Ibnu Khaldun, salah seorang sejarawan Muslim dari Tunisia, dalam magnum opus-nya, Muqaddimah (pendahuluan) pernah mengatakan, "Al-insanu hayawanun nathiq." Arti harfiahnya, manusia adalah hewan yang bisa berbicara. Maksudnya, manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa bergumul, bergaul, dan bersosialisasi. Tidak hanya dengan manusia lainnya, tetapi juga dengan Zat yang menciptakan manusia, Allah SWT. Pada proses pergumulan itulah biasanya manusia berbuat kesalahan.

Merupakan sesuatu yang mustahil apabila manusia luput dari kesalahan. Bahkan para nabi dan rasul sekalipun. Perbedaannya, jika para nabi dan rasul berbuat kesalahan mendapat teguaran langsung dari Allah melalui wahyu, sedangkan kita sebagai manusia biasa tidak. Pada situasi seperti inilah proses saling mengingatkan (tawashi bil haq) antarsesama manusia sangat diperlukan. Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang banyak bertobat." (HR. Tirmidzi)

Apabila manusia berbuat salah kepada Allah SWT., biasanya akan sangat mudah untuk memohon ampun kepada-Nya. Hal itu terjadi, selain karena Allah merupakan Zat yang mempunyai hak untuk dimintai ampunan, juga karena secara psikologis manusia sadar kalau posisinya sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah. Jadi sangat wajar apabila makhluk meminta ampunan kepada Khalik untuk kesalahan yang telah diperbuat.

Persoalannya, apabila manusia berbuat salah kepada sesama manusia, biasanya agak sulit untuk meminta maaf. Padahal dia tahu kalau sebenarnya ia salah. Penyebabnya, karena konstruksi sosial budaya kita biasanya menganggap bahwa meminta maaf merupakan perbuatan hina yang akan merendahkan diri sendiri di hadapan orang yang dimintai maaf. Secara logika, kalau meminta maaf saja susah untuk dilakukan, apalagi memberi maaf kepada orang yang pernah berbuat salah kepada kita.

Dalam salah satu hadits Qudsi diriwayatkan bahwa Nabi Musa AS. pernah bertanya kepada Allah SWT. "Wahai Tuhanku, hamba-Mu manakah yang paling mulia menurut pandangan-Mu ?" Allah berfirman, "Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan." (HR. Kharaithi dari Abu Hurairah)

Dari hadits Qudsi tersebut dapat disimpulkan bahwa memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita pada saat kita dapat melakukan balas dendam kepadanya adalah satu perbuatan yang sangat baik dan tinggi nilainya di sisi Allah. Hal ini menjadi prasyarat utama untuk membangun masyarakat yang damai, saling menghargai, dan sebagainya.

Salah seorang yang layak kita jadikan referensi dalam hal ini tentu saja adalah Rasulullah SAW. Sejarah mencatat beberapa kejadian yang menunjukkan perilaku dan ketinggian budi pekerti Rasulullah SAW. dalam memberikan maaf kepada orang-orang yang pernah berbuat aniaya terhadapnya.

Ahmad Muhammad al-Haufi dalam bukunya, Min Akhlaqin bahwa Nabi SAW., memaparkan beberepa peristiwa tersebut, di antaranya sebagai berikut.
  • Pertama, pada saat Perang Uhud, Nabi Muhammad terluka dan beberapa giginya patah. Salah seorang sahabatnya berkata, "Cobalah Engkau berdoa agar mereka celaka !" Nabi menjawab, "Aku diutus bukan untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat." Lalu beliau menengadahkan tangannya dan berdoa, "Ya Allah ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui."
  • Kedua, pada saat Perang Khaibar, Zainab binti al-Harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pemimpin Yahudi, berhasil memperoleh hadiah karena dapat membubuhkan racun pada makanan yang disajikan kepada Nabi SAW. Rasulullah makan bersama Bisyr bin Bara` bin Ma`rur. Bisyr sempat menelan makanan beracun itu, tetapi Nabi baru mengunyahnya untuk kemudian beliau muntahkan. Beliau bersabda, "Makanan ini menginformasikan kepadaku bahwa ia beracun." Beberapa hari kemudian, Bisyr meninggal. Nabi Muhammad SAW. memanggil wanita Yahudi tersebut dan bertanya kepadanya, "Mengapa Engkau sampai hati melakukan hal itu ?" Wanita itu menjawab, "Sudah bukan merupakan rahasia umum kalau kaumku berhasrat sekali untuk membunuhmu. Seandainya engkau seorang raja, pasti akan mati dengan racun itu dan kami akan merasa senang. Tetapi jika engkau seorang nabi, tentu akan diberitahu oleh Allah bahwa makanan itu beracun. Nyatanya engkau adalah seorang nabi." Nabi Muhammad SAW. tidak menghukum perempuan Yahudi tersebut, padahal beliau sudah menguasainya. Beliau memaafkannya dan melepasnya.
  • Ketiga, rasanya tak ada suatu kaum yang lebih memusuhi Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya selain kaum Quraisy Kuffar Mekkah. Selama tiga belas tahun mereka memusuhi nabi dan para sahabatnya yang sudah masuk Islam. Mereka ditindas, dizalimi, dianiaya, diteror, dan diintimidasi dengan beragam ancaman dari musyrikin Quraisy yang mengakibatkan Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Madinah.
    Setelah Nabi Muhammad dan kaum Muslimin berhasil menaklukkan Kota Mekah dan setelah orang-orang kafir dapat dikuasai sepenuhnya oleh Nabi, mereka dikumpulkan di hadapan Nabi bukan untuk mendapatkan balas dendam, akan tetapi untuk mendapatkan ampunan.
    Rasulullah bersabda, "Aku berkata seperti apa yang dikatakan saudaraku Yusuf, "Mulai hari ini tidak ada cerca dan nista atas perbuatan yang telah kalian lakukan. Allah mengampuni kalian dan Dia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang." Setelah mendengar ucapan beliau, mereka bubar dengan perasaan lega. Mereka akhirnya berduyun-duyun masuk Islam sebagaimana yang diceritakan dalam surat An-Nashr. Hal itu mereka lakukan karena kelapangdadaan dan kerendahhatian Nabi Muhammad SAW. yang mau memaafkan mereka padahal mereka telah melakukan aniaya terhadap Nabi dan kaum Muslimin ketika masih berada di Mekah.
Masih banyak lagi peristiwa yang menunujukkan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad SAW. tentang budaya minta maaf dan memaafkan. Kalau Nabi Muhammad SAW. dalam posisinya sebagai nabi dan utusan Allah bisa memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya kepada beliau, apalagi kita sebagai manusia biasa. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa bisa memaafkan kesalahan orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Persoalannya adalah mau atau tidak.

Salah satu faktor yang menyebabkan maraknya gesekan, perselisihan, pertentangan, dan konflik yang biasanya berujung dengan hilangnya nyawa manusia adalah rendahnya budaya minta maaf dan memaafkan. Yang salah merasa hina untuk mau meminta maaf, yang lain merasa gengsi untuk memberikan maaf.

Seandainya tradisi Rasulullah SAW. yang ada kaitannya dengan budaya maaf-memaafkan kita jaga dan lestarikan, bukan tidak mungkin kondisi harmonis yang pernah terjadi di masa Nabi Muhammad SAW. pada periode Madinah akan terwujud di negeri kita. Dan alangkah baiknya apabila pelestarian budaya tersebut kita awali mulai dari lingkungan terkecil, mulai dari diri kita, keluarga, tetangga, lingkungan tempat kerja, dan selanjutnya. Perubahan besar biasanya diawali dari hal-hal yang kecil. Wallahualam bissawab.***

[Ditulis Oleh ERICK HILALUDDIN, pernah mondok di Pesantren Modern Mathla`ul-Huda Baleendah Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 4 Oktober 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Kali ini saya ingin sedikit membahas tentang metode cari uang di internet "paid to review / PTR", walaupun agak telat memang. Kenapa gitu ?? Coba aja tanya ke mbah google dengan keyword "dapat dolar dengan buat review", "tips dan trik paid to review", atau "buy blog reviews", pasti buanyuak alias bejibun dah keluar blog atau situs yang ngebahas tips dan trik buat dapet dolar dari review, saya juga belajar dari situs dan blog-blog tersebut…

PTR atau paid to review merupakan salah satu bisnis online. Menurut saya, PTR ini lebih menguntungkan dari pada jenis bisnis online lainnya, seperti pay per click atau paid to survey. Sama-sama bisa menghasilkan uang sih, tetapi jumlah rupiah atau dolar yang kita peroleh bisa lebih besar dengan metode PTR ini.

Dari judulnya saja "paid to review / PTR", sebenarnya sudah bisa ditebaklah bagaimana sistem dari program ini. Dengan menggunakan metode "paid to review / PTR", kita akan dibayar jika kita membuat suatu review. Ngak susah kan..?? kita cuma membuat suatu review dan kita akan dibayar. Kita bisa mereview apa saja tergantung dari pihak advertisernya ingin kita mereview apa. Bisa saja kita diminta mereview suatu situs, blog, barang, atau suatu artikel.Jadi, tergantung dari advertisernya. Menurut hemat saya, sekalian juga kita bisa belajar menulis atau belajar menuangkan ide dalam bentuk tulisan.

Di dunia maya ada beberapa situs yang menyediakan jasa sebagai fasilitator antara blogger dan advertiser, diantaranya blogvertise, sponsoredreview, linkworth dan masih banyak yang lainnya. Untuk situs lokal ada reviewmu dan adreviewcamp. Setahu saya untuk di Indonesia hanya dua itu saja (kalo saya salah tolong dikoreksi, yah...).

Tetapi yang akan saya bahas pada postingan kali ini adalah linkfromblog.com / LFB (Salah satu situs yang mengijinkan kita meraup dolar dengan membuat suatu review, dimana kita bisa meraih 100% dana yang dibayar oleh advertiser.) Di situs ini pula kita juga bisa meraih bonus dengan mendaftarkan blog milik kita. Nih ada salah satu banner yang dapat kita muat di blog milik kita.
Paid reviews

Mungkin ada yang berfikir bahwa hal ini hanyalah scam (penipuan), tetapi saya jamin ini bukanlah scam karena saya sudah pernah mendapatkan uang dari menulis review. Tidak banyak memang (di sini ada testemoni alias pengakuan atau kamu mau lihat langsung saja di paid reviews.
Advertise with my Blog

Ngak muluk-muluk, kok. Karena segala sesuatu harus dimulai dengan usaha dan dibayar sesuai dengan usaha yang kita lakukan itu (saya sadar karena saya masih pemula alias newbie). Yuk kita mulai mencoba cari uang dengan metode ini. (Ntar kalo dibayar saya bikin ulasannya alias sharing sekalian ajang pembuktian kalo linkfromblog.com / LFB bukanlah scam).

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dari linkfromblog / LFB :
  • Untuk earning/bayaran per-job adalah tidak ada potongan sama sekali, jadi berapa sobat menang BID maka itulah yang akan kita terima. Ini berbeda dengan PTR lainnya yang melakukan pemotongan bayaran.
  • Sepertinya hampir semua jenis blog bisa didaftarkan ke LFB baik blog berbasis wordpress (berbayar atau free), blogspot, joomla atau lainnya.
  • Untuk bisa mendaftarkan blog tidaklah dibutuhkan persyaratan yang sulit, karena blog pagerank 0 pun sudah bisa diterima asalkan sudah terindeks oleh mesin pencari semisal google.
  • Untuk melakukan aktifasi blog maka kita memerlukan pemasangan banner diblog dan script kode tracker yang dipasang di halaman posting review. Ini jika kita menginginkan bonus dari hasil submit dan aktifasi blog. Besarnya bonus bervariasi, kemungkinan tergantung pada nilai artikel review dan pagerank blog. Sedangkan untuk posting review saat melakukan aktifasi blog bisa menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia.
  • Untuk saat permulaan jumlah advertisernya yang ngasih kerjaan masih sangat sedikit, sejak saya mendaftar. Semoga saja untuk hari-hari kedepannya akan semakin bertambah jumlah advertisernya seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya publisher.
  • Untuk mendapatkan job caranya sama dengan beberapa broker PTR lainnya, yaitu dengan melakukan BID atau penawaran harga. Agar BID kita bisa diterima maka sebaiknya jangan memberikan harga BID yang terlalu besar, setidaknya setengah dari nilai maksimum BID.
  • Lama pengerjaan adalah 3 hari sejak BID diterima, ini saya ketahui setelah saya mengirimkan pertanyaan kepada pihak LFB.
  • Untuk dapat melakukan penarikan earning atau pembayaran maka minimal kita memiliki saldo senile $50 dengan alat pembayarannya adalah melalui paypal.
Demikian sedikit info mengenai LFB. Bagi yang belum daftar segera daftar sebelum bonus dihilangkan, ini mengingat semakin banyaknya publisher di LFB.

Ayo Buruan daftar
Silahkan klik disini.

Kalo ada yang merasa kesulitan untuk mendaftarkan diri dan mengaktifkan blog, berikut ini adalah bantuan pengaktifan blog.

Udah dulu yah postingan buat cari uang di internet lewat linkfromblog.com/LFB, pengen mencoba dulu nih.....

Selamat mencoba dan semoga berhasil
...........
Berbicara itu mudah, tetapi mempertanggungjawabkannya tidak mudah. Orang yang mengenal Allah pasti tidak mudah untuk berbicara. Karena dia tahu bahwa setiap kata-katanya didengar Allah dan akan dipertanggungjawabkan. Allah SWT. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Wahai orang-orang beriman takutlah kalian kepada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar." (QS. Al-Ahzab : 70)

Rasulullah SAW. adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, berucap, berdialog, juga berkhotbah di hadapan jemaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran.

Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah setiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw. menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, yang ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, sejak kecil Rasulullah sudah dikenal sebagai Al-Amin atau orang yang tepercaya, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat memengaruhi kualitas ucapannya.

Kualitas diri seseorang memang bisa diukur dari kemampuannya menjaga kata-katanya. Pribadi berkualitas tentu akan berhati-hati dalam menggunakan kata-katanya. Jadi, jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya.

Setiap orang punya potensi yang berbeda-beda dalam berbicara. Ada yang memang sudah bakatnya pendiam atau ada juga yang bakatnya lebih aktif berbicara. Jika bakat aktif berbicara ini disalurkan dan diarahkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat dan dapat meningkatkan kualitas diri kita serta maslahat bagi orang lain, insya Allah akan menjadi kebaikan. Kita tinggal memilih kata-kata yang terbaik dan sertakan niat yang benar, di samping momentumnya pun harus tepat. Tentu sikap kita harus sesuai dengan kata-kata kita. Itu yang akan menguatkan pembicaraan.

Intinya, kita harus mengetahui bahwa sebelum berkata-kata, sesungguhnya kata-kata itu tawanan kita. Akan tetapi, sesudah terlontar dari lisan, justru kitalah yang ditawan oleh kata-kata sendiri. Buktinya, betapa banyak orang yang sengsara, menanggung malu, atau terbebani batinnya gara-gara kata-kata yang salah ucap, yang keluar dari mulutnya sendiri. Begitu banyak contoh nyata dalam kejadian sehari-hari yang bisa membuktikan semua ini.

Siapa pun yang ingin memiliki lisan yang bermutu serta kata-kata yang mengandung kekuatan dahsyat untuk mengubah orang lain menjadi lebih baik, satu hal yang harus direnungkan, yakni bahwa kekuatan terbesar dari kata-kata kita adalah harus membuat orang senantiasa mendapatkan manfaat dari apa pun yang kita ucapkan.

Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja.

Kalau hanya berbicara, padahal kita sendiri tidak tahu akan membawa manfaat atau tidak maka sebaiknya diam saja. Dalam satu hadis, Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari-Muslim)

Kalaupun kita memandang perlu untuk berkata-kata, sebaiknya berikan yang terbaik kepada orang yang mendengarkannya: kata-kata yang paling indah, paling tulus, paling bersih dari segala niat dan motivasi yang tidak lurus. Oleh karena itu, usahakanlah kata-kata yang keluar dari lisan ini kita kemas sedemikian rupa, sehingga membawa manfaat dan maslahat baik bagi diri sendiri maupun bagi jalan hidup serta tumbuhnya motivasi, kehendak, ataupun tekad seseorang.

Walhasil, marilah kita tata lisan. Percayalah, orang yang sanggup memelihara lisannya akan lebih kuat wibawanya daripada orang yang gemar menghambur-hamburkan kata, tetapi kosong makna. Berusahalah senantiasa agar kata-kata yang kita ucapkan benar-benar bersih dari penambahan-penambahan dan rekayasa yang tiada artinya. Ukurlah selalu, di mana, kapan, dan dengan siapa kita berbicara, agar setiap kata yang terucap benar-benar bermutu dan tinggi maknanya.

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya. Jadi, bukan fokus dalam berbicara. Akan tetapi, fokuslah pada keyakinan. Fokus dalam mengamalkan, fokus dalam ikhlas, dan fokus membersihkan hati.

Mudah-mudahan Allah Yang Maha Menyaksikan segalanya, senantiasa menolong kita agar selalu sadar bahwa rahasia kekuatan lisan yang bisa menggugah dan mengubah orang lain itu, berawal dari hati yang tulus ikhlas. Tidak rindu apa pun dari yang kita katakan, kecuali rindu kemuliaan bagi yang mendengarkannya, rindu demi senantiasa mulia dan tegaknya agama Allah, serta rindu agar segala yang kita ucapkan menjadi ladang amal saleh untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Insya Allah !

Semoga Allah SWT. membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin. Wallahualam.***

[Ditulis oleh KH. ABDULLAH GYMNASTIAR, pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 7 Oktober 2010 pada Kolom "CIKARACAK"]
Orang yang akan melakukan ibadah haji, sebaiknya bertobat atas segala dosa. Baik dosa kepada Allah SWT. berupa pelanggaran terhadap segala larangan-Nya dan keengganan melaksanakan perintah-Nya, ataupun dosa kepada sesama manusia. Membayar segala utang, mengembalikan segala harta yang diperoleh dengan cara dzalim (korupsi) dan aniaya (merampas hak orang lain). Ongkos dan bekal yang dibawa, harus benar-benar halal dan bersih. Juga mempersiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.

Banyak memberi sedekah kepada orang-orang lemah, fakir dan miskin. Bawaan barang agar disesuaikan dengan batas yang telah ditetapkan dan dijelaskan jumlah sedikit banyaknya barang bawaan itu, agar tidak mengandung unsur manipulasi (Catatan : mungkin pada masa sekarang, disesuaikan dengan ketentuan batas maksimal bagasi, 25 atau 30 kg.)

Carilah kawan seperjalanan yang saleh, yang baik dan menyukai kebaikan,suka memberi pertolongan, suka mengingatkan jika lupa, suka menegur jika ada kesalahan, memotivasi kepada keteguhan dan kesabaran, semata-mata karena Allah.

Sebelum berangkat, berpamitan kepada kawan-kawan, tetangga dan saudara-saudara yang berdekatan. Meminta restu mereka, dan mendoakan yang baik-baik untuk mereka. Ketika meminta diri diharapkan mereka mengucapkan kalimat "Astaudi`ullaha dinaka wa amanatika wa khawatima amalika." Saya serahkan kepada Allah, akan agama dan amanatmu, juga akhir amalanmu. (Hadis riwayat Imam Turmuzi)

Adab-adab batiniah ibadah haji, meliputi niat dan tujuan semata-mata karena Allah. Jadi bukan untuk mencari nafkah, kekayaan, kemasyhuran dan gelar. Melainkan dengan keduniaan (mengeluarkan materi) justru hendak mencapai nilai keakhiratan. Mencukupkan perbekalan agar dapat menampakkan kebaikan budi dan jiwa, memperbanyak sedekah. Mengeluarkan bekal untuk beribadah haji termasuk sabilillah. Yaitu meninggikan agama Allah.

Meninggalkan rafats (ucapan kotor dan tidak berguna), fusuq (maksiat, meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT.), dan jidal (berbantahan, bertengkar). Maka orang berhaji harus mengutamakan sifat rendah hati, dan lemah-lembut. Kebaikan budi pekerti bukan hanya menahan diri dari perbuatan yang menyakiti orang lain, tapi juga sabar dan tabah dalam menghadapi perbuatan orang lain yang menyakiti kita.

Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan. Tidak memperhitungkan segala apa yang telah dikeluarkan untuk menyempurnakan ibadah haji, seperti membayar dam, baik dam nusuk (denda karena melaksanakan haji tamattu`, yang mendahulukan umrah sebelum haji, atau haji qiran, yang menyatukan umrah dan haji, dengan menyembelih seekor kambing) maupun "dam isa`ah" (denda untuk mengganti perbuatan melanggar larangan ihram).

Juga ikhlas dalam menghadapi musibah atau kerugian yang menimpa fisik dan harta. Sebab segala musibah dan kerugian yang diterima secara ikhlas, termasuk kebaikan yang pasti berpahala di sisi Allah SWT.

Orang berhaji yang mampu memenuhi adab lahir dan batin di atas, Insya Allah akan menjadi haji mabrur. Yang diterima oleh Allah SWT. Ciri-ciri haji mabrur, adalah mampu meninggalkan segala laku maksiat sebelum berhaji. Diganti dengan laku taat. Meninggalkan pergaulan yang merusak akhlak dan agama, dengan pergaulan yang membawa kepada kemuliaan akhlak dan kesungguhan menjalankan aturan agama, baik di bidang ibadah ritual, maupun ibadah sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang menjadi haji mabrur, selalu mengingat Allah SWT dalam segala ucapan dan tindakan. ***

[Ditulis oleh H.USEP ROMLI H.M./sumber kitab "IHYA ULUMUDDIN" Tulisan ini disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 7 Oktober 2010 pada Kolom "GEMA HAJI"]
Kisah ini memberikan sebuah inspirasi serta menguatkan diri saya sebagai seorang anak untuk selalu menghormati orang tuanya terutama IBU..... maka pada posting kali ini saya menuangkannya dalam blog ini.

Kisah ini saya salin dari sebuah sumber di Y! Answer (mohon maaf saya tidak ingat sumber tulisan ini), dan saya juga khilaf tidak mencatat kapan tulisan ini termuat di sana.

Berikut ini tulisan selengkapnya :
    A Story that I cannot forget....

    Sebuah cerita yang tak dapat aku lupakan.....

    1. The story began when I was a child; I was born as a son of a poor family. Even for eating, we often got lack of food. Whenever the time for eating, mother often gave me her portion of rice. While she was removing her rice into my bowl, she would say, "Eat this rice, son. I'm not hungry".

    That was Mother's First Lie.

    1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan pun kita sering kekurangan. Kapanpun ketika waktu makan, ibu selalu memberikan bagian nasi nya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata, "Makanlah nasi ini anak ku. Aku tidak lapar"

    Ini adalah kebohongan Ibu yang pertama.

    2. When I was getting to grow up, the persevering mother gave her spare time for fishing in a river near our house, she hoped that from the fishes she got, she could gave me a little bit nutritious food for my growth. After fishing, she would cook the fishes to be a fresh fish soup, which raised my appetite. While I was eating the soup, mother would sit beside me and eat the rest meat of fish, which was still on the bone of the fish I ate. My heart was touched when I saw it. I then used my chopstick and gave the other fish to her. But she immediately refused it and said "Eat this fish, son. I don't really like fish."

    That was Mother's Second Lie.


    2. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, dengan tekun nya ibu menggunakan waktu luangnya untuk memancing di sungai dekat rumah kami, dia berharap jika dia mendapatkan ikan, dia dapat memberikan aku sedikit makanan yang bergizi untuk pertumbuhan ku. Setelah memancing, dia akan memasak ikan tersebut menjadi sup ikan segar yang meningkatkan selera makan ku. Ketika aku memakan ikan tersebut, ibu akan duduk disebelah ku dan memakan daging sisa ikan tersebut, yang masih menempel pada tulang ikan yang telah aku makan. Hatiku tersentuh sewaktu melihat hal tersebut, aku menggunakan sumpitku dan memberikan potongan ikan yang lain kepadanya. Tetapi dia langsung menolaknya dengan segera dan mengatakan, "Makanlah ikan itu nak, aku tidak seberapa menyukai ikan"

    Itu adalah kebohongan ibu yang ke dua.

    3. Then, when I was in Junior High School, to fund my study, mother went to an economic enterprise to bring some used-matches boxes that would be stuck in. It gave her some money for covering our needs. As the winter came, I woke up from my sleep and looked at my mother who was still awoke, supported by a little candlelight and within her perseverance she continued the work of sticking some used-matches box. I said, "Mother, go to sleep, it's late, tomorrow morning you still have to go for work. " Mother smiled and said "Go to sleep, dear. I'm not tired."

    That was Mother's Third Lie.

    3. Kemudian, ketika aku berada di bangku sekolah menengah, untuk membiayai pendidikan ku, ibu pergi ke sebuah badan ekonomi (koperasi) dan membawa kerajinan dari korek api bekas. kerajinan tersebut menghasilkan sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan kami. Ketika musim semi datang, aku terbangun dari tidurku dan melihat ibuku yang masih terjaga, dan ditemani cahaya lilin kecil dan dengan ketekunan nya dia melanjutkan pekerjaan nya menyulam. Aku berkata, "Ibu, tidurlah, sekarang sudah malam, besok pagi kamu masih harus pergi bekerja. "Ibu tersenyum dan berkata "Pergilah tidur, sayang. Aku tidak Lelah."

    Itu adalah kebohongan ibu yang ke tiga.

    4. At the time of final term, mother asked for a leave from her work in order to accompany me. While the daytime was coming and the heat of the sun was starting to shine, the strong and persevering mother waited for me under the heat of the sun's shine for several hours. As the bell rang, which indicated that the final exam had finished, mother immediately welcomed me and poured me a glass of tea that she had prepared before in a cold bottle. The very thick tea was not as thick as my mother's love, which was much thicker. Seeing my mother covering with perspiration, I at once gave her my glass and asked her to drink too. Mother said, "Drink, son. I'm not thirsty!”

    That was Mother's Fourth Lie.

    4. Pada saat Ujian akhir, ibu meminta izin dari tempat ia bekerja hanya untuk menemaniku. Pada saat siang hari dan matahari terasa sangat menyengat, dengan tabah dan sabar ibu menugguku dibawah terik sinar matahari untuk beberapa jam lamanya. Dan setelah bel berbunyi, yang menandakan waktu ujian telah berakhir, Ibu dengan segera menyambutku dan memberikan ku segelas teh yang telah beliau siapkan sebelumnya di botol dingin. kental nya teh terasa tidak sekental kasih sayang dari Ibu, yang terasa sangat kental. Melihat ibu menutup botol tersebut dengan rasa haus, langsung saya memberikan gelasku dan memintanya untuk minum juga. Ibu berkata, "Minumlah, nak. Ibu tidak haus!"

    Itu kebohongan ibu yang ke empat.

    5. After the death of my father because of illness, my poor mother had to play her role as a single parent. By held on her former job, she had to fund our needs alone. Our family's life was more complicated. No days without sufferance. Seeing our family's condition that was getting worse, there was a nice uncle who lived near my house came to help us, either in a big problem and a small problem. Our other neighbors who lived next to us saw that our family's life was so unfortunate; they often advised my mother to marry again. But mother, who was stubborn, didn't care to their advice; she said, "I don't need love."

    That was Mother's Fifth Lie.

    5. Setelah kematian ayahku yang disebabkan oleh penyakit, Ibuku tersayang harus menjalankan perannya sebagai orang tua tunggal. dengan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, dia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Hidup keluargaku menjadi semakin kompleks. Tak ada hari tanpa kesusahan. Melihat keadaan keluargaku pada saat itu yang semakin memburuk, ada seorang paman yang tinggal dekat rumahku datang untuk menolong kami, baik masalah yang besar dan masalah yang kecil. Tetangga kami yang lain yang tinggal dekat dengan kita melihat kehidupan keluarga kami sangat tidak beruntung, Mereka sering menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang sangat keras kepala, tidak memperdulikan nasihat mereka, dia berkata, " Saya tidak butuh cinta"

    Itu adalah kebohongan ibu yang ke lima.

    6. After I had finished my study and then got a job, it was the time for my old mother to retire. But she didn't want to; she was sincere to go to the marketplace every morning, just to sell some vegetable for fulfilling her needs. I, who worked in the other city, often sent her some money to help her in fulfilling her needs, but she was stubborn for not accepting the money. She even sent the money back to me. She said, "I have enough money."

    That was Mother's Sixth Lie.

    6. Setelah saya menyelesaikan pendidikanku dan mendapatkan sebuah pekerjaan. itu adalah waktu bagi ibuku untuk beristirahat. Tetapi dia tetap tidak mau; dia sangat bersungguh-sungguh pergi ke pasar setiap pagi, hanya untuk menjual beberapa sayuran untuk memenuhi kebutuhan nya. Saya, yang bekerja di kota yang lain, sering mengirimkan beliau sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan nya, tetapi Beliau tetap keras kepala untuk tidak menerima uang tersebut. Beliau sering mengirim kembali uang tersebut kepadaku. Beliau berkata, "Saya punya cukup uang"

    Itu adalah kebohongan ibu yang ke enam.

    7. After graduated from Bachelor Degree, I then continued my study to Master Degree. I took the degree, which was funded by a company through a scholarship program, from a famous University in America. I finally worked in the company. within a quite high salary, I intended to take my mother to enjoy her life in America. But my lovely mother didn't want to bother her son; she said to me, "I'm not used to."

    That was Mother's Seventh Lie.

    7. Setelah lulus dari program sarjana, kemudian saya melanjutkan pendidikan saya ke tingkat Master, saya mengambil pendidikan tersebut, dibiayai oleh sebuah perusahaan melalui sebuah program beasiswa, dari sebuah Universitas terkenal di Amerika. Akhirnya saya bekerja pada perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan tinggi, saya berniat untuk mengambil Ibu dan mengajak nya untuk tinggal di amerika. Tetapi Ibuku tersayang tidak mau merepotkan anak lelakinya, Beliau berkata kepadaku, "Saya tidak terbiasa"

    Itu adalah kebohongan ibu yang ke tujuh.

    8. After entering her old age, mother got a flank cancer and had to be hospitalized. I, who lived in miles away and across the ocean, directly went home to visit my dearest mother. She lied down in weakness on her bed after having an operation. Mother, who looked so old, was staring at me in deep yearn. She tried to spread her smile on her face; even it looked so stiff because of the disease she held out. It was clear enough to see how the disease broke my mother's body, thus she looked so weak and thin. I stared at my mother within tears flowing on my face. My heart was hurt, so hurt, seeing my mother on that condition. But mother, with her strength, said "Don't cry, my dear. I'm not in pain."

    That was Mother's Eight Lie.

    8. Sewaktu memasuki masa tua nya, ibu terkena kanker tenggorokan dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yang terpisah sangat jauh dan terpisah oleh lautan, segera pulang ke rumah untuk mengunjungi ibuku tersayang. Beliau terbaring lemah ditempat tidurnya selepas selesai menjalankan operasi. Ibu yang terlihat sangat tua, menatapku dengan tatapan rindu yang dalam. Beliau mencoba memberikan senyum diwajahnya. meskipun terlihat sangat menyayat dikarenakan penyakit yang dideritanya. Itu sangat terlihat jelas bagaimana penyakit tersebut menghancurkan tubuh ibuku. dimana beliau sangat terlihat lemah dan kurus. Saya mulai mencucurkan airmata di pipi dan menangis. Hatiku sangat terluka, teramat sangat terluka, melihat ibuku dengan keadaan yang demikian. Tetapi ibu, dengan segala kekuatannya, berkata, "Jangan menangis, anakku sayang, Ibu tidak sakit"

    Itu adalah kebohongan ibu yang ke delapan

    After saying her eighth lie, my dearest mother closed her eyes forever !

    Setelah megatakan kedelapan kebohongannya, Ibuku tersayang menutup matanya untuk selamanya !

    With Kind Regards
    Mohammad Utsman

    JEDDAH,
    SAUDI ARABIA
Semoga tulisan saduran ini berguna bagi kita semua dan sekaligus memantapkan diri kita untuk menjadi hamba-hamba Allah yang selalu taat kepada-Nya serta anak-anak yang selalu berbakti kepada kedua orang tua... Amin.

Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Quran,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ : 23)

Allah SWT.
berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Seseorang
yang bertanya kepada Rasulullah SAW., “Siapakah orang yang berhak mendapatkan pergaulanku yang baik ?Rasulullah SAW. menjawab, “Ibumu.Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi ?Rasulullah SAW. menjawab, “Ibumu.Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi ?Rasuluilah SAW. menjawab, “Ibumu.Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi ?Rasulullah SAW. menjawab, “Ayahmu.

Rasulullah SAW.
bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, menahan hak, dan mengubur hidup anak perempuan. Allah membenci untuk kalian gosip, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Muttafaq Alaih)
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(3) WARA'

Dalam kaitannya dengan tempat persinggahan wara' ini Allah telah befirman,
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-Mukminun : 51)
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
"Dan pakaianmu, bersihkanlah." (QS. Al-Muddatstsir : 4)

Menurut Qatadah dan Mujahid, artinya bersihkan dirimu dari dosa. Diri ini dikiaskan dengan pakaian. Ini merupakan pendapat Ibrahim, An-Nakhah'y, Adh-Dhahhak, Asy-Sya'by, Az-Zuhry dan para mufassir. Menurut Ibnu Abbas, artinya janganlah engkau mengenakan pada dirimu kedurhakaan dan pengkhianatan. Orang-orang Arab biasa mensifati orang yang jujur dan selalu menepati janji dengan sebutan tahiruts-tsiyab (bersih pakaiannya), sedangkan orang yang jahat dan suka berkhianat disebut danisuts-tsiyab (kotor pakaiannya).

Menurut Adh-Dhahhak, artinya benahilah amalmu. Menurut As-Suddy, biasa dikatakan kepada orang yang dikenal shalih, "Bersih pakaiannya." Sedangkan kepada orang yang jahat akan dikatakan, "Kotor pakaiannya." Menurut Sa'id bin Jubair, yang dibersihkan adalah hatinya. Menurut Al-Hasan dan Al-Qurazhy, yang dibersihkan adalah akhlaknya.

Ibnu Sirin dan Ibnu Zaid berkata, "Ini merupakan perintah untuk membersihkan pakaian dari hal-hal najis, yang tidak bisa dipergunakan untuk shalat, sebab orang-orang musyrik tidak biasa membersihkan diri dan juga tidak biasa membersihkan pakaian."

Menurut Thawus, artinya pendekkanlah pakaianmu, karena dengan memendekkan pakaian bisa menjaga kebersihannya. Tapi yang benar adalah pendapat yang pertama, seperti yang tertera dalam ayat.

Tidak dapat diragukan bahwa membersihkan pakaian dan memendekkannya termasuk cara membersihkan yang diperintahkan, karena dengan cara ini bisa menunjang pembenahan amal dan akhlak. Kotoran zhahir bisa mengimbas ke kotoran batin. Karena itu orang yang berdiri di hadapan Allah diperintahkan untuk menghilangkan dan menjauhi kotoran itu.

Maksudnya, wara' dapat membersihkan kotoran hati dan najisnya, sebagaimana air yang dapat membersihkan kotoran pakaian dan najisnya. Antara pakaian dan hati ada kesesuaian zhahir dan batinnya. Karena itu pakaian seseorang saat tidur menunjukkan keadaan dirinya dan hatinya, yang satu berpengaruh terhadap yang lain. Maka ada larangan bagi kaum laki-laki mengenakan pakaian sutera, emas dan mengenakan kulit-kulit dari binatang buas, karena yang demikian itu berpengaruh terhadap hati, yang tidak menggambarkan ubudiyah dan ketundukan.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menghimpun keseluruhan wara' dalam satu kalimat,

"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya."

Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat ini mencakup perkataan, pandangan, pendengaran, berjalan, berpikir, memegang dan semua gerakan zhahir dan batin. Pernyataan beliau ini sudah mencakup semua yang ada dalam wara'.

Ibrahim bin Adham berkata, "Wara' artinya meninggalkan setiap syubhat, sedangkan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagimu artinya meninggalkan hal-hal yang berlebih."

Di dalam riwayat At-Tirmidzy disebutkan secara marfu' kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Wahai Abu Hurairah, jadilah engkau orang yang wara', niscaya engkau akan menjadi orang yang paling banyak melakukan ibadah."

Menurut Asy-Syibly, wara' artinya menjauhi segala sesuatu selain Allah. Menurut Abu Sulaiman Ad-Darany, wara' merupakan permulaan zuhud, seperti halnya rasa berkecukupan merupakan permulaan ridha. Menurut Yahya bin Mu'adz, wara' artinya berada pada batasan ilmu tanpa melakukan ta'wil. Wara' itu ada dua sisi : Wara' zhahir dan wara' batin. Wara' zhahir artinya tidak bertindak kecuali karena Allah semata, sedangkan wara' batin ialah tidak memasukkan hal-hal selain ke dalam hati. Siapa yang tidak melihat detail wara' tidak akan bisa melihat besarnya anugerah.

Sufyan Ats-Tsaury berkata, "Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara', yaitu jika ada sesuatu yang meragukan di dalam jiwamu, maka tinggalkanlah."

Menurut Yunus bin Ubaid, wara' artinya keluar dari setiap syubhat dan menghisab diri sendiri setiap saat. Menurut Al-Hasan, wara' seberat dzarrah lebih baik daripada shalat dan puasa seribu kali. Menurut sebagian salaf, seorang hamba tidak mencapai hakikat takwa hingga dia meninggalkan apa yang diperbolehkan baginya, sebagai kehati-hatian dari apa yang tidak diperbolehkan baginya.

Pengarang Manazilus-Sa'irin mengatakan, "Wara' adalah menjaga diri semaksimal mungkin secara waspada, dan menjauhi dosa karena pengagungan." Dengan kata lain, menjaga diri dari hal-hal yang haram dan syubhat serta hal-hal yang bisa membahayakan semaksimal mungkin untuk dijaga. Menjaga diri dan waspada merupakan dua makna yang hampir serupa. Hanya saja menjaga diri merupakan perbuatan anggota tubuh, sedangkan waspada merupakan amalan hati. Adakalanya seseorang menjaga diri dari sesuatu bukan karena takut atau kewaspadaan, tapi karena hendak menunjukkan kebersihan diri, kemuliaan dan kehormatan, seperti orang yang menjaga diri dari hal-hal yang hina dan keburukan, sekalipun dia tidak percaya kepada surga dan neraka. Sedangkan menjauhi dosa karena pengagungan, artinya dorongan terhadap orang yang menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat, bisa karena menghindari ancaman atau karena pengagungan terhadap Allah. Sedangkan menjauhi kedurhakaan, bisa karena dorongan takut atau pun pengagungan. Pengagungan ini cukup disamakan dengan cinta. Artinya, orang yang mencintai tentu tidak mau mendurhakai kekasihnya.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, "Wara' merupakan kesudahan zuhud orang-orang awam, dan merupakan permulaan zuhud orang khusus yang berjalan kepada Allah."

Wara' ini ada 3 (tiga) derajat :
  1. Menjauhi keburukan karena hendak menjaga diri, memperbanyak kebaikan dan menjaga iman. Menjaga diri artinya memelihara dan melindunginya dari hal-hal yang bisa mengotori dan menodainya di sisi Allah, para malaikat, hamba-hamba-Nya yang beriman dan semua makhluk. Karena siapa yang dirinya mulia di sisi Allah, maka Dia akan menjaga, melindungi, mensucikan, meninggikan dan meletakkannya di tempat yang paling tinggi, berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesempurnaan. Sedangkan siapa yang dirinya hina di sisi Allah, maka Dia melemparkannya ke dalam kehinaan, tidak menjaganya dari keburukan dan melepaskan dirinya. Batasan minimal menjauhi keburukan adalah menjaga diri.
    Memperbanyak kebaikan dapat dilakukan dengan dua cara :
    • Pertama, memperbanyak kesempatan dalam melaksanakan kebaikan. Jika seorang hamba melakukan keburukan, berarti kesempatan yang telah dipersiapkan untuk kebaikan menjadi berkurang.
    • Kedua, memperbanyak kebaikan yang dilakukan agar tidak berkurang, sebagaimana telah dikupas dalam masalah taubat, bahwa keburukan bisa menggugurkan kebaikan, entah secara keseluruhan ataukah sekedar terkurangi. Minimal akan melemahkan posisi kebaikan itu.
    Kaitannya dengan menjaga iman, karena menurut seluruh ulama Ahlus-Sunnah, iman itu bisa bertambah karena ketaatan dan bisa berkurang karena kedurhakaan. Pendapat ini juga dikisahkan dari Asy-Syafi'y dan lain-lainnya dari kalangan shahabat dan tabi'in.
    Peranan kedurhakaan yang melemahkan iman ini merupakan perkara yang sudah dimaklumi rasa dan dibuktikan kenyataan. Sebab sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits, bahwa jika hamba melakukan dosa, maka di dalam hatinya ditorehkan satu titik hitam. Jika dia memohon ampunan, maka hatinya menjadi mengkilap kembali. Jika dia kembali melakukan dosa, maka di dalam hatinya ditorehkan titik hitam lainnya. Keburukan membuat hati menjadi hitam dan memadamkan cahayanya.
    Iman adalah cahaya di dalam hati, sedangkan keburukan bisa melenyapkan cahaya itu atau minimal menguranginya. Kebaikan menambah cahaya hati dan keburukan memadamkan cahaya hati. Allah mengabarkan bahwa melanggar perjanjian yang telah diteguhkan Allah terhadap hamba-hamba-Nya merupakan sebab kerasnya hati. Firman-Nya,
    فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ
    "Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya." (QS. Al-Maidah : 13)
    Dosa melanggar perjanjian menimbulkan beberapa dampak, berupa kekerasan hati, datangnya kutukan, kebiasaan merubah kalam Allah dan melupakan ilmu. Kedurhakaan bagi iman seperti penyakit bagi kekuatan. Keduanya hampir serupa. Karena itu orang-orang salaf berkata, "Kedurhakaan merupakan kurir kekufuran, seperti penyakit yang menjadi kurir kematian." Iman orang yang melakukan keburukan seperti kekuatan orang yang sakit, tergantung dari parah tidaknya penyakit yang diderita. Tiga sifat yang ada dalam derajat pertama ini juga merupakan wara'nya orang-orang yang berjalan kepada Allah. Dengan kata lain, mereka masih mempunyai jenis wara' lain yang disebutkan dalam dua derajat berikut.
  2. Menjaga hukum dalam perkara-perkara yang mubah, mengekalkan, melepaskan diri dari kehinaan, dan menjaga diri agar tidak melampaui batasan hukum.
    Orang yang naik dari derajat pertama dari wara' lalu beralih ke derajat kedua ini, meninggalkan sekian banyak hal-hal yang mubah, karena takut hatinya akan terkotori dan cahayanya padam. Sebab memang banyak hal-hal yang mubah dapat mengotori kebersihan hati, mengurangi gemerlapnya dan memadamkan cahayanya.
    Suatu kali Syaikhul-Islam berkata kepadaku sehubungan dengan hal yang mubah, "Ini dapat menghilangkan derajat yang tinggi, sekalipun meninggalkannya bukan merupakan syarat untuk mendapatkan keselamatan." Orang yang memiliki ma'rifat lebih banyak meninggalkan hal-hal yang mubah, karena untuk mengekalkan penjagaan hati, apalagi jika yang mubah itu merupakan sekat antara yang halal dan yang haram.
    Jika orang yang ada pada derajat pertama berusaha untuk mendapatkan penjagaan, maka orang pada derajat yang kedua ini berusaha untuk menjaga kebersihan hati agar tidak terkotori dan agar cahayanya tidak padam. Inilah makna mengekalkan penjagaan. Melepaskan diri dari kehinaan artinya menjauhi jalan-jalan kehinaan dan perbuatannya. Sedangkan menjaga diri agar tidak melampaui batasan hukum, maka batasan hukum di sini artinya kesudahan dan pemutusan yang halal dan yang haram. Selagi suatu hukum disudahi dan diputuskan, maka itulah batasannya. Siapa yang melanggarnya, berarti dia berada dalam kedurhakaan.
  3. Menjauhi segala sesuatu yang mengajak kepada perceraian, bergantung kepada perpisahan dan yang menghalangi kebersamaan secara total. Perbedaan antara perceraian dan bergantung kepada perpisahan seperti perbedaan antara sebab dan akibat, penafian dan penetapan.
    Siapa yang bercerai, maka tidak ada kesempatan baginya untuk bergantung kepada selain tuntutannya. Siapa yang tidak menjadikan Allah sebagai kehendaknya, berarti dia menghendaki selain-Nya. Siapa yang tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, maka dia akan menyembah selain-Nya. Siapa yang amalnya bukan karena Allah, berarti amalnya karena selain Allah. Perasaan takut membuahkan wara', permohonan pertolongan dan harapan yang tidak muluk-muluk. Kekuatan iman kepada perjumpaan dengan Allah membuahkan zuhud. Ma'rifat membuahkan cinta, takut dan harapan. Rasa cukup membuahkan keridhaan.
    Dzikir membuahkan kehidupan hati. Iman kepada takdir membuahkan tawakal. Terus-menerus memperhatikan asma' dan sifat Allah membuahkan ma'rifat. Wara' membuahkan zuhud. Taubat dan terus-menerus me-ngingat Allah membuahkan cinta kepada-Nya. Ridha membuahkan syukur. Tekad yang kuat dan sabar membuahkan semua keadaan dan kedudukan yang tinggi. Ikhlas dan kejujuran saling membuahkan. Ma'rifat membuahkan akhlak. Pikiran membuahkan tekad.
    Mengetahui nafsu dan membencinya membuahkan rasa malu kepada Allah, menganggap banyak karunia-Nya dan menganggap sedikit ketaatan kepada-Nya. Memperhatikan secara benar ayat-ayat yang didengar dan disaksikan membuahkan pengetahuan yang benar. Penopang semua ini ada dua macam : Pertama, memindahkan hati dari kampung dunia ke kampung akhirat. Kedua, mendalami, menyimak dan memahami makna-makna Al-Qur'an serta sebab-sebab diturunkannya, lalu engkau mengambil dari ayat-ayatnya untuk mengobati penyakit di dalam hati.
[Berikutnya....(4) Tabattul]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
Memang ini bukan barang baru lagi, sudah banyak yang tahu bahwa televisi sekarang bisa dimasukkan ke dalam blog. Disamping itu pula ini adalah tulisan daur ulang dari tulisan saya yang pernah diposting beberapa waktu yang lalu setelah saya revisi.

Kebetulan pagi ini saya jalan-jalan di berbagai tempat di dunia maya ini alias Blogwalking, akhirnya mampir deh di suatu tempat yang dikenal dengan nama
Blogspot Tutorial (http://klinik-it.blogspot.com) Disitu saya baca bagaimana cara memasang Televisi Live di blog. Saluran televisinya walau hanya Channel Televisi Indonesia aja, lumayanlah daripada lumanyun he..he...

Setelah lama sekali tidak ada gamba tvnya, maka pada kesempatan ini akan saya perbaiki postingan TV Online dengan script code yang baru (
dari http://uvayabjm.blogspot.com). Perlu diketahui bahwa dari script ini ada beberapa stasion tv yang tidak keluar gambarnya atau tidak baik kualitas gambarnya.

Tuh serukan tidak pakai daftar-daftar segala / sign in, masukin script code ke dalam blog and langsung aja nyala tuh tivi mana berwarna lagi. He..he..he. Sekarang bisa ngeblog sambil nonton televisi dah. Eit, tapi jangan sampai lupa waktu dan lupa shalat yah.... Hehehe. Kok jadi kemana aja nulisnya. Ngelantur nih. Maaf...

Berikut ini cara pasang TV di blog :
  1. Login Ke Blogger.
  2. Klik Tata Letak lalu klik Tambah Gadget .
  3. Atau klik Posting kemudian klik New Post.
  4. Pilih HTML/javascript di bawah ini.

  5. Kemudian Copy dan Paste kode tersebut di atas pada blog kamu.
  6. Atur variabel height serta width pada kode di atas sesuai dengan layar tampilan blog kamu.
  7. Klik Simpan.
  8. Beres dan tinggal ditonton tuh televisi.
Widget Live TV ini bisa disimpan pada sidebar jika sidebar blog kamu cukup lebar ataupun dalam bentuk posting (seperti yang saya lakukan sekarang).

Untuk hasilnya bisa dilihat di sini........

Ok, sampai disini dulu dan selamat mencoba...........
Ditinjau dari kacamata ilahiah, manusia dilahirkan ke dunia membawa misi kekhalifahan (khalifatulloh fil ardi), yakni sebagai tangan/wakil Allah di dunia. Hal tersebut mengandung makna bahwa kiprah manusia di bumi hendaklah sesuai dengan sifat-sifat yang ada pada Allah Azza Wajalla (Asmaul Husna).

Bila seorang manusia mengaku dan menyadari sebagai hamba Allah, sudah sepatutnya ia berupaya menjadi agen perubahan sehingga tercipta kedamaian, keutuhan, kegotongroyongan, dan ketenteraman di tengah kesemrawutan dunia. Sangatlah relevan moto "silih asih, silih asah, silih asuh". Itulah makna eksistensi hidup seorang manusia yang berbudaya. Tidak heran kalau pernah kita baca di media massa, ada salah seorang tokoh ki Sunda menyebutkan bahwa budaya Sunda adalah budaya yang sarat dengan nilai-nilai keislaman. Dengan kata lain, kesundaan identik dengan nilai keislaman, sebagaimana yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW. di dalam membawa misi keislamannya.

Decak kagum terhadap perjuangan Rasulullah mengubah kondisi serta budaya masyarakat jahiliah ketika itu, yang dihadapkan pada suatu realitas perilaku budaya yang hedonistik, brutal, dan amoral. Berbekal Al-Quran dan bermodalkan akhlakul karimah, beliau tampil ke gelanggang. Akhlak mulia yang melekat pada diri Rasul menjadi magnet bagi para musuhnya. Secara berangsur-angsur mereka berubah pikiran. Yang semula menentang, memusuhi, bahkan mencerca beliau, akhirnya berikrar menyatakan diri dengan bersyahadat di hadapan Muhammad. Selanjutnya, mereka merapatkan barisan menjadi pengikut perjuangan Rasulullah yang setia.

Satu hal yang perlu menjadi pelajaran bagi umat Islam masa kini bahwa Islam bukanlah agama yang diperjuangkan dengan cara-cara yang brutal atau memaksakan kehendak kepada pihak lain.

Dengan pendekatan historika kerasulan, Muhammad SAW. yang saat itu hidup di tengah masyarakat jahiliah berdakwah dalam arti menyeru, mengajak, dan mengingatkan manusia agar kembali ke jalan yang benar dan lurus bermodalkan akhlakul karimah. Berkat itu pulalah, dengan seizin Allah, Rasulullah Muhammad SAW. dalam jangka waktu relatif singkat (hanya 22 tahun, 2 bulan, 22 hari) berhasil mengubah perilaku masyarakat jahiliah (tidak beradab) menjadi masyarakat yang Islami (beradab). Hal tersebut jika dihitung dari semenjak beliau diangkat/dilantik sebagai Rasul Allah pada usia 40 tahun, sedangkan beliau wafat pada usia 63 tahun.

Betapa banyak kisah perjalanan dakwah beliau ketika itu yang relevan untuk dipedomani oleh para dai, mubalig, dan siapa pun yang terpanggil untuk berdakwah sekaligus hendak membuktikan bahwa Islam rahmatan lil’alamin.

Acapkali terlintas dalam pikiran kita selaku umat Muhammad SAW. mengenai banyak hal. Padahal ajaran Islam tidak mengajarkan pada umatnya tentang hal-hal berikut, seperti terjadinya tirani masyarakat terhadap komunitas umat beragama. Selain itu, memaksakan suatu kehendak / ajaran kepada pihak lain yang tidak sepaham dengan cara-cara yang dapat menimbulkan terjadinya kekacauan, bahkan tidak sedikit menelan korban jiwa yang tidak berdosa. Jelaslah hal itu bukan cara-cara Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Umat Islam sepatutnya mengutuk keras terhadap tindakan oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam (jihad Islam). Padahal tindakan semacam itu justru merusak citra Islam itu sendiri, kontra produktif. Hal itu terjadi akibat masih banyak umat Islam mengaku dirinya Islam (Muslim) tetapi tidak mengenal nilai-nilai dasar Islam.

Marilah kita pelajari, kita kaji, kita dalami, dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Buanglah jauh-jauh kebiasaan yang keliru. Tebarkanlah nilai-nilai akhlakul karimah dengan berpedoman teguh kepada Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW. Dengan berbekal hal tersebut, dalam semangat berdakwah yang tengah bergelora pada setiap pribadi Muslim, yang terpanggil jiwa dan raganya untuk senantiasa berupaya mewujudkan masyarakat yang Baldatun Toyyibatan Warobbu Ghofur di bumi Pancasila yang kita cintai. Mari kita rapatkan barisan agar Islam sebagai rahmatan lil`alamin benar-benar dijaga agar tidak terkontaminasi oleh ulah-ulah segelintir orang yang penuh dengan nafsu-nafsu syaitoniyah, yang ujung-ujungnya justru merusak citra Islam yang rahmatan lil`alamin.

Mari kita pelajari sejarah bagaimana para penyebar agama Islam di nusantara dahulu kala yang kita kenal dengan Wali Songo. Mereka menebar nilai ajaran Islam pada umat yang belum tahu dan tidak mengenal ajaran Islam dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Metode dakwah yang diajarkan pada kita sebagai generasi penerus yang berakhlak mulia jauh dari sikap dan sifat kekerasan, memaksakan kehendak kepada umat yang belum memahami nilai-nilai ajaran Islam ketika itu. Mereka justru melakukannya melalui pendekatan kebudayaan.

Jika kita belajar dari sejarah, kadang kala para wali dalam perjuangan dakwahnya terpaksa melakukan peperangan. Namun itu pun jika terpaksa karena diserang. Agama Islam membolehkan kita melawan jika kita diserang, dengan kata lain, Islam tidak akan menabuh genderang perang jika tidak ada pihak yang melakukan penyerangan terlebih dahulu.

Itulah sebabnya, mari kita mencoba merenungkan kembali langkah, tindakan, dan ucapan kita di saat kita berkaca pada realita, betapa medan dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu kita telah berhasil menyadarkan umat pada zamannya. Untuk mengenal dan menyakini Islam sebagai rahmatan lil`alamin, kita lanjutkan dakwah tanpa henti.

Mari kita songsong lahirnya generasi Qurani yang ber-akhlakul karimah, sehingga Islam sebagai ajaran yang menebar rahmatan lil`alamin tidak hanya utopis (angan-angan) belaka. Itu semua merupakan tantangan bagi segenap umat Islam untuk mewujudkannya.

Kita bumikan Al-Quran dan sunah dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Semoga Allah senantiasa meridhai amal usaha kita. Amin.***

[Ditulis Oleh TONI MAOLUDIN, Pekerja sosial madya pada PSBN Wyata Guna Bandung, mantan aktivis HMI, IMM, dan PII pada dekade ’80-an di Yogyakarta. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 1 Oktober 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]