Seorang sahabat yang tinggalnya dari wilayah jauh, suatu hari datang menghadap Rasulullah SAW. "Wahai Rasulullah, saya datang dari dusun yang jauh menghadap untuk berikrar kepadamu bahwa saya siap hijrah melaksanakan perintahmu dan berjuang menegakkan titahmu. Saya juga siap mati melaksanakan perintah agama," kata pemuda tersebut.

Rasulullah SAW. bertanya, "Baik. Apakah kau masih mempunyai ayah ibu atau salah seorang di antara keduanya masih hidup?"

"Wahai Rasulullah, malah keduanya masih hidup. Oleh karena itulah, saya siap melaksanakan tugas berat sebab ayah dan ibu masih hidup."

"Baiklah. Jika ayah dan ibumu masih ada, kembalilah ke rumah, berbuat baiklah kepada ayah ibumu. Setelah kamu secara maksimal berbuat baik pada ayah ibumu, kami akan segera memanggilmu agar segera berangkat ke medan perjuangan," ujar Rasulullah SAW.

Kita renungkan dialog antara Rasulullah SAW. dan pemuda itu. Jihad dengan berbakti kepada kedua orangtua ternyata lebih disarankan Rasulullah SAW. daripada berjihad di medan perang. Sekarang ini kita dihadapkan pada kenyataan munculnya krisis kewibawaan orangtua. Krisis hubungan antara ayah dan ibu dengan anaknya maupun sebaliknya, pada era modern ini memaksa hubungan yang tak harmonis yang berakhir kepada konflik keluarga.

Bukan hanya terjadi kekerasan antara suami kepada istrinya, istri kepada suami, bahkan anak juga kerap melakukan kekerasan kepada orang tuanya. Hal semacam itu sudah menjadi hal biasa dalam keseharian. Malah media massa sering memberitakan kekerasan di dalam rumah tangga antara suami, istri, dan anak-anaknya.

Sering kita menyatakan dusta sebagai dosa, tetapi kita kerap lupa bahwa membentak orangtua juga dosa yang lebih besar daripada dusta. Kita sebagai anak sering merasa sudah memiliki keimanan yang tinggi karena sudah melaksanakan shalat dan shaum (berpuasa), tetapi melupakan kewajiban lain yakni menghormati dengan sungguh-sungguh kepada orang tua. Padahal, menghormati dan patuh kepada orangtua merupakan ciri utama seorang Muslim.

Meski data lama dan terjadi di Jepang, patut kita renungkan. Pada tahun 1978 sebuah lembaga penelitian di Jepang mencatat adanya 6.763 kasus kekerasan yang dilakukan anak-anak. Mereka terlibat dalam berbagai tindak kejahatan dan sangat menyedihkan 4.288 kasus (80 persen) dari 6.763 kasus itu dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun! Lalu dua tahun kemudian dilakukan penelitian lagi yang ternyata hasilnya kenakalan anak-anak meningkat hampir dua kali lipat. Lebih aneh lagi, dari 9.058 kasus kenakalan anak-anak, 7.108 kasus dilakukan anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Fenomena berbeda terjadi di Jerman Barat (saat belum menjadi Jerman bersatu dengan Jerman Timur). Mereka mencatat 2,5 persen dari jumlah seluruh anak di Jerman melakukan tindak kekerasan. Sementara itu, Amerika Serikat mencatat angka 5,9 persen dari jumlah anak-anak melakukan tindakan kekerasan. Bagaimana dengan Indonesia? Sampai sekarang belum ada data resmi mengenai kasus-kasus kekerasan dan kejahatan yang dilakukan anak-anak.

Dalam sebuah pidato, Rasulullah SAW. pernah bertanya kepada para sahabat dengan pertanyaan yang membangkitkan perhatian luar biasa, "Wahai para sahabat, amal apa saja yang paling dicintai Allah (ayyul'amal ahabbu ilallah)?"

Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."

"Amal yang paling dicintai Allah adalah pantas kamu lakukan adalah shalat di awal waktu, kedua berbuat baik kepada ayah dan ibu serta ketiga berjuang menegakkan amalan di jalan Allah," ujar Rasulullah SAW.

Hadits itu sangat tegas menyatakan berbuat baik kepada orang tua termasuk di antara tiga amal besar yang paling dicintai Allah. Pantas Al-Qur'an menyatakan berbuat baik kepada orangtua merupakan rangkaian dari tiga amal besar yang menjamin keselamatan manusia. 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An Nisa: 36)

Allah juga menyatakan, "Allah telah menetapkan sesuatu hukuman yang pasti/suatu ketetapan yang pasti yaitu janganlah menyembah kecuali Allah. Setelah itu hendaklah berbuat baik kepada orangtua.

Ungkapan-ungkapan hampir senada juga dapat kita temukan dalam Al-Qur'an dan sunnah nabi. Intinya menegaskan berbuat baik kepada ayah dan ibu merupakan bagian terpenting dari tiga amal utama.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW. bertanya kepada para sahabatnya. "Wahai kaum Muslimin, inginkah aku tunjukkan dosa paling besar di antara dosa-dosa besar?" Para sahabat menjawab, "Baiklah wahai Rasulullah, tentu kami ingin mendapatkan penjelasan darimu tentang dosa paling besar di antara kelompok dosa-dosa besar."

"Pertama, menyekutukan Allah dan ini dosa paling besar. Kemudian menyakiti ayah atau ibu," jawab Rasulullah SAW.

Semoga anak-anak kita dijauhkan dari perbuatan tak menghormati kedua orangtuanya sebagai dosa besar yang berdampak langsung di dunia maupun akhirat. Sebagai orangtua, kita juga berkewajiban mendidik dan membiasakan anak-anak agar selalu taat kepada Allah, rasul, dan orang tuanya. ***

[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Umum MUI. Kota Bandung, Ketua Yayasan Unisba dan Ad Dakwah, serta pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pahing) 15 Desember 2011 / 19 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Suatu hari, saya kedatangan seorang kawan lama yang kini menjadi pengusaha terkenal. Ia meminta referensi pada saya tentang lembaga pendidikan Islam di Jawa Barat yang bagus, untuk anaknya. Ia ingin anaknya memiliki basis akidah yang kuat, untuk menghadapi persaingan global yang kian ketat. Ia khawatir, jika akidah anaknya lemah, nanti anaknya akan habis terlibas dan menjadi seperti buih di atas samudra.

"Allah mengamanatkan pada kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik fisik, mental, maupun spiritualnya," katanya sambil mengutip Al-Qur'an Surat An-Nisaa ayat 9 yang diucapkannya dengan sangat fasih.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Tanpa harus berpikir lama, saya langsung menyebut beberapa nama pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang cukup ternama. Selain dari sisi keilmuannya, juga dari sisi manajemennya, dari yang relatif murah hingga yang cukup mahal. Belum selesai saya menyebutkan nama-nama pesantren, ia langsung memotong, "Saya sudah tahu semuanya, tetapi saya ingin lembaga pendidikan agama yang bersih dan tidak jorok. Selain anak saya harus cerdas, ia pun harus sehat."

Saya menatapnya. Saya yakin ia bukan basa-basi, mahal bukanlah masalah baginya. Ia seperti paham pada tatapan saya. Sambil tersenyum ia mengatakan, ia sudah cukup lama mencari di internet lalu berkeliling Jawa Barat mencari sekolah dan pesantren kesohor, termasuk yang bertarif cukup mahal. Akan tetapi, ia belum menemukan lembaga pendidikan Islam yang benar-benar bersih. dan menerapkan pola hidup sehat. Saya tidak bisa bicara karena saya tahu persis sejak zaman sekolah dulu, kawan saya termasuk orang paling apik dan berseka.

"Saya merasa kecewa," ucapnya lagi, "Kenapa tidak ada lembaga pendidikan Islam yang betul-betul memerhatikan soal sanitasi dan kebersihan lingkungan? Kenapa kebersihan malah menjadi milik orang lain? Padahal, setahu saya, Islam adalah agama yang suci dan sangat mengutamakan kebersihan dan kesehatan. Tetapi implementasinya jauh panggang dari api."

Kawan saya boleh jadi betul. Kalau mau jujur, kita memang agak kesulitan menemukan lembaga pendidikan berbasis Islam yang mengutamakan kebersihan dan kesehatan dalam penyelenggaraan pendidikannya. Kalaupun ada, hanya satu dua, itu pun. belum maksimal. Padahal posisi kebersihan dan kesehatan dalam Islam berada pada urutan penting. Sampai-sampai Rasulullah SAW. menempatkan kebersihan menjadi bagian dari iman.
"Annazhofatu minal imaan." (Kebersihan sebagaian dari iman.)

Beberapa tahun silam, sempat beredar julukan yang tidak enak didengar di kalangan masyarakat yang ditujukan pada orang-orang pesantren: santri budug. Kata yang memunculkan image kita terhadap ketertinggalan, lingkungan kumuh, air kotor, kamar pengap minim ventilasi, MCK tidak sehat, dan berpenyakit. Kata itu pula yang menyeret pada gambaran betapa lembaga pendidikan Islam tradisional tidak dapat mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur'an dan hadits dalam pola hidup keseharian santri-santrinya. Mereka hanya mengejar "ilmu" tanpa memedulikan makna yang terkandung dalam ilmu yang mereka pelajari. Padahal ulama menyandingkan ilmu dengan iman dan amal.

Bersih adalah bagian dari iman. Artinya, bersih harus selalu bersanding dengan ilmu dan menjadi denyut jantung amal (aktivitas). Akibat sikap yang seolah-olah mengesampingkan kebersihan dan kesehatan, masyarakat lalu memandang sebelah mata lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional dari sisi kesehatan.

Nilai-nilai Al-Qur'an dan hadits hanya ada di dalam kitab, dibaca di pesantren, di masjid, dan majelis taklim, kemudian dihafal tanpa aplikasi. Itulah sebabnya, Quraish Shihab dengan lantang mengajak Muslim untuk membumikan Al-Qur'an yang selama ini berada di kawasan samawi. Al-Qur'an (baca: fisiknya) selalu berada di atas kepala, dijunjung tinggi, dan dihormati, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terlupakan, terpinggirkan, tercecer, atau bahkan sama sekali tidak dipedulikan. Salah satunya, adalah kebersihan.

Al-Qur'an baru sebatas musabaqah, dilantunkan dengan suara merdu, diperlombakan, dan pemenangnya mendapat piala; Al-Qur'an belum menjadi detak jantung, belum mengalir dalam darah, belum menjelma dalam setiap aktivitas. Al-Qur'an belum ada dalam tutur kata, dalam tatapan mata, dalam pendengaran. Nilai-nilai Al-Qur'an belum masuk ke kamar mandi, ke toilet, ke tempat wudlu, ke pasar, bahkan belum menjelma dalam kehidupan para peserta didik di lembaga pendidikan Islam, belum menghiasi kamar-kamar, ruang makan, tempat belajar, dan WC mereka. Itulah sebabnya teman saya mengaku kecewa terhadap pola hidup dan lingkungan lembaga pendidikan Islam yang tidak bersih dan sehat.

Kebersihan dalam terminologi agama adalah thaharah, membersihkan segala bentuk kotoran, najis, dan hadas yang menempel pada tubuh —bahkan hati— agar diri tetap berada pada maqam yang qarib dengan Al-Khaliq, Sang Mahasuci yang mencintai kebersihan. 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Innallaha yuhibut tawaabiina wa yuhibbul mutathahhiriin (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertobat dan orang-orang yang bersih)." (QS. Al-Baqarah : 222)

Thaharah mesti dimaknai sebagai upaya maksimal membentuk pola fikir dan pola hidup bersih dan sehat. Islam sebagai agama yang suci menginginkan umatnya menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat. Tubuh bersih, pakaian bersih, dan lingkungan bersih. Sinyalemen ini termaktub dalam QS. Al-Mudatsir : 1-5,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
قُمْ فَأَنذِرْ
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
"Yaa, ayyuhal mudatsir, qum faandzir, wa rabbaka fakabbir, wa tsiyaabaka fathahhir, war rujza fahjur!" (Wahai orang yang berselimut, bangun, dan berilah peringatan, agungkanlah Rabb-mu, bersihkan pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa!)

Meskipun kitab ayat itu ditujukan kepada Rasulullah SAW., tetapi secara otomatis ditujukan kepada umatnya. Watsiyabaka fathahhir (bersihkan pakaianmu, bersihkan tubuhmu, bersihkan lingkunganmu). Hiduplah dengan pola hidup bersih dan sehat.

Menurut penelitian Unicef, kondisi kebersihan air dan lingkungan di sebagian besar daerah di Indonesia masih sangat buruk. Situasi ini menyebabkan tingginya kerawanan anak terhadap penyakit yang ditularkan lewat air. Pada 2004, hanya 50 persen penduduk Indonesia yang mengambil air sejauh lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran. Ukuran ini menjadi standar universal keamanan air. Di Jakarta, misalnya, 84 persen air dari sumur-sumur dangkal ternyata terkontaminasi oleh bakteri Faecal coliform.

Kebersihan mestinya bukan sekadar kebutuhan, melainkan harus menjadi bagian dari hidup, mendarah daging. Kebersihan menjadi pangkal dari kesehatan dan kesehatan merupakan jalan untuk beraktivitas. Islam memandang setiap aktivitas yang positif adalah ibadah. Ada kaidah ushul yang menjelaskan, "Maa laa yatimmul waajibu illa bihiifahuwa waajib (perkara yang menjadi penyempurna yang wajib, adalah wajib pula hukumnya)."

Dengan demikian, mempertahankan hidup agar tetap bersih adalah ibadah dan dikategorikan wajib. Kekhusyukkan beribadah sangat ditentukan oleh kondisi dan stamina tubuh, terutama ibadah mahdhah, seperti shalat, puasa, dan haji. Kekhusyukkan dan nilai ihsan tidak akan diraih secara maksimal ketika tubuh dalam keadaan sakit. Generasi Muslim tidak boleh lemah fisik, akal, hati, akidah, dan ekonomi. Semuanya dipengaruhi oleh pola hidup bersih dan sehat.***

[Ditulis oleh NANA SUKMANA, pengurus DKM Asy-Syifa STIKES Bhakti Kencana Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 9 Desember 2011 / 13 Muharam 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Hubungan antara rakyat yang dipimpin dan pemimpin yang memimpin harus harmonis. Berada dalam jalur kerja sama penuh kebajikan dan takwa (ta-awanu alal birri wat taqwa), sebagaimana perintah Allah SWT.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah : 2)

Pada ayat tersebut pula, Allah SWT. melarang siapa saja bekerja sama dalam dosa dan permusuhan (ta-awanu alal itsmi wal udwan).

Akan tetapi, akhir-akhir ini muncul kecenderungan memprihatinkan. Antara rakyat dan pemimpinnya sering bertolak belakang. Akibatnya, muncul keresahan, kekesalan, protes, serta kritik dari rakyat kepada pemimpin. Apakah hal itu semata-mata merupakan kesalahan pemimpin? Atau justru kejelekan pemimpin timbul akibat rakyat yang dipimpin sulit diurus.

Dialog antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW. dan seorang rakyatnya di bawah ini dapat dijadikan bahan renungan.
    Seorang penduduk datang kepada Khalifah Ali RA. mempertanyakan mengapa pada zaman Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., Utsman RA., keadaan aman damai tenang sejahtera. Sementara pada zaman Ali RA., rusuh dan ribut terus di mana-mana. 
    Jawab Sayyidina Ali KW., "Pada zaman Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., dan Utsman RA., rakyatnya semua seperti Ali RA. Sabar dan mengerti kondisi. Sementara pada zaman Khalifah Ali RA., rakyatnya semua seperti kamu. Mudah marah dan tak mau mengerti keadaan."
Sejarah mencatat, setelah zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar RA., Umar RA., dan Utsman RA., kekacauan di kalangan umat Islam memuncak. Muncul berbagai (kelompok) politik, militer, dan keagamaan yang saling mengklaim kebenaran masing-masing. Mulai dari Syi'ah yang fanatik terhadap Ali RA., Jama'ah yang dianggap pendukung Muawiyah, dan Khawarij yang menolak keduanya. Pertentangan itu menimbulkan alfitnatul qubra (fitnah besar) yang memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam. Akibatnya, rakyat tercerai berai. Para pemimpin asyik sendiri. Hubungan rakyat dengan pemimpin ibarat kucing dan anjing. Tak pernah henti bertengkar.

Akibat lainnya yang lebih parah, tidak pernah muncul pemimpin yang benar-benar dicintai rakyat. Tak pernah ada pemimpin yang tegas terhadap segala penyimpangan hukum. Tak pernah ada pemimpin yang berani menindak dirinya sendiri, keluarganya, aparat-aparatnya, dan siapa saja yang melanggar aturan tanpa pandang bulu. Yaitu pemimpin yang disebut Mujahid fi sabilillah (Pejuang di jalan Allah) karena keberaniannya menegakkan hukum. Tak pernah ada pemimpin macam begjtu sekarang.

Yang lebih parah lagi, banyak muncul pemimpin yang egois. Mementingkan diri sendiri, menindas bawahan, dan memeras rakyat dengan berbagai cara kamuflase. Seolah-olah melakukan pembangunan, padahal sesungguhnya perasakan, sebab dana-dana pembangunan itu sebelumnya telah digerogoti terlebih dahulu. Rakyat hanya mendapat sepah-sepahnya. Berkomplot bersama konco-konconya untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Membiarkan rakyat menderita berkepanjangan, dan merasa cukup memperhatikan rakyat dengan memberikan sumbangan-sumbangan insidental dan temprorer. Akan tetapi, tidak pernah sungguh-sungguh membentuk struktur kesejahteraan yang permanen sehingga rakyat bebas dari kemiskinan dan kebodohan, karena dana untuk itu sudah habis disikat bersama komplotannya. Inilah yang disebut pemimpin jahat dan merusak (syarrul ri'ail huthamah) sebagaimana dinyatakan Nabi Muhammad SAW.

Sudah saatnya para pemimpin segera kembali kepada kewajiban mereka sebagai pemimpin yaitu menegakkan hukum yang tegas, tepat, dan tanpa pandang bulu. Jika hukum diabaikan dan dipermainkan, akan semakin mempercepat datangnya kehancuran bangsa dan negara.

Nabi Muhammad SAW. bersabada,
"In-nana ahlakallahul ladzina min qablikum, innahu idza saraqa fihimul syarifu taraquhu, wa idza saraqa fihimul dloifu aqamu alaihil haddu. (Kehancuran umat sebelum kalian, karena jika orang-orang elite di antara mereka mencuri, tidak diapa-apakan tetapi kalau orang kecil mencuri, hukum ditimpakan benar-benar.)" (Hadits Sahih Riwayat Imam Bukhari)

Selain itu, tunaikan janji-janji yang pernah diucapkan selama kampanye. Jangan pura-pura lupa. Sabda Nabi Muhammad SAW.,
"Ayyuma walin bataghatsan li ra'iyyatihi haramallahu alaihil jannata. (Setiap pemimpin ingkar janji, membohongi rakyat, tak akan diizinkan oleh Allah SWT. untuk memasuki surga.)" (Hadits Ibnu Majah)

Kemudian, rakyat juga harus memahami posisi sebagai yang dipimpin, Percayalah kepada hukum dan aturan yang berlaku bagi semua, termasuk bagi pemimpin. Jika pemimpin bersalah, percayalah, hukum yang akan bertindak Kekerasan dan anarkisme dalam menghujat pemimpin, justru akan mengundang masalah baru daripada menyelesaikan masalah yang sudah ada. Jika tampak gejala hukum dipermainkan, aparat penegak hukum mandul dan berpihak, bersabarlah.

Janji Allah SWT. lebih nyata daripada tindakan-tindakan tak bermoral para pemimpin yang mempermainkan rakyat, yang kelak akan dipertemukan dengan hari pembalasan bagi mereka.

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ
Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. (QS. Az Zukhruf: 83)

Wallahu'alam.***

[Ditulis oleh H. USEP ROMLI H.M., guru mengaji di Desa Cibiuk, Garut serta pembimbing Haji dan Umrah Megacitra / KBIH Mega Arafah Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 8 Desember 2011 / 12 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Nasihat itu adalah kebijaksanaan. Keberadaannya sangat diperlukan manusia dalam menjalani kehidupannya. Nasihatlah yang dapat membuat seseorang menjadi bergairah kembali hidupnya.
Bila dilihat dari arti katanya, nasihat itu berarti ajaran atau pelajaran baik. Bisa juga diartikan sebagai anjuran (petunjuk peringatan, teguran) yang baik. Sementara menasihati berarti memberi nasihat. Orang yang memberi nasihat dinamakan penasihat.

Saking pentingnya perilaku nasihat-menasihati ini maka dalam sebuah organisasi di masyarakat biasanya ada yang ditunjuk sebagai penasihat. Hal itu tidak lain dimaksudkan untuk menjadikan penasihat sebagai sumber yang dapat memberi petunjuk dan masukan terhadap problematika kehidupan yang dihadapi masyargkat di kemudian hari. Kewajiban saling nasihat-menasihati pun merupakan ajaran agama yang perlu dilakukan umatnya dalam kehidupan sehari-hari demi kebaikan. Sampaikanlah kebaikan itu, sekecil apa pun pada orang lain. Misalnya, orang tua menasihati anaknya. Guru menasihati muridnya. Dosen menasihati mahasiswanya. Termasuk nasihat-menasihati di antara sesama teman. Namun, masalah-nya ego setiap manusia itu memiliki kecenderungan tidak menyukai kalau dirinya dinasihati oleh orang lain. Padahal, nasihat itu jelas-jelas untuk kebaikannya.

Gambaran tersebut tercermin pada kisah yang diabadikan Al-Qur'an dalam surat Al-A'raf : 73-79.

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِن قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُّرْسَلٌ مِّن رَّبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنتُم بِهِ كَافِرُونَ

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

Dalam ayat itu, dijelaskan kepada kaum Samud, Allah mengutus Nabi Saleh AS. Kemudian Beliau menyampaikan kepada kaumnya amanat Tuhannya dan memberi nasihat terpercaya kepada kaumnya. Namun, kaumnya tetap sombong dan lalai kemudian mengingkari apa yang disampaikan Nabi Saleh AS.

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai." Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Mereka berkata, "Wahai Saleh! Buktikanlah ancaman kamu kepada kami, jika benar engkau Saleh seorang nabi." Lalu, datanglah gempa bumi menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka. Kemudian Dia (Saleh) pergi meninggalkan mereka sambil berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu, tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat."

Kisah tersebut telah memberi pelajaran pada kita akan perilaku ingkar terhadap nasihat kebaikan. Lebih-lebih itu adalah nasihat dari ajaran nabi dan Tuhannya. Padahal, kalau kita telaah lebih lanjut, kaum Samud merupakan kaum yang mendapat anugerah sebagai manusia yang tinggi dan besar secara fisik. Mereka hidup di lembah-lembah pegunungan dan dataran tinggi. Di tempat itu, mereka mendirikan rumah tinggal. Nikmat yang diberikan kepada mereka itu tidak menjadikan mereka semakin taat dan patuh kepada perintah Allah. Bahkan, mereka selalu mendustakan dan durhaka terhadap perintah dan larangan Allah yang disampaikan oleh nabi mereka, yaitu Nabi Saleh AS.

Ketaatan mereka diuji dengan seekor unta betina, Allah menyuruh mereka agar tidak mengganggu dan menyakiti unta betina yang sedang makan. Ujian ini untuk membuktikan apakah mereka mematuhi apa yang diseru atau sebaliknya, mereka durhaka. Ketika Nabi Saleh AS. tidak bersama mereka, mereka melakukan kedurhakaan dengan menyembelih unta betina itu. Karena mereka tidak patuh, Allah melaknat mereka hingga binasa. (Syaamil Al-Qur'an Terjemahan Tafsir Per Kata, 2010)

Di sini, kesadaran akan nasihat kebaikan dari orang lain, apalagi nasihat ajaran agama, tentu patut kita terima, kembangkan dan olah menjadi sesuatu yang bernilai positif. Jadikan nasihat itu menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan kualitas hidup kita. Dan jangan sampai nasihat itu justru kita dustai yang berakibat fatal melukai diri sendiri.

Selain itu, yang lebih penting diperhatikan bagi pemberi nasihat adalah cara memberikan nasihat. Sampaikanlah nasihat itu dengan cara sebaik mungkin. Lagi pula, banyak cara dan media yang bisa kita pakai dalam memberi nasihat. Bisa lewat kata-kata, cerita, keteladanan, dan lainnya. Pakailah cara yang efektif dan sesuai dengan sasaran orang yang kita nasihati agar apa yang dilakukan tersebut dapat membuahkan hasil. Yaitu nasihat kita dapat diterima oleh orang lain. Lalu, sudahkah kita melakukan nasihat-menasihati ini dengan cara yang bijaksana?
Dalam hal ini, ada ungkapan dari Imam Asy-Syafi'i terkait nasihat-menasihati yang patut kita aplikasikan dalam kehidupan keseharian. Beliau mengungkapkan, "Menasihati dengan kata-kata, bak muazin yang merdu suaranya. Menasihati dengan teladan mulia, akan jadi imam dalam segala."

Sungguh indah pesan Asy-Syafi'i itu. Jadi, diharapkan ketika kita meberikan nasihat pada orang lain, usahakanlah dengan kata-kata yang enak didengar. Dan bila kita melakukannya dengan cara perilaku keteladanan, maka buahnya akan menjadi panutan bagi siapa pun. Sehingga akhirnya, nasihat yang kita sampaikan itu tidak terdustakan.

Semoga! ***

[Ditulis oleh ARDA DINATA, pengasuh Majelis Inspirasi Al-Qur'an dan Realitas Alam / MIQRA Indonesia, http://www.miqraindonesia.com. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 2 Desember 2011 / 6 Muharam 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky

Pernahkah Anda tertawa? Jawabannya pasti ya. Tertawa merupakan sifat dasar seorang manusia sebagai karunia Allah SWT. kepada manusia. Dalam QS. An-Najm: 43, Allah SWT. berfirman,

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
Dan bahwasannya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.

Kalau kita kaji kamus bahasa Arab, ternyata kita temukan ada beberapa istilah tertawa. Di antaranya tabassum (tersenyum) yaitu tingkatan di bawah tertawa dan merupakan tertawa yang paling baik. Nabi Muhammad SAW. sendiri menyarankan umatnya agar menjadikan tersenyum sebagai sedekah.

Bahasa Arab juga mengenal antagha atau tertawa terbahak-bahak, alkhanna wal khaniinan (tertawa yang apabila ditampakkan berupa dengungan), thaikhun thaikhun (tertawa terbahak-bahak yang paling buruk), atthahthahatun (tertawa yang melengking), dan tertawa yang lebih dari tersenyum (alhanuufu). Sebagian orang Arab mengkhususkan yang satu ini dengan tertawanya para wanita.

Bagaimana dengan hukum tertawa dalam ajaran Islam? Menurut ulama mutakhir, Dr. Yusuf Qardhawi, sesungguhnya tertawa itu termasuk tabiat manusia. Binatang tidak dapat tertawa, karena tertawa itu datang setelah memahami dan mengetahui ucapan yang didengar atau sikap dari gerakan yang dilihat sehingga ia tertawa karenanya. Dari pendapat ini, bisa ditarik garis merah bahwa tertawa itu diperbolehkan.

Dalam dunia kesehatan dikenal beberapa manfaat dari tertawa, seperti yang disampaikan dr. William Foy yang menyatakan, tertawa setara dengan berolah raga. Tertawa juga bisa mengurangi infeksi paru-paru dan sakit jantung. Dr. Joseph Mercola dan Rachel Droge menyatakan tertawa meningkatkan selnangat dan kesehatan.

Dr. Lee Berk yang melakukan penelitian tertawa menyimpulkan, tertawa bisa mengurangi dua hormon dalam tubuh yaitu eniferin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit. Demikian pula dengan manfaat tertawa untuk mengurangi rasa nyeri atau sakit, seperti ditulis dr. Rosmary Cogan.

Dari sisi psikologi, ternyata tertawa juga membawa banyak dampak positif, seperti mengurangi stres, meningkatkan kekebalan tubuh seperti dinyatakan dr. W.M. Roan. Tertawa juga bisa menurunkan tekanan darah tinggi.

Manfaat tertawa juga dinyatakan ulama yang mengarang buku Laa Tahzan, Jangan Bersedih yakni Syaikh Aidh Alqarni yang menyatakan tertawa merupakan sedekah dan memberi kesan berseri dan optimistis. Tertawa juga obat penawar bagi rohani, jiwa, dan membuat ketenangan sanubari setelah lelah berikhtiar.

Hanya, ajaran Islam seperti dalam hadits sahih "Shabibul Jami" juga menyebutkan larangan memperbanyak tertawa karena banyak tertawa akan mematikan hati, Dalam hadits lainnya disebutkan, bisa membuat hati menjadi hitam dan kelam.

Rasulullah SAW. sendiri telah mencontohkan akhlak dalam tertawa yakni berupa senyuman yang menarik dan tidak tertawa kecuali apabila berhubungan dengan kebenaran. Selain itu, Rasulullah SAW. tidak berlebihan dalam tertawanya hingga tubuhnya bergoyang atau hingga tubuhnya miring atau hingga terlihatlah langit-langit mulut nabi.

Nabi juga menghindari tertawa yang bersifat gibah (gosip), menjelek-jelekkan atau memojokan orang lain (QS. Al Hujuraat: 11), fitnah, atau menyombongkan diri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dari Ka'ab bin Malik,
"Rasulullah apabila (ada sesuatu yang membuatnya) senang (maka) wajah beliau akan bersinar seolah-olah wajah beliau sepenggal rembulan." (HR. Al-Bukhari)

Imam Al-Ghazali berkata, "Jika demikian, haruslah sesuai dengan canda Rasulullah, tidak dilakukan kecuali dengan benar, tidak menyakiti hati dan tidak pula berlebih-lebihan." Maksudnya, tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras.

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata." (HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Aadab bab at-Tabassum wadh Dhahik)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,
"Yaitu, tidaklah aku melihat beliau berkumpul dalam hal tertawa, di mana beliau tertawa dengan sempurna dan suka akan hal tersebut secara keseluruhan."

Masih banyak lagi hadits yang menceritakan kisah senyuman dan tertawa Rasulullah SAW. yang seharusnya kita pelajari dan teladani.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal adanya tertawa sinis, tertawa menghina, merendahkan orang lain, ataupun tertawa yang menunjukkan kesombongan diri. Berhati-hatilah karena dari tertawa bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat salah paham atau salah mempersepsi.

Belum lagi dengan adanya perbedaan dalam adat istiadat, budaya, ataupun bahasa, sehingga salah pengertian kerap terjadi termasuk dalam memaknai tertawa. Islam tak mengharamkan tertawa, tetapi kita perlu mencontoh nabi dalam mengeluarkan gurauan maupun tertawa.

Wallahu a'lam. ***

[Ditulis oleh H. PUPUH FATHURRAHMAN, Sekretaris Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 1 Desember 2011 / 5 Muharam 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (QS. At Takatsur: 1-2)

Perilaku sebagian anggota DPR yang "terhormat" belakangan ini terus menjadi sorotan, mulai kasus korupsinya yang tiada habis-habisnya, kerja yang suka membolos, sampai gaya hidup mewah ala selebriti. Di tengah-tengah kondisi masyarakat yang masih terus dililit oleh kemiskinan, di mana sebagian besar rakyat kita masih susah cari makan, memang tidak sepantasnya para pejabat dan pemimpin negeri ini mempertontonkan gaya hidup hedonisme, karena akan melukai hati dan perasaan masyarakat banyak. Justru di tengah keterpurukan masyarakat, para pemimpin seharusnya berjuang keras dengan segala kekuasaannya yang ada, untuk memperjuangkan nasib rakyatnya, serta memberi teladan yang baik tentang pola hidup sederhana.
Rasulullah SAW. adalah sosok pemimpin yang mempunyai akhlak yang paling sempurna, di antaranya tentang kesederhanaan hidup beliau. Amru bin Harith meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. ketika wafat tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya lelaki atau perempuan, dan tiada sesuatu apa pun, kecuali keledai yang putih yang biasa dikendarainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau. (Bukhari)

Rasulullah SAW. selama hidupnya adalah seorang pribadi yang paling sederhana dalam menjalani kehidupannya. Meskipun memiliki kekuasaan yang besar, tak tebersit dalam diri beliau memanfaatkannya untuk memiliki harta berlimpah. Kesederhanaan Rasulullah SAW. tidak sebatas pada sikapnya yang memang sangat sederhana, tetapi juga pada apa yang dimilikinya.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Tiada hak bagi seorang anak Adam dalam semua hal ini, kecuali rumah tempat tinggal, baju yang menutup auratnya, roti kering, dan air." (Tarmidzi)

Dalam kehidupan dunia yang cenderung semakin materialistis ini, sikap hidup sederhana adalah sesuatu yang langka. Hidup sederhana, mencerminkan kerendahan hati. Kerendahan hati akan menghantarkan kebahagiaan. Di hari perhitungan kelak, seorang mukmin akan ditanya tentang hartanya dari dua sisi: dari mana diperoleh, lalu bagaimana dibelanjakannya. Seperti sabda Nabi SAW.,
"Kelak kedua kaki setiap hamba tidak akan beranjak, hingga ditanyakan tentang empat hal: tentang umurnya; ia pergunakan untuk mengamalkan apa? Ilmunya; apa yang ia perbuat dengannya? Harta bendanya; dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan? Badannya; ia pergunakan untuk mengamalkan apa?" (HR. at-Tirmidzy, ath-Thabrany, dan disahihkan oleh al-Albani)

Dan di zaman yang serba materialistis ini pula, orang cenderung mempertontonkan kemewahan dan berlebihan dengan apa yang mereka miliki. Mereka berlomba-lomba menumpuk harta dan kekayaan, seakan tidak puas dengan apa yang telah mereka miliki. Perilaku di atas seringkali menjerumuskan manusia pada perilaku-perilaku yang bertentangan dengan syariat Islam. Ketika manusia cenderung berperilaku berlebih-lebihan, sering kali manusia dibutakan matanya dengan melakukan perbuatan-perbuatan berupa tindakan korupsi dan bentuk kejahatan lainnya, dan itu yang sering terjadi di negeri ini.

Bila demikian adanya, tidak mengherankan bila Islam telah mengajarkan kepada umatnya metode pembelanjaan harta yang benar. Di antara syariat tersebut ialah dengan menempuh hidup sederhana, jauh dari sifat kikir, dan jauh dari berlebih-lebihan.

Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur'an,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al-Furqan: 67)

Apabila dibiarkan terus, para pejabat dan pemimpin negeri ini, serta orang-orang yang mampu untuk memamerkan kekayaannya, sedangkan di satu sisi lain masih banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, tidak mustahil akan timbul kecemburuan sosial. Pada akhirnya, akan timbul keresahan sosial yang bisa berdampak pada stabilitas nasional.

Esensi dari kesederhanaan adalah adanya rasa cukup pada dirinya dengan apa yang diterimanya. Hidup sederhana adalah hidup tidak berlebih-lebihan, tidak bersikap mempertontonkan kemewahan di kalangan khalayak. Hidup sederhana juga berarti ada sifat kanaah dan senantiasa berlaku adil serta mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Sebagaimana dicontohkah oleh Abdurrahman bin Auf, sahabat yang kaya raya, tetapi tetap zuhud dan kanaah. Dengan kesederhanaannya itu, beliau hidup secara proporsional, menempatkan sesuatu pada tempatnya, menggunakan harta yang dimilikinya untuk kepentingan dan kemaslahatan umat, senantiasa berinfak dan berzakat.

Firman Allah SWT.,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid : 20)

Orang yang sederhana dalam penampilan dan gaya hidup kesehariannya merupakan titik tolak kesadaran tinggi hidup bersosial. Dengan demikian, sikap atau gaya hidup berlebihan, glamor, dan sombong, adalah lawan yang harus dimusnahkan dalam sikap hidup keseharian seorang mukmin. Orang yang suka berlebih-lebihan merupakan tanda sikap individualistik, yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa memedulikan nasib orang lain di sekitarnya. Gaya hidup berlebih-lebihan inilah yang sering Allah SWT. kecam dalam Al-Qur'an. Sikap ini adalah awal bencana dalam kehidupan sosial. Jika dalam diri seseorang telah tertanam ambisi untuk memperkaya diri sendiri, ia akan sangat mudah terseret untuk menghalalkan segala cara demi meraih apa yang dicita-citakan. Ini sangat berbahaya bagi kehidupan sosial. Dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar. Orang akan makin asyik dengan perilaku negatif yang dilakukannya. Akhirnya, jika gaya hidup berlebih-lebihan terus dipupuk, lambat laun ia akan menjadi budaya yang berakar kuat dan sulit dicabut.

Dalam berperilaku hidup sederhana, bukan berarti tidak diperkenankan memiliki harta kekayaan, tetapi dalam hak kepemilikan harta kekayaan harus didapatkannya sesuai dengan aturan yang digariskan dalam syariah, terutama yang halalan thoyyiba, bersih dari suap-menyuap, terhindar dari segala bentuk batil dan kefasikan, atau jauh dari norma-norma Islam, tidak cacat secara syar'i, tidak ada kerakusan.

Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, sudah selayaknya kita mengedepankan hidup sederhana dengan berperilaku hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan dalam kepemilikan, dan senantiasa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.***

[Ditulis oleh H. JATIMAN KARIM, anggota Dewan Penasihat Yayasan Ar-Rahman Puri Cipageran Indah, RW. 24 Cimahi. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 25 November 2011 / 29 Zulhijah 1432 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Apabila kita cermati nama-nama masjid di beberapa kompleks perumahan, rata-rata hampir sama yakni memakai kata Al Muhajirin, Baitul Muhajirin, Al Hijrah, dan sejenisnya. Hal itu bisa menunjukkan para penghuni kompleks itu memang telah "hijrah" dari daerah asalnya menuju ke perkampungan baru.
Namun, apa sesungguhnya makna hijrah? Secara bahasa, hijrah berarti pindah. Islam memandang hijrah sebagai upaya untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, baik hijrah badaniah (fisik atau tempat) maupun hijrah sikap/akhlak (galbiyah). Rasululllah menyatakan, seorang Muslim ialah orang yang jika orang lain selamat dari ucapan dan perbuatannya serta dari apa-apa yang dilarang Allah. Seorang Muslimin bisa selamat sekaligus menyelamatkan sesamanya.

Hijrah bagi kaum Muslimin dari dulu sampai kini merupakan salah satu tugas yang sangat penting. Al-Qur'an menggambarkan pentingnya hijrah dalam QS. Al-Baqarah: 218

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dimana Allah menjanjikan kepada mereka yang hijrah akan mendapatkan kasih sayang dan ampunan-Nya. Dalam ayat lain, ditegaskan bahwa orang-orang yang berhijrah akan menerima rezeki yang mulia dan ampunan Allah. Bahkan, Al-Qur'an juga menyebut ganjaran bagi orang-orang yang berhijrah berupa derajat tinggi, ridha Allah, dan surga.

Allah SWT. menerangkan berbagai macam perintah hijrah, seperti yang kita temukan dalam Al_Qur'an.
  • Pertama, perintah hijrah dari dosa dan kesalahan, seperti dalam QS. Al Mudatsir ayat 5.
    وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
    dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
    Salah satu kelebihan Al-Qur'an, dengan menggunakan kata walaa taqrabuu (jangan mendekati) perbuatan jahat, bukan sekadar melarang berbuat jahat.
  • Kedua, perintah hijrah untuk seseorang yang menyampaikan sesuatu ajaran kepada orang lain, kemudian menghadapi berbagai penghinaan, seperti dalam QS. Al Muzammil ayat 10.
    وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
    Sabarlah akan ucapan orang-orang yang tidak tahu itu, dan kalau memang sulit untuk bersabar, jauhilah mereka dengan cara sebaik-baiknya.
  • Ketiga, perintah hijrah juga berlaku di tengah-tengah keluarga yakni ketika seorang istri melakukan nusyuz. Artinya, jika istri melakukan pelanggaran hendaknya suami menasihati. Namun, apabila tidak ada perubahan pada diri istri, suami bisa memilih hijrah (pindah) dari tempat tidur istrinya.

Rasulullah sendiri melakukan hijrah fisik baik badan maupun tempat tinggalnya dari Mekah ke Yatsrib (Madinah). Demikian pula para sahabat yang mengikuti Nabi. Bahkan, mereka harus rela meninggalkan tempat usaha yang menghidupi sehari-hari bahkan anggota keluarga yang disayangi. Saat itu, Kota Mekah dalam kondisi gersang sehingga sulit ditanami akidah Islam. Sementara di tempat lain (Madinah), secara perlahan-lahan tetapi mantap menjadi tempat yang subur untuk menumbuhkan benih-benih tauhid.

Dari peristiwa hijrah Nabi 1433 H. lalu, kaum Muslimin saat ini perlu belajar dari Nabi. Siasat? taktik, maupun strategi sudah dirancang demikian matang sehingga ketika Nabi dan para sahabatnya pindah tidak ada persoalan lagi.


Pada suatu malam ketika Rasulullah berada di bukit Aqabah yang tak jauh dari tempat melempar jumrah saat ini, bertemulah Ia dengan enam orang warga Yatsrib. Mereka berbincang dengan Nabi tentang berbagai hal yang menyangkut hidup dan penghidupan. Rupanya enam orang itu sangat antusias mendengar pernyataan-pernyataan Rasulullah yang membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan hidayah Allah, akhirnya mereka memilih Islam dan membawa Islam di tengah-tengah masyarakat Yatsrib. Keenam orang itu dicatat dalam sejarah bernama As'ad ibn Jurarah, Rafi ibn Malik, Auf bin Harits, Uqbah bin Amir, dan Jabir ibn Abdillah.

Dengan kepeloporan enam orang Yatsrib itu, nama Rasulullah dikenal luas. Pada musim berikutnya yakni tahun ke-12 dari kenabian, lima dari enam orang tadi datang lagi ke Mekah dengan membawa tujuh kawan lainnya ke Mina. Kepada mereka dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an, lalu terbukalah hatinya dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Peristiwa itu dikenal sebagai Bai'atul Aqabah al Ula yang isinya kesiapan untuk tidak pergi tanpa izin, tidak zina, tidak membunuh anak, tidak berdusta, tidak menolak kebaikan, patuh kepada perintah Allah dan Rasul, tidak merebut sesuatu yang merupakan hak orang lain, berani mengatakan kebenaran, dan tidak takut hinaan orang lain saat menjalankan ketaatan.


Dengan hijrah Rasulullah pada tahun 622 M, tujuh tahun kemudian tepatnya tahun 629 M, Nabi sudah bisa kembali ke Mekah dan menaklukkannya (fathul-makkah). Itu lah kegemilangan strategi dakwah melalui hijrah. Kaum Muslimin pun patut mencontoh Rasulullah terutama saat ini yang dibutuhkan adalah hijrah spiritual.

Tahun baru Islam 1 Muharram 1433 H. yang akan datang sebentar lagi, seharusnya tak sebatas pada ritual dan insidental apalagi sebatas kegiatan mengumpulkan massa. Namun, semangat hijrah Rasulullah dan para sahabatnya wajib kita pelajari, resapi, pahami, dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.


Selamat hijrah!***


[Ditulis oleh KH. MIFTAH FARIDL, Ketua Yayasan Unisba dan Addakwah, Ketua Umum MUI. Kota Bandung, dan pembimbing Haji Plus dan Umrah Safari Suci. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 24 November 2011 / 28 Zulhijah 1432 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky