Kita menyadari bahwa sifat iman dalam diri kita bersifat fluktuatif. Saat kadar iman sedang menebal, kita selalu rajin melaksanakan ibadah-ibadah sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Akan tetapi, saat iman menipis, memudar pula ketaatan kita kepada-Nya.

Hal ini mengindikasikan lemahnya istiqamah sebagai pengawal keimanan kita. Tidak heran, sebagian di antara kita merasa lebih beriman dalam kondisi berkecukupan, tetapi merasa kurang beriman dalam kondisi berkekurangan. Begitu juga sebaliknya. Kita sering merasa kuat iman jika sehat walafiat, tetapi lemah iman saat sakit. Pun sebaliknya begitu.

Allah SWT. menggambarkan kondisi keimanan kita dalam hadits qudsi-Nya,

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada yang merasa kurang imannya, kecuali dengan kekayaan. Dan jika ditimpa kemiskinan, sungguh ia kufur. Dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang merasa kurang imannya kecuali dengan kemiskinan. Dan jika diberi kekayaan, sungguh ia kufur. Dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang merasa kurang imannya ke¬cuali dengan kesakitan. Dan saat dianugerahi kesehatan, ia kufur. Dan di antara hamba-hamba-Ku ada yang kurang imannya kecuali dengan kesehatan. Dan saat ditimpa kesakitan, ia kufur."

Keterangan ini menggambarkan bahwa naik turunnya iman seseorang merupakan sifat dasar manusia. Namun bagaimana pun, kita tidak menginginkan kadar iman kita melemah dan berkurang. Tidak sedikit orang yang gencar menyuarakan kebenaran, tetapi sesaat kemudian ia lesu karena tergoda oleh kekuasaan dan harta yang menggiurkan. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap istiqamah sebagai penjaga, pengawal, dan energi agar sumbu iman kita tetap menyala.


Suatu hari Abu Amrah bin Abdullah menemui Rasulullah SAW. dan berkata, "Ya Rasulullah, sampaikanlah padaku suatu perkataan yang tidak akan aku tanyakan kepada selain engkau." Rasulullah SAW. berkata, "Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah." (HR Muslim)

Hadits ini memberi inspirasi bahwa ada dua perkara besar dalam keislaman seorang Muslim, yakni iman dan istiqamah. Mengapa iman? Karena iman merupakan fondasi, dasar, dan akar keislaman seseorang. Sebaik apa pun seseorang, rajin beramal dan selalu berbuat baik terhadap sesama, jika tidak dilandasi keimanan, amalnya tetap tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SWT.

Bila dianalogikan dengan sebuah pohon, iman adalah akar yang menghunjam ke dasar bumi, akar yang kuat menjadikan batang pohonnya kuat pula, dan memungkinkan menghasilkan buah yang manis. Bila pohon itu ditebang, sedangkan akarnya masih menghunjam kuat di dalam bumi, pohon itu akan tetap tumbuh, berbatang, berdaun, dan berbuah. Sebaliknya, jika pohon itu ditebang hingga ke akar-akarnya, riwayat pohon pun habis sampai di sana. Itulah kekuatan iman dalam keislaman seseorang dan peranannya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai hamba Allah SWT.

Bekal iman saja tidak cukup, perlu realisasi amal nyata sebagai buktinya, dengan cara patuh, taat, dan ikhlas menjalankan segala titah Allah dan bersedia meninggalkan segala perkara larangan-Nya. Ini tidaklah mudah, dibutuhkan sikap kuat, mental baja, dan pendirian teguh untuk menggapainya, yang disebut dengan istiqamah. Oleh karena itu, istiqamah penting peranannya sebagai kekuatan untuk memperjuangkan nilai-nilai keimanan dan keislaman.

Secara harfiah, istiqamah diambil dari istaqama - yastaqimu - istiqamah yang berarti tegak, berdiri, kuat, kokoh, lurus, dan konsisten. Jika diartikan lebih lanjut, istiqamah merupakan sikap mental yang kuat, dan sikap teguh pendirian dalam melaksanakan perintah Allah, dan konsisten meninggalkan larangan-Nya. Seorang yang istiqamah memiliki keyakinan yang tidak mudah terganggu oleh hal-hal yang menjauhkan dari agama. Ia mempunyai prinsip yang tidak mudah tergoda dengan perkara-perkara yang melenakan, dan ia memiliki keteguhan hati yang tidak mudah goyah oleh sesuatu yang menyesatkan dan merugikan keislamannya.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan makna istiqamah yang dikemukakan oleh para sahabat terdekat Rasul. Menurut Abu Bakar RA., istiqamah adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun (tauhidullah). Mengapa Abu Bakar RA. menghubungkan istiqamah dengan tauhidullah?

Al-Jauziah menjelaskan bahwa hanya dengan pijakan tauhidullah-lah seorang Muslim mampu beristiqamah dalam situasi dan kondisi apa pun.

Sementara Umar bin Khattab RA. berkata bahwa istiqamah adalah konsistensi dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan tidak pernah berbelok sedikit pun. Kemudian Utsman bin Affan RA. menambahkan bahwa istiqamah adalah mengikhlaskan segala amal semata-mata karena Allah SWT. Seorang yang istiqamah memiliki niat ikhlas dalam segala amalnya.

Kisah para sahabat dahulu telah membuktikan kekuatan iman yang diiringi dengan sikap istiqamah. Bilal bin Rabah RA., seorang budak belian berkulit hitam legam tidak pernah goyah sedikit pun mempertahankan tauhidnya. Demi iman, ia rela badannya ditelanjangi dengan cambukan kasar ratusan kali yang menderanya. Kemudian digusur dan diletakkan di atas batu panas karena sengatan matahari yang membakar. Ia terus dipaksa memeluk kembali kepada agama tuannya, dicambuk, disiksa sampai berdarah-darah untuk kembali tetapi imannya bergeming sedikit pun dari jiwanya. Mulutnya tersenyum dengan iringan kata ahad, ahad, ahad.

Demikian pula dengan keluarga Sumayyah dan Amar bin Yasir, Mereka disiksa, dibantai, dan dipaksa untuk kembali ke agama nenek moyangnya tetapi akidah mereka tetap tertancap kuat dan tidak pernah bergeser sedikit pun dari akar jiwa mereka.

Inilah bukti bahwa hanya dengan pijakan tauhid-lah seorang Muslim mampu beristiqamah dalam situasi dan kondisi apa pun. Mereka yakin ada surga yang telah Allah janjikan untuk orang-orang yang beriman dan beristiqamah.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Inna allatheena qaloo rabbuna Allahu thumma istaqamoo tatanazzalu AAalayhimu almalaikatu alla takhafoo wala tahzanoo waabshiroo bialjannati allatee kuntum tooAAadoona

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendiriannya (istiqamah), maka para malaikat akan turun kepada mereka dan berkata, janganlah kalian merasa takut dan bersedih. Dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. (QS. Fushshilat: 30)

Oleh karena itu, iman yang kita miliki hari ini jangan sampai berubah melemah esok hari. Iman perlu dibela dan dipelihara serta diperjuangkan dengan sikap istiqamah yang membaja. Tidak pernah ada ketakutan dan kesedihan bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah karena balasannya surga yang telah Allah janjikan. ***

[Ditulis oleh TAUFIK HIDAYATULLAH, Ketua Bidang Dakwah Pemuda Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) Pacet, pengurus DKM Masjid Jami' Al-Huda Pacet Kabupaten Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 12 Oktober 2012 / 26 Zulkaidah 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Ketika kehidupan kita dipenuhi dengan sikap mementingkan diri sendiri, kita perlu sosok seperti Nabi Ibrahim AS. Saat kondisi negara carut-marut, keadilan jauh dari harapan, kita butuh pemimpin seperti Ibrahim.

Ya, hanya dengan doa seorang Ibrahim membuat sebuah negeri seperti Mekah menjadi aman, sejahtera, dan tak kekurangan rezeki. Doa pemimpin yang adil merupakan salah satu doa yang pasti dijawab dan dipenuhi Allah SWT.

Mengapa sosok Ibrahim yang kita rindukan? Kalau kita mau berpikir sejenak dan melakukan napak tilas keteladanan Nabi Ibrahim AS., Kabah, tawaf, sai, sumur zam-zam, dan kurban, semuanya menjadi saksi sepanjang sejarah tentang perjuangan Nabi Ibrahim AS. beserta keluarganya dalam menempuh kehidupan.

Betapa mulia dan tinggi kebesaran dan prestasi Nabi Ibrahim AS. dalam mengarungi kehidupan. Penghargaan Ibrahim langsung dari Allah yang berdampak kepada kesejahteraan umat manusia sampai sekarang.

Kini para pemimpin merasa bangga ketika mendapatkan penghargaan meskipun tak jarang penghargaan itu sebatas kebanggaan bagi dirinya karena kiprah kepemimpinannya kurang dirasakan masyarakat.

Gelar-gelar yang diberikan Allah kepada Ibrahim adalah  

  • Seorang ulul azmi (QS. Al-Ahqaf: 35),
  • Nabi yang sangat jujur (QS. Maryam : 41), 
  • Hanif/lurus (QS. An-Nahl: 120),
  • Kekasih Allah (QS. An-Nisa': 125),
  • Pemulia tamu (QS. Adz-Dzariyat: 24-28),
  • Contoh terbaik/uswah hasanah (QS. Al-Mumtahan: 4),
  • Cerdas (QS. Al-Anbiya: 63),
  • Pembina rumah ibadah pertama (QS. Ali-Imran: 96),
  • Manusia yang disebut ummah (QS. An-Nahl: 120),
  • Teladan dalam berkurban (QS. Ash-Shoffat: 104-107),
  • Pengangkatan Ibrahim sebagai pemimpin umat manusia (QS. Al-Baqarah: 124).
Keberhasilan Ibrahim sebagai pemimpin umat, pemimpin agama, sekaligus pemimpin keluarga berpijak kepada beberapa hal.
  • Pertama, lurus dalam bertauhid. Semua sikap, ucapan, dan tindakan didasarkan dan disandarkan kepada Allah SWT. Bukan meminta pujian atau ada pamrih agar masyarakat mengakui kepemimpinannya.
  • Kedua, keberhasilan memimpin masyarakat bermula dari keberhasilan di keluarga sehingga Ibrahim membangun dulu keluarganya.
    Biasanya kita saat kekuasaan politik sudah berada di tangan, segera menyusun segala potensi, kita bangun istana, susun anak buah yang kuat, kumpulkan harta sebanyak-banyaknya, agar lawan politiknya bisa ditundukkan dengan hartanya, atau paling tidak untuk anak cucunya sampai tujuh turunan.
    Hal itu tidak berlaku sama sekali bagi Nabi Ibrahim. Dimana Ibrahim menjadikan keluarganya sebagai basis dakwah yang menjadi pendukung dan penerus risalah dan kepemimpinannya. Kepemimpinan yang berpijak kepada agama bukan harta.
  • Ketiga, Ibrahim mendahulukan iman dan ibadah daripada ekonomi. Dalam sehari-hari kita mendengar adanya kerjaan yang "basah" dan "kering" karena pekerjaan dilihat dari sudut pandang ekonomi. Manusia memperebutkan kekayaan material, pekerjaan, dan jabatan, yang dianggap mendatangkan kemakmuran dengan cepat. Terjadilah suap, uang pelicin, dan sejenisnya agar mendapatkan posisi itu.
    Berbeda dengan Ibrahim yang meninggalkan daerah-daerah subur, menuju daerah tandus. Dari Syam ke Mesir, terus ke Palestina, terakhir menetap di kawasan tandus, tiada sebatang pohon atau tanaman pun.
    Di sinilah Ibrahim diperintahkan merenovasi rumah ibadah pertama kali yang dibangun untuk manusia, yaitu Baitullah.

    رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
    Rabbana innee askantu min thurriyyatee biwadin ghayri thee zarAAin AAinda baytika almuharrami rabbana liyuqeemoo alssalata faijAAal afidatan mina alnnasi tahwee ilayhim waorzuqhum mina alththamarati laAAallahum yashkuroona
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian) itu agar mereka mendirikan shalat, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim: 37)

Cara membangun umat, Nabi Ibrahim juga pantas ditiru yakni bukan diawali dengan membangun ekonomi, melainkan landasan keyakinan atau ideologi yang kuat, iman, dan ibadah yang kokoh. Ibrahim membangun peradaban dengan ibadah, merenovasi Kabah bekerja sama dengan keluarga, istri dan anaknya, dengan keikhlasan yang luar biasa, tanpa meminta bantuan orang atau bangsa lain. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim tidak pernah didikte orang atau bangsa lain.

Puncak dari keteladanan Ibrahim adalah saat diperintahkan berkurban hal yang paling dicintainya yakni anak semata wayang, Ismail. Perintah ini dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail dengan tulus semata-mata karena beribadah karena Allah. Dengan Rahmah-Nya, Allah mengganti Ismail dengan kambing besar sebagai kurban. Allah berfirman, 

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
Inna hatha lahuwa albalao almubeenu

Sesunggunya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (QS. Ash-Shoffat: 106)


Telah menjadi kaidah kehidupan, semakin besar pengorbanan seseorang atau suatu masyarakat, maka akan semakin besar peluang untuk meraih keberhasilan atau keuntungan.

Berkorban bisa berupa harta, akal, jiwa, energi, status, perasaan, waktu bahkan prestise. Kita semua diingatkan dengan sikap Ibrahim. Kita saat ini terlalu mementingkan diri sendiri, rakus dengan harta dan jabatan, dan enggan berbagi. Inilah penyebab utama muncul krisis ekonomi yang melanda Amerika, Eropa, dan kini merembet ke Asia.

Ibrahim juga mengingatkan berkorban bukan untuk membangun citra atau menutup-nutupi kekayaan yang diperoleh secara tidak wajar. Ada orang memerintahkan kurban dan hidup prihatin, tetapi hanya untuk orang lain dan bukan untuk dirinya.

Ibrahim-kan kami ya Allah.***

[Ditulis oleh H PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 11 Oktober 2012 / 25 Zulkaidah 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Alkisah ada seorang murid yang mengadu kepada gurunya. "Guru aku sangat membenci si Fulan. Setiap hari aku bertemu dengannya, dan setiap kali itu juga kebencianku kepadanya semakin bertambah. Apa yang harus aku lakukan Guru?" Mendengar keluhan sang murid, guru pun menjawab dengan bijaksana, "Bawalah kantong ini ke mana pun kamu pergi. Setiap kamu bertemu dengan si Fulan, masukan satu buah tomat ke dalam kantong ini!"

Singkat cerita, murid pun melaksanakan saran dari gurunya tersebut. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga beberapa bulan kemudian sang murid kembali menemui gurunya. "Guru sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi membawa kantong ini, karena semakin hari kantong ini semakin berat dan semakin berbau busuk. Bolehkah aku meletakkan kantong ini guru?" Sesaat kemudian guru pun menjawab, "Kantong ini ibarat hatimu dan buah tomat ini ibarat kebencianmu. Sungguh rugi dirimu jika harus menyimpan kebencian itu, karena orang yang kamu benci itu tidak akan merasakan beban berat kebencianmu selama ini."

Berdasarkan cerita di atas, kaum beriman adalah orang-orang yang seharusnya memiliki sifat pemaaf, pengasih, dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Khuthi alAAafwa wamur bialAAurfi waaAArid AAani aljahileena
Jadilah engkau seorang yang pemaaf, dan perintahkanlah orang-orang untuk mengerjakan yang makruf (baik), serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf: 199)

Memaafkan kesalahan orang acap kali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan. Padahal, justru sebaliknya. Bila orang membalas kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Akan tetapi, di kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah dan manusia.

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Wajazao sayyiatin sayyiatun mithluha faman AAafa waaslaha faajruhu AAala Allahi innahu la yuhibbu alththalimeena
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggung) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim. (QS. Asy-Syura: 40)

Berikut beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan.

Pertama,  Mendatangkan kecintaan Allah.
Allah berfirman dalam Surat Fushshilat ayat 34-35,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Wala tastawee alhasanatu wala alssayyiatu idfaAA biallatee hiya ahsanu faitha allathee baynaka wabaynahu AAadawatun kaannahu waliyyun hameemun
Wama yulaqqaha illa allatheena sabaroo wama yulaqqaha illa thoo haththin AAatheemin
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar."

Ibnu Katsir menerangkan, "Bila kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan mengiringi orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat."

Ibnu 'Abbas mengatakan, "Allah memerintahkan orang yang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun runduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat." (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim 4/109)

Kedua, Mendapatkan pembelaan dari Allah. 
Al-Imam Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah bahwa
ada seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek Aku bersabar dari mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku." Maka Rasulullah besabda, "Jika benar yang kamu ucapkan maka seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa mendapat pertolongan dari Allah atas mereka selama kamu di atas hal itu." (HR Muslim)

Ketiga, Memperoleh ampunan dan kecintaan dari Allah.
Allah berfirman,

وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
wain taAAfoo watasfahoo wataghfiroo fainna Allaha ghafoorun raheemun
Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghabun: 14)

Adalah Abu Bakar, dahulu biasa memberikan nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah. Dia termasuk famili Abu Bakar dan Muhajirin. Di saat tersebar berita dusta seputar Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi, Misthah termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah menurunkan ayat menjelaskan kesucian Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera dan Allah memberi taubat kepadanya.

Setelah peristiwa itu, Abu Bakar bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian kepadanya. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Wala yatali oloo alfadli minkum waalssaAAati an yutoo olee alqurba waalmasakeena waalmuhajireena fee sabeeli Allahi walyaAAfoo walyasfahoo ala tuhibboona an yaghfira Allahu lakum waAllahu ghafoorun raheemun
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun juga Maha Penyayang. (QS. An-Nur: 22)

Abu Bakar mengatakan, "Betul, demi Allah. Aku ingin agar Allah mengampuniku." Lantas Abu Bakar kembali memberikan nafkah kepada Misthah. (lihat Shahih Al-Bukhari No. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir 3/286-287)
Al-Munawi berkata, "Allah, mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat) rahman dan pemaaf. Allah juga mencintai mahkluk-Nya yang memiliki sifat tersebut." (Faidhul Qadir 1/607)

Keempat, Mulia di sisi Allah maupun di sisi manusia.
Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan kesalahan orang lain, selain kedudukannya tinggi di sisi Allah, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapatkan pembelaan dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi kawan.

Nabi bersabda,
"Sedekah hakikatnya tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadu) karena Allah melainkan diangkat oleh Allah." (HR Muslim dari Abu Hurariah)

Hidup memang tak luput dari kesalahan. Terkadang kita berbuat salah kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Menurut Syekh Mahmud Al-Mishri dalam kitab Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul, memaafkan adalah pintu terbesar menuju terciptanya rasa saling mencintai di antara sesama manusia.

Dalam konteks kehidupan keseharian kita, alangkah indahnya jika saling memaafkan kesalahan dan mengubur kebencian ini menjadi budaya bagi para pejabat, baik eksekutif maupun legislatifnya, terlebih bagi masyarakatnya. Masyarakat yang sarat akan nilai-nilai cinta dan kasih bermula dari suatu proses yang sangat agung, yaitu saling maaf dan memaafkan.

"Orang-orang penyayang akan disayang oleh Allah yang Maha Rahman. Sayangilah penduduk kami, maka kalian akan disayangi oleh Allah." (HR Ahmad)

Wallahu'alam.***

[Ditulis olah ODED MUHAMAD DANIAL, tinggal di Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 5 Oktober 2012 / 19 Zulkaidah 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Wasalamun AAala almursaleena Waalhamdu lillahi rabbi alAAalameena

Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Penguasa Seluruh Alam. (QS. Ash Shaffat: 181-182)


Islam memuliakan seluruh nabi dan rasul Allah tanpa kecuali. Setiap shalat, umat Islam mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW., dan Nabi Ibrahim AS. ayat 181-182 QS Ash Shaffat, yang dikutip di atas, sering digunakan sebagai penutup doa.

Itu membuktikan, Islam tidak membeda-bedakan status dan kedudukan para nabi dan rasul Allah walaupun telah menetapkan Nabi Muhammad SAW. menjadi rasul (utusan Allah) terakhir sekaligus penutup para nabi Khatamun nabiyyin.

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Ma kana muhammadun aba ahadin min rijalikum walakin rasoola Allahi wakhatama alnnabiyyeena wakana Allahu bikulli shayin AAaleeman
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al Ahzab: 40)

Ketika menyebut nama para nabi dan rasul tersebut, umat Islam selalu mengikutsertakan kalimat alaihissalam (keselamatan bagi mereka). Bahkan, nabi dan rasul yang dianggap sebagai "milik" kaum Yahudi (Nabi Musa AS.), dan kaum Nasrani (Nabi Isa AS.), mendapat kedudukan istimewa sebagai Ulul Azmi, nabi dan rasul yang paling berat perjuangannya. Para nabi dan rasul Ulul Azmi itu terdiri atas lima orang, yaitu Nuh AS., Ibrahim AS., Musa AS., Isa AS., dan Muhammad SAW.

Dalam QS. Ash Shaffat, diuraikan penghargaan Allah SWT. kepada para nabi dan rasul. Kepada Nabi Nuh AS., seorang hamba Allah yang beriman.

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Innahu min AAibadina almumineena
Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. (QS. Ash Shaffat: 81)

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ
Watarakna AAalayhi fee alakhireena Salamun AAala noohin fee alAAalameena
Dan Kami abadikan untuk Nuh itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. (QS. Ash Shaffat: 78-79)

Begitu pula kepada Nabi Ibrahim AS., yang dianggap sebagai "Bapak Tauhid". "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan Nuh.

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ
Wainna min sheeAAatihi laibraheema
Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (QS. Ash Shaffat: 83)

Pada ayat 114-121, dipaparkan anugerah nikmat Allah SWT. kepada Nabi Musa dan Nabi Harun. Kepada mereka berdua, Allah SWT. telah melimpahkan nikmat, menyelamatkan mereka dan kaumnya (Bani Israil) dari bencana besar, menolong mereka sehingga meraih kemenangan, memberi kitab (Taurat) yang sangat jelas, menunjuki mereka ke jalan lurus, dan bagi mereka diabadikan pujian yang baik di kalangan umat yang datang kemudian. Yaitu kesejahteraan bagi mereka yang telah berbuat baik dan menjadi hamba-hamba Allah yang beriman.

Nabi Ilyas yang diutus kepada kaum Punisia agar jangan menyembah berhala Bal (QS. ash Shaffat: 123-132). Nabi Luth yang diutus kepada kaum Sadum (Sodom) agar menghentikan perbuatan hubungan sesama jenis, homoseksual dan lesbian (QS. Ash Shaffat: 133-138). Nabi Yunus yang ditelan ikan hiu (QS. Ash Shaffat: 139-148), sama seperti Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, dan Harun, mendapat anugerah nikmat Allah SWT. berkat perjuangan dan keimanan mereka. Bahkan, istighfar Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan hiu selama empat puluh hari dianjurkan untuk dibaca pada setiap kesempatan oleh umat Islam (al-hadits).

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
la ilaha illa anta subhanaka innee kuntu mina alththalimeena
Tiada sembahan selain Engkau, ya Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Anbiya: 87)

Hampir semua surat dalam Al-Qur'an membicarakan dan memuji para nabi dan rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW., termasuk membicarakan dan memuji hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersyukur, walaupun tidak spesifik disebutkan berkedudukan nabi atau rasul, seperti hamba Allah yang telah mendapat ilmu dan rahmat dari sisi-Nya.

Para mufassir menamakan "hamba Allah" tersebut sebagai Khidir, guru "spiritual" Nabi Musa (QS. Al-Kahfi: 65-82). Mengisahkan pula kepiawaian dan kekuatan Zulqarnain, melawan kejahatan Ya'juz-Ma'juz (QS. Al-Kahfi: 83-101). Dalam Surah Al-Kahfi juga dikisahkan tujuh pemuda beriman mencari petunjuk ke jalan lurus yang diridhai Allah SWT., lalu ditidurkan dalam satu gua selama kurang lebih 300 tahun (QS. Al-Kahfi: 9-26). Banyak lagi, keterangan yang menegaskan bahwa Islam memuliakan nabi dan rasul tanpa kecuali.

Apalagi, antara para nabi dan rasul itu, sejak Adam AS. hingga Muhammad SAW., merupakan kesatuan mata rantai dakwah yang sambung sinambung. Hubungan dakwah Nabi Muhammad SAW. dan para nabi dan rasul sebelumnya berjalan di atas prinsip ta'kid (penegasan) dan tatmim (penyempurnaan). Dakwah mereka menyangkut dasar akidah tauhid, syariat, dan akhlak. Esensi akidah para nabi dan rasul itu adalah beriman kepada wahdaniyah (keesaan) Allah SWT. Beriman kepada Hari Akhir. Akidah dainunnah lillahi wahdah (tunduk patuh hanya kepada Allah SW.), ini tidak mengalami perubahan sedikit pun. Demikian pula akhlak. Moral dan perilaku tetap mengacu pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi dosa, kemungkaran, dan kejahatan.

Hanya aspek syariat yang mengikuti kebutuhan zaman sesuai dengan tuntutan kemaslahatan umat. Syariat Nabi Musa AS. yang diutus kepada Bani Israil yang amat ketat berbeda dengan syariat Nabi Isa AS. yang juga diutus kepada Bani Israil. Nabi Isa menyatakan,

وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ
Wamusaddiqan lima bayna yadayya mina alttawrati waliohilla lakum baAAda allathee hurrima AAalaykum wajitukum biayatin min rabbikum faittaqoo Allaha waateeAAooni
Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu. (QS. Ali Imran: 50)

Para nabi dan rasul itu, sejak Adam AS. hingga Muhammad SAW., diutus untuk menegakkan Ad Dienul Haq (Islam). Nabi Ibrahim AS. telah berwasiat kepada anak-anaknya, Ishak AS. dan Ismail AS., serta cucunya Yaqub AS. agar tidak mati kecuali dalam memeluk Islam karena Allah SWT. telah memilihnya sebagai anutan (QS. Al-Baqarah: 130-132). Nabi Musa AS. diutus kepada Bani Israil dengan membawa Islam. Bahkan, tukang sihir yang diperalat Firaun melawan Nabi Musa, akhirnya menyerah dan menyatakan agar dimatikan dalam keadaan Muslim. (QS. Al A'raf: 126)

Demikian pula Nabi Isa AS. ketika menghadapi keingkaran Bani Israil, minta disaksikan bahwa sesungguhnya ia dan para pengikutnya adalah orang-orang Muslim.

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Falamma ahassa AAeesa minhumu alkufra qala man ansaree ila Allahi qala alhawariyyoona nahnu ansaru Allahi amanna biAllahi waishhad bianna muslimoona
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (QS. Ali Imran: 52)

Oleh karena itu, amat mustahil jika di antara umat Islam ada yang berani menghina, melecehkan, mengejek satu atau dua nabi dan rasul selain Muhammad SAW. Tidak akan ada seorang pun sineas Muslim beriman akan membuat film yang memperolok-olokkan nabi dan rasul mana pun. Tidak akan ada sastrawan, pelukis, pemusik, atau aktor/aktris Muslim beriman membuat karya-karya yang mendeskreditkan para nabi dan rasul sebagai perampok, pezina, pelanggar HAM, dan sejenisnya. Na'udzubillah. Maha Suci Allah SWT. yang telah melindungi para nabi dan rasul-Nya pada posisi maksum (bebas dari dosa). Apalagi, dosa yang diimajinasikan para penghujatnya.

Subhana rabbika rabbil izzati 'amma yasifun, wasalamun alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI HM., pengasuh Pesantren Anak Asuh Raksa Sarakan Cibiuk, Garut, pembimbing Haji dan Umrah BPIH Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 4 Oktober 2012 / 18 Zulkaidah 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Menepati janji merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan setiap Muslim. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT. menegaskan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
Ya ayyuha allatheena amanoo awfoo bialAAuqoodi
Hai orang-orang beriman, penuhilah akad-akad (janji-janji) itu. (QS. Al-Maidah: 1)

Dalam ayat lain,

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ
Waawfoo biAAahdi Allahi itha AAahadtum

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji. (QS. An-Nahl: 91)

Begitu juga dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 177,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Laysa albirra an tuwalloo wujoohakum qibala almashriqi waalmaghribi walakinna albirra man amana biAllahi waalyawmi alakhiri waalmalaikati waalkitabi waalnnabiyyeena waata almala AAala hubbihi thawee alqurba waalyatama waalmasakeena waibna alssabeeli waalssaileena wafee alrriqabi waaqama alssalata waata alzzakata waalmoofoona biAAahdihim itha AAahadoo waalssabireena fee albasai waalddarrai waheena albasi olaika allatheena sadaqoo waolaika humu almuttaqoona
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dalam dialog antara Abu Sufyan RA. dan Heraklius disebutkan perkataan Heraklius, "Aku bertanya kepadamu apa saja yang ia (Muhammad) perintahkan." Lalu dijawab, "Beliau memerintahkan mendirikan shalat, berlaku jujur, menjaga kesucian diri, menepati janji, dan melaksanakan amanah. Ini semua sifatnya seorang Nabi." (HR. Bukhari)
Dalil-dalil di atasi menunjukkan arti penting akan kewajiban menepati janji. Sebab, di dalamnya terdapat keutamaan dan keistimewaan. Di antaranya,

Pertama, dengan menepati janji, kita terhindar dari sifat munafik. Sebab, perilaku orang yang munafik salah satunya adalah ingkar janji. Rasulullah SAW. bersabda,
"Ada empat (perkara) jika terdapat pada diri seseorang, dia adalah orang munafik murni. Dan barangsiapa yang melakukan salah satu perkara itu, maka padanya terdapat bagian dari sifat munafik, hingga ia meninggalkannya. Empat perkara itu adalah apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat, dan apabila bermusuhan dia aniaya." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai)

Kedua, dengan menepati janji dapat menjadi jalan untuk masuk Surga Firdaus. Surga Firdaus ini hanya diperuntukkan bagi orang yang memiliki sifat-sifat baik, di antaranya adalah menepati janji. Allah SWT. berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
Waallatheena hum liamanatihim waAAahdihim raAAoona
Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. (QS. Al-Mukminun: 8)

Ketiga, dengan menepati janji, kita akan terbebas dari tuntutan baik di dunia maupun di akhirat. Setiap janji akan diminta pertanggungjawabannya. Allah SWT. berfirman,

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
waawfoo bialAAahdi inna alAAahda kana masoolan
Dan penuhilah janji sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra': 34)

Keempat dengan menepati janji, kita meneladani sifat Allah, yang tidak pernah mengingkari janji-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَعْدَ اللَّهِ ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

WaAAda Allahi la yukhlifu Allahu waAAdahu walakinna akthara alnnasi la yaAAlamoona
(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum: 6)

Rasulullah SAW. bersabda, "Berakhlaklah dengan akhlak Allah."

Kelima dengan menepati janji, kita akan dipercaya orang lain. Kepercayaan adalah modal utama dalam meraih kebaikan di dunia maupun di akhirat. Salah satu sifat Nabi SAW. yang mengantarkannya dipilih Allah menjadi Nabi dan Rasul-Nya adalah karena ia adalah orang yang tepercaya.

Keenam, dengan menepati janji, kita akan menjadi pribadi yang berwibawa, tidak dilecehkan, dan akan mendapatkan prasangka baik dari orang lain. Dikatakan, "Jika orang yang mulia berjanji, maka akan segera dipenuhi. Sementara orang yang hina berjanji, maka akan melamakan dan menghindar dari janjinya."

Ketujuh, dengan menepati janji kita akan terhindar dari dosa besar dan akan meraih keutamaan. Mengingkari janji antara sesama Muslim hukumnya haram, sekalipun terhadap orang kafir, lebih-lebih terhadap sesama Muslim. Jadi, memenuhi janji termasuk keutamaan, sedangkan mengingkarinya dosa besar.

Kedelapan, dengan menepati janji, jalinan antar individu akan terjalin harmonis dan semakin erat. Menepati janji merupakan wujud dari memuliakan, menghargai, dan menghormati manusia.

Kesembilan, dengan menepati janji, kita digolongkan sebagai orang yang berakal. Allah SWT. berfirman,

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ

Afaman yaAAlamu annama onzila ilayka min rabbika alhaqqu kaman huwa aAAma innama yatathakkaru oloo alalbabi
Allatheena yoofoona biAAahdi Allahi wala yanqudoona almeethaqa

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, (QS. Ar-Ra'd: 19-20)

Kesepuluh, dengan menepati janji, kita digolongkan menjadi golongan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW. bersabda,
"Orang yang merendahkan orang-orang Mukimin dan yang berjanji tetapi tidak menepati janjinya, maka mereka bukanlah golonganku dan aku bukan dari golongan mereka." (HR. Muslim)

Ketika semua orang, apa pun status, profesi dan pekerjaannya senantiasa menepati janji yang telah diikrarkannya, maka kehidupan ini akan damai dan indah. Saling percaya, menghormati, dan mengasihi akan merebak di semua sisi kehidupan manusia.

Semoga Allah SWT. memberi kemampuan kepada kita menjadi orang-orang yang senantiasa menepati janji sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. dan memuliakan dan membina jalinan antarsesama.

Akhirnya, mari kita renungi firman Allah SWT. yang termaktub dalam Al-Qur'an Surat Ali-Imran ayat 112, sebagai motivasi bagi kita untuk senantiasa berpegang teguh pada tali (agama) Allah SWT. dan tali (perjanjian) dengan manusia, sebagaimana firman-Nya,

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
Duribat AAalayhimu alththillatu ayna ma thuqifoo illa bihablin mina Allahi wahablin mina alnnasi wabaoo bighadabin mina Allahi waduribat AAalayhimu almaskanatu thalika biannahum kanoo yakfuroona biayati Allahi wayaqtuloona alanbiyaa bighayri haqqin thalika bima AAasaw wakanoo yaAAtadoona
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh H. MOCH. HISYAM, ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kel. Sarijadi Kec. Sukasari Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 28 September 2012 / 12 Zulkaidah 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky