Berkata Ibnu Mas'ud RA. :

Tuntutlah ilmu sebelum ilmu itu diangkat. Ilmu diangkat dengan kematian perawi-perawinya. Demi Tuhan yang jiwaku di dalam kekuasaanNya ! Sesungguhnya orang-orang yang syahid dalam perang sabil lebih suka dibangkitkan oleh Allah nanti sebagai ulama', kerana mereka mengetahui kemuliaan ulama'. Sesungguhnya tak seorang pun dilahirkan berilmu. Ilmu diperoleh dengan belajar.

Akan datang kepada manusia suatu masa ketika kemanisan hati berubah menjadi masin. Sehingga pada hari itu, orang yang berilmu dan orang yang memepelajari ilmu tak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Maka hati orang-orang berilmu seumpama tanah kosong yang bergaram yang turun atasnya hujan dari langit maka tidak juga menjadi tawar. Iaitu, apabila condong hati orang berilmu kepada cinta dunia dan melebihkannya atas cinta akhirat, maka pada saat itu dicabutlah oleh Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkanlah lampu petunjuk dari hati mereka. Maka akan berceritalah kepadamu orang yang berilmu di antara mereka itu, ketika engkau menjumpainya bahawa ia takut kepada Allah dengan lisannya, sementara kezaliman jelas kelihatan pada amal perbuatannya. Alangkah suburnya lidah mereka dan tanduslah hati mereka ketika itu! Tidaklah terjadi yang demikian itu selain kerana para guru mengajar bukan kerana Allah dan para pelajar belajar bukan kerana Allah.

Bukanlah ilmu itu satu kemahiran bercerita tetapi ilmu itu (menimbulkan) taqwa kepada Tuhan.

Al-Quran diturunkan untuk diamalkan. Maka ikutlah pelajaran tentang dengan amalan. Dan akan datang suatu kaum yang mebersihkan Al-Quran seperti membersihkan solekan. Mereka itu tidak termasuk orang-orang yang baik. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya adalah seumpama orang sakit yang menerangkan tentang ubat dan seumpama orang lapar yang menerangkan tentang kelazatan makanan sedang makanan itu tidak dimilikinya.

Orang yang memberi fatwa kepada manusia mengenai tiap-tiap persoalan yang dimintakan kepada mereka fatwanya, adalah orang gila. (Dan seterusnya beliau berkata) : Benteng orang alim ialah 'laa adri' (saya tidak tahu). Jika ia meruntuhkan benteng itu, nescaya telah mendapat bencana tempat-tempat ia berperang.

Petunjuk yang baik pada akhir zaman adalah lebih baik daripada banyak amal perbuatan. (Dan berkata Ibnu Mas'ud RA. pada tempat yang lain) : Kamu sekarang berada pada suatu masa di mana orang-orang baik di antaramu, segera melakukan segala pekerjaan. Lalu akan datang sesudahmu nanti suatu masa, di mana orang-orang baik di antara mereka bersikap teguh lagi berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu kerana banyaknya perbuatan syubhah (yang diragu halal-haramnya).

Kamu sekarang berada dalam satu zaman di mana hawa nafsu mengikut ilmu. Dan akan datang kepadamu nanti suatu zaman di mana ilmu mengikut hawa nafsu.

Apabila seseorang meminta-minta dalam masjid, maka mustahak tidak diberi. Dan apabila ia meminta-minta dengan membaca Al-Quran, janganlah engkau beri.

Bahwa seorang lelaki telah beribadah kepada Allah selama 70 tahun. Kemudian dia melakukan perbuatan keji, maka binasalah amalannya. Kemudian dia melewati seorang miskin dan menyedekahkannya sepotong roti. Maka diampuni oleh Allah dosanya dan dikembalikan kepadanya (pahala) amalannya selama 70 tahun itu.

Aku peringatkan kamu dari berlebih-lebih dalam berkata-kata. Cukuplah bagi seorang manusia sekadar menyampaikan hajat.

Tiada suatu hari pun melainkan di dalamnya malaikat berseru: Hai anak Adam ! Yang sedikit tapi memadai bagimu, lebih baik daripada yang banyak tapi menganiaya kamu.

Hendaklah kamu menjadi airmata ilmu, lampu petunjuk, banyak berdian di rumah, pelita malam, sunyi hati dari selain Allah, memakai pakaian dari kain buruk, terkenal di kalangan penduduk langit dan tersembunyi di kalangan penduduk bumi.

Sudah merupakan dosa bagi seseorang apabila dikatakan kepadanya bertaqwalah kepada Allah! Lalu ia menjawab : Jagalah dirimu sendiri.

Akan datang suatu kaumj yang meninggikan tanah liat dan merendahkan agama. Mereka mengenderai kuda Romawi, mengerjakan sembahyang menghadap kiblatmu, dan mati tidak dalam agamamu.

Dunia adalah kerisauan dan dukacita. Apabila terdapat kesenangan di dalamnya, maka itu bererti keuntungannya.

Dua rakaat solat yang dilakukan oleh seorang alim (berilmu) yang mengerti dan ikhlas (tidak rakus kepada dunia), lebih baik daripada ibadah para ahli ibadah sepanjang masa.

Seorang mukmin melihat dosanya sebagai bukti yang akab merobohinya, sedang seorang munafiq melihat dosanya sebagai lalat yang akan menghinggapi ujung hidungnya, dan kemudian diusir dengan tangannya.

Syaitan pada diri orang mukmin bertubuh kurus-kurus.

Allah SWT membenci seorang pembaca (Al-Quran) yang bertubuh gemuk.

Apabila kalian menginginkan ilmu pengetahuan, maka selidikilah Al-Quran, sebab di dalamnya termuat ilmu-ilmu orang-orang yang terdahulu dan terkemudian.

Al-Quran diturunkan untuk diamalkan isinya. Sesungguhnya ada di antara kalian seseorang yang membaca Al-Quran dari permulaan sampai penghabisan tanpa meninggalkan satu huruf pun tetapi abai mengamalkan kandungannya.

Saya benar-benar benci melihat orang yang hanya mengaanggur saja, dan tidak berusaha untuk memenuhi kepentingan keduniaanmahu pun keakhiratannya.

Pada akhir zaman akan banyak sekali orang yang menyelenggarakan ibadah haji tanpa sebab. Mereka melakukannya dengan perasaan ringan dan sama sekali tanpa kesukaran. Mereka sangat luas rezekinya dan berlimpah ruah hartanya. Tetapi mereka kembali tanpa mebawa pahala, tertutup dari rahmat Allah serta terampas semua ganjarannya. Untanya melintasi padang pasir, sedang tetangganya yang mengikat perutnya kerana sangat kelaparan, tidak dihiraukan, apalagi ditolongnya.

Di antara kata-kata bersayapnya ialah :
  1. Sebaik-baik kaya adalah kaya hati
  2. Sebaik-baik bekal adalah taqwa;
  3. Seburuk-buruk buta adalah buta hati;
  4. Sebesar-besar dosa adalah berdusta;
  5. Seburuk-buruk usaha adalah memungut riba;
  6. Seburuk-buruk makanan usaha adalah makan harta anak yatim;
  7. Siapa memaafkan orang akan dimaafkan Allah;
  8. Dan sesiapa mengampuni orang akan diampuni Allah.
[Petikan dari "HIMPUNAN MUTIARA KATA PARA BIJAKSANA UNTUK MUHASABAH DIRI"] -Muhammad Baihaqi-

Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’.


Allah Azza wa Jalla berfirman : " … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu ...” [QS. Al-Maa’idah : 3]


Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali." Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : “Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur’an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil ...” [QS. Al-An’aam : 115]


Maksudnya benar dalam kabar yang disampaikan, dan adil dalam seluruh perintah dan larangan. Setelah agama disempurnakan bagi mereka, maka sempurnalah nikmat yang diberikan kepada mereka. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman : “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu ...” [QS. Al-Maa’idah : 3]


Maka ridhailah Islam untuk diri kalian, karena ia merupakan agama yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla. Karena-nya Allah mengutus Rasul yang paling utama dan karenanya pula Allah menurunkan Kitab yang paling mulia (Al-Qur-an).


Mengenai firman-Nya : “al-yauma akmaltu lakum diinakum” Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu.” ‘Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, “Maksudnya adalah Islam. Allah telah mengabarkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman bahwa Allah telah menyempurnakan keimanan kepada mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan penambahan sama sekali. Dan Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan Islam sehingga Allah tidak akan pernah menguranginya, bahkan Allah telah meridhainya, sehingga Allah tidak akan memurkainya, selamanya.


Asbath mengatakan, dari as-Suddi, “Ayat ini turun pada hari ‘Arafah, dan setelah itu tidak ada lagi ayat yang turun, yang menyangkut halal dan haram. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dan setelah itu beliau wafat.


Ibnu Jarir dan beberapa ulama lainnya mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia setelah hari ‘Arafah, yaitu setelah 81 hari.” Keduanya telah diriwayatkan Ibnu Jarir. Selanjutnya ia menceritakan, Sufyan bin Waki’ menceritakan kepada kami, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari Harun bin Antarah, dari ayahnya, ia berkata, “Ketika turun ayat: “al-yauma akmaltu lakum diinakumú “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” Yaitu pada haji akbar (besar), maka ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu menangis, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku menangis disebabkan selama ini kita berada dalam penambahan agama kita. Tetapi jika telah sempurna, maka tidak ada sesuatu yang sempurna melainkan akan berkurang.” Kemudian beliau Shallallahu ‘allahi wa sallam bersabda, “Engkau benar.


Pengertian tersebut diperkuat oleh sebuah hadits yang menegaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing.[1]


Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, “Ada seorang Yahudi yang datang kepada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kalian membaca sebuah ayat dalam kitab kalian. Jika ayat tersebut diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari itu (hari turunnya ayat itu) sebagai Hari Raya.’ ‘Ayat yang mana?’ tanya ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu. Orang Yahudi itu berkata, ‘Yaitu firman-Nya : 'Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu ...’ [QS. Al-Maa’idah : 3]


Maka ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diturunkannya ayat itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu di ‘Arafah pada hari Jum’at.”[2]


Demikianlah akhir dari penjelasan Imam Ibnu Katsir.[3]


ALLAH AZZA WA JALLA TELAH MENJELASKAN USHUL DAN FURU’ AGAMA DALAM AL-QUR’AN [4] Anda tentu tahu bahwa Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang ushul (pokok-pokok) dan furu’ (cabang-cabang) agama Islam. Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan tentang tauhid dengan segala macam-macamnya, sampai tentang bergaul dengan sesama manusia seperti adab (tata krama) pertemuan, tata cara minta izin dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : "Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu...” [QS. Al-Mujaadilah : 11]


Dan firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Dan jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, ‘’Kem-balilah !’ Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. An-Nuur : 27-28]


Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan pula kepada kita dalam Al-Qur’an tentang kewajiban wanita muslimah untuk memakai jilbab (busana muslimah) yang sesuai dengan syari’at.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ahzaab : 59]


Juga firman-Nya : “… Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan ...” [QS. An-Nuur : 31]


Allah juga telah menjelaskan kepada kita tentang adab masuk rumah, sebagaimana firman-Nya : “Dan bukanlah suatu kebajikan itu memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa, dan masukilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya ...” [QS. Al-Baqarah : 189]


Dan masih banyak lagi ayat seperti ini. Dengan demikian jelaslah bahwa Islam adalah agama yang sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, tidak boleh ditambahi dan tidak boleh dikurangi. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla tentang al-Qur’an : “… Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu ...” [QS. An-Nahl : 89]


Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang menyangkut masalah kehidupan di akhirat maupun masalah kehidupan di dunia, kecuali telah dijelaskan Allah Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an secara tegas atau dengan isyarat, secara tersurat maupun tersirat.


Adapun firman Allah Azza wa Jalla : “Dan tidak ada seekor binatangpun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Al-Kitab. Kemudian kepada Rabb-lah mereka dikumpulkan.” [QS. Al-An’aam : 38]


Ada yang menafsirkan “Al-Kitab” di sini adalah Al-Qur’an, padahal sebenarnya yang dimaksud yaitu “Lauh Mahfuzh”. Karena apa yang dinyatakan oleh Allah Azza wa Jalla tentang al-Qur’an dalam firman-Nya : “Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu,” lebih tegas daripada yang dinyatakan dalam firman-Nya : “Tidaklah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.


Mungkin ada orang yang bertanya: “Adakah ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan jumlah shalat lima waktu berikut bilangan raka’at tiap-tiap shalat? Bagaimanakah dengan firman Allah Azza wa Jalla yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan segala sesuatu, padahal kita tidak menemukan ayat yang menjelaskan bilangan raka’at tiap-tiap shalat ?”


Jawabnya : Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasanya kita diwajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla : “Barangsiapa yang mentaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” [QS. An-Nisaa’ : 80]


Juga firman-Nya : “…Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ...” [QS. Al-Hasyr : 7]


Maka segala sesuatu yang telah dijelaskan oleh Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya al-Qur’an telah menunjukkannya pula. Karena Sunnah termasuk juga wahyu yang diturunkan dan diajarkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya : “…Dan (juga karena) Allah telah menurunkan al-Kitab (Al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) kepadamu...” [QS. An-Nisaa’ : 113]


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yang sepertinya (yaitu As-Sunnah) bersamanya.[5]


Dengan demikian, apa yang disebutkan dalam Sunnah, maka sebenarnya telah disebutkan pula dalam Al-Qur’an.

Wallahu a'lam Bishawab.


[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]
__________
Foote Note
  1. HR. Muslim dalam Kitabul Iman (no. 145 (232)) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
  2. HR. Al-Bukhari (no. 45, 4407, 4606, 7268) dan Muslim (no. 3017 (5)), dari Thariq bin Shihab Radhiyallahu ‘anhu
  3. Lihat Tafsir Ibnu Katsir (II/15-16), cet I, Maktabah Daarus Salam th. 1413 H.
  4. Sub bahasan ini dinukil dari kutaib al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ oleh Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu
  5. HR. Abu Dawud (no. 4604) dan Ahmad (IV/131), dari Shahabat al-Miqdam bin Ma’dikarib.
Dalam sebuah kitab kuning (kitab klasik) yang berjudul "Durro-tun Nasihin" (Mutiara Nasihat) yang ditulis oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khaubury, halaman 17 dijelaskan, "Bahwasannya peradaban umat manusia di dunia ini akan tegak, kuat nan abadi, manakala di dalamnya ditopang dengan 4 (empat) pilar, yang satu sama lainnya saling menguatkan."

PERTAMA, dengan ilmunya para ulama. Para ulama bagaikan lentera penerang dalam kegelapan dan menara kebaikan, juga pemimpin yang membawa petunjuk dengan ilmunya, mereka mencapai kedudukan al-Akhyar (orang-orang yang penuh dengan kebaikan) serta derajat orang-orang yang bertakwa. Dengan ilmunya, para ulama menjadi tinggi kedudukan dan martabatnya, menjadi agung dan mulia kehormatannya.

Abu al-Aswad al-Duwaly melukiskan, "Jika para raja adalah penguasa bagi sekalian manusia, para ulama adalah penguasa yang mengatur raja." Oleh karena itu, tidaklah aneh kalau Allah memposisikan ulama di atas rata-rata manusia pada umumnya. Allah SWT. berfirman : "Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya ? Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesunggubnya orang yang berakhlaklah yang dapat menerima pelajaran." (QS.Az-Zumar : 9)

Al-Ghozali, pemikir besar Islam memberikan wejangan menarik untuk para ulama. "Ulama seharusnya mampu menjaga jarak dengan penguasa (umara). Ulama yang baik dan lurus tidak berminat mendatangi umara / birokrat selama ada celah untuk menghindarinya. Di sisi lain, ulama yang baik adalah mereka yang dekat dan selalu hadir di tengah-tengah umatnya, memberikan wejangan dan siraman rohani yang sejuk dan menyejukkan, juga menjadi teladan dan panutan bagi umatnya serta komitmen dengan nilai-nilai kemartabatan yang diajarkan Rasulullah SAW."

Kata
Al-Ghozali, seperti dikutip oleh M. Firman, "Ulama dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia dikenal sebagai ulama "su", menjadikannya sebagai tangga untuk meraih pangkat dan kedudukan. Sementara itu, ulama akhirat adalah ulama yang sadar betul akan ilmu yang dimilikinya. Ulama ini memiliki ciri-ciri, antara lain, tidak memanfaatkan ilmu hanya untuk mencari keuntungan duniawi, konsekuen dengan ucapannya, tidak tergesa-gesa memberi fatwa, mementingkan kata hati, selalu yakin dan memiliki pertimbangan yang masak terhadap sesuatu yang baru."

Berkaitan dengan ulama "
su" itu, ada ilustrasi menarik yang dikemukakan oleh Ibn Mas'ud katanya, "Kelak akan datang suatu masa tatkala hati manusia asin, ilmu tidak bermanfaat lagi. Saat itu hati ulama laksana tanah gundul dan berlapiskan garam. Meski disiram hujan, tidak setetes pun air tawar yang segar dapat diminum dari tanah itu."

KEDUA, dengan adilnya para umara (penguasa). Nabiyullah Musa AS. pernah bertanya kepada Allah SWT. "Ya Tuhan, siapakah di antara hamba-Mu orang yang paling adil ?" Allah SWT. menjawab, "Wahai Musa, di antara hamba-Ku orang yang paling adil adalah pemimpin yang memperlakukan umatnya (rakyat)-nya persis seperti memperlakukan kepada keluarganya sendiri."

Syekh Ahmad Musthafa al-Marogi di dalam tafsirnya yang sangat fenomenal, tafsir al-Marogi jilid 2, halaman 166-167 menjelaskan yang dimaksud dengan umara.
  1. Para hakim, jaksa, penasihat hukum, dan pengacara, hendaklah mereka berlaku adil dan amanah. Sekali mereka memperjualbelikan perkara, umatlah yang menjadi korbannya, dan keberkahan hidup tidak akan tampak di muka bumi.
  2. Para ilmuwan dan cendekiawan, hendaklah mereka mengamalkan ilmunya untuk kemajuan dan kebaikan umatnya.
  3. Pihak keamanan (TNI dan Polri), hendaklah mereka menjadi pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat atau umatnya.
  4. Pimpinan partai dan pimpinan organisasi kemasyarakatan, hendaklah mereka berjuang untuk kesejahteraan dan kemakmuran umatnya.
  5. Zuama, orang-orang yang senantiasa membantu kesulitan umatnya dan memberi nasihat manakala umat ada dalam kesusahan.
KETIGA, dengan dermawannya kaum aghniya. Umat ini akan damai, makmur, dan sejahtera, manakala kaum aghniya-nya dermawan, mau membantu saudaranya yang membutuhkan. Allah SWT. berfirman, "Kai laayakuuna duulata bainal aghnia." Artinya, "... agar kekayaan tidak hanya beredar di antara orang kaya di antaramu." (QS. Al-Hasyr : 7)

KEEMPAT, dengan doanya kaum duafa. Mereka akan berdoa kepada Tuhannya demi kemajuan pemimpinnya. Syekh Ja'far al-Barzanji dalam buku sastranya (kitab Barzanji) melukiskan dengan jelas, tegas, dan lugas, Rasulullah SAW., sangat mencintai kaum duafa (orang fakir). Apabila di antara mereka mendapatkan musibah, beliaulah yang pertama menjenguk dan berdoa untuk kesembuhannya. Rasulullah SAW. bersabda, "Tidaklah termasuk orang beriman, yakni orang yang setiap hari perutnya kenyang sementara tetangganya kelaparan." (H.R. Imam Buchari).

Mukhtarol Hadis, halaman 144, dan hadis riwayat at-Thobroni dari Dhomiroh, bahwasannya Rasulullah SAW., bersabda "Bukanlah terhasuk umatku orang yang tidak peduli (tidak sayang) kepada saudaranya yang kecil, dan tidak hormat kepada yang besar, tidaklah dia termasuk orang beriman sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri."

Empat belas abad lalu,
Rasulullah SAW. telah mengingatkan kita bahwa keempat pilar itu harus bersatu, yaitu ulama, umara, aghniya, dan fuqara.

Dunia ini akan hancur kalau tidak ada ulama.
Rasulullah SAW. bersabda, "Apabila kehidupan ini tidak ada ulama, manusia akan binasa seperti binatang, bahkan akan lebih kejam daripada binatang. Kedua, manusia akan hancur kalau tidak ada umara. Satu sama lain akan saling membunuh, yang kuat membunuh yang lemah seperti serigala membunuh domba. Ketiga, kaum aghniya, kalau orang-orang kaya tidak berlaku dermawan, maka kaum duafa akan sengsara, karena hak-hak mereka dirampas. Keempat, kaum duafa, kalau tidak ada doanya kaum duafa maka kaum aghniya (orang kaya) akan bangkrut." Dengan demikian, rumus membangun umat, kuncinya, dengan ilmunya ulama, dengan adilnya umara (penguasa), dermawannya kaum aghniya (orang kaya), dan doanya kaum duafa (orang miskin nan lemah)."

Rasulullah SAW., pemimpin yang arif dan bijaksana. Ketika seorang sahabat bernama Abdur Rachman bin 'Auf (muhajirin) sudah tidak punya apa-apa lagi karena harta kekayaannya ditinggalkan di Mekah, beliau mempertemukannya dengan Sa'ad bin Robi (Ansor), seorang konglomerat. Sa'ad menawarkan jasa kepada Abdur Rachman agar hartanya yang banyak itu dibagi dua dengan dia. Abdur Rachman menolak.

Dalam pikirannya, dia tidak mau menyusahkan orang lain. Lalu, dia berkata kepada
Sa'ad, "Wahai Sa'ad, tolong saya beri pinjam modal buat usaha. Saya mau jualan (bisnis) kecil-kecilan." Akhirnya hanya selang beberapa tahun, Abdur Rachman sudah hidup mandiri bisa membeli rumah, ladang bahkan sudah sejahtera, bisa menghidupi anak istri dan keluarganya.***

(Disalin dari Harian "Pikiran Rakyat" Edisi Jumat (Manis) 12 Februari 2010 / 27 Safar 1431 H pada Kolom "Renungan Jumat" Penulis : ZAENAL ABIDIN adalah Dosen Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung, Pengarang buku "Islam untuk Disiplin Ilmu)
Imam Nasai seorang ahli hadits, meriwayatkan satu wasiat Rasulullah SAW. menjelang wafat. Setelah turun ayat Al-Quran terakhir, membuat sebagian sahabat bergembira. Hal itu merupakan tanda bimbingan dari Allah sudah lengkap dan sempurna.

Namun, ada juga sebagian sahabat yang menangis, karena turunnya ayat terakhir pertanda saat-saat indah bersama dengan Rasulullah SAW. akan segera berakhir. Benar juga. Tak lama setelah itu, Rasulullah SAW. menderita sakit.

Beberapa menit sebelum dipanggil Allah SWT., Rasulullah SAW. berwasiat, seperti digambarkan para ahli hadits sebagai inti misi Islam yang dibawanya. Wasiat itu sangat sederhana dan pendek, "Ash-shalat, ash-shalat, wa maa malakat aimaanukum." Tidak lama setelah itu, Nabi Muhammad SAW. pun meninggalkan keluarga dan umat yang sangat dicintainya. Wasiat nabi bermakna, "Kami titipkan shalat, shalat, shalat, dan orang-orang yang lemah di antara kalian." Para ahli hadits menggambarkan, wasiat tersebut sebagai bentuk hubungan antara hamba Allah secara langsung melalui shalat dan menolong orang-orang lemah sebagai hubungan antar manusia.

Dalam Al-Quran Allah SWT. berfirman, "Sesungguhnya manusia akan mendapatkan kesusahan di dunia dan di akhirat, kecuali bagi mereka yang bisamenjalin hubungan baik dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia." (Q.S. Ali Imran : 112)

Istri Nabi Muhammad SAW., Siti Aisyah RA., pernah menyampaikan informasi adanya seorang wanita yang yang rajin shalat, tak pernah meninggalkan puasa, dan menunaikan ibadah haji. la juga selalu berzikir kepada Allah dan selalu berdoa demi keselamatan keluarganya. Melihat kiprah wanita dusun tersebut, Siti Aisyah RA. menyimpulkan wanita itu akan masuk surga. Namun, Rasulullah SAW. mengatakan sebaliknya. "Wahai Aisyah, andai Engkau ingin tahu contoh wanita yang akan mendapat siksa Tuhan dan dibenci-Nya, maka dia lah wanita itu." Mendengar jawaban Rasulullah SAW., Siti Aisyah RA. sungguh terkejut. "Bagaimana mungkin ya Rasulullah ? Wanita itu bukan hanya shalat lima waktu, tapi juga bangun di akhir malam untuk shalat tahajud. Dia juga bukan hanya berpuasa di bulan Ramadan, melainkan puasa Senin dan Kamis juga puasa enam hari di bulan Syawal. la menunaikan ibadah haji tidak hanya sekali. la memohon khusus kepada Tuhan untuk keselamatan Anda sekeluarga dengan membawa salawat." Rasulullah SAW. menjawab, "Aku tahu wanita itu rajin shalat, puasa, ibadah haji, zikir, dan berdoa terus-menerus. Akan tetapi, aku tahu, wanita itu juga tak pernah rukun dengan tetangganya."

Hal ini menandakan, indikasi keislaman seseorang tampak dari hubungan dengan Allah SWT. dan hubungannya dengan sesama manusia. Bentuk tertinggi hubungan dengan Allah SWT. adalah shalat. Berulang-ulang Rasulullah SAW. menyatakan, "Jika kau ingin menghapuskan dosa,maka perbanyak shalat. Jika kau ingin banyak pahala di sisi Allah, maka perbanyaklah shalat Ketika engkau dihadapkan pada kegelisahan dan kebimbangan dalam hidup, maka dirikanlah shalat. Jika kau tidak bisa mengambil keputusan, maka dirikanlah shalat."

"SESUNGGUHNYA MANUSIA AKAN MENDAPATKAN KESUSAHAN DI DUNIA DAN DI AKHIRAT, KECUALI BAGI MEREKA YANG BISA MENJALIN HUBUNGAN BAIK DENGAN ALLAH DAN MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN SESAMA MANUSIA"

Shalat mendapatkan perhatian luar biasa dalam ajaran Islam. Bahkan, ulama terkenal Ibnu Taimiyah menyatakan, indikator keislaman seseorang bukan terletak pada syahadat melainkan shalat. Wajar, apabila Rasulullah SAW. menyatakan pembeda antara Muslim dengan kafir adalah dari mendirikan shalat. Sedangkan imbauan untuk menolong kaum lemah ditegaskan berkali-kali dalam Al-Quran. Seorang ahli surga digambarkan dalam Al-Quran bertanya kepada penghuni neraka Syaqar. "Mengapa kau masuk neraka Syaqar dan mendapat siksa Allah ?" tanya penghuni surga. Penghuni neraka menjawab, "Kesalahanku hanya dua. Aku belum mendirikan shalat sewaktu hidup dan tidak sempat menolong orang-orang miskin."

Dalam Q.S. Al-Ma'un ditegaskan kriteria-kriteria para pendusta agama. Yakni, tidak memberikan perlindungan kepada anak-anak yatim dan tidak mengulurkan tangan membantu kaum fakir dan miskin. Mengenai kepedulian ini, Nabi Muhammad SAW. menyatakan dalam beberapa haditsnya. Seperti "berikan upah kepada pegawai sebelum keringatnya kering. Berikan makan kepada pembantumu, seperti makanan yang kamu makan.

Perlakukan anak-anak yatim sebagaimana kamu memperlakukan anak-anakmu sendiri."

Kalau kita jeli, dalam Al-Quran terdapat puluhan ayat dan ratusan hadits Nabi Muhammad SAW. yang berisi perintah Islam untuk memberikan perhatian kepada orang-orang lemah, fakir miskin, yatim piatu, dan sejenisnya.

Terakhir, penulis ingatkan lagi pesan terakhir Rasulullah SAW. "Pelihara shalat. Jangan tinggalkan shalat. Lakukan terus shalat dengan baik. Jangan pula lupakan kepedulian kepada kaum lemah." Rasulullah SAW. sendiri melaksanakan shalat rutin seumur hidup minimal empat puluh rakaat, yaitu tujuh belas rakaat shalat wajib, sepuluh rakaat shalat Rawatib, sebelas rakaat tahajud dan witir, dan dua rakaat shalat syukrul-wudu.

Hal tersebut kita lakukan selama Ramadan, bahkan kadang lebih dari empat puluh rakaat. Sayangnya, kita kurang konsisten / istiqamah, sehingga akhirnya shalat kadang terlupakan.***

(Disalin dari Harian "Pikiran Rakyat" Edisi Kamis (Kliwon) 11 Februari 2010 M./ 26 Safar 1431 H. pada Kolom "Cikaracak" Penulis : KH. MIFTAH FARIDL adalah Ketua Umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, Ketua Yayasan Unisba, dan pembimbing haji plus dan umrah "Safari Suci".)
Dalam karyanya, Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Sa'id Hawwa menceritakan seseorang yang meminta 700 ketenangan dalam tujuh kalimat yang dapat ia amalkan sehari-hari kepada ulama.

"Wahai orang bijak, sesungguhnya saya datang untuk mendapatkan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Beritahukan kepada saya tentang langit dan apa yang lebih berat darinya. Tentang bumi dan apa yang lebih luas darinya. Tentang batu karang dan apa yang lebih keras darinya. Tentang api dan apa yang lebih panas darinya. Tentang salju dan apa yang lebih dingin darinya. Tentang lautan dan apa yang lebih kaya darinya. Orang miskin papa dan apa yang lebih hina darinya,"

Orang bijak menjawab, "Ketahuilah, sesungguhnya, berdusta atas orang tidak bersalah lebih berat dari segenap langit. Kebenaran lebih luas dari bumi. Hati yang menerima (lapang dada dan ikhlas) lebih kaya dari lautan. Ketamakan dan kedengkian lebih panas dari api. Kebutuhan akan kerabat bila tidak berhasil lebih dingin dari salju. Hati orang kafir lebih keras dari batu. Penghasut bila terbongkar perkaranya lebih hina dari orang miskin papa."

Menghasut, mengadu domba, atau memprovokasi, dalam bahasa agama disebut namimah. "Sesungguhnya, orang-orang yang suka menghasut tidak akan masuk surga." (HR. Bukhari-Muslim).

Hakikat namimah, kata Sa'id Hawwa ialah menyebarkan rahasia dan merusak tabir. Tidak seharusnya setiap keadaan yang tak disukai disampaikan ke orang lain, kecuali jika ditujukan untuk kemaslahatan kaum Muslim atau menolak kemaksiatan, seperti kesaksian di pengadilan.

Selain ancaman tidak masuk surga, penghasut dikecam sebagai manusia paling buruk perilakunya. "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang paling buruk perilakunya di antara kalian ? Yaitu, orang yang berjalan di atas muka bumi seraya menghasut, yang merusak di antara orang-orang yang tadinya saling mencintai, dan hanya ingin membeberkan aib orang-orang yang tidak bersalah." (HR.Ahmad bin Hanbal).

Menghasut sangat berbahaya jika dilestarikan dalam kehidupan sosial, karena :
  1. Munculnya benih saling mencurigai di antara sesama.
  2. Jatuhnya nama baik dan martabat seseorang.
  3. Terciptanya kekacauan, ketakstabilan, dan ketidakharmonisan dalam hubungan sosial.
Rasulullah SAW. mengecam orang-orang munafik di Madinah karena perilaku kotornya yang suka menghasut saat beliau berhijrah. Kebiasaan menghasut sepertinya sudah menjalar dan meluas di negeri kita saat ini. Konflik menjadi bukti nyata ciptaan para penghasut. Bila kita menginginkan konflik tidak bertambah, kebiasaan buruk itu harus ditinggalkan.
Insya Allah, kita akan dianugerahi kekuatan untuk terlepas dari keinginan menghasut dan mengadu domba jika kita pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu menjaga hati dan berdo'a agar dihindarkan dari sifat dan karakter tersebut. Amin.

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

(Disalin dari Buletin Da'wah Al-Fatihah edisi 12 Februari 2010 M)

Al-Waqidy bercerita, "Suatu saat saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu keras. Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak punya uang sedikit pun. Saya bingung, lalu saya menulis surat kepada teman saya yang seorang alawy (keturunan 'Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjamkan saya uang sebesar seribu dirham. Dia pun mengirimkan uang itu kepada saya dalam sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu lalu saya taruh di rumah.... Malam harinya saya menerima sepucuk surat dari teman saya yang lain. Dia meminta saya meminjamkan uang seribu dirham kepadanya untuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa pikir panjang, saya kirim kantong berisi seribu dirham itu kepadanya dalam keadaan masih tertutup tanpa pernah saya buka.

Besok harinya, saya kedatangan teman yang saya kirimi uang, juga teman alawy yang meminjamkan saya uang. Yang alawy itu menanyakan kepada saya perihal uang seribu dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telah mengeluarkannya untuk suatu keperluan. Tiba-tiba ia mengeluarkan kantong itu sambil tertawa dan berkata, "Demi Allah, bulan Ramadhan sudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali seribu dirham ini. Setelah engkau menulis surat kepada saya, saya kirim uang ini padamu. Sementara itu saya juga mengirim surat kepada teman kita yang satu ini untuk pinjam uang. Lalu ia mengirimkan kantong ini kepada saya. Saya pun kemudian bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini ? Dia pun menceritakannya kepada saya. Lalu sekarang kami datang ke sini untuk membagi uang ini bertiga. Semoga Allah akan memberikan kelapangan kepada kita semua."

AI-Waqidy berkata, "Saya berkata pada kedua teman itu, "Saya tidak tahu siapa di antara kita yang lebih dermawan dari yang lainnya." Kemudian kami membagi uang itu untuk bertiga. Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besar hasil pembagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi. Saya pikir, bagaimana ini ?

Tiba-tiba datanglah utusan Yahya bin Khalid al-Barmaki di pagi hari meminta saya untuk menemuinya. Ketika saya menemui Yahya al-Barmaki, dia berkata, "Hai Al-Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu, kondisimu saat itu sangat memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu ?"

Maka, saya menjelaskan keadaan saya sampai pada kisah tentang teman saya yang Alawy, teman yang satu lagi serta uang yang seribu dirham. Lalu dia berkomentar, "Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang lebih dermawan." Selanjutnya, dia memerintahkan agar saya diberi uang tiga puluh ribu dirham, dan dua puluh ribu dirham untuk kedua teman saya. Dan dia meminta saya untuk menjadi qadhi."

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

(Al-lslam - Pusat lnformasi dan Komunikasi Islam Indonesia)
Pagi ini iseng-iseng saat saya membaca koran "Media Indonesia" Edisi Kamis tanggal 11 Februari 2010, sejenak terpaku di pojok kanan bawah, yaitu kolom "Pause" dengan judul tulisan "Kecerdasan & Penyakit Jantung". Timbul keinginan untuk membacanya sebentar dan tertarik untuk disalin dalam blog ini. Begini lengkapnya tulisan tersebut :
    Selain kebiasaan merokok, tingkat kecerdasan ternyata juga merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung. Studi Dewan Riset Medis (MRC) Inggris mengungkapkan skor Inteligence Quotient (IQ) yang rendah berhubungan dengan tingkat penyakit jantung dan kematian yang lebih tinggi.

    MRC meneliti data dari 1.145 partisan berusia sekitar 55 tahun. Menurut studi ini, ada 5 (lima) faktor resiko penyakit jantung yang utama, yaitu : merokok, IQ penghasilan rendah, tekanan darah tinggi, dan aktivitas fisik yang rendah.

    Peneliti mengatakan terdapat sejumlah mekanisme yang dapat menjelaskan mengapa skor IQ yang rendah dapat memperbesar resiko penyakit jantung. Salah satu pendekatan yang digunakan seseorang untuk berprilaku sehat.

    Mereka yang mengabaikan atau tidak dapat memahami anjuran mengenai dampak merokok, manfaat diet yang sehat, serta pentingnya olahraga bagi kesehatan jantung lebih berpeluang terserang penyakit jantung.

    "Kampanye kesehatan publik harus fokus pada faktor-faktor di masa awal kehidupan yang telah terbukti berpengaruh terhadap tingkat IQ serta menangani ketidaksetaraan sosial" kata Ioanna Tzoulaki, dosen epidemiologi dari Imperial College London.
Dari bacaan di atas tadi dapat ditarik kesimpulan yaitu bahwa kesehatan berhubungan erat dengan tingkat kecerdasan. Bagaimana hubungannya dengan Islam, berikut ini saya coba membahas sambil belajar menulis (mudah-mudahan bisa) :

CERDAS

Saya menjadi ingat bahwa berabad-abad yang lalu sebelum penelitian tersebut dibuat Islam telah menyeru kepada umatnya untuk menjadi orang-orang yang cerdas dan sangat menekankan umatnya untuk menuntut ilmu. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT. adalah perintah untuk belajar (Iqra' bismirab bikal ladzii khalaq) yang artinya "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Pencipta." (QS. Al-Alaq : 1) Kemudian dalam banyak hadits, Rasulullah SAW. bersabda tentang pentingnya untuk menuntut ilmu, dimana diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. "Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu." (HR. Ath-Thabrani)
  2. Dari Abdullah bin Masud RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda : "Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu orang yang telah Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (Shahih Muslim No. 1352)
Seorang yang cerdas / berilmu mengetahui bahwa dengan mengikuti bimbingan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. berikut penerapannya yang dicontohkan salafus shalih, pasti kaum muslimin akan terbimbing ke jalan yang terbaik.

Dengan kata lain Islam tidak mentolerir kebodohan hadir pada umatnya, dengan demikian umat Islam dituntut harus cerdas dengan kewajiban untuk menuntut ilmu.

BERSIH

Disamping harus cerdas dalam Islam juga diajarkan kepada umatnya untuk bersih yang tercermin dalam hadits Rasulullanh SAW. yang populer "Kebersihan adalah sebagian dari Iman." (HR. Muslim) dan masih banyak lagi hadits yang berhubungan dengan perkara bersih, mulai dari kebersihan diri hingga kebersihan lingkungan.

Bersih secara konkrit adalah kebersihan dari kotoran atau sesuatu yang dinilai kotor. Kotoran yang melekat pada badan, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya yang mengakibatkan seseorang tak nyaman dengan kotoran tersebut. Umpamanya, badan yang terkena tanah atau kotoran tertentu, maka dinilai kotor secara jasmaniah, tidak selamanya tidak suci. Jadi, ada perbedaan antara bersih dan suci. Mungkin ada orang yang tampak bersih, tetapi tak suci. Sebagaimana hadits
Rasulullah SAW. berikut ini : "Sesungguhnya Islam itu bersih, hendaklah kamu mewujudkan kebersihan karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersih." (HR. Khatib)

Dalam membangun konsep kebersihan, Islam menetapkan berbagai macam istilah tentang kebersihan, contoh tazkiyah, thaharah, nazhafah dan fitrah, seperti dalam hadis yang memerintahkan khitan, sementara dalam membangun perilaku bersih ada istilah ikhlas, thib al-nafs, ketulusan kalbu, bersih dari dosa, tobat, dan lain-lain sehingga makna bersih amat holistik karena menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat.

SEHAT

Islam sejak dari awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid itu sendiri pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsi-persepsi tentang kehidupan manusia di dunia yang pada gilirannya tentu saja secara merubah perilaku manusia. Dan perilaku yang diharapkan dari manusia yang bertauhid adalah perilaku yang merupakan realisasinya dari ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah.

Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup.

Secara individual dengan landasan nilai tauhid tadi Islam mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan hadats kecil, mandi janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik. Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan (yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka. Kemudian, mencuci kemaluan dengan air (bukan dengan tissue) setelah buang air kecil atau buang air besar. Sementara, ibadah puasa secara pasti telah memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang selama 11 bulan bekerja, laksana mesin mendapatkan kesempatan untuk diistirahatkan.

Akan tetapi ibadah dalam Islam bukanlah arena untuk menyiksa diri, menelantarkan badan dan mengabaikan kesehatan. Suatu ketika datang kepada Rasulullah SAW. beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW. menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.Sehingga kendati kegiatan sehari-harinya sangat padat, sedikit istirahat, makan secukupnya (bahkan sadanya), Rasulullah SAW. dikenal memiliki kondisi fisik yang prima. Beliau jarang sakit. Beliau menderita sakit sesaat menjelang wafat.

Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan.

PENUTUP

Dengan mengelola hidup dalam tuntunan ajaran Islam, dimana diri pribadi diwajibkan senantiasa untuk belajar sehingga menjadi cerdas kemudian akan tercipta kebersihan diri dan lingkungannya dengan demikian mengakibatkan peningkatan kesehatan diri (baik lahir maupun batin). Dengan meningkatnya kesehatan tersebut maka makin jauh diri pribadi akan terserang penyakit lahir maupun batin.

Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ruqyah (1), merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “
Katakanlah ; Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushshilat : 44)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : “D
an Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Israa : 82)

Pengertian “dari Al-Qur’an”, pada ayat tersebut di atas adalah Al-Qur’an itu sendiri. Karena Al-Qur’an secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.
(2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “
Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus : 57)

Dengan demikian, Al-Qur’an merupakan penyembuh yang sempurna di antara seluruh obat hati dan juga obat fisik, sekaligus sebagai obat bagi seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang mampu dan mempunyai kemampuan untuk melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an. Jika pengobatan dan penyembuhan itu dilakukan secara baik terhadap penyakit, dengan didasari kepercayaan dan keimanan, penerimaan yang penuh, keyakinan yang pasti, terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidak ada satu penyakit pun yang mampu melawan Al-Qur’an untuk selamanya. Bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu akan menentang dan melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika (firman-firman itu) turun ke gunung, maka ia akan memporak-porandakan gunung-gunung tersebut, atau jika turun ke bumi, niscaya ia akan membelahnya.


Oleh karena itu, tidak ada satu penyakit hati dan juga penyakit fisik pun melainkan di dalam Al-Qur’an terdapat jalan penyembuhannya, sebab kesembuhan, serta pencegahan terhadapnya bagi orang yang dikaruniai pemahaman oleh Allah terhadap Kitab-Nya. Dan Allah Azza wa Jalla (Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung) telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa penyakit hati dan fisik, juga disertai penyebutan penyembuhan hati dan juga fisik.


Adapun penyakit-penyakit hati terdiri dari dua macam, yaitu : penyakit syubhat (kesamaran) atau ragu, dan penyakit syahwat atau hawa nafsu. Allah yang Maha Suci telah menyebutkan beberapa penyakit hati secara terperinci yang disertai dengan beberapa sebab, sekaligus cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut.
(3)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “
Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ankabuut : 51)

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah
mengemukakan : “Barangsiapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Qur’an, berarti Allah tidak memberikan kesembuhan kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Qur’an, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya.(4)

Mengenai penyakit-penyakit badan atau fisik, Al-Qur’an telah membimbing dan menunjukkan kita kepada pokok-pokok pengobatan dan penyembuhannya, dan juga kaidah-kaidah yang dimilikinya. Yakni, bahwa kaidah pengobatan penyakit badan secara keseluruhan terdapat di dalam Al-Qur’an, yaitu ada tiga point, sebagai berikut :
  1. Menjaga kesehatan.
  2. Melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit.
  3. Mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan. (5)
Jika seorang hamba melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an secara baik dan benar, niscaya dia akan melihat pengaruh yang sangat menakjubkan dalam penyembuhan yang cepat.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata : “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al-Faatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat Al-Faatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat.(6)

Demikian juga pengobatan dengan ruqaa (jama’ dari ruqyah) Nabawi yang riwayatnya shahih merupakan obat yang sangat bermanfaat. Dengan ayat dan do’a yang dipanjatkan. Apabila do’a tersebut terhindar dari penghalang-penghalang terkabulnya do’a itu, maka ia merupakan sebab yang sangat bermanfaat dalam menolak hal-hal yang tidak disenangi dan akan tercapai hal-hal yang diinginkan. Yang demikian itu termasuk salah satu obat yang sangat bermanfaat, khususnya yang dilakukan berkali-kali. Dan do’a pun berfungsi sebagai penangkal bala’ (musibah), mencegah dan menyembuhkannya, menghalangi turunnya, atau meringankannya jika ternyata sudah sempat turun.
(7)

Tidak ada yang dapat mencegah qadha’ (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan.(8)

Tetapi yang harus dimengerti dengan cermat, yaitu bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan beberapa ta’awudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakan untuk mengobati atau untuk ruqyah pada hakikatnya pada semua ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan ta’awwudz itu sendiri memberi manfaat yang besar dan juga dapat menyembuhkan. Namun, ia memerlukan penerimaan (dari orang yang sakit) dan kekuatan orang yang mengobati dan pengaruhnya. Jika suatu penyembuhan itu gagal, maka yang demikian itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh pelaku, atau karena tidak adanya penerimaan oleh pihak yang diobati, atau adanya rintangan yang kuat di dalamnya yang menghalangi reaksi obat.


Pengobatan dengan ruqyah ini dapat dicapai dengan adanya dua aspek, yaitu dari pihak pasien (orang yang sakit) dan dari pihak orang yang mengobati.


Yang berasal dari pihak pasien adalah berupa kekuatan dirinya dan kesungguhan bergantung kepada Allah, serta keyakinannya yang pasti bahwa Al-Qur’an itu memang penyembuh sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ta’awwudz yang benar yang sesuai antara hati dan lisan, maka yang demikian itu merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap penyakit. Dan seseorang yang melakukan perlawanan tidak akan memperoleh kemenangan dari musuh kecuali dengan 2 (dua) hal, yaitu :
  1. Keadaan senjata yang dipergunakan haruslah benar, bagus dan kedua tangan yang menggunakannya pun harus kuat. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka senjata itu tidak banyak berarti, apalagi jika kedua hal di atas tidak ada, yaitu, hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, tawajjuh (menghadap, bergantung sepenuhnya kepada Allah) dan tidak memiliki senjata.
  2. Dari pihak yang mengobati dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah juga harus memenuhi kedua hal di atas (9). Oleh karena itu, Ibnut Tiin rahimahullah berkata : “Ruqyah dengan menggunakan beberapa kalimat ta’awwudz dan juga yang lainnya dari Nama-Nama Allah adalah pengobatan rohani. Jika dilakukan oleh lisan orang-orang yang baik, maka dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala kesembuhan tersebut akan terwujud.” (10)
Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah dengan 3 (tiga) syarat, yaitu : (11)
  1. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau Asma dan sifat-Nya, atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ruqyah itu boleh diucapkan dalam bahasa Arab atau bahasa lain yang difahami maknanya.
  3. Harus diyakini bahwa bukanlah dzat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberi pengaruh itu adalah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja. (12)
(Disalin dari buku Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna Dan Sihir Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keenam Dzulhijjah 1426H/Januari 2006M)
____________
Footnotes :
  1. Ruqyah jama’nya adalah ruqaa, yaitu bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar’i (yaitu berdasarkan pada riwayat yang shahih, atau sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama).
  2. Lihat Al-Jawaabul Kaafi Liman Sa’ala Anid Dawaa-isy Syaafi (jawaban yang memadai bagi orang yang bertanya tentang obat penyembuh yang mujarab) atau Ad-Daa’wad Dawaa’ (penyakit dan obatnya) karya Ibnul Qayyim (hal.7)
  3. Lihat Zaadul Ma’aad karya Ibnul Qayyim (IV/6, IV/352)
  4. Lihat Zaadul Ma’aad (IV/352)
  5. Lihat sumber-sumber sebelumnya Zaadul Ma’aad (IV/6, 352)
  6. Lihat Zaadul Ma’aad (IV/178) dan Al-Jawaabul Kaafi (hal. 23)
  7. Lihat Al-Jawaabul Kaafi (hal. 22-25)
  8. HR Al-Hakim I/493, Ibnu Majah no. 4022, Ahmad V/277, 280, 282 dan Ath-Thahawi no. 3069 dari Tsauban dan At-Tirmidzi no. 2139, Ath-Thahawi dalam Musykilul Autsaar VIII/78 no 3068 dari Salman dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahiihah no. 154
  9. Lihat Zaadul Ma’aad IV/67-68
  10. Fathul Baari (X/196)
  11. Lihat Fathul Baari (X/195), juga Fataawa Al-Allamah Ibni Baaz (II/384)
  12. Lihat Al-Ilaaj bir Ruqaa Minal Kitaab wa Sunnah hal. 83