Menjelang akhir tahun ini, sebagian masyarakat sudah bersiap-siap untuk mengisi liburan akhir tahun. Ada yang sudah merancang ikan pergi ke suatu daerah, liburan di pantai, menghibur diri di tempat-tempat permainan dan outbound, ataupun berlibur ke rumah orang tua di kampung.

Bagaimana Islam memandang liburan ini? 

Ketika penjajahan Belanda, para pekerja perkebunan juga mendapatkan liburan/istirahat dengan cara membelanjakan penghasilannya. Mereka memborong barang-barang sehingga uangnya kembali lagi kepada penjajah.

Demikian pula saat penjajahan Jepang di Indonesia yang menyediakan toko khusus untuk menghibur diri dan menghabiskan uang gajinya. Sementara saat zaman kerajaan di Jawa, khususnya Paku Buwono X, juga dikenal istilah liren yaitu waktu mengistirahatkan seluruh fisik dan batin untuk mendapatkan stimulus baru.

Beristirahat merupakan bagian dari fitrah manusia. 

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ 
(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30)

Islam merupakan agama fitrah (sesuai dengan kondisi dan kebutuhan manusia) serta seimbang. Islam menganjurkan pemeluknya untuk bekerja keras, tetapi juga berlibur. Menyuruh untuk beribadah dengan khusyuk, tetapi juga perintah agar umat manusia melakukan refreshing. Menggapai sukses di dunia juga sukses di akhirat.

Berlibur pada dasarnya adalah mengalihkan waktu dengan melaksanakan kegiatan yang bertujuan rehat, bersantai, terbebas dari rutinitas keseharian, tetapi tetap bernilai ibadah dan bermanfaat. Liburan bukan berarti harus sia-sia dalam mengisi waktu. Tidak ada hal sia-sia setiap detik dan jejak kehidupan seorang Muslim.

Liburan merupakan salah satu cara untuk meredakan diri dari kesibukan, seperti men-charge kembali baterai kosong untuk menimbulkan rangsangan semangat baru setelah keluar dari aktivitas normal. Jika kita bisa memanfaatkan liburan dengan baik, hidup kita akan menjadi lebih berarti. Liburan yang baik dapat mencerahkan pikiran, membentuk pola pikir lebih positif, meningkatkan kreativitas dan produktivitas, serta mampu menurunkan kasus depresi klinis.

Allah SWT. menganjurkan manusia untuk mengadakan perjalanan di muka bumi untuk mendapatkan hikmah (pelajaran). 

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
Katakanlah, berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa. (QS. An-Naml: 69)

Dalam suatu riwayat diceritakan, Hanzhalah (salah seorang juru tulis Nabi SAW.) dan Abu Bakar merasa dirinya munafik. Ketika di depan Nabi mereka semangat beriman dan beribadah, tetapi jika mereka bertemu dengan keluarga, istri, atau anak-anak, menyebabkan mereka lupa. Keduanya pun menemui Nabi SAW. dan menceritakan kondisi tersebut. Nabi bersabda, 
"Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, jika kalian senantiasa dalam kondisi berdzikir dalam segala kondisi sebagaimana ketika kalian bersama saya, maka para malaikat akan menyalami kalian, di rumah-rumah kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat. Beliau mengatakan ini tiga kali." (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini dengan mengatakan, "Sesaat melakukan demikian dan sesaat lainnya melakukan yang lain." Imam An-Nawawi menambahkan, "Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tetapi juga tidak berpahala." Dalam persoalan ibadah, beriman, dan bertakwa, tidak ada istilah liburan kecuali bagi anak-anak ataupun orang yang hilang ingatan.
Kenyataan sehari-hari kita menemukan banyak liburan yang menjurus ke foya-foya, bersenang-senang dengan meninggalkan ibadah, ataupun berbuat dosa, seperti mabuk baik minuman keras maupun narkoba. Nabi menyatakan, 
"Apabila banyak dikonsumsi memabukkan, maka sedikit pun haram."


Jadi, Islam tidak memandang kandungan alkohol atau sedikit banyaknya narkoba yang dikonsumsi karena semuanya haram.

Hal lain yang perlu dihindari adalah berutang demi sekadar untuk berlibur. Utang bisa dalam bentuk uang tunai ataupun kartu kredit yang nantinya bisa membebani di kemudian hari. Bahkan, ada juga Muslim yang melakukan ijon dengan menjual barang-barang produksinya untuk mendapatkan uang agar bisa berlibur.

Kalau Anda tak punya dana untuk berlibur, jangan memaksakan diri. Isi masa liburan untuk meningkatkan pemahaman keluarga pada ajaran Islam. Mengikutkan anak pada acara pesantren kilat liburan merupakan salah satu alternatif yang baik. Saat ini pesantren kilat tidak hanya diselenggarakan pada bulan Ramadhan, tetapi ada juga yang diselenggarakan saat liburan sekolah.

Bisa juga menata rumah agar menjadikan surga (baiti jannatii), misalnya bersih-bersih, mempercantik tampilan rumah, belajar memasak dan membuat kue. Liburan juga bisa diisi dengan menyambung kembali silaturahmi dengan keluarga atau teman yang telah lama tidak bertemu. Orang tua juga bisa mengajak anak-anaknya untuk mengasah simpati dengan berkunjung ke panti asuhan, panti jompo, atau tempat pengungsian korban bencana, sehingga anak akan selalu ingat untuk selalu bersyukur dan sabar.

Selamat berlibur!***

[Ditulis oleh: H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 22 Desember 2011 / 26 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Dalam situasi perekonomian yang kian terpuruk, serta pergaulan dan persaingan hidup yang semakin ketat dan berat, kini banyak orang terkena stres berat. Hidup seperti kehilangan pegangan, bahkan tidak sedikit orang kemudian terjerumus ke lembah maksiat dan dosa.

Bagi orang yang beriman, seharusnya tidak terjerumus ke dalam situasi seperti itu karena baginya masih mempunyai tempat untuk mencurahkan segala macam problematika hidup ini kepada Allah SWT. melalui doa yang ikhlas, khusyu' dan benar.

Berdoa bagi seorang Muslim hukumnya wajib. Allah mengategorikan orang yang tidak mau berdoa sebagai manusia takabur. Orang ini merasa dirinya mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya dan mengatasi segala persoalan hidupnya. Orang seperti itu diancam Allah tempat kembalinya kelak adalah neraka jahanam.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim, Rasulullah SAW. menjelaskan bahwa ikhtiar dan upaya manusia tidak ada faedahnya ketika takdir Allah datang. Karena takdir Allah ada di atas ikhtiar dan usaha manusia. Akan tetapi, doa itu sangat bermanfaat bagi hal-hal yang sudah menimpa kita dan yang belum menimpa kita.
Allah SWT. telah memberikan jaminan akan memenuhi setiap doa hamba-Nya, sebagai firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah Kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. (QS. Ghaafir : 60)

Selain itu, tentu saja dengan memperhatikan dan memenuhi segala ketentuan dan adab-adab lainya dalam berdoa, antara lain:
  • Pertama, syarat utama dikabulkannya doa adalah hadirnya hati yang disertai optimisme bahwa Allah akan mengabulkannya. Sebagaimana diriwayatkan Imam Tarmidzi dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW. bersabda,
    "Berdoalah kepada Allah dan kamu yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai dan lupa."
  • Kedua, tidak terburu-buru dan putus harapan dalam berdoa. Dalam hadits Imam Bukhari, Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa
    Allah akan memenuhi setiap doa asal tidak terburu-buru dan putus harapan dengan mengatakan, "Aku sudah berdoa, tetapi tidak diijabah juga."
  • Ketiga, berdoa dengan suara yang lembut, dengan perasaan takut tidak dikabul, tetapi besar keiinginan untuk dikabul,
    ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
    وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
    Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A'raaf: 55-56)


    Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, suatu hari datang kepada Nabi SAW. seorang Arab bertanya tentang Allah itu dekat atau jauh. Jika dekat, ia berdoa dengan berbisik, tetapi jika jauh akan berteriak. Jawabannya malah langsung dari Allah dengan turunnya Surat Al Baqarah: 186, yang menegaskan bahwa Allah itu dekat.
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّيفَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
    Maka sesuai dengan logika pertanyaan sahabat tadi, berdoa bukan dilakukan dengan suara keras-keras sampai tegang urat leher, bahkan mengganggu orang sekitar, melainkan dengan lembut. Ingat kita sedang berdoa kepada Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.
  • Keempat, apik dalam makan, minum, pakaian, dan segala kebutuhan hidup, jangankan yang jelas-jelas haram yang subhat pun harus dihindari, baik zatnya maupun cara perolehannya. Di antara penghalang dikabulkannya doa adalah manakala seseorang tidak mempedulikan halal dan haram dalam mendapat rizkinya. Sebagaimana ditetapkan dalam hadits sahih, Rasulullah SAW. bersabda,
    "Seorang laki-laki mengulurkan kedua tangannya ke langit, seraya berkata, "Wahai Tuhanku, sementara makanannya, haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan haram, maka bagaimana doanya bisa dikabulkan." (HR. Muslim dan yang lainnya)
  • Kelima, Allah akan menggantikan permintaan hamba dengan sesuatu yang mengandung kebaikan. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa'id RA., Rasulullah SAW. bersabda,
    "Tidak ada seorang Muslim yang berdoa dengan suatu doa, yang di dalamnya tidak ada unsur perbuatan dosa atau pemutusan silaturahim kecuali Allah akan memberikan kepadanya tiga pilihan. Pertama, segera mengabulkan doanya, kedua, menyimpannya untuk di akhirat, dan ketiga, melepaskannya dari kesulitan." (HR. Hakim)
Berdoa itu bisa dilakukan kapan dan di mana saja, tetapi ada saat-saat doa kita besar harapan untuk diijabah, antara lain : Ketika wukuf di padang Arafah (ketika ibadah haji), antara azan dan ikamat (HR. Nasai), pada hari Jumat, Imam Ahmad meriwayatkan setelah shalat Ashar hari Jumat, dalam Shalat Tahajud (Imam Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah SAW. bahwa setiap dini hari Allah turun ke bumi dan mengimbau, "Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku saat ini pasti Aku kabulkan. Barangsiapa meminta pasti aku beri, dan Barangsiapa yang beristighfar pasti aku ampuni."), dalam sujud, Imam Muslim meriwayatkan anjuran Nabi SAW. yang menyatakan,
"Saat yang paling dekat seorang hamba Allah adalah ketika sedang sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa."

Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berdoa, dan dikabul doanya oleh Allah SWT. Akan tetapi ada orang-orang yang mempunyai peluang yang lebih untuk diijabah doanya, antara lain orang tua untuk anaknya, orang yang dizalimi untuk yang menzaliminya, musafir, orang yang sedang shaum, pemimpin yang adil.

Mengenai redaksi doa, ada yang sudah mashyur, yakni dengan meminjam redaksi dari ayat-ayat Al-Qur'an, dan hadits-hadits Nabi SAW., dengan memahami maknanya agar tepat sasaran. Atau menggunakan redaksi dan bahasa sendiri, sesuai kebutuhan masing-masing.

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh H. EDDY SOPANDI, peserta majelis taklim di beberapa masjid antara lain Al-Furgon UPI, Istiqomah, Viaduct, Salman ITB. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 16 Desember 2011 / 20 Muharam 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Seorang sahabat yang tinggalnya dari wilayah jauh, suatu hari datang menghadap Rasulullah SAW. "Wahai Rasulullah, saya datang dari dusun yang jauh menghadap untuk berikrar kepadamu bahwa saya siap hijrah melaksanakan perintahmu dan berjuang menegakkan titahmu. Saya juga siap mati melaksanakan perintah agama," kata pemuda tersebut.

Rasulullah SAW. bertanya, "Baik. Apakah kau masih mempunyai ayah ibu atau salah seorang di antara keduanya masih hidup?"

"Wahai Rasulullah, malah keduanya masih hidup. Oleh karena itulah, saya siap melaksanakan tugas berat sebab ayah dan ibu masih hidup."

"Baiklah. Jika ayah dan ibumu masih ada, kembalilah ke rumah, berbuat baiklah kepada ayah ibumu. Setelah kamu secara maksimal berbuat baik pada ayah ibumu, kami akan segera memanggilmu agar segera berangkat ke medan perjuangan," ujar Rasulullah SAW.

Kita renungkan dialog antara Rasulullah SAW. dan pemuda itu. Jihad dengan berbakti kepada kedua orangtua ternyata lebih disarankan Rasulullah SAW. daripada berjihad di medan perang. Sekarang ini kita dihadapkan pada kenyataan munculnya krisis kewibawaan orangtua. Krisis hubungan antara ayah dan ibu dengan anaknya maupun sebaliknya, pada era modern ini memaksa hubungan yang tak harmonis yang berakhir kepada konflik keluarga.

Bukan hanya terjadi kekerasan antara suami kepada istrinya, istri kepada suami, bahkan anak juga kerap melakukan kekerasan kepada orang tuanya. Hal semacam itu sudah menjadi hal biasa dalam keseharian. Malah media massa sering memberitakan kekerasan di dalam rumah tangga antara suami, istri, dan anak-anaknya.

Sering kita menyatakan dusta sebagai dosa, tetapi kita kerap lupa bahwa membentak orangtua juga dosa yang lebih besar daripada dusta. Kita sebagai anak sering merasa sudah memiliki keimanan yang tinggi karena sudah melaksanakan shalat dan shaum (berpuasa), tetapi melupakan kewajiban lain yakni menghormati dengan sungguh-sungguh kepada orang tua. Padahal, menghormati dan patuh kepada orangtua merupakan ciri utama seorang Muslim.

Meski data lama dan terjadi di Jepang, patut kita renungkan. Pada tahun 1978 sebuah lembaga penelitian di Jepang mencatat adanya 6.763 kasus kekerasan yang dilakukan anak-anak. Mereka terlibat dalam berbagai tindak kejahatan dan sangat menyedihkan 4.288 kasus (80 persen) dari 6.763 kasus itu dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun! Lalu dua tahun kemudian dilakukan penelitian lagi yang ternyata hasilnya kenakalan anak-anak meningkat hampir dua kali lipat. Lebih aneh lagi, dari 9.058 kasus kenakalan anak-anak, 7.108 kasus dilakukan anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Fenomena berbeda terjadi di Jerman Barat (saat belum menjadi Jerman bersatu dengan Jerman Timur). Mereka mencatat 2,5 persen dari jumlah seluruh anak di Jerman melakukan tindak kekerasan. Sementara itu, Amerika Serikat mencatat angka 5,9 persen dari jumlah anak-anak melakukan tindakan kekerasan. Bagaimana dengan Indonesia? Sampai sekarang belum ada data resmi mengenai kasus-kasus kekerasan dan kejahatan yang dilakukan anak-anak.

Dalam sebuah pidato, Rasulullah SAW. pernah bertanya kepada para sahabat dengan pertanyaan yang membangkitkan perhatian luar biasa, "Wahai para sahabat, amal apa saja yang paling dicintai Allah (ayyul'amal ahabbu ilallah)?"

Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."

"Amal yang paling dicintai Allah adalah pantas kamu lakukan adalah shalat di awal waktu, kedua berbuat baik kepada ayah dan ibu serta ketiga berjuang menegakkan amalan di jalan Allah," ujar Rasulullah SAW.

Hadits itu sangat tegas menyatakan berbuat baik kepada orang tua termasuk di antara tiga amal besar yang paling dicintai Allah. Pantas Al-Qur'an menyatakan berbuat baik kepada orangtua merupakan rangkaian dari tiga amal besar yang menjamin keselamatan manusia. 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An Nisa: 36)

Allah juga menyatakan, "Allah telah menetapkan sesuatu hukuman yang pasti/suatu ketetapan yang pasti yaitu janganlah menyembah kecuali Allah. Setelah itu hendaklah berbuat baik kepada orangtua.

Ungkapan-ungkapan hampir senada juga dapat kita temukan dalam Al-Qur'an dan sunnah nabi. Intinya menegaskan berbuat baik kepada ayah dan ibu merupakan bagian terpenting dari tiga amal utama.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW. bertanya kepada para sahabatnya. "Wahai kaum Muslimin, inginkah aku tunjukkan dosa paling besar di antara dosa-dosa besar?" Para sahabat menjawab, "Baiklah wahai Rasulullah, tentu kami ingin mendapatkan penjelasan darimu tentang dosa paling besar di antara kelompok dosa-dosa besar."

"Pertama, menyekutukan Allah dan ini dosa paling besar. Kemudian menyakiti ayah atau ibu," jawab Rasulullah SAW.

Semoga anak-anak kita dijauhkan dari perbuatan tak menghormati kedua orangtuanya sebagai dosa besar yang berdampak langsung di dunia maupun akhirat. Sebagai orangtua, kita juga berkewajiban mendidik dan membiasakan anak-anak agar selalu taat kepada Allah, rasul, dan orang tuanya. ***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI. Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, serta pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 15 Desember 2011 / 19 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Suatu hari, saya kedatangan seorang kawan lama yang kini menjadi pengusaha terkenal. Ia meminta referensi pada saya tentang lembaga pendidikan Islam di Jawa Barat yang bagus, untuk anaknya. Ia ingin anaknya memiliki basis akidah yang kuat, untuk menghadapi persaingan global yang kian ketat. Ia khawatir, jika akidah anaknya lemah, nanti anaknya akan habis terlibas dan menjadi seperti buih di atas samudra.

"Allah mengamanatkan pada kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik fisik, mental, maupun spiritualnya," katanya sambil mengutip Al-Qur'an Surat An-Nisaa ayat 9 yang diucapkannya dengan sangat fasih.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Tanpa harus berpikir lama, saya langsung menyebut beberapa nama pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang cukup ternama. Selain dari sisi keilmuannya, juga dari sisi manajemennya, dari yang relatif murah hingga yang cukup mahal. Belum selesai saya menyebutkan nama-nama pesantren, ia langsung memotong, "Saya sudah tahu semuanya, tetapi saya ingin lembaga pendidikan agama yang bersih dan tidak jorok. Selain anak saya harus cerdas, ia pun harus sehat."

Saya menatapnya. Saya yakin ia bukan basa-basi, mahal bukanlah masalah baginya. Ia seperti paham pada tatapan saya. Sambil tersenyum ia mengatakan, ia sudah cukup lama mencari di internet lalu berkeliling Jawa Barat mencari sekolah dan pesantren kesohor, termasuk yang bertarif cukup mahal. Akan tetapi, ia belum menemukan lembaga pendidikan Islam yang benar-benar bersih. dan menerapkan pola hidup sehat. Saya tidak bisa bicara karena saya tahu persis sejak zaman sekolah dulu, kawan saya termasuk orang paling apik dan berseka.

"Saya merasa kecewa," ucapnya lagi, "Kenapa tidak ada lembaga pendidikan Islam yang betul-betul memerhatikan soal sanitasi dan kebersihan lingkungan? Kenapa kebersihan malah menjadi milik orang lain? Padahal, setahu saya, Islam adalah agama yang suci dan sangat mengutamakan kebersihan dan kesehatan. Tetapi implementasinya jauh panggang dari api."

Kawan saya boleh jadi betul. Kalau mau jujur, kita memang agak kesulitan menemukan lembaga pendidikan berbasis Islam yang mengutamakan kebersihan dan kesehatan dalam penyelenggaraan pendidikannya. Kalaupun ada, hanya satu dua, itu pun. belum maksimal. Padahal posisi kebersihan dan kesehatan dalam Islam berada pada urutan penting. Sampai-sampai Rasulullah SAW. menempatkan kebersihan menjadi bagian dari iman.
"Annazhofatu minal imaan." (Kebersihan sebagaian dari iman.)

Beberapa tahun silam, sempat beredar julukan yang tidak enak didengar di kalangan masyarakat yang ditujukan pada orang-orang pesantren: santri budug. Kata yang memunculkan image kita terhadap ketertinggalan, lingkungan kumuh, air kotor, kamar pengap minim ventilasi, MCK tidak sehat, dan berpenyakit. Kata itu pula yang menyeret pada gambaran betapa lembaga pendidikan Islam tradisional tidak dapat mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur'an dan hadits dalam pola hidup keseharian santri-santrinya. Mereka hanya mengejar "ilmu" tanpa memedulikan makna yang terkandung dalam ilmu yang mereka pelajari. Padahal ulama menyandingkan ilmu dengan iman dan amal.

Bersih adalah bagian dari iman. Artinya, bersih harus selalu bersanding dengan ilmu dan menjadi denyut jantung amal (aktivitas). Akibat sikap yang seolah-olah mengesampingkan kebersihan dan kesehatan, masyarakat lalu memandang sebelah mata lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional dari sisi kesehatan.

Nilai-nilai Al-Qur'an dan hadits hanya ada di dalam kitab, dibaca di pesantren, di masjid, dan majelis taklim, kemudian dihafal tanpa aplikasi. Itulah sebabnya, Quraish Shihab dengan lantang mengajak Muslim untuk membumikan Al-Qur'an yang selama ini berada di kawasan samawi. Al-Qur'an (baca: fisiknya) selalu berada di atas kepala, dijunjung tinggi, dan dihormati, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terlupakan, terpinggirkan, tercecer, atau bahkan sama sekali tidak dipedulikan. Salah satunya, adalah kebersihan.

Al-Qur'an baru sebatas musabaqah, dilantunkan dengan suara merdu, diperlombakan, dan pemenangnya mendapat piala; Al-Qur'an belum menjadi detak jantung, belum mengalir dalam darah, belum menjelma dalam setiap aktivitas. Al-Qur'an belum ada dalam tutur kata, dalam tatapan mata, dalam pendengaran. Nilai-nilai Al-Qur'an belum masuk ke kamar mandi, ke toilet, ke tempat wudlu, ke pasar, bahkan belum menjelma dalam kehidupan para peserta didik di lembaga pendidikan Islam, belum menghiasi kamar-kamar, ruang makan, tempat belajar, dan WC mereka. Itulah sebabnya teman saya mengaku kecewa terhadap pola hidup dan lingkungan lembaga pendidikan Islam yang tidak bersih dan sehat.

Kebersihan dalam terminologi agama adalah thaharah, membersihkan segala bentuk kotoran, najis, dan hadas yang menempel pada tubuh —bahkan hati— agar diri tetap berada pada maqam yang qarib dengan Al-Khaliq, Sang Mahasuci yang mencintai kebersihan. 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Innallaha yuhibut tawaabiina wa yuhibbul mutathahhiriin (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertobat dan orang-orang yang bersih)." (QS. Al-Baqarah : 222)

Thaharah mesti dimaknai sebagai upaya maksimal membentuk pola fikir dan pola hidup bersih dan sehat. Islam sebagai agama yang suci menginginkan umatnya menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat. Tubuh bersih, pakaian bersih, dan lingkungan bersih. Sinyalemen ini termaktub dalam QS. Al-Mudatsir : 1-5,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
قُمْ فَأَنذِرْ
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
"Yaa, ayyuhal mudatsir, qum faandzir, wa rabbaka fakabbir, wa tsiyaabaka fathahhir, war rujza fahjur!" (Wahai orang yang berselimut, bangun, dan berilah peringatan, agungkanlah Rabb-mu, bersihkan pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa!)

Meskipun kitab ayat itu ditujukan kepada Rasulullah SAW., tetapi secara otomatis ditujukan kepada umatnya. Watsiyabaka fathahhir (bersihkan pakaianmu, bersihkan tubuhmu, bersihkan lingkunganmu). Hiduplah dengan pola hidup bersih dan sehat.

Menurut penelitian Unicef, kondisi kebersihan air dan lingkungan di sebagian besar daerah di Indonesia masih sangat buruk. Situasi ini menyebabkan tingginya kerawanan anak terhadap penyakit yang ditularkan lewat air. Pada 2004, hanya 50 persen penduduk Indonesia yang mengambil air sejauh lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran. Ukuran ini menjadi standar universal keamanan air. Di Jakarta, misalnya, 84 persen air dari sumur-sumur dangkal ternyata terkontaminasi oleh bakteri Faecal coliform.

Kebersihan mestinya bukan sekadar kebutuhan, melainkan harus menjadi bagian dari hidup, mendarah daging. Kebersihan menjadi pangkal dari kesehatan dan kesehatan merupakan jalan untuk beraktivitas. Islam memandang setiap aktivitas yang positif adalah ibadah. Ada kaidah ushul yang menjelaskan, "Maa laa yatimmul waajibu illa bihiifahuwa waajib (perkara yang menjadi penyempurna yang wajib, adalah wajib pula hukumnya)."

Dengan demikian, mempertahankan hidup agar tetap bersih adalah ibadah dan dikategorikan wajib. Kekhusyukkan beribadah sangat ditentukan oleh kondisi dan stamina tubuh, terutama ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, dan haji. Kekhusyukkan dan nilai ihsan tidak akan diraih secara maksimal ketika tubuh dalam keadaan sakit. Generasi Muslim tidak boleh lemah fisik, akal, hati, akidah, dan ekonomi. Semuanya dipengaruhi oleh pola hidup bersih dan sehat.***

[Ditulis oleh NANA SUKMANA, pengurus DKM Asy-Syifa STIKES Bhakti Kencana Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 9 Desember 2011 / 13 Muharam 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Hubungan antara rakyat yang dipimpin dan pemimpin yang memimpin harus harmonis. Berada dalam jalur kerja sama penuh kebajikan dan takwa (ta-awanu alal birri wat taqwa), sebagaimana perintah Allah SWT.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah : 2)

Pada ayat tersebut pula, Allah SWT. melarang siapa saja bekerja sama dalam dosa dan permusuhan (ta-awanu alal itsmi wal udwan).

Akan tetapi, akhir-akhir ini muncul kecenderungan memprihatinkan. Antara rakyat dan pemimpinnya sering bertolak belakang. Akibatnya, muncul keresahan, kekesalan, protes, serta kritik dari rakyat kepada pemimpin. Apakah hal itu semata-mata merupakan kesalahan pemimpin? Atau justru kejelekan pemimpin timbul akibat rakyat yang dipimpin sulit diurus.

Dialog antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW. dan seorang rakyatnya di bawah ini dapat dijadikan bahan renungan.
    Seorang penduduk datang kepada Khalifah Ali RA. mempertanyakan mengapa pada zaman Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., Utsman RA., keadaan aman damai tenang sejahtera. Sementara pada zaman Ali RA., rusuh dan ribut terus di mana-mana. 
    Jawab Sayyidina Ali KW., "Pada zaman Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., dan Utsman RA., rakyatnya semua seperti Ali RA. Sabar dan mengerti kondisi. Sementara pada zaman Khalifah Ali RA., rakyatnya semua seperti kamu. Mudah marah dan tak mau mengerti keadaan."
Sejarah mencatat, setelah zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., dan Utsman RA., kekacauan di kalangan umat Islam memuncak. Muncul berbagai (kelompok) politik, militer, dan keagamaan yang saling mengklaim kebenaran masing-masing. Mulai dari Syi'ah yang fanatik terhadap Ali RA., Jama'ah yang dianggap pendukung Muawiyah, dan Khawarij yang menolak keduanya. Pertentangan itu menimbulkan alfitnatul qubra (fitnah besar) yang memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam. Akibatnya, rakyat tercerai berai. Para pemimpin asyik sendiri. Hubungan rakyat dengan pemimpin ibarat kucing dan anjing. Tak pernah henti bertengkar.

Akibat lainnya yang lebih parah, tidak pernah muncul pemimpin yang benar-benar dicintai rakyat. Tak pernah ada pemimpin yang tegas terhadap segala penyimpangan hukum. Tak pernah ada pemimpin yang berani menindak dirinya sendiri, keluarganya, aparat-aparatnya, dan siapa saja yang melanggar aturan tanpa pandang bulu. Yaitu pemimpin yang disebut Mujahid fi sabilillah (Pejuang di jalan Allah) karena keberaniannya menegakkan hukum. Tak pernah ada pemimpin macam begjtu sekarang.

Yang lebih parah lagi, banyak muncul pemimpin yang egois. Mementingkan diri sendiri, menindas bawahan, dan memeras rakyat dengan berbagai cara kamuflase. Seolah-olah melakukan pembangunan, padahal sesungguhnya perasakan, sebab dana-dana pembangunan itu sebelumnya telah digerogoti terlebih dahulu. Rakyat hanya mendapat sepah-sepahnya. Berkomplot bersama konco-konconya untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Membiarkan rakyat menderita berkepanjangan, dan merasa cukup memperhatikan rakyat dengan memberikan sumbangan-sumbangan insidental dan temprorer. Akan tetapi, tidak pernah sungguh-sungguh membentuk struktur kesejahteraan yang permanen sehingga rakyat bebas dari kemiskinan dan kebodohan, karena dana untuk itu sudah habis disikat bersama komplotannya. Inilah yang disebut pemimpin jahat dan merusak (syarrul ri'ail huthamah) sebagaimana dinyatakan Nabi Muhammad SAW.

Sudah saatnya para pemimpin segera kembali kepada kewajiban mereka sebagai pemimpin yaitu menegakkan hukum yang tegas, tepat, dan tanpa pandang bulu. Jika hukum diabaikan dan dipermainkan, akan semakin mempercepat datangnya kehancuran bangsa dan negara.

Nabi Muhammad SAW. bersabada,
"In-nana ahlakallahul ladzina min qablikum, innahu idza saraqa fihimul syarifu taraquhu, wa idza saraqa fihimul dloifu aqamu alaihil haddu. (Kehancuran umat sebelum kalian, karena jika orang-orang elite di antara mereka mencuri, tidak diapa-apakan tetapi kalau orang kecil mencuri, hukum ditimpakan benar-benar.)" (Hadits Sahih Riwayat Imam Bukhari)

Selain itu, tunaikan janji-janji yang pernah diucapkan selama kampanye. Jangan pura-pura lupa. Sabda Nabi Muhammad SAW.,
"Ayyuma walin bataghatsan li ra'iyyatihi haramallahu alaihil jannata. (Setiap pemimpin ingkar janji, membohongi rakyat, tak akan diizinkan oleh Allah SWT. untuk memasuki surga.)" (Hadits Ibnu Majah)

Kemudian, rakyat juga harus memahami posisi sebagai yang dipimpin, Percayalah kepada hukum dan aturan yang berlaku bagi semua, termasuk bagi pemimpin. Jika pemimpin bersalah, percayalah, hukum yang akan bertindak Kekerasan dan anarkisme dalam menghujat pemimpin, justru akan mengundang masalah baru daripada menyelesaikan masalah yang sudah ada. Jika tampak gejala hukum dipermainkan, aparat penegak hukum mandul dan berpihak, bersabarlah.

Janji Allah SWT. lebih nyata daripada tindakan-tindakan tak bermoral para pemimpin yang mempermainkan rakyat, yang kelak akan dipertemukan dengan hari pembalasan bagi mereka.

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ
Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. (QS. Az Zukhruf: 83)

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 8 Desember 2011 / 12 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Nasihat itu adalah kebijaksanaan. Keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam menjalani kehidupannya. Nasihatlah yang dapat membuat seseorang menjadi bergairah kembali hidupnya.
Bila dilihat dari arti katanya, nasihat itu berarti ajaran atau pelajaran baik. Bisa juga diartikan sebagai anjuran (petunjuk peringatan, teguran) yang baik. Sementara menasihati berarti memberi nasihat. Orang yang memberi nasihat dinamakan penasihat.

Saking pentingnya perilaku nasihat-menasihati ini maka dalam sebuah organisasi di masyarakat biasanya ada yang ditunjuk sebagai penasihat. Hal itu tidak lain dimaksudkan untuk menjadikan penasihat sebagai sumber yang dapat memberi petunjuk dan masukan terhadap problematika kehidupan yang dihadapi masyargkat di kemudian hari. Kewajiban saling nasihat-menasihati pun merupakan ajaran agama yang perlu dilakukan umatnya dalam kehidupan sehari-hari demi kebaikan. Sampaikanlah kebaikan itu, sekecil apa pun pada orang lain. Misalnya, orang tua menasihati anaknya. Guru menasihati muridnya. Dosen menasihati mahasiswanya. Termasuk nasihat-menasihati di antara sesama teman. Namun, masalah-nya ego setiap manusia itu memiliki kecenderungan tidak menyukai kalau dirinya dinasihati oleh orang lain. Padahal, nasihat itu jelas-jelas untuk kebaikannya.

Gambaran tersebut tercermin pada kisah yang diabadikan Al-Qur'an dalam surat Al-A'raf : 73-79.

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِن قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُّرْسَلٌ مِّن رَّبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنتُم بِهِ كَافِرُونَ

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

Dalam ayat itu, dijelaskan kepada kaum Samud, Allah mengutus Nabi Saleh AS. Kemudian Beliau menyampaikan kepada kaumnya amanat Tuhannya dan memberi nasihat terpercaya kepada kaumnya. Namun, kaumnya tetap sombong dan lalai kemudian mengingkari apa yang disampaikan Nabi Saleh AS.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai." Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Mereka berkata, "Wahai Saleh! Buktikanlah ancaman kamu kepada kami, jika benar engkau Saleh seorang nabi." Lalu, datanglah gempa bumi menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka. Kemudian Dia (Saleh) pergi meninggalkan mereka sambil berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu, tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat."

Kisah tersebut telah memberi pelajaran pada kita akan perilaku ingkar terhadap nasihat kebaikan. Lebih-lebih itu adalah nasihat dari ajaran nabi dan Tuhannya. Padahal, kalau kita telaah lebih lanjut, kaum Samud merupakan kaum yang mendapat anugerah sebagai manusia yang tinggi dan besar secara fisik. Mereka hidup di lembah-lembah pegunungan dan dataran tinggi. Di tempat itu, mereka mendirikan rumah tinggal. Nikmat yang diberikan kepada mereka itu tidak menjadikan mereka semakin taat dan patuh kepada perintah Allah. Bahkan, mereka selalu mendustakan dan durhaka terhadap perintah dan larangan Allah yang disampaikan oleh nabi mereka, yaitu Nabi Saleh AS.

Ketaatan mereka diuji dengan seekor unta betina, Allah menyuruh mereka agar tidak mengganggu dan menyakiti unta betina yang sedang makan. Ujian ini untuk membuktikan apakah mereka mematuhi apa yang diseru atau sebaliknya, mereka durhaka. Ketika Nabi Saleh AS. tidak bersama mereka, mereka melakukan kedurhakaan dengan menyembelih unta betina itu. Karena mereka tidak patuh, Allah melaknat mereka hingga binasa. (Syaamil Al-Qur'an Terjemahan Tafsir Per Kata, 2010)

Di sini, kesadaran akan nasihat kebaikan dari orang lain, apalagi nasihat ajaran agama, tentu patut kita terima, kembangkan dan olah menjadi sesuatu yang bernilai positif. Jadikan nasihat itu menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan kualitas hidup kita. Dan jangan sampai nasihat itu justru kita dustai yang berakibat fatal melukai diri sendiri.

Selain itu, yang lebih penting diperhatikan bagi pemberi nasihat adalah cara memberikan nasihat. Sampaikanlah nasihat itu dengan cara sebaik mungkin. Lagi pula, banyak cara dan media yang bisa kita pakai dalam memberi nasihat. Bisa lewat kata-kata, cerita, keteladanan, dan lainnya. Pakailah cara yang efektif dan sesuai dengan sasaran orang yang kita nasihati agar apa yang dilakukan tersebut dapat membuahkan hasil. Yaitu nasihat kita dapat diterima oleh orang lain. Lalu, sudahkah kita melakukan nasihat-menasihati ini dengan cara yang bijaksana?
Dalam hal ini, ada ungkapan dari Imam Asy-Syafi'i terkait nasihat-menasihati yang patut kita aplikasikan dalam kehidupan keseharian. Beliau mengungkapkan, "Menasihati dengan kata-kata, bak muazin yang merdu suaranya. Menasihati dengan teladan mulia, akan jadi imam dalam segala."

Sungguh indah pesan Asy-Syafi'i itu. Jadi, diharapkan ketika kita meberikan nasihat pada orang lain, usahakanlah dengan kata-kata yang enak didengar. Dan bila kita melakukannya dengan cara perilaku keteladanan, maka buahnya akan menjadi panutan bagi siapa pun. Sehingga akhirnya, nasihat yang kita sampaikan itu tidak terdustakan.

Semoga! ***

[Ditulis oleh ARDA DINATA, pengasuh Majelis Inspirasi Al-Qur'an dan Realitas Alam / MIQRA Indonesia, http://www.miqraindonesia.com. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 2 Desember 2011 / 6 Muharam 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky

Pernahkah Anda tertawa? Jawabannya pasti ya. Tertawa merupakan sifat dasar seorang manusia sebagai karunia Allah SWT. kepada manusia. Dalam QS. An-Najm: 43, Allah SWT. berfirman,

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
Dan bahwasannya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.

Kalau kita kaji kamus bahasa Arab, ternyata kita temukan ada beberapa istilah tertawa. Di antaranya tabassum (tersenyum) yaitu tingkatan di bawah tertawa dan merupakan tertawa yang paling baik. Nabi Muhammad SAW. sendiri menyarankan umatnya agar menjadikan tersenyum sebagai sedekah.

Bahasa Arab juga mengenal antagha atau tertawa terbahak-bahak, alkhanna wal khaniinan (tertawa yang apabila ditampakkan berupa dengungan), thaikhun thaikhun (tertawa terbahak-bahak yang paling buruk), atthahthahatun (tertawa yang melengking), dan tertawa yang lebih dari tersenyum (alhanuufu). Sebagian orang Arab mengkhususkan yang satu ini dengan tertawanya para wanita.

Bagaimana dengan hukum tertawa dalam ajaran Islam? Menurut ulama mutakhir, Dr. Yusuf Qardhawi, sesungguhnya tertawa itu termasuk tabiat manusia. Binatang tidak dapat tertawa, karena tertawa itu datang setelah memahami dan mengetahui ucapan yang didengar atau sikap dari gerakan yang dilihat sehingga ia tertawa karenanya. Dari pendapat ini, bisa ditarik garis merah bahwa tertawa itu diperbolehkan.

Dalam dunia kesehatan dikenal beberapa manfaat dari tertawa, seperti yang disampaikan dr. William Foy yang menyatakan, tertawa setara dengan berolah raga. Tertawa juga bisa mengurangi infeksi paru-paru dan sakit jantung. Dr. Joseph Mercola dan Rachel Droge menyatakan tertawa meningkatkan selnangat dan kesehatan.

Dr. Lee Berk yang melakukan penelitian tertawa menyimpulkan, tertawa bisa mengurangi dua hormon dalam tubuh yaitu eniferin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit. Demikian pula dengan manfaat tertawa untuk mengurangi rasa nyeri atau sakit, seperti ditulis dr. Rosmary Cogan.

Dari sisi psikologi, ternyata tertawa juga membawa banyak dampak positif, seperti mengurangi stres, meningkatkan kekebalan tubuh seperti dinyatakan dr. W.M. Roan. Tertawa juga bisa menurunkan tekanan darah tinggi.

Manfaat tertawa juga dinyatakan ulama yang mengarang buku Laa Tahzan, Jangan Bersedih yakni Syaikh Aidh Alqarni yang menyatakan tertawa merupakan sedekah dan memberi kesan berseri dan optimistis. Tertawa juga obat penawar bagi rohani, jiwa, dan membuat ketenangan sanubari setelah lelah berikhtiar.

Hanya, ajaran Islam seperti dalam hadits sahih "Shabibul Jami" juga menyebutkan larangan memperbanyak tertawa karena banyak tertawa akan mematikan hati, Dalam hadits lainnya disebutkan, bisa membuat hati menjadi hitam dan kelam.

Rasulullah SAW. sendiri telah mencontohkan akhlak dalam tertawa yakni berupa senyuman yang menarik dan tidak tertawa kecuali apabila berhubungan dengan kebenaran. Selain itu, Rasulullah SAW. tidak berlebihan dalam tertawanya hingga tubuhnya bergoyang atau hingga tubuhnya miring atau hingga terlihatlah langit-langit mulut nabi.

Nabi juga menghindari tertawa yang bersifat gibah (gosip), menjelek-jelekkan atau memojokan orang lain (QS. Al Hujuraat: 11), fitnah, atau menyombongkan diri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dari Ka'ab bin Malik,
"Rasulullah apabila (ada sesuatu yang membuatnya) senang (maka) wajah beliau akan bersinar seolah-olah wajah beliau sepenggal rembulan." (HR. Al-Bukhari)

Imam Al-Ghazali berkata, "Jika demikian, haruslah sesuai dengan canda Rasulullah, tidak dilakukan kecuali dengan benar, tidak menyakiti hati dan tidak pula berlebih-lebihan." Maksudnya, tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras.

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata." (HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Aadab bab at-Tabassum wadh Dhahik)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,
"Yaitu, tidaklah aku melihat beliau berkumpul dalam hal tertawa, di mana beliau tertawa dengan sempurna dan suka akan hal tersebut secara keseluruhan."

Masih banyak lagi hadits yang menceritakan kisah senyuman dan tertawa Rasulullah SAW. yang seharusnya kita pelajari dan teladani.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal adanya tertawa sinis, tertawa menghina, merendahkan orang lain, ataupun tertawa yang menunjukkan kesombongan diri. Berhati-hatilah karena dari tertawa bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat salah paham atau salah mempersepsi.

Belum lagi dengan adanya perbedaan dalam adat istiadat, budaya, ataupun bahasa, sehingga salah pengertian kerap terjadi termasuk dalam memaknai tertawa. Islam tak mengharamkan tertawa, tetapi kita perlu mencontoh nabi dalam mengeluarkan gurauan maupun tertawa.

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 1 Desember 2011 / 5 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky