Dalam hadits yang populer, Nabi SAW. bersabda,
Innamaa bu'istu li-utammimaa makaarim al-akhlaaqi (Sungguh aku diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak manusia.) (HR. Bukhori-Muslim)

Maka, Nabi Muhammad SAW. menyampaikan ajaran Islam targetnya untuk memperbaiki perilaku manusia yang waktu itu dikenal "jahiliah" (bodoh karena tidak memiliki jiwa atau karakter yang baik dan manusiawi).

Perilaku sosial masyarakat Arab (Quraisy) ketika itu mencerminkan jiwa mereka yang kotor, buruk karena terbelenggu (terjajah) oleh hawa nafsu. Mereka cenderung menjadi budak hawa nafsu. Masyarakat Arab pun terkenal dengan zaman "perbudakan". Kehidupan mereka diukur dengan standar materi (ekonomi). Demikian beratnya kondisi itu sehingga salah satu misi Nabi SAW., meminjam istilah Asghar Ali Engeneer, membawa misi "pembebasan". Demikian bernilainya pembebasan seorang budak, sejumlah pelanggaran terhadap ajaran Islam ada sanksinya (diyat) berupa pembebasan budak. Bahkan, di dalam Al-Qur'an diungkapkan, upaya melakukan pembebasan (memerdekakan) budak bernilai pahala yang amat tinggi di hadapan Allah.

Kemerdekaan adalah hak asasi manusia. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, tanpa memperdulikan warna kulitnya. Tentunya kemerdekaan ini pun tidak bermakna bebas semena-mena tanpa memperdulikan norma hidup sosial. Karena kemerdekaan dalam arti kebebasan seperti itu, justru akan menimbulkan sikap merendahkan manusia atau bangsa lainnya atas nama kebebasan. Perilaku sewenang-wenang, merendahkan martabat orang lain.

Memperbudak orang lain tidak akan pernah terjadi jika jiwanya sudah merdeka dari penjajahan hawa nafsu. Orang memperbudak orang lain karena jiwanya memiliki ego yang tinggi untuk mengatur dan mengendalikan orang lain. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi budaya perbudakan sebagai salah satu produk masyarakat jahiliah.

Puasa dan Pembebasan Diri

Puasa hakikatnya memerdekakan diri dari jajahan nafsu sendiri. Nafsu keserakahan terhadap materi disimbolkan makanan dan minuman serta nafsu menguasai lawan jenis (nafsu syahwat). Nafsu-nafsu tercela itu merupakan nafsu hewani (bahimiyah) yang bila dituruti akan merusak tatanan kesehatan diri dan sosial. Memerdekakan diri dari jajahan hawa nafsu sendiri bukanlah pekerjaan ringan. Memerlukan kesungguhan yang hebat (jihad). Ini sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi SAW.,
"Kita baru pulang dari jihad kecil (Perang Badar) menuju jihad besar." Para sahabat heran dan bertanya, "Apa itu ya Rasul ?" Rasul menjawab, "Kita memasuki perang melawan hawa nafsu."

Orang yang bisa menundukkan hawa nafsu dirinya niscaya akan mampu mengendalikan orang lain. Misalnya, orang mendzalimi orang lain sesungguhnya itu menunjukkan dirinya kalah mengendalikan nafsu. Orang iri dan dengki sesungguhnya menunjukkan bahwa dirinya kalah oleh hawa nafsunya. Orang berlaku serakah memakan harta hak orang lain, amanat rakyat, korupsi misalnya, itu karena dirinya kalah oleh hawa nafsunya.

Alkisah, suatu waktu seorang perempuan membentak-bentak hamba sahayanya. Padahal, ketika itu bulan Ramadhan. Nabi SAW. menyaksikan kejadian itu. Lalu Nabi mengambil sepotong roti dan memberikan kepada perempuan itu seraya berkata, "Makanlah roti ini." Perempuan itu terperangah kaget dan menjawab, "Wahai Nabi, aku sedang berpuasa, mana mungkin aku makan roti itu." Dengan santun beliau bersabda, "Banyak orang berpuasa, tetapi hanya memperoleh lapar dan dahaga. Mereka hanya mendapatkan haus dan lapar karena dirinya tidak bisa mengendalikan jiwanya (nafsunya)."

Berpuasa hanya berhenti secara syariat fiqh, dari makan dan minuman yang membatalkan puasa. Sementara mata, telinga, mulutnya, anggota badan, pikiran dan hatinya tidak dilibatkan berpuasa.

Jika demikian kita jangan heran, puluhan kali berpuasa seumur hidup tetapi perubahan hidup (sosial) tidak mengalami peningkatan kualitas amal. Sebab, puasa tak lebih jadi budaya. Bukan dasar iman dan ilmu (perhitungan). Pantaskah kita mengharap-harap ampunan-Nya ? Sebagaimana sabda Nabi SAW.,
Siapa yang puasa dengan dasar iman dan perhitungan (ilmu), niscaya diampuni dosa-dosa lalunya. (HR. Bukhori-Muslim)

Saat Ramadhan, para founding father NKRI dan para pejuang bangsa ini berhasil pula memerdekaan bangsa ini dari kolonial Belanda yang berabad-abad sudah bercokol, tepat pada Jumat, 10 Ramadhan, 17 Agustus 1945.

Padahal, secara fisik, mereka hanya bersenjatakan bambu mncing, sedangkan bangsa penjajah sudah bersenjata mesin. Apakah bambu runcing itulah yang memiliki "kekuatan" ? Sesungguhnya bukan bambu runcing yang lebih kuat daripada senjata mesin, tetapi kekuatan spirit para pejuang bangsa inilah yang mendorong lahirnya kemerdekaan. Dengan rendah hati, para pejuang bangsa ini berkata, "Atas berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Esa." Mereka menyadari adanya usaha perjuangan dan kehendak Yang Mahakuasa. Rupanya kesadaran demikian muncul karena para pejuang waktu itu yang mayoritas Muslim sedang menjalankan ibadah puasa.

Sejak merdeka, waktu sudah bergulir 66 tahun. Lebih 60 kali pula bangsa ini menjalani puasa, Sekarang kita pun sedang menjalaninya. Sejatinya kita sama-sama berintrospeksi diri. Apa yang sudah kita berikan untuk kemajuan umat dan bangsa tercinta ini sehingga cita-cita founding father kita, kakek-nenek kita, orang tua kita yang berpayah-payah mencapai kemerdekaan demi pewarisnya (anak-cucu, keturunannya) bisa diwujudkan. Ataukah sebaliknya, sadar atau tidak, malah kita merobek bendera kehormatan mereka karena ketidakberdayaan kita merawat warisan orang tua (kemerdekaan ini) dengan mental pengecut ?

Salah satunya, kita tidak mencintai produk bangsa sendiri, malu dengan hasil karya sendiri. Sebaliknya lebih punya gengsi dengan produk bangsa lain, padahal produk bangsa sendiri ada. Padahal, salah satu
founding father kita, Bung Karno pernah menyatakan, bangsa ini harus berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Sebuah ungkapan yang mengisyaratkan jiwa merdeka.

Semoga kita bisa menangkap spirit Ramadhan dan kemerdekaan bangsa ini. ***


[Ditulis oleh S. RAHMAT SELAMET, Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat (Sekbid Dakwah) dan Majelis Pendidikan Kader PW. Muhammadiyah Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 12 Agustus 2011 / 12 Ramadan 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by


u-must-b-lucky
Syahdan pada suatu masa, hidup seorang syekh yang sangat sederhana, bahkan cenderung memelas di jazirah Arab. Syekh itu dikenal dan dicintai oleh masyarakat bukan karena harta dan tampannya, melainkan budi pekertinya. Sehari-hari, ia adalah seorang nelayan yang pergi menangkap ikan di laut.

Sepulangnya dari laut, sang syekh langsung membersihkan ikan hasil tangkapannya. Semua daging ikan dibagikan kepada para kerabat dan tetangga, sedangkan kepala dan tulang ikan disisakan untuk dimakan sendiri. Karena sifatnya begitu sosial dan hanya memakan kepala ikan, maka ia dikenal dengan panggilan syekh kepala ikan.

Syekh adalah seorang sufi, menggelar pengajian dan mempunyai banyak santri. Setelah kembali dari melaut, ia berubah fungsi menjadi guru ngaji. Suatu ketika, menjelang masa liburan, seorang santrinya ingin pergi ke Mursia (Spanyol), yang secara kebetulan sang syekh pernah berguru di sana.

Ketika santrinya menyampaikan hasrat untuk pergi ke Mursia. "Di sana ada guruku, dan tolong kamu mampir ke tempat guruku nanti," kata syekh kepala ikan. Hari pun berlalu dan berganti bulan. Sang santri pergi ke Mursia dan tidak lupa mampir ke rumah guru syekh kepala ikan.

Apa yang terjadi ? Santri terkejut karena ternyata ia sudah berada di sebuah rumah yang mirip istana. Mungkinkah seorang sufi hidup di rumah demikian megah dengan segala ornamen, pelayan cantik, dan sajian yang begitu lezat ?

Masih dalam keadaan kebingungan mencari jawaban, setelah menyantap hidangan, santri pun berpamitan pulang. Sang empunya rumah berkata, "Bagaimana ? Apa kabar gurumu syekh kepala ikan itu ?" "Alhamdulillah sehat, salam dari guru kami syekh kepala ikan," jawab santri. Lantas sang empunya rumah itu berkata, "Sampaikan salam saya, dan katakan kepada gurumu jangan terlalu memikirkan dunia."

Ucapan guru syekh kepala ikan terakhir ini membuat santri semakin bingung sepanjang jalan saat pulang dari Mursia. Mungkinkah seorang yang begitu kaya raya pantas mengatakan kepada orang miskin dan bersahaja agar ia jangan terlalu memikirkan dunia ? Lebih membingungkan lagi, ketika ucapan gurunya disampaikan kepada syekh kepala ikan, ia mengatakan ucapan gurunya itu benar. "Menjalani hidup sebagai seorang sufi bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh harta, dan tetap terpaut kepada Allah," ucap syekh kepala ikan.

Kemudian diketahui, syekh akbar gurunya syekh kepala ikan adalah Muhyi al-Din Ibn 'Arabi, seorang sufi besar dan cukup cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf. Kisah itu secara tegas menggambarkan dua hal.
  • Pertama, menjadi orang kaya tidak berarti harus jauh dari kehidupan sufi.
  • Kedua, menjadi seorang miskin tidak otomatis mendekatkan dia pada kehidupan sufistik.
Kita sepakat, kehidupan tasawuf adalah membiarkan tangan sibuk mengurus dunia, hati sibuk mengingat Allah SWT. Kegiatan duniawi tidaklah buruk, yang buruk itu adalah gara-gara kegiatan duniawi membuat lupa dan abai kepada Allah SWT.

Memang selama ini telah terjadi perdebatan,
Mana yang lebih baik orang kaya yang selalu bersyukur serta membantu kepentingan orang banyak, atau orang miskin yang sabar dengan kemiskinannya ?

Rasulullah SAW. pernah bersabda,
Sebaik-baik umatku adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Sungguh sayang, mencari figur seperti syekh kepala ikan saat ini begitu sulit, bahkan tidak ada sama sekali. Yang ada adalah orang-orang yang menggendutkan perutnya sendiri di tengah begitu banyak rakyat jelata.

Cukup sulit juga untuk mencari orang seperti Muhyi al-Din Ibn 'Arabi, yang tangannya di atas membantu orang tanpa pamrih. Kalaulah perilaku dan pribadi seperti kedua mereka banyak hadir di tengah proses pembangunan bangsa, rasanya kondisi kita tidak akan separah ini.

Begitu banyak harta rakyat lenyap dirampok mereka yang tidak bertanggung jawab. Padahal, bila dana itu utuh, baik dalam proses pemungutan maupun pendistribusiannya, tentu bermanfaat bagi pembangunan dan peningkatan peradaban manusia.

Semoga Ramadhan ini mampu mengetuk hati mereka, bahwa bermanfaat bagi orang lain adalah manusia terbaik di kaki langit ini.

Semoga.***

[Ditulis oleh SOEROSO DASAR, dosen, peneliti senior, Penasihat Majlis Dzikir dan Do'a Masjid Nurul Qolbi Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 11 Agustus 2011 / 11 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by


u-must-b-lucky
Dosa pertama yang dilakukan manusia bukanlah karena kesombongan, melainkan karena nafsu terhadap makanan. Hal ini dilakukan Adam AS. sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. ketika ia dan istrinya berada di surga. Allah SWT. mempersilakan mereka memakan makanan apa pun yang ada di surga, kecuali satu, yaitu buah dari suatu pohon yang dilarang oleh Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT. berfirman,

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Baqarah : 35)

Hawa nafsunya terhadap makanan menjadi jalan bagi setan untuk menggoda dan merayu Adam AS. untuk memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah SWT. Bisikan dan rayuan setan kepada Adam AS. ini diceritakan oleh Allah SWT. di dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman-Nya,

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ
Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata: 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?' (QS. Thaha : 120)

Akhirnya, Nabi Adam AS. tidak kuasa menahan gejolak nafsunya terhadap makanan, kemudian ia mengambil dan memakan buah dari pohon yang dilarang itu. Allah SWT. berfirman,

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: 'Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.' (QS. Al-A'raf : 22)

Inilah dosa pertama yang dilakukan manusia yang menjadi sebab Nabi Adam AS. dan Hawa keluar dari surga. Ketika mereka berada di bumi, mereka bertobat atas dosa yang telah dilakukannya yang kemudian Allah SWT. menerima tobatnya. Allah SWT. berfirman,

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 37)

Hal ini pun terus terjadi kepada anak cucu Adam sampai sekarang dan bahkan sampai kiamat tiba. Nafsu terhadap makanan dan nafsu untuk memenuhi perut menjadikan seseorang dapat melanggar berbagai larangan Allah SWT.

Shaum adalah ibadah yang sudah lama disyariatkan oleh Allah SWT., bukan hanya kepada umat Nabi Muhammad SAW., tapi diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya, sejak zaman Nabi Adam AS. Sebagaimana Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 183)

Menurut syara, pengertian shaum adalah menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Ibadah shaum merupakan sarana yang diberikan Allah SWT. agar manusia terhindar dari dosa pertama yang dilakukan manusia. Inti dari ibadah shaum adalah pengendalian diri, termasuk pengendalian diri dari nafsu terhadap makanan. Bahkan, makanan halal pun tidak boleh kita makan sebelum datang waktu berbuka. Kita dididik untuk dapat menahan diri dari memakan makanan yang berlebihan ketika berbuka dan menahan diri agar tidak mengonsumsi makanan yang dilarang atau diharamkan oleh Allah SWT.

Shaum juga mengajarkan kita untuk menahan diri dari memakan makanan yang diperoleh dengan cara yang batil. Sebagaimana Allah SWT. berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 188)

Dengan shaum pula, kita diajarkan untuk tidak memakan makanan dari harta riba. Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali Imran : 130)

Begitu juga, shaum melarang kita untuk memakan harta anak yatim dengan cara yang tidak benar. Sebagaimana Allah SWT. berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. An-Nisa : 10)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Jauhilah tujuh hal yang dapat membinasakan." Para sahabat berkata, "Apa ketujuh hal tersebut wahai Rasulullah ?" Rasulullah SAW. bersabda, "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri saat perang, dan menuduh berzina kepada wanita yang suci, beriman, dan lupa (lupa dari maksiat)." (Muttafaqun alaih)

Dengan shaum kita diajarkan tidak mengonsumsi makanan hanya untuk diri sendiri, tetapi hendaknya kita pun memberi makanan kepada orang lain, terutama kepada fakir dan miskin.

Saat ini kita berada pada bulan Ramadhan. Marilah kita gunakan kesempatan ini untuk melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya agar dapat mendidik diri kita dalam mengendalikan nafsu kita, terutama nafsu terhadap makanan.

Wallahu a'lam.***

[Ditulis oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW.7 Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung, alumnus Pontren KH. Zaenal Musthofa Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya. Tulisan disalin dari Hraian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 11 Agustus 2011 / 11 Ramadan 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab RA., pernah terjadi musim kemarau panjang. Dampak fenomena alam itu amat dirasakan oleh masyarakat kebanyakan, termasuk penduduk Madinah. Tak mengherankan jika persediaan kebutuhan pokok di pasaran mulai langka.

Selain sulit didapat, harganya pun saban hari terus merangkak naik. Dampaknya, semakin menyulitkan masyarakat akar rumput untuk menjangkaunya.

Kondisi kehidupan yang sudah berat itu tidak jarang diperparah ulah para spekulan, yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Mereka mengeksploitasi keadaan untuk meraup keuntungan besar. Misalnya, dengan cara menimbun atau mempermainkan harga barang yang dibutuhkan orang banyak. Agaknya mereka tidak sadar, derita lapar masyarakat bawah tersebut, pada gilirannya akan berubah menjadi penyesalan yang tiada akhir kelak di alam akhirat. Untuk mereka dan masyarakat kelas atas lainnya, elok sekali jika mau mendengar peringatan Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah berikut ini. Sahabat yang dijuluki oleh Rasulullah SAW. sebagai pintu ilmu itu pernah mengatakan,
Innallaha Subhanahu faradha fi amwal al-aqhniya aqwat al-fuqara. Fa ma ja 'a faqir illa bima mutti 'a bihi ghaniyyun. Wallahu Ta 'ala sa'iluhum 'an dzalik (Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian untuk fakir miskin dalam harta kaum hartawan. Tiada seorang pun di antara mereka menderita kelaparan, melainkan hal itu disebabkan kelebihan kemewahan dalam cara hidup kaum berada. Padahal, kelak Allah SWT. niscaya akan menuntut pertanggungjawabannya dari mereka.)

Namun, masyarakat Madinah sedikit beruntung saat itu. Sebab, di tengah para pengusaha yang cinta dunia, masih ada satu dua saudagar yang berhati emas. Mereka tidak menganggap perniagaan sebagai usaha mengejar keuntungan duniawi semata, melainkan juga sebagai sarana meraih kebahagiaan ukhrawi.

Dengan kata lain, dunia bisnis bagi mereka tak lain hanya kendaraan tunggangan yang akan mengantarkan ke bumi kebahagiaan kelak di seberang makam. Maka, ketika menyaksikan kesusahan orang lain, mereka tidak melihat hal itu sebagai ajang untuk mengakumulasikan modal. Alih-alih yang demikian itu justru mereka jadikan sebagai kesempatan untuk meraih keridhaan Allah SWT. Dari sedikit pebisnis yang mempunyai atribut seperti itu adalah Utsman bin Affan. Peristiwa di bawah ini merupakan indikasi dari seorang pengusaha yang lebih banyak digerakkan oleh motif karitatif, ketimbang nafsu eksploitatif.

Ketika itu kesulitan hidup masyarakat Madinah sudah sampai ke puncaknya. Dalam keadaan demikian, tibalah kafilah Utsman bin Affan dari negeri Syam. Kafilah itu terdiri atas ratusan ekor unta, sarat dengan barang dagangan yang menjadi hajat orang banyak.

Kedatangannya terang saja diketahui oleh para saudagar Madinah. Tidak heran, hampir semua orang segera menjemput dan menyambutnya.

Tampaknya mereka berpikir, jika barang dagangan itu jatuh lebih dahulu ke tangannya sebelum sampai ke tangan konsumen, hasrat untuk memperoleh keuntungan berlimpah tidak akan menjadi impian semata, melainkan mewujudkannya menjadi kenyataan. Singkat cerita, tatkala para saudagar dan Utsman bin Affan telah berhadap-hadapan, terjadilah tawar-menawar.

Para saudagar berkata, "Wahai Utsman ! Juallah barang-barang itu kepada kami ! Kami jamin, engkau akan mendapatkan keuntungan yang lumayan dari kami."

"Baiklah jika tuan-tuan berminat ! Berapa besar tuan-tuan akan memberikan keuntungan kepadaku ?" jawab Utsman bin Affan. Salah seorang saudagar mengatakan, "Cukuplah rasanya jika kami memberikan keuntungan sebesar lima persen dari harga modal."

Utsman bin Affan bertanya lagi, "Masihkah ada di antara Tuan-tuan, yang bersedia memberikan keuntungan lebih dari itu ?" Setelah para saudagar itu berembuk, kemudian berkata, "Kalau Anda masih ingin berlebih, baiklah akan kami berikan tambahan sebesar sepuluh persen."

Utsman bin Affan masih terus bertanya, "Masihkah ada yang berani memberiku laba lebih dari sepuluh persen ?"

Para saudagar menjawab nyaris secara bersamaan, "Mana ada yang berani memberimu keuntungan lebih tinggi lagi dari sepuluh persen ? Bukankah kami yang hadir di sini adalah para pedagang Madinah ? Wahai Utsman ! Kiranya perlu Anda ketahui, tidak seorang pun pedagang yang masih tinggal di kota. Jadi, tidak ada lagi yang akan memberikan keuntungan lebih tinggi dari penawaran yang kami ajukan."

Utsman bin Affan lantas berkata, "Jika memang di antara Tuan-tuan tidak ada yang sanggup lebih dari itu, tidak masalah. Namun, aku akan tetap menjualnya kepada pihak yang bersedia memberikan laba kepadaku lebih dari keuntungan yang Tuan-tuan janjikan. Bahkan, Tuan-tuan harap maklum, pembeli yang satu ini menjanjikan keuntungan bukan hanya puluhan persen, tetapi hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Tahukah Tuan-tuan, siapakah pedagang yang aku maksudkan itu ? Dialah Allah SWT., Tuhan Yang Mahakaya. Oleh karena itu, biarkanlah aku berjualan dengan Allah saja !"

Sampai di sini Utsman berbicara. Selanjutnya ia meminta yang hadir untuk menjadi saksi. Bahwa, seluruh barang dagangan yang dibawa dari negeri Syam itu akan dibagikan cuma-cuma kepada penduduk Madinah yang membutuhkan. Sungguh mengharukan !

Utsman bin Affan tentu saja paham Al-Qur'an. Tampaknya Utsman berhasrat meraih pahala, seperti yang dijanjikan Allah SWT. dalam firman-Nya,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 261)

Siapa berani menyangkal jika dikatakan, pada zaman kiwari pedagang seperti itu sudah menjadi manusia langka. Lebih-lebih pada bulan Ramadhan, ketika kaum Muslim membutuhkan barang yang nyaris seragam dalam waktu yang hampir bersamaan. Simaklah berita di pelbagai media ! Betapa bulan Suci ini mereka jadikan sebagai ladang subur untuk mengeruk untung. Tidak hirau dengan beban kehidupan yang semakin mengimpit masyarakat banyak.

Meungpeung marema, adalah padanan paradigma bisnis memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Memang, tidak perlu menjadi pedagang seperti Utsman bin Affan. Namun, paling tidak, tidak berorientasi terhadap keuntungan keduniaan semata. Sisakanlah rongga di dada untuk diisi oleh hasrat mendapat pahala akhirat. Jika tidak demikian, jangan salahkan siapa-siapa jika keberkahan Allah SWT. belum berpihak kepada kita. ***

[Ditulis oleh A. HAJAR SANUSI, M.Ag, Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Rabu (Kliwon) 10 Agustus 2011 / 8 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by


u-must-b-lucky
Mendadak saya ingat anak-anak Somalia yang hari ini dirajam kelaparan. Tulang iganya yang nyaris mencuat, menembus kulit tipis, sungguh meremukkan hati. Sebagian bertahan hidup, tapi juga ribuan akhirnya meregang nyawa. Terik matahari yang membakar, ditimpali tanah tandus berdebu, melengkapi betapa ekstrim kehidupan bocah-bocah Somalia. Jika bayangan itu terlintas, sungguh agak berat tenggorokan menelan sesuap nasi.

Tapi, Somalia itu amat jauh di benua Afrika. Kita, sulit menjangkaunya andai ingin berbagi sepiring nasi, Namun tragedi kelaparan yang mengerikan itu, tetap membawa pesan kemanusiaan pada umat manusia di berbagai belahan bumi. Yakni, bersyukurlah dengan apa yang terhidang hari ini di meja makan. Meski hanya nasi putih dengan garam.

Jerit kelaparan bocah Somalia, juga perlu menyadarkan diri agar hidup tidak rakus, serakah, dan selalu kurang. Sebuah bangsa juga perlu sadar, agar hati-hati mengelola kekayaan negara. Pemimpin, wakil rakyat, dan pemangku kebijakan, juga perlu sadar diri, bahwa nestapa bocah Somalia, tak muskil terjadi di Indonesia yang subur dan hijau ini. Jika tata kelolanya makin hancur, korupsi terus membudaya, dan penguasa berkhianat pada amanat rakyat. Bukankah dalam sejarah, bangsa ini juga pernah dirajam paceklik yang menciptakan kelaparan di seantero negeri.

Air mata bocah Somalia, juga menasehati agar nurani ini hidup. Panca indera jangan dimatikan agar tak ada anak tetangga kita yang kelaparan. Kita bisa belajar pada rumput di halaman rumah, yang selalu dipangkas tiap daunnya lebat. Rumput itu, tak akan mati karena dipotong, tapi ia tumbuh makin subur. Demikianlah sejatinya, makna berbagi dan memberi pada orang lain atas harta yang kita miliki. Seorang bijak berkelakar, uang seribu tak akan bikin melarat karena disedekahkan, juga tak akan menambah kaya karena disimpan.

Sudah menjadi bagian dari sunatullah, di dunia ini selalu ada kesenjangan. Kemiskinan itu ada, pada hakikatnya karena ada orang kaya, dan diperuntukkan bagi orang-orang miskin. Mereka terlihat baik dan buruk amalnya, dari caranya memperlakukan fakir dan miskin. Niscaya tidak akan ada arti dan maknanya, harta melimpah jika tidak ada orang-orang miskin.

Dari sudut keimanan, orang kaya memandang saudara-saudara mereka yang tidak beruntung sebagai berkah, ladang baginya untuk menumpuk amal shaleh. Bukan sebaliknya, fakir-miskin dipandang sebagai lalat-lalat pengganggu.

Sikap yang indah ini, terlihat dalam pola interaksi Rasulullah dengan para sahabatnya yang mayoritas bekas budak, kalangan gembel yang lusuh penampilannya dan tidak nyaman aromanya.

Ketika Nabi masuk ke majelis memilih duduk dalam kelompok orang miskin. Kerapkali Rasulullah berkata,
Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka, Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa amalnya.

Namun, Rasulullah juga telah bersabda,
"Orang yang miskin itu bukanlah orang yang berjalan ke sana sini meminta-minta kepada manusia, kemudian diberikan dengan sesuap dua makanan dan sebiji dua buah kurma." Para Sahabat bertanya, "Kalau begitu siapakah orang miskin yang sebenarnya wahai Rasulullah ? Nabi bersabda, "Orang yang tidak mendapati kesenangan yang mencukupi buatnya, tetapi mereka tidak tahu karena kesabaran dia menyembunyikan keadaannya dan tidak meminta-minta kepada orang lain, dia akan diberikan sedekah tanpa dia meminta dari orang lain." (HR. Bukhari, Muslim, Nasai)

Saat ini semua umat Muslim tengah mendaras makna puasa Ramadhan. Dalam kelaparan seharian banyak hikmah dipetik agar kualitas hidup ke depan lebih baik, berkah, dan diwarnai nilai-nilai keberpihakan pada kaum lemah. Lapar sehari belum sebanding dengan laparnya bocah-bocah Somalia yang berbulan-bulan tanpa asupan hidup. Hingga tampaklah kering tulang iganya dan lemah tubuhnya, kemudian maut membayanginya.

Kita bisa mengasah nilai-nilai puasa Ramadhan dengan belajar pada tragedi-tragedi kemanusiaan. Agar hidup lebih syukur, tidak egois, dan jauh dari budaya pelit.

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh SUNARYO ADHIATMOKO, tulisan disalin dari Harian Umum "KORAN TEMPO" Edisi No. 3610 - Kamis, 4 Agustus 2011]

by


u-must-b-lucky
Diriwayatkan seorang pejalan kaki menderita kehausan yang amat sangat. Kebetulan ia menemukan sumur berisi air jernih, tetapi sangat dalam. Dengan bersusah payah, ia menuruni sumur tersebut, hingga berhasil menyeduk air dan meminumnya hingga puas.

Begitu naik lagi ke atas, tampak olehnya seekor anjing. Menjilat-jilat tanah sekitar bibir sumur, sekadar untuk menghilangkan rasa haus yang menderanya.

"Anjing itu pasti merasakan penderitaan yang sama dengan aku tadi," pikir pejalan kaki yang sudah kembali segar bugar. "Aku perlu menolongnya."

Segera ia turun lagi ke dalam sumur. Meskipun amat susah payah meniti dinding lubang sumur yang licin dan curam, ia terus berupaya. Semata-mata karena niat ikhlas ingin memberi minum seekor anjing yang kehausan. Setelah sampai di bawah, ia menyeduk air dengan terompahnya. Susah payah membawanya ke atas, dan memberikannya kepada anjing yang sudah tergeletak tak berdaya.

Alhamdulillah, anjing itu tertolong juga. Luput dari maut, berkat seteguk air dari terompah pejalan kaki yang murah hati. Anjing itu menatap pejalan kaki, seolah-olah mengucapkan terima kasih tak terhingga. Dan Allah SWT. juga ikut berterima kasih serta mengampuni segala dosa masa lampau pejalan kaki itu.

Beberapa sahabat yang mendengar kisah itu melalui penuturan Abu Hurairah, bertanya kepada Rasulullah SAW. "Apakah kita akan mendapat pahala karena berbuat baik kepada hewan, ya Rasulullah ?"

Rasulullah SAW. menjawab, "Setiap perbuatan baik kepada setiap yang hidup, ada pahalanya."

Syaik Ali Najif asy Syuhud, penulis kitab Al Khulashatufi Fadlailul Amal (Edisi 2011) menyatakan, hadits tentang pejalan kaki memberi minum anjing, adalah sahih. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (mutafaq alaihi). ***

[Ditulis Oleh H. USEP ROMLI H.M., guru ngaji di pedesaan Cibiuk, Garut, pembimbing ibadah haji dan umrah BPHU Megacitra / KBIH Mega Arafah, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Wage) 9 Agustus 2011 / 9 Ramadhan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Seorang Muslim yang biasa hidup berkecukupan, segala keinginannya mudah terkabul. Tidak kesulitan memikirkan makanan, pakaiannya beraneka ragam, tinggal di rumah mewah dengan fasilitas serba menyenangkan, dan memiliki kendaraan yang siap mengantar ke mana saja ia mau pergi.

Sebagai seorang Muslim yang beriman, ketika ia menunaikan ibadah shaum Ramadhan, ia harus ikut merasakan penderitaan saudaranya yang serba kekurangan. Saat ia menahan lapar dan haus, harus teringat kepada mereka yang kelaparan karena beban ekonomi yang menghimpit. Saat berbuka shaum, dengan hidangan beranekamacam bahkan biasa kuliner ke restoran-restoran berkelas, pernahkah ia mengingat saudaranya, tetangganya yang berbuka dengan makanan seadanya ? Saat ia memborong pakaian di mal-mal, terpikirkah orang yang membutuhkan pakaian sekadar penutup aurat ?

Allah SWT. menyebut orang yang tidak suka memberi makan orang miskin sebagai pendusta agama sebagamana firman-Nya,
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Al Ma'un : 1-3)

Rasulullah SAW. pun mengingatkan kita dalam haditsnya,
Demi Allah yang diriku ada di tangan-Nya, tidak dinamakan beriman seseorang sehingga ia menyukai buat tetangganya seperti ia suka buat dirinya. (Muttafaq Alaih)

Melalui momentum shaum Ramadhan 1432 H. ini, terbuka lebar kesempatan untuk bersedekah serta menebar amal. Islam mengajarkan umatnya untuk saling tolong menolong di antara sesama, dalam rangka menjalankan kebaikan dan meraih ketaqwaan. Bulan Ramadhan disebut juga syahrul muwasaat, artinya bulan pertolongan. Dengan ibadah shaum, para pelakunya diharapkan turut merasakan penderitaan orang-orang fakir miskin sehingga melahirkan keinginan untuk menolong dengan cara menyisihkan sebagian hartanya atau bersedekah kepada mereka.

Kini semakin banyak orang-orang yang berada di garis kemiskinan akibat berbagai bencana yang lalu serta sistem perekonomian yang tidak menentu dan tidak berpihak kepada rakyat jelata. Sementara itu, sebagian golongan dari kita hidup dalam kemewahan, tidak terpengaruh dengan lonjakan harga-harga kebutuhan sehari-hari. Terbukti di jalan-jalan sangat macet dengan kendaraan, di mal-mal serta di pusat-pusat perbelanjan berjejal orang yang berbelanja perlengkapan lebaran, mulai dari sandang, pangan hingga perabotan ruman tangga, dan kendaraan pun diganti yang baru. Acara wisata ke luar negeri atau dalam negeri pasca Lebaran pun sudah di susun jauh-jauh hari.

Hal tersebut bukan tidak boleh apalagi diharamkan, tetapi sudahkah kita memberikan hak fakir miskin dari harta kita ? Sesungguhnya ajaran Islam tidak melarang hidup bergelimang dengan kemewahan dan kemegahan, bahkan kita diperintahkan untuk bekerja keras mencari harta, ilmu, pengaruh, juga kedudukan, asalkan semua yang kita usahakan itu dalam rangka mencari ridha Allah dan berada dalam koridor nilai-nilai kebenaran.

Ingatlah, di dalam harta kita terdapat hak fakir miskin. Tidak inginkah kita menyimpan sebagian harta yang kita miliki untuk tabungan kehidupan di akhirat kelak ? Ingat, sebenarnya kita bukan menolong mereka, karena segala pemberian berupa zakat, infaq, sedekah adalah masih milik kita tetapi kita titipkan kepada Allah SWT. melalui fakir miskin. Oleh karena itu, keimanan, ketaqwaan, dan keikhlasan harus menjadi landasan utama amal ibadah tersebut. Zakat, infaq, dan sedekah akan batal, tidak akan mendapat pahala kebaikan di hadapan Allah bila diikuti dengan riya dan hinaan.

Menolong atau bersedekah pada bulan Ramadhan insya Allah akan Allah lipat gandakan pahalanya, lebih besar daripada bulan-bulan biasa. Permasalahannya, bagi orang yang ditakdirkan Allah menjadi orang kaya bisa bersedekah dengan hartanya, lantas bagaimana dengan orang yang tidak punya ? Apakah mereka mempunyai kesempatan untuk bersedekah ?

Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW. menjelaskan,
"Setiap jiwa harus bersedekah setiap hari." Abu Dzar yang terkenal miskin bertanya kepada beliau, "Haruskah saya bersedekah, padahal saya tidak punya harta ?" Jawab beliau, "Sesungguhnya di antara pintu-pintu sedekah ialah membaca takbir, subhaanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallaah, dan astagfirullah. Juga bila Anda menyuruh berbuat baik dan mencegah yang jahat, menghindarkan duri, tulang, dan batu dari tengah jalan, menuntun orang yang buta, mengajari yang tuli dan bisu hingga ia mengerti, menunjuki orang yang menanyakan sesuatu keperluan yang Anda ketahui tempatnya, dengan kekuatan betis berjalan membantu orang yang malang meminta tolong, dan dengan kekuatan lengan mengangkat barang orang yang lemah, semua itu merupakan pintu-pintu sedekah, yakni dari dirimu untuk dirimu pribadi." (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW. juga bersabda,
"Siapa yang mampu di antaramu untuk bersedekah, maka lakukanlah, walaupun dengan sebiji kurma, siapa tidak punya harta, maka dengan kalimah thayyibah" (HR. Muslim)

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan pahala, juga bulan di mana Al-Qur'an diturunkan. Oleh karena itu, bulan ini dinamai "bulan suci". Sungguh merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Pada bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman tidak hanya diwajibkan menunaikan shaum, menahan lapar, dan dahaga, tetapi lebih dari itu, mereka dituntut agar mengisinya dengan berbagai aktivitas positif yang diridhai-Nya.

Di antara kegiatan positif yang semestinya dilakukan umat Islam ketika bulan Ramadhan, antara lain sedekah sebagai wujud kepedulian sosial untuk turut mengentaskan kemiskinan yang terus merongrong mayoritas masyarakat kita. Diintensifkannya tadarus dan tadabur Al-Qur'an untuk memperkuat aqidah, pemahaman, serta pengamalan amal ibadah kita. Tidak ditinggalkannya qiyamu Ramadhan (shalat Tarawih), apalagi shalat fardu. I'tikaf berdiam di masjid selama sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk fokus beribadah mendekatkan dan introspeksi diri kepada Allah SWT., sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Wallahua'lam.***

[Ditulis oleh H. EDDY SOPANDI, peserta majelis taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqon UPI, Istiqomah, Viaduct, Salman ITB. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 5 Agustus 2011 / 5 Ramadhan 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Apabila kita membaca kitab-kitab fiqh, sesungguhnya hanya sedikit perbuatan yang membatalkan shaum (puasa), yakni makan, minum, berhubungan seks, haid atau nifas, serta gila atau hal serupa dengannya. Namun, kita harus merenungkan sebuah pertanyaan besar, apakah shaum kita diterima Allah SWT. ? Apakah shaum kita telah mampu meningkatkan kualitas iman dan ketaqwaan ? Hal itu disebabkan banyak perbuatan yang tidak membatalkan shaum, tetapi mengurangi nilai dan pahala puasa.

Rasulullah SAW. bersabda,
Ada lima perkara yang dapat mengurangi nilai puasa yaitu berdusta atau berkata bohong, memfitnah, bersumpah palsu, membicarakan orang lain, dan melepaskan pandangan kepada sesuatu yang diharamkan.

Imam Al Ghazali membagi orang-orang yang shaum ke dalam tiga tingkatan.
  • Pertama, orang yang shaum dengan sekadar berhenti dari perbuatan yang membatalkan puasa, seperti tidak makan dan minum serta berhubungan badan. Secara fiqh termasuk sah. Namun, kita perlu merujuk kepada sinyalemen Rasulullah yang menyatakan,
    Banyak orang yang shaum, tetapi sekadar mendapatkan lapar dan dahaga.
  • Kedua, tingkatan orang shaum yang meninggalkan perbuatan yang membatalkan puasa dan berhenti dari perbuatan-perbuatan dosa yang tampak. Bukan hanya mulut yang shaum, melainkan juga kaki, tangan, mata, telinga, dan anggota tubuh lainnya.
  • Ketiga, tingkatan shaum terbaik ketika orang tersebut menjaga imajinasi, fantasi, perasaan, dan pikirannya agar tetap dalam koridor shaum. Dia tidak pernah berpikir buruk dan melamunkan sesuatu yang jelek.
Untuk menjadikan shaum menjadi tingkatan terbaik dan kualitas tertinggi ajaran Islam mengajarkan agar kaum Muslimin mengiringi ibadah shaum dengan ibadah-ibadah lainnya. Selama shaum harus menjaga lisan. Sibukkan diri kita dengan membaca Al-Qur'an, membaca buku-buku yang baik, mengikuti pengajian, belajar bersedekah, dan lain-lain.

Kaum Muslimin harus ingat, shaum merupakan urusan pribadi antara hamba dengan Allah, seperti dinyatakan dalam hadits qudsi. Bisa saja terjadi "gaji" yang akan kita terima selepas shaum dilipatgandakan Allah, tetapi dapat pula terjadi sebaliknya, kita tidak mendapatkan "gaji" karena shaum yang kita laksanakan sebatas gugur kewajiban. Kita asal-asalan melaksanakan perintah dari Sang Pemilik alam.

Untuk menilai kualitas orang yang shaum memang lebih sulit dibandingkan dengan menilai orang yang shalat. Seseorang yang mengerjakan shalat akan tampak jelas rukun-rukun shalat yang dikerjakannya. Namun, orang yang shaum sulit dinilai sebab belum tentu orang yang tidak makan atau minum sedang shaum. Bisa saja terjadi niat shaum sebatas untuk menguruskan badan, menyehatkan tubuh, atau mendapatkan pujian.

Salah satu amalan khusus yang dianjurkan Rasulullah pada Ramadhan adalah itikaf atau berdiam diri di masjid. Rasulullah beritikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dan melaksanakannya secara rutin sampai meninggal dunia. Itikaf dimulai dengan memasuki masjid, shalat tahiyyatul masjid, dan melaksanakan berbagai ibadah.

Memperbanyak doa kepada Allah termasuk rangkaian dari ibadah shaum. Apalagi Allah menjanjikan di antara sekian doa yang paling banyak didengar Allah adalah doa dari orang-orang yang shaum. Di antara doa yang paling banyak dipenuhi (ijabah) Allah ketika dipanjatkan saat Ramadhan.

Secara khusus, kaum Muslimin dianjurkan untuk beristighfar untuk bertobat dan memohon ampunan Allah. Upaya membersihkan diri atau menyucikan diri dan menghapus dosa dengan cara berdoa, berdzikir, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa.

Terakhir, shaum merupakan usaha yang paling efektif untuk mengekang dan mengendalikan nafsu. Allah telah menganugerahkan nafsu kepada setiap manusia. Nafsu membuat manusia makin maju. Nafsu menjadikan manusia mengukir prestasi. Namun, nafsu pula yang membuat manusia berbuat jahat, bahkan lebih kejam daripada hewan. Al-Qur'an menyebutkan adanya nafsu baik (muthmainnah) dan nafsu jelek (ammarah).

Shaum pada hakikatnya tidak untuk membunuh nafsu, melainkan mengendalikan dan mengaturnya. Shaum melatih seseorang untuk mengatur nafsunya sehingga (mungkin) inilah makna dari hadits Nabi yang menyatakan ketika Ramadhan seluruh setan diikat, pintu surga terbuka lebar, dan pintu neraka tertutup rapat.

Amalan lain yang dianjurkan adalah melaksanakan umrah Ramadhan bagi kaum Muslimin yang mampu. Apalagi ada sebuah hadits Nabi Muhammad SAW. yang menyatakan, pahala berumrah di bulan Ramadhan setara dengan ibadah haji. Umrah Ramadhan membuat kaum Muslimin lebih berkonsentrasi dalam beribadah dan mengejar keutamaan Ramadhan seperti lailatul kadar. Itikaf yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. juga bisa lebih khusyuk ketika dilaksanakan saat melaksanakan umrah.

Tak heran apabila minat kaum Muslimin yang mampu berbondong-bondong untuk umrah Ramadhan. Padahal, kuota maupun tiket pesawat untuk umrah Ramadhan cukup terbatas apalagi biaya umrahnya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Selamat melaksanakan shaum. Ingatlah tradisi yang dianjurkan Nabi yakni makan sahur agar mendapatkan berkah dan mengakhirkan sahur. Tradisi lainnya yang dianjurkan adalah cepat berbuka ketika adzan Maghrib berkumandang dengan memulai berbuka dengan hal-hal yang manis.

Wallahu-a'lam.***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 4 Agustus 2011 / 4 Ramadhan 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky