Suatu ketika Nabi Muhammad SAW. didatangi Malaikat Jibril AS. di saat beliau tengah melakukan perbincangan bersama para sahabat. Malaikat Jibril AS. sebagaimana yang telah dikabarkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari mendatangi Nabi SAW. dengan sosok manusia putih bersih dan berpakaian bersih. Para sahabat yang turut menyaksikan kehadiran sosok manusia asing tersebut, sama sekali tidak mengenali identitasnya, dan baru mengetahuinya setelah Nabi SAW. memberitahukan bahwa sosok manusia asing tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Dalam perbincangan tersebut, Malaikat Jibril AS. menyampaikan beberapa pertanyaan kepada Nabi SAW. yang kemudian dijawab oleh Nabi SAW. dengan lugas dan tegas. Di antaranya, Malaikat Jibril AS. menanyakan kepada Nabi SAW. tentang tiga komponen yang telah membentuk ad-diin kita, yakni iman, Islam, dan ihsan. Ketika Malaikat Jibril AS. menanyakan kepada Nabi SAW. tentang iman, dijawab oleh Nabi SAW. dengan rukun iman. Kemudian juga ketika Malaikat Jibril AS. menanyakan kepada Nabi SAW. tentang Islam, dijawab oleh Nabi SAW. dengan rukun Islam. Namun ketika ditanyakan kepada Nabi SAW. perihal ihsan, dijawab oleh beliau,
"anta budalloohu kaannaka tarooh, faillam takun taroohu fainnahu yarook (kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, maka apabila tidak melihat-Nya, niscaya Dia [Allah] melihatmu)."

Maksud kalimat seolah-olah atau seakan-akan kamu melihat-Nya (Allah) adalah bukan melihat zat-Nya (lidzaatihi), melainkan shifatuhu, sifat-sifat-Nya, keagungan atau kebesaran-Nya yang telah menciptakan alam semesta raya beserta isinya, yang telah mengadakan dan meniadakan sesuatu, dan sebagainya, atau sifat-sifat yang terangkum pada asmaul husna (nama-nama yang menyifati Allah SWT.) sebagaimana firman-Nya pada Al-Qur'an Surat Al-Hasr ayat 24,

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Huwalloohul khooliqul baariul moshowwirulahul asmaaul husna yusabbihu lahuu maqfis-samaawaati wal ardh wahuwal 'aziizul hakiim." (Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana).

Jadi pada garis besarnya, Ihsan itu terbagi pada dua macam.
  • Pertama, musyahadah (anta budallooha kaannaka taroohu), seolah-olah menyaksikan/melihat Allah SWT. tatkala beribadah, bukan karena zat-Nya melainkan sifat-sifat-Nya, sebagaimana penjelasan di atas.
  • Kedua, muroqobah (faillam takun taroohu fainnahu yarooka), mendapatkan pengawasan langsung dari Yang Maha Kuasa. Pada posisi yang kedua ini, umpamanya dalam hal ibadah shalat, ia akan berusaha membaguskan bacaan dan gerakan shalat karena telah tertanam dalam hatinya bahwa Allah SWT. sedang memberikan pengawasan. Jadi pada dirinya sudah merasa diawasi oleh Allah SWT.
Secara etimologi, ihsan artinya berbuat baik, lawan kata dari al-isaa a, berbuat keburukan. Dalam Al-Qur'an Surat Ali Imron ayat 134, Allah SWT. berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِي

"Walloohu yuhibbul muhsiniin." (Dan Allah menyukai kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Pada ayat lainnya, dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 128,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

"Innallooha ma'alladziina taqau walladziinahum muhsinuun." (Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.)

Makna kata ihsan dalam Al-Qur'an yang berarti berbuat kebaikan, mengandung makna yang cukup dalam, yakni mengandung makna pengabdian yang teguh kepada Allah SWT., atau hanya Allah SWT. yang menjadi pusat perhatiannya tatkala ia berbuat kebaikan. Banyak orang yang berbuat kebaikan kepada sesama makhluk lainnya. Namun belum tentu terdorong karena panggilan hati yang tulus semata-mata karena Allah SWT.

Oleh sebab itu, secara konstektual syarat ihsan itu harus memenuhi dua hal, yaitu dilakukan dengan ikhlas dan ittiba'i. Bisa saja ia ikhlas dalam berbuat, tetapi belum tentu ittiba'i, yakni melakukan suatu perbuatan yang berdasarkan pada syariat yang telah dicontohkan dan dibenarkan oleh Nabi SAW.

Sebaliknya ia ittiba'i tetapi belum tentu benar bila tanpa keikhlasan dalam melakukannya. Jadi harus ada kedua-duanya, ikhlas dan ittiba'i.

Sementara itu Syekh Abdurrahman As Sa'di arrohimahullah membagi ihsan kepada dua bentuk.
  • Pertama, ihsan kepada Allah (antabudalloohu kaannaka taroohufaillam takun taroohu fainnahu yarook).
  • Kedua, ihsan kepada makhluk lainnya dalam upaya memenuhi haknya sebagai makhluk. Pada yang kedua ini, terbagi kepada dua hukum yakni wajib dan mustahab (dianjurkan). Ihsan itu wajib dilakukan, pada kedua orangtua dan berbuat adil dalam bermuamalah. Mustahab, mendermakan tenaga atau harta di atas batas kewajibannya.
Ihsan yang paling utama adalah melakukan perbuatan ihsan kepada orang yang sudah jelas-jelas membenci kita. Hal ini sesuai dengan yang Nabi SAW. katakan, terkait pada masalah silaturahmi bahwa silaturahmi yang paling baik adalah menghubungkan persaudaraan dengan orang-orang benar-benar memusuhi kita.

Contoh perbuatan ihsan, ia (pedagang) tidak mengurangi timbangan dalam berjual beli. Ia pasrah dan menerima atas segala pemberian Allah. Umpamanya dengan kemiskinannya, ia sabar dan tidak melakukan perbuatan tercela kepada orang lain, seperti mencuri dan lain-lain. Pokoknya ia ihsan kepada Allah SWT. dalam ibadah shalat, maka ia akan ihsan pula dalam sikap dan perilaku kesehariannya.

Orang yang ihsan sudah tentu ia iman dan Islam, muhsin, mukmin, dan Muslim. Sebaliknya ia Muslim dan Mukmin, belum tentu ia muhsin. Para koruptor umpamanya, banyak pelakunya adalah seorang Muslim dan beriman, tetapi ia tidak ihsan. Pasalnya derajat ihsan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang benar-benar tidak diragukan tingkat kesalehannya di hadapan Allah SWT.
Semoga kita semua bisa dan terus berbuat ihsan, insya Allah.***

[Ditulis oleh HM. RODJABUDIN SHOLIH, penyuluh agama Islam Kementerian Agama Kota Bandung, Pimpinan Pontren Arroja Bandung. Disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 3 Februari 2012 / 10 Rabiul Awal 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Legenda Malin Kundang amat terkenal sampai sekarang. Legenda itu menunjukkan betapa mustab (ampuh) doa seorang ibu, baik doa kebaikan maupun doa buruk.

Rasulullah pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. Suatu kisah nyata yang terjadi pada masa sebelum Rasulullah yang patut diambil sebagai ibrah (pelajaran) bagi orang-orang beriman.

Dahulu, ada tiga bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah bayi yang hidup pada masa Juraij, seorang ahli ibadah. Dia memiliki tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya.

Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya, "Wahai Juraij." Dalam hatinya, Juraij bergumam, "Wahai Rabbku, apakah yang harus aku dahulukan meneruskan shalatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?"

Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan shalatnya. Akhirnya sang ibu pulang. Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil, "Wahai Juraij!" Juraij yang saat itu pun sedang shalat bergumam dalam hatinya, "Wahai Robku, apakah aku harus meneruskan shalatku ataukah (memenuhi) panggilan ibuku?" Lagi-lagi Juraij tetap meneruskan shalatnya.

Sang ibu kembali pulang untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil, "Wahai Juraij!" Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan shalat. Kembali Juraij memilih tetap meneruskan shalatnya daripada memenuhi panggilan ibu.

Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sambutan/sahutan anaknya, sang ibu berdoa, "Ya Allah, janganlah Engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur."

Orang-orang Bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik jelita ingin membuktikan. "Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij)," kata wanita itu. Wanita pelacur itu pun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Akan tetapi, sedikit pun Juraij tak memedulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu? Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij.

Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya sehingga terjadilah perzinaan antara dia dan penggembala itu. Wanita itu hamil lalu melahirkan. Dia membuat pengakuan palsu dengan mengatakan ayah dari bayinya adalah Juraij. Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya, dan memukulinya.

Juraij yang tidak tahu masalahnya bertanya dengan heran, "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab, "Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu."

Tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita lacur itu. Lantas bertanya, "Di mana bayinya?" Mereka pun membawa bayinya. Juraij berkata, "Biarkan saya melakukan shalat dulu." Seusai menunaikan shalat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya, "Wahai bayi, siapakah ayahmu?" Si bayi menjawab, "Ayahku adalah si Fulan, seorang penggembala."

Akhirnya, masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya. Mereka minta maaf dan berkata, "Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas." Juraij berkata, "Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah Hat." Mereka pun mengerjakannya.

Demikian pula saat zaman Nabi Muhammad SAW., terdapat kisah Alqamah yang ahli ibadah, tetapi mengalami masalah saat akan meninggal dunia. Nabi pun mendatangi ke rumah ibu yang telah melahirkan Alqamah agar Alqamah bisa meninggal dengan tenang.

Karena sang ibu tidak jua memaafkan Alqamah akhirnya Nabi berkesimpulan akan membakar saja Alqamah. Sang ibu pun luluh hatinya sehingga memaafkan anaknya sehingga Alqamah pun meninggal dunia dengan tenang.

Itulah sekelimut kisah yang menggambarkan keberadaan seorang ibu. Apakah kita masih berani untuk melalaikan, menelentarkan, apalagi sampai tidak mengakuinya? Naudzubillah.

Sudah waktunya kita sadar betapa agung dan tinggi kedudukan seorang ibu. Pernah suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi soal kedudukan antara ibu dan ayah. Nabi menjawab sampai tiga kali, kalau taat kepada seorang ibu harus diutamakan. Baru pada perkataan keempat menaati kepada ayah.

Pantas dan wajar apabila hadits menyatakan surga di bawah telapak kaki ibu. Tentu jangan dimaknai seorang anak harus selalu membersihkan atau mencuci telapak kaki ibunya agar mendapatkan surga karena yang terpenting adalah kepatuhan dan ketaatan anak kepada ibunya.
Apalagi apabila seorang ibu telah lanjut usia, Allah pun memerintahkan agar seorang anak lebih bersabar dan meningkatkan ketabahannya. Ibu telah mengandung selama sembilan bulan, menyusui sampai dua tahun, merawat anaknya sampai lima tahun bahkan sampai sekolah dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA bahkan perguruan tinggi. Mengapa kita tidak sabar merawat ibu?

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh KH. HABIB SYARIF MUHAMMAD, Ketua Yayasan Assalaam dan mantan Ketua PW NU Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 2 Februari 2012 / 9 Rabiul Awal 1433 H. dari Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dialah Zat yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kalian hidup dan menjadikan langit sebagai atap untuk kalian bernaung. Lalu Dia menurunkan hujan dari langit sehingga keluarlah buah-buahan dari pohonnya sebagai rezeki untuk kalian. Oleh karena itu, Janganlah kalian mencari sekutu-sekutu bagi-Nya padahal kalian mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah: 22)

Dari sekian banyak unsur kimia yang bermanfaat bagi manusia, air (H2O) dan oksigen (O2) merupakan unsur yang paling penting. Berdasarkan penelitian para ahli, 75 persen dari tubuh manusia tersusun dari unsur air. Dalam otot ada 80 persen air, di otak 50-80 persen, dalam darah 85 persen, dan pada tulang 20 persen.

Setiap orang membutuhkan 5-8 liter air/hari. Jika penduduk Indonesia 200 juta jiwa, dibutuhkan 1,600 juta liter air bersih yang sehat setiap harinya. Oleh karena itu, air memiliki perananan sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Bahkan, bagi Muslim, air berkaitan langsung dengan ibadah.

Sementara itu, debit air terus berkurang akibat perubahan alam dan iklim yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas manusia dalam bidang teknologi, industri, manufaktur, properti, dan infra-struktur di samping pola hidup keluarga. Pembangunan kawasan industri dan perumahan yang mulai menepi ke perdesaan dan menghabisi hutan-hutan rakyat serta lahan pertanian, menjadi salah satu penyebab berkurangnya air dan jumlah oksigen.

Kemampuan karbondioksida untuk mengubah dirinya menjadi oksigen menjadi lemah karena hutan dan pepohonan sebagai media proses fotosintesis berkurang akibat penjarahan dan penebangan membabi buta. Akibatnya, oksigen yang menguap ke udara dan membentuk awan kian sedikit sehingga curah hujan pun minim.

Karbondioksida yang berlebihan, gas metan dari kendaraan, dan gas buang dari rumah-rumah kaca memiliki andil besar terjadinya pemanasan global. Ketiga gas ini membubung di atmosfer bumi sehingga menimbulkan panas luar biasa. Saat udara semakin panas, curah hujan mulai berkurang, dampaknya pada hasil pertanian cukup besar. Lahan pertanian menjadi kering dan kekurangan pangan tak bisa dielakkan lagi. Dampak dari bencana alam ini berpotensi mencemari air dan membentuk lingkungan tidak sehat.

Semua ini akibat sebagian besar akibat ulah manusia yang munafik. Mereka berdalih membuat manfaat dan kemaslahatan bagi alam, padahal di balik itu semua adalah kerusakan (mafsadat) yang luar biasa. Mereka sudah diperingatkan, tetapi hati mereka keras bagai batu. Allah menggambarkan dalam Al-Qur'an,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ
Jika mereka diingatkan, 'Janganlah kalian merusak bumi!' Mereka berkilah, 'Sesungguhnya kami sedang berbuat sesuatu yang bermanfaat.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah: 11-12)

Untuk mengantisipasi berbagai kerusakan alam, penjarahan hutan, pencemaran air dan lingkungan oleh limbah keluarga dan limbah industri, tidak cukup dengan pendekatan hukum melalui regulasi pemerintah, tetapi perlu sikap arif dari setiap personal. Manusia diutus Allah ke bumi sebagai khalifah yang bertugas menciptakan kedamaian, kebaikan, ketenteraman, dan memperbaiki berbagai kerusahan. Oleh karena itu, setiap individu bertanggung jawab yang sama untuk mencintai dan menjaga keutuhan lingkungan.

Jika setiap individu bersikap arif, memiliki sense of belonging terhadap alam dan lingkungan sekitar, berkesadaran sosial, dan membiasakan hidup sehat, masalah air dan lingkungan akibat kesalahan manusia dapat diatasi. Setidaknya, masalah yang muncul akibat ulah manusia seperti perusakan hutan, membuang sampah sembarangan, membuat pembuangan saluran air kotor tanpa perhitungan, dapat dikendalikan. Bahkan bukan hal yang mustahil, masalah yang timbul karena alam pun dapat ditanggulangi.

Penumbuhan dan pemantapan kesadaran ini membutuhkan kampanye besar-besaran, berkesinambungan, dan tanpa kenal lelah di setiap saat, setiap kesempatan, dan setiap tempat. Kampanye bukan hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti Hari Bumi dan Hari Lingkungan Hidup, melainkan pada setiap dialog interpersonal baik yang bersifat pribadi maupun formal.

Dalam terminologi agama, kampanye seperti ini adalah dakwah yang aplikasinya bisa berbentuk tulisan (bil kitabah), ucapan (bil lisan), dan sebuah aktivitas (bil hal). Tulisan para ahli, pencinta lingkungan, dan ulama di media massa (da'wah bil kitabah). harus berlangsung terus-menerus untuk menggugah kesadaran manusia tentang pentingnya lingkungan. Dakwah juga bisa dalam bentuk kata-kata (da'wah bil lisaan), ceramah, seminar, diskusi, tablig, khotbah, dan dialog sehari-hari. Agar semakin efektif dan tepat sasaran, dakwah mesti dilaksanakan secara berantai, person to person, mulai dari lingkungan terkecil terlebih dahulu, dari keluarga. Keluarga harus menjadi school of environment, madrosatul ummah, pendidikan lingkungan yang menekankan kearifan hidup dan pentingnya lingkungan. Mulailah dari diri sendiri, dari anggota keluarga (anak, istri, dan pembantu rumah tangga).

Dakwah yang paling penting adalah dakwah dengan aktivitas nyata. Memberi contoh pada anak dan keluarga tentang pengelolaan sampah keluarga yang baik, menanam pohon dengan sebuah kesadaran bahwa dirinya masih perlu bernafas dan membutuhkan air, membuat drainase yang baik di halaman rumah, membuat sumur resapan, dan membiasakan pola hidup sehat adalah dakwah nyata.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, nanti Allah menunjukkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka (agar mereka merasakannya), mudah-mudahan mereka kembali (sadar). (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat tersebut memberikan peringatan kepada manusia agar memerhatikan kembali keseimbangan alam. Jika hari ini terjadi berbagai masalah, solusinya adalah kembali pada kesadaran diri (introspeksi, muhasabah). Meluruskan kembali pola pikir tentang lingkungan bahwa lingkungan adalah bagian yang tak terpisahkan dari setiap detak jantung dan desah napas kita.

Menumbuhkan kesadaran dan keyakinan kepada anak-anak kita tanpa alam, manusia tidak akan bisa hidup. Alam adalah nyawa, alam adalah jiwa, alam adalah aliran darah dalam aorta.

Alam adalah kita seutuhnya.***

[Ditulis oleh NANA SUKMANA, pengurus DKM Asy-Syifaa STIKES Bhakti Kencana Bandung, khotib di beberapa masjid di Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 27 Januari 2012/3 Rabiul Awal 1433 H., pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Anda memiliki persoalan yang susah terpecahkan? Merasa stres, pusing, bahkan frustrasi menghadapi masalah? Solusinya dengan doa. Ya, kita masih memiliki Allah SWT. sebagai tempat "curhat" berbagai persoalan hidup di dunia ini.

Allah sendiri memerintahkan umat manusia untuk berdoa kepada-Nya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Al Mu'minin: 60)

Nabi Muhammad SAW. dalam sabdanya menegaskan,
"Doa merupakan otak ibadah." (HR. Ibnu Hibban dan Tirmidzi)

"dan barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka Allah murka kepadanya." (HR. Tirmidzi)

Inilah yang membedakan antara Allah dengan manusia. Apabila manusia selalu diminta bantuan akan jengkel, dongkol, bahkan meluapkan kemarahannya, tetapi Allah malah merasa senang bahkan memerintahkan umat manusia untuk tak berhenti meminta kepada-Nya. Permintaan itu bisa berbagai hal yang tidak ada batasannya. Namun, untuk berdoa kepada Allah tentu ada akhlak atau etikanya. Ada beberapa waktu terbaik dalam memanjatkan doa yakni saat waktu tengah atau akhir malam.

Rasulullah bersabda,
"Pada tiap malam Tuhan kita turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman, 'Barang siapa berdoa kepada-Ku pasti Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepada-Ku pasti Aku akan beri, dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku pasti diampuni." (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Tirmidzi, dan Iain-lain)

Waktu lain yang mustajab untuk berdoa, ketika selesai melaksanakan shalat wajib lima waktu. Rasulullah SAW. pernah ditanya seseorang, "Wahai Rasulullah, doa manakah yang paling didengar Allah?" Rasulullah SAW. menjawab,
"Doa di tengah malam dan doa sesudah shalat wajib." (HR. Tirmidzi)

Selain itu, saat waktu lapang dan saat sujud juga merupakan waktu tepat untuk berdoa. Umumnya sebagian manusia akan lupa (terlupakan) apabila sedang berada dalam sukacita ataupun lapang rezeki sehingga seakan-akan tak membutuhkan Allah lagi. Namun, ketika ditimpa ujian, bencana, atau musibah, tentu akan langsung mengingat Allah.
"Barangsiapa yang menginginkan doanya dipenuhi Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya." (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Sementara akhlak dalam berdoa di antaranya, biasakan membaca Asmaul Husna saat mengawali memanjatkan permohonan.

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَ‌ٰلِكَ سَبِيلًا
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar Rahmaan. Dengan nama yang mana saja kamu seni (adalah boleh) karena Dia mempunyai nama-nama terbaik dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS. Al Israa: 110)

Kaum Muslimin juga dianjurkan mengawali doa dengan ismul azham (menyebut sifat-sifat Allah Yang Maha Agung). Suatu ketika Nabi Muhammad SAW. lewat di depan Abu Iyasy Zaid bin Shamir Azzuraqiy yang sedang shalat. Dia berdoa, "Ya Allah aku mohon kepada-Mu karena sesungguhnya bagi-Mu puja dan puji. Tiada Tuhan kecuali Allah, wahai Yang Maha Pemberi, Yang Menjadi Harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, Yang Maha Luhur, dan Maha Mulia." Lalu, Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya engkau telah memohon kepada Allah dengan mempergunakan nama-nama-Nya Yang Agung, yang bilamana dimohonkan dengan nama-nama-Nya itu akan dikabulkan, dan jika dimintai denganmu juga akan diberi." (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, Nasai, dan lainnya)

Menyebutkan kalimat tauhid di awal doa juga dianjurkan Nabi. Kalimat itu adalah Laa ilaaha illallah wallaahu akbar, laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul-hamdu wahuwa 'alaa kullisya'in qadiir, laa ilaaha illallah la haula walaa quwwata ilia billaah. Dianjurkan pula mengawali doa dengan dzaljalaali walikraam dan Ar-Rahmaan Arrahiim. Jangan lupakan pula membaca hamdalah (alhamdulillah) dan shalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Adab berdoa lainnya, dengan berdoa secara rendah hati (tawadhu) dan disampaikan dengan suara lembut. Doa juga tidak perlu berlebih-lebihan karena Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas, sebagaimana firman-Nya,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al A'raf: 55)

Doa juga disampaikan dengan penuh rasa takut (khauf) sekaligus rasa penuh harap (roja'). Nabi juga menyarankan apabila berdoa diulangi sampai tiga kali.

Salah satu sifat utama umat Islam adalah saling mendoakan saudara yang masih ada ikatan keluarga, tetangga, bahkan saudara seiman yang tidak dibatasi dengan sekat-sekat wilayah, ras, suku, maupun perbedaan bahasa. Umat Islam diimbau untuk mendoakan bagi kebaikan saudara-saudaranya dan dilarang meminta agar terjadi kecelakaan atau musibah.
"Doa seorang Muslim untuk saudaranya (sesama Muslim) dari tempat yang jauh (tanpa diketahuinya) akan dikabulkan." (HR. Muslim)

"Janganlah kamu berdoa untuk kerusakan dirimu, kerusakan anakmu dan pembantumu. Jangan pula berdoa untuk kerusakan hartamu. Jangan minta kepada Allah kerusakan karena mana tahu sewaktu kamu minta, maka Allah mengabulkannya bagimu." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah)

Salah satu kelemahan manusia adalah ketika selalu bertanya karena merasa ragu. Misalnya, apakah doa-doa yang kita panjatkan akan dikabulkan Allah? Mengapa doa-doa saya tidak dipenuhi Allah? Padahal Allah telah menegaskan, setiap manusia wajib untuk berbaik sangka (husnuzan) kepada-Nya.
"Sesungguhnya Allah berfirman, Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku. Aku selalu menyertainya ketika dia berdoa kepada-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sementara dalam hadits lainnya ditekankan,
"Jika kamu memohon kepada Allah Azza Wajalla, wahai manusia mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan yang penuh bahwa doamu akan dikabulkan karena Allah tidak mengabulkan doa hamba-Nya yang keluar dari hati lalai." (HR. Ahmad)

Doa merupakan solusi di tengah kehidupan yang makin kompleks dengan permasalahan. Berdoalah dan Jangan segan untuk meminta kepada Allah. ***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad-dakwah, serta pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 26 Januari 2012 / 2 Rabiul Awal 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَ‌ٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang beriman, apabila diseru melaksanakan shalat pada hari Jumat, bergegaslah dan tinggalkanlah jual beli. Itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu diberi rahmat, (QS. Al-Jumuah: 9-10)


Pada tahun 1433 Hijriah dan 2012 Masehi ini, serta dalam rangka memperbaiki diri, keluarga, dan bangsa, paling tidak, ada enam langkah hijrah yang sebaiknya dilakukan bersama.
  • Pertama, menjadikan shalat Jumat sebagai salah satu ibadah andalan.
  • Kedua, melaksanakan lima shalat fardu berjemaah di masjid.
  • Ketiga, menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan wajib harian keluarga.
  • Keempat, mengajak dan mewajibkan istri dan putra putri kita membiasakan sempurna menutup aurat di luar waktu shalat.
  • Kelima, menggemarkan berinfaq di kala lapang dan sempit.
  • Keenam, mempererat tali silaturahmi.
Jumat merupakan hari termulia, hari terpenting, dan hari raya mingguan kaum Muslimin. Rasulullah SAW., menyebut Jumat dengan sayyidul ayam, raja atau penghulunya hari. Pada Jumat Allah mensyariatkan shalat Jumat. Rangkaian ibadah utamanya terdiri atas 2 khotbah dan 2 rakaat shalat Jumat berjemaah. Keistimewaan Jumat ditegaskan Nabi SAW., dalam banyak sabdanya. Di antaranya,
"Sesungguhnya pada hari Jumat ada saat istimewa, yaitu seorang Muslim tidaklah ia berdiri shalat dan meminta kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberi dan mengabulkannya." (HR. Muslim)

Ibadah Jumat merupakan sarana dan cara Allah menaburkan ampunan-Nya kepada kaum Muslimin. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah RA. yang dirawikan Ibnu Majah, Nabi SAW. menegaskan,
"Dari Jumat yang satu ke Jumat berikutnya adalah penghapus dosa/kaffarah, sepanjang dia tidak melakukan dosa besar."

Abu Hurairah RA. meriwayatkan, Nabi SAW. bersabda,
"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat; pada hari ini Adam diciptakan, pada hari ini Adam dimasukkan ke surga, pada hari itu pula Adam dikeluarkan dari surga, pada hari itu pula Adam diwafatkan. Tidaklah hari kiamat akan terjadi, kecuali pada hari itu, Jumat." (HR. Muslim)

Betapa banyak keutamaan yang Allah cadangkan dan Nabi janjikan bagi kaum Muslimim yang bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Jumat. Namun, pada kenyataannya, tak sedikit di antara kaum Muslimin yang masih melakukan kesalahan pada pelaksanaan shalat Jumat. Kita saksikan mayoritas kaum Muslimin sudah bisa dan biasa melaksanakan shalat Jumat itu, tetapi tak sedikit yang asal menggugurkan kewajiban.

Untuk menjadikan ibadah Jumat sebagai salah satu ibadah andalan pekanan kita, mari kenali beberapa kesalahan umum yang masih dilakukan kaum Muslimin pada hari Jumat. Disertai niat dan tekad untuk diperbaiki, mulai dari diri kita dan mulai hari Jumat ini. Mari kita berhijrah dari Jumat ke Jumat.

Caranya, marilah kita jadikan ritus Jumat ini lebih baik dari Jumat lalu. Kita jadikan ibadah Jumat depan lebih baik daripada Jumat ini. Bukankah substansi hijrah itu menjadikan kualitas dan kuantitas amal saleh kita hari ini lebih baik daripada kemarin.

Masih ditemukan ada beberapa kesalahan umum yang masih dilakukan kaum Muslimin pada hari Jumat. Kita saksikan ada sebagian kaum Muslimin pada hari dan shalat Jumat, sengaja tidak shalat Jumat; tidak mandi sebelum shalat Jumat; tidak berpakaian pantas; tidak mau menempati saf depan/utama; tidak menyimak khotbah; tidak berinfaq; tidak mau berdoa; sengaja melangkahi/menyibak bahu jemaah yang sudah hadir; tidak melaksanakan shalat badiyah Jumat; datang telat dan pulang cepat.

Padahal, sebagaimana firman Allah di atas, shalat Jumat itu wajib bagi orang beriman. Nabi SAW., memberi batasan bagi manusia sehat yang tidak kena kewajiban shalat Jumat itu hanya empat/lima golongan yaitu wanita, anak-anak, hamba sahaya, orang sakit (dan musafir, yang kelima ini para ulama berbeda pendapat).

Masih ada sebagian kaum Muslimin yang hadir pada shalat Jumat tidak mandi sempurna, berpakaian sekenanya, bercelana bolong, jeans belel/sontog, kaus oblong/olah raga, dan tidak pula memakai parfum. Padahal, Nabi SAW. mewajibkan kaum Muslimin mandi pada hari Jumat, berpakaian yang paling pantas, dan memakai parfum.

Hampir di banyak masjid ada kaum Muslimin yang datang ke masjid lebih awal, tetapi tidak mau menempati saf utama/saf depan. Mereka malah menempati saf belakang, memilih bersandar di tiang/dinding. Padahal, Nabi SAW. mengisyaratkan, siapa yang datang pada kesempatan pertama seolah ia berkurban dengan seekor unta, siapa yang hadir pada kesempatan kedua seolah-olah berkurban dengan seekor sapi; siapa yang datang pada kesempatan ketiga, seolah-olah berkurban dengan seekor kambing; barang siapa yang hadir pada kesempatan keempat, seolah-olah berkurban dengan seekor ayam, dan barang siapa yang datang pada kesempatan kelima, seolah ia berkurban dengan sebutir telur.

Ada sebagian kaum Muslimin hadir pada shalat Jumat, tetapi tidak menyimak khotbah. Padahal, itu wajib dan merupakan paket tak terpisahkan dengan dua rakaat shalat Jumat. Oleh karena itu, idealnya para khotib mengingatkan jemaah agar meluruskan dan merapatkan saf sebelum khotbah. Mereka tidak menyimak khotbah ada yang karena mengantuk, memainkan sesuatu dengan jari tangannya, dan mengobrol dengan sesama jemaah. Nabi SAW. dengan keras mengingatkan,
"Apabila salah seorang dari kamu berkata kepada temannya, 'diam', sementara imam sedang khotbah, kamu telah berbuat sia-sia, rusaklah pahala Jumat-mu." (HR. Bukhari)

Ada sebagian kaum Muslimin tidak mengeluarkan infaq pada hari Jumat dan tidak memanjatkan doa khusus. Padahal, sebaik-baik infaq pada hari Jumat. Allah merahasiakan ada saat ijabah pada hari Jumat dan berjanji mengabulkan setiap orang yang berdoa.

Ada sebagian kaum Muslimin yang datang terlambat shalat Jumat. Ada juga jemaah ketika masuk masjid melangkahi atau menyibak bahu jemaah yang sudah hadir. Dia datang belakangan, tetapi ingin duduk di depan. Sebaiknya jemaah hadir di masjid, beberapa belas menit sebelum khotib menuju mimbar untuk khotbah. Nabi SAW. bersabda,
"Apabila hari Jumat tiba, para malaikat berdiri di depan pintu-pintu masjid, mencatat setiap yang datang pertama dan berikutnya. Kemudian apabila imam duduk (di kursi dekat mimbar, sebelum khotbah), mereka menutupkan buku catatan tersebut dan hadir mendengarkan khotbah." (HR. Al Bukhari)

Ada sebagian kaum Muslimin, shalat Jumat tetapi tidak melaksanakan shalat sunah badiyah Jumat, baik di masjid maupun di rumahnya. Padahal, Nabi SAW. mencontohkan shalat badiyah Jumat, 4 rakaat di masjid atau 2 rakaat di rumah. Selain itu, ada sebagian kaum Muslimin pada saat Jumat yang datang telat dan pulang cepat. Padahal, kepada yang demikian itu Nabi SAW. menjulukinya anak/cucu setan. Beliau sebagaimana sering kita dengar dari nasihat para ulama, mengingatkan, sebaik-baik jemaah umat, mereka yang datang lebih awal dan pulang akhir. Tentu dengan melaksanakan rangkaian ibadah Jumat dengan sempurna sesuai dengan tata cara yang diajarkan Sunah.
Di awal 2012/1433 H. ini, marilah kita instrospeksi seraya melakukan perbaikan dan bertekad melaksanakan ibadah amaliah Jumat, memperbaiki kesalahan-kesalahan itu seraya bertekad menjadikan ibadah Jumat sebagai salah satu ibadah andalan pekanan kita, mulai Jumat ini.

Insya Allah kita berhijrah dari Jumat ke Jumat.

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh DAENG NURJAMAL, dosen pada STP Bandung, Ketua Umum Yayasan Pendidikan Alfatmah Garut. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 20 Januari 2011 / 26 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Hikmah dari kepemimpinan seorang panglima perang pada zaman Rasulullah SAW. sampai Khalifah Umar bernama Khalid bin Walid. Dia dijuluki oleh Rasulullah SAW. sebagai Syaifullah (pedang Allah). Perluasan Islam hingga ke Mesir, Irak, dan Syam di masa Khalifah Umar bin Khattab tidak lepas dari kiprah kegagahan Khalid.

Namun, apa balasan Khalifah Umar dengan pengabdian Khalid yang memperluas wilayah? Ternyata Khalid bin Walid malah diberhentikan secara tiba-tiba sebagai panglima dalam peristiwa penaklukan Syam.

Apa reaksi Khalid? Dia dengan ikhlas menerimanya, tanpa pembangkangan. Khalid bahkan berkata, "Aku berperang bukan karena Umar, tetapi karena Allah." Inilah mutiara akhlak, hikmah, sekaligus ihsan dalam diri Khalid dan para pejuang Islam lainnya.

Pelajaran berharga lainnya dari Perang Uhud yang terjadi pada tahun ketiga Hijriah ketika umat Islam mengalami kekalahan. Lagi-lagi tokohnya Khalid bin Walid sebelum masuk Islam yang berhasil menghancurkan tentara Islam. Umat Islam kalah akibat mencari materi harta berupa ganimah sehingga terlena.

Rasulullah sempat terluka. Nabi malah sempat dikabarkan wafat, yang menimbulkan kepanikan umat Islam yang masih tersisa. Ketika terluka, Rasulullah tiba-tiba mengambil pedang, lalu diangkat sambil berseru membangkitkan semangat, "Siapa yang berani mengambil pedang ini?"

Semua saling berebut. Rasulullah kembali bertanya, "Siapa yang berani mengambil pedang ini dengan tanggung jawab? (Ma yahudu minni bi-haqqihi?)"

Akhirnya seorang sahabat, Abu Dujanah, mengambil pedang itu lalu lari ke tengah-tengah musuh, yang diikuti pasukan Muslimin yang tersisa.

Terjadilah pertempuran kembali, dan kemudian pasukan musuh menarik diri sehingga kaum Muslimin terhindar dari kekalahan total. Abu Dujanah pun gugur di medan Uhud menjadi syahid bersama Hamzah bin Abi Thalib dan syuhada lainnya.

Khalid bin Walid dan perang Uhud mengajarkan kepada kita kalau jabatan tak perlu diperebutkan layaknya ganimah. Hanya karena melihat fasilitas, materi, gaji, tunjangan, uang perjalanan dinas, ketenaran, dan sejenisnya sehingga kita buta mata dan buta hati.

Jabatan merupakan suatu tugas dan amanah harus diterima dan ditunaikan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab yang kokoh. Amanah bukan dikejar apalagi diminta-minta. Amanah dan jabatan dalam suatu perjuangan bukanlah suatu yang menyenangkan, justru sebaliknya akan menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan.

Kalau amanat itu diberikan jangan ditolak, lebih-lebih jika mampu melaksanakannya. Namun jangan pula memperebutkan jabatan, apalagi dengan cara-cara tidak benar. Sekali salah niat dan langkah, selain akan menimbulkan centang perenang dan perpecahan dalam perjuangan, sekaligus tidak akan berkah dan kehilangan pahala yang utama.

Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Ingatlah, setiap orang di antara kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang amir (pemimpin masyarakat) yang berkuasa atas manusia adalah pemimpin, dan ia akan ditanya tentang rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Merujuk kepada kata pemimpin atau imam bermula dari kata "amma" yang bermakna bergerak ke depan. Seorang pemimpin di mana pun posisinya harus bisa membawa ke arah yang lebih baik. Kata "amma" berubah menjadi ammam atau di depan lalu "imam" yang bermakna seseorang yang berada di barisan paling depan. Kata "imam" senapas dengan kata "umm" (yang berarti ibu) atau "ummat" yang berarti komunitas yang diminta untuk bergerak maju ke depan.

Tugas pemimpin amat berat dan mengandung bahaya. Tak heran jika Nabi SAW. mengingatkan bahayanya kekuasaan dan orang yang memintanya,
"Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, maka engkau akan diserahkan kepada kekuasaan itu (yakni, dibiarkan Allah dan tak akan ditolong). Jika engkau diberi kekuasaan, bukan dari hasil meminta, maka engkau akan ditolong." (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits lain dinyatakan,
"Aku pernah masuk menemui Nabi SAW. bersama dua orang sepupuku. Seorang di antara mereka berkata, "Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pemimpin dalam perkara yang Allah berikan kepadamu. Orang kedua juga berkata demikian. Maka Nabi bersabda, Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya." (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Seseorang tidak diperkenankan berbuat narsisme seperti "mematut-matutkan diri" sebagai calon pemimpin ideal. Misalnya, menyatakan saya ini orang paling pintar, lebih baik, paling bisa, tepercaya, dan lebih bersih dari yang lainnya. Ajaran Islam melarang calon pemimpin untuk menjelek-jelekkan orang lain.

Kehadiran pemimpin bukan karena politik pencitraan, karena politik ini lebih banyak menipu. Pemimpin juga tidak perlu mengiklankan dirinya secara gencar sebab pemimpin bukanlah profesi yang dicari melainkan kepercayaan dari masyarakat karena ia memiliki rekam jejak yang baik dan dapat dipercaya sehingga layak diangkat menjadi pemimpin.***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri. (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 19 Januari 2012 / 25 Safar 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Apa arti kita hidup di dunia? Dunia tempat kita mempersiapkan diri untuk akhirat. Sebagai tempat persiapan, dunia pasti akan kita tinggalkan. Ibarat terminal, kita transit di dalamnya sejenak, sampai waktu yang ditentukan, setelah itu kita tinggalkan dan melanjutkan perjalanan lagi.

Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa dunia itu bukan tujuan, sebagaimana firman-Nya,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ

Dan carilah (kebahagaian) akhirat, yang telah Allah sediakan untukmu, tapi jangan lupa bahagianmu dari kenikmatan dunia. (QS. Al Qasas: 77)

Terlihat dengan jelas disini bahwa yang harus kita kejar sebagai Muslim adalah kebahagiaan hidup akhirat. Mengapa? Karena di sanalah letak kehidupan abadi. Tidak ada mati lagi setelah itu. Karenanya dalam ayat yang lain Allah berfirman,

وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ

"wainnad daarul aakhirata lahiyal hayawan" (dan sesunguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya) (QS. Al Ankabut: 64)

Bila demikian setelah kita tahu tabiat dunia ibarat terminal persinggahan, mengapa kita terlalu banyak menghabiskan waktu hidup kita untuk keperluan dunia? Di akui atau tidak, dari 24 jam jatah usia kita dalam sehari, bisa dikatakan hanya beberapa persen saja yang kita gunakan untuk persiapan akhirat. Selebihnya bisa dipastikan terkuras habis oleh kegiatan yang berputar-putar di sekitar masalah dunia.

Mari kita renungkan, betapa tak terhingga nikmat Allah, setiap saat mengalir dalam tubuh kita. Tapi mengapa kita lalaikan itu semua. Detakan jantung tidak pernah berhenti. Kedipan mata yang tak terhitung berapa kali dalam sehari, selalu kita nikmati. Tapi kita sengaja melupakan hal itu. Kita sering mudah berterima kasih kepada seorang yang berjasa kepada kita, sementara kepada Allah yang senantiasa memanjakan kita dengan nikmat-nikmat-Nya, kita sering kali memalingkan wajah.

Akibatnya pasti, kita akan lupa akhirat. Dari sini dunia akan menghabiskan waktu kita. Orang-orang bijak mengatakan, bahwa dunia ini hanyalah keperluan, ibarat WC dan kamar mandi dalam sebuah rumah, ia dibangun semata sebagai keperluan. Karenanya siapapun dari penghuni rumah itu akan mendatangi WC atau kamar mandi jika perlu, setelah itu ditinggalkan. Maka sungguh sangat aneh bila ada seorang yang diam di WC sepanjang hari, dan menjadikannya sebagai tujuan utama dari dibangunnya rumah tersebut. Begitu juga sungguh sangat tidak wajar bila manusia sibuk mengurus dunia sepanjang hari dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sementara akhirat yang merupakan tujuan sebenarnya dikesampingkan.

Namun kini kita memang sedang berada di sebuah zaman yang terbalik. Dimana keperluan dijadikan tujuan dan tujuan sejati bukan hanya dijadikan keperluan, bahkan cenderung untuk dilupakan dan tidak diperlukan lagi. Orang-orang yang sibuk mengurus Akhirat menjadi aneh. Dan orang-orang yang sibuk mengurus dunia dibanggakan. Bahkan berperangpun dengan menghanguskan serta membunuh banyak manusia untuk kepentingan dunia senantiasa dilakukan. Seakan dunia ini adalah segala-galanya. Keterbalikan ini juga terlihat di berbagai segi kehidupan. Laki-laki bergaya seperti wanita dan wanita bergaya seperti laki-laki. Siang dijadikan malam, dan malam dijadikan siang. Orang yang jujur dimusuhi, orang yang suka menipu dipelihara. Orang yang belajar agama merusak agamanya, dan orang yang belajar pada jurusan umum justru berusaha mengamalkan agama.

Dari sini kerancuan definisi terjadi. Termasuk kerancuan definisi dunia dan akhirat. Kini orang-orang banyak yang tidak bangga jika anaknya rajin ke masjid, pandai mengaji, dan aktif di majelis taklim. Mereka bangga bila anaknya sekolah di Amerika, menjadi bankir dan lain sebagainya. Bahkan mereka merasa pesimis terhadap masa depan anaknya jika mereka mondok di sebuah pesantren atau masuk jurusan agama di universitas tertentu. Akibatnya berduyun-duyunlah mereka menuju universitas umum, dengan harapan nanti mereka akan mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal semuanya itu kalau mau disadari secara mendalam, sungguh sangat tergantung kepada takdir.


Alkisah, dalam sebuah perjalanan kembali dari Bogor, menuju Jakarta, di sebuah kereta api, saya (penulis) bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu dengan nada sedih dan penuh pengharapan bercerita bahwa tiga orang anaknya telah sarjana. Satunya sarjana di bidang akuntansi, lainnya, di bidang komunikasi, dan satunya lagi di bidang sosiologi. Tapi sedihnya, - kata ibu itu melanjutkan ceritanya - bahwa sampai sekarang ketiga anak tersebut masih bingung mencari perkerjaan. Di sana-sini ribuan orang mengantri melamar kerja. Begitu panjangnya antrian itu, sampai berdesak-desakan, sikut-menyikut, sogok-menyogok, jilat-menjilat dan seterusnya.

Sungguh dunia memang sebuah perangkap, maka tidak heran makin banyak manusia yang tertipu. Patut kita sadari, bahwa dunia itu hanyalah keperluan. Mengapa harus menyita waktu sedemikian banyaknya, bersikap berlebih-lebihan mengejar keperluan, sampai harus dengan saling membunuh dan berperang? sedangkan tujuan sejati kita lupakan.


Ingatlah bahwa akhirat adalah tujuan kita yang hakiki. Jalan kita di dunia akan terbuka lebar bila kita selalu ingat tujuan hakiki kita, akhirat.

Wallahu a'lam.***

[Ditulis oleh AMIR FAISHOL FATH, Tulisan dari situs http://www.mushollarapi.blogspot.com/]

by

u-must-b-lucky
Setiap Muslim harus berjuang menegakkan nilai-nilai Islam, karena Islam merupakan agama yang harus ditegakkan dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dalam melaksanakan tugas-tugas perjuangan, seorang Muslim dituntut memiliki sifat berani (syajaa'ah) yang sumbernya adalah iman yang istiqamah.
Keberanian diwujudkan dalam banyak hal, di antaranya,
  • Pertama, berani menyatakan yang benar. Kebenaran merupakan sesuatu yang tidak boleh disamarkan atau disembunyikan. Apalagi dicampur-adukkan antara yang hak dan yang batil. Allah SWT. mengingatkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 42,

    وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
    Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.
    Mengatakan yang hak itu memang berisiko, karena mengandung hal yang besar bila ada orang yang tidak menyukainya, apalagi dua hal itu dinyatakan di hadapan penguasa yang dzalim. Namun Rasulullah SAW. bersabda,
    "Katakan yang benar meskipun terasa pahit."
    Dipertegas pula dengan sabdanya yang lain,
    "Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang dzalim."
  • Kedua, berani menghadapi risiko dan menentang kedzaliman. Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu berhadapan dengan risiko, apalagi dalam perjuangan menegakkan dan mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah SWT. dan Rasul-Nya.
    Pun dengan kedzaliman amat berbahaya dalam kehidupan masyarakat, yang tidak hanya menimpa mereka yang berbuat dzalim, tetapi juga masyarakat secara umum.
  • Ketiga, berani menghadapi musuh. Sudah sunatullah, sepanjang sejarah, permusuhan kaum kafir terhadap kaum Muslimin tidak bisa dielakkan.
    Bila terjadi bentuk-bentuk permusuhan termasuk secara fisik, kaum Muslimin harus menunjukkan sifat syajaa'ah atau berani menghadapi musuh-musuh.
  • Keempat, berani mengakui kesalahan. Kesalahan atau khilaf terkadang sering dilakukan oleh setiap orang, termasuk orang yang beriman. Seorang Muslim harus berani mengakui kesalahan yang telah dilakukannya, bahkan harus merasa tidak cukup hanya bertobat secara pribadi.
    Jangan sampai fakta yang sering terjadi, banyak manusia yang bersalah tidak mau mengakui kesalahannya, bahkan berusaha menyembunyikan kesalahan, yang lebih tragis lagi adalah menimpakan kesalahan itu kepada orang lain dengan cara memfitnah. Naudzu-billah....
Sifat syajaa'ah bisa kita miliki jika kita tetap memahami faktor penting yaitu memahami dan mengupayakan hal hanya takut kepada Allah SWT., meyakini kepastian mati, meyakini dan mencintai kehidupan akhirat serta tawakal kepada Allah SWT.

Seperti kita ketahui, jasad atau diri kita ini terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani ini adalah unsur yang dapat dilihat, diobservasi, dianalisis, serta dapat diurai oleh kita sendiri. Kita tahu bahwa jasad ini dibuat dari tanah kholaqol insaana min tiin. Oleh karena itu, sifat tanah sangat nyata bentuknya, dan kebetulan bahwa kita ini secara jasmaniah mempunyai dorongan-dorongan yang sifatnya senang kepada hal-hal yang terbuat dari tanah.

Unsur lain yang memang agak sulit kita deteksi dan diobservasi yaitu unsur rohani. Mengenai unsur rohani ini, Allah SWT. mengatakan bahwa mereka akan bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
"Wa yas aluunaka 'anirruuh, kulirruuh min amri robbi, wamaa uutiitum minal 'ilmi illaa qoliila." "Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah wahai Muhammad, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Israa: 85)

Di dalam diri kita ini, dorongan-dorongan seperti sifat syajaa'ah itu nyata adanya dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa peran jasad itu sangat besar. Apalagi jasad itu diperkuat oleh vitamin, makanan yang bergizi, olah raga, kemudian dibungkus oleh sesuatu yang memang dibutuhkan oleh dirinya.

Rasulullah SAW. bersabda bahwa sikap seperti itu akan mengurangi sifat keserakahan kita. "Alqulibul laatasdaaka mayasda'il hadits qiila wamaa ja'ala ya Rasulullah qoola qiro'atul qur'an wadzikrul maut." Hatimu itu akan berkarat seperti berkaratnya besi. Kata Rasulullah SAW., "Alitsmu mahaka fii-shodrik." Dosa yang kamu perbuat itu akan mengotori dan merusak hatimu. Itulah hal yang membuat bergetarnya hati kita ketika melakukan dosa.

Kata para sahabat, "Ya Rasulullah, wamaaja'aluha?" (Apa obatnya, ya Rasulullah supaya kita tidak terkena kerusakan hati?). Kerusakan hati di sini, lebih bersifat majazi yaitu kita tidak bisa memperoleh serta menerima dan menganalisis kebenaran-kebenaran yang ada di dunia ini. "Wamaaja'ala ya Rasulullah?" (Apa obatnya ya Rasulullah, supaya hati kita itu tidak rusak). Kata Rasulullah SAW.,"Qoola qiro'atul qur'an wadzikrul maut." (Obatnya supaya hatimu terus baik dan bagus serta tidak rusak ialah perbanyaklah membaca Al-qur'anul karim dan dzikrul maut. Yaitu ingat-ingatlah bahwa engkau akan mati).

Oleh karena itu, setiap Muslim tidak akan takut kepada manusia. Dengan penuh keyakinan akan berjuang dan berusaha dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan dan risiko, sehingga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang syajaa'ah (berani) dalam menegakkan dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran!

Wallahu a'lam bisshawab.***

[Ditulis oleh DEDY SUTRISNO AHMAD SHOLEH, alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN. SGD Bandung dan kader Juru Dakwah Jawa Barat tinggal di Cirebon. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 13 Januari 2011 / 19 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky