Setiap Muslim harus berjuang menegakkan nilai-nilai Islam, karena Islam merupakan agama yang harus ditegakkan dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dalam melaksanakan tugas-tugas perjuangan, seorang Muslim dituntut memiliki sifat berani (syajaa'ah) yang sumbernya adalah iman yang istiqamah.
Keberanian diwujudkan dalam banyak hal, di antaranya,
  • Pertama, berani menyatakan yang benar. Kebenaran merupakan sesuatu yang tidak boleh disamarkan atau disembunyikan. Apalagi dicampur-adukkan antara yang hak dan yang batil. Allah SWT. mengingatkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 42,

    وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
    Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.
    Mengatakan yang hak itu memang berisiko, karena mengandung hal yang besar bila ada orang yang tidak menyukainya, apalagi dua hal itu dinyatakan di hadapan penguasa yang dzalim. Namun Rasulullah SAW. bersabda,
    "Katakan yang benar meskipun terasa pahit."
    Dipertegas pula dengan sabdanya yang lain,
    "Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang dzalim."
  • Kedua, berani menghadapi risiko dan menentang kedzaliman. Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu berhadapan dengan risiko, apalagi dalam perjuangan menegakkan dan mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah SWT. dan Rasul-Nya.
    Pun dengan kedzaliman amat berbahaya dalam kehidupan masyarakat, yang tidak hanya menimpa mereka yang berbuat dzalim, tetapi juga masyarakat secara umum.
  • Ketiga, berani menghadapi musuh. Sudah sunatullah, sepanjang sejarah, permusuhan kaum kafir terhadap kaum Muslimin tidak bisa dielakkan.
    Bila terjadi bentuk-bentuk permusuhan termasuk secara fisik, kaum Muslimin harus menunjukkan sifat syajaa'ah atau berani menghadapi musuh-musuh.
  • Keempat, berani mengakui kesalahan. Kesalahan atau khilaf terkadang sering dilakukan oleh setiap orang, termasuk orang yang beriman. Seorang Muslim harus berani mengakui kesalahan yang telah dilakukannya, bahkan harus merasa tidak cukup hanya bertobat secara pribadi.
    Jangan sampai fakta yang sering terjadi, banyak manusia yang bersalah tidak mau mengakui kesalahannya, bahkan berusaha menyembunyikan kesalahan, yang lebih tragis lagi adalah menimpakan kesalahan itu kepada orang lain dengan cara memfitnah. Naudzu-billah....
Sifat syajaa'ah bisa kita miliki jika kita tetap memahami faktor penting yaitu memahami dan mengupayakan hal hanya takut kepada Allah SWT., meyakini kepastian mati, meyakini dan mencintai kehidupan akhirat serta tawakal kepada Allah SWT.

Seperti kita ketahui, jasad atau diri kita ini terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani ini adalah unsur yang dapat dilihat, diobservasi, dianalisis, serta dapat diurai oleh kita sendiri. Kita tahu bahwa jasad ini dibuat dari tanah kholaqol insaana min tiin. Oleh karena itu, sifat tanah sangat nyata bentuknya, dan kebetulan bahwa kita ini secara jasmaniah mempunyai dorongan-dorongan yang sifatnya senang kepada hal-hal yang terbuat dari tanah.

Unsur lain yang memang agak sulit kita deteksi dan diobservasi yaitu unsur rohani. Mengenai unsur rohani ini, Allah SWT. mengatakan bahwa mereka akan bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
"Wa yas aluunaka 'anirruuh, kulirruuh min amri robbi, wamaa uutiitum minal 'ilmi illaa qoliila." "Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah wahai Muhammad, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Israa: 85)

Di dalam diri kita ini, dorongan-dorongan seperti sifat syajaa'ah itu nyata adanya dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa peran jasad itu sangat besar. Apalagi jasad itu diperkuat oleh vitamin, makanan yang bergizi, olah raga, kemudian dibungkus oleh sesuatu yang memang dibutuhkan oleh dirinya.

Rasulullah SAW. bersabda bahwa sikap seperti itu akan mengurangi sifat keserakahan kita. "Alqulibul laatasdaaka mayasda'il hadits qiila wamaa ja'ala ya Rasulullah qoola qiro'atul qur'an wadzikrul maut." Hatimu itu akan berkarat seperti berkaratnya besi. Kata Rasulullah SAW., "Alitsmu mahaka fii-shodrik." Dosa yang kamu perbuat itu akan mengotori dan merusak hatimu. Itulah hal yang membuat bergetarnya hati kita ketika melakukan dosa.

Kata para sahabat, "Ya Rasulullah, wamaaja'aluha?" (Apa obatnya, ya Rasulullah supaya kita tidak terkena kerusakan hati?). Kerusakan hati di sini, lebih bersifat majazi yaitu kita tidak bisa memperoleh serta menerima dan menganalisis kebenaran-kebenaran yang ada di dunia ini. "Wamaaja'ala ya Rasulullah?" (Apa obatnya ya Rasulullah, supaya hati kita itu tidak rusak). Kata Rasulullah SAW.,"Qoola qiro'atul qur'an wadzikrul maut." (Obatnya supaya hatimu terus baik dan bagus serta tidak rusak ialah perbanyaklah membaca Al-qur'anul karim dan dzikrul maut. Yaitu ingat-ingatlah bahwa engkau akan mati).

Oleh karena itu, setiap Muslim tidak akan takut kepada manusia. Dengan penuh keyakinan akan berjuang dan berusaha dalam kehidupan yang penuh dengan tantangan dan risiko, sehingga mampu melahirkan pribadi-pribadi yang syajaa'ah (berani) dalam menegakkan dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran!

Wallahu a'lam bisshawab.***

[Ditulis oleh DEDY SUTRISNO AHMAD SHOLEH, alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN. SGD Bandung dan kader Juru Dakwah Jawa Barat tinggal di Cirebon. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 13 Januari 2011 / 19 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Nabi Muhammad SAW. diutus menjadi nabi dan rasul, membawa tugas utama mendidik budi pekerti umat. Memperbaiki perilaku manusia agar berakhlak mulia (ahklaqul karimah). Beliau bersabda,
"Innama bu'itstu li utamiina makarimal akhlak" (Sesunggunya kami diutus untuk menjadikan manusia berakhlak mulia).

Pada masa kelahiran Nabi SAW., hingga beliau diangkat menjadi nabi dan rasul, kehidupan masyarakat Arab di Kota Mekah dan di seluruh jazirah Arab, dalam keadaan kacau-balau. Aturan tidak ada, hukum tidak tegak. Sebab yang menjadi ukuran harkat derajat manusia, semata-mata hanya pada kondisi fisik. Gagah, kuat, tampan, cantik, sehingga orang-orang yang dianggap lemah —terutama kaum perempuan— dilenyapkan saja. Pada waktu itu, mempunyai bayi perempuan dianggap hina. Oleh karena itu, setiap ada bayi perempuan lahir, langsung dikubur hidup-hidup, karena dianggap tidak akan berguna untuk menopang kekuatan orangtua dan keluarga. Yang diperlukan adalah laki-laki, calon pahlawan di medan perang.

Keadaan materi juga menjadi peringkat pertama. Kaya, termasyhur, banyak pengikut, keturunan "darah biru", dan sebagainya. Sedikitpun tak menghargai orang-orang miskin, orang-orang kebanyakan, yang mereka tetapkan sebagai budak-budak sasaran penghinaan.

Oleh karena itu, zaman tersebut dinamakan zaman jahiliah. Zaman penuh kebodohan. Akan tetapi, bukan berarti bodoh otak, tak dapat tulis baca, melainkan bodoh dalam pengerjaan tidak memiliki akhlak, tidak memiliki budi pekerti yang baik. Pada masa itu, secara intelektual, orang-orang Arab sudah terkenal sebagai ahli sastra. Pencipta puisi (syair) dan prosa (atsar) yang indah-indah. Terkenal sebagai orator yang memikat gaya bahasanya. Setiap tahun mereka mengadakan pasar malam Ukadz, yang diisi perlombaan menulis karya sastra. Yang paling indah ditempel pada tembok Kabah, agar dibaca semua orang, disanjung, dan dipuji keindahannya. Nama-nama sastrawan Arab jahiliah, seperti Umrul Qoisy, Bari-un Nabih, dan Thorfah Abu Ziyad, hingga kini masih lestari. Karya-karyanya terus berkumandang dalam setiap kajian bahasa dan sastra Arab.

Istilah jahiliah sama sekali tidak identik dengan zaman batu, zaman primitif. Akan tetapi, identik dengan perilaku jahat, kasar, ganas, tidak menghargai orang lain, tidak mengenal tata krama, adab sopan santun, dan tak dapat membedakan salah dan benar. Yang penting dapat mengumbar hawa nafsu, melampiaskan amarah pada setiap kesempatan, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Hal ini perlu ditegaskan, sebab banyak yang berpendapat bahwa jahiliah sama dengan kuno. Kebalikan dari zaman modern. Setiap yang tidak selaras dengan kondisi dan situasi modern yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini, dianggap jahiliah.

Pendapat yang amat salah sebab jahiliah berkaitan dengan akhlak atau mental dan budi pekerti. Tidak dengan kemajuan atau kemunduran zaman. Bangsa Arab jahiliah, sebagaimana diungkapkan di atas, sudah menguasai kebudayaan linuhung. Selain terkenal sebagai pencipta dan penikmat sastra, mereka juga terkenal sebagai ahli perniagaan yang ulung. Dalam Quran Surat Al Quraisy dijelaskan kebiasaan (ilaf) orang Arab Quraisy, yang pada musim dingin (as-syita) berniaga ke kawasan selatan (Yaman) yang bersuhu hangat, sedangkan pada musim panas (ash shoif), menuju ke utara (Syam atau Suriah) yang bersuhu sejuk. Berarti yang jahiliah itu sudah mengenal pengetahuan tentang perdagangan dan peralihan cuaca.

Jika pada zaman modern sekarang masih ada yang menganggap kekuatan dan keindahan fisik serta hal-hal bersifat material lainnya sebagai ukuran kemajuan, dapat disebut berpola pikir jahiliah. Walaupun tampak mewah, megah, sehat, harum, naik-turun kendaraan mutakhir, tetapi berperangai tidak halus, kejam, meremehkan orang lain, dapat dikategorikan jahiliah. Meminjam istilah Muhammad Al Gazhali, tipe orang semacam itu merupakan profil jahiliah modern karena hakikatnya masih diselimuti kebodohan-kebodohan perilaku.

Orang yang merasa senang berbuat kejahatan, puas jika menyiksa orang lain, merampas hak orang lain (korupsi), dan sejenisnya, itu pertanda berjiwa jahiliah. Orang berjiwa modern sebagaimana dinyatakan Nabi Muhammad SAW.,
"Idza sa-atka sayyiatuka wa sarrotka hasanatuka fa anta mu'minun" (Jika engkau merasa tidak tenang karena berbuat kesalahan tetapi merasa gembira sebab telah berbuat kebaikan, merupakan pertanda engkau manusia beriman sempurna).

Berdasarkan hadits tersebut, orang yang merasa suka, gembira, bahagia jika berbuat keburukan dengan alasan apa saja, bukanlah orang beriman. Sementara orang tak beriman, sama dengan orang yang bodoh dan berpandangan jahiliah. Adapun orang yang suka dan gembira jika berbuat kebaikan serta kebajikan, itulah pertanda Mukmin. Derajat orang beriman yang mendapat petunjuk ke jalan haq, bersih dari hal-hal dosa dan kejahatan, dinilai oleh Allah SWT. sebagai orang yang mendapat kebahagiaan.

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy Syamsu: 9-10)

Sebagian tanda dari orang-orang berbudi pekerti luhur, menunjukkan sikap tidak berlebihan, baik dalam berbicara maupun dalam bertindak. Ketika bicara, tidak dengan suara keras, membentak-bentak. Isi pembicaraannyapun tidak menyinggung orang yang mendengarnya. Dalam tindakan, selalu tertib, penuh kerendahhatian. Tidak merasa "senior" yang bebas memperlakukan "junior" untuk disiksa, dianiaya. Tidak merasa sebagai aparat hukum yang leluasa mempermainkan hukum.

Sikap besar kepala yang ditunjukkan dalam perilaku dilarang keras oleh Allah SWT.,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 19)

Hakikat manusia, walaupun mengaku dan merasa modern, maju serta kuasa, tetap dalam kedaan lemah. Tak berdaya sama sekali. Allah SWT. dalam QS. An Nisa: 28 menyatakan,

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
"Wa huliqal insana dla'ifan" (Dan manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdaya.)

Kekuatan manusia dalam kelemahannya itu adalah memiliki akhlak mulia, budi pekerti halus, dan bagus. Bersih dari sifat-sifat ganas, kejam, dan tidak tunduk kepada hawa nafsu jahiliah, sebab kepada setiap orang yang berbuat baik, Allah SWT. akan menunjukkan jalan serta selalu menyertainya.

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Innallaha lama'al muhsinin" (QS. Al Ankabut: 69)

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut, pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi 12 Januari 2012 / 18 Safar 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Sepenggal kisah berikut ini hanya satu dari banyaknya cerita yang mengubah sejarah, sebuah cerita dari orang-orang yang yakin akan kemenangan da’wah ini.

    Sore itu, sipir penjara memberikan pengumuman mengejutkan, mereka diperbolehkan shalat maghrib berjama’ah. Hal yang benar-benar mengejutkan, karena selama ini mereka dilarang shalat berjama’ah meskipun didalam sel.

    Shalat maghrib berjama’ah akan dilakukan di halaman penjara militer. Wajah para Ikhwan terlihat bersemangat, sudah berbulan-bulan mereka tidak merasakan shalat berjama’ah, bahkan membaca Qur’an pun jika terdengar akan mendapat hukuman berat.

    Mereka semua berbondong-bondong turun dari gedung penjara dan berkumpul di halaman penjara. Salah seorang Ikhwan lalu mengumandangkan adzan: Allahu Akbar..Allahu Akbar… mereka seperti tidak percaya dengan peristiwa ini, seolah seperti mimpi.

    Para Ikhwan meminta Yusuf Qaradhawi untuk mengimami mereka, kemudian mereka tenggelam dalam kekhusyuan, ketenangan, ketundukan yang sulit dilupakan kenikmatannya. Ayat demi ayat Al Qur’an dibaca, begitu menyentuh dan menggetarkan dinding penjara yang bertingkat empat itu. Yusuf Qaradhawi dalam dua raka’at shalat Maghrib membaca seperempat akhir dari surat Ali Imran ayat 186:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

    Kamu sunguh-sunguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

    Kemudian beliau melewati bacaan ayat yang mengandung do’a yang dilantunkan para ulul albab, di QS. Ali Imran ayat 191:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    (Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau diam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Ikhwan seperti tidak menginjak bumi, terbang diangkasa yang tinggi, isakan tangis mulai terdengar, Yusuf Qaradhawi terus membacakan ayat demi ayat akhir surat Ali Imran, sampai akhirnya ditutup dengan ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Yaa ayyuhalladzina amanush biru wa shobiru wa robitu wat taqullaha la’allakum tuflihuun” (Wahai orang-orang beriman, bersabarlah dan lipat gandakanlah kesabaran kalian dan kuatkanlah ikatan kalian dan bertaqwalah pada Allah niscaya kalian menang).

    Kemudian beliau mengucapkan salam diikuti para Ikhwan, dan airmata terlihat membasahi pipi para Ikhwan.

    Subhanallah, bagaimana halaman penjara yang selama ini menjadi medan penyiksaan luar biasa, yang selama ini menjadi tempat Ikhwan dihukum, yang menjadi tempat tangan dan kaki Ikhwan diikat dan disalib pada sebuah papan kayu melingkar untuk kemudian disiksa, dipukul bertubi-tubi, tempat yang menjadi lokasi dibakarnya mushaf Al Qur’an. Bagaimana kini tempat itu menjadi seperti masjid yang besar, yang bisa digunakan shalat bersejarah ini?

    Sayangnya, shalat berjama’ah ini adalah yang pertama dan terakhir. Tampaknya para sipir penjara telah menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka, efek dari shalat berjama’ah ini yang semakin mengokohkan hati dan memperkuat tekad para Ikhwan. (Mudzakkirah Doktor Yusuf Qaradhawi, Hayati Ma’a Al Ikhwan Al Muslimun)
Saat-saat sekarang kita di sinipun demikian, diuji kematangan kita dalam Tarbiyah, dimana kita tidak hanya diam di masjid-masjid mendengarkan kajian namun hasilnya menjadi pribadi-pribadi yang sibuk menyalahkan.

Perubahan ini bisa terjadi karena adanya mereka yang matang, yang berani mengamalkan ideologi Islam ini dalam kehidupannya, sampai akhirnya memunculkan kesadaran akan adanya sebuah tanggung jawab. Keengganan dan kesungkanan kita untuk bersegera memenuhi ruang-ruang publik dan kelembagaan dengan dalih tidak mau tersentuh problematika lingkungan ataupun takut terwarnai akan memberi peluang orang-orang yang tidak amanah untuk mengelolanya yang sudah pasti akan menjerumuskan banyak orang, termasuk menghalangi tegaknya da'wah itu sendiri.

As Syahid Sayyid Quthb pernah berkata “Bila Anda mengajak orang lain mengikuti prinsip anda, maka orang tidak akan percaya pada suatu prinsip yang tumbuh dalam pikiran beku dan nyali yang tidak menyala. Percayailah konsepmu, orang akan melihat bagaimana kamu mempertahankan prinsip dengan jiwa dan ragamu. Setelah itu barulah orang percaya, dan Insya Allah megikuti jejakmu. Jika tidak maka prinsip yang engkau kumandangkan hanyalah kata-kata muluk yag tidak hidup dan berjiwa. Ketakutan menghadapi resiko perjuangan merupakan cermin lemahnya keyakinan dan unsur kebaikan dalam dirimu.

Di depan kita saat ini terhampar sebuah harapan akan kemenangan da’wah, lembaga kita sudah mulai dipercaya publik, dan sebentar lagi harapan-harapan baru itu akan tumbuh menjadi kepercayaan, kesulitan di setiap medan beramal.

Insya Allah justru akan memunculkan gerak dan aktivitas, demikian pula sebaliknya ketakutan untuk menghadapi kesulitan hanya akan menjadikan amal menjadi lemah dan stagnan, seperti apa yang disampaikan Imam Hasan Al Banna, “karakter pejuang da’wah adalah orang-orang yang tidak tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar rahangnya dan menunaikan dalam sendau gurau permainan yang sia-sia. Jika itu yang terjadi, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang atau orang-orang yang tercatat sebagai barisan mujahidin.

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al Ahzab 23,

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada yang masih menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.

Tercatat dimanakah kita? ***

[Sumber tulisan: http://www.lailahaillallah.com/profile-12347]

by

u-must-b-lucky
Allah SWT. menyanjung kita dengan sebutan, khoiro ummah, umat terbaik. Ungkapan ini pasti benar karena dari Al-Qur'an. Kalimat khoiro ummah terdiri atas dua suku kata, khoiro dan ummah. Khoiro bentuk infinitif dari kata khaara-yakhiiru, artinya menjadi baik.
Sebagai isim (noun), kata khoir bisa diartikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Kata khoir bisa juga berfungsi sebagai isim tabdil, artinya lebih baik atau terbaik. Kata ummah jamaknya umam, berasal dari kata amma-yaummu bisa bermakna banyak. Bisa diterjemahkan menuju, menjadi, ikatan, segolongan, sekelompok, atau generasi. Jadi, khoiro ummah artinya sekelompok atau segolongan manusia terbaik yang memberi manfaat buat orang banyak.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tin: 4)

Walaupun pada ayat di atas menyinggung tentang manusia sebagai makhluk yang tercipta dengan rupa yang sebaik-baiknya, dalam konsteks ini tidak ada hubungannya dengan makna khoiru ummah. Ayat ini lebih mempertegas bahwa Allah menciptakan rupa manusia jauh lebih sempurna dan baik dibandingkan dengan makhluk lainnya, seperti hewan. Jadi, yang dimaksud khoiro ummah bukan kepada wujud fisik —cantik atau ganteng tidaknya— tetapi lebih mendasar kepada persoalan transcendental (hal bersifat rohaniah). Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. (QS. Al-Hujuraat: 13)

Sabda Rasulullah SAW.,
"Innallaha la yanduru ilaa ajsamikum wala suwarikum, walakin yanduru ila qulubikum." (Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupa dan suaramu, tetapi Allah melihat hatimu.)

Siapa umat terbaik ini? Sebagian ulama mengacu kepada pendapat Ibnu Abbas bahwa umat terbaik adalah mereka yang hijrah dari Mekah ke Madinah bersama Nabi SAW., yang ikut Perang Badar dan orang yang ikut rombongan Nabi ke Hudaibiyah. Sebagian lainnya berpendapat, mereka adalah umat Islam periode pertama dengan dasar hadits Nabi,
"Sebaik-baik umatku adalah abad di mana aku diutus kepada mereka, kemudian orang-orang berikutnya." (HR. Ahmad)

Ada juga yang mengatakan, umat yang terbaik itu umat akhir zaman yang tidak pernah berjumpa dengan Nabi, tetapi mereka tetap beriman.
"Sebaik-baik manusia adalah kaum yang beriman kepadaku, tetapi tidak pernah jumpa denganku." (HR. Zaid bin Aslam dari ayahnya Umar)

Sementara yang lainnya berpendapat bahwa semua manusia adalah umat terbaik sepanjang masa jika mereka berpegang teguh pada prinsip amar ma'ruf nahyi munkar, dan beriman kepada Allah.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali Imran: 112)

Pada ayat di atas ditegaskan bahwa umat manusia yang mulia (terbaik) adalah orang yang berhubungan baik dengan Allah (ibadah) dan berhubungan baik dengan sesama manusia (muamalah: lebih spesifik: bersilaturahmi).

Dalam upaya mewujudkan keseimbangan itu, pada 622 M tahun pertama Hijriah, atau abad ke-7 M, jauh sebelum Prancis, Inggris, atau Amerika membuat sistem perundang-undangan (Prancis membuat sistem perundang-undangan pada abad ke-17 M), Rasulullah SAW. telah merumuskan pedoman bermasyarakat yang bermartabat, yang dituangkan dalam Piagam Madinah. Piagam Madinah (perjanjian yang dibuat Nabi SAW. bersama penduduk Madinah, baik golongan Islam maupun non-Islam pada tahun pertama Hijriah), secara global berisi dua hal pokok, yaitu organisasi umat yang diikat oleh akidah Islam dan organisasi umat yang menghimpun jemaah atau komunitas yang beragam atas dasar ikatan sosial politik. Dalam pasal 25 Piagam Madinah, secara tertulis disebutkan adanya pengakuan kebebasan setiap orang untuk memilih agama.

Salah seorang orientalis terkenal Sir Thomas Arnold mengagumi piagam ini. Menurut dia, organisasi umat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW. merupakan awal kehidupan kebangsaan dalam Islam, bahkan yang pertama dalam sejarah kemanusiaan.

Dipengujung akhir 2011, menjelang 2012, drama kehidupan bangsa ditutup dengan peristiwa pembakaran sebuah masjid di Sampang, Madura. Persoalannya sepele, urasan pribadi. Konflik bermula dari kakak-adik Rois dan Rojul atau yang juga dikenal dengan Tajul Muluk. Mereka berselisih karena Rojul akhirnya meyakini Syiah.

Rupanya Rois tidak menerima keputusan Rojul sebab keyakinan Rojul membuat dirinya menjadi berbeda sendiri dari anggota keluarga lainnya. Dari perbedaan paham ini meluas menjadi perebutan anak didik (santri), yang berakhir dengan pembakaran pondok pesantren tempat Rojul, termasuk tiga rumah, dan satu mushala. Peristiwa Sampang bukan satu-satunya dan bukan yang pertama. Sebelumnya kita tahu peristiwa di Ambon, Garut, Tasikmalaya, Cikeusik Pandeglang, yang di samping pembakaran tempat ibadah, rumah, juga banyak korban meninggal, semua kebrutalan ini mengatasnamakan agama. Mestinya, justru atas alasan keagamaan wajib tercipta persaudaraan dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat, bukan sebaliknya.
Apakah kita umat terbaik?
Benar, jika berpegang teguh pada prinsip-prinsip umum "keilahian" (sebagai pengabdi Tuhan, bukan pengabdi uang, jabatan atau pengabdi setan) dan "kekhalifahan" (sebagai pemimpin di muka bumi untuk menegakkan kebenaran keadilan yang dipayungi akhlak). Mulia atau tercela; baik atau buruk; penganut agama yang saleh atau bukan; pejuang atau pecundang, tidak diukur dari bentuk tubuh, busananya berserban, dan bergamis atau tidak; tetapi "peran" (tugas yang dijalani) dan "cara berperan" (akhlak: budi pekerti).

Syaikhul Islam Al-Azhar, penyusun buku terkenal Risalah Tauhid, Muhammad Abduh mengatakan bahwa umat terbaik itu adalah umat yang bukan hanya berdasarkan agama, tetapi juga atas dasar kemanusiaan sebagai faktor perekat sosial.

Semoga kekerasan berubah menjadi kedamaian!

Wallahua'lam bishshowab.***

[Ditulis oleh H. MUHTAR GANDAATMAJA, Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al-Hijaz, Ketua Forum Komunikasi KBIH Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 6 Januari 2012 / 12 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Di tengah-tengah kehidupan masyarakat sekarang ini, tidak jarang kita mendapati ada orang yang selalu bersedekah kepada orang lain, sementara sanak kerabat yang membutuhkan uluran tangannya terlewatkan.
Hal ini tentunya bukanlah perbuatan terpuji. Walaupun sedekah dapat diberikan kepada siapa saja dan dapat dikelola menjadi potensi ekonomi masyarakat, tetapi roh dari sedekah sebenarnya adalah untuk mempererat jalinan hubungan antar manusia dalam hubungan kekerabatan, hubungan antar tetangga, dan pembinaan masyarakat secara lebih luas.

Oleh karena itu, ajaran Islam menetapkan skala prioritas mengenai siapa saja yang harus didahulukan untuk dapat menerima sedekah yang kita keluarkan, dan perioritas yang harus didahulukan adalah bersedekah kepada sanak kerabat.

Diriwayatkan dari Anas RA., Beliau berkata,
"Abu Thalhah RA. adalah salah seorang sahabat Anshar yang paling banyak memiliki harta dari kebun kurma di Madinah. Harta kekayaan yang paling disukainya adalah kebun bairuha yang berhadapan dengan masjid. Rasulullah SAW. sering masuk ke kebun itu dan minum air yang bersih di dalamnya."

Anas pun mengatakan, ketika turun ayat yang berbunyi,

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai. (QS. Ali Imran: 92)"

Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW. Lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, Allah SWT. berfirman, 'Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai,' sedangkan harta yang paling saya cintai adalah kebun bairuha. Kini kebun itu saya sedekahkan karena Allah SWT., dengan harapan kebajikannya dan simpanan (pahala)nya di sisi Allah SWT., maka letakkanlah kebun itu wahai Rasulullah sesuai dengan apa yang diberitahukan Allah kepadamu."

Rasulullah SAW. bersabda, "Bagus! Itulah harta yang menguntungkan. Saya telah mendengar apa yang kamu katakan, dan saya berpendapat, sebaiknya kebun itu kamu jadikan sedekah kepada sanak kerabat."

Lalu, Abu Thalhah berkata, "Saya laksanakan ya Rasulullah." Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikan kebun itu untuk sanak kerabat dan anak-anak pamannya." (HR Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas, secara jelas memberikan tuntunan kepada kita untuk mengutamakan dan mendahulukan bersedekah kepada sanak kerabat sebelum bersedekah kepada orang lain. Bahkan bersedekah kepada kerabat yang membenci kepadanya atau kepada kerabat yang memutuskan ikatan kekerabatan itu lebih utama lagi. Hal ini dipandang sebagai sebaik-baiknya bersedekah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Kultsum bin Uqbah bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Sebaik-baik sedekah adalah kau berikan kepada kerabat yang membencimu." (HR. Hakim)

Mendahulukan bersedekah kepada kerabat merupakan bagian dari pokok-pokok kebajikan. Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 177, Allah SWT. berfirman,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dalam firman-Nya yang lain,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah: 215)

Tujuan dari mendahulukan bersedekah kepada sanak kerabat adalah untuk mempererat hubungan kekerabatan. Dalam ajaran Islam, mempererat hubungan kekerabatan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman. Pemberian sedekah itu menjadi gambaran keinginan untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan hubungan kekerabatan tersebut.

Ketika seseorang memberikan sedekah kepada sanak kerabat, ia mendapatkan dua pahala. Pertama, pahala sedekah itu sendiri, dan yang kedua, pahala menyambung tali kekerabatan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Salman bin 'Amir RA. dari Nabi SAW.,
"Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena mengandung berkah. Jika tidak ada, hendaklah dengan air karena air itu suci."

Beliau juga bersabda,
"Sedekah kepada orang miskin hanya mendapatkan pahala sedekah saja, sedang sedekah kepada sanak kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu sedekah dan menyambung tali kekerabatan." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Dengan demikian, para kerabat itu berhak untuk didahulukan dari pada orang lain dalam menerima sedekah. Allah SWT. berfirman,

فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS Ar-Rum: 38)

Untuk itu, ketika kita akan bersedekah, pertama-tama perhatikan dulu apakah ada kerabat kita yang miskin atau anak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita? Jika ada, merekalah yang harus didahulukan untuk menerima sedekah.

Allah SWT. berfirman,

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. (QS Al-Balad: 15)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu." (HR. Ahmad dan Muslim)

Selanjutnya, kepada tetangga kita yang fakir dan miskin juga seterusnya kepada yang lebih luas lagi, bila masih belum menemukannya dan kita tidak mengetahui lagi siapa yang harus kita beri sedekah, kita bisa menitipkannya kepada lembaga sosial atau pada Badan Amil Zakat yang terpercaya.
Wallahualam bissawab.***

[Ditulis oleh H MOCH HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 5 Januari 2012 / 11 Safar 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Mengeluh wajar-wajar saja, manusiawi, kodrat manusia memang suka berkeluh kesah seperti disebutkan Allah SWT. dalam QS. Al-Ma'arij 19-20,

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.

Tetapi kalau kita terlalu gampang mengeluh, maka hal tersebut akan membuat kita menjadi hamba yang kurang bersyukur terhadap semua nikmat Allah dan akan merupakan ciri-ciri kurangnya keikhlasan kita terhadap segala pengaturan-Nya. Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah pemandangan sehari-hari kehidupan di kota. Pekerjaan rumah tangga menumpuk karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh. Tugas di kantor atau di sekolah bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan keluhan. Cobalah ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi.

Cobalah mulai mensyukuri semua nikmat yang ada, nikmat kesehatan, kemudahan urusan, rezeki, nikmat karunia anak, rumah, jalan keluar dari kesulitan yang dialami dan sebagainya.

Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Sesekali mengeluh tidak mengapa, asal jangan menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter yang sulit dihapus dari kepribadian seseorang.
  1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata.
    Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah SWT. Karena Dia-lah Yang Maha Tahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita.

    قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (QS. Yusuf : 86)

    Dekatkan diri pada Allah, tafakuri semua yang ada dalam hidup, mulailah belajar mensyukuri semua karunia-Nya.
  2. Kita harus ingat, bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa dicari solusinya.
    Mohonlah bantuan pada Allah SWT. dan sebaiknya, lebih baik memikirkan, mencari dan membicarakan solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi, daripada sekedar mengeluh.
  3. Jangan membesar-besarkan masalah.
    Anas bin Malik RA. berkata,
    "Saya melayani Rasululullah SAW. selama dua puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa engkau melakukan itu?'" (HR. Muslim)

    Jadi biarkan saja hal-hal sepele yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.
  4. Bicaralah tentang nikmat Allah.
    Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup kita, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Dengan bersikap seperti ini, bukan hanya membantu kita menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu mensyukuri nikmat Allah,

    فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
    Lalu nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? (QS. Ar-Rahmaan)
  5. Ingatlah mereka yang lebih kurang beruntung.
    Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka yang kurang beruntung dari kita. Bacalah berita-berita tentang orang lain yang menderita di bagian dunia lain.
    Bacalah tentang kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang kehidupan para tunawisma di lingkungan kita sendiri.
    Sesekali berinteraksilah dengan mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur kepada Allah atas apa yang kita miliki.
  6. Kurangi stres dalam hidup.
    Berdzikir dan membaca Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran kita. Perbanyaklah dzikir untuk mengurangi stres.
  7. Belajarlah dari orang-orang terdahulu (pengalaman).
    Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang penting dan pengalaman para Nabi, sahabat Nabi dan generasi-generasi muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka menghadapi masalah.
  8. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan.
    Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu, apakah kita merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.
  9. Bicaralah seperlunya.
    Jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan masih menemukan diri kita masih terlalu banyak mengeluh, mungkin itu karena kita sudah terlalu banyak bicara. Jangan biarkan setan yang mengarahkan kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya.
Wallahua'lam bishshowab.***

[Dikutip dari tausiyah Ust. MUHAMMAD ARIFIN ILHAM. Tulisan disalin dari situs http://www.mushollarapi.blogspot.com/]

by

u-must-b-lucky