PENGAJIAN SYEIKH ABDUL QADIR AL-JILANY
Hari Ahad, 9 Dzul Qa’dah tahun 545 H.

Orang beriman itu meraih bekal, sedangkan orang kafir itu menikmati. Orang beriman meraih bekal, karena itu dia berada di perjalanan, lalu menerima sedikit saja dari hartanya, dengan lebih mengedepankan pada akhirat yang lebih besar. Ia membiarkan dirinya dengan sekadar bekal seorang penempuh perjalanan, karena semua hartanya untuk akhirat. Hati dan cintanya di akhirat sana. Hatinya memutuskan untuk menetap di akhirat, bukan menetap di dunia dan penghuninya. Kalau ia dapat makanan yang baik, ia prioritaskan makanan itu untuk orang faqir, karena ia tahu bahwa di akhirat ada makanan lebih baik dari itu semua.
Tujuan utama orang beriman yang ‘arif dan ‘alim adalah mendekati Pintu Allah Azza wa-Jalla. Dengan hatinya ia ingin mendekatiNya di dunia sebelum sampai ke akhirat. Mendekati dengan hatinya adalah tujuan perjalanannya.Aku melihat anda ketika berdiri, ruku’, sujud, bangun malam, berpayah-payah, sementara hatimu terus menerus tidak pernah meninggalkan tempat, tidak keluar dari rumah Wujud-Nya, dan tidak bergerak dari tradisi-Nya.

Carilah Tuhanmu dengan cara yang benar, karena bukan bersusah payah itu yang disebut dengan cara yang benar. Lubangi dirimu dengan alat pelubang kebenaranmu. Buanglah tali pengikatmu dengan makhluk dengan tali keikhlasan dan tauhidmu. Patahkan cekatan tanganmu untuk meraih segalanya dengan tangan zuhudmu di dalamnya. Lemparkan hatimu sampai ke pantai lautan kedekatan dengan Tuhanmu Azza Wa-Jalla. Pada saat itu akan datang kepadamu kapal pertolongan yang meraihmu menuju Allah Azza wa-Jalla.Dunia ini adalah lautan, dan imanmu adalah kapal.
Di sinilah Luqman Al-Hakim RA., berkata, “Wahai anakku, dunia adalah lautan, dan iman adalah kapal, angin yang menjalankan perahunya adalah keta’atan, dan benua adalah akhirat.

Wahai orang-orang yang terus menerus bermaksiat, dalam waktu dekat kamu akan buta, tuli, lumpuh dan miskin. Kerasnya hati para makhluk akan merampas hartamu penuh kerugian. Berfikirlah, kembalilah pada Tuhanmu Azza wa-Jalla.

Jangan sampai kamu musyrik karena hartamu, dan kalian mengandalkan hartamu itu. Renungkanlah datangnya maut. Minimalkan ambisi duniawimu, pendek dan potonglah angan-khayalanmu. Sebagaimana Abu Yazid al-Bisthamy RA., berkata, “Orang mukmin yang arif sama sekali tidak menuntut Allah, bukan tuntutan dunia, bukan pula tuntutan akhirat. Ia hanya meminta dari Tuhannya.

Anak-anak, kembalilah pada Tuhanmu dengan hatimu. Orang yang bertobat adalah yang kembali kepada Allah Azza wa-Jalla, sebagaimana firman-Nya : ”Kembalilah kepada Tuhanmu..

Kembalilah, maka kalian serahkan semua kepada-Nya, serahkan jiwamu, lemparkan dirimu di hadapan-Nya, pada Rencana, Takdir dan Perintah-Nya, larangan dan kehendak-Nya. Lemparkan hatimu tanpa kata-katamu, tanpa tangan dan kakimu, tanpa mata, tanpa “bagaimana”, tanpa kenapa, tanpa kontra dan tanpa berbeda. Tetapi dengan keselarasan dan kejujuran, dengan ucapan yang benar, dengan perintah yang benar, dengan takdir yang benar, dan engkau dapatkan kehendak yang benar. Kalau kamu seperti itu, pasti hatimu akan kembali dengan musyahadah kepada-Nya.

Jangan bersenang dengan sesuatu, tetapi hati-hati dengan sesuatu itu, sesuatu mulai di bawah Arasy sampai bintang tsuraya. Cepatlah lari dari semua makhluk itu, sampai tak tersisa di hatimu. Beradab dengan para syeikh tidak baik kecuali pada orang yang telah berkhidmah demi keselamatan makhluk. Lihatlah perilaku mereka bersama Allah Azza wa-Jalla. Banyak orang yang membikin pujian dan cacian seperti hujan dan kemarau, malam dan siang, keduanya silih berganti, dipandang semuanya dari Allah Azza wa-Jalla, karena semua itu takdir Allah Azza wa-Jalla. Ketika sudah benar-benar nyata di mata mereka, mereka pun tidak menghiraukan pujian orang memuji dan tidak lari dari cacian para pencaci. Karena hati mereka telah keluar dari kecintaan terhadap makhluk maupun kebencian mereka. Justru mereka merasa kasihan sekali dengan para makhluk itu.

Jangan sampai kalian disesatkan oleh ilmu, yang membuat anda tersesat. Anda sholat dan puasa demi makhluk, sampai para makhluk itu merasa tunduk padamu, menyerahkan hartanya padamu, memuji anda di rumah-rumah mereka dan di majlis-majlis mereka, dan anda merasa berhasil karena makhluk-makhluk itu. Jika maut menjemputmu, siksa mendatangimu, kesusahan dan penderitaan yang menghalangi dirimu dengan mereka, padahal tak satu pun yang bisa menolong dirimu, dan harta yang kalian raih dari mereka itu dirampas orang lain, sementara siksa dan hisab menantimu, sungguh wahai mahrum, anda dapatkan semua di dunia, tapi anda dapatkan semua siksa di akhirat esok.

Ahli ibadah adalah para wali, dan para abdal yang mukhlis sangat dekat dengan Allah Azza wa-Jalla. Para Ulama yang mengamalkan ilmunya adalah pengganti Allah di bumi-Nya, menjadi utusan-Nya, mewarisi para Nabi-Nya dan Rasul-Nya. Bukan kalian wahai orang yang di sibukkan oleh retorika, bukan kalian yang religius-formalis sementara batin anda bodoh. Apa yang anda dapatkan ? Islam ? Islam anda tidak benar ! Padahal dasar Islam itu Syahadat. Sementara hatimu tidak bersyahadat. Kalian berucap Tiada Tuhan selain Allah, tetapi anda dusta. Di hatimu terkumpul berhala-berhala ketakutanmu pada penguasamu, lalu menjadi sesembahan hatimu yang menjubali jiwamu. Prinsip mengandalkan karyamu, labamu, upayamu, kekuatanmu, pendengaranmu, penglihatanmu, pukulanmu, adalah berhala-berhala.

Pandanganmu bahwa manfaat, bencana, anugerah, hambatan, kamu anggap dari makhluk, adalah berhala-berhala. Betapa banyak orang menyebutkan semua ini dengan ucapannya, lalu mereka memamerkan, menampakkan seakan-akan mereka ini ahli tawakkal pada Allah Azza wa-Jalla, justru dzikir mereka hanya di lisan, bukan sampai di hatinya. Mereka begitu bangga dengan stylenya, dan mereka katakan, “Nah, begini ini…inilah….bukankah kami ini muslim ? Besok di akhirat akan tampak jelas cacat mental mereka, dan jelas keburukannya. Hai celaka ! Anda mengokohkan dalam ucapan “Tiada Tuhan….” Dengan menafikan semuanya, dan “Kecuali Allah” sebagai penetapan total pada-Nya, bukan selain-Nya. Lalu kenapa masih ada sisa waktu bagi hatimu untuk mengandalkan yang lain selain Allah Azza wa-Jalla ? Anda bohong besar ! Ternyata anda punya berhala yang anda andalkan ? Padahal hati adalah yang beriman, yang menyatu, yang mukhlish, yang taqwa, yang wara’, yang zahid, yang meyakini, yang mengenal, yang mengamalkan. Hatimulah pemimpin, yang lain hanya pasukan. Kalau kamu mengucapkan Laailaaha Illallah, haruslah hatimu dulu baru lisanmu. Pasrahkan pada-Nya, gantungkan pada-Nya, bukan pada lain-Nya. Biarkan lahiriyahmu sibuk dengan aturan hukum, tetapi hatimu harus bersama Allah Azza wa-Jalla.

Biarkan dzohirmu menghadapi kebajikan dan kejahatan, tetapi hatimu harus sibuk bersama pencipta kebajikan dan kejahatan. Yang mengenal-Nya, akan sampai kepada-Nya. Semua ucapan ada di hadirat-Nya. Tawadlu’lah pada-Nya dan hamba-hamba-Nya yang sholeh.

Lipatkanlah hasrat, kesedihan, tangisan, ketakutan dan rasa hinamu, rasa malumu, penyesalanmu atas keteledoranmu karena hilangnya ma’rifat dan pengetahuan serta kedekatan dengan-Nya. ”Allah yang bertindak apa yang dikehendaki-Nya, tidak akan ditanya apa yang dilakukan-Nya, dan mereka justru yang ditanya (apa yang mereka lakukan).” Renungkan apa yang kurang, yang teledor, yang bodoh, yang terlempar, yang bakal menimpanya, dan lihatlah ke masa depan yang dihadapinya, apakah ia diterima atau ditolak oleh Allah SWT., apakah ia diberangus, apakah kelak di hari kiamat bersama orang yang beriman atau bersama orang-orang kafir. Nabi SAW. saja bersabda : ”Akulah yang paling ma’rifat kepada Allah, dan paling takut kepadaNya.”

Diantara jumlah kecil para arifin, ada yang membaca apa yang ada di Lauhul Mahfudz, lalu ia merenungkan di hatinya, dan Allah memerintahkan untuk menyembunyikannya, tidak menampakkan melalui nafsunya, dengan tetap ber-islam, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, sabar atas bencana, dan Zuhud dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. Sama bagi merka antara debu dan emas, antara pujian dan cacian, antara pemberian dan halangan, antara nikmat dan derita, antara kaya dan miskin, antara ada dan tidaknya sesama makhluk. Kalau sesudah sempurna semua itu Allah di belakang mereka secara total, baru kemudian Allah memberikan stempel dengan kepemimpinan ruhani dan kewalian atas makhluk. Setiap orang yang memandangnya senantiasa meraih manfaat karena Kharisma Ilahi dan cahaya-Nya yang membias padanya.

Ya Tuhan Kami berikanlah kami di dunia kebajikan, dan di akhirat kebajikan, dan lindungilah kami dari siksa neraka.

[dari : http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/nasihat-sultan-auliya-syyaikh-abdul-qodir-al-jilani-qsa/]
Masih terlintas di benakku saat aku baru berusia 14 (empat belas) tahun. Ketika itu, aku selalu mencari-cari kesempatan dan menjauh dari pandangan mata orang, kenapa ? Yah, agar aku dapat menenggak khamar (Miras) dan menikmatinya hingga teler. Beberapa tahunpun aku lalui dalam kondisi yang mengenaskan itu. Kini aku sudah tua dan mencapai usia 40 (empat puluh) tahun. Pada suatu hari, aku merasa sangat letih sekali dan sepertinya penyakit telah menggerogotiku dari seluruh tubuh akibat minuman yang laknat itu, dedengkotnya semua barang busuk.

Aku pergi mendatangi seorang dokter untuk memeriksakan kesehatan. Ketika itu, aku sudah tidak lagi minum-minum seperti dulu. Aku telah bertaubat sejak beberapa waktu yang lalu. Ketika sang dokter melihatku dan mengetahui apa yang terjadi terhadap diriku, dia berkata, "Tidak ada obatnya, kecuali mengkonsumsi barang yang dulu pernah engkau konsumsi !" Aku memandanginya sementara letupan emosi mulai menggambar di wajahku. Namun aku ingat betapa kasih sayang Allah terhadap para hamba-Nya, karenanya aku berkata kepadanya, "Tidak mungkin, pasti ada obatnya !!!" Dokter itu berdiri dari tempat duduknya karena tercengang dengan ucapanku. Kemudian dia meninggalkanku dan tidak memberikan sepatah jawaban pun. Akhirnya aku keluar dari situ sementara di dalam diriku telah berjanji kepada Allah untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya dan kembali kepada-Nya. Aku tidak berfikir yang lain-lainnya selain harus pergi ke Masjid al-Haram, di Mekkah.

Aku mengenakan pakaian ihram dan ketika itu waktu zhuhur. Aku himpun semua kekuatan dengan tekad yang bulat menuju kota Mekkah. Beberapa rekanku mengkhawatirkan kondisiku dan lisan mereka menunjukkan keanehan. Aku kemudian melakukan thawaf dan berdoa kepada Allah agar menyembuhkan penyakitku, kemudian aku meminum air Zam-Zam sembari berkata, "Ya Allah, Engkau perkenankan aku sembuh atau Engkau panggil aku ke hadlirat-Mu !"

Tatkala aku meminumnya hingga kenyang, aku merasa rongga mulutku bergetar dan seluruh tubuhku bergoncang-goncang. Setelah itu, aku merasa perlu untuk mengosongkan apa yang ada di dalam perutku. Lalu aku ke luar menuju pintu Masjid al-Haram. Ternyata, beberapa bongkah darah keluar dari rongga mulutku. Ketika sudah berhenti, aku merasakan seakan-akan aku baru dilahirkan kembali. Hal ini membuat imanku kepada rahmat Allah semakin bertambah. Aku kembali ke tempat sumur Zam-Zam dan meminumnya lagi hingga kenyang. Setelah itu, aku merasakan rongga mulutku bergetar kembali dan secepatnya aku keluar menuju pintu al-Haram. Ternyata beberapa bongkah darah keluar lagi, demikianlah hingga terjadi sebanyak 3 (tiga) kali. Kemudian aku merasakan perlunya untuk mengendurkan otot, beristirahat dan tidur. Begitulah yang terjadi, aku menginap di Masjid al-Haram selama tiga hari, tidak minum selain air Zam-Zam. Kemudian setelah itu, aku pulang ke Madinah, tempat kediamanku.

Aku kembali menemui dokter itu untuk check up. Begitu dia memeriksaku, tiba-tiba tangannya bergetar lalu membelalakkan kedua matanya lebar-lebar kepadaku sembari berkata dengan terserak, "Wahai Fulan, sungguh Allah telah memberimu karunia-Nya." Yah, Allah berfirman, "Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Ali Imran : 74)

Wallahu A'lam Bish Shawab.

[SUMBER : Qashash Wa Mawaqif Dzat'lbar, oleh 'Adil bin Muhammad Ali 'Abdul 'Aliy, hal. 47 - 49]
Imam al-Layts bin Sa'd adalah seorang ulama fiqh yang memiliki kapasitas keilmuan setingkat imam-imam madzhab yang empat, bahkan ada para ulama yang mengunggulkannya atas Imam Malik dari segi keilmuan. Sayang, tidak ada murid atau pengikut yang menyebarkan madzhab fiqhnya sehingga tidak berkembang seperti para imam madzhab yang empat.

Dari Lu'luah, pelayan Khalifah Harun ar-Rasyid, ia berkata, "Terjadi silang pendapat antara Harun ar-Rasyid dan anak perempuan pamannya (sepupunya), Zubaidah yang telah menjadi isterinya. Harun berkata, 'Kamu ditalak bila aku bukan termasuk ahli surga.' Kemudian beliau menyesal atas ucapannya itu, lalu mengundang para ahli fiqih agar berkumpul guna memecahkan masalahnya. Setelah berkumpul dan berdiskusi, mereka pun berbeda pendapat bagaimana sebenarnya status sumpahnya tersebut. Khalifah Harun menulis surat kepada seluruh negeri agar menghadirkan para ulama terkemuka mereka ke istana. Tatkala mereka sudah berkumpul, ia menanyai mereka mengenai sumpahnya tersebut, yaitu "Kamu ditalak jika aku tidak masuk surga."

Mereka kembali berselisih pendapat, lalu tinggallah seorang ulama (syaikh) lagi yang belum berbicara dan berada di deretan paling akhir dari majlis tersebut. Beliaulah Imam al-Layts bin Sa'd. la berkata, 'Bila Amirul Mukminin mengosongkan majlisnya ini, aku bersedia berbicara dengannya.' Lalu sang khalifah pun menyuruh para ulama yang ada disitu untuk meninggalkan majlis tersebut. Ia berkata lagi, 'Saya mohon Amirul Mukminin didekatkan kepadaku.' Maka ia pun mendekatinya. Syaikh yang 'Alim ini berkata, 'Apakah aku mendapatkan jaminan keamanan kalau berbicara ?" Amirul Mukminin menjawab, 'Ya.' Maka al-Layts memerintahkan agar dibawa kepadanya sebuah mushaf.

Ketika sudah dihadirkan, ia berkata, 'Tolong dibuka wahai Amirul Mukminin hingga surat ar-Rahman. Lalu bacalah.' Sang khalifah membacanya dan tatkala ia sampai pada ayat, "Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga." (QS. ar-Rahman : 46) maka, al-Layts memerintahkan, 'Tahan dulu, wahai Amirul Mukminin ! Katakanlah, Wallaahi (Demi Allah).' Ucapan syaikh ini membuat berat hati khalifah. Syaikh itu kembali berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, persyaratanku tadi adalah jaminan keamanan bukan ? (maksudnya, agar khalifah tidak murka kepadanya atas permintaannya tersebut-red) Maka khalifah pun mengucapkan, 'Wallaahi (Demi Allah)' setelah itu berkatalah al-Layts, 'Katakanlah, 'Aku takut akan saat menghadap Tuhahku' Maka khalifah menuruti perintah ulama langka itu dan mengulangi seperti apa yang diucapkannya. Al-Layts berkata lagi, 'Wahai Amirul Mukminin, pahalanya dua surga bukan hanya satu surga !" Periwayat mengatakan, "Lalu kami mendengar suara tepuk tangan dan luapan gembira di balik tirai. Maka berkatalah Harun ar-Rasyid 'Bagus apa yang kau putuskan itu.' Lalu ia menghadiahi al-Layts dengan beberapa hadiah dan mengalokasikan honor untuknya." Ini merupakan sikap mulia yang menunjukkan indahnya ilmu di mana kebenaran dan etika sama-sama dijunjung tinggi.

Anda melihat bahwa Imam al-Layts mengetahui kemana arah fatwa, yaitu thalaq tersebut tidak jatuh bila ar-Rasyid adalah termasuk orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya. Ia juga melihat dirinya tidak boleh mengeluarkan fatwa begitu saja hingga syaratnya sudah kuat, yaitu takut kepada Allah Ta'ala. Dan ini dilakukan dengan cara meminta ar-Rasyid bersumpah hingga diri al-Layts merasa tenang bahwa fatwanya sudah benar. la juga meminta agar orang-orang yang ada di majlis dibubarkan dulu agar sumpah yang dimintanya dari ar-Rasyid tidak dilihat orang banyak, di samping agar ar-Rasyid tidak terpancing seperti yang ingin dilakukannya andaikata ia (al-Layts) tidak terlebih dahulu mengajukan persyaratan mendapatkan perlindungan darinya supaya dirinya bisa tentram. Jadi, fatwa yang dikeluarkan al-Layts tidak semata-mata spontanitas. Ia bersumber dari al-Qur'an itu sendiri, karena itu ia meminta al-Layts agar membaca ayat di atas. Maka tenanglah hati ar-Rasyid dengan hal itu dan tahulah ia bahwa dirinya masih bisa mempertahankan isterinya secara halal dan sah berdasarkan nash yang pasti dari Kalamullah. Ini tentunya merupakan anugerah Allah, yang dalam kebanyakan kondisi tidak terlepas dari adab yang bagus bagi orang yang mau berpikir dan memahami.

Wallahu A'lam Bish Shawab.

[SUMBER : Mi'ah Qishshah Wa Qishshah karya Muhammad Amin al-Jundi, Juz II, hal.40-42]
Secara etimologi, roh berarti ghirah (semangat). Lebih luas dapat diartikan adalah suatu kekuatan yang tersimpan dalam dirI seseorang sebagai pendorong dan penyemangat untuk melakukan aktivitas. Sementara jihad berasal dari kata jaahada, yujaahidu, jihaad. Artinya, saling mencurahkan usaha, tenaga, pikiran. Imam an Naisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad (menurut bahasa) yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu. Ruhul jihad secara sederhana (umum) diartikan semangat juang atau kerja keras. Adapun pengertian secara terminologi (istilah) adalah mencurahkan segenap kemampuan dan tenaga secara lahir batin untuk berjuang di jalan Allah, agar tercapai kedamaian dan ketenteraman (li masholihil ummah) dalam naungan dan ridha-Nya.

Ruhul jihad diibaratkan roh itu jiwa, sedangkan jihad itu raga / jasad. Ruhul jihad laksana satu tubuh yang menjadi satu kesatuan tak terpisahkan antara roh dan jasad. Jasad yang tidak memiliki roh, artinya ia telah mati. Maka manusia yang tidak memiliki ruhul jihad, artinya ia telah mati daya juangnya, telah hilang manfaat dalam dirinya.

Pengertian dan pemahaman jihad di masyarakat kita sekarang telah mengalami pergeseran makna. Jihad identik dengan "perang dengan senjata (harb)." Padahal jihad dimaksud adalah bagaimana berjuang mengendalikan diri melaksanakan ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh dan godaan, jangan sampai terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Perjuangan ini sangat berat. Berjihad secara konsisten dan berkesinambungan, tentunya memerlukan pengorbanan yang sangat mahal.

Al-Quran telah mengarahkan makna jihad pada arti yang lebih spesifik, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk berjuang (berjihad) di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, strategi dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya, "Sesungguhnya, orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al Hujarat : 15)

Demikian pula pada firman-Nya yang lain, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu saling melindungi, dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Anfal : 72)

Makna jihad di dalam Al Quran memiliki makna khusus dan umum. Makna Khusus jihad berarti al-qitaal, al-harb atau al-ghazwu, yakni berperang di jalan Allah. Jihad dalam arti berperang merupakan jihad kecil. Adapun jihad yang besar (akbar) adalah jihad melawan dan mengendalikan hawa nafsunya untuk menanti Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana sabda Nabi SAW., "Al Mujaahidu manjaahada nafsahu." Artinya, orang yang berjihad di jalan Allah adalah orang yang berjuang mengendalikan dirinya melawan hawa nafsu dari apa yang dilarang Allah.

Oleh sebab itu, jihad terhadap diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad melawan orang-orang kafir dan hal tersebut merupakan fondasinya. Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap dirinya sendiri dalam menaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dengan ikhlas karena-Nya, maka bagaimana mungkin dia bisa berjihad melawan orang-orang kafir. Bagaimana dia bisa melawan orang-orang kafir, sedangkan musuh (hawa nafsunya) yang berada di samping kiri dan kanannya masih menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir), sehingga dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad. Karena itu, jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad akbar.

Hawa nafsu itu merapakan pengaruh setan yang merasuk dalam diri seseorang. Setan selalu menghadang, menipu, dan menggoda hamba, agar tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan kelezatan dan kenikmatan (dunia). Oleh karenanya, jihad melawan hawa nafsu adalah fondasi dalam berjihad. Allah SWT. berfirman, "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya, supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Fathir : 6)

Seorang hamba hendaknya mengerahkan segala kekuatan dalam memerangi setan, karena musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa.

Penjelasan di atas memberikan gambaran bahwa jihad dibagi menjadi beberapa bagian, sebagai berikut :
  1. Jihad melawan diri sendiri (hawa nafeu) dan hal ini terbagi lagi menjadi 4 (empat) tingkatan.
    Pertama, berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia akan sengsara di dunia dan akhirat.
    Kedua, berjihad dalam mengamalkan ilmu yang dia pelajari.
    Ketiga, berjihad dalam dakwah (menyeru manusia) kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari azab Allah.
    Keempat, berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah serta gangguan manusia karena Allah.
    Jika seorang hamba telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, dia tergolong robbaniyyin (orang-orang yang memiliki sifat ketuhanan). Para salaf dahulu telah sepakat bahwa seorang alim tidak bisa dikatakan robbani hingga dia tahu kebenaran, lalu mengamalkan dan mengajarkannya. Barang siapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya, dia akan diberikan pujian di kalangan para penghuni langit.
  2. Jihad melawan setan, yaitu dalam menolak syubhat (tidak jelas halal / haram) dan keraguan dalam keimanan serta menolak bisikan syahwat.
  3. Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik, yaitu jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih dikhususkan dengan lisan.
  4. Jihad melawan orang-orang zalim, ahli bid'ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki 3 (tiga) tahapan. Dengan tangan bila mampu, jika tidak maka dengan lisan, dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.
Barangsiapa yang mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad, maka dia mati dalam kemunafikan. Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam menaati Allah dan jihad melawan setan adalah fardu ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardu kifayah. Masih adakah semangat kita untuk berjuang sebagaimana gambaran di atas ?

Wallaahu a'lam bishshowaab.***

[Ditulis Oleh KH. HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDRUS, Ketua Umum Yayasan Assalaam Bandung, mantan anggota MPR RI. Tulisan ini disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) / 14 Mei 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(17) ANTARA ORANG TAAT YANG TIDAK PERNAH DURHAKA DAN ORANG DURHAKA YANG MELAKUKAN TAUBATAN NASHUHAN

Dari sini pula dapat diketahui satu masalah yang cukup penting, apakah orang taat yang tidak pernah durhaka lebih baik daripada orang durhaka yang bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuhan ? Ataukah orang yang bertaubat itu yang lebih baik ? Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Ada golongan orang yang menegaskan bahwa orang yang tidak pernah durhaka lebih baik daripada orang durhaka yang melakukan taubatan nashuhan (taubat dengan sebenar-benarnya). Mereka mengemukakan beberapa hujjah :
  1. Hamba yang paling sempurna dan utama ialah yang paling taat kepada Allah. Orang yang tidak pernah durhaka berarti orang yang paling taat, sehingga dia menjadi orang yang paling utama.
  2. Pada saat orang durhaka sibuk dengan kedurhakaannya, maka orang yang taat menempuh beberapa tahapan menuju ke atas, sehingga derajatnya lebih tinggi. Taruhlah bahwa orang yang durhaka itu bertaubat lalu menyusul perjalanannya. Tapi mana mungkin dia dapat menyusulnya, karena sebelumnya dia sudah berhenti ?
  3. Maksud taubat adalah untuk menghapus kesalahan-kesalahannya, lalu setelah itu dia seperti tidak pernah melakukan kesalahan itu. Perbuatannya pada masa kedurhakaan tidak mendatangkan keberuntungan dan tidak pula hukuman baginya. Lalu bagaimana jika keadaannya ini dibandingkan dengan orang yang berusaha dan mendapat keberuntungan ?
  4. Allah membenci kedurhakaan terhadap-Nya dan menyalahi perintah-Nya. Pada waktu dia melakukan dosa ini, maka dia mendapat kebencian dari Allah. Sementara orang yang taat mendapat keridhaan dan Allah senantiasa ridha kepadanya. Maka tidak dapat diragukan bahwa keadaan orang kedua ini lebih baik daripada keadaan orang yang diridhai Allah, lalu dimurkai, lalu diridhai. Ridha yang berkelanjutan lebih baik daripada ridha yang berselang-seling.
  5. Dosa itu bisa diibaratkan minum racun, sedangkan taubat merupakan penawar dan obatnya. Sementara ketaatan bisa diibaratkan kesehatan. Terus-menerus dalam keadaan sehat tentu lebih baik daripada keadaan sehat yang diselingi dengan sakit karena sakit atau racun yang masuk, lalu sembuh dan sehat kembali.
  6. Orang yang durhaka dalam keadaan gawat dan terancam bahaya, yang keadaannya tidak lepas dari 3 (tiga) hal: Mati karena minum racun, kekuatannya berkurang dan melemah kalau memang tidak mati, dan kekuatannya kembali seperti semula, atau lebih lemah atau lebih baik.
  7. Orang yang taat berada dalam sebuah kebun yang dikelilingi ketaatannya, sehingga membentuk pagar yang kokoh bagi dirinya, dan musuh pun tidak mampu menyusup ke sana. Tumbuh-tumbuhannya segar dan buahnya lebat.
  8. Musuh tamak kepada orang yang durhaka, karena kelemahan ilmu dan tekadnya, karena itu dia disebut orang jahil.
  9. Kedurhakaan pasti menimbulkan pengaruh yang kurang baik, entah berupa kehancuran total, penyesalan atau pun siksaan, dan kesudahannya bisa berupa ampunan dan masuk ke surga. Orang yang bertaubat harus membebaskan pengaruh ini dan menebus kesalahannya, sedangkan orang yang taat tinggal menambah dan meninggikan derajatnya. Maka shalat malam yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bermanfaat untuk meninggikan derajat beliau, sedangkan shalat malam yang dilakukan selain beliau untuk menebus kesalahan. 2 (Dua) keadaan ini saja tidak bisa disetarakan.
  10. Orang taat kepada Allah berjalan dengan seluruh amalnya. Selagi ketaatan dan amalnya bertambah, maka bertambah pula usaha ketaatannya. Dia bisa diibaratkan pedagang yang melancong dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan 10 (sepuluh) kali lipat dari modalnya. Lalu dia melancong lagi dengan membawa modal pertama dan ditambah keuntungannya, sehingga dia mendapatkan keuntungan 10 (sepuluh) kali lipat lagi. Begitu seterusnya dalam perjalanan ketiga kalinya, dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Apabila sekali saja dia tidak mengadakan perjalanan, maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan seperti yang dia dapatkan dalam 1 (satu) kali perjalanannya, atau bahkan lebih. Inilah makna yang tersirat di dalam perkataan Al-Junaid Rahimahullah, "Jika orang yang beribadah menghadap secara tulus kepada Allah selama 1000 (seribu) tahun, kemudian dia berpaling sesaat saja, maka pahala yang terlepas darinya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya."
Ada golongan lain yang mengatakan bahwa orang yang bertaubat dengan taubatan nashuhan lebih baik daripada orang yang belum pernah melakukan kedurhakaan, sekalipun mereka tidak mengingkari keadaan orang kedua yang lebih banyak kebaikannya. Mereka mengemukakan beberapa alasan :
  1. Taubat merupakan ubudiyah yang paling dicintai Allah dan paling mulia, Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Andaikan taubat bukan merupakan sesuatu paling Dia cintai, tentunya Dia tidak akan menguji hamba dengan dosa. Karena kecintaan-Nya kepada taubat hamba, maka Dia mengujinya dengan dosa, agar hamba itu melakukan sesuatu yang paling dicintai-Nya, yaitu taubat. Sebagai tambahan atas kecintaan-Nya kepada hamba, maka orang-orang yang bertaubat mendapatkan kecintaan secara khusus di sisi-Nya.
  2. Taubat mempunyai tempat tersendiri di sisi Allah, yang tidak dimiliki ketaatan-ketaatan lainnya. Karena itu Allah amat gembira melihat taubat hamba-Nya. Kegembiraan Allah itu dimisalkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan kegembiraan seorang musafir yang mendapatkan kembali onta yang membawa seluruh bekalnya, di suatu tempat yang ganas dan kering, setelah onta itu lepas entah kemana, dan orang itu sudah putus asa untuk bisa bertahan hidup di tempat itu. Kegembiraan ini tidak ditampakkan terhadap satu ketaatanpun kecuali terhadap taubat. Tentu saja kegembiraan Allah ini mempunyai pengaruh yang amat kuat di dalam hati orang yang bertaubat. Sehingga orang yang bertaubat mendapatkan kecintaan Allah, yang berarti dia menjadi kekasih Allah.
  3. Di dalam taubat terkandung kehinaan, kehancuran hati, kehampaan, ketundukan dan kebergantungan kepada Allah, suatu sikap yang lebih dicintai Allah daripada sekian banyak amal-amal zhahir, sekalipun takaran dan porsinya lebih banyak daripada ubudiyah taubat. Sebab menghinakan diri merupakan ruh ibadah dan intinya.
  4. Tingkatan menghinakan diri bagi orang yang bertaubat lebih sempurna daripada tingkatan-tingkatan ubudiyah lainnya, karena dia masih bisa melakukan apa yang dilakukan orang lain, sementara dia memiliki keistimewaan dengan menghinakan diri dan merasakan hatinya yang hampa. Allah lebih dekat dengan hamba-Nya saat dia menghinakan diri.
  5. Terkadang dosa justru lebih bermanfaat bagi hamba selagi disertai dengan taubat daripada berbagai macam ketaatan. Inilah makna perkataan sebagian orang salaf, "Adakalanya seorang hamba berbuat dosa lalu masuk surga, dan adakalanya seorang hamba melakukan ketaatan lalu masuk neraka." Orang-orang bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi ?" Dia menjawab, "Dia berbuat dosa, dan dosa itu selalu tampak di depan matanya. Jika berdiri, duduk dan berjalan dia selalu teringat dosanya itu lalu membuat hatinya terasa hancur, bertaubat, menyesal dan memohon ampunan, sehingga yang demikian ini menjadi sebab keselamatannya. Dia berbuat kebaikan dan kebaikannya itu selalu tampak di depan matanya. Jika berdiri, duduk dan berjalan dia selalu teringat kebaikannya itu, sehingga membuatnya takabur, ujub dan merasa telah mendapat karunia, sehingga yang demikian ini menjadi sebab kebinasaannya." Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada seorang hamba, maka Dia memberinya dosa yang membuat hatinya hancur, kepalanya merunduk, tidak ujub dan tidak takabur, sehingga dosa ini lebih bermanfaat daripada sekian banyak ketaatan. Taubatnya ini bisa diumpamakan obat yang diminum untuk mengeluarkan seluruh penyakit di dalam tubuh.
  6. Ada kabar gembira yang disampaikan Allah kepada orang-orang yang bertaubat, jika taubatnya itu disertai dengan iman dan amal shalih, sebagaimana firman-Nya,

    إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
    "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan : 70)

    Ibnu Abbas berkata, "Aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjukkan kegembiraan karena sesuatu seperti kegembiraan beliau saat ayat ini turun, begitu pula saat surat Al-Fath turun." Orang-orang berbeda pendapat tentang sifat penggantian ini, apakah hal itu berlaku di dunia ataukah di akhirat ? Menurut Ibnu Abbas dan rekan-rekannya, keburukan amal mereka diganti dengan kebaikan, syirik diganti dengan iman, zina diganti dengan menjaga kehormatannya, dusta diganti dengan kejujuran, khianat diganti dengan amanat. Berdasarkan makna ayat ini, sifat-sifat dan amal-amal mereka yang buruk diganti dengan sifat dan amal yang shalih, sebagaimana sakit yang diganti dengan kesehatan. Sedangkan menurut Sa'id bin Al-Musayyab dan lain-lainnya dari kalangan tabi'in, maksudnya Allah mengganti keburukan yang mereka lakukan di dunia dengan kebaikan di akhirat, Dia memberi tempat bagi setiap keburukan dengan kebaikan.
  7. Dengan penyesalannya, orang yang bertaubat mengganti setiap keburukannya dengan kebaikan. Penyesalan ini merupakan wujud taubat dari keburukan itu. Taubat dari segala dosa adalah kebaikan. Sehingga setiap dosa yang dilakukan akan hilang dengan adanya taubat, karena tempatnya diganti dengan kebaikan. Berdasarkan logika seperti ini, porsi kebaikan itu akan menjadi sama dengan keburukan, lebih sedikit atau lebih banyak. Ini tergantung dari bobot taubat dan ketulusan hati orang yang bertaubat. Inilah rahasia masalah taubat dan sentuhannya yang halus.
  8. Dosa orang yang diakui pelakunya bisa menimbulkan kebaikan yang lebih besar, lebih banyak, lebih bermanfaat dan lebih mendatangkan kecintaan Allah daripada dosa itu sendiri. Sampai-sampai syetan berkata, "Andaikan saja aku tidak pernah menyeretnya untuk melakukan dosa itu." Syetan merasa menyesal karena mendorong dan menyeret orang itu untuk melakukan dosa, seperti penyesalan pelakunya karena telah melakukan dosa itu. Tetapi 2 (dua) penyesalan ini jauh berbeda. Allah menyukai hamba-Nya karena telah memancing amarah musuh-Nya, sementara hamba itu juga mendapatkan sesuatu yang dicintai Allah, yaitu taubat, apalagi jika taubat itu disertai dengan tambahan amal shalih, sehingga satu keburukan berubah menjadi satu kebaikan dan bahkan banyak kebaikan.
Perhatikanlah firman Allah, "Maka kejahatan-kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan-kebaikan." Allah tidak mengatakan satu bilangan keburukan dan kebaikan, tetapi banyak. Ini bisa berarti satu keburukan diganti dengan banyak kebaikan, tergantung dari kondisinya.

[Berikutnya....(18) Taubat Menurut Al-Qur'an dan Kaitan Taubat dengan Istighfar]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
Manusia dilahirkan di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu Allah mengajarkan kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan pengertian. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl : 78) Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah "Ilmu Laduni" artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Para malaikat-Nya pun berkata:
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (QS. Al-Baqarah : 32)

Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian.
  1. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy).
  2. Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).
Bagian pertama

Ilmu yang didapat tanpa belajar terbagi menjadi 2 (dua) macam :
  1. Ilmu Syar'iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri'), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa AS. dari Nabi Khidlir AS. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Khidhir AS. :
    فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
    "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi : 65) Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam : "Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga." Ilmu syari'at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.
  2. Ilmu Ma'rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru'ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari'at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur'an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.
Bagian Kedua

Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan
kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya. Dari ketiga ilmu ini (syari'at, ma'rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari'at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari'at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.

Khurafat Shufi


Istilah "
ilmu laduni" secara khusus tadi telah terkontaminasi (tercemari) oleh virus khurafat shufiyyah. Sekelompok shufi mengatakan bahwa :
  1. "Ilmu laduni" atau kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits(sunnah), tidak bisa mendapatkannya.
  2. "Ilmu laduni" atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (syari'at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa alaihissalam adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan : "Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany."
  3. Ilmu syari'at (Al-Qur'an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  4. Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf, langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul Kamil fi Ma'rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.
  5. Untuk menafsiri ayat atau untuk mengatakan derajat hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka : "Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku." atau "Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apapun."
Sehingga akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli kasyf (tasawwuf).

Bantahan Singkat Terhadap Kesesatan di atas :
  1. Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah dengan ilham. Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasalam : "Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui." (Al-Iraqy berkata : HR. Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu anhu, hadits dhaif).
  2. Yang benar menurut Ahlusunnah wal Jama'ah adalah Nabi Khidhir alaihissalam memiliki syari'at tersendiri sebagaimana Nabi Musa alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau Nabi Musa alaihissalam lebih utama daripada Nabi Khidhir alaihissalam karena Nabi Musa alaihissalam termasuk Ulul 'Azmi (lima Nabi yang memiliki keteguhan hati dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad). Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang nyata karena Nabi shallallahu 'alaihi wasalam hanya mewariskan ilmu syari'at (ilmu wahyu), Al-Qur'an dan As-Sunnah. Nabi mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi shallallahu 'alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah.
  3. Anggapan bahwa ilmu syari'at itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya syetan untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf adalah gudangnya kegelapan dan kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya Islam.
  4. Anggapan bahwa dengan "ilmu laduni" sudah cukup adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir Al-Jailani mengatakan: "Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari'at adalah zindiq (sesat)."
  5. Inilah penyebab lain bagi kesesatan tasawwuf. Banyak sekali kesyirikan dan kebid'ahan dalam tasawwuf yang didasarkan kepada hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah karena mereka menggunakan metode tafsir bathin dan metode kasyf dalam menilai hadits, 2 (dua) metode bid'ah yang menyesatkan.
Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda : "Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini." (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Al-Bazzar dan Abu Nu'aim, hadits hasan). (Abu Hamzah As-Sanuwi).

Maraji' :
1. Al-Fathur Rabbaniy, Abdul Qadir Al-Jailani (hal. 159, 143, 232).
2. Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Al-Haitamiy (hal. 128, 285, 311).
3. Ihya' Ulumuddin, Al-Ghazali (jilid 3/22-23) dan (jilid 1/71).
4. At-Tasawwuf, Muhammad Fihr Shaqfah (hal. 26, 125, 186, 227).
5. Fathul Bariy, Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (I/141, 167).
6. Fiqhut Tasawwuf, Ibnu Taimiah (218).
7. Mawaqif Ahlusunnah, Utsman Ali Hasan (60, 76).
8. Al-Hawi, Suyuthiy (2/197).
Kehidupan manusia akan tegak kokoh, lancar, dan sukses, selamat lahir dan batin serta dunia dan akhirat, jika berada di atas dasar takwa. Melaksanakan perintah Allah SWT., sekaligus menjauhi larangan-Nya.

Sehebat apa pun kehidupan manusia, berlimpah harta benda, tidak akan berarti apa-apa jika hanya mengandalkan kekuatan material yang bertumpu kepada hal-hal yang bersifat kalkulatif spekulatif, tanpa memiliki nilai mental spittual, berupa ketunduk patuhan kepada Allah SWT. Tidak akan memiliki kekuatan apa pun. Ibarat bangunan berdiri di atas jurang menganga.

Firman Allah SWT.,
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلَّا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
"Apakah orang-orang yang mendirikan bangunan di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu, yang baik ? Atau orang-orang yang mendirikan bangunan di tepi jurang runtuh, lalu bangunan itu jatuh bersamanya ke dalam neraka Jahanam ? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka telah hancur (tak punya kesempatan bertobat). Dan Allah Maha Mengetahui serta Maha Bijaksana" (QS. at Taubah : 109 - 110)

Dari ayat di atas dapat diambil sebuah gambaran jelas mengenai 2 (dua) keadaan yang bertolak belakang, untuk menjadi pilihan hidup manusia di dunia sekarang ini.

Pertama, bangunan yang didirikan di atas fondasi iman dan takwa, sangat kokoh serta mendapat ridha Allah SWT. Bangunan yang akan tahan terhadap segala ancaman. Tidak akan roboh begitu saja. Para ulama pejuang kebenaran, menamakan bangunan tersebut al bina'ul Islam (bangunan Islam) yang tegak menjulang, indah serta multifungsi, di atas ketakwaan dan keimanan. Fondasinya adalah tauhid (asasul Islam). Mengaku akan keesaan Allah dan hanya menyembah kepada-Nya, juga mengaku bahwa Muhammad utusan Allah. Tiang-tiangnya adalah mahdloh (ritual) atau arkanul Islam, berupa syahadat (persaksian ketauhidan), shalat, zakat, shaum, dan haji ke Baitullah bagi setiap orang yang mampu melaksanakannya. Kemudian, dihiasi dengan keindahan ahlakul karimah (kemuliaan ahlak).

Bangunan yang sudah lengkap sempurna itu semakin lengkap sempurna setelah digunakan, dioperasionalkan sesuai fungsi dan perannya melalui praktik muamalah (kegiatan nyata sehari-hari di masyarakat), yang dapat dikategorikan ibadah ghair mahdloh, non-ritual. Mencakup berbagai bidang kemasyarakatan, ekonomi, politik, kebudayaan, pertahanan, keamanan, dan lain-lain.

Agar bangunan indah dan multifungsi itu, aman dari berbagai gangguan, diaktifkanlah al muayyidat, perlindungan internal dan eksternal. Perlindungan internal adalah amar ma'ruf nahyi munkar, mengajak kepada hal yang baik dan benar, mencegah dari perbuatan munkar. Sementara perlindungan eksternal, untuk menangkis serangan musuh yang akan merusak "bangunan Islam". Digerakkanlah Jihad fi Sabilillah, baik jihadul qital (perang), maupun jihadul amal (kerja keras meningkatan kemajuan).

Setiap orang yang berada dalam bangunan Islam, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. akan mendapat berbagai keuntungan berpahala besar. Untuk pribadi-pribadi Muslim Mu'min Muttaqien, akan selalu mendapat pertolongan dalam menghadapi problem kehidupan. Akan selalu mendapat jalan keluar yang mudah dan tepat (yaj'al lahu mahroja), mendapat rezeki yang tidak tersangkakan kedatangan dan jumlahnya (yarzuqhu min khaittsu la yahtasib), serta mendapat kecukupan dalam segala kebutuhannya (fahuwa hasbuhu), sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (QS. ath Thalaq : 3).

Seandainya pribadi-pribadi semacam itu, serempak bersatu padu dalam sebuah ikatan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kebernegaraan, pasti akan menjadi komunitas yang saling kasih mengasihi (marhamah), jauh dari huru-hara, kekerasan, permusuhan. Tenang, tenteram menghuni sebuah negeri yang indah permai, penuh limpahan ampunan Allah SWT. Baldatun thayyibatun wa Robbun Gajur (QS. Saba : 15). Penuh limpahan berkah dari langit dan bumi (QS. al A'raaf : 96).

Kedua, bangunan yang didirikan di pinggir jurang, tanpa pondasi apa pun, kecuali ramuan bahan-bahan yang terdiri dari sikap dan paham penuh kesombongan. Adigung adiguna. Tidak mengakui kekuasaan Allah SWT. karena penghuni bangunan itu beranggapan, kehidupan mereka bebas merdeka. Hanya punya hak, tanpa mengingat kewajiban apa pun kepada Allah SWT. yang menciptakan mereka. Tidak mau menerima aturan dan hukum Allah yang mereka anggap abstrak, kontraproduktif, dan tidak sesuai dengan hak asasi manusia rumusan mereka sendiri. Setiap peringatan dari Allah dan Rasul-Nya dianggap angin lalu. Dicampakkan, dimasukkan ke museum, dijadikan fosil kuno, karena tidak berperan dan berfungsi sebagai sarana membereskan problema-problema duniawi. Menurut mereka, urusan duniawi harus menggunakan aturan-aturan dan hukum manusia yang mereka buat.

Kondisi semacam itulah yang dibeberkan Allah SWT.,
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami membukakan pintu semua pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira ria dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu terdiam berputus asa" (QS. al An'am : 44)

Mengacu kepada uraian di atas, kini kita mampu mengukur keadaan diri sendiri. Di posisi mana kita berada sekarang ? Pada posisi pertama, dalam naungan bangunan Islam yang tegak menjulang di atas dasar keimanan dan ketakwaan ? Atau pada posisi kedua, menghuni bangunan di pinggir jurang yang sewaktu-waktu roboh tanpa daya ?

Jika sudah ada pada posisi pertama, Alhamdulillah. Tinggal kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan, agar benar-benar mendapat berkah nyata bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Bergelimang rahmat karunia Allah dan mendapat ridha-Nya. Jika masih ada pada posisi kedua, segeralah sadar. Segeralah memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat Pintu tobat masih luas terbuka, sebelum ajal datang menjelang.***

[Ditulis Oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung, tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi hari Jumat (Kliwon) 7 Mei 2010 pada kolom "RENUNGAN JUMAT"]
NASIHAT SPIRITUAL
MAULANA SYAIKH ABDUL QADIR AL-JILANI
Anak-anak muridku semua, manakah sesungguhnya Ubudiyah yang benar kepada Allah Ta’ala ? Betapa jauh anda meraih hakikatnya. Raihlah rasa cukup bersama Allah dalam seluruh perkara kehidupan anda. Anda adalah hamba yang pergi dari tuan anda, dan kembalilah kepada-Nya. Merasalah sebagai hamba yang hina dan rendah hatilah di hadapan-Nya, mengikuti perintah dan menjauhi laranganNya. Bersabar dan berselaras terhadap ketentuan-Nya.

Bila semua ini sudah anda lakukan dengan sempurna berarti pengabdian anda pada Tuan anda sudah maksimal, dan anda bisa merasa cukup bersama Allah. “Bukankan Allah telah mencukupi hamba-Nya ?" Jika ubudiyah anda benar Allah pasti mencintai anda yang anda rasakan dalam hati anda, yang membuat hati anda mesra bersama-Nya. Taqarub anda pun tanpa disertai susah payah, dan anda tidak merasa kesunyian karena Allah bersama Anda, sehingga anda terus menerus Ridlo kepada-Nya dalam segala hal. Bahkan jika saja dunia ini terasa sempit bagi anda dan peluang-peluangnya tertutup, maka Allah Yang Maha luas tetap bersama Anda. Bahkan anda tidak ingin makan makanan selain dari-Nya, anda pun akan berselaras dengan Nabi Musa AS., ketika Allah berfirman :

Dan Kami haramkan pada Musa untuk disusui para wanita penyusu sebelumnya.” (QS. Al-Qashsah : 12)

Tuhan kita Azza wa-Jalla, senantiasa Melihat dan Menyaksikan segalanya, dalam segala sesuatu senantiasa Hadir, Dekat dengan segala-Nya, tidak butuh pada segala-Nya. Lalu kenapa mesti ada keingkaran setelah mengenal-Nya ?

Celaka anda ini. Anda sudah mengenal-Nya kenapa harus mengingkari-Nya berkali-kali ? Kalau anda tidak segera kembali kepada-Nya, anda akan terhalang dari semua kebaikan. Karena itu bersabarlah bersama-Nya, dan jangan bersabar untuk jauh dari-Nya. Ketahuilah, siapa yang sabar akan mendapatkan kemampuan. Mana akal dan kehidupan anda ? Allah sampai berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan jadilah orang yang penyabar, berkaitlah kepada Allah dan bertaqwalah pada Allah agar kalian semua meraih kemenangan.”

Banyak ayat tentang kesabaran yang menunjukkan adanya kebaikan dan kenikmatan, balasan dan pemberian yang yang besar, ringan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Karenanya bersamalah dengan Allah, dunia akhirat anda akan bahagia dengan kebajikan.Anda semua harus banyak berziarah kubur dan ziarah pada orang-orang yang saleh, berbuat kebaikan, maka perkara kehidupan anda akan beres. Jangan seperti orang-orang yang yang mendapat nasehat tetapi tidak dihayati, dan seperti orang yang mendengarkan pengetahuan tetapi tidak diamalkan.

[dari : http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/nasihat-sultan-auliya-syyaikh-abdul-qodir-al-jilani-qsa/]