Syekh Abdul Qaddir Al Jailani berkata, Dunia seluruhnya adalah hikmah, sedangkan amalan akhirat semuanya adalah kemampuan, ia dibangun di atas hikmah, maka jangan tinggalkan amal untuk negeri hukum (akhirat) dan jangan kau anggap sepele kekuasaan-Nya di negeri itu. Beramallah untuk negeri hukum dengan menggunakan hukum-Nya. Janganlah merasa berat atas ketentuan-Nya, dan janganlah menjadikan ketentuan itu sebagai alasan untuk memperingan diri karena ia justru membutuhkan-Nya.
Orang beriman tidak suka menggenggam dunia, tetapi mengambil dari bagiannya yang diberikan dan menetapkan hati bersama
Allah. Berhentilah di sana sampai cahaya dunia tersingkir, lalu memanggil hati untuk memasukinya, pertalian
sirri menghasilkan
sirri yang tertuju ke hati, dan hati menuju jiwa yang tenang dan organ organ tubuh yang tunduk. Sekarang ia tetap bersama
Allah seakan
mahkluq tidak diciptakan untuk bersandar kepadanya, seakan tiada
mahkluq lain untuk Tuhan selain ia sendiri bersama
Allah Dzat Maha Berbuat dan ia terkenai perbuatan-
Nya. Tetaplah yang dicari, sedang ia pencarinya, tetaplah sumbernya dan ia cabangnya, ia tidak melihat yang lain selain
Dia, ia terlipat dalam ciptaan,
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنشَرَهُ
kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. (QS. Abasa : 22)
Wahai
Tuhanku, sesungguhnya aku orang bisu maka berikan aku kemampuan agar aku dapat berbicara, berguna bagi manusia. Sempurnakan mereka dengan baik, melalui usahaku, jika tidak, kembalikan aku pada kebisuan semula.
Wahai manusia, sesungguhnya aku mengajakmu menuju kematian yang merah, yaitu menentang
nafsu hawa,
tabiat,
syetan, dan merdeka dari ikatan ciptaan. Tinggalkan semua itu selain
Al Haq. Ber
mujahadahlah dalam keberadaan ini, janganlah putus asa.
Allah SWT. berfirman ,
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
setiap masa Dia dalam berkehendak. (QS. Ar-Rahmaan : 29)
Di pengunjung zaman ini banyak terjadi perubahan yang meliputi pergeseran pribadi. Itulah zaman
fatrah (senggang), zaman kaum
munafik tumbuh menjamur bersama ke
munafikkannya. Wahai
munafik, rupanya kau penghamba dunia, hanya ciptaanlah yang kau lihat. Kau beramal untuk mereka, tetapi mengesampingkan pandangan kepada
Allah. Tampak kau beramal untuk
akhirat, padahal segala amalmu tertuju untuk dunia.
Sabda Nabi Muhammad SAW., "Apabila orang berhias diri dengan amal akhirat, sedangkan ia tidak menghendakinya dan tidak pula mencarinya, sungguh terlaknat oleh penduduk langit melalui nama dan nasabnya."
Sesungguhnya aku memahami, wahai
munafik, dari jalur
hukum dan
amal, hanya aku sengaja menutupmu dengan tabir
Allah. Celaka, apakah engkau tidak malu dengan organ tubuhmu yang tidak pernah bersih dari maksiat dan
najis lahiri. Kau mendewakan orang suci, batu, kesucian hati, namun bagaimana bentuk kebersihanmu, bagaimana
sirri mu, di hadapan manusia ? Engkau tidak pernah beradab, malah mengaku beradab di hadapan
Allah. Betapa rela para guru atas tingkahmu, sedang engkau tidak sudi menaruh kesopanan dihadapannya apalagi sampai menerima perintahnya. Engkau duduk di kantor dan kembali lagi. Tiada kata berarti hingga tauhidmu tegak dan tegar di hadapan
Allah.
Wahai
sahaya, menerima ketentuan
Allah itu lebih bagus daripada memperoleh dunia di sertai
na'ziah (pencabutannya). Kemanisannya lebih manis jika berada di hati orang benar. Barang siapa memperoleh
syahwat dan kelezatan ini, bagi mereka itu lebih manis daripada dunia seisinya, karena ia pembagus kehidupan.
Berbicaralah kepada manusia secara
ilmiah di sertai
amal,
ikhlas, dan jangan berbicara kepada mereka dengan ungkapan
ilmiah tanpa di sertai pembuktian amal, karena hal itu tidak membawa hasil bagimu juga bagi orang yang mendengar pembicaraanmu.
Nabi SAW. bersabda, "Kelembutan ilmu itu dengan cara pengamalan jika di terima, dan jika tidak ia beralih darinya."
Apabila engkau menjadi
ilmuwan yang suka berfitnah dengan ilmu yang engkau kantongi, niscaya batangnya tetap ada, sedang buahnya lenyap darimu.
Pintalah kepada
Allah agar melimpahkan rejeki. apabila
Dia berkenan melimpahkan rejeki, pintalah bagaimana cara penyembunyiannya kalaupun engkau tidak suka penampakan apa yang ada diantaramu dan
Dia, itu menjadi pertanda akan kehancuranmu.
Peliharalah diri dari rasa
ujub dalam segala gerak agar engkau tidak melampui batas dan tidak dibenci, menurut pandangan
Allah. Peliharalah dari kecintaan berbicara kepada manusia dan bergantung kepada mereka, karena yang demikian membawa
nadart bagimu. Jangan berbicara satu kalimatpun sampai urusanmu termuat dalam jalur hati, suatu urusan wajib dari
Allah. Apa perlunya kamu mengajak manusia pergi ke rumahmu kalaupun mereka tidak kamu suguhi.
Galilah hati nuranimu sampai memancarkan sinar
hikmah, kemudian bangunlah dengan
ikhlas,
mujahadah, dan amalan-amalan baik, sampai mercusuarmu menjulang tinggi, lalu serulah manusia menujunya.
Wahai
Allah, hidupkanlah kerangka amalku dengan pancaran
ikhlas. Bermanfaatkah kesendirianmu dengan ciptaan sedang di hatimu terdapat ciptaan itu ? Tidak sekali kali tidak, bahkan tak ada mulia bagimu atas kesendirianmu. Apabila engkau menyendiri, tetapi ciptaan tetap tegar dalam hati, berarti engkau berdiam sendiri tanpa berjinak bersama
Allah, bahkan yang menguntitmu adalah
nafsu,
syetan dan
hawa.
Jika di hatimu tetap berisi kejinakan bersama
Dia hancurlah dinding-dinding keangkuhan dan sorot pandang yang mengarah pada kebenaran, maka tinggalah engkau melihat keutamaan dan perbuatan-
Nya. Dari sini engkau mantap rela kepada-
Nya bukan yang lain.
Barang siapa yang setiap keberadaanya bersama ketentuan
syariat tanpa ada rasa
tamanni, apa yang lebih tinggi atau yang lebih rendah, atau kelenyapan dan ketetapannya, sungguh ia menghasilkan persyaratan rela, bersesuaian dan penghambaan.
Meskipun iman dan itikadmu baik, sesungguhnya
Dia tetap melihatmu, dekat denganmu, dan mengawasimu. Mengapa engkau tidak malu kepada-
Nya ? Sungguh aku berkata benar, aku tidak takut denganmu, aku tidak mengharapkamu. Bagiku engkau dan seluruh penduduk bumi hanya seperti kepinding dan semut, karena
madharat dan
manfaat datang dari
Allah, bukan dari engkau. Kekuasaan dan penguasa bagiku sama seperti yang aku contohkan, ingkari dirimu dan yang lain dengan ketentuan
syariat bukan dengan
hawa nafsu atau
tabiat.
Betapa tenang
syariat darinya maka ikutilah dalam ketenanganya. Ketika ia berbicara dengannya, ikutilah pembicaraanya. Camkanlah, dunia boleh engkau genggam, boleh engkau kantongi, boleh engkau simpan asalkan di sertai niat baik, tetapi jika sampai tertanam di hati, berhentilah jangan masuk dari pintu belakang sebab hal itu tidak membawa kemuliaan bagimu. Apabila seseorang lepas dari permasalahan ini atau ciptaan lain, seakan dirinya terhapus dari pandangan dunia itu, tatkala bencana datang, batinnya tetap tegar tidak bergetar, bahkan kalau ketentuan
Allah datang, ia segera melaksanakannya, ketika larangan yang datang, ia segera menahannya.
Janganlah ber
tamanni sesuatu atau loba atasnya, kehendak akan keberadaan yang sempat masuk di terima hati dapat mem
bakhilkan pandangan.
Dimana kalian, wahai pengkhianat
ilmu dan
amal, wahai musuh
Allah dan
rasul-Nya, wahai pemutus penghambaan kepada
Allah, sungguh kalian dalam kepekatan yang jelas
munafik. Sedemikiankah sifat
munafikmu, sampai kapan sandiwara ini akan berakhir ?
Wahai
ulama, wahai
zuhud, rupanya kalian senjata bagi pe
munafik dan para penguasa sampai kalian tak malu-malu lagi mengambil barang-barang mereka yang tak laku di dunia meliputi
syahwat dan kenikmatannya. Kalian dan sebagian penguasa di zaman ini adalah tipe-tipe manusia penganiaya, pengkhianat atas kekayaan
Allah yang diperuntukkan untuk hamba-
Nya.
....wahai Allah, belahkanlah pengaduan orang-orang munafik, rendahkanlah atau ampuni mereka dan hapuskan bumi ini dari mereka atau mereka Engkau perbaiki....amin.
[Sumber tulisan : http://denchiel78.blogspot.com/]
by
