Sepenggal kisah berikut ini hanya satu dari banyaknya cerita yang mengubah sejarah, sebuah cerita dari orang-orang yang yakin akan kemenangan da’wah ini.

    Sore itu, sipir penjara memberikan pengumuman mengejutkan, mereka diperbolehkan shalat maghrib berjama’ah. Hal yang benar-benar mengejutkan, karena selama ini mereka dilarang shalat berjama’ah meskipun didalam sel.

    Shalat maghrib berjama’ah akan dilakukan di halaman penjara militer. Wajah para Ikhwan terlihat bersemangat, sudah berbulan-bulan mereka tidak merasakan shalat berjama’ah, bahkan membaca Qur’an pun jika terdengar akan mendapat hukuman berat.

    Mereka semua berbondong-bondong turun dari gedung penjara dan berkumpul di halaman penjara. Salah seorang Ikhwan lalu mengumandangkan adzan: Allahu Akbar..Allahu Akbar… mereka seperti tidak percaya dengan peristiwa ini, seolah seperti mimpi.

    Para Ikhwan meminta Yusuf Qaradhawi untuk mengimami mereka, kemudian mereka tenggelam dalam kekhusyuan, ketenangan, ketundukan yang sulit dilupakan kenikmatannya. Ayat demi ayat Al Qur’an dibaca, begitu menyentuh dan menggetarkan dinding penjara yang bertingkat empat itu. Yusuf Qaradhawi dalam dua raka’at shalat Maghrib membaca seperempat akhir dari surat Ali Imran ayat 186:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

    Kamu sunguh-sunguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

    Kemudian beliau melewati bacaan ayat yang mengandung do’a yang dilantunkan para ulul albab, di QS. Ali Imran ayat 191:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    (Yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau diam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Ikhwan seperti tidak menginjak bumi, terbang diangkasa yang tinggi, isakan tangis mulai terdengar, Yusuf Qaradhawi terus membacakan ayat demi ayat akhir surat Ali Imran, sampai akhirnya ditutup dengan ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Yaa ayyuhalladzina amanush biru wa shobiru wa robitu wat taqullaha la’allakum tuflihuun” (Wahai orang-orang beriman, bersabarlah dan lipat gandakanlah kesabaran kalian dan kuatkanlah ikatan kalian dan bertaqwalah pada Allah niscaya kalian menang).

    Kemudian beliau mengucapkan salam diikuti para Ikhwan, dan airmata terlihat membasahi pipi para Ikhwan.

    Subhanallah, bagaimana halaman penjara yang selama ini menjadi medan penyiksaan luar biasa, yang selama ini menjadi tempat Ikhwan dihukum, yang menjadi tempat tangan dan kaki Ikhwan diikat dan disalib pada sebuah papan kayu melingkar untuk kemudian disiksa, dipukul bertubi-tubi, tempat yang menjadi lokasi dibakarnya mushaf Al Qur’an. Bagaimana kini tempat itu menjadi seperti masjid yang besar, yang bisa digunakan shalat bersejarah ini?

    Sayangnya, shalat berjama’ah ini adalah yang pertama dan terakhir. Tampaknya para sipir penjara telah menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka, efek dari shalat berjama’ah ini yang semakin mengokohkan hati dan memperkuat tekad para Ikhwan. (Mudzakkirah Doktor Yusuf Qaradhawi, Hayati Ma’a Al Ikhwan Al Muslimun)
Saat-saat sekarang kita di sinipun demikian, diuji kematangan kita dalam Tarbiyah, dimana kita tidak hanya diam di masjid-masjid mendengarkan kajian namun hasilnya menjadi pribadi-pribadi yang sibuk menyalahkan.

Perubahan ini bisa terjadi karena adanya mereka yang matang, yang berani mengamalkan ideologi Islam ini dalam kehidupannya, sampai akhirnya memunculkan kesadaran akan adanya sebuah tanggung jawab. Keengganan dan kesungkanan kita untuk bersegera memenuhi ruang-ruang publik dan kelembagaan dengan dalih tidak mau tersentuh problematika lingkungan ataupun takut terwarnai akan memberi peluang orang-orang yang tidak amanah untuk mengelolanya yang sudah pasti akan menjerumuskan banyak orang, termasuk menghalangi tegaknya da'wah itu sendiri.

As Syahid Sayyid Quthb pernah berkata “Bila Anda mengajak orang lain mengikuti prinsip anda, maka orang tidak akan percaya pada suatu prinsip yang tumbuh dalam pikiran beku dan nyali yang tidak menyala. Percayailah konsepmu, orang akan melihat bagaimana kamu mempertahankan prinsip dengan jiwa dan ragamu. Setelah itu barulah orang percaya, dan Insya Allah megikuti jejakmu. Jika tidak maka prinsip yang engkau kumandangkan hanyalah kata-kata muluk yag tidak hidup dan berjiwa. Ketakutan menghadapi resiko perjuangan merupakan cermin lemahnya keyakinan dan unsur kebaikan dalam dirimu.

Di depan kita saat ini terhampar sebuah harapan akan kemenangan da’wah, lembaga kita sudah mulai dipercaya publik, dan sebentar lagi harapan-harapan baru itu akan tumbuh menjadi kepercayaan, kesulitan di setiap medan beramal.

Insya Allah justru akan memunculkan gerak dan aktivitas, demikian pula sebaliknya ketakutan untuk menghadapi kesulitan hanya akan menjadikan amal menjadi lemah dan stagnan, seperti apa yang disampaikan Imam Hasan Al Banna, “karakter pejuang da’wah adalah orang-orang yang tidak tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar rahangnya dan menunaikan dalam sendau gurau permainan yang sia-sia. Jika itu yang terjadi, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang atau orang-orang yang tercatat sebagai barisan mujahidin.

Allah SWT. berfirman dalam QS. Al Ahzab 23,

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada yang masih menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya.

Tercatat dimanakah kita? ***

[Sumber tulisan: http://www.lailahaillallah.com/profile-12347]

by

u-must-b-lucky
Allah SWT. menyanjung kita dengan sebutan, khoiro ummah, umat terbaik. Ungkapan ini pasti benar karena dari Al-Qur'an. Kalimat khoiro ummah terdiri atas dua suku kata, khoiro dan ummah. Khoiro bentuk infinitif dari kata khaara-yakhiiru, artinya menjadi baik.
Sebagai isim (noun), kata khoir bisa diartikan segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Kata khoir bisa juga berfungsi sebagai isim tabdil, artinya lebih baik atau terbaik. Kata ummah jamaknya umam, berasal dari kata amma-yaummu bisa bermakna banyak. Bisa diterjemahkan menuju, menjadi, ikatan, segolongan, sekelompok, atau generasi. Jadi, khoiro ummah artinya sekelompok atau segolongan manusia terbaik yang memberi manfaat buat orang banyak.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tin: 4)

Walaupun pada ayat di atas menyinggung tentang manusia sebagai makhluk yang tercipta dengan rupa yang sebaik-baiknya, dalam konsteks ini tidak ada hubungannya dengan makna khoiru ummah. Ayat ini lebih mempertegas bahwa Allah menciptakan rupa manusia jauh lebih sempurna dan baik dibandingkan dengan makhluk lainnya, seperti hewan. Jadi, yang dimaksud khoiro ummah bukan kepada wujud fisik —cantik atau ganteng tidaknya— tetapi lebih mendasar kepada persoalan transcendental (hal bersifat rohaniah). Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. (QS. Al-Hujuraat: 13)

Sabda Rasulullah SAW.,
"Innallaha la yanduru ilaa ajsamikum wala suwarikum, walakin yanduru ila qulubikum." (Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupa dan suaramu, tetapi Allah melihat hatimu.)

Siapa umat terbaik ini? Sebagian ulama mengacu kepada pendapat Ibnu Abbas bahwa umat terbaik adalah mereka yang hijrah dari Mekah ke Madinah bersama Nabi SAW., yang ikut Perang Badar dan orang yang ikut rombongan Nabi ke Hudaibiyah. Sebagian lainnya berpendapat, mereka adalah umat Islam periode pertama dengan dasar hadits Nabi,
"Sebaik-baik umatku adalah abad di mana aku diutus kepada mereka, kemudian orang-orang berikutnya." (HR. Ahmad)

Ada juga yang mengatakan, umat yang terbaik itu umat akhir zaman yang tidak pernah berjumpa dengan Nabi, tetapi mereka tetap beriman.
"Sebaik-baik manusia adalah kaum yang beriman kepadaku, tetapi tidak pernah jumpa denganku." (HR. Zaid bin Aslam dari ayahnya Umar)

Sementara yang lainnya berpendapat bahwa semua manusia adalah umat terbaik sepanjang masa jika mereka berpegang teguh pada prinsip amar ma'ruf nahyi munkar, dan beriman kepada Allah.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali Imran: 112)

Pada ayat di atas ditegaskan bahwa umat manusia yang mulia (terbaik) adalah orang yang berhubungan baik dengan Allah (ibadah) dan berhubungan baik dengan sesama manusia (muamalah: lebih spesifik: bersilaturahmi).

Dalam upaya mewujudkan keseimbangan itu, pada 622 M tahun pertama Hijriah, atau abad ke-7 M, jauh sebelum Prancis, Inggris, atau Amerika membuat sistem perundang-undangan (Prancis membuat sistem perundang-undangan pada abad ke-17 M), Rasulullah SAW. telah merumuskan pedoman bermasyarakat yang bermartabat, yang dituangkan dalam Piagam Madinah. Piagam Madinah (perjanjian yang dibuat Nabi SAW. bersama penduduk Madinah, baik golongan Islam maupun non-Islam pada tahun pertama Hijriah), secara global berisi dua hal pokok, yaitu organisasi umat yang diikat oleh akidah Islam dan organisasi umat yang menghimpun jemaah atau komunitas yang beragam atas dasar ikatan sosial politik. Dalam pasal 25 Piagam Madinah, secara tertulis disebutkan adanya pengakuan kebebasan setiap orang untuk memilih agama.

Salah seorang orientalis terkenal Sir Thomas Arnold mengagumi piagam ini. Menurut dia, organisasi umat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW. merupakan awal kehidupan kebangsaan dalam Islam, bahkan yang pertama dalam sejarah kemanusiaan.

Dipengujung akhir 2011, menjelang 2012, drama kehidupan bangsa ditutup dengan peristiwa pembakaran sebuah masjid di Sampang, Madura. Persoalannya sepele, urasan pribadi. Konflik bermula dari kakak-adik Rois dan Rojul atau yang juga dikenal dengan Tajul Muluk. Mereka berselisih karena Rojul akhirnya meyakini Syiah.

Rupanya Rois tidak menerima keputusan Rojul sebab keyakinan Rojul membuat dirinya menjadi berbeda sendiri dari anggota keluarga lainnya. Dari perbedaan paham ini meluas menjadi perebutan anak didik (santri), yang berakhir dengan pembakaran pondok pesantren tempat Rojul, termasuk tiga rumah, dan satu mushala. Peristiwa Sampang bukan satu-satunya dan bukan yang pertama. Sebelumnya kita tahu peristiwa di Ambon, Garut, Tasikmalaya, Cikeusik Pandeglang, yang di samping pembakaran tempat ibadah, rumah, juga banyak korban meninggal, semua kebrutalan ini mengatasnamakan agama. Mestinya, justru atas alasan keagamaan wajib tercipta persaudaraan dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat, bukan sebaliknya.
Apakah kita umat terbaik?
Benar, jika berpegang teguh pada prinsip-prinsip umum "keilahian" (sebagai pengabdi Tuhan, bukan pengabdi uang, jabatan atau pengabdi setan) dan "kekhalifahan" (sebagai pemimpin di muka bumi untuk menegakkan kebenaran keadilan yang dipayungi akhlak). Mulia atau tercela; baik atau buruk; penganut agama yang saleh atau bukan; pejuang atau pecundang, tidak diukur dari bentuk tubuh, busananya berserban, dan bergamis atau tidak; tetapi "peran" (tugas yang dijalani) dan "cara berperan" (akhlak: budi pekerti).

Syaikhul Islam Al-Azhar, penyusun buku terkenal Risalah Tauhid, Muhammad Abduh mengatakan bahwa umat terbaik itu adalah umat yang bukan hanya berdasarkan agama, tetapi juga atas dasar kemanusiaan sebagai faktor perekat sosial.

Semoga kekerasan berubah menjadi kedamaian!

Wallahua'lam bishshowab.***

[Ditulis oleh H. MUHTAR GANDAATMAJA, Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al-Hijaz, Ketua Forum Komunikasi KBIH Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 6 Januari 2012 / 12 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky
Di tengah-tengah kehidupan masyarakat sekarang ini, tidak jarang kita mendapati ada orang yang selalu bersedekah kepada orang lain, sementara sanak kerabat yang membutuhkan uluran tangannya terlewatkan.
Hal ini tentunya bukanlah perbuatan terpuji. Walaupun sedekah dapat diberikan kepada siapa saja dan dapat dikelola menjadi potensi ekonomi masyarakat, tetapi roh dari sedekah sebenarnya adalah untuk mempererat jalinan hubungan antar manusia dalam hubungan kekerabatan, hubungan antar tetangga, dan pembinaan masyarakat secara lebih luas.

Oleh karena itu, ajaran Islam menetapkan skala prioritas mengenai siapa saja yang harus didahulukan untuk dapat menerima sedekah yang kita keluarkan, dan perioritas yang harus didahulukan adalah bersedekah kepada sanak kerabat.

Diriwayatkan dari Anas RA., Beliau berkata,
"Abu Thalhah RA. adalah salah seorang sahabat Anshar yang paling banyak memiliki harta dari kebun kurma di Madinah. Harta kekayaan yang paling disukainya adalah kebun bairuha yang berhadapan dengan masjid. Rasulullah SAW. sering masuk ke kebun itu dan minum air yang bersih di dalamnya."

Anas pun mengatakan, ketika turun ayat yang berbunyi,

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai. (QS. Ali Imran: 92)"

Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW. Lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, Allah SWT. berfirman, 'Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai,' sedangkan harta yang paling saya cintai adalah kebun bairuha. Kini kebun itu saya sedekahkan karena Allah SWT., dengan harapan kebajikannya dan simpanan (pahala)nya di sisi Allah SWT., maka letakkanlah kebun itu wahai Rasulullah sesuai dengan apa yang diberitahukan Allah kepadamu."

Rasulullah SAW. bersabda, "Bagus! Itulah harta yang menguntungkan. Saya telah mendengar apa yang kamu katakan, dan saya berpendapat, sebaiknya kebun itu kamu jadikan sedekah kepada sanak kerabat."

Lalu, Abu Thalhah berkata, "Saya laksanakan ya Rasulullah." Kemudian Abu Thalhah membagi-bagikan kebun itu untuk sanak kerabat dan anak-anak pamannya." (HR Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas, secara jelas memberikan tuntunan kepada kita untuk mengutamakan dan mendahulukan bersedekah kepada sanak kerabat sebelum bersedekah kepada orang lain. Bahkan bersedekah kepada kerabat yang membenci kepadanya atau kepada kerabat yang memutuskan ikatan kekerabatan itu lebih utama lagi. Hal ini dipandang sebagai sebaik-baiknya bersedekah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Kultsum bin Uqbah bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
"Sebaik-baik sedekah adalah kau berikan kepada kerabat yang membencimu." (HR. Hakim)

Mendahulukan bersedekah kepada kerabat merupakan bagian dari pokok-pokok kebajikan. Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 177, Allah SWT. berfirman,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dalam firman-Nya yang lain,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah: 215)

Tujuan dari mendahulukan bersedekah kepada sanak kerabat adalah untuk mempererat hubungan kekerabatan. Dalam ajaran Islam, mempererat hubungan kekerabatan merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang beriman. Pemberian sedekah itu menjadi gambaran keinginan untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan hubungan kekerabatan tersebut.

Ketika seseorang memberikan sedekah kepada sanak kerabat, ia mendapatkan dua pahala. Pertama, pahala sedekah itu sendiri, dan yang kedua, pahala menyambung tali kekerabatan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Salman bin 'Amir RA. dari Nabi SAW.,
"Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena mengandung berkah. Jika tidak ada, hendaklah dengan air karena air itu suci."

Beliau juga bersabda,
"Sedekah kepada orang miskin hanya mendapatkan pahala sedekah saja, sedang sedekah kepada sanak kerabat mengandung dua keutamaan, yaitu sedekah dan menyambung tali kekerabatan." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i, dan Ibnu Majah)

Dengan demikian, para kerabat itu berhak untuk didahulukan dari pada orang lain dalam menerima sedekah. Allah SWT. berfirman,

فَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS Ar-Rum: 38)

Untuk itu, ketika kita akan bersedekah, pertama-tama perhatikan dulu apakah ada kerabat kita yang miskin atau anak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita? Jika ada, merekalah yang harus didahulukan untuk menerima sedekah.

Allah SWT. berfirman,

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ
(Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. (QS Al-Balad: 15)

Rasulullah SAW. bersabda,
"Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada barulah untuk ini dan itu." (HR. Ahmad dan Muslim)

Selanjutnya, kepada tetangga kita yang fakir dan miskin juga seterusnya kepada yang lebih luas lagi, bila masih belum menemukannya dan kita tidak mengetahui lagi siapa yang harus kita beri sedekah, kita bisa menitipkannya kepada lembaga sosial atau pada Badan Amil Zakat yang terpercaya.
Wallahualam bissawab.***

[Ditulis oleh H MOCH HISYAM, Ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 5 Januari 2012 / 11 Safar 1433 H. pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Mengeluh wajar-wajar saja, manusiawi, kodrat manusia memang suka berkeluh kesah seperti disebutkan Allah SWT. dalam QS. Al-Ma'arij 19-20,

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.

Tetapi kalau kita terlalu gampang mengeluh, maka hal tersebut akan membuat kita menjadi hamba yang kurang bersyukur terhadap semua nikmat Allah dan akan merupakan ciri-ciri kurangnya keikhlasan kita terhadap segala pengaturan-Nya. Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah pemandangan sehari-hari kehidupan di kota. Pekerjaan rumah tangga menumpuk karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh. Tugas di kantor atau di sekolah bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan keluhan. Cobalah ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi.

Cobalah mulai mensyukuri semua nikmat yang ada, nikmat kesehatan, kemudahan urusan, rezeki, nikmat karunia anak, rumah, jalan keluar dari kesulitan yang dialami dan sebagainya.

Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Sesekali mengeluh tidak mengapa, asal jangan menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter yang sulit dihapus dari kepribadian seseorang.
  1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata.
    Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah SWT. Karena Dia-lah Yang Maha Tahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita.

    قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (QS. Yusuf : 86)

    Dekatkan diri pada Allah, tafakuri semua yang ada dalam hidup, mulailah belajar mensyukuri semua karunia-Nya.
  2. Kita harus ingat, bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa dicari solusinya.
    Mohonlah bantuan pada Allah SWT. dan sebaiknya, lebih baik memikirkan, mencari dan membicarakan solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi, daripada sekedar mengeluh.
  3. Jangan membesar-besarkan masalah.
    Anas bin Malik RA. berkata,
    "Saya melayani Rasululullah SAW. selama dua puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa engkau melakukan itu?'" (HR. Muslim)

    Jadi biarkan saja hal-hal sepele yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.
  4. Bicaralah tentang nikmat Allah.
    Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup kita, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Dengan bersikap seperti ini, bukan hanya membantu kita menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu mensyukuri nikmat Allah,

    فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
    Lalu nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? (QS. Ar-Rahmaan)
  5. Ingatlah mereka yang lebih kurang beruntung.
    Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka yang kurang beruntung dari kita. Bacalah berita-berita tentang orang lain yang menderita di bagian dunia lain.
    Bacalah tentang kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang kehidupan para tunawisma di lingkungan kita sendiri.
    Sesekali berinteraksilah dengan mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur kepada Allah atas apa yang kita miliki.
  6. Kurangi stres dalam hidup.
    Berdzikir dan membaca Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran kita. Perbanyaklah dzikir untuk mengurangi stres.
  7. Belajarlah dari orang-orang terdahulu (pengalaman).
    Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang penting dan pengalaman para Nabi, sahabat Nabi dan generasi-generasi muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka menghadapi masalah.
  8. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan.
    Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu, apakah kita merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.
  9. Bicaralah seperlunya.
    Jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan masih menemukan diri kita masih terlalu banyak mengeluh, mungkin itu karena kita sudah terlalu banyak bicara. Jangan biarkan setan yang mengarahkan kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya.
Wallahua'lam bishshowab.***

[Dikutip dari tausiyah Ust. MUHAMMAD ARIFIN ILHAM. Tulisan disalin dari situs http://www.mushollarapi.blogspot.com/]

by

u-must-b-lucky
Manusia makhluk yang paling sempurna dan mulia, baik dalam penciptaannya maupun dalam keberadaannya sebagai makhluk.


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al-Isra: 70)

Allah memberikan kemudahan, kelancaran, kelapangan, kesejahteraan, dan kemuliaan dalam kehidupan manusia. Kita hanya diberi tugas sebagai khalifah untuk mengatur dan memelihara dunia ini untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Kelebihan dan kemuliaan ini harus dipelihara. Jangan dibiarkan terjerumus dalam kehinaan dan kenistaan.

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

Salah satu bentuk kemuliaan yakni suami dan istri harus dapat menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Kesucian diri dari melakukan maksiat dan perzinaan. Sering kali perzinaan dan perkosaan telah terjadi di mana-mana, terutama di kalangan usia remaja. Para orangtua belum dapat mencegah secara optimal kepada putra putrinya dari masalah perzinaan.

Hal itu disebabkan pergaulan bebas belum bisa dicegah secara utuh dan ajaran agama yang dianutnya hanya masih bersifat wacana. Sesungguhnya Allah SWT. melarang perbuatan zina dengan melarang unsur-unsur yang mendekatkan orang berbuat zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra: 32)

Pelaku zina bukan hanya dia berdosa dan diancam dengan azab neraka di akhirat kelak, tetapi di dunia pun ia terhina dan dikucilkan di tengah masyarakat. Berarti diri dan kehormatannya terinjak. Akankah perbuatan itu harus terus berlangsung? Hendaknya kita memelihara jiwa, diri, dan kehormatan dari kehinaan dan kenistaan.

Selain itu, suami dan istri harus bisa menjaga kebaikan keturunannya. Memelihara jiwa, diri, dan kehormatan dari perbuatan zina merupakan bagian dari memelihara keturunan. Selain itu, memelihara keturunan juga bisa menjaga keutuhan, keharmonisan, ketenangan, dan keberlangsungan kehidupan rumah tangga.

Rasulullah memberikan contoh kecil pada sebuah haditsnya dalam membina dan memelihara keturunan seseorang, yaitu bahwa dia tidak boleh saling mencaci bapak dan ibu masing-masing di antara kita, sebagaimana dalam potongan haditsnya,


"...fa yasubbu abaahu wa yasubbu ummahu" (dilarang masing-masing kita mencaci ayah dan ibu orang begitu pula sebaliknya).
Menjaga keturunan harus terlibat seluruh personal anggota keluarga itu. Jika salah seorang baik, seluruh akan terbawa baik. Akan tetapi, jika salah seorang buruk, semua akan kena getahnya.

Tugas lain dari orangtua dalam keluarga adalah menjaga kemaslahatan harta bendanya. Orang yang memelihara harta bukan termasuk hubbud dunyaa (cinta dunia) dan takut mati. Akan tetapi, bagaimana harta dunia yang ia miliki harus menjadi perantara atau sarana dalam berbakti dan beribadah kepada Allah SWT.
Dunia perlu dijaga dan dipelihara. Memelihara dunia bukan karena takut dicuri orang tetapi bagaimana dunia/harta yang dimiliki itu dari mana diperolehnya. Apakah dari jalan yang halal atau haram? Lalu, ke mana harta itu digunakan? Apakah untuk foya-foya atau untuk ibadah?

Sering kali terjadi di masyarakat seseorang mencari harta tanpa mempertimbangkan halal dan haram. Banyak di antara mereka berkata, "Mencari harta yang haram saja sulit apalagi yang halal."

Bukankah kita mengetahui bahwa harta yang dimakan dari jalan haram maka akan timbul dan tumbuh seluruh aktivitasnya mengarah kepada perbuatan haram. Pikirannya selalu condong kepada yang diharamkan. Sari pati makanan itu meresap ke mata, maka mata itu ingin selalu melihat yang diharamkan. Sari pati makanan itu meresap ke kaki, maka kaki itu akan selalu ingin melangkah ke tempat-tempat yang diharamkan, begitu seterusnya.

Terakhir, menjaga kemaslahatan agama yang akan menjaga kita dari kekacauan, kehancuran, dan kebinasaan dalam menempuh kehidupan dunia hingga menghadap Allah pada kehidupan akhirat kelak.

Dalam menjalankan agama Islam ada lima pokok ajaran yang harus dilaksanakan, yang dikenal dengan Rukun Islam. Lima perkara ini adalah asas terbesar dan rukun terpenting dalam Islam. Rasulullah menggambarkan agama Islam seperti sebuah kemah yang disangga oleh lima batang tiang. Tiang tengahnya adalah syahadat, sedangkan empat tiang lainnya adalah tiang pendukung untuk menyangga keempat sudut kemah itu. Tanpa tiang tengah, kemah itu tidak akan berdiri tegak, sedangkan jika satu tiang dari keempat sudut itu tidak ada, kemah itu masih bisa berdiri tetapi kondisinya miring dan tidak sempurna.

Setelah membaca hadits ini, mari kita lihat keadaan kita, keadaan rumah tangga kita, sejauh mana kita tegakkan tiang-tiang Islam itu dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga kita. Di antara lima tiang itu, tiang manakah yang kita tegakkan dengan sempurna?

Wallahu a'lam.***

[Ditulis Oleh H. HABIB SYARIEF MUHAMMAD AL AYDARUS, Ketua Yayasan Assalaam dan mantan Ketua PW NU Jabar. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Manis) 29 Desember 2011 / 4 Safar 1433 H, pada Kolom "CIKARACAK"]

by

u-must-b-lucky
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, apakah itu sakit ringan ataupun sakit berat. Namun, baik ringan maupun berat, setiap orang berbeda dalam menyikapinya. Bagi sebagian orang, sakit ringan bisa dirasakan begitu menyiksa sehingga terlihat lebih berat dari semestinya. Akan tetapi, bagi sebagian lagi, sakit berat bisa dirasakan ringan jika hati menerimanya dengan ikhlas. Ada anak muda yang terlihat menderita gara-gara jerawat tumbuh di wajahnya. Ia tidak mau keluar rumah karena malu memiliki jerawat yang mengganggu penampilannya. Akan tetapi, ada juga orang yang diberi penyakit berat tetapi ia tetap tegar dengan penderitaannya. Ia tetap beraktivitas seolah-olah tidak sakit.

Secara umum, kondisi sakit mempunyai dua sisi rasa. Namun, yang kerap kita rasakan hanya salah satu sisinya, yakni penderitaan. Sisi lain berapa hikmah dan kenikmatan di balik sakit sering kali kita lupakan. Padahal, jika kita mau merenungkannya, banyak hikmah yang dapat dipetik dari sakit yang diderita.

Beberapa hikmah itu adalah sebagai berikut,
  • Pertama, secara medis sakit merupakan suatu peringatan (warning) mengenai tingkat kekuatan tubuh kita. Jika tubuh kita mengalami satu kondisi, kemudian berakibat sakit, hal itu merupakan peringatan agar kita menghindari kondisi yang sama yang dapat menyebabkan sakit tersebut. Sakit juga memberi kesempatan kepada kita untuk beristirahat dan berkonsultasi dengan dokter sehingga penyakit yang ada tidak menjadi lebih parah dan sulit diobati. Tak jarang, sakit yang dialami mencegah seseorang agar tidak terkena penyakit yang lebih berat lagi.
  • Kedua, sakit dapat menjadi penggugur dosa. Penyakit yang diderita seorang hamba menjadi sebab diampuninya dosa yang telah dilakukan, termasuk dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersama dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Ketiga, orang yang sakit akan mendapatkan pahala dan ditulis untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan." (HR. Muslim)
  • Keempat, sakit dapat menjadi jalan agar kita selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit biasanya orang merasa benar-benar lemah, tidak berdaya, sehingga ia akan bersungguh-sungguh memohon perlindungan kepada Allah SWT. Zat yang mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang menuntunnya untuk bertobat.
  • Kelima, sakit bisa menjadi jalan kita untuk membersihkan penyakit batin. Pendapat Ibnu Qayyim, "Kalau manusia itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih, ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan jiwanya beku. Oleh karena itu, musibah dalam bentuk apa pun adalah rahmat Allah yang disiramkan kepadanya, akan membersihkan karatan jiwanya dan menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci karena penyakitnya, martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan, pahalanya pun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya diterimanya dengan sabar dan ridha."
  • Keenam, sakit mendorong kita untuk menjalani hidup lebih sehat, baik sehat secara jasmani maupun rohani. Sakit membuat orang tahu manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru ketika sakit. Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai ia syukuri. Bagi orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh nikmat.
  • Ketujuh, secara sosial sakit mengajarkan kepada kita bagaimana merasakan penderitaan orang lain, seperti halnya puasa yang mendidik kita agar mengetahui bagaimana pedihnya rasa lapar dan dahaga yang dialami kaum papa. Rasa sakit harusnya melahirkan kepekaan sosial yang lebih tinggi.
Kapan rasa sakit bisa berubah menjadi nikmat dan karunia? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim agar sakit yang diderita menjadi karunia dan memiliki hikmah yang sangat tinggi.
  • Pertama, terimalah segala musibah dengan ikhlas. Hal ini merapakan manifestasi dari keimanan kita kepada Allah bahwa segala sesuatunya sudah digariskan oleh Yang Mahakuasa.
    مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
    Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)
  • Kedua, sabar saat ditimpa penyakit. Boleh jadi penyakit yang menimpa kita merupakan ujian yang diberikan oleh Allah SWT. sebagai salah satu cara untuk mengetahui kadar keimanan kita. Artinya, seseorang tidaklah terbukti beriman jika ia tidak tahan terhadap ujian yang menimpanya. Selain itu, ujian merupakan salah satu wujud kecintaan Allah terhadap suatu kaum. Hal ini dikabarkan oleh Rasulullah SAW. dalam hadits,
    "Sesungguhnya Allah Azza wa jalla jika mencintai suatu kaum, Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barang siapa yang sabar, maka dia berhak mendapatkan (pahala) kesabarannya. Dan barang siapa marah, maka dia pun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya." (HR. Ahmad)
    Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman,
    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
    أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar
    (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
    Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)
  • Ketiga, berobat. Hal ini merapakan salah satu bentuk ikhtiar jika kita ditimpa penyakit sebab kita tak dianjurkan membiarkan sakit kita bertambah parah tanpa diobati. Rasulullah SAW. bersabda,
    "Berobatlah kalian. Karena setiap Allah menciptakan penyakit, pasti Allah juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja." Para sahabat bertanya, "penyakit apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Penyakit tua." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Wallahua'lam bish-shawwab.***

[Ditulis oleh YADIN BURHANUDIN, staf pengajar STAI. Persatuan Islam Bandung. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Pahing) 30 Desember 2011 / 5 Safar 1433 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by

u-must-b-lucky