
Pertama, saya benci kepada Rasulullah dan tidak ada keinginanku pada waktu itu melainkan mendapat kesempatan untuk membunuh beliau, dan andaikata waktu itu saya mati, niscaya saya jadi ahli neraka.
Kedua, Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, lalu saya datang kepada Rasulullah seraya berkata, "Ulurkan tanganmu, saya akan berbai'at kepadamu." Ketika beliau mengulurkan tangannya, maka aku menarik lagi tanganku. Lalu Nabi bertanya, "Mengapakah engkau hai Amru ?" Saya menjawab, "Saya minta suatu syarat." Beliau bertanya, "Syarat apakah itu ?" Saya berkata, "Semua dosa saya diampunkan." Lalu Nabi menjawab, "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu juga menghapuskan dosa-dosa sebelumnya."
Pada tingkatan ketiga ini tidak ada seorang pun yang saya muliakan dan saya kasihi lebih dari Nabi Muhammad SAW., hingga saya tidak berani mengangkat mata di hadapannya karena hebatnya. Maka, sekiranya seseorang bertanya kepadaku sifat Nabi SAW., saya tidak akan sangggup menerangkannya, sebab saya tidak pernah berani memandang beliau sepenuhnya. Sekiranya saya mati ketika itu, niscaya saya mengharapkan surga.
Wallahu A'lam Bish-Shawab.
(Sumber: 1001 Kisah Nyata, Achmad Sunarto)
0 comments:
Post a Comment