ia akan sibuk dengan ketakutannya tidak diterima amal dan tidak 'ujub akan kebaikannya.
    KEEMPAT, selalu mengingat dan melihat akan semua dosa dan kesalahan yang dilakukannya jika demikian, ia akan berfikir akankah kebaikannya dapat menghapus dosa kesalahannya...?
Bagaimana mungkin seorang yang angkuh / 'ujub dengan amal perbuatan baiknya, sementara ia tidak tahu catatan amal apa yang tertulis dalam bukunya kelak di yaumil akhir..............?

[Sumber : Kitab "TANBIHUL GHAFILIN" karya Abul-Laits as-Samarqondy hal 176]
Pada suatu malam, Shafiyah mengunjungi Rasuluilah SAW. yang sedang beri'tikaf di masjid dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia terpaksa mendatangi suaminya itu karena ada masalah penting yang harus segera dibicarakan. Menjelang masuk waktu isya, ia berdiri hendak pulang dan Nabi mengantarkannya sampai ke pintu masjid. Mereka berpapasan dengan 2 (dua) orang sahabat Anshar yang akan melaksanakan shalat jama'ah. Kedua sahabat itu memberi salam, lantas berlalu dengan cepat. Rasulullah SAW. menegur, "Berhentilah sebentar. Yang di sampingku ini Shafiyah, istriku." Kedua sahabat Anshar itu bahkan mengucapkan, "Subhanallah, janda Huyai bin Ka'ab."

Nabi SAW. tahu ke arah mana isi perkataan mereka itu. Ia hanya berdiam diri seraya berpikir. Kalau mereka saja tidak memahami tujuan perkawinannya, apakah lagi umat di kemudian hari ? Padahal Khadijah meninggal, 3 (tiga) tahun lamanya ia menduda. Semua istri berikutnya dinikahi berdasarkan perintah wahyu dan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan sehingga seluruhnya adalah janda-janda yang terlunta-lunta kecuali seorang saja, Aisyah. Oleh karena itu dengan sedih Nabi SAW. berkata, "Setan itu mengalir di dalam diri manusia mengikuti aliran darahnya. Malahan dijadikannya dada manusia sebagai tempat tinggalnya kecuali orang yang dilindungi Allah."

Tatkala pada kali yang lain Rasulullah SAW. ditanya siapa yang dilindungi Allah itu, Beliau menjawab, "Mereka yang selalu memohon perlindungan Allah." "Siapakah gerangan ?" tanya para sahabat pula "Orang itu adalah yang banyak melakukan kebajikan, ikhlas amalnya dan bersih hatinya."

Dari kedua peristiwa terpisah yang rasanya saling berkaitan itu, yang perlu kita ketahui adalah, ada hubungan apa antara sabda Nabi SAW. yang terakhir tersebut, dengan ucapan kedua sahabat Anshar mengenai Ummul Mukminin, Shafiyah ? Untuk itu perlu kita singkap, Siapa sebetulnya Shafiyah, yang dinikahi oleh Nabi SAW. mendampingi istri-istrinya yang lain itu.

Dalam Perang Khaibar, guna menghancurkan kekuatan tentara Yahudi yang selalu melakukan makar jahat terhadap umat Islam dan pemerintahan Madinah, salah seorang korban yang tewas adalah Huyai bin Ka'ab, pemimpin kaum pemberontak itu. Dan Shafiyah adalah istri Huyai. Tidak seorangpun yang bersedia memelihara Shafiyah, padahal nasibnya terlunta-lunta karena waktu itu, masyarakat luas menganggap Yahudi sama najisnya dengan anjing-anjing buduk, akibat kedegilan mereka sendiri.

Jadi, tatkala Nabi SAW. mengambil Shafiyah menjadi istrinya, hal itu semata-mata untuk memberi keteladanan, betapa seharusnya umat Islam di dalam memandang manusia jangan hanya dengan sebelah mata. Artinya, dengan niat berbuat baik, dengan keikhlasan yang tuntas, dan dengan kebersihan hati yang tulus, manusia harus dilihat secara utuh. Sebab berdasarkan ajaran Islam, tidak ada manusia yang baik secara sempurna sebagaimana tidak ada yang seluruhnya buruk. Di balik kekuatan ada kelemahan, dibalik kebaikan ada kekurangan. Begitu juga di sela-sela kelemahan dan kejelekan, pasti tersimpan pula segi-segi kebajikan pada diri setiap orang.

Jelas bahwa dari satu sisi, pelacur adalah pelacur, pencuri adaiah pencuri. Mereka telah melakukan perbuatan yang melanggar susila, norma-norma agama, dan hukum negara. Akan tetapi, jika kita masuk ke dalam bathin mereka, tidak selamanya pelacur sama jahatnya dengan pelacur, pencuri sama jahatnya dengan pencuri, bergantung pada sebabnya. Boleh jadi seorang pencopet yang mati dikeroyok massa, ditangisi anak-anaknya sebagai pahlawan keluarga karena ia melakukan perbuatan buruk itu untuk membeli obat bagi anaknya yang sakit, membeli makanan untuk anak-anaknya yang kelaparan.

Oleh karena itu, meskipun ada ancaman hukum potong tangan bagi para pencuri dan rajam bagi pezina, dalam hidup Nabi SAW. belum pernah satupun yang dilaksanakan kecuali atas seorang perempuan Yahudi yang minta diadili berdasarkan hukum Taurat. Untuk itu Nabi SAW. bersabda, "Kemiskinan itu akan sangat mendekatkan manusia pada kekafiran."

5 (lima) tahun yang lalu, saya kehilangan sebuah mobil, satu-satunya kendaraan saya, pada waktu mengantarkan anak ke stasiun Gambir karena hendak berangkat ke pesantren. Hanya 15 (lima belas) menit saya berada di peron. Ketika keluar ke pelataran parkir, mobil saya sudah raib. Hari itu juga saya mengirimkan surat pembaca ke 3 (tiga) surat kabar Ibu Kota. Saya tulis begini : "Mobil itu saya beli dengan dengan uang tabungan saya dan istri saya. Dan mobil itu saya gunakan untuk berdakwah kemana-mana. Tidak serupiah pun uang haram terdapat dalam pembelian mobil itu. Sengaja saya beli dengan susah payah karena dokter melarang saya menunggang sepeda motor akibat jantung dan paru-paru saya yang sudah rapuh. Jadi, tolong kembalikanlah mobil saya, mudah-mudahan Anda diberkati Allah." 3 (tiga) hari kemudian ada seseorang yang menelepon saya bahwa mobil itu bisa diambil di belakang Hotel Indonesia pukul 3 (tiga) petang. Alhamdulilah, telepon itu tidak berdusta. Dan kembalilah mobil saya dalam keadaan 'segar bugar'. Saya pun lantas menulis surat pembaca lagi ke 3 (tiga) surat kabar yang bersangkutan, menyampaikan rasa terima kasih saya setulus-tulusnya kepada pencuri yang 'baikhati' itu.

Bukankah kejadian kecil ini membuktikan bahwa seorang penjahat pun, apabila disentuh hati nuraninya akan tergetar juga ? Bahwa suara Tuhan masih mampu menembus tabir dosa yang menyelimuti dada manusia ? Sebab setiap malam, Tuhan turun ke langit dunia dan berseru-seru, memanggil para hamba-Nya yang bersedia berlindung dalam pelukan-Nya. Suara-Nya mendayu bersama angin yang semilir, meningkahi titik-titik air yang menetes dari sela-sela jari-jemari kaum Muslimin yang sedang mengambil air wudhu. Dalam hadis Oudsi, firman Allah berbunyi, "Barang siapa mencari Aku akan Ku-cari dia. Barang siapa mencintai Aku, akan Ku-cintai dia. Dan barang siapa meminta ampun kepada-Ku pasti akan Ku-ampuni dia."

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[Sumber : RepublikaOnline serta disalin dari Buletin Da'wah "AL-FATIHAH" Edisi 283 Tahun ke-7 2010 M / 1431 H]
SEBUAH JANJI HANYA SEBAIK PRIBADI YANG BERJANJI
Kita telah banyak mendengar janji yang disampaikan oleh banyak orang yang kemudian terbukti sedikit sekali yang membuktikan kesetiaan mereka pada janji yang menjadikan mereka diutamakan.

Maka bukan janjinya yang seharusnya kita perhatikan, tetapi pribadi dari yang berjanji. Jika kita menemukan nilai-nilai pada seseorang, yang menjadikan kita mempercayainya, sebetulnya dia sudah tidak perlu berjanji lagi.

Pribadi yang baik tak perlu berjanji, karena pribadinya menjanjikan penghormatan bagi kebaikan orang lain.


KITA MEMILIH SEORANG PEMIMPIN KARENA HATINYA
Hati adalah tempat dimulainya kualitas manusia, dimana :
  1. Seorang yang berhati baik, akan membaikkan sikapnya terhadap orang lain, terhadap kejadian, dan terhadap kehidupan secara lebih luas.
  2. Seorang yang berhati baik, akan membaikkan pikirannya bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan kehidupannya melalui kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan mereka yang dipimpinnya.
  3. Seorang yang berhati baik, akan membaikkan tindakannya agar dia bisa meneladankan yang baik, menganjurkan yang baik, dan kemudian mengharuskan yang baik.
Maka jika kita memilih seseorang sebagai pemimpin kita, pastikanlah Anda memilih pribadi yang hatinya baik.

[Disalin dari Buletin Da'wah "AL-FATIHAH" Edisi 283 Tahun ke-7 2010 M / 1431 H]
Perjalanan malam (Isra) Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), dan kenaikan beliau (Mi'raj) ke ufuk terjauh langit semesta (Sidratul Muntaha) merupakan peristiwa penuh makna. Peristiwa yang berlangsung pada tahun kedua kenabian itu, mengandung ajaran-ajaran moral spritual dan sosial. Dengan demikian, patut disegarkan terus-menerus, agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan umat Islam sehari-hari.

Berbagai kisah unik dan ajaib, terjadi selama menempuh jarak Mekah - Yerusalem, sering diungkapkan dalam aneka macam literatur klasik berbagai bahasa, baik prosa maupun puisi. Bahkan, diakui banyak pihak, karya sastra dunia "Divina Comedia" karya pujangga Italia, Dante Alighieri (abad 13), bersumber dari kisah Isra Mi'raj. Sudah barang tentu para penulis Muslim dari abad ke abad, perlu menggali terus-menerus nilai-nilai luhur Isra Mi'raj, dari sebatas kisah imajinatif kontemplatif, hingga rumusan pemikiran yang realistik.

Dalam kitab "Qashshotul Isro wal Mi'roj" karya Syekh Najmuddin al Ghaiti (abad 14), diungkapkan, Nabi SAW. yang disertai Malaikat Jibril dan Mikail, sempat berhenti di beberapa tempat, untuk melaksanakan shalat 2 (dua) rakaat sesuai syariat Nabi Ibrahim AS. Kepada Nabi SAW. Jibril menerangkan bahwa tempat-tempat Nabi SAW. bershalat itu, antara lain bukit Thursina, tempat Nabi Musa AS. menerima wahyu dari Allah SWT., serta Bait Lahim (Betlehem) tempat Nabi Isa AS. dilahirkan. Hal itu menunjukkan penghormatan Nabi SAW. kepada para nabi dan rasul pendahulunya, yang pada masa kini dapat dimaknai sebagai toleransi beragama, toleransi antara sesama umat beragama, tanpa harus mengubah akidah tauhid, dan ikut-ikutan tatacara ibadah ritual agama lain. Bagi umat Islam, toleransi agama dan beragama cukup mengacu kepada prinsip "Lakum dinukum waliyadin (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku)" (QS. Al Kafirun : 6).

Masih menurut Syekh Najmuddin, di tengah perjalanan menembus keheningan malam, Nabi SAW. melihat sekumpulan petani sedang bercocok tanam. Begitu benih ditebar ke tanah, begitu tumbuh subur dan langsung berbuah lebat, sehingga bisa dipanen. Kepada Nabi SAW. Jibril menjelaskan bahwa hal itu merupakan lambang orang-orang yang suka berbuat kebaikan dan kebajikan di jalan Allah. Orang-orang yang menyerahkan harta dan jiwa raga bagi kepentingan agama dan umat. Apa saja yang mereka dermakan, mendapat pahala kontan berlipat ganda penuh berkah dan ridha Allah SWT.

Berturut-turut, Nabi SAW. menyaksikan kelompok orang memukuli kepala mereka sendiri dengan palu godam besar. Kelompok manusia setengah telanjang, mengunyah kulit pohon berduri yang pahit kesat dan bara api menyala. Kelompok manusia memakan daging busuk penuh belatung. Padahal, di sampingnya terdapat daging segar berbumbu lezat. Kelompok manusia yang tak henti-henti menumpuk beban. Padahal tubuhnya sudah rubuh ke tanah. Tak kuat menahan beban yang sudah ada. Kelompok manusia berenang dan menyelam di sungai darah berbau busuk. Kelompok manusia mengguntingi lidahnya sendiri hingga putus, tetapi lidahnya tumbuh memanjang lagi, digunting lagi berulang-ulang. Juga kelompok manusia yang mencabik-cabik dada dan mulutnya sendiri dengan kukunya yang setajam logam.

Mereka adalah gambaran manusia yang suka melalaikan shalat. Manusia kikir yang tak mau mengeluarkan zakat, infaq / sedekah. Manusia bersuami atau beristri tetapi suka menyeleweng / selingkuh. Manusia yang suka menggunjing (gibah), adu domba (namimah), menyebarkan berita mengada-ada tentang aib orang lain (fitnah).

Perjalanan malam Nabi SAW. berujung di salah satu lapangan luas, yang dinamakan masjid (tempat sujud), karena berabad-abad silam, di situ pernah menjadi tempat bersujud para ahli ibadah yang tunduk patuh menjalankan perintah Allah SWT. sekaligus menjauhi larangan-Nya.

Atas perkenan Allah SWT., Nabi Muhammad SAW., dipertemukan dengan para nabi dan rasul terdahulu, sejak Adam AS. hingga Isa ibnu Maryam AS. Menurut hadis-hadis terpercaya (sahih), Allah SWT. telah mengutus 124.000 nabi kepada umat manusia di muka bumi. Sebanyak 313 orang di antaranya mendapat pangkat dan jabatan struktural rasul. Yang namanya tercantum dalam Al-Quran, sebanyak 25 yaitu Adam, Idris, Nuh, Hud, Soleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Yakub, Yusuf, Ayyub, Dzulkifli, Syu'aib, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakariya, Yahya, Isa, dan Muhammad SAW.

Setelah itu, Nabi SAW. menuju ke batu karang di sebelah utara masjid. Melakukan mi'raj. Beliau beraudensi langsung dengan Allah SWT., untuk menerima perintah shalat fardhu 5 (lima) waktu sehari semalam, bagi segenap umat Islam. Tata cara salat itu sendiri dicontohkan oleh Nabi SAW., mulai dari takbiratul ihram, ruku, iktidal, sujud, duduk antara dua sujud, tahiyat awal, tahiyat akhir, hingga salam.

Manfaat shalat, selain sebentuk ibadah fardhuain (wajib bagi setiap Muslim yang sehat akal pikiran, dan fisik, serta memenuhi batas usia minimal yang disebut balig sebagaimana diungkap para ulama ahli hikmah (hukama) adalah :
  1. Pertama, menumbuhkan kedisiplinan membagi waktu. Selain untuk disiplin menghadapi kedatangan waktu shalat wajib (Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya), juga kewajiban memelihara kekhusyukan shalat itu sendiri (QS. Al Baqarah: 238).
  2. Kedua, mencegah kerusakan dan kemungkaran pada pribadi dan umat pelaku shalat (mushollin), karena shalat itu berfungsi sebagai pencegah kerusakan dan kemunkaran (QS. Al Ankabut : 45).
  3. Ketiga, sarana menumbuhkan kesabaran. Perpaduan sabar dan shalat, menjadi salah satu syarat memohon pertolongan kepada Allah SWT., untuk mengatasi segala problema kehidupan (QS. Al Baqarah : 45).
Wallahualam.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M., Guru mengaji di pedesaan Cibiuk, Garut. Tulisan ini disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 2 Juli 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]

Ada bencana, ada musibah, ada ujian, dan ada adzab. Ada yang tak siap menerimanya, ada yang siap menerimanya, saat bencana menimpanya. Bencana atau marabahaya adalah sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kesedihan, kerugian, atau kecelakaan.

Bencana dapat disebabkan oleh manusia dan juga alam. Bencana yang disebabkan oleh manusia karena olah manusia seperti merusak, berlaku dzalim, tidak adil, memfitnah, memusuhi, berlaku curang atau korupsi, membunuh, membuat teror, membuat maksiat, merampok, dan sebagainya. Sementara bencana yang disebabkan oleh kejadian alam disebut bencana alam. Bencana alam ini terjadi akibat proses alam dan dapat juga akibat dari olah manusia.

Bencana ini semuanya akan mengena kepada lingkungan hidup yang di dalamnya ada manusia sehingga menjadikan manusia mengalami kesedihan, kematian, kegelisahan, ketakutan, kerugian, dan daya kehidupan berkurang dari yang biasanya.


Bencana alam yang pernah terjadi, seperti tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, pada umumnya terjadi tanpa dapat diperkirakan oleh manusia. Berbeda halnya dengan bencana alam karena olah manusia, seperti pendangkalan sungai misalnya di Sungai Citarum, pembuangan sampah, penggundulan hutan yang seenaknya, kegiatan dan pembangunan di daerah hutan lindung seperti di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, serta pembangunan tanpa adanya resapan, dan sebagainya. Hal itu sering mengakibatkan terjadinya tanah longsor dan banjir. Pada musim hujan, luapan air makin banyak dan mengerosi tanah ke daerah yang rendah. Sementara pada waktu musim kering tidak ada simpanan air di dalam tanah sehingga menyulitkan kehidupan manusia.


Musibah berasal dari kata ashoba artinya mengenai, menimpa, atau membinasakan. Imam M. Husin Thobathoba'i mendefinisikan musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki (perorangan atau kelompok), seperti sakit, kerugian, bencana alam, kalah perang, dan paceklik. Dalam Hadis riwayat Imam Thobroni, Nabi Muhammad SAW. bersabda, "
Apa yang menimpa manusia berupa yang tidak dikehendaki itu namanya musibah." Bagi manusia yang hidup, musibah tersebut sebagai peringatan (nadhir) agar manusia kembali kepada kebenaran Allah.

لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
"Untuk memberi peringatan bagi manusia yang hidup dan ingkar agar kembali (kepada kebenaran Allah)." (QS. Yasin : 7O)

Bagi manusia yang diberi peringatan tetapi masih dusta dan dzalim, musibah tersebut adalah sebagai azab atau siksa.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ
"Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan wilayah sebelum Dia mengutus seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan wilavah; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman." (QS. Al-Qashas : 59)

Azab ini merupakan hukuman atas perbuatannya dalam bentuk 'iqob atau rijzan (dari langit). Bagi manusia yang berbuat amal saleh, musibah tersebut sebagai ujian terhadap kesabarannya atau keimanannya agar makin meningkat. Ujian yang dihadapinya tersebut sebenarnya bukan hanya musibah, melainkan juga berupa kebaikan yang diterimanya.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Tiap diri akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan hidup. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan." (QS. Al-Anbiya : 35)

Kebaikan dan keburukan tersebut juga akan mengujinya, apakah dirinya tetap melangkah sesuai denganyang ditunjukkan Allah atau melangkah yang makin menjauh dari petunjuk-Nya. Masing-masing menentukan langkahnya dalam bentuk perbuatan atau amal sesuai dengan pilihannya sendiri. Oleh karena itu, Allah menyuruh manusia agar selalu tetap sabar.

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
"Bersabarlah atas musibah yang menimpamu, demikian itu merupakan perkara yang diperintahkan." (QS. Luqman : 17)

Dengan adanya musibah, berarti ada sesuatu di luar dugaan yang menjadikan diri manusia dapat terputus dengan yang diangan-angankan. Dengan demikian, ada manusia yang menjadi putus harapan, tetapi juga ada yang telah siap untuk menerimanya. Manusia yang terakhir ini adalah manusia yang sabar yang menyadari bahwa manusia akan selalu diuji tentang keburukan dan kebaikan, diuji tentang ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, dan buah-buahan. Dirinya siap menerimanya, dengan ucapan istirja' (inna lillahiwa inna ilaihi rojiun) (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156).

Mengapa bangsa ini banyak dilanda musibah berupa bencana, kiranya tidak salah jika dikatakan bahwa hal itu karena olah kelakuan bangsa itu sendiri yang masih banyak berbuat tidak lurus, seperti masih banyak yang berbuat kerusakan di darat, laut, dan udara, masih banyak berbuat kedzaliman dan kemaksiatan, kecurangan atau korupsi, ketidakadilan, permusuhan, fitnah, pembunuhan, perampokan dan teror, pendustaan dan keingkaran baik kepada sesamanya maupun kepada Tuhan Yang Mahaesa. Selama kelakuan bangsa ini tidak ada perubahan, baik dirinya sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat kiranya selama itu pula akan selalu dilanda bencana atau marabahaya. Kelakuan ini yang dikenal dengan akhlak atau karakter.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah. keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd : 11)

Perubahan yang hampir di semua aspek kehidupan bangsa, di pemerintahan dan di masyarakat, dalam bentuk penyempurnaan akhlak (character building) yang mulia. Muhammad Rasulullah SAW. menegaskan, "Aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Bukhori, Hakim dan Ibnu Hibban).

Mudah-mudahan bangsa ini (termasuk diri kita) mau mengubah akhlaknya (kelakuannya) sehingga bencana yang datang terus menerus ini akan diganti dengan datangnya keberkahan. Amin...***


[Ditulis oleh MUTA'ALIM MINHAJ pembina Masjid Sabiilul Muttaqiin, penasihat Masjid Al-Ma'adin Lembaga Pengkajian Islam Masjid Salman ITB, IPAHI Masjid Istiqomah, Dewan Tafkir Persis Pusat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 1 Juli 2010 pada kolom "CIKARAKCAK"]