وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa tujuan Allah SWT. menciptakan manusia adalah hendak menjadikan manusia menjadi waliyullah, karena dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya akan melahirkan kecintaan Allah SWT. dan menjadikannya sebagai waliyullah.

Dalam ajaran Islam, waliyullah merupakan suatu kedudukan yang tinggi lagi mulia. Ia merupakan hamba-hamba pilihan Allah SWT. dan Allah memuliakan mereka dengan memberikan cinta dan karomah-karomah-Nya kepada mereka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Sesungguhnya Allah SWT. berfirman, 'Barang siapa yang memusuhi kekasih (wali)-Ku, maka Aku nyatakan perang padanya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah amalan yang aku wajibkan kepadanya. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar; menjadi matanya yang dengannya ia melihat; menjadi tangannya yang dengannya ia memegang menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya." (HR. Bukhari)

Kata wali yang terambil dari akar kata wauw, lam, dan ya makna dasarnya adalah dekat. Dari sini kemudian berkembang makna-makna baru, seperti pendukung, pembela, pelindung, yang mencintai, lebih utama, dan lain-lain, yang kesemuanya diikat oleh benang merah kedekatan. (Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, halaman 255)
Dengan demikian, waliyullah adalah orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT., mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, memerintah dengan perintah-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, melarang dengan larangan-Nya, mencintai dengan cinta-Nya, dan marah dengan kemarahan-Nya.

Seorang waliyullah tidak selalu identik dengan gamis dan sorban. Begitu pula dengan kesaktian, ataupun bergelut dalam organisasi keagamaan. Boleh jadi, ia itu seorang pedagang, pengusaha, buruh, atau apa pun pekerjaan dan profesinya, asalkan memiliki kedekatan kepada Allah, melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, dan senantiasa melakukan perkara yang sunah, ia layak menyandang predikat waliyullah.

Setiap orang yang beriman dan bertakwa adalah wali Allah. Hanya saja, tingkatan mereka berbeda, bergantung kepada keimanan dan ketakwaannya. Siapa saja yang iman dan ketakwaannya sempurna, maka kedudukannya di sisi Allah SWT. semakin tinggi lagi mulia.

Ketika seseorang hamba melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT. hingga dia sampai pada kedudukan sebagai seorang wali, maka banyak keutamaan-keutamaan yang akan di raihnya, di antaranya Allah SWT. akan menurunkan ketenangan dan ketenteraman ke dalam hatinya, sehingga ia tidak akan merasa khawatir dan bersedih hati dalam hidupnya.

Allah SWT. berfirman,


أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka, berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) jdi akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus : 62-64)

Selain itu, Allah SWT. pasti akan mengabulkan segala permohonannya, jika memang pengabulan itu menjadi kebaikan baginya. Atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Sabda Rasulullah SAW. dalam haditsnya yang Beliau riwayatkan dari Allah SWT. yang berfirman,
"Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya." (HR. Bukhari)

Kemudian, Allah SWT. akan menjadi pembela, pelindung, dan akan membalas terhadap orang yang berbuat jahat terhadapnya. Sabda Rasulullah SAW. dalam haditsnya yang Beliau riwayatkan dari firman Allah SWT.,
"Aku pasti balas dendam bagi wali-wali-Ku, seperti balas dendamnya singa yang marah."

Begitu juga Allah SWT. akan memberikan berbagai karomah terhadapnya. Karomah terbesar yang diberikan Allah SWT. kepada orang yang telah sampai pada derajat waliyullah adalah memberikan kemampuan kepadanya untuk konsisten melaksanakan perintah-perintah yang disyariatkan, dan menjauhi hal-hal haram, dan larangan-larangan-Nya.

Mengingat di antara tujuan utama penciptaan manusia adalah menjadi waliyullah dan setiap Muslim berpeluang sama untuk menggapainya, sudah sepantasnya kita berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya.

Upaya yang dapat dilakukan untuk menggapai kedudukan waliyullah adalah dengan menumbuhkan iradah (kehendak) yang kuat untuk berpegang teguh pada jalan yang membimbing kepada kebenaran. Hal ini direalisasikan dengan senantiasa taat dan tunduk kepada aturan Allah SWT. (Islam) yang dibawa oleh Rasul-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW. Dan senantiasa melaksanakan ibadah wajib yang diikuti dengan selalu melakukan ibadah sunah, seperti melakukan shalat rawatib, shalat malam, dan membaca Al-Qur'an.

Allah SWT. berfirman,


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah : 277)

Selanjutnya, untuk meraih derajat waliyullah adalah dengan mencurahkan kasih sayang kepada sesama dan menolong mereka baik yang taat maupun durhaka agar mereka senantiasa berada di jalan Allah SWT. Hal ini dapat direalisasikan dengan melakukan amar makruf nahi munkar.

Allah SWT. berfirman,


وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah : 71)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Bantulah saudaramu yang berlaku aniaya dan dianiaya." Para sahabat bertanya, "Ini yang dianiaya, maka bagaimana menolong yang menganiaya?" Nabi SAW. menjawab, "Dengan menghalanginya melakukan penganiayaan." (HR. Bukhari)

Wallahualam.***

[Ditulis oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM. Al-Hikmah Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Alumnus Pontren KH. Zaenal Musthafa Sukamanah Singaparna Tasikmalaya. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 21 September 2011 / 23 sYAWAL 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Ramadhan telah berlalu. Namun, suasana silaturahmi dalam acara halalbihalal di setiap instansi atau lembaga-lembaga pendidikan dari berbagai tingkatan, demikian terasa gema syiarnya. Bahkan yang sedang tren kali ini adalah serempaknya bewara reunian memanfaatkan momen Syawal. Seusai merayakan hari kemenangan di hari nan fitri setiap 1 Syawal, umat Islam senantiasa merayakannya dengan penuh sukacita. Bukan saja disebabkan oleh telah lulusnya beribadah puasa selama sebulan penuh. Akan tetapi, banyak hal yang menjadikan para ash-shaimun merasa bergembira. Satu di antaranya adalah dapat berkumpulnya para sanak keluarga yang mereka sangat cintai. 

Umat Muslim yang telah melewati masa-masa berpisah karena terhalang libur nasional Lebaran di kalangan para sahabat dekat di lingkungan pekerjaan atau yang telah lama berpisah seperti teman sewaktu di bangku sekolah dahulu pun turut serta memanfaatkan silaturahmi melalui istilah yang dikenal dengan halalbihalal.

Halalbihalal sebenarnya bukanlah terambil dari Al-Qur'an, bukan pula dari Hadits. Bahkan kebiasaan itu tidak dikenal di kalangan orang Arab dan kawasan Timur Tengah. Tidak dikenal pula di negara-negara yang berpenduduk dengan jumlah umat Islamnya mayoritas, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, atau Afganistan. Karena halalbihalal lahir sebagai tradisi kaum Muslimin di Indonesia dalam menyambut Idulfitri (merujuk silaturahmi).

Kata halalbihalal dapat dipandang dari tiga pendekatan.
Pertama, dari aspek hukum. Bahwa dengan melaksanakan halalbihalal, diharapkan akan terciptanya sebuah sikap kita yang tadinya haram/dosa, menjadi halal dan tak berdosa lagi. Yang awalnya tidak saling bertegur sapa menjadi berkomunikasi kembali dengan penuh kehangatan tanpa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati, bahkan harus dengan keridhaan dari lubuk hati yang paling dalam. Sebagaimana Allah tegaskan,

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

"Fa'fu 'anhum wastaghfir lahum." Maafkanlah mereka /orang-orang sedang diskomunikatif dengan kita, mohonkanlah ampun bagi mereka. (QS. Ali Imran : 159)


Kedua, secara bahasa. Halal diambil dari kata halla atau halala yang mempunyai makna menyelesaikan problem, meluruskan benang kusut, mencairkan yang beku, dan melepaskan ikatan yang membelenggu.


Ketiga, menurut tinjauan Al-Qur'an, seperti yang terdapat dalam

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl : 116)


قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (QS. Yunus : 59)


Yang paling penting, dengan pelaksanaan halalbihalal harus mengedepankan nawaitu yang lurus. Artinya, halalbihalal yang dilaksanakan hendaknya berorientasi kepada arti penting silaturahmi yang pada hakikatnya berlaku sepanjang waktu. Tidak hanya disebabkan datangnya bulan Syawal. Meski memang esensi dari acara maaf-memaafkan dan silaturahmi itu sangat sesuai dengan hakikat Idulfitri. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 1.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.


Di akhir ayat tersebut, Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dan menjalin tali silaturahmi karena sesungguhnya Allah Zat yang selalu menjaga dan mengawasi kita. Pada Al-Qur'an Surat Ar-Ra'd ayat 21,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.


Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsier dalam sebuah tafsirnya, yakni orang yang mendapatkan keuntungan di akhirat kelak adalah orang yang selalu mengadakan hubungan silaturahmi, tali persaudaraan, dan berbuat baik. Sebaliknya, orang yang memutuskan tali silaturahmi tidak akan masuk surga (na 'udzubillahi mindzalik), sebagaimana di tegaskan oleh Nabi SAW.,
"Laa yadhulul jannata qaati'un" Artinya, tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan tali silaturahmi. (Al-Hadits)


Hal lain yang harus diperhatikan oleh saudara kita yang melangsungkan acara halalbihalal adalah menjaga lidah kita untuk hanya berbicara yang baik-baik dan tentu saling memaafkan dan mendoakan dengan sesama yang hadir. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Thaimiyah tentang ucapan hari raya, maka beliau menjawab, "Taqabbalallahu minna wa minkum." Artinya, Semoga Allah menerima amalan kami dan kalian.

Hal ini diperkuat oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, "Taqabbalallahu minna wa minka." Artinya, Semoga Allah menerima amalan kami dan engkau. Bahkan ada juga yang suka menambah lagi dengan ucapan... "shiyaamana wa shiyamakam taqabbal Ya Karim..." Semoga pula amal ibadah puasa kita dan juga puasa kalian diterima oleh Allah Yang Mahamulia.

Adakah hikmah yang bisa didapat dari silaturahmi melalui media halalbihalal? Fahrur Mu'is menjelaskan, beberapa hikmah yang bisa kita petik dari pelaksanaan halalbihalal, yang selama ini dilaksanakan kaum Muslimin di Indonesia, antara lain:
  1. Cinta kepada sesama Muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Hadits Nabi SAW.,
    "Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Membudayakan tebar salam, jabat tangan, dan bertutur kata yang baik. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW.
    "Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada enam perkara; yaitu apabila kamu berjumpa dengannya hendaklah memberi salam kepadanya. Apabila kamu diundang, penuhilah undangannya itu. Apabila ia meminta nasihat kepadamu, nasihatilah ia. Apabila ia bersin dan memuji Allah, jawablah dengan ucapan yarhamukallah. Apabila ia sakit, hendaklah kau tengok ia. Dan, apabila meninggal dunia, iringilah jenazahnya." (HR. Muslim)
  3. Mempergauli sesama Muslim dengan akhlak yang baik Rasulullah SAW. bersabda,
    "Orang Mukmin yang paling sempuna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)
  4. Bersikap tawadu kepada sesama Muslim.
  5. Mencari kerelaan sesama Muslim dan saling menolong dalam menegakkan kebaikan dan takwa.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah : 2)
  6. Menyayangi sesama Muslim dengan menghormati orang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
  7. Saling memaafkan di antara sesama umat Islam.
  8. Mendamaikan dua orang Muslim yang sedang bersengketa.
Tentu dari poin-poin tadi, masih banyak hal yang harus dijauhi oleh orang yang melaksanakan halalbihalal, di antaranya bersikap sombong dan meremehkan orang lain, karena sombong akan merugikan diri bagi pelakunya. Hal ini ditegaskan oleh Nabi SAW. dalam salah satu haditsnya,
"Laa yadkhulul jannata man kaana fii qalbi hii mitsqaala dzarratin min kibrin." Artinya, tidak akan masuk, surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun seberat biji sawi. (HR. Muslim)


Terdapat pula inti dari halalbihalal ialah sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya saja.

Sementara itu, derajat yang paling tinggi dari memaafkan ialah (Mushafahah) yakni berjabat tangan saling melapangkan dada. Sebagaimana Hadits Nabi SAW.,
"Maa min muslimaini yaltaqiyaani fayatashaafahani illaa ghufira lahuma qabla an yaftariqa." Artinya, Tiada dua orang Muslim yang bertemu, lalu keduanya saling berjabat tangan, kecuali keduanya diampuni dosa-dosanya oleh Allah sebelum mereka berpisah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majjah)


Wallahu a'lam bi ash shawab.***

[Ditulis oleh H. ZAENAL ABIDIN, guru pada Madrasah Aliyah Sirnamiskin Bandung dan dosen PAI di STMIK Mardira Indonesia,Unjani Cimahi,dan SMK Marhas Margahayu. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 16 September 2011 / 15 Syawal 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT")

by

u-must-b-lucky
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب
"Fa idzafarogh tafanshob. Wa ila Robbikafarghob." Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Ash-Sharh : 7-8)

Alhamdulillah, tugas kewajiban shaum Ramadhan sudah usai. Sebulan penuh, umat Islam beriman menahan lapar, dahaga, dan syahwat sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Diakhiri Idulfitri yang ditandai takbir, tahlil, tahmid, shalat Ied, dan silaturahmi. Saling bermaafaan dosa dan kesalahan, serta harapan mendapat ampunan Allah SWT. Ghafurur Rahim.

Namun, tak cukup hanya sekian. Tak cukup kembali kepada kebiasaan sehari-hari. Kembali sarapan pagi menggantikan sahur. Kembali capek rahem sehari-hari, tanpa batas waktu. Sebab, masih ada tugas lain yang lebih penting yaitu membuktikan hasil shaum Ramadhan dalam segala bidang kehidupan. Sebagai tolok ukur dan bukti nyata bahwa shaum kita makbul, diterima Allah SWT. atau justru mardud, ditolak mentah-mentah oleh-Nya.

Orang yang berhasil mencapai derajat shaum makbul akan berusaha sekuat tenaga menunjukkan kemakbulannya, dengan cara mengubah total perilaku buruk yang biasa dikerjakan sebelum Ramadhan, menjadi perilaku bagus setelah Ramadhan. Perubahan nyata dari berkah Ramadhan, berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka, tumbuh subur dalam kalbu, dan tercermin jelas dalam tindak tanduk sehari-hari. Ia menjadi orang bertakwa. Mampu melaksanakan segala perintah Allah SWT., sekaligus menjauhi larangan-Nya sebagai tujuan utama shaum Ramadhan.

Sebagaimana disabdakan Nabi SAW.,
Ramadhan terbagi tiga fase. Pertama, sepuluh hari bagian awal adalah rahmat (ar-rahmah). Kedua, sepuluh hari bagian pertengahan adalah ampunan (maghfirah). Ketiga, sepuluh hari terahir, pembebasan dari api neraka (itqum minannari).


Adapun rahmat senantiasa dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. 

 إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
"Inna rahmatallahi garibun minal muhsinin." Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. al A'raaf : 56)

 Orang yang shaumnya makbul, tentu akan banyak berbuat kebaikan, baik mental secara mental-spritual, maupun secara fisik-material yang mendekatkan dirinya kepada rahmat Allah. Lantaran mengharap rahmat Allah, dengan berbuat baik, akan berusaha sekuat tenaga meninggalkan pekerjaan-pekerjaan tercela dan haram. Meredam hawa nafsu yang membujuk-bujuk agar terjerumus kepada hal-hal melanggar hukum. Menghindar dari persekongkolan kotor sumber dosa dan permusuhan yang dilarang keras oleh Allah SWT.

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Wa la ta-awanu alal itsmi wal udwan." Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al-Maidah : 2)

Maghfirah atau ampunan selalu dekat kepada orang-orang yang bertobat dan membersihkan diri.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Innaloha yuhibbut tawwabina wa yuhibbul mutatohhirin." Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat serta menyucikan diri. (QS. al-Baqarah : 222)

Orang yang berharap dan berupaya mendapat ampunan, pasti akan tetap berada pada tempat dan koridor yang bersih. Senantiasa tobat dan memelihara kesucian lahir batin. Menolak keras segala jenis perilaku haram. Makan, minum, berpakaian, bersih karena bersumber dari mata pencaharian yang halalan thayyiban. Bukan hasil korupsi, menipu, berdusta, dan aneka macam lainnya yang mengandung unsur perbuatan yang diharamkan Allah SWT. dan Rasul-Nya, serta melanggar hukum yang berlaku.

Itqum minannari, bebas dari ancaman siksa api neraka. Ancaman siksa neraka terbesar ditujukan kepada orang-orang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Melanggar aturan-Nya. Berbuat maksiat di segala bidang kehidupan. Firman Allah SWT.,

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ
"Wa man ya'shi llaha wa Rasulahu wa yasy'adda hududahu yud hilhu naran khalidin fiha wa lahu adzaban muhinun." Siapa saja yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-Nya, niscaya Allah akan menjerumuskan dia ke dalam api neraka selamanya dan baginya merapakan siksa menghinakan. (QS. an-Nisa : 14)

Orang yang mendapat itqum minannari, pembebasan dari api neraka, berkah shaum Ramadhan, akan tunduk patuh melaksanakan perintah Allah sekaligus menjauhi dan meninggalkan larangan-Nya. Yang semula korup, segera melepaskan kesukaan dan kebiasan korupsinya. Bahkan, semua hasil korupsi yang pernah diraupnya, segera dikembalikan kepada yang berhak melalui proses yang transparan. Yang suka mabuk, tak lagi menenggak minuman keras, narkoba, dan sejenisnya yang mengundang kerusakan bagi diri pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Akan tetapi, apabila shaum Ramadhan tidak membawa pengaruh apa-apa kepada setiap orang berpuasa, itu pertanda mardud. Yang korup tetap korupsi, malah semakin menjadi-jadi. Yang mabuk tetap mabuk, malah memperluas jaringan permabukannya ke mana-mana. Walaupun pada bulan Ramadhan ikut-ikutan shaum, menahan lapar, dahaga, dan syahwat sepanjang siang, tetapi tidak pernah meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah SWT. dan Rasul-Nya. Bual dan dusta, fitnah, iri dengki, khianat, sombong, berlanjut terus. Tanpa sedikit pun menyadari kondisi diri yang lemah, hina dina, tak berdaya. Shaum orang semacam demikian adalah shaum yang hanya mendapat lapar dan dahaga. Nol, kosong, nihil dari berkah dan pahala, sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW.,
"Ka min shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju'i wal athosyi."

Lebaran ikut gembira, Namun, hanya pura-pura, semu, sekadar menyelimuti perbuatan maksiat yang tidak lebur oleh shaum, tidak tergoyahkan oleh kemuliaan Ramadhan. Mempersetankan berkah dan pahala. Yang penting, hawa nafsu tersalur, angkara murka mendapat wadah. Lepas bebas tanpa kendali. Makan, minum tanpa aturan. Yang penting, jenis (zat) yang dimakan halal. Bukan daging babi, darah, bangkai, binatang yang disembelih bukan karena Allah, sesajen buat berhala, dan sebagainya. Namun, asal usul makanan itu dari cara memperolehnya, tak dipedulikan. Apakah dari hasil korupsi, zina, mabuk, judi, dan pekerjaan lain yang diharamkan. Halal jenisnya tetapi haram cara perolehannya, disebut "haram afaliyah" tak pernah diacuhkan.

Itulah yang disebut dalam Hadits Riwayat Imam Tabrani,
"Yuhibbunal kasab, wa yansaunal hisab." Mencintai usaha, apa dan bagaimana saja, tanpa memperdulikan halal haram. Yang penting berhasil, seraya melupakan perhitungan di hari akhir.

Orang demikian, kendati telah shaum Ramadhan, dapat dikategorikan tidak pernah mendapat manfaat Ramadhan. Tak mendapat kebaikan dan kebajikan Ramadhan. Luput dari rahmat, ampunan, dan pembebasan siksa neraka. Itulah yang dimaksudkan Nabi SAW.,
"Siapa yang diharamkan dari kebaikan (Ramadhan), selamanya akan diharamkan dari perbuatan baik dan bajik pada dirinya."

Oleh karena itu, mari kita wujudkan, buktikan hasil shaum Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari yang bersih, halal, aman, tenteram, sejahtera, dengan tunduk patuh kepada perintah Allah, sekaligus meninggalkan larangan-Nya, tanpa kecuali. ***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan di salin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis(Manis) 15 September 2011 / 14 Syawal 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Gelombang cinta untuk memenuhi panggilan ibadah haji kian menaik. Keyakinan yang tumbuh dalam hati setiap hamba untuk memenuhi panggilan Allah SWT. semakin kuat. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya jemaah haji Indonesia dari masa ke masa yang terus melejit.

Seiring dengan tingkat keyakinan untuk menunaikan ibadah haji semakin meningkat, dipandang penting jemaah dibekali pencerahan. Apa sebenarnya bekal untuk menunaikan ibadah umrah dan haji ? Apakah "fulus" yang banyak ? 

Ibadah haji merupakan perjalanan rohaniah. Bekal utama adalah ikhlas, sabar, dan tawakal yang akan mewarnai sikap perilaku dalam memenuhi panggilan Allah. Ketiganya merupakan syariah (jalan) menuju hakikat (tujuan) menggapai keridhaan Allah.

Jarang kita dapatkan pembekalan kepada jemaah haji dalam manasik. Haji itu capek tetapi nikmat. Apa sebenarnya yang membuat nikmat itu ? Ketulusan semata-mata mengharap keridhaan Allah sehingga capek yang luar biasa, tetapi sungguh dapat mengantarkan kepada kebahagiaan.

Kadang terjadi pembiaran kepada jemaah haji di Tanah Suci yaitu dilepas begitu saja. Padahal, tidak sedikit di antara mereka masih awam dengan manasik haji. Al-Qur'ran menandaskan,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah : 197)

Indikatornya adalah ikhlas, sabar, dan tawakal

 إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An'aam: 162)


Pertama, ikhlas.

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar : 11)

Imam Al Ghazali memandang ikhlas merupakan refleksi dan manifestasi pertama dari al mahabbah (cinta). Ikhlas itu buah dari mahabbah. Tumbuhnya rasa cinta yang mendalam kepada Allah, terbitlah ikhlas. Bekal pertama dan utama dalam menunaikan ibadah haji adalah ikhlas sehingga bisa melaksanakan seluruh aktivitas semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Menunaikan ibadah haji bukan hanya dzikir dan doa, tetapi di dalamnya terdapat riyadah (pelatihan) spektakuler menuju tujuan hakiki Allah. Haji akan melatih setiap hamba untuk ikhlas dalam berbagai hal. Semangat berkarya untuk menuai manfaat bagi umat telah menjadi target dalam ibadahnya.

Sikap ikhlas ini pun akan melahirkan kepeduliaan sosial, kesalehan sosial, sekaligus akan membangun tatanan peradaban umat manusia menuju kemandirian hakiki.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (QS. Al-Insaan : 8-10)

Kedua, sabar.
Ibnu Qayyim Al jauziyah mengatakan, sabar adalah menahan perasaan dari gelisah, putus asa, dan amarah, menahan lidah dari mengeluh, menahan anggota tubuh dari mengganggu orang lain. Imam Al Ghazali menegaskan sabar pada sisi keberpihakan terhadap nilai-nilai agama dan mengesampingkan hawa nafsu.

Jemaah haji dilatih untuk berada dalam kafilah yang dapat mengantarkan kepada kebahagiaan melalui penetapan nilai akhlak dalam kehidupan. Haji harus berbekal sabar. Karakter sabar dapat meraih keunggulan amaliyah. Momentum ibadah haji itulah saatnya yang tepat meraih dimensi kesabaran.

Ketiga, tawakal.
Tawakal yakni sikap yang dipilih setelah seseorang melakukan usaha maksimal.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya, Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Talaaq : 3)

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. Al-Anfaal : 2)

Tawakal, berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin, telah menjadi kebutuhan fundamental bagi jemaah haji. Semakin terlatih dirinya merapat kepada Allah, semakin kuat daya tahan dan daya kendali dalam jiwanya.

Walhasil, ikhlas, sabar, dan tawakal adalah bekal utama dalam menunaikan ibadah haji. Ketiga indikator takwa itulah menjadi syariat untuk tercapainya hakikat haji.

Wallaahu a'lam. ***

[Ditulis Oleh KH. NANDANG KOSWARA, pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan KBIH Darul Hikam serta ketua Syarikat Islam Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Wage) 13 September 2011 / 14 Syawal 1432 H. pada  Kolom "UMRAH & HAJI"]

by

u-must-b-lucky
Ramadhan baru berlalu beberapa hari. Semua umat Muslim yang beriman merasa sangat kehilangan momentum tersebut. Momen ketika banyak sarana untuk pembersihan diri, perbaikan kualitas diri kita melalui pemenuhan kebutuhan rohaniah. Pada momen Ramadhan tersebut, kaum Muslim menggunakan banyak waktunya untuk berorientasi pada kehidupan setelah di dunia (akhirat). Secara sadar, saat Ramadhan, Muslim juga sangat getol dalam ibadah. Mereka berpuasa, tadarus, shalat Tarawih, mengaji, bersedekah, berzakat, itikaf, berdoa, dan amal lainnya. Namun, secara tidak sadar, kaum Muslim telah berkomunikasi dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Komunikasi langsung tanpa pembatas antara manusia dan Tuhan ini sering diistilahkan "komunikasi transendental" yang dimaksudkan dan bermuara pada suatu keinginan atau menggapai ridha Allah SWT. dan mengharapkan agar selamat dunia akhirat. Lalu, apa pentingnya komunikasi transendental ini?

Sebagian besar aktivitas keseharian manusia diisi oleh komunikasi. Manusia sebagai Homo communicus dan makhluk sosial yang tidak bisa tidak harus terkait dengan lingkungan sekitarnya. Komunikasi sebagai syarat bersosialisasi memiliki inti, yaitu persepsi (Deddy Mulyana, 2004). Jika diteliti lebih jauh, dalam khazanah ilmu komunikasi yang melingkup kehidupan manusia dapat dibagi ke dalam empat kelompok (Deddy Mulyana, 2004); komunikasi massa, komunikasi kelompok, komunikasi antarpersona (intra dan inter), komunikasi transedental.

Tiga poin pertama tentunya sering kita simak pembahasannya dan sering kita dengar istilahnya. Namun, untuk poin terakhir, komunikasi transendental memang tidak pernah dibahas secara luas.

Dalam komunikasi antara manusia dan penciptanya, Allah SWT. telah begitu banyak menebarkan ayat-ayatnya yang terbagi dalam dua bentuk:
1. Ayat quraniyah (Al-Qur'an)
2. Ayat kauniyah (alam semesta dan penciptaannya).
Dalam Al-Qur'an, sangat jelas digambarkan perintah serta larangan yang harus kita ikuti. Bila kita ingin disebut sebagai komunikan yang baik dalam komunikasi transendental, kita harus mempersepsikan secara akurat tanda dan simbol yang digariskan Allah SWT. dalam Al-Qur'an. Melengkapi tanda dan simbol tekstual dalam Al-Qur'an, Allah SWT. menghamparkan dunia dan alam raya untuk ditafakuri.

Sebagai partisipan komunikasi transendental yang efektif, tentunya hati kita akan mudah tersentuh begitu melihat bulan dan bintang yang bertaburan di langit pada malam hari karena menganggap bahwa itu bukan sekedar fenomena alam, tetapi adalah bentuk perwujudan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Juga hati kita akan mudah tergetar bila mendengar atau menyebut Asma Allah. Apabila hati sudah benar-benar tersentuh, kita akan menitikkan air mata bahkan menangis tersedu mengingat betapa kecilnya kita sebagai manusia di hadapan-Nya.
Aplikasi yang sesungguhnya dari komunikasi transendental adalah pada saat kita mendirikan shalat, berdzikir, dan berdoa. Shalat pada dasarnya adalah saat manusia berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Saat itu sebenarnya tidak ada pembatas antara manusia dan Allah SWT. Komunikasi langsung terjadi asal kita benar-benar punya keyakinan yang kuat bahwa Allah ada di hadapan kita sedang memperhatikan dan mendengar doa kita. Takbir, ruku, dan sujud adalah bentuk tawadu pada-Nya, memasrahkan seluruh jiwa dan raga kita pada Allah SWT.Shalat yang dilakukan dengan dzikir dan doa akan sangat membantu menenangkan hati, jiwa, dan raga kita sehingga gerak langkah kita hidup di dunia adalah atas dasar tuntunan-Nya. Kita harus yakin, tuntunan dan perlindungan Allah SWT. dapat membuat hidup kita penuh makna untuk bekal di dunia dan akhirat sebagai perwujudan dari komunikasi transendental yang efektif.

Keberhasilan komunikaisi dengan Allah SWT. sebagaimana keberhasilan komunikasi antarmanusia juga ditentukan oleh ketepatan persepsi kita sendiri. Siapakah kita, apa tujuan hidup kita di dunia, dan mau ke mana kita setelah hidup ini, adalah kunci agar kita memiliki ketepatan persepsi seperti yang diharapkan Allah SWT. Lalu, bagaimana Allah SWT. harus mempersepsikan komunikasi yang kita sampaikan? Allah yang Mahasempurna tentu tidak akan keliru mempersepsikannya. Jika doa kita belum terkabul, itu karena Allah menangguhkan atau menggantikannya dengan yang lebih baik Semua itu untuk kebaikan hamba-Nya dan mungkin karena beberapa faktor, seperti kurangnya kita berikhtiar, kurang bersabar dan ikhlas, kurang sedekah, dan perlu adanya peningkatan amal ibadah kepada Allah SWT.Analoginya, jika kita ingin menyampaikan pesan atau keinginan kepada orang lain dan harapannya pesan atau keinginan kita ingin dikabulkan maka kita akan memohon dan mematuhi serta pengertian terhadap (perintah) orang tersebut. Begitu juga komunikasi dengan Allah SWT., harus lebih banyak pengorbanan kita demi mencapai ridha Allah SWT. dengan cara meningkatkan amal kita, seperti meningkatkan shalat, dzikir, tadarus, qiyamulail, infak, sedekah, berbuat baik, dan banyak lagi. Bahkan, jika habluminallah kita baik dan berkualitas, secara otomatis habluminannas kita juga akan berkualitas baik.

Terakhir, komunikasi transendental bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun, meskipun Ramadhan tahun ini sudah berlalu dan belum tentu Allah SWT. mengizinkan kita untuk bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan, tetapi kualitas dan intensitas komunikasi transedental kita tentu tidak boleh menurun bahkan harus lebih meningkat.

Teknologi sekarang memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan sesama bahkan sampai lintas negara dan benua melalui telefon seluler, faksimile, internet, itu pun masih membutuhkan biaya yang cukup mahal. Akan tetapi, menghubungi Allah SWT. tidak perlu mengeluarkan pulsa, tanpa perantara, dan bahkan tanpa nada sibuk lainnya...

Wallahualam bissawab.***

[Ditulis oleh IMAM AHMAD MAULANA YUSUP, alumnus Yayasan Pendidikan Islam Asyafeiyyah (YPIA) Cikeris, Purwakarta dan Kader DKM Al-Amanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 9 September 2011 / 8 Syawal 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Ramadhan telah berlalu. Taqabbalallahu minna waminkum. Semoga Allah SWT. menerima amal kita sekalian. Salah satu kriteria agar amal-amal kebajikan diterima adalah ikhlas. Kata yang ringan diucapkan, tetapi terasa amat berat dilaksanakan.

Beramal dengan ikhlas sering lebih sulit dilakukan daripada amalnya itu sendiri. Ikhlas, bersedekah kadang lebih susah daripada sedekahnya. Ikhlas merupakan sikap batin yang tak bisa diketahui dan diraba orang lain.

Ada satu kisah yang pantas kita renungkan. Ketika Rasulullah dan para sahabatnya telah menetap di Madinah setelah menempuh perjalanan hijrah pada 622 Masehi, tersebar informasi tentang hijrahnya seorang laki-laki. Dia hijrah bukan karena mengikuti jejak langkah Rasulullah, melainkan mengejar tunangannya bernama Umm Al Qais.

Ketika berita itu sampai ke telinga Rasulullah, Beliau pun bersabda,
Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Setiap orang akan memperoleh hasil amalnya sesuai dengan kualitas niatnya. Barang siapa yang berhijrah mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, ia akan memperoleh ridha Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang berhijrah karena mengejar materi, ia hanya akan memperoleh keuntungan materi yang dicita-citakannya, dan barang siapa yang berhijrah karena wanita juga akan memperoleh yang diniatkannya. Hijrah seseorang tergantung pada niat hijrahnya.

Niat menentukan jenis suatu amal ataupun mutu dari amal itu. Bahkan, niat menentukan diterima atau tidaknya suatu perbuatan di mata Allah. Amal yang paling tinggi nilainya ditinjau dari segi niat adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas. Sebaliknya amal yang paling rendah nilainya ialah ria (pamer).

Makanya, ada beberapa hadits yang berkaitan dengan shaum Ramadhan seperti,
Barang siapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Secara bahasa, ikhlas bermakna suci, bersih, murni, atau jujur. Ikhlas berupaya membersihkan hati dalam melaksanakan suatu amal dari niat selain mencari ridha Allah. Ikhlas berarti mengkhususkan amal hanya untuk Allah dan menafikan semua tujuan di luar ketentuan Allah.

Gambaran ikhlas antara lain dinyatakan dalam satu pernyataan, "Inna shalatii wanusukii wamahyaaya wamamatii lillahi Rabbil-alamin" (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam). Dalam QS. Al-Bayyinah : 5 juga ditegaskan,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ
"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali hanya beribadah kepada Allah SWT. dengan penuh keikhlasan."

Keikhlasan bukan sekadar untuk ibadah yang berhubungan dengan Allah (mahdhah atau hablum minallah) melainkan juga ibadah sosial (hablum minannaas). Kesibukan pekerja di kantor, mahasiswa dan siswa yang rajin belajar, ataupun kaum ibu yang mengasuh anak-anaknya apabila diniatkan dengan ikhlas bisa masuk kategori ibadah. Kualitas semua kegiatan seorang manusia tidak hanya ditentukan hasil akhirnya, tetapi ditentukan niat dan motivasinya.

Sejumlah karyawan yang bekerja dengan waktu sama, jenis pekerjaan serupa, gaji dan hasil kerja yang sama akan berbeda nilainya di mata Allah tergantung keikhlasan dalam bekerja. Demikian pula dengan pengusaha yang biasa saja memperoleh penghasilan sama, tetapi nilai ikhlas yang menentukan dalam pandangan Allah.

Ali bin Abi Thalib berkata, "Manusia sesungguhnya celaka kecuali orang-orang yang berilmu. Orang berilmu pun bisa celaka kecuali orang yang beramal, dan orang beramal pun akan celaka kecuali orang yang ikhlas." Makanya, Nabi Muhammad SAW. menegaskan, Allah tidak melihat badan dan parasmu melainkan Allah melihat keikhlasan hatimu.

Keikhlasan juga menjadi penyebab terkabulnya suatu doa dan pelindung di hari kiamat. Rasulullah bersabda ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah di hari kiamat ketika tidak ada lagi perlindungan kecuali dari Allah. Ketujuh golongan itu adalah pemimpin yang berlaku adil kepada rakyatnya, pemuda selalu ikhlas dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua orang bersahabat dan berpisah karena Allah, laki-laki yang menolak bujukan zina dari wanita cantik dan terhormat, dermawan yang mengeluarkan sedekahnya secara sembunyi-sembunyi, dan seorang yang berdzikir kepada Allah sehingga air matanya menetes.

Ada satu nasihat yang berbunyi, "Apabila Anda menanam padi pasti rumput akan ikut tumbuh, tetapi kalau Anda menanam rumput pasti padi tidak akan tumbuh." Jika kita beramal dengan niat akhirat, hasil di dunia akan kita dapatkan. Sebaliknya apabila kita beramal sebatas untuk dunia, misalnya ingin dipuji atau dikenang sebagai orang baik, hasil akhirat tidak akan bisa digapai.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bersih dan suci selepas Ramadhan karena amal-amal kita dilandasi kebersihan niat.

Wallahualam. ***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota. Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, dan pembimbing haji plus dan umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 8 September 2011 / 9 Syawal 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"

by

u-must-b-lucky
Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan. Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya. Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama makhluk yang lemah pula, mengapa dia tidak menyandarkan urusannya kepada Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa ?

Bukankah setiap hari, di setiap kali shalat, bahkan dalam setiap raka’at shalat kita selalu membaca ayat yang mulia, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan… Oleh sebab itu bagi seorang Mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya. Kepada Allah lah kita serahkan seluruh urusan kita… Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Ma’idah : 23)

Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah ibadah.

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupinya…” (QS. At-Thalaq : 3)

Ayat yang agung ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah. Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah melakukan kemusyrikan. (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 256-260)

Salah satu bentuk perbuatan bergantung kepada selain Allah adalah dengan meminta perlindungan dan keselamatan hidup kepada selain Allah, entah itu jin, penghuni kubur ataupun yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ
“Janganlah kamu menyeru kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak menjamin manfaat maupun madharat kepadamu, apabila kamu tetap melakukannya niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus : 106)

Mendatangkan manfaat dan menolak madharat adalah kekhususan yang dimiliki Allah. Barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah dan dia meyakini bahwasanya yang dia seru itu menguasai kemanfaatan dan kemadharatan sebagai sekutu bagi Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan. (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 104)

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Dan apabila Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya maka tidak ada yang bisa menyingkapnya selain Dia, dan apabila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang bisa menolak keutamaan dari-Nya. Allah timpakan musibah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Ayat yang agung ini menunjukkan bahwa menyingkap keburukan/bahaya dan mendatangkan manfaat merupakan kekhususan Allah ‘azza wa jalla. Barangsiapa yang mencari hal itu dari selain Allah sesungguhnya dia telah berbuat kemusyrikan. (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 105)

Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman dan tauhid seorang hamba ditentukan oleh sejauh mana ketergantungan hatinya kepada Allah semata dan upayanya dalam menolak segala sesembahan dan tempat berlindung selain-Nya. Kalau Allah yang menguasai hidup dan mati kita, lalu mengapa kita gantungkan hati kita kepada jin dan benda-benda mati yang tidak menguasai apa-apa ?!***

[Ditulis oleh : ABU MUSLIH ARI WAHYUDI]

by :

u-must-b-lucky