Berkah atau barokah adalah kata sifat (naat) yang diharapkan melekat dalam segala hal yang dimilki oleh manusia. Manusia ingin memiliki rezeki yang berkah, umur yang berkah, keturunan yang berkah, dan sebagainya. Ada banyak cara yang digunakan manusia untuk mencapai keberkahan tersebut. Ada cara yang sehat, yang sesuai dengan ajaran Islam dan sunnatullah, ada juga yang sebaliknya.

Al-Faiyyumy dalam al-Misbah al- Munir, al-Fairuz Abadi dalam al-Qamus al-Muhith, dan Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab, mengatakan, al-Barakah berarti berkembang, bertambah, dan berbahagia. Sementara Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan, "Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak."
Dari berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan, keberkahan adalah bertambahnya kebaikan. Artinya, keberkahan bila ada di tempat yang sedikit akan menjadikannya banyak, dan bila berada di tempat yang banyak akan menjadikannya bermanfaat.

Kita bisa mengukur keberkahan sesuatu dengan dua cara, yaitu
  • Pertama, dengan ukuran perubahan fisik atau wujud. Misalnya ketika punya rezeki, kemudian dipergunakan di jalan yang disyariatkan oleh Allah sehingga rezeki itu menjadi bertambah banyak. Perubahan wujud rezeki dari sedikit ke banyak merupakan bentuk keberkahan karena rezeki itu bertambah dan berkembang.
  • Kedua, dengan ukuran nonfisik. Artinya, bisa saja wujud rezekinya sedikit, tetapi kegunaan dan kebaikan dari rezeki tersebut berlipat ganda, tidak saja bagi pemiliknya tetapi juga untuk lingkungan sekitar. Yang kedua inilah wujud keberkahan yang sesungguhnya. Contoh, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit harta benda tetapi karena harta itu penuh keberkahan, harta yang sedikit itu justru membimbingnya kepada jalan kebaikan.
Setelah mengetahui makna keberkahan yang telah diungkap beberapa ulama seperti di atas, wajar kalau manusia menginginkannya, tak terkecuali para Nabi 'alahimussalam. Hal itu kita ketahui secara eksplisit dari doa-doa yang mereka panjatkan kepada Allah SWT.

Di antaranya Rasulullah SAW. bersabda,
... Rab menyeru kepada Ayyub. 'Hai Ayyub, bukankah Aku benar-benar telah mencukupkanmu dari apa-apa yang engkau lihat ?" Ayyub menjawab, "Ya, demi kemulian-Mu. Tetapi, tidak ada kecukupan bagiku dari keberkahan-Mu." (HR. Bukhari)

Nabi Nuh AS. meminta kepada Rabnya agar diberi tempat yang diberkahi.
وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ
Dan berdoalah, "Ya Rabku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat." (QS. Al-Mukminuun : 29)

Allah SWT. juga memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim AS.,
وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَىٰ إِسْحَاقَ ۚ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ مُبِينٌ
Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (QS. Ash-Shaffaat : 112)

Demikian pula dengan Nabi Muhammad SAW., Beliau berdoa kepada Allah SWT.,
Dan berikanlah untukku keberkahan atas apa yang telah Engkau berikan." (HR. Tarmizi)

Saking bermaknanya kata yang bernama berkah ini, kita pun banyak menemukan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. mengandung kata berkah.
  • Di antaranya, tatkala seorang Muslim berjumpa dengan Muslim lainnya, ia dianjurkan mengucapkan salam yang di dalamnya mengandung doa keberkahan,
    Assalaamu'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. (Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya terlimpahkan atas kamu sekalian.)
  • Ketika seorang Muslim mengunjungi pernikahan Muslim lainnya, ia dianjurkan untuk berdoa dengan doa keberkahan,
    Baarakallaahu laka wa baaraka 'alaikuma wajaama'a bainakumafii khairin. (Semoga Allah memberkahimu, menjadikan kalian berdua tetap dalam keberkahan dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.)
  • Ketika seorang Muslim hendak masuk rumah, ia diperintahkan mengucap salam. Karena, ucapan salam itu adalah keberkahan bagi keluarganya.
    Anas bin Malik RA. berkata, bahwa Rasulullah SAW. berkata kepadaku, "Wahai anakku, apabila engkau masuk rumah, ucapkanlah salam, semoga ia menjadi keberkahan atasmu dan atas keluargamu." (HR. Tirmizi)
  • Ketika seorang Muslim mau makan, ia diperintahkan untuk membaca doa dengan doa keberkahan,
    Allahumma baarik lanaa fiimaa razagtanaa waqinaa 'azabannaar. (Ya Allah semoga Engkau memberikan keberkahan terhadap apa-apa yang Engkau rezekikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari api neraka)
    Setelah makan, ia juga dianjurkan untuk menjilat jarinya.
    Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya kalian tidak tahu di manakah letak keberkahan itu." (HR. Muslim)
Secara umum, keberkahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman bisa kita bagi ke dalam tiga bentuk, yaitu
  • Pertama, keberkahan dalam rezeki. Dalam hal ini, Ibnu Qayyim berkata, "Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak. Akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahan-Nya." (Al-Jawabul Kafi kar-ya Ibnu Qayyim, hal. 56)
    Indikator keberkahannya terletak pada sejauh mana rezeki tersebut membawa manfaat dan kebaikan bagi pemiliknya dan lingkungan sekitarnya. Artinya, kalau seseorang memiliki harta yang banyak tetapi hartanya tidak membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungan sekitarnya, maka dapat dipastikan bahwa harta tersebut tidak berkah.
    Salah satu prasyarat mutlak keberkahan rezeki adalah rezeki tersebut tentu saja harus didapatkan dengan cara yang halal. Mustahil rezeki menjadi berkah jika didapatkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam dan sunnatullah. Rezeki hasil korupsi misalnya, tidak akan berkah karena cara mendapatkannya menimbulkan kemadaratan bagi manusia lainnya.
    Sayangnya di Indonesia, fenomena mendapatkan rezeki dengan cara-cara seperti itu, seperti sudah menjadi budaya. Padahal kondisi tersebut merupakan tanda akhir zaman seperti yang disitir Rasulullah SAW. dalam sabdanya,
    Akan datang suatu zaman di mana seseorang tidak memperdulikan darimana ia mendapatkan harta, apakah dari sumber yang halal ataupun haram. (HR. Nasa'i)
  • Kedua, keberkahan dalam keturunan (dzurriyyah). Indikator keberkahan dalam keturunan adalah keturunan yang saleh. Kesalehan yang dimaksud bukan terbatas pada kesalehan ritual, tetapi juga menyangkut kesalehan yang punya implikasi secara sosial. Keturunan yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya, tetapi juga untuk kemanusiaan secara keseluruhan.
  • Ketiga, keberkahan dalam umur. Umur yang diberikan betul-betul dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Rasulullah SAW. bersabda,
    Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya." (HR. Ahmad)
    Setiap hari umur kita bertambah. Pertambahan umur itu sebenarnya mengurangi jatah waktu kita untuk berada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu, semakin bertambah umur mestinya kita semakin menjadi lebih baik dengan terus melakukan perbaikan diri dalam melakukan pengabdian kepada Allah SWT.
Wallahu'alam bissawab.***

[Ditulis oleh ERICK HILALUDDIN, khatib Jumat pada beberapa masjid di Cimahi dan pernah menjadi santri di Pesantren Modern Mathla'ul-Huda Baleendah Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 6 Mei 2011, pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Sesungguhnya segala puji bagi Allah semata. Hanya kepada-Nya kita senantiasa memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kita.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak akan ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, tak akan ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.


Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Shalawat dan salam teruntuk Beliau, para shahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.


Amma ba’du.

Ini adalah tulisan yang ringkas yang memuat perkara-perkara wajib dilakukan oleh orang yang sakit ketika bersuci dan sholat. Karena, orang yang sakit mempunyai hukum tersendiri dalam hal ini.

Syariat Islam begitu memperhatikan perkara ini, karena Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan aturan yang lurus dan lapang yang dibangun atas kemudahan, Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَج
dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesempitan. (QS. Al-Hajj : 78)

dan
Allah Ta’ala berfirman :
يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ ا.لْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al Baqarah : 185)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah. (QS. Taghaabun : 16)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ
Sesungguhnya agama ini mudah.

Dan
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْ تُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Jika saya perintahkan kalian dengan suatu urusan maka kerjakanlah semampu kalian.

Berdasarkan kaidah dasar ini, maka Allah memberi keringanan bagi orang yang mempunyai udzur dalam masalah ibadah mereka sesuai dengan tingkat udzur yang mereka alami, agar mereka dapat beribadah kepada Allah tanpa merasa berat serta kesulitan. Dengan segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.

Bagaimana tata cara bersuci bagi orang yang sakit ?
  1. Orang yang sakit wajib bagi dia bersuci dengan menggunakan air. Ia berwudhu jika berhadats kecil dan mandi jika berhadats besar.
  2. Jika ia tidak bisa bersuci dengan air karena ada halangan, atau takut sakitnya bertambah atau khawatir memperlama kesembuhannya, maka ia boleh tayammum.
  3. Tata cara tayammum : Hendaknya ia memukulkan dua tangannya ke tanah yang suci dengan sekali pukulan, kemudian mengusap wajahnya lalu mengusap kedua telapak tangannya (sampai pergelangan tangan)
  4. Bila ia tidak mampu bersuci sendiri maka ia bisa diwudhukan atau ditayammumkan oleh orang lain. Caranya : hendaknya seseorang memukulkan tangannya ke tanah yang suci lalu mengusapkannya ke wajah dan telapak tangan orang yang sakit. Begitu pula bila tak kuasa berwudhu sendiri maka diwudhukan oleh orang lain.
  5. Jika pada sebagian anggota badan yang harus disucikan terdapat luka, maka ia tetap dibasuh dengan air. Jika hal tersebut justru membahayakan maka diusap dengan sekali usapan. Caranya, tangannya dibasahi dengan air lalu diusapkan di atasnya. Jika mengusap luka juga membahayakannya, maka ia bisa bertayammum.
  6. Jika pada sebagian tubuhnya terdapat luka yang digibs atau dibalut, maka ia mengusap balutan tadi dengan air sebagai ganti dari membasuhnya, dan ia tidak bertayammum karena mengusap pengganti dari membasuh.
  7. Dibolehkan bertayammum pada dinding, atau segala sesuatu yang suci dan mengandung debu. Jika dindingnya berlapis sesuatu yang bukan dari bahan tanah seperti cat misalnya, maka ia tidak boleh bertayammum padanya kecuali jika cat itu mengandung debu.
  8. Jika tidak memungkinkan bertayammum di atas tanah, atau dinding atau tempat lain yang mengandung debu, maka tidak mengapa menaruh tanah di bejana atau sapu tangan lalu bertayammum darinya.
  9. Jika ia bertayammum untuk sholat lalu ia tetap suci sampai waktu sholat berikutnya, maka ia bisa sholat dengan tayammumnya tadi, tanpa perlu mengulang tayammum, karena ia masih berstatus suci dan tidak ada yang membatalkan kesuciannya.
  10. Orang yang sakit harus membersihkan tubuhnya dari najis, jika tidak mungkin maka ia sholat sesuai dengan keadaannya tadi, dan sholatnya sah tanpa harus mengulang.
  11. Orang yang sakit harus sholat dengan pakaian yang suci. Jika pakaiannya terkena najis, ia harus mencucinya atau menggantinya dengan pakaian lain yang suci. Jika hal itu tidak memungkinkan maka ia sholat sesuai dengan keadaannya dan sholatnya sah tanpa harus mengulang lagi.
  12. Orang yang sakit harus sholat di atas tempat yang suci. Jika tempatnya terkena najis maka harus dibersihkan atau diganti dengan tempat yang suci, atau menghamparkan sesuatu yang suci di atas tempat najis tersebut. Namun, bila tidak memungkinkan maka ia sholat sesuai dengan keadaannya dan sholatnya sah tanpa perlu mengulang lagi.
  13. Orang yang sakit tidak boleh mengakhirkan sholat dari waktunya karena ketidakmampuannya untuk bersuci. Hendaknya ia bersuci semampunya kemudian melakukan sholat tepat pada waktunya, meskipun pada tubuhnya, pakaiannya atau tempatnya ada najis yang ia tidak mampu untuk membersihkannya.

[Ditulis Oleh : ASY SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL-UTSAIMIN. Dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pada Kitab Thaharah jilid ke 11 hal. 154-156. Cetakan Dar Ibn Al-Haitsam, Kairo. Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Abdillah Al-Medani, Mudir Ma’had Darussalaf-Bontang]


[Sumber tulisan : http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1451 dan http://artikeliman.blogspot.com]

by
u-must-b-lucky
Baru-baru ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, tepatnya 2 Mei 2011. Kita biasanya teringat dengan jasa para pahlawan pendidikan, seperti Ki Hajar Dewantara. Namun, kita kadang tidak mengingat Rasulullah SAW. sebagai teladan dalam mendidik.

Ajaran Islam memberikan perhatian khusus pada masalah pendidikan. Posisi dan peran guru mendapatkan tempat istimewa dalam kacamata Islam. Dalam sebuah pesan, Rasulullah menyatakan, "Jadilah seorang pendidik atau orang yang dididik."

Rasulullah adalah seorang guru atau pendidik yang amat pantas diteladani.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab : 21)

Menurut Al-Qur'an, tugas pendidikan yang diemban Nabi adalah menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah, dan lampu penerang kehidupan.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا
Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS. Al Ahzab : 45-46)

Sebagai pendidik, Nabi telah berhasil membina masyarakat dari masyarakat biadab menjadi beradab. Dari masyarakat jahiliah menjadi terdidik. Kunci pendidikan Nabi adalah konsep ajaran yang disampaikan secara benar dan tepat, dipenuhi dengan sikap ikhlas, dan sungguh-sungguh. Jangan dilupakan pula, Rasulullah melakukan semua perbuatan sebelum diucapkannya. Rasulullah tidak berlaku "omdo" (omong doang).

Sifat Nabi sendiri adalah shidig (jujur), amanah (dapat dipercaya), tablig (menyampaikan), dan fatanah (cerdas). Sifat-sifat itu dirinci dalam Al-Qur'an, seperti merasa berat atas penderitaan orang lain, sungguh-sungguh mengajak orang lain untuk menjadi baik, sangat kasih dan sayang.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At Taubah : 128)

Nabi juga bersifat pemaaf malah memintakan ampunan, siap bermusyawarah, tawakkal, tak pernah kasar, dan tidak pernah berkhianat.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
إِن يَنصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ ۚ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali Imran : 159-161)

Nabi juga memberikan pengajaran kepada kaumnya sesuai dengan kadar kemampuan orang tersebut. Kadang ada yang menyatakan, Nabi tidak konsisten karena memberikan pendidikan yang berbeda-beda di antara umatnya. Padahal, Nabi menyesuaikan pendidikan yang diberikannya dengan kadar kemampuan orang tersebut.

Dengan kelebihan Nabi dalam mendidik tentu membutuhkan persiapan matang yang tidak diperoleh secara tiba-tiba atau datang dari langit. Nabi mempersiapkan diri sedemikian rupa jauh sebelum diangkat sebagai utusan Allah. Misalnya, Nabi sudah diberi gelar al-amin (dapat dipercaya), terlatih dalam suasana kepihatinan dan penuh tantangan, maupun kesiapan diri untuk mandiri dengan berwirausaha menjadi pedagang antarnegara.

Demikian pula dengan kondisi rumah tangganya yang mendukung perjuangan Nabi sebagai pendidik umat. Dengan bekal seperti itu, wajar apabila nabi mampu memberikan pisau analisa yang tajam dan tepat tentang kondisi kehidupan masyarakatnya,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq : 1-5)

Maupun mendidik dengan ikhlas dan sabar,
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
قُمْ فَأَنذِرْ
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan ! dan Tuhanmu agungkanlah ! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS. Al-Mudatsir : 1-7)

Tak kalah pentingnya adalah seorang pendidik tak akan berhasil membina anak-anak didiknya apabila tidak dibarengi dengan kebiasaan shalat malam, dzikir, dan membaca Al-Qur'an. Nabi menempa diri sebagai pendidik dengan tekun beribadah, siap membersihkan diri dari dosa-dosa, menjauhi perbuatan yang tidak terpuji, dan tidak terlampau banyak mengharapkan dari manusia.

Ada beberapa pesan Nabi kepada para pendidik, yakni, lakukan pendidikan dengan hikmah, kebijaksanaan, nasihat, dan diskusi yang baik.
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl : 125)

Pendidik juga harus berpaling dari ajaran salah dan memberikan pendidikan kepada mereka yang salah dengan kata-kata yang benar.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُل لَّهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An Nisa : 63)

Selain itu, pendidik dituntut untuk istiqamah dan tidak mengikuti hawa nafsu.
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah : "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf : 108)

Pesan lainnya agar pendidik tidak rendah diri, tidak putus asa, dan keberhasilan pendidikan ditentukan Allah, bukan sebatas ikhtiar para pendidik. Pendidikan juga jangan hanya dibatasi di sekolah melainkan juga di rumah, masjid, maupun lingkungan masyarakat.

Seorang pendidik baik guru, dosen, ustaz, kiai, atau sebutan lainnya tidak sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik melainkan juga mentransfer iman dan akidah Islam. Pendidik tidak hanya menyampaikan ilmu melainkan juga harus menjadi pengamal pertama dari ilmu yang diajarkannya.

Pendidik juga tak sebatas melaksanakan kewajiban di kelas melainkan melayani anak didik di mana pun berada. Dia tidak hanya siap menjawab pertanyaan anak didik sesuai dengan bidang ilmunya, tetapi juga harus mampu menjawab pertanyaan tentang Islam. Dia tidak hanya dipercaya dalam bidang keilmuan melainkan juga dipercaya dalam moral dan akhlaknya.

Seorang pendidik juga dituntut untuk berhasil dalam mendidik istri dan anak-anaknya di rumah. Jangan sampai di sekolah berhasil mendidik siswanya, tetapi istri dan anaknya malah jauh dari nilai-nilai keislaman. Karena pendidik bukan hanya teladan secara pribadi, namun keluarganya juga harus bisa menjadi teladan bagi anak didik dan lingkungannya.

Pertanggungjawaban seorang pendidik bukan hanya kepada, lembaga / yayasan melainkan juga kepada Allah SWT. Dalam hal ini Rasulullah menjadi teladan bagi kalangan dunia pendidikan.***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 5 Mei 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(7) MURAQABAH

Kaitannya dengan tempat persinggahan muraqabah ini, Allah telah befirman,
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيبًا
Dan, Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab : 52)

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Al-Mukmin : 19)

Masih banyak ayat-ayat lainnya yang menjelaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, melihat, mendengar, mengawasi yang lahir maupun yang batin dan bahwa Allah senantiasa beserta manusia, di mana pun mereka berada. Di dalam hadits, Jibril disebutkan bahwa dia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang ihsan. Maka beliau menjawab, "Jika engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

Muraqabah artinya pengetahuan hamba secara terus-menerus dan keyakinannya bahwa Allah mengetahui zhahir dan batinnya. Muraqabah ini merupakan hasil pengetahuannya bahwa Allah mengawasinya, melihatnya, mendengar perkataannya, mengetahui amalnya di setiap waktu dan di manapun, mengetahui setiap hembusan napas dan tak sedetik pun lolos dari perhatian-Nya.

Muraqabah merupakan ubudiyah dengan asma'-Nya Ar-Raqib, Al-Hafizh, Al-Alim, As-Sami' dan Al-Bashir (Maha Mengawasi, Menjaga, Mengetahui, Mendengar dan Melihat). Siapa yang memahami asma' ini dan beribadah menurut ketentuannya, berarti dia telah sampai ke tingkat muraqabah.

Pengarang Manazilus-Sa'irin, mengatakan, "Muraqabah artinya terus-menerus menghadirkan hati bersama Allah." Ada tiga derajat muraqabah :
  1. Muraqabah Allah terhadap perjalanan kepada-Nya secara terus-menerus, memenuhi hati dengan keagungan Allah, mendekat kepada Allah sambil membawa beban dan pembangkit kesenangan. Jika hati sudah diisi keagungan Allah, maka ia akan mengesampingkan pengagungan terhadap selain-Nya dan tidak mau berpaling kepada-nya. Pengagungan ini tidak akan terlupakan jika hati bersama Allah, disamping juga mendatangkan cinta. Setiap cinta yang tidak disertai pengagungan terhadap kekasih, menjadi sebab yang menjauhkannya dari kekasih. Dalam derajat ini mengandung lima perkara : Perjalanan kepada Allah, kelanjutan perjalanan ini, hati yang bersama Allah, pengagungan-Nya dan berpaling dari selain-Nya.
    Jika sudah ada kedekatan hati dengan Allah, maka akan menghasilkan kesenangan dan kenikmatan, yang tidak bisa diserupakan dengan kesenangan di dunia dan tidak dapat dibandingkan, karena ini merupakan salah satu keadaan dari para penghuni surga. Di antara orang yang memiliki ma'rifat berkata, "Pada saat tertentu dapat kukatakan, 'Sekiranya para penghuni surga seperti keadaan saat ini, tentu mereka dalam kehidupan yang sangat menyenangkan." Tidak dapat diragukan bahwa kesenangan dan kenikmatan inilah yang membangkitkannya untuk terus mengadakan perjalan kepada Allah, berusaha dan mencari keridhaan-Nya. Siapa yang tidak merasakan kesenangan dan kenikmatan ini, atau sebagian di antaranya, maka hendaklah dia mencurigai iman dan amalnya. Karena iman itu mempunyai kemanisan. Siapa yang tidak dapat merasakan manisnya manis, hendaklah kembali untuk mencarinya, dengan mencari cahaya yang bisa mendatangkan manisnya iman. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyebutkan rasa iman dan cara mendapatkan manisnya iman.
    Rasa ini dikaitkan dengan iman. Sabda beliau,
    Yang dapat menikmati rasa iman adalah yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai rasul.

    Beliau juga bersabda,
    Tiga perkara, siapa yang tiga perkara ini ada pada dirinya, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu : Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, siapa yang mencintai seseorang, yang dia mencintainya hanya karena Allah, dan siapa yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke neraka.

    Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jika engkau tidak mendapatkan kemanisan dan kesenangan dari suatu amal dalam hatimu, maka curigailah ia. Karena Allah adalah Maha Penerima syukur. Artinya, Allah pasti akan memberi pahala kepada seseorang di dunia karena amalnya, berupa kemanisan yang dirasakan di dalam hati, kesenangan dan kegembiraan. Jika dia tidak merasakannya, berarti amal itu disusupi syetan."
  2. Muraqabah Allah terhadap penolakan penentangan, yaitu dengan berpaling dari bantahan.
    Ini merupakan muraqabah Allah terhadap dirimu untuk sifat yang khusus, yaitu yang mengharuskan adanya pemeliharaan zhahir dan batin. Memelihara zhahir ialah menjaga semua gerakan zhahir, dan memelihara batin artinya menjaga lintasan sanubari, kehendak dan gerakan-gerakan batin, yang dari gerakan batin inilah muncul penentangan terhadap perintah Allah. Batin harus dibersihkan dari segala syahwat dan kehendak yang bertentangan dengan perintah-Nya, dibersihkan dari segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak-Nya, dibersihkan dari segala syahwat yang bertentangan dengan pengabaran-Nya, dibersihkan dari segala cinta yang mencampuri cinta kepada-Nya. Inilah hakikat hati yang sehat dan inilah hakikat pembebasan diri orang-orang yang memiliki ma'rifat dan orang-orang yang taqarrub kepada Allah.
    Adapun sebab penentangan yang harus dihindari hamba adalah bantahan atau sanggahan. Sebagaimana yang banyak terjadi di kalangan manusia, bantahan ini ada tiga macam :
    • Membantah asma' dan sifat-sifat Allah dengan berbagai dalih yang disebut ketetapan akal oleh para pelakunya, yang pada hakikatnya adalah khayalan-khayalan batil. Mereka membantah sifat-sifat Allah yang ditetapkan terhadap Diri-Nya dan juga merubah kalimat Allah dari tempatnya.
    • Membantah syariat dan perintah-Nya dengan mengandalkan pikiran dan analogi-analogi yang mereka buat, sehingga mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Mereka juga membantah hakikat-hakikat iman dengan perasaan dan khayalan-khayalan mereka. Mereka juga membantah syariat Allah dengan menerapkan hukum-hukum ciptaan manusia sebagai ganti hukum Allah dan Rasul-Nya.
    • Mereka juga membantah perbuatan, qadha' dan qadar Allah. Tentu saja semua ini merupakan bantahan orang-orang yang bodoh.
  3. Muraqabah azal untuk menerima panji tauhid dan muraqabbah isyarat azal yang muncul di setiap saat dan berlaku untuk selama-lamanya.
    Artinya, mempersaksikan makna azal, yaitu sifat terdahulu yang menjadi sifat Allah dan yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya atau yang mendahului-Nya. Jika seorang hamba memahami makna azal dan mengetahui hakikatnya, maka pada saat itu tampak panji tauhid, lalu dia siap menerimanya, sebagaimana prajurit yang siap menerima panji pasukan perang.
    Sedangkan makna muraqabah isyarat azal yang muncul di setiap saat dan berlaku untuk selama-lamanya, bahwa Allah yang azali juga memiliki sifat yang abadi, mempunyai bentangan hidup antara keduanya.
[Berikutnya....(8) Mengagungkan Apa-apa Yang Dihormati di Sisi Allah]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli :
Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

by
u-must-b-lucky

Penyucian dan pembersihan diri dari segala keburukan serta mengangkatnya ke tingkat moralitas yang luhur merupakan tugas penting para Rasul yang memang diutus untuk membawa misi demikian. Sebagian besar hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun diabdikan untuk misi yang sama karena moralitas yang luhur merupakan salah satu pokok dasar untuk memulai kehidupan secara islami menurut manhaj kenabian. Orang yang hendak merancang tujuan tentu dia akan menyiapkan pula sarananya. Dalam analogi yang sama, Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan berbagai macam sarana penyucian diri. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskannya secara rinci kepada umatnya agar mereka bisa mencapai tujuan dimaksud. Oleh karena itu, penyucian diri tidak memiliki amalan-amalan khusus selain syi’ar-syi’ar Islam.

Ketika menyimpulkan syi’ar-syiar Islam dan mengaitkannya dengan tujuan moralitas luhur ini maka akan tampak jelas bahwa proses penyucian diri tidak memiliki amalan-amalan khusus.

Tauhid merupakan sarana penyucian diri
Kesadaran diri terhadap kebenaran adalah pangkal kemuliaan dan induk moralitas yang luhur. Pangkal hikmah adalah ma’rifat (pengenalan), menyembah, dan takut kepada Allah ta’ala. Tak ada kebenaran yang lebih besar dan lebih jelas menurut orang yang berakal, selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu menyekutukan Allah merupakan tindakan kotor lagi najis, sebagaimana yang difirmankan Allah,
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. (QS. At-Taubah : 28)

Demikianlah ungkapan Al-Qur’an yang menilai ruh orang-orang musyrik itu najis dan jiwa mereka pun kotor. Ruh dan jiwa mereka itu menjadi ukuran penilaian seberapa bagus kualitas manusia itu. Dengan demikian, manusia secara keseluruhan adalah najis, menjijikkan dan dijauhi oleh orang-orang yang menyucikan diri.

Ibnu Katsir berpendapat, ayat di atas menunjukkan bahwa orang musyrik itu najis sebagaimana ditegaskan dalam hadits shahih,
Orang Mukmin itu tidak najis. (HR. Bukhari Muslim)

Adapun najis badan, maka menurut jumhur, orang mukmin itu tidak najis fisik maupun non-fisik, mengingat, Allah saja masih menghalalkan makanan ahlul kitab bagi orang-orang mukmin. Tapi sebagian pengikut paham zahiriyah menajiskan badan orang mukmin. Hati mereka (para pengikut zahiriyah) telah kotor, dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak hendak membersihkannya. Mereka telah tercebur ke dalam kotoran dan berkubang dalam najis.

Dengan demikian jelas sudah bahwa Islam secara keseluruhan adalah kesucian, penyucian diri, dan pengembangan dan keutamaan. Siapa saja yang berpedoman padanya maka keimanan akan semakin jernih dan mendapatkan Nur dari Rabb-nya.
فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-An’am : 125)

Wudhu termasuk penyucian diri
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah : 108)

Mandi dan tayamum bagian dari penyucian diri
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai siku, dan sapulah kepala kalian dan(basuh) kaki kalian sampai kedua mata kaki, dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah wajah kalian dan tangan kalian dengan tangan itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur. (QS. Al-Maidah : 6)

Menjauhi istri pada saat haid dan nifas termasuk penyucian diri
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah,’Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh karena itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid, dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222)

Penyucian anggota badan harus dibarengi dengan penyucian hati. Itulah sebabnya penyucian anggota badan diikuti dengan pemberian perlindungan kepada mereka dari godaan syetan dan peneguhan hati serta pengokohan pendirian. Hal ini terkandung dalam firman-Nya,
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ وَيُذْهِبَ عَنكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ
...dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS. Al-Anfal :11)

Menyucikan hati telah dijelaskan dalam Al-Qur’an,
ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. (QS. Al-Ahzab : 53)

Sedangkan menyucikan anggota badan, firman-Nya,
وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ
Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu. (QS. Al-Anfal : 11)

Antara hati dan pakianpun ada kaitan,
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Dan pakaianmu bersihkanlah. (QS. Al-Muddatstsir : 4)

Ibnu Abbas mengemukakan, ”Jangan engkau tutupi jiwamu dengan pakaian kemaksiatan dan hal yang menjijikkan.

Bagaimanapun membersihkan pakaian dari kotoran dan meminimalkan kotoran yang mungkin melekat pada pakaian merupakan satu sekian perintah membersihkan pakaian. Karena pakaian yang bersih dapat menyempurnakan amalan dan perangai diri. Badan dan pakaian yang najis bisa menyebabkan batin menjadi najis. Itulah sebabnya mengapa kotoran yang menempel di pakaian atau badan harus segera dihilangkan dan dijauhi.

Shalat sebagai sarana penyucian diri
Shalat berfungsi menyucikan diri dan anggota badan dari perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana firman Allah,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-Ankabut : 45)

Sebab dalam shalat terdapat tiga perangai, yaitu ikhlas, rasa takut, dan dzikir kepada Allah. Ikhlas menyuruh kepada kebaikan, rasa takut mencegah diri diri dari kemungkaran, dan dzikir kepada Allah membuat cerdas jiwa.

Shalat
adalah wujud kebersamaan dengan Allah sekaligus sebagai sarana berkomunikasi dengan-Nya, yang secara psikologis akan menciptakan perasaan malu bila saat bersama dengan-Nya masih saja melakukan dosa-dosa besar dan kekejian.

Shalat
merupakan bentuk pelepasan diri. Dengan shalat (yang benar-red) jiwa tidak lagi berani melakukan kekejian dan kemungkaran.

Zakat merupakan saran penyucian dan pembersihan diri

Firman Allah Subhanahu wata’ala,
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu ( menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. At-Taubah : 103)

Zakat fitrah merupakan bentuk penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna serta hal-hal yang tidak senonoh. Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas ,
Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang tidak berguna, tindakan tidak senonoh dan memberi makan kepada orang-orang miskin. (Hadits Hasan)

Dengan demikian dapat diartikan, menginfakkan harta untuk mencari keridhoan Allah merupakan sarana untuk membersihkan, menyucikan, mengembangkan dan membenahi jiwa.

Mengenai masalah ini Allah telah berfirman,
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ
وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ
إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ
وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan. (QS. Al-Lail : 17-21)

Puasa sebagai sarana penyucian dan pembersihan diri
Sebagaimana firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa puasa merupakan salah satu sebab pemberian ampunan, pembebasan dari neraka, dan masuk surga. Puasa adalah perisai, obat dan benteng dari hawa nafsu. Sebab puasa dapat mengagungkan jiwa, menindas dan memenjarakan hawa nafsu. Sehingga jiwa benar-benar terang dan tenteram.

Wallahua'lam bishshawab.***

[Sumber tulisan : MediaMuslim.Info pada tanggal 29 Juni 2007 dan disalin dari http://myqalbu.wordpress.com/]

by
u-must-b-lucky

Korupsi merupakan masalah yang tidak ada habisnya diperbincangkan pada seluruh bangsa. Bukan karena sekadar iseng mengangkat tema pembicaraan mengenai korupsi, akan tetapi dikarenakan masalah kejahatan korupsi yang selalu hadir pada setiap persoalan bangsa di dunia khususnya di Indonesia.

Akhir-akhir ini pembicaraan seputar kejahatan korupsi menghangat kembali terkait terkuaknya skandal Bank Century yang merugikan keuangan negara sebesar 6,7 Triliun Rupiah. Angka yang tak sedikit dan cukup fantastis..!! namun ada problem lain yang lebih “memilukan” dari sekedar raibnya 6,7 Triliun Rupiah, yakni degradasi moral yang terjadi pada bangsa ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia merupakan negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Namun perkara yang sangat dilematis tengah dihadapi bangsa ini, kejahatan korupsi subur disegala bidang dan lapisan masyarakat. Bahkan tidak tanggung-tanggung pejabat sekelas menteri agama-pun pernah ada yang terlibat dalam kasus korupsi. Dimana letak nilai-nilai Islam ? Apakah ajaran agama ini tidak mampu membendung perilaku umatnya agar meninggalkan perkara yang merusak tatanan sosial ?

Pertanyaan diatas tentu saja bernada skepstis !, kenapa ?, karena sangat jelas Islam dengan perilaku korupsi merupakan hal yang sangat bersebrangan. Dalam pandangan agama Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamiin beranggapan bahwa diantara pondasi terpenting kehidupan yang aman dan pembangunan tatanan masyarakat yang tentram ialah terjaga dan terlindunginya harta. Diantara kebijaksanaan dan kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya ialah Dia menetapkan sanksi yang menjerakan bagi setiap pelaku maksiat yang merusak tatanan kehidupan manusia dan merusak keamanan harta mereka. Didalam Islam tindak kejahatan korupsi dikategorikan sama dengan pencurian. Islam dengan syariatnya dengan tegas dan terang mengharamkan perilaku kejahatan korupsi atau mencuri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam bagi setiap pelaku tindak pidana pencurian dengan hukum potong tangan sebagaimana firman-Nya didalam Al-Qur’an :

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah : 38)

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam–pun bersabda :
Demi diriku yang berada ditangan-Nya, andaikan Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya akan kupotong tangannya. (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasa'i)

Maka tidak heran jika korupsi tumbuh subur di negeri ini. salah satu faktornya ialah hukum yang digunakan untuk menindak dan menangani perkara korupsi bukanlah hukum Islam yang memberi efek jera bagi pelakunya. Akan tetapi hukum Jahiliyah yang memang tidak memberikan konsekuensi jera bagi para pelaku korupsi. Syariat Islam tidak diberi ruang didalam pemberantasan korupsi di negeri ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (QS. Al-Maidah : 50)

Didalam aturan mencari rezeki, Islam telah memberikan aturan yang jelas yakni berupa firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. Al-Baqarah : 172)

Rezeki yang halal dan baik ialah rezeki yang didapatkan dengan cara dan usaha yang baik pula, dan bukan dari hasil maksiat termasuk mencuri atau mengkorupsi.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari para koruptor di negeri ini adalah beragama Islam, mengerjakan shalat, puasa, bahkan hingga haji. Mereka tahu ajaran Islam akan tetapi mereka tidak faham akan ajaran Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan :

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ يُرِدِ اَللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي اَلدِّينِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Mu'awiyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ia akan diberi pemahaman tentang agama." (Muttafaq Alaihi)

Bila baik dalam memahami dan mengamalkan agama ini, maka baik pula akhlak dan perilakunya. Kenyataan saat ini cukuplah bagi kita semakin yakin bahwa janji Allah pasti benar, mereka yang melakukan tindakan korupsi bukanlah orang-orang yang paham agama akan tetapi hanya tahu ajaran agama.Wallahu ‘alam Bish Shawab.

[Sumber tulisan : http://maulana2008.co.cc]

by
u-must-b-lucky