Suatu hari, Rasulullah SAW. berjalan bersama para sahabat Ketika tiba di perkampungan, mereka melihat seorang pemuda bertubuh kekar sedang bekerja membelah kayu bakar. "Sangat disayangkan, kok badan sekekar itu hanya digunakan untuk bekerja membelah kayu bakar. Alangkah baiknya jika ia berjuang di jalan Allah," gumam para sahabat.

Sambil tersenyum, Rasulullah SAW. berkata, "Sungguh, jika ia bekerja membelah kayu bakar agar tidak mengemis, berarti ia juga berjuang di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi keluarganya, berarti ia tengah berjuang di jalan Allah."

Selain kisah di atas, dikisahkan pula suatu ketika Rasulullah SAW. sedang memperhatikan seorang sahabat yang terkenal karena rajin beribadah. Dari pagi hingga malam, ia senantiasa beribadah di masjid. Hingga Rasul bertanya kepada kerabat sahabat tadi, "Jika ia terus-menerus beribadah di masjid, siapa yang menafkahi keluarganya?" "Saya, ya Rasulullah. Saya yang menafkahi keluarganya," jawab si kerabat. "Sungguh, kau jauh lebih baik darinya," kata Rasulullah.

Ternyata ada perbedaan antara Rasul dan para sahabat dalam memaknai ibadah. Para sahabat mempersempit makna ibadah hanya sebatas ritus formal, seperti dzikir, shalat, puasa, dan haji serta berjuang/berperang di jalan Allah. Lain halnya dengan Rasul yang memaknai ibadah tidak sesempit itu. Rasul memaknai ibadah dengan perspektif lebih luas. Membelah kayu bakar, mencari nafkah di luar rumah serta pekerjaan lainnya merupakan ibadah juga jika itu didasari sebagai pengabdian terhadap Allah SWT.

Bahkan, suatu saat Rasulullah SAW. mencium tangan sahabatnya yang kasar dan melepuh karena kerasnya pekerjaan yang ia lakukan. Hingga Rasul berkata, "Sungguh tangan inilah yang tidak akan tersentuh api neraka." Jadi sangat jelas, ibadah itu bukan semata-mata aktivitas-aktivitas ritus formal di masjid atau di tempat-tempat suci. Lebih dari itu, profesi apa pun yang kita jalankan sama-sama merupakan ibadah. Bahkan, bisa lebih baik dan lebih mulia jika landasan niatnya benar dan ikhlas karena Allah SWT.

Jika kita perhatikan, sebenarnya ibadah (ritus) yang dilakukan dalam ajaran Islam memiliki ciri yang sangat khas dibandingkan dengan agama lain. Jika ibadah dalam agama lain dilakukan dengan kondisi relatif diam, tenang, dan pasif, ibadah dalam Islam sangat dinamis dan penuh gerakan.

Contoh nyata shalat. Kalau direnungkan dari awal hingga akhir, seluruh aktivitas shalat disertai gerakan seluruh tubuh. Apalagi ibadah haji, sebagai ibadah paripurna seorang Muslim. Haji merupakan ibadah total yang penuh dengan gerakan fisik, melintasi batas-batas daerah tertentu. Dengan begitu, semua kegiatan ibadah ritus memiliki benang merah yang sama. Ibadah merupakan penyucian jiwa, pengisian dengan sifat-sifat suci Allah, pengagungan dan komunikasi dengan Allah, dan semua itu harus diwujudkan dalam amal saleh-kerja nyata kepada sesama. Iman saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan amal saleh, action, dan kerja nyata.

Al-Qur'an juga memerintahkan agar kita selalu mencari karunia Allah di bumi dengan bekerja sebagai ungkapan rasa syukur, bahkan setelah shalat pun kita dianjurkan untuk segera bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Sebagaimana firman Allah,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Faitha qudiyati alssalatu faintashiroo fee alardi waibtaghoo min fadli Allahi waothkuroo Allaha katheeran laAAallakum tuflihoona
Apabila telah ditunaikan sahlat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi. Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (QS. Al-Jumu'ah (62): 10)

Jadi, Muslim yang rajin shalat di masjid termasuk yang saleh tetapi lebih saleh jika sesudah shalat, ia juga rajin bekerja di luar rumah. Menurut penelitian, di era modern, ulama-ulama cerdas itu, ulama-ulama yang berdasi, direktur kantor mewah, dan pengusaha sukses terkenal, bukan lagi ulama-ulama berjubah sorban yang bermarkas di masiid. Ulama cerdas adalah yang mampu menyeimbangkan antara ibadah ritus formal dan ibadah kerja-nyata di luar rumah. Ibadahnya tekun, kerjanya juga hebat.

Ada anekdot menarik, konon di akhirat terjadi perdebatan antara guru, ulama, dan dokter. Mereka berebut siapa yang pantas duluan masuk surga karena besar dan bermanfaatnya amalan-amalan mereka. Sang ulama mengklaim dia adalah orang pertama yang pantas masuk surga karena jasanya mendakwahkan ajaran Islam. Seorang guru menganggap dialah yang pantas masuk surga terlebih dahulu karena jasanya mencerdaskan banyak generasi di muka bumi. Tidak mau kalah, seorang dokter pun dengan ngotot mengklaim dirinyalah yang pantas masuk surga, jasanya mengobati dan menyehatkan masyarakat banyak menjadi amalan andalan yang membuat ia pantas masuk surga.

Di tengah ramainya perdebatan mereka, datanglah seorang pengusaha sukses. Mereka bertiga kaget campur senang karena teringat kebaikan-kebaikan sang pengusaha ini. Sang ulama berkata, "Inilah pengusaha yang banyak jasanya, ia mendermakan hartanya untuk membangun masjid-masjid di daerahku sehingga meringankanku mendakwahkan ajaran Islam kepada para jemaah. Dibandingkan dengan amalku, pengusaha ini jauh lebih mulia amalnya."

Giliran sang guru yang berujar, "Pengusaha ini juga yang menjamin biaya pembangunan sekolah-sekolah di daerahku sehingga para guru nyaman dan mudah mengajarkan ilmu dan mencerdaskan generasi-generasi muda. Sungguh, amal pengusaha ini jauh lebih hebat dari amalku."

Terakhir giliran sang dokter, "Kalian berdua harus tahu, pengusaha ini juga yang membantu biaya pembangunan rumah sakit hingga para dokter mendapat kemudahan melayani kesehatan untuk masyarakat. Jika dibandingkan dengan amalku, amal pengusaha ini jauh lebih bermanfaat dariku." Akhirnya ketiga orang ini, yaitu ulama, guru, dan dokter, sepakat untuk mempersilakan sang pengusaha ini masuk surga mendahului mereka bertiga.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebaikan dan kesempurnaan seorang Muslim adalah ketika ia mampu menyeimbangkan antara ibadah yang bersifat ritus formal dan ibadah yang bersifat amalan dan kerja nyata di luar rumah, hingga kesalehannya bukan kesalehan individu semata, tetapi juga kesalehan sosial.

Wallahualam Bissawab....***

[Ditulis oleh USEP SAEFUROHMAN, Koordinator Umum Kajian Ilmu Muslim Muda (KIMM) Kabupaten Bandung, pegiat Kajian Islam Ilmiah Pemuda Yayasan Pesantren Islam (YPI) Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" edisi Jumat (Wage), 5 April 2013/24 Jumadil Awal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Allah SWT. telah menciptakan perputaran hari, demikian pula dengan diedarkannya bulan dan bumi yang mengitari matahari. Lalu manusia menemukan jam, menit, dan detik, atau bahkan satuan waktu yang lebih kecil dari padanya. Semua itu sarana bagi manusia untuk mengisinya dengan hal-hal yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Pencipta lagi Maha Cepat Hisaban-Nya.

Waktu yang akan datang berisikan harapan, rencana, dan kekhawatiran. Waktu yang telah lalu adalah catatan-catatan masa lalu dan sejarah. Baik dan buruk semestinya jadi ilmu dan pelajaran. Waktu sekarang adalah waktu menorehkan tinta untuk menjadikan catatan dan sejarah untuk dijadikan pelajaran dengan niat baik, amalan, dan perkataan.

Bila kita mau, dengan sedikit saja kemauan untuk berkaca pada sejarah, umpamanya ketika kaum Luth dibenamkan oleh Allah SWT., mereka benar-benar binasa bahkan dengan segala perilaku beserta penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh perilaku mereka. Perilaku seks mereka yang menyimpang menjadi sumber penyakit yang dapat mengancam keselamatan jiwa, keberlangsungan agama, dan luluh lantaknya kemanusiaan manusia serta hak manusia yang asasi, yaitu hidup di bawah aturan dan hukum Allah SWT. Mereka adalah kaum lesbian dan homoseks yang melampiaskan syahwat biologisnya dengan cara yang dilaknat Allah SWT.

Sekarang virus yang dahulu dibenamkan oleh Allah SWT. Dengan segala amoralitasnya telah dinamai HIV dan penyakit AIDS. Ia adalah virus yang mengambil dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia sehingga siapa pun yang dihinggapinya akan mudah diserang oleh penyakit dan virus-virus apa pun, bahkan kuman-kuman.

Selanjutnya pada masa sekarang, perzinaan yang dilakukan atas nama kebebasan atau sesungguhnya petualangan kepuasan biologis tak mengenal etika apalagi hukum agama. Dengan kata lain, hukum binatanglah yang berjalan di antara mereka. Media-media begitu gencar meraup keuntungan haram, memberitakan dengan penuh nafsu kejadian pemerkosaan, hingga berita tentang seorang ayah yang telah kalap lalu memerkosa anak kandungnya sendiri, atau anak yang memerkosa ibu kandungnya sendiri. Bahkan ada yang telah memerkosa lebih dari seorang anak-anaknya. Hal ini terjadi karena hilangnya norma-norma etika dan agama di dalam hati nuraninya.

Anak-anak menjadi korban dan menjadi penikmat visualisasi pornografi, antara lain karena keteledoran orang tua dan para pendidik yang membiarkan mereka tumbuh tanpa kekhawatiran terjerumus. Para ibu yang telah mempunyai anak atau bahkan beberapa anak masih tidak sungkan untuk memamerkan aurat mereka, anehnya juga tanpa kekhawatiran akan jadi didikan kepornoan bagi anak-anaknya.

Hal-hal yang semestinya kita berisftighfar (mengucap "Innalillahi wainna ilaihi raji'un") atas musibah / qiamat wustha yang menimpa lalu bertobat dan beristighfar atas perkembangan beragama yang mengenaskan ini dengan andil diri di dalamnya. Malah semakin bermunculanlah orang-orang tidak peduli akan rasa ngeri yang dirasakan teramat pahit, tentunya oleh orang yang mengalami pemerkosaan itu atau oleh keluarga, khususnya ibu dari anak-anak yang mengalaminya. Jika masih memiliki rasa peduli dan sedikit mau membuka hati, lalu hanya sekadar berandai-andai. Andai saja kejadian itu menimpa dirinya, keluarga, sahabat, atau kerabatnya, tentulah ia akan sangat mendukung kepada segala bentuk usaha menutup jalan-jalan yang akan membuka pintu perzinaan atau pemerkosaan yang teramat nista itu.
Selanjutnya bermunculan pula orang-orang yang merasa diri paling berseni atau paling paham akan seni, lalu penampilan dan perilaku porno yang menurut mereka sarat seni itu dijadikan dalih akan bolehnya memperlihatkan bagian-bagian sensitif yang menjadi objek stimulan bagi lawan jenis, bahkan di kalangan tertentu bagi lawan jenisnya. Sesungguhnya alasan-alasan seperti itu hanyalah pengakuan diri bahwa mereka para hamba hawa nafsu, mereka membuka pintu yang menganga lebar untuk masuknya setan dalam mecekokkan ide-idenya. Ide-ide setan adalah gambaran dan pelaksanaan pencarian kerabat nistanya untuk menemaninya dalam kutukan Allah SWT. dunia akhirat.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

Qala fabima aghwaytanee laaqAAudanna lahum sirataka almustaqeema

Iblis berkata, "Oleh karena Engkau (wahai Tuhan) menyebabkan aku tersesat (maka) demi sesungguhnya aku akan mengambil tempat menghalangi mereka (dari menjalani) jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf (7): 16)

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا

Walaodillannahum walaomanniyannahum walaamurannahum falayubattikunna athana alanAAami walaamurannahum falayughayyirunna khalqa Allahi waman yattakhithi alshshaytana waliyyan min dooni Allahi faqad khasira khusranan mubeenan

Dan demi sesungguhnya, aku akan menyesatkan mereka (dari kebenaran), dan demi sesungguhnya aku akan memperdayakan mereka dengan angan-angan kosong, dan demi sesungguhnya aku akan menyuruh mereka (mencacatkan binatang-binatang ternak), lalu mereka membelah telinga binatang-binatang itu, dan aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Allah. Dan (ingatlah) sesiapa yang mengambil syaitan menjadi pemimpin yang ditaati selain dari Allah, maka sesungguhnya rugilah ia dengan kerugian yang terang nyata. (QS An-Nisa (4): 119)

Nabi SAW. bersabda,
"Orang yang cerdas itu ialah yang mengagamai dirinya dan beramal untuk bekal setelah matinya. Sementara orang yang tolol ialah yang hanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan kepada Allah SWT. (Andai Allah memaafkannya, andai tidak ada pertemuan dengan Allah, andai tidak ada timbangan amal akhirat)." (HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, IV: 368)

Semakin merebaknya rasa tidak malu untuk melakukan perzinaan setelah merasakan kenistaan dan kepiluan itu. Misalnya dirinya atau orang yang dicintainya dihinggapi virus HIV, keluarga korban pemerkosaan, atau anak terlahir dengan tidak jelas siapa ayahnya. Atau mungkin pengguguran-pengguguran kandungan yang sekarang semakin banyak terjadi.

Tidakkah dirasakan nasihat kepedulian Nabi SAW. yang menasihati Ali Bin Abu Thalib RA.
"Wahai Ali janganlah engkau ikutkan pandangan dengan pandangan, sesungguhnya hak-mu pandangan pertama tetapi tidak pandangan selanjutnya."

Lalu kita telah sangat mengetahui tentang batasan aurat yang haram apabila dilihat oleh bukan yang berhak. Inilah batasan yang apabila dipatuhi akan memberikan kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat.

Wallahu 'alam. ***

[Ditulis oleh KH. WAWAN SHOFWAN, Ketua Bidang Dakwah PP. Persis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 4 APril 2013 / 23 Jumadil Awal 1434 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu:
  1. Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya),
  2. Masuk surga setelah dihisab,
  3. Dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka.
Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat.

Allah berfirman,


إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Inna ibraheema kana ommatan qanitan lillahi haneefan walam yaku mina almushrikeena
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb). (QS. An Nahl (16): 120)

Dalam ayat ini, Allah memuji Nabi Ibrahim AS. dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an, Allah memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrahim AS. dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam.

Allah berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ
Qad kanat lakum oswatun hasanatun fee ibraheema waallatheena maAAahu ith qaloo liqawmihim inna buraao minkum wamimma taAAbudoona min dooni Allahi kafarna bikum wabada baynana wabaynakumu alAAadawatu waalbaghdao abadan hatta tuminoo biAllahi wahdahu illa qawla ibraheema liabeehi laastaghfiranna laka wama amliku laka mina Allahi min shayin rabbana AAalayka tawakkalna wailayka anabna wailayka almaseeru
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’. (QS. Al Mumtahanah (60): 4)

Perhatikanlah, Ibrahim ‘alaihissalam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
Laqad kana lakum feehim oswatun hasanatun liman kana yarjoo Allaha waalyawma alakhira waman yatawalla fainna Allaha huwa alghanniyyu alhameedu
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. (QS. Al Mumtahanah (60): 6)

Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.

Allah juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqad kana lakum fee rasooli Allahi oswatun hasanatun liman kana yarjoo Allaha waalyawma alakhira wathakara Allaha katheeran
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab (33): 21)

Nabi Muhammad SAW. adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran Beliau.

Patuh Terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrahim AS. adalah seorang yang sangat patuh kepada Allah, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika Beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, Beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam, hamba Allah yang paling taat.

Allah berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
Amman huwa qanitun anaa allayli sajidan waqaiman yahtharu alakhirata wayarjoo rahmata rabbihi qul hal yastawee allatheena yaAAlamoona waallatheena la yaAAlamoona innama yatathakkaru oloo alalbabi
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? (QS. Az Zumar (39): 9)

Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Allah tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).(Fathul Majid)

Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya.

Mujahid berkata, “Nabi Ibrahim adalah seorang imam walaupun Beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.(Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120)

Maksudnya Beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya Syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.

Tawakkal Kepada Allah, Itu Kuncinya
Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholAllahu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda,
“Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Allah.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Allah. Karena itulah Rasulullah menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Allah. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan.

Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar ketawakkalan setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Hanya kepada Allah-lah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan.

Ya Allah, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.

Wallahu a’lam.***

[Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah- Penulis : Nurdin Abu Yazid Sumber Artikel : www.muslim.or.id]

by
u-must-b-lucky
Pertanyaan yang sering muncul di benak kita dan terus menerus membutuhkan jawaban kita, yaitu mengapa Allah menciptakan manusia? Apakah hikmah dibalik penciptaan manusia? Serta tujuan apa yang akan dikerjakan manusia di bumi ini?

Pertanyaan ini telah membuat bingung akal-akal manusia dalam menjawabnya, apakah dari kalangan cendekiawan, orang-orang yang jenius, lebih-lebih yang di bawah mereka, khususnya ketika mereka menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan ilmu kalam dan filsafat yang bersandarkan kepada akal-akal mereka. Dan tidaklah seluruh akal itu berada dalam kebingungan kecuali akal-akal yang di sinari dengan wahyu Allah, berpetunjuk dengan petunjuk-Nya, serta mengikuti Rasulullah SAW. Itulah akal yang akan mengetahui jawaban dari pertanyaan ini dengan berdasarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Maka dari sini bisa kita ketahui bahwa akal itu tidak mungkin bisa sendirian untuk mengetahui aqidah, karena aqidah itu ilmu yang berkaitan dengan hal-hal ghaib. Dan hal-hal yang ghaib itu, jika akal ini berbicara tentangnya tanpa bersumber dari wahyu, maka akan sesat. Hal ini di karenakan akal itu hanya bisa menggambarkan hal-hal yang diketahui yang sampai padanya dengan jalan panca indra. Dan ketika hal itu sudah keluar dari areal bumi ini (yakni sudah termasuk urusan alam ghaib. ed.), maka dia akan terjatuh dalam kebingungan yang besar. Allah SWT. berfirman:


أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya tersebut dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An’am (6): 122)

Dan mungkin pula akal itu berdalil dengan apa-apa yang dia lihat dan yang dia dengar, bahwa Tuhannya, penciptanya dan memberi rezeki kepadanya adalah Allah Al-Wahid, Al-Ahad, yang tidak melahirkan dan yang tidak dilahirkan, Allah SWT. berfirman:

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ ۖ أَفَلَا يَسْمَعُونَ
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ ۖ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Tuhan). Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)? Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri . Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (QS. As-Sajadah (32): 26-27)

Dan jika kita telah tahu bahwa akal itu tidak bisa sendirian untuk mengetahui hikmah penciptaan manusia dan jin, maka wajib bagi kita untuk mempelajari hikmah diciptakannya manusia dan jin dari Al-Qur’an yang tidak ada kebathilan di dalamnya. Allah SWT. menjelaskan dalam Al-Qur’an hikmah diciptakannya jin dan manusia dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat (51): 56)

Di dalam ayat ini Allah SWT. menyatakan bahwa diciptakannya jin dan manusia itu adalah untuk beribadah. Maka ibadah itulah hikmah diciptakannya manusia dan jin, dan juga kerenanyalah Allah menciptakan langit, bumi, dunia, akherat, surga dan neraka. Dan oleh karenanya pula Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab yang menjelaskan antara yang halal dan yang haram, dan untuk menguji kita siapa yang paling baik amalannya. Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

(Dia-lah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk (67): 2)

Allah SWT. menciptakan hamba-hamba-Nya dan mengeluarkan mereka ke dunia ini. Lalu mengabarkan kepada mereka bahwa mereka akan berpindah ke alam lain. Dan Allah memerintahkan mereka serta melarang mereka dan menguji mereka dengan berbagai macam syahwat yang menentang perintah serta larangan-Nya. Maka barang siapa yang tunduk kepada perintah Allah, Allah akan memberikan balasan yang terbaik kepadanya di negeri akhirat, dan barang siapa yang cenderung (menuruti) hawa nafsunya dan membuang perintah-perintah Allah serta melakukan larangan-Nya, maka baginya adalah sejelek-jelek balasan. (Lihat Tafsir As-Sa’di Juz 5 hal. 429)

Maka seluruh hamba itu diciptakan untuk ibadah, akan tetapi di antara mereka ada yang diciptakan untuk ibadah tanpa mendapatkan ujian, seperti malaikat, sehingga ibadah itu merupakan tabi’at mereka dan mereka tidak menginginkan selainnya (ibadah). Allah SWT. menyatakan tentang mereka:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ
لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

Dan mereka berkata : “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba yang di muliakan). Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiya’ (21): 26-28)

Dan diantara hamba Allah tersebut ada yang diciptakan untuk ibadah disertai ujian kepada mereka, seperti jin dan manusia. Mereka di uji dengan berbagai macam syahwat (kesenangan-kesenangan dunia, ed.). seperti syahwat makanan, syahwat minuman, syahwat nikah, syahwat menguasai dan lain-lain. 

Sebagaimana pula mereka diuji dengan teman-teman yang jelek serta syubhat-syubhat (keracunan pemahaman, ed.). yang diterima oleh hati-hati mereka. Dan ujian yang lebih besar lagi adalah setan yang senantiasa mengintai sejak dikeluarkannya Adam dari surga untuk menyesatkan anak cucu Adam dan menjatuhkan mereka di dalam kekufuran, kesyirikan, kefasikan serta kemaksiatan. Oleh karena itu, ibadah yang merupakan kewajiban mereka itu ada ujian-ujiannya, yaitu dengan adanya seruan-seruan untuk menyelisihinya (atau menentang kewajiban itu, ed.). Maka barang siapa yang menjawab seruan-seruan tersebut serta ta’at kepada setan, maka dia termasuk orang-orang yang menyimpang yang berhak untuk di masukkan ke neraka jahanam, sebagai mana Allah SWT. berfirman:

قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ
لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ

Allah berfirman : “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya. (QS. Shaad (38): 84-85)

Adapun orang-orang yang mendahulukan keta’atan kepada Allah dan semangat untuk mencari keridhoan-Nya, serta mengikuti Rasulullah, maka dialah mu’min yang sejati yang dijanjikan dengan derajat yang tinggi di dalam surga Firdaus.

Adapun tujuan yang akan di capai manusia dalam amalan-amalan itu berbeda-beda sesuai dengan penngetahuannya serta aqidah mereka. Diantara mereka ada yang mengenal Tuhannya dan mengetahi haq Allah atasnya, dan dia beriman dengan akan bertemunya dia dengan Allah (di akhirat), serta dia mengetahui kadar dunia ini hanyalah tempat persinggahan untuk menuju akherat, lalu dia mengambil apa-apa yang berguna baginya serta bekal yang mengantarkan kepada keridhoan Allah dan surganya, maka itulah tujuan hidup yang akan di capai dengan usahanya.

Dan diantara mereka ada yang tidak mengetahui hal tersebut tidak mengenal Tuhannya, tidak mengenal hak-Nya, serta tidak beriman terhadap pertemuannya dengan Allah (di akhirat), bahkan dia menyangka bahwa dunia dan kelezatannya serta kehidupannya adalah sebagai tujuannya, maka dia berusaha untuk semata-mata mencari dunia, menghabiskan waktu dan umurnya untuk mengumpulkan harta, maka dunia menjadi tujuan akhir segala aktivitasnya. Allah SWT. menyatakan tentang dua model golongan manusia tersebut dalam ayat-Nya:

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akherat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka adalah orang-orang yang usahanya di balasi dengan kebaikan. (QS. Al-Israa’: 19)

Adapun orang kafir yang murni itu berusaha untuk dunia saja, karena dia tidak beriman kecuali kepada hal itu saja, dan tidak cenderung kecuali hanya pada hal tersebut. Allah SWT. berfirman:

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا

Barang siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (dunia), maka Kami segerakan baginya didunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS. Al-Israa’: 18)

Adapun muslim yang berbuat maksiat maka dia berada di antara keduanya.
 

Wallahu a’alamu bish-shawab. *** (Ditulis oleh : Al Ustadz Muhammad Irfan untuk Buletin Asy Syariah Vol.15/03/1429H/2008) 

by
u-must-b-lucky