Sebelumnya penulis ingin mengucapkan taqabbalalloh minna waminkum shiyamana washiyamakum. Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan diterima Allah SWT.

Kalau Anda ditanya, sudah berapa kali berpuasa ? Lalu, apakah puasa sudah bisa mengubah ucapan, sikap, dan perilaku Anda ? Apabila usia kita saat ini mencapai dua puluh tahun, berarti minimal sudah tiga belas kali berpuasa, seandainya puasa dilatih sejak usia tujuh tahun. Kalau usia kita tiga puluh tahun, minimal sudah 23 kali bahkan bisa lebih dari itu. Pertanyaannya, apakah pendidikan dan pelatihan puasa telah membekas lalu membentuk kita sebagai SDM andal ?

Apabila merujuk asal katanya, Ramadhan bermakna bulan yang memanggang dosa-dosa kita sehingga dosa terhapus. Ramadhan juga dijuluki bulan Al-Quran karena Al-Quran turun pada bulan ini. Ramadhan juga disebut bulan seribu bulan dengan adanya Lailatulkadar, bulan penuh berkah, bulan lautan ampunan, dan berbagai gelar lainnya.

Dalam khotbah menjelang Ramadhan, Rasulullah SAW. memberikan nasihat. "Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunah. Siapa saja bertakarub di dalamnya dengan sebuah kebaikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan tujuh puluh kewajiban pada bulan lainnya." (HR. Ibnu Huzaimah)

Malah Allah berfirman melalui lisan Rasul-Nya, "…puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang akan membalasnya." Apabila Allah dan Rasul-Nya telah begitu memuliakan dan mengistimewakan Ramadhan dan ibadah-ibadah di dalamnya, bagaimana dengan kita ?

Seharusnya dengan telah dilatih puluhan kali dengan intensitas pelatihan setahun sekali selama 29 atau 30 hari, semestinya kita menjadi manusia-manusia yang unggul. Selama Ramadhan kita dilatih untuk menahan hawa nafsu, mengendalikan kemarahan, dan menjaga dari berbagai godaan baik seks maupun pancaindra.

Pelatihan lainnya adalah mengeluarkan harta dalam bentuk zakat fitrah dan zakat harta (mal). Tak cukup hanya itu, kita juga dilatih untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat malam, tadarus Al-Quran, iktikaf (berdiam diri di masjid) terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan mencari ilmu dengan cara mendengarkan khotbah.

Ketika Ramadhan diisi dengan tadarus, seharusnya kita malu apabila belum bisa membaca Al-Quran. Seharusnya Ramadhan memacu dan memicu kita untuk belajar membaca Al-Quran meski dari "alif-alifan".

Ramadhan juga mengajarkan kita untuk bekerja keras, sehingga bisa menyantuni kaum yang kurang beruntung dalam bentuk zakat fitrah, zakat harta, infak, sedekah, ataupun wakaf. Bukankah Nabi Muhammad menyatakan tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah ? Memberi lebih baik daripada menerima bantuan ?

Salah satu kelemahan kaum Muslimin adalah memberikan makna ataupun menelisik hakikat dari ibadah. Kita terjebak kepada formalitas ibadah. Shalat dimaknai sebatas gerakan dan doa yang tidak diambil makna dan hakikatnya sehingga muncul istilah STMJ (shalat terus, maksiat jalan).

Imam Abu Hamid Al-Ghazali atau Imam Ghazali berupaya mengawinkan fiqh sebagai aspek lahir ibadah dengan spiritualitas sebagai aspek batin ibadah, atau dalam bahasa kaum sufi, mengawinkan syariat dengan hakikat.

Dalam karyanya yang sangat fenomenal, Ihya ’Uluumiddin, Al-Ghazali dengan brilian menggali khazanah spiritualitas dalam ranah ibadah, muamalah, munakahat, dan jinayat. Spritualitas oleh Al-Ghazali dikenalkan dengan istilah Asraar Ath-Thaharah, Asraar Ash-Shalat, Asraar Ash-Shaum, dan seterusnya.

Jadi bagi kaum Muslimin, sesungguhnya spiritualitas ibadah ini bukan hal baru, tetapi sudah lama terlupakan dan terabaikan. Ibadah tanpa mengenal hakikat adalah ibadah tanpa memahami maknanya. Ibadah tanpa pemahaman untuk apa dan mengapa sebuah perintah ada, ibadah yang nilai-nilai positifnya tidak dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, dan inilah gejala yang muncul sampai saat ini.

Wajar ketika Nabi Muhammad mensinyalir banyaknya orang berpuasa, tetapi sekadar memperoleh ganjaran berupa lapar dan dahaga. Padahal Ramadhan merupakan bulan vaksinasi agar kita bisa kebal dari segala penyakit dunia ataupun penyakit hati, seperti dendam, riya, sombong, dan mementingkan materi.

Semoga ibadah-ibadah yang kita laksanakan selama Ramadhan ini memberikan makna mendalam untuk bekal sebelas bulan berikutnya. Insya Allah !***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum ”PIKIRAN RAKYAT” Edisi Kamis (Pahing) 16 September 2010 pada Kolom ”CIKARACAK”]
Iman dapat diibaratkan pohon yang sangat kuat. Akarnya menghujam ke dalam tanah, rantingnya banyak, daunnya lebat, serta buahnya manis dan banyak. Pohon itu tentu akan sangat membahagiakan pemiliknya karena selain dapat memetik banyak manfaat, pohon itu juga bisa menjadi pelindung dari panasnya terik mentari.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Fath : 4)

Shaum adalah bukti nyata keimanan, sebagai pancaran dari dalam diri kita bahwa diri ini memercayai Allah dan kita percaya bahwa Allah Maha Melihat. Shaum adalah bukti kekuatan kita menahan segala macam godaan syahwat yang sebenarnya halal. Selama shaum kita tidak boleh makan, padahal makanan yang tersedia halal. Selama saum kita tidak boleh berhubungan suami-istri, padahal dengan pasangan yang halal.

Itu semua kita lakukan meskipun tanpa pengawasan manusia, karena yang kita yakini hanyalah pengawasan langsung Allah. Demikianlah adanya keimanan, kita tidak bisa membohongi diri sendiri dengan pura-pura shaum karena kita yakin Allah Maha Mengetahui.

Iman dapat diibaratkan pohon yang sangat kuat. Akarnya menghujam ke dalam tanah, rantingnya banyak, daunnya lebat, serta buahnya manis dan banyak. Pohon itu tentu akan sangat membahagiakan pemiliknya karena selain dapat memetik banyak manfaat, pohon itu juga bisa menjadi pelindung dari panasnya terik mentari.

Begitu pula dengan iman. Iman yang kokoh akan membuahkan perilaku yang sangat terpuji, sekaligus membuat kita terlindung dari "panasnya" kehidupan dunia yang serba materialisme. Imanlah yang akan meringankan beban kehidupan, iman pula yang akan menghibur kita dari jeratan kenestapaan. Iman juga sebagai perisai insan dari sejuta aksi kemaksiatan. Mereka yang beriman mampu memberikan manfaat dan seberkas cahaya buat kehidupan di masyarakatnya.

Iman adalah "darah segar" perjuangan, iman adalah "getaran" kemuliaan. Getar-getar ini bisa muncul ketika seorang Muslim mendengar ayat-ayat Al-Quran atau ketika mendengar hadits Rasulullah SAW. yang merasuk ke dalam hati dan pikirannya, pun ketika setiap kebesaran Ilahi di alam ini.

Oleh karena itu, memantapkan keimanan merupakan hal yang sudah seharusnya dihidupkan agar kita tidak terombang-ambing dalam lautan hawa nafsu. Menyuburkan pohon keimanan adalah keniscayaan bilamana kita ingin ikut serta aktif membangun peradaban yang diridai oleh Allah SWT.

Dengan iman seorang hamba memantapkan langkah dan hati menuju totalitas cinta agung untuk Tuhannya. Semoga perjalanan ibadah di bulan mulia ini kian memperteguh keimanan kita.***

[Ditulis Oleh : Drs. H. TJETJE SOEBRATA, SH. MM., Ketua DKM Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Rabu (Wage) 8 September 2010 pada Kolom "RAMADAN KARIM"]
Pagi itu tanggal 1 Syawal, umat Islam tengah berbahagia menyongsong berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Kaki pun dilangkahkan menuju tanah lapang seraya menyeru takbir mengagungkan asma Allah. Demikian juga dengan Muhammad Rasulullah bersama istrinya, Ummul mu’minin Aisyah.

Keduanya hendak melaksanakan shalat Idulfitri bersama umat Islam lainnya. Namun, langkah sepasang kaki pria agung itu terhenti saat mendengar tangisan pilu seorang gadis kecil di tepi jalan. Dihampirinya si empunya tangis yang tengah berlinang air mata.

"Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku ?" suara lembut Rasulullah menyapa gadis kecil dan menahan beberapa detik sesengukan sang gadis.

Tanpa hirau asal suara, sang gadis kecil masih saja sesengukan. Matanya masih menerawang tak menentu seperti mencari satu sosok yang amat dia rindui kehadirannya pada hari bahagia itu.

"Aku tidak mempunyai baju bagus seperti teman-teman yang lain. Padahal aku puasa sebagaimana mereka puasa," kata sang gadis kecil. "Apakah engkau tidak meminta kepada ayah atau ibumu ?" Rasulullah kembali bertanya.

"Ayahku mati syahid dalam peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis kecil itu menjawab pertanyaan lelaki di hadapannya tentang ayahnya. Wajahnya sama sekali tidak memandang pada pria yang bertanya.

Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu. "Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad menjadi ayahmu, Fatimah menjadi bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu ?" kata Rasulullah menawarkan diri.

Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah SAW., Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak yatim. Siapakah yang tak ingin berayah lelaki paling mulia, dan beribu seorang ummul mu’minin ?

Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih pada hari raya kembali tersenyum. Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi yang juga anak yatim.

Rasulullah lantas membawa serta gadis kecil itu ke rumahnya untuk diberi pakaian bagus. Sudah tidak tampak lagi air mata di wajahnya.

Kini, rona kebahagiaan yang muncul karena gadis kecil itu telah memiliki keluarga baru, keluarga yang mulia karena dia telah diangkat anak oleh sang pembawa risalah.

Rasulullah telah memberikan contoh kepada kita semua bagaimana cara merayakan hari kemenangan yakni dengan memberikan kebahagiaan kepada saudara-saudara kita. Tidak salah merayakan Idulfitri dengan menyediakan penganan yang enak-enak di rumah untuk menjamu handai tolan yang datang. Namun, mari kita tengok tetangga kita, apakah masih ada yang menangis seperti gadis kecil yang dijumpai Rasulullah ? Apakah perut tetangga kita sudah tidak lagi pedih karena menahan lapar ?

Mari kita rayakan hari kemenangan dengan menebarkan kegembiraan karena sebagai umat Islam yang menjalankan puasa pada bulan Ramadan, kembali fitri adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Semoga kita bisa meneladani perilaku Rasulullah saat merayakan Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.***

[Ditulis oleh : Hj. NUNUNG KARWATI, dan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Rabu (Wage) 8 September 2010 pada Kolom "KISAH RAMADAN"]
Iman, menurut Imam al-Gazali, setengahnya adalah sabar. Lalu, syukur adalah setengahnya lagi. Pada bulan Ramadhan ini, sabar dan syukur menjadi dua hal yang begitu khusus. Itulah makanya Ramadhan sering dinyatakan sebagai bulan pendidikan tentang sabar ("tarbiyyah shabr").

Sabar dikaitkan dengan segala bentuk amaliah ibadah, dapat dimaknai sebagai suatu ketaatan yang sungguh-sungguh di dalam menjalankan perintah Allah. Demikian pula halnya di dalam pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan, karena kesabaran akan perintah-Nya-lah yang menjadikan kita dapat menjalankan ibadah shaum Ramadhan.

Tentu saja, pada saat kita menjalankan ibadah shaum, kesabaran yang harus kita miliki tidak sekadar pada persoalan tahannya mengadapi godaan rasa lapar, dahaga, dan nafsu syahwat lahiriah lainnya. Namun juga kesabaran di dalam menghadapi hal-hal yang dapat merusak dan menjadikan ibadah saum kita tidak diterima oleh Allah SWT.

Kita tidak ingin menjadi orang yang menjalankan ibadah shaum, tetapi digolongkan oleh Rasulullah SAW. sebagai orang yang tidak memperoleh nilai apa-apa. Sebagaimana ucapan beliau : "Banyak orang yang puasa, tetapi tidak dapat apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan banyak orang yang bangun beribadah, tetapi tidak dapat apa-apa kecuali menahan rasa kantuk." (HR. Ibnu Majah)

Bahkan lebih tegas lagi dinyatakan oleh beliau dalam hadits lainnya : "Barangsiapa yang tidak menghentikan omongan-omongan dusta kemudian melakukan kedustaan tersebut, maka Allah tidak merasa butuh pada orang itu meski telah meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari).

Lalu berkaitan dengan sikap syukur kita kepada Allah SWT., pada saat kita menjalankan semua amaliah ibadah, termasuk amaliah ibadah shaum didalamnya, maka semestinyalah apa yang kita lakukan itu didorong oleh keinginan untuk bersyukur kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 185)


Hidup yang kita jalani pada hakikatnya adalah sebuah anugerah yang wajib disyukuri.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
"Jika kamu akan menghitung-hitung nikmat dari Allah, maka kamu tidak akan mampu untuk menghitungnya." (QS. An-Nahl : 18)

Jadi, tugas kita berkaitan dengan anugerah nikmat Allah tadi, tiada lain adalah mensyukurinya. Meskipun tentu saja upaya untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah tadi bukan pula perkara yang mudah.

Hal ini dapat dilihat dari apa yang diminta oleh Rasulullah SAW. dalam doanya, "Ya Allah, bantulah aku untuk dapat mengingat-Mu, untuk dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan benar kepada-Mu."

Betapa tingginya inti dari pendidikan yang terkandung dalam pelaksanan ibadah shaum Ramadhan. Keterpaduan antara sabar dan syukur mengutuhkan kepribadian orang-orang yang menjalankan ibadah Ramadhan dengan sungguh-sungguh.

Dengan sabar, terbentuklah jati diri seorang hamba Allah yang mampu bertahan dari godaan setan. Lalu dengan senantiasa bersyukur, maka ia bisa menggapai kemuliaannya.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
"Jika kamu bersyukur, maka akan Kami (Allah) tambah lagi anugerah kebaikan untukmu." (QS. Ibrahim : 7)

Kita semua tentu saja ingin menjadi orang–orang yang berhasil melewati tempaan pendidikan Ramadhan . Terlebih-lebih tempaan tentang sikap sabar dan syukur yang menurut Imam al- Gazali tadi merupakan dua hal yang menjadi inti dari keimanan. Semoga kita mampu menggapai kemuliaan itu.****

[Ditulis Oleh : H. ABUBAKAR, Bupati Bandung Barat. Tulisan disalin dari dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 7 September 2010 pada Kolom "RAMADAN KARIM"]
Sejak kapan tradisi mudik ada di Indonesia ? Sulit untuk ditelusuri. Jelasnya, fenomena mudik sudah terjadi secara turun-temurun dan menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Jika kita lihat asal usulnya, dalam buku kumpulan tulisan Nurcholish Madjid (2009), Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, dikatakan bahwa tradisi mudik (kembali ke asal) sudah menjadi sifat dasar (sunatullah) manusia sejak proses penciptaannya.

Naluri kembali ke asal (mudik) sudah jadi ketentuan Tuhan sejak manusia dalam alam rohani. Sebelum lahir ke dunia, manusia sudah melakukan perjanjian dengan Tuhan. Di alam rohani manusia berjanji akan hidup berbakti kepada Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Perjanjian itu diberitakan dalam Al-Quran,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : "Bukankah Aku ini Tuhanmu ?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (QS. Al`Araf : 172)

Setelah bersaksi siapa Tuhannya, manusia juga berkomitmen untuk kembali kepada Tuhan yang menciptakannya,

غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
"Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali." (QS. Al Baqarah : 285)

Nurcholis Madjid berkesimpulan, berdasarkan persaksian dan komitmen manusia untuk menyembah dan kembali kepada Tuhannya, kembali ke asal (mudik) adalah sunatullah kehidupan manusia. Dalam arti spiritual, kembali ke asal (mudik) untuk menyembah atau menuju Tuhan.

Kembali ke asal (mudik), bukan hanya sunatullah yang terjadi pada manusia, tetapi sudah menjadi sistem kehidupan yang mengatur jagat raya. Dalam kenyataan semua makhluk yang diciptakan-Nya akan kembali kepada pencipta-Nya. Dari mulai binatang melata sampai binatang terbang, dari mulai langit, gunung, laut, dan semesta alam, akan mengalami kehancuran dalam arti kembali (mudik) kepada Sang Pencipta.

Manifestasi pola kembali ke asal dapat kita temukan dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia. Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW., setelah beliau hijrah dari Mekah dan menetap kurang lebih 13 tahun di Madinah, Nabi SAW. beserta kaum Muslimin dengan izin Allah kembali (mudik) ke Mekah. Perasaan senang, cucuran air mata bahagia kaum Muslimin, mewarnai peristiwa itu. Mereka bahagia karena bisa bertemu kembali dengan sanak famili yang sekian lama terpisah, menyambung tali silaturahmi, dan mengakhiri permusuhan. Itulah peristiwa "mudik" besar-besaran umat Islam yang tercatat dalam sejarah Nabi Muhammad SAW. sebagai peristiwa penaklukan Mekah.

Dalam sejarah dunia, orang-orang Eropa secara besar-besaran bermigrasi ke wilayah Timur, berkuasa menjajah ratusan tahun, tetapi setelah negara jajahannya merdeka, mereka kembali ke tempat asalnya (mudik) ke Eropa. Demikian juga, pola kembali ke asal dapat kita temukan dalam kehidupan binatang. Burung, kuda, bison, bermigrasi sejauh ribuan kilometer mencari tempat penghidupan dan pada suatu saat yang telah ditentukan akan kembali ke tempat asalnya.

Kembali ke asal dapat juga kita saksikan dalam siklus kehidupan manusia. Manusia diciptakan dari tanah dan kembali ke tanah. Manusia tumbuh dari anak-anak, dewasa, dan kembali seperti anak-anak. Manusia lahir tidak memiliki apa-apa dan kembali tidak membawa apa-apa. Manusia lahir dari perut ibunya dan di manapun berada ibu selalu menjadi magnet yang menarik setiap orang untuk kembali. Manusia lahir di suatu tempat dan tempat kelahiran selalu menjadi daya tarik untuk kembali.

Tradisi mudik besar-besaran pada hari raya Idulfitri adalah bentuk lain dari manifestasi sunatullah kembali ke asal. Karena sudah menjadi sunatullah (naluri dasar manusia), tradisi mudik pada hari raya Idulfitri sulit dihilangkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kenyataannya, mudik Lebaran seperti menjadi bagian ritual keagamaan masyarakat Indonesia pada Idulfitri. Suatu kebiasaan jika sudah menyatu dengan sistem kepercayaan suatu masyarakat, akan semakin sulit dipudarkan, sekeras apapun perubahan zaman menerpanya.

Walaupun mudik dikatakan sebagai sunatullah, secara syariah tidak ada keterangan yang menganjurkan manusia untuk mudik dan tidak ada juga keterangan yang melarangnya. Akan tetapi, karena mudik dalam arti kembali ke asal sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan manusia, kita hanya bisa mempersiapkan dan mengarahkan agar kegiatan mudik dalam berbagai manifestasinya bisa membawa hikmah dan berkah bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Kita harus ingat, sesungguhnya mudik adalah jika ajal telah menjemput kita. Oleh karena itu, dari itu sebaik-baiknya bekal mudik, bersiap siagalah selalu dengan bekal takwa.

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya) ?" (QS. Yunus : 31).

Oleh karena itu, berbagi rezeki dengan sesama, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua (jika masih ada), itulah tujuan alternatif mudik. Selamat Lebaran dan selamat mudik semoga kebahagian menyertai kaum Muslimin dan seluruh alam, semoga Allah menjadikan kita orang-orang takwa.***

[Ditulis Oleh TOTO SUHARYA, staf pengajar Universitas Widyatama Bandung, Pengamat Sosial Keagamaan dan Pengurus Orda ICMI Kab. Cianjur. Tulisan disalin dari dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 7 September 2010 pada Kolom "OPINI"]
Apabila sedang menyendiri, Umar bin Khattab RA. suka kelihatan merenung. Terkadang dia sampai menangis tersedu-sedu. Setelah itu, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Para sahabat, yang kebetulan menyaksikan hal tersebut, suka merasa heran. Akhirnya, ada seorang di antara mereka mencoba bertanya.

"Aku sering menelaah diriku sendiri. Muhasabah, setelah aku menyadari aneka macam kekeliruan yang pernah aku lakukan dulu sehingga mendorongku untuk bertobat. Memohon ampun kepada Allah SWT.," kata Umar.

"Apa saja kekeliruanmu itu, wahai anak Khattab sehingga membuat Anda menangis lalu tertawa ?" tanya sahabat.

"Aku ingat pada masa jahiliah dulu, ketika kebodohan menyelimuti diriku. Tradisi kami, adalah mengubur hidup bayi perempuan. Begitu lahir, langsung dimasukkan ke lubang yang sudah disediakan. Anggapan kami yang diselimuti kebodohan akal dan pikiran, lebih mengutamakan gengsi, bayi perempuan adalah pembawa kehinaan. Hanya akan menjadi beban keluarga. Tidak akan menjadi penunggang kuda yang gagah. Tidak akan menjadi pemain pedang andal di medan perang. Pokoknya, serbaburuk. Nah, setelah Islam datang mengajarkan nilai-nilai akidah, ibadah dan akhlak yang baik dan benar, tradisi itu kami hapus dari diri kami yang telah Muslim. Islam mengajarkan, perempuan mukminat-muslimat, punya hak sama sederajat dengan laki-laki mukminin-muslim. Punya hak masuk surga dengan amal-amalan mereka yang baik dan bajik..."

"Lantas hubungannya dengan kelakuan aneh Anda ?" sahabat mendesak.

"Ya, pada masa jahiliah, aku pernah membunuh bayi perempuanku. Jika ia dibiarkan hidup, mungkin ia sudah memberiku beberapa cucu yang lucu-lucu. Itulah sebabnya aku menangis. Ingat kepada bayiku dulu, ingat kepada nasibnya akibat kebodohan ayahnya..." Umar kembali terisak-isak membuat para sahabat ikut meneteskan air mata.

"Nah, jika Anda tertawa terbahak-bahak ?" sahabat bertanya lagi.

"Pada masa jahiliah, kami semua sangat gemar membuat patung-patung sembahan. Selain patung utama Latta, Uzza, Manat, Hubal, dan lain-lain, kami juga membuat patung-patung tambahan sesuka kami sendiri. Nah, kalau musim panen kurma berhasil, melimpah ruah, kami buat patung raksasa dari kurma. Kami gotong ke Kabah. Lalu kami sembah beramai-ramai. Kami puja-puji, karena kurma merupakan salah satu makanan pokok kami, yang kami anggap berjasa memberi kekuatan kepada tubuh. Tetapi, tatkala kami mengalami paceklik gagal panen, kekurangan pangan, patung kurma itu kami pereteli, untuk dijadikan bahan makanan. Kini aku suka tertawa mengingat kelakuan kami menyembah berhala kurma di suatu waktu, dan memakan sembahan kami itu di waktu lain !"

Mendengar penuturan Umar, para sahabat ikut tertawa.

"Untunglah, Islam datang, dan aku mendapat hidayah setelah mendengar ayat-ayat Allah SWT yang dibacakan saudariku dan suaminya yang telah terlebih dulu memeluk Islam," kataUmar sambil mengucapkan ayat-ayat awal surat Thaha (1-8). Ayat-ayat yang menyatakan Alquran diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia, melainkan peringatan bagi orang yang takut kepada Allah. Diturunkan dari Allah, pencipta langit dan bumi, yang Maha Pemurah bersemayam di Arsy, Maha Pemilik segala yang ada di langit dan bumi, yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Yang pemilik nama-nama yang indah (Asmaul Husna) dan hanya Dia yang berhak disembah."***

[Ditulis oleh H.USEP ROMLI HM, tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 7 September 2010 pada Kolom "KISAH RAMADAN"]
Jika ditilik dari sudut siapa yang bertarung, sejatinya Perang Tabuk dan Perang Yarmuk tidak ada perbedaan. Keduanya merupakan arena pertempuran antara para pembela kebenaran dan pendukung kebatilan. Milisi Muslim melawan tentara Romawi. Persamaan lain adalah keduanya dimenangi kaum Muslim dengan personel lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah tentara musuh.

Islam, sebagaimana diketahui, baru mengizinkan perang manakala keselamatan kaum Muslim dan kedaulatan negerinya berada dalam ancaman. Karena demikian halnya, baik Perang Tabuk maupun Perang Yarmuk pada hakikatnya lebih bersifat defensif daripada ofensif.

Keterangan tersebut jelas tidak bermaksud menafikan nuansa perbedaan di antara keduanya. Bagaimana mungkin? Dalam kedua peperangan itu banyak hal yang secara signifikan berbeda. Misalnya, Perang Tabuk terjadi pada masa nubuwah dan dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Sementara Perang Yarmuk berkobar pada zaman Khalifah Umar.

Pada perang Yarmuk terdapat sejumlah sahabat senior ikut. Abu Ubaidah al-Jarah misalnya, yang juga Komandan Pasukan Gabungan Milisi Muslim.

Sebelum perang dimulai, sejalan pula dengan Etika Islam, sang Komandan menawarkan kepada pihak lawan tiga hal. Pertama, menerima ajaran bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad SAW. adalah Rasulullah. Jika seruan ini mereka terima, dengan sendirinya mereka menjadi anggota persaudaraan Muslim; kedua, apabila tawaran itu ditolak, mereka diwajibkan membayar jizyah yang berfungsi sebagai pajak perlindungan; ketiga, seandainya mereka menolak usulan pertama dan kedua, alternatifnya adalah perang. Tentara Romawi ternyata memilih alternatif ketiga. Akhirnya, perang pun tidak dapat dielakkan.

Pada saat fajar menyingsing, tentara Romawi mulai bergerak maju. Dengan kekuatan pasukan yang berjumlah tidak kurang dari 250.000 personel, diperkuat pula dengan semangat menyala-nyala dan kemahiran bertempur dahsyat, sempat membuat sebagian tentara Muslim, yang berjumlah 35.000 orang agak terkejut.

Perang berkecamuk dengan kegarangan dan keganasan yang tidak terlukiskan. Pembantaian manusia berlangsung sedemikian rupa. Tidak seorang pun ahli sejarah dapat mencatat secara pasti, berapa prajurit dari masing-masing pasukan yang menjadi korban. Thabari dan Azdi memperkirakan seratus ribu orang dari pasukan Romawi. Baladzuri menyebut sekitar 70.000 orang saja. Sementara prajurit milisi Muslim yang gugur tiga ribu orang.

Ada hal yang menarik untuk dicatat, sebagaimana dilaporkan pakar tafsir dan sejarah Ibn Katsir, tatkala pertempuran berakhir, tentara Muslim yang selamat segera mengurus mayat rekan-rekan mereka yang gugur dan emberikan pertolongan kepada prajurit yang luka-luka.

Mungkin lantaran lukanya yang kelewat parah, mereka dilanda kehausan yang sangat. Tidak heran kalau kemudian mereka minta diberi air minum. Namun, saat prajurit yang kehausan itu mau memuaskan dahaganya, terdengar olehnya suara prajurit lain yang juga meminta minum. Dia tidak jadi meneguk air itu. Dia lantas menyerahkan air itu seraya berkata, "Berikan saja air ini kepadanya. Dia lebih memerlukan daripadaku!" Hal demikian itu berlanjut hingga mencapai tujuh orang.

Ketika para petugas bergerak menghampiri peminta terakhir, mereka sangat menyesal karena dia telah meninggal dunia. Dengan segera mereka kembali mendekati prajurit yang paling dahulu meminta air. Namun terlambat, karena prajurit itu pun sudah mengembuskan napas terakhir.

Sungguh mengharukan! Dalam kehidupan yang sudah berada di tepi ajal, mereka masih peduli akan kebutuhan orang lain. Betapa mulia hati mereka. Bagaimana dengan kita ?***

[Ditulis Oleh A. HAJAR SANUSI, Ketua MUI Kec. Kiaracondong Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Senin (Pahing) 6 September 2010 pada Kolom "KISAH RAMADAN"]
Dalam Perang Tabuk, terdapat orang-orang yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah SAW., di antaranya adalah orang-orang yang uzur, juga ada sekitar 80 orang munafik dari kaum Anshar, selain itu ada 3 sahabat yang benar-benar mukmin yang tidak ikut berperang, salah seorangnya adalah Ka’ab bin Malik RA.

Ketika Perang Tabuk selesai dan berita kepulangan Rasulullah SAW. tersiar, Ka’ab bin Malik dihantui kerisauan. Tebersit dalam dirinya untuk berbohong, agar dirinya terhindar dari kemarahan Rasulullah SAW.

Namun, ketika Rasulullah SAW. semakin dekat menuju Madinah, maka segala kebatilan yang ada pada dirinya lenyap, ia menyadari bahwa selamanya tidak akan bisa keluar darinya dengan cara-cara yang dusta, lalu ia membulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Rasulullah SAW.

Setelah Rasulullah SAW. tiba di Madinah, Ka’ab bin Malik RA. pun datang menghadap Rasulullah dan mengucapkan salam kepada beliau. Beliau tersenyum hambar bahkan dikatakan memalingkan muka. Ka’ab berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah berpaling dari saya. Demi Allah, saya bukanlah orang munafik dan saya meyakini keimanan saya."

Rasulullah SAW. bersabda, "Kemarilah, mengapa engkau tidak ikut berperang, bukankah engkau sudah membeli unta sebagai kendaraan ?" Ka’ab bin Malik RA. menjawab, "Ya Rasulullah, kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberikan berbagai alasan agar ia tidak marah, karena Allah telah mengaruniakan kepada saya kepandaian berbicara. Tetapi kepada engkau, walaupun saya dapat memberikan keterangan dusta yang dapat memuaskan hatimu, sudah tentu Allah akan murka kepadaku. Sebaliknya jika saya berkata jujur sehingga engkau marah, saya yakin Allah akan menghilangkan kemarahan engkau. Oleh karena itu, sekarang saya akan berkata dengan sejujurnya. Demi Allah, saya tidak memiliki halangan apa pun. Seperti halnya orang lain, saya berada dalam keadaan lapang dan bebas. Bahkan, pada saat ini saya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada masa-masa sebelumnya."

Rasulullah SAW. bersabda, "Engkau telah berkata jujur, berdirilah, Allah akan memutuskan segala urusanmu." Kemudian setelah itu, Ka’ab meninggalkan Rasulullah dan pulang ke rumahnya.

Dalam masa penantian akan keputusan Allah SWT., Rasulullah SAW. melarang Ka’ab dan dua sahabatnya untuk berbicara dengan siapa pun dan disuruh menjauhi istrinya, maka orang-orang menjauhinya dan mengucilkannya seakan-akan dunia menolaknya. Bukan hanya itu, saudaranya pun tidak mau berbicara kepadanya dan bahkan ada orang yang mengajaknya keluar dari agama Islam. Semua ini menjadikan Ka’ab sangat bersedih dan menderita sehingga ia selalu menangisi apa yang terjadi pada dirinya.

Pada hari yang kelima puluh, kabar gembira pun datang kepadanya, bahwa Allah menerima tobat Ka’ab dan dua sahabatnya. Dengan hati gembira Ka’ab datang menghadap Rasulullah SAW. dan pada saat itu Rasulullah SAW. bersabda, "Bergembiralah dengan meraih saat yang penuh kebaikan, yang belum pernah kau lalui sejak engkau dilahirkan ibumu."

Sebagai rasa syukur, Ka’ab menyedekahkan sebagian hartanya dan ia berkata, "Ya Rasulullah, Allah sungguh telah menyelamatkan diriku dengan kejujuran, maka sebagai bagian dari pertobatanku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan kejujuran selama sisa hidupku."

Semoga kisah ini menjadi teladan bagi kita untuk selalu berbuat dan berkata jujur. Kejujuran adalah kesesuaian amal dengan tuntunan perintah-perintah syariat. Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur." (Muttafaqun alaih)***

[Ditulis Oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Minggu (Legi) 5 September 2010 pada Kolom "KISAH RAMADAN"]