Mungkin diantara sahabat akan bertanya apakah itu? Jawabannya adalah Ikhlas, itulah satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan.

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.

Niat adalah pengikat amal. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah, indah dan jauh lebih bermakna.

Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?

Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan syirik yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa : 48)

IKHLAS, RAHASIA PARA KEKASIH ALLAH
Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan,“Ya kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?

Nabi SAW., kekasih Allah yang paling mulia bersabda,
“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril AS. apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, “Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya?Allah SWT. yang Maha luas Pengetahuannya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.(HR. Al-Qazwini)

Dari hadits di atas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas kita tidak lain harus menggali hikmah dari kaum arif, salafus shaalih dan para ulama kekasih Allah.

Antara lain Imam Qusyaery dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyaah menyebutkan bahwa ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah sebagi satu-satunya sesembahan. Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk. Dikatakan juga keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu manusia.

KIAT MENJAGA AMAL AGAR TETAP IKHLAS
Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah
  1. Banyak Berdoa.
    Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering Beliau panjatkan adalah doa:

    اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَ
    “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)
    Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal Beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan,
  2. Menyembunyikan Amal Kebaikan.
    Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain).
    Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata.
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,
    “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim)
  3. Memandang Rendah Amal Kebaikan.
    Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas.
    Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan.
    Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia.
    Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya.” Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.
  4. Takut Akan Tidak Diterimanya Amal.
    Allah berfirman:

    وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ اجِعُونَ
    Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)
    Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir)
  5. Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia.
    Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, Beliau menjawab,
    “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)
    Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun, janganlah jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab kita beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas.
    Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut.
    Ketahuilah sahabat, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita?
  6. Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka.
    Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di Padang Mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka.
    Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam AS. sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka dari itu, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatannya telah bersih dari riya‘ baik yang jelas maupun tersamar. Sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah SWT. Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.

Dengan kata lain, amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah. Sedangkan amalan seorang hamba yang muqarrabin dinamakan amalan billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum dzahir, sedang amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu.

Pantaslah seorang ulama ahli hikmah menasihatkan, “Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah saja.

Tentulah yang memiliki kekuatan dashyat adalah keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.

Wahai Rabbi, mudahkan kami untuk ikhlas kepada-Mu.

Wallahu a'lam bishawab.***

[Dari berbagai sumber]

by

u-must-b-lucky
Setiap keluarga pasti menginginkan keluarganya menjadi maslahat. Maslahat bermakna benar, manfaat, pantas, baik, dan harmonis. Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthi menjelaskan, maslahat adalah manfaat yang dimaksudkan syara bagi para hamba Allah berupa menjaga dan memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta bendanya.

Keluarga maslahat yang ingin diwujudkan adalah keluarga yang terdiri atas suami istri yang baik, anak-anak yang berbudi mulia, sehat jasmani dan rohani, berkecukupan rezeki, serta memiliki lingkungan yang baik. Secara sederhana, keluarga maslahat berupaya membina dan mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. Kita lebih sederhana menyebut samara, sakinah mawadah warahmah. Hal ini tercermin dalam QS. Ar Ruum : 21 yang sangat terkenal sebab selalu ditampilkan di undangan pernikahan, yakni :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.


Untuk membangun keluarga yang maslahat harus dari fondasi Islam. Keluarga ibarat kapal yang sedang berlayar menuju suatu tujuan dengan menempuh bahtera yang penuh gelombang. Suami istri adalah orang yang harus dapat mengendalikan kapal jangan sampai tenggelam dalam badai dan ombak. Sebagaimana kita maklumi, di antara dari tujuan pernikahan itu sendiri adalah kedamaian dan ketenangan dengan penuh cinta kasih suami istri dalam rumah tangga agar mendapatkan keturunan yang saleh dan salehah dalam keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Kedamaian dalam suatu keluarga tidak datang secara tiba-tiba, tetapi harus diusahakan.

Aktor dan aktris di dalam keluarga masing-masing harus dapat memegang peranan dan tanggung jawab menurut posisi dan fitrahnya. Hal itu dimulai dari pernikahan, sesuatu yang sakral dan haras dibangun dengan persiapan matang, mental yang prima, dan tingkat kedewasaan yang optimal. Pernikahan tidak sebatas perjanjian di antara manusia tetapi juga sebuah perjanjian dengan Allah yang sangat kuat (mitsaqan-qhalidan).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meraih keluarga maslahat, yaitu:

Pertama, mu'asyarah bil ma'ruf yakni menggauli pasangan dengan baik. Seorang suami dituntut untuk dapat menghargai istrinya, memahami perasaan, dan mengetahui kebutuhanya secara patut. Kebutuhan itu tidak hanya berupa materi, tetapi dalam bentuk pengertian, penghargaan, cinta dan kasih sayang, serta kebutuhan merasa diperlukan dan diperhatikan. Tegasnya, istri jangan diperlakukan sebagai seorang yang harus selalu tunduk kepada suami, tetapi bukan berarti istri harus melawan suami. Istri harus diajak musyawarah dan berunding dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan bersama di dalam keluarga. Apa saja yang akan dilakukan dan diperbuat selama itu menyangkut masalah rumah tangga, perlu adanya perundingan antara suami dan istri karena istri adalah mitra sejajar bagi suami dalam hal ini.

Kedua, suami sebagai pemegang kendali kepemimpinan dalam keluarga karena secara fitrah kodrat laki-laki itu memang lebih kuat daripada wanita. Tidak mungkin wanita yang akan memimpin dan tidak mungkin pula suatu kehidupan tanpa seorang pemimpin, meskipun dalam skala kecil seperti rumah tangga.

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik. Akan tetapi, laki-laki (para suami) mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada mereka (istrinya). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah : 228)


Ketiga, saling pengertian dan toleransi. Tenggang rasa atau saling pengertian dan tasamuh (toleransi) merupakan hal penting agar tidak mudah terjadi ketegangan dan pertengkaran. Hal ini berarti pula harus saling menjauhi sikap atau pembicaraan yang membuat perasaan pihak lain tersinggung, tidak dihargai, atau merasa dihina seolah-olah diremehkan dan sebagainya.

Orang akan merasa bahagia jika ia merasa dihargai dan diperhatikan. Oleh karena itu, jangan menganggap orang lain remeh atau menganggap tidak ada harganya, seperti dianggap bodoh, hina, sehingga tidak ada toleransi baginya. Jika demikian, kedamaian dan kebahagiaan rumah tangga akan jauh dari harapan.

Apabila dalam kehidupan rumah tangga terjadi perselisihan dan ketegangan, harus. segera diusahakan adanya perdamaian dan penyelesaian. Dalam kondisi demikian, semua pihak harus mampu mengendalikan diri serta berpikir secara arif dan bijaksana. Sebagai suami tidak boleh main hakim sendiri apalagi sampai memukul, menyiksa, atau berbuat semaunya. Demikian pula istri, tidak boleh menang sendiri tanpa memperhatikan kepentingan yang lain. Di sinilah pentingnya saling pengertian dan tasamuh, sehingga ketegangan dan pertengkaran tidak terus berlanjut dan berlarut-larut. Bermusyawarah, saling pengertian, dan tasamuh adalah kunci untuk mencari penyelesaian dengan baik.***

[Ditulis oleh KH. HABIB SYARIEF MUHAMMAD, Ketua Yayasan Assalam, Mantan Ketua PWNU. Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Kliwon) 14 Oktober 2011 / 16 Zulkaidah 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Mungkin diantara sahabat akan bertanya apakah itu? Ikhlas sebuah kata yang ringkas, ringan diucapkan namun berat untuk di praktekan. Meski berat, ikhlas harus selalu hadir dalam segala amalan baik manusia.

Alkisah, ada seorang salaf di zaman dahulu yang selalu pergi menunaikan ibadah haji setiap tahun dengan cara berjalan kaki. Ini merupakan kebiasaanya. Pada suatu malam ketika ia tidur di tempat peraduannya, ibunya meminta tolong agar ia mengambilkan segelas air. Namun ia merasa agak berat untuk bangun mengambilkan air. Kemudian ia kembali teringat pada ibadah haji yang dilakukannya setiap tahun dengan berjalan kaki. Timbul pertanyaan di dalam hatinya, mengapa selama ini ia mengamalkan ibadah berat itu dengan mudah. Sementara, hanya untuk mengambilkan air untuk ibunya ia merasa berat. Kenapa? Ia bermuhasabah, dan kemudian menemukan bahwa yang membuat ia selalu bersemangat adalah pandangan dan pujian manusia. Sadarlah ia bahwa selama ini amalan kebaikannya telah disusupi oleh syirik yang lembut. Belum sepenuhnya ikhlas karena Allah. Demikian sebuah riwayat yang disebutkan dalam Kitab Lathaiful Ma’arif.

Ini menjadi gambaran bahwa keikhlasan begitu berat diraih. Seorang ulama salaf yang lain yaitu Sufyan bin Uyainah pun pernah berkisah, “Pernah suatu hari aku mengalami kekhusuan hati kemudian saya pun menangis. Lantas aku katakan pada diriku sendiri, ‘Seandainya sebagian sahabatku berada disini niscaya ia kan menangis bersamaku.’ kemudian aku tertidur dan bermimpi. dalam mimpi itu saya didatangi oleh seseorang, ia menendang kakiku dan berkata, ’Hai Sufyan ambillah pahalamu dari orang yang kamu suka ia melihatmu!’

MAKNA IKHLAS
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, Ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

CIRI ORANG YANG IKHLAS
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
  1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib RA. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.
    Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
    Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45,

    لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
    إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ
    Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.
    Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.
  2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits,
    “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR. Ibnu Majah)
    Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
  3. Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
    Para dai yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
IKHLAS BERAT TAPI HARUS
Meski berat, ikhlas adalah sesuatu yang harus selalu ada dalam setiap amalan kebajikan yang dilakukan. Artinya, seseorang wajib berjuang untuk meraih keikhlasan tersebut. Pentingnya masalah ikhlas sendiri bukan sesuatu yang ditawa-tawar lagi. Siapapun yang mentadaburi Kitabullah akan menemukan begitu agungnya nilai keikhlasan ini. Bahkan secara ringkas bisa dikatakan bahwa agama tanpa keikhlasan sesuatu yang mustahil, salah satu buktinya adalah surat Az-Zummar ayat 2-3,

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Oleh karena itu, seberapapun besarnya amalan yang dilakukan oleh seseorang, baik shaum/puasa, shalat, zakat, haji, bahkan jihad sekalipun jika tidak disertai dengan keikhlasan maka tak ada manfaatnya sama sekali. Amalan tersebut tidak akan pernah diterima oleh Allah. Karena amalan kebaikan hanya akan diterima oleh Allah bila memenuhi dua persyaratan, yaitu ikhlas dan benar sesuai dengan syariat.

Al-Qur'anul Karim telah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan amalan shalih adalah yang melengkapi tiga perkara. Disaat salah satu diantaranya kosong maka amalan tersebut tidak akan memberikan manfaat bagi pelakunya pada hari kiamat kelak. Salah satu dari ketiga perkara itu adalah: Ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya yang Maha Mulia. Sesuai dengan Firman Allah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembahkan Allah dengan memurnikan ke’taat kepadanya dalam menjalankan agama yang lurus,” ungkap oleh Syeikh Muhammad Amin asy syinqithi rahimahullah.

MANFAATNYA IKHLAS
Di saat ikhlas telah tertanam dalam jiwa ketika mengamalkan suatu kebajikan, dan ketaatan ini murni hanya dalam rangka mencari wajah Allah maka akan diperoleh manfaat yang besar. Allah akan memberikan ganjaran yang ekstra besar kepada orang-orang yang ikhlas meskipun bilangannya sedikit.

Ibnul Mubarak
, seorang ulama salaf, memberikan petuah tentang hal ini. “Betapa banyak amal kecil (sedikit, sederhana) menjadi besar dengan sebab niatnya (keikhlasannya). Dan betapa banyak amal yang besar (banyak) menjadi kecil nilainya dengan sebab niat (karena tidak ikhlas).

TANPA IKHLAS PEDIH AZAB
Sebuah amalan tidak akan berguna disisi Allah tanpa disertai keikhlasan. Bahkan tidak berhenti di sini saja. Orang yang tidak ikhlas dalam beramal terancam mendapatkan azab yang pedih dari Allah.

Rasulullah SAW. pernah bersabda:
”Barang siapa belajar ilmu yang seharusnya yang ia mengharapkan wajah Allah, kemudian ia belajar untuk mendapatkan sesuatu dari dunia, maka ia tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Demikian pula dalam berbagai bentuk amalan yang lain termasuk dakwah, jika tidak diniatkan ikhlas maka akan berakhir dengan kerugian, Rasululah SAW. bersabda:
”Sebagaimana firman Allah: “Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barang siapa beramal mempersekutukan-Ku dengan yang lain, maka aku biarkan dengan sekutunya.(HR. Muslim, Ibnu Majah)

Dari sini, semakin jelas nilai penting keikhlasan. Ia mesti ada dalam setiap aktivitas kehidupan kita. Dalam berilmu, beramal dan berdakwah. Ya, ikhlas adalah salah satu rahasia amal shalih.

Wahai Rabbi, mudahkan kami untuk ikhlas kepada-Mu.

Wallahu a'lam bishawab.
***

(Dilanjutkan ke Bagian II)

[Dari berbagai sumber]


by

u-must-b-lucky
Maraknya kejahatan di lingkungan masyarakat, korupsi yang tak henti, tingkat kriminalitas yang semakin meningkat, pornografi dan pornoaksi yang kian merajalela, dahsyatnya maksiat yang kian menggeliat merupakan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita sudah kehilangan rasa malu atas perilaku-perilaku yang jauh dari nilai-nilai agama dan moral.

Setiap hari, setiap jam dan menit, masyarakat kita disuguhi makanan empuk berupa berita-berita kejahatan, baik yang dilakukan oleh masyarakat kelas atas maupun kelas bawah, baik yang dilakukan orang per orang maupun secara berkelompok. Anak-anak disuguhi aksi-aksi kekerasan, penindasan, penganiayaan, dan adegan-adegan tak senonoh yang merusak moral masa depan. Kawin cerai, perselingkuhan, pemerkosaan, dan sederet fenomena maksiat yang telah mengikis sendi-sendi keimanan dan keislaman diri seorang manusia. Parahnya, semua kemaksiatan itu dilakukan tidak secara sembunyi-sembunyi, melainkan secara terang-terangan dengan penuh kebanggaan dan keberanian. Bukankah sikap seperti ini yang menunjukkan rasa malu yang telah hilang?

Dulu seseorang merasa malu jika ketahuan berpacaran. Merasa terhina saat aibnya diketahui oleh orang lain. Namun sekarang berbalik, seseorang akan merasa bangga jika sudah berbuat dosa dan bangga karena dosanya melebihi rekor dosa orang lain. Padahal, sesungguhnya orang yang kehilangan rasa malunya, laksana kehilangan air kehidupahnya. Karena malu adalah sifat yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan dirinya untuk meninggalkan semua perilaku buruk dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan yang memalukan.

Jauh-jauh hari, Rasul SAW. telah menempatkan malu sebagai salah satu cabang iman. Dalam sabdanya yang terkenal,
"Iman itu ada enam puluh lebih cabang dan malu adalah salah satu cabangnya." (HR. Bukhari)

Karena malu merupakan sebagian dari keimanan kita, kehilangan rasa malu berarti kehilangan sebagian iman kita. Dan tidak sempurna keimanan seseorang jika tidak mampu menjaga rasa malunya. Menjaga rasa malu sama dengan menjaga keimanan kita agar tetap sempurna.

Mengapa rasa malu kian memudar dalam diri seseorang? Rasa malu memudar karena rasa takut terhadap azab Allah kian menipis. Saat rasa takut kepada Allah menipis, yang menjadi tolok ukur baik dan buruk adalah manusia, bukan Allah. Padahal Rasulullah SAW. telah memerintahkan kepada kita agar benar-benar menjaga rasa malu kepada Allah SWT. agar jalan menuju ke surga kian lapang dan mudah. Karena jalan manusia ke surga akan terhambat saat tidak dapat menjaga rasa malunya.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Malulah kalian pada Allah SWT. dengan rasa malu yang sesungguhnya. Jagalah kepala dan yang ada padanya. Jagalah perut dan apa yang dikandungnya. Ingatlah kematian dan ujian. Maka barangsiapa yang melakukan itu, balasannya adalah Surga Ma'wa." (HR. At-Thabrani)

Hadits ini memerintahkan kita untuk menjaga rasa malu dengan menjaga kepala dan anggota yang ada padanya. Malunya mata tergambar pada saat mampu menahan untuk melihat sesuatu yang diharamkan agama. Malunya telinga pada saat dapat menahan dari bisikan-bisikan setan. Malunya mulut pada saat menahan gibah dan fitnah. Pun demikian dengan perkara perut. Banyak orang menghalalkan segala cara dan meninggalkan rasa malunya demi kepentingan perutnya. Maka sungguh benar hadits ini, jika ingin mudah jalan ke surga, kita harus menjaga rasa malu dengan tidak mengizinkan setiap anggota tubuh kita untuk melakukan dosa dan maksiat.

Seorang Muslim yang memiliki rasa malu pasti memfungsikan setiap anggota tubuhnya untuk kebaikan dunia akhirat. Mulutnya adalah kebaikan dzikir, telinganya adalah pahala mendengar kebaikan, matanya tak luput dari melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Perutnya tak pernah terisi makanan haram, dan kakinya selalu setia melangkah ke tempat-tempat yang diberkahi Allah SWT. Maka saat seorang Muslim menjaga rasa malunya, berarti ia telah mengenakan hiasan diri yang indah. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW.
"Malu adalah hiasan diri, takwa adalah kemuliaan, dan sebaik-baik kendaraan adalah sabar, sedangkan menunggu jalan keluar dari Allah SWT. adalah ibadah." (HR. Hakim At-Tirmidzi)


Hadits ini mengisyaratkan, malu adalah hiasan diri. Dalam kehidupan, hiasan diri identik dengan pakaian indah, perhiasan yang menempel di lengan dan anggota tubuh yang lain. Kita akan malu saat pakaian itu terlepas dari badan karena aurat kita terbuka.

Demikian juga dengan rasa malu dalam diri. Kita seharusnya malu saat aurat maksiat tersingkap dari dalam diri kita. Kita seharusnya benar-benar menyesal saat khilaf berlaku maksiat. Kita seharusnya bertobat jika telah berbuat kedzaliman yang menghinakan. Karena menjaga rasa malu, berarti menjaga perhiasan diri kita.

Rasulullah SAW. juga telah mengingatkan kita dalam sabdanya,
"Malu dan keimanan itu senantiasa berbarengan. Apabila salah satunya diangkat, yang lain akan dicabut pula." (HR. Muslim)


Ini menunjukkan, barang siapa yang tidak memiliki rasa malu, dia telah kehilangan imannya. Karena sesungguhnya orang yang beriman pasti memiliki rasa malu. Hilangnya rasa malu membuat seseorang mudah berjanji dan mudah pula mengingkarinya. Hilangnya rasa malu membuat seseorang ringan untuk menggibah, memfitnah, dan menghina sesamanya. Membuat seseorang mudah melakukan kawin cerai, berselingkuh, dan membuka auratnya.

Demikian halnya jika seseorang dapat menjaga rasa malunya. Maka dia akan memperoleh kebaikan berlimpah dan pahala dari Allah SWT. Memiliki rasa malu membuat seseorang akan melakukan kebaikan di saat ia berada di tengah orang banyak ataupun di saat sendirian. Ia akan malu melakukan dosa walaupun tak seorang manusia pun melihatnya karena dia yakin bahwa Allah Maha Mengetahui atas segala apa yang ia lakukan.

Bagaimana menjaga rasa malu pada diri kita? Hendaknya kita menanamkan sikap muraqabah dalam diri. Muraqabah berarti menanamkan kontrol diri, seolah-seolah kita melihat Allah saat kita melakukan kebaikan dan kalaupun tidak mampu begitu, kita seolah-olah merasa Allah mengawasi atas segala perbuatan yang kita lakukan. Dengan sikap muraqabah ini, kita akan lebih berhati-hati saat berkata, bersikap, dan berbuat karena kita selalu merasa ada dalam pengawasan Allah SWT. Dengan muraqabah ini, seseorang akan merasa semakin dekat dengan Allah karena menjadikan Allah sebagai satu-satunya penjaga dan pelindung.

Selanjutnya menjaga rasa malu dengan menanamkan kesadaran bahwa sekecil apa pun amal yang kita lakukan, baik atau buruk pasti akan mendapat balasan dari Allah SWT. Pahala kebaikan adalah surga dan balasan kejahatan dalah neraka. Menjaga rasa malu pahalanya surga dan bagi orang yang tidak memiliki rasa malu neraka adalah balasannya.

Rasa malu akan terlatih saat kita bergaul dengan orang-orang yang mampu menjaga rasa malunya. Ingat, lingkungan kita menunjukkan siapa diri kita karena lingkungan akan membentuk siapa diri kita sebenarnya. Dengan demikian, untuk meningkatkan derajat sebagai manusia saleh, mari kita menjaga keimanan kita dengan cara menjaga rasa malu. Malu dan keimanan itu senantiasa berbarengan. Jika rasa malu hilang, keimanan pun melayang.

Wallahu a 'lam bisshawab.***

[Ditulis oleh USEP SAEFUROHMAN, Koordinator Umum Kajian Ilmu Muslim Muda (KIMM) Kabupaten Bandung dan pegiat Majelis Taklim Pemuda Yayasan Pesantren Islam Wilayah Pacet. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pon) 7 Oktober 2011 / 9 Zulkaidah 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Haji merupakan ibadah eksklusif. Hal ini bermakna, di antara ibadah-ibadah ritual yang disyariatkan ajaran Islam, ibadah haji menempati posisi istimewa. Ibadah ini hanya diwajibkan sekali seumur hidup dan dikhususkan bagi kalangan mampu.

Selain itu, tidak setiap waktu kita bisa melaksanakan ibadah haji. Tidak ada istilah melaksanakan haji di bulan Rajab, Safar, bahkan Ramadhan. Dalam setahun, rangkaian ibadah haji hanya dilaksanakan selama lima hari yakni dari tanggal 8 sampai 12 atau 13 Zulhijah.

Nilai eksklusif lain dari haji berkaitan dengan tempat-tempatnya karena sudah ditentukan, seperti miqat untuk niat berhaji/umrah, Masjidilharam, Mina, Arafah, dan Muzdalifah. Umat Islam tidak bisa melaksanakan ibadah haji di luar tempat-tempat itu, misalnya beberapa tahun lalu di Bandung, sempat geger dengan ajaran Buya Mayo yang cukup berhaji di Gunung Gedugan, Cililin, Kab. Bandung Barat.

Keistimewaan lain dari haji, berkaitan dengan pakaian "seragam" yang disebut ihram yakni dua helai kain tanpa jahitan untuk kaum laki-laki. Aturan lainnya, jemaah haji laki-laki tidak boleh memakai penutup kepala, tidak mengenakan alas kaki yang menutup dua mata kaki. Sementara jemaah haji perempuan harus menutup seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangannya.

Ihram melambangkan hakikat kesetaraan manusia yang tidak membeda-bedakan pangkat, jabatan, harta, maupun status duniawi lainnya. Pakaian itu juga seolah-olah membisikkan suara Tuhan, "Mulailah dengan niat sungguh-sungguh untuk melengkapi kewajiban demi kewajiban."

Kain ihram telah mengubah seketika pemandangan dan suasana Mekah. Pemandangan raga dan suasana jiwa yang dapat menggiring pada satu kesadaran dan kefanaan. Putih dan bersih mengisyaratkan hamparan tanpa noda. Kesadaran yang seharusnya menjadi pakaian sehari-hari. Pakaian yang tidak memunculkan perbedaan-perbedaan, melainkan persaudaraan raksasa sebagai satu umat (ummatan wahidah). Inilah hakikat manusia yang sesungguhnya. Hakikat keberadaan yang seolah-olah baru ditemukan secara tiba-tiba, ketika semua menunjukkan kesamaan dan kebersamaan tanpa mengenal adanya warna kulit, ras, bangsa, maupun keturunan.
"Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanni'mata laka walmulk. laa syarika laka."

Kalimat talbiyah terus bergemuruh menemani jemaah haji dalam perjalanan sucinya. "Kami datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Kami datang memenuhi panggilan-Mu...."

Ibadah haji yang sebelumnya lebih menyiratkan kesan ritual dalam rangkaian doa-doa ternyata menawarkan pengalaman batin yang dapat mengantarkan seseorang kepada satu kesadaran luhur sebagai hamba. Pengalaman batin ini diperoleh begitu manusiawi. Padahal doa-doa menyiratkan transendensi yang sulit dipahami kepala telanjang.

Ketika lautan manusia mulai menyemut mengelilingi Kabah, Safa dan Marwah, Arafah, Mina, dan Muzdalifah untuk memenuhi lahan sempit, berdesak-desakkan menjadi keasyikan tersendiri. Semuanya bergerak mengikuti jejak-jejak Rasulullah. Allah senantiasa menolong dan memberikan jalan keluar bagi mereka yang berniat kuat melaksanakan dengan contoh Rasulullah. Selain itu, haji merupakan perjalanan napak tilas perjuangan para nabi, mulai dari Nabi Adam AS., Nabi Ibrahim AS., Nabi Ismail AS., dan ibunya Siti Hawa, sampai nabi terakhir Muhammad SAW. Semua rangkaian napak tilas dilalui jemaah haji sehingga tidak semata-mata wisata spiritual. Jemaah haji belajar dari dahsyatnya perjuangan para nabi ketika menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Haji mengajarkan agar setiap tujuan hendaknya dicapai dengan ikhtiar sekuat tenaga, tetapi tetap dalam semangat tauhidullah. Manusia harus tetap berada dalam orbit yang ditetapkan Allah yakni perintah maupun larangan-Nya. Tawaf dan sai bahkan melempar jumrah mengajarkan itu semua.

Mata air zamzam yang tidak akan mengering sampai kapan pun telah diberikan Allah kepada Siti Hajar dan Ismail setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan. Sabar tidak ada batasnya karena Allah telah menekankan dalam QS. Ali Imran ayat terakhir yang menyuruh untuk bersabar dan tetap kuat dalam kesabaran. Di mana pun kita berada, hikmah haji harus tetap melekat dan dilaksanakan. Bahkan, ketika jemaah haji maupun umrah akan meninggalkan Baitullah diwajibkan melakukan tawaf wada atau tawaf perpisahan. Hal ini melambangkan nilai-nilai tawaf harus dibawa ke mana pun meskipun telah jauh dari Masjidilharam. Ketika selesai melaksanakan tawaf wada, jemaah haji pun berbisik lirih,

"Ya Allah bawa aku kembali mengunjungi rumah-Mu ini."

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, serta pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis Pahing) 6 Oktober 2011 / 8 Zulkaidah 1432 H. pada Kolom "Cikaracak"]

by

u-must-b-lucky
Ada anggapan yang kerap penulis dengar. Mengapa kita bisa toleran dengan non-Muslim, tetapi dengan sesama kaum Muslimin malah tidak bisa toleran? Salah satu wahana tepat dan efektif agar kita bersikap toleran terhadap perbedaan adalah dengan berhaji atau berumrah.

Tidak percaya? Bacalah hasil penelitian bertajuk "Estimating the Impact of the Haj: Religion and Tolerance in Islam's Global Gathering" yang dilakukan Asim Ijaz Khwaja, guru besar pada Kennedy School of Government, Harvard University, bersama Michael R. Kremer dan David Clingingsmith dari Case Western Reserve University.
Penelitian yang dilakukan selama delapan bulan pada 2006 itu menunjukkan, perjalanan haji juga bernilai positif dalam mengembangkan toleransi, menenggang agama dan budaya yang berbeda. Malah ibadah haji tidak hanya bermanfaat dari sisi rohani tetapi juga sosial.

Dalam hipotesis awal penelitian, haji dianggap hanya mengokohkan persatuan dan toleransi di antara umat Islam yang datang dengan berbagai latar belakang budaya, negara, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan hal yang berbeda. Haji mengokohkan persatuan umat sekaligus mengikis antipati terhadap non-Muslim.

Studi yang melibatkan 1,600 responden itu juga menunjukkan, haji menjadi salah satu penyokong eksistensi umat Islam di dunia. Ibadah haji juga dinilai mampu meluluhkan sekat-sekat di antara umat Islam.

Hasil penelitian itu sesuai dengan hikmah haji yang ingin ditanamkan Allah dan para Rasul-Nya kepada umat manusia. Dalam Al-Qur'an ditegaskan kaum Muslimin akan mendatangi rumah tua (Kabah) dari seluruh penjuru dunia bahkan dengan kendaraan tua sekali pun. Haji dan umrah merupakan wahana agar manusia melihat kebesaran Allah.

Salah satunya ketika banyaknya perbedaan dalam haji ataupun umrah termasuk dalam tata cara ibadah. Ketika sedang melaksanakan tawaf tidak sedikit perbedaan seperti dalam bacaan tawaf bahkan ada jemaah haji yang cukup mengitari Kabah tujuh kali dengan doa hanya satu, yakni doa sapu jagat. Tawaf seperti itu adalah sah!

Demikian pula ketika melaksanakan shalat pasti ada perbedaan paham. Namun, tidak ada pertengkaran apalagi perkelahian akibat perbedaan dalam memahami sebuah ibadah. Semuanya adem ayem yang berbeda dengan di tanah air karena sering persoalan kecil menjadi rumit dan runyam akibat kurangnya toleransi.

Pada dasarnya ibadah haji dan umrah mencermmkan perjalanan dan gerakan terarah. Dari tawaf, sai, sampai melempar jumrah, hati dan nalar menemukan peran spiritualitas paling nyata. Ketika tawaf mengelilingi Kabah membuat hati kita bergetar. Kabah melambangkan ketetapan dan keabadian Allah. Manusia yang mengelilinginya melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang harus tetap dalam orbit Allah.

Ulama terkenal, Dr. Ali Syariati menyebut ibadah haji sebagai langkah menuju "pembebasan diri", yakni, bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati, Allah SWT.

Pakaian model ibadah ihram bukanlah penghinaan, tetapi menuntun manusia mengubur pandangan yang mengukur keunggulan karena kelas, jabatan, kedudukan, ras, ataupun warna kulit. Tawaf memberi pesan tersirat, apa pun yang dilakukan manusia dalam hidupnya hendaknya selalu menjadikan Allah sebagai porosnya. Dalam segala perbuatan hendaknya Allah menjadi tujuan utama, bukan yang lain.

Intinya, ibadah haji dan umrah bukanlah sekadar prosesi lahiriah, tetapi momentum revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia. Sesudah berhaji, seseorang haruslah menjadi manusia yang lebih lurus hidupnya dibandingkan dengan sebelumnya yang disebut haji mabrur.

Misi Islam adalah rahmatan lil alamin (kerahmatan global) dengan haji/umrah merupakan perjalanan spiritual puncak bagi seorang Muslim. Misi rahmatan lil alamin ini tergambar dengan jelas dalam haji ataupun umrah karena ketika sedang berihram tidak boleh merusak tumbuhan, menyakiti binatang, apalagi sesama manusia. Ihram membuat jemaah haji ataupun umrah tidak diperkenankan berkata dusta, kotor, menumpangkan rasa benci, bertengkar, ataupun perilaku lain yang menodai kesuciannya.

Ketika seorang jemaah haji/umrah sudah tahallul (menghalalkan yang sebelumnya diharamkan) bukan berarti semuanya serba boleh dan serba bebas. Ihram harus menjiwai setiap perilaku dan ucapan kaum Muslimin yang telah berhaji/umrah.

Ketika seseorang pulang berhaji/umrah, semakin memiliki pandangan yang positif dalam kehidupan ini. Mabrur tidak sebatas di Tanah Suci malah sebagian besar di tanah air ketika seorang jemaah haji/umrah sudah pulang ke kampung halamannya. ***

[Ditulis oleh H. RUSTAM SUMARNA, Direktur Biro Perjalanan Haji Plus dan Umrah Khalifah Tour, Jln. Cisangkuy Kota Bandung dan Wakil Ketua Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh). Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Kliwon) 4 Oktober 2011 / 5 Zulkaidah 1432 H. pada Kolom "UMRAH & HAJI"]

by

u-must-b-lucky
Selamat Pagi, sahabat......

Menjelang akhir pekan pada awal bulan ini, mudah-mudahan sahabatku semua dalam keadaan yang baik. Setelah lama tidak beredar dalam bentuk tulisan, maka pada kesempatan ini saya kembali hadir...(Hehehe..) Setelah pada hari ini saya juga habis jalan-jalan di dunia maya ini alias blogwalking..

Hari ini saya habis berkunjung ketempatnya Mas Munadi dan secara sengaja saya tertarik pada dua buah tulisan pada blog tersebut yang berbicara soal memasang jadual shalat pada Blog dan Sidebar blog.

Mungkin diantara sahabat ada yang berminat untuk menghias blognya dengan jadual shalat, dengan maksud tentunya agar sahabat tidak melupakan kewajiban kita sebagai Muslim akan shalat 5 waktu.

Jadual Shalat yang pertama ini berasal dari Republika Online. Cara pasangnya tidak susah tinggal copy embed code-nya yang ada pada bagian bawah jadual tersebut kemudian di-paste di blog kamu.

Sebagai catatan sahabat... bahwa jadual shalat ini hanya untuk 56 kota yang ada di Indonesia saja (maaf, buat sahabat yang kota-nya tidak terdapat dalam daftar atau yang bermukim di luar Indonesia).

Nih kodenya :



 
Hasilnya adalah seperti di bawah ini:


Kemudian jadual shalat yang kedua masih bersumber dari Republika Online dengan tinggi widget yang berbeda dengan yang pertama, yaitu lebih pendek. Cara pasangnya juga sama tinggal copy embed code-nya kemudian di-paste di blog kamu. Kamu bisa menaruhnya di sidebar atau dalam postingan blog.
Nih kodenya :



 
Hasilnya adalah seperti di bawah ini:





Untuk memasangnya di sidebar, silakan masuk ke akun Blogger >> Rancangan >>Elemen Laman >> Tambah Gadget >> HTML/JavasScript. Lalu masukkan kodenya di Konten dan Simpan.

Gampangkan, selamat mencoba..!

Saya sudahi artikel ini sampai disini, karena saya mau langsung pergi ke GOR sama teman sekantor untuk sedikit membuang keringat dengan berolahraga (bulutangkis).

Terima kasih saya sampaikan pada Mas Munadi dimana artikelnya, saya jadikan bahan inspirasi penulisan artikel ini.
 
Maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisan artikel ini, namanya juga pemula / rookie yang mencoba senam otak dan joging jari dengan ilmu alakadarnya. 


[Sumber inspirasi : http://klikmunadi.blogspot.com/] 


Catatan Ngak Wajib Dibaca:
Saat ini mungkin anda sedang mencari TautanBalik alias Backlink yang berkualitas dan gratis untuk blognya. Kebetulan ada nih yang mau kasih TautanBalik alias Backlink yang berkualitas dan gratis. Bagamana caranya? Cara mudah banget, cukup dengan mendaftar di sini lalu klik Sign Up Now Free.

Menurut penciptanya, ini adalah sebuah cara yang bagus untuk saling tukar link. Bagaimana tidak karena dengan 1 (satu) buah link yang kita pasang akan dibantu dipromosikan oleh 1 juta orang lebih hanya dengan mengajak 2 (dua) orang teman saja...!!  Sistemnya mirip MLM sedalam 20 Level, cukup mudah mengajak orang untuk daftar, karena semua butuh promosi, setiap orang ingin linknya tersebar dengan cepat.  Apalagi kalau lebih dari 2 orang teman yang kita ajak bergabung. Ditambah lagi pada sistem ini anda tidak perlu keluar fulus alias gratis.

Dan dijamin di sini tautan / link kita bisa nempel terus, link yg dimasukan bisa judul postingan dan URL nya agar tiap page punya pagerank juga. Biasanya PR kita hanya di halaman depan saja, sementara di halaman posting gak punya PR. Kalo saya lebih menyarankan agar URL yang dimasukkan adalah link postingan anda. Dan berdoa saja semoga ada orang lain yang membaca postingan tersebut dan akhirnya membuat postingan serupa dan mengarahkan langsung ke URL postingan anda.

Gimana anda berminat ? Buruan daftar di sini dan jangan lupa ajak 2 (dua) orang teman buat daftarnya yah...

by

u-must-b-lucky
Pada suatu hari, ada seorang kakek yang ditanya oleh seorang anak muda. "Wahai kakek, berapa usia kakek? Berapa anak kakek dan berapa harta kakek?" tanya anak muda itu.
Kakek itu menjawab, "Usiaku 15 tahun, anakku seorang, dan hartaku hanya Rp 15 juta." Spontan anak muda itu menyanggah, "Tidak, kakek itu bohong. Sepengetahuan saya, usia kakek sudah 70 tahun, anak kakek lebih dari seorang, dan harta kakek melimpah ruah. Mengapa kakek mengatakan seperti itu?" Lantas si kakek menjawab, "Benar, Nak apa yang kamu katakan. Tetapi, dari usia saya yang sudah 70 tahun, baru 15 tahun yang benar-benar dimanfaatkan untuk melaksanakan ibadah, sedangkan 55 tahun berlalu sia-sia."
Kakek itu melanjutkan, "Betul, anakku ada lima orang, tetapi hanya seorang yang benar-benar menjadi buah hati, taat beribadah, selalu mendoakan kepadaku, sedangkan yang lainnya tidak pernah melaksanakan ibadah. Demikian pula hartaku memang melimpah ruah, tetapi dari sekian hartaku yang banyak itu baru Rp 15 juta saya gunakan untuk sedekah." 

Rasulullah SAW. menyampaikan pesan kepada kita sekalian agar dapat memanfaatkan sisa umur kita untuk beribadah kepada-Nya.
"Segerakan melaksanakan shalat sebelum datang kematian dan segerakan tobat sebelum terlena/terlambat (ajal tiba)."

Manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, juga manusia tidak mengetahui kapan ajalnya akan tiba dan di tempat mana ajalnya datang. Karena kita harus selalu menyiapkan bekal amal saleh untuk kembali ke hadirat-Nya selagi hayat di kandung badan.

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman :34)

Selain keturunan yang menjadi peringatan bagi kita, kaum Muslimin juga perlu melakukan perenungan terhadap hartanya. Anak dan harta merupakan titipan Allah sebagai karunia dan nikmat yang sangat besar. Sejauh mana kita dapat memanfaatkan nikmat harta yang diberikan Allah untuk mencapai ridha-Nya.

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya. Mereka menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. (QS. Ali Imran : 180)

Kebanyakan manusia selalu bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan yang lainnya sehingga telah melalaikan mereka dari ketaatan. Seringkali kecintaan terhadap harta dan anak melalaikan kita beribadah kepada Allah. Berapa banyak orang membanting tulang mencari harta, seolah malam dijadikan siang dan siang dijadikan malam sampai dia lupa beribadah kepada Allah. Inilah golongan orang-orang yang merugi.   

Padahal, anak dan harta untuk menjadi jalan tidak berguna dan tidak bermanfaat jika tidak dibawa sebagai wasilah (jalan perantaraan) untuk beribadah kepada Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganiah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dan mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al Munafiqun : 9)

Dalam ayat lain dinyatakan,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. Asy Syu'araa : 88-89)

Muhasabah di atas harus berangkat dari kesadaran hati yang paling dalam. Selain dari upaya dan usaha secara lahir, munajat dan doa kita pun turut membantu melahirkan kesadaran introspeksi diri. Tak sedikit anak maupun keturunan kita yang menjadi "fitnah" (ujian) sehingga orang tua harus menderita hanya karena perilaku anak-anaknya. 

Orang tua telah banting tulang mencari nafkah, tetapi anaknya malah menghambur-hamburkan harta itu di jalan yang tidak diridhai Allah.

Bahkan, Al-Qur'an juga menyebut tak jarang anak bisa menjadi musuh bagi orang tuanya sendiri (aduwwun). Kita tentu ingat dengan kisah Nabi Nuh AS. dengan anaknya, Kan'an. Ketika Kan'an malah menolak ajakan menuju jalan kepada Allah bahkan memilih jalan yang sesat.

Dalam dongeng di Indonesia, dikenal adanya tokoh yang menjadi musuh bagi orang tuanya, seperti Malin Kundang. Ketenaran dan harta benda yang melimpah telah membutakan Malin Kundang sehingga tak mengakui ibu yang telah melahirkannya karena ibunya dinilai "kampungan".

Semoga kita bisa menjadikan harta sebagai amanah Allah untuk menjadi jalan berjuang (jihad) di jalan-Nya yakni mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah demi kepentingan kemajuan umat. Al-Qur'an selalu mencantumkan jihad dengan harta (am-waal) mendahului jihad dengan potensi diri (anfus) atau wa-jaahiduu biamwaalikum wa-anfusikum.

Kita juga berdoa agar anak-anak kita menjadi peringatan agar bisa mendidik anak sehingga menjelma menjadi anak yang qur-rata-a'yun (menenangkan dan menenteramkan jiwa orang tuanya).

Amin. ***

[Ditulis oleh KH. HABIB SYARIEF MUHAMMAD, Ketua Yayasan Assalam dan mantan Ketua PWNU Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 30 September 2011 / 2 Zulkaidah 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky