Sebagian sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Muhammad SAW. tentang cara mencari keridhaan orang tua, bila keduanya telah meninggal dunia.

Rasulullah SAW. menjawab, bahwa ada 3 (tiga) hal yang membuat orang tua ridha, bila keduanya telah meninggal dunia.

PERTAMA, Sang anak harus berupaya untuk shaleh, berlaku baik untuk diri, keluarga dan masyarakatnya. Tidak ada hal lain dapat membahagiakan orang tua selain keshalehan dan kebaikan anaknya.

KEDUA, Sang anaknya hendaknya selalu bershilaturahmi, menyambung tali kasih dan sayang kepada para kerabat, shabat juga teman baik orang tuanya.

KETIGA
, Sang anak hendaknya selalu berdoa, memohonkan ampun atas segala dosa yang telah diperbuatnya dan kedua orang tuanya yang telah tiada.

"Robbirhamhuma kama robbayani shoghiroo........"

[Sumber : Kitab "TANBIHUL GHAFILIN" karya "ABUL-LAITS AS-SAMARQONDY" Hal 135]
Dibandingkan dengan makhluk-Nya, yaitu jin, setan, malaikat, flora, dan fauna, manusialah yang paling banyak menerima anugerah Allah SWT. Dipercaya sebagai 'abid (penyembah) dan khalifah (pemimpin) di muka bumi. Dianugerahi akal pikiran, perawakan yang indah, dan diberi-Nya kemampuan bicara. Sementara bicara merupakan anugerah Allah yang amat penting tetapi mudah, apalagi kalau asal bicara. Siapa pun bisa bicara. Anak-anak atau orang dewasa, yang berpendidikan tinggi atau rendah, pejabat atau rakyat biasa, orang kota atau orang desa, yang miskin atau yang kaya, anak jalanan atau anak gedongan, semuanya bisa bicara.

Namun demikian, bicara yang baik dan benar tentu ada kaidah-kaidahnya. Selain harus memperhatikan segi etika dan estetikanya, juga jangan mengabaikan taktik dan strateginya. Menurut para ahli ilmu pidato, hal semacam ini merupakan bagian dari ilmu retorika. Sementara retorika bersumber dari perkataan latin rethorica, yang berarti ilmu bicara. Encyclopedia Britanica menyebut sebagai seni menggunakan bahasa, yang dengan cara itu dapat menghasilkan kesan diinginkan terhadap pendengar atau pembaca (1988 : 78). Hal senada tertulis dalam American Encyclopedia, "Rhetorica inclusive in the widest use of the term, the art oforatory whether written or spoken." (1989 : 6). Di Amerika, ilmu ini lazim disebut public speaking.

Di pesantren, pada malam-malam tertentu, para santri dengan bimbingan seniornya secara teratur sudah biasa mengadakan acara praktik berpidato (mereka menyebutnya muhadloroh), di depan teman-temannya. Begitu pula para pelajar dan mahasiswa aktivis kampus dalam kegiatan ekstra kurikulernya berlatih pidato, memimpin diskusi, dan persidangan. Tujuannya, jika nanti jadi pendidik, pendakwah, politisi, pimpinan ormas, lembaga eksekutif / legislatif atau kepala rumah tangga sekalipun, selain mampu mengurusi organisasi, bisa juga berkomunikasi dengan baik, berkata yang bermanfaat, bermartabat, dan membuat orang selamat.

Ke arah sana Allah mengajari kita berbicara, yang di dalamnya ada muatan hukum dan moral. Rasullah SAW. pernah bersabda tentang seseorang tukang ibadah, tetapi bermulut busuk. "Dia masuk neraka jahanam !" sabdanya. Sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah, bukankah dia tukang ibadah ?" Rasulullah menjawab, "Benar ! Akan tetapi, tetangganya tak nyaman karena mulutnya."

Dalam ibadah haji, pembicaraan yang baik menjadi salah satu indikasi kemabruran haji seseorang. Rasul SAW. ditanya para sahabat, "Apa itu haji mabrur ya Rasulullah ?" Jawabnya, "Ith'amuth tho'am wa thoyyibul kalam." Artinya, memberi makan (fakir miskin) dan bicara yang baik. Dalam hadis lain disebutkan, ternyata bicara pun menjadi tanda iman tidaknya seseorang. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakan tetangganya dan muliakan tamunya, serta bicaralah yang baik atau (kalau tidak bisa lebih baik) diam." (HR. Turmudzi)

Bicara itu bisa menyelamatkan dan menyelakakan. Nabi SAW. bersabda, "Salamatul insan fii hifzhil lisan" (Selamat insan sebab terpelihara lisan). Sebelum mendatangi Firaun, agar bicaranya lancar dan aman, terlebih dahulu Nabi Musa AS. berdoa, mohon pertolongan Allah, karena beliau paham betul risikonya kalau salah bicara. Doanya seperti ini, "Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskan kekakuan lisanku agar mereka memahami ucapanku." (QS. Toha : 25-28)

Sedekah dalam Islam merupakan kebajikan yang besar pahalanya. Para dermawan dijanjikan Nabi sebagai orang yang akan mendapat keuntungan, yaitu bisa menolak bencana, bertambahnya rezeki, panjang umur, dapat menghapus dosa, dan mencegah kejahatan. Namun, dalam hal lain bahwa bicara yang baik lebih baik daripada sedekah. "Ucapan yang baik dan pemaaf lebih baik daripada sedekah, yang disertai menyebut-nyebutnya dan Allah Maha Kaya dan Maha Penyantun." (QS. Al-Baqoroh : 263)

Allah mengajari kita agar bicara dengan benar (QS. Annisa : 9), bisa menggugah hati (QS. Annisa : 63) dengan cara lemah lembut (QS. Thoha : 44), mengandung perkataan mulia (QS. Al-Isro : 23), berisi kata-kata yang baik (QS. An-Nisa : 5), dan bicara dengan tidak mengabaikan unsur kepantasan. Pantas menurut akhlak atau pantas menurut norma adat (QS. Al-Isro : 28). Tidak bicara yang jorok dan kotor, mengandung dosa, dan tidak berdebat kusir dengan cara yang tidak sehat (QS. Al-Baqoroh : 197). Dalam Al-Quran Surat Lukman ayat 19, Allah menyindir orang yang berbicaranya mengabaikan norma dan aturan, kemudian digambarkan seperti himar atau keledai. Orang Arab akan tersinggung berat, jika disebut keledai atau himar.

Dengan indah dan mulia Allah memberi tuntunan dengan santun, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik..." (QS. An-Nahl : 125)

Kebanyakan mufasir menjelaskan hikmah dan pelajaran yang baik, sebagai perbuatan dan ucapan yang mendidik, bijaksana, dan santun, sebagai hasil dari ketinggian ilmunya. Tidak garang, kasar, emosional, dan tidak asal dapat menjatuhkan lawan. Mestinya, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin luhur pula budi pekertinya. Kerendahan hati dan kesantunan pembicaraannya, sebagai cerminan dari strata pendidikannya. Bukankah ada pendapat yang mengatakan, "Anda ingin tahu apakah dia seorang yang terpelajar atau kurang ajar, lihatlah isi dan cara bicaranya."

Ironi memang. Kini, sebagian dari mereka yang rata-rata lulusan perguruan tinggi terkenal, baik dari dalam maupun lulusan dari luar negeri, ditambah posisinya berada pada kedudukan yang terhormat sebagai pejabat penting, tetapi sayang kadang-kadang cara dan isi bicaranya tidak mencerminkan sebagai orang yang terdidik dengan baik.

Wallahualam!***

[Ditulis oleh H. MUHTAR GANDAATMAJA, Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al-hijaz dan Ketua FKKBIH Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 18 Juni 2010 dari Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

Setiap melaksanakan shalat, kita senantiasa memohon diberi hidayah oleh Allah SWT. Dalam surat Al-Fatihah ayat keenam, berulang-ulang kita mengucapkan,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus."

Apabila kita hendak bercocok tanam dan kita datang ke penyuluh pertanian untuk meminta petunjuk cara bercocok tanam, dalam sehari kita menghadap sebanyak tujuh belas kali. Kemudian kita diberikan buku petunjuk tentang cara bercocok tanam. Akan tetapi, buku tersebut disimpan di meja. Kemudian datang lagi setiap hari ke bagian penyuluh pertanian untuk meminta petunjuk, sementara buku petunjuknya tidak dibaca. Tidak mustahil penyuluh itu akan marah dan merasa dilecehkan.


Demikian halnya kita yang memohon petunjuk Allah SWT. sebanyak 17 kali dalam sehari semalam pada 17 rakaat shalat fardu, belum lagi dalam shalat sunah lainnya. Akan tetapi, Al-Quran sebagai sumber petunjuk tidak kita baca dan dipelajari. Tidak mustahil Allah akan bertambah murka kepada kita. Karena setiap membaca
ihdina, kita tidak pernah mempelajari Al-Quran.

Doa kita dalam surat Al-Fatihah menunjukkan bahwa betapa pentingnya hidayah Allah SWT. dalam kehidupan manusia, sehingga dalam sehari semalam, minimal kita memohonnya sebanyak tujuh belas kali. Hidayah itu betul-betul anugerah dari Allah, karena terkadang orang tuanya penentang ajaran Islam, seperti Abu Jahal, tetapi anaknya menjadi pengikut setia Nabi, yaitu Ikrimah.


Dilihat dari bentuk kalimatnya pun, lafaz
ihdina menunjukkan kepada bentuk jamak (plural), tidak dengan lafaz ihdiny (tunjukkanlah aku), walaupun kita membacanya seorang diri bahkan dalam shalat munfarid sekalipun. Hal ini mengingatkan kita agar berjamaah dalam meraih hidayah agama.

Kalau kita cermati, permohonan tersebut diucapkan oleh seorang Muslim di saat shalat, yang berarti ia sudah mendapatkan hidayah. Apakah itu tidak termasuk seperti dalam
ushul fiqh kepada tahshilul hashil (mengusahakan sesuatu yang sudah berhasil), seperti menyuruh makan kepada orang yang sudah makan, atau menyuruh tidur kepada orang yang sedang tidur.

Imam Ath-thobary
menjelaskan maksud ungkapan seorang Muslim yang sedang shalat dengan lafaz ihdina, yaitu "berilah kami taufik agar kami berada dalam hidayah-Nya." Kita memohon kepada Allah agar senantiasa berada dalam hidayah-Nya sampai akhir hayat kita. Karena kenyataannya, ada orang yang telah mendapatkan hidayah tetapi akhirnya mati dalam kekufuran, seperti yang terjadi pada Tsa'labah di zaman Nabi dan karena itulah ada doa sebagaimana dalam QS. Ali Imran Ayat 8,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)."

Harapan kita dengan doa
ihdina tidaklah termasuk kategori tahshilul hashil, tetapi termasuk kepada takmilul kamil (menyempurnakan lagi yang telah sempurna). Kita memohon kesempurnaan atau kemantapan hidayah, seperti yang telah diperoleh para sahabat Nabi. Allah berfirman dalam QS. Maryam ayat 76,
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى ۗ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا
"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya."

Oleh karena itu, hidayah agama itu ada 2 (dua) macam.
  1. Hidayah ad-dilalah yaitu hidayah yang bersifat informasi, penjelasan, atau keterangan tentang ajaran Islam, seperti bagaimana petunjuk pelaksanaan shalat, shaum, zakat, atau haji. Allah SWT berfirman dalam QS. Asyura ayat 52,
    وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
    "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Alkitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus."
  2. Hidayah at-taufiq yaitu hidayah dalam arti kemampuan dan kesadaran untuk melaksanakan isi petunjuk, dan hal ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah SWT. sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Qashash ayat 56,
    إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
    "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."
Kalau kita memperhatikan orang-orang yang menerima dakwah Nabi, ternyata respons para sahabat bermacam-macam. Ada yang menerima dakwah Nabi pada awal-awal tahun kenabian, ketika Nabi memulai dakwahnya, seperti Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Ada pula yang menerima dakwah Nabi padahal sebelumnya memusuhi bahkan memerangi Nabi, seperti Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid. Umar bin Khattab baru masuk Islam pada tahun keenam kenabian. Umar masuk Islam setelah membaca lima ayat Al-Quran dari surat Thaha yang sedahg dibacakan oleh anak saudaranya. Dia berkata, "Sungguh indah dan mulia kata-kata ini (Al-Quran)." Pada saat itu juga, dia langsung mencari Nabi dan menyatakan diri masuk Islam. Demikian juga dengan Khalid bin Walid. Di waktu perjanjian Hudaibiyyah, dia masih menjadi panglima kaum kafir, tetapi ketika Futuh Mekah, ia menjadi panglima kaum Muslim.

Selain itu, ada pula yang menerima dakwah Nabi di akhir hayatnya dan hanya menjalani satu hari setelah dia masuk Islam. Suatu hari ada seseorang yang menawarkan diri untuk berperang dengan Nabi, apakah saya masuk Islam dulu atau langsung ikut berperang denganmu ya Rasulullah ? Nabi menjawab, masuk Islam dulu baru ikut berperang denganku.


Kemudian saat itu juga ia masuk Islam dan langsung ikut berperang dengan Nabi, dan ternyata dia terbunuh dalam pertempuran itu. Sabda Nabi, "
Sungguh beruntung orang ini, amalnya sedikit, tetapi mendapatkan pahala yang besar." Orang itu dianggap sebagai mati syahid dan berhak masuk surga, seperti halnya orang yang telah lama masuk Islamnya.

Hal ini hendaklah dijadikan pelajaran bagi kita untuk tidak berputus asa dalam berdakwah dan terus berharap mendapat hidayah agama.***


[Ditulis oleh KH. ACENG ZAKARIA, Ketua Bidang Tarbiyyah PP. Persis dan Pimpinan Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango Garut. Tulisan ini disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 17 Juni 2010 dari kolom "CIKARAKCAK"]

BUKU PERTAMA
PENJABARAN MENYELURUH IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN

(21) TAUBAT YANG TERTOLAK

Para ulama saling berbeda pendapat, apakah di antara berbagai macam dosa, ada dosa yang taubatnya tidak diterima ataukah taubat dari dosa apa pun diterima ?

Menurut Jumhur, taubat harus dilakukan untuk setiap dosa. Setiap dosa memungkinkan untuk dimintakan ampunan dengan bertaubat. Ada pula golongan yang mengatakan, bahwa taubat pembunuh tidak diterima. Ini termasuk pendapat Ibnu Abbas dan salah satu riwayat dari Ahmad. Bahkan Ibnu Abbas harus berdebat dengan rekan-rekannya, yang mengatakan, "Bukankah Allah telah befirman dalam surat Al-Furqan : 68-70, 'Dan, orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain beserta Allah dan tidak pula membunuh jiwa yang diharamkan Allah...' sampai, 'kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan ?"

Ibnu Abbas menyanggah, "Ayat ini berkaitan dengan perbuatan di masa Jahiliyah. Pasalnya, ada beberapa orang musyrik yang dulu pernah melakukan tindak pembunuhan dan juga pernah berzina. Lalu mereka menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seraya berkata, 'Apa yang engkau serukan itu benar-benar bagus. Andaikan saja engkau memberitahukan kepada kami tentang suatu tebusan dari apa yang pernah kami lakukan'. Maka turunlah ayat ini. Jadi, ayat ini berkenaan dengan diri mereka. Sementara dalam surat An-Nisa' telah disebutkan firman Allah, 'Dan, barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya'. Jika seseorang mengetahui Islam dan syariatnya, lalu dia membunuh dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam."

Menurut golongan ini, karena membunuh orang Mukmin secara sengaja tidak bisa diterima dan tidak ada cara untuk meminta pembebasan darinya, apalagi mengembalikan nyawanya. Taubat dari hak manusia tidak dianggap sah kecuali dengan salah satu dari 2 (dua) cara ini. Sementara keduanya tidak bisa lagi dilakukan oleh pembunuh. Berbeda dengan harta, yang sekalipun pemiliknya sudah meninggal dunia, maka orang yang merampasnya masih bisa menyampaikan manfaat harta itu kepada pemiliknya yang sudah meninggal, dengan cara menshadaqahkannya.
Mereka juga berkata, "Kami tidak menolak pendapat bahwa syirik itu lebih besar dosanya daripada tindak pembunuhan, dan taubat dari syirik itu masih bisa dilakukan. Tapi taubat dari syirik ini berkait dengan hak Allah, dan memohon ampunan dari-Nya masih memungkinkan. Tapi kaitannya dengan hak manusia, maka taubatnya tergantung pada pengembalian hak itu atau meminta pembebasan darinya."

Jumhur yang berpendapat bahwa taubat dari dosa apa pun bisa diterima, berhujjah dengan firman Allah,
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ
"Dan, sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih kemudian tetap di jalan yang benar." (QS. Thaha : 82)

Jika pembunuh itu bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka Allah akan mengampuni dosanya. Juga telah disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentang orang yang pernah membunuh seratus orang kemudian bertaubat, dan ternyata taubatnya itu diterima. Ada beberapa hadits lain yang menyatakan hal yang sama. Tentang surat An-Nisa': 93, bahwa orang yang membunuh orang Mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, banyak nash lain yang senada dan yang di dalamnya disebutkan ancaman seperti itu, seperti firman-Nya,
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
"Dan, barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkan-Nya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa : 14)

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa membunuh dirinya sendiri dengan sepotong besi, maka besi itu akan menghunjam dirinya, dia kekal dan dikekalkan di neraka Jahannam."

Manusia saling berbeda tentang nash semacam ini. Di antara mereka ada yang mengartikannya menurut zhahirnya, bahwa pelakunya akan kekal di dalam neraka. Ini merupakan pendapat golongan Khawarij dan Mu'tazilah. Dalam hal ini pun mereka juga saling berbeda pendapat. Khawarij mengatakan, mereka itu sama dengan orang kafir, karena yang kekal di dalam neraka hanya orang kafir. Mu'tazilah berpendapat, mereka bukan orang-orang kafir, tetapi orang-orang fasik yang juga kekal di dalam neraka, jika mereka tidak bertaubat. Golongan lain berpendapat, siapa yang melakukannya yakin tentang pengharamannya, maka dia tidak mendapat ancaman ini (kekal di dalam neraka), sekalipun dia tetap mendapat ancaman masuk neraka.

Kemudian ada perbedaan pendapat tentang pembunuh yang bertaubat dan dia menyerahkan diri untuk dijatuhi hukuman setimpal (qishash). Apakah pada hari kiamat korbannya masih mempunyai hak untuk menuntut atas dirinya ?

Satu golongan berpendapat, pembunuh itu tidak lagi mempunyai dosa yang harus ditanggungnya di hadapan korban pada hari kiamat, sebab memang hukum qishashlah yang harus diterapkan kepadanya. Hukuman merupakan tebusan bagi pelakunya. Dengan cara itu seakan-akan dia telah memenuhi hak warisan korban terhadap ahli warisnya dengan cara mengorbankan dirinya. Sebab tidak ada bedanya apakah seseorang memenuhi hak orang lain lewat dirinya atau wakilnya.

Golongan lain berpendapat, korban telah dizhalimi dan kehilangan hak-haknya. Sementara dia juga tidak tahu apa yang terjadi setelah dia dizhalimi, sekalipun kemarahan ahli warisnya dapat dipadamkan. Tapi manfaat apa yang diperoleh korban ? Hak dalam pidana pembunuhan ituada 3 (tiga) macam : Hak Allah, hak korban dan hak waris. Hak Allah tidak terpenuhi kecuali dengan taubat. Hak ahli waris bisa terpenuhi dengan meminta pelaksanaan hukuman sehubungan pembunuhan itu. Ada 3 (tiga) pilihan untuk ini : Pelaksanaan qishash, ampunan tanpa disertai tebusan harta, dan tebusan harta. Sekalipun ahli waris sudah menerima tebusan dari pembunuh, hak korban belum terpenuhi secara total. Sebab bagaimana mungkin haknya sudah terpenuhi, jika ini merupakan salah satu dari 3 (tiga) cara pemenuhan hak ? Andaikata korban dapat berkata, "Janganlah kalian membunuhnya, karena aku akan menuntutnya sesuai dengan hakku pada hari kiamat, namun nyatanya mereka membunuhnya, apakah dengan begitu hak korban dianggap gugur ?

Yang benar dalam masalah ini menurut hemat saya, dan Allah lebih mengetahui mana yang benar, jika pembunuh bertaubat sebagai pemenuhan terhadap hak Allah, dan dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada ahli waris, agar dengan begitu dia dapat memenuhi hak korban, maka 2 (dua) hak telah dia penuhi. Kini tinggal hak korban yang belum terpenuhi, yang tentunya Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Namun ampunan Allah yang diberikan kepada pembunuh sudah dianggap sebagai pengganti dari hak korban, sebab apa yang dialaminya juga tidak bisa dihalangi dengan membunuh pembunuhnya. Taubat yang sebenar-benarnya sudah cukup untuk menghapus dosa di masa lampau dan hal ini menjadi pengganti dari kezhalimannya, sehingga dia tidak dijatuhi hukuman karena kesempurnaan taubatnya. Hal ini seperti orang kafir yang pernah memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membunuh orang Muslim. Namun jika kemudian dia masuk Islam dan Islamnya bagus, maka Allah akan memberikan pengganti kepada korban yang dibunuhnya dan mengampuni orang kafir yang masuk Islam itu, karena keislamannya. Dia tidak dihukum karena pernah membunuh orang Muslim secara zhalim. Taubat yang menghapus dosa sebelumnya, sama seperti Islam yang menghapus dosa seseorang sebelum masuk Islam.

[Berikutnya....(22) Kesaksian Atas Tindakan Hamba]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]
WEJANGAN SPRITUAL
MAULANA SYAIKH ABDUL QADIR AL JILANI

Janganlah kamu bersusah payah untuk mendapatkan keuntungan dan jangan pula kamu mencoba menghindarkan diri dari malapetaka. Keuntungan itu akan datang kepadamu jika memang sudah ditentukan oleh Allah untuk kamu, baik kamu sengaja untuk mencarinya maupun tidak. Malapetaka itupun akan datang menimpamu, baik kamu menghindarkannya dengan doa dan shalat atau kamu menghadapinya dengan penuh kesabaran, karena hendak mencari keridhoan Allah.

Hendaklah kamu berserah diri dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah di dalam segala hal, agar Dia memanifestasikan kerja-Nya melalui kamu. Jika kebaikan yang kamu dapati, maka bersyukurlah. Dan jika bencana yang menimpa kamu, maka bersabarlah dan kembalilah kepada Dia. Kemudian, rasakanlah keuntungan yang kamu dapati dari apa yang kamu anggap sebagai bencana itu, lalu tenggelamlah di dalam Dia melalui perkara itu sejauh kemampuan yang kamu miliki dengan cara keadaan rohani yang telah diberikan kepadamu. Dengan cara inilah kamu dinaikkan dari satu peringkat ke peringkat lainnya yang lebih tinggi dalam perjalanan menuju Allah, supaya kamu dapat mencapai Dia.

Kemudian kamu akan disampaikan kepada satu kedudukan yang telah dicapai oleh orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang saleh sebelum kamu. Dengan demikian kamu akan dekat dengan Allah, agar kamu dapat melihat kedudukan orang-orang sebelum kamu dengan menuju Raja Yang Maha Agung itu. Di sisi Tuhan Allah-lah kamu mendapatkan kesentosaan, keselamatan dan keuntungan. Biarlah bencana itu menimpa kamu dan jangan sekali-kali kamu mencoba menghindarkannya dengan doa dan shalatmu, dan jangan pula kamu merasa tidak senang dengan kedatangan bencana itu, karena panas api bencana itu tidak sehebat dan sepanas api neraka.

Telah diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda, “Sesungguhnya api neraka akan berkata kepada orang-orang yang beriman; ‘Lekaslah kamu pergi wahai orang-orang mu’min, karena cahayamu akan memadamkan apiku’” Bukankah cahaya si Mu’min yang memadamkan api neraka itu serupa dengan cahaya yang terdapat padanya di dunia ini dan yang membedakan orang-orang yang ta’at kepada Allah dengan orang-orang yang durhaka kepada-Nya ? Biarkanlah cahaya itu memadamkan api bencana, dan biarkanlah kesabaranmu terhadap Tuhan itu memadamkan hawa panas yang hendak menguasai kamu.

Sebenarnya, bencana yang datang kepada kamu itu bukannya akan menghancurkan kamu, melainkan sebenarnya adalah akan menguji kamu, mengesahkan kesempurnaan iman kamu, menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad : 31)

Oleh karena itu, manakala kebenaran keimanan kamu telah terbukti dan kamu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak dan perbuatan Allah, dan dengan idzin Allah juga, maka hendaklah kamu tetap bersabar dan ridho serta patuh kepada-Nya. Janganlah kamu melakukan apa saja yang dilarang oleh Allah. Apabila perintah-Nya telah datang, maka dengarkanlah, perhatikanlah, bersegeralah melakukannya, senantiasalah kamu bergerak dan jangan bersikap pasif terhadap takdir dan perbuatan-Nya, tetapi pergunakanlah seluruh daya dan upayamu untuk melaksanakan perintah-Nya itu.

Sekiranya kamu tidak sanggup melaksanakan perintah itu, maka janganlah lalai untuk kembali menghadap Tuhan. Mohonlah ampunan-Nya dan memintalah dengan penuh merendahkan diri kepada-Nya. Carilah sebab musabab mengapa kamu tidak sanggup melaksanakan perintah itu.

Mungkin saja kamu tidak sanggup melaksanakan perintah itu lantaran kejahatan syak wasangka yang tedapat di dalam pikiranmu, atau kamu kurang bersopan santun di dalam mematuhi-Nya, atau kamu terlalu sombong dan bangga, atau kamu terlalu menggantungkan diri kepada daya dan upayamu sendiri, dan atau kamu menyekutukan Allah dengan dirimu atau mahluk. Akibat semua itu, kamu berada terlalu jauh dari Dia, membuatmu lupa untuk mematuhi Dia, kamu dijauhkan dari pertolongan-Nya, Dia murka kepadamu dan membiarkanmu asyik terlena dengan hal-hal keduniaan dan menuruti nafsu angkara murkamu. Tahukah kamu, bahwa semua itu menyebabkan kamu lupa kepada Allah dan menjauhkan kamu dari Dia yang menjadikan dan mengasuhmu serta memberimu rizki yang tiada terkira.

Oleh karena itu waspadalah terhadap apa saja yang dapat menjauhkan kau dari Allah. Berhati-hatilah terhadap apa saja selain Allah yang hendak memalingkan kamu dari Allah. Apa saja selain Allah bukanlah Allah. Karenanya, kamu jangan mengambil apa saja selain Allah lalu kamu membuang Allah, karena Allah membencinya, maupun kamu mencoba menciptakan kamu itu hanya untuk mengabdi kepada-Nya saja. Maka janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri dengan melupakan Allah dan perintah-Nya, karena hal ini akan menyeretmu masuk neraka yang bahan bakarnya terdiri atas manusia dan batu. Ketika itu kamu akan menyesal, sesal yang tiada berguna lagi. Tobat pada waktu itu sudah tidak berguna lagi. Merataplah dan menangislah, tetapi siapakah yang berdaya untuk menolongmu ? Kamu memohon ampun kepada Allah, tetapi Allah tidak menerima permohonanmu lagi ketika itu. Kemudian kamu berangan-angan hendak kembali lagi ke dunia untuk membetulkan ibadahmu kepada Allah, tetapi apa daya dunia sudah tidak ada lagi bagi kamu.

Kasihanilah diri kamu itu. Gunakanlah segala daya dan upayamu untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Gunakanlah apa saja yang telah diberikan Allah kepadamu, berupa ilmu, akal, kepercayaan dan cahaya kerohanian kamu untuk mengabdikan diri kepada Allah, agar kamu diliputi cahaya yang terang benderang dan tidak lagi berada di dalam kegelapan. Berpegang teguhlah kepada Allah dan hukum-hukum-Nya, dan mengembaralah kamu menuju Allah menurut aturan-aturan yang telah ditentukan oleh Allah. Dia-lah yang telah menciptakan dan memelihara kamu seta menjadikan kamu seorang manusia yang sempurna. Janganlah kamu mencari apa-apa yang tidak diperintahkan-Nya dan janganlah kamu mengatakan bahwa sesuatu itu buruk sebelum Dia mengharamkannya. Apabila telah terdapat keserasian antara kamu dengan Allah dan perintah-Nya, maka seluruh alam ini akan menghambakan diri kepada kamu. Dan apabila kamu menghindarkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah, maka semua perkara yang tidak diinginkan itu akan lari dari kamu di manapun juga kamu berada.

Allah berfirman, “Wahai manusia, Aku-lah Tuhan. Tidak ada Tuhan selain Aku. Jika Aku mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah !” maka jadilah ia. Patuhlah kepada-Ku sehingga jika kamu mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah !” maka jadilah ia.

Allah juga berfirman, “Wahai bumi, barangsiapa menghambakan dirinya kepada-Ku, maka berkhidmadlah engkau kepadanya. Dan barangsiapa menghambakan dirinya kepadamu, maka buatlah ia susah.

Demikianlah firman-firman Tuhan di dalam kitab-Nya. Oleh karena itulah, jika datang larangan dari Allah, maka jadikanlah dirimu seolah-olah orang yang letih, lesu dan tiada berdaya; atau seperti tubuh yang tiada bersemangat, tiada berkehendak dan bernafsu, bebas dari dunia kebendaan, lepas dari nafsu-nafsu kebinatangan; atau bagaikan halaman rumah yang gelap gulita; dan atau seperti bangunan yang hendak roboh yang tidak berpenghuni. Hendaknya kamu menjadi seperti orang yang telah tuli, buta, bisu, sakit gigi, lumpuh, tidak bernafsu, tidak berakal dan badan kamu seolah-olah mati dan dibawa kabur. Hendaklah kamu memperhatikan dan segera melaksanakan perintah-perintah Allah. Bencilah dan malaslah untuk melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah, beraksilah terhadapnya seperti orang mati dan serahkanlah bulat-bulat dirimu kepada Allah.

Minumlah minuman ini, ambillah obat ini dan makanlah makanan ini, supaya kamu bebas dari nafsu-nafsu kebinatangan dan kesetanan, agar kamu sembuh dari penyakit dosa dan maksiat serta terlepas dari ikatan hawa nafsu.

Semoga kamu mencapai kesehatan jiwa yang sempurna.

[dari : http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/nasihat-sultan-auliya-syyaikh-abdul-qodir-al-jilani-qsa/]
Kisah Ummu Ma'bad yang masyhur adalah dari sebuah hadits yang diriwayatkan olehnya bahwa Rasulullah SAW. suatu ketika melewati Ummu Ma'bad, dan meminta susu atau akan membeli daging darinya, waktu kehabisan perbekalan dan air minum dan tidak mendapati sesuatu apapun. Maka beliau pun melihat seekor kambing dekat sebuah kemah yang terbuka, kambing itu adalah yang paling kurus. Maka Rasulullah SAW. pun bertanya kepada Ummu Ma'bad, "Apakah kambing yang engkau memiliki itu bisa mengeluarkan susu ?"

Ummu Ma'bad menjawab, "Kambing itu adalah kambing yang paling kurus." Rasulullah SAW. bertanya, "Apakah engkau mengizinkan aku untuk mengambil susunya ?" Ummu Ma'bad menjawab, "Demi Ayah, engkau, dan Ibuku, kalau engkau melihat kambing itu ada susunya, ya silakan."

Maka Rasulullah SAW. pun mendatangi kambing tersebut dan memegang susu kambing tersebut serta memerahnya, maka keluarlah air susunya, dan kambing itu pun memamah biak (kambing mengunyah ulang makanan yang sudah dimakannya, dari perut dikeluarkan lagi ke mulut dan dihaluskan).

Maka Rasulullah SAW. pun meminta disediakan bejana, dan ternyata dengan asir susu kambing tersebut bisa membuat kenyang sekelompok rombongan, kemudian Rasulullah SAW. memerah lagi dan satu kaum juga meminumnya, kemudian orang-orang pada melihatnya dan mereka pun minum juga, kemudian Rasulullah SAW. memerah lagi setelah semua meminumnya dan meninggalkannya sebagai persediaan untuk Ummu Ma'bad. Maka Rasulullah SAW. beserta rombongan pun pergi.

Kemudian datang Abu Ma'bad, dan ketika melihat ada susu, ia pun bertanya, "Apa ini wahai Ummu Ma'bad ? Engkau dapatkan ini dari mana, dan padahal kambing kita belum pernah kawin, tidak memiliki susu." Ummu Ma'bad menjawab, "Tidak, demi Allah, tapi tadi baru saja lewat kesini seorang laki-laki yang penuh berkah."

Abu Ma'bad bertanya, "Coba, terangkan bagaimana laki-laki itu." Maka Ummu Ma'bad pun menjelaskan ciri-ciri laki-laki itu. Dan ternyata itu adalah Rasulullah SAW. pada salah satu perjalanan hijrahnya dari Mekkah ke Madinah.

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[Sumber : "Min Mu'jizatin Nabiy shallalahu 'alaihi wa sallam" karya Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad al-Salman]
Suatu ketika, ada seorang laki-laki mengunjungi kota Baghdad dan membawa sebuah cincin senilai 1000 Dinar. Dia ingin menjualnya namun belum mendapatkan harga yang sesuai. Akhirnya dia mendatangi seorang penjual minyak wangi yang katanya orang baik-baik dan agamis. Lalu menitipkan cincin tersebut padanya. Kemudian dia pergi haji dan sepulangnya dari sana, dia membawakan oleh-oleh buat si penjual minyak wangi. Dia memberi salam kepadanya, namun si penjual seakan tidak mengenalnya lagi, sembari berkata, "Siapa kamu ? Siapa yang kenal denganmu ?" Pak Haji ini berkata kepadanya untuk menegaskan, "Saya si pemilik cincin itu !" Akan tetapi, tatkala dia ngotot mengatakan hal itu, si penjual tersebut malah menendang dan menyeretnya keluar dari tokonya.

Mendengar keributan itu, orang-orang berkerumun, lalu berkata kepada Pak Haji, "Celakalah engkau ! Ini orang shalih. Kenapa kamu berdusta terhadapnya ?" Pak Haji menjadi bingung karenanya dan terus mengulangi ucapannya untuk menjelaskan duduk persoalannya tetapi semakin dia menambah ucapan, semakin dia mendapatkan umpatan dan pukulan. Lalu ada orang yang memberitahunya, "Bagaimana kalau kamu pergi saja menghadap ke baginda 'Adlud ad-Daulah' (penguasa Daulah al-Hasan bin Buwaih), pasti kamu mendapatkan sesuatu yang baik karena firasatnya."

Maka, dia pun menulis surat dan menceritakan kisahnya. Tulisan itu ditempelkan di sebuah batang pohon, lalu disodorkan kepada sang baginda yang kebetulan sedang lewat. (Hal ini adalah merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh rakyat kala itu yang mengalami penganiayaan dan diskriminasi hukum. Biasanya mereka mencegat rombongan penguasa negeri bila melintas di suatu perjalanan dan menceritakan tindakan diskriminasi hukum yang mereka alami melalui tulisan yang disebut Qashash, dan bila orang yang mengalami diskriminasi ini khawatir tidak dibaca penguasa atau terhalang sesuatu, maka dia menempelkannya pada sebuah batang pohon dan diangkat tinggi-tinggi ketika rombongan penguasa lewat sehingga ada jaminan diambil atau dibaca).

Lalu sang baginda berkata kepadanya, "Apa keperluanmu ?" Maka Pak Haji itupun menceritakan kisahnya. Lantas baginda berkata lagi, "Pergilah besok dan duduklah di toko si penjual minyak itu selama tiga hari hingga aku melintasi mu pada hari ke-empat, lalu aku akan berdiri dan memberi salam kepadamu. Maka, kamu jangan menjawab selain ucapan salam saja. Bila aku sudah akan berlalu, maka singgung lagi di hadapannya perihal cincin itu, kemudian beritahu kepadaku apa yang dikatakannya kepadamu !"

Maka, siasat itupun dilakukan oleh Pak Haji. Tatkala memasuki hari keempat, sang baginda 'Adlud ad-Daulah datang dalam rombongan yang agung. Begitu Pak Haji melihatnya, maka sang baginda berdiri dan mengucapkan as-Salamu lalaikum. Pak Haji membalasnya, Wa 'alaikumus Salam, sembari tidak bergerak dari situ. Lantas baginda berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, datanglah ke lraq tapi jangan mendatangi kami dan menyodorkan keperluanmu !" Pak Haji menjawab, "Akan tetapi orang ini tidak setuju." Dia tidak menambah lagi ucapan selain itu sementara pasukan yang ada semuanya berdiri tegap di situ.

Maka, ciutlah hati si penjual minyak dan sadarlah dia bahwa nyawanya sebentar tagi akan melayang. Begitu baginda 'Adlud ad-Daulah' beranjak dari situ, si penjual minyak cepat-cepat menoleh ke arah Pak Haji, sembari berkata, "Wahai saudaraku, kapan yah kamu menitipkan cincin itu kepadaku ? Di dalam wadah apa ia terbungkus ? Barangkali saja aku ingat lagi !" Lalu Pak Haji berkata, "Cirinya begini dan begitu."

Si penjual bergegas sembari mencari-cari, kemudian membuka sebuah bungkusan dan mengeluarkan cincin tersebut dari dalamnya seraya berkata, "Hanya Allah-lah Yang Maha Tahu bahwa aku benar-benar lupa. Andaikata kamu tidak mengingatkan hal itu kepadaku, tentu aku tidak akan ingat." Lantas Pak Haji mengambil cincin tersebut dan menyusul sang baginda 'Adlud ad-Daulah', lalu memberitahukan kepadanya perihal tersebut. Maka sang baginda menggantungkan cincin itu ke leher si penjual minyak dan menyalibnya di depan pintu tokonya, lantas ada orang yang berteriak, "Inilah balasan orang yang dititipkan sesuatu tapi mungkir !!!!"

Kemudian Pak Haji mengambil kembali cincinnya tersebut dan kembali kenegerinya.

Wallahu A'lam Bish-Shawab.

[Diambil dari buku "Nihayah azh-Zhalimm" karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hazimiy, Juz.l, h. 105-108, sebagai yang dinukilnya dari buku "Tsamara t al-Awraq", karya al-Hamawiy, hal. 144]
Sebab aku adalah ujian bagimu, kamu adalah ujian bagiku.
Lalu Allah simpankan rahasiaku yang akan menyakiti hatimu.
Agar kamu tak resah disebabkan ulahku.

Sebab kamu adalah ujian bagiku, dan aku adalah ujian bagimu.
Allah simpankan rahasiamu yang akan menyakiti hatiku.
Agar aku tak resah disebabkan ulahmu.

Ada rahasiaku pada Allah tentangmu.
Sebagian disampaikan-Nya kepadaku.
Agar aku senang mendengar berita baik tentang kamu.

Ada rahasia kamu pada Allah tentangku.

Sebagian disampaikan-Nya kepadamu.
Agar kamu senang mendengar berita baik tentang aku.

Begitulah Allah menjaga rahasia bumi ini.

Agar tetap bertahan hingga tiba masa ia dilipat nanti.

[dari : Nobody perfect @ yahoo answer]