Lemah lembut dalam bahasa Arab disebut layyin, sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Musa AS. dan Harun AS. untuk memberi peringatan kepada Firaun, raja yang sangat kejam dan dzalim.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Faqoola lahu qawlan layyinan laAAallahu yatathakkaru aw yakhsha

Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha: 44)

Sifat lemah lembut adalah gabungan sifat halim, tawadu, pemaaf, dan sabar. Sikap lemah lembut merupakan salah satu alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah yang kadangkala lebih efektif dan berimplikasi positif. Lemah lembut merupakan ruh (spirit) penyelesaian masalah melalui forum dialog, musyawarah, dan secara kekeluargaan. 
Pemimpin yang menyelesaikan persoalan kebangsaan dengan sikap lemah lembut menunjukkan pemimpin tersebut telah mencapai kematangan kepribadian dan menunjukkan integritas dirinya sebagai pemimpin yang memiliki kewibawaan. Contoh Nabi Sulaeman AS., Khalifah Umar bin Abdul Azis, dan Panglima Salahudin Al Ayubi

Kecenderungan pemimpin yang lebih banyak menonjolkan sifat-sifat kerasnya, cenderung otoriter, diktator, dan kurang menghargai hak-hak asasi. Sejarah mencatat bengisnya Raja Namruz, Firaun, Hitler, Musolini, Stalin, dan lain-lain. 

Lemah lembut sebagai salah satu cara atau metode penyelesaian masalah menempatkan manusia dalam posisi sejajar. Dengan kata lain, lemah lembut itu "memanusiakan manusia", tidak menempatkan manusia sebagai objek kekerasan. Apabila dengan cara lemah lembut tidak menyelesaikan masalah, pendekatan kekerasan sebagai alternatif terakhir. 

Apabila sikap lemah lembut masih bisa diupayakan, hindarkan dan jauhkanlah penyelesaian dengan cara kekerasan. Sikap lemah lembut akan melahirkan lebih jauh beberapa sikap yang terpuji dan positif, misalnya sikap kasih sayang, toleransi, saling pengertian, saling menghormati, dan tenggang rasa. 

Untuk sampai ke tingkat seorang pribadi yang lemah lembut memerlukan proses yang cukup panjang. Dituntut sikap sabar dan lapang dada terutama mampu mengendalikan dorongan emosinya. Rasulullah SAW., memaafkan Hindun dan Wahsyi yang telah membunuh secara keji paman Nabi, Hamzah RA. Nabi juga mengampuni orang yang akan membunuhnya (Suraqah), memaafkan orang yang melempari Nabi dengan kotoran. Rasulullah merupakan sosok manusia yang memiliki sikap lemah lembut yang paripurna. 

Sifat lemah lembut, sopan santun, dan akhlak mulia merupakan kekuatan besar, yaitu adanya peluang kembalinya kesadaran seseorang untuk bisa mengetahui kebenaran dan kebatilan. Bahkan, bisa dipastikan, di zaman Nabi hampir tidak ada orang masuk Islam karena perdebatan, tetapi mereka masuk Islam karena sikap dan sifat lemah lembut Rasulullah.

Demikian pula sikap dan sifat lemah lembut akan membawa kesuksesan, terutama bagi para dai yang menyampaikan dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Keberhasilan Rasulullah berdakwah disebabkan sikap lemah lembut. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an,  

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Fabima rahmatin mina Allahi linta lahum walaw kunta faththan ghaleetha alqalbi lainfaddoo min hawlika faoAAfu AAanhum waistaghfir lahum washawirhum fee alamri faitha AAazamta fatawakkal AAala Allahi inna Allaha yuhibbu almutawakkileena

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasat, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

Siapa pun jika ingin sukses, mendapat rahmat Allah, harus memilih sikap lemah lembut sebagai perangai diri. Bukan kebencian, kedengkian, dan permusuhan. Apabila kita telah berusaha menjadi pribadi santun dan ternyata belum ada perubahan pada apa yang kita harapkan berubah, serahkanlah semua kepada Allah, sebab kita hanya berkewajiban menjadi pribadi yang santun. Kita sama sekali tidak punya kekuatan mengubah kondisi hati orang lain. Allah pasti punya maksud yang lebih baik, lebih indah, dari setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi. 

Tampilan lahiriah seseorang menunjukkan kondisi hati orang tersebut dan bahasa lisan maupun bahasa tubuh seseorang mewakili isi hatinya. Rasulullah SAW., menegaskan,
"Ingatlah dalam diri seseorang ada segumpal daging. Jika daging itu baik, seluruh anggota badan akan baik. Jika sepotong daging itu buruk, buruklah seluruh anggota badan. Ingatlah bahwa sepotong daging itu adalah hati."

Suasana hati senantiasa dalam dzikrullah, ketaatan, dan pengawasan Allah. Jika suasana hati tidak diisi dengan hal yang demikian, pasti ia akan diganti oleh setan dengan hal-hal buruk. Bentuk tipu daya setan bisa berupa mengumbar omongan, mengeraskan pembicaraan, dan tidak menghormati orang lain. 

Padahal, Allah SWT. memerintahkan kita menjaga lisan dan tidak mengumbarnya apalagi berkata yang tidak baik sehingga akan menodai kepribadiannya. 

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Waiqsid fee mashyika waoghdud min sawtika inna ankara alaswati lasawtu alhameeri

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 19)

Semoga kita bersikap lemah lembut dalam memecahkan permasalahan, bukan mengedepankan kekerasan sehingga jatuh korban. *** 

[Ditulis oleh H HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDRUS, Ketua Umum Yayasan Assalaam, mantan anggota MPR, dan mantan ketua PW NU Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 24 Mei 2012 / 3 Rajab 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"] 

by 
u-must-b-lucky
"Berhati-hatilah dalam bicara, jaga lidah." Itulah sepenggal nasihat yang sering kita dengar untuk mengingatkan agar kita senantiasa berhati-hati dalam bicara. Tidak asal bunyi. Ada ungkapan lidah bisa lebih tajam daripada pedang, karena korban yang diakibatkan dari keseleo lidah bisa lebih banyak dan menyakitkan dibandingkan dengan pedang.

Islam telah mengajarkan pada umatnya agar senantiasa menata ucapan dan diamnya sehingga ia bisa meraih keuntungan dari pembicaraan yang dilakukan dan meraih keselamatan dari sikap diam yang diambilnya.

Sabda Nabi SAW.,
"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada seorang hamba yang berbicara sehingga meraih keberuntungan dan diam sehingga mendapatkan keselamatan." (Diriwayatkan Abu Syaikh dari Abu Umamah RA.)

Rasulullah SAW. pun mengingatkan akan akibat buruk dari lidah, ini. Bahkan hal inilah yang sangat beliau khawatirkan terhadap umatnya. Dari Sufyan bin Abdillah RA., ia berkata,
"Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku jadikan pegangan." Beliau menjawab, "Katakanlah, Tuhanku adalah Allah lalu istiqamahlah." Saya berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan atas diriku?" Rasulullah SAW. menunjuk lidahnya sendiri dan berkata, "Ini." (HR. Tirmidzi)

Bahkan, ketika Rasulullah SAW. ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau pun menjawab,
"Dua hal yang kosong, lidah dan kemaluan." (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, kekuatan merawat lidah ini pun dikaitkan dengan keimanan kepada Allah SWT. dan hari akhir. Sabda Nabi SAW.,
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau (kalau tidak bisa) maka hendaknya ia diam." (HR. Muslim)

Artinya, keharusan menjaga lidah tidak hanya menjaga hubungan baik dengan sesama. Akan tetapi, lebih dari itu, keharusan menjaga lidah merupakan unsur ibadah dan akidah.

Fakhruddin Nursyam dalam bukunya Syarah Arbain Tarbawiyah menyebutkan, empat syarat perkataan yang mengandung manfaat, yaitu,
  • Pertama, hendaknya perkataan itu ada tujuan yang melatarbelakanginya, yaitu untuk meraih manfaat atau menolak bahaya. Perkataan seseorang yang tidak memiliki tujuan hanya akan memperlihatkan kebodohannya, menyingkap aib dan kekurangannya, serta menjerumuskannya dalam kesalahan dan fitnah.
    Oleh karena itu, perkataan seorang Muslim hendaknya muncul dari pemikiran yang jernih dan memiliki tujuan pasti, sehingga selamat dari kesalahan serta bisa menunjukkan kecerdasan dan keimanannya.
    Disebutkan dalam sebuah atsar, "Lidah seorang yang cerdik berada di belakang akalnya. Apabila ingin berbicara, ia kembali kepada akalnya. Jika mendatangkan keuntungan ia akan berbicara, jika mendatangkan bahaya, ia akan menahan diri. Sedangkan akal orang yang jahil berada di belakang lidahnya, ia akan selalu berbicara tentang semua hal yang terpampang di depannya."
  • Kedua, hendaknya perkataan itu diucapkan pada tempat dan waktu yang tepat, sehingga mendatangkan manfaat besar. Pasalnya, perkataan yang tidak tepat waktu dan tempatnya, tidak banyak mendatangkan manfaat, bahkan bisa menimbulkan bahaya dan fitnah.
    Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa memperhatikan situasi dan kondisi yang melingkupinya ketika hendak mengeluarkan suatu perkataan.
    Disebutkan dalam atsar, "Setiap situasi dan kondisi memiliki perkataan tersendiri."
  • Ketiga, hendaknya perkataan itu diucapkan sebatas kebutuhan. Segala sesuatu pasti memiliki batas dan kapasitas tertentu. Perkataan yang melebihi batas dan kapasitasnya hanya akan mengurangi manfaat dan pengaruhnya, di samping juga menimbulkan kejenuhan dan kebosanan bagi yang mendengarkannya.
    Dalam atsar disebutkan, "Semoga Allah mencerahkan wajah seorang hamba yang meringkas pembicaraannya dan mencukupkan diri sebatas kebutuhan."
  • Keempat, memilih kata-kata yang hendak diucapkan. Karena lidah adalah identitas seseorang, hendaknya ia senantiasa memilih kata-kata yang tepat dan mengevaluasi semua perkataannya. Kepada pamannya, Abbas RA., Nabi SAW. pernah berkata,
    "Aku kagum dengan ketampananmu." Ia bertanya, "Apa ketampanan seorang lelaki, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Lidahnya."
Islam memberikan tuntunan dalam berbicara agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. 
  • Pertama, tidak banyak bicara atau diam. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Barangsiapa yang diam pasti selamat." (HR. Tirmidzi)
  • Kedua, mengendalikan lidah dari perkataan yang tidak bermanfaat. Sabda Rasulullah SAW.,
    "Barangsiapa yang  menahan lidahnya pasti Allah menutupi auratnya." (HR. Ibnu Dunya)
  • Ketiga, berkata yang baik. Dalam hal ini Rasulullah SAW. bersabda,
    "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau (kalau tidak bisa) maka hendaknya ia diam." (HR. Muslim)
  • Keempat, takut kepada Allah SWT.
    "Sesungguhnya Allah ada di sisi setiap orang yang berkata, maka hendaklah takut kepada Allah, Allah mengetahui apa yang diucapkannya."
    Ketahuilah, setiap ucapan yang keluar dari lidah akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT. berfirman,

    مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
    Ma yalfithu min qawlin illa ladayhi raqeebun AAateedun
    Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf [50]: 18)
Kemudian, Dr Musfhafa Dieb Al-Bugha dalam kitabnya Al-Wafi Fi Syarhil Arba'in An-Nawawiyah menambahkan bahwa etika orang beriman dalam bermuamalah dengan sesamanya adalah memperhatikan adab dalam berbicara. Di antara adab-adab itu adalah, 
  • Pertama, seorang Muslim hendaknya senantiasa berusaha membicarakan hal-hal yang mendatangkan manfaat, dan tidak mengucapkan ucapan yang tidak diperbolehkan. Perkataan yang tidak berguna tersebut di antaranya adalah gibah, namimah, mencela orang lain.
  • Kedua, tidak banyak berbicara. Karena dengan banyak bicara, meskipun dalam hal yang diperbolehkan, bisa jadi menjerumuskan kepada hal yang dilarang ataupun makruh. Sabda Nabi SAW.,
    "Janganlah kalian banyak bicara, yang bukan dzikir kepada Allah. Karena banyak bicara, yang bukan dzikir kepada Allah, akan membuat hati keras. Dan manusia yang paling jauh dari Tuhannya adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi)
  • Ketiga, wajib berbicara ketika diperlukan, terutama untuk menjelaskan kebenaran dan amar makruf nahi mungkar. Ini adalah sikap mulia yang jika ditinggalkan termasuk pelanggaran dan berdosa, karena orang yang mendiamkan kebenaran pada dasarnya adalah setan bisu.
Dengan demikian, jika setiap kita mampu mengendalikan lidah dari perkataan yang mengandung kebatilan, seperti umpatan, hardikan, penghinaan, ejekan, olok-olokan, adu domba, hasutan, dan sejenisnya, niscaya tidak akan ada perselisihan dan perdebatan yang berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat. 

Wallahu a'lam.***

[Ditulis oleh H. IMAM NUR SUHARNO, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Husnul Khotimah, Kuningan. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Pernah suatu ketika para sahabat dibarengi orang-orang sekitar Madinah mendatangi Rasulullah SAW. Mereka mendatangi beliau untuk menyampaikan keluhan sekitar harga-harga di Pasar Madinah semakin bergerak naik dan terasa memberatkan keadaan ekonomi mereka.

Mereka meminta Rasulullah SAW. agar berkenan untuk menurunkan harga-harga barang tersebut. Mengingat saat itu Rasulullah SAW. sebagai khalifah (pemimpin negara) dapat mengubah kebijakannya memenuhi tuntutan para sahabat tersebut.
Mendengar permintaan dan keluhan orang-orang saat itu, beliau dengan sigap merespons aspirasi mereka. Beliau mengatakan dengan bahasa diplomasi,
"Bahwa tingkat harga yang berlaku sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. sehingga pemerintah termasuk beliau tidak memiliki hak untuk melakukan intervensi terhadap harga-harga."

Beliau menolak permintaan sejumlah sahabat untuk menurunkan harga barang-barang di Pasar Madinah yang cenderung naik. Rasulullah SAW. mengatakan, beliau tidak ingin melakukan kedzaliman dengan menetapkan harga. Naik turunnya harga berada di tangan Allah SWT. karena Allah adalah Al-Mushoir (Sang Penetap Harga).

Lalu beliau menyampaikan dua hal di hadapan para sahabat dan orang-orang Madinah saat itu.
"Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah itu Penetap harga maka Dia-lah yang menyempitkan dan meluaskan rezeki kalian. Bila harga naik karena ketetapan Allah, Allah-lah yang mengatur rezeki kalian. Akan tetapi, bila harga itu naik karena kedzaliman para penguasa, sesungguhnya aku (Nabi SAW.) berharap mereka (para penguasa) bertemu dengan Allah dalam keadaan hina dan tersiksa." (HR. Abu Daud, lihat Aunul Ma'bud IX:320)

Jawaban beliau di hadapan orang-orang tersebut karena kondisi pasar berada dalam keadaan normal dan prinsip keadilan tampak di sana sehingga beliau tidak berhak mengintervensi harga-harga itu. Namun, jika kondisi abnormal terjadi di pasar, akibat perilaku spekulan pasar yang melakukan penimbunan dan terjadi ketidakadilan kebijakan pasar yang ditandai dengan kolusi antara pengusaha dan penguasa, intervensi untuk melakukan koreksi pasar menjadi mutlak dilakukan, bukan saja oleh pemerintah malahan rakyat pun berhak menuntut ketidakadilan itu.

Hal itu sebagaimana hadits dari Ma'mar bin Abdillah, beliau bersabda,
"Tidak akan menimbun barang kecuali yang berdosa, dan setiap orang berhak menuntut hak atas kedzaliman yang ia terima, baik meminta gantinya atau berdoa keburukan bagi pendzalim." (HR. Muslim)

Dengan riwayat-riwayat tersebut dapat menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita semuanya. Bila Allah telah menetapkan sesuatu terhadap dan untuk hamba-hamba-Nya, tidak ada kekuatan mana pun dapat mengubahnya. Jika Allah telah menetapkan sesuatu kepada hamba-Nya, percayalah sesuatu tersebut tidak akan luput sedikit pun. Janganlah kita salahkan diri kita, orang lain, apalagi Allah. Sesungguhnya kita hanya patut berusaha, Allah Penetap segalanya.

Kalau seandainya harga-harga jadi naik semuanya dengan izin Allah, percayalah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya tergeletak tanpa dibarengi rezekinya. Bukankah Rasulullah SAW. telah menyatakan dalam sabdanya,
"Tidak akan mati jiwa seseorang kecuali sudah Allah hentikan rezekinya bagi orang itu." (HR. Tirmidzi)

Artinya, selama kita hidup, rezeki itu tidak akan pernah dihentikan Allah

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Allahu khaliqu kulli shayin wahuwa AAala kulli shayin wakeelun
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)

Akan tetapi, apabila naiknya harga itu karena terjadi ketidakadilan, kedzaliman, dan kolusi antara penguasa dan pengusaha, tunggulah keadilan Allah terhadap mereka akan diperlihatkan-Nya dalam waktu dekat. Keadilan Allah terhadap kedzaliman mereka akan diperlihatkan berupa siksa dan azab sebagaimana dalam hadits riwayat Tirmidzi dari sahabat Ali bin Abi Thalib berupa; angin panas, gempa bumi, longsor, kelaparan, kericuhan, dan hilangnya ketidakpercayaan antar manusia, juga bencana-bencana lainnya.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Waittaqoo fitnatan la tuseebanna allatheena thalamoo minkum khassatan waiAAlamoo anna Allaha shadeedu alAAiqabi
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya. (QS. Al-Anfal: 25)

Sabda beliau,
"Seandainya Allah hendak menyiksa seluruh penduduk langit dan bumi, pasti Dia akan menyiksa mereka dengan tidak dzalim. Kalaupun Dia hendak merahmati mereka, pasti rahmat-Nya lebih baik daripada amal-amal mereka. Dan seandainya kamu berinfak emas sebesar Gunung Uhud di jalan Allah, Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman pada takdir, dan seandainya kamu mati dalam keadaan dosa dan keyakinan tidak percaya takdir, kamu pasti masuk neraka." (HR. Ad-Dailami)

Ketahuilah bahwasanya semua diketahui oleh Allah SWT. serta catatan setiap amal manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya dan di hadapan hamba-hamba-Nya.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Alam taAAlam anna Allaha yaAAlamu ma fee alssamai waalardi inna thalika fee kitabin inna thalika AAala Allahi yaseerun
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauhil mahfuz). Dan sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS. Al-Haj: 70)

Dengan demikian yang harus kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin. Jangan berbuat kedzaliman terhadap orang lain. Kita kembalikan semuanya kepada Yang Maha Menentukan, Sang Penetap harga yaitu Allah SWT. 

Semoga kita mendapatkan yang terbaik berdasarkan ketentuan-Nya. Amin.***

[Ditulis oleh UCU NAJMUDIN, mengajar di Pesantren Tahdzibul Washiyah, Gumuruh, Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 11 Mei 2012 / 19 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita dikejutkan dengan maraknya pemberitaan soal jual beli gelar akademik. Pembuatan tugas kuliah, skripsi, bahkan tesis dan disertasi melalui perantara (calo). Fenomena memprihatinkan lainnya ketika sebagian mahasiswa berhasil meraih sarjana tanpa melalui kuliah atau kuliah alakadarnya.

Dampak dari semua itu adalah ulama (cendekiawan) yang bergelar tanpa nalar dan berijazah tanpa kuliah. Penulis ingin meluruskan dulu istilah ulama dan cendekiawan karena kedua istilah itu bermakna sama, cuma saat ini pengertiannya dipersempit. Ulama dimaknai sebagai pakar ilmu agama, sedangkan cendekiawan memiliki keluasan dalam ilmu-ilmu umum.
Padahal, ilmu Allah tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam Al-Qur'an

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
innama yakhsha Allaha min AAibadihi alAAulamao

Sesungguhhya yang takut kepada Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. (QS. Fathir: 28)

Inilah makna khosyatillah, takut kepada Allah. Ayat ini secara kasatmata menyebutkan keistimewan ulama (cendekiawan) dibandingkan dengan hamba-hamba Allah yang lain adalah rasa takut mereka kepada-Nya. Rasa takut kepada Allah SWT. itulah yang menjadi sifat ulama yang paling menonjol sehingga wajar disebut ulama sebagai pewaris para nabi. (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Seorang ulama asal Banten yang dikenal di Timur Tengah, Imam Nawawi al Bantani, menjelaskan kriteria ulama ini, yakni beriman, menguasai ilmu syariah secara mendalam, dan memiliki pengabdian tinggi semata-mata karena mencari keridhaan Allah. Ulama itu bukan mencari keridhaan manusia. Dengan ilmunya, mereka mengembangkan dan menyebarkan agama dan ilmu pengetahuan baik dalam masalah ibadah maupun muamalah.

Bukan hanya mumpuni dalam ilmu agama, menurut Imam Nawawi, ulama juga harus jujur, amanah, cerdas, menyampaikan (tablig), mengenal situasi dan kondisi masyarakat, serta mengabdikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan dan menegakkan ajaran Allah

Cendekiawan/ulama tidak membutuhkan gelar, melainkan temuan dan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat sebagai solusi dan kesejahteraan lingkungannya. Meskipun banyak gelar yang ditempelkan pada namanya belum tentu menunjukkan amal saleh, ikhlas, dan peduli, maupun mau menerima masukan dan pendapat orang lain. Tak jarang seseorang yang merasa sudah bergelar apalagi memiliki jabatan amat susah menerima pendapat seseorang karena merasa dirinya sudah benar. Peribahasa Sunda menyebutnya, adat kakurung ku iga (sudah mengkristal dan susah berubah).

Ulama tidak mendiamkan, tidak menyetujui, dan tidak mendukung kedzaliman dan siapa pun yang berbuat dzalim

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
Wala tarkanoo ila allatheena thalamoo fatamassakumu alnnaru

Janganlah kalian cenderung (la tarkanu) kepada orang-orang yang berbuat dzalim, yang dapat mengakibatkan kalian disentuh api neraka. (QS. Hud: 113)

Ibnu Juraij menyatakan, kata "la tarkanu" berarti jangan cenderung kepadanya. Sementara itu, Imam Qatadah menyebutkan, jangan bermesraan dan jangan menaatinya, serta Imam Abu Aliyah menerangkan kata itu berarti jangan meridhai perbuatan-perbuatannya.

Ulama hanya takut kepada Allah. Sebaliknya, mereka tidak pernah takut kepada selain-Nya, meski dia adalah seorang penguasa dunia. Bahkan, mereka senantiasa berada di garis depan menentang setiap kedzaliman yang dilakukan para penguasa.

Ketinggian ilmu seseorang yang tanpa adanya hidayah Allah hanya akan membuat ulama/cendekiawan makin jauh dari-Nya, Ilmu tanpa didasari rasa takut kepada Allah hanya akan menimbulkan kebinasaan, kecelakaan, bahkan terjerembap dalam kekufuran. Hati orang itu telah mati.

Tersebutlah nama ulama/cendekiawan sekelas Hasan al-Bashri yang begitu besar rasa takutnya kepada Allah sehingga tak pernah gentar kepada penguasa dunia yang lalim. Beliau berani menentang penguasa Hijaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, penguasa Irak yang lalim pada zamannya. Ucapan Hasan al Bashri yang sangat terkenal, "Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para pemilik ilmu untuk menjelaskan ilmu yang dimilikinya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."

Demikian pula Sufyan ats-Tsauri yang menentang kebijakan penguasa Abu Ja'far al-Manshur ketika mendanai dirinya dan para pengikutnya yang beribadah haji ke Baitullah dalam jumlah yang sangat besar dengan dana dari Baitulmaal. Saat ini kita lihat betapa banyak anggaran pemerintah dari rakyat yang akhirnya dipergunakan untuk kepentingan segelintir pejabat.

Ulama lainnya seperti Abu Hanifah, pernah menolak jabatan yang ditawarkan Abu Ja'far al-Manshur dan menolak uang 10.000 dirham yang akan diberikan kepadanya. Kemudian ia ditanya oleh seseorang, "Apa yang Anda berikan kepada keluarga Anda, padahal Anda telah berkeluarga?" Beliau menjawab, "Keluargaku kuserahkan kepada Allah. Sebulan aku cukup hidup dengan dua dirham saja."

Keberanian ulama juga ditunjukkan Abu Muslim Al Khaulani yang tak mau mendengar pidato Khalifah Muawiyah. Ketika ditanya alasannya, Abu Muslim menjawab, "Karena engkau (Khalifah) telah berani memutuskan bantuan kepada kaum Muslim (rakyat). Padahal, harta itu bukan hasil keringatmu dan bukan harta ayah-ibumu."

Mendengar itu, Khalifah Muawiyah sangat marah. Ia lalu turun dari mimbar, pergi dan sejenak kembali dengan wajah yang basah. Ia membenarkan apa yang dikatakan Abu Muslim dan mempersilakan siapa saja, yang merasa dirugikan boleh mengambil bantuan dari Baitulmaal (Al-Badri, Al-Islam bayna al-Ula-ma' wa al-Hukkam, hlm. 101).
Semoga masih ada ulama, cendekiawan, dan kaum cerdik pandai lainnya yang berani meluruskan kedzaliman dan kesalahan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. 

Wallahu-a'lam. ***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 10 Mei 2012 / 18 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Barang siapa yang mandi sempurna pada hari Jumat, berpakaian yang paling pantas-rapi, dan memakai wewangian (jika ada), kemudian berangkat ke masjid (lebih awal, dengan tenang) dan melaksanakan shalat sekemampuannya — yang Allah menghendakinya (shalat Intidzar), kemudian diam menyimak khotbah, lalu shalat bersama khatib, maka akan diampuni dosanya di antara Jumat yang satu dan Jumat yang lain, ditambah tiga hari. (HR. Muslim dari Abu Hurairah dan HR. Abu Daud)

Saya pernah mengikuti Kajian Islam Intensif di Majlis Percikan Iman, dengan tema "Mukjizat Shalat Sunat". Dari kajian itu, saya mengetahui dan memahami ternyata sangat banyak jenis shalat sunat yang idealnya kita laksanakan setiap saat dengan sebaik-baiknya. Beberapa nama shalat sunat itu adalah shalat Rawatib, Tahajud, Witir, Syukrul Wudhu, Tahiyatul Masjid, shalat hari raya Idulfitri dan Iduladha, shalat Gerhana, shalat Istisqo, dan shalat Intidzar

Nama shalat sunat yang ditulis terakhir, yakni shalat Intidzar, bisa jadi bagi sebagian kita masih tergolong asing atau baru dikenal. Bagi sebagian orang, mungkin sudah lama mendengar dan mengenalnya tetapi belum pernah atau belum biasa mengamalkannya. 

Risalah ringkas yang penulis rangkum dari berbagai sumber ini mencoba menjelaskan apa shalat Intidzar itu dan apa keistimewaannya. Tidak berlebihan bila selanjutnya mengajak pembaca, marilah kita berniat melaksanakannya, mulai dari diri sendiri, dan mulai Jumat ini. 

Kita sudah mengimani kebenaran sabda Nabi Muhammad SAW., seperti yang dikutip pada awal tulisan ini. Oleh karena itu, siapa pun insya Allah akan sangat tertarik dan berniat mengamalkan shalat Intidzar dalam sisa hidupnya. Apalagi, bila kita tidak mengamalkan ilmu yang sudah diketahui, itu termasuk dosa. Lebih dari itu, dengan kita mulai mengamalkannya, insya Allah akan menjadi contoh teladan dan dakwah yang baik bagi generasi muda untuk juga secara bertahap melaksanakan shalat Intidzar
Dijelaskan Ustadz Amiruddin dalam Risalah Mukjizat Shalat Sunat bahwa Intidzar yang berasal dari bahasa Arab itu artinya "menunggu". Shalat sunat Intidzar adalah shalat sunat dua rakaat-dua rakaat, yang dilaksanakan saat menunggu imam naik-menuju mimbar untuk menyampaikan khotbah Jumat. Shalat Intidzar dilaksanakan dua rakaat-dua rakaat menurut kemampuan, atau sekemampuan kita melaksanakannya sesuai dengan ketersediaan waktu. Shalat Intidzar dilaksanakan di masjid, sejak kita melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid sampai dengan tiba waktu dzuhur, yang ditandai dengan berdirinya imam-khatib menuju mimbar untuk menyampaikan khotbah Jumat

Andai kita mencoba menghitung jumlah rakaatnya bisa bervariasi bergantung pada panjang pendek surat yang dibaca dan sisa waktu yang tersedia sampai dengan waktu dzuhur. Mau membanyakkan jumlah rakaat dengan membaca surat-surat pendek atau mau menyedikitkan jumlah rakaat tetapi membanyakkan jumlah ayat Al-Qur'an yang dibaca pada setiap rakaatnya, itu sama baik/utamanya. Bila hal itu kita amalkan, sungguh merupakan prestasi amal saleh yang luar biasa yang bisa dilaksanakan setiap Jumat. Marilah kita jadikan kualitas dan kuantitas ibadah Jumat hari ini dan seterusnya lebih baik lagi. 

Keistimewaan atau mukjizat apa yang dijanjikan Nabi atas pelaksanaan shalat Intidzar itu? Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW., paling tidak ada dua jaminan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang rajin melaksanakan shalat fardu lima waktu, shalat wajib Jumat lengkap dengan shalat Intidzar, yaitu diampuni dosa dan dikabulkan doa. 

Dalam hadits yang sudah sangat populer Nabi SAW. bersabda,
"Apa yang akan terjadi, jika di depan rumah kalian terdapat sebuah sungai yang mengalirkan air nan jernih, dan kalian mandi lima kali dalam sehari semalam, apakah masih tersisa kotoran pada badan kalian? Mereka menjawab, tentu tidak akan tersisa sedikit pun kotoran. Jika demikian, begitulah dengan shalat lima waktu, Allah akan menghapus setiap kesalahannya dengan shalat tersebut." (HR. Muslim)

Singkatnya, pada setiap pertemuan/pelaksanaan ibadah, Allah SWT. menaburkan kasih sayang berupa kemurahan ampunan-Nya. Dalam hadits lain yang mutafakun alayh dijelaskan bahwa,
"Setiap pertemuan ibadah fardu, dari shalat ke shalat, dari puasa ke puasa, dari umrah ke umrah, dan dari haji ke haji ada kifarat."
Demikian juga dari Jumat ke Jumat, Allah menebarkan kifarat, ampunan-Nya. Doa dipenuhi. Allah SWT. berfirman,  

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Waitha saalaka AAibadee AAannee fainnee qareebun ojeebu daAAwata alddaAAi itha daAAani falyastajeeboo lee walyuminoo bee laAAallahum yarshudoona

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah (Muhammad) bahwasanya, Aku adalah dekat. Aku mengabulkan setiap permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al-Baqarah: 186)

Berkaitan dengan hari Jumat, Nabi SAW. dalam hadits riwayat Abu Dawud yang insya Allah sudah lama kita kenal mengisyaratkan,
"Siang hari Jumat itu dua belas jam. Tidaklah didapati seorang hamba Muslim pada saat-saat itu meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah memberinya. Maka carilah saat-saat tersebut setelah Ashar."

Selanjutnya berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. bersabda,
"Sesungguhnya pada hari Jumat ada saat-saat, yaitu seorang Muslim tidaklah ia berdiri shalat dan meminta kebaikan kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya. Lalu beliau berkata, dan saat-saat tersebut adalah saat yang singkat." (HR. Muslim)

Tentang saat yang singkat ini ada pendapat ulama yang menegaskan bahwa saat yang singkat itu adalah saat khatib duduk sejenak di antara dua khotbah

Sementara jaminan pengampunan dosa yang khusus berkaitan dengan shalat Intidzar bisa kita pahami dari hadits sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini. Jadi, tidak ada lagi alasan kita melaksanakan ibadah shalat Jumat dengan asal-asalan, terutama bagi kita, para pembaca yang tidak berusia muda dan tidak termasuk orang yang amat rajin berbuat amal saleh, maka melaksanakan shalat Jumat dengan sepenuh keimanan, sepenuh pengharapan kepada Allah akan taufik, hidayah, dan maghfirah-Nya, adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. 

Semoga Allah membimbing kita dengan ketaatan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga akhir hayat. Terutama dengan istiqamah melaksanakan shalat fardu berjemaah di masjid dan menunaikan serangkaian ibadah Jumat secara paripurna, tidak melewatkan shalat sunat Tahiyatul Masjid, Intidzar, wajib Jumat, dan sunat Badiyah Jumat, serta doa-dzikir-nya. Amin.*** 

[Ditulis oleh DAENG NURJAMAL, dosen STP Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 4 Mei 2012 / 12 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"] 

by 
u-must-b-lucky
Pertanyaan ke mana, mungkin paling sering digunakan secara massal dan fenomenal. Penyanyi dangdut Ayu Tingting baru-baru ini meraup sukses karena mendendangkan lagu "Alamat Palsu" yang penuh kata tanya, "Ke mana, ke mana?" Setengah abad sebelumnya (1969), mendiang penyanyi Ellya M. Haris (Khadam) mengalami hal serupa, berkat lagu "Kau Pergi Tanpa Pesan" yang dimulai dengan kata tanya "Ke mana?" Demikian pula Elvie Sukaesih yang lagunya "Ke Mana", sangat populer pada pertengahan 1970-an.
Kata tanya ke mana memang sangat umum. Menjadi keperluan pokok dalam percakapan sehari-hari. Namun, akan mengandung makna sangat mendalam karena di situ terdapat gambaran ketidaktahuan manusia yang serba lemah dan terbatas pengetahuannya.

Apalagi jika dilontarkan oleh Allah SWT., Sang Maha Pencipta kata, sekaligus Pencipta makhluk pengguna kata, kalimat, dan bahasa

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
Faayna tathhaboona

maka ke manakah kalian akan pergi? (QS At-Takwir: 26)

Sayyid Qutub, penulis tafsir "Fi Dzilalil Qur'an" menyebut pertanyaan tersebut, sangat menyentak. Menguak kesadaran setiap insan atas ketakberdayaan dirinya menghadapi kekuasaan Allah SWT., yang telah memberi pilihan jelas tentang arah kehidupan di jalan lurus. Namun, kebanyakan manusia mengabaikannya. Justru terseret ke arah jalan sesat dan menyesatkan yang membawa kepada kehancuran di dunia dan akhirat.

Sebelum melontarkan pertanyaan lumrah tetapi sangat dahsyat itu, Allah SWT. terlebih dulu memaparkan kondisi alam semesta pada saat terjadi hari kiamat. Yaitu tatkala matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, sehingga seluruh makhluk lintang pukang mencari penyelamatan. Tak ingat apa-apa lagi.
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ
وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ
وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ
وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Itha alshshamsu kuwwirat Waitha alnnujoomu inkadarat Waitha aljibalu suyyirat Waitha alAAisharu AAuttilat Waitha alwuhooshu hushirat Waitha albiharu sujjirat Waitha alnnufoosu zuwwijat

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh) (QS. At-Takwir : 1-7)

Termasuk unta-unta bunting yang akan melahirkan. Dalam tradisi Arab, memelihara unta adalah sangat istimewa. Selain menjadi sumber nafkah, juga sebagai gengsi. Jumlah unta peliharaan menjadi salah satu ukuran kekayaan dan kehormatan. Terlebih jika banyak di antara unta peliharaan bunting-bunting. Berarti sehat-sehat, di samping akan menambah koleksi jumlah unta. Menunggui dan menjaga unta bunting siap melahirkan merupakan tugas penting setiap anggota keluarga. Tidak boleh dibiarkan telantar, terutama pada saat bayi unta keluar dari rahim induknya.

Dalam tradisi modern, unta bunting mungkin setara dengan emas intan, deposito, tabungan, saham, harta bergerak, harta tidak bergerak, dan lain-lain yang juga menjadi ukuran dan kehormatan duniawi. Akan tetapi, ketika terjadi guncangan kiamat, semua tak berarti. Harta, kekayaan, kehormatan, tak perlu lagi dipertahankan. Semua gonjang-ganjing. Tak tahu arah pelarian.

Di daratan, gunung-gunung sudah hancur lebur. Di lautan, air menggelegak. Panas jutaan derajat. Kemudian ruh dipertemukan dengan tubuh. Manusia yang sudah mati dibangkitkan kembali. Yang masih hidup mengalami kematian pula bersama proses pelenyapan alam semesta, dan juga dihidupkan lagi seperti yang sudah mati terdahulu. Lalu digiring ke alam mahsyar, untuk menempuh perhitungan amal perbuatan. Yaumul Hisab. Hari Perhitungan, Hari Pengadilan yang dipimpin langsung oleh Allah SWT. Ahkamul Hakimin. Hakim Mahahakim. Di situ, bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, dosa apa yang membuat mereka dibunuh?
وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ
بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
Waitha almawoodatu suilat Biayyi thanbin qutilat

dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, (QS. At-Takwir: 8-9)

Dalam tradisi Arab Jahiliyah (sebelum kedatangan Islam), memiliki bayi perempuan dianggap aib, noda, penghinaan. Karena yang dibutuhkan adalah bayi laki-laki yang kelak tumbuh dewasa menjadi pahlawan. Akibatnya, setiap bayi perempuan yang baru lahir, langsung dikubur hidup-hidup hanya karena rasa malu keluarga yang tumbuh dari keangkuhan dan kesombongan heroisme belaka. Namun, tradisi Jahiliyah tersebut, ternyata masih terus tumbuh berkembang pada zaman modern. Tatkala sebagian manusia merasa malu mempunyai bayi. Bukan hanya perempuan tetapi juga lelaki. Malu karena lahir dari hubungan tidak sah, hubungan gelap, perzinaan yang terkutuk sehingga membawa dosa tambahan terkutuk pula. Yaitu pembunuhan terhadap bayi tak berdosa. Bahkan berbagai praktik pembunuhan bayi di abad Jahiliyah modern ini lebih sadis. Mulai dari aborsi janin, baik ilmiah, maupun non-ilmiah, maupun pembunuhan langsung begitu bayi keluar. Termasuk juga membuang dan menelantarkan bayi atau anak-anak yang masih membutuhkan asuhan dan kasih sayang orangtua.

Kemudian catatan amal perbuatan dibuka terang-terangan. Gamblang segamblang-gamblangnya. Tak ada sedikit pun yang disembunyikan, direkayasa, diputarbalikkan. Neraka telah dinyalakan. Siap menelan para pendosa. Surga telah dibukakan. Siap menyambut para penerima pahala kebajikan. Setiap jiwa, saat itu, akan mengetahui apa yang dikerjakannya.
وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ
وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ
وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ
وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ
Waitha alssuhufu nushirat Waitha alssamao kushitat Waitha aljaheemu suAAAAirat Waitha aljannatu ozlifat AAalimat nafsun ma ahdarat

dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, (QS. At-Takwir: 10-14)

Dipaparkan pula posisi Malaikat Jibril, sebagai panglima para malaikat, yang telah bertugas menyampaikan wahyu Ilahi kepada Nabi Muhammad SAW., berupa ayat-ayat Al-Qur'an. Mustahil jika ayat Al-Qur'an itu merupakan perkataan setan terkutuk.
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ
ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ
مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ
وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ
وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ
Innahu laqawlu rasoolin kareemin Thee quwwatin AAinda thee alAAarshi makeenin MutaAAin thamma ameenin Wama sahibukum bimajnoonin Walaqad raahu bialofuqi almubeeni Wama huwa AAala alghaybi bidaneenin Wama huwa biqawli shaytanin rajeemin

sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, (QS. At-Takwir: 19-25)

Ayat-ayat Al-Qur'an itu merupakan peringatan bagi semesta alam. Bagi siapa saja di antara manusia yang bersedia menempuh jalan lurus.
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ
لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
Wama huwa AAala alghaybi bidaneenin Wama huwa biqawli shaytanin rajeemin Faayna tathhaboona In huwa illa thikrun lilAAalameena Liman shaa minkum an yastaqeema

Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al Quran itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi? Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. (QS. At-Takwir: 24-28)

Untuk memperoleh petunjuk ke jalan lurus tersebut, Allah SWT. menguji manusia dengan kewajiban menempuh proses pembelajaran.
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Wama tashaoona illa an yashaa Allahu rabbu alAAalameena

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir: 29)

Atas kehendak-Nya, berhasil meraih pencapaian posisi terpuji. Tunduk patuh menjalankan segala perintah Allah SWT., sekaligus meninggalkan segala larangan-Nya yaitu taqwa.

Maka pertanyaan, "Ke mana kalian akan pergi?" Jawabannya jelas sudah. Apakah menuju jalan lurus yang dipandu petunjuk Al-Qur'an menuju ridha Allah SWT., atau menuju jalan sesat menyesatkan seperti yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang dimurkai-Nya

Namun, jika direnungkan, dicamkan, dan diyakinkan, mengenai kekuasan Allah SWT. terhadap masa depan dan masa akhir kehidupan dunia dan alam semesta, sebagaimana dipaparkan secara rinci di atas, mustahil jika ada orang yang memilih jalan terkutuk, penuh dosa kemaksiatan yang tak mungkin dapat tertanggungkan dalam Hari Pengadilan Yang Maha Adil.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Sirata allatheena anAAamta AAalayhim ghayri almaghdoobi AAalayhim wala alddalleena

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 7)

Tentu semua ingin memilih jalan lurus, penuh amal kebaikan dan kebajikan, serta janji ganjaran dan pengampunan dari Allah al Wahabul Ghoffar

Semoga kita tetap berada di situ, bersama orang-orang yang mendapat petunjuk.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan, Cibiuk, Garut juga pembimbing haji dan umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 3 Mei 2012 / 11 Jumadil Akhir 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky