Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilagsa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Israa : 1)
Isra' Miraj merupakan peristiwa hebat, fenomenal, dan di luar jangkauan nalar manusia. Mengandung dimensi-dimensi metafisika yang sulit diterima logika.
Jasad lahiriah Rasulullah SAW. yang serba terbatas oleh faktor-faktor material dapat menyatu dengan
batin rohaniah yang amat lembut dan rahasia. Secepat kilat, melampaui ruang dan waktu, untuk tiba ke tempat terjauh pada masa itu -—perjalanan dari Mekah ke Madinah, memerlukan tiga bulan naik unta segar dan cepat-- terus naik ke atas, hingga mencapai ujung ufuk semesta, hingga ke
Sidratul Muntaha. Beraudiensi langsung dengan
Dzat Maha Agung. Di situ
Nabi SAW. menerima perintah menjalankan
shalat fardhu lima kali sehari, bagi semua umat
Muslimin ber
iman.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imron : 190-191)
Para
salafus sholihin dan para ilmuwan
ulul albab, menjadikan
Isra' Miraj sebagai sumber motivasi meningkatkan ke
imanan (
tauhid), ke
islaman (
ibadah ritus, menyembah
Allah SWT., sesuai dengan petunjuk
Rasul SAW.),
ahlakul karimah (kemuliaan
akhlak) serta
ahsanul muamalah (
ibadah sosial,
amal saleh, berbuat baik, dan bajik kepada sesama).
Menurut
Ibnu Arabi dalam
Futuhatul Makkiyah,
Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. mutlak keputusan dan izin
Allah kepada hamba-
Nya yang terpilih, untuk menghadap langsung ke hadirat-
Nya. Namun, bukan tanpa ikhtiar hamba-
Nya itu sendiri. Sebab
Nabi Muhammmad SAW. selalu berusaha menjadi
insan kamil, manusia sempurna lahir batin. Tetap giat mendekatkan diri kepada
Allah (
taqarub Ilallohi),
ruku' sujud, ber
doa, istighfar, tanpa putus. Tidak hanya karena telah mendapat besluit pengangkatan sebagai
Nabi dan
Rasululullah. Padahal sudah jelas,
Beliau ma'sum (dilindungi dari dosa dan kesalahan). Sudah dijamin sebagai ahli surga. Dalam banyak riwayat disebutkan,
Nabi SAW. melakukan
shalat sehingga kakinya bengkak-bengkak. Ditanya oleh
Siti Aisyah, "
Mengapa sampai demikian ? Bukankah engkau seorang Rasul utusan Allah, Nabi kekasih Ilahi ?"
Nabi SAW. menjawab bahwa sebagai makhluk, tetap memiliki kewajiban tunduk patuh beribadah kepada
Khaliknya, serta memperbanyak
amal saleh kepada sesama makhluk lain.
Proses
tazkiyatun nafsu, menyucikan jiwa raga terus-menerus, seorang
Nabi, tentu membuat dirinya teramat bersih sehingga mikrokosmos (jagad kecil) dapat menembus dan menyatu dengan makrokosmos (jagad besar alam semesta).
Peristiwa mengagumkan ini selalu memberikan inspirasi baru bagi para
salafush shalihin dan
ulul albab untuk menciptakan penemuan-penemuan baru berdasarkan pada ke
imanan dan ke
taqwaan.
Iman dan
taqwa (imtaq) menjadi unsur pokok dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dari masa ke masa. Mengilhami pula para kreator di berbagai bidang aktivitas dan kreativitas, seperti seni, sastra, dan budaya. Seorang pujangga termasyhur Italia, abad ke-13,
Dante Alighieri, telah menulis puisi epik "
Divina Commedia", yang tetap dikagumi hingga kini.
Dante menulis puisi itu setelah membaca terjemahan kisah-kisah
Isra' Miraj dari bahasa Arab ke bahasa Latin.
Langkah positif seperti itu harus ditunjukkan oleh kita sekarang, dalam mengaplikasikan serta mengaktualisasikan nilai-nilai
Isra' Miraj. Sebab,
Isra' Miraj bukan hanya rangkaian kisah ajaib untuk dikagumi, melainkan juga kaya dengan
ibroh (contoh) yang dapat dijadikan sarana memperbaiki serta meningkatkan kondisi kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, serta bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.
Salah satu kisah dalam
Isra' adalah tatkala
Nabi Muhammad SAW. melihat sekumpulan manusia kerepotan menahan juluran lidahnya yang panjang-panjang. Mereka berusaha memotongnya agar normal. Namun setiap dipotong, setiap kali itu pula memanjang lagi disertai darah berleleran ke mana-mana.
Nabi SAW. menanyakan kepada
Malaikat Jibril, apakah makna peristiwa itu ?
Jibril menjawab, itulah wujud kelakuan manusia kelak di
akhirat, karena semasa hidup di dunia, suka membesar-besarkan
gibah (membuka
aib orang lain),
namimah (adu domba),
fitnah (mengada-ada), dan sebagainya. Semua perilaku itu dilarang keras oleh
Allah SWT.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurot : 11-12)
Dalam merumuskan tindak lanjut
Isra' Miraj, mengaktualisasikan dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, setiap
Muslim beriman seharusnya membaca dan memahami isi, arti, dan tujuan
Surat Israa yang terdiri atas 111 ayat. Tidak hanya ayat 1 sebagaimana sering terdengar pada perayaan
Rajaban. Menurut beberapa tafsir Quran yang
muktabar,
Surat Isra' termasuk kategori
Surat Makkiyah (diwahyukan di
Mekah, sebelum hijrah ke
Madinah). Pokok utama kandungannya adalah ke
imanan (
tauhid). Menegaskan keesaan
Allah yang tidak beristri beranak, baik berupa manusia maupun malaikat. Menunjukkan hukum (
syariah) yang melarang membunuh, ber
zina, memakan harta anak yatim, mengada-adakan sesuatu yang tak ada, melalui perkataan atau tindakan. Perintah memenuhi janji, menggenapkan timbangan dan ukuran, melaksanakan
shalat fardhu lima waktu dengan tetap.
Di situ juga diuraikan sejarah
Bani Israil, bangsa yang mendapat anugerah keunggulan di segala bidang tetapi ditimpa azab kehinaan setelah menyeleweng dari ajaran
Allah SWT. Bangsa yang semula penuh
syukur nikmat, sehinggaa dinamakan
abdan syakuro, hamba-hamba yang selalu bersyukur kepada
Allah, sebagaimana firman-
Nya,
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (QS. Israa : 3)
Kemudian dicabut nikmatnya tersebut karena mereka kufur hingga mengalami kehancuran.
Maka dalam mewujudkan tindak lanjut
Isra' Miraj, yang terpenting adalah melaksanakan
shalat fardhu lima waktu secara murni (sesuai dengan petunjuk
Rasululllah SAW.), dan konsekuen (
khusyuk).
Shalat mampu mencegah kerusakan dan kemungkaran.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabut : 45)
Juga mencetak generasi
abdan syakuro, agar nikmat anugerah
Allah tetap lestari. Serta mencetak
ibadalana uliy ba'sin syadid. Generasi yang kuat fisik, mental serta intelektual, agar mampu menghadapi perusak kehidupan di muka bumi. Sekaligus mereformasi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara, agar dihindarkan dari ancaman kehancuran akibat korupsi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya, baik di lingkungan elite politik dan birokrasi, maupun khalayak luas. Jika dibiarkan akan menjadi pangkal kehancuran sebagaimana dinyatakan dalam,
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Israa : 16)
Hal itu juga disertai dengan perbaikan sistem agar benar-benar adil, baik hukumnya maupun menjalankannya. Perbaikan sistem ekonomi perdagangan agar bersih dari riba, tipu daya, manipulasi, pemalsuan ukuran, mempermaikan timbangan, mark-up, dan lain-lain.
Marilah kita renungkan
ayat 9 QS. Israa,
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke jalan yang lebih lurus, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka terdapat pahala yang besar.
Barokallohu.***
[Ditulis Oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 7 Juli 2011 / 5 Saban 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]
by
