Di tengah-tengah kehidupan masyarakat sekarang ini, tidak jarang kita mendapati ada orang yang selalu bersedekah kepada orang lain, sementara sanak kerabat yang membutuhkan uluran tangannya terlewatkan.
Hal ini tentunya bukanlah perbuatan terpuji. Walaupun sedekah dapat diberikan kepada siapa saja dan dapat dikelola menjadi potensi ekonomi masyarakat, tetapi roh dari sedekah sebenarnya adalah untuk mempererat jalinan hubungan antar manusia dalam hubungan kekerabatan, hubungan antar tetangga, dan pembinaan masyarakat secara lebih luas.

Oleh karena itu, ajaran Islam menetapkan skala prioritas mengenai siapa saja yang harus didahulukan untuk dapat menerima sedekah yang kita keluarkan, dan perioritas yang harus didahulukan adalah bersedekah kepada sanak kerabat.

Diriwayatkan dari Anas RA., Beliau berkata,
"Abu Thalhah RA. adalah salah seorang sahabat Anshar yang paling banyak memiliki harta dari kebun kurma di Madinah. Harta kekayaan yang paling disukainya adalah kebun bairuha yang berhadapan dengan masjid. Rasulullah SAW. sering masuk ke kebun itu dan minum air yang bersih di dalamnya."

Anas pun mengatakan, ketika turun ayat yang berbunyi,

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai. (QS. Ali Imran: 92)"

Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW. Lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, Allah SWT. berfirman, 'Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai,' sedangkan harta yang paling saya cintai adalah kebun bairuha. Kini kebun itu saya sedekahkan karena Allah SWT., dengan harapan kebajikannya dan simpanan (pahala)nya di sisi Allah SWT., maka letakkanlah kebun itu wahai Rasulullah sesuai dengan apa yang diberitahukan Allah kepadamu."

Rasulullah SAW. bersabda, "Bagus! Itulah harta yang menguntungkan. Saya telah mendengar apa yang kamu katakan, dan saya berpendapat, sebaiknya kebun itu kamu jadikan sedekah kepada sanak kerabat."

Lalu, Abu Thalhah berkata, "Saya laksanakan ya Rasulullah." Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikan kebun itu untuk sanak kerabat dan anak-anak pamannya." (HR Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas, secara jelas memberikan tuntunan kepada kita untuk mengutamakan dan mendahulukan bersedekah kepada sanak kerabat sebelum bersedekah kepada orang lain. Bahkan bersedekah kepada kerabat yang membenci kepadanya atau kepada kerabat yang memutuskan ikatan kekerabatan itu lebih utama lagi. Hal ini dipandang sebagai sebaik-baiknya bersedekah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Kultsum bin Uqbah bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Sebaik-baik sedekah adalah kau berikan kepada kerabat yang membencimu." (HR. Hakim)

Mendahulukan bersedekah kepada kerabat merupakan bagian dari pokok-pokok kebajikan. Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 177, Allah SWT. berfirman,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dalam firman-Nya yang lain,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah: 215)

Tujuan dari mendahulukan bersedekah kepada sanak kerabat adalah untuk mempererat hubungan kekerabatan. Dalam ajaran Islam, mempererat hubungan kekerabatan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman. Pemberian sedekah itu menjadi gambaran keinginan untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan hubungan kekerabatan tersebut.

Ketika seseorang memberikan sedekah kepada sanak kerabat, ia mendapatkan dua pahala. Pertama, pahala sedekah itu sendiri, dan yang kedua, pahala menyambung tali kekerabatan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Salman bin 'Amir RA. dari Nabi SAW.,
"Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena mengandung berkah. Jika tidak ada, hendaklah dengan air karena air itu suci."

Beliau juga bersabda,
"Sedekah kepada orang miskin hanya mendapatkan pahala sedekah saja, sedang sedekah kepada sanak kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu sedekah dan menyambung tali kekerabatan." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Dengan demikian, para kerabat itu berhak untuk didahulukan dari pada orang lain dalam menerima sedekah. Allah SWT. berfirman,

فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS Ar-Rum: 38)

Untuk itu, ketika kita akan bersedekah, pertama-tama perhatikan dulu apakah ada kerabat kita yang miskin atau anak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita? Jika ada, merekalah yang harus didahulukan untuk menerima sedekah.

Allah SWT. berfirman,

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. (QS Al-Balad: 15)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu." (HR. Ahmad dan Muslim)

Selanjutnya, kepada tetangga kita yang fakir dan miskin juga seterusnya kepada yang lebih luas lagi, bila masih belum menemukannya dan kita tidak mengetahui lagi siapa yang harus kita beri sedekah, kita bisa menitipkannya kepada lembaga sosial atau pada Badan Amil Zakat yang terpercaya.
Wallahualam bissawab.***

[Ditulis oleh H MOCH HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 5 Januari 2012 / 11 Safar 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Mengeluh wajar-wajar saja, manusiawi, kodrat manusia memang suka berkeluh kesah seperti disebutkan Allah SWT. dalam QS. Al-Ma'arij 19-20,

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.

Tetapi kalau kita terlalu gampang mengeluh, maka hal tersebut akan membuat kita menjadi hamba yang kurang bersyukur terhadap semua nikmat Allah dan akan merupakan ciri-ciri kurangnya keikhlasan kita terhadap segala pengaturan-Nya. Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah pemandangan sehari-hari kehidupan di kota. Pekerjaan rumah tangga menumpuk karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh. Tugas di kantor atau di sekolah bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan keluhan. Cobalah ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi.

Cobalah mulai mensyukuri semua nikmat yang ada, nikmat kesehatan, kemudahan urusan, rezeki, nikmat karunia anak, rumah, jalan keluar dari kesulitan yang dialami dan sebagainya.

Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Sesekali mengeluh tidak mengapa, asal jangan menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter yang sulit dihapus dari kepribadian seseorang.
  1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata.
    Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah SWT. Karena Dia-lah Yang Maha Tahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita.

    قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (QS. Yusuf : 86)

    Dekatkan diri pada Allah, tafakuri semua yang ada dalam hidup, mulailah belajar mensyukuri semua karunia-Nya.
  2. Kita harus ingat, bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa dicari solusinya.
    Mohonlah bantuan pada Allah SWT. dan sebaiknya, lebih baik memikirkan, mencari dan membicarakan solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi, daripada sekedar mengeluh.
  3. Jangan membesar-besarkan masalah.
    Anas bin Malik RA. berkata,
    "Saya melayani Rasululullah SAW. selama dua puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa engkau melakukan itu?'" (HR. Muslim)

    Jadi biarkan saja hal-hal sepele yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.
  4. Bicaralah tentang nikmat Allah.
    Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup kita, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Dengan bersikap seperti ini, bukan hanya membantu kita menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu mensyukuri nikmat Allah,

    فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
    Lalu nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? (QS. Ar-Rahmaan)
  5. Ingatlah mereka yang lebih kurang beruntung.
    Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka yang kurang beruntung dari kita. Bacalah berita-berita tentang orang lain yang menderita di bagian dunia lain.
    Bacalah tentang kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang kehidupan para tunawisma di lingkungan kita sendiri.
    Sesekali berinteraksilah dengan mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur kepada Allah atas apa yang kita miliki.
  6. Kurangi stres dalam hidup.
    Berdzikir dan membaca Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran kita. Perbanyaklah dzikir untuk mengurangi stres.
  7. Belajarlah dari orang-orang terdahulu (pengalaman).
    Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang penting dan pengalaman para Nabi, sahabat Nabi dan generasi-generasi muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka menghadapi masalah.
  8. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan.
    Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu, apakah kita merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.
  9. Bicaralah seperlunya.
    Jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan masih menemukan diri kita masih terlalu banyak mengeluh, mungkin itu karena kita sudah terlalu banyak bicara. Jangan biarkan setan yang mengarahkan kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya.
Wallahua'lam bishshowab.***

[Dikutip dari tausiyah Ust. MUHAMMAD ARIFIN ILHAM. Tulisan disalin dari situs http://www.mushollarapi.blogspot.com/]

by

u-must-b-lucky
Manusia makhluk yang paling sempurna dan mulia, baik dalam penciptaannya maupun dalam keberadaannya sebagai makhluk.


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra: 70)

Allah memberikan kemudahan, kelancaran, kelapangan, kesejahteraan, dan kemuliaan dalam kehidupan manusia. Kita hanya diberi tugas sebagai khalifah untuk mengatur dan memelihara dunia ini untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Kelebihan dan kemuliaan ini harus dipelihara. Jangan dibiarkan terjerumus dalam kehinaan dan kenistaan.

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

Salah satu bentuk kemuliaan yakni suami dan istri harus dapat menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Kesucian diri dari melakukan maksiat dan perzinaan. Sering kali perzinaan dan perkosaan telah terjadi di mana-mana, terutama di kalangan usia remaja. Para orangtua belum dapat mencegah secara optimal kepada putra putrinya dari masalah perzinaan.

Hal itu disebabkan pergaulan bebas belum bisa dicegah secara utuh dan ajaran agama yang dianutnya hanya masih bersifat wacana. Sesungguhnya Allah SWT. melarang perbuatan zina dengan melarang unsur-unsur yang mendekatkan orang berbuat zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra: 32)

Pelaku zina bukan hanya dia berdosa dan diancam dengan azab neraka di akhirat kelak, tetapi di dunia pun ia terhina dan dikucilkan di tengah masyarakat. Berarti diri dan kehormatannya terinjak. Akankah perbuatan itu harus terus berlangsung? Hendaknya kita memelihara jiwa, diri, dan kehormatan dari kehinaan dan kenistaan.

Selain itu, suami dan istri harus bisa menjaga kebaikan keturunannya. Memelihara jiwa, diri, dan kehormatan dari perbuatan zina merupakan bagian dari memelihara keturunan. Selain itu, memelihara keturunan juga bisa menjaga keutuhan, keharmonisan, ketenangan, dan keberlangsungan kehidupan rumah tangga.

Rasulullah memberikan contoh kecil pada sebuah haditsnya dalam membina dan memelihara keturunan seseorang, yaitu bahwa dia tidak boleh saling mencaci bapak dan ibu masing-masing di antara kita, sebagaimana dalam potongan haditsnya,


"...fa yasubbu abaahu wa yasubbu ummahu" (dilarang masing-masing kita mencaci ayah dan ibu orang begitu pula sebaliknya).
Menjaga keturunan harus terlibat seluruh personal anggota keluarga itu. Jika salah seorang baik, seluruh akan terbawa baik. Akan tetapi, jika salah seorang buruk, semua akan kena getahnya.

Tugas lain dari orangtua dalam keluarga adalah menjaga kemaslahatan harta bendanya. Orang yang memelihara harta bukan termasuk hubbud dunyaa (cinta dunia) dan takut mati. Akan tetapi, bagaimana harta dunia yang ia miliki harus menjadi perantara atau sarana dalam berbakti dan beribadah kepada Allah SWT.
Dunia perlu dijaga dan dipelihara. Memelihara dunia bukan karena takut dicuri orang tetapi bagaimana dunia/harta yang dimiliki itu dari mana diperolehnya. Apakah dari jalan yang halal atau haram? Lalu, ke mana harta itu digunakan? Apakah untuk foya-foya atau untuk ibadah?

Sering kali terjadi di masyarakat seseorang mencari harta tanpa mempertimbangkan halal dan haram. Banyak di antara mereka berkata, "Mencari harta yang haram saja sulit apalagi yang halal."

Bukankah kita mengetahui bahwa harta yang dimakan dari jalan haram maka akan timbul dan tumbuh seluruh aktivitasnya mengarah kepada perbuatan haram. Pikirannya selalu condong kepada yang diharamkan. Sari pati makanan itu meresap ke mata, maka mata itu ingin selalu melihat yang diharamkan. Sari pati makanan itu meresap ke kaki, maka kaki itu akan selalu ingin melangkah ke tempat-tempat yang diharamkan, begitu seterusnya.

Terakhir, menjaga kemaslahatan agama yang akan menjaga kita dari kekacauan, kehancuran, dan kebinasaan dalam menempuh kehidupan dunia hingga menghadap Allah pada kehidupan akhirat kelak.

Dalam menjalankan agama Islam ada lima pokok ajaran yang harus dilaksanakan, yang dikenal dengan Rukun Islam. Lima perkara ini adalah asas terbesar dan rukun terpenting dalam Islam. Rasulullah menggambarkan agama Islam seperti sebuah kemah yang disangga oleh lima batang tiang. Tiang tengahnya adalah syahadat, sedangkan empat tiang lainnya adalah tiang pendukung untuk menyangga keempat sudut kemah itu. Tanpa tiang tengah, kemah itu tidak akan berdiri tegak, sedangkan jika satu tiang dari keempat sudut itu tidak ada, kemah itu masih bisa berdiri tetapi kondisinya miring dan tidak sempurna.

Setelah membaca hadits ini, mari kita lihat keadaan kita, keadaan rumah tangga kita, sejauh mana kita tegakkan tiang-tiang Islam itu dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga kita. Di antara lima tiang itu, tiang manakah yang kita tegakkan dengan sempurna?

Wallahu a'lam.***

[Ditulis Oleh H. HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL AYDARUS, Ketua Yayasan Assalaam dan mantan Ketua PW NU Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 29 Desember 2011 / 4 Safar 1433 H, pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, apakah itu sakit ringan ataupun sakit berat. Namun, baik ringan maupun berat, setiap orang berbeda dalam menyikapinya. Bagi sebagian orang, sakit ringan bisa dirasakan begitu menyiksa sehingga terlihat lebih berat dari semestinya. Akan tetapi, bagi sebagian lagi, sakit berat bisa dirasakan ringan jika hati menerimanya dengan ikhlas. Ada anak muda yang terlihat menderita gara-gara jerawat tumbuh di wajahnya. Ia tidak mau keluar rumah karena malu memiliki jerawat yang mengganggu penampilannya. Akan tetapi, ada juga orang yang diberi penyakit berat tetapi ia tetap tegar dengan penderitaannya. Ia tetap beraktivitas seolah-olah tidak sakit.

Secara umum, kondisi sakit mempunyai dua sisi rasa. Namun, yang kerap kita rasakan hanya salah satu sisinya, yakni penderitaan. Sisi lain berapa hikmah dan kenikmatan di balik sakit sering kali kita lupakan. Padahal, jika kita mau merenungkannya, banyak hikmah yang dapat dipetik dari sakit yang diderita.

Beberapa hikmah itu adalah sebagai berikut,
  • Pertama, secara medis sakit merupakan suatu peringatan (warning) mengenai tingkat kekuatan tubuh kita. Jika tubuh kita mengalami satu kondisi, kemudian berakibat sakit, hal itu merupakan peringatan agar kita menghindari kondisi yang sama yang dapat menyebabkan sakit tersebut. Sakit juga memberi kesempatan kepada kita untuk beristirahat dan berkonsultasi dengan dokter sehingga penyakit yang ada tidak menjadi lebih parah dan sulit diobati. Tak jarang, sakit yang dialami mencegah seseorang agar tidak terkena penyakit yang lebih berat lagi.
  • Kedua, sakit dapat menjadi penggugur dosa. Penyakit yang diderita seorang hamba menjadi sebab diampuninya dosa yang telah dilakukan, termasuk dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersama dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Ketiga, orang yang sakit akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan." (HR. Muslim)
  • Keempat, sakit dapat menjadi jalan agar kita selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit biasanya orang merasa benar-benar lemah, tidak berdaya, sehingga ia akan bersungguh-sungguh memohon perlindungan kepada Allah SWT. Zat yang mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang menuntunnya untuk bertobat.
  • Kelima, sakit bisa menjadi jalan kita untuk membersihkan penyakit batin. Pendapat Ibnu Qayyim, "Kalau manusia itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan jiwanya beku. Oleh karena itu, musibah dalam bentuk apa pun adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya, akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan, pahalanya pun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha."
  • Keenam, sakit mendorong kita untuk menjalani hidup lebih sehat, baik sehat secara jasmani maupun rohani. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru ketika sakit. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh nikmat.
  • Ketujuh, secara sosial sakit mengajarkan kepada kita bagaimana merasakan penderitaan orang lain, seperti halnya puasa yang mendidik kita agar mengetahui bagaimana pedihnya rasa lapar dan dahaga yang dialami kaum papa. Rasa sakit harusnya melahirkan kepekaan sosial yang lebih tinggi.
Kapan rasa sakit bisa berubah menjadi nikmat dan karunia? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim agar sakit yang diderita menjadi karunia dan memiliki hikmah yang sangat tinggi.
  • Pertama, terimalah segala musibah dengan ikhlas. Hal ini merapakan manifestasi dari keimanan kita kepada Allah bahwa segala sesuatunya sudah digariskan oleh Yang Mahakuasa.
    مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
    Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)
  • Kedua, sabar saat ditimpa penyakit. Boleh jadi penyakit yang menimpa kita merupakan ujian yang diberikan oleh Allah SWT. sebagai salah satu cara untuk mengetahui kadar keimanan kita. Artinya, seseorang tidaklah terbukti beriman jika ia tidak tahan terhadap ujian yang menimpanya. Selain itu, ujian merupakan salah satu wujud kecintaan Allah terhadap suatu kaum. Hal ini dikabarkan oleh Rasulullah SAW. dalam hadits,
    "Sesungguhnya Allah Azza wa jalla jika mencintai suatu kaum, Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barang siapa yang sabar, maka dia berhak mendapatkan (pahala) kesabarannya. Dan barang siapa marah, maka dia pun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya." (HR. Ahmad)
    Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman,
    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
    أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar
    (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
    Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)
  • Ketiga, berobat. Hal ini merapakan salah satu bentuk ikhtiar jika kita ditimpa penyakit sebab kita tak dianjurkan membiarkan sakit kita bertambah parah tanpa diobati. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Berobatlah kalian. Karena setiap Allah menciptakan penyakit, pasti Allah juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja." Para sahabat bertanya, "penyakit apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Penyakit tua." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Wallahua'lam bish-shawwab.***

[Ditulis oleh YADIN BURHANUDIN, staf pengajar STAI. Persatuan Islam Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 30 Desember 2011 / 5 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan Dia (Allah) Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (kufur nikmat). (QS. Ibrahim: 34)
Membaca merupakan perintah pertama Allah dalam Al-Qur’an yang ditujukan langsung kepada manusia pilihan-Nya, Rasulullah SAW. melalui wahyu pertama.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
‘Iqra’ (bacalah) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (QS. Al-Alaq: 1)


Membaca di sini harus difahami dalam arti yang luas karena memang objek membaca dalam wahyu pertama tersebut tidak dibatasi dan tidak ditentukan; Bacalah! Berarti beragam yang layak dan harus dibaca. Salah satu objek terbesar yang harus dibaca adalah kasih sayang Allah SWT. yang terhampar di seluruh jagat raya ini tanpa terkecuali. Semuanya adalah bukti dan tanda kasih sayang Allah SWT. untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Untuk itu, ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah SWT. yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim lagi sangat ingkar nikmat.

Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan wahdatul Qur’an kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah SWT. yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
Allahlah Yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia pula telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (QS. Ibrahim: 32-33)


Ayat yang senada dengan ayat di atas dalam bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhluk-Nya sekaligus perintah-Nya untuk membaca hamparan karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam penutup ayat ini Allah SWT. hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ibnu Katsir mengungkapkan penafsirannya dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah SWT. dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenanya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib: “Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.

Membaca kasih sayang Allah merupakan langkah awal mensyukuri nikmat-Nya. Untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan syukur nikmat, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dipenuhinya:
  • Pertama, Mengekpresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut.
  • Kedua, Mengapresiasikan rasa syukur atas nikmat tersebut dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian.
  • Ketiga, Membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Nikmat.
  • Keempat, Mengembangkan dan memberdayakannya agar melahirkan kenikmatan yang lebih besar di masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah SWT. dalam firman-Nya:

    لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
    Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. (QS. Ibrahim: 7)
Di sini kesyukuran justru diuji apakah dapat membuahkan kenikmatan yang lain atau malah sebaliknya, menghalangi hadirnya nikmat Allah SWT. dalam bentuk yang lainnya.

Ternyata memang mega proyek Iblis terhadap manusia adalah bagaimana menjauhkannya dari kasih sayang Allah SWT. sehingga mereka senantiasa hanya membaca ujian dan cobaan yang menimpanya agar mereka tidak termasuk kedalam golongan yang mensyukuri nikmat-Nya. Padahal secara jujur, kasih sayang Allah SWT. dalam bentuk anugerah nikmat-Nya pasti jauh lebih besar daripada ujian maupun sanksi-Nya. Di sini, kelemahan manusia membaca nikmat merupakan keberhasilan proyek iblis menyesatkan manusia. Allah menceritakan tentang proyek Iblis tersebut dalam firman-Nya:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.
Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. (QS. Al-A’raf: 16-17)


Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Dalam bahasa Prof. Mutawalli Sya’rawi, “Syaitan akan datang kepada manusia dari titik lemahnya (ya’tisy Syaithan min nuqthah dha’f lil insan).” Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur. Allah SWT. pernah berpesan kepada Nabi Daud AS. dan keluarganya agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya:


اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). (QS. Saba': 13)

Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah SWT. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain, su’uzhan dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang sedikit.

Wallahu a’lam.***

[Ditulis oleh DR. ATTABIQ LUTHFI, MA. Tulisan disalin dari situs http://www.mushollarapi.blogspot.com/]

by

u-must-b-lucky
Hari Jumat? Ih seram. Kalimat itu yang sering penulis dengar ketika mengisi ceramah remaja di salah satu radio swasta di Bandung. Penggambaran Jumat seperti di televisi dikaitkan dengan hal-hal gaib dan menyeramkan, sehingga setiap malam Jumat selalu diputar film-film berbau mistik.
Padahal Jumat merupakan hari besar kita sebagai kaum Muslimin. Dalam banyak riwayat, amat dianjurkan untuk menyuburkan amal saleh pada hari ini, bahkan sejak malam Jumat, karena hitungan hari dalam tahun Qomariyah (Hijriah) dimulai yaitu sejak terbenamnya matahari (maghrib). Oleh karena itu, suasana pun seolah berbeda dengan malam-malam lainnya.

Kondisi berbeda bisa kita temui di Arab Saudi yang malam Jumat umumnya digunakan untuk bertamasya dengan keluarga. Mereka berkumpul di tempat-tempat bermain keluarga sambil makan-makan. Alasannya, selain karena siangnya amat panas, juga karena esoknya adalah hari libur.

Puncak Jumat adalah pada waktu shalat Zuhur. Shalatnya dikembalikan kepada asalnya shalat yaitu dua rakaat, dan dua rakaatnya lagi dijadikan dua khotbah yang dilakukan sebelum dua rakaat shalat. Dua khotbah yang mengawali shalat wajib diikuti dan didengarkan dengan khusyuk dan sungguh-sungguh oleh semua jemaah.

Rasulullah SAW., berpesan dalam hadits yang diriwayatkan oleh enam perawi dari Sahabat Abu Hurairah
"Jika kamu berkata kepada temanmu di sebelah, Hei diam ketika imam sedang berkhotbah maka Jumatmu sia-sia."


Kondisi siang hari yang melelahkan di tengah malaksanakan akivitas kita sebagai pegawai, pedagang, guru, mahasiswa, pelajar, ditambah secara psikologis kita mau mengistirahatkan diri dengan sambil memejamkan mata, yang terjadi kemudian adalah kita tertidur saat khotbah Jumat. Ada yang posisinya masih mantap tegak dengan tidur amat ringan, sampai ada yang dengan posisi agak tertunduk ke depan, bahkan ada yang sampai mengeluarkan dengkuran ringan.

Mengenai tidur saat khotbah Jumat, para ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab Syafii dan Hanafi, tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang posisinya memungkinkan keluarnya angin (kentut) tanpa disadarinya, yaitu tidur dalam posisi berbaring atau bersandar di tembok atau tiang, sehingga membatalkan wudhu yang otomatis membatalkan shalat. Akan tetapi, bila tidur atau fly-nya dalam posisi duduknya mantap, tidak berubah pantat, yang tidak memungkinkan angin keluar, wudhunya tidak batal.

Bila tidurnya tidak membatalkan wudhu kemudian bangun ikut melaksanakan shalat Jumat, shalat Jumatnya sah. Sabda Nabi SAW., seperti diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas
"Wudhu tidak wajib, kecuali bagi yang tidurnya terlentang."

Imam Malik meriwayatkan bahwa sahabat Nabi, Ibnu Umar, tidur sambil duduk tentu dengan duduk yang mantap. Kemudian ia bangun dan terus melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi. Menurut Anas bin Malik, sahabat-sahabat Nabi pun terkadang tidur sambil duduk sampai sekali-sekali kepala mereka pun tertunduk untuk menanti datangnya shalat Isya. Kemudian mereka malaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi.

Sementara itu, mazhab Maliki dan Hambali tidak membedakan posisi duduk tidurnya, tetapi dari nyenyaknya tidur. Siapa yang tidurnya nyenyak maka batal wudhunya, sedangkan yang tidurnya ringan, tidak batal wudhunya. Tanda nyenyaknya tidur adalah tidak mendengar suara atau tidak merasakan jatuhnya apa yang sedang dipegangnya.

Jika ia kemudian sadar karena merasakannya, tidurnya adalah tidur ringan sehingga wudhunya tidak batal, dan shalat yang dilaksanakannya insya Allah sah. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik di atas, yang menunjukkan bahwa tidur yang ringan tanpa mempertimbangkan cara duduk tidak membatalkan wudhu.

Bagi yang shalat Jumatnya sah, seperti di atas, belum tentu mendapatkan keutamaan Jumat. Kemungkinan dia hanya gugur kewajiban shalat Jumatnya. Padahal inilah saat wajib bagi seorang Muslim, khususnya laki-laki, untuk mendapatkan nasihat segar tentang ketakwaan, karena boleh jadi di saat yang lain di minggu ini, dia tidak sempat menghadiri dan atau mendengarkan pengajian atau membaca nasihat ketakwaan dalam tulisan.

Inilah yang disebut laa Jum'ata lahu (tidak sempurna Jumat-nya), karena ia hanya mendapatkan setengahnya, yaitu shalat dan yang setengahnya lagi disia-siakannya, yaitu dua khotbah dari imam. Tidak didengarkannya, sehingga tidak tahu pesan ketakwaannya. Ada fadilah lain yang dihidangkan saat ini yaitu kesempatan bertemu dengan komunitas kita dan dengan yang lainnya yang dapat kita peroleh. Silaturahim yang dilakukan setelah beribadah besar seagung shalat Jumat akan amat efektif untuk kemaslahatan.

Oleh karena itu, secara psikologis, turunkan ketegangan jiwa karena pekerjaan dan tugas berat keseharian selama sepekan, minimal ketegangan di hari itu dengan suasana hati dan jiwa yang pasrah. Ambil segala kebaikan yang terhimpun dari hamba-hamba yang pasrah kepada Allah. Lalu istirahatkan jiwa dengan menurunkan level beta (tegang) pikiran kita ke level alpha (tenang dan tenteram), sehingga kemudian diri ini menjadi sangat mudah menerima sugesti ilahiyah. Berlatihlah khusyuk dengan tidak memejamkan mata.***

[Ditulis oleh H. SAEFUDDAULAH MEHIR, penceramah, pengasuh Pesantren Baitus Shafaa dan pembimbing Umroh Makkah Utama Tour. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 23 Desember 2011 / 27 Muharam 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky