Memasuki bulan Zulhijah 1431 Hijriah, Indonesia kembali didera musibah yang bertubi-tubi. Sudah sepantasnya kita sebagai makhluk menyikapinya dengan senantiasa sabar dan shalat. Firman Allah SWT.,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS. Al-Baqarah : 45)

Sabar bukan berarti diam, tetapi sabar merupakan aktivitas positif dengan segenap upaya mempertahankan diri ketika menghadapi masalah atau musibah. Sementara shalat pada hakikatnya adalah doa, yaitu sikap bergantung (interdependensi) kepada
Allah SWT. sebagai pencipta (khalik), pemelihara (rabb), dan penguasa (malik) dari alam semesta dan seisinya. Shalat yang sempurna adalah shalat yang bernilai ritual dan sosial, yaitu nilai-nilai dalam shalat dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada dimensi sosial, saat seseorang menghadapi suatu hajat atau suatu kepentingan, dia senantiasa memohon doa dan restu kepada sesamanya. Ini menggambarkan kondisi jiwa yang haus akan perhatian dan kasih sayang sesama. Jika suatu ketika seseorang mengetahui bahwa dia sedang didoakan baik oleh saudaranya maka dipastikan dia akan sangat senang. Sepantasnya, bagi kita untuk membantu saudara kita yang sedang dirundung duka, baik di Mentawai maupun di Jawa Tengah atau di mana pun berada, minimal dalam bentuk doa.


Pantas,
Rasulullah SAW. mengajarkan kepada umatnya untuk menebarkan salam dengan lafaz "assalamualaikum" (semoga keselamatan/kedamaian tetap atas kamu semua). Ajaran yang mulia dengan memuliakan manusia melalui doa. Di dalam Islam, diajarkan bahwa membaca salam itu sunah dan menjawabnya wajib. Ini menunjukkan keharusan untuk mengapresiasi atas kebaikan orang lain dalam bentuk doa.

Islam pun mengajarkan kepada umat
Rasulullah SAW. untuk bersilaturahmi, yang secara hakiki bermakna mengoneksikan kasih sayang. Dampak dari koneksitas itu akan mengaktifasi setiap doa yang dipanjatkan oleh sesama umat Rasulullah. Ajaran Islam senantiasa mengajak umatnya untuk saling mendoakan sesama saudaranya seiman.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari
Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallohu’anhu dikatakan, "Sesungguhnya doa seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah doa yang mustajab (terkabulkan)."

Dari
Shofwan bin ’Abdillah bin Shofwan -- istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’, beliau mengatakan, "Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummud Darda’ (ibu mertua Shofwan) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abud Darda’ (bapak mertua Shofwan). Ummu Darda’ berkata, ‘Apakah engkau ingin berhaji tahun ini ?’ Shofwan berkata, ’Iya.’" Ummud Darda’ pun mengatakan, "Kalau begitu, doakanlah kebaikan padaku karena Nabi SAW. pernah bersabda, ’Sesungguhnya doa seorang Muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini, ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata, ’Amin.’ Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi." Shofwan pun berkata, "Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi SAW." (sahih). Lihat Ash Shohihah (1399): (Muslim : 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88).

Kedua hadis tersebut tampak jelas. Doa dari orang yang tidak diketahui itu mustajab atau terkabulkan. Ini adalah peluang bagi umat Islam khususnya para calon jemaah haji, untuk senantiasa saling mendoakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Meminta didoakan dan meminta maaf itu baik, tetapi mendoakan dan memberi maaf secara ikhlas itu jauh lebih baik.


Saat kita bertemu dengan seseorang, ucapkanlah salam dan bersalaman seraya berbisik mendoakan "
barokalloh" (semoga Allah melimpahkan keberkahan padamu). Saat kita berbelanja di warung kecil, doakanlah semoga Allah memberikan rezeki yang melimpah pada pemilik warung. Begitu pun ketika kita diminta untuk mendoakan seseorang yang mempunyai hajat maka jangan ditunggu lagi, segera kita doakan seikhlas mungkin, semoga harapannya terkabul.

Demikian juga untuk saudara kita yang sedang dilanda musibah, kita doakan tanpa harus diminta dan diketahui oleh mereka, kita panjatkan, "
Ya, Allah, semoga Engkau segera mengganti musibah menjadi rahmat-Mu." Amin.

Wallahualam.***


[Ditulis oleh ROHMANUR AZIZ, Ketua DKM Al-Mu’minuun Griya Utama Rancaekek, pengurus DPW Generasi Muda Mathla’ul Anwar Jawa Barat, dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 5 November 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

Sejak Selasa (12/10) lalu, jemaah calon haji (calhaj) Indonesia sebagai bagian dari tiga juta jemaah haji mulai "menyerbu" dua kota suci. Mekah dan Madinah memiliki magnet yang luar biasa sehingga setiap Muslimin selalu merindukan mengunjungi Baitullah.

Sesungguhnya ibadah haji merupakan napak tilas dari perjuangan para nabi, dimulai dari nenek moyang manusia--Nabi Adam--, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, hingga Rasulullah SAW. Rangkaian ibadah haji seperti tawaf, sai, wukuf di Padang Arafah, dan melempar jumrah di Mina, mengindikasikan "rute" perjuangan nabi-nabi terdahulu.

Perjalanan haji memang tidak semata-mata sebuah perjalanan wisata, tetapi perjalanan yang disyaratkan dengan penuh makna. Bahkan, di luar rangkaian rukun dan wajib haji pun jemaah masih menambahkannya dengan menelusuri jejak-jejak Rasulullah. "Antara rumahku dan mimbarku adalah taman di antara taman-taman surga." Demikian Rasulullah mengisyaratkan satu tempat istimewa yang kini terletak di salah satu sudut Masjid Nabawi, Madinah. Itulah Raudah. Sebuah tempat yang membuat jemaah haji maupun umrah begitu pasrah. Perjuangan pun harus dilalui agar bisa beribadah di atas tanah yang pernah menjadi pusat kehidupan Rasulullah. Raudah mengisyaratkan dan menjadi salah satu tempat dengan doa-doa akan dikabulkan Allah.

Raudah menjadi incaran setiap jemaah haji, sehingga dipadati dan harus berdesak-desakkan untuk mendapatkan satu "kaveling" di dalamnya. Salat sunah, salat wajib, rangkaian doa, zikir, dan membaca ayat demi ayat Alquran, merupakan ibadah yang bisa dilakukan di Raudah. Bukan hanya Raudah. Setiap jejak kaki para nabi pun berupaya diikuti jemaah haji. Meski tenaga mulai terkuras, semangat yang memancarkan spiritualitas tetap terjaga. Mina, Arafah, dan Muzdalifah menjadi saksi-saksi sejarah akan perjuangan para nabi dalam menegakkan kalimat tauhid. "Subhanallah. Walhamdulillah. Walaa ilaaha illallah wallahu akbar." Gema takbir, tahmid, dan tahlil pun terus menggema ketika jemaah haji mengelilingi Kabah yang dikenal sebagai tawaf. Berjalan penuh sesak, berimpitan, bahkan tak jarang bersenggolan menjadi kenikmatan tersendiri bagi jemaah haji. Bahkan, ketika jari-jari kaki terinjak jemaah lain juga tidak ada amarah karena semua pasrah kepada Sang Pencipta alam semesta.

Lautan manusia bergerak dalam arah sama. Tujuh keliling setiap jemaah harus melangkah mengitari bangunan yang dibalut kain kiswah bersulam benang emas tersebut. Seolah-olah kita juga melangkahkan kaki melintasi tempat-tempat bersejarah, seperti Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, dan sudut rukun Yamani.

Sesekali berjalan saat tawaf terbersit keinginan kuat untuk mencium batu hitam (Hajar Aswad). Akan tetapi tidak perlu dipaksakan. Nabi Muhammad pun mengisyaratkan mencium Hajar Aswad dengan cara melambaikan tangan.

Tawaf melambangkan sebuah proses perjuangan untuk mencapai tujuan. Ke mana pun dan kapan pun kita pergi, tetap terikat dengan sumbu tauhid (laa ilaah illallah) yang dilambangkan dengan Kabah. Tempat itu lah yang menjadi semacam titik pusat gravitasi kesadaran spiritual umat yang bertauhid.

Hendaknya untuk mencapai cita-cita tetap terikat dengan semangat tauhid. Semakin dekat kepada Baitullah, semakin dekat pula jarak tawaf yang harus ditempuh jemaah haji. Perjuangan pun makin berat. Sebaliknya bila tawaf mengambil jarak lebih jauh apalagi di lantai dua dan tiga, maka semakin luas dan panjang jarak yang harus ditempuh.

Tawaf pun dianjurkan untuk tetap dilaksanakan di luar rangkaian haji. Bahkan, tidak ada salat sunah menghormati masjid (tahiyyatul-masjid) di Masjidilharam karena diganti dengan tawaf. Lebih dari itu, tawaf merupakan ibadah yang tidak bisa dilakukan di masjid-masjid lain.

Selepas tawaf, jemaah haji bergeser menuju ke tempat sai (masna). Lari-lari kecil untuk mengejar dua bukit, Safa dan Marwah. Tak lupa kita menghadapkan wajah ke Kabah lalu berdoa dan bertakbir.

Jemaah haji harus mencontoh perjuangan Siti Hajar yang harus berlari-lari antara dua bukit untuk mencari air kehidupan. Dengan perjuangan keras disertai doa yang kuat, akhirnya Allah mengabulkan dengan membukakan mata air yang terkenal yakni zamzam.

Ketika perjuangan dalam ibadah haji hampir usai, kita pun melakukan tawaf wada. Sebuah tawaf yang wajib dilakukan untuk jemaah haji maupun umrah yang akan meninggalkan Kota Mekah.

Ketika putaran ketujuh atau putaran akhir seraya berbisik lirih kita ucapkan, "Ya Allah, bawa daku kembali mengunjungi rumah-Mu ini."***

[Ditulis Oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, dosen ITB, Ketua Yayasan Unisba, dan Pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Legi) 4 November 2010 pada Kolom "CIKARACAK"]
Pada akhirnya, siapa pun ingin bahagia dalam hidup, setidaknya di dunia. Tentu saja, mereka yang meyakini kehidupan sesudah hidup di dunia mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesuai dengan doa, "Rabbana aatinaa fiddunya hasanah wafil aakhirati hasanah wakinaa adzaabannaar."

Namun pada kenyataannya, tidak semua orang bertemu dengan kebahagiaan. Pada dasarnya, mereka yang menilai kebahagiaan dengan materi hanyalah orang-orang yang tertipu, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya memiliki harga sesuai dengan kemampuan manusia untuk menghargainya. Manusia juga punya kecenderungan untuk rindu pada sesuatu yang belum ada padanya, sebab segala isi dunia ini indahnya sebelum ada di tangan.

Contohnya Rockefeller, miliuner Amerika yang sepanjang hidupnya mengejar kekayaan. Namun setelah menjadi miliuner, semuanya itu tak lagi berarti. Pada usianya yang sudah 97 tahun, dia hanya ingin agar dicukupkan hidupnya menjadi seratus tahun.

Ternyata harta yang banyak itu tak mampu sekadar untuk membeli kekurangan yang tiga tahun, karena pada tahun itu juga ia wafat. Sesuatu yang belum kita miliki sering disangka menjanjikan kebahagiaan. Namun manusia kerap kali tidak mampu menghargai apa pun yang sudah dimilikinya.

Demikian pula Raja Midas yang bertapa dan memohon kepada dewa agar setiap yang disentuhnya berubah menjadi emas. Dia ingin menjadi yang paling kaya. Permohonannya diperkenankan para dewa. Pulanglah Raja Midas ke istana. Kemudian disentuhnya pagar istana, lalu pagar pun berubah menjadi emas. Disentuhnya pilar istana dan pilar pun menjadi emas. Karena rindu kepada istrinya, dia pun segera menemui isterinya dan ketika dia memeluk isterinya karena rindu, ternyata istrinya pun berubah menjadi patung emas. Raja Midas meraung-raung menyesali diri.

Salah satu gerbang untuk meraih kebahagiaan adalah jika kita mampu meraih hidup yang bermakna. Hidup yang bermakna positif akan membuat manusia bahagia meskipun harus menjalani realitas kehidupan yang berliku. Manusia hidup tidak berdasarkan pada realitas objektif. Namun manusia hidup didasarkan pada penafsiran atas realitas. Misalnya, seorang pebisnis memasang tulisan di dinding kantornya, "Aku pernah bersedih karena kehilangan sepatu, sampai aku bertemu orang yang kehilangan kedua kakinya!"

Pengusaha itu bangkrut dan harus menutup usahanya, lalu dia memutuskan pulang kampung. Saat dia menyeberang jalan di kampungnya, seseorang dengan kursi roda menyapanya dengan sangat akrab dan ekspresif. Saat itu, dia menyadari hidupnya masih bisa bangkit karena dia masih punya dua kaki, dua tangan, dan tubuh yang utuh.

Ada gejala missing style syndrome sehingga setitik derita menjadi seolah raksasa karena perhatian hanya tertuju padanya. Manusia mengabaikan setitik itu yang sesungguhnya berada di tengah belantara bahagia.

Lalu, bagaimana hubungan haji dan kebahagiaan hakiki? Ujian haji kadang tampak sepele, mengutip tausiah Hj. Fatimah Avalpo (Ibu Empet, mubaligah senior di Bandung). Pada dasarnya, haji itu bisa sengsara bisa bahagia, antara lain sangat bergantung pada bagian tubuh yang 5 cm, yaitu bibir kita. Jika bibir banyak digunakan untuk ngomel dan ngedumel, maka kita akan sengsara karena kesulitan yang ditambah omelan akan membuat kesulitan itu makin terasa sulit. Apalagi ketika membandingkan kesulitan kita dengan kesenangan orang lain.

Sebaliknya jika bibir ini digunakan untuk berzikir dan memuji Allah, maka akan lahir ketenangan dan ketenteraman dalam hati kita. Jika hati sudah bersih dan tenteram, maka dunia pun akan berubah. Kesulitan akan dirasa sebagai ujian ketaatan dan kesenangan akan dirasa sebagai sebuah anugerah Allah, yang takkan mampu diraih tanpa pertolongan Allah. Dengan hati yang selalu ingat kepada Allah, ditambah dengan pengetahuan yang cukup tentang manasik dan sejarah serta hikmah haji, maka setiap episode haji akan menjadi jalan kebahagiaan. Tawaf akan sangat membahagiakan, menggoreskan kenangan indah tak terlukiskan, ketika kaki menapak perlahan di tengah hiruk-pikuk sesama hamba yang sama-sama mengejar cinta Ilahi. Apalagi yang berkesempatan mencium Hajar Aswad dan berdoa tepat di multazam. Subhanallah !

Sai akan sangat impresif dan berkesan mendalam apalagi bagi kaum ibu, karena sai napak tilas perjalanan Siti Hajar. Seorang wanita tangguh, istri salehah yang sangat taat pada suami, dan ibu yang sangat penyayang pada anaknya, segera melupakan rasa lelah, sambil tiada berputus asa mengejar rahmat dan karunia Allah.

Buah perjuangan Siti Hajar sangatlah menakjubkan, berupa zamzam yang menjadi sumber pelepas dahaga dan pelepas kerinduan ke tanah suci. Zamzam menjadi oleh-oleh paling dirindukan keluarga dan kerabat. Bahkan meminumnya pun kita berdoa dengan doa yang khusus. "Ya Allah, karuniakan kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, amal yang diterima, kesembuhan dari segala penyakit, dan terhindar dari kepedihan dengan rahmat-Mu wahai yang Mahapengasih di antara yang Pengasih."

Sepulang haji, jemaah mesti bertanya apakah haji saya mabrur ? Ketika Rasulullah SAW. ditanya mengenai tanda-tanda haji mabrur, Rasul yang mulia itu menjawab, "Haji mabrur itu gemar memberi makan orang miskin dan bersikap santun kepada sesama."

Sebelum kita pulang ke tanah air, sesaat ketika kita akan meninggalkan Tanah Suci, Mekah atau Madinah, maka berbesar hatilah wahai saudaraku jemaah haji. Karena Allah sesungguhnya telah mengundang dan memperkenankan kita untuk hadir di rumah-Nya. Kita berbesar hati dan berbaik sangka bahwa kita telah diterima di rumah Allah dan Allah sebagai tuan rumah pastilah memilih siapa yang diperkenankan masuk dan berasyik masyuk di rumah-Nya.

Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaika laa syarikalaka Labbaik. Innal Hamda wanni`mata laka wal mulka laa syarikalaka.***

[Ditulis oleh H. BUDI PRAIYITNO, pembimbing Haji Plus dan Umrah Khalifah Tour. Disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Wage) 2 November 2010 pada Kolom "UMRAH&HAJI"]
"Baitullah ini adalah salah satu pilarnya agama Islam. Barangsiapa yang berniat menuju ke Baitullah, baik para haji ataupun yang berumrah, maka mereka dijamin oleh Allah SWT. apabila meninggal dunia dalam perjalanan, maka mereka akan ditempatkan di surga dan mereka yang pulang dengan selamat ke negerinya akan membawa pahala serta harta benda (Ghanimah)." (HR. Ibnu Juraih)

Tanpa terasa musim haji akan tiba dan tentunya para calon haji sudah siap mental, spiritual, dan material guna mengamalkan rukun Islam yang hanya diwajibkan sekali saja. Dalam suatu hadits, Rasulullaah SAW bersabda, yang intinya mengingatkan jika kita berada di Masjidil Haram supaya memperbanyak memandang Baitullah. Karena, Allah SWT. memberi rahmat sebanyak 120 rahmat, 60 rahmat bagi orang yang tawaf, 40 rahmat bagi orang yang shalat dan 20 rahmat bagi yang memandang Kabah.

Dalam hadits lain dianjurkan supaya memohon ampun kepada Allah SWT. di Multazam, dengan menyatakan satu per-satu dosa yang pernah dilakukan. Sedangkan dosa-dosa yang kita lupa, supaya mohon kepada Allah SWT. agar diampuni juga.

Dalam doa tawaf, ada 4 (empat) baris yang tertulis yaitu, "Ya Allah Ya Tuhanku, karena imanku kepada-Mu dan membenarkan kitab Al-Quran firman-firman-Mu dan dengan setia memenuhi janji kepada-Mu, serta mengikuti sunah Nabi-Mu...," yang di antara baris-baris itu ada yang sudah sering dipahami masyarakat. Akan tetapi, pada baris lainnya yaitu kalimat "dengan setia memenuhi janji kepada Allah," ini memerlukan penjelasan tentang bagaimana janji itu dan bagaimana diucapkannya.

Ketika Umar Ibnu Khatab RA. menunaikan ibadah haji, beliau minta dipandu oleh Imam Ali bin Abi Talib RA., karena Ali memiliki ilmu-ilmu agama yang lebih luas dibanding Umar. Tatkala selesai tawaf 7 putaran di depan Hajar Aswad, Umar berkata, "Kamu hanyalah batu, tidak akan mendatangkan manfaat dan mudarat, jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak sudi menciummu," kata Umar. Ali yang ada di sebelah Umar berucap, "bukan begitu Umar, batu ini akan menjadi saksi bahwa kamu telah memenuhi janjimu kepada Allah yang kamu ucapkan sebelum kamu lahir di bumi", lalu Ali menafsirkan ayat 172-173 dalam surat Al-A'raf, ketika Allah SWT. menciptakan Adam dan Hawa dan semua anak-cucu Adam dan Hawa yang akan lahir di planet bumi ini, mereka telah berjanji bahwa jika mereka lahir di bumi tidak akan mengabdi dan tidak akan mempertuhankan selain Allah SWT. Dengan ucapan Balaa alastu birabbikum ?, "bukankah Aku ini Tuhanmu ?", tanya Allah, lalu mereka menjawab, Balaa, "betul, Engkau adalah Tuhanku." Janji setia itu semua tertulis di dalam Hajar Aswad, Orang yang datang beribadah haji atau umrah dengan mencium Hajar Aswad atau memberi salam, mereka itulah yang setia memenuhi janji mereka yang diucapkan ketika masih berada di alam "Dhar" (bentuk terkecil calon manusia) dan ada juga yang menafsirkan sebagai alam arwah,

Baitullah Alharam Mekah ini namanya juga Bakkah, sebagaimana dapat dilihat dalam Surah Ali-Imran ayat 96-97 yang menginformasikan perihal di tempat tawaf itu berdesakan pria dan wanita. Oleh sebab itu, dalam tawaf laki-laki dan perempuan bersama-sama, bahkan hanya di Masjidil Haram ini saja diperbolehkan laki-laki dan perempuan salat berdampingan, di masjid lain tidak diizinkan.

Dalam hadis lain, Rasululah SAW. bersabda, "apabila kamu masuk masjid, jangan duduk dulu, lakukan shalat dua rakaat yang berarti shalat tahiyatul masjid." Akan tetapi, di Masjidil Haram ini, shalat tahiyatul masjid bukan dua rakaat, tapi tawaf tujuh putaran yaitu Tawaf Ghudum, yang bermakna tawaf datang di Mekah. Bacaan niatnya adalah "Allahumma inni uridu tawafsab'ah aswatin tawafil ghudum lillahi taala, allahu akbar." Tawaf Qudum ini tanpa Sai. Setelah itu, baru melakukan tawaf umrah dan sai umrah.

Rasulullah SAW. juga berpesan, "Tufu bi ahli makkah wa zuru bi ahli madinah", artinya, "tawaflah dengan panduan orang Mekah dan berziarahlah dengan panduan orang Madinah."

Karenanya, jika akan melakukan umrah lebih dari satu kali, supaya keluar dari Mekah dengan memakai pakaian ihram lalu masuk lagi ke Mekah. Jika sulit membaca doa-doa tawaf yang ada di buku panduan Anda, cukuplah membaca doa-doa tasbih seperti berikut ini :
  1. Lailaha illallah Wahdahu la Syarika lahu, Lahul Mulku wa Lahul Hamdu Yuhyi wa Yumitu wa Huwa Hayyun la Yamut Biyadihil Khairu wa Huwa Ala Kuli Syai in Qodir.
    Tasbih para malaikat apabila turun ke bumi dan tawaf. Artinya, "Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, seluruh wujud adalah milik-Nya, segala puji hanya untuk-Nya yang maha menghidupkan dan maha mematikan, pada kekuasaan-Nya segala kebajikan dan Dia maha mampu dalam segala hal."
  2. Subhanallah wal Hamdulillah wa La Ilaha Illallah Wallahu Akbar. Tasbih
    Nabi Adam AS.
    Artinya, "Maha suci Allah, segala puji untuk-Nya, tiada Tuhan melaikan Allah, dan Allah Maha besar, Allah yang maha tinggi dan maha agung."
  3. Rabbana Atina Fiddunya Hasanatan wa Fil Akhirati Hasanatan Waqina Azaabannaar wa Ad-Hilnal Jannata Ma'al Abror ya Azizu ya Ghafar ya RabbalAlamin. (
    Nabi Ibfahim AS.
    ) Artinya,"Ya Allah ya Tuhanku, berilah kebaikan-kebaikan kehidupan dunia dan akhirat dan hindarkanlah kami dari adzab siksa dan masukanlah kami ke dalam surga-Mu bersama dengan mereka yang berbakti kepada-Mu. Ya, Tuhan yang maha perkasa dan maha pengampun, ya Tuhan penguasa seluruh alam."
  4. Wa Sallallahu Ala Sayidina Muhammadin wa Alihi Wasalim Wal Hamdulillahi Rabbil Aalamiin.
    Artinya, "Dan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada panutan kita Nabi Muhammad SAW. serta kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya dan segala puji bagi Allah penguasa seluruh alam."
Semua doa tersebut, hendaknya dibaca dan ditambah serta diakhiri dengan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Bacalah sebanyak mungkin pujian dan doa-doa tersebut selama Anda berada di tanah suci.

[Ditulis oleh HABIB HASYIM serta disalin dari Tabloid "LABBAIK" Edisi 13/Th.I/Oktober 2010/Syawal 1431 H. pada rubrik "PEMBINAAN HAJI"]
Ramadhan dan Syawal telah berlalu. Kini kita berada di bulan Zulkaidah dan sebentar lagi Zulhijah 1431 H akan segera tiba. Sebagaimana bulan Ramadan, Zulhijah adalah bulan yang dinanti kedatangannya oleh kaum Muslimin dan oleh para jemaah haji di seluruh dunia, bahkan oleh para pedagang hewan kurban.

Sebagai Muslim, sudah sepantasnya menyambut kedatangan Zulhijah dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur sebagaimana ketika kita menyambut Ramadan, karena Zulhijah tidak kalah istimewanya dengan Ramadhan. Dari Abi Bakrah RA. , Nabi SAW. bersabda, "Dua bulan yang tidak memiliki kekurangan, adalah bulan id Ramadan dan Zulhijah." (HR. Mutafaqun Alaih)

Zulhijah mengandung arti yang menunaikan haji. Sebab pada bulan ini, umat Islam sejak Nabi Adam AS. sampai dengan umat Nabi Muhammad SAW. menunaikan haji.

Zulhijah merupakan bulan yang istimewa karena merupakan satu dari empat bulan yang Allah SWT. tetapkan sebagai bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab). Allah SWT. berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah : 36)

Keistimewaan lainnya adalah sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Saat itu merupakan hari-hari besar di sisi Allah SWT. Allah SWT. berfirman,
وَالْفَجْرِ
وَلَيَالٍ عَشْرٍ

"Demi fajar dan malam yang sepuluh." (QS. Al-Fajr : 1-2)

Ibnu Katsir berkata, "Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) Zulhijah." Dari Ibnu Abbas RA. Beliau berkata, Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama dari (amal yang dilakukan pada) sepuluh hari Zulhijah." Mereka berkata, "Tidak juga jihad (lebih utama dari itu) ?" Beliau bersabda, "Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan kembali tanpa membawa sesuatu pun." (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya, Fathul Bari, "Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Zulhijah diistimewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama, yaitu salat, saum, sedekah, dan haji, dan tidak ada selain waktu seperti itu."

Para ulama menyatakan, sepuluh hari Zulhijah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan malam-malam terakhir Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama. Begitu pun amal kebaikan yang dikerjakan pada bulan Zulhijah akan mendapatkan balasan yang istimewa. Di antara amal saleh itu antara lain sebagai berikut.
  1. Melakukan berbagai amal kebaikan, terutama pada sepuluh hari pertama. Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu, maka perbanyaklah pada hari tersebut tahlil, takbir, dan tahmid." (HR. Thabrani)
  2. Melaksanakan haji dan umrah bagi yang mampu. Rasulullah SAW. bersabda. "Umrah ke umrah lainnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak mempunyai balasan kecuali surga." (HR. Bukhari)
  3. Puasa hari Arafah bagi selain orang yang berhaji, yaitu pada 9 Zulhijah. Rasulullah SAW. bersabda, "Puasa hari Arafah itu menghapus dosa-dosa dua tahun, setahun yang silam dan setahun yang akan datang. Dan puasa hari Asyura’ itu menghapus dosa setahun sebelumnya." (HR. Muslim)
  4. Shalat Iduladha dan mendengarkan khotbahnya serta berkurban. Allah SWT. berfirman,
    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
    "Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar [108] : 2) Ibnu Qayyim berkata, "Sebaik-baiknya hari di sisi Allah adalah hari Nahr (Hari Raya Kurban). Dia adalah hari haji akbar." Sebagaimana terdapat dalam sunah Abu Daud, Rasulullah SAW. bersabda, "Sesungguhnya hari-hari yang mulia di sisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari Qar."
Mengingat begitu istimewanya Zulhijah dan apa yang terdapat di dalamnya, sudah sepantasnya kaum Muslim menyambut kedatangan Zulhijah dengan cara-cara berikut :
  1. Menyambut penuh kebahagiaan dan rasa syukur karena akan tibanya bulan yang istimewa, bulan yang bertaburkan pahala dan kebaikan.
  2. Mempersiapkan keuangan agar dapat melaksanakan ibadah kurban.
  3. Menghayati dan memperdalam Alquran dan sunah yang bekaitan dengan berbagai amal di bulan Zulhijah, karena amal ibadah akan diterima bila sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
  4. Memperbanyak takarub dan doa agar diberikan kemampuan menjalankan berbagai amal, khususnya amal yang diperintahkan pada bulan Zulhijah.
Akhirnya marilah kita renungi sabda Rasulullah SAW. "Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datang tujuh hal; tidaklah kamu menantikan kecuali kemiskinan yang menimbulkan kelalaian, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang merusak, ketuarentaan yang melemahkan akal, kematian yang membunuh dengan cepat, atau menunggu datangnya dajal padahal ia adalah sejelek-jelek yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat itu lebih berat dan lebih pahit (pedih)." (HR. Tirmidzi)

Wallahualam.***

[Ditulis oleh H. MOCH. HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah Sarijadi, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 29 Oktober 2010 pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]
Setiap orang pasti mengharapkan jalan keselamatan. Namun, tidak setiap orang tahu dan benar dalam memilih jalan keselamatan. Ibarat tikus yang masuk dalam perangkap, karena melihat ada makanan di sana. Bukan selamat yang ia dapat, tetapi binasa. Tidak sedikit manusia yang berperilaku seperti demikian.

Dalam memilih jalan keselamatan, kita tidak diperkenankan memilih jalan sebagaimana disebutkan dalam surat
Al-Fatihah ayat 7. Allah SWT. berfirman,
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
"...Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."

Kata
maghdhub berasal dari asal kata ghadaba yang artinya marah. Berarti, maghdhub mengandung arti yang dimarahi atau dimurkai. Bila dinisbatkan kepada manusia, maghdhub bisa diartikan amarah, yang biasanya lahir dari emosi. Akan tetapi, jika dinisbatkan kepada Allah, walau diartikan amarah atau murka, tetapi jangan digambarkan seperti marahnya manusia. Lebih tepat bermakna ancaman sanksi atau siksaan, yang puncaknya membuat manusia masuk neraka.

Muhammad Rasyid Ridha
dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maghdhub itu ialah mereka yang keluar dari haq setelah mengetahuinya. Atau dengan kata lain, mereka mengenal kebenaran tetapi enggan mengikutinya.

Dalam satu hadits, Nabi SAW. menjelaskan bahwa mereka yang
maghdhub itu adalah orang Yahudi, karena memang mereka yakin akan kenabian Muhammad dan telah mengenal sifat-sifatnya sebagaimana tercantum dalam kitabnya. Akan tetapi, mereka enggan mengikuti Muhammad sekaligus tidak mengakui kenabiannya, atas dasar iri hati yang tertanam dalam jiwa mereka. Sebab, semula mereka mengharapkan nabi akhir zaman itu dari kalangan Yahudi (bani Israil).

Kenapa Yahudi dikategorikan golongan
maghdhub ? Sebab, banyak pelanggaran yang dilakukan kalangan Yahudi, sehingga mereka mendapat murka Allah SWT.

Yang termasuk
maghdhub itu bukan hanya orang Yahudi, tetapi berlaku juga kepada mereka yang berperilaku seperti halnya orang Yahudi, atau yang membuat pelanggaran-pelanggaran lain yang tidak dibenarkan oleh agama.

Dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang mereka yang mendapat murka Allah, di antaranya sebagai berikut.
  1. Orang yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja tanpa alasan yang benar.
    وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
    "Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahanam yang ia akan kekal padanya dan Allah murka atasnya, dan Allah laknat dia dan Allah sediakan baginya siksa yang besar." (QS. An-Nisa : 93)
  2. Orang yang berprasangka buruk kepada Allah serta meragukan kehadiran bantuan-Nya.
    وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    "Dan Allah mengazab orang munafik dan munafikat serta orang musyrikin dan musyrikat, yang menyangka jelek terhadap Allah. Atas merekalah beredar kejelekan, dan Allah murka atas mereka dan Allah kutuk mereka, dan Allah sediakan bagi mereka jahanam sejelek-jeleknya tempat kembali." (QS. Al-Fath : 6)
  3. Orang yang memilih kekufuran sebagai ganti keimanan yaitu orang yang lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.
    مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
    ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
    "Barangsiapa yang kufur kepada Allah sesudah beriman, kecuali orang yang dipaksa ’sedangkan hatinya tetap dalam keimanan. Akan tetapi, barangsiapa terbuka hatinya dengan kekufuran’ maka atas merekalah kemarahan dari Allah dan bagi merekalah azab yang besar. Yang demikian itu, lantaran mereka suka kepada kehidupan dunia lebih daripada akhirat, dan sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada kaum kafir." (QS. An-Nahl : 106-107)
  4. Orang yang lari dari peperangan (perjuangan) membela kebenaran.
    وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
    "Dan barangsiapa yang berpaling kepada mereka di hari itu, kecuali karena mau mengatur (cara) peperangan atau karena mau bersatu dengan satu golongan, maka sesungguhnya ia kembali dengan kemarahan dari Allah dan tempatnya di neraka, dan neraka itu sejelek-jeleknya tempat kembali." (QS. Al-Anfal : 16)
  5. Perzinahan yang dilakukan seorang wanita yang sedang terikat perkawinan tanpa bertobat.
    وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ
    "dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar." (QS. An-Nur : 9)
Walaupun demikian, bukan berarti yang tidak termasuk dalam keterangan di atas, lantas tidak termasuk kategori maghdhub. Pada hakikatnya, yang termasuk maghdhub adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap aturan agama. Seperti halnya orang munafik yang menyatakan keislaman dengan lisannya, tetapi berpegang terhadap kekufuran di hati dan jiwanya, sehingga ajaran agama bukan untuk dilaksanakan, tetapi cukup diucapkan saja.

Walhasil, semua bentuk pelanggaran atau kejahatan akan membuat murka Allah, kecuali jika segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar.***


[Ditulis Oleh
KH. ACENG ZAKARIA, Ketua Bidang Tarbiyyah PP Persis dan Pimpinan Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango Garut. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Wage) 28 Oktober 2010 pada Kolom "CIKARACAK"]


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Lewat sebuah pemikiran yang sederhana "Sebagai salah satu ikhtiar atau usaha untuk dapat mengenalkan diri pada pergaulan dunia maya ini maka melalui sarana saling berkunjung (blogwalking) dan bertukar link (link x-change) lalu juga dapat dijadikan salah satu upaya mengangkat derajat blog ini atau mengoptimasi blog di mata search engine." maka halaman ini saya tampilkan pada blog ini.

Walaupun
blog ini masih seusia jagung dan memiliki PR / page rank rendah.
PR Check
Namun saya memberanikan diri untuk mengajak untuk saling bertukar link (link x-change) disaat kita saling berkunjung (blogwalking).

Sebagaimana yang tersebut sebagai strategi SEO yang merupakan upaya mengangkat derajat blog pada search engine, yaitu saling berkunjung (blogwalking) dan bertukar link (link x-change) sesama blogger ini diyakini selain untuk menambah backlink yang bagus serta sehat untuk SEO, dan bisa juga disebut dengan saling berbagi free backlink, yang dapat meningkatkan PR / page rank (katanya he..he..he..), yang terpenting kita dapat menjalin serta mempererat tali silahturahmi antar blogger.

Secara umum buat bertukar link (
link x-change) dengan blog ini :
    Blog tentang apa saja dengan status apapun serta berapapun PR-nya boleh dan bisa bertukar link (link x-change), yang terpenting blog tersebut tidak mengusung thema PORNOGRAFI, SENTIMEN SUKU / AGAMA / RAS (SARA). Serta menjunjung tinggi Integritas Moral.
Buat teman-teman yang bersedia atau ingin bertukar link (link x-change) dengan blog ini, silahkan pasang kode blog ini di tempat / blog anda. Kalau sudah pasang kodenya lalu tinggalkan komentar pada halaman ini (biar saya tau).
Dan supaya rapi, saya sarankan untuk data tempat / blog anda agar dibuat dengan format sebagai berikut :

Nama Blog :.....................

Url :.....................

Insya Allah sesaat kemudian, kode link tempat / blog anda akan saya tempatkan di HOME PAGE (halaman utama) blog ini =>pada bagian bLOG Roll<=.

Dan khusus buat banner blog akan saya pasang atau tempatkan di
halaman ini (hal ini dimaksudkan agar tidak memperlambat proses loading blog ini, maaf teman.)

Apa itu
google panda? Yang katanya tidak friendly dengan strategi SEO seperti ini. Yang penting kita bisa saling berbagi free backlink untuk mengoptimasi blog disamping untuk mempererat tali silahturahmi blogger.


Berikut ini adalah sebagian dari sahabat yang telah berkontribusi bagi
blog ini dengan kesediaannya untuk berbagi banner...............

My Friend Banners
Semoga dengan saling berkunjung (blogwalking) dan bertukar link (link x-change) ini memberikan manfaat kebaikan serta kebahagiaan bagi kita semua.....

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

by

u-must-b-lucky

Sebagai tanda hormat kepada Tuan Rumah, Allah SWT., setiap tamu yang datang ke Kota Mekah Al-Mukaramah harus melakukan tawaf qudum. Caranya, jemaah datang ke Masjidilharam, kemudian mengelilingi Kabah sebanyak tujuh putaran. Setelah melakukan beberapa kegiatan sunah, jemaah kemudian mengakhirinya dengan melakukan sai, yaitu berlari-lari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Sai dimulai dari Bukit Safa dan diakhiri di Bukit Marwah.

Melakukan sai merupakan ibadah peninggalan Siti Hajar. Saat istri Nabi Ibrahim AS. ini melahirkan seorang bayi yang diberi nama Ismail, suaminya mendapatkan wahyu dari Allah SWT. agar mengajak istri dan anaknya ke suatu lembah yang bergunung batu di tengah padang pasir. Hanya karena keimanan yang kuat, Siti Hajar menerima apa pun keputusan suami yang berasal dari Tuhannya.

Maka, berangkatlah mereka bertiga ke lembah yang gersang itu. Setelah sampai di lembah yang dimaksudkan, Ibrahim memegang kendali onta dan pergi meninggalkan istri dan anaknya yang masih merah. Dengan wajah murung tanpa sepatah kata pun ia melangkah. Mengetahui Ibrahim akan meninggalkannya, Siti Hajar mengejar suaminya.

Sembari memegang kendali onta yang dipegang Ibrahim, Siti Hajar bertanya, "Wahai suamiku, hendak ke manakah engkau ? Apakah akan meninggalkan aku dan anakmu ?" Ibrahim seperti tidak bisa berkata sepatah pun. Sembari menunduk ia hanya mengatakan, "Ini perintah Allah."

Kalau saja Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tengah padang yang tandus karena menuruti hawa nafsu, Siti Hajar akan memberontaknya. Namun karena ini perintah Tuhan, ia pun rela melepas suaminya kembali ke tempat istri tuanya, Siti Sarah. Ia melepas kepergian suaminya dengan tatapan mata kosong.

Siti Hajar kembali tersadar setelah mendengar anaknya, Ismail, menangis. Hajar ingin memberi Ismail minum. Namun, ia justru semakin bingung karena kedatangannya ke lembah ini tidak dilengkapi perbekalan yang cukup. Siti Hajar berupaya mencari air ke sana ke mari, tetapi tidak menemukannya.

Dari kejauhan ia melihat gundukan tanah seperti ada air, maka ia menuju ke bukit itu yang kemudian diketahui bernama Bukit Safa. Namun, air tersebut tidak ditemukan. Dari Bukit Safa, Siti Hajar melihat air di gundukan tanah yang jauhnya sekitar 500 meter di depan. Maka, Siti Hajar pun berlari-lari dengan panik ke arah Bukit Marwah. Di tempat ini, Hajar juga tak menemukan air. Maka, Siti Hajar bolak-balik dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali, tetapi tidak menemukan juga air yang diinginkan.

Setelah nyaris putus asa, Siti Hajar kembali menuju tempat anaknya, Ismail. Melalui gerakan kaki Ismail, Siti Hajar mengetahui tanah yang diinjak anaknya mengandung air. Maka, ibu muda ini segera meng-aduk tanah tersebut. Luar biasa, air pun memancar dari dalam tanah. Bahkan, pancuran air ini masih ada sampai saat ini yang bisa diminum jutaan umat dan tidak kunjung kering. Inilah yang disebut sumur zamzam.

Kisah Siti Hajar dalam kehidupan kontemporer telah menjadi teladan umat manusia. Kerja keras seorang ibu yang selalu berikhtiar mendidik dan membesarkan anaknya. Ibu yang tidak kenal putus asa, ibu yang selalu berusaha tanpa mengenal lelah, dan akhirnya berhasil.

Peristiwa Siti Hajar ini sekaligus menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi kehidupan modern, di mana untuk mencapai kesuksesan seseorang harus melewati suatu krisis. Kesuksesan tidaklah datang begitu saja (taken for granted), melainkan harus diraih dengan susah payah. Baru setelah krisis terlewati, keberhasilan bisa diraih. Bahkan tingkat pencapaiannya (achievement) sama, jika yang satu diraih dengan begitu saja, sedangkan yang lain diraih dengan susah payah, maka perolehan yang diraih dengan seluruh upaya itulah yang lebih dapat dinikmati.

Ikhtiar yang dilakukan Siti Hajar itulah yang memenuhi otak kami sepanjang melaksanakan sai. Malam itu jemaah umrah yang melaksanakan sai cukup banyak. Namun membeludaknya jemaah bisa diatasi dengan melipatgandakan tempat sai dalam beberapa tingkat. Selain dibangun tempat sai di basement, juga dibangun mas’a (tempat sai) di lantai dua dan lantai tiga. Dengan demikian, semua mas’a berjumlah empat lantai.

Tempat sai tidak penuh seperti tempat tawaf. Hal ini karena tidak semua orang yang melakukan tawaf kemudian mengakhirinya dengan sai. Di Masjidilharam tidak dikenal salat Tahyatul Masjid. Penggantinya, setiap jemaah yang datang ke masjid ini menghormati masjid dengan melakukan tawaf.

Tempat tawaf hanya satu di sekitar Kabah itu. Hanya saat jemaah penuh sesak, sebagian jemaah melakukan tawaf di lantai bagian atas, bahkan ada yang di lantai dua dan lantai tiga. Tentu saja, putaran tawaf di lantai atas tersebut lebih lebar dibandingkan dengan tawaf di sekitar Kabah. Konon, sekali putaran tawaf di lantai atas setara dengan satu kilometer.

Sementara "kompetisi" ibadah di tempat sai tidak sedahsyat seperti tawaf. Hanya, jemaah di Bukit Safa banyak yang berhenti untuk berdoa. Demikian juga di Bukit Marwah, banyak jemaah yang setelah menyelesaikan sainya, mereka berdoa. Hal tersebut sesekali menghambat jemaah yang masih akan meneruskan sai. Demikian juga jemaah yang tengah melakukan tahalul, kadang sempat menghambat jemaah yang akan lewat. Namun, sebagian besar dari mereka berdiri di pojok bagian belakang sehingga tidak saling mengganggu.

Selesai melakukan sai, kami pun memotong rambut, minimal tiga helai, sebagai tanda tahalul. Sebagian jemaah segera keluar dari mas’a dan mendatangi tempat pangkas rambut. Tempat pangkas rambut cukup banyak berjejer di luar mas’a. Cara memotong rambut pun luar biasa cepat. Memotong rambut satu kepala tak lebih dari lima menit, bahkan mungkin hanya tiga menit. Hasilnya, juga luar biasa bersih

Laki-laki di mana pun biasanya suka bersolek dan berupaya tampil trendi. Namun yang tren di kalangan jemaah haji justru tampil gundul. Mereka berusaha tampil sederhana, menggunduli rambutnya dan memanjangkan jenggot. Ini pula yang menjadi modal hidup, kesederhanaan.***

[Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pahing) 26 Oktober 2010 pada Kolom "GEMA HAJI"]