وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wama khalaqtu aljinna waalinsa illa liyaAAbudooni
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat(51): 56)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa tujuan Allah SWT. menciptakan manusia adalah agar manusia mencari keridhaan-Nya, karena dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya akan melahirkan kecintaan dan keridhaan Allah SWT.

Oleh karena itu, keridhaan Allah SWT. terletak pada segenap perintah-perintah-Nya yang disampaikan oleh Allah SWT. kepada Rasulullah SAW., baik berupa Al-Qur'anulkarim, hadits qudsi-Nya, maupun melalui sabda-sabda Rasulullah SAW.

Allah SWT. berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Wama yantiqu AAani alhawa 
In huwa illa wahyun yooha
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm(53): 3-4)

Keridhaan Allah merupakan anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT. kepada orang-orang yang menepati jalan keridhaan-Nya. Ia merupakan puncak dari berbagai anugerah yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT. dan sabda Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya,

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Qala Allahu hatha yawmu yanfaAAu alssadiqeena sidquhum lahum jannatun tajree min tahtiha alanharu khalideena feeha abadan radiya Allahu AAanhum waradoo AAanhu thalika alfawzu alAAatheemu
Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar. (QS. Al-Maidah(5): 119)

Dalam ayat lain,

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
WaAAada Allahu almumineena waalmuminati jannatin tajree min tahtiha alanharu khalideena feeha wamasakina tayyibatan fee jannati AAadnin waridwanun mina Allahi akbaru thalika huwa alfawzu alAAatheemu
Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At-Taubah(9): 72)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman kepada perighuni surga, 'Wahai ahli surga!' Maka mereka menjawab, 'Ya Tuhanku, kami memenuhi seruan-Mu dan berkat-Mu serta segala kebaikan berada di tangan-Mu.' Allah berfirman, 'Apakah kamu rela?' Mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, tidak selayaknya kami untuk tidak ridha padahal Engkau telah menganugerahkan kepada kami sesuatu yang tidak dianugerahkan kepada seorang pun di antara makhluk-Mu.' Maka Allah berfirman, 'Ketahuilah, maukah kamu Kuberi sesuatu yang lebih baik daripada itu?' Mereka menjawab, 'Ya Tuhanku, apakah sesuatu yang lebih baik daripada nikmat itu?' Allah berfirman, 'Aku tetapkan kepadamu keridhaan-Ku. Setelah ini, Aku tidak akan pernah murka kepadamu'." (HR. Muslim dari hadits Malik)

Sebagai makhluk dan hamba Allah SWT. sudah seharusnya apa yang kita lakukan dalam kehidupan dunia ini hanyalah bertujuan untuk mencari keridhaan yang telah menciptakan kita, Tuhan kita, Allah SWT. Bila hal ini sungguh-sungguh kita lakukan, hal yang paling utama yang akan kita dapatkan adalah tercurahkan keridhaan Allah SWT. kepada diri kita. Allah SWT. berfirman,

رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
radiya Allahu AAanhum waradoo AAanhu
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. (QS. Al-Bayinah(98): 8)

Selain itu, Allah akan menunjuki kita kepada jalan-Nya (QS. Al-Ankabut(29): 69), akan mendapatkan pahala yang besar (QS. Al-Ahzab(33): 29), mendapatkan syafaat dari Allah SWT. dan dari orang-orang yang diizinkan-Nya untuk memberikan syafaat (QS. Al-Anbiya(21): 28), akan mendapatkan kitab dari sebelah kanan (QS Al-Haqqah(69): 19-21), dan akan dimasukkan ke dalam surga-Nya (QS. At-Taubah(9): 100).

Hal ini didapatkan oleh orang yang mencari keridhaan Allah karena ia mengerahkan segenap daya dan kekuatannya untuk menjadikan apa yang dilakukannya sesuai dengan yang diridhai-Nya. Selain itu, menelan apa pun yang diterimanya dengan rasa senang dan ridha kepada Allah sehingga hidupnya senantiasa berada dalam naungan keridhaan Allah SWT. Untuk itu, mencari keridhaan Allah dapat diwujudkan dengan ridha dan merealisasikan keridhaan kita terhadap apa-apa yang diridhai oleh Allah SWT., di antaranya,

Pertama, ridha terhadap agama-Nya, yakni agama Islam. Islam adalah agama yang diridhai-Nya, sebagaimana firman-Nya,

 إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Inna alddeena AAinda Allahi alislamu
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali-Imran(3): 19)

Dalam ayat lain,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
alyawma akmaltu lakum deenakum waatmamtu AAalaykum niAAmatee waradeetu lakumu alislama deenan
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS Al-Maidah(5): 3)

Keridhaan kita terhadap Islam diwujudkan dengan melaksanakan ajaran Islam secara kafah (menyeluruh). Tidak setengah-setengah, sebagaimana firman Allah SWT.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Ya ayyuha allatheena amanoo odkhuloo fee alssilmi kaffatan wala tattabiAAoo khutuwati alshshaytani innahu lakum AAaduwwun mubeenun
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah(2): 208)

Kedua, ridha dengan takdir atau ketentuan-Nya. Hal ini direalisasikan dengan sikap syukur ketika kebaikan menimpanya dan sikap sabar ketika keburukan menimpa dirinya. Allah SWT. berfirman,

وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
wain tashkuroo yardahu lakum
Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. (QS. Az-Zumar(39): 7)

Ketiga, berusaha mendapatkan keridhaan orang tua, sebab keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orangtua.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan orangtua dan kebencian Allah bergantung kepada kebencian orangtua."

Hal ini direalisasikan dengan berbuat baik kepada kedua orangtua kita dan tidak menyakiti keduanya. Allah SWT. berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Waqada rabbuka alla taAAbudoo illa iyyahu wabialwalidayni ihsanan imma yablughanna AAindaka alkibara ahaduhuma aw kilahuma fala taqul lahuma offin wala tanharhuma waqul lahuma qawlan kareeman 
Waikhfid lahuma janaha alththulli mina alrrahmati waqul rabbi irhamhuma kama rabbayanee sagheeran
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.' (QS Al-Isra(17): 23-24)

Akhirnya, mari kita renungi dan kita amalkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW. kepada kita agar kita bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya dan dapat meraihnya,
"Allaahumma Inni As Aluka Ridaaka Wai Jannah Wa A'uzubika Min Sakha-thika Wannaar." Artinya, "Ya Allah, aku memohon daripada-Mu keridhaan-Mu dan surga, dan aku memohon perlindungan daripada kemurkaan-Mu dan daripada azab api neraka." (HR. Timidzi dan Ibnu Majah)

Amin.

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh H. MOCH HISYAM, Ketua DKM. Al-Hikmah RW 7 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 22 Februari 2013 / 11 Rabiul Akhir 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Banyak pertanyaan yang diajukan kaum Muslimin berkaitan dengan doa. Ustadz, mengapa doa-doa saya tak terkabul? Mengapa doa di Tanah Suci sepertinya lebih mantap, apakah doa harus ke Tanah Suci?

Sesungguhnya Allah mewajibkan kita banyak berdoa kepada-Nya. Allah juga senang apabila kita malah banyak berdoa bukan sebaliknya. Allah menjanjikan serta menjamin untuk mengabulkan doa kaum Muslimin. Tentu saja kita wajib meyakini dan mengimani janji serta jaminan itu sebagai kepastian karena itu janji dan jaminan dari Allah Yang Maha Menepati Janji.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Waitha saalaka AAibadee AAannee fainnee qareebun ojeebu daAAwata alddaAAi itha daAAani falyastajeeboo lee walyuminoo bee laAAallahum yarshudoona
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Waqala rabbukumu odAAoonee astajib lakum inna allatheena yastakbiroona AAan AAibadatee sayadkhuloona jahannama dakhireena
Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'. (QS. Ghaafir: 60)

Sementara itu, dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW. bersabda,
"Barang siapa yang tidak memohon (berdoa) kepada Allah, Allah justru akan murka kepadanya." (HR. At-Tirmidzi)

Dengan merujuk ayat dan hadits itu, jelaslah bahwa doa adalah ibadah yang wajib kita tunaikan sekaligus kebutuhan asasi kita. Doa juga sebagai bukti pengakuan akan kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan diri kita sebagai hamba yang fakir dan selalu butuh kepada Allah Yang Mahakaya.



Doa juga sebagai salah satu solusi jitu, jalan keluar terbaik, dan sarana pelepasan termanjur dari berbagai himpitan kebutuhan, persoalan, serta problematika hidup. Berdoa bisa bermakna mengadukan masalah atau curhat kepada Allah. Kita seringkali merasa ringan bebannya dan menjadi plong hanya karena menemukan orang yang bersedia mendengarkan keluhan, pengaduan, dan curhatnya. Maka, bagi kita orang beriman, tentulah hanya Allah tempat mengeluh, mengadu, dan curhat terbaik.

Ada sejumlah petunjuk mengenai etika berdoa, antara lain berkaitan dengan waktu. Setiap saat adalah waktu untuk berdoa, tetapi ada waktu-waktu tertentu yang dinyatakan oleh Nabi SAW. waktu-waktu ijabah, yaitu di penghujung malam setelah shalat malam, di waktu sujud, di antara dua shalat, dan di antara adzan dan ikamah. Waktu lainnya adalah mulai turun hujan setelah kemarau, di hari Jumat, dan selama Ramadhan.

Doa juga perlu memperhatikan masalah tempat yang mustajab untuk berdoa, di antaranya di masjid, di Raudhah (Masjid Nabawi), di Arafah ketika wukuf haji pada 9 Dzulhijah, di Multazam (Masjidilharam), di Muzdalifah, ketika mabit 10 Dzulhijah, dan menghadap ke kiblat.

Berdoa juga seharusnya memperhatikan akhlak atau etika berdoa yaitu diulang tiga kali, dilakukan dengan khusyuk dan penuh kesungguhan, diawali dengan ismul adham (memuji Allah SWT.), berbaik sangka kepada Allah SWT. kalau doa akan dikabulkan, serta dinyatakan pada saat lapang dan sempit. Janganlah kita hanya berdoa ketika sempit atau membutuhkan pertolongan, tetapi saat lapang dan bahagia malah melupakan Allah SWT.

Semua doa hamba Allah yang dinyatakan dengan tulus dan ikhlas akan dikabulkan oleh Allah SWT. Wujud terkabulnya doa itu bisa macam-macam, seperti dipenuhi sesuai dengan keinginan seorang hamba dan dikabulkan setelah proses waktu sesuai dengan proses sunatullah (hukum Allah). Allah juga mengabulkan doa-doa kita, tetapi diwujudkan dalam bentuk pemberian lain karena yang diminta oleh seseorang akan dapat mencelakakan yang bersangkutan.

Selain itu, Allah mengabulkan doa dalam bentuk pahala yang akan diberikan kepada yang bersangkutan di akhirat nanti. Allah juga memenuhi doa seseorang setelah orang itu mengalami proses ujian agar yang bersangkutan dapat meningkatkan kualitas kelas keimanannya.

Dunia memang tempat ujian termasuk bagi orang-orang beriman.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Am hasibtum an tadkhuloo aljannata walamma yatikum mathalu allatheena khalaw min qablikum massathumu albasao waalddarrao wazulziloo hatta yaqoola alrrasoolu waallatheena amanoo maAAahu mata nasru Allahi ala inna nasra Allahi qareebun
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)

Sementara itu, dalam ayat lainnya Allah menyatakan,

الم
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Aliflammeem
Ahasiba alnnasu an yutrakoo an yaqooloo amanna wahum la yuftanoona
Aliflaam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut: 1-2)

Terakhir, Allah mewujudkan doa seorang hamba setelah yang bersangkutan menghilangkan sebab-sebab tidak dikabulkan doanya, seperti makanan haram, banyaknya dosa, dan kesalahan dalam berdoa. Jadi, jangan lupa berdoa. Jangan penat untuk berdoa.

Tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. dan yakin setiap doa pasti dikabulkan Allah. ***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, pembina Yayasan Ad Dakwah dan DD Jabar, serta pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 21 Februari 2013 / 10 Rabiul Akhir 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah (suci) bersih dari segala dosa. Namun, dalam perjalanan hidup selanjutnya, manusia mengalami berbagai godaaan dan rayuan setan yang membujuknya untuk berbuat kemaksiatan sehingga mengotori kesucian dirinya. Berbahagialah orang-orang yang menjaga fitrahnya sampai akhir hayatnya sehingga akan memperoleh keuntungan berupa ampunan dan kasih sayang Allah, dan rugilah orang-orang yang mengotori dirinya dengan maksiat sehingga terhalang dari rahmat Allah.

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا


Qad aflaha man zakkaha
Waqad khaba man dassaha


Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syam: 9-10)

Persoalannya, bagaimana kita memenangi perseteruan untuk mencapai kesuksesan melawan kemaksiatan itu? Rasulullah Muhammad SAW. bersabda,
"Di antara kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tak berguna baginya." (HR. Tirmidzi dan lainnya)

Inilah jawaban pertama untuk memenangi pertarungan melawan kemaksiatan. Seorang Muslim harus mempunyai kesensitifan terhadap kebaikan dan keburukan. Seorang Muslim harus mampu menghindarkan diri dari hal-hal tidak berguna, mubazir, terlebih-lebih bila kemaksiatan yang menimbulkan dosa. Hati seorang Muslim sensitif menerima sinyal kebaikan, dan sensitif menolak sinyal kemaksiatan, ibarat power control yang menggerakkan atau remote yang memberi komando ke program mana yang diinginkan. Terlebih lagi bila sinyal itu datangnya dari Sang Pencipta.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ


Innama almuminoona allatheena itha thukira Allahu wajilat quloobuhum waitha tuliyat AAalayhim ayatuhu zadathum eemanan waAAala rabbihim yatawakkaloona


Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu hanyalah mereka yang apabila disebut asma Allah maka bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya dan kepada Rabbnya mereka bertawakal. (QS. Al-Anfal: 2)

Kemudian,
"Barang siapa bergembira atas kebaikannya dan bersedih atas keburukannya, maka dia adalah seorang Mukmin." (Diriwayatkan Thabrani dari Abu Musa RA.)

Jika kemaksiatan merajalela dan kita tidak mempunyai sensitivitas terhadapnya, akan tampak kerusakan pada segala tataran kehidupan sebab kemaksiatan mengundang kerusakan dan bencana.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


Thahara alfasadu fee albarri waalbahri bima kasabat aydee alnnasi liyutheeqahum baAAda allathee AAamiloo laAAallahum yarjiAAoona


Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. (QS. Ar-Rum: 41)

Musibah banjir, longsor, angin badai, gagal panen, hilangnya rasa aman, kemiskinan, itu korelasi dari perilaku kemaksiatan yang selalu berbanding lurus dengan bencana. Manusia sering tidak sensitif untuk menyadarinya. Menurut Ibnul Qoyyim al-Zauziyyah, selain mendatangkan bencana, maksiat akan berakibat menghalangi ilmu, putusnya rezeki, mendatangkan kesedihan, kesepian hati, mengundang kesulitan, melemahkan hati dan badan, sulit melaksanakan ketaatan, mengurangi umur, menghilangkan berkah, hilangnya dorongan untuk berbuat kebaikan, bertumpuknya dosa, membuat hinanya seorang makhluk di hadapan Allah, mewariskan kehinaan, merusak akal, membuat hati menjadi keras, menghilangkan rasa malu, membuat lupa kepada dirinya sendiri dan kepada Allah, menghilangkan sikap ikhsan dari pelakunya, serta yang paling penting mendatangkan bencana.

Adakah perasaan sensitif kita terhadap semua akibat maksiat tersebut? Adakah rasa takut, cemas, dan berbekas dalam hati semua akibat maksiat tersebut? Tentu saja kembali kepada kualitas keimanan kita masing-masing. Ketika seseorang melakukan kemaksiatan, iman akan berkurang, melemah, atau bahkan hilang. Sebaliknya, ketika seseorang melakukan ketaatan, iman akan naik, bertambah, dan kuat. Frekuensi iman turun naik bergantung pada pembinaan.

Kemaksiatan adalah dorongan hati yang membuat perilaku tidak lagi selaras dengan hukum alam yang digariskan Allah SWT. Ciri yang paling dominan pelaku kemaksiatan adalah perilakunya tidak ingin diketahui oleh orang lain, atau paling tidak ketika diketahui orang lain ia akan merasa malu telah melakukannya. Ketika kemaksiatan telanjur dilakukan akan membuat si pelakunya menjadi sempit bergerak dan susah dunia akhirat.

Dalam hal ini, Allah berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ


Waman aAArada AAan thikree fainna lahu maAAeeshatan dankan wanahshuruhu yawma alqiyamati aAAman


Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha: 124)

Di dunia pelaku maksiat akan selalu mengasingkan diri, bersembunyi, berbohong, gelisah. Ruang geraknya menjadi terbatas karena takut diketahui oleh orang lain, takut oleh polisi, KPK, bahkan akan takut dengan raungan sirene ambulans yang lewat, padahal hanya pengangkut jenazah. Pelaku maksiat akan terpuruk di sudut-sudut penjara yang sempit, di tempat-tempat pengasingan, tempat persembunyian dengan kewaspadaan superketat karena takut bertemu dengan orang kenal.

Sebagian ulama menafsirkan "kehidupan yang sempit" pada ayat di atas adalah siksa kubur. Bagaimana tidak, siksa kubur adalah bagian episode permulaan dari rentetan penderitaan yang akan dialami oleh manusia sebelum menuju alam akhirat. Alam kubur adalah alam yang sempit, gelap, yang dijaga oleh para malaikat yang bengis dan kejam bagi pelaku kemaksiatan. Hal itu pun wajib dipercaya sebagai bagian dari keimanan kita kepada alam gaib. Masihkah kita sensitif dan punya rasa takut dengan siksa kubur, sehingga kita berhenti bermaksiat?

Wallahualam.***

[Ditulis oleh H. AGUS ISMAIL, imam dan khatib Jumat, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 8 Februari 2013 / 27 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Bulan Rabiul Awal atau Maulud identik dengan bulan kelahiran Nabi Muhamamd SAW. Seorang manusia yang termulia dan amat luar biasa (insan kamil), pembawa agama yang terakhir yang paling benar keberadaannya di sisi Allah. Pembawa risalah kenabian terakhir dengan perantaraan kalam-Nya yang mulia.

Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Sosok yang agung dan sempurna, sang penggenggam tampuk keagungan dalam keilmuan, ketokohan, maupun kekuasaan yang teramat agung. Namun, Muhammad juga sosok yang manusiawi sehingga bisa ditiru karena Muhammad juga seorang ayah yang amat dikagumi oleh anak-anak, baik anak kandung maupun anak angkat. Seorang suami yang amat dicintai dan dihormati oleh istri-istrinya. Seorang kepala negara dan ahli strategi yang sangat dikagumi dan dihormati oleh rakyatnya.

Selain itu, Muhammad juga seorang yang disegani oleh musuh-musuhnya sekaligus dicintai mereka secara sembunyi-sembunyi. Nabi memiliki sejuta predikat. Tulisan ini mengemukakan sebagian kecil dari sekian kesempurnaan yang dimiliki Rasulullah SAW.

Pertama, Nabi Muhammad SAW. merupakan sebab pertama diciptakannya makhluk. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT. berfirman,
"Kalau tidak karena engkau wahai Muhammad, Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini."
Artinya, kalau tidak karena Nabi Muhammad SAW. maka Allah tidak akan menciptakan alam semesta ini. Di sisi lain disebutkan dalam sebuah hadits bahwa makhluk yang pertama diciptakan adalah nur Nabi Muhammad dan dari nur itu Allah menciptakan alam semesta serta makhluk lainnya.

Kedua, secara fisik Nabi Muhammad SAW. juga menawan.
"Bahwasanya aku hanyalah manusia biasa sama seperti kalian." (HR. Bukhori dan Muslim; bersumber dari sahabat Abdullah bin Zubair al-Khuza'i)
Nabi Muhammad SAW. adalah benar seorang manusia biasa, namun Beliau luar biasa dari sisi aspek lainnya karena Beliau memiliki perbedaan yang prinsipil dan fundamental dari seluruh manusia lainnya. Sekalipun ciri-ciri fisik dijelaskan dalam beberapa hadits tetapi Beliau merupakan sosok yang dilarang diwujudkan dalam bentuk gambar secara visual.

Beberapa hadits menjelaskan ciri fisik Nabi Muhammad SAW.
"Postur tubuh Rasulullah SAW. tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Kulit beliau tidak terlalu putih dan tidak gelap. Rambut beliau tidak terlalu keriting dan tidak lurus tergerai. -al-hadits-" (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Tirmidzi, dan Ahmad yang bersumber dari riwayat Anas bin Malik RA.)
Pada hadits lain disebutkan,
"Saya belum pernah melihat seseorang yang ujung rambutnya menyentuh bagian bawah telinganya serta mengenakan baju berwarna merah yang lebih gagah daripada Rasulullah SAW. Rambut beliau sepundak, kedua bahunya lebar, dan postur tubuh beliau sedang." (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Abu Daud yang bersumber dari riwayat Al-Bara' bin Azib)

Ketiga, Nabi Muhammad SAW. sebagai kepala rumah tangga dan ayah. Hampir semua putra-putri Nabi Muhammad SAW. didapatkan dari satu istri saja, yaitu dari Khadijah binti Khuwailid, kecuali Ibrahim yang dllahirkan oleh Mariyah al-Qibthiyyah. Dalam berumah tangga, Nabi tidak pernah sekali pun melakukan kekerasan kepada istri-istrinya, anak-anak, cucu, maupun anggota keluarga lainnya.
Nabi Muhammad SAW. selalu memperlakukan semua istrinya dengan santun, persuasif, dan adil. Tak satu pun di antara istrinya yang mendapatkan perlakuan lebih (diskriminatif), kecuali memang hal itu telah disepakati oleh para istri. Padahal, rumah Nabi berupa bilik sederhana. Rasa kasih sayang, perhatian, kemandirian, serta kewibawaannya membuat istri-istrinya selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan ridha dan perhatian dari suami tercintanya ini.

Nabi biasa mencium anak-anaknya, ataupun cucu-cucunya, dengan penuh kasih sayang, ketika masyarakat Arab saat itu menganggap perlakuan itu tidak biasa dan aneh. Beliau biasa membawa main anak dan cucunya, sampai-sampai apabila sedang shalat kemudian datang di antara mereka mendekati, maka Nabi langsung menggendongnya selama shalat dan menurunkannya ketika hendak ruku' dan sujud.

Itulah karakteristik dasar Nabi Muhammad SAW. Malu rasanya kita menceritakan keagungan sosok mulia ini karena kita belum mampu bersikap seperti itu. Terlebih sikapnya yang begitu hormat kepada orang yang lebih tua darinya. Nabi sangat menghormati orang-orang yang lebih tua dan dan selalu mendoakan mereka.

Bagi Nabi, semua orang yang pernah menjadi bagian dalam hidup baik saat ini maupun masa yang telah berlalu, adalah bagian dari keluarganya yang wajib dihormati dan diberikan curahan kasih sayang. Sampai-sampai Aisyah RA. pernah menyampaikan,
"Rasulullah SAW. tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya sendiri, seorang wanita atau seorang budak sahaya perempuan." (HR. Muslim)

Ya, Allah semoga kami bisa meneladani Nabi Muhammad SAW. Muhammadkan kami ya Allah.***

[Ditulis oleh H. HABIB SYARIEF MUHAMMAD ALAYDRUS, ketua Yayasan Assalaam Bandung, mantan Ketua PW. NU. Jabar, dan mantan anggota MPR-RI. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 14 Februari 2013 / 3 Rabiul Akhir 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
 وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Wayasaloonaka AAan thee alqarnayni qul saatloo AAalaykum minhu thikran
 Inna makkanna lahu fee alardi waataynahu min kulli shayin sababan

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), tentang Zulqarnain. Katakanlah, Aku akan bacakan kepadamu tentang kisahnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu. (QS. Al Kahfi: 83-84)

Nama Zulqarnain sangat dikenal di kalangan umat Islam, terutama yang rajin ngaderes Al-Qur'an Surat Al Kahfi (Surah No. 18). Ia sosok seorang pemimpin yang berani menerapkan keadilan. Menghukum yang salah dan menghargai orang-orang yang berbuat kebaikan. Suka menolong rakyat menghadapi kesulitan. Bahu-membahu, bantu-membantu menyediakan sarana untuk menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan warganya.
Surat Al Kahfi sendiri, di kalangan umat Islam dipercaya berkhasiat untuk menolak dajal, baik dajal dalam bentuk fisik nyata menjelang saat-saat hari kiamat kelak, maupun dajal dalam bentuk personifikasi perbuatan-perbuatan tercela. Seperti korupsi, penyelewengan hukum, ambisi kekuasaan, menghalalkan segala cara dalam mempertahankan kedudukan, dan lain-lain.

Dr. Ali Hasan Al an Nadwi, penulis tafsir Surat Al Kahfi (1980), menyatakan, Surat Al Kahfi merupakan penguat mental ketakwaan setiap Muslim, pembuka cakrawala keimanan, sehingga terang benderang pembeda antara haq dan batil, irhan dan kafir, sebagaimana tercantum dalam ayat 29:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Waquli alhaqqu min rabbikum faman shaa falyumin waman shaa falyakfur

Dan katakanlah: kebenaran itu datang dari Rabb sembahanmu, maka barang siapa ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barang siapa ingin kafir, biarlah kafir....

Sementara Yusuf Amir Ali, penulis The Holly Quran (1934), menyatakan, Surat Al Kahfi mengandung kabar dari perilaku orang-orang terdahulu dalam menorehkan sejarah perjuangan menegakkan keadilan, pemberantasan kemungkaran, penjabaran ilmu serta hukum-hukum ilahiah yang berlaku sepanjang zaman.

Kisah Zulqarnain terdapat dalam Surat Al Kahfi ayat 83-101. Para ahli tafsir, seperti Ibnu Katsir, memperkirakan, ia hidup 3,000 tahun sebelum Masehi. Sezaman dengan Nabi Ibrahim AS. dan Nabi Ismal AS. Bahkan, disebutkan, Zulqarnain pernah membantu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merehabilitas bangunan Kabah.

Zulqarnain merupakan raja (penguasa) di muka bumi, yang berlaku kasih sayang kepada rakyatnya. Menerapkan hukum tanpa pandang bulu. Tidak pernah pilih kasih. Ia juga suka turba alias turun ke bawah. Istilah sekarang blusukan (Sunda: kukurusukan, bebelesekan), termasuk ke kawasan-kawasan terpencil. Hingga ia mengetahui benar aspirasi rakyat secara tepat. Untuk diberi bantuan dan pemecahan masalah. Bukan untuk dibujuk rayu suaranya agar mendukung atau memilih dia. Zulqarnain pantang melakukan hal-hal tercela semacam itu.

Seperti waktu tiba di sebuah kawasan yang amat terpencil di bawah lembah dua gunung, ia menemukan kelompok penduduk yang teraniaya oleh kejahatan dua makhluk, Yajuj dan Majuj. Dua jenis makhluk perusak lingkungan alam dan kehidupan. Kejahatan mereka berlangsung terus-menerus tanpa ada yang berani melawan. Mereka "sakti mandraguna", karena didukung sistem yang memungkinkan mereka leluasa berbuat sekehendak hati dalam mendapat kesenangan pribadi. Para pemimpin lokal seolah-olah tak berdaya melawan, karena sudah masuk dalam sistem kejahatan mereka. Menerima suap sogok, komisi, fee, dan lain-lain agar membiarkan Yajuj dan Majuj bebas berbuat apa saja. Mengeruk sumber daya alam tanpa memikirkan kondisi masa depan. Asal untung sekarang. Mengeksploitasi sumber daya manusia habis-habisan. Yang pintar-pintar dijadikan "budak intelekual", ilmuwan "pesanan". Yang awam diperas tenaganya dengan upah murah tanpa jaminan layak.

Ketika datang Zulqarnain ke sana, penduduk mengadu. Mohon bantuan menghentikan kejahatan Yajuj dan Majuj beserta antek-anteknya. Bahkan, mereka siap membayar berapa saja, asal benar-benar aman. Zulqarnain menolak iming-iming upah. Pertama, karena belum mulai bekerja. Kedua, sebagai penguasa yang berkewajiban melindungi rakyat, tak elok mendapat "jatah" apa saja di luar fasilitas sebagai pemimpin yang sudah diperoleh secara sah dan resmi. Malah Zulqarnain mengatakan, fasilitas (gaji, tunjangan, dan sebagainya) berupa anugerah Allah SWT. lebih baik dan lebih cukup daripada hasil pungli kepada rakyat.

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

Qaloo ya tha alqarnayni inna yajooja wamajooja mufsidoona fee alardi fahal najAAalu laka kharjan AAala an tajAAala baynana wabaynahum saddan

Mereka berkata, hai Zulqarnain, sesungguhnya Yajuj dan Majuj itu, orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka buatkanlah dinding pemisah antara kami dengan mereka, nanti kami memberi sesuatu upah kepadamu. (QS. Al-Kahfi: 94)

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ

Qala ma makkannee feehi rabbee khayrun

Zuqarnain pun menjawab, "Apa yang dikuasakan oleh Allah SWT. kepadaku, lebih baik...." (QS. Al-Kahfi: 95)

Zulqarnain menolak fee dari proyek yang akan digarapnya. Karena tujuannya bukan mencari keuntungan melainkan untuk menolong rakyatnya dari gangguan keamanan dan rongrongan penjahat. Ia hanya meminta, semua orang ikut terlibat bekerja. Minimal menyediakan bahan-bahan berupa potongan-potongan besi dan tembaga.

Dari kedua bahan tersebut, Zulqarnain membuat benteng raksasa yang membentang di antara kedua lembah gunung, sehingga Yajuj dan Majuj tak dapat lagi lewat ke sana. Tak dapat lagi pulang anting, baik diam-diam maupun terang-terangan, menyebarkan virus-virus kerusakan material-finansial dan mental spiritual terhadap rakyat yang bertahun-tahun menjadi sasaran kerakusan dan kejahatannya.

Alhasil, diperlukan pemimpin tegas berwibawa untuk merombak sistem yang semerawut di segala bidang. Pemimpin yang menjadikan rakyatnya sebagai aset berharga. Pemimpin yang siap sedia melindungi rakyatnya dari segala gangguan, baik internal maupun eksternal. Yang mampu menyapu tingkah laku Yajuj dan Majuj masa kini. Ya, pemimpin model Zulqarnain itu bukan pemimpin yang hanya dekat dan sayang kepada rakyat sebatas pada musim tertentu. Bukan pemimpin yang suka melakukan markup, pungli, atau rekayasa dalam berbagai kegiatan yang mengatasnamakan rakyat. Zulqarnain adalah cermin pemimpin yang adil, jujur, terbuka, dan selalu mementingkan rakyatnya. ***

[Ditulis Oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk Garut, pembimbing haji dan umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 7 Februari 2013 / 26 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Bagaimana kita memahami perintah Allah SWT. dalam menyikapi iman dan Islam seseorang? Tidak sedikit umat yang mengaku Islam tetapi tidak melakukan shalat, tidak melaksanakan puasa Ramadhan, tidak menunaikan zakat (walaupun tergolong muzaki), termasuk tidak mau berangkat haji walaupun sudah diberi kecukupan dan kemampuan oleh Allah SWT. Kalau kita baca sejarah kehidupan Rasulullah SAW. dan para sahabatnya, kita tidak akan temukan sahabat yang meninggalkan ajaran Islam. Jangankan para sahabat, orang-orang munafik sekalipun tetap melaksanakan ajaran Islam sekalipun dengan kondisi dan motivasi yang berbeda. Hal ini dengan jelas tergambar dalam ayat berikut,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Inna almunafiqeena yukhadiAAoona Allaha wahuwa khadiAAuhum waitha qamoo ila alssalati qamoo kusala yuraoona alnnasa wala yathkuroona Allaha illa qaleelan

Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa: 142)

Dalam hal ini, orang-orang munafik sama-sama melaksanakan ajaran Islam (khususnya ibadah mahdhoh) sebagaimana orang beriman yang lain walaupun malas-malasan dengan motivasi ingin dipuji. Oleh karena itu, para sahabat tidak ada yang tahu siapa saja orang-orang munafik waktu itu. Mereka hanya kenal pentolan munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Para sahabat memang bisa menduga orang munafik dari perilaku keseharian di luar ibadah mahdhoh yang mereka lakukan, tetapi tidak berani/bisa memastikan. Mereka baru tahu seseorang memang termasuk kelompok munafik ketika Rasulullah SAW. tidak mau melakukan shalat jenazah untuk orang tersebut.

Tentu saja Arab Badui dalam ayat di atas tidak terkategori kelompok munafik. Lantas, kenapa Allah memerintahkan Rasulullah SAW. mengatakan mereka belum beriman tetapi baru Islam? Arab Badui hidup di pedalaman gurun pasir dengan perilaku yang cenderung kasar dan pengetahuan yang terbatas. Ada di antara mereka yang pernah kencing di dalam Masjid Nabawi sehingga menimbulkan kemarahan para sahabat dan nyaris mau dipukul. Akan tetapi oleh Rasulullah SAW. didekati dan diberi nasihat yang membuat Arab Badui tersebut sangat terkesan kepada Rasulullah SAW. sehingga masuk Islam. Saking terkesannya dengan pendekatan Rasulullah SAW., dia berdoa, "Ya Allah masukkanlah saya dan Rasulullah SAW. ke dalam surga dan tidak yang lain."

Karena hidup di gurun dan jarang berinteraksi dengan masyarakat luar, pemahaman mereka sangat terbatas. Itu pulalah sebabnya di awal keislamannya, mereka lebih menonjolkan amalan fisik dan kurang memahami esensi di balik amalan tersebut. Dalam konteks inilah Allah tidak hanya mengingatkan Arab Badui, tetapi juga seluruh kaum Muslimin agar tidak terjebak hanya pada amalan fisik, tetapi melupakan esensi di balik amalan tersebut. Bukankah sekarang banyak kaum Muslimin yang terjebak pada lahiriahnya shalat, tetapi abai akan esensi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Seolah shalat hanya seremonial ibadah yang kering makna dan tidak berdampak pada kehidupan nyata. Begitu juga puasa yang tidak mengantarkan pada ketaqwaan (kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang dimurkai Allah) menandakan landasan penggerak puasa bukan keimanan yang bersemayam dalam hati. Terhadap hal ini, Rasulullah SAW. menegaskan,
"Betapa banyak orang yang puasa tiada lain yang dia dapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."

Keimanan yang masuk ke hati adalah keimanan yang melahirkan keyakinan, bukan keraguan. Keimanan yang berbuah amal yang dilakukan dengan segenap kesungguhan dan pengorbanan. Buahnya adalah manfaat yang diperoleh orang lain dari kesalehan seorang Muslim. Bukankah Rasulullah SAW. menegaskan,
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."

Sebaliknya, banyak yang mengaku Muslim dan beriman tetapi abai terhadap kesulitan tetangga justru menjadi tanda gugurnya iman.
"Tidak beriman seorang kamu, jika dia tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya merintih kelaparan." (Al Hadits)

Panggilan iman inilah yang membuat seorang Sa'id Al Muhafah membatalkan keberangkatan hajinya begitu mengetahui ada tetangganya yang berhari-hari kelaparan sebagaimana kisah berikut:
    Abu Abdurrahman Abdullah bin Mubarak, ulama terkenal di Mekah, pada suatu ketika setelah selesai menjalani salah satu ritus haji beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. Ia mendengarkan percakapan mereka. "Berapa banyak jemaah haji tahun ini?" tanya malaikat yang satu. "Tujuh ratus ribu," jawab malaikat kedua. "Berapa banyak yang ibadah hajinya diterima?" kata malaikat yang bertanya tadi. "Tidak satu pun," jawab malaikat yang kedua.
    Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. Ia menangis dalam mimpinya. Semua orang telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan. Namun, semua usaha mereka menjadi sia-sia. Dengan gemetaran ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat tadi. "Namun, ada seorang yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia, seluruh haji mereka diterima oleh Allah. Siapa orang tersebut? Sa'id bin Muhafah, tukang sol sepatu di Kota Damsyiq (Damaskus)."
    Mendengar ucapan itu, ulama ini langsung terbangun. Sepulang haji ia tidak langsung pulang ke rumah, tetapi menuju Kota Damaskus, Suriah. Sampai di sana dia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebutkan malaikat dalam mimpinya. Sesampai di sana, Abdullah bin Mubarak menemukan tukang sol sepatu yang berpakaian lusuh. Ia pun menceritakan mimpinya. "Saya ingin tahu adakah sesuatu yang telah Anda perbuat sehingga berhak mendapatkan pahala haji mabrur." "Wah, saya sendiri tidak tahu." "Coba ceritakan bagaimana kehidupan Anda selama ini." Sa'id bin Muhafah bercerita, "Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar, 'Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka wal mulka la syarika laka.' Setiap kali aku mendengar itu aku selalu menangis. Ya Allah aku rindu Mekah, Ya Allah aku rindu melihat Kabah. Izinkan aku datang ya Allah. Oleh karena itu, sejak puluhan tahun lalu, setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya tahun ini saya punya 350 dirham cukup untuk saya melaksanakan haji."
    Akan tetapi, Sa'id bin Muhafah batal berangkat haji. Waktu itu, istrinya yang sedang hamil dan mengidam mencium wangi masakan dan memintanya mencarikan sumbernya lalu minta sedikit untuknya. Temyata, sumber wangi masakan itu berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Sa'id pun bilang pada janda tersebut bahwa istrinya ingin masakan yang dibuat wanita tersebut meskipun sedikit. Namun, janda itu berkata, "Makanan ini tidak dijual Tuan," katanya berlinang air mata. Janda itu pun menceritakan bahwa sudah beberapa hari ini mereka tidak makan karena di rumah tidak ada makanan. Hari itu mereka melihat keledai mati lalu diambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi mereka, daging itu halal karena kalau tidak memakannya, mereka akan mati kelaparan. Mendengar ucapan itu, spontan Said menangis lalu segera pulang. Ia ceritakan kejadian itu pada istrinya, dia pun ikut menangis. Lalu, mereka. memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu. Uang peruntukan haji sebesar 350 dirham itu pun dia berikan kepada mereka. 
    'Ya Allah di sinilah hajiku. Ya Allah di sinilah Mekahku," ujar Sa'id Al Muhafah. Mendengar cerita tersebut, Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata sembari berkata, "Kalau begitu, engkau memang patut mendapatkan haji mabrur." ***
[Ditulis oleh H. ENDRIZAL NAZAR, dai dan pengurus YPM. Nurul Hidayah, Arcamanik Endah. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 1 Februari 2012 / 20 Rabiul Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky