Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya saleh juga salehah. Akan tetapi, tanpa kita sadari, tak jarang orang tua malah memperlakukan anak-anaknya sehingga menjadi anak yang "salah". Malah yang berbahaya adalah ketika orang tua merasa benar dalam mendidik anak-anaknya, padahal ternyata jauh dari tuntutan ajaran Islam.

Apabila kaum Barat menyatakan untuk membentuk anak-anak yang hebat dilakukan pada saat hamil, seperti mendengarkan musik klasik, ajaran Islam jauh lebih dini lagi, yakni ketika calon orang tua akan memilih pasangannya masing-masing. Sejak pemilihan jodoh, seorang pemuda atau pemudi yang akan memilih calon suami / istri seharusnya mempertimbangkan apakah kelak calon pasangannya bisa menjadi bapak / ibu yang baik atau tidak ? Apakah ia mampu mendidik bagi anak-anaknya kelak ?

Ketika sesudah menikah lalu akan menjalankan kewajiban sebagai suami istri, tepatnya menggauli pasangannya, harus disertai dengan doa-doa untuk calon anak yang kemungkinan lahir dari hasil hubungannya. Doa merupakan hal utama dari orang tua, bahkan setiap ucapan orang tua adalah doa bagi anak-anaknya.

Selanjutnya ketika ibu sedang hamil, hendaklah ibu ataupun ayahnya berusaha selalu memiliki hati yang senang. Tidak banyak resah, gelisah, sedih, atau tersinggung. Hendaklah kedua orang tua itu memperbanyak tahajud, zikir, doa, membaca Al Qur'an, dan amalan kebajikan lainnya.

Ketika anak lahir, orang tua menyambut kehadirannya dengan doa,
"A’udzubika bikalimatiilaahi min kulli syaithaanin wamin kulli ‘ainin laammatin"
"aku menaungimu dengan perlindungan kalimat Allah dari segala gangguan setan dan mata yang mendengki"

Mengenai memberikan azan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kiri, menurut sebagian ulama, hal itu berasal dari hadis Nabi Muhammad. Namun, sebagian ulama lain berpendapat berbeda sehingga dalam persoalan ini terdapat perbedaan di antara ulama.

Proses selanjutnya untuk menjemput anak saleh / salehah adalah ketika ia berusia tujuh hari dengan melakukan tiga hal, yakni mencukur bersih rambut, memberikan nama terbaik, dan melakukan akikah, yaitu memotong seekor kambing / domba untuk anak perempuan dan dua ekor kambing / domba untuk anak lak-laki. Daging akikah boleh dibagikan mentah atau dimasak sendiri dengan mengundang tetangga, kaum duafa, maupun saudara.

Perlakuan lain yang tak kalah pentingnya adalah memberikan air susu ibu (ASI) kepada sang anak selama dua tahun. Selain itu, dari sejak dini, orang tua memberikan pembiasaan hal-hal baik terutama ibadah, seperti shalat sehingga ketika anak usia tujuh tahun sudah terbiasa mendirikan shalat dan membaca Al Qur'an.

Sementara pada usia tamyiz atau balig sekitar sembilan tahun, seorang anak hendaknya dipisahkan tidurnya dari kedua orang tuanya. Selain itu, orang tua juga harus memberikan aturan agar anak tidak masuk kamar orang tuanya dalam tiga waktu yaitu setelah shalat Isa, menjelang subuh, dan saat berganti pakaian.

Untuk anak laki-laki hendaknya dikhitan tidak melebihi usia perintah mendirikan shalat karena khitan berkaitan dengan kewajiban shalat. Orang tua juga perlu membiasakan situasi rumah yang agamis dengan memberikan contoh dalam lisan maupun tindakan, sehingga anak tidak merasa selalu diperintah karena orang tua sudah mencontohkannya. Anak mendirikan shalat atau membaca Al Qur'an akibat kesadarannya sebagai hamba Allah.

Orang tua perlu berhati-hati dengan ucapan, dengan tidak mengeluarkan kata-kata kasar apalagi mengeluarkan kutukan. Hal ini disebabkan, setiap ucapan orang tua merupakan doa yang dikhawatirkan malah dikabulkan Allah SWT.

Komunikasi berupa dialog jangan pula dilupakan sehingga anak-anak bisa mengeluarkan unek-unek, keluhan, ataupun permasalahannya. Kelemahan orang tua ketika bersikap layaknya diktator yang tak membuka ruang bagi anak untuk berdialog atau berdiskusi.

Sikap terbaik dalam mendidik anak adalah dengan sikap akrab tetapi berwibawa, rileks tetapi bermakna. Seperti dicontohkan Nabi Muhammad dalam sebuah hadis yang menggambarkan Rasulullah sedang merangkak dan di atas punggungnya terdapat kedua cucu Rasulullah yakni Hasan dan Husain.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah yang sedang makan bersama sahabat melihat cucunya, Husain, sedang bermain-main di jalan bersama anak-anak lainnya. Rasulullah langsung menghampiri Husain dan mengajak berlari ke sana-kemari sehingga tertawa. Rasulullah juga tak lupa memeluk dan mencium Husain.

Terakhir, doa-doa juga penting apalagi di dalam Al Qur'an maupun hadis, Nabi Muhammad juga banyak dicontohkan doa untuk mendapatkan anak yang saleh / salehah, seperti

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku." (QS. Ibrahim : 40)

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Ash-Shaffat : 100)

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah : 128)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Furqan : 74).***

[Ditulis Oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, Ketua Yayasan Unisba, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 20 Januari 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]
Perjalanan selalu identik dengan oleh-oleh. Tak terkecuali perjalanan haji dan umrah. Namun, oleh-oleh khas Mekah dan Madinah sering kali justru merepotkan jemaah dalam membawanya kalau pada saat berbelanja tidak diperhitungkan batas beban yang bisa dibawa ke bagasi pesawat terbang.

Namun, ada oleh-oleh yang tak akan memberatkan, tak memenuhi isi koper, bahkan tak perlu dibeli di toko mana pun, baik di Mekah, Madinah, atau Jeddah. Oleh-oleh ini bahkan sangat tahan cuaca dan tahan banting, awet karena dapat dibagikan kepada semua saudara dan sahabat dengan porsi yang sama.

Apakah gerangan oleh-oleh yang demikian istimewa dari perjalanan haji dan umrah ? Oleh-oleh itu bernama kesan yang mendalam yang membekas jauh ke dalam lubuk hati. Menjadi semacam pupuk penyubur iman dan cairan yang membasahi kalbu hingga terasa sejuk.

Suatu ketika saat berumrah, saya membawa sajadah batik karena sajadah kesayangan. Bukan hanya ringkas dibawa dan ringan dijinjing, tetapi ada semacam kebanggaan sebagai bangsa Indonesia karena seni batiknya digunakan sebagai ornamen sajadah ! Saya selalu membawanya ke Masjidilharam setiap waktu salat dan tak jarang membanggakannya kepada sesama jemaah umrah.

Saat salat Subuh, seusai tawaf sunah, saya segera menggelar sajadah, di barisan agak belakang di arah multazam. Karena multazam adalah arah yang dijelaskan sebagai arah atau wilayah dengan doa-doa diijabah, wilayah itu selalu menjadi magnet jemaah untuk posisi shalat.

Beberapa saat setelah sajadah dihamparkan, belum lagi shalat sunah saya mulai, entah bagaimana beberapa ekor burung tampak melayang-layang di sekitar Kabah. Tiba-tiba salah seekor burung itu "mengirimkan" kotorannya tepat di atas sajadah batik kebanggaan saya !

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, saya berujar dalam hati. Sajadah kesayangan tak bisa digunakan karena terkena kotoran burung. Tanpa banyak kata, segera saya lipat sajadah itu dan masukkan ke kantong sandal! Lama saya merenung tentang hikmah di balik "insiden" kotoran burung di atas sajadah ini.

Salah satu hal yang tak saya lupakan adalah seolah-olah sebuah isyarat dan teguran dari Allah, agar saya tak berlebihan membanggakan sesuatu termasuk sajadah untuk alas salat. Apalagi jika kebanggaan itu pada pangkat, harta, dan status sosial, niscaya Allah akan mengirimkan bukan hanya kotoran burung, tetapi boleh jadi batu panas dari neraka, seperti yang dikirimkan burung Ababil kepada tentara Abrahah! Astaghfirullah hal adzhim, segera terlontar istigfar dalam hati dan rasa malu bercampur ucapan syukur karena Allah telah mengingatkan dengan cara indah.

Tawaf adalah saat yang indah. Suatu ketika tak terasa air mata meleleh saat tawaf. Sebabnya adalah saya terbiasa membawa titipan doa dari teman-teman yang minta didoakan.

Kali ini seorang teman lama menitipkan harapan agar saya mau mendoakan putrinya yang memiliki masalah dengan tulang punggungnya. Anak perempuan kelas 1 SMP itu harus menggunakan alat khusus selama bertahun-tahun agar pertumbuhannya tidak terganggu. Saya pun menyebut nama anak itu dalam tawaf, memohonkan kesembuhan baginya dan memohon agar Allah memberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran kepada kedua orang tuanya untuk selalu menemani dan berikhtiar mengobati terus-menerus.


Entah mengapa saat melintas Hijr Ismail dan waktu memanjatkan doa itu tak terasa air mata menetes di pipi dan lidah terasa kelu. Doa hanya terucap dalam hati tetapi berbekas jauh hingga waktu berjarak dengan peristiwa itu.


Tampaknya kebiasaan saling mendoakan dan menitip doa, yang juga dilakukan oleh para sahabat Rasulullah bukan saja akan bermanfaat bagi yang didoakan tetapi juga bermanfaat bagi yang dititipi doa.


Keindahan tawaf bukan saja bisa dirasakan saat kita bertawaf melainkan saat kita menyaksikan tawaf. Musim haji 1431 H (2010) adalah musim haji yang sangat padat apalagi saat-saat mendekati tanggal 8 Zulhijah ketika jemaah akan meninggalkan Mekah menuju ke Mina dan sebagian ke Arafah untuk wukuf pada esok harinya.


Saat itu, saya bergegas keluar dari Masjidilharam sekitar pukul 7.00 waktu Mekah ketika biasanya Masjidilharam mulai longgar. Namun, saat itu area utama tawaf di lantai dasar sudah penuh termasuk di lantai satu. Saya terus bergerak menuju pintu Masjidilharam untuk keluar. Namun gerakan saya selalu terhambat oleh kerumunan jemaah dan rombongan jemaah yang baru datang. Saya pun menepi ke sebuah sudut di arah yang sangat dekat dengan area utama tawaf. Saya tertegun menyaksikan betapa padatnya tawaf pagi ini hingga hampir tak ada ruang kosong di lantai dasar Masjidilharam.


Semua Muslimin melangkah dalam kesatuan gerak dan kekhusyukan, berputar dengan arah yang sama, dan mulut serta hati memanjatkan doa kepada Allah SWT. Air mata pun luruh, hati berucap syukur atas keindahan luar biasa yang saya saksikan. Subhanallah walhamdulillah walaa ilahailallah wallahu akbar !


Kesan mendalam saat melaksanakan haji dan umrah, yang merasuk masuk ke dalam sanubari merupakan oleh-oleh terindah haji dan umrah.***


[Ditulis
oleh H. BUDI PRAYITNO, pembimbing Haji Plus dan Umrah Khalifah Tour. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Legi) 18 Januari 2011 pada Kolom "UMRAH & HAJI"]
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.

Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. "Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini." Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil. "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."

Gadis kecil itu tiba di makam ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri. "Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur ? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu ? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah ? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah ? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam ?

Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah ?" "Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah ? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah ? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah ? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah ? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu ?
"

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu. "Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah ?

Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah ? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah ?
"

"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah ? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah ? Ataukah, engkau tidak berdaya ?"

"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah ?"

"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah ?"

"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah ?"

"Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah ?" "Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Maraji': Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam)
Dari : http://wirausahapesantren.blogspot.com
Ibnu Abbas RA., salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. yang pada usia sembilan tahun telah hafal Al-Qur'an (hafiz) pernah didoakan secara khusus oleh Rasulullah SAW. tentang kebahagiaan dunia sebagai bekal menuju akhirat.

Para tabiin (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW.), pada suatu hari bertanya kepada Ibnu Abbas RA. mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia akhirat tersebut. Jawab Ibnu Abbas, terdapat indikator kebahagiaan dunia sebagai bekal di alam akhirat.

Pertama, qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya, dalam bahasa Islam disebut kanaah, sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada pikiran stres. Inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.

Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT., sehingga apa pun yang diberikan Allah, ia terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan, ia segera ingat sabda Rasulullah SAW., "Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita." Artinya, bila sedang diberi kemudahan, pandai bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Kedua, al-azwaju shalihah atau pasangan hidup yang saleh. Pasangan hidup yang saleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang saleh pula. Di akhirat kelak, seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesalehan. Demikian pula seorang istri yang saleh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya walau seberapa buruknya kelakuan suaminya.

Ketiga, al-auladun abrar atau anak yang saleh. Saat Rasulullah SAW. sedang tawaf, beliau bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai tawaf, Rasulullah SAW. bertanya kepada anak muda itu, "Kenapa pundakmu itu ?" Anak muda itu menjawab, "Ya Rasulullah, saya dari Yaman. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika salat, atau ketika istirahat. Selain itu, sisanya saya selalu menggendongnya." Lalu anak muda itu bertanya, "Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW. sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan, "Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak yang saleh, anak yang berbakti. Akan tetapi anakku, ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu."

Dari hadis tersebut, kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita. Namun, minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang saleh, di mana doa anak yang saleh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah.

Keempat, al-biatu shalihah atau lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Lingkungan yang kondusif ialah kita boleh mengenal siapa pun, tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita.

Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang saleh. Orang-orang saleh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Kelima, al-malul halal atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW. pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus," kata Nabi SAW. "Namun sayang, makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan ?"

Keenam, tafakuh fi dien atau semangat untuk memahami agama. Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu. Semakin ia belajar, semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman.

Ketujuh, umur yang berkah. Umur yang berkah adalah umur yang semakin tua semakin saleh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah), semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Allah SWT.

Untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat ini, selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, kita selalu memohon kepada Allah SWT. sesering dan sekhusyuk mungkin membaca doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Di mana baris pertama doa tersebut, Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanah (Ya Allah, karuniakanlah aku kebahagiaan dunia), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah kebahagiaan dunia. Walaupun kita akui sulit mendapatkan hal itu ada di dalam genggaman kita, setidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Kelanjutan doa tersebut, yaitu wa fil aakhirati hasanah (dan juga kebahagiaan akhirat). Untuk memperolehnya, hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga, tetapi rahmat dan kasih sayang Allah. Surga hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah SWT.

Wallahualam bissawab.***

[Ditulis Oleh DEDY SUTRISNO AHMAD SOLEH, alumnus Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN SGD Bandung dan khatib Jumat beberapa masjid. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 14 Januari 2011 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 28, Allah SWT. menyinggung kepada seluruh manusia dengan firman-Nya,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Mengapa kamu tidak beriman (kafir) kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan ?"

Ayat di atas dimulai dengan huruf istifham (kata tanya), yaitu kaifa yang berarti kenapa. Lazimnya kata tanya, mengandung arti bertanya tentang sesuatu dan dapat dijawab. Seperti ungkapan, bagaimana keadaan kamu ? Biasa dijawab, alhamdulillah sehat wal afiat.

Namun huruf istifham dalam ayat di atas tidak berfungsi kaifa itu sebagai bentuk pertanyaan. Akan tetapi, menunjukkan arti ta`ajjub yaitu keheranan. Maksudnya keheranan adalah, kenapa manusia bisa menolak untuk diperintah beriman kepada Allah SWT., padahal Allah-lah yang telah menciptakan dan menghidupkan manusia.

Kalau diibaratkan, biasanya orang yang menolak perintah apabila kedudukannya tidak seimbang atau tidak sama. Seperti seorang jenderal diperintah oleh kopral, tentu tidak akan menerima. Karena merasa dirinya lebih kuat dan lebih tinggi kedudukannya daripada kopral. Wajar kalau sang jenderal menolak perintah kopral tadi.

Atau ketika sang majikan disuruh-suruh oleh pembantunya. Bukan isi perintah itu yang dijalankan, tetapi nasib sang pembantu justru malah dipecat. Atau perintah bawahan kepada atasannya di kantor untuk melakukan suatu pekerjaan. Niscaya karier bawahan tadi akan macet dan tidak berkembang. Penolakan perintah oleh sang jenderal, sang majikan, atau sang atasan tadi karena mereka merasa lebih kuasa atas yang lainnya.

Akan tetapi, apakah wajar ketika manusia menolak perintah untuk beriman kepada Allah SWT. ? Seolah manusia itu lebih kuat, lebih mampu, dan lebih segala-galanya daripada Allah SWT. Inilah yang menjadi dasar ta`ajjub dalam perintah iman kepada Allah SWT. dalam Surat Al-Baqarah ayat 28. Kok bisa manusia menolak perintah Allah SWT. ?

Apakah betul memang manusia lebih kuat dan mampu mengatur segala kehidupannya ? Secara fisik saja, ada yang lebih kuat daripada manusia. Bahkan manusia lebih lemah dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Buktinya, sejago-jagonya juara lari atau maraton, kalau disandingkan dengan tikus, atau kucing, atau kuda, manusia pasti akan kalah. Orang yang pintar berenang misalkan, jelas akan kewalahan melawan ikan. Orang yang pandai memanjat pun dibandingkan dengan monyet pasti akan kedodoran.

Seorang satpam yang biasa jaga malam, biasanya memakai jaket karena takut kedinginan, dan mempersiapkan perbekalan secukupnya untuk jaga malam. Bandingkan dengan seekor anjing yang biasa jaga rumah. Walau hanya diberi tulang, anjing tidak pernah protes, apalagi meminta jaket dan sebagainya. Anjing tidak pernah ketiduran ketika menjaga rumah. Apalagi mangkir untuk kabur.

Dengan seekor nyamuk pun ternyata ketangguhan fisik manusia harus kalah. Padahal fisik nyamuk dengan fisik manusia itu sangat jauh berbeda. Tidak sedikit penyakit yang timbul hanya gara-gara gigitan nyamuk yang sangat kecil. Ada penyakit demam berdarah yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Di Indonesia saja, menurut penelitian di Departemen Kesehatan disebutkan bahwa selama tahun 2009 terdapat 154.000 lebih rakyat Indonesia yang terjangkit DBD. Dari jumlah tersebut, 1.384 orang meninggal diakibatkan infeksi virus dengue. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu tahun 2008 sebanyak 135. 000 orang dengan jumlah korban meninggal sebanyak 1.138 orang.

Dengan gigitan nyamuk yang sama, ternyata menimbulkan juga penyakit lainnya yaitu chikungunya. Ada juga penyakit malaria yang disebabkan nyamuk anopheles betina. Berdasarkan survei unit kerja SPP (serangga penular penyakit), telah ditemukan di Indonesia ada 46 species nyamuk anopheles yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari spesies-spesies nyamuk tersebut, ternyata ada dua puluh spesies yang dapat menularkan penyakit malaria. Dengan kata lain, di Indonesia ada dua puluh spesies nyamuk anopheles yang berperan sebagai vektor penyakit malaria. Masih banyak lagi penyakit yang ditimbulkan dari gigitan nyamuk yang sangat kecil bentuknya. Akan tetapi, Allah SWT. tidak akan pernah berhenti untuk mengingatkan manusia walaupun dengan seekor nyamuk sekalipun.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 26 disebutkan,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan? Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."

Walaupun demikian, tetap saja perilaku manusia tidak pernah berubah. Padahal sudah banyak kejadian yang menimpa manusia dengan berbagai bentuk kejadian. Allah SWT. senantiasa mengingatkan kita dengan berbagai macam ujian, baik itu dengan gempa bumi, longsor, gunung merapi, ataupun tsunami. Tujuannya tidak lain, supaya manusia sadar bahwa Allah-lah yang menciptakan manusia dan juga seluruh alam beserta isinya.

Kalau disimpulkan, ada empat tipe manusia dalam hal urusan keimanan kepada Allah SWT., yaitu mukmin, kafir, munafik, dan fasik. Mukmin adalah orang yang menerima keimanan dalam hatinya, dan mengamalkan dalam kehidupannya. Kafir adalah orang yang tidak menerima keimanan dan juga tidak mengamalkannya. Munafik adalah orang yang tidak menerima keimanan di hatinya. Namun, secara lahiriah melaksanakan. Fasik adalah orang yang menerima keimanan di hatinya, tetapi tidak mengamalkan dalam kehidupannya.

Kalau diibaratkan ban mobil, orang mukmin adalah antara ban luar dan ban dalamnya bagus. Sementara orang kafir yaitu ban luar dan ban dalamnya jelek. Sementara orang munafik, ban luarnya bagus sedangkan ban dalamnya jelek. Adapun orang fasik, ban dalamnya bagus sementara ban luarnya jelek.

Saat pergantian tahun, yang baru berlalu, penulis merasa heran dan bingung memperhatikan perilaku manusia menyambut acara pergantian tahun. Kalau dihitung, berapa puluh miliar uang rakyat Indonesia yang habis dihambur-hamburkan dalam menyambut pergantian tahun kemarin. Tidak sedikit pula umat Islam yang terjerumus terhadap kesesatan tahun baru.

Padahal sebagaimana anjuran dari Nabi Muhammad SAW.,

"Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah tergolong orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang celaka."

Sudah seharusnya, kita berusaha meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT., di mana pun dan kapan pun kita berada. Karena dengan iman, hidup akan aman dan tenteram.***

[Ditulis oleh KH. ACENG ZAKARIA, Ketua Bidang Tarbiyyah PP Persis dan pimpinan Pesantren Persis 99 Rancabango Garut. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Legi) 13 Januari 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]
Setiap orang diberi fitrah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa kesucian. Ia akan mengawali kehidupan dengan fitrah suci ini. Setelah itu bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan drastis tanpa bisa diduga arahnya. Para penyeru kerusakan fitrah ini jumlah sangat banyak sehingga jangan heran bila orang yang keluar dari jalur kesucian jiwa ini lebih banyak daripada yang istiqamah. Lingkungan teman keluarga masyarakat dan pendidikan memiliki andil besar dalam hal ini. Media massa juga tidak kalah hebat memberikan andil terjadi kerusakan tersebut. Keinginan untuk merubah diri telah hilang dari kebanyakan orang sementara bola api yang ditendang oleh para penyeru kerusakan itu membakar di sana sini. Bila terkena percikan akan menjadi abu yang siap ditiup angin sementara hampir tidak ada orang yang tampil membantu dan membela karena orang yang ingin menolong pun tidak lepas pula dari mangsa bola api tersebut. Di saat kritis seperti inilah tiap insan sangat butuh kepada wahyu yang akan menyirami menyejukkan dan memelihara dirinya. Setelah itu akan sangat jelas lagi siapa yang akan selamat di atas wahyu tersebut dan yang akan binasa selama-lamanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْياَ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ
Agar orang yang binasa itu binasa dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan keterangan yang nyata pula.” (QS. An-Anfaal : 42)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah
mengatakan : “agar menjadi hujjah dan penjelas bagi tiap penentang saat dia memilih jalan kekafiran daripada ilmu sehingga ia tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan terus menambah ilmu bagi orang-orang yang beriman. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperlihatkan di hadapan kedua kelompok tersebut segala yang menjadi bukti yang benar dan nyata. Semua ini menjadi peringatan bagi orang yang berakal.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

أَوَمَنْ كاَنَ مَيْتاً فَأَحْيَيْناَهُ وَجَعَلْناَ لَهُ نُوْرًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُماَتِ لَيْسَ بِخاَرِجٍ مِنْهاَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepada cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaan berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya ?” (QS. Al-An'aam : 122)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun bagi orang tersebut cahaya dan kehidupan sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun bagi orang yang berpaling dari Kitab-Nya antara kematian dan kegelapan.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seluruh ahli tafsir menjelaskan bahwa
yang dimaksud oleh ayat ini adalah seseorang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Dia memberikan hidayah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
يآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَجِيْبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعاَكُمْ لِماَ يُحْيِيْكُمْ
Hai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.” (QS. An-Anfaal : 24)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata : “Sesungguh kehidupan yang bermanfaat akan terwujud apabila kita memenuhi seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Barangsiapa tidak memenuhi dia tidak mendapatkan kehidupan. Dan jika diamemiliki kehidupan yang selalu melampiaskan hawa nafsu maka kehidupan sama dengan kehidupan binatang yang paling rendah. Maka kehidupan yang hakiki adalah kehidupan dalam memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya baik lahiriah maupun batiniah. Mereka hidup walaupun jasad mereka telah mati dan selain mereka mati walaupun jasad mereka hidup.

Dengan kejelasan hujjah
Allah Subhanahu wa Ta’ala ini masih saja ada manusia yang berusaha mengelak bila hujjah itu mengenai diri pemikiran keyakinan amalan dan sebagainya. Maka muncullah orang-orang yang takut / phobi terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bagaikan mendengar suara halilintar yang akan menyambar dan memecah gendang telinga.

Namun ada orang yang menjadikan ayat-ayat yang didengar dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibacakan bagaikan siraman kesejukan atas kegersangan hidupnya. Dia bisa mengambil manfaat untuk keselamatan diri dan menjadikan sebagai tameng dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di sinilah terlihat betapa mahal hidayah dan Maha Bijaksana Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ketentuan-Nya. Oleh karena itu manusia di hadapan wahyu tidak terlepas dari dua keadaan dan kedua telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabda beliau :
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أوْ عَلَيْكَ
Dan Al-Qur’an akan menjadi hujjah bagimu atau menjadi penggugat atas dirimu.

Tiga penyeru pada diri tiap insan.

Bila tiap orang sadar dan introspeksi ia akan menemukan ada penyeru di dalam diri yang akan mengajak kepada ridha
Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun kepada murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu tiap jiwa jangan sekali-kali suka mengkambing hitamkan orang lain dan hendaklah dia mengarahkan cercaan itu kepada diri sendiri. Ada tiga penyeru yang masing-masing memiliki kekuatan besar pada diri tiap orang dan ketiga kekuatan akan saling menjatuhkan satu sama lain bila salah satu mendapatkan peluang dan kesempatan yang lebih banyak.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata : “Sesungguh pada tiap jiwa ada tiga seruan dan pendorong yang saling menarik.
  • Satu seruan mengajak diri untuk berhias dengan sifat-sifat setan seperti sifat sombong hasad cinta ketinggian dzalim berbuat jahat suka mengganggu suka kerusakan dan penipuan. Penyeru yang mengajak untuk berakhlak seperti binatang itulah seruan syahwat.
  • Dan seruan yang mengajak kepada akhlak para Malaikat seperti ihsan suka menasihati menganjurkan kepada kebajikan ilmu dan ketaatan.
  • Penyeru ketiga adalah kurang atau tidak ada muru`ah.
Senang kedudukan dan berbuat dzalim adalah akhlak setan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengungkap satu sifat yang tersembunyi pada diri anak Adam di mana sifat ini sangat berbahaya yaitu sifat tamak dan rakus. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَوْ أَنَّ ِلإِبْنِ آدَامَ وَادِياً مِنْ ذَهَبٍ لأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَادِياَنِ وَلَنْ يَمْلأَ فاَهُ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تاَبَ
Jika anak Adam memiliki satu lembah emas dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutup mulut melainkan tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.

Ibnu Hajar rahimahullah
berkata : Al-Karmani berkata: “Yang dimaksud hadits ini bukan hanya satu anggota badan saja karena tanah tidak hanya menutupi mulut saja namun yang lain pun bisa tertutupi. Hadits ini merupakan kinayah tentang kematian yang akan menutupi seluruh jasad sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak akan merasa puas dari dunia sampai dia mati.

Ibnu Hajar rahimahullah
juga berkata : Ath-Thibi berkata : “Makna hadits ini adalah bahwa anak Adam diberi tabiat cinta kepada harta benda dan tidak merasa puas untuk mengumpulkan kecuali orang-orang yang telah dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberi taufiq untuk menghilangkan tabiat ini dan sedikit sekali dari mereka yang mendapatkan taufiq.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
berkata : “Makna hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu adalah bahwa bani Adam tidak akan merasa puas dari harta benda. Jika dia memiliki satu lembah dia akan berusaha untuk menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutupi mulut melainkan tanah bila dia telah mati dan meninggalkan dunianya. Maka di saat inilah dia menjadi percaya setelah dunia hilang darinya. Bersamaan dengan itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bertaubat karena mayoritas orang yang rakus dunia tidak akan memelihara diri dari perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

Apabila seseorang tidak mendapatkan taufiq dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala agar terlepas dari sifat rakus maka dia akan berusaha untuk menjadi orang nomor satu dan yang paling tinggi. Dia akan menumbangkan tiap orang yang akan menggeser kedudukan sehingga tidak takut lagi untuk mendzalimi saudara sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
تِلْكَ الدَّارُ اْلآخِرَةُ نَجْعَلُهاَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فَساَدًا
Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas : 83)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata : “Manusia itu terbagi menjadi empat macam.
  • Pertama orang-orang yang menginginkan ketinggian atas orang lain dan menginginkan kerusakan di muka bumi yaitu dengan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka itu adalah tingkatan para raja dan pemimpin yang merusak.
  • Kedua orang-orang yang menginginkan kerusakan dan sama sekali tidak menginginkan ketinggian seperti hal pencuri pelaku maksiat dari kalangan orang-orang rendahan.
  • Ketiga orang yang menginginkan ketinggian dengan tidak menginginkan kerusakan seperti seseorang yang memiliki ilmu agama dan dia menginginkan ketinggian dari orang lain.
  • Keempat mereka adalah penduduk surga yang tidak menginginkan ketinggian di muka bumi dan kerusakan akan tetapi dia lebih tinggi kedudukan dari yang lain.
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa negeri akhirat dan keni’matan yang abadi tidak akan berpindah apalagi hilang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman merendahkan diri dan tidak menginginkan sedikitpun ketinggian di muka bumi. Arti tidak mengangkat dan membesarkan diri di hadapan makhluk angkuh dan melakukan kerusakan di tengah-tengah mereka sebagaimana ucapan ‘Ikrimah al-‘ulu arti keangkuhan Sa’id bin Jubair berkata al-‘ulu arti kedzaliman Sufyan Ats-Tsauri mengatakan dari Manshur dari Muslim Al-Bithin al-‘ulu di muka bumi arti ‘menyombongkan diri dengan kebatilan dan kerusakan’ yakni mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar.

Kerusakan yang diakibatkan oleh sifat rakus adalah besar dan serius. Mari kita menyimak apa yang disabdakan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Kerusakan yang diakibatkan oleh dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas pada seekor kambing tidak akan lebih besar dibanding seseorang yang rakus terhadap kedudukan dan harta benda bagi agamanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa rakus seseorang terhadap harta benda dan kedudukan akan merusak agama dan kerusakan ini lebih dahsyat dibanding kerusakan dua serigala yang sedang lapar terhadap kambing yang menyendiri.

Wallahu a’lam bish-shawab.


[Ditulis oleh Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi,
Sumber : www.asysyariah.com Syariah Akhlak05-Mei-2005 12:50:08]
Salah satu hak Allah SWT. sebagai Khaliq (Maha Pencipta) atas manusia sebagai makhluk-Nya adalah hak untuk didekati. Oleh karena itu, Allah SWT. memberikan fasilitas kepada manusia untuk melakukan pendekatan dengan-Nya melalui doa.

Definisi doa menurut Abdul Hamid Hakim dalam kitabnya adalah Mabadi Awwaliyyah yaitu thalabul fi`li minal adna ilal a`la. Artinya, permintaan untuk melakukan sesuatu dari seorang bawahan kepada atasan. Definisi ini merupakan lawan dari perintah (amr), yaitu thalabul fi`li minal a`la ilal adna, permintaan untuk melakukan sesuatu dari atasan kepada bawahan. Dengan kata lain, permintaan dari manusia kepada Allah disebut dengan doa, sedangkan permintaan Allah kepada manusia untuk melakukan sesuatu disebut perintah.

Lebih dari satu kali Allah SWT. memerintahkan manusia agar senantiasa berdoa kepada-Nya. Di antaranya,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)

Dalam ayat lain Allah berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Ghafir : 60)

Perintah Allah kepada manusia agar berdoa rupanya direspons positif oleh para nabi `alahimussalam. Nabi Adam AS., bapak manusia memohon ampunan karena telah mendzalimi dirinya memakan buah khuldi di surga. Nabi Ibrahim AS. mendoakan Tanah Suci Mekah sebagai tanah yang diberkati Allah sehingga walaupun terdiri atas tanah yang tandus dan berbatuan, selalu dilimpahi rahmat dari berbagai buah. Nabi Musa AS., nabi yang telah menyelamatkan Bani Israil dari kungkungan Firaun di Mesir, pada saat beliau mendapat kesusahan untuk berdakwah karena cacat pada lidahnya. Nabi Sulaiman AS., seorang yang mendapat kenikmatan dunia yang luar biasa, memiliki kekuasaan atas jin, manusia, binatang, angin, dan air selalu mengucapkan doa syukur. Masih banyak doa yang diucapkan para nabi yang diabadikan dalam Al Quran.

Saking seringnya mereka berdoa kepada Allah SWT., secara psikologis mereka merasa selalu dekat dengan Allah sehingga merasa malu seandainya berbuat dosa dan maksiat. Maka, alangkah angkuhnya kita, alangkah takaburnya diri kita yang telah menyia-nyiakan waktu dan umur kita dari perbuatan doa kepada Allah, sedangkan para nabi yang maksum dan yang sudah mendapat jaminan masuk surga pun masih berdoa.

Yang perlu digarisbawahi, berdoa tidak hanya bisa dilakukan ketika shalat atau dalam ritual-ritual keislaman lainnya. Akan tetapi, bisa dilakukan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan, mulai dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali. Yang menjadi persoalan, ketika kita merasa bahwa diri kita sering berdoa kepada Allah SWT., tetapi setelah sekian lama ternyata kita belum juga mendapatkan tanda-tanda atau hasil dari terkabulnya doa yang kita panjatkan. Hal itu sering membuat kita gelisah dan tidak nyaman hingga terkadang menjadikan diri ragu terhadap janji Allah, berburuk sangka kepada-Nya, dan berputus asa.

Padahal, Allah SWT. mengabulkan doa seorang hamba dalam tiga cara. Dalam Hadits Riwayat Imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada orang Muslim yang berdoa meminta kepada Allah SWT. dengan doa, di dalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturahmi, kecuali Allah akan mengabulkannya dengan tiga cara, yaitu pertama, Allah langsung mengabulkan doanya; kedua, menangguhkan permintannya untuk yang akan datang; ketiga, Allah mengalihkan darinya kejelekan dan malapetaka."

Kita sering bertanya kepada Allah dengan pertanyaan yang bersenandung gugatan, mengapa Allah selalu mengabulkan doa-doa orang kafir atau orang yang selalu berbuat dosa dan maksiat, sedangkan doa-doa kita sebagai orang-orang beriman selalu beramal saleh, seolah-olah tidak dikabulkan? Paling tidak, ada tiga kemungkinan mengapa Allah SWT. mengabulkan permintaan hamba-Nya.

Pertama, karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut. Kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan bagaimanapun ia berdoa, doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Kedua, karena Allah murka terhadap orang tersebut. Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan menambah rezeki seseorang, meninggikan derajatnya di mata manusia, dan mengabulkan permintaannya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya, Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan dia lalai sehingga dia mati dalam keadaan buruk, suul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj. Allah SWT. berfirman,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al-Anaam : 44)

Ketiga, kita merasa sudah menjadi manusia beriman kepada Allah SWT. dan selalu beramal saleh hanyalah klaim kita semata dan tidak demikian di mata menganggap kita masih banyak dosa dan belum layak menerima apa yang kita minta kepada-Nya. Kita meminta sesuatu kepada Allah SWT., tetapi pada saat yang sama kita sering melanggar perintah-Nya. Kita ingin Allah memberi sesuatu kepada kita, tetapi tidak pernah mau berbagi dengan sesama makhluk Allah. Masih banyak contoh yang lain.

Artinya, kita mesti berdoa kepada Allah SWT., tetapi pada saat yang sama kita pun harus berusaha bersungguh-sungguh memenuhi perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar doa kita dikabulkan Allah SWT. ? Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan ketika kita berdoa kepada Allah SWT. Di antaranya,

Pertama, hendaknya kita berdoa dengan ikhlas karena keikhlasan adalah roh dari segala perbuatan. Allah berfirman,
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
"Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta'atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)." (QS. al-A`raf : 29)

Kedua, doa yang kita panjatkan hendaklah disertai pelaksanaan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya.

Ketiga, selain kita berdoa sendiri, alangkah baiknya apabila kita pun meminta tolong kepada orang yang saleh atau orang yang bertakwa kepada Allah, anak yatim, atau fakir miskin, agar mendoakan kebaikan untuk kita. Dalam salah satu hadis diriwayatkan, suatu ketika Rasulullah sedang berkhotbah di atas mimbar. Lalu seorang badui berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar hujan diturunkan kepada kami." Maka, beliau berdoa kepada Allah. Beberapa saat kemudian, turunlah hujan dengan seizin Allah. (HR. Bukhari & Muslim)

Terakhir, apa pun yang terjadi setelah kita berdoa, itulah bentuk dikabulkannya doa kita oleh Allah SWT. Jangan pernah berhenti berdoa sebab doa yang tulus akan mengantarkan kita agar semakin dekat dan akrab dengan Allah SWT. ***

[Ditulis oleh ERICK HILALUDDIN, Khatib Jumat pada beberapa masjid di Cimahi dan pernah nyantri di Pesantren Modern Mathla`ul-Huda. Baleendah, Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 7 Januari 2011pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Setiap hari, hampir isi media massa tak lepas dari masalah penyimpangan seks, seperti pemerkosaan dan pelacuran. Islam memandang bahwa perzinaan itu merupakan dosa besar sehingga Rasulullah pun menafikan keimanan seorang beriman jika ia terjerumus dalam perzinaan. Makna lain dari pesan utusan Allah itu adalah seorang beriman pun dapat saja tergoda melakukan perzinaan. Untuk itu, langkah-langkah menuju perzinaan pun ditutup rapat-rapat. Bahkan, langkah-langkah itu sendiri sudah dikategorikan perzinaan dan Allah melarang hambaNya untuk melakukan langkah-langkah itu.

Agar tak terjerumus ke dalam langkah-langkah keji itu, bahkan terjerumus ke kubang kenistaan, sejatinya seorang Muslim memahami betul apa saja langkah-langkah menuju ke perbuatan keji itu.

Pertama, tidak menahan pandangan (Ghadlul Bashar), yaitu setiap Mukmin dan Mukminah hendaknya menahan pandangan karena pandangan itu merupakan "panah setan" yang akan menebar bisanya, untuk kemudian meresap ke hati sang pengendali raga dan pikiran. Pandangan adalah pintu masuk utama untuk terjerumus ke lumpur kekejian atau tidak terjerumus. Pantas saja Allah menyejajarkan menahan pandangan dengan menjaga kemaluan.

Pandangan adalah hulu dan kemaluan itu muaranya. Jadi, kalau saja di hulu sudah ditutup rapat, muara itu tak akan dialiri lumpur kenistaan. Kendati demikian, menutup hulu tak dimaksud untuk selamanya, ada batasan-batasan yang ditoleransi. Adalah keliru menyamakan menahan pandangan itu berarti tidak melihat sama sekali. Alasannya, Allah memerintahkan adalah "menahan" bukan "tidak melihat".

Kedua, memamerkan aurat. Dalam bahasa Arab aurat itu artinya sesuatu yang aib. Tentu hal aib pada diri seseorang haruslah ditutupi bukan malah dipamerkan. Orang yang berakal waras tentu tidak akan memperlihatkan aib sendiri di hadapan orang banyak. Bukankah sering kali kita menyaksikan pemandangan orang gila yang tanpa sehelai kain pun. Nah, ketahuilah bahwa tindakan memamerkan aurat itu merupakan ajakan untuk berbuat gila, yaitu perzinaan.

Ketiga, berkata-kata jorok dan menggoda. Allah melarang Muslimah mengeluarkan kata-kata manja terhadap orang lain. Pasalnya, kata-kata manja itu akan mengundang kaum lelaki yang punya penyakit hati untuk menggodanya. Sejatinya seorang Muslimah berkata tegas dan jelas sehingga tak ada peluang bagi kaum adam untuk memanfaatkan kelembutan kaum wanita. Berkata tegas tidaklah identik dengan berkata kasar karena dalam Islam berkata kasar sangat dilarang. Bahkan, Aisyah ditegur Rasulullah ketika ia berkata-kata kasar terhadap orang kafir.

Keempat, berdua-duaan dengan lawan jenis (al-Khalwah). Rasulullah mengingatkan bahwa mana kala seorang wanita berduaan di tempat sunyi bersama dengan laki-laki yang bukan mahramnya, yang ketiganya adalah setan. Sangat disayangkan, budaya pacaran sudah sangat merasuki remaja-remaja Islam. Entah apa yang menjadikan mereka jauh dari tuntunan Rasulullah. Padahal Rasulullah jelas sekali mewanti-wanti agar seorang wanita tidak berkhalwat kecuali dengan mahramnya. "Janganlah kalian berdua-dua di tempat sunyi dengan seorang wanita, kecuali dengan mahramnya."(HR. Bukhari dan Muslim) Demikian pesan Rasulullah.

Kelima, ikhtilath yaitu bercampur baur antara laki-laki dengan perempuan tanpa batas. Ikhtilath laksana medan transaksi yang akan memicu terjadinya pandangan liar, pamer aurat, dan lontaran kata-kata menggoda. Ikhtilath juga rentan terjadinya pelecehan terhadap wanita dari tangan-tangan kotor. Karena itu, wajar saja Rasulullah berpesan khusus kepada kaum pria, "Kalian para lelaki janganlah masuk ke (arena) para wanita." (HR. Bukari dan Muslim). Memang faktanya, para pelaku pelecehan itu kebanyakan dari kaum lelaki. Demikian pula kaum lelaki merupakan pihak paling agresif dalam mengajak kaum wanita untuk berbuat zina.

Keenam adalah pesan Rasulullah yang menyebut langkah-langkah itu sendiri sebagai perzinaan. Perhatikan sabdanya, "Tertulis bagi anak Adam bagiannya dari zina, sedang ia tak diragukan lagi biasa melakukannya. Dua mata itu zinanya dengan pandangan. Kaki itu zinanya dengan melangkah (ke perzinaan). Sementara hati yang menggiring keinginan dan angan-angan, dan kemaluanlah yang merealisasikannnya atau menolaknya. Dua tangan berzina, dan zina keduanya pegang-pegangan. Dua kaki itu berzina, dan zina keduanya jalan-jalan. Mulut itu berzina, dan zinanya itu dengan mencium" (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam pesan Rasulullah itu, ada 4 (empat) macam zina kecil yang akan menyeret seseorang untuk melakukan perzinaan sebenarnya : zina pandangan, zina hati, zina kaki, zina tangan, zina mulut, dan ujungnya zina kemaluan. Menarik sekali bahwa zina-zina kecil yang disebutkan Rasulullah itu sangat lazim dilakukan ketika seseorang berpacaran. Sudah bukan rahasia lagi dalam dunia pacaran di sana, ada tatapan, mabuk asmara yang merasuki hati, ada jalan-jalan, lalu pegangan tangan, ciuman, dan sebagainya.

Ketujuh, kalau Rasulullah memerintahkan agar kaum laki-laki tidak memasuki wilayah wanita, maka dalam konteks ini Rasululullah meminta agar kaum wanita jangan melakukan perjalanan jauh sendirian. "Tidak halal bagi seorang wanita melakukan perjalanan sejauh satu hari satu malam." (HR. Bukhari). Ini adalah tindakan preventif agar wanita itu tidak dilecehkan, digoda, yang akhirnya diajak berzina atau dipaksa berzina (diperkosa).

Kedelapan, berpakaian ketat dan transparan sehingga lekuk-lekuk tubuh terlihat sangat jelas. Bagi Muslimah, tidak layak berpakaian seperti ini. Alasannya, berpakaian dengan tetap memperlihat lekuk-lekuk tubuh sama saja seperti tidak berpakaian.***

[Ditulis oleh KH. DJALALUDDIN ASY-SYATIBI, mantan anggota DPR RI dan aktivis dakwah. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) / 6 Januari 2011 dari Kolom "CIKARACAK"]