Kejayaan umat Islam mulai menampakkan gejala kemerosotan pada abad 5-6 Hijriah (11-12). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, kebudayaan, dan militer, yang tersebar dari Bagdad (Dinasti Abassiyah) dan Spanyol (Dinasti Umayyah Andalusia), tidak diimbangi oleh ketahanan moral.

Kebobrokan akhlak tersebar di segala bidang kehidupan. Ketinggian material menyeret manusia kembali ke perilaku jahil. Padahal, perjuangan Nabi Muhammad SAW. menghapus kebodohan mental spiritual, sebagaimana sabdanya,
"Innama buitstu li utami makarimal akhlak (sesungguhnya aku diutus untuk mewujudkan akhlak mulia)."

Para sejarawan klasik, seperti Ibnu Katsir (abad 13), penulis kitab Bidayah wan Nihayah, Ibnu Atsir (abad 13), penulis Tarikh Bagdad menggambarkan situasi muram itu. Islam hanya dijadikan seremoni dan simbol belaka. Banyak tokoh menyandang nama yang dinisbahkan kepada Allah SWT., Muhammad Rasulullah SAW., dan Islam —seperti Alallah, Muhammad, Dien— tetapi tak disertai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, nama-nama tersebut cenderung sekadar untuk menutupi kemaksiatan yang merajalela. Terutama korupsi, kolusi, nepotisme, hura-hura, bermewah-mewah. Sementara rakyat dibiarkan dalam keadaan menderita, kelaparan, dan kehausan.

Solidaritas, kedermawanan, belas kasih benar-benar telah lenyap. Ketika rakyat berjalan kian kemari mencari setitik air, para elite negeri malah menghambur-hamburkan air untuk menyiram taman mereka, membasahi gelas kristal pada pesta mereka.

Menyaksikan hal itu, bangkitlah Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M). Ulama terkenal zuhud (sederhana) dan wara (bersih) ini menulis surat kepada Mujiraddin, Gubernur yang merupakan kepercayaan Sultan Maliksyah, penguasa Khurasan, kawasan otonomi Bagdad. "Jangan terlambat mengumpulkan kebajikan untuk bekal hidup di akhirat kelak," tulis Al Ghazali.

"Kebajikan paling utama saat ini adalah menghapus kemiskinan dan kekejaman yang mencengkeram rakyat Kekuasaan yang Anda genggam sangat memungkinkan bagi Anda membasmi KKN sekaligus menjunjung tinggi martabat rakyat. Sebab, rakyat adalah sumber kekuatan dan kemakmuran negara kita.

Pasti Anda tidak tahu kondisi rakyat sekarang, mengingat pandangan, pendengaran, dan langkah Anda sudah terhalang oleh kroni-kroni yang menggelayuti rezim Anda. Padahal, sudah bukan rahasia lagi, petugas pajak yang culas, memeras massa yang bodoh untuk kepentingan mereka pribadi. Mereka tidak memasukkan hak-hak pemerintah — yang notabene hak rakyat— ke kas negara.

Pikirkanlah rakyat, warga setia Anda yang jiwa raganya remuk akibat tingkah laku aparat Anda. Sementara aparat bersama semut-semut istana, terus bermewah-mewah. Ulah Anda, para menteri, dan elite sekeliling Anda yang hanya mengharapkan tetesan manis gula, tanpa peduli derita rakyat yang tiap saat menghisap pahit empedu, merupakan salah satu ancaman bagi eksistensi negara, yang dapat meruntuhkan kemegahan Khurasan dan Bagdad hanya dalam sekejap.

Terkecuali jika Anda segera sadar dan melakukan perbaikan menyeluruh, karena kewenangan penuh masih berada di tangan Anda. Jangan biarkan perasaan sombong, penjagaan citra, dan ketakutan kehilangan dukungan dari kroni Anda, membiarkan Anda hanyut dalam ilusi dan mimpi kemajuan bangsa dan negara.

Sadarlah, bangsa dan negara kita sudah berada pada titik terendah, karena rakyat sudah lama diimpit kemiskinan dan ketidakadilan. Semoga Allah SWT. menolong Anda, dan membukakan pintu anugerah-Nya bagi Anda dalam mencapai kebahagiaan duniawi dan surgawi, jika Anda mampu mendapat pencerahan jiwa dengan melepaskan diri dari buaian para kroni dan rezim yang hanya ingin memanfaatkan kekuasaan Anda dan bertindak seolah-olah melindungi dan menopang kekuasaan Anda. Padahal, mereka lemah tak punya daya."

Menutup suratnya yang tajam dan keras, Al Ghazali mengutip Al-Qur'an, Surah Al Ankabut ayat 41,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah SWT., ibarat laba-laba yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah paling lemah adalah rumah laba-laba, jika engkau mengetahui.
***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 23 Agustus 2011 / 23 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky

Secara umum semua kegiatan yang kita lakukan mengandung resiko (berada dalam kondisi penuh resiko) yang berpotensi memberikan kerugian moril maupun materil, maka dari itu salah satu fungsi asuransi yang paling utama adalah memberikan rasa nyaman dan aman kepada pelanggan, bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian. Karena dengan menjadi pelanggan asuransi maka kerugian pelanggan dapat diminimalisir terutama kerugian dalam materil (finasial). Dengan rasa aman tersebut pelanggan akan merasa nyaman dalam berkarya, dan dapat menghasilkan hal-hal yang lebih produktif lainnya.


PT. Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) yang didirikan pada 24 Januari 2002, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Asuransi Umum. Perusahaan ini menyediakan produk-produk yang unik, sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dan memiliki nilai tambah.

Adira Insurance hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Kelengkapan jaminan serta fitur layanan, merupakan bentuk nyata usaha Adira Insurance untuk selalu hadir bagi pelanggannya.

Produk-produk unggulan Adira Insurance adalah produk asuransi kendaraan bermotor, sebagai berikut:
  • Asuransi mobil Autocillin.
    Terdiri dari Autocillin Classic dan Asuransi mobil berbasis syariah Autocillin Ikhlas.
    Sesuai dengan nama produk "autocillin"; yang merupakan penggabungan dari dua kata yaitu "auto" dan "cillin", kami berupaya untuk memberikan "obat" sebagai penyembuh bagi kendaraan. Tetapi bukan hanya bagi kendaraan Anda saja, ataupun nilai finansialnya, lebih dari itu, Autocillin memberikan penyembuh bagi kekecewaan hati serta ketidaknyamanan yang Anda alami pada saat musibah terjadi.
  • Asuransi sepeda motor Motopro.
    Produk asuransi sepeda motor ini sangat cocok bagi Anda yang peduli akan keselamatan berkendara dan dapat meringankan kekhawatiran terhadap risiko kehilangan, kerusakan total sepeda motor, dan risiko kecelakaan yang menimpa dirinya.
Dengan produk-produk unggulan tersebut di atas mengukuhkan Adira asuransi kendaraan terbaik Indonesia.

Selain itu, Adira Insurance juga menyediakan produk asuransi Kecelakaan & Kesehatan, Properti, Alat Berat, Kerangka Kapal, Rekayasa, Surety Bonds, Perjalanan, Pengangkutan, dan Tanggung Gugat. Semua itu didukung oleh pelayanan yang istimewa kepada seluruh pelanggan, dengan proses yang mudah, dan tidak berbelit-belit. Selain itu dengan dukungan dari bengkel-bengkel rekanan Autocillin yang tersebar luas, memberikan hasil pengerjaan yang baik, terjamin dan memuaskan.

Sebagai salah satu dari sekian banyak asuransi umum yang ada di Indonesia,
Adira Insurance tampil sebagai perusahaan asuransi terkemuka dan bonavide yang memiliki,
  • Visi untuk Menjadi perusahaan Asuransi Umum yang paling dikagumi di Indonesia.
  • Misi yaitu Secara efisien memberikan rasa nyaman di hati Pelanggan dengan cara-cara yang belum pernah dirasakan Pelanggan sebelumnya.
  • Filosofi pelayanan yaitu Hadir sebagai teman bagi Pelanggan dalam segala situasi, terutama pada saat Pelanggan mengalami masalah dengan kendaraannya (You've Got a Friend).
Dengan komitmen serta dedikasi tinggi untuk mengelola potensi sumber daya yang dimiliki, Adira Insurance sudah membuktikan kiprahnya di dunia Asuransi Umum, dengan dipercaya melayani lebih dari 4,5 juta unit aktif dengan ribuan agen, serta memiliki lebih dari 38 outlet di seluruh Indonesia.

Dan produk unggulan Adira Insurance yaitu Autocillin kembali meraih Service Quality ‘Gold’ Award 2011 persembahan Majalah Service Excellence. Penghargaan yang diraih secara konsisten sejak 2008 ini merupakan suatu bukti atas terjaminnya kualitas servis atau pelayanan Autocillin sebagai produk unggulan Adira asuransi kendaraan terbaik Indonesia.

Selain itu Adira Insurance, juga telah berhasil membuktikan komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggannya. Hal ini ditandai dengan berhasilnya ADIRA CARE 500 456, Call Center Adira Insurance, memperoleh Peringkat Pertama “Call Center Award 2011”, dengan Predikat EXCELLENCE, untuk kategori Asuransi Mobil dari Carre dan Majalah Service Excellence.

Yang cukup membanggakan, Adira Insurance berhasil mewujudkan visi yang dicanangkannya untuk “Menjadi Perusahaan Asuransi Umum yang Paling Dikagumi di Indonesia.” Hal ini dibuktikan dengan peraihan Penghargaan bergengsi “Indonesia’s Most Admired Company (IMAC) 2011” yang diberikan oleh Majalah Business Week dan Frontier Research and Consultant.

Disamping itu Adira Insurance juga menerima Penghargaan sebagai “Most 1st Recommended Brand 2011” pada ajang Word of Mouth Marketing (WOMM) Award yang diselenggarakan oleh Majalah SWA Sembada dan Onbee Marketing Research. Dalam kedua penghargaan tersebut, Adira Insurance digolongkan sebagai penerima penghargaan dalam kategori Asuransi Mobil.

Salah satu bentuk komitmen kepada masyarakat, Adira Insurance juga menggagas Kampanye Keselamatan di Jalan dengan slogan ”I Wanna Get Home Safely! (IWGHS)”. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan keselamatan berkendara, dengan cara mengajak masyarakat Indonesia untuk berjanji kepada diri sendiri maupun kepada orang yang dicintainya, untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas dan berperilaku aman di perjalanan, sehingga dapat tiba di rumah dengan selamat. Caranya adalah dengan menandatangani sebuah Commitment Letter. Per Desember 2010, sudah terkumpul sebanyak 77.112 pendukung kampanye tersebut. Adira Insurance telah mendonasikan Rp 385.560.000 berupa 216 kaki palsu, dua tangan palsu dan satu kursi roda.

Masih banyak lagi torehan prestasi gemilang dan membanggakan dari Adira Insurance dalam kiprahnya melayani pelanggan. Maka tidaklah mengherankan bila Adira Insurance saat ini tumbuh berkembang dengan pesat, semakin mendapat kepercayaan dan tempat di hati pelanggannya sebagai asuransi kendaraan terbaik Indonesia.

Dengan realita sebagaimana tersurat di atas, maka tidak berlebihan jika Adira asuransi kendaraan terbaik Indonesia.

Nah mulai sekarang jangan ragu dalam memilih asuransi buat kendaraan bermotor Anda. Pilih yang terbaik,
Adira asuransi kendaraan terbaik Indonesia.***

Add Logo ADIRA SEO Festive 2011
[Artikel ini disusun untuk mengikuti “Adira Insurance SEO Festive 2011” yang di selenggarakan oleh PT. Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance). Sumber data: http://www.asuransi.adira.co.id/ ]

Disusun oleh

u-must-b-lucky
Imam Zainal Abidin adalah keturunan Rasulullah SAW. Ia selamat dari kebiadaban tentara Yazib bin Muawiyah ketika terjadi pembantaian terhadap Imam Husain dan para sahabatnya di Padang Karbala. Waktu itu, Imam Zainal Abidin sedang sakit yang memaksa dia tetap berada dalam kemahnya.

Sejatinya, sebutan Zainal Abidin adalah gelar yang diberikan masyarakat Muslim kepada Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Sebutan itu diperoleh cucu Fathimah al-Zahra binti Rasulillah SAW. ini karena tokoh yang satu ini selalu larut dalam pengabdian kepada Allah SWT. Ia kerap kali melakukan sujud. Karena itu pula, kulit dahi Imam tampak mengeras dan kehitam-hitaman. Bahkan tak jarang kedua telapak kaki dan tangannya membengkak lantaran berlama-lama dalam shalat.


Selain sebutan di atas, masyarakat pun menggelarinya al-Sajjad (yang amat banyak sujudnya). Putranya, Muhammad al-Baqir menjelaskan perihal sujud ayahnya, "Setiap kali ayahku teringat, atau menyebut nikmat Allah SWT., ia langsung bersujud; Setiap kali membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat kata sujud, ia pun bersujud; Jika telah selesai melaksanakan shalat fardu, ia sujud juga; Juga, apabila berhasil mendamaikan orang yang bertengkar, ia pun bersujud."


Jika Imam Zainal Abidin shalat malam, ia sudah tidak hirau lagi terhadap peritiwa di luar dirinya. Pernah pada suatu malam terjadi kebakaran di rumahnya, waktu ia sedang sujud dalam shalatnya. Orang-orang di luar memanggil-manggil, "Wahai putra Rasulullah ! Wahai putra Rasulullah ! Api! Api sedang membakar rumah Tuan !" Namun, ia seolah-olah tidak mendengar teriakan mereka. Hal itu tidak membuat dia bangkit dari sujudnya. Ia tetap dalam shalatnya sampai api itu dapat dipadamkan. Ketika kemudian ditanyakan, mengapa ia tidak menghiraukan teriakan-teriakan mereka, Imam menjawab, "Api yang lebih besar dari itu (maksudnya api neraka di akhirat) telah menyita seluruh perhatianku."


Akan tetapi, harap dicatat keasyikan dalam ibadah ritual ternyata tidak menghalangi Imam untuk menjalankan aktivitas kemasyarakatan. Untuk mudahnya, kegiatan yang disebut belakangan kita namakan saja kesalihan sosial. Seluruh aktivitas hidup Imam Zainal Abidin dapat diringkas dalam satu kalimat, "Menghambakan diri kepada Allah SWT. dan berkhidmat kepada sesama manusia."


Salah satu sifat Imam Zainal Abidin yang paling menonjol adalah kedermawanannya. Ia memang sangat pemurah. Untuk melukiskan kedermawanannya itu, seorang penyair yang termasyhur pada zamannya, Farazdaq (lihat Bagir, 1983:57 dan 59) mengatakan,
Kilta yadaihi ghiyatsun 'amma nafuhuma. Yustawkafani wa la ya 'ruhuma al-'adam. Sahl al-khaliqah la tukhsya bawadiruh. Yuzayyinuhu itsnani husn al-khulq wa al-karam. Ma qala "la" qathth illa fi tasyahhudih. Law la al-tasayhhud kanat la'uhu na'am.

(Kedua tangannya bagai hujan tercurah merata, bertebaran kebajikannya di mana-mana. Tiada keduanya hampa meski berhamburan kedermawanannya. Sederhana perangainya, tiada dikhawatirkan akibat marahnya. Kedermawanan dan akhlak mulia selalu menghiasi dirinya. Kata "tidak" tak pernah diucapkannya kecuali dalam ikrar syahadat. Seandainya bukan dalam syahadat ia terpaksa, niscaya "tidak"-nya berganti dengan "ya".)


Oleh karena itu, tidak heran kalau dalam satu riwayat dikatakan, bahwa ia kerap memikul karung-karung roti dan tepung di pundaknya pada malam hari, yang kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk miskin Madinah. Lantaran dilakukan dalam kegelapan malam, untuk sementara waktu pihak-pihak yang dibantu tidak mengenal siapa pemberi sedekah itu. Rahasia tersebut baru terbongkar setelah Imam Zainal Abidin wafat. Sejak dia meninggal dunia, kiriman berupa "sedekah malam" itu tidak pernah datang lagi.


Imam Zainal Abidin
memang amat mencintai masyarakat kelas bawah. Misalnya, orang miskin, hamba sahaya, dan kaum mustadh'afin lainnya. Ia sering kali mengunjungi mereka, duduk-duduk bersamanya, serta berbincang dengan ramah dan penuh kasih sayang. Jika datang seorang peminta-minta kepadanya, ia selalu menyambut dengan kata-kata, Marhaban, ya man yahmilu zadi ila al-akhirah. Artinya, "Selamat datang wahai sahabat, yang hendak memikul bekalku menuju kampung akhirat !"


Tidak sedikit hamba sahaya yang kemudian menjalani hidup sebagai orang merdeka lantaran usaha Imam Zainal Abidin. Untuk itu, terutama pada bulan suci Ramadhan, ia mengeluarkan banyak uang. Ia membeli budak-budak itu dari pemiliknya untuk kemudian mereka dimerdekakan tanpa syarat. Selain itu, Imam terkenal karena perilakunya yang lembut terhadap hamba sahaya. Sekelumit kisah di bawah ini merupakan lukisan nyata dari sifat-sifat tersebut.


Suatu ketika seorang hamba sahaya membawakan cerek tempat air wudhu untuknya. Secara tidak sengaja cerek itu tiba-tiba terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa, bahkan melukai kepala Imam Zainal Abidin. Karena takut, hamba sahaya itu segera memohon maaf seraya berkata, "Tuanku, Allah SWT. telah berfirman, Wa al-kazhimin al-ghayzha (Dan orang-orang yang menahan amarahnya)." Imam menjawab, "Baiklah, sudah aku tahan amarahku." Sahaya itu melanjutkan bacaannya, "Wa al-'afin 'an al-nas (Dan orang-orang yang memaafkan orang lain)." "Ya, baik. Kamu telah kumaafkan," jawabnya. Sahaya itu masih terus membaca penutup ayat tersebut, yang bunyinya, "Wallahu yuhibb al-muhsinin (Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan)." Setelah selesai ayat itu dibacakan, Imam kemudian mengatakan, "Baiklah, sekarang kamu bebas pergi ke mana saja. Demi meraih keridhaan Allah, mulai saat ini kamu telah kumerdekakan."


Begitulah cara Imam Zainal Abidin mencintai orang-orang kecil. Ia melakukannya, tidak cukup sekadar pengajaran dalam bentuk ucapan, melainkan juga lewat keteladanan dan amal yang nyata. Mungkin ada gunanya kita mengambil pengajaran ('ibrah) dari kisah tersebut. Terlebih lagi ketika bangsa ini mengalami kelangkaan figur teladan.

Mudah-mudahan.
***

[Ditulis oleh A. HAJAR SANUSI, tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Senin (Pahing) 22 Agustus 2011 / 22 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Ambillah contoh soal perbedaan antara Abduh dan kaum Wahabi perihal mazhab. Abduh menentang keterikatan secara ketat pada satu mazhab karena hal itu dia anggap identik dengan sikap taqlid. Baginya, kaum muslim mesti punya kebebasan memilih pendapat yang secara argumen paling kuat dari mazhab-mazhab yang ada, dan berani melakukan ijtihad sendiri jika diperlukan. Artinya, yang dia tolak dari mazhab adalah tendensinya untuk menumpulkan sikap kritis dan rasional. Coba bandingkan dengan antipati kaum Wahabi terhadap mazhab. Di mata mereka, bermazhab sama dengan berpegang pada pendapat para ulama semata, yang notabene melibatkan peran akal, dan bukan pada teks Al-Quran dan hadits secara langsung. Jadi, Abduh menolak mazhab karena dianggap mengurangi peran akal, sedangkan kaum Wahabi menolaknya semata-mata karena curiga dengan peran akal yang berlebihan di dalamnya.

Kontras yang lain juga bisa kita temukan dalam pandangan kedua kubu tentang tauhid. Bagi kaum Wahabi, tauhid berarti menghamba hanya kepada Allah secara mutlak. Setiap perilaku yang mencerminkan ketundukan terhadap siapa pun atau apa pun selain Allah dianggap sama dengan syirik. Masalahnya, mereka mendefinisikan syirik secara sempit dan kaku, sampai-sampai hormat kepada bendera pun dikategorikan syirik. Tidak aneh kalau kaum Wahabi lantas begitu mudah menyebut sesat pandangan lain di luar pahamnya. Anehnya, yang jadi ukuran adalah diri mereka sendiri, seperti diungkap oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, kakak kandung sang pendiri Wahabisme: "Wa taj'alun mizan kufr al-nas mukhala-fatakum wa mizan al-lslam muwafaqatakum" (kalian jadikan penentangan orang terhadap pendapat kalian sebagai ukuran kekafiran mereka dan persetujuannya terhadap pendapat kalian sebagai ukuran keislaman mereka).

Bandingkan dengan konsepsi Abduh tentang tauhid. Abduh menulis: "Dalam hal iman kepada Allah, Islam bergantung hanya pada pembuktian rasional, bukan pada kejadian supernaturanl atau suara dari langit ? Kaum muslim umumnya sepakat bahwa urutan iman kepada Allah mendahului iman kepada Rasul. Karena itu, tidak tepat kalau dikatakan dasar iman kepada Allah mengacu pada risalah utusan-Nya. Justru sebaliknya, seseorang mesti beriman dulu kepada Allah sebelum beriman kepada kenabian utusan-Nya." (Al Islam wa al-Nashraniyyah).

Pandangan Abduh tersebut bertolak dari keyakinannya bahwa kesempurnaan ajaran Islam bertaut erat dengan karakternya yang rasional. Dengan menarik dia menganalogikan perkembangan agama dengan perkembangan kemanusiaan dari fase kanak-kanak menjadi dewasa. Pada fase kanak-kanak, kata Abduh dalam Risalah, "Tuhan menurunkan agama dalam bentuk perintah dan larangan, seperti orang tua memperlakukan anaknya. Maka muncullah agama Yahudi. Ketika kemanusiaan menginjak remaja, agama baru yang turun memakai pendekatan kasih sayang untuk menyentuh hatinya. Maka turunlah agama Kristen. Dan tatkala kemanusiaan tumbuh dewasa, agama baru yang cocok dengan fase itu adalah agama yang berbicara kepadanya bukan hanya dengan perintah dan larangan, juga bukan hanya dengan kasih, melainkan terutama dengan akal. Dan itulah Islam."

Dengan kata lain, sementara salafisme Wahabi melancarkan takfir (pengkafiran), salafisme Abduh menggalakkan tafkir (pengaktifan pikiran). Adanya pertentangan dua salafisme tersebut lantas membuat kita bertanya: apa hakikat Islam salafi ? Kaum Wahabi mengartikannya sebagai sebagai laku ngeblat generasi salaf, dengan menjadikan mereka sebagai model untuk dicontoh secara harfiah. Apa pun yang berbeda dari pakem. ngeblat mereka langsung dicap bid'ah. Di sini proses sejarah umat dilihat sebagai proses penyimpangan, lantaran menjauhkan Islam dari kemurniannya. Karena itu, Islam mesti dimurnikan kembali setiap saat. Artinya, bagi kaum Wahabi, masa depan umat Islam adalah masa lalu mereka.

Cara ngeblat seperti itu di mata Abduh tentu akan dikategorikan sebagai taqlid, sesuatu yang justru bertentangan dengan tujuan utama kembali ke generasi salaf. Bagi Abduh, meneladani salaf bertujuan untuk menemukan elan progresif Islam yang untuk waktu yang lama terkubur oleh kejumudan para pemeluknya. Islam salafi yang rasional dari Abduh inilah yang menurut saya perlu lebih keras disuarakan sekarang. Itu kalau kaum Muslim memang betul-betul merealisasi semboyan mereka bahwa,
Islam adalah agama yang cocok untuk segala waktu dan tempat (sholihun li kulli zamanin wa makanin).***

[Ditulis oleh AKHMAD SAHAL, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Canada. Tulisan disalin dari Harian Umum "KORAN TEMPO" Edisi 3625]

by

u-must-b-lucky
Karena itulah Abduh percaya bahwa antara wahyu dan akal pada hakikatnya tidak mungkin ada pertentangan. Lantas bagaimana kalau keduanya selintas bertentangan ? "Akal," kata Abduh dalam Risalah, "mesti meyakini bahwa yang dimaksudkan bukanlah arti yang harfiah." Di tempat lain ia berujar, "Dalam kasus di mana terjadi konflik antara akal dan naql (teks Quran dan sunah), maka yang dimenangkan adalah konklusi akal. Dan dalam menyikapi dalil naqli yang seperti ini terdapat dua pilihan: membiarkannya seperti apa adanya sambil mengakui ketidakmampuan kita untuk memahaminya dan memasrahkan perkaranya kepada Allah atau menafsirkan teks tersebut, dengan berpedoman pada kaidah bahasa, sedemikian rupa sehingga maknanya sesuai dengan kesimpulan akal" (Al-Islam wa al-Nashraniyyah).

Pendirian Abduh ini tecermin dalam fatwa-fatwanya ketika ia menjadi mufti agung di Mesir, seperti fatwa antipoligami. Menurut Abduh, poligami sudah membudaya sebelum Islam. Dan aturan Islam tentang poligami lebih bersifat membatasi ketimbang mengumbarnya. Abduh lalu menambahkan, ayat yang membolehkan beristri sampai empat orang mengandung syarat keadilan yang mesti dipenuhi suami. Padahal ayat lain menegaskan bahwa para suami tidak bakal bisa berbuat adil, meski mereka berusaha keras untuk itu. Situasi semacam ini, ditambah dengan observasi Abduh sendiri tentang banyaknya kasus penyalahgunaan poligami pada masanya, lantas mendorongnya untuk berfatwa melarang poligami. Alasannya demi menjaga mashlahah (kepentingan publik).

Penekanan Abduh pada peran sentral akal dalam Islam ini tak ayal membuatnya menuai tuduhan sesat, dianggap sebagai pengikut sekte mu'tazilah dan seterusnya. Tapi sebenarnya salafisme Abduh tersebut terbit dari kemandiriannya dalam berijtihad. Suatu kemandirian sikap yang menurut penilaian Profesor Harun Nasution dalam Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu'tazilah (1987) bahkan lebih rasionalis ketimbang mu'tazilah.

Penggambaran Muhammad Abduh yang menampilkan salafisme sebagai Islam rasional barangkali terasa mengejutkan, mengingat kesan umum tentang salafisme sekarang justru ekstrem kebalikannya. Salafisme kini sering dinisbatkan dengan Wahabisme, model Islam yang dipraktekkan di Arab Saudi. Paham yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pada akhir abad ke-18 ini mewajibkan kaum muslim untuk kembali kepada Quran serta hadits secara harfiah dan tidak memberi tempat kepada akal.

Sebenarnya baru sejak 1970-an saja kaum Wahabi menyebut diri "salafi". Pada awalnya, seperti dipaparkan Hamid Algar dalam Wahhabism: A Critical Essay (2002), kalangan Wahabi menamakan diri sebagai muwahhidun. Sebutan ini mengacu pada konsepsi mereka yang "radikal" tentang tauhid. Tauhid yang benar bagi mereka tidak hanya mengakui Allah sebagai Tuhan yang esa, tapi juga kesediaan untuk menghambakan diri hanya kepada-Nya.

Ketika Arab Saudi, berkat berkah minyak, tiba-tiba menjadi negara petro dolar, terbukalah kesempatan bagi kaum Wahabi untuk mengekspor pahamnya ke seantero jagat muslim. Tapi para pengikut aliran ahlussunnah wal jama'ah di luar Arab Saudi banyak yang menampiknya. Ini mendorong kaum Wahabi untuk mempermak citra mereka, di antaranya dengan melabeli diri sebagai Islam salafi. Mereka mengklaim sebagai pengikut Ibn Taimiyah, yang notabene penganut mazhab Hanbali. Dari sinilah pengidentikan antara salafisme dan Wahabisme bermula.

Secara selintas, terdapat kemiripan antara salafisme Wahabi dan salafisme Abduh. Keduanya sama-sama menjadikan Islam yang diamalkan generasi salaf yang saleh sebagai model teladan, sama-sama merujuk langsung ke Quran dan sunah ketimbang bersandar pada otoritas mazhab dan pendapat ulama, serta menekankan kemurnian tauhid. Tapi kemiripan tersebut hanya berhenti di situ. Itu pun hanya sebatas pada kulit, karena sesungguhnya jurang pembeda di antara keduanya nyaris tak terjembatani.***

[Ditulis oleh AKHMAD SAHAL, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Canada. Tulisan disalin dari Harian Umum "KORAN TEMPO" Edisi 3624]

by

u-must-b-lucky
Salafisme pada awalnya merupakan gerakan memperbarui Islam, tapi dalam perkembangannya kini justru berbalik menjadi gerakan yang melawaskannya. Pada akhir abad ke-19, seorang ulama Mesir, Muhammad Abduh, menegaskan perlunya reformasi Islam dengan cara meneladani generasi muslim awal yang saleh (al-salaf al-shalih). Sebab, ia percaya bahwa Islam salafi pada hakikatnya adalah agama yang rasional. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, salafisme tiba-tiba menjadi identik dengan Wahabisme, aliran puritanisme Islam yang lahir di Najd (Saudi), yang justru membredel peran akal dalam agama. Sementara salafisme pertama menyerukan kembali ke periode perdana Islam yang murni dengan tujuan mem-"bumi"-kannya dalam konteks masa kini agar kaum muslim tidak gagap berhadapan dengan modernitas, salafisme kedua menyatakan kembali ke Islam masa salaf dengan cara me-"mumi"-kannya, seakan-akan masa depan umat adalah masa lalunya.

Agenda salafisme Abduh sejatinya bisa ditelusuri jejak awalnya pada pemikiran gurunya, Jamaluddin al-Afghani, khususnya dalam polemiknya dengan Ernest Renan tentang Islam. Dalam satu ceramahnya di Sorbonne, Paris, pada 1883, filsuf Prancis tersebut mencap Islam sebagai agama yang memusuhi sains dan pikiran modern, dan karena itu menjadi penghalang bagi kemajuan para pemeluknya.

Membantah Renan, Afghani menegaskan bahwa gejala yang disebut Renan sebagai antipati Islam terhadap sains tidak lain hanyalah praktek keislaman yang telah kehilangan otentisitasnya. Inilah yang membawa umat ke dalam keterbelakangan, yang pada akhirnya menyebabkan mereka mudah dimangsa imperialisme Barat. Afghani kemudian melantunkan sikap anti imperialisme dengan bersandar pada Islam otentik, yakni Islam salafi, yang memberi peran sentral pada akal dan menempatkan umat sebagai agensi yang aktif dalam mengubah nasibnya sendiri.

Seruan Afghani rupanya bergema kuat pada diri Muhammad Abduh, yang lalu memperjuangkan agenda pembaruan Islam secara lebih sistematis. Bagi Abduh, pangkal penyebab keterbelakangan umat Islam selama berabad-abad adalah begitu berakarnya situasi jumud (beku) dalam benak kolektif mereka akibat merajalelanya taqlid, percaya begitu saja kepada otoritas agama dalam bentuk apa pun tanpa sikap kritis.

Patut dicatat, taqlid di sini tidak terbatas pada artinya yang sempit, yakni keterikatan secara dogmatis pada salah satu empat mazhab. Taqlid yang dikecam Abduh lebih luas dari itu, yakni sikap membebek saja kepada tradisi, aturan, dan pendapat ulama masa silam atau sekarang tanpa sikap kritis. Begitu kerasnya kecamannya terhadap taqlid, sampai ia menghubungkannya dengan tabiat orang-orang kafir yang ketika diseru untuk mengikuti kitab Allah lantas menjawab, "Kami ikuti apa-apa yang kami dapat pada orang-orang tua kami."

Hantaman Abduh kepada taqlid ini erat kaitannya dengan keyakinannya bahwa Islam dalam bentuknya yang otentik, yakni tatkala doktrin agama ini belum dipergemuk dengan pelbagai ornamen dan pernik yang menempel padanya karena pengaruh perbedaan sekte teologi dan mazhab fiqh, niscaya sejalan dengan akal. Dalam Risalah al-Tauhid, ia menulis bahwa baru dalam Islam-lah "akal dan agama bersaudara buat pertama kalinya dalam kitab suci."

Inilah pengertian kembali ke al-salaf al-shalih menurut Abduh, yakni kembali ke generasi muslim awal sebelum perpecahan umat ke dalam sekte dan aliran yang beragam dan bertentangan. Dan Islam salafi baginya adalah Islam yang rasional. ***

[Ditulis oleh AKHMAD SAHAL, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Canada. Tulisan disalin dari Harian Umum "KORAN TEMPO" Edisi 3623]

by

u-must-b-lucky
Sabda Rasulullah SAW.,
Barang siapa menggali sumur air, maka tidak ada hati yang kering dari kalangan jin, manusia, dan burung yang meminumnya, kecuali karenanya Allah memberi pahala kepadanya pada hari kiamat. (HR. Ibnu Hibban)

Seorang lelaki menderita penyakit kronis. Sudah tujuh tahun lututnya luka mengeluarkan darah. Tak sembuh-sembuh. Berbagai obat sudah dicoba untuk dimakan, ditempelkan. Tetap saja. Puluhan tabib telah didatangi. Belum ada perubahan.

Ia bertanya kepada Ibnu Mubarak, seorang ulama tabi'in (yang pernah bertemu dengan sahabat Nabi SAW.) Maksudnya untuk memohon nasihat "spiritual".

"Pergilah ke suatu tempat di mana orang menderita kekeringan. Sangat membutuhkan air. Galilah sumur di sana. Semoga, atas perkenan Allah SWT., ada mata air memancar dan menahan aliran darah di lututmu," Ibnu Mubarak menyarankan.

Maka pergilah ia ke tempat yang sedang krisis air. Penduduk setempat sangat menderita. Mereka menggunakan sisa-sisa air apa saja yang masih ada. Termasuk genangan air selokan yang kotor berlumpur.

Lelaki penyandang sakit lutut berdarah itu pun segera mencari para tukang gali sumur. Membiayai mereka sepenuhnya, dengan upah lebih mahal. Dalam tempo beberapa hari sumur selesai dan menyemburkan air bersih. Penduduk setempat amat bergembira. Kini tak akan lagi kekeringan, karena telah mendapat sumur berair subur.

Bersamaan dengan itu, atas kehendak Allah SWT., darah di lutut lelaki itu berhenti mengalir. Segera ia pun melakukan sujud syukur. Ia gembira mendapat dua keuntungan sekaligus. Membebaskan penduduk dari krisis air, juga mendapat kesembuhan atas penyakitnya.***

Dari "Al Matjarur Rabih fi Tsawabil Amalish Shalih" Al Hafidz Abul Hasan ad Dimyati.

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 19 Agustus 2011 / 19 Ramadan 1432 H. pada Kolom "KISAH RAMADAN"]

by

u-must-b-lucky
Pada bulan Ramadhan, umat Islam berduyun-duyun memenuhi masjid maupun mushala untuk menghidupkan Ramadhan yang sarat dengan keutamaan. Salah satu keutamaan di bulan Ramadhan adalah malam kemuliaan (Lailatul qadar).

Sabda Rasulullah SAW.,
Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang menjauhinya maka akan dijauhkan oleh kebaikan seluruhnya dan tidak diharamkan baginya kecuali 'mahrum' (orang yang diharamkan kebaikan atasnya). (Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA.)

Aam Amiruddin dalam bukunya Tafsir Al-Qur'an Kontemporer, menyebutkan empat pengertian alqadar.
  • Pertama, menurut Al-Qurtubi, alqadar artinya penetapan. Pada malam itu ditetapkan ajal, rezeki, dan lainnya selama satu tahun
    إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
    فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
    sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (QS. Ad-Dukhan : 3-4)
  • Kedua, Al-Qasimy menyebutkan, alqadar artinya pengaturan. Pada malam itu Allah SWT. mengatur strategi bagi Nabi-Nya untuk mengajak manusia kepada agama yang benar, demi menyelamatkan mereka dari kesesatan.
  • Ketiga, makna lain dari alqadar adalah kemuliaan. Malam tersebut menjadi lebih mulia karena kemuliaan Al-Qur'an.
  • Keempat, alqadar juga berarti sempit. Pada malam itu diturunkannya Al-Qur'an, begitu banyak malaikat yang turun ke bumi sehingga bumi serasa sempit karena penuh sesak oleh rombongan malaikat.
Lailatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan, pada suatu malam yang tak seorang pun mengetahui. Lailatul qadar merupakan rahasia Allah SWT., hanya Dialah yang Maha Mengetahui. Namun, Rasulullah SAW. memberikan isyarat turunnya lailatul qadar itu pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29) di sepuluh hari terakhir pada setiap bulan Ramadhan.

Abu Hurairah RA. meriwayatkan,
Rasulullah SAW. memberitahukan kami tentang lailatul qadar. Beliau berkata, "Ia ada pada bulan Ramadhan, di malam sepuluh terakhir, malam kedua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, puluh tujuh, dan dua puluh sembilan, atau di malam terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melaksanakan qiyam pada malamnya dengan keimanan dan selalu bermuhasabah, Allah SWT. akan mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang."

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW. bersabda,
Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.
Lalu, beliau mendekatkan perkiraan itu dengan sabdanya,
Carilah lailatul qadar pada witir (hari ganjil) pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.
Kemudian beliau lebih mendekatkan gambaran itu,
Barangsiapa yang ingin mencarinya maka hendaklah ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh di bulan Ramadhan.

Samiyah Kariyyam dalam bukunya Ma'a Nabifi Ramadhan, menjelaskan bahwa kata dalam Surat Al-Qadar berjumlah tiga puluh kata, seperti jumlah hari di bulan Ramadhan dan kata 'Hiya' yang menyatakan lailatul qadar dalam firman Allah 'Salamun hiya' berada pada nomor ke dua puluh tujuh dari jumlah kata yang ada pada Surat tersebut. Samiyah Kariyyam menambahkan, jumlah huruf pada kata lailatul qadar dalam bahasa Arab berjumlah sembilan huruf, sedangkan lailatul qadar disebutkan tiga kali dalam surat Al-Qadar. Berarti jika dikalikan (9 x 3) hasilnya adalah dua puluh tujuh.

Yang pasti, ada hikmah di balik tidak dipastikannya kapan turunnya lailatul qadar tersebut.
  • Pertama, agar kita terus giat dan sungguh-sungguh beribadah, tidak hanya beribadah pada hari-hari tertentu dan meninggalkan ibadah di hari-hari lain.
  • Kedua, ketidakpastian tersebut memotivasi kita untuk tetap semangat beribadah (istiqamah) sepanjang malam bahkan sepanjang bulan Ramadhan.
  • Ketiga, dengan diisyaratkannya pada malam-malam ganjil, hal ini akan mendorong kita untuk lebih memaksimalkan pada sepuluh hari terakhir (al-asyrul awakhir).
Untuk itu, Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqh Shiyam, menjelaskan, jika penentuan Ramadhan berbeda-beda antara satu negeri dan negeri yang lain, malam ganjil pada suatu negeri terjadi pada malam genap pada negeri yang lain maka tindakan yang paling ihtiyath (hati-hati) adalah mencari lailatul qadar-nya pada setiap malam al-asyrul awakhir.

Di antara hadits yang menerangkan tanda-tanda tersebut,
  • Pertama, sabda Rasulullah SAW.,
    Lailatul qadar adalah malam yang cerah tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan pucat. (HR. Ibnu Khuzaimah)
  • Kedua, sabda Rasulullah SAW.,
    Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas, dan tidak dingin, bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya. (HR. Ibnu Hibban)
  • Ketiga, Rasulullah SAW. bersabda,
    Sesunguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran. (HR. Ibnu Khuzaimah)
  • Keempat, Rasulullah SAW. bersabda,
    Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar. (HR. Muslim)
Menjemput Lailatul qadar
Aktivitas apa saja yang hendaknya kita kerjakan untuk menjemput malam lailatul qadar tersebut ?
  • Pertama, menghidupkan malamnya dengan imanan dan ihtisaban, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
    Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtisab maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dengan dilandasi rasa keimanan dan mengharapkan ridha-Nya itulah seseorang akan merasakan ketenangan, kelapangan dada, dan kelezatan dalam ibadahnya.
  • Kedua, memperbanyak doa. Rasulullah SAW. mengajarkan doa,
    Allaahumma Innaka 'Afuwwun Tuhibbul Afiua Fa'fu 'Annii. (Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pemaaf, oleh karena itu maafkanlah aku.) (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
  • Ketiga, memperbanyak tadarus Al-Qur'an sebab malam lailatul qadar adalah malam turunnya Al-Qur'an. Allah SWT. berfirman,
    إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
    وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
    لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
    Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam lailatul qadar. Dan tahukah kamu (Muhammad) apa itu lailatulkadar. Lailatul qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. (QS. Al-Qadar : 1-3)
  • Keempat, beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Aisyah RA. meriwayatkan,
    Ketika Rasulullah SAW. memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengemas sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.
Terkait pengaruh yang bisa dirasakan bagi orang yang mendapatkan lailatul qadar, seorang ahli tafsir berpendapat, jika seseorang mendapatkan lailatul qadar, orang tersebut akan merasakan semakin kuatnya dorongan dalam jiwa untuk melakukan kebajikan pada sisa hidupnya, sehingga ia merasakan ketenangan hati, kelapangan dada, dan kedamaian dalam hidup.

Oleh karena itu, bagi setiap yang menginginkan lailatul qadar agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti shalat malam, tadarus Al-Qur'an, dzikir, doa, dan amalan saleh lainnya.

Semoga Allah SWT. memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa meraih lailatul qadar itu. Amin.

Wallahu a'lam.***

[Ditulis oleh IMAM NUR SUHARNO, penulis buku Panduan Lengkap Shalat Tahajud dan pengurus DPD. Persatuan Guru Madrasah (PGM), Kuningan. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 19 Agustus 2011 / 19 Ramadan 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky