Di awal kisah ada seorang pemuda ahli ibadah yang tengah kehabisan bekal dan kelaparan di kota Mekah. Tubuhnya limbung berjalan di sebuah gang di kota tersebut, tiba-tiba matanya tertuju kepada seuntai kalung emas yang nampak sangat mahal, di ambilnya kalung tersebut dan disimpannya dalam saku bajunya lalu ia pergi ke Masjidi Haram.

Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan seuntai kalung emas, dan ciri-ciri kalung tersebut sama persis dengan kalung yang ditemukan pemuda tadi. Pemuda itu berkata, "Aku yang menemukan kalung anda dan ini aku kembalikan." Kalungpun di berikan kepada laki-laki yang merasa memiliki tadi kemudian pemuda itu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun apalagi untuk berharap imbalan uang dirham. Diantara rasa laparnya si pemuda itu berdoa,"Ya Rabb, aku biarkan semua itu untuk Mu, maka gantikanlah untukku sesuatu yg lebih baik dari-Mu."

Sesaat kemudian pemuda tersebut pergi ke laut menumpang sebuah perahu barang, ditengah perjalanan tiba-tiba badai menerjang kapal yang ditumpanginya hingga kapal tersebut karam. Tak seorangpun penumpang yang selamat dari musibah tersebut kecuali dia. Pemuda tersebut terkatung-katung di atas air dengan memeluk sebatang pohon hingga akhirnya ia terdampar di sebuah pulau.

Dengan tertatih pemuda tersebut berjalan menuju daratan, kemudian didapatinya sebuah mesjid dimana di dalamnya terdapat orang-orang yang tengah melaksanakan shalat, maka Pemuda itupun ikut shalat. Usai shalat, ia menemukan lembaran-lembaran kertas yang ternyata Al-Qur'an terdapat di dalam masjid tersebut.

Saat pemuda tersebut membaca Al-Qur'an lalu salah seorang jemaah berkata, "Apakah anda bisa membaca Al-Qur'an ?" "Ya," jawab pemuda tersebut. "Bisakah kiranya tuan mengajarkan kepada anak-anak kami membaca, dan menulis ? Dan kami akan membayar anda." Pinta seorang dari mereka, dan langsung disetujui oleh pemuda tersebut.

Selanjutnya mulailah pemuda tersebut mengajarkan cara membaca dan menulis Al-Qur'an kepada anak-anak penduduk pulau tersebut dengan menerima bayaran guna menyambung hidup. Hari-hari pun dilewati si pemuda di pulau tersebut.

Suatu ketika orang-orang penduduk pulau itu bercerita kepada pemuda tersebut bahwa ditempat mereka ada seorang gadis yatim putri seorang yang terkenal sangat baik dan telah meninggal dunia. Kemudian kepada pemuda tersebut oleh orang-orang penduduk pulau itu ditanyakan kesediaannya untuk menikahi gadis yatim tersebut. Dan lantas disetujui oleh si pemuda.

Pemuda tersebut akhirnya menikah dengan gadis yatim itu. Saat malam pertamanya, mata pemuda ini terbelalak dengan kecantikan istrinya itu, tak hentinya mengucap syukur kepada Allah yang telah memberikan karunia sebesar itu kepada dirinya. Belum selesai rasa kagumnya itu, ia-pun dikejutkan lagi oleh seuntai kalung yang melingkar di leher istrinya persis sama dengan kalung yang pernah ditemukannya di Mekah dulu. Maka ia pun bertanya perihal kalung tersebut.

Kemudian diceritakan oleh istrinya. Dalam cerita ayahnya, bahwa ia pernah menghilangkan kalung tersebut di kota Mekah, saat itu kalung ini ditemukan seorang pemuda kemudian dikembalikan begitu saja tanpa pamrih. Karena kejadian tersebut ayahnya selalu berdoa kepada Allah agar anaknya kelak dikaruniai suami seperti pemuda yg mengembalikan kalung emas itu.

Dan di akhir cerita, si pemuda itu berkata, "Wahai istriku... sayalah laki-laki yang menemukan kalung itu." Kini kalung itu berada di sisi pemuda tersebut dengan status halal, karena dia telah meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah menggantikannya dengan yang lebih baik.

Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik pula.

Wallahu a’lam bishawwab ***

[Sumber tulisan : http://www.facebook.com/pages/BERANDA-KITA/153300751403292]

by
u-must-b-lucky

Tiada harapan yang lebih besar dari setiap doa yang kita panjatkan melainkan jika Allah SWT. mengabulkannya, Ketika Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, Dia mengakhiri perintah-Nya dengan sebuah janji akan mengabulkannya,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Ud'uunii astajib lakum

Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya.

Jaminan Allah untuk mengabulkan setiap doa hamba-hamba-Nya seakan-akan menggambarkan jawaban atas keinginan besar yang ada pada setiap hamba-Nya, yaitu agar segala harapan mereka dikabulkan.

Ibarat seseorang yang ingin meminta bantuan kepada orang lain, di mana ia harus memiliki adab dan etika agar permohonannya dikabulkan. Begitu juga Allah, agar setiap permohonan yang kita panjatkan kepada-Nya dikabulkan, ada adab dan etika yang harus dipenuhi, ada hak Allah yang harus kita laksanakan. Kata ud'uunii (berdoalah kalian kepada-Ku) menjadi syarat mutlak agar doa dikabulkan, yaitu menjadikan setiap doa hanya ditujukan kepada-Nya. Tidak berpaling dari-Nya atau menghadirkan zat-zat lain selain Zat-Nya.

Hal ini juga sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا
Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan. Mereka tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatan dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan. (QS. Al-Furqan : 3)

Imam al-Alusi dalam tafsirnya mengomentari bahwa ayat tersebut menegaskan ketidakberdayaan tuhan-tuhan yang mereka sembah dalam memberi manfaat dan madarat kepada diri mereka. Jangankan kepada diri mereka, kepada diri sendirinya pun tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudarat. Kalimat, "Mereka tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil), suatu kemanfaatan," menegaskan akan kelemahan dan ketidakberdayaan tuhan-tuhan yang mereka sembah.

Ada pelajaran berharga dari nasihat Rasulullah kepada Mu'adz bin Jabal, yaitu ketika beliau bertanya, "Wahai Mu'adz, apakah engkau mengetahui apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba-hamba atas Allah ?" Mu'adz berkata,"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah kembali berkata, "Sesungguhnya hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka tidak menyembah selain kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya, sedangkan hak seorang hamba atas-Nya adalah agar Dia tidak mengazab siapa di antara mereka yang tidak mempersekutukan-Nya."

Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengazab seorang hamba yang taat dan tidak mempersekutukan-Nya.

Ketika Allah tidak mengazab hamba-hamba-Nya, itu adalah bukti cinta-Nya kepada mereka. Ketika Allah sudah mencintai hamba-Nya. Dia akan mengabulkan segala harapannya.

Ikhlas menghambakan diri di hadapan-Nya dengan tidak menghadirkan sekutu-sekutu selain-Nya menjadi kunci utama kebahagiaan hidup. Dengan-Nya segala pengharapan akan dikabulkan oleh-Nya. Akan tetapi, upaya setan untuk menipu manusia sehingga benih-benih keikhlasan rapuh dari mereka amatlah kuat. Maka betul apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa syirik adalah ibarat semut hitam di atas batu hitam. Syirik dalam hal ini di antaranya adalah riya', yaitu berdoa dan beribadah demi ingin dilihat oleh orang lain. Rasulullah sudah mewanti-wanti bahwa hal yang paling ditakuti oleh beliau atas umatnya adalah syirik kecil, riya', karena ia akan menghancurkan segala amal saleh yang dilakukan, termasuk di dalamnya adalah doa.

Ada pelajaran berharga dari para salafusoleh bagaimana mereka menjaga hati mereka agar tidak terjangkit virus riya' tersebut. Di antaranya adalah sosok ulama besar yang dijuluki sebagai Imam Ahli Sunah, yaitu Ahmad bin Hanbal. Yahya bin Ma'in, sahabat dan murid beliau berkata, "Aku tidak melihat orang seperti Ahmad bin Hanbal. Aku menemaninya selama lima puluh tahun dan ia tidak menyebutkan sedikit pun kepada kami kebaikan yang ia lakukan."

Selama lima puluh tahun beliau mampu menyembunyikan amal saleh yang telah dilakukannya. Hal ini karena kehati-hatian beliau dari virus riya' yang mampu menghapus segala amal kebaikan. Keluasan ilmu Ahmad bin Hanbal dilengkapi dengan kesalehan pribadi berupa ibadah yang selalu terjaga.

Ibnul Qayyim pernah berkata, "Aku mengenal banyak para salaf. Lalu aku menyeleksi diantara mereka, mana orang yang paling memiliki perpaduan antara ketinggian ilmu hingga menjadi mujtahid, dengan mereka yang memiliki banyak amal hingga ia menjadi contoh bagi ahli ibadah. Hasilnya, aku tidak mendapatkan lebih banyak dari tiga orang. Mereka adalah Hasan al-Bashri, Sofyan ats-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal."

Mungkin sebagian besar kita sudah mengetahui bahwa menceritakan kebaikan kita kepada orang lain merupakan celah setan untuk menumbuhkan benih-benih virus riya' pada diri kita. Akan tetapi, ada celah lain di mana setan memiliki peluang untuk menumbuhkan virus tersebut pada hati kita, dan kita tidak menyadarinya. Hasan al-Bashri dengan ketajaman hatinya pernah berkata, "Siapa yang mencaci diri sendiri di hadapan orang lain sesungguhnya dia itu termasuk alamat riya'."

Selain riya' yang berkaitan dengan niat, yang termasuk syirik menurut Ibnu Abbas adalah syirik penghambaan, yaitu menghadirkan zat-zat lain selain Zat-Nya dalam beribadah. Ketika hati sudah menghadirkan zat-zat lain dalam penghambaan, itulah awal mula ditolaknya segala harapan. Segala daya upaya dan pengorbanannya hanyalah berbuah kesia-siaan.

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh SHOHIB KHOIRI, peneliti Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 13 Mei 2011 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
by
u-must-b-lucky
Dalam Kitab tafsir Fi Zhilalil-Qur'an disebutkan permintaan Nabi Muhammad SAW. kepada sahabatnya, Ibnu Mas'ud RA., untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Tentu permintaan itu membuat bingung Ibnu Mas'ud karena Rasulullah pasti lebih hafal dan lebih baik dalam membaca Al-Qur'an karena langsung dibimbing malaikat Jibril AS.

Rasulullah hanya menjawab, "Saya hanya ingin mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari orang lain."

Kemudian, Ibnu Mas'ud pun mulai membaca ayat-ayat Al-Qur'an sehingga tiba pada QS. An Nisaa : 41 yang kemudian diminta berhenti oleh Rasulullah.

Ibnu Mas'ud menyaksikan Rasulullah mengeluarkan air matanya. Ternyata ayat itu berbunyi,
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
Fakayfa idzaaji'naa min kulli ummatin bisyahiidin waji'naa bika 'alaa haaulaa-i syahiidaa

(Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti], apabila Kami mendatangkan seseorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umat-mu).

Nabi Muhammad sebagai nabi termulia berlinang air mata karena menerawang jauh ke depan terhadap nasib umatnya. Nabi merasa bertanggung jawab terhadap masa depan kaumnya dan tidak menginginkan umatnya menjadi umat yang lemah, baik lemah fisik, lemah sosial, lemah pendidikan, apalagi lemah keimanannya.

Al-Qur'an dengan tegas menyatakan pesannya agar kaum Muslimin tidak meninggalkan generasi mendatang yang lebih lemah. Yakni, QS. An Nisaa : 9,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka....

Kalau Nabi Muhammad saja sampai menangis tersedu-sedu karena khawatir terhadap umatnya, bagaimana dengan kita sebagai pemimpin ? Bisa pemimpin di keluarga, lingkungan rumah, lembaga pendidikan, apalagi pemimpin masyarakat dan daerah.
Mengenai air mata ini, Ibnu Qayyim membaginya dalam sepuluh jenis. Yakni, air mata tangisan kasih sayang, air mata karena takut dan khawatir, air mata cinta dan rindu, air mata sebab gembira dan bahagia, dan air mata akibat beban hidup yang berat. Jenis air mata lainnya adalah air mata kesedihan, air mata akibat kelemahan dan tidak mampu mengerjakan sesuatu, air mata kemunafikan, air mata kepalsuan, dan air mata solidaritas.

Kalau kita perhatikan dari sepuluh jenis air mata itu ternyata terbagi dalam dua bagian, yaitu air mata tangisan karena keluar dari lubuk hati paling dalam dan air mata yang mengelabui (air mata buaya), dan akibat kemasukan benda seperti cabai.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Prof. Dr. H. Nazaruddin Umar, pernah mengungkapkan sebuah penelitian ilmuwan Jerman dan Amerika Serikat mengenai air mata. Hasil penelitian itu mengungkapkan, air mata yang keluar akibat kemasukan benda seperti terkena cabai atau saat mengiris bawang merah ternyata tidak mengandung zat-zat berbahaya. Sementara air mata yang keluar dari lubuk hati paling dalam ternyata mengandung toksin atau racun sehingga proses tersebut merupakan upaya mengeluarkan racun (detoksifikasi), sehingga kalau tidak dikeluarkan akan berpengaruh buruk kepada lambung.

Keluarnya air mata jangan dimaknai sebagai pribadi yang cengeng. Malah bisa jadi air mata memantulkan kekuatan batin dan kedalaman akan penghayatan terhadap sebuah masalah di masyarakat. Bahkan, air mata yang keluar saat shalat tahajud maupun berdoa merupakan upaya ampuh mengusir setan dan menggapai ridha Allah.

Keluarnya air mata juga membuat lega pikiran, hati, maupun perasaan orang tersebut. Bahkan, di kalangan sufi terkenal dengan kondisi matanya yang sembap karena kerap menangis saat beribadah dan berdoa kepada Allah SWT.

Air mata yang keluar dari lubuk paling dalam merupakan kewajiban bagi seorang pemimpin umat, pejabat, pengusaha, kepala sekolah dan rektor, guru dan dosen, karena sebagai pencerminan rasa tanggung jawab akan amanah yang diembannya. Mereka merasa takut (khauf) apabila tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan kepadanya. Dampaknya akan keluar mata air yang bening dan jernih sehingga bisa membuat kemakmuran dan kesejahteraan di lingkungannya masing-masing.

Namun, jangan sampai pemimpin, pejabat, pengusaha, kepala sekolah / rektor, guru dan dosen mengeluarkan air mata buaya. Air mata jenis itu hanya menampakkan kemunafikan dan kepalsuan, malah sebatas upaya untuk menarik lalu memasang perangkap untuk memakan mangsanya. Air mata kepalsuan saat ini banyak dimainkan sebagian pejabat dengan alasan demi untuk membentuk citra baik bagi masyarakat.

Dari air mata tulus akan keluar mata air yang mengalirkan kesejahteraan, ketenangan, dan ketenteraman bagi masyarakat. Air mata para pemimpin yang merasa takut kepada Allah (khasyyatullah) akan membawa rahmat bagi masyarakat dan lingkungan. Karena pemimpin yang bertakwa akan menjalankan amanahnya seoptimal mungkin, sehingga tidak terjebak kepada sikap dan perilaku sebatas agar dipilih kembali oleh rakyatnya.

Semoga !***

[Ditulis oleh KH. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 12 Mei 2011 pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(9) IKHLAS

Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah befirman di dalam Al-Qur'an,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5)

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (QS. Az-Zumar : 2-3)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk : 2)

Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya di dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."

Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?"

Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak akan diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian dia membaca ayat,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya. (QS. Al-Kahfi : 110)

Allah juga telah befirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
Dan, siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan ? (QS. An-Nisa' : 125)

Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.

Allah juga befirman

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا
Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan : 23)

Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'd bin Abi Waqqash,

Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajat dan ketinggian karenanya.

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Tiga perkara, yang hati orang Mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya : Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim, karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karena kesatriaan, manakah di antaranya yang ada di jalan Allah ? Maka beliau menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah-lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah."

Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, "Fulan adalah qari', Fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.

Di dalam hadits qudsy yang shahih disebutkan,

Allah befirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukannya dan Aku terbebas darinya.'

Di dalam hadits lain disebutkan,

'Allah befirman pada hari kiamat, Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami.'

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.

Banyak definisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Ada yang berpendapat, ikhlasartinya menjaga amal dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri.
Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shadiq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali dengan shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.

Ada pula yang berpendapat, siapa yang mempersaksikan adanya ikhlas dalam ikhlas, berarti ikhlasnya membutuhkan ikhlas lagi. Kekurangan orang yang mukhlis dalam ikhlasnya, tergantung dari pandangan terhadap ikhlasnya. Jika dia tidak lagi melihat ikhlasnya, maka dialah orang yang benar-benar mukhlis. Ada pula yang berpendapat, ikhlas artinya menyelaraskan amal-amal hamba secara zhahir dan batin. Riya' ialah jika zhahirnya lebih baik daripada batinnya. Shidq dalam ikhlas ialah jika batinnya lebih semarak daripada zhahirnya.

Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena menusia adalah riya'. Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya."

Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat, sehingga dia menulisnya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."

Yusuf bin Al-Husain berkata, "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran."

Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.
  1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal dan tidak puas terhadap amal.
    Ada tiga macam penghalang dan perintang bagi orang yang beramal dalam amalnya :
    • Pertama, pandangan dan perhatiannya.
    • Kedua, keinginan akan imbalan dari amal itu.
    • Ketiga, puas dan senang kepadanya. Yang bisa membersihkan hamba dari pandangan terhadap amalnya ialah mempersaksikan karunia dan taufik Allah kepadanya, bahwa amal itu datang dari Allah dan bukan dari dirinya, kehendak Allah-lah yang membuat amalnya ada dan bukan kehendak dirinya, sebagaimana firman-Nya,

      وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
      Dan, kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam. (QS. At-Takkwir : 29)

    Di sini ada yang sangat bermanfaat baginya, yaitu kekuasaan Allah, bahwa dirinya hanyalah alat semata, perbuatannya hanyalah seperti gerakan pohon yang terkena hembusan angin, yang menggerakkannya selain dirinya, dia ibarat mayat yang tidak bisa berbuat apa-apa, yang andaikan segala sesuatu diserahkan kepadanya, maka tidak ada perbuatannya yang bermaslahat sama sekali, karena jiwanya bodoh dan zhalim, tabiatnya malas, yang dipentingkannya adalah syahwat. Kebaikan yang keluar dari jiwa itu hanya berasal dari Allah dan bukan yang berasal dari hamba, sebagaimana firman-Nya,

    وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ
    Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatanperbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An-Nur : 21)

    Semua kebaikan yang ada pada diri hamba semata karena karunia Allah, pemberian, kebaikan dan nikmat-Nya. Pandangan hamba terhadap amalnya yang hakiki ialah pandangannya terhadap sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan penciptaan, yang semua semata karena pemberian Allah, karunia dan rahmat-Nya. Jadi, yang bisa membersihkan hamba dari perintang ini adalah mengetahui Rabb-nya dan juga mengetahui dirinya sendiri.
    Sedangkan yang bisa membersihkan hamba dari tujuan mencari imbalan atas amalnya ialah menyadari bahwa dia hanyalah hamba semata. Seorang hamba (budak) tidak layak menuntut imbalan dan upah dari pengabdiannya terhadap tuannya. Sebab imbalan hanya layak diminta orang yang merdeka atau budak orang lain. Sedangkan yang membersihkan hamba dari kepuasan terhadap amalnya ada dua macam :
    • Memperhatikan aib, cela dan kekurangannya dalam amal, yang di dalamnya banyak terdapat bagian-bagian syetan dan nafsu. Jarang sekali ada amal melainkan syetan mempunyai bagian dalam amal itu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang seseorang yang menengok saat mendirikan shalat. Maka beliau menjawab, "Itu adalah rampasan yang diambil syetan dari shalat hamba."
      Jika ini berlaku untuk sekali tengokan yang hanya sesaat saja, lalu bagaimana dengan hati yang menengok kepada selain Allah ? Tentu saja bagian syetan lebih banyak lagi.
      Ibnu Mas'ud berkata, "Seseorang di antara kalian tidak memberikan bagian kepada syetan dari shalatnya, sehingga syetan itu melihat ada hak atas shalat tersebut, melainkan karena dia menengok ke arah kanannya."
    • Mengetahui hak Allah atas dirinya, yaitu hak ubudiyah beserta adab-adab zhahir dan batin serta memenuhi syarat-syaratnya, menyadari bahwa hamba itu terlalu lemah untuk dapat memenuhi hak-hak itu. Orang yang memiliki ma'rifat ialah yang tidak ridha sedikit pun terhadap amalnya dan merasa malu jika Allah menerima amalnya.
  2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha, berusaha sekuat tenaga membenahi amal dengan tetap menjaga kesaksian, memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah.
    Hamba yang merasa malu kepada Allah karena amalnya, karena dia merasa amal itu belum layak dilakukan karena Allah, tapi amal itu tetap diupayakan.
    Allah befirman,

    وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
    Dan, orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.
    (QS. Al-Mukminin : 60)

    Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
    bersabda menjelaskan maksud ayat ini,
    Dia adalah orang yang berpuasa, mendirikan shalat, mengeluarkan shadaqah, dan dia takut amal-amalnya ini tidak diterima.

    Sebagian ulama
    berkata, "Aku benar-benar mendirikan shalat dua rakaat, namun ketika mendirikannya aku tak ubahnya seorang pencuri atau pezina yang tidak dilihat orang, karena merasa malu kepada Allah."
    Orang Mukmin adalah orang yang memadukan kebajikan disertai ketakutan dan buruk sangka terhadap dirinya, sedangkan orang yang tertipu dan munafik adalah orang yang berbaik sangka terhadap dirinya dan juga berbuat jahat.
    Maksud memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah, bahwa dengan cahaya itu engkau bisa tahu bahwa amalmu semata karena karunia Allah dan bukan karena dirimu sendiri.
    Derajat ini mencakup lima perkara: Amal, berusaha dalam amal, rasa malu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberian dan karunia Allah.
  3. Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa.
    Perkataan, "Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal", ditafsiri dengan lanjutannya, yaitu membiarkan amal itu berlalu berdasarkan ilmu dan engkau tunduk kepada hukum kehendak Allah. Artinya, engkau menjadikan amalmu mengikuti ilmu, menyesuaikan diri dengannya, berhenti menurut pemberhentiannya, bergerak menurut gerakannya, melihat hukum agama dan membatasi dengan batasan-batasannya, memperhatikan pahala dan siksa di kemudian hari. Meskipun begitu engkau juga harus berlalu dengan memperhatikan hatimu, mempersaksikan hukum alam, yang di dalamnya terkandung hukum sebab akibat, yang tak sedikit pun lepas dari kehendak Allah. Sehingga seorang hamba bertindak berdasarkan dua perkara :
    • Pertama, perintah dan larangan, yang berkaitan dengan apa yang harus dikerjakannya dan apa yang harus ditinggalkannya.
    • Kedua, qadha' dan qadar, yang berkaitan dengan iman, kesaksian dan hakikat. Dengan begitu dia bisa melihat hakikat dan bertindak berdasarkan syariat.
    Dua perkara inilah ubudiyah seperti yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya,

    لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
    (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan, kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam. (QS. At-Takkwir : 28-29)

    Membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu merupakan kesaksian dari firman Allah, "Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus", sedangkan pelakunya yang tunduk kepada hukum kehendak Allah merupakan kesaksian terhadap firman-Nya, "Kamu sekalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah."
    Tentang perkataan, "Membebaskan amal dari sentuhan rupa", artinya membebaskan amal dan ubudiyah dari selain Allah. Karena apa pun selain Allah hanyalah rupa yang hanya tampak di luarnya saja.
[Berikutnya....(10) Tahdzib dan Tashfiyah]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

by
u-must-b-lucky


Syekh Abdul Qaddir Al Jailani berkata, Dunia seluruhnya adalah hikmah, sedangkan amalan akhirat semuanya adalah kemampuan, ia dibangun di atas hikmah, maka jangan tinggalkan amal untuk negeri hukum (akhirat) dan jangan kau anggap sepele kekuasaan-Nya di negeri itu. Beramallah untuk negeri hukum dengan menggunakan hukum-Nya. Janganlah merasa berat atas ketentuan-Nya, dan janganlah menjadikan ketentuan itu sebagai alasan untuk memperingan diri karena ia justru membutuhkan-Nya.

Orang beriman tidak suka menggenggam dunia, tetapi mengambil dari bagiannya yang diberikan dan menetapkan hati bersama Allah. Berhentilah di sana sampai cahaya dunia tersingkir, lalu memanggil hati untuk memasukinya, pertalian sirri menghasilkan sirri yang tertuju ke hati, dan hati menuju jiwa yang tenang dan organ organ tubuh yang tunduk. Sekarang ia tetap bersama Allah seakan mahkluq tidak diciptakan untuk bersandar kepadanya, seakan tiada mahkluq lain untuk Tuhan selain ia sendiri bersama Allah Dzat Maha Berbuat dan ia terkenai perbuatan-Nya. Tetaplah yang dicari, sedang ia pencarinya, tetaplah sumbernya dan ia cabangnya, ia tidak melihat yang lain selain Dia, ia terlipat dalam ciptaan,
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنشَرَهُ
kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. (QS. Abasa : 22)

Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku orang bisu maka berikan aku kemampuan agar aku dapat berbicara, berguna bagi manusia. Sempurnakan mereka dengan baik, melalui usahaku, jika tidak, kembalikan aku pada kebisuan semula.

Wahai manusia, sesungguhnya aku mengajakmu menuju kematian yang merah, yaitu menentang nafsu hawa, tabiat, syetan, dan merdeka dari ikatan ciptaan. Tinggalkan semua itu selain Al Haq. Bermujahadahlah dalam keberadaan ini, janganlah putus asa.

Allah SWT. berfirman ,
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
setiap masa Dia dalam berkehendak. (QS. Ar-Rahmaan : 29)

Di pengunjung zaman ini banyak terjadi perubahan yang meliputi pergeseran pribadi. Itulah zaman fatrah (senggang), zaman kaum munafik tumbuh menjamur bersama kemunafikkannya. Wahai munafik, rupanya kau penghamba dunia, hanya ciptaanlah yang kau lihat. Kau beramal untuk mereka, tetapi mengesampingkan pandangan kepada Allah. Tampak kau beramal untuk akhirat, padahal segala amalmu tertuju untuk dunia.

Sabda Nabi Muhammad SAW., "Apabila orang berhias diri dengan amal akhirat, sedangkan ia tidak menghendakinya dan tidak pula mencarinya, sungguh terlaknat oleh penduduk langit melalui nama dan nasabnya."

Sesungguhnya aku memahami, wahai munafik, dari jalur hukum dan amal, hanya aku sengaja menutupmu dengan tabir Allah. Celaka, apakah engkau tidak malu dengan organ tubuhmu yang tidak pernah bersih dari maksiat dan najis lahiri. Kau mendewakan orang suci, batu, kesucian hati, namun bagaimana bentuk kebersihanmu, bagaimana sirri mu, di hadapan manusia ? Engkau tidak pernah beradab, malah mengaku beradab di hadapan Allah. Betapa rela para guru atas tingkahmu, sedang engkau tidak sudi menaruh kesopanan dihadapannya apalagi sampai menerima perintahnya. Engkau duduk di kantor dan kembali lagi. Tiada kata berarti hingga tauhidmu tegak dan tegar di hadapan Allah.

Wahai sahaya, menerima ketentuan Allah itu lebih bagus daripada memperoleh dunia di sertai na'ziah (pencabutannya). Kemanisannya lebih manis jika berada di hati orang benar. Barang siapa memperoleh syahwat dan kelezatan ini, bagi mereka itu lebih manis daripada dunia seisinya, karena ia pembagus kehidupan.

Berbicaralah kepada manusia secara ilmiah di sertai amal, ikhlas, dan jangan berbicara kepada mereka dengan ungkapan ilmiah tanpa di sertai pembuktian amal, karena hal itu tidak membawa hasil bagimu juga bagi orang yang mendengar pembicaraanmu.

Nabi SAW. bersabda, "Kelembutan ilmu itu dengan cara pengamalan jika di terima, dan jika tidak ia beralih darinya."

Apabila engkau menjadi ilmuwan yang suka berfitnah dengan ilmu yang engkau kantongi, niscaya batangnya tetap ada, sedang buahnya lenyap darimu.

Pintalah kepada Allah agar melimpahkan rejeki. apabila Dia berkenan melimpahkan rejeki, pintalah bagaimana cara penyembunyiannya kalaupun engkau tidak suka penampakan apa yang ada diantaramu dan Dia, itu menjadi pertanda akan kehancuranmu.

Peliharalah diri dari rasa ujub dalam segala gerak agar engkau tidak melampui batas dan tidak dibenci, menurut pandangan Allah. Peliharalah dari kecintaan berbicara kepada manusia dan bergantung kepada mereka, karena yang demikian membawa nadart bagimu. Jangan berbicara satu kalimatpun sampai urusanmu termuat dalam jalur hati, suatu urusan wajib dari Allah. Apa perlunya kamu mengajak manusia pergi ke rumahmu kalaupun mereka tidak kamu suguhi.

Galilah hati nuranimu sampai memancarkan sinar hikmah, kemudian bangunlah dengan ikhlas, mujahadah, dan amalan-amalan baik, sampai mercusuarmu menjulang tinggi, lalu serulah manusia menujunya.

Wahai Allah, hidupkanlah kerangka amalku dengan pancaran ikhlas. Bermanfaatkah kesendirianmu dengan ciptaan sedang di hatimu terdapat ciptaan itu ? Tidak sekali kali tidak, bahkan tak ada mulia bagimu atas kesendirianmu. Apabila engkau menyendiri, tetapi ciptaan tetap tegar dalam hati, berarti engkau berdiam sendiri tanpa berjinak bersama Allah, bahkan yang menguntitmu adalah nafsu, syetan dan hawa.

Jika di hatimu tetap berisi kejinakan bersama Dia hancurlah dinding-dinding keangkuhan dan sorot pandang yang mengarah pada kebenaran, maka tinggalah engkau melihat keutamaan dan perbuatan-Nya. Dari sini engkau mantap rela kepada-Nya bukan yang lain.

Barang siapa yang setiap keberadaanya bersama ketentuan syariat tanpa ada rasa tamanni, apa yang lebih tinggi atau yang lebih rendah, atau kelenyapan dan ketetapannya, sungguh ia menghasilkan persyaratan rela, bersesuaian dan penghambaan.

Meskipun iman dan itikadmu baik, sesungguhnya Dia tetap melihatmu, dekat denganmu, dan mengawasimu. Mengapa engkau tidak malu kepada-Nya ? Sungguh aku berkata benar, aku tidak takut denganmu, aku tidak mengharapkamu. Bagiku engkau dan seluruh penduduk bumi hanya seperti kepinding dan semut, karena madharat dan manfaat datang dari Allah, bukan dari engkau. Kekuasaan dan penguasa bagiku sama seperti yang aku contohkan, ingkari dirimu dan yang lain dengan ketentuan syariat bukan dengan hawa nafsu atau tabiat.

Betapa tenang syariat darinya maka ikutilah dalam ketenanganya. Ketika ia berbicara dengannya, ikutilah pembicaraanya. Camkanlah, dunia boleh engkau genggam, boleh engkau kantongi, boleh engkau simpan asalkan di sertai niat baik, tetapi jika sampai tertanam di hati, berhentilah jangan masuk dari pintu belakang sebab hal itu tidak membawa kemuliaan bagimu. Apabila seseorang lepas dari permasalahan ini atau ciptaan lain, seakan dirinya terhapus dari pandangan dunia itu, tatkala bencana datang, batinnya tetap tegar tidak bergetar, bahkan kalau ketentuan Allah datang, ia segera melaksanakannya, ketika larangan yang datang, ia segera menahannya.

Janganlah bertamanni sesuatu atau loba atasnya, kehendak akan keberadaan yang sempat masuk di terima hati dapat membakhilkan pandangan.

Dimana kalian, wahai pengkhianat ilmu dan amal, wahai musuh Allah dan rasul-Nya, wahai pemutus penghambaan kepada Allah, sungguh kalian dalam kepekatan yang jelas munafik. Sedemikiankah sifat munafikmu, sampai kapan sandiwara ini akan berakhir ?

Wahai ulama, wahai zuhud, rupanya kalian senjata bagi pemunafik dan para penguasa sampai kalian tak malu-malu lagi mengambil barang-barang mereka yang tak laku di dunia meliputi syahwat dan kenikmatannya. Kalian dan sebagian penguasa di zaman ini adalah tipe-tipe manusia penganiaya, pengkhianat atas kekayaan Allah yang diperuntukkan untuk hamba-Nya.

....wahai Allah, belahkanlah pengaduan orang-orang munafik, rendahkanlah atau ampuni mereka dan hapuskan bumi ini dari mereka atau mereka Engkau perbaiki....amin.

[Sumber tulisan : http://denchiel78.blogspot.com/]

by
u-must-b-lucky

BUKU KEDUA
TEMPAT-TEMPAT PERSINGGAHAN
IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA
NASTA'IN

(8) MENGAGUNGKAN APA-APA YANG DIHORMATI DI SISI ALLAH

Allah befirman tentang tempat persinggahan ini,
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ ۗ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ۖ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan, barangsiapa mengagungkan apa-apa yang dihormati di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. (QS. Al-Hajj : 30)

Di antara para mufassir ada yang mengatakan bahwa hurumatullah di sini adalah hal-hal yang dimurkai dan dilarang Allah. Sedangkan pengagungannya ialah dengan meninggalkannya. Menurut Al-Laits, hurumatullah adalah apa yang tidak boleh dilanggar. Ada pula yang berpendapat, artinya perintah dan larangan. Menurut Az-Zajjaj, hurumat artinya apa yang harus dilaksanakan dan tidak boleh diabaikan. Ada pula segolongan ulama yang berpendapat, hurumat artinya manasik dan tempat-tempat syi'ar haji, baik waktu maupun tempat. Pengagungannya ialah dengan memenuhi haknya dan menjaga kelestariannya.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, mengagungkan hurumatullah ini ada tiga derajat:
  1. Mengagungkan perintah dan larangan, bukan karena takut kepada siksaan sehingga menjadi perlawanan bagi nafsu, bukan karena untuk mencari pahala sehingga pandangan hanya tertuju kepada imbalan, dan bukan karena menampakkan amal untuk riya', karena semua ini merupakan sifat penyembahan nafsu.
    Masalah ini merupakan topik yang paling banyak dibicarakan manusia. Mereka mengagungkannya dan juga para pelakunya, dengan disertai keyakinan bahwa ini merupakan derajat ubudiyah yang paling tinggi, yaitu tidak menyembah Allah, melaksanakan perintah dan larangan-Nya karena takut siksaan-Nya dan mengharapkan pahala-Nya. Cinta yang sejati tidak menghendaki yang demikian ini, karena orang yang mencintai tidak menginginkan bagian dari orang yang dicintainya. Jika perhatiannya hanya tertuju kepada bagian yang diterimanya, maka itu merupakan cacat dalam cintanya. Jika dia hanya ingin merasakan nikmatnya pahala, berarti dia merasa berhak mendapatkan pahala dari Allah atas amal yang dikerjakannya. Dalam hal ini akan mendatangkan dua ujian :
    • Perhatiannya hanya tertuju kepada pahala,
    • Dan muncul persangkaan yang baik terhadap amalnya sendiri.
    Tidak ada yang bisa melepaskan diri dari perhatian semacam ini kecuali memurnikan pelaksanaan perintah dan larangan dan segala aib. Bahkan pelaksanaannya harus dilandasi pengagungan terhadap yang memerintah dan yang melarang, bahwa Dia memang layak untuk disembah dan apa-apa yang dihormati di sisi-Nya harus diagungkan, sebagaimana yang disebutkan di dalam pepatah Isra'iliyat,
    Sekira-nya Aku tidak menciptakan surga dan neraka, apakah Aku tidak layak disembah ?

    Jiwa yang tinggi dan suci ialah yang menyembah Allah, karena memang Dia layak untuk disembah, dimuliakan, dicintai dan diagungkan. Seorang hamba tidak boleh seperti buruh yang jahat, jika upah sudah diberikan dia baru mau bekerja, dan jika tidak diberikan, maka dia tidak mau bekerja. Amal orang yang memiliki ma'rifat dimaksudkan untuk mendapatkan kedudukan dan derajat, sedangkan amal para buruh ialah untuk mendapatkan upah dan bayaran. Tentu saja perbedaan di antara keduanya sangat jauh.
    Tapi ada golongan lain yang menganggap perkataan ini hanya sekedar bualan dan isapan jempol semata. Mereka berhujjah dengan keadaan para nabi, rasul dan shiddiqin. Mereka berdoa dan juga memohon. Mereka dipuji karena takut kepada neraka dan mengharapkan surga, sebagaimana firman Allah tentang hamba-hamba-Nya yang khusu',
    إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
    Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (QS. Al-Anbiya' : 90)

    Artinya, mereka mengharap apa yang ada di sisi Kami, dan mereka juga cemas karena adzab Kami. Orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini adalah para nabi yang disebutkan dalam surat Al-Anbiya' ini.
    Allah telah menyebutkan hamba-hamba-Nya yang khusu', orang-orang yang memiliki ma'rifat dan orang-orang yang berpikir, bahwa mereka semua memohon surga dan berlindung dari neraka. Begitu pula Ibrahim Al-Khalil. Firman Allah tentang sabda beliau,
    وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
    رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
    وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
    وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
    وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ
    وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ
    يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
    إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

    Dan, yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat. Ya Rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalarn golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy-Syu'ara' : 82-89)

    Ibrahim memohon surga dan berlindung dari neraka atau penghinaan pada hari berbangkit. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga memerintahkan umatnya agar memohon kedudukan yang tinggi di surga kepada Allah pada waktu yang tepat untuk pengabulan doa, yaitu setelah adzan, dan mengabarkan bahwa siapa yang meminta hal itu, maka dia akan mendapatkan syafaat beliau.
    Di dalam Ash-Shahih disebutkan hadits para malaikat yang mencatat amal manusia, bahwa,
    Allah bertanya kepada para malaikat itu tentang hamba-hamba-Nya, dan Dia lebih tahu tentang keadaan mereka. Para malaikat menjawab, "Kami datang kepada-Mu dari sisi hamba-hamba-Mu yang bertahlil, bertakbir, bertahmid dan memuliakan-Mu."

    Allah bertanya, "Apakah mereka melihat-Ku ?" Malaikat menjawab, "Tidak wahai Rabbi. Mereka tidak melihat-Mu."

    Allah bertanya, "Bagaimana jika mereka melihat-Ku ?" Malaikat menjawab, "Jika mereka melihat-Mu, nicaya mereka lebih memuliakan-Mu." Para malaikat berkata lagi, "Wahai Rabbi, mereka memohon surga-Mu." Allah bertanya, "Apakah mereka melihat surga itu ?" Malaikat menjawab, "Tidak. Demi kemuliaan-Mu, mereka tidak melihatnya."

    Allah bertanya, "Bagaimana jika mereka melihatnya ?" Malaikat menjawab, "Jika mereka melihatnya, niscaya mereka lebih mengharapkannya." Para malaikat berkata, "Mereka berlindung kepada-Mu dari neraka." Allah bertanya, "Apakah mereka melihatnya ?" "Tidak. Demi kemuliaan-Mu, mereka tidak melihatnya." Allah bertanya, "Bagaimana jika mereka melihatnya ?" Malaikat menjawab, "Jika mereka melihatnya, niscaya mereka lebih keras melarikan diri darinya."

    Allah befirman, "Aku bersaksi kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka, Kuberikan kepada mereka apa yang mereka minta dan Kulindungi mereka dari apa yang mereka mintakan perlindungannya."

    Al-Qur'an dan As-Sunnah dipenuhi pujian terhadap hamba-hamba dan wali-wali-Nya yang memohon dan mengharap surga, berlindung dan takut dari neraka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada para shahabat,
    Berlindunglah kepada Allah dari neraka.

    Beliau bersabda kepada seseorang yang memohon agar dapat menyertai beliau di surga,
    Bantulah aku untuk kepentingan dirimu dengan memperbanyak sujud.

    Jika kita meneliti apa yang disebutkan dalam As-Sunnah, tentu kita banyak mendapatkan sabda beliau,
    Siapa yang mengerjakan begini dan begitu, maka Allah akan memasukkannya ke surga.

    Hal ini dimaksudkan sebagai sugesti agar mengamalkannya. Maka bagaimana mungkin amal untuk mendapatkan pahala dan takut dari siksa dikatakan cela dan kurang ? Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjamin surga bagi orang yang melakukan ini dan itu dari berbagai amal shalih. Di samping itu, Allah juga mencintai hamba-hamba-Nya yang memohon surga dan berlindung dari neraka kepada-Nya. Allah suka untuk dimintai dan murka kepada orang yang tidak mau memohon kepada-Nya. Permohonan yang paling agung adalah surga dan perlindungan yang besar adalah neraka. Para nabi, rasul, shiddiqin, syuhada' dan shalihin juga memohon surga dan lari dari neraka.
    Yang mereka maksudkan, bahwa hamba beribadah kepada Rabb-nya sesuai dengan hak ubudiyah. Tak berbeda dengan hamba (budak). Jika seorang hamba meminta imbalan dari tuannya atas pengabdiannya, maka dia adalah hamba yang paling bodoh dan tidak beharga di mata tuannya, sekiranya dia tidak mendapat hukumannya. Penghambaannya itu mengharuskannya untuk mengabdi. Jika pengabdiannya kepada seseorang untuk mendapatkan imbalan, maka itu bukan pengabdian kepada orang yang tidak tepat.
    Boleh jadi karena dia bukan hamba atau karena dia menjadi hamba bagi orang lain. Kalau memang dia benar-benar sebagai hamba bagi tuannya, berarti dia tidak mempunyai kemerdekaan dan tidak bisa menjadi hamba bagi selainnya, sehingga jika dia menuntut imbalan, berarti dia keluar dari kemurnian penghambaan. Manusia dalam hal ini ada empat macam :
    • Orang-orang yang tidak menghendaki Allah dan tidak menghendaki pahala-Nya. Mereka adalah musuh-musuh yang sebenarnya dan yang mendapatkan adzab yang kekal. Mereka tidak menghendaki pahala-Nya, boleh jadi karena memang mereka tidak mempercayai Allah, atau karena mementingkan kemaslahatan dunia.
    • Orang-orang yang menghendaki Allah dan menghendaki pahala-Nya. Mereka adalah orang-orang yang khusus di antara makhluk-Nya.
      Allah berfirman,
      وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا
      Dan, jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab : 29)

      Ini merupakan firman Allah yang ditujukan kepada para wanita pilihan di antara wanita-wanita di dunia, yaitu para istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
    • Orang-orang yang menghendaki pahala dari Allah dan tidak menghendaki Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui Allah, yang hanya mendengar bahwa di sana ada surga dan neraka. Sementara di dalam hatinya hanya ada kehendak mendapatkan kenikmatan surga. Ini juga merupakan keadaan mayoritas teolog yang tidak mempercayai kenikmatan memandang Allah di surga. Di antara mereka juga ada yang berpendapat bahwa menghendaki Allah adalah sesuatu yang mustahil.
    • Orang-orang yang menghendaki Allah dan tidak menghendaki pahala dari-Nya. Tentu saja ini sesuatu yang mustahil. Ini merupakan anggapan orang-orang yang disebutkan di atas dari kalangan orang-orang sufi, bahwa Allah-lah yang menjadi kehendak mereka dan tidak menghendaki sedikit pun pahala dari-Nya, seperti yang dikisahkan dari Abu Yazid, dia berkata, "Aku pernah ditanya seseorang, "Apa yang engkau kehendaki ?" Maka aku menjawab, "Aku menghendaki untuk tidak menghendaki." Tentu saja ini sesuatu yang mustahil dari pertimbangan rasa dan rasio, fitrah dan syariah. Sebab kehendak merupakan keharusan makhluk hidup. Kehendak ini tidak ada selagi seseorang mabuk, pingsan atau tidur. Memang kami tidak mengingkari pembebasan diri dari kehendak terhadap selain Allah yang dicampur dengan kehendak terhadap Allah. Tapi bukankah seseorang juga menghendaki kedekatan dengan Allah dan ridha-Nya ? Lalu adakah kehendak yang lebih tinggi dari kehendak ini ? Perkataan pengarang Manazilus-Sa'irin, "Bukan karena menampakkan amal untuk riya", ini merupakan rincian tersendiri. Menampakkan amal ini ada dua macam : Menampakkan amal untuk membangkitkan amal itu dan menguatkan pendorongnya, dan menampakkan amal yang tidak membangkitkan amal dan tidak pula menguatkan pendorongnya, sehingga tidak ada bedanya antara adanya amal itu atau tidak adanya. Boleh jadi engkau menampakkan amal di hadapan orang yang hendak belajar darimu. Engkau melakukannya secara ikhlas dan dia dapat belajar darimu. Atau engkau menampakkan suatu amal agar ditiru orang lain atau diketahui orang yang belum mengetahui amal itu. Ini termasuk riya' yang terpuji. Bahkan menampakkan amal itu tidak bisa disebut riya'. Sebab Allah ada di dalam niat hati dan tujuannya. Sedangkan riya' yang tercela ialah yang dimaksudkan untuk mendapatkan sanjungan dan pengagungan di hadapan orang lain, sehingga orang lain itu memujinya dan enggan kepadanya. Contoh lain dari riya' yang terpuji, ada orang buta yang meminta keperluan hidupnya kepada segolongan orang. Salah seorang di antara mereka menyadari, bahwa jika dia memberi peminta-minta itu secara sembunyi-sembunyi tanpa dilihat seorang pun, maka mereka tidak akan menirunya dan tidak akan memberikan apa-apa kepada peminta-minta itu. Tapi jika dia memberinya secara terang-terangan, maka mereka akan meniru tindakannya. Karena itu dia putuskan untuk memberinya secara terang-terangan. Pendorong baginya untuk memberi secara terang-terangan ialah kehendak agar peminta-minta itu untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi dari orang-orang yang ada di tempat itu. Ini termasuk penampakan amal yang terpuji. Tapi pendorongnya tidak boleh karena ingin mendapat pujian dan sanjungan.
  2. Menyampaikan pengabaran menurut zhahirnya, tidak membuat kajian yang menyimpang dari zhahirnya, tidak memaksakan ta'wil, tidak membuat perumpamaan dan perkiraan.
    Pengarang Manazilus-Sa'irin mengisyaratkan hal ini kepada pemeliharaan kehormatan nash asma' dan sifat-sifat Allah, dengan menyampaikan pengabaran ini menurut zhahirnya dan menciptakan persepsi pemahaman yang sama di tengah umat.
    Malik pernah ditanya tentang firman Allah,
    الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
    Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy. (QS. Thaha : 5)

    Bagaimana Dia bersemayam di sana ?
    Cukup lama Malik hanya menundukkan kepala. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Akhirnya dia menjawab, "Bersemayamnya Allah sudah jelas. Tentang bagaimana semayam-Nya, maka tidak bisa dicapai akal manusia. Iman kepada semayamnya Allah ini wajib, dan menanyakan bagaimana semayam-Nya adalah bid'ah." Siapa yang menanyakan firman Allah (kepada Musa dan Harun),
    إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
    Sesungguhnya Aku berserta kamu berdua, aku mendengar dan melihat. (QS. Thaha : 46)

    Bagaimana cara Allah mendengar dan melihat ?
    Maka dapat dijawab seperti jawaban Malik di atas. Begitu pula siapa yang menanyakan sifat-sifat Allah yang lain. Makna-maknanya sudah bisa dipahami. Tentang bagaimananya, maka tidak bisa dicapai akal manusia. Yang paling baik dalam masalah ini ialah mensifati Allah dengan sifat yang disifati Allah kepada Diri-Nya dan seperti yang disifati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tanpa merubah dan menyimpangkannya, tanpa menggambarkan caranya dan tidak pula membuat perumpamaan.
    Sedangkan ta'wil yang dimaksudkan di sini adalah ta'wil terminologis, yaitu mengalihkan lafazh dari zhahirnya, mengalihkan dari makna yang lazim ke makna yang tidak lazim. Para ulama sudah menyepakati hal ini.
    Tidak membuat perumpamaan artinya menyerupakan dengan sifat-sifat makhluk.
  3. Menjaga semangat agar tidak dikotori kelancangan, menjaga kegembiraan agar tidak dimasuki rasa aman, dan menjaga kesaksian agar tidak ditentang sebab. Derajat ini dikhususkan bagi orang-orang yang memiliki kesaksian, yang biasanya mereka itu penuh semangat dan merasakan kegembiraan. Semangat yang dikotori kelancangan ini bisa mengeluarkan seorang hamba dari adab ubudiyah dan membawanya kepada bualan, seperti orang yang berkata, "Subhani" artinya : Mahasuci aku. Yang berkata seperti itu adalah seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthamy. Kami tidak tahu apa alasan yang mendasari perkataan seperti ini. Menjaga kegembiraan agar tidak dimasuki rasa aman, artinya orang yang bersemangat dan memiliki kesaksian biasanya merasakan kegembiraan yang tidak terkira. Namun keadaannya ini tidak boleh membuatnya merasa aman dari tipu daya. Kegembiraan dan kesenangannya harus tetap dijaga dan dipelihara. Menjaga kesaksian agar tidak ditentang sebab artinya, boleh jadi orang yang memiliki kesaksian merasa lemah dalam mempersaksikan hakikat tauhid, lalu dia menduga telah mendapatkan apa yang diinginkannya karena suatu ijtihad dan ibadah yang mukhlis. Ini menunjukkan adanya kekurangan dalam tauhid dan ma'rifatnya. Sebab kesaksian ini merupakan anugerah dan tidak muncul karena suatu usaha.
[Berikutnya....(9) Ikhlas]

[Disalin dari Buku dengan Judul Asli : Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in (Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhaqqiq : Muhammad Hamid Al-Faqqy, Penerbit : Darul Fikr. Beirut, 1408 H.) Edisi Indonesia dengan judul : MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH) Penjabaran Kongkrit "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in"(Karya : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Penerjemah : Kathur Suhardi, Penerbit :Pustaka Al-Kautsar. Jakarta, 1998)]

by
u-must-b-lucky