Sering muncul pertanyaan, mengapa persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah islamiah) jauh lebih sulit daripada persaudaraan kepada non-Muslim ? Sesama kaum Islam kadang saling tak menyapa, bahkan kerap saling menyalahkan sehingga "ukhuwah" pun terkoyak.

Padahal, banyak ayat dalam Al-Quran menyatakan tentang pentingnya "ukhuwah" dimana salah satu diantaranya adalah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-prang beriman adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujuraat : 10)

Integrasi dan persamaan di antara kaum Muslimin dilandasi oleh iman, bukan sebatas persamaan suku, ras, bahasa, apalagi warna kulit. Apabila seseorang bisa bersaudara dengan tulus, ia berada dalam keimanan yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Ukhuwah merupakan soal pelik bagi umat Islam yang timbul sejak Rasulullah SAW. wafat. Terlebih, setelah adanya tiga fitnah besar (alkubra) yakni terbunuhnya Utsman bin Affan, peperangan Ali versus Aisyah, dan perang Ali dengan Muawiyah. Bahkan, ukhuwah makin pelik ketika diseret kepada ranah politik hingga sulit diselesaikan.

Kini, umat tengah menuai buah sejarah itu dalam "kotak-kotak" komunitas mikro yang tersekat kepentingan. Urusan politik menjadi dominan dan masalah keagamaan terpilah oleh semangat Suni dan Syiah yang sampai kini sulit dipertemukan.

Kedatangan era modern dengan ideologi nasionalismenya membuat umat Islam terpecah menjadi negara-negara kecil. Dengan kondisi ini membuat banyak pihak mulai memikirkan ukhuwah islamiah konsep baru.

Ibnu Taimiyyah pernah mengusulkan doktrin universal chaliphate yakni umat Islam boleh terpisah di negara-negara otonom, tetapi harus tetap satu. Artinya, meski secara politik umat terpisah-pisah, secara keagamaan mereka diharapkan tetap satu. Masalahnya, bagaimana merekatkan semua itu ? Proses pengelompokan tetap berlangsung, tetapi tetap saja dipenuhi banyak paham. Dalam konteks fiqh memiliki lima mazhab (Hanafi, Hambali, Syafii, Maliki, dan Jafari). Demikian pula dengan kalam yang memiliki banyak paham, tetapi secara garis besar dua kelompok yaitu Suni dan Syiah.

Keragaman ini membuat impian Taimiyyah sulit diaplikasikan. Kita semua tahu, tidak ada satu pun paham baik kalam, fiqh, atau tasawuf yang bisa diterima semua kalangan. Semangat kebebasan yang sulit dihindari juga telah memperkuat bangunan keragaman itu. Apalagi alim ulama juga kerap menyitir sabda Nabi Muhammad SAW., "Ikhtilaf di kalangan umat adalah rahmat."

Lalu, dari mana kita memulai ukhuwah islamiah ? Kita bisa merujuk pada pilihan Abdullah bin Umar yang hidup di tengah fitnah besar. Abdullah tetap memilih tetap tinggal di Madinah seraya mengilustrasikan kenyataan umatsibuk dengan jihad meluaskan wilayah kekuasaan, tetapi tak ada yang memikirkan Islam.

Cara terbaik dalam menjalin upaya merekatkan persaudaraan sesama Islam adalah dengan merujuk kepada Allah. Kita ibarat angka 0 yang tak bermakna apa-apa tanpa berbagi dan bersahabat dengan sesamanya.

Namun, jika islah (upaya perdamaian) di antara umat Islam tak bisa tergapai, cukuplah kita bersikap diam. Kita tak boleh berburuk sangka, menggunjing, atau mengolok-olok orang lain.

Sikap itu sudah banyak membantu dalam persaudaraan sesama Muslim. Carilah persamaan bukan memperbesar perbedaan karena pemahaman terhadap ajaran Islam memang tidak akan sama.

Dalam QS. Al-Hujuraat : 11 ditegaskan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum menyangka kaum lain karena boleh jadi mereka yang disangka lebih baik daripada yang menyangka. Dan, jangan pula (sekelompok) wanita menyangka wanita lain karena bisa jadi wanita yang disangka lebih baik daripada yang menyangka. Janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Janganlah kamu memanggil dengan gelar buruk, sejelek-jelek-nya panggilan adalah panggilan buruk setelah beriman. Dan, barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka termasuk orang-orang zalim."

Sementara pada ayat selanjutnya (ayat 12),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
"Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang mati ? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Berkaca pada kedua ayat di atas, bisa kita ambil benang merah yakni,

Pentingnya upaya membaca diri atau introspeksi (muhasabah).

Apabila kita menganggap orang lain atau kelompok lain salah, luruskan dengan cara yang baik. Terakhir, Rasulullah mengingatkan umat Islam ibarat satu tubuh (kal-jasadil wahid) atau satu bangunan (kal-bunyan al wahid) yang saling menguatkan. Jika jari kita berdarah, secara otomatis semua anggota tubuh lain akan merasakannya.

Demikian pula ketika mulut dan lidah merasakan kenikmatan masakan saat makan, anggota tubuh lain juga terkena dampak kenikmatan itu. Dalam praktik sehari-hari, bisa jadi kita hanya menyingkirkan duri, paku, atau benda-benda lain yang bisa mengganggu perjalanan. Perbuatan sepele, tetapi berdampak luas untuk membantu sesama dan memperkuat persaudaraan.

Wallahu a'lam***

[Ditulis Oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, Ketua Yayasan Unisba, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 17 Februari 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]
Pluralitas atau keberagaman, baik keragaman etnis, suku, bangsa, dan agama, adalah sunnatullah. Tujuan dari penciptaan yang berbeda itu agar manusia bisa saling mengenal, sebagaimana firman Allah SWT.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. al-Hujurat : 13)

Dalam satu ayat Allah mengingatkan kita bahwa Dia sebenarnya bisa menciptakan manusia menjadi satu umat, namun Allah ingin menguji kita dengan perbedaan itu dan untuk kemudian saling berlomba-loba berbuat kebajikan. Firman-Nya,

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (QS. al-Maidah : 48)

PENTINGNYA TOLERANSI

Ayat di atas menegaskan bahwa perbedaan atau keragaman adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa ditolak dan merupakan kehendak Allah SWT. Karena keragaman adalah sunnatullah, maka hidup tanpa toleransi sangat tidak mungkin. Tanpa toleransi, konflik dan pertumpahan darah adalah sebuah keniscayaan. Toleransi merupakan obat penghilang konflik yang seringkali muncul bersamaan dengan adanya perbedaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia toleransi didefinisikan sebagai sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan lain sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Sedangkan pengertian toleransi sebagai istilah budaya, sosial dan politik, ia disimbolkan sebagai kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik-menarik atau saling berkonfrontasi untuk kemudian bahu-membahu membela kepentingan bersama, menjaganya, dan memperjuangkannya. Maka toleransi dimaknai sebagai kerukunan sesama warga negara dengan saling menenggang berbagai perbedaan yang ada. Sikap toleran menuntut kita menerima orang lain dan mempersilakan mereka berbuat apa yang menurut mereka baik meskipun kita tidak setuju.

Mengenai toleransi umat beragama antara Islam dan Kristen, Azyumardi Azra dalam bukunya Konteks Berteologi di Indonesia; Pengalaman Islam mengemukakan bahwa lebih dari seribu tahun umat Muslim dan Kristen mengembangkan gagasan-gagasan kerukunan hidup antar umat beragama berdasarkan kepercayaan mereka masing-masing.

Menurut Azra, sejak masa pertengahan, dialog-dialog antaragama yang pertama dalam sejarah telah mulai dilakukan di istana-istana para penguasa Muslim di Baghdad dan Andalusia.

Untuk konteks Indonesia, toleransi antar umat beragama menjadi salah satu ciri utama negara Indonesia yang tersirat dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, disamping prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, dan gotong royong. Secara umum, toleransi antarumat beragama di Indonesia berjalan relatif sempurna. Hal ini pun diakui oleh dunia internasional.

Pengakuan itu terungkap dalam seminar bertajuk Unity in Diversity, the Culture of Coexistence in Indonesia (bersatu dalam keragaman: budaya hidup berdampingan dengan damai di Indonesia) yang digelar bulan Maret lalu. Dalam seminar itu Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini dalam sambutannya pada awal seminar jelas-jelas ”meminang” Indonesia menjadi pelaku perdamaian. Tawaran serupa telah diutarakan pula Perdana Menteri Australia dan beberapa negara lain yang ingin melamar Indonesia sebagai mitra dalam percaturan relasi internasional.

Seminar bertempat di Roma tersebut membidik salah satu unsur sentral kearifan budaya (cultural wisdom) Nusantara yang kini mempunyai nilai pikat dan relevansi sangat tinggi, yakni kemampuan hidup bersama secara rukun dalam perbedaan. Sering terjadi pergesekan dalam relasi, tetapi keharmonisan telah menyejarah dan menjadi pengalaman dominan dalam hidup bersama di Indonesia.

Pengakuan dunia internasional tersebut menjadi bukti bahwa sebagai penduduk mayoritas, umat Islam Indonesia mampu menerapkan sikap toleran dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

TOLERANSI ISLAM

Praktik toleransi yang diterapkan umat Islam Indonesia dalam menyikapi perbedaan yang ada sejalan dengan nafas Islam. Prinsip toleransi yang dibangun Islam dalam membangun kerukunan antarumat beragama dilandaskan pada dua hal.

Pertama, tidak ada pemaksaan agama (lâ ikrâha fi ad-dîn). Islam merupakan agama dakwah. Prinsip dakwah yang diajarkan Islam adalah mengajak pada kebenaran, dalam hal ini agama Islam, tanpa ada pemaksaan karena antara yang benar dan yang salah telah jelas

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." (QS. al-Baqarah : 265).

Dalam mengajak manusia bernaung di bawah agama Islam yang hanif, pada da’i hanya dibenarkan membeberkan risalah kebenaran Islam kepada umat lain. Setelah itu, terserah mereka untuk beriman atau menjadi kafir.

Kedua, mengakui perbedaan identitas agama masing-masing (lakum dînukum wa liya dîn). Surat al-Kafirun ayat 6 menegaskan prinsip yang pertama ini. Prinsip ini menjelaskan bahwa Islam mengakui hak hidup agama lain dan menghargai para pemeluk agama-agama tersebut untuk menjalankan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Di sinilah terletak dasar ajaran Islam mengenai toleransi beragama. Menurut Islam, lepas dari soal apa agamanya, penganut agama lain harus dihargai sebagai manusia sesama makhluk Allah Yang Maha Esa. Sebab Allah sendiri pun menghormati manusia, anak cucu Adam di mana saja ia berada, dengan segala potensi dan perbedaannya

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. al-Isra’ : 70)

Karena Allah SWT. memuliakan manusia, terlepas dari latar belakang perbedaan keyakinan, maka ajakan kepada kebenaran (dakwah), haruslah dilakukan hanya dengan cara-cara yang penuh kearifan, kesopanan, tutur kata yang baik.

Ajaran Islam mengenai hidup berdampingan dengan damai dan menghargai penganut agama lain bisa dilakukan dari lingkup terkecil seperti bertetangga. Dalam hadits disebutkan siapa pun yang beriman kepada Allah SWT. dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangga. Dalam hadits tersebut tidak ada dikotomi apakah tetangga itu seiman dengan kita atau tidak.

Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah SAW. hendak melarang seorang sahabat untuk bersedekah kepada orang non-muslim yang sedang membutuhkan. Lalu Allah SWT. menegur beliau dan menurunkan ayat berikut,

لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya,” (QS. al-Baqarah : 272)

Dengan turunnya ayat ini, Rasulullah SAW. segera memerintahkan umat Islam untuk bersedekah jika mendapatkan orang non muslim sedang membutuhkan.

Riwayat di atas menjelaskan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk berbuat baik kepada sesama. Karena petunjuk atau hidayah ada dalam kekuasaan Allah SWT. Sedangkan urusan manusia adalah mengajak kepada kebaikan, keadilan dan kesejahteraan yang ada di dunia.

Dengan demikian, sikap toleransi yang paling utama untuk kita tumbuh kembangkan adalah praktek-praktek sosial kita sehari-hari. Hal ini dengan kita awali bagaimana kita bersikap yang baik dengan tetangga terdekat kita, tanpa membedakan mereka dari sisi apa pun.

Mudah-mudahan para pemimpin bangsa dan negara serta para pemimpin umat semakin arif dalam menangani kasus-kasus yang berbau SARA, untuk tidak selalu menyudutkan kelompok-kelompok dalam tubuh umat Islam.

Wallahu a'lam bishawab.

[Ditulis oleh IAN SUHERLAN, Peneliti CIRUS dan Master Ilmu Politik Universitas Indonesia. Sumber tulisan http://www.cmm.or.id]
Setiap Muslim hendaknya menyadari betul, tujuan hidupnya di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. karena itulah tujuan penciptaan manusia.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariat : 56)

Setiap nabi dan utusan Allah senantiasa menyampaikan tema yang sama dalam dakwahnya, yakni ajakan menyembah Allah SWT.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)." (QS. Al-A'raaf : 59)

Secara bahasa, ibadah berarti "merendahkan diri serta tunduk" atau "pengabdian". Sedangkan menurut syara'(terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu, yakni melaksanakan perintahAllah SWT. yang terangkum dalam syariat Islam. Perilaku seorang Muslim seluruhnya ibadah selama sikapnya berpedoman kepada aturan Allah SWT.

Salah satu gelar manusia di dunia ini adalah 'abid, artinya hamba, yakni hamba Allah SWT. yang harus siap diperintah apa saja oleh-Nya. Dalam fiqh Islam, ibadah terbagi dua, yakni ibadah mahdhah, yakni shalat, zakat, puasa, dan haji, dan ibadah ghair mahdhah sering juga disebut mu'amalah, yakni ibadah yang tidak langsung berhubungan dengan Allah, namun tujuannya tetap sama; demi menjalankan perintah-Nya dan menggapai ridha-Nya, seperti menolong sesama, membangun masjid, dan sebagainya.

Menurut Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan dalam bukunya, Kitab Tauhid, ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja' (mengharap),mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalahibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Shalat, zakat, haji dan jihad adalah ibadah badaniyah (fisik dan hati). Masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan. Ibadah itulah yang menjadi tujuan penciptaan manusia

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (QS. Adz-Dzariyat : 56-58)

Menurut Syaikh Dr. Shalih, ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua macam ketaatan yang nampak pada lisan, anggota badan, dan yang lahir dari hati, seperti dzikir, tasbih, tahlil dan membaca Al-Qur'an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma'ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil.

Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, khasyyatullah (takut kepada Allah), inabah(kembali) kepada-Nya, ikhlas kepada-Nya, sabar terhadap hukum-Nya, ridha denganqadha'-Nya, tawakkal, mengharap nikmat-Nya, dan takut dari siksa-Nya.

Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan gurbah(mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu gurbah. Bahkan, adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah, jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepada-Nya, seperti tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah, dan sebagainya.

Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik (benar) dan sesuai dengan aturan Allah SWT., maka menjadi bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, ibadah itu tidak terbatas hanya pada syi'ar-syi'ar yang biasa dikenal.

Menurut Syaikh Dr. Shalih, ibadah itu perkara taugifiyah. Artinya, tidak ada suatu bentuk ibadahpun yang disyari'atkan, kecuali berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari'atkan berarti bid'ah mardudah (bid'ah yang ditolak).

"Barang-siapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami, maka ia ditolak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, amalnya ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya, sebab amal tersebut adalah maksiat, bukan ta'at.

Manhaj (metode) yang benar dalam pelaksanaan ibadah yang disyari'atkan adalah "sikap pertengahan". Antara meremehkan dan malas dengan sikap ekstrem serta melampaui batas.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas." (QS. Hud : 112)

Ayat itu garis petunjuk bagi langkah manhaj yang benar dalam pelaksanaan ibadah, yaitu dengan beristiqamah dalam melaksanakan ibadah pada "jalan tengah", tidak kurang atau lebih, sesuai dengan petunjuk syari'at. Allah SWT. menegaskan lagi dengan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas." (QS. Al-Maidah : 87)

Tughyan adalah melampaui batas dengan bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta mengada-ada. Ia lebih dikenal dengan ghuluw.

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui bahwa tiga orang dari sahabatnya melakukan ghuluw dalam ibadah, seorang dari mereka berkata, "Saya puasa terus dan tidak berbuka", dan yang kedua berkata, "Saya shalat terus dan tidak tidur", lalu yang ketiga berkata, "Saya tidak menikahi wanita". Maka beliau bersabda :

"Saya berpuasa dan berbuka, saya shalat dan tidur, dan saya menikahi perempuan. Maka barangsiapa tidak menyukai jejakku, maka dia bukan golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Dr. Shalih menyebutkan ada dua golongan yang saling bertentangan dalam soal ibadah.

Golongan Pertama, yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakannya terbatas pada syi'ar-syi'ar tertentu dan sedikit, hanya diadakan di masjid-masjid.

Tidak ada ibadah di rumah, di kantor, di toko, di bidang sosial, politik, juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya.

Padahal, ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan muslim, baik di masjid maupun di luar masjid.

Golongan Kedua, bersikap berlebih-lebihan sampai pada batas ekstrem; yang sunnah mereka angkat sampai menjadi wajib, sebagaimana yang mubah mereka angkat menjadi haram. Mereka menghukumi sesat dan salah orang yang menyalahi manhaj mereka, serta menyalahkan pemahaman-pemahaman lainnya.

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. dan seburuk-buruk perkara adalah yang bid'ah.

Wallahua'lam.*****

[Tulisan dari Buletin Dakwah & Informasi Pusdai Jabar "USWAH" No. 04/XIV/ 28 Januari 2011 M / 23 Shafar 1432 H]
Orang beriman, seorang mukmin atau Muslim, pastinya selalu merindukan Allah SWT. Rasa rindu itu mendorongnya untuk senantiasa dekat dan bertemu dengan-Nya. Rasa rindu itu muncul karena rasa cinta. Orang yang mencintai Allah (mahabbatullah) pasti-nya selalu pula merindukannya.

Cinta kepada Allah SWT. itu menjadi salah satu karakter utama seorang mukmin. QS. Al-Baqarah : 165 menegaskan :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Orang-orang yang beriman itu sangat besar cinta mereka kepada Allah."

Kecintaan kepada Allah itu menjadikan seorang mukmin senantiasa berusaha dekat dan menemui-Nya, dengan senantiasa menghadirkan Allah di hatinya (dzikir), mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat yang disukai dan yang dimurkai-Nya, serta senantiasa mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. dalam beribadah dan menjalani kehidupan.

Mengikuti Sunnah dan pola hidup Rasul merupakan bukti atau perwujudan cinta kepada Allah SWT.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran : 31)

Cinta kepada Allah SWT. harus di atas kecintaan terhadap yang lain. Cinta Allah menjadi yang utama. Dengan demikian, seorang mukmin akan merasakan manis atau lezatnya iman. Rasulullah SAW. menegaskan :

"Tiga hal yang barangsiapa mampu melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka."

Menurut Imam Al-Ghazali dalam "Ihya Ulumiddin", ada tiga hal yang mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya :
  • Pertama, cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma'rifat) dan pengetahuan (idrok). Manusia hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, benda mati tidak memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu keistimewaan makhluk hidup.
    Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahui dengan jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika sebaliknya, sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan, maka tentu ia akan dibenci oleh manusia.
  • Kedua, cinta terwujud sesuai dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan. Makin intensif pengenalan dan makin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu, maka makin besar peluang sesuatu itu untuk dicintai.
  • Ketiga, manusia tentu mencintai dirinya. Hal pertama yang dicintai oleh makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan eksistensi dirinya. Cinta kepada diri sendiri berarti kecenderungan jiwa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakan kelangsungan hidupnya.
Dalam tasawuf, konsep cinta (mahabbah) lebih dimaksudkan sebagai bentuk cinta kepada Allah SWT. Cinta itu lalu melahirkan bentuk kasih sayang kepada sesama dan seluruh alam.

Bagi Imam Al-Ghazali, orang yang mencintai selain Allah, tapi cintanya tidak disandarkan kepada Allah, maka hal itu karena kebodohan dan kepicikan orang tersebut dalam mengenal Allah.

Cinta kepada Rasulullah SAW., misalnya, adalah sesuatu yang terpuji karena cinta tersebut merupakan manifestasi cinta kepada Allah.

Hal itu karena Rasulullah adalah orang yang dicintai Allah. Dengan demikian, mencintai orang yang dicintai oleh Allah, berarti juga mencintai Allah itu sendiri. Begitu pula semua bentuk cinta yang ada. Semuanya berpulang kepada cinta terhadap Allah.

Cinta kepada Allah (mahabbah) merupakan tingkatan (maqam) puncak dari rangkaian tingkatan dalam tasawuf. Tak ada lagi tingkatan setelah mahabbah selain hanya sekadar efek samping, seperti rindu (syauq), mesra (uns), rela (ridla), dan sifat-sifat lain yang serupa.

Di samping itu, tidak ada satu tingkatan pun sebelum mahabbah selain hanya sekedar pendahuluan atau pengantar menuju ke arah mahabbah, seperti tobat, sabar, zuhud, dan lain-lain.

Uraian di atas juga menegaskan, jika kita bermalas-malasan dalam beribadah dan beramal saleh, langka dzikir dan mengkaji kitabullah, maka itu tanda ketiadaan cinta kepada Allah SWT. karena kita tidak merindukan-Nya.

Jika demikian, maka tingkat keimanan kita patut dipertanyakan, bahkan benarkan kita beriman kepada Allah SWT. ? Benarkan kita seorang mukmin ?

Jika ya, mengapa kita tidak mencintai dan merindukan Allah, serta gemar beribadah dan beramal saleh, agar selalu dekat dan bertemu dengan-Nya ?

Wallahu a'lam bish-shawab.***

[Tulisan dari Buletin Dakwah & Informasi Pusdai Jabar "USWAH" No. 06/XIV/ 11 Februari 2011 M / 08 Rabiul Awal 1432 H]
Ada tiga perkara yang apabila ketiganya terdapat pada diri seseorang, ia tentu mendapatkan manisnya iman; Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia sebagaimana ia tidak suka dilempar ke dalam api." (HR. Muslim)

MANISNYA IMAN
Hadits ini merupakan kaidah agung dalam Islam. Manisnya iman yakni perasaan nikmatnya hidup, indahnya hidup yang timbul karena sebab keyakinannya dan ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Dan dia rela menanggung derita ujian dan cobaan sesaat karena sebab keimanannya, karena iman pasti diuji. dan ia tetap ridho Allah sebagai Robb, Muhammad sebagai rasul, Al-Qur’an sebagai petunjuk, dengan apapun yang dihadapinya. Karena dengan imannya, semua berujung pada hasil kebahagiaan yang hakiki.

Yang akan mampu merasakan hal tersebut hanyalah mereka yang mengutamakan keimanannya daripada apapun. Ia utamakan cintanya kepada Allah dan rasul-Nya daripada cintanya kepada benda-benda. Ia lebih mengutamakan seruan Allah dan rasul-Nya dengan menunaikan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dari pada ajakan hawa nafsu.

Al-Qodhi‘iyadh berkata; yang mampu merasakan manisnya iman hanyalah mereka yang cinta dan taat secara tulus kepada Allah dan rasul-Nya. Dan hanya inilah yang menjadikan jiwanya tentram, dadanya lapang, kesulitan-kesulitannya menjadi mudah. Hanya orang yang seperti ini saja bisa merasakan lezatnya iman.

Sementara yang lain tidak. Lebih mencintai Allah dan rasul-Nya, lalu apa tanda seseorang itu dicintai Allah ? Sebab setiap sesuatu itu memiliki sifat dan tanda. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud; setiap sesuatu itu memiliki ciri-ciri dan tanda-tanda.

Dalam hal ini Syeikh Al-Hakami ditanya; apa tanda seorang hamba itu dicintai Allah ? Ia berkata; yaitu ia mencintai setiap apa yang Allah dan Rasulullah cintai, ia juga membenci apa saja yang Allah dan Rasulullah benci.

Cinta dan bencinya telah tunduk dibawah wahyu, jauh dari cinta karena hawa nafsu. Al-Qodhi‘iyadh berkata; tanda seseorang mencintai Allah yaitu hatinya mampu untuk selalu menerima seruan-seruan Allah, jiwanya dipenuhi ketaatan kepada-Nya. Ia mencintai sesuatu yang Allah cintai serta membenci apa yang Allah benci.

Sebagaimana firman Allah;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan dari manusia itu ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-sekutu yang mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman teramat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)

Al-Qodhi‘iyadh berkata; Cinta (mahabbah) adalah kecenderungan hati untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang disukai oleh yang dicinta. Kecenderungan itu sendiri terasa nikmat dan dianggap baik, misalnya yang lumrah diketahui; mencintai wajah rupawan, bacaan Qur’an yang merdu, rasa lezat makanan, kendaraan tunggangan yang kuat dan seterusnya.

Namun ada tingkatan cinta yang lebih tinggi yakni yang lebih mengedepankan sisi dalam (inner) seperti; rasa cinta kepada yang memiliki sifat adil, bijaksana, tanggung jawab, bisa diandalkan, lapang dada, empati, pema’af, akhlaq yang baik, dermawan, penyayang, pelindung dan sebagainya. Padahal semua sifat mulia ini telah ada pada asmaul husna Allah. Juga pada diri Rasulullah yang disebutkan Allah memiliki Akhlaqul karimah.

Oleh karena itu Rasulullah bersabda; “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga Aku (Rasulullah) lebih dicintainya melebihi orangtuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhary)

Sebab Rasulullah memiliki derajat kesempurnaan, menunjuki manusia ke jalan petunjuk, mengajari manusia untuk tunduk kepada Yang Maha Pecinta, menyucikan mereka dari perilaku buruk kepada ketinggian adab, menerangi manusia dengan cahaya bahwa siapa saja yang mentaatinya akan dimasukkan surga, sebaliknya siapa yang bandel dan ogah-ogahan beriman akan dicampakkan ke dalam neraka. (Akhir keterangan Qodhi‘iyadh)

Orang yang beriman akan merasakan manisnya iman apabila hanya Allah dan Rasulullah yang paling ia cintai. Dan mencintai Allah dan rasul-Nya mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan dan pengagungan. Mendahulukan firman dan sabdanya atas segala ucapan manusia. Siapapun dia.

Dengan demikian kelak di hari qiamat tidak akan diterima alasan-alasan mereka yang lebih mencintai materi bumi dari pada Allah dan Rasulullah. Yang lebih mencintai rumahnya, pabriknya, jabatannya, karirnya, sawah-ladangnya, kendaraannya. Juga ternaknya.

Memang setiap orang pasti mencintai dunia sebagai pembawaan insting. Namun tidak semua orang mau serta mampu mencintai Allah dan rasul-Nya. Sebagaimana Allah berfirman;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah bagi semua manusia cinta syahwat kepada wanita-wanita dan anak-anak dan harta perhiasan dari emas dan perak dan kuda kendaraan dan ternak-ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia. Dan di sisi Allah ada tempat yang lebih baik.” (QS Ali Imran : 14)

MENCINTAI SESEORANG KARENA ALLAH
Mencintai seseorang karena Allah adalah mencintai sesama muslim. Dan tidak pantas seorang muslim mencintai musuh Allah. Sehingga mencintai sesama muslim berarti menjalin hubungan baik bersama mereka dengan saling menghargai mereka, dengan menasehati, saling memberi, memuliakan dan tidak mendholimi, tidak menyakiti, tidak merusak kehormatannya, tidak mengusik ketentramannya, harta dan darahnya.

Jika seseorang telah jelas nampak mentaati Allah dan rasul-Nya, menjauhi dosa-dosa, tampak secara lahir selalu berusaha menyempurnakan diri menjadi hamba Allah yang baik, maka alasan apalagi untuk tidak mencintainya ?

Sebab kenyataannya masih ada sekelompok yang saling meng-hajr (menjauhi), saling memvonis, tidak saling memperbaiki, justru saling men-takfir, kasar, dan jauh dari adab dakwah yang hikmah.

Yang diberikan justru fitnah bukan maslahat. Kedholiman bukan keadilan. Perilaku yang jalang bukan akhlak mulia. Tidak pernah disampaikan dakwah dan nasehat.

BENCI KEPADA KEKUFURAN
Ia benci menjadi kafir di suatu saat, takut murtad setelah muslim, takut keimanannya berkurang menjadi minus. Lebih baik ia memilih dilempar ke dalam api dari pada menjadi yahudi, atau nasrani atau majusi. Atau ia lebih rela dibakar api daripada menjadi kafir.

Dengan demikian Nabi seakan-akan bersabda bahwa terbakarnya badan dengan bara api itu lebih ringan baginya daripada harus menanggung resiko kufur. Bahkan seandainya orang-orang kafir yang kaya raya di dunia ini diperlihatkan pedihnya siksa yang akan diterimanya kelak niscaya ia akan berusaha menebusnya dengan semua harta kekayaannya hingga sepenuh bumi.

Meski mereka secara lahiriyah tampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang bagus-bagus, makan yang enak-enak, bertempat tinggal dengan fasilitas yang mewah-mewah, namun sebenarnya hatinya selalu gelisah dengan sebab kesesatannya. Bagi mereka siksa yang pedih di akhirat.

Balasan yang akan dia rasakan di dunia adalah kalutnya fikiran, hati yang sakit, umur yang tersia-sia, amalan yang percuma, lelahnya badan, pahitnya hidup, sempitnya urusan, beratnya beban, dan kehidupan sehari-hari yang selalu diliputi dengan kegalauan dan kegamangan.

Semoga kita semua mampu meraih tiga kaidah utama kelezatan hidup ini. Sebab hal ini merupakan sebuah derajat yang tinggi bagi seorang muslim agar mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat.

Wallahua'lam.***

[Ditulis oleh Ustadz. ABU HASAN ALI HALABIY, guru di SMA Hidayatullah Bontang.]

Copyright © http://www.smahidayatullah.com/
Memang benar, jalan menuju surga tidaklah satu. Banyak jalan untuk bisa memasukinya. Salah satunya dengan beribadah kepada Allah SWT., seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Namun, tentu saja tidak cukup dengan menjalankan itu semua kemudian pintu surga terbuka bagi kita.

Untuk memperoleh tiket masuk surga tidak cukup dengan melaksanakan shalat yang rajin, puasa di bulan Ramadhan tidak batal selama sebulan, bayar zakat diperbesar, atau haji berkali-kali saja. Pintu surga tidak akan terbuka untuk kita jika baru rajin shalat, puasa, ataupun haji berkali-kali, selama mengabaikan sikap, perilaku, ucapan, serta tindakan kita kepada orang lain. Ibadah kepada Allah SWT. yang benar adalah ketika ibadah itu memberi pengaruh dalam menjaga hubungan antarsesama manusia sebab ibadah kepada Allah adalah landasan dalam menjaga aspek kehidupan manusia.

Dalam Islam tidak dikenal pemisahan antara amal dunia dan amal akhirat sebab amal dunia dengan sendirinya akan menjadi ibadah kalau dibarengi niat yang tulus dan tujuan yang mulia. Islam tidak mengenal penekanan aspek jasad atas aspek ruh atau sebaliknya. Ajaran Islam mengatur dan menata sedemikian rupa sehingga manusia menjadi makhluk yang terkendali keseimbangannya, sehingga mampu menjaga hubungan baik dengan Allah (hablum minnallah) dan dengan sesama manusia (hablum minnanas).

Ibadah shalat dan puasa yang bisa membuat pintu surga terbuka ketika ibadah itu berpengaruh dalam sikap dan tindakan kita ketika berhubungan dengan sesama manusia. Jika shalat, puasa, haji yang kita lakukan tetapi tak membuat kita meninggalkan sikap ketamakan, kerakusan, keserakahan, korup, keras hati, zalim, dan senang melukai hati orang lain, tentu saja bukan kesalahan pada shalat seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT., melainkan kita belum memahami dan merasakan hakikat shalat yang sesungguhnya.

Begitu pun puasa yang dilakukan selama sebulan penuh, benar menjadi penghapus dosa yang telah dilakukan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW., "Barang siapa melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka ia akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. al-Bukhari) adalah orang yang telah mampu berpuasa dari menyakiti, menzalimi orang lain. Jika puasa yang kita kerjakan sedikit pun tidak mengubah jiwa yang kotor menjadi bersih, kekerasan hati menjadi kelembutan, bukan salah pada ibadah puasanya, melainkan pada diri kita yang belum memahami dan merasakan hakikat ibadah puasa yang sebenarnya. Kita selama ini baru bisa beribadah hanya dalam tataran lahiriah, belum pada kedalaman batiniah ibadah. Kita baru sebatas melaksanakan syariat, belum sampai pada makam hakikat.

Kita merasa jadi orang saleh dalam pandangan agama hanya gara-gara bisa melaksanakan shalat. Padahal sekadar melaksanakan gerakan shalat. seorang anak kecil pun mampu melakukannya. Ukuran kesalehan kita tidak diukur sebatas baru bisa shalat tetapi ukurannya adalah bagaimana kita berperilaku kepada orang lain. Telah diriwayatkan dalam hadits Rasulullah SAW. bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah kabarnya sering mengerjakan shalat wajib dan sunah, puasa wajib dan sunah, dan gemar bersedekah. Hanya saja, dia menyakiti tetangga melalui perkataannya."

Rasulullah SAW. menjawab, "Wanita itu berada di neraka." Kemudian laki-laki itu berkata lagi, "Wahai Rasulullah, si Fulanah kabarnya sebatas melaksanakan shalat wajib, jarang shalat sunah, puasa cukup yang wajib saja, dan dia bersedekah hanya dengan sepotong keju dan tidak menyakiti tetangganya." Rasulullah SAW. bersabda, "Wanita itu berada di dalam surga." (HR. Ahmad)

Dalam hadis lain, Rasullah SAW. pernah mengajukan pertanyaan kepada para sahabatnya, "Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu ?" Para sahabat berkata, "Orang yang bangkrut itu adalah orang di antara kami yang tidak memiliki sekeping dirham dan juga tidak memiliki harta walau sedikit." Rasulullah SAW. bersabda, "Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa ganjaran ibadah shalat, puasa, zakat. Namun ternyata dia juga datang membawa dosa karena mencaci orang ini, memfitnah orang itu, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang itu, dan juga memukul orang itu. Akhirnya kebaikan-kebaikannya diberikan kepada orang yang ini dan orang yang itu. Jika amal kebajikannya sudah ludes sebelum dia bisa membayar kesalahan yang telah dilakukannya, maka kesalahan dan dosa-dosa orang-orang yang disakitinya, dizaliminya, ditipunya, dihinanya, difitnahnya, akan diambil dan ditimpakan kepadanya. Setelah itu, dia dilemparkan ke dalam neraka." (HR.Muslim)

Kekerasan hati, kezaliman, kebohongan, dan kecurangan tidak akan sirna dari jiwa kita sebab shalat yang kita lakukan hanyalah shalat yang didasari kepameran bukan keikhlasan. Shalat kita lebih banyak dilakukan bukan bertujuan untuk memperoleh cinta-Nya melainkan cinta makhluk-Nya. Shalat yang selama ini kita lakukan bukan bertujuan untuk dekat dengan-Nya melainkan agar terkabul menjadi pejabat ataupun naik pangkat.

Ritus ibadah yang kita lakukan saat ini sesungguhnya hanyalah ibadah tanpa makna, seperti tanpa ada maknanya kehadiran diri kita untuk orang lain.

Kehadiran diri kita tidak menggenapkan, bahkan mengganjilkan. Adanya kita tidak bermanfaat untuk orang lain, bahkan membingungkan. Jika ini yang terjadi pada diri kita, masihkah kita merasa diri orang yang pantas memeroleh tiket masuk surga. Wallahualam.***

[Ditulis Oleh IDAT MUSTARI, pengurus Biro Agama Partai Golkar Jawa Barat, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 11 Februari 2011 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Kedekatan Nabi Muhammad SAW. dengan para sahabatnya, sudah tidak disangsikan lagi. Bahkan, para sahabat memanggil Nabi Muhammad dengan ungkapan khalili yang berarti kekasihku, sama seperti sebutan Nabi Ibrahim, Khalilullah, sebagai kekasih Allah.

Nabi pun senantiasa memberikan wasiat-wasiat khusus kepada para sahabatnya, selain tausyiah kepada seluruh sahabatnya. Wasiat yang disampaikan Nabi itu merupakan tanda kecintaan Nabi kepada para sahabat. Salah seorang sahabat yang mendapat wasiat dari Nabi adalah Muadz bin Jabal.

Disebutkan dalam salah satu hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai; Rasulullah bersabda, "Aku berwasiat kepada mu wahai Muadz. Janganlah engkau meninggalkan doa, setelah shalat dengan doa, Ya Allah berilah pertolongan kepadaku untuk senantiasa mengingat-Mu (zikir), dan mensyukuri-Mu (syukur), serta beribadah dengan baik kepada-Mu (husni ibadatika)."

Doa di atas dimulai dengan ungkapan, "Ya Allah berilah pertolongan kepadaku." Ini menunjukkan tentang kelemahan dan keterbatasan manusia dalam segala hal. Pertolongan yang dimaksud adalah untuk melakukan tiga hal pokok, sebagai berikut :

Pertama, zikir kepada Allah. Zikir kepada Allah berarti kita mengingat Allah. Kita meminta pertolongan untuk mengingat Allah, karena manusia adalah makhluk pelupa. Mengingat Allah bukan hanya zikir dengan lisan kemudian diiringi tangan memakai tasbih, menggelengkan kepala atau dilakukan secara khusus dengan berjemaah.

Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. al-Ahzab : 41-43)

Kita dianjurkan untuk mengingat Allah dalam segala kondisi, sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 191,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Imam Al-Maraghi berpendapat bahwa mengingat Allah berarti, ingatlah kepada Allah dengan hati kamu, lisan kamu, dan seluruh anggotamu dengan zikir yang banyak dalam setiap keadaan kamu dengan penuh kesungguhan.

Perintah zikir kepada Allah ditujukan kepada seluruh umat tanpa pandang bulu, baik rakyat atau pejabat, baik atasan atau bawahan, baik guru atau murid, baik pedagang atau pembeli, baik laki-laki atau perempuan, baik orang tua atau anak-anak.

Perintah zikir pun tidak hanya berlaku di mesjid atau ketika sedang pengajian saja. Akan tetapi, di setiap tempat manusia berada / hidup, baik itu di kantor, tempat pekerjaan, pusat perbelanjaan, pasar, sekolah, tempat rekreasi, pegunungan, lautan, jalan, dan lainnya.

Pada suatu ketika, Umar bin Khattab RA. selaku amirul mukminin pada waktu itu, sedang kehabisan bekal dalam perjalanan. Kemudian beliau bertemu dengan seorang pengembala yang masih kecil umurnya. Khalifah Umar mencoba membujuk si pengembala dengan meminta satu atau dua ekor kambing gembalaannya untuk dimakan. Namun, si pengembala menolak untuk memberikannya, sambil menjawab bahwa kambing gembalaannya bukan milik dia tetapi milik majikannya. Umar pun selanjutnya merayu bahwa akan membelinya dengan harga yang wajar. Kata Umar, "Ambillah uang ini untuk kamu, beritahukan saja kepada majikanmu bahwa kambing itu telah dimakan serigala."

Si pengembala lalu menjawab, "Jika saya lakukan seperti itu, fa aina Allahu ? Mau di kemanakan Allah ! Majikan saya bisa ditipu atau dikelabui, tetapi Allah tidak mungkin bisa ditipu atau dibodohi."

Sang pengembala menolak permintaan Umar bin Khattab. Padahal, pangkat beliau adalah amirul mukminin atau presiden. Kesempatan untuk mendapatkan uang lebih pun dia lewatkan, sedangkan honor seorang pengembala tidaklah besar. Hanya modal dzikrullah, dia terselamatkan dari api neraka. Untuk itu, Nabi Muhammad SAW. bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram." (HR. Ahmad)

Pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, para gubernur di wilayah Islam datang menghadap Khalifah untuk menyerahkan sisa anggaran negara, yang tidak terpakai di wilayahnya masing-masing. Namun, hal itu ditolak oleh Khalifah. Beliau menyuruh para gubernur untuk membawa kembali uang tersebut dan membagikannya kepada rakyat yang membutuhkan sebagai modal usaha.

Pada tahun berikutnya, para gubernur datang kembali menghadap Khalifah. Ternyata masih ada sisa anggaran negara yang tidak terpakai untuk diserahkan ke kas negara. Umar bin Abdul Aziz bertanya, "Apakah uang tersebut sudah dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan modal usaha ? Para gubernur menjawab, "Kami sudah membagikannya, tetapi masih ada sisa." Umar bin Abdul Aziz menyuruh para gubernur untuk kembali membawa uang tersebut. Silakan bagikan uang sisa tersebut kepada para pemuda yang belum menikah di wilayah masing-masing. Nikahkanlah mereka memakai uang tersebut.

Tahun berikutnya para gubernur kembali mendatangi sang khalifah. Wahai Khalifah, kami datang ke sini untuk mengembalikan sisa uang kas negara. "Apakah di wilayah kalian para pemuda sudah menikah," tanya Umar bin Abdul Aziz. "Semuanya sudah," jawab para gubernur. "Kalau begitu, bawa kembali sisa uang negara ke wilayah kalian, silakan bagikan kepada rakyat yang mempunyai utang piutang," kata Khalifah.

Tahun berikutnya lagi, para gubernur kembali datang menemui khalifah, dengan tujuan untuk mengembalikan sisa uang kas negara. Khalifah bertanya, "Apakah masih ada rakyat yang mempunyai utang piutang ?" Para gubernur menjawab tidak ada. Semua rakyat yang mempunyai utang, sudah diberikan uang. Akan tetapi, lagi-lagi Khalifah Umar menolak menerima uang tersebut untuk dimasukkan kepada kas negara.

Silakan bawa kembali sisa uang tersebut ke wilayah masing-masing. Kalau di daerah kalian, tidak ada lagi yang membutuhkan modal usaha, para pemuda sudah menikah, dan tidak ada rakyat yang mempunyai utang, maka uang tersebut untuk diberikan kepada orang kafir yang membutuhkan sebagai modal usaha. Demikian perintah sang Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan para gubernurnya patutlah ditiru. Mereka adalah pemimpin rakyat yang senantiasa mengayomi dan menjaga rakyatnya, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagi mereka, menjadi pemimpin adalah amanah dan modalnya adalah dzikrullah (mengingat Allah). Dzikrullah sudah sepantasnya tidak sekadar menjadi lips service atau hanya manis di bibir. Akan tetapi, dzikrullah harus menjadi alarm bahwa Allah senantiasa ada bersama kita.***

[Ditulis Oleh KH. ACENG ZAKARIA, ketua Bidang Tarbiyyah PP. Persis dan pimpinan Pesantren Persis 99 Rancabango Garut. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 10 Februari 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]