Suatu hari, Handhalah bertemu dengan Abu Bakar. Abu Bakar bertanya kepada Handhalah, "Bagaimana keadaanmu, wahai Handhalah ?" Handhalah menjawab, "Handhalah adalah seorang munafik." Abu Bakar terkejut dengan jawaban Handhalah. Kemudian dia bertanya lagi, "Subhanallah, apa yang kau katakan, wahai Handhalah ?" Handhalah menjawab, "Ketika kita berada di hadapan Rasulullah SAW., kita ingat neraka dan surga hingga seakan-akan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri. Namun, setelah kita keluar dari majelis beliau dan berkumpul dengan istri, anak, dan juga kesibukan duniawi, kita banyak lupa." Abu Bakar berkata, "Demi Allah saya juga mengalami hal serupa."

Kemudian Handhalah dan Abu Bakar menghadap Rasulullah. Handhalah berkata, "Wahai Rasul, Handhalah adalah seorang munafik." Rasulullah SAW. berkata, "Apa maksudmu, wahai Handhalah ?" Handhalah menjawab, "Ketika kita berada di hadapan Rasulullah SAW., kita ingat neraka dan surga hingga seakan-akan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri. Namun, setelah kita keluar dari majelis Rasulullah dan berkumpul dengan istri, anak, dan juga kesibukan duniawi, kita banyak lupa."

Rasulullah SAW. bersabda, "Demi Zat yang dirimu berada dalam kekuasaan-Nya. Seandainya kalian bisa terus-menerus merasakan hal yang kalian rasakan ketika bersamaku dan ketika berzikir maka malaikat akan selalu menyalami kalian, baik ketika kalian berada di atas ranjang atau dalam perjalanan. Karenanya Handhalah, sebaiknya (kamu lakukan hal itu) sesaat demi sesaat saja. (Rasul menganjurkan hal ini sampai tiga kali)." (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Riwayat tersebut seolah ingin mengonfirmasikan kepada kita, tidak selamanya manusia selalu berada dalam ketaatan kepada Allah. Pun sebaliknya mustahil manusia selamanya terjerembab dalam dosa dan kemaksiatan. Abu Bakar saja, sahabat Rasulullah SAW. yang paling dekat dengan beliau, berada dalam kondisi seperti tersebut dalam hadits di atas. Ketika sedang dekat dengan Rasulullah, Abu Bakar dan para sahabat yang lainnya merasa dekat dengan Allah. Akan tetapi, ketika sudah keluar dari majelis Rasulullah SAW. dan bergumul dengan persoalan keduniaan, terkadang lupa. Apalagi kita umat Nabi Muhammad SAW. yang hidup tidak sezaman dengan Rasulullah, tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, dan tidak pernah berada dalam majelis Rasulullah. Kita hanya tahu ajaran Islam dari peninggalan (turats) yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya.

Artinya, merupakan sunnatullah apabila keimanan seseorang bersifat fluktuatif. Kadang berada dalam puncak keimanan, tetapi tidak jarang berada pada titik yang paling rendah. Sahabat Rasulullah SAW., Umair bin Habib al-Khatami RA. biasa berkata, "Iman itu bertambah dan berkurang."

Seseorang bertanya, "Apa saja yang menambah dan mengurangi iman ?" Jawabnya, "Bila kita mengingat Allah, berdoa pada-Nya, dan mengakui kesempurnaan-Nya, hal itulah yang menambahnya. Bila kita tidak peduli, menyia-nyiakan dan melupakan iman, maka hal itulah yang membuat iman kita berkurang."

Imam Ahmad bin Hanbal, saat ditanya tentang apakah iman bertambah dan berkurang, beliau menjawab, "Iman bisa bertambah sampai mencapai bagian tertinggi dari surga ke tujuh. Dan iman juga menurun sampai mencapai bagian terendah dari lorong-lorong tambang di perut bumi."

Kedua riwayat (masih banyak riwayat yang lain) menginformasikan kepada kita, iman adakalanya meningkat (naik), adakalanya melemah (turun). Tidak ada alat teknologi secanggih apa pun yang mampu mendeteksi kapan iman naik dan kapan turun. Bahkan, sangat sulit bagi manusia mengukur keimanan seseorang karena keimanan bersifat abstrak.

Walaupun demikan,'berbagai dalil tersebut tidak lantas kita jadikan pembenaran terhadap perbuatan dosa dan maksiat yang kita lakukan, tetapi kita jadikan triger untuk senantiasa menjaga agar berada dalam ketaatan kepada Allah. Salah satu caranya, dengan terus-menerus memperbarui keimanan kita kepada Allah SWT. Pertanyaannya adalah Bagaimana caranya memperbarui keimanan agar kita senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang mestinya dilakukan oleh seorang Muslim, di antaranya,
  • Pertama, sering aktif dalam berbagai kegiatan keislaman, mulai dari menghadiri berbagai pengajian, tadarus Al-Quran, mendengarkan berbagai ceramah dan taushiah, serta berbagai kegiatan keislaman lainnya. Dengan seringnya terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan hati menjadi terikat dengan Allah SWT. sebagaimana yang dialami oleh Abu Bakar, Handhalah, dan para sahabat Nabi yang lainnya.
  • Kedua, bergaul dengan orang-orang yang saleh. Seorang Muslim dianjurkan bergaul dengan siapa saja, tidak memilih-milih siapa yang akan menjadi teman kita. Artinya, seorang Muslim hendaknya tetap menjaga hubungan baik dengan sesama Muslim ataupun dengan non-Muslim. Namun, jika kita menginginkan agar kualitas keimanan kita meningkat, semakin semangat dalam mengamalkan ibadah, berupaya menjadi hamba Allah yang istiqamah, dan agar ketika iman kita mulai kendur bisa segera dicharge lagi, ada motivator yang membuat diri kita kembali kepada Allah, maka bergaul dengan orang saleh dengan ketulusan hati mengharapkan ridla Allah adalah satu solusi untuk itu semua.
Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang yang saleh dan berkawan dengan orang yang jahat adalah seperti seseorang yang membawa minyak wangi dan seseorang yang meniup dapur tukang besi. Orang yang membawa minyak wangi, mungkin dia akan memberikannya kepadamu atau mungkin kamu akan membeli darinya dan mungkin kamu akan mendapat bau yang harum darinya. Sementara orang yang meniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu dan mungkin kamu akan mendapat bau yang tidak enak." (HR. Bukhari Muslim)

Dengan demikian, jika kita ingin menambah kebaikan dalam urusan ibadah maka dianjurkan bergaul dengan orang yang saleh, alim ulama. Ukuran saleh atau tidaknya seseorang memang hanya Allah yang tahu sebenar-benarnya. Namun dari penampilan lahiriah saja kita bisa menilai seorang itu berakhlak baik atau tidak. Terlihat dari cara seseorang berkata, cara dia duduk, berjalan, cara dia shalat, semangatnya untuk senantiasa sabar, syukur, dan berserah diri kepada Allah. Terakhir, ikhtiar yang telah dilakukan pada poin pertama dan kedua agar kita selalu berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. adalah berdoa karena selalu ada campur tangan dan intervensi Allah SWT. di balik berbagai peristiwa yang dialami manusia. Dalam hal ini, ada salah satu doa yang biasa dibaca Rasulullah SAW. Dari Syahr bin Hausyab RA. berkata, "Aku bertanya kepada Ummu Salamah, 'Ya Ummul Mukminin, doa apa yang paling sering diucapkan oleh Rasulullah SAW. ketika beliau berada di rumahmu ?' Ummu Salamah berkata, 'Doa yang paling sering beliau baca adalah, Yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi' ala diinika (Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)." (HR. At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Abdullah bin Amr bin al-'Ash RA. berkata, "Bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW. berdoa, 'Allahumma musharrifal quluubana'ala thaa'atika (Wahai Yang Mengarahkan hati, arahkan hati kami kepada ketaatan-Mu)." (HR. Muslim)***

[Ditulis oleh YAYAN KHAERUL ANWAR, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan khatib Jumat pada beberapa masjid di Cibiru. Tulisan disali dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" edisi Jumat (Pon) 11 Maret 2011 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Salah satu kata sakral dan banyak digunakan dalam Al-Quran adalah kata jihad. Namun, anehnya kata jihad sering disalahartikan dan identik dengan perang atau kekerasan. Padahal, saat zaman Rasulullah SAW. ketika dinyatakan jihad, maka bergetarlah hati umat Islam karena jihad sesuatu yang suci dan tinggi nilainya. Coba teriakkan kata jihad, maka yang muncul saat ini malah sebaliknya. Orang merasa ngeri bahkan antipati kepada kata jihad.

Nasib serupa juga dialami kata syukur yang seharusnya bermakna "memanfaatkan semua nikmat sesuai dengan kehendak Allah", tetapi pelaksanaannya lain. Kita kerap menyebut kata "syukuran" untuk melakukan perbuatan yang ternyata jauh dari kehendak Sang Maha Pemberi.

Demikian pula kata sabar atau takdir dengan implementasinya yang salah. Sabar maupun takdir dimaknai hanya menerima, pasrah, dan tanpa usaha. Padahal, dalam ajaran Islam sabar dan takdir mengandung unsur kerja keras dalam meraih sesuatu atau mengubah kepada hal-hal yang lebih baik.

Kata jihad mengalami kondisi paling parah. Dalam literatur-literatur tentang Islam yang dibuat penulis Barat, menempatkan jihad dengan perang fisik. Malah dalam beberapa literatur Barat termuat makna jihad, untuk memerangi kaum kafir agar masuk Islam. Bahkan, dalam buku-buku fiqh pembahasan bab jihad adalah perang. Tampaknya, literatur Islam menempatkan jihad dalam pengertian yang sangat sempit, sehingga wajar apabila masyarakat memaknai jihad juga sebatas perang fisik.

Merujuk kepada makna asal kata, jihad kerap disebut jahada atau juhdun yang bermakna tenaga, kekuatan, dan usaha. Jihad merupakan berjuang sekuat tenaga (mujahadah). Jihad tak bisa diterjemahkan dengan perang atau dalam bahasa Inggrisnya disamakan dengan war (perang).

Betapa strategis jihad dalam Islam, sehingga perintah jihad sudah diberikan Allah SWT. ketika Nabi Muhammad masih berada di Mekah. Maknanya, jihad tak bisa disamakan dengan perang, karena selama dua belas tahun nabi berada di Mekah tidak pernah menggelar peperangan. Misalnya, perintah jihad dalam QS. Al-Ankabut yang turun pada tahun kelima kenabian atau lima atau enam tahun sebelum nabi hijrah ke Madinah.

Dalam ayat itu ternyata Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berjihad.

وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ
"Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya dia berjihad bagi dirinya sendiri." (QS. Al-Ankabut : 6)

Dalam surat sama, tetapi di ayat lain Allah menegaskan,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
"Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti Kami berikan hidayah kepada mereka. Pasti ;Kami tunjukkan mereka kepada jalan yang lurus." (QS. Al-Ankabut : 69)

Begitu pula dengan QS. An Nahl yang turun menjelang nabi hijrah juga memerintahkan untuk berjihad. Tentu saat itu nabi belum melakukan perang fisik, sehingga amat naif jihad dimaknai dengan perang fisik, pembunuhan atau kekerasan.

Selama di Mekah makna jihad lebih tepat pada wilayah dakwah dan tarbiah (pendidikan). Pada dua wilayah ini juga termasuk makna tablig (menyampaikan), islah (menciptakan perdamaian), dan amar makruf nahi mungkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Sementara pada periode Madinah, ketika nabi sudah hijrah, banyak ditemukan ayat Al-Quran yang memerintahkan jihad. Banyak makna jihad saat periode Madinah ini, termasuk tiga kata yang berarti perang atau bertempur yakni al-ghzw, al-qitaal, dan al-harb. Namun, hanya sedikit ayat di dalam Al-Quran yang menggunakan tiga kata tersebut, sehingga jihad lebih dimaknai dalam arti luas yakni di semua bidang kehidupan. Bahkan, al-qitaal (membunuh) hanya diperbolehkah Allah ketika kaum Muslimin diserang atau akibat pembatasan kegiatan dakwah. Bisa juga faktor lain yang dibolehkan sesuai dengan Al-Quran.

Arena jihad sendiri dalam Al-Quran sungguh luas. Pertama, bil-maal dengan harta kekayaan yakni zakat, infak, sedekah, wakaf, maupun berbagai pengeluaran di jalan Allah. Jihad harta termasuk dengan memberikan nafkah bagi keluarga, menolong saat bencana, dan lain-lain.

Kedua, bi anfasikum yakni dengan kekuatan pada diri seperti jihad lisan (memberikan nasihat atau petunjuk), mengajar, membuat tulisan bermanfaat, dan memberikan contoh yang baik. Paling sulit berjihad dengan memberikan contoh baik kepada lingkungan, karena kebesaran Islam kerap ditutupi kaum Muslim sendiri. Ada perkataan terkenal dari ulama Muhammad Abduh yang menyatakan, "Al Islaam mahjuubun bil-muslimiin." (Kebesaran Islam tertutup perilaku kaum Muslimin.)

Siapa pun Anda, di mana pun, dan kapan pun bisa melakukan jihad. Kaum pria, wanita, pelajar dan mabasiswa, anak-anak, bahkan orang cacat sekali pun dapat melakukan jihad. Kita diperintahkan selalu berjihad sepanjang napas masih ada di dalam tubuh.

Jihad merupakan bagian dari ujian keimanan. Artinya, kualitas keimanan kita salah satunya diukur dari jihad (QS. Ali Imran : 142),

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
"Dan Kami akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui mana yang betul-betul jihad dan sabar."

Mari kita berjihad dalam makna luas !***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, ketua umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, ketua Yayasan Unisba, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 10 Maret 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]
Jika berani untuk jujur sebenarnya kita tidak perlu bercita-cita terlalu tinggi seperti membangun Negara dan Bangsa Indonesia, membangun kota Bandung dan sebagainya. Akan menjadi lebih baik jika kita bercita-cita agar tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui apa kekurangan dirinya.
  • Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan diri sendiri.
  • Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk.
  • Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri.
Jadi target awal dari pembelajaran kita kali ini adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian ?

Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan berharap untuk dapat memperbaiki keluarga jika memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.

Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustadz akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, “Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya.

Mudah-mudahan akan ada seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak yang tersentuh mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri kemudian diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.

Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah tangga kita mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah tangga membaik Insya Allah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.

Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.

Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara di tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Perlahan tapi pasti kita harus mulai dari sekarang mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘Tukang Parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya.

Mari kita lihat rumus ‘tukang parkir’, Seorang tukang parkir, ia punya mobil namun tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak merasa sakit hati. Mengapa demikian ? Karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.

Disini intinya dalam hidup ini bukannya kita harus selalu hidup miskin dan tidak boleh menjadi kaya. Tetapi hidup ini membuat kita menjadi lebih sabar, tidak sombong, dan melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya. Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang tadinya penuh dengan iri dan dengki menjadi tenang dan tenteram.

Dengan demikian visi kita terhadap dunia ini akan menjadi berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.

Sekarang kita sedang krisis, dimana-mana harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, masa ini dapat menjadi momentum kita buat berdakwah.

Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.

Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya. Dan yang pasti semua orang sudah ada rezekinya masing-masing.

Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya makhluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi hidupnya oleh Allah.

Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji “Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku.” Jadi jangan panik, Allah penguasa semesta alam.

Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.

Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada dimana-mana. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tetapi bisa kita kemas untuk menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.

Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum, ”Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya.” Jadi jangan takut dengan yang belum ada, karena yang belum ada itu dapat menjadi ada kalau kita pandai mensyukuri yang telah ada.

Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok / lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.

Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa ? Karena setiap Allah memberi rezeki / uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam jangka waktu yang lama. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak untuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.

Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya’. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu perlu pikiran lebih, lelah dan tegang karena perampok / pencuri akan lebih berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok / dicuri jadinya pusing kepala. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri / dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.

Juga harus hati-hati kita sudah cape-cape hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai asal usul hartanya. Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.

Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riya’-nya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya lagi orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat umat simpati.

Nabi Muhammad SAW. tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan membuat dirinya menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.

Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli segala sesuatu yang mahal-mahal, yang bermerk. Allah Maha Menyaksikan. Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW. itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.

Contohnya saat kita mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung air tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya. Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.

Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta / tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah.

Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari akhlak. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan pada kita.

Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.

Misalkan di rumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.

Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.

Ini kalau kita ingin terjamin, namanya Teori Barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.

Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.

Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW. bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.

Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.

Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.

Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah tangga kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.

Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.

Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.

Jadi Insya Allah kalau hati kita sudah terbenahi dengan baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati dan tidak membawa apa-apa ke dalam kubur.

Teman, ingatlah selalu bahwa kita hanya mampir sebentar di dunia ini.

Wallahua'lam Bish shawab. Alhamdulilahirobil’alamin.

[Sumber : http://mediamuslim.wordpress.com ]
Sudah maklum dikalangan ulama dan kaum muslimin bahwa dosa itu terbagi menjadi dua macam; kabair (dosa-dosa besar) dan shaghair (dosa-dosa kecil). Walau demikian ada juga sebagian ulama yang tidak melihat adanya pembagian seperti ini, namun menganggap bahwa seluruh kemaksiatan dan penyelewangan dari jalan Allah adalah dosa besar karena merupakan keberanian dan kelancangan dihadapan Allah. Orang yang mengatakan demikian karena melihat betapa besarnya hak Allah atas hamba-hamba-Nya. Ada diantara ulama yang mengatakan : "Suatu dosa dianggap kecil hanya lantaran jika dibandingkan dengan dosa lain yang lebih besar, jika tidak tentulah semua dosa itu besar adanya." Namun pendapat ini lemah sebab Allah sendiri telah membagi dosa dalam dua bagian yaitu fawahisy / kabair dan al lamam /shaghair sebagaimana firman-Nya :

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ
"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil." (QS. An Najm : 32)

Jadi pendapat yang benar -wallahu a'lam- adalah bahwa dosa itu terbagi menjadi dua; besar dan kecil. Dan kabair tidaklah terbatas dengan suatu bilangan tertentu namun apa saja yang dilarang oleh Allah dan disertai dengan ancaman Neraka, murka, laknat, adzab atau berhadapan dengan sanksi hadd (hukuman berat yang telah ditentukan jenisnya) di dunia maka itulah kabair, dan yang yang selain demikain maka tergolong shaghair (ithaf as saadah al muttaqin 10/ hal 615-616).

Berubahnya dosa kecil menjadi dosa besar

Imam Ibnul Qayyim pernah berkata: "Dosa-dosa besar biasanya disertai dengan rasa malu dan takut serta anggapan besar atas dosa tersebut, sedang dosa kecil biasanya tidak demikian. Bahkan yang biasa adalah bahwa dosa kecil sering disertai dengan kurangnya rasa malu, tidak adanya perhatian dan rasa takut, serta anggapan remeh atas dosa yang dilakukan, padahal bisa jadi ini adalah tingkatan dosa yang tinggi." (Tahdzib madarij as salikin hal. 185-186) Dengan demikian maka dosa kecil dapat berubah menjadi besar dengan adanya faktor-faktor yang memperbesarnya, yaitu :

* Terus-menerus dalam melakukannya
Hal ini karena pengaruh kerasnya jiwa dan adanya raan (bercak) didalam hati, maka dari sini ada qaul mengatakan : "Tak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus dan tak ada dosa besar jika diiringi istighfar." Ucapan ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu berdasarkan atsar yang saling menguatkan satu dengan yang lain. (ithaf as-sa'adah al-muttaqin 10/687)

* Anggapan remeh atas dosa tersebut
Rasulullah SAW. telah bersabda :
"Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya." (HR. Ahmad dan Thabrani dalam Al Awsath) Rijal dalam dua riwayat ini shahih semuanya kecuali Imran bin Dawir Al Qaththan namun dia dapat dipercaya, demikian kata Imam Al Haitsami dalam Majma' Az Zawaid 10/192.

Ibnu Mas'ud Radhiallaahu 'anhu pernah berkata : "Seorang mukmin melihat suatu dosa seakan-akan ia duduk dibawah gunung dan takut jikalau gunung itu menimpanya dan orang fajir (pendosa) melihat dosa bagaikan lalat yang lewat didepan hidungnya seraya berkata "begini", Ibnu Syihab menafsirkan : yakni berisyarat (mengebutkan) tangannya didepan hidung untuk mengusir lalat.

Suatu ketika shahabat Anas Radhiallaahu 'anhu pernah berkata kepada sebagian tabi'in: "Sesungguhnya kalian semua melakukan suatu perbuatan yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum padahal di masa Nabi saw kami menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat membinasakan." (riwayat Al Bukhari) Di sini bukan berarti Anas mengatakan bahwa dosa besar dimasa Rasulullah dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat, namun itu semata-mata karena pengetahuan para shahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka-jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah akan menjadi sangat besar. Dan dengan sebab ini pula maka suatu dosa akan dipandang lebih besar jika dilakukan orang alim dibandingkan jika pelakunya orang jahil, bahkan bagi orang awam boleh jadi suatu dosa dibiarkan begitu saja (dimaklumi) karena ketidaktahuannya yang mana itu tentu tidak berlaku bagi orang alim dan arif. Atau dengan kata lain bahwa besar kecilnya suatu dosa sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan dan keilmuan pelakunya. (ithaf as-sa'adah al-muttaqin 10/690)

Tapi meski bagaimanapun seseorang seharusnya dituntut untuk menganggap besar suatu dosa, sebab jika tidak demikian maka tidak akan lahir rasa penyesalan. Adapun jika menganggap besar atas suatu dosa maka ketika melakukannya akan disertai dengan rasa sesal. Ibarat orang yang menganggap uang receh tak bernilai, maka ketika kehilangan ia tak akan bersedih dan menyesalinya. Namun ketika yang hilang adalah dinar (koin emas) maka tentu ia akan sangat menyesal dan kehilangannya merupakan masalah yang besar.

Perasaan menganggap besar terhadap dosa muncul karena tiga faktor:
  • Menganggap besar atas suatu perintah (apapun ia).
  • Menganggap besar Dzat atau orang yang memerintah.
  • Keyakinan akan benarnya balasan.
* Merasa senang dan bangga dengan dosa
Seperti seorang pelaku dosa berkata : "Andaikan saja engkau tahu bagaimana aku mempermalukan si fulan, dan bagaimana aku membuka aib dan keburukannya sehingga nampak jelas semua !" Atau misal yang lain : "Seandainya kamu melihat bagaimana aku memukul dia dan menghinakannya!"

Orang ini sudah begitu lupa dengan kejelekan dosa sehingga malah senang tatkala dapat melampiaskan keinginan-nya yang terlarang. Dan perasaan senang terhadap suatu kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya, sekaligus menunjukkan ketidaktahuannya dengan Dzat yang ia maksiati, buruknya akibat dan besarnya bahaya kemaksiatan. Rasa senang dengan dosa telah menutupi semua itu, dan senang dengan suatu dosa lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri. Sebab. orang yang berbuat suatu dosa namun sebenarnya tidak senang dengan perbuatan itu maka ia akan segera menghentikannya. Sedangkan rasa senang dengan dosa akan menimbulkan keinginan untuk terus melakukannya.

Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah maka akan menyeretnya untuk melakukan dosa tersebut secara terus menerus, merasa tenang dengan perbuatan salah dan bertekad untuk terus melakukannya. Dan ini adalah jenis lain dari dosa yang jauh lebih berbahaya daripada dosa yang ia lakukan sebelumnya.

* Meremehkan "tutup dosa" dan kesantunan Allah
Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Allah dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Allah untuk-nya. Bahkan ia menyangka bahwa Allah sangat mengasihinya dan memberi perlakuan lain kepadanya, sebagaimana yang Allah kabarkan kepada kita tentang para pemuka agama kaum Yahudi yang berkata : "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasihnya." Juga firman Allah:

وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ
"Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: "Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu" Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Mujadilah : 8)

* Membongkar dan menceritakan dosa yang telah ditutupi oleh Allah
Seseorang yang melakukan dosa kecil dan telah ditutupi oleh Allah namun ia sendiri malah kemudian menampakkan dan menceritakannya maka dosa kecil itu justru menjadi berlipat karena telah tergabung beberapa dosa. Ia telah mengundang orang untuk mendengarkan dosa yang ia kerjakan, dan bisa jadi akan memancing orang yang mendengar untuk ikut melakukannya. Maka dosa yang tadinya kecil dengan sebab ini bisa berubah menjadi lebih besar.

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :
"Seluruh umatku akan dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam dosa (al mujahirun), termasuk terang-terangan dalam dosa ialah seorang hamba yang melakukan dosa dimalam hari lalu Allah menutupinya ketika pagi, namun ia berkata: "Wahai fulan aku tadi malam telah melakukan perbuatan begini dan begini !" (HR. Muslim, kitabuz zuhd)

* Jika pelakunya adalah orang alim yang jadi panutan atau dikenal keshalihannya
Yang demikian apabila ia melakukan dosa itu dengan sengaja, disertai kesombongan atau dengan mempertentangkan antara nash yang satu dengan yang lain maka dosa kecilnya bisa berubah menjadi besar. Tetapi lain halnya jika melakukannya karena kesalahan dalam ijtihad, marah atau yang semisalnya maka tentunya itu dimaafkan.

(Dari Al-'Ibadat Al-Qalbiyah, Dr. Muhammad bin Hasan bin Uqail Musa Asy-Syarif / alsofwah)
[Sumber : http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=479 ]
Kontribusi Nabi Muhammad SAW. terhadap peradaban dunia merupakan hal yang tak terbantahkan. Pengakuan akan hal itu tidak hanya datang dari kalangan umat Islam, tetapi juga dari beberapa ilmuwan Barat.

Faktor terbesar yang sangat menentukan keberhasilan dakwah Rasulullah sehingga beliau bisa memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia, selain keistimewaan ajaran yang disampaikan, adalah keluhuran budi pekerti Beliau. Sejarah menunjukkan betapa banyak orang Quraisy tertarik dengan ajaran Islam untuk kemudian menyatakan diri masuk Islam lebih karena keluhuran budi Nabi Muhammad SAW. sebagai penyampai. Gelar al-Amin adalah bukti konkret pengakuan masyarakat Quraisy terhadap keluhuran budi Nabi Muhammad SAW.

Pengakuan atas keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad SAW. ternyata tidak hanya datang dari sesama manusia. Allah SWT. Sang Pencipta pun beberapa kali mengakui dan melegitimasi keluhuran budi Nabi. Melalui firman-Nya dalam Al-Quran, di antaranya,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam : 4)

Dalam ayat lain Allah berfirman,


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. al-Ahzab : 21)

Ayat pertama merupakan pengakuan Allah atas keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad SAW., sedangkan ayat terakhir, walaupun lafaznya berwujud pernyataan tentang kepribadian Rasulullah yang sarat dengan keteladapan, tetapi sebenarnya ayat tersebut bersenandung anjuran Allah SWT. untuk meneladani kepribadian Nabi Muhammad SAW. Santri biasa menyebutnya dengan istilah khabar insyai (pernyataan yang mengandung perintah).

Dalam minggu ini hampir semua umat Islam di dunia memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. atau yang lebih dikenal dengan istilah (maulidun nabi) atau muludan.

Dari dimensi sosiologis, ada dua cara orang memperingati hari ulang tahun, atau di dalam peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. disebut sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dua aspek tersebut ialah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. secara simbolik atau melalui lambang-lambang peringatan Maulid, misalnya melalui ritus selamatan, sekatenan, dzibaan, barjanjenan, dan ceramah-ceramah agama. Hampir di semua perdesaan di Jawa akan dijumpai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. di masjid-masjid, langgar-langgar, musala-musala, dan juga balai desa atau lapangan-lapangan yang memungkinkan terjadinya orang berkumpul. Oleh karena itu, di situ diselenggarakan upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Banyak penceramah agama yang memberikan tausiah terkait dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tersebut.

Di sisi lain juga harus dikaji makna substantif dari memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Makna substantif tersebut adalah meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Bukankah Nabi SAW. memang diutus untuk memperbaiki akhlak manusia sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW., "Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia." Intinya, Nabi adalah teladan sempurna. Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya meneladani Rasulullah SAW., apakah kita harus mencontoh semua apa yang dilakukan oleh Rasulullah, mulai dari cara Beliau berbicara, berjalan, berpakaian, makan, atau keteladanan itu hanya ada pada hal-hal tertentu saja yang bersifat teologis dan ritual saja

Pertanyaan itu penting diajukan karena tidak sedikit umat Islam yang mengatasnamakan keteladanan kepada Nabi Muhammad SAW. kemudian merasa benar sendiri dan menyalahkan umat Islam yang lain. Tidak sedikit kaum Muslimin yang mengatasnamakan keteladan kepada Nabi Muhammad kemudian melakukan berbagai aksi kekerasan dan berbuat aniaya kepada sesama Muslim lainnya. Tidak jarang juga kaum Muslimin yang menjadikan keteladanan kepada Nabi sebagai legitimasi terhadap apa yang telah dilakukan.

Artinya, ketika seorang Muslim mengerjakan sesuatu pekerjaan dan kebetulan hal itu pernah dikatakan atau dikerjakan oleh Rasulullah (sunah), ia akan mengatakan bahwa ia telah meneladani Nabi tanpa ada kajian lebih mendalam konteks ketika Nabi mengatakan atau melakukan perbuatan tersebut, apakah Beliau berkedudukan sebagai nabi atau berkapasitas sebagai kepala negara, hakim, atau sebagai manusia biasa. Hal itu penting karena kapasitas Beliau ketika mengatakan atau melakukan sesuatu mempunyai dimensi hukum berbeda bagi umatnya.

Ibnu Qutaibah (wafat 276 H), Imam al-Qarafi, Syah Waliyullah ad-Dahlawi (wafat 176 H), Mahmud Syaltut, dan Quraish Shihab adalah sedikit dari banyak ulama yang pernah membahas hal ini. Mereka sampai pada kesimpulan, dalam hubungan antara sunah dan fungsi Nabi sebagai Rasul; ulama sependapat bahwa sunah tersebut wajib dipatuhi. Ajaran sunah yang harus dipatuhi tidak hanya berkenaan dengan berbagai penjelasan Nabi terhadap ayat-ayat Alquran, tetapi juga yang berupa ketentuan-ketentuan Nabi yang dalam Al-Quran ketentuan-ketentuan itu tidak tercantum.

Sementara untuk sunah yang memberi petunjuk dalam kapasitas Nabi sebagai kepala negara dan pemimpin masyarakat, misalnya pengiriman angkatan perang dan pemungutan dana untuk baitul mal, kalangan ulama ada yang menyatakan, sunah tersebut tidak menjadi ketentuan syariat yang bersifat umum. Selanjutnya tentang sunah yang berhubungan dengan fungsi Nabi sebagai manusia biasa, kalangan ulama berpendapat bahwa sunah tersebut tidak menjadi ketentuan syariat secara umum, kecuali bila ada petunjuk bahwa apa yang dilakukan itu mengandung aspek syariat, yang disebut sebagai irsyad.

Kita semua sepakat, Nabi Muhammad SAW. adalah manusia yang patut dijadikan referensi untuk dijadikan teladan.***

[Ditulis oleh ERICK HILALUDDIN, khatib Jumat pada beberapa masjid di Cimahi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 4 Maret 2011, pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat : 13)

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa di antara tujuan penciptaan manusia adalah untuk saling membina hubungan persahabatan karena dari saling mengenal akan tercipta interaksi dan perkenalan yang selanjutnya akan melahirkan persahabatan.

Dalam agama Islam, hubungan persahabatan memiliki kedudukan yang tinggi lagi mulia. Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Dia memberinya sahabat yang saleh. Jika ia lupa, sahabatnya mengingatkannya, dan jika ia ingat, sahabatnya membantunya."

Selain itu, hubungan persahabatan yang dibina ketika berada di dunia bukan hanya mendatangkan kebaikan di dunia, di akhirat pun mereka akan mendapatkan kedudukan istimewa, bahkan para nabi dan syuhada pun merasa iri terhadap orang yang membina persahabatan. Rasulullah SAW. bersabda, "Di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya, di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada, hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka." Ketika para sahabat bertanya, Rasulullah menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah'." (HR. Tirmidzi)

Persahabatan dunia akhirat adalah hubungan persahabatan yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan. Ia merupakan persahabatan yang dilandasi saling memahami, saling menasihati, dan saling menunjuki kepada kebaikan. Persahabatan seperti ini adalah hubungan persahabatan yang sejati, persahabatan yang akan abadi sampai akhirat nanti. Karena di akhirat kelak pertemanan dan persahabatan akan menjadi permusuhan, kecuali yang dilandasi dengan ketakwaan.

Sebagaimana firman Allah SWT.,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS Az-Zukhruf : 67)

Rasulullah SAW. bersabda, "Apabila dua orang laki-laki saling mencintai dan mengasihi di jalan Allah, yang satu berada di timur, sedangkan yang satu lagi berada di barat, maka Allah SWT. akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat dan berkata, "Inilah orang yang telah engkau cintai di jalan-Ku." (HR. Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas)

Bagi orang yang beriman hendaknya tidak menjadikan setiap orang menjadi sahabatnya. la harus selektif untuk menjadikan seseorang sebagai sahabat karibnya karena seorang sahabat mempunyai pengaruh yang besar bagi keselamatan dan kecelakaanya.

Apabila salah dalam mencari sahabat, kecelakaan dan kesengsaraan akan dirasakannya, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Persahabatan merupakan hubungan yang sangat erat, sehingga seorang sahabat akan mampu membentuk personality individu sahabatnya. Bila sahabatnya baik, ia akan menjadi baik pula. Namun, bila sahabatnya buruk, sudah sangat mungkin ia akan terbawa buruk.

Rasulullah SAW. bersabda, "Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak." (HR. Bukhari)

Amirul mukminin Ali RA. berkata, "Jangan kau bersahabat dengan kawan yang bodoh, takutlah kamu terhadapnya. Betapa banyak orang bodoh membinasakan orang yang santun ketika bersaudara dengannya. Seseorang itu diukur dengan seseorang apabila mereka berjalan bersama. Sesuatu itu ada ukuran bagi sesuatu yang lain dan mirip. Hati punya petunjuk atas hati yang lain ketika bertemu."

Imam Al Ghozali berkata, "Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya." (Tuhfatul Ahwadzi, 7/42)

Apabila kita salah mencari seseorang sebagai sahabat akibatnya bukannya kebaikan yang didapatkan melainkan kecelakaan dan penyesalan yang dirasakannya. sebagaimana dalam firman Allah SWT. ,

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا

"Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran, ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia." (QS. Al-Furqan : 28-29)

Untuk itu, upaya yang harus dilakukan dalam mencari sahabat antara lain,
  1. Pertama, hendaknya meneliti perangainya sebelum menjalin persahabatan. Rasulullah SAW. bersabda, "Seseorang itu tergantung pada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa dia bersahabat." (HR. Abu Daud)
  2. Kedua, hendaknya memilih sahabat yang dapat menjadi sarana tercapainya kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW. bersabda, "Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya." (HR. Hakim)
Wallahua'lam bish shawab.***

[Ditulis Oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Balai Latihan Dai (Baladi), Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, ketua DKM Al-Hikmah RW-07 Sarijadi Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 3 Maret 2011, pada Kolom "CIKARACAK"]
بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walaupun ia melontarkan berbagai alasannya.” (QS. Al-Qiyamah : 14-15)

Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. Ia cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. Ia bashirah yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. Ia memuat sejarah lampau, gambaran depan dan keadaan sekarang.

Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari cahaya terang di sekitarnya ? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah tuna netra yang berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rizki mereka.

Allah Maha Adil, yang mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada tikus mati dalam kandang, ada orang kehilangan tongkat dua kali atau terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di padang dan daging pelanduk dilahap serigala. Ada budak tidur di tilam sutera, ada bangsawan berbaring di hamparan tanah.


BILA NURANI BERGETAR

Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya, walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan kedalam neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar. Begitulah kiranya ketika Alkhalil Ibrahim AS. berdoa kepada Allah agar nabi yang dibangkitkan kelak dari keturunan Ismail AS.,

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah dan menyucikan mereka..” (QS. Al-Baqarah : 129)

Kemudian Allah mengijabah do’anya. Namun Ia menginginkan langkah kedua sesudah membacakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberhasilan da’wah ini, yaitu ‘menyucikan mereka‘ sebagaimana firman Allah SWT.,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah : 151)

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran : 164)

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)

Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan. “Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk mereka perebutkan.” (Imam Ghazali) Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk (suu‘) yang berhati nurani mati, seperti Bal’am sebagai anjing, yang bila dihalau menjulur dan bila didiamkan tetap menjulur. Sebagaimana Firman Allah,
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”(QS. Al–A’raf : 176)

Anjing akan lari mengejar tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi perhiasan di tangan pelempar seharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga, sang anjing segera menerkam bayangan dirinya, karena mengira ada anjing lain yang menggigit tulang. la ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya ! siapa yang telah rasakan dunia aku pun telah mengenyamnya telah digiring kepadaku pahit getirnya aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk dikepung anjing-anjing dengan hanya satu semangat : cabik dan tarik !

Seorang imam sangat kecut dan malu ketika ada orang datang meminta sesuatu. “Oh, dosa apa yang kuperbuat, mestinya aku sudah menangkap hajatnya sebelum ia menyatakan permintaannya.“ Tidakkah panitia zakat merasa tersindir ketika melihat kemiskinan hanya dari wajah pengemis profesional yang kerap menimbun harta melebihi keperluan. Al-Qur’an telah melekatkan sifat ‘jahil’ bagi mereka yang mengira para mujahid yang menjaga air wajahnya dengan menutup rapat-rapat penderitaan dan kemiskinan mereka, sebagai orang kaya. Sebaliknya sifat Rasul SAW. disebutkan sebagai ma’rifah (kenal), karena dengan kejernihan bashirah mampu menangkap hakikat.

Karena itulah mereka mendapatkan jaminan baik bagi kehidupan kelak; “Beruntunglah orang yang tersibukkan oleh aib dirinya dari kesibukan mempersoalkan aib orang lain. la infakkan yang berlebih dari hartanya dan menahan yang berlebih dari perkataannya.

Kemiskinan dan kesenangan tak masuk agenda fikiran para perempuan generasi Salaf yang melepas keberangkatan para suami. “Hati-hati terhadap harta yang haram. Kami tahan terhadap kemiskinan tetapi takkan tahan terhadap neraka,” begitu pesan mereka.

Di depan iring-iringan yang membawa Imam Ahmad bin Hambal ke penyidangan yang zalim, menghadanglah seorang perempuan. “Wahai Imam, kami perempuan-perempuan yang bekerja menenun. Hari-hari ini serdadu sultan meningkatkan perondaan sepanjang malam dengan obor-obor mereka. Karena kami bekerja dibawah pancaran cahaya obor serdadu sultan zalim itu, maka hasil tenunan kami di atas atap rumah menjadi lebih baik dan kami mendapat keuntungan tambahan. Halalkah kami memakan kelebihan untung itu ?“ Demikianlah radiasi bashirah Imam yang tak kenal kompromi dengan kebathilan, merasuki hati nurani rakyat yang menjadi begitu sensitif.

Wallahua'lam bish shawab.

[Oleh : Alm. USTADZ RAHMAT ABDULAH, sumber tulisan "http://nuruldenunu.blogspot.com/"]
Di antara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Berbicara pula yang pertama-tama dilakukan bayi saat baru lahir, melalui tangisannya. Betapa bahagia sang ibu tatkala mendengar kata pertama yang diucapkan buah hatinya. Selanjutnya, seiring perjalanan waktu, sang anak pun mulai tumbuh, berkembang dan menyerap berbagal informasi yang diterimanya. Saat itulah sang anak mulai banyak mengatakan segala sesuatu yang pernah ia dengar. Sayang, tak jarang kebahagiaan ibu harus tergantikan oleh rasa prihatin terutama saat sang buah hati mulai berbicara tanpa adab, sopan santun, bahkan bertentangan dengan syariah.

Rasa prihatin kian mendalam bila ternyata meski anak sudah mulai menginjak usia balig, adab berbicara justru semakin ditinggalkan. Tak jarang ditemui mereka berani membantah nasihat orangtua atau guru, makin pintar berbohong, tak merasa berdosa saat mencaci atau mengolok-olok temannya dan berani mengungkapkan aib temannya. Bahkan mereka tak ragu mengucapkan kata-kata kotor, kasar, sumpah serapah, atau menisbatkan pada sesuatu yang tak layak bagi manusia.

Mengapa mereka bisa tumbuh menjadi seperti itu ? Inilah sebagian permasalahan yang dialami orangtua. Kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat berat, karena persoalan lisan (perkataan) bisa berimplikasi surga atau neraka. Karena itu, orangtua seharusnya memiliki kepekaan mendalam dan ilmu yang mumpuni dalam mengarahkan buah hatinya agar amanah yang Allah berikan itu bisa menjadi penuntun orangtuanya menuju surga, bukan malah menghalanginya dari tempat termulia itu.

BAGIAN DARI AKHLAK ISLAM
Betapa agung Islam yang mengatur aspek akhlak. Sebagai bagian yang tak bisa dilepaskan dari bangunan Islam, pengaturan akhlak dalam Islam memiliki nilai untuk memberikan keunggulan atau keluhuran bagi yang melaksanakannya. Syariah Islam telah memerintahkan kaum Muslim untuk menghiasi setiap perilakunya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya, syariah telah melarang kaum Muslim dari akhlak tercela. Abdullah bin Amr RA. berkata bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya." (Mutaffaq 'alaih)

Di antara akhlak Islam yang diperintahkan Allah SWT.. adalah adab berbicara. Bahkan Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menjadi penyebab masuknya manusia ke neraka, lalu beliau bersabda, "Perkara itu adalah mulut dan kemaluan." (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)

Rasulullah SAW. adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam berbicara beliau memang selalu dibimbing wahyu. Namun, sebagai suri teladan bagi seluruh manusia, perilaku beliau adalah contoh nyata bagi setiap Muslim.

CARA MENANAMKAN ADAB BICARA PADA ANAK
Menanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya, membiarkan kebiasaan buruk itu ada pada anak-anak akan menjadi sebuah karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak

Pertama :
tanamkan akidah yang kuat. Akidah yang kokoh akan menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturan-Nya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah SWT. Sedini mungkin anak harus mulai belajar melaksanakan kebaikan dalam berbicara, bukan untuk mengharapkan imbalan materi, atau pujian orang lain. Sikap ini juga akan memberi imunitas yang tinggi manakala ia terancam oleh lingkungan yang kurang baik.

Kedua :
ajarkan keteladan Rasulullah SAW. dalam berbicara Beberapa contoh keteladanan Rasul di antaranya. selalu menyatakan kebenaran, tidak berdusta, jujur dalam perkataan, berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orangtua, tidak banyak bicara, dsb. Semuanya menunjukkan betapa berharganya nilai berbicara itu.

Ketiga :
jangan bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua dan seluruh penghuni rumah menjaga lisannya. Keteladanan juga akan memberikan lingkungan yang baik bagi anak sehingga anak akan lebih mudah menemukan pola kebiasaan berbicara yang baik.

Keempat :
biasakan mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini, anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia-sia. Di antara kalimat thayyibah yang biasa diajarkan, misalnya, kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik, astaghfirullah bila anak melakukan kesalahan, subhanallah bila melihat pemandangan yang bagus, masya Allah jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, inna lillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia. Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimah thayyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila !, busyet !, monyet !, dasar bodoh !, dsb. Selain kalimat thayyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi : misalnya terimakasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi, dan sejenisnya.

Kelima :
jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Tidak diterapkanya sistem Islam memang memaksa keluarga Muslim untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan 'dunia luar' untuk belalar dan bersosialisasi. Oleh karena itu, orangtua, khususnya lbu, harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih-milih teman.

Orangtua juga harus selektif memilihkan program tayangan media. Jangan biarkan anak-anak menonton film orang dewasa apalagi beradegan kekerasan dan sering melontarkan kata-kata kasar. Sebaliknya, berikan tontonan edukatif yang merangsang anak melakukan kebiasaan berbicara yang baik. Jika terpaksa si anak kedapatan mendengar kata-kata kotor dari media, maka tegas orangtua adalah menjelaskan hakikat kata-kata kotor tersebut dan mengajaknya untuk menjauhinya.

Keenam :
bijak dalam memberi peringatan atau nasihat. Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariah, maka orangtua berkewajiban menasihatinya. Selayaknya orangtua bersikap bijak dengan menghindari olok-olok saat menasihati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajarkan jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasihat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil syariah. terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diharapkan anak tidak mengulanginya di lain waktu.

Ketujuh :
menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Di antaranya adalah dengan tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk hingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata ada di depan mata, maka amar makruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja, harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antar tetangga. lnilah yang dimaksud kontrol sosial yang harus ada untuk menjaga agar pelaksanaan syariah Islam.

PENUTUP

Sesungguhnya anak dapat memiliki adab bicara sesuai syariah bila mendapat bimbingan yang mumpuni dari orangtuanya. Meski tidak mudah, semua itu dapat tewujud dengan kesungguhan dan tanggung jawab yang besar dari orangtua.

Selain itu, sebagaimana kita ketahui, buruknya kebiasaan berbicara pada anak tidak lepas dari kesalahan pola asuh orangtua, lingkungan yang tidak islami, juga sistem pendidikan yang kurang menekankan pelaksanaan syariah secara kaffah, termasuk dalam perkara akhlak. Oleh karena itu, upaya penanaman adab berbicara pada anak juga harus dibarengi dengan upaya memperjuangkan syariah dan Khilafah. Dengan demikian, upaya orangtua mengemban amanah pendidikan anaknya akan menjadi selangkah lebih mudah.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.

[Ditulis oleh : Noor Afeefah]

[Sumber tulisan : Media Islam Online "http://www.facebook.com/MediaIslamOnline"]