Di dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di sekitar kita belakangan ini sungguh memprihatinkan, dimana satu dengan yang lainnya dengan mudah menghujat, memaki dan menyebut kafir kepada saudaranya sesama muslim. Kita seolah melupakan atau tidak mengetahui adab atau etika yang harus dilakukan terhadap saudara seagama sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. melalui Dienul Islam.

Orang Muslim meyakini bahwa saudara seagamanya mempunyai hak-hak, dan etika-etika yang harus ia terapkan terhadapnya, kemudian ia melaksanakannya kepada saudara seagamanya, karena ia berkeyakinan bahwa itu adalah ibadah kepada Allah Ta’ala, dan upaya pendekatan kepada-Nya.

Hak-hak dan etika-etika ini diwajibkan Allah Ta‘ala kepada orang Muslim agar ia mengerjakannya kepada saudara seagamanya. Jadi, menunaikan hak-hak tersebut adalah bentuk ketaatan kepada Allah Ta‘ala dan upaya pendekatan kepada-Nya tanpa diragukan sedikit pun.

Di antara hak-hak, dan etika-etika tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Ia mengucapkan salam jika ia bertemu dengannya sebelum ia berbicara dengannya dengan mengatakan, “As-Salamu’alaikum wa Rahmatullah”, berjabat tangan dengannya, dan menjawab salamnya dengan berkata, “Wa‘alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuhu”. Orang Muslim melakukan itu semua, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta‘ala,
    وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
    Apabila kamu diberi salam dengan ucapan salam, maka balaslah salam tersebut dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa’ : 86)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Orang yang berada di atas kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan mengucapkan salam kepada orang yang duduk, dan orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang banyak.” (Muttafaq Alaih).
    • Sesungguhnya para malaikat heran kepada seorang Muslim yang berjalan melewati seorang Muslim lainnya, namun ia tidak mengucapkan salam kepadanya.
    • Ucapkan salam kepada orang yang engkau kenal, dan orang yang tidak engkau kenal.” (Muttafaq Alaih)
    • Tidaklah dua orang Muslim kemudian keduanya berjabat tangan, melainkan keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.” (Diriwayatkan Abu Daud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)
    • Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum mengucapkan salam, maka janganlah kalian menggubris pembicaraannya hingga ia mengucapkan salam.” (Diriwayatkan Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim)
  2. Jika ia bersin dan membaca “alhamdulillah”, maka ia mendoakannya dengan berkata, “yarmukallahu” (mudah-mudahan Allah merahmatimu), kemudian orang yang bersin berkata, “yaghfirullahu lii wa laka” (semoga Allah memberi ampunan kepadaku dan kepadamu, atau ia berkata, “yahdikumullahu wa yushlihu baalakum” (semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, dan memperbaiki hatimu), karena Rasulullah SAW. bersabda,
    • Jika salah seorang dan kalian bersin, maka hendaklah ia berkata, ‘Segala puji bagi Allah’, dan hendaklah saudaranya mengatakan padanya, ‘Semoga Allah merahmatimu’, dan jika saudaranya telah mengatakan, ‘Semoga Allah merahmatimu’, maka hendaklah orang yang bersin berkata, ‘Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, dan memperbaiki hatimu’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • Abu Hurairah RA. berkata, “Jika Rasulullah SAW. bersin, beliau meletakkan tangannya, atau pakaiannya di mulutnya, dan merendahkan suaranya.” (Muttafaq Alaih)
  3. Menjenguknya jika ia sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya, karena sabda-sabda Rasulullah SAW. berikut :
    • Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ialah lima: Menjawab ucapan salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaq Alaih)
    • Al-Barra’ bin Azib RA. berkata, “Rasulullah SAW. memerintahkan kita menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, membebaskan orang yang bersumpah, menolong orang yang tertindas, memenuhi undangan, dan menebarkan salam.” (Diriwayatkan A1-Bukhari)
    • Jenguklah orang sakit, berilah makan orang yang lapar, dan bebaskan para tawanan.” (Muttafaq Alaih)
    • Aisyah RA. berkata, “Rasulullah SAW. menjenguk sebagian keluarganya, kemudian beliau mengusap dengan tangan kanannya, sambil berkata, ‘Ya Allah Tuhan manusia, hilangkan musibah, dan sembuhkanlah karena Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan-Mu dengan penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit’.” (Muttafaq Alaih)
  4. Menyaksikan jenazah tetangganya jika meninggal dunia, karena Rasulullah SAW. bersabda, “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah 5 (lima) : Menjawab salamnya, menjenguk orang sakit, mengantar jenazahnya, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin.” (Muttafaq Alaih)
  5. Membebaskan sumpah tetangganya jika telah bersumpah terhadap sesuatu dan ia tidak dilarang melakukannya, kemudian ia mengerjakan apa yang disumpahkan tetangganya itu untuknya agar tetangganya tidak berdosa dalam sumpahnya, karena hadits Al-Barra’ bin Azib RA. yang berkata, “Rasulullah SAW. memerintahkan kita menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, mendoakan orang yang bersin, membebaskan orang yang bersumpah, menolong orang yang tertindas, memenuhi undangan, dan menebarkan salam.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
  6. Menasihatinya jika ia meminta nasihat kepadanya dalam satu persoalan dengan menjelaskan apa yang ia pandang baik dalam hal tersebut berdasarkan dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Jika salah seorang meminta nasihat kepada saudaranya, hendaklah saudaranya tersebut memberinya nasihat.” (Diriwayatkan Al-Bukhari)
    • Agama adalah nasihat.” Ditanyakan kepada Rasulullah SAW., “Untuk siapa saja ?” Rasulullah SAW. bersabda, “Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin.” (Diriwayatkan Muslim)
  7. Mencintai untuknya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Salah seorang dan kalian tidak beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri dan membenci untuk saudaranya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri.” (Muttafaq Alaih)
    • Perumpamaan kaum Mukminin dalam kecintaan mereka, kasih sayang mereka, dan keakraban mereka seperti satu badan. Jika salah satu anggota badan sakit, maka untuknya seluruh anggota badan tidak bisa tidur, dan demam.” (Muttafaq Alaih)
    • Orang bagi orang Mukmin lainnya adalah seperti bangunan dimana sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaq Alaih)
  8. Menolong dan tidak menelantarkannya kapan saja ia membutuhkan pertolongan, dan dukungan, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Tolonglah saudaramu, ia zhalim atau zhalimi”, Rasulullah SAW. ditanya tentang cara menolong orang yang zhalim, maka beliau bersabda, “Engkau melarangnya berbuat zhalim, dan menghentikan perbuatannya. Itulah pertolonganmu terhadapnya.” (Muttafaq Alaih)
    • Orang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. ia tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh menelantarkannya, dan tidak boleh menghinanya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Tidaklah orang Muslim menolong orang Muslim lainnya di tempat di mana di dalamnya kehormatannya dilecehkan, dan keharamannya dihalalkan, melainkan Allah menolongnya di tempat ia senang ditolong di dalamnya. Tidaklah seorang Muslim menelantarkan (tidak menolong) orang Muslim lainnya di tempat di mana di dalamnya kehormatannya dilecehkan, melainkan ia ditelantarkan Allah di tempat ia senang ditolong di dalamnya.” (Diriwayatkan Ahmad)
    • Barangsiapa melindungi kehormatan saudaranya, maka Allah melindungi wajahnya dari neraka pada hari kiamat.
  9. Tidak menimpakan keburukan kepadanya, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Seorang Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (Diriwayatkan Muslim)
    • Orang Muslim tidak halal menakut-nakuti orang Muslim lainnya.” (Diriwayatkan Ahmad dan Abu Daud)
    • Orang Muslim tidak halal melihat orang Muslim lainnya dengan pandangan yang menyakitinya.” (Diriwayatkan Ahmad)
    • Sesungguhnya Allah tidak menyukai gangguan terhadap kaum Mukminin.” (Diriwayatkan Ahmad)
    • Orang Muslim ialah orang yang di mana kaum Muslimin yang lain selamat dari (gangguan) lisannya, dan tangannya.” (Muttafaq Alaih)
    • Orang Mukmin ialah orang yang di mana kaum Mukminin merasa aman terhadap jiwa mereka, dan harta mereka.” (Diriwayatkan Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim. Hadits ini shahih)
  10. Rendah hati, tidak sombong terhadapnya, dan tidak menyuruh berdiri dari kursinya agar ia bisa duduk di atasnya, karena dalil-dalil berikut :
    Firman Allah Ta’ala,
    وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
    Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman : 18)

    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadlu, hingga salah seorang dan kalian tidak sombong terhadap yang lain.” (Diriwayatkan Abu Daud dan lbnu Majah. Hadits ini shahih)
    • Tidaklah seseorang tawadlu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah Ta‘ala mengangkat derajatnya.” Rasulullah SAW. bersikap tawadlu’ kepada semua orang Muslim dalam kapasitasnya sebagai pemimpin para rasul, tidak bersikap kasar, tidak malu berjalan dengan wanita-wanita janda dan orang-orang miskin, dan memenuhi kebutuhan mereka, hingga beliau bersabda, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku bersama rombongan orang-orang miskin.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dan Al-Hakim)
    • Janganlah salah seorang dari kalian menyuruh seseorang berdiri dari kursinya kemudian ia duduk di atasnya, namun hendaklah kalian memperluas diri, dan melapangkan diri.” (Muttafaq Alaih)
  11. Tidak mendiamkannya lebih dan tiga hari, karena dalil-dalil berikut :
    Sabda Rasulullah SAW.,
    • Orang Muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari tiqa hari. Keduanya bertemu, salah satunya berpaling dan orang satunya juga berpaling. Orang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (Muttafaq Alaih)
    • Dan janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian hai hamba-hamba Allah sebagai saudara-saudara.” (Diriwayatkan Muslim)
    Membelakangi ialah sikap saling mendiamkan, seorang Muslim memberikan pantatnya kepada orang lain, dan berpaling daripadanya.
Kami mohon maaf tulisan ini terpotong disini. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu panjang serta akan disambung pada postingan berikutnya yaitu.........
ETIKA KEPADA SESAMA MUSLIM (BAGIAN-2)


[Disalin dari
http://addiin.wordpress.com/2008/03/12/etika-terhadap-muslim-lainnya/]

Kita amat merindukan saat-saat istimewa, di mana kaum Muslimin sedunia mengagung-agungkan asma Allah SWT. dengan takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi Al Hamdu."

Hati kita bergetar tatkala takbir itu dilantunkan, Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, segala puji hanya untuk Allah. Tiada seorang pun yang berhak mendapat pujian selain Allah SWT. yang memiliki seluruh alam dan isinya ini.

Kita semua menantikan saat Idhulfitri, tetapi bersamaan dengan itu, kita pun amat berat berpisah dengan bulan yang sungguh mulia ini yaitu bulan Ramadhan.

Apabila kita ingin mencapai kesucian setelah Idhulfitri, maka kita harus membudayakan hidup pada bulan Ramadhan menjadi budaya standar kita. Budaya bangun malam, jangan pernah lepas salat malam. Setelah shaum Syawal enam hari harus kita teruskan dengan shaum Senin-Kamis. Budaya tilawah Quran jangan pernah putus.

Jadikan momen Ramadhan sebagai jalan bagi kita untuk semakin mengenal Allah SWT., sebagai Pencipta seluruh alam ini. Apabila kita mengenal-Nya dengan baik, maka ketaatan kita akan semakin meningkat. Mengenal Allah tidak cukup hanya dengan melafalkan asma-asma-Nya, tetapi kita harus mengetahui ilmu ma`rifatullah (mengenal Allah) dengan benar.

Kalau hati kita makin akrab dengan Allah, makin ikhlas, hidup kita akan menjadi tenteram. Hanya dengan yakin, maka hati kita akan tenteram. Kita akan menjadi orang yang sabar, karena segala masalah telah diukur oleh Allah. Allah yang membagikan rezeki dan mengangkat derajat manusia, kita tidak perlu mengharap puja-puji, tetapi yang harus kita tanamkan dalam diri adalah sikap tawadhu (rendah diri terhadap Allah).

Selain itu, kita harus mengenal Rasulullah dengan baik karena kita membutuhkan tuntunannya. Adapun sebaik-baik tuntunan yang tidak pernah ada tandingannya yaitu tuntunan Rasulullah SAW. Orang yang sukses Ramadannya, akan sangat gigih mengenal Rasulnya dan menyuritauladaninya serta menjalani hidup sesuai tuntunan Rasul. Kita tinggal menyontek akhlak Rasul saja, maka akan aman. Kita harus meniru bagaimana akhlak Rasulullah pada istri-istri, anak-anak, sahabat, tetangga, binatang, musuh, dan bagaimana akhlak keseharian beliau.

Datangnya bulan Syawal yang berarti peningkatan harus terlihat dari sikap dan perilaku setiap individu Muslim. Selama bulan Ramadan, umat Islam digembleng untuk menjadi insan-insan utama, yang senantiasa merasa hidup dan kehidupannya di bawah pengawasan Allah SWT.

Oleh karena itu, selayaknyalah apabila setiap Muslim menjadikan momentum Idulfitri sebagai sarana kembali ke fitrah, dan membuka lembaran baru dalam menggeluti setiap aktivitas yang dijalankannya, dengan nilai-nilai kebaikan yang telah kita dapat di bulan Ramadhan. Mari, kita menggapai kemenangan di bulan Syawal dengan sikap istiqamah dalam beribadah.

Jika kita ingin menikmati hidup ini dengan indah, mulia, tenteram, dan bermartabat, marilah kita kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.

Insya Allah, kalau pada Ramadhan ini kita pacu dan sesudah Idhulfitri kita gigih dalam dua hal tadi, kita tunggu saat kepulangan kita dengan penuh kehormatan.

Mudah-mudahan Allah menghujamkan manisnya iman di kalbu kita, karena kegigihan kita meningkatkan amal ibadah dengan kekuatan iman dan ilmu. Makin kurang ilmu, makin goyah keimanan kita. Makin kokoh ilmu, makin nikmat menghadapi hidup kita. Insya Allah.

Saya juga mohon maaf dengan segala keterbatasan ilmu. Di balik hikmah yang sederhana ini, mudah-mudahan segala kekurangan menjadi ladang pahala bagi para pembaca untuk memaafkan. Kalau pun ada hal-hal bermanfaat, yakinlah itu merupakan karunia Allah bagi para pembaca, sebagai buah dari amal-amal saleh, Insya Allah.

Selamat menikmati Idulfitri 1 Syawal 1431 H. dengan penuh kegigihan untuk lebih akrab lagi dengan Allah SWT. dan menjalani sunah Rasulullah SAW.


Para pembaca, mari kita buka lembaran baru di bulan Syawal ini menjadi hamba yang sangat bersungguh-sungguh untuk mendekat kepada Allah dan hanyalah untuk mempersembahkan yang terbaik dan bermakna bagi dunia dan berarti bagi akhirat nanti, bermanfaat bagi diri dan penuh maslahat bagi umat. Mohon maaf lahir batin. Taqobalallaahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum.

Wallahu a`lam.***

[Ditulis Oleh KH. ABDULLAH GYMNASTIAR, pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid-Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 2 September 2010 pada Kolom "CIKARACAK"]
Bulan Ramadhan adalah bulan yang banyak terdapat keistimewaan dan keutamaan dalam beribadah. Di dalamnya terdapat keistimewaan seperti halnya turunnya Al-Quran, demikian juga dengan keistimewaan datangnya lailatulqadar atau yang disebut dengan malam kemuliaan. Ibadah sunah akan diganjar pahalanya seperti ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah swt.

Banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini, banyak pula orang mencari-cari amalan yang terbaik di bulan ramadhan. Seperti halnya mengerjakan salat sunat tarawih, beramal saleh, mempersiapkan takjil untuk berbuka puasa dan berbuat amal yang terbaik yang Allah perintahkan.

Pada kenyataannya pada satu sisi orang berharap dapat menemukan keistimewaan-keistimewaan selama di bulan Ramadhan karena memang selain perintah puasa, perintah lainnya pun dapat dilakukan dengan berdasarkan ketulusan dan keikhlasan.

Perintah yang datang pada bulan Ramadhan seperti halnya ibadah puasa tidak lagi dikerjakan sebagai suatu kewajiban malah dengan santainya mereka mengabaikan perintah dengan tidak berpuasa di bulan Ramadhan padahal tidak berdasarkan perintah pun yang ada pada surat Al-Baqarah ayat 183 tentang ibadah puasa seorang Muslim sudah dapat dipastikan bahwa puasa itu hukumnya wajib dalam bahasa fikih disebut dengan ma`lumun minaddin bi aldharurah artinya sudah maklum atau dapat diketahui dalam pandangan agama secara dharuri (yang bersifat terpaksa) pekerjaan ibadah semacam itu secara langsung sudah harus dikerjakan.

Kini kita sudah berada pada fase ketiga di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, itu artinya semakin terbuka kesempatan untuk kita jumpai yang namanya lailatulqadar malam yang dinanti-nanti kedatangannya. Pada malam itu telah ditentukan kebajikan dan pahala yang berlipat ganda, ibadah satu malam melebihi ibadah seribu bulan (83 tahun 4 bulan). Ramadhan sebagai momentum untuk menggali potensi ibadah sebanyak-banyaknya, kita dianjurkan melakukan iktikaf memperbanyak bacaan Al-Quran serta berzikir dan ibadah-ibadah lainnya pada malam itu.

Begitu pentingnya lailatulqadar yang menjadi satu kerinduan buat kaum Muslimin dengan semakin memantapkan keimanan serta ketakwaan kita dalam memaknai hidup ini dan mengerti akan pentingnya kehidupan setelah kita kontemplasi dan meditasi memikirkan relung-relung jalan hidup yang kita rasakan saat ini. Malaikat Jibril akan turun ke bumi menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh manusia dengan segala problematikanya. Seperti yang dijelaskan pada surat Al-Qadr ayat 4,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
"Para malaikat turun ke bumi dan (malaikat Jibril) dengan izin Tuhannya dengan menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia."

Melalui momentum lailatulqadar marilah kita temukan malam kemuliaan itu dengan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan terutama pada malam-malam ganjil yang menjadi dambaan dan harapan setiap Muslim mendapatkan lailatulqadar dengan penuh kesungguhan dan hati yang ikhlas.***

[Ditulis Oleh H. MOCHTAR MOHAMAD, S.Sos., Wali Kota Bekasi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 3 September 2010 pada Kolom "RAMADAN KARIM"]
Dalam salah satu firman-Nya, Allah SWT. telah menegaskan dengan sangat jelas,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"...bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)...." (QS. Al-Baqarah : 185)

Diturunkannya Al-Quran pada bulan suci Ramadhan sudah sama-sama diketahui oleh umat Islam. Namun sayang, perhatian mereka terhadap Al-Quran umumnya masih sangat minim. Fakta menunjukkan, hingga kini setiap menghadapi bulan suci Ramadhan, yang menjadi agenda utama sebagian besar umat Islam adalah bagaimana menyongsong Lebaran dengan barang-barang baru. Bukan bagaimana menyusun agenda untuk memperdalam Al-Quran agar mampu memahami, menghayati, serta mampu pula mengamalkannya dalam segala aspek kehidupan, sehingga kita mampu menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Serta senantiasa mendorong kita beramal saleh dan berlomba dalam kebaikan.

Cara menyambut bulan suci Ramadhan, yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. adalah dengan bertadarus Al-Quran. Rasulullah SAW. adalah orang yang paling giat beribadah dan paling dermawan. Memasuki bulan Ramadhan, ternyata beliau lebih mengkhususkan diri bertadarus di setiap malamnya, didampingi malaikat Jibril. Ibnu Abbas menjelaskan, "Rasulullah SAW. itu adalah orang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarus Al-Quran dengannya. Dan sungguh Rasulullah SAW. itu ketika Jibril menemuinya lebih lembut lagi dalam hal kebaikan daripada angin yang bertiup." (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut, bagaimana cara Rasul bertadarus wallahualam, tetapi menurut jumhur para ulama bahwa yang dimaksud dengan tadarus secara bahasa adalah membaca Al-Quran, menghafal, mengkajinya sampai paham, serta mengamalkannya. Dengan demikian, Al-Quran yang semula hanya berbentuk tulisan (mushaf) berpindah ke dalam hati menjadi pemahaman dan akhirnya berwujud menjadi bentuk pengamalan dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari.

Dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW., kita bisa mengagendakan selama bulan Ramadhan, bagi yang tugas bekerja, studi, dan lain-lain, khusus menyisakan waktu setiap malam untuk membaca, memahami, mengkaji, serta menghafal Al-Quran. Kita harus bisa mematahkan mitos perlu istirahat karena sejak pagi dan siang telah lelah bekerja atau belajar, lalu duduk santai menonton televisi tetapi sengaja meninggalkan tadarus. Kita juga jangan sampai berlebihan dalam bulan suci Ramadhan, misalnya berbuka shaum di restoran mana, seperti yang sering diekspose di media elektronik. Target yang perlu dipenuhi berapa ayat yang harus dibaca, dan pahami maknanya, serta di mana akan shalat Tarawih dan mengikuti kajian Al-Quran malam ini.

Akan halnya kebiasaan tadarusan yang dilakukan ibu-ibu bakda shalat Subuh di masjid-masjid, itu sudah baik, ada upaya membaca Al-Quran. Namun, alangkah lebih baik apabila ditingkatkan tidak sekadar membaca, tetapi wajib pula memahami dan menghayati maknanya, sebagaimana telah dicontohkan Nabi SAW. di atas.

Itulah hal-hal yang wajib kita agendakan berkaitan dengan Ramadhan dan tadarus Al-Quran. Jangan sampai momentum Ramadhan yang penuh berkah ini hanya dipergunakan untuk menyongsong Lebaran. Bahkan, ketika memasuki sepuluh hari terakhir, ibadah kita menjadi kendur, konsumerisme Lebaran makin terasa. Yang penuh sesak itu malah di pertokoan dan mal-mal serta stasiun-stasiun. Hiruk pikuk duniawi.

Yang dicontohkan Rasulullah SAW. dalam memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan adalah menyambut Lailatulqadar. Karena pada sepuluh hari terakhir terdapat malam Lailatulqadar, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, keagungan. Pada malam itu permulaan diturunkannya Al-Quran. Dan Lailatulqadar itu kualitasnya lebih baik daripada seribu bulan. (QS. Al-Qadr : 1-5)

Dalam menyambut Lailatulqadar, Rasulullah SAW. mencontohkan beriktikaf di masjid. Rasulullah SAW. beriktikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. "Siapa yang telah beriktikaf bersamaku, maka hendaklah iktikaf pada sepuluh malam terakhir." (HR. Bukhari)

Iktikaf yang dicontohkan Rasulullah SAW. adalah menyengaja berdiam diri di masjid jami selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dengan niat beribadah.

Aisyah RA. menceritakan, "Nabi SAW. apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau mempererat sarungnya (kiasan dari menjauhi istrinya dan menggiatkan beribadah), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari)

Dalam hadis lain, Aisyah RA. berkata, "Sunah (disyariatkan) bagi mutakif (yang iktikaf) tidak boleh menengok yang sakit, tidak boleh menghadiri jenazah, tidak boleh menyentuh istri, tidak boleh menggaulinya, dan tidak boleh keluar dari masjid kecuali keperluan yang mesti (buang hajat). Dan tidak ada iktikaf kecuali dengan shaum. Dan tidak ada iktikaf kecuali di masjid jami." (HR. Daud)

Nabi SAW. melakukan hal-hal yang dalam waktu biasa tidak diperbolehkan, yaitu menjauhi istri, ibadah semalam suntuk, dan diam di masjid tanpa keluar. Akan tetapi, begitu pentingnya menyambut Lailatulqadar, beliau mencontohkan sampai beriktikaf di masjid.

Walaupun iktikaf itu kedudukannya sunah, tetapi tetap sunah Nabi SAW. untuk menggiatkan ibadah pada sepuluh hari terakhir adalah kemestian, sehingga jangan sampai lagi umat Islam semakin kendur beribadah manakala Ramadhan fase terakhir. Karena justru di sanalah puncak beribadah dalam shaum Ramadhan. Memasuki sepuluh hari terakhir, semuanya harus lebih ditingkatkan lagi. Kalau mampu dengan cara beriktikaf di masjid sebagaimana dicontohkan Rasul. Jika tidak, upayakan dengan sungguh-sungguh meningkatkan intensitas semua amal ibadah kita, terlebih dengan tadarus Al-Quran. Karena hanya dengan cara seperti itulah, keagungan Ramadhan dengan Lailatulqadar yang merupakan mutiaranya akan bisa kita raih. Wallahualam.***

[Ditulis Oleh H. EDDY SOPANDI, peserta Majelis Taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqan UPI, Istiqomah, Viaduct, Salman ITB. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 3 September 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Menyusul wafatnya Abu Thalib, gangguan kaum Quraisy terhadap Rasulullah SAW. semakin meningkat. Kini mereka berani menabur pasir ke kepala Nabi SAW. kala beliau sujud. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi perlakuan senista itu.

Fathimah al-Zahra RA. yang menyaksikan peristiwa itu, segera membuang pasir tersebut. Kemudian membersihkan sisa debu yang melekat pada rambutnya. Ia lakukan semua itu seraya menitikkan air mata. Terang saja Rasulullah SAW. sangat iba sehingga kemudian beliau menghiburnya, "La tabki ya bunayyah ! Fa innallaha mani` abaki" (Jangan menangis wahai anakku! Sesungguhnya Allah akan menjaga keselamatan ayahmu).

Beliau lantas menjelaskan faktor penyebab mereka berani berbuat jahil seperti itu, "Ma nalat minni quraisy syaian ukrihuhu, hatta mata Abu Thalib" (Selama ini mereka tidak pernah menyentuh ayah, dengan cara yang ayah sendiri tidak menyukainya, kecuali setelah Abu Thalib meninggal dunia).

Untuk menghindari tindakan yang lebih buruk, selain bagi kepentingan dakwah, Rasulullah SAW. akhirnya pergi meninggalkan Mekah menuju Thaif (kota yang berjarak sekitar 75 mil ke sebelah tenggara).

Mengapa Thaif yang dipilih ? Sesungguhnya tidak heran, karena di sana masih terdapat kerabat beliau dari pihak ibu. Lagi pula, bukankah pada usia paling dini beliau disusui dan diasuh Halimah, seorang wanita dari Bani Sa’ad ? Sementara secara geografis, permukiman mereka sangat dekat dengan Thaif.

Setibanya di sana Rasulullah SAW. segera menemui beberapa pemuka Bani Tsaqif. Kepada mereka dijelaskan maksud kedatangannya. Seraya mengajak mereka menyembah Allah SWT., dengan meninggalkan sembahan yang lainnya.

Reaksinya sungguh di luar dugaan. Rasulullah SAW. sendiri sedikit kaget. Mereka merespons dakwah itu dengan ucapan dan perbuatan yang amat kasar. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. kemudian pergi tatkala mereka masih marah-marah.

Namun, kepergian beliau tidak serta-merta menghentikan kejahilan mereka. Justru kebiadaban mereka semakin menjadi-jadi. Mereka kemudian memobilisasi orang-orang pandir, budak belian, dan manusia sejenisnya, untuk mengolok-olok, memaki dan melempari Rasulullah SAW. dengan batu. Lantaran perbuatan mereka itu, kaki Rasulullah SAW. mengalami luka-luka. Bahkan, kepala Zaid bin Haritsah, sahabat yang menyertainya saat itu, mengeluarkan darah pula. Zaid waktu itu menjadi tameng hidup Rasulullah SAW.

Kebiadaban itu terus berlanjut hingga lewat batas kota. Baru kala sampai di kebun kurma milik Utbah bin Rabiah, mereka bubar. Di sana Rasulullah SAW. dan sahabatnya rehat sejenak, untuk membersihkan luka di kakinya.

Ketika itu pula Rasulullah SAW. mengadukan perbuatan kaumnya kepada Allah SWT. "Ya Rabbi, kepada-Mu kuadukan kekurangan tenaga dan kelemahan kesanggupan dalam menghadapi manusia kafir. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang. Engkau Tuhan kaum tertindas dan Tuhanku juga. Kepada siapa akan Kau-serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh (bukan kerabat) yang berwajah masam, atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku ? Bagiku semua itu tak peduli, selama Engkau tidak murka kepadaku. Namun, bagiku anugerah-Mu sangatlah luas."

Tidak lama kemudian datanglah dua Malaikat, Jibril dan Pemelihara Gunung. Jibril berkata, "Ya Rasulullah, Allah mendengar doamu. Bersamaku Dia mengutus Malaikat Penjaga Gunung, untuk mematuhi segala perintahmu." "Betul, wahai kekasih Allah !" Malaikat itu mengiyakan Jibril. "Aku diperintah untuk mematuhi segala kehendakmu. Apakah engkau ingin supaya aku mencabut sebuah gunung, lalu kujatuhkan di atas kepala mereka? Akan kulakukan itu !" ujar malaikat.

Bayangkan ! Bagaimana kalau kita berada pada posisi seperti Nabi SAW. lantas datang tawaran seperti itu ? Perintah apa gerangan yang akan kita berikan ?

Rasulullah SAW. kala itu menjawab, "Tidak ! Bukan itu yang aku inginkan. Aku malahan berharap semoga dari mereka lahir generasi penyembah Allah SWT. Jika betul Anda mau membantuku dalam urusan ini, tolong amini doaku ini, ’Allahumma ihdi qawmi, fainnahum la ya ’lamun (Ya Allah, tunjukkan pada kaumku itu jalan kebenaran. Sesungguhnya mereka belum mengerti) !"

Keterangan di atas mengantar pada kesimpulan bahwa Rasulullah SAW. adalah seorang pemaaf, bukan pendendam. Rasulullah SAW. bahkan bukan sekadar pemaaf, melainkan seorang penganjur agar umatnya pandai-pandai memaafkan. Sebab, sekali orang menjadi pendendam, selama hidupnya tidak akan bahagia.***

[Ditulis Oleh A. HAJAR SANUSI, tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 2 September 2010 pada kolom "KISAH RAMADAN"]
Syukur alhamdulillah, berkat izin-Nya kita saat ini masih diberi kesempatan untuk menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadhan 1431 H. Mudah-mudahan, puasa yang dijalani, mampu memberikan kegunaan praktis dalam membentuk pribadi, cara pandang dan semangat keagamaan yang baru, inovatif, kreatif, dan dapat diperbarui terus-menerus.

Salah satu bentuk ketakwaan yang menyempurnakan ibadah puasa kita adalah kewajiban membayar zakat. Syariat zakat diwajibkan oleh Allah SWT. bagi setiap orang Islam pria dan wanita yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu, sebagaimana firman Allah SWT. dalam Al-Quran Surah An-Nisa ayat 77,
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
"Kerjakanlah salat dan tunaikanlah zakat."

Hal ini mengandung makna, bahwa salat dan zakat merupakan suatu kesatuan yang utuh, orang yang tidak mau mengeluarkan zakat sama dengan menolak melakukan shalat, juga puasa atau ibadah haji bagi orang yang mampu.

Zakat kita yakini merupakan salah satu cara memberantas pandangan hidup yang materialistis. Dengan mengeluarkan zakat, kita dididik untuk menghilangkan pandangan bahwa harta menjadi tujuan dari hidup. Zakat membawa kesucian dari pemiliknya, suci dari sifat pemujaan, suci dari sifat rakus, dan suci dari sifat kikir. Zakat dapat berperan mempersempit jurang perbedaan ekonomi antara kaya dan miskin. Membayar zakat sebagai media pendidikan dalam mengembangkan kesalehan individu dan sosial.

Dalam konteks pemahaman demikian dan selaras dengan Visi Wali Kota/Wakil Wali Kota Sukabumi 2008-2003, "Dengan iman dan takwa mewujudkan pemerintahan yang amanah berparadigma surgawi menuju Kota Sukabumi yang cerdas, sehat dan sejahtera (dilandasi nilai filosofis sidik, amanah, fatonah, tablig)", dalam mengemban amanat masyarakat Kota Sukabumi yang berjumlah 282.367 jiwa dengan komposisi 90 persen beragama Islam, saya selaku Wali Kota senantiasa berupaya mengajak seluruh masyarakat yang "mampu" untuk membayar zakat, infak maupun sedekah. Saya meyakini zakat yang dikelola dengan tepat dapat memberdayakan kaum tak mampu secara produktif, bukan hanya bersifat konsumtif.

Sesuai aturan, pemanfaatan hasil zakat oleh Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Sukabumi tetap diorientasikan kepada delapan ashnaf, yaitu fakir, miskin, amilin, mualaf, hamba sahaya, garimni, ibnu sabil, dan fisabilillah. Adapun untuk zakat profesi yang dikelola oleh Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sebanyak 35 persen hasilnya disetorkan ke BAZ Kota dan 65 persen dikelola oleh UPZ dengan pemanfaatan tetap mengacu kepada peruntukan delapan ashnaf.

Adalah sebuah harapan, bagaimana agar dari hasil zakat yang besar di negara kita dapat menumbuhkan kegiatan-kegiatan produktif yang memberdayakan kaum fakir dan miskin dan pada akhirnya mampu membalikan status mereka dari penerima zakat (mustahik) menjadi kaum pembayar zakat (muzaki).

Sebagai umat Islam, kita tentu tidak bisa tenang meratakan dahi di atas sajadah salat, sedangkan di sekitar kita ada tubuh-tubuh kuyu yang lapar dan kekurangan gizi. Kita akan teriris hati dalam gelimang harta sementara masih ada anak-anak yang tak mampu bersekolah, ada saudara kita menggelepar menunggu maut karena ketidakmampuan berobat, atau masih ada saudara kita yang menggadaikan iman demi sesuap nasi.

Semoga kita dapat menjadi hamba Allah SWT. yang takwa, yang mampu menjalani puasa Ramadhan dengan patuh terhadap syarat dan rukun yang telah ditetapkan.***

[Ditulis Oleh H. MOKH. MUSKLIH ABDUSSYUKUR, SH. MSi., Wali Kota Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 2 September 2010 pada Kolom "RAMADAN KARIM"]
Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, umat Islam disarankan melakukan iktikaf di masjid. Iktikaf pada hari-hari terakhir Ramadhan itu terutama dimaksudkan agar ikhwan Muslim yang melaksanakannya, di antaranya bisa merasakan dan menikmati malam lailatulqadar. Itulah sebuah keberuntungan besar yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang mengalaminya.

Di luar bulan Ramadhan, iktikaf tetap dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap Muslim. Iktikaf adalah sebuah kebaikan yang banyak manfaatnya. Iktikaf dalam pengertian umum adalah berdiam diri di dalam masjid. Pada saat itulah seseorang bisa memperbanyak shalat sunah, membaca Al-Quran, berzikir, berselawat, dan juga melakukan perenungan diri.

Perenungan diri adalah bagian terpenting dari iktikaf. Di dalam perenungan itulah sesungguhnya seseorang melakukan penyucian kalbu dan mendekatkan hatinya pada Allah SWT. Pada saat merenung, sebetulnya yang dilakukan adalah kita berhenti berbicara. Untuk sekian lamanya kita berpuasa bicara, membiarkan lidah dan mulut berhenti bekerja. Giliran hati berbicara dengan bening. Di situlah akan ditemukan kejujuran dan kebenaran.

Seorang ulama mengatakan, "Bila Anda puasa bicara, Allah akan memperdengarkan kepada Anda dengan sangat jernih, suara hati nurani Anda."

Siti Maryam berpuasa bicara setelah melahirkan putranya. Nabi Isa yang digendongnya lalu berbicara, menjawab pertanyaan banyak orang tentang dirinya, dan ibunya yang mengandung tanpa kehadiran seorang ayah. Kebenaran telah diperdengarkan oleh Allah ketika Siti Maryam diam seribu bahasa.

Penting bagi kita semua untuk mencoba dan belajar puasa bicara dengan banyak merenung. Dengarkan hati nurani yang selalu berkata jujur tentang kemampuan diri sendiri. Banyak orang berbicara tidak sesuai dengan kemampuan sehingga jadinya berbohong, hanya supaya dia ingin dianggap lebih tahu atau lebih pintar.

Namun yang paling penting dari kebiasaan berpuasa bicara adalah belajar mendengarkan orang lain. Belajar memahami kehendak dan kebutuhan orang lain, serta belajar mengetahui prestasi atau keberhasilan orang lain. Jangan biarkan diri kita hanya pandai menilai dan hanya pandai mencela, karena itulah kita perlu belajar puasa bicara.

Dunia kita sudah teramat bising dengan opini tentang apa pun dan tentang siapa pun. Cobalah kita berusaha untuk tidak menambah dan membuat bising kehidupan ini dengan opini. Siapa tahu, dengan begitu kita akan mampu mendengar dan menangkap suara kebenaran.

Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa kita beriktikaf. Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa kita belajar puasa bicara. Mudah-mudahan dengan begitu, Ramadhan tahun ini dapat mengantarkan kita mengangkat diri kita mencapai derajat yang lebih tinggi, yaitu menjadi orang yang sabar. Sabar, karena di antaranya kita sudah lebih bisa mendengarkan orang lain.

Semoga Allah menghendaki kita menjadi orang yang paling disukainya, yaitu orang-orang sabar.
***

[Ditulis Oleh DIANI BUDIARTO, Wali Kota Bogor. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Rabu (Pahing) 1 September 2010 pada kolom "RAMADAN KARIM"]
Kedermawanan tampaknya menjadi ciri yang sangat menonjol dalam diri sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Mereka berlomba-lomba menyedekahkan hartanya untuk keperluan jihad. Di antara para sahabat tersebut, nama Abdurrahman bin Auf sangatlah menonjol.

Pada suatu hari, dalam suatu majelis, Rasulullah SAW. bersabda, "Bersedekahlah tuan-tuan. Saya hendak mengirim suatu pasukan ke medan perang."

Mendengar ucapan Rasulullah SAW. tersebut Abdurrahman bergegas pulang ke rumahnya dan cepat pula kembali ke hadapan Rasulullah di tengah-tengah kaum Muslimin. Abdurrahman berkata, "Ya Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah dan dua ribu saya tinggalkan untuk keluarga saya." Lalu uang yang dibawanya dari rumah diserahkannya kepada Rasulullah.

Sabda Rasulullah SAW., "Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan, dan semoga Allah memberkati pula harta yang kamu tinggalkan untuk keluargamu."

Ketika Rasulullah SAW. bersiap untuk menghadapi Perang Tabuk, beliau membutuhkan jumlah dana dan tentara yang tidak sedikit, karena jumlah tentara musuh yaitu tentara Rum cukup banyak. Selain itu, Madinah tengah mengalami musim panas. Dana yang tersedia hanya sedikit.

Begitu pula hewan kendaraan tidak mencukupi. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. memerintahkan kaum Muslimin mengorbankan harta benda mereka untuk jihad fi sabilillah. Dengan patuh dan setia kaum Muslimin memperkenankan seruan Nabi yang mulia.

Abdurrahman turut memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah, "Agaknya Abdurrahman berdosa tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk istrinya."

Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Adakah engkau tinggalkan untuk uang belanja istrimu ?"

Abdurrahman menjawab, "Ada. Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik daripada yang saya sumbangkan." Rasulullah bertanya, "Berapa ?" Abdurrahman menjawab, "Sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah."

Pada suatu hari iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman yang terdiri atas tujuh ratus unta bermuatan penuh tiba di Madinah. Semuanya membawa pangan dan barang-barang lain kebutuhan penduduk.

Ketika mereka masuk kota, bumi seolah-olah bergetar. Terdengar suara gemuruh dan hiruk pikuk. Ummul mukminin Aisyah bertanya, "Suara apa yang hiruk pikuk itu ?" Orang-orang di sekitarnya menjawab, "Kafilah Abdurrahman dengan iring-iringan tujuh ratus ekor unta bermuatan penuh membawa pangan dan sandang serta lain-lainnya."

Aisyah RA. berkata, " dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat. Saya mendengar Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya bagi Abdurrahman Rasulullah bersabda, ’Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak’."

Sebelum menghentikan iring-iringan unta, seorang pembawa berita mengabarkan kepada Abdurrahman berita gembira yang disampaikan ummul mukminin Aisyah tersebut. Abdurrahman pun bergegas menemui Aisyah. Dia mengatakan, "Wahai ummul mukminin, apakah engkau mendengar sendiri ucapan itu diucapkan Rasulullah ?" "Ya, saya mendengar sendiri," jawab Aisyah

Abdurrahman melonjak kegirangan dan berkata, "Seandainya saya sanggup, saya akan memasukinya dengan berjalan. Sudilah Ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah."

Sejak berita yang membahagiakan itu, semangatnya semakin memuncak untuk mengorbankan kekayaannya di jalan Allah. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangan, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sehingga mencapai 40.000 dirham perak.

Kemudian menyusul pula 40.000 dinar emas. Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas lalu diserahkannya pula 500 ekor kuda kepada para pejuang. Sesudah itu, 1.500 ekor unta untuk pejuang yang lain. Dan tatkala dia hampir meninggal dunia, dimerdekakannya sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya.

Kemudian diwasiatkannya supaya memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing alumni pejuang Perang Badar. Mereka berjumlah seratus orang, dan semua mengambil bagiannya masing-masing.

Dia berwasiat pula supaya memberikan hartanya yang paling mulia untuk para istri-istri Nabi sehingga Aisyah sering mendoakannya, "Semoga Allah memberinya minum dengan minuman dari telaga salsabil."

Selain itu, dia meninggalkan warisan untuk ahli warisnya sejumlah harta yang hampir tak terhitung jumlahnya. Dia meninggalkan kira-kira 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing. Dia beristri empat orang. Masing-masing mendapat pembagian khusus 80.000. Di samping itu masih ada peninggalannya berupa emas dan perak, yang kalau dibagi-bagikan kepada ahli warisnya dengan mengampak, potongan-potongannya cukup menjadikan seorang ahli warisnya menjadi kaya raya.

Pada suatu hari dihidangkan orang kepadanya makanan, padahal ia berpuasa. Dia menengok makanan itu seraya berkata, "Mush`ab bin Umair tewas di medan juang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafani, jika kepalanya ditutup, kakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, terbuka kepalanya. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sesungguhnya saya sangat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah dengan memberikannya kepada kita (di dunia ini)." Sesudah berkata begitu, dia menangis tersedu-sedu sehingga nafsu makannya jadi hilang.

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan ribuan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Rasulullah SAW. yang ucapannya terbukti benar, telah memberinya kabar gembira dengan surga jannatun naim.

Telah turut mengantarkan jenazahnya ke tempatnya terakhir di dunia, antara lain sahabat yang mulia Sa`ad bin Abi Waqash. Pada salat jenazahnya turut pula antara lain Dzun Nurain Utsman bin Affan. Kata sambutan saat pemakaman, disampaikan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhah. Dalam kata sambutannya antara lain Ali berkata, "Anda telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan Anda berhasil menundukkan kepalsuan dunia." ***

[Ditulis Oleh Hj. NUNUNG KARWATI, serta tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Rabu (Pahing) 1 September 2010 pada Kolom "KISAH RAMADAN"]