Hidup adalah anugerah. Hidup dan mati adalah dua peristiwa yang merupakan takdir Allah yang harus diterima dan diimani setiap Mukmin. Keduanya merupakan ujian bagi manusia yang diberikan Allah untuk memilih dan memilah siapa yang terbaik amalnya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Allathee khalaqa almawta waalhayata liyabluwakum ayyukum ahsanu AAamalan

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2)

Kebanyakan manusia merasa takut/ngeri menghadapi kematian, sehingga umumnya berharap umur panjang.

يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ
yawaddu ahaduhum law yuAAammaru alfa sanatin wama huwa bimuzahzihihi mina alAAathabi an yuAAammara

Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. (QS. Al-Baqarah: 96)

Atau kata-kata penyair Chairil Anwar dalam sebuah puisinya, "Aku ingin hidup seribu tahun lagi." Padahal Al-Qur'an memberikan gambaran bahwa kematian itu ibarat tidur panjang, sebagai istirahat dari kegiatan duniawi. Sebagaimana Allah berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allahu yatawaffa alanfusa heena mawtiha waallatee lam tamut fee manamiha fayumsiku allatee qada AAalayha almawta wayursilu alokhra ila ajalin musamman inna fee thalika laayatin liqawmin yatafakkaroona

Allah memegang jiwa orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan Dia lepaskan kembali jiwa yang lain (yang tidur), sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (QS. Az-Zumar: 42)

Kematian bagi orang Muslim adalah kenikmatan karena telah "diistirahatkan" oleh Allah dari segala beban aktivitas dunia. Bahkan, hal ini pernah disampaikan juga oleh seorang filsuf Jerman Schopenhauer yang berkata, "Mengantuk itu nikmat, tetapi lebih nikmat lagi tidur, sedangkan yang lebih nikmat dari tidur adalah mati."

Kematian bagi seorang Muslim juga sebuah kegembiraan karena akan menuju kebahagiaan abadi, yaitu saat-saat perjumpaan dengan Allah SWT. 

Al-Qur'an menggambarkan,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
Inna allatheena qaloo rabbuna Allahu thumma istaqamoo tatanazzalu AAalayhimu almalaikatu alla takhafoo wala tahzanoo waabshiroo bialjannati allatee kuntum tooAAadoona 
Nahnu awliyaokum fee alhayati alddunya wafee alakhirati walakum feeha ma tashtahee anfusukum walakum feeha ma taddaAAoona

Orang-orang yang meyakini Tuhan kami adalah Allah, kemudian istiqamah (berpegang teguh dengan keyakinan tersebut), turun malaikat kepada mereka (di saat-saat kematiannya). Sambil (menenangkan) dengan berkata, 'Janganlah kalian khawatir (menghadapi kematian), jangan pula bersedih (meninggalkan dunia dan keluarga), dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia (bagi keluarga yang kamu tinggalkan) dan di akhirat (bagi kamu sekalian). Di sana kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. (QS. Fussilat: 30-31)

Sementara bagi orang kafir dan para pendosa, kematian adalah sesuatu yang mengerikan.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا ۙ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Walaw tara ith yatawaffa allatheena kafaroo almalaikatu yadriboona wujoohahum waadbarahum wathooqoo AAathaba alhareeqi

Seandainya kamu melihat para malaikat mencabut ruh orang kafir sambil memukul muka dan punggung mereka lalu berkata, "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar. Tentu kamu akan melihat suatu pemandangan yang sangat mengerikan. (QS. Al-Anfaal: 50)

Terhadap dua takdir itu, ada berbagai sikap manusia dalam menghadapinya. Pertama orang yang ingin mati dan ada pula yang takut mati. Orang yang ingin mati pasti takut hidup, dan orang yang takut mati pasti karena mencintai hidup. Ada pula orang yang tidak takut mati dan tidak takut hidup. Orang yang ingin mati dan takut hidup banyak faktor penyebabnya. Penderitaan yang panjang, kesedihan yang berlarut-larut, perasaan tidak berguna, tidak berdaya, kemiskinan yang akut, lingkungan yang buruk biasanya mendorong seseorang untuk stres, depresi, dan akhirnya takut menghadapi hidup alias frustrasi.

Sifat-sifat seperti ini sangat tercela dalam pandangan Islam dan perlu dihindari. Seorang Muslim dianjurkan untuk selalu mempunyai sifat optimistis dalam mengharap rahmat Allah SWT. Sebagaimana yang dicontohkan oleh keteguhan sikap Nabi Yaqub AS. ketika harus kehilangan anaknya, Yusuf AS. Kehilangan anak yang paling dicintai bertahun-tahun tidak membuat ia putus asa, dan ia selalu berharap pertolongan Allah SWT.

Seberat apa pun musibah dan penderitaan yang dialami seorang Mukmin, segetir apa pun kemiskinan yang dialami, sepahit apa pun kehidupan yang dirasakan, sesakit apa pun penyakit yang diderita, janganlah berputus asa. Karena putus asa tidak akan menyudahi penderitaan, tidak akan menghentikan kemiskinan bahkan justru sebaliknya, akan menambah kesengsaraan dan penderitaan.

Seorang Muslim tidak boleh mengharapkan kematian karena beratnya musibah, karena hidup itu adalah nikmat dan anugerah yang tiada nilainya. Boleh jadi di balik beratnya musibah itu ada hikmah yang terkandung di dalamnya, berupa pengampunan dosa dan pemberian rahmat-Nya jika dijalani dengan penuh kesabaran.

Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadits,
"Janganlah salah seorang di antaramu mengharapkan kematian karena beratnya musibah yang menimpa."

Jika terpaksa melakukannya, hendaklah dia berdoa dengan,

Allohumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khoirol lii wa tawaffanii idzaa kaanati wafaatu khoirol lii. 

(Ya Allah berilah aku umur panjang jika hidup itu masih lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.)

Akan tetapi, bukan lantas bunuh diri. Hal di atas diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. berkata,
"Sesekali janganlah dari kalian mengharapkan kematian, sebab jika dia orang yang soleh bisa jadi, agar bisa bertambah amal baiknya, dan jika dia bukan orang baik agar bisa bertaubat. Sebab jika sudah mati, semua amalnya akan terputus dan sesungguhnya umur bagi seorang Mukmin itu tidak akan menambah kecuali kebaikan." (HR. Bukhari-Muslim)

Setiap Muslim yang baik tentu menginginkan hidupnya berakhir dengan husnul khotimah (akhir yang baik) dan bukan su'ul khotimah (akhir yang buruk). Jika seseorang memutuskan bunuh diri, berarti ia telah su'ul khotimah karena Nabi telah menyatakan bahwa orang bunuh diri adalah penghuni neraka.

Dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Barang siapa menjatuhkan diri dari gunung hingga membunuh dirinya, maka akan selalu terjatuh dalam neraka jahanam selamanya. Barang siapa meminum racun hingga membunuh dirinya, maka ia akan selalu minum racun dalam neraka jahanam selamanya. Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka ia akan selalu menusukkan besi itu dalam neraka jahanam selamanya." (HR. Bukhari)

Bagi setiap Muslim, hidup adalah ladang amal kebajikan dan kematian adalah saat memanen pahala yang telah dijanjikan Allah SWT. di akhirat nanti.

Wallahualam bissawab.***

[Ditulis oleh H. AGUS ISMAIL, khatib dan imam Jumat di beberapa masjid, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 20 April 2012 / 28 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Calon pemimpin bersuara lantang saat kampanye. "Saya akan menyejahterakan masyarakat apabila terpilih." Lalu, dia juga bertekad akan memperhatikan orang-orang yang dipimpinnya.

Banyaknya janji, tekad, atau sejenisnya kerap membuat masyarakat terlena. Apalagi kalau hal itu dibungkus dengan manajemen yang baik. Namun, akhirnya masyarakat ataupun "anak buah" pimpinan itu harus gigit jari ketika harus menghadapi kenyataan. Antara keinginan, janji, maupun tekad yang telah diucapkan dan dituliskan (das sollen), tak sesuai dengan kenyataan (das sein).

Apabila kita merujuk pada ajaran Islam, tentu berbohong bagaimana pun bentuknya adalah dosa. Dalam Islam hanya diperbolehkan berbohong dan dimaafkan dalam tiga kondisi, bohongnya suami pada istri untuk menyenangkan hatinya, bohongnya seseorang pada dua orang yang sedang berselisih agar keduanya rukun kembali, dan bohong kepada musuh dalam peperangan.

Salah satu bahaya berbohong, biasanya akan selalu membawa kebohongan lain untuk menutupi kebohongan pertama. Bahkan Rasulullah sendiri pernah berwasiat pada salah seorang dari suku Badui agar jangan berbohong.

Diceritakan, ada seorang Badui ingin masuk Islam. Dia menemui Rasulullah SAW. dan mengatakan ingin masuk Islam tetapi tak mampu meninggalkan minum keras (khamar) dan berzina. Lalu, Rasulullah berkata, kalau begitu tidak mengapa apabila tak bisa meninggalkan minuman keras dan zina, tetapi syaratnya jangan bohong.

Alhasil, Badui ini justru tak pernah lagi minum khamar dan berzina karena takut berbohong kalau ditanya Rasulullah. Sementara jika dia bicara jujur, hukum Islam siap menanti.

Begitu dahsyat efek dari kebohongan. Perceraian biasanya juga diawali dengan kebohongan. Korupsi juga dilandasi dengan kebohongan. Penipuan sudah jelas buah dari kebohongan. Anehnya, di Indonesia sudah mulai terjangkit tradisi Barat yakni ingin bersatu padu dalam berbohong di bulan April yakni April Mop. Bisa jadi kita menginginkan hal-hal aneh, tetapi seharusnya jangan sampai terjebak kepada kebohongan.

Seseorang bisa berbohong diakibatkan beberapa faktor, seperti karena sedang tertekan, terpengaruh lingkungan, menghindari masalah, membela diri, menipu, memfitnah, menyuap, maupun melakukan pencitraan diri demi meraih jabatan atau kedudukan tertentu. Sayangnya di budaya kita sesuatu berbohong dianggap lumrah dan wajar asalkan tidak menyakiti hati orang lain.

Menurut filsuf Karl Bertens, budaya bangsa Timur melarang seseorang melukai hati orang lain apalagi melukai hati rakyat. Namun, dalam hal tertentu akhirnya berbohong. Berbeda dengan budaya Barat yang umumnya tanpa tedeng aling-aling atau berbicara terbuka apa adanya.

Dalam budaya Barat, berbohong merupakan dosa besar sehingga pemimpin bisa kehilangan kedudukannya apabila berbohong. Berbohong kepada publik merupakan bentuk pencederaan dan menyakiti hati rakyat serta termasuk amoral sehingga tak sungkan-sungkan pemimpin itu mengundurkan diri dari jabatannya.
Seperti yang dilakukan Perdana Menteri Finlandia Anneli Jaatteenmaki, yang merupakan perdana menteri perempuan pertama. Akibat berbohong mengenai informasi perang Irak saat kampanye dan diketahui setelah menjabat, akhirnya Anneli mundur.

"Kalau kepercayaan hilang, berarti posisi juga hilang. Saya telah kehilangan kepercayaan itu. Dan jelas, waktu saya sebagai perdana menteri telah berlalu," ujar Jaatteenmaki saat menyampaikan pengunduran dirinya.

Dengan menjauhkan diri dari berbohong dan menjunjung tinggi kejujuran, membuat Finlandia menempati peringkat pertama sebagai negara tidak terkorup di dunia berdasarkan peringkat majalah The Economist pada tahun 2001. Sementara Indonesia duduk di peringkat ke-88 dari total 91 negara.

Prinsip jangan berbohong dan jangan melukai perasaan begitu dijunjung. Kondisi di bangsa Timur seperti Indonesia lebih mengedepankan aspek kehalusan dengan menghindarkan konflik dan melukai perasaan orang lain meskipun tidak jujur.

Mengutip pakar politik, Yudi Latief (2012) yang menulis, "Pemimpin yang membohongi rakyatnya akan terlihat seperti kebenaran. Kelambanan terkesan kehati-hatian. Ketidak bertanggungjawaban terkesan ketidak intervensian. Ketidak seriusan terkesan kesabaran. Ketidak mampuan terkesan ketergangguan dan penghormatan terkesan sebagai korban."

Berbohong merupakan salah satu sikap munafik. Orang munafik seperti ditegaskan Al-Qur'an posisinya di dasar neraka (fid-darkil-asfali minannaar). Apalagi bagi seorang pemimpin baik pemimpin negara, daerah, yayasan, sekolah, perguruan tinggi, ataupun pemimpin lokal akan sangat berbahaya apabila berbohong. Berbahaya bagi dirinya maupun umat yang dipimpinnya.

Wallahu-alam.***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon), 19 April 2012 / 27 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Dalam diri manusia bukan saja didominasi oleh kecenderungan kesucian yang selalu mendambakan kesejatian diri, perdamaian, cinta kasih, dan kelapangan dada, tetapi juga kecenderungan hewani sehingga dalam darah manusia mengalir arus kekerasan, egoisme. Termasuk keserakahan yang senantiasa dilekatkan dengan sifat-sifat hewani terdapat juga dalam diri manusia. Bahkan manusia bisa lebih serakah daripada binatang.

Allah SWT. berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ 
Walaqad tharana lijahannama katheeran mina aljinni waalinsi lahum quloobun la yafqahoona biha walahum aAAyunun la yubsiroona biha walahum athanun la yasmaAAoona biha olaika kaalanAAami bal hum adallu olaika humu alghafiloona

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raaf: 179)

Manusia yang serakah, hatinya tidak akan pernah bisa merasakan penderitaan orang yang dirampasnya. Hatinya tertutup, mati, dan terkunci. Matanya seperti tidak melihat. Telinganya seolah-olah tuli meskipun ada orang yang menyampaikan pada dirinya, bahwa si fulan sedang sedih, kebingungan gara-gara dirampas oleh dirinya.  

Keserakahan telah merendahakan derajat kemuliaan manusia, sebab sesungguhnya manusia tidak hanya memperhatikan kebutuhan jasad tetapi juga ruh yang suci. Ruh harus suci, tidak dikotori dengan kedzaliman yang diakibatkan oleh keserakahan. 

Sungguh harta yang kita peroleh dari merampas, mengambil kepunyaan orang lain dengan cara-cara dzalim tidak akan pernah dibawa ke langit. Harta yang diperoleh dari cara-cara menyakiti, menginjak, menekan orang lain, tidak akan membuat kita kekal hidup di dunia.

وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ 
Wama jaAAalnahum jasadan la yakuloona alttaAAama wama kanoo khalideena

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (QS. Al-Anbiyaa: 8)

Tidak sedikit dari para ulama, ustadz menyampaikan sebuah hadits, "Hampirlah kefakiran itu menjadi kekafiran." Padahal hadits ini adalah daif (lemah). Akan tetapi, seolah-olah dijadikan alasan pembenaran kita untuk keluar dari kemiskinan meskipun dengan cara-cara dzalim kepada orang lain. 

Ada hadits sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim,
"Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu sekalian, tetapi aku khawatir kalau-kalau kekayaan dunia ini dihamparkan atas kamu sekalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kamu. Lantas kamu sekalian akan berlomba-lomba pada kekayaan sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba pada kekayaan. Kemudian kekayaan itu akan membinasakan kamu sekalian sebagaimana kekayaan itu telah membinasakan mereka."

Atau hadits dari Ibnu Abbas RA. dan Anas bin Malik RA. bahwasanya Rasuluulah SAW. bersabda,
"Seandainya seseorang itu mempunyai satu lembah dari emas, niscaya ia ingin mempunyai dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah."

Semestinya hadits-hadits inilah yang lebih diperhatikan oleh kita, ketimbang hadits lemah tadi. Andaikan kemiskinan membuat seseorang hampir saja menjadi kafir, hal itu masih bisa diatasi dengan melepaskan diri dari jurang kemiskinan. 

Andaikan ia harus menjadi kafir karena kemiskinannya, ia hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi tidak dengan penyakit keserakahan yang menimpa seseorang. Keserakahan lebih bahaya dari kekafiran sebab ketika kita dikuasai oleh sifat keserakahan, kita laksana binatang buas yang saling bersaing, saling membunuh, saling menjatuhkan, saling sikut. Keserakahan menghilangkan rasa iba pada orang lain. Keserakahan menghapuskan kepedulian kepada siapa pun bahkan nyawa orang lain.  

Keserakahan menghilangkan kepekaan kepada siapa pun. Islam tidak melarang pemeluknya untuk menjadi kaya, dan tidak pula diwajibkan menjadi miskin. Melalui Al-Qur'an, Allah SWT. menyeru agar makhluknya bertebaran mengais rezeki, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Jumu'a: 9-10,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُون
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 
Ya ayyuha allatheena amanoo itha noodiya lilssalati min yawmi aljumuAAati faisAAaw ila thikri Allahi watharoo albayAAa thalikum khayrun lakum in kuntum taAAlamoona
Faitha qudiyati alssalatu faintashiroo fee alardi waibtaghoo min fadli Allahi waothkuroo Allaha katheeran laAAallakum tuflihoona

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Ayat itu jelas tidak menyuruh kita menghentikan seluruh aktivitas keduniawian satu hari penuh, hanya sesaat saat shalat Jumat. Usai shalat Jumat, kembali beraktivitas keduniawian lagi. Disuruh bekerja lagi dengan keras, dan ikhlas bahkan harus juga dengan cerdas. 

Keserakahan melahirkan kedzaliman yang tidak mudah memperoleh ampunan Allah. Kedzaliman pada diri sendiri seperti shalat yang tidak sempurna, puasa yang banyak bolongnya, atau sepanjang hidupnya tidak sempat melaksanakan ibadah haji, dosa-dosa seperti itu cukup dengan menyampaikan permohonan ampun kepada Allah. 

Akan tetapi, tidak dengan kedzaliman kepada orang lain akibat dari keserakahan. Orang yang merampas hak orang, yang menjatuhkan orang lain, tidak akan Allah ampuni dosanya sebelum ia mengembalikan seluruh harta yang dirampasnya, sebelum ia memulihkan nama baik orang yang dijatuhkannya. Pebisnis yang serakah tidak akan pernah peduli orang lain rugi atau menderita yang penting dirinya untung. Anggota dewan yang serakah tidak akan pernah peduli dengan teriakan rakyat atas kemewahan yang dipertontonkannya di tengah-tengah kemiskinan rakyat yang diwakilinya. Penegak hukum yang serakah akan mempergunakan kewenangannya untuk memeras orang-orang yang bisa diperas oleh dirinya. Selama keserakahan, egois, lalim, dan aniaya terhadap orang lain masih melekat pada diri kita maka shalat, puasa, dan haji kita tidak akan pernah sampai ke langit. 

Semoga kita diberikan kemampuan oleh Allah SWT. untuk menghilangkan keserakahan yang mungkin telah lama melekat dalam jiwa kita. 

Amin.*** 

[Ditulis oleh IDAT MUSTARI, Ketua Biro Agama DPD Golkar Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 13 April 2012 / 21 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"] 

by 
u-must-b-lucky
Berbicara tentang kehidupan bermasyarakat dan bernegara, maka kita tidak bisa lepas berbicara tentang masalah kepemimpinan. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW. bersabda, "Ada tujuh golongan manusia dari umatku yang akan mendapat perlindungan di akhirat nanti di mana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah."

Yang paling pertama disebut oleh Rasulullah SAW. adalah "pemimpin yang adil". Hadits ini mengisyaratkan bahwa, jika seorang pemimpin itu berbuat adil maka hakikatnya dia telah beribadah kepada Allah dalam bentuk pengabdiannya kepada sekian juta manusia yang dipimpinnya selama masa jabatannya. Dengan demikian, layaklah pemimpin yang adil akan mendapatkan tiket masuk surga tanpa hisab.

Sebaliknya, bila seorang pemimpin itu berbuat dzalim, maka dia akan memperoleh tiket masuk neraka tanpa hisab. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Adz Dzulaimi yang dikutip Al- Ghazali dalam Kitabnya Minhajul 'Abidin, Rasulullah SAW. bersabda, "Ada enam kelompok manusia dari umatku yang akan masuk neraka jahanam tanpa hisab." Yang paling pertama disebut oleh Rasulullah SAW. adalah "pemimpin karena kedzalimannya."

Hadits ini mengisyaratkan bahwa, apabila seorang pemimpin itu berbuat dzalim dalam kepemimpinannya, maka dia akan masuk neraka tanpa hisab. Betapa berat menyandang tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, karena dia harus bisa berbuat adil. Ketika seorang pemimpin tidak menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan syariat Allah, maka dia termasuk telah berbuat dzalim yang konsekuensinya sangat berat bagi kehidupannya kelak di akhirat.

Dalam kaitannya memilih pemimpin, layaklah kita hayati dan renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan Iman Al Hakim, Nabi SAW. bersabda, "Barang siapa yang memilih seseorang sebagai pemimpin atas dasar ta'ashub (fanatisme/taqlid) buta semata didasarkan hanya pada pertimbangan emosional primordial, bukan atas dasar rasionalitas dan penilaian yang jernih syar'iyah, padahal di tengah mereka ada orang yang lebih layak dan pantas dipilih dan diridhai oleh Allah, maka orang itu telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin." Maka seorang pemimpin itu hanyalah suatu individu yang merupakan bagian dari umat dan bukanlah umat suatu bagian dari individu.
Disadari atau tidak, permasalahan "pilih-memilih" dalam menjalani kehidupan ini bukanlah urusan kecil atau masalah yang sepele, terlebih lagi dalam kaitannya kita harus memilih seorang pemimpin. Kita sebagai masyarakat Muslim harus betul-betul siap untuk memilih seseorang yang kita yakini, paling tidak, yang siap melaksanakan syariat Allah. Kesalahan kita dalam memilih akan berakibat fatal bagi kehidupan umat masa kini dan masa yang akan datang dan kita pun harus ikut mempertanggungjawabkan itu di akhirat kelak.

"Salah" kita dalam memilih seorang pemimpin, dengan memilih orang yang dzalim misalnya, karena tidak tebersit tekadnya sedikit pun untuk menegakkan syariat Islam, maka kita harus ikut mempertanggungjawabkan pilihan kita itu di hadapan Allah. Karena bukankah dia bisa menjadi seorang pemimpin adalah juga karena kita yang memilihnya. Bahkan dalam kesalahan memilih seorang pemimpin, bukan saja hanya menyeret seseorang masuk dalam perbuatan dzalim atau dosa, lebih dari itu bisa membuat seseorang gugur keislamannya.

Allah berfirman dalam Surat Ibrahim Ayat 24-26,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ
Alam tara kayfa daraba Allahu mathalan kalimatan tayyibatan kashajaratin tayyibatin asluha thabitun wafarAAuha fee alssamai
Tutee okulaha kulla heenin biithni rabbiha wayadribu Allahu alamthala lilnnasi laAAallahum yatathakkaroona
Wamathalu kalimatin khabeethatin kashajaratin khabeethatin ijtuththat min fawqi alardi ma laha min qararin

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

Ayat itu menggambarkan betapa indahnya gambaran yang dianugerahkan Allah SWT. atas keberadaan orang-orang yang bertakwa di mana keberadaannya ibarat sebuah pohon yang baik, yang "akarnya sangat kuat menghujam ke dasar tanah, sementara dahan dan rantingnya menjulang tinggi ke langit, pohon tersebut tumbuh dengan subur lalu berdaun rindang dan berbuah yang buahnya dapat dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya pada setiap saat dengan seizin Allah Tuhannya."

Akar yang dimaksud pada ayat di atas adalah akidah. Perumpamaan pohon yang buruk itu adalah pohon yang akarnya sudah terangkat dari permukaan bumi yang esok lusa akan mati. Keberadaan pohon semacam ini tidak ada artinya sama sekali, dia tidak mungkin memberi manfaat, jangankan untuk berbuah, bertahan untuk hidup pun tidak mungkin bisa. Keberadaan pohon semacam ini paling bermanfaat hanya sebagai kayu bakar.

Dengan akidah atau keimanan yang kuat, seseorang akan diantarkan amal perbuatannya sampai kepada Allah SWT. Digambarkan seperti pohon yang dahannya menjulang tinggi sampai ke langit. Maknanya, amalnya akan sampai kepada Allah SWT. Jadi, seorang muttaqin itu di samping memiliki dasar akidah yang kuat, dia juga harus baik dalam "habluminallah" (hubungan secara vertikal dengan Allah SWT.)

Tidak cukup demikian, tetapi dia harus seperti pohon yang terus-menerus berbuah, dalam pengertian baik hubungannya secara horizontal dengan makhluk yang ada di sekelilingnya. Setiap saat buahnya bisa dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya. Inilah yang sering kita istilahkan dengan "silaturahmi" dia harus baik dalam hubungan silaturahminya. Bukan hanya dengan sesama manusia saja, melainkan hubungan dengan sesama makhluk Allah yang lain pun harus baik.

Keberadaan insan yang muttaqin harus bisa bermanfaat bagi orang lain atau makhluk-makhluk Allah yang lain yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, bila suatu saat pohon ini mati, maka banyak sekali orang yang merasa kehilangan terutama bagi yang selama ini menikmati buahnya. Seandainya suatu saat dia meninggal dunia, maka banyaklah orang yang akan merasakan kehilangan terutama mereka yang selama ini menikmati buah karyanya atau kesalehannya.

Betapa sangat erat keterkaitan dan keterikatan antara akidah dengan kehidupan seseorang. Kesalehan seseorang secara individu harus dibangun atas dasar kokohnya akidah yang pada gilirannya diharapkan dapat muncul kesalehan sosial yang akan mewarnai kehidupan bermasyarakat dan bernegara sesuai petunjuk-Nya. 

Wallahu a'lam bish-shawab. ***

[Ditulis oleh IJANG FAISAL, Ketua Umum DPD BKPRMI Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis, 12 April 2012 / 20 Jumadil Awal 1433 H pada Kolom "OPINI"]

by
u-must-b-lucky
Berebut jabatan, bahkan kalau perlu menggunakan uang bukanlah hal asing saat ini. Bahkan untuk menjadi pemimpin di sebuah organisasi yang notabene tidak digaji, seperti ketua ormas ataupun ketua rukun warga (RW), ternyata tak lepas juga dari upaya-upaya menggunakan politik uang.

Padahal, Nabi Muhammad SAW. mengajarkan agar setiap kaum Muslimin malah menjauhkan diri dari jabatan apalagi sampai berebut. Jabatan memunculkan pertanggungjawaban teramat berat di dunia apalagi di akhirat. Jabatan merupakan amanah.

Dalam kamus Al-Bisri karangan KH. Adib Bisri dan KH. Munawwir A. Fatah, kata amanah bermakna jujur dan dapat dipercaya, aman, dan tenteram. Amanah dimaknai menyampaikan sesuatu kepada yang berhak menerimanya dengan dilandasi kejujuran dan kepercayaan yang diembannya berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Bersikap amanah hendaknya dimiliki setiap individu, pemimpin rumah tangga, pemimpin lingkungan atau daerah, pemimpin negara atau dunia, termasuk para bawahan atau rakyat serta masyarakatnya. Pelaku amanah disebut Al-Aamin atau Al-Amiin, artinya orang jujur dan dapat dipercaya sehingga dapat memberikan keamanan dan ketenteraman. Rasulullah mendapat gelar Al-Amiin itu dan sampai kini belum ada orang yang mendapatkan gelar serupa.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Inna Allaha yamurukum an tuaddoo alamanati ila ahliha waitha hakamtum bayna alnnasi an tahkumoo bialAAadli inna Allaha niAAimma yaAAithukum bihi inna Allaha kana sameeAAan baseeran
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)

Dalam ayat itu ditegaskan, amanah sangat erat kaitannya dengan keadilan sehingga hal itu tidak dapat dipisahkan. Orang yang amanah pasti berlaku adil, demikian sebaliknya, orang yang berlaku adil berarti ia telah berbuat amanah.

Manusia secara fitrah sebenarnya sudah memiliki nilai-nilai kesucian untuk mengemban amanah, termasuk amanah agama. Rasulullah SAW. adalah seorang pembawa amanah yang sejati dan sekaligus pelaksana amanah yang sempurna. Tidak diragukan lagi bahwa sifat amanah yang sempurna bagi nabi adalah bangkitnya untuk menyebarluaskan risalah yang dipercayakan kepadanya. Rasulullah juga memberikan keteladanan terbaik dalam memikul amanah dalam bentuk keduniaan, seperti mengelola harta, pangkat, jabatan, dan kekuasaan karena Rasulullah juga kepala negara.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menegaskan,
"Tidak beriman orang yang tidak amanah (tidak dapat dipercaya karena selalu khianat), dan tidak sah shalat orang yang tidak bersuci, dan tidak beragama orang yang tidak shalat. Dan keberadaan shalat dalam agama laksana kepala dalam satu tubuh." (HR. Tabrani)

Kita merasa prihatin dengan kenyataan adanya orang-orang orang pandai berdalil dan berargumentasi, tetapi jarang orang yang pandai beramal dan berakhlak mulia. Banyak orang yang mengetahui ilmu agama, tetapi jarang sekali yang mengamalkan agama.

Demikian pula banyak orang yang pandai membaca Al-Qur'an, tetapi sedikit sekali yang pandai mengamalkannya. Banyak yang mampu membuat aturan tetapi sedikit sekali yang mau menjalankan aturan. Manusia harus yakin dirinya merupakan amanah Allah yang harus dijaga, dipelihara, dibina, dibimbing, dan diarahkan ke jalan Allah. Mata diberi kemampuan melihat sehingga harus melihat sesuatu yang diridhai-Nya. Mulut berbicara yang baik, kaki melangkah ke tempat kebaikan, telinga mendengarkan kebaikan dan sebagainya.

Demikian pula hati, janganlah terbersit sifat dengki, dendam, buruk sangka, dan lainnya. Janganlah dirinya dibiarkan terjerumus ke lembah kebinasaan, kedzaliman, dan berlumuran dosa. Sayangi dan pelihara diri sebelum berkeinginan disayangi orang lain. Cintai diri Anda sebelum dicintai atau ingin dicintai orang lain. Jagalah amanah diri jika ingin dipercaya orang lain.

Jangan lupakan pula melaksanakan amanah yang kita emban baik jabatan, pangkat, kedudukan, atau amanah dalam lingkup sekecil apa pun. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ya ayyuha allatheena amanoo la takhoonoo Allaha waalrrasoola watakhoonoo amanatikum waantum taAAlamoona

Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) Janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfaal: 27)

Rasulullah SAW. menjelaskan, orang yang khianat dari amanah termasuk orang munafik.
"Ciri munafik ada tiga; jika berkata, ia dusta, jika berjanji ia menyalahi janji, dan jika diamanati ia khianat." (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan,
"Tiga macam siapa yang melakukannya maka ia munafik meskipun ia puasa, shalat, berhaji, dan umrah dan mengaku Islam, yaitu jika ia berkata dusta, jika berjanji menyalahi janji, dan jika diamanati khianat." (HR. Abu Syeikh dari Anas)

Setiap kita adalah pemimpin yang tentunya sebagai pemegang amanah terhadap yang dipimpinnya. Minimal kita memimpin diri sendiri. Sejauh mana kita bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Pembantu memimpin dirinya dan harta tuannya, dan ia akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. pemimpin rumah tangga bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya. Pemimpin suatu daerah bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, dan daerah yang dipimpinnya. Pemimpin negara bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, bangsa, dan negara serta seluruh rakyat. Betapa besar tanggung jawab yang diembannya dan betapa besar pula tanggung jawab yang diminta di hadapan Allah SWT. kelak. 

Wallahu-a'lam.***

[Ditulis oleh KH HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDARUS, Ketua Yayasan Assalaam Bandung dan mantan Ketua PW NU-Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis, 12 April 2012 / 20 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Menjelang akhir zaman, banyak muncul perkara ganjil. Aneh dan dianggap meresahkan. Terutama yang bersifat kasat mata.

Beberapa waktu lalu, muncul gerombolan ulat menyerang pepohonan hingga rusak, masuk ke rumah-rumah penduduk. Menimbulkan gatal-gatal dan jijik. Sekarang muncul serangga tomcat di beberapa daerah, yang tak kalah heboh dari ulat. 

Keanehan lain, misalnya, kecelakaan kendaraan di mana-mana tanpa henti. Tabrakan, terguling, tergilas kereta api, dan lain-lain yang menelan korban jiwa. Belum lagi perkelahian, bentrokan fisik, serang-menyerang antarkelompok, tanpa kejelasan apa yang diperebutkan. 

Bencana alam, apalagi. Seolah-olah semua memusuhi manusia. Banjir, longsor, memang bukan perkara aneh. Namun, menjadi aneh karena hal itu terus berlangsung. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sia-sia, karena tidak mampu mengatasi peristiwa-peristiwa rutin yang menyengsarakan itu. 

Belum lagi keanehan-keanehan yang bersifat mental spiritual. Kebobrokan akhlak di tengah kehebatan budaya. Penyalahgunaan obat-obat terlarang di tengah contoh-contoh nyata derita fisik dan sosial para penggunanya. Semakin dilarang dan membahayakan, semakin dicari dan diminati. 

Keanehan-keanehan itu, bagi setiap Muslim beriman, sebetulnya bukan "aneh" lagi. Mengingat 2000 tahun lalu, Nabi Muhammad SAW., telah memprediksi melalui satu hadits riwayat Imam Tirmidzi.
"Ada enam perkara ganjil, pada enam tempat yang tidak serasi. Yaitu, masjid ganjil bagi orang-orang yang tak mengerjakan shalat. Mushaf Al-Qur'an, ganjil di tengah orang-orang yang tidak suka membacanya. Ayat-ayat Al-Qur'an ganjil di tengah orang-orang yang berbuat kejahatan. Wanita baik-baik, ganjil di tengah laki-laki bejat. Laki-laki baik, asing di tengah wanita tunasusila. Orang alim, ganjil di tengah orang-orang yang tak mau mendengarkan nasihat-nasihat kebaikan."

Masjid adalah tempat khusus untuk beribadah (mahdlah) kepada Allah SWT., juga tempat melaksanakan hubungan dengan sesama manusia (ghair mahdlah). Dengan kegiatan ibadah vertikal dan horizontal itu, masjid menjadi makmur. 

Dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 18 disebutkan, orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, dan mengeluarkan zakat, serta yang tidak takut oleh apa pun kecuali oleh Allah. Mereka itulah yang diharapkan mendapat petunjuk. 

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Innama yaAAmuru masajida Allahi man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waaqama alssalata waata alzzakata walam yakhsha illa Allaha faAAasa olaika an yakoonoo mina almuhtadeena
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah:18)

Sekarang, masjid tersebar di mana-mana. Dari yang kecil sederhana, hingga yang besar megah mewah. Upaya membangun masjid dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari menyebar proposal, mengedarkan kencleng, hingga mencegat kendaraan di jalan raya. Belasan bahkan ratusan orang ikut terlibat mendukung kegiatan itu. 

Namun, setelah masjid tegak berdiri, jemaahnya tidak ratusan. Bahkan sering kosong melompong. Gelap gulita dan terkunci rapat di waktu malam. Kusam kotor di waktu siang. Inilah yang mengundang keanehan dan keganjilan. 

Mushaf Al-Qur'an menjadi ganjil karena tak pernah dibaca. Hanya teronggok penuh debu. Al-Qur'an yang menjadi penjelas berbagai perkara (sebagaimana digambarkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah: 185), dibiarkan saja begitu rupa. 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Shahru ramadana allathee onzila feehi alquranu hudan lilnnasi wabayyinatin mina alhuda waalfurqani
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Begitu pula, ayat-ayat Al-Qur'an di tengah orang-orang fasik. Pembuat maksiat. Tidak menjadi peringatan, acuan, batas antara hak dan batil, dianggap angin lalu saja. 

Wanita baik-baik, di tangan laki-laki bejat, merupakan keanehan pula. Sudah sering terjadi penculikan, penipuan, yang berujung pada trafficking. Gadis-gadis lugu dari pelosok daerah dijadikan komoditas menguntungkan oleh para lelaki bejat, baik yang menjadi penjual maupun pemakai. 

Kesulitan ekonomi menjadikan para gadis suci itu mudah tergiur bujuk rayu para calo dan germo yang mengiming-imingi pekerjaan bergaji tinggi. Namun, kenyataannya dijual untuk pemuas hawa nafsu kebinatangan laki-laki tak bermoral. 

Adapun laki-laki baik, tak sedikit digunakan oleh kalangan wanita tunasusila. Dijadikan "suami" uhtuk melindungi status dan lain-lain agar wanita itu bebas berbuat sesuka hati di rumah atau di luar rumah. Jika terkena razia petugas, "suami" tadi dapat dijadikan tameng. Jika hamil akibat hubungan gelap dengan lelaki-lelaki lain, ada "suami" yang bertanggung jawab sebagai "ayah" bagi yang dikandungnya. 

Keganjilan terakhir adalah orang alim di tengah orang atau masyarakat yang hati dan perasaannya sudah buta-tuli. Yang menganggap nasihat berisi ajakan kepada kebaikan dan pencegahan dari kemunkaran sebagai hal tak berguna. Kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, dan sebagainya, menjadi alasan untuk menolak ikatan dan ketentuan aturan yang dianggap melanggar hak asasi dan privasi. 

Nasihat dalam berbagai bentuk, terbatas atau meluas, hanya embel-embel. Bahkan orang-orang yang bertugas memberi nasihat, dijebak dan digiring pada situasi serta kondisi tertentu. Agar nasihat jalan terus, dikemas indah dan ramai sedemikian rupa, tetapi isi, makna, dan tujuan nasihat itu, nyaris tanpa substansi. Hanya hiburan atau tontonan. 

Jika sudah sampai pada tahap ini, sempurnalah keganjilan-keganjilan yang menjadi fenomena akhir zaman. Pada saat tersebut, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.,
"Islam hanya tinggal nama, Al-Qur'an hanya tinggal tulisan, masjid-masjid hanya tinggal bangunan tetapi kosong dari petunjuk, ulama-ulamanya termasuk orang paling jelek di kolong langit, karena dari mereka timbul fitnah yang akan semakin membuat mereka terpuruk." (Hadits Riwayat Imam Baihaqi)

Walaupun mungkin hal-hal tersebut sudah dianggap biasa, tetap ganjil, karena bertentangan dengan kodrat hati nurani manusia, yang masih menyelipkan kebenaran. Termasuk dalam soal pencarian nafkah. Banyak orang melakukan korupsi. Tak takut oleh hukum duniawi, tak risi oleh hukum ukhrowi. Karena memang sudah dianggap lumrah, wajar, dan bahkan "keharusan". Itu adalah keganjilan akhir zaman juga. 

Nabi SAW. menyatakan,
"Akan datang suatu zaman, tatkala seseorang tidak lagi memperdulikan apa yang diambilnya, apakah dari yang haram atau yang halal." (Hadits Riwayat Imam Bukhari)

Dalam menghadapi fenomena mengganjilkan tersebut, bagi setiap Muslim beriman, adalah kembali ke jalan Allah SWT. dan Rasul-Nya, memegang teguh perintah-Nya, sekaligus meninggalkan larangan-Nya.*** 

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan, Cibiuk, Garut, dan pembimbing ibadah haji & umrah BPHU Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis, 5 April 2012 / 13 Jumadil Awal 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky