Tak lama lagi tepatnya sekitar dua pekan ke depan, kita akan menjumpai bulan mulia, bulan rahmat, bulan taubat, dan "raja semua bulan" yaitu Ramadhan. Selamat datang Ya Ramadhan, Syahrul Shiyam !

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dalam QS. Adz Dzariyat : 56, Allah menegaskan tugas jin dan manusia adalah beribadah. Mengapa malaikat tidak disebutkan dalam ayat tersebut ? Karena Al-Qur'an memang mengatur dua makhluk hidup yakni jin dan manusia. Tentunya jin dalam makna khusus yakni makhluk ghaib, bukan dimaknai secara bahasa yaitu orang-orang asing.

Tugas beribadah harus diartikan sebagai tugas hidup dan meliputi seluruh aspek kehidupan. Rasulllah SAW. menyatakan setiap ucapan baik seperti alhamdulillah (hamdalah), subhanallah, dan lain-lain ialah ibadah. Demikian pula setiap langkah kaki menuju kebaikan juga ibadah.

Demikian pula dengan upaya membahagiakan orang lain, membantu orang lain, atau menyisihkan sebagian makanan untuk tetangga, juga ibadah. Tentu ibadah tersebut dalam makna umum yang mencakup seluruh aspek kehidupan asalkan perbuatan itu tidak dilarang Allah.

Namun, ada juga ibadah dalam makna khusus yang mengatur bentuk-bentuk pengabdian langsung kepada Allah yang disebut ritus atau ibadah dalam makna fiqh. Kalau kita membaca buku bab ibadah umumnya mencakup rukun Islam yang lima ditambah beberapa rangkaian ibadah yang berkaitan dengan rukun Islam tersebut. Alim ulama membagi ibadah khusus dalam ibadah badan (jasmani) dan amal (harta benda).

Puasa atau shaum merupakan ibadah fisik (badani) yang waktu, cara, dan persyaratannya sudab ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Cara puasa dengan menahan diri dari makan, minum, hubungan badan suami-istri, dan perbuatan lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat ridha Allah. Jadi, puasa dengan niat melangsingkan tubuh atau kecantikan bukan ibadah karena tujuannya bukan mencari ridha Allah.

Kalaupun ada alim ulama yang menyatakan selama berpuasa tak boleh berendam di kolam air atau menggosok gigi memakai odol setelah matahari terbit mempakan upaya preventif untuk menjaga ibadah puasa. Termasuk meneteskan obat mata, membersihkan telinga, dan lain-lain juga upaya kehati-hatian selama berpuasa. Padahal, hal-hal yang membatalkan puasa amat sederhana yakni makan, minum, dan berhubungan badan.

Sesungguhnya bagian terberat dari puasa ialah berhenti dari dosa dan maksiat sehingga puasa tak sekadar menahan dari lapar dan dahaga. Kalau seseorang sedang berpuasa lalu bertengkar bukan berarti batal puasanya, tetapi mengurangi nilai puasa. Jadi, seseorang yang bertengkar atau menyebarkan gosip harus segera meminta ampunan bukan lantas disuruh berbuka.

Demikian juga apabila kita lupa sehingga makan atau minum, itu tidak termasuk membatalkan puasa. Bahkan, lupa disebut rahmat. Hanya, kita tidak boleh bersiap-siap lupa, misalnya selalu membawa rokok dan korek api dengan harapan suatu saat lupa sehingga bisa merokok.

Pada hakikatnya puasa tidak memberatkan kaum Muslimin malah menyehatkan, seperti hadits Nabi SAW. Tak aneh ketika seorang sahabat datang dan meminta izin agar berpuasa terus-menerus serta-merta Nabi melarangnya.

"Jangan (berpuasa tanpa henti) karena tubuhmu memiliki hak darimu."

"Tapi saya kuat menjalaninya," kata sahabat itu.

"Istrimu mempunyai hak darimu," jawab Nabi.

Pertanyaan yang sering diterima penulis berkaitan dengan seorang pekerja keras sehingga tak kuat untuk berpuasa. Dalam hal ini Muhammad Abduh dalam Tafsir Almanar memakna ayat Al-Qur'an, "Walladziina yutiiku-nahuu," sebagai orang-orang yang bekerja keras. Muhammad Abduh mengambil contoh, seorang tukang pikul di pelabuhan sehingga kalau berpuasa tak akan kuat menahan beban pekerjaan. Dalam kondisi seperti itu, pekerja berat diperbolehkan tak berpuasa, tetapi membayar fidiah.

Hal itu diperkuat dengan kaidah, "Laksanakan segala perintah Allah sesuai dengan kemampuanmu." Nabi Muhammad SAW. dalam sabdanya menyatakan,
Jika aku perintahkan kalian untuk melakukan suatu perbuatan, lakukan semampu kalian. Kalau tidak mampu tidak lagi menjadi tanggung jawabmu.

Demikian pula wanita hamil atau sedang menyusui juga diperkenankan tidak berpuasa dan harus membayar fidiah. Orang tua yang sakit-sakitan sehingga tak bisa mengganti puasanya di hari-hari lain juga bisa mengganti puasanya dengan fidiah. Sementara orang dalam perjalanan atau sedang sakit diperbolehkan tak berpuasa dan menggantinya (kada) di hari-hari lain.

Fidiah dengan memberikan makanan, seperti yang kita makan sehari-hari atau diganti dengan bentuk uang yang setara lalu diberikan kepada kaum miskin.

Ukuran fidiah itu cukup untuk makan selama sehari. Bagaimana kalau kita sendiri hanya mampu membayar fidiah dengan nilai kurang dari ketentuan ? Laksanakan saja semampunya bahkan bisa bebas dari fidiah kalau kita termasuk kaum tak mampu.

Selamat menikmati indahnya Ramadhan ! Semoga kita bisa naik "pangkat" dengan masuk golongan kaum bertaqwa setelah menjalani kawah candradimuka selama sebulan.***

[Ditulis Oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 14 Juli 2011 / 12 Saban 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky

Tidak terasa sekarang masuk pertengahan bulan Saban berarti beberapa saat lagi kita semua akan memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat, serta pengampunan yaitu bulan dimana segala aktivitas kita bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Subhanallah.

Kembali lagi pada bulan Saban dimana kita berada sekarang menurut beberapa teman banyak keutamaannya, terutama malam pertengahan bulan Saban atau yang populer disebut dengan Nisfu Saban apabila diisi dengan sederet kegiatan ibadah mulai dengan membaca surat Yasin 3 kali, dan lain-lain.

Tapi saya juga merasa tersekat hati ini karena ada juga yang bilang bahwa seluruh kegiatan ibadah pada Nisfu Saban adalah bid'ah, karena tiada keterangan shahih yang menjadi dasar kegiatan tersebut atau dengan kata lain tiada keterangan bahwa kegiatan ini dilaksanakan pada zaman Rasulullah SAW. dan masa salafus shalih.

Bingung jadinya.... apalagi kalau ingat dengan hadits Nabi SAW. sebagai berikut,
Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Dawud, dan At-Tirmidzi; hadits hasan shahih)

Kemudian banyak pertanyaan yang muncul, seperti :
  • Apakah sebenarnya Nisfu Saban itu ?
  • Apakah benar pada malam itu disunatkan melakukan amalan/ibadah tertentu ?
  • Bagaimanakah hukumnya meyakini hal ini ?
Setelah saya mencoba blogwalking di dunia maya ini, akhirnya sampai pada situs Ustadz Ahmad Sarwat, Lc. dan setelah dibaca-baca terdapat pencerahan yang menjawab keragu-raguan hati ini.

Berikut ini penjelasan dari Ustadz Ahmad Sarwat Lc. menjawab pertanyaan tersebut di atas :
    Memang benar bahwa secara umum bulan Saban punya kekhususan tersendiri. Keterangan itu kita dapat dari hadits-hadits yang shahih, yang merupakan keterangan yang valid dari Rasulullah SAW. tentang keutamaan bulan Saban :
    1. Amal Hamba Diangkat ke Langit.
      Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Saban merupakan bulan di mana amal shalih setiap hamba akan diangkat ke langit.
      Salah satu dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW. berikut ini :
      Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya, “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Saban.” Rasul SAW. bersabda, "Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa. (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
    2. Starting Point Persiapan Ramadhan.
      Di samping itu bulan Saban yang letaknya persis sebelum Ramadhan seolah menjadi starting point untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Sehingga isyaratnya adalah kita perlu menyiapkan bekal ibadah untuk menyambut bulan Ramadhan. Dalam hal mempersiapkan hati atau sisi ruhiyah, Rasulullah SAW. mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Saban,
      Dari ‘Aisyah RA. berkata : Saya tidak melihat Rasulullah SAW. menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Saban. (HR Muslim)

    Mengkritisi Kekuatan Riwayat Amaliah Nisfu Syaban

    Sedangkan khusus tentang keutamaan malam pertengahan bulan, atau lebih dikenal dengan istilah Nisfu Saban, memang ada dalil yang mendasarinya. Namun para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan derajat periwayatannya.

    Sebagian kalangan menggunakan dalil-dalil lemah itu dengan alasan bahwa bila suatu hadits tidak terlalu parah kelemahannya, masih boleh digunakan landasan ibadah yang bersifat keutamaan. Sebagian lain agak ketat dalam menyeleksi dalil-dalil yang dianggap dhaif, sehingga semuanya dibuang begitu saja.

    Di antara dalil-dalil yang dianggap lemah itu misalnya hadits berikut ini:
    Sesungguhnya Allah SWT. bertajalli (menampakkan diri) pada malam Nisfu Saban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan doa mereka, kecuali sebagian ahli maksiat.

    Memang kalau kita mau jujur dengan hasil penelitian para muhaddtis, riwayat hadits ini tidak mencapai derajat shahih. Ada sebagian kalangan yang menghasankan, tetapi tidak sedikit juga yang secara tegas mendhaifkannya.

    Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan bahwa tidak ada satu hadits shahih pun mengenai keutamaan malam Nisfu Saban.

    Begitu juga Ibnu Katsir telah mendha’ifkan hadits yang menerangkan tentang bahwa pada malam Nisfu Saban itu, ajal manusia ditentukan dari bulan pada tahun itu hingga bulan Saban tahun depan.

    Sedangkan amaliyah yang dilakukan secara khusus pada malam Nisfu Saban itu, sebagaimana yang sering dikerjakan oleh sebagian umat Islam dengan serangkaian ritual, kami tidak mendapatkan satu petunjuk pun yang memiliki dasar yang kuat.

    Sebagaimana kita tahu, sebagian dari umat ini banyak yang mengkhususkan malam itu untuk membaca Surat Yasin, atau melakukan shalat sunnah dua raka’at dengan niat minta dipanjangkan umur, atau niat agar menjadi kaya dan seterusnya. Memang praktek seperti ini ada di banyak negeri, bukan hanya di Indonesia, tetapi di Mesir, Yaman dan negeri lainnya.

    Bahkan mereka pun sering membaca lafaz doa khusus yang -entah bagaimana- telah tersebar di banyak negeri meski sama sekali bukan berasal dari hadits Rasulullah SAW.

    Kritik terhadap Lafaz Doa Malam Nisfu Syaban
    Sering kita dapati bahwa sebagian umat Islam memanjatkan doa khusus pada malam Nisfu Saban. Di dalam doa itu mereka meminta agar Allah SWT. menghapuskan taqdir yang buruk yang telah tertulis di lauhil mahfuz. Seperti doa berikut ini:

    Ya Allah, jika Engkau mencatat aku di sisi-Mu dalam ummul kitab, sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rizkiku, maka hapuskanlah Ya Allah dengan dengan karunia-Mu atas kesengsaraanku, keterhalanganku, keterusiranku dan kesempitan rizkiku. Dan tetapkanlah aku disisi-Mu di dalam ummul kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rizki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya. Karena sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman-Mu adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan melalui lisan Nabi-Mu yang Engkau utus : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (lauhil Mahfuz).

    Hal itu karena mereka berhujah bahwa Allah SWT. dengan kehendak-Nya bisa menghapus apa-apa yang pernah ditulisnya di lauhil mahfuz dan menggantinya dengan taqdir yang lain. Dasarnya adalah firman Allah SWT. :

    يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
    Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauhil Mahfuz). (QS. Ar-Ra’d : 39)

    Oleh sebagian ulama, lafaz doa seperti itu dianggap bertentangan, karena apa-apa yang sudah tertulis di lauhil mahfuz tidak mungkin dihapus. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. :
    Dari Ibnu Umar RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda, ”Allah SWT. menghapuskan apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, kecuali kebahagiaan, kesengsaran dan kematian.”

    Ibnu Abbas berkata, ”Allah SWT. menghapuskan apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, kecuali penciptaan, perilaku, ajal, rizqi, kebahagiaan dan kesengsaran.

    Selain itu lafaz doa itu seolah-olah menggantungkan kepada Allah SWT. apakah ingin mengabulkan atau tidak. Padahal salah satu adab berdoa adalah harus ber’azam atau bertekad kuat untuk dikabulkan. Sedangkan penggunaan lafaz (bila Engkau kehendaki), seolah mengesankan tidak serius dalam meminta. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. :
    Bila kamu meminta kepada Allah SWT. maka mantapkanlah permintaanmu itu.

    Wallahu a`lam bishshawab.
Terima kasih saya sampaikan kepada Ustadz Ahmad Sarwat Lc. yang situsnya menjadi bahan inspirasi tulisan ini. Mudah-mudahan teman-teman mendapat pencerahan dari penjelasan tersebut di atas. Bagi yang merasa belum puas ada baiknya bertanya kepada guru / ustadz secara langsung (off air). Maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisan artikel ini, namanya juga pemula / rookie yang mencoba senam otak dan joging jari dengan ilmu alakadarnya.

[Sumber tulisan : http://www.ustsarwat.com/]

by

u-must-b-lucky

Hampir setiap Muslim berniat melaksanakan ibadah haji. Berbagai upaya dilakukan agar dapat menunaikan rukun Islam yang ke-5 tersebut. Dari mulai menabung harian, bulanan, pinjaman, bahkan menjual sebagian hartanya. Setiap orang yang telah berhaji, senantiasa berkeinginan menziarahi yang kesekian kalinya ke Baitullah.

Itulah kenikmatan dan rahasia berhaji, walaupun harus ditempuh dengan berpeluh-peluh pengorbanan. Saat kemampuan dari berbagai hal telah siap, penantian panjang dengan harap-harap cemas meliputi hampir setiap jemaah calon haji.

Berbagai persiapan dilakukan, manasik haji diikuti secara seksama, segala keperluan selama di Tanah Suci disiapkan. Sampai-sampai makanan khas daerah masing-masing diikutsertakan sebagai panganan pelepas rindu kampung halaman. Karena harapan mendapat jamuan dari Allah SWT., Insya Allah dapat terwujud.

Dengan bertambahnya usia bumi, mekanisme pemberangkatan haji tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, termasuk dengan aturan-aturan keimigrasian. Misalnya, penulisan nama calon haji di paspor harus tertulis tiga suku kata dan persoalan yang paling pelik di Indonesia bagi jemaah haji adalah waktu yang agak cukup lama untuk menunggu giliran berangkat atau waiting list. Ini dapat berlangsung bahkah di atas empat tahun. Penantian inilah yang harus dimaksimalkan oleh setiap calon jemaah haji, sebagaimana peribahasa arab, "Barang siapa yang tahu jauhnya perjalanan, persiapkanlah." Karena semakin kompleksnya masalah teknis perjalanan haji, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
  1. Meneguhkan niat. Dalam ajaran Islam, niat merupakan entitas inti. Hal yang senantiasa membedakan perilaku seseorang adalah bergantung pada niatnya. Memang niat kasat mata, tidak dapat dilihat secara dohir. Namun dalam Islam, niat itulah yang menghubungkan diri seorang Muslim dengan Allah Rabbul Izzati.
    Dengan niat yang tulus ikhlas, seorang Muslim dapat melakukan segalanya dengan baik. Karena kekuatan niat hanya untuk Allah dapat mengalahkan apa pun. Karena niat yang kuat, banyak orang secara material tidak mungkin berangkat haji, tetapi akhirnya ia berangkat juga. Sebaliknya, jika niat seorang Muslim untuk berhaji kurang tulus dan kurang ikhlas, akan diluruskan oleh Allah bagaimana sepatutnya kita beribadah. Atau bahkan, Allah akan mengingatkan kita dengan berbagai peringatan.
    Oleh karena itu, meneguhkan niat haji hanya karena mengharap ridha Allah SWT. merupakan hal yang sangat inti. Hal tersebut harus dimaknai secara mendalam oleh setiap calon jemaah haji karena niat ada di dalam diri setiap orang.
  2. Berhaji adalah mengikuti sunah dan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Pemahaman akan hal tersebut, akan berdampak pada kekhusyukan yang lebih. Tidak pada tempatnya bagi jemaah haji untuk senantiasa merasionalisasikan berbagai bentuk ibadah haji. Misalnya, kenapa tawaf ifadhah dan sunah berlangsung tujuh putaran dengan melawan arah jarum jam ? Mungkin untuk menghabiskan rasa penasaran, ia dapat mencari jawabannya melalui asatidz.
    Akan tetapi, hal itu tidak akan menyudahi rasa penasaran setiap pribadi yang berhaji. Kepuasan hati tidak akan terselesaikan dengan jawaban-jawaban logika. Ibadah-ibadah yang telah dicontohkan rasul, harus diyakini memiliki keutamaan-keutamaan yang memuaskan hati. Pemenuhan manasik secara maksimal sesuai dengan contoh-contoh rasul akan memberi ketenangan hati dan kenikmatan tiada terhingga.
  3. Wahana silaturahmi. Sebagaimana janji Allah, dalam haji akan datang berbondong-bondong orang dari setiap penjuru, memberi makna bahwa haji adalah wahana yang tepat untuk saling mengenal antara sesama Muslim. Tanpa membedakan warna kulit, jabatan, atau asal negara. Boleh jadi kita berbeda tempat tinggal di hotel, tetapi saat pelaksanaan ibadah, semuanya berada pada alur yang sama. Misalnya, pada saat semua jemaah berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf, semuanya mengenakan pakaian yang sama, pada waktu dan tempat yang sama juga. Demikianlah, kita dapat belajar dari setiap orang yang hadir di Tanah Suci. Kita tafakuri mengapa orang dapat sukses dan atau sebaliknya.
  4. Medium potensial untuk berdoa. Merupakan janji Allah bahwa di Tanah Suci terdapat tempat-tempat yang mustajab. Khusus pada haji ada waktu dan tempat yang mustajab, yakni di padang Arafah. Selain waktu itu, Arafah hanya tempat biasa. Oleh karena itu, bagi jemaah haji betul-betul menggunakan kesempatan itu semaksimal mungkin. Tidaklah mengherankan jika sepulang dari berhaji, jemaah yang mabrur mendapatkan ciri kemabrurannya.
Empat poin di atas penting diperhatikan setiap calon jemaah haji, khususnya pada masa penantian pemberangkatan. Pilihan untuk menentukan bimbingan menjadi penting agar raihan haji kita maksimal. Jangan mempunyai pertimbangan mencari bimbingan haji (KBIH atau biro perjalanan) karena lokasi dekat rumah atau hubungan keluarga atau karena harga murah. Yang paling penting, biro perjalanan atau KBIH yang mampu memberikan arahan standardisasi pelayanan yang prima. Laksanakan ibadah haji atau umrah Anda dengan baik dan benar.

Mudah-mudahan niat suci haji senantiasa terjaga agar mendapatkan haji yang mabrur.

Amin Ya Rabbal Alamin. ***

[Ditulis Oleh H. WAWAN R. MISBACH, Direktur Biro Perjalanan Qiblat Tour dan pembina Kelompok Bimbingan Ibadah haji Qiblat Darul Hikam. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Manis) 12 Juli 2011 / 10 Saban 1432 H pada Kolom "UMRAH & HAJI"]


by

u-must-b-lucky
Banyak dari orang-orang yang mulai sadar akan pentingnya shalat masih mengabaikan perkara thuma’ninah di dalam shalat. Padahal hanya dengan thuma’ninah seseorang bisa khusyu’. Dan mustahil kekhusyu’an bisa tercapai dengan ketergesa-gesaan. Karena setiap kali bertambah thuma’ninah seseorang, maka bertambah pula kekhusyu’annya dan setiap kali berkurang thuma’ninah-nya maka bertambahlah ketergesa-gesaannya, sehingga jadilah gerakan kedua tangannya seperti sesuatu yang sia-sia yang tidak diiringi dengan kekhusyu’an. Dan Allah SWT. telah memuji hamba-hamba-Nya yang khusyu’ di dalam shalatnya,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ


Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) mereka yang khusyu’ di dalam shalat mereka. (QS. Al Mu’minun: 1-2)

Tapi alangkah banyaknya kaum muslimin yang melalaikan hal ini. Tidaklah kita dapati kebanyakan mereka kecuali telah menyia-nyiakan shalat, menyia-nyiakan rukun-rukunnya, dan meninggalkan thuma’ninah di dalamnya. Ini adalah perkara yang sangat menyedihkan.

Sungguh manusia telah menyia-nyiakan shalat sejak zaman Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu. Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dari Al Imam Az-Zuhri, Beliau berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu di Damaskus dan ketika itu ia sedang menangis. Maka aku bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis ? Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu aku dapati kecuali shalat ini, dan shalat ini telah disia-siakan.” Dan dalam riwayat yang lain, Anas Radhiyallahu ’anhu berkata, “(Sekarang ini) aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu ada pada zaman Rasulullah.” Kemudian seseorang berkata, “Bagaimana dengan shalat ?” Ia menjawab, “Bukankah kalian telah menyia-nyiakannya ?!

Karena itu tidaklah kita dapati kebanyakkan mereka shalat kecuali dengan mematuk. Dan tidaklah mereka berlalu dalam shalat kecuali seperti berlalunya anak panah. Inilah adalah musibah besar bagi umat ini. Kalau kita menyaksikan bagaimana mereka shalat, kita akan dapati penyelisihan-penyelisihan yang sangat banyak terhadap petunjuk Nabi SAW. di dalam shalatnya. Mereka mempercepat bacaan Al-Fatihah hingga tidak mungkin bagi ma’mum untuk membacanya dengan thuma’ninah dan tadabbur. Kejadian seperti ini banyak kita temui dalam shalat sirr atau dalam dua rakaat terakhir dari shalat jahr. Begitu pula di saat ruku’ dan sujud padahal dalam sabdanya Rasulullah SAW. berkata,
Allah tidak melihat hamba-Nya yang tidak menegakkan punggungnya diantara ruku’nya dan sujudnya. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah Shahih At-Targhib Wattarhib.)

Dan dalam hadits yang lain, Beliau SAW. bersabda,
Seburuk-buruknya pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya.” Berkata Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, “Bagaimana dia mencuri shalatnyac?” Beliau bersabda, “Dia tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya” (HR. Ath- Thabrani dan lain-lain dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam Shahih At- Targhib Wattarhib.)

Dan Beliau SAW. juga bersabda,
Sesungguhnya seseorang benar-benar shalat selama enam puluh tahun akan tetapi tidak diterima shalatnya. Bisa jadi dia menyempurnakan ruku’nya tetapi tidak menyempurnakan sujudnya dan bisa jadi dia menyempurnakan sujudnya tetapi tidak menyempurnakan ruku’nya” (HR. Abul Qasim Al Asbahani dan dihasankankan oleh Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam Shahih At-Targhib Wattarhib.)

Apa yang Beliau SAW. sabdakan diatas, seperti itu pulalah kondisi ummatnya saat ini. Adapun shalat Beliau SAW., adalah seperti yang diriwayatkan dari Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ’anhu bahwasanya ia berkata, “Saya shalat bersama Rasulullah SAW. maka saya dapati berdirinya, ruku’nya, ‘itidalnya setelah ruku’, sujudnya, duduknya diantara dua sujud, sujudnya, dan duduknya sebelum salam dan pergi (temponya) hampir sama.(Muttafaqun ‘Alaihi.)

Demikianlah Nabi SAW. kalau shalat. Ruku’nya, i’tidalnya, sujudnya temponya hampir sama, yaitu tidak ada perbedaan yang mencolok sehingga yang satu lebih panjang dari yang lainnya, sebagaimana hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang As-Sunnah. Dan demikian pula petunjuk Nabi SAW. di dalam dua rukun i’tidal (i’tidal setelah ruku’ dan duduk diantara dua sujud) menyelisihi perbuatan kebanyakan manusia pada zaman sekarang. Telah datang hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu, ia berkata, “Saya tidak pernah shalat dibelakang seseorangpun yang lebih ringkas dan sempurna shalatnya dibandingkan Rasulullah SAW., Dahulu Rasulullah SAW. apabila membaca “Sami’allahu liman hamidahBeliau berdiri (lama) hingga kami berkata, “Beliau telah salah” kemudian Beliau bertakbir dan sujud dan Beliau duduk diantara dua sujud (lama) hingga kami berkata, “Beliau telah salah.

Dan memanjangkan i’tidal dan duduk diantara dua sujud adalah termasuk dari sunnah-sunnah Nabi SAW. yang telah ditinggalkan sejak terputusnya zaman Shahabat Radhiyallahu ’anhu hingga zaman kita sekarang ini.

Berdasarkan penjelasan tadi kita mengetahui bahwasanya kadar tasbih dalam ruku’, sujud, dan rukun lainnya, tidak terbatas dengan tiga tasbih saja. Dan hadits yang menerangkan bahwasanya Nabi SAW. bertasbih dengan tiga tasbih keshahihannya diperselisihkan oleh ulama. Asy Syaikh ‘Abdullah al Mar’ii Hafidzahullah menjelaskan tentang hal tersebut, “Yang populer di kalangan manusia bahwa tasbih dalam ruku’ dan sujud dibatasi dengan tiga tasbih saja, tidak ada dalil yang shahih dan jelas yang mengikatnya dengan bilangan ini.

Dan Ibnul Qayyim Rahimahullah juga menjelaskan hal yang sama di dalam kitabnya Ash-shalat wa Hukmu Tarikiha. Dan kalau pun kita anggap haditsnya shahih, Nabi SAW. tidak membacanya dengan tergesa-gesa tanpa tadabbur dan khusyu’ seperti yang banyak dilakukan oleh ummatnya sekarang.

Sebagai kesimpulan berkata Syaikh Abdullah Al Mar’ii Hafidzahullah, “Yang benar dalam hal ini adalah tergantung bacaan (seseorang di dalam shalat). Kalau bacaannya panjang, ruku’ dan sujudnya juga panjang.” Kemudian Beliau Hafidzahullah melanjutkan, “Yang dimaksud (temponya) hampir sama, bahwa tambahan bacaan menuntut adanya tambahan tasbih dan pengurangan bacaan menuntut adanya pengurangan tasbih.

Sesungguhnya penyelisihan manusia terhadap petunjuk Nabi SAW. di dalam shalat teramat banyak sekali. Karena itu penting bagi kita untuk mengingat-ingat ucapan Imam Ahlus Sunnah Al Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, “Sesungguhnya bagian seseorang di dalam Islam adalah sesuai kadar perhatian mereka terhadap shalat, dan kecintaan mereka kepada Islam adalah sesuai kadar kecintaan mereka kepada shalat. Maka kenalilah dirimu wahai hamba Allah ! Hati-hatilah jangan sampai engkau bertemu dengan Allah SWT. sedangkan tidak ada kadar keislaman di sisimu ! Karena sesungguhnya kadar keislaman di dalam hatimu sesuai dengan kadar shalat di dalam hatimu.

Wallahua’lam bis Shawaab.***

[Sumber tulisan : http://artikelislam.wordpress.com/]


by.

u-must-b-lucky

Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih atau murni. Bersih dari kotoran sehingga menjadikan sesuatu bersih, tidak kotor lagi.

Adapun menurut istilah, definisi ikhlas dimaknai beberapa ulama sebagai membersihkan hati dari maksud selain mengharapkan ridha Allah SWT. Sementara menurut Imam Al Izz bin Abdisalam, ikhlas ketika seseorang melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah, tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia juga tidak berharap manfaat dan menolak bahaya.

Kedudukan ikhlas sangatlah penting dalam menyertai amal. Sahl bin Abdullah at-Tustary berkata, "Dunia ini adalah kebodohan dan kematian, kecuali ilmu. Semua ilmu merupakan hujjah atas pemiliknya, kecuali yang diamalkannya. Semua amal akan sia-sia, kecuali ikhlas. Sementara ikhlas dalam bahaya besar, sehingga tetap berakhir dengannya."

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA., Nabi SAW., bersabda,
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian (niat dan keikhlasan). (HR. Muslim)

Allah hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras atau menampi beras, dengan menyingkirkan gabah dan batu-batu kecil di sekitar beras. Beras yang dimasak pun menjadi nikmat dimakan. Akan tetapi, jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit gabah dan batu kecil.

Demikianlah keikhlasan yang menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan ria akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Ikhlas merupakan buah dan intisari dari iman. Seseorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am : 162)

Dalam ayat lain dikatakan,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5)

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk : 2)

Ulama Fudhail bin Iyadh memahami kata ikhlas dalam firman Allah tersebut di atas, serta menuliskan dalam kitabnya. "Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima, sehingga amal itu harus ikhlas dan benar jika dilakukan sesuai sunnah Nabi."

Oleh karena itu, tak heran jika ulama terkenal, Ibnul Qoyyim, memberikan perumpamaan, amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir, sehingga memberatkannya tetapi tidak bermanfaat.

Lantas, bagaimana ciri orang yang ikhlas ? Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri di antaranya, senantiasa bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian atau pun celaan. Ali bin Abi Thalib RA. berkata, "Orang yang ria memiliki beberapa ciri, yaitu malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal, jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela."

Ciri lainnya, terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits,
Aku beritahukan, ada suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah. (HR. Ibnu Majah)

Untuk mencapai ikhlas bisa melakukan beberapa cara, seperti banyak berdoa, menyembunyikan amal kebaikan, dan memandang rendah amal kebaikan. Cara lainnya, dengan takut akan tidak diterimanya amal, tidak terpengaruh perkataan atau pujian manusia, dan menyadari manusia bukanlah pemilik surga atau neraka. Terakhir, ingin dicintai Allah bukan manusia.

Niat adalah dasar segala perbuatan, sehingga setiap perbuatan manusia diterima tidaknya di sisi Allah bergantung pada niatnya. Seseorang yang mengerjakan suatu pekerjaan niatnya murni karena Allah dan mengharapkan ganjaran akhirat, sedangkan perbuatannya itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah, maka amalnya akan diterima Allah. Sebaliknya, seseorang yang berniat untuk selain Allah atau tidak ikhlas bahkan menyekutukan-Nya dengan makhluk, maka pekerjaannya itu akan ditolak dan akan menjadi bencana baginya.

Amal tanpa ikhlas akan menjadi bencana bagi yang mengerjakan pekerjaan tersebut, walaupun pekerjaan itu termasuk dari perbuatan ibadah yang mulia, seperti memberikan sedekah, membaca Al-Qur'an, mengajarkan ilmu, bahkan mati syahid dalam medan perang melawan orang-orang kafir. Kualitas amal seseorang tak cukup dengan memenuhi syarat maupun rukunnya, melainkan harus dibarengi dengan niat ikhlas.

Kita wajib memperbaiki niat dalam segala perbuatan dan berusaha keras untuk selalu ikhlas dalam beramal.

Insya Allah !***

[Ditulis oleh HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL'AYDRUS, Ketua Yayasan Assalaam dan mantan ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 8 Juli 2011 / 6 Saban 1432 H. dari Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by


u-must-b-lucky

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilagsa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Israa : 1)

Isra' Miraj merupakan peristiwa hebat, fenomenal, dan di luar jangkauan nalar manusia. Mengandung dimensi-dimensi metafisika yang sulit diterima logika. Jasad lahiriah Rasulullah SAW. yang serba terbatas oleh faktor-faktor material dapat menyatu dengan batin rohaniah yang amat lembut dan rahasia. Secepat kilat, melampaui ruang dan waktu, untuk tiba ke tempat terjauh pada masa itu -—perjalanan dari Mekah ke Madinah, memerlukan tiga bulan naik unta segar dan cepat-- terus naik ke atas, hingga mencapai ujung ufuk semesta, hingga ke Sidratul Muntaha. Beraudiensi langsung dengan Dzat Maha Agung. Di situ Nabi SAW. menerima perintah menjalankan shalat fardhu lima kali sehari, bagi semua umat Muslimin beriman.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imron : 190-191)

Para salafus sholihin dan para ilmuwan ulul albab, menjadikan Isra' Miraj sebagai sumber motivasi meningkatkan keimanan (tauhid), keislaman (ibadah ritus, menyembah Allah SWT., sesuai dengan petunjuk Rasul SAW.), ahlakul karimah (kemuliaan akhlak) serta ahsanul muamalah (ibadah sosial, amal saleh, berbuat baik, dan bajik kepada sesama).

Menurut Ibnu Arabi dalam Futuhatul Makkiyah, Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. mutlak keputusan dan izin Allah kepada hamba-Nya yang terpilih, untuk menghadap langsung ke hadirat-Nya. Namun, bukan tanpa ikhtiar hamba-Nya itu sendiri. Sebab Nabi Muhammmad SAW. selalu berusaha menjadi insan kamil, manusia sempurna lahir batin. Tetap giat mendekatkan diri kepada Allah (taqarub Ilallohi), ruku' sujud, berdoa, istighfar, tanpa putus. Tidak hanya karena telah mendapat besluit pengangkatan sebagai Nabi dan Rasululullah. Padahal sudah jelas, Beliau ma'sum (dilindungi dari dosa dan kesalahan). Sudah dijamin sebagai ahli surga. Dalam banyak riwayat disebutkan, Nabi SAW. melakukan shalat sehingga kakinya bengkak-bengkak. Ditanya oleh Siti Aisyah, "Mengapa sampai demikian ? Bukankah engkau seorang Rasul utusan Allah, Nabi kekasih Ilahi ?" Nabi SAW. menjawab bahwa sebagai makhluk, tetap memiliki kewajiban tunduk patuh beribadah kepada Khaliknya, serta memperbanyak amal saleh kepada sesama makhluk lain.

Proses tazkiyatun nafsu, menyucikan jiwa raga terus-menerus, seorang Nabi, tentu membuat dirinya teramat bersih sehingga mikrokosmos (jagad kecil) dapat menembus dan menyatu dengan makrokosmos (jagad besar alam semesta).

Peristiwa mengagumkan ini selalu memberikan inspirasi baru bagi para salafush shalihin dan ulul albab untuk menciptakan penemuan-penemuan baru berdasarkan pada keimanan dan ketaqwaan. Iman dan taqwa (imtaq) menjadi unsur pokok dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dari masa ke masa. Mengilhami pula para kreator di berbagai bidang aktivitas dan kreativitas, seperti seni, sastra, dan budaya. Seorang pujangga termasyhur Italia, abad ke-13, Dante Alighieri, telah menulis puisi epik "Divina Commedia", yang tetap dikagumi hingga kini. Dante menulis puisi itu setelah membaca terjemahan kisah-kisah Isra' Miraj dari bahasa Arab ke bahasa Latin.

Langkah positif seperti itu harus ditunjukkan oleh kita sekarang, dalam mengaplikasikan serta mengaktualisasikan nilai-nilai Isra' Miraj. Sebab, Isra' Miraj bukan hanya rangkaian kisah ajaib untuk dikagumi, melainkan juga kaya dengan ibroh (contoh) yang dapat dijadikan sarana memperbaiki serta meningkatkan kondisi kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, serta bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

Salah satu kisah dalam Isra' adalah tatkala Nabi Muhammad SAW. melihat sekumpulan manusia kerepotan menahan juluran lidahnya yang panjang-panjang. Mereka berusaha memotongnya agar normal. Namun setiap dipotong, setiap kali itu pula memanjang lagi disertai darah berleleran ke mana-mana. Nabi SAW. menanyakan kepada Malaikat Jibril, apakah makna peristiwa itu ? Jibril menjawab, itulah wujud kelakuan manusia kelak di akhirat, karena semasa hidup di dunia, suka membesar-besarkan gibah (membuka aib orang lain), namimah (adu domba), fitnah (mengada-ada), dan sebagainya. Semua perilaku itu dilarang keras oleh Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurot : 11-12)

Dalam merumuskan tindak lanjut Isra' Miraj, mengaktualisasikan dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, setiap Muslim beriman seharusnya membaca dan memahami isi, arti, dan tujuan Surat Israa yang terdiri atas 111 ayat. Tidak hanya ayat 1 sebagaimana sering terdengar pada perayaan Rajaban. Menurut beberapa tafsir Quran yang muktabar, Surat Isra' termasuk kategori Surat Makkiyah (diwahyukan di Mekah, sebelum hijrah ke Madinah). Pokok utama kandungannya adalah keimanan (tauhid). Menegaskan keesaan Allah yang tidak beristri beranak, baik berupa manusia maupun malaikat. Menunjukkan hukum (syariah) yang melarang membunuh, berzina, memakan harta anak yatim, mengada-adakan sesuatu yang tak ada, melalui perkataan atau tindakan. Perintah memenuhi janji, menggenapkan timbangan dan ukuran, melaksanakan shalat fardhu lima waktu dengan tetap.

Di situ juga diuraikan sejarah Bani Israil, bangsa yang mendapat anugerah keunggulan di segala bidang tetapi ditimpa azab kehinaan setelah menyeleweng dari ajaran Allah SWT. Bangsa yang semula penuh syukur nikmat, sehinggaa dinamakan abdan syakuro, hamba-hamba yang selalu bersyukur kepada Allah, sebagaimana firman-Nya,

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (QS. Israa : 3)

Kemudian dicabut nikmatnya tersebut karena mereka kufur hingga mengalami kehancuran.

Maka dalam mewujudkan tindak lanjut Isra' Miraj, yang terpenting adalah melaksanakan shalat fardhu lima waktu secara murni (sesuai dengan petunjuk Rasululllah SAW.), dan konsekuen (khusyuk). Shalat mampu mencegah kerusakan dan kemungkaran.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Ankabut : 45)

Juga mencetak generasi abdan syakuro, agar nikmat anugerah Allah tetap lestari. Serta mencetak ibadalana uliy ba'sin syadid. Generasi yang kuat fisik, mental serta intelektual, agar mampu menghadapi perusak kehidupan di muka bumi. Sekaligus mereformasi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara, agar dihindarkan dari ancaman kehancuran akibat korupsi, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya, baik di lingkungan elite politik dan birokrasi, maupun khalayak luas. Jika dibiarkan akan menjadi pangkal kehancuran sebagaimana dinyatakan dalam,

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Israa : 16)

Hal itu juga disertai dengan perbaikan sistem agar benar-benar adil, baik hukumnya maupun menjalankannya. Perbaikan sistem ekonomi perdagangan agar bersih dari riba, tipu daya, manipulasi, pemalsuan ukuran, mempermaikan timbangan, mark-up, dan lain-lain.

Marilah kita renungkan ayat 9 QS. Israa,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke jalan yang lebih lurus, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka terdapat pahala yang besar.

Barokallohu.***

[Ditulis Oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 7 Juli 2011 / 5 Saban 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]


by

u-must-b-lucky