Selama sebulan terakhir, wabah ulat merebak di mana-mana. Sekarang sudah sampai ke Sumedang, Garut, dan Kota Bandung. Belum ada penjelasan resmi dan ilmiah mengenai segala kemungkinan dari wabah ulat yang tiba-tiba merebak itu.

Para pakar lingkungan sudah mengemukakan pendapat-pendapat yang rasional. Masuk akal dan dapat dimengerti. Yaitu, faktor kerusakan alam yang menimbulkan keterputusan mata rantai kehidupan, menjadi salah satu penyebab utama populasi ulat menjadi tidak terkendali.

Binatang pemangsa ulat, terutama burung, sudah nyaris musnah. Jika pun masih ada, kemampuan mereka melahap ulat sudah melemah, karena berada di sangkar-sangkar peliharaan. Hanya menjadi alat kesukaan orang per orang. Tidak berperan dan berfungsi sebagai eksekutor dan penyelia binatang hama semacam ulat dan serangga lain. Sebagian besar mati terbunuh akibat perburuan dan dampak sampingan pestisida serta insektisida sebagai pembasmi hama tanaman.

Bahkan burung sendiri, dimusuhi karena dianggap hama tanaman, seperti serangga. Burung pipit, bondol, galatik, manyar, yang berjasa membunuhi ulat padi, dengan meminta imbalan satu dua tangkai padi, sudah lenyap dari persawahan. Apalagi pohon-pohon tempat mereka bersarang dan berkembang biak, seperti jayanti, dadap, cangkring, dan randu, telah habis pula ditebangi. Burung ekek yang membantu pembuahan jagung dan memakan ulat jagung, dengan mengambil imbalan dua tiga tongkol jagung, juga bernasib sama. Semua itu bersumber dan bermuara pada proses kerusakan di daratan dan di lautan akibat ulah manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS.Rum : 41)

Padahal jelas, setiap makhluk bernyawa mendapat rezeki masing-masing atas izin Allah dan kemurahan-Nya. Bahkan binatang melata (dzaabah), yang termasuk golongan binatang "mikroskopik" karena hanya dapat terlihat melalui bantuan kaca pembesar, rezekinya sudah diatur sedemikian rupa.

Al-Qur'an sebagai petunjuk jalan lurus bagi manusia, telah mengungkapkan kisah-kisah masa lampau yang kemungkinan terulang atau sangat relevan dengan masa sekarang. Semuanya merupakan bahan pemikiran, dan contoh bagi orang-orang yang mau berpikir.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS. Yusuf : 111)

Peristiwa wabah ulat yang menggejala ke seluruh wilayah di Pulau Jawa, sebenarnya amat kecil dibandingkan dengan bencana "tufan" (banjir, longsor, angin puting beliung, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain yang menimbulkan kematian), kutu (yang menimbulkan penyakit kulit) katak, dan darah (yang menggenangi semua aliran sungai, selokan, sumur, sehingga tak ada lagi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari), yang menimpa bangsa Mesir, zaman Firaun (sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi), sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an Surat Al A'raaf : 130-136.
وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُّفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُّجْرِمِينَ وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ ۖ لَئِن كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُم بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ
"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu". Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu". Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu."

Paparan ayat-ayat tersebut sebagai berikut.

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Firaun dan kaumnya) dengan mendatangkan kemarau dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

Apabila mereka mendapat kemakmuran, segera menepuk dada dan berkata, 'Inilah hasil jerih payah kami, sedangkan ketika ditimpa kesusahan, mereka menimpakan kesalahan kepada Nabi Musa AS. dan pengikutnya. Padahal kesialan mereka merupakan ketetapan dari Allah, yang kebanyakan di antara mereka tidak (mau) mengetahui, karena menganggap penjelasan Nabi Musa yang berlandaskan Tauhid (mengesakan Allah), sebagai sihir yang tak perlu diimani.

Maka kepada mereka Kami kirimkan tufan, belalang, kutu, katak, dan darah, sebagai bukti (kekuasaan Allah). Namun mereka tetap menyombongkan diri dan tetap bergelimang dosa. Setelah kondisi semakin sulit, mereka datang kepada Nabi Musa memohon, berdoa kepada Allah, agar melenyapkan azab itu, seraya berjanji, jika sudah bebas akan beriman kepada ajaran Tauhid Musa.

Akan tetapi, setelah semua bencana lenyap, mereka ingkar janji, sehingga Allah SWT. menghukum mereka dengan menenggelamkannya ke laut, akibat dusta dan keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah (yang diajarkan Nabi Musa AS.).

Menurut tafsir "The Holly Quran" karya Abdullah Yusuf Ali (1956), yang dimaksud "tufan" (QS. Al A'raaf : 133), adalah jenis-jenis bencana yang merenggut korban jiwa. Mungkin berupa banjir, longsor, kekeringan, gempa bumi, dan sebagainya. Sedangkan serangan hama belalang (jarada), menghancurkan daun-daun tanaman hingga merangas dan tidak berbuah. Sedangkan kutu (gumrhala) mengakibatkan penyakit gatal-gatal dan kudis pada permukaan kulit tubuh. Katak (dloffadi'an) memadati sungai, danau, saluran air, dan juga sumur-sumur. Apalagi air di tempat-tempat itu sudah berubah menjadi darah (addamu) menjijikkan. Dapat dibayangkan, warga Mesir kelabakan. Tak punya air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Baru semua lenyap, keadaan baik seperti semula, setelah Nabi Musa AS. berdoa kepada Allah SWT., untuk melenyapkan azab tersebut. Sayang, Firaun dan kaumnya ingkar janji sehingga harus menghadapi azab lebih hebat lagi berupa penenggelaman ke dasar lautan.

Saatnya kini, di tengah serangan wabah ulat, kita koreksi diri. Kalau-kalau kita sudah terjerumus kepada perilaku Firaun dan kaumnya, yaitu sombong, suka memuji diri jika berhasil, dan menyalahkan orang lain jika gagal, serta ingkar janji. Semua perilaku tersebut, bertentangan dengan asas tauhid, percaya kepada Allah Yang Maha Esa, Yang Maha menentukan dan Maha menguasai hidup dan kehidupan mahluk-Nya.

Membasmi wabah ulat dengan cara lahiriah (menyemprotkan obat anti serangga) perlu dilakukan. Namun membasmi dengan cara batiniah, memperbaiki keimanan (tauhid) dan bertaubat atas segala dosa, perlu juga dilakukan.***

[Ditulis oleh : H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 14 April 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]

by :
u-must-b-lucky
Kiamat merupakan sebuah misteri. Allah telah memonopoli pengetahuan mengenainya dan tidak memberitahukannya kepada seorang pun. Sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Luqman : 34)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, ‘Bilakah terjadinya ?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu keda-tangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu ddak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’" (QS. Al-A’raf : 187)

فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu, melainkan hari kiamat (yaitu) yang datang kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari Kiamat sudah datang ?" (QS. Muhammad : 18)

Dari ayat ini kita ketahui bahwa Al Qur’an telah menjelaskan tanda-tanda yang mengumumkan datangnya Hari Akhir. Agar dapat memahami tanda-tanda ‘pengumuman besar’ ini, kita harus merenungkan ayat ini. Sebaliknya, seperti yang ditunjukkan dalam ayat ini, pemikiran kita tidak akan berguna sama sekali ketika Hari Akhir tiba-tiba datang kepada kita.

HARI AKHIR ITU DEKAT
Allah berfirman dalam Al Qur’an bahwa tidak diragukan lagi bahwa Hari Akhir itu sudah dekat.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا
"Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya …" (QS. Al Hajj : 7)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik." (QS. Al Hijr : 85)

Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa pesan Al Qur’an tentang Hari Akhir difirmankan lebih dari 1400 tahun lalu, dan masa itu sudah lama, jika dibandingkan dengan panjang usia seorang manusia. Padahal, di sini tersirat persoalan akhir dunia ini, matahari dan bintang-bintang, singkatnya, alam semesta. Ketika kita menganggap bahwa alam semesta berusia miliaran tahun, maka empat belas abad adalah suatu jangka waktu yang sangat pendek.

TERBELAHNYA BULAN

Surat ke-54 di dalam Al Qur’an disebut ‘Surat Al Qamar’ Dalam bahasa Arab, qamar berarti bulan. Dalam beberapa hal, surat ini menjelaskan kehancuran yang menimpa kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, Luth dan Fir’aun, karena mereka menolak peringatan para nabi. Bersamaan dengan itu, ada sebuah pesan yang sangat khusus disampaikan di ayat pertama berkenaan dengan Hari Akhir.

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ
"Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan." (QS. Al Qamar : 1)

Kata ‘terbelah’ yang digunakan di ayat ini berasal dari kata dalam bahasa Arab, syaqqa, yang mempunyai berbagai makna. Dalam sejumlah tafsir atas ayat Al Qur’an ini, makna ‘terbelah’ lebih tepat. Tetapi kata syaqqa dalam bahasa Arab dapat juga berarti ‘membajak’ atau ‘mencangkul’ tanah.

Untuk contoh pertama, kita dapat merujuk pada Surat Abasa :

نَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا
ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا
فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا
وَعِنَبًا وَقَضْبًا
"Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran." (QS. ‘Abasa : 25-28)

Jelas terlihat bahwa makna syaqqa di sini bukanlah ‘membelah.’ Kata ini berarti membajak tanah untuk menumbuhkan berbagai tanaman.

Apabila kita kembali ke tahun 1969, kita dapat melihat salah satu keajaiban Al Qur’an. Berbagai eksperimen yang dilakukan di permukaan bulan pada 20 Juli 1969 mungkin mengisyaratkan terbuktinya berita yang disampaikan 1.400 tahun lalu dalam Surat Al Qamar. Pada tanggal itu, para astronot Amerika menjejakkan kakinya di bulan. Setelah menggali tanah di bulan, mereka melakukan berbagai percobaan ilmiah dan mengumpulkan contoh batu-batuan dan tanah. Tentu sangat menarik bahwa berbagai kejadian ini sesuai sepenuhnya dengan pernyataan dalam ayat ini.

TANDA-TANDA YANG DISAMPAIKAN OLEH NABI MUHAMMAD SAW. TERJADI SATU PERSATU
Di berbagai hadits yang sampai kepada kita dari Rasulullah SAW., disampaikan berita mengenai Hari Akhir dan Masa Keemasan Islam. Ketika kita membandingkan tanda-tanda ini dengan berbagai peristiwa yang terjadi di masa kita, kita dapat melihat berbagai petunjuk bahwa kita tengah hidup dalam Hari Akhir. Kita juga dapat melihat petunjuk yang mengabarkan datangnya Masa Keemasan Islam.

Berbagai hadits yang digunakan di bagian lain buku ini nanti akan berisi informasi yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. berkenaan dengan hal ini.

Di sini, mungkin akan muncul keraguan di benak pembaca dalam hal kebenaran dan kesahihan hadits-hadits mengenai Hari Akhir ini. Ada sebuah cara untuk membedakan hadits yang sahih dengan hadits yang palsu. Seperti kita ketahui, hadits mengenai Hari Kiamat berkaitan dengan berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Karena alasan itu, ketika sebuah hadits memang terbukti dengan berjalannya waktu, semua keraguan tentang sumber pernyataan itu menjadi sirna.

Sejumlah ilmuwan Islam yang melakukan penelitian tentang masalah Hari Akhir dan tanda-tanda Hari Kiamat telah menggunakan syarat ini. Seorang ahli tentang masalah ini, Bediuzzaman Said Nursi, berkata bahwa hadits tentang Hari Akhir yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang telah bisa diamati pada masa kita menunjukkan kebenaran hadits tersebut.

Sebagian tanda-tanda yang diberitakan dengan hadits ini dapat diamati di beberapa tempat di dunia dalam jangka waktu 1400 tahun sejarah Islam. Akan tetapi hal ini belum membuktikan bahwa jangka waktu itu adalah Hari Akhir. Untuk jangka waktu tertentu yang dapat disebut Hari Akhir, seluruh tanda-tanda Hari Akhir harus telah dapat dilihat kejadiannya pada jangka waktu yang sama. Hal ini dinyatakan dalam sebuah hadits :

"Tanda-tanda yang terjadi setelah tanda yang lain seperti butiran manik-manik sebuah kalung yang jatuh satu per satu ketika talinya putus." (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits-hadits ini, permulaan Hari Akhir digambarkan sebagai waktu ketika silang pendapat berkembang, serta perang dan konflik semakin meningkat, ketika ada kekacauan dan kehancuran moral mencuat dan manusia menjauh dari akhlak agama. Pada waktu tersebut, berbagai bencana alam akan terjadi di seluruh dunia, kemiskinan akan mencapai tingkat yang belum terlihat sebelumnya, ada peningkatan besar dalam angka kejahatan, pembunuhan dan kekejaman di berbagai tempat. Tetapi, hal ini hanyalah tahap pertama. Selama tahap kedua, Allah akan menyelamatkan manusia dari kekacauan ini dan menggantikannya dengan keadaan yang penuh berkah dan ridha-Nya dengan berlimpahnya materi, perdamaian, dan keamanan.

PEPERANGAN DAN KEKACAUAN
Rasulullah SAW. bersabda, “Al Harj (akan meningkat) Mereka bertanya, “Apakah Al Harj itu ?Beliau menjawab, “(Yaitu) pembunuhan (saling membunuh), (yaitu) saling membunuh (pembunuhan).” (HR. Bukhari)

Hari Kiamat (As Sa’ah) akan tiba ketika kekerasan, pertumpahan darah, dan kekacauan akan menjadi suatu yang lazim.” (HR. Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul Ummaal)

Dunia ini tidak akan menemui akhirnya, hingga suatu hari akan datang pada manusia, pada hari itu akan ada pembunuhan massal dan pertumpahan darah.” (HR. Muslim)

Apabila kita melihat empat belas abad lalu, kita melihat berbagai peperangan di wilayah tertentu sebelum abad kedua puluh. Akan tetapi, peperangan yang mempengaruhi setiap orang di dunia, sistem politik, seluruh perekonomian, dan struktur sosial, hanya terjadi pada masa kini saja, dalam dua perang dunia. Di Perang Dunia I, lebih dari 20 juta jiwa meninggal. Pada Perang Dunia II, jumlah yang mati lebih dari 50 juta jiwa. Di samping itu, Perang Dunia II diakui sebagai perang yang paling berdarah, paling besar, dan paling menghancurkan dalam sejarah.

Berbagai pertentangan yang terjadi setelah Perang Dunia II (Perang Dingin, Perang Korea, Perang Vietnam, konflik Arab-Israel dan Perang Teluk) adalah contoh di antara berbagai peristiwa yang paling gawat di zaman modern ini. Selain itu, berbagai perang, pertentangan, dan perang saudara di tingkat wilayah telah menyebabkan kehancuran di berbagai belahan dunia. Di berbagai tempat seperti Palestina, Chechnya, Afghanistan, Kashmir, Irak, dan banyak lagi lainnya, berbagai masalah terus merongrong kemanusiaan.

Contoh lain bentuk ‘kekacauan’ yang menghantui umat manusia yang setara dengan peperangan adalah teror terorganisir tingkat internasional. Seperti yang juga disepakati oleh pihak berwenang dalam masalah ini, berbagai tindakan teror telah berlipat ganda jumlahnya di paruh kedua abad kedua puluh. Bahkan dapat dikatakan bahwa teror adalah sebuah ciri khas abad kedua puluh. Berbagai organisasi yang bercirikan rasisme, komunisme, dan berbagai paham serupa, atau dengan tujuan kebangsaan, telah melakukan berbagai tindakan kejam dengan bantuan teknologi yang semakin maju. Di dalam sejarah dunia yang lebih terkini, berbagai tindakan teror berulang-ulang telah menyebabkan kekacauan. Banyak darah telah tertumpah dan orang-orang tak bersalah yang tak terhitung jumlahnya telah telah dibantai atau terbunuh.

KEHANCURAN KOTA-KOTA BESAR AKIBAT PEPERANGAN DAN BENCANA
Berbagai kota besar akan dihancurkan dan hal ini akan terjadi seolah-olah kota-kota itu tidak pernah ada sebelumnya.” (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-Zaman)

Kehancuran kota-kota yang dimaksudkan dalam hadits ini mengingatkan pada kehancuran yang sekarang muncul karena perang dan berbagai bencana alam. Belum lama ini, senjata nuklir, pesawat tempur, bom, rudal, dan senjata modern yang canggih lainnya telah menyebabkan kehancuran yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Berbagai senjata mengerikan ini telah menyebabkan tingkat kehancuran yang belum pernah terlihat sebelumnya. Jelas, kota-kota besar yang menjadi sasaran adalah yang paling menderita karena kehancuran ini. Kehancuran karena Perang Dunia II yang belum ada bandingannya adalah salah satu contohnya. Dengan penggunaan bom atom di perang terbesar di dunia itu, Hiroshima dan Nagasaki hancur total. Akibat pemboman hebat, berbagai ibu kota Eropa dan kota-kota penting lainnya menderita berbagai kerusakan.

Pada beberapa tahun terakhir, angin topan, badai, angin puyuh, dan berbagai bencana lainnya menimbulkan akibat merusak atas benua Amerika dan juga beberapa tempat lain di dunia. Selain itu, banjir telah menyebabkan timbunan lumpur yang menutupi berbagai pusat pemukiman penduduk. Kemudian, gempa bumi, letusan gunung, dan gelombang pasang air laut juga telah menyebabkan kehancuran yang besar. Oleh karena itu, seluruh kehancuran yang terjadi pada kota-kota besar karena bencana-bencana ini adalah suatu tanda penting dalam setiap peristiwanya.

GEMPA BUMI
As Sa’ah (Hari Akhir) tidak akan terjadi hingga … gempa bumi akan sangat sering terjadi.” (HR. Bukhari)

Ada dua hadits besar sebelum hari hisab … dan kemudian tahun-tahun penuh gempa bumi.” (Diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA.)

Dalam beberapa tahun terakhir, gempa bumi besar telah terjadi berulang-ulang, dan termasuk bencana yang menakutkan bagi masyarakat di seluruh dunia. Apabila kita melihat data yang dikumpulkan oleh American National Earthquake Information Center (Pusat Informasi Gempa Bumi Nasional Amerka, ANEI) selama tahun 1999, kita menemukan 20.832 gempa bumi telah terjadi di berbagai tempat di dunia. Akibatnya, 22.711 orang diperkirakan kehilangan jiwanya.

KEMISKINAN
Orang-orang miskin akan meningkat jumlahnya.” (Amal Al-Din Al-Qazwini, Mufid Al-’ulum Wa-mubid Al-humum)

Kekayaan beredar hanya di antara orang-orang kaya, tanpa manfaat bagi orang-orang miskin.” (HR. Tirmidzi)

Yang jelas masa yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. menjelaskan keadaan pada saat ini. Apabila kita menengok abad-abad sebelumnya, kita melihat bahwa berbagai kesulitan dan kecemasan yang disebabkan oleh kekeringan, peperangan, dan berbagai bencana lain bersifat sementara dan terbatas di sebuah wilayah tertentu. Akan tetapi, saat ini, kemiskinan dan kesulitan mencari penghidupan bersifat permanen den mewabah.

Di dunia saat ini, kemiskinan telah mencapai angka yang sangat memprihatikankan. Laporan terakhir UNICEF mengungkapkan bahwa satu dari empat penduduk dunia hidup dalam ‘penderitaan dan kekurangan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sekitar 1,3 miliar manusia di dunia bertahan hidup dengan uang kurang dari $1 (sekitar Rp. 8.800) sehari. Tiga miliar manusia di dunia saat ini bertahan hidup dengan $2 (sekitar Rp. 17.600) sehari. Sekitar 1,3 miliar kekurangan air bersih. Sekitar 2,6 miliar tidak mampu mendapatkan sarana kesehatan yang memadai.

RUNTUHNYA NILAI-NILAI AKHLAK
Hari Kiamat (As Sa’ah) akan datang ketika perzinaan tersebar luas.” (Al-Haythami, Kitab al-Fitan)

Hari Akhir tidak akan datang hingga mereka (orang-orang jahat) melakukan perzinaan di jalan-jalan (jalan-jalan umum).” (Ibn Hibban and Bazzar)

Pria akan meniru perilaku wanita; dan wanita akan meniru perilaku pria.” (Allama Jalaluddin Suyuti, Durre-Mansoor)

Orang-orang akan menyenangi perbuatan homoseksual dan lesbianisme.” (Al-Muttaqi al-Hindi, Muntakhab Kanzul Ummaal)

Hubungan seksual tidak sah secara terbuka akan marak.” (HR. Bukhari)

Hari Akhir itu tidak akan datang hingga angka pembunuhan meningkat.” (HR. Bukhari)

Di masa kini, ada bahaya besar yang mengancam pola hidup masyarakat dunia. Dengan cara yang sama seperti virus membunuh tubuh manusia, bahaya ini mengakibatkan keruntuhan sosial yang sangat parah. Bahaya ini adalah keruntuhan nilai-nilai akhlak yang membantu mempertahankan masyarakat yang sehat. Homoseksualitas, pelacuran, hubungan seks pra-nikah dan di luar nikah, penyimpangan seksual, pornografi, pelecehan seksual, dan peningkatan angka penderita penyakit kelamin, adalah sejumlah petunjuk penting dari keruntuhan nilai-nilai akhlak.

HADITS TENTANG PENOLAKAN AGAMA YANG BENAR DAN NILAI-NILAI MORAL DALAM AL-QUR'AN
Menjelang datangnya Hari Akhir akan ada hari-hari ketika pengetahuan (agama) akan dicabut (lenyap) dan kejahiliyahan secara umum akan meluas….” (HR. Bukhari)

Akan ada suatu ujian kegelapan yang menakutkan yang akan menimpa setiap orang di suatu masyarakat, dan kemudian ketika orang menganggap ujian itu telah berakhir, ujian itu akan terjadi terus-menerus. Selama itu seorang manusia bisa jadi adalah seorang mukmin di pagi hari dan menjadi seorang kafir di sore hari.” (HR. Abu Daud)

Akan datang suatu waktu pada umat ketika orang akan membaca Al Qur’an, tetapi tidak akan lebih jauh dari tenggorokan (tidak masuk ke dalam hati mereka).” (HR. Bukhari)

Sebelum Hari Akhir akan ada kekisruhan seperti potongan malam yang gelap, ketika seorang manusia akan menjadi seorang beriman di pagi hari dan seorang kafir di sore hari, atau seorang beriman di sore hari dan kafir di pagi hari.” (HR. Abu Daud)

Suatu waktu akan datang, ketika seorang manusia tidak akan peduli bagaimana mereka mendapatkan sesuatu, halal atau haram.” (HR. Bukhari)

Akan muncul pada hari akhir seseorang yang akan memperoleh keuntungan dunia dengan menjual agama.” (HR. Tirmidzi)

Hari Akhir tidak akan datang hingga tersisa orang-orang yang tidak mengetahui kebajikan dan tidak pernah mencegah kejahatan.” (HR. Ahmad)

Hari Akhir tidak akan datang sebelum Allah mengambil agama-Nya dari manusia di bumi, tidak meninggalkan seorang pun di atas bumi ini selain orang-orang kafir yang tidak mengenal perbuatan yang benar atau menolak perbuatan yang salah.” (Diriwayatkan oleh Abdullah ibn ‘Amr bin ‘Ash)

MUNCULNYA NABI-NABI PALSU
Hari akhir tidak akan datang sebelum datangnya tiga puluh Dajjal, masing-masing mengaku dirinya sebagai seorang utusan Allah.” (HR. Abu Daud)

Para ahli telah mencatat meningkatnya jumlah orang yang mengaku dirinya juru selamat, yang mulai muncul pada tahun 1970-an, dan sejak itu peningkatan jumlahnya cukup berarti. Menurut para ahli ini, ada dua alasan dasar peningkatan ini. Yang pertama adalah jatuhnya komunisme, dan sebab lainnya adalah kesempatan yang dimungkinkan oleh teknologi internet.

Al Qur’an menjelaskan turunnya Isa AS. ke bumi

Allah tidak menghendaki orang-orang kafir membunuh ‘Isa AS., melainkan mengangkatnya ke sisi-Nya, dan mengumumkan kabar gembira kepada umat manusia bahwa nabi Isa akan turun ke bumi di Hari Akhir. Al Qur’an memberikan informasi mengenai turunnya ‘Isa AS. dalam sejumlah ayat. Salah satu ayat menyatakan bahwa orang-orang kafir yang merencanakan pembunuhan Isa AS. tidak berhasil;

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
"… dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa." (QS. An Nisaa’ : 157)

Ayat lain mengatakan bahwa ‘Isa AS. tidak meninggal, melainkan diangkat dari lingkungan manusia ke kehadirat Allah.

بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
"…tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. An Nisaa’ : 158)

Pada ayat ke-55 Surat Ali ‘Imran, kita telah mengetahui bahwa Allah akan menempatkan orang-orang yang mengikuti ‘Isa AS. di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kebangkitan. Ini sebuah fakta sejarah bahwa 2000 tahun lalu, murid-murid ‘Isa tidak mempunyai kekuasaan politik. Orang-orang Kristen yang hidup antara zaman tersebut dan masa sekarang telah meyakini sejumlah ajaran palsu, terutama doktrin Trinitas (mengakui tiga Tuhan dalam satu Tuhan). Oleh karena itu, terbukti bahwa mereka tidak bisa disebut sebagai pengikut Nabi ‘Isa AS., karena, seperti dikatakan di berbagai ayat di dalam Al Qur’an, mereka yang meyakini Trinitas telah tergelincir ke dalam kesesatan. Dalam hal ini, pada waktu sebelum Hari Akhir, para pengikut ‘Isa AS. akan mengalahkan orang-orang yang ingkar itu dan memenuhi janji ilahiyah yang termuat di dalam Surat Ali ‘Imran. Yang pasti, kelompok yang diberkati ini akan diketahui ketika ‘Isa AS. ketika turun kembali ke bumi.

ذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
"(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya"." (QS. Ali ‘Imran : 55)

Dari Huzaifah bin Asid Al-Ghifari RA. berkata, “Datang kepada kami Rasulullah SAW. dan kami pada waktu itu sedang berbincang-bincang. Lalu beliau bersabda, “Apa yang kamu perbincangkan ?” Kami menjawab, “Kami sedang berbincang tentang hari kiamat.Lalu Nabi SAW. bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga kamu melihat sebelumnya sepuluh macam tanda-tandanya.” Kemudian beliau menyebutkannya, “Asap, Dajjal, binatang, terbit matahari dari tempat tenggelamnya, turunnya Isa bin Maryam alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, tiga kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat dan yang ketiga di Semenanjung Arab yang akhir sekali adalah api yang keluar dari arah negeri Yaman yang akan menghalau manusia kepada Padang Mahsyar mereka.” (HR. Muslim)

Sepuluh tanda-tanda kiamat yang disebutkan Rasulullah SAW. dalam hadits ini adalah tanda-tanda kiamat besar, akan terjadi di saat hampir tibanya hari kiamat.
  1. Dukhan (asap) yang akan keluar dan mengakibatkan penyakit di kalangan orang-orang yang beriman dan akan mematikan orang kafir.
  2. Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan merenggut keimanan, sehingga banyak orang akan terpedaya dengan seruannya.
  3. Dabbah, binatang besar yang keluar dari Bukit Shafa di Mekah yang akan berbicara bahwa manusia tidak beriman lagi kepada Allah SWT.
  4. Matahari akan terbit dari tempat tenggelamnya. Maka pada saat itu Allah SWT. tidak lagi menerima iman orang kafir dan tidak menerima taubat daripada orang yang berdosa.
  5. Turunnya Nabi Isa alaihissalam ke permukaan bumi ini.
  6. Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat kerusakan dipermukaan bumi ini.
  7. Gempa bumi di Timur.
  8. Gempa bumi di Barat.
  9. Gempa bumi di Semenanjung Arab.
  10. Api besar yang akan menghalau manusia menuju ke Padang Mahsyar. Api itu akan bermula dari arah negeri Yaman.
Berdasarkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari beliau mengatakan: “Apa yang dapat dirajihkan (pendapat yang terpilih) dari himpunan hadits-hadits Rasulullah SAW. bahwa keluarnya Dajal adalah yang mendahului segala petanda-petanda besar yang mengakibatkan perubahan besar yang berlaku dipermukaan bumi ini. Keadaan itu akan disudahi dengan kematian Nabi Isa alaihissalam (setelah belian turun dari langit). Kemudian terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya adalah permulaan tanda-tanda qiamat yang besar yang akan merusakkan sistem alam cakrawala yang mana kejadian ini akan disudahi dengan terjadinya peristiwa kiamat yang dahsyat itu. Barangkali keluarnya binatang yang disebutkan itu adalah terjadi di hari yang matahari pada waktu itu terbit dari tempat tenggelamnya.

Semoga peringatan-peringatan yang disampaikan Allah SWT. dalam Al-Qur'an serta hadits Rasulullah SAW. dapat menjadi bahan pelajaran yang akan membuat kita lebih mawas diri, dapat memperbaiki diri. Hanya kepada Allah kita berlindung dan memohon pertolongan serta tempat kita kembali.

Wallahu a'lam.***

by :
u-must-b-lucky

[Disarikan dari berbagai sumber]
"Sebagus-bagus harta yang baik adalah harta seorang saleh. Dengan harta itu, dia menyambung silaturahmi dan melakukan amal kebaikan." (HR. Ahmad)

Setiap kebaikan, pasti ada nilai keutamaan yang akan diperoleh bagi orang yang memiliki dan melakukannya, termasuk orang yang zuhud. Secara harfiah, zuhud artinya menolak sesuatu karena sesuatu itu dianggap remeh. Secara syar'i, zuhud adalah mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluannya. Zuhud kepada dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta, serta tidak mau menikmati hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah SWT. daripada apa yang ada di tangan kita.

Zuhud adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah. Artinya, orang yang zuhud bukanlah orang yang tidak mempunyai harta, tetapi ia tidak terikat dan tidak terbelenggu oleh harta. Namun dia terikat hanya karena Allah.

Zuhud bisa dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh mereka yang dianggap sudah "memilih akhirat" alias sudah uzur saja. Namun ada hal yang harus menjadi perhatian.

Pertama, selalu berorientasi pada kebahagiaan di akhirat tanpa harus mengabaikan kebahagiaan di dunia. Seperti yang termaktub dalam Al-Quran Surah Al-Qashash ayat 77,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."

Kedua, selalu merasa dalam pengawasan Allah hingga membuatnya tidak mau menghalalkan segala cara. Jangankan dalam urusan mencari nafkah yang haram, segala yang turun dari langit, yang masuk ke bumi pun yakin semuanya diketahui oleh Allah SWT.

Ketiga, menyadari adanya pertanggungjawaban pada kehidupan di akhirat nanti, termasuk yang terkait dengan harta.

Zuhud pun dapat mencakup tiga hal.

Pertama, mengharapkan pahala dari musibah duniawi yang dialaminya. Rasulullah SAW. berdoa sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, "Ya Allah, berikanlah kami rasa takut kepada-Mu yang bisa menghalangi kami dari kemaksiatan kepada-Mu, ketaatan kepada-Mu yang bisa menyampaikan kecintaan kami kepada kecintaan-Mu, dan keyakinan yang bisa menjadikan kami menganggap remeh berbagai musibah duniawi."

Kedua, lebih menyakini apa yang di sisi Allah daripada apa yang berada di tangan. Hal ini jangankan manusia, binatang saja ada rezekinya dan setiap kita harus berusaha mengambilnya. Ketika rezeki ada di tangan Allah, kita berusaha mengambilnya dengan usaha yang halal dan sunguh-sungguh.

Ketiga, pujian dan cercaan tidak memengaruhinya dalam memegang teguh nilai-nilai kebenaran. Dalam pandangan orang bijak, dia tidak maju karena dipuji dan tidak mundur karena dicela. Ini mengakibatkan dicintai oleh Allah dan manusia dengan nilai-nilai kebenaran.

Pengaruh positif yang ditunjukkan oleh orang yang zuhud adalah antara lain, memiliki semangat yang tinggi dalam mencari harta. Dia menyadari bahwa harta termasuk perjuangan di jalan Allah. Selain itu, orang yang zuhud selalu mencari yang halal, karena dalam mencari harta dengan motif untuk kebaikan, tidak menghalalkan segala cara dengan 3H-nya (halal, haram, hantam).

Parameter lainnya, orang yang zuhud adalah mempunyai semangat spiritual atau semangat keagamaan yang tiiiggi. Jadi kalau ada multipel intelegensi, kecerdasan jama' atau kecerdasan yang multi. Salah satunya adalah kecerdasan spiritual, dan kecerdasan spiritual inilah yang akan memberikan warna kepada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Akan tetapi, kecerdasan yang satu ini akan mewarnai kecerdasan-kecerdasan lainnya yaitu kecerdasan spiritual.

Pribadi zuhud adalah takut kepada Allah. Kalau akan melakukan sesuatu, dia seolah-olah merasa diawasi oleh Allah. Oleh karena itu yang paling takut adalah dibenci oleh Allah SWT., yang paling takut adalah dimurkai oleh Allah SWT., bukan dimurkai oleh manusia. Kemudian dalam kehidupannya mempunyai perasaan dosa. Jadi orang yang zuhud, dia mempunyai perasaan bahwa hidupnya itu selalu berbuat dosa. Kalau kemudian dalam perasaannya itu selalu mempunyai dosa, dia tidak akan menambah dosa-dosa yang lainnya pada hari-hari berikutnya.

Pribadi zuhud, indikatornya adalah keikhlasan masyarakat. Jadi yang mempunyai kesalehan yang tinggi ialah suatu masyarakat apabila dia berbuat sesuatu mempunyai nilai ikhlas. Iman kuat, ilmu kuat tetapi dia tidak ikhlas, maka ia masuk dalam kategori orang sombong.

Pribadi zuhud, kalbunya terbuka untuk menerima kebenaran dan dia tidak merasa benar sendiri serta menang sendiri tetapi dia terbuka untuk menerima pendapat orang lain, sehingga di dalam dirinya mempunyai sifat; sikap menerima, sikap kompromi, sikap tasamuh (toleransi) terhadap temannya serta masyarakat lainnya.

Kemudian parameternya lainnya ialah tidak senang membeberkan aib orang lain di depan orang lain. Jadi dia tidak merasa senang kalau menjelekkan orang lain. Dia tidak merasa senang kalau menjatuhkan orang lain di hadapan orang lain.

Wallahu a'lam.

[Ditulis oleh DEDY SUTRISNO AHMAD SHOLEH, alumnus Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN SGD Bandung dan khatib Jumat di beberapa Masjid. Tulisan diaslin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 15 April 2011 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by:
u-must-b-lucky
Banyak orang mencari kebahagaiaan dan ketenangan jiwa di dunia gemerlapan sekarang ini. Namun sayangnya mereka banyak mencarinya terbatas pada dunia material. Memang dunia materi memiliki pengaruh dalam memberikan kebahagiaan, namun apakah ia adalah kebahagiaan yang sejati ? Bukankah banyak orang yang bergelimangan harta tapi kurang bahagia bahkan tidak merasakan kebahagiaan sejati. Kenapa banyak diantara mereka yang mencari kebahagiaan pada praktek pelarian dan penomena kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang ?

Betapa banyak orang yang secara sadar dan terpaksa menghinakan diri kepada orang-orang yang dianggap dapat memenuhi nafsu rakusnya terhadap harta. Sepanjang sejarah, banyak kisah tentang para penjilat dan kroni yang menghamba kepada kepentingan dan kekuasaan, walaupun harus mengorbankan kemuliaan dan harga dirinya. Lihatlah daiam Al-Qur'an kisah para pembesar kerajaan dan negeri yang sering disebut dengan istilah al-mala'. Mereka menjadi pioner dan eksekutor dari kebijakan zalim dan kediktatoran Fir'aun, Namrudz, dan lain-lain. Mereka menjual kehormatan dan nilai-nilai mulia kemanusiaannya untuk menolak dakwah rasul, bahkan memeranginya. Mereka menukar kemuliaan dengan kehinaan untuk menjadi stempel penguasa dan para pengguna kejahatan mereka.

Harga kehinaan harus dibayar dengan nilai-nilai yang sangat berharga dari kemanusiaan. Kenapa nilai-nilai kemuliaan itu tidak digunakan untuk menggapai kemuliaan dan membeli harganya ? Kenapa orang rela mengorbankan nyawanya untuk mendukung dan mengeksekusi kebijakan penguasa yang bertentangan dengan nuraninya dan nilai-nilai luhur kemanusiaannya ?

Harga Kebahagiaan Hati

Orang menjadikan dunia sebagai tujuannya tidak mungkin mendapatkan kebahagian dan ketenangan hati. Orang merasakan hal itu hanyalah orang yang menikmati ibadah dan memuliakan dirinya dengan kemuliaan yang dituntun oleh Allah. Islam mengajarkan bahwa yang menenangkan jiwa dan membahagiakan hati manusia adalah berdzikir kepada Allah, bertaqorrub kepada-Nya dan beribadah demi mendapatkan curahan rahmat-Nya. Saat itulah manusia akan menemukan hakekat kebahagiaan yang dicarinya dan orang yang merasakannya telah meraih kebahagiaan sejati.

Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman, Katakanlah : "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus : 57-58)

Seorang ulama terkemuka Ibnu al-Qoyyim mengatakan, "Dalam hati terdapat serpihan-serpihan yang tak mungkin dikumpulkan kecuali dengan bertaqorrub (mendekat) kepada Allah SWT. Juga ada kegersangan yang tak mungkin dihilangkan kecuali dengan kerinduan kepada Allah di saat sendirian, di dalamnya terdapat kesedihan yang tak mungkin dihilangkan kecuali dengan ma'rifatullah (mengenal Allah) dan berinteraksi dengan-Nya. Dalam hati juga ada kegalauan yang tak mungkin ditenangkan kecuali dengan mendekat kepada-Nya dan di dalamnya juga terdapat api kesengsaraan yang tidak bisa dipadamkan kecuali oleh rasa ridlo kepada Allah dengan segala ketentuan, perintah dan larangan-Nya serta dengan kesabaran menunggu waktu bertemu dengan-Nya." (Kitab Madarijus Salikin, Juz III hal. 172)

Dzikrullah adalah harga yang harus dibayar dan cara paling utama untuk menggapai ketenangan dan kebahagiaan. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatiah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'd : 28)

Ibnu al-Qoyyim menyatakan, "Dzikir termasuk amalan yang memiliki kenikmatan yang tidak mungkin ditandingi ibadah yang lainnya. Seandainya seorang hamba yang berdzikir tidak mendapatkan balasan lain kecuali kenikmatan yang dihasilkan dari dzikir itu di hatinya, maka hal itu sudah cukup baginya. Oleh sebab itu majlis dzikir sering disebut sebagai taman surga,"

Malik bin Dinar berkata, "Tidak ada suatu kenikmatan yang dirasakan seperti yang ditimbulkan oleh dzikrullah, tidak ada amaian yang lebih ringan bebannya namun lebih besar kenikmatannya dan lebih menyenangkan hati daripada dzikrullah." (Al Wabil As Shoyyib hal. 78)

Sebaliknya orang yang mengabaikan dzikir kepada Allah sama dengan mencari kesengsaraan, kesempitan hidup dan kegelisahan. Dalam ayat lain Allah menegaskan,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thoha : 124)

Para ulama berpendapat bahwa dzikir atau mengingat Allah ada dua macam :
  1. Pertama, dzikirnya seorang hamba untuk mengingat Rabbnya, hal ini akan menenangkan hati dan jiwanya. Bila hati tidak tenang dan jiwa tidak tenteram, maka tidak ada yang bisa menenangkannya kecuali dzikrullah.
  2. Kedua, dzikr dalam ayat tersebut di atas adalah Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Menurut pendapat kedua ini, maka berinteraksi dengan Al-Qur'an secara maksimal adalah harga dan cara yang harus dilakukan untuk menghilangkan kegalauan, kesedihan dan kesempitan hidup.
Dalam penjelasan lebih lanjut, Al-Qur'an mengajak untuk menikmati kehidupan dengan memiliki sifat yang tinggi dalam spritualitas dan menjelaskan beberapa kebiasaan baik yang mengantarkan manusia kepada kemuliaan dan kebahagiaan sebagaimana Firman Allah SWT.,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur) sedang mereka berdoa pada Tuhannya dengan rasa takut dan harap dan menginfakkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. As Sajdah : 16)

Pada akhir malam dan waktu sahur adalah waktu dimana Allah turun ke langit pertama, dan Dia memuji setiap hamba yang beribadah dan beristighfar di waktu itu. Dia menjamin pengabulan setiap doa dan permohonan ampun.

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"dan di akhir-akhir malam mereka meminta ampun kepada Allah." (QS. Adz Dzaariyat : 18)

Hati yang selalu ingat kepada Allah, tersentuh dan bergetar karenanya, iman yang terus bertambah dan penyerahan diri disertai keridhaan terhadap segala takdir Allah setelah usaha maksimal dilakukan merupakan sifat-sifat lain yang melengkapi kebiasaan baik dalam pribadi mukmin.

Firman Allah SWT.,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Bila disebut nama Allah hati mereka menjadi bergetar dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. Al-Anfaal : 2)

Setidaknya mereka memiliki sifat-sifat yang digambarkan Allah berikut ini,

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
"Orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, orang-orang yang melawat (mencari ilmu pengetahuan atau berjihad) yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Maka berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. At Taubah : 112)

Setiap mukmin yang merasakan kenikmatan bertaqarrub kepada Allah pasti tidak merasa cukup hanya dengan ibadah-ibadah wajib saja, namun menginginkan ibadah-ibadah tambahan seperti sholat sunnah atau nawafil. Mereka mendapatkan kekuatan cinta kepada Allah dan gemar beribadah sehingga sanggup menghadap Allah lebih lama dalam sholat malam dan berdzikir ketika semua orang sedang tidur untuk menjauhkan diri dari riya' dan kemunafikan.

Al-Banna berkata, "Iman yang jujur, ibadah yang benar dan bermujahadah menimbulkan cahaya dan kelezatan yang dipancarkan Allah dalam hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya."

Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Di dunia ini ada surga, barangsiapa yang belum memasukinya maka tidak akan masuk surga di akhiratnya."

Diantara orang bijak dan mengenal Allah dengan baik mengatakan, "Kalau para raja dan anak-anak raja mengetahui kenikmatan yang kami rasakan pastiiah akan merebutnya dengan pedang-pedang mereka." (Madarijus Saalikin, Juz I hal. 488)

Wallahu a'lam.***

[Ditulis oleh : ABU AZKA, Lc. Tulisan disalin dari Buletin "TAFAKKUR" Edisi 14 Th. XI / Jumadil Awal 1432 H. / April 2011]

by :
u-must-b-lucky

Ada sebuah pertanyaan penting yang cukup mendasar bagi setiap kaum muslimin yang telah mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Setiap muslim selayaknya bisa memberikan jawaban dengan jelas dan tegas atas pertanyaan ini, karena bahkan seorang budak wanita yang bukan berasal dari kalangan orang terpelajar pun bisa menjawabnya. Bahkan pertanyaan ini dijadikan oleh Rasulullah SAW. sebagai tolak ukur keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut adalah “Dimana Allah ?

Jika selama ini kita mengaku muslim, jika selama ini kita yakin bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, jika selama ini kita merasa sudah beribadah kepada Allah, maka sungguh mengherankan bukan jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dimanakah Dzat yang kita sembah dan kita ibadahi selama ini. Atau dengan kata lain, ternyata kita belum mengenal Allah dengan baik, belum benar-benar mencintai Allah dan jika demikian bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Sebagaimana perkataan seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : “Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala.” (Muqoddimah Qowa’idul Mutsla)

Sebagian orang juga mengalami kebingungan atas pertanyaan ini. Ketika ditanya “dimanakah Allah ?” ada yang menjawab ‘Allah ada dimana-mana’, ada juga yang menjawab ‘Allah ada di hati kita semua’, ada juga yang menjawab dengan marah sambil berkata ‘Jangan tanya Allah dimana, karena Allah tidak berada dimana-mana.’ Semua ini, tidak ragu lagi, disebabkan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap ilmu agama, terhadap ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah yang telah jelas secara gamblang menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini, bak mentari di siang hari.

Allah bersemayam di atas Arsy

Dimanakah Allah ?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’i, beliau berkata : “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya.” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4)

Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais.

Keyakinan para imam tersebut tentunya bukan tanpa dalil, bahkan pernyataan bahwa Allah berada di langit didasari oleh dalil Al Qur’an, hadits, akal, fitrah dan ‘ijma.

1. Dalil Al Qur’an

Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy.” (QS. Thaha : 5)

Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman,
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang.” (QS. Al-Mulk : 16)

Juga pada ayat lain,

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij : 4)

Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.

2. Dalil hadits

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah ?”, maka ia menjawab : “Di atas langit”, beliau bertanya lagi : “Siapa aku ?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah.” Lalu beliau bersabda : “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya “Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’. ” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Dalil akal

Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi).” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)

4. Dalil fitrah

Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan ? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.

Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman,

يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura : 11)

Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara) –nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam ? Maka beliau menjawab : “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis.(Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits)

Allah bersama makhluk-Nya

Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
Allah bersamamu di mana pun kau berada.” (QS. Al Hadid : 4)

Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hamba-Nya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.

Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini : “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya.” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)

Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an,

فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ
di waktu dia berkata kepada temannya : Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. Taubah : 40)

Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini : “’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya.Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu.” (QS. Al Baqarah : 186)

Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini : “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya.” (Tafsir As Sa’di) Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

Kaum muslimin, akhirnya telah jelas bagi kita bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada dekat dan selalu bersama hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui isi-isi hati kita. Allah tahu segala sesuatu yang samar dan tersembunyi. Allah tahu niat-niat buruk dan keburukan maksiat yang terbesit di hati. Allah bersama kita, maka masih beranikah kita berbuat bermaksiat kepada Allah dan meninggakan segala perintah-Nya ?

Allah tahu hamba-hambanya yang butuh pertolongan dan pertolongan apa yang paling baik. Allah pun tahu jeritan hati kita yang yang faqir akan rahmat-Nya. Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan mengabulkan doa-doa mereka. Maka, masih ragukah kita untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah ? Padahal Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kemudian, masih ragukah kita bahwa Allah Ta’ala sangat dekat dan mengabulkan doa-doa kita tanpa butuh perantara ? Sehingga sebagian kita masih ada yang mencari perantara dari dukun, paranormal, para wali dan sesembahan lain selain Allah.

Wallahul musta’an.

[Ditulis oleh YULIAN PURNAMA. Sumber tulisan Buletin At Tauhid edisi IV/48. Disalin dari http://buletin.muslim.or.id/]

by:
u-must-b-lucky